Dream High 3 [Chapter 8]

image

Main cast:
Sehun, Jiyeon, Krystal
Support cast:
Taeyong, Joy, Lay
Genre:
School life, friendship, romance
Length:
Multichapter
Rating: PG – 13

Author Note:
Akhirnya setelah beberapa hari bergelut dengan Photoshop gegara banyak req poster, aku bisa melanjutkan FF lagi. Sebenarnya yang mau aku publish bukan FF ini, tapi karna udah terlanjur connect ama otakku ya publish FF ini aja dulu.
Di chapter ini ada sesuatu yang seru lho. Penasaran? Buruan baca deh…
Hepi reading ^^

Chapter 8

Tuan Oh masih menunggu keputusan yang akan diambil oleh puteranya. Pilihan yang teramat sulit ditentukan dan sukses membuat Sehun seperti orang gila. Ia tak lagi dapat berpikir. Apakah mungkin ini yang dapat mengakhiri impiannya?

“Ayah, sebelum aku menentukan pilihan, bolehkah aku bertanya satu pertanyaan saja?” Suara Sehun terdengar lirih. Namja itu memang sedang down, kesehatannya menurun karena beberapa hari kurang istirahat dan banyak pikiran.

Tuan Oh melebarkan kelopak matanya. “Tanyakan saja apa pertanyaanmu!” kata Tuan Oh ketus. Nampkanya chaebol yang satu itu enggan menjawab pertanyaan puteranya sendiri, mengingat hubungannya dengan Sehun terlalu jauh.

Sebenarnya Sehun ragu menanyakan apa yang ingin ia tanyakan karena ia tahu kalau jawaban ayahnya tidak akan menjadi jawaban yang memuaskan.
“Cepat tanyakan! Waktuku terbatas.”

Sehun menarik nafas dalam-dalam. “Pernahkah ayah memikirkan tentang impian dan cita-citaku?” tanya Sehun tanpa jeda sedikit pun.

Tuan Oh menatap lantai kosong kemudian membanting pandangannya ke arah Sehun. “Impian itu hanya omong kosong. Setiap orang mengaku punya impian tapi hidup mereka banyak yang tidak beraturan. Hidup mereka tidak sesuai dengan impian dan membuang-buang waktu. Jika kau mempunyai impian, lebih baik buang impian itu.”

Kedua tangan Sehun mengepal kesal. Ternyata dugaannya benar, sang ayah sama sekali tidak peduli dengan impian apapun, apalagi impian puteranya sendiri.
“Baiklah, terimakasih sudah menjawab pertanyaanku. Saat ini aku belum bisa menentukan pilihan. Beri waktu tiga hari, Ayah. Aku akan….”
“Terserah. Jika kau meminta waktu tiga hari, aku akan memberikannya sesuai keinginanmu. Tapi setelah tiga hari, kau harus sudah menentukan pilihan itu, Oh Sehun. Kalau tidak….”

“Kalau tidak kenapa?” Nyonya Oh tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan dengan sesuka hati. Yeoja paruh baya itu masih mengenakan kostum kerjanya lengkap dengan tas tangan dan sepatu high-heels nya.
Tap tap tap!
Nyonya Oh berjalan dengan anggun dan menunjukkan sikap tegas seorang wanita. Penampilannya benar-benar menunjukkan kepribadiannya. Surai yang dibiarkan tergerai menutup punggungnya dan tatapan mata tajamnya mampu membuat siapapun terpesona karenanya. Ya, ibu Oh Sehun memang masih terlihat muda dam cantik meski usianya telah menginjak 46 tahun. Mungkin karena itulah tuan Oh masih bertahan menjadi suaminya mengingat banyaknya perbedaan diantara sepasang suami-istri tersebut.
“Sehun-a, jelaskan pada eomma, apa yang sedang terjadi?” tanya Nyonya Oh meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya pada putera keduanya itu.

Sehun merasa sedikit lega. Setidaknya akan ada seseorang yang membelanya. “Ayah sudah mengambil alih perusahaan Lee Kang Chul. Agensi miliknya dan sekolah Kirin termasuk dalam aset perusahaannya. Dengan menguasai perusahaan Lee Kang Chul, ayah ingin membubarkan Kirin atau….”

“Atau apa?” tanya Nyonya Oh yang sedang melipat tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya.

“Atau aku keluar dari Kirin. Jika aku keluar dari Kirin maka teman-temanku dapat meraih impian mereka dan Kirin akan tetap ada sampai batas waktu yang ditentukan oleh ayah.”

