[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #5. Sick, I’m Worried About You

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Donghae mengerjapkan matanya beberapa kali setelah sempat tertidur kembali. Kepalanya masih agak pusing. Samar-samar, bayangan Yoona yang rela berhujan-hujan ria bersamanya semalam terlintas dalam benaknya.

“Ah.. Donghae-ssi. Kau sudah bangun?”

Donghae terlompat dari posisinya karena benar-benar kaget. Matanya mendelik melihat Siwon sedang berdiri di depannya. Mengenakan kimono tidurnya pula.

Mwo..mwo..mwoya?? Kenapa kau ada disini Manager Choi??” teriak Donghae tertahan. Matanya masih membelalak dengan sempurna. Siwon hanya tersenyum misterius. Wajahnya lebih tampak seperti menggoda Donghae.

“Oh.. astaga!! Jawab pertanyaanku, Manager Choi!” pekik Donghae panik sendiri.Tangannya menyilang di depan dadanya seperti melindungi dirinya, berjaga-jaga saja jika Siwon mungkin melakukan sesuatu yang ‘gila’ padanya.

Siwon mengendikkan bahunya. “Aku hanya diberitahu untuk mengecek keadaanmu oleh Yoongie. Dia bilang kau mungkin sedang sakit sekarang.”

“Ah.. dasar mulut ember. Tapi, kenapa juga harus kau yang dikirim oleh Yoona?”

“Dia hanya percaya padaku.”. Siwon mengangguk-angguk takzim berusaha meyakinkan Donghae. Sesaat, pemuda itu terhipnotis oleh kelakuan Siwon.

“Ah! Kenapa kau memakai kimono tidurku, hah? Lancang sekali kau..”

“Ah.. ini.. Aku tidur disini semalam karena aku mengurusmu sampai larut malam. Kau lihat bekas kompres yang ada di meja? Aku harus berulang kali memasukkan es kesana.”

Donghae menoleh ke benda yang ditunjuk oleh Siwon. “Ah.. arrachi.”

“Aku juga meminjam celana dalammu.”. Donghae membelalakkan matanya sendiri. Apa?!

“Apa kau bilang?”

“Ini begitu nyaman dipakai. Apakah karena merknya mahal? Berapa harganya?”

“Lepaskan barangku sekarang juga!! Beraninya kau menyentuh barang pribadiku..”

“AH.. aku akan melepaskannya..”. Siwon hendak membuka celananya tepat di depan Donghae. Pemuda itu langsung menutup matanya dengan tangan. “Astaga! Kau gila! Sudahlah, ambil saja. Aku tidak akan mau memakainya lagi. Ambillah!” teriak Donghae panik sekali lagi.

Assa!! Bonus setelah menjagamu. Baiklah, aku akan menyiapkan sarapan. Tunggulah sebentar dan kita akan pergi ke kantor. Kau tidak mau mandi dulu?”

Donghae menganga melihat kelakuan Siwon yang benar-benar tidak biasa itu. Bagaimana ada pemuda seabsurd dia? “Oh, astaga.. aku bisa gila jika managerku adalah dia..” gumam Donghae seraya mengusap wajahnya frustasi.

Ne?”. Siwon rupanya mendengar perkataan Donghae. Membuat Donghae panik setengah mati. “Aku akan mandi dulu.” gagap Donghae dan langsung masuk ke kamarnya. “Astaga, dia begitu manis dan lucu. Dia cukup bisa dipakai sebagai bahan candaan selain Yoongie.”


*@NCT Entertainment

Uwa.. jeongmalyo? Ini mahal sekali..”. Siwon menatap celana yang dipakainya. Lebih tepatnya membayangkan celana dalam yang dipakai. Lebih tepatnya lagi adalah celana dalam Donghae.

“Dimana kau membeli celana dalam ini?” ujar Siwon dengan suara yang keras. Wajah Donghae sudah memerah karena malu. Siwon terus mengikutinya dan menanyakan soal celana dalamnya.