Nyonya Oh mengerutkan dahi. “Apa maksudnya ini, Yeobo? Kau mengancam anakmu sendiri di saat ibunya tidak ada di sampingnya? Tidak bisa!” bentak nyonya Oh. Yeoja ituitu terlalu sayang pada puteranya.

“Cih!” Tuan Oh membuang muka. “Omong kosong macam apa itu! Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Yang ku inginkan adalah… Sehun keluar dari Kirin dan ikut mengelola perusahaan.”

Bruk!
Nyonya Oh membanting tasnya di atas sofa ruang tamu. Emosinya menaik, wajahnya merah padam. “Dia masih terlalu muda untuk menjadi bagian dari perusahaan, Yeobo. Biarkan dia, mengembangkan bakatnya dan meraih impiannya. Setelah cukup umur, baru suruh dia bergabung dengan perusahaan. Ambisimu itu bisa merusak mimpi anak kita.”

“Sudah cukup! Aku muak dengan keinginan appa. Jika itu memang harus terjadi, baiklah! Aku akan keluar dari Kirin dan bergabung dengan perusahaan sesuai keinginan appa.” Sehun nampak sedih sekaligus marah. Ia tidak mungkin meninggalkan Kirin tetapi dirinya juga tidak tega melihat Kirin ditutup karena masalah sepele. Ayahnya benar-benar egois.

Nyonya Oh menatap iba pada puteranya. “Sehun-a….” Tangan kanannya meraih bahu Sehu dan ingin memeluk Sehun tetapi puteranya itu malah menepis tangannya pelan.

“Tidak usah, Eomma. Aku… tidak butuh kata-kata penghibur. Aku pamit. Selamat malam!” ucap Sehun dingin dan ketus. Beberapa detik kemudian, namja berpipi tirus itu meninggalkan rumah mewah milik keluarganya dengan kedua tangan yang mengepal, kesal dan kecewa.
***

Malam ini sungguh malam yang sunyi. Di sekolah, asrama, bahkan ruang latihan terlihat sepi dan tidak ada aktifitas apapun. Sebagian besar penghuni asrama pergi keluar untuk mencari hiburan, makan malam atau sekedar menemui keluarga dan teman. Sedangkan yang lain memutuskan untuk tinggal di asrama dengan kegiatan yang mengasyikkan bagi diri sendiri.
Park Jiyeon dan Park Joy nampak sedang sibuk memberesi kamar mereka berdua. Sudah dua jam lamanya, mereka membersihkan dan menata ulang barang-barang yang ada di kamar itu.

“Sudah selesai?” tanya Jiyeon yang sangat mengharapkan pekerjaan mereka cepat selesai.
Joy mengangguk kecil. “Sepertinya begitu,” sahut Joy dengan senyumnya yang menunjukkan kepuasan pada kerja sama dirinya dengan Jiyeon. Bola matanya bergerak mengelilingi kamar berukuran 5×4 meter itu. “Sudah bersih dan rapi. Ah, akhirnya rencana kita selesai, Jiyeon-a.”

Jiyeon tersenyum senang. Ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh Joy, yaitu membaringkan tubuhnya di atas lantai yang beralaskan karpet.
Krucuk! Krucuk!
“Kau lapar?” tanya Joy pada Jiyeon yang tengah memegang perutnya.
Jiyeon terkikik sambil melirik Joy. “Iya. Tapi aku tidak ingin makan.”
“Kenapa?” tanya Joy.
“Aku sudah berhasil mengecilkan tubuhku seramping ini. Aku… tidak mau kembali menjadi si gendut lagi.” Jiyeon memang merasakan lapar yang teramat menyiksa. Akan tetapi dirinya ingin menahan rasa lapar itu karena makan di atas jam 8 malam bisa membuat perut buncit.
Joy tertawa terpingkal-pingkal. “Tidak apa-apa. Makan yuk! Hidupmu tidak akan bisa tenang kalau kau lapar begitu.” Joy bnagun dari posisi berbaringnya. “Kita beli jjajjangmyeon sekarang. Kajja!”
Jiyeon menurut begitu saja saat Joy menggandeng tangannya dan menariknya keluar kamar. Ia bahka lupa kalau uang di dalam dompetnya telah habis.

10 menit kemudian, Jiyeon dan Joy tiba di pusat kota Seoul. Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit itulah, keduanya dapat menemukan sebuah kedai jjajjangmyeon terlezat di kota Seoul. Malam ini pusat kota terlihat sangat ramai. Jiyeon dan Joy masih dalam posisi bergandengan tangan, berjalan memasuki kedai jjajjangmyeon yang saat ini tengah ramaii sekali.

“Wah, ramai sekali…” gumam Joy saat melihat antrian pembeli yang cukup membuatnya tercengang.
“Tentu saja ramai. Kau lupa? Ini kan malam minggu,” sahut Jiyeon polos.
Keduanya segera menempati kursi yang masih kosong. Jika tidak begitu, kursi itu tentu akan ditempati oleh orang lain.
“Menunggu memang menyebalkan,” gerutu Joy sambil menyangga dagunya dengan kedua tangan.

Jiyeon tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang terlupa. Entah apa itu, yang pasti cukup membuatnya gelisah di tempat duduknya hingga Joy menyadari hal itu.
“Yaak! Ada apa denganmu? Kau ingin ke toilet?” tanya Joy asal tebak.
Jiyeon menggeleng. “Tidak, bukan itu. Aku… merasa ada sesuatu yang terlupa.” Tiba-tiba Jiyeon membuka dompetnya.
Jleng!
Rupanya benar firasatnya yang mengatakam ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. “Joy, dompetku… kosong. Aku harus ke atm.”

Joy tertawa mendengar pengakuan Jiyeon bahwa dompetnya tidak ada isinya sama sekali. Jiyeon bahkan membuka dompetnya di atas meja.
“Aku harus ke atm dulu. Kau tunggu saja di sini. Kalau pesanannya datang, segera hubungi aku., ya?”
Joy mengangguk mengerti. “Eoh, cepat pergi sana!”
Akhirnya Jiyeon pun segera keluar dari kedai jjajjangmyeon dan mencari tempat tarik tunai (Atm) terdekat.

Suasana malam yang semakin ramai membuat langkah Jiyeon semakin lambat. Ia kesal karena setiap melangkah, pasti ada yang tiba-tiba berjalan di depanya sehingga Jiyeon harus mencari celah untuk berjalan cepat.
“Di mama atm-nya?” gumamnya kebingungan mencari tempat mengambil uang. “Ah, itu dia.” Jiyeon berlari menuju sebuah tempat penarikan uang.
Sesaat kemudian, Jiyeon telah berhasil mengisi kembali dompetnya yang kosong. Ia lega karena akhirnya telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia harus segera kembali ke kedai jjajjangmyeon.
Saat berjalam menuju kedai, tanpa sengaja, kedua manik mata Jiyeon menangkap seseorang yang dikenalnya tengah berdiri melamun di pinggir jalan.
“Oh Sehun?” lirih Jiyeon yang melihat Sehun di tepi jalan. Ia telah memastikan kalau namja itu Oh Sehun karena gelang hitam yang dipakainya.
Jiyeon memutuskan menghampiri Sehun sebelum kembali ke kedai jjajjangmyeon. Ia berlari ke arah Sehun dan berharap namja itu masih berdiri di sana.
“Oh Sehun!” panggil Jiyeon saat dirinya sudah berdiri di samping namja itu.

Sehun menoleh ke arah Jiyeon berada. Ekspresinya tampak biasa. Tatapannya kosong dan nampaknya namja itu sedang memikirkan sesuatu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyeon.
Sehun tidak menjawab sepatah kata pun. Ia terdiam dan terlihat kosong, entah seperti apa, mungkin seperti zombi yang berjalan di pusat kota Seoul.
Rambu lalu lintas menyala secara bergantian. Rambu untuk pejalan kaki telah berubah warna hijau. Sehun ingin melengkahkan kaki menyeberang jalan namun tiba-tiba seseorang membuatnya terjatuh dari trotoar.
“Sehun-a!” Jiyeon berusaha membantu Sehun berdiri. Ia merasa ada yang aneh pada Oh Sehun. Namja itu tidak biasanya seperti itu, diam dan melamun. Pasti ada sesuatu yang membuatnya begitu. Pasti ada masalah berat yang dihadapinya.

Sehun menepis tangan Jiyeon yang ingin memapahnya agar dapat berjalan lebih nyaman. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan seorang gadis apalagi gadis itu Park Jiyeon, seseorang yang pernah ia jauhi karena badannya yang gemuk.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jiyeon masih khawatir pada keadaan Sehun. Mungkin kakinya terkilir atau keseleo atau bahkan ada tulang yang retak atau dislokasi tulang atau persendian atau….
“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu menolongku. Aku bisa berjalan sendiri.” Sehun berpegangan pada tiang listrik di dekatnya.
“Kau mau kembali ke asrama? Kalau begitu, ayo aku antar.”
“Tidak usah!” sahut Sehun acuh tak acuh padahal Jiyeon sangat peduli padanya.
Jiyeon tak tahu lagi ingin menawarkan apa pada Oh Sehun. Mungkin saja namja ituu menolaknya lagi. Tetapi… ia sungguh ingin menolong Sehun atau paling tidak, menemani namja itu karena salah satu kaki Sehun terluka.
“Kalau begitu ayo ikut aku!” Jiyeon memegang tangan Sehun yang langsung mendapat penolakan dari namja bermarga Oh itu. “Ikut saja! Tempatnya tidak jauh dari sini.” Jiyeon tetap memegang tangan Sehun dan mengajaknya pergi ke kedai jjajjangmyeon di mana Joy tengah menunggunya di sana.
Sehun tidak mampu menolak ajakan Jiyeon. Ah, bukan ajakan, akan tetapi lebih tepat disebut sebagai pemaksaan.

Setiba di kedai jjajjangmyeon, Jiyeon meminta Sehun duduk bersama dirinya dan Joy. Tentu saja hal itu membuat Joy membelalakkan kedua mata bulatnya.
“Yaak! Jiyeon-a, apa kau tidak salah?” bisik Joy pada Jiyeon yang duduk di sampingnya.
Jiyeon celingukan. “Apanya yang salah?”
Joy menepuk dahinya, baru saja menyadari kebodohan Jiyeon yang tidak tahu kesalahannya saat itu. “Kau mengajak Sehun. Itu… apa tidak salah?”
“Memangnya kenapa? Tentu saja tidak ada yang salah.”
“Baiklah, terserah,” kata Joy diiringi anggukan kecilnya. “Cepat makanlah!” suruh Joy pada Jiyeon dan Sehun yang kelihatannya sedang lapar sekali.
***
Hari telah berganti. Inilah hari yang sangat tidak diinginkan oleh namja bernama Oh Sehun. Ya, sudah pasti ia sangat membenci hari ini. Kenapa harus ada pergantian hari di saat dirinya dalam kegalauan yang menyakitkan hati?
Tidak seperti siswa yang lainnya, hari ini Oh Sehun menanggalkan seragam sekolahnya dan, mengenakan pakaian biasa saat datang ke sekolah. Kaki jenjangnya berat untuk melangkah ke sekolah yang menjadi rumahnya selama inI. Sehun telah menginjakkan kaki di halamanatas sekolah. Beberapa orang siswa memandangnya aneh karena tidak berseragam seperti yang lainnya. Sehun tak peduli dengan keadaan itu. Ia tetap melangkah menuju kantor direktur, Lee Kang Chul yang terlerak di ujung lantai dua bangunan Kirin Art School.

Apa yang terjadi padanya?

Pertanyaan itu banyak terlontar dari siswa-siswa yang berpapasan dengannya, termasuk Lee Taeyong.
“Oh Sehun tidak masuk sekolah?” tanya Taeyong lirih, terkesan ia bertanya pada dirinya sendiri.
Taeyong berjalan mengikuti langkah Sehun menuju lantai dua. Ia pun terkejut saat menyadari kalau tempat tujuan Sehun adalah kantor direktur. Hal itu semakin membuatnya curiga setelah kecurigaannya pada pakaian yang dikenakan oleh Sehun.
“Yak Oh Sehun!” seru Taeyong memanggil Sehun dari jarak 10 meter.
Sehun menghentikan langkahnya. Detik berikutnya, dia membalikkan badan dan menatap Taeyong. “Kenapa?” tanya Sehun datar pada Taeyong.
“Kau sadar apa yang sedang mau lakukan ini?” tanya Taeyong seraya menatap Sehun dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Bukan urusanmu,” jawab Sehun ketus.
Taeyong sudah menduga kalau Sehun akan bersikap dingin padanya.
“Pergilah! Aku tidak punya urusan denganmu!”
Taeyong menghela nafas panjang. Sesaat kemudian namja ituitu berbalik dan meninggalkan Sehun berdiri di depan kantor direktur.
***

Taeyong berjalan pelan sembari memikirkan apa yang terjadi pada Oh Sehun. Sikap Sehun padanya memang tidak ada yang aneh, sama seperti biasa, yakni acuh dan dingin. Tetapi satu hal yang membuatnya terus menerus memikirkan namja bermarga Oh itu, hal yang dilakukannya tampak mencurigakan.
Bruk!
“Akh!” Jung Krystal tidak sengaja bertabrakan dengan Taeyong yang berjalan sambil melamun. “Yaak! Lihat jalanmu! Ah, dasar!” pekik Krystal. Ia ingin menyumpahi Taeyong dengan sejumlah sumpah serapah namun tidak ia lakukan.
Taeyong baru menyadari kalau dirinya menabrak Krystal, sang idol yang tersasar di Kirin. “Maaf, aku… sungguh minta maaf. Aku tidak sengaja tadi.”
Krystal mendengus kesal. “Makanya kalau berjalan lihat sekelilingmu!” Ia masih belum selesai membersihkan roknya yang terkena debu saat terjatuh tadi.
Krystal hendak beranjak dari tempatnya. Satu langkah hampir saja sukses terayun jika saja tangan Taeyong tidak menahannya pergi.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu!” Krystal melirik tajam ke arah Taeyong yang masih memegang tangannya.
“Apa yang terjadi pada temanmu yang satu itu? Sikapnya tidak aneh, sih. Tetapi… tadi dia pergi menemui direktur. Pasti ada sesuatu yang penting.” Kali ini Taeyong bicara serius dengan ekspresi wajah yang meyakinkan.
“Aku tidak tahu. Lagipula, tidak ada yang tahu kalau kau berbohong atau tidak.”
Sebenarnya Taeyong kesal menghadapi sikap Krystal yang terlewat dingin. Sehun memang bersikap dingin padanya, tetapi Jung Krystal jauh lebih dingin daripada Sehun. Ibaratnya, Sehun adalah es krim sedangkan Krystal adalah es batu.
“Baiklah, begini saja. Kau tanyakan langsung pada Sehun, kenapa dia pergi menemui direktur. Jika dia menjawab, itu artinya aku tidak berbohong padamu. Jika aku berbohong, akan ku lakukan apa saja untukmu. Bagaimana? Tetapi jika sebaliknya terjadi, kau harus melakukan apapun yang aku pinta.”
Krystal mengerutkam keningnya, antara percaya atau tidak percaya pada kata-kata Taeyong.
“Baiklah, akan ku buktikan kata-katamu.”
Taeyong hanya dapat memandang Krystal yang berjalan menjauhinya. Ia heran, kenapa siswa-siswa White Class begitu sombong? Apa mentang-mentang mereka anak orang kaya? Tapi Lay anak orang kaya juga, dia tidak sombong sama sekali. “Ah, molla!” pekiknya seraya mengacakmelangkahkan rambutnya sendiri.

“Taeyong-a!” Jiyeon memanggil Lee Taeyong yang nampak seperti orang kebingungan dengan rambut berantakan.
Jiyeon berlari kecil, mendekati Taeyong yang menatapnya aneh.
“Kenapa menatapku begitu?” tanya Jiyeon polos. Tatapannya terpaku pada penampilan Taeyong yang beda dari biasanya.
“Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Kau membuatku merasa seperti orang aneh.”
Jiyeon menyipitkan matanya dan membuat kerutan di dahinya. “Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Kenapa sikapmu aneh seperti ini?” tanya Jiyeon.
Tiba-tiba Taeyong menarik lengan Jiyeon dan mengajaknya bicara dengan berbisik. “Kau tahu apa yang terjadi pada Oh Sehun?”
Jiyeon menggeleng pelan. “Memangnya apa yang membuatmu bertanya seperti itu?”
“Tadi aku melihat Sehun menemui direktur di ruangannya. Aku rasa ada sesuatu yang penting. Sehun tadi….”
“Kenapa?”
“Sehun tadi tidak memakai seragam sekolah. Ia mengenakan celana jeans, kemeja dan jaket. Penampilannya itu membuatku bertambah curiga. Apa dia mau keluar dari Kirin?”
Jiyeon mencubit lengan Taeyong. “Jaga kata-katamu! Jangan bicara sembarangan!”
Taeyong meringis kesakitan karena cubitan dari Jiyeon yang membekas merah di lengannya. Gadis itu benar-benar mencubitnya sekuat tenaga. “Itu kesimpulanku, Pabbo! Coba berpikirlah sedikit! Oh Sehun masuk Kirin atas rekomendasi ibunya. Sedangkan pada awalnya, ia sendiri sama sekali tidak minat masuk Kirin, kan? Jadi, bisa saja Sehun menemui direktur untuk mengundurkan diri dan keluar dari Kirin.”
“Apa?” pekik Jiyeon panik. “Yaak! Lee Taeyong! Kau jangan membuat khayalan seperti itu.”
“Itu bukan khayalan, Jiyeon-a. Itu adalah dugaan dan mungkin saja menjadi kebenaran.”

Jiyeon berpikir sesaat. Pendapat Taeyong ada benarnya. Kemungkinan besar, Sehun akan keluar dari Kirin setelah mengunjungi direktur. Sehun adalah siswa yang paling membenci Lee Kang Chul, maka dari itu kemungkinan besar dia akan keluar dari Kirin.
“Apakah kita akan mencegahnya pergi?” tanya Taeyong.
Jiyeon nampak bingung. “Entahlah. Aku pergi dulu, ada tugas komposisi lagu.” Jiyeon pergi meninggalkan Taeyong yang bertanya-tanya dalam hati, apa yang telah terjadi pada orang-orang di sekitarnya sehingga mereka tampak aneh.
***

Malam hari, Sehun sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di dalam asrama. Dugaan bahwa ia telah mengundurkan diri pun semakin kuat. Tidak hanya Jiyeon yang akan merasa kehilangan saat Sehun telah meninggalkan sekolah seni bersejarah itu. Krystal, Taeyong, Joy dan yang lainnya juga akan merasa kehilangan sosok Sehun diduduk tengah-tengah mereka. Joy bahkan merasa kalau Sehun adalah orang yang egois. Dia sama sekali tidak memikirkan teman-temannya yang merasa kehilangan karena kepergiannya. Hal itu berbeda dengan yang dirasakan oleh Jiyeon. Gadis itu akan benar-bemar merasa kehilangan sosok penyemangat dalam hidupnya.

“Aku akan benar-benar kehilangan dirinya,” gumam Jiyeon saat berbaring di atas ranjang kecilnya di dalam asrama.
Joy malah membelalakkan kedua mata bulatnya setelah mendengar pengakuan Jiyeon tadI. “Maksudmu Oh Sehun?”
Jiyeon tidak menjawab dan hanya diam, membiarkan Joy penasaran.
“Yaak! Katakan yang sejujurnya! Kau menyukai Oh Sehun?” tanya Joy yang telah duduk di samping Jiyeon dan menatap temannya curiga. “Aku mencium sesuatu yang kau sembunyikan,” tambahnya.
“Entahlah,” kata Jiyeon datar. “Aku pergi dulu dan akan kembali jam 10 nanti.” Jiyeon bangun dari pembaringannya kemudian meraih jaket di lemari baju dan langsung pergi keluar kamar.
“Jiyeon-a, kau mau ke mana?” tanya Joy dengan suara keras.

Jiyeon berjalan ke arah pusat kota dengan  tergesa-gesa. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan di luar asrama. Ya, sesuatu yang mungkin saja mengubah nasib seseorang atau bahkan nasibnya sendiri.
Jiyeon berjalan menerobos dinginnya malam. Ia sama sekali tidak mempedulikan kulitnya yang kedinginan.
“Di mana kau berada, Oh Sehun?” Jiyeon yakin kalau dirinya pastinakan menemukan Sehun di sekitar pusat kota. Terakhir bertemu dengan Sehun, dia berada di sekitar taman kota. Jadi, malam ini Jiyeon sengaja pergi ke taman kota dan berjalan di sekitarnya, berharap dirinya melihat sosok Sehun di tempat itu.

30 menit berlalu. Jiyeon tak kunjung menemukan Sehun. “Apa mungkin dia pulang ke rumahnya?” lirih Jiyeon bicara pada dirinya sendiri.

***

Jung Krystal tengah disibukkan dengan tugas membuat aransemen musik untuk lagu yang diciptakan oleh Jiyeon tadi siang. Ia sama sekali tidak mengerti tentang aransemen dan bagaimana cara mengerjakan tugasnya.
Bruk!
Krystal membanting tubuhnya di atas kasur kecil miliknya. Ia mencari ponselnya di sekitar bantal tidur. “Nah, ini dia.” Krystal mencari kontak Park Jiyeon atau siapapun yang mengenal Jiyeon. Ia ingin sekali mendatangi gadis itu dan menyuruhnya mengerjakan tugas mengaransemen musik dari lagu yang diciptakan oleh Jiyeon.
Berkali-kali Krystal mencari kontak seseorang yang mungkin mengenal Jiyeon, hasilnya tetap nihil. Satu-satunya teman yang bisa membantunya saat ini adalah Oh Sehun. Sehun mengenal Jiyeon dan mungkin namja itu mau membantunya tetapi pertanyaannya adalah di manaatas Oh Sehun sekarang?
“Aish! Payah! Aku terpaksa mendatangi Park Jiyeon ke kamarnya.” Krystal menggerutu kesal karena ia harus pergi ke kamar Jiyeon yang terletak di lantai dua, sedangkan kamarnya terletak di lantai satu.

Sesaat kemudian.
Tok tok!
“Yaak! Park Jiyeon! Keluarlah sekarang juga!” teriak Krystal dengan tidak sopan saat tiba di depan kamar Jiyeon.

Joy yang sedang berada di dalamdalam kamar, menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara Krystal yang berteriak di luar kamarnya. “Dasar tidak sopan!” Joy bergegas membuka pintu kamarnya dan ingin memarahi Krystal yang telah mengganggu ketenangan di lingkungannya.
“Jung Krystal! Apa yang kau lakukan ini, eoh? Kau merusak ketenangan di lingkungan kami. Apakah itu yang biasa dilakukam oleh idol terkenal sepertimu? Benar-benar memalukan!” Joy kesal melihat ulah Krystal yang keterlaluan.

“Mana Park Jiyeon? Suruh dia keluar!” Dengan angkuhnya, Krystal menyuruh Joy memanggil Jiyeon keluar dari kamarnya.
Joy tertawa terpingkal-pingkal. “Kau ingin bertemu dengan Jiyeon? Dia tidak ada di kamar. Beberapa menit yang lalu, Jiyeon pergi mencari Oh Sehun di luar sana.”
“Apa?”
***

Hampir satu jam Jiyeon mencari Sehun ke sana kemari. Ia merasa lelah mencari Sehun, tapi entah kenapa tiba-tiba semangatnya kembali saat mengingat Sehun menyuruhnya melakukan diet beberapa waktu yang lalu. Peluh jatuh membasahi pelipis Jiyeon yang tertutup oleh rambut. Malam ini ia harus bertemu dengan Sehun. Kecurigaan Taeyong benar-bemar bisa terjadi.

Hosh! Hosh! Hosh!
Jiyeon memutuskan istirahat sejenak di dekat gang sepi. Ia tak lagi berada di pusat kota. Entah berada di mana saat ini, Jiyeon tak peduli. Ia berdiri menyandarkan tubuhnya pada pagar tembok rumah seseorang. Nafasnya terengah-engah. Hal itu membuatnya teringat masa-masa dietnya bersama Joy dan bayangan Sehun pun kembali melintas di pikirannya.
“Oh Sehun… sebenarnya kau berada di mana saat ini?” Jiyeon bertanya pada dirinya sendirisendiri.
“Untuk apa kau mencariku?”
Deg!
Jiyeon mendengar suara Sehun. Ia yakin kalau itu hanya khayalannya.
“Yak, Park Jiyeon! Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini? Sendirian pula.”
Jiyeon menoleh ke arah sebelah kirinya. Rupanya namja yang ia cari selama satu jam, telah berdiri di sana dengan ekspresi santai dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku.
Jiyeon mendengus kesal. Ia mendekati Sehun dan menarik lengan namja jangkung itu. “Cepat kembali ke asrama, Oh Sehun!”
“Yak! Lepaskan aku!”
“Tidak!”
“Lepaskan aku, Park Jiyeon!”
“Tidak akan ku lepaskan!” teriak Jiyeon yang sama sekali tidak peduli kalau Sehun tidak mau diajak kembali ke asrama.
“Lepaskan tanganku! Tidak ada gunanya aku kembali ke sana.”

Deg!
Seketika itu, Jiyeon langsung melepaskan lengan Sehun. Kedua bola matanya berkaca-kaca.
“Jadi… itu benar? Apa yang dikatakan oleh Taeyong… ternyata memang benar?”
Sehun mengerutkan kening. “Memangnya apa yang dia katakan?”
“Kenapa kau melakukannya? Kenapa?” Jiyeon menangis di depan Sehun. Pertahanannya telah hancur. Ia tidak dapat menahan tangisnya lagi.
Sehun terdiam, menatap iba pada gadis yang berdiri di depannya.
“Aku tidak bisa kembali ke sekolah itu, Jiyeon-a. Tidak bisa.”
“Kenapa?”
Sehun menarik nafas dalam-dalam. “Ada alasan tertentu yang membuatku tidak bisa kembali ke sana. Tolong mengertilah….”

“Baiklah kalau begitu. Aku… juga akan keluar dari Kirin.”
“Apa?” Sehun terkejut. “Mana bisa seperti itu?”
“Kenapa tidak bisa? Ketika seseorang bertahan demi orang yang dia suka tetapi orang itu malah pergi meninggalkannya, apa yang bisa dilakukan? Bagaimana orang itu bisa bertahan?”
“Apa maksudmu?” tanya Sehun tidak mengerti. Ia sedikit kesal pada Jiyeon. Pengorbanannya melepas impian di sekolah Kirin ia lakukan demi teman-temannya agar mereka tetap bisa menuntut ilmu di sana. Tetapi salah satu orang yang dilindunginya ingin mengikuti jejaknya, apa yang harus ia lakukan?

Jiyeon terdiam. Ia mengepalkan kedua tangannya dan mencoba menghentikan tangisnya.
“Apapun alasan yang membuatmu keluar dari Kirin… bisakah kau tidak membiarkan hal itu terjadi? Bisakah kau bertahan di Kirin?” Jiyeon menatap Sehun lekat-lekat. Tatapan kasih sayang itu membuat Sehun menundukka kepalanya, tidak ingin melihat mata sembab seorang Park Jiyeon yang pernah ia olok-olok dulu.

Deg!
Sehun ingin sekali menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Tetapi ia tetap harus merahasiakan masalah yang sebenarnya.

“Aku yakin kau bisa melakukannya. Seperti aku yang melakukan diet hanya agar tidak diolok olehmu. Seperti aku… yang berhasil melakukam diet setelah seseorang menyuruhku melakukannya. Aku yakin kau bisa seperti itu.”
“Aku benar-benar tidak mengerti,” kata Sehun.
“Kau pikir apa yang membuatku menuruti kata-katamu dengan begitu mudah? Kau memintaku untuk melakukan diet. Dengan senang hati, aku pun melakukannya. Kau pikir apa yang membuatku menurut begitu saja pada kata-katamu?”
Sehun terhenyak. Ia mencoba mencerna kata-kata Jiyeon.
“Seseorang akan melakukan apa saja demi seseorang yang disukai. Itu yang terjadi padaku, Oh Sehun.”

Deg!
Kali ini Sehun dapat mencerna kata-kata Jiyeon.
“Jadi maksudmu….”
“Maaf telah mengganggu waktumu, Oh Sehun.” Jiyeon beranjak dari tempatnya berdiri, membiarkan Sehun melihat kepergiannya dengan tanda tanya besar yang bersarang di kepalanya.
“Jiyeon-a!” seru Sehun saat ia menyadari kalau Jiyeon beranjak pergi meninggalkannya. “Yak, Park Jiyeon!” panggil Sehun lagi. Ia ingin sekali mengejar Jiyeon yang berlari menjauh darinya. Akan tetapi, ia tidak bisa melakukan hal itu karena malam ini dirinya sudah berjanji pada sang ayah, dirinya akan pulang ke rumah dan tinggal di sana.

Tbc

Advertisements

22 thoughts on “Dream High 3 [Chapter 8]

  1. Wahhh jiyi nyatain perasaanya ke sehun.moga sehun ska jua.
    Gk rela klo sehun keluar dari kirin appanya sehun pemaksa amat.
    NEXT CHAP….
    hy thor slam knal
    Sebenarnya aku reader lama nama akun aku dlu megani123 skarang aku ganti jdi ini☺☺

    Like

  2. kirain joy mau traktir jiyeoj,eh ini malah membiarkan jiyeon ambil uang di atm,hahaha joy pelit ya dalam berteman sekali-kali mentraktir kan tidak apa ,yg ngajak makan duluan kan joy..
    appa sehun pemaksa,kalau perusahaan nya bangkrut karena sehun,baru tahu rasa😄

    Like

  3. Huaaaa histeris bacanya
    Jiyeon ngungkapin prasaannya dluan
    Dia udh lama ska sehun
    Masak?
    Knapa gue nggk tau
    Hwaaa suka suka
    Makin seruu
    Ayah sehun kayak nggk prnh muda aja

    Like

    • Jiyeon gk betah mendam perasaan ke sehun. Makanya dy nyatain perasaannya. Hoho… q sendiri gemes kalo jiyeon nunggu sehun mulu. Tembak aja dor gt. Hahaha

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s