“Pantas saja ini nyaman sekali jika dipakai.” komentar Siwon. “Bisakah aku mendapatkan celana dalam darimu lagi?”

“Aish! Stop membicarakan celana dalam, celana dalam, dan celana dalam. Bisakah kau tidak membicarakan hal memalukan itu lagi?” ujar Donghae kesal dan mempercepat langkahnya agar Siwon tidak kembali mengikutinya. Ia mengambil langkah seribu.

#skip

Yoona berjalan di lorong dengan mata setengah tertutup. Hidungnya begitu gatal. Ia merasakan badannya begitu panas. Mungkin efek kehujanan semalam benar-benar membuatnya menderita flu dan demam yang cukup parah. Rasanya, untuk melangkah saja begitu sulit.

Donghae memperlambat langkahnya begitu melihat siluet Yoona yang begitu ia kenali. Bayangannya kembali memutar sebersit memori semalam dan memori masa lalunya secara bergantian.

Seseorang yang persis bernama Im Yoona. Yang juga pernah memayunginya dengan jaket yang ia punya ketika hujan turun. Dan memori buruknya kembali terulang. Hari pertama ia mendapatkan seorang sahabat yang takkan pernah ia lupakan.

Tanggal 13.

Im Yoona yang agak chubby tetapi begitu cantik di mata Donghae saat itu. Selain itu, kebaikan hati Yoona kecil takkan pernah dilupakan oleh Donghae.

“Ehem..”. Donghae berdehem dengan tidak sengaja untuk mengusir fantasinya sendiri. Tidak mungkin Yoona yang ia kenal sekarang adalah Im Yoona kecil yang dulu. Lagipula, Yoona yang ia kenal setiap hari juga selalu menemuinya. Yoona yang Donghae hanya tidak tahu bahwa itu Yoona palsu.

Yoona membalikkan badannya. Matanya melebar mendapati Donghae berjalan di belakangnya. Donghae sedang melihat ke arah lain. Namun, pandangan mereka lalu bertubrukan. Sama-sama terkejut.

“Ah.. Donghae-ssi, joheun achim imnida.. (selamat pagi)”. Yoona membungkukkan badannya 90 derajat dengan cepat. Gadis itu hendak membalikkan badannya kembali.

“Yoona-ssi, tentang kejadiam semalam..”

Ne?”. Yoona kembali menghadapkan tubuhnya ke arah Donghae.

Donghae menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa, tatapan Yoona membuatnya tidak nyaman dan selalu salah tingkah. “Kejadian semalam, anggap tidak pernah terjadi apa-apa.”

Ne..” jawab Yoona patuh. Ia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Donghae. Yoona merasakan hidungnya gatal. Badannya mematung. Wajahnya mulai mengeryit-ngeryitkan hidungnya. “Ada apa dengan wajahmu itu, Nona Im?” tanya Donghae.

Yoona hanya diam. Hidungnya bertambah gatal. “Hatsyiiii”. Yoona bersin dengan keras sekali hingga ingusnya mengenai Donghae yang berada di hadapannya.

Donghae memejamkan matanya sendiri dengan jijik. Ia bisa merasakan ada beberapa lendir yang melekat di wajahnya. Yoona membelalak melihat apa yang telah dia lakukan.

“Ah.. maafkan aku, Donghae-ssi.. aku tidak bermaksud.. Oh Tuhan, Yoona kau begitu teledor.”

Yoona mendekati Donghae dan berusaha mengelap ingusnya yang menempel di wajah Donghae dengan lengan sweatshirtnya. Donghae mundur beberapa langkah. “Ah.. gwaenchanha, Yoona-ssi.”

Yoona tidak menggubris perkataan Donghae dan terus melakukan kegiatannya membersihkan wajah Donghae. “Gwaenchanha, Yoona-ssi..” ujar Donghae yang sudah mulai risih. Pemuda itu nampak benar-benar tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Yoona.

“Aku bilang aku baik-baik saja, Nona Im!!!” teriak Donghae sudah tidak tahan. Yoona terkejut. Ia segera mundur beberapa langkah dan membungkukkan badannya lantas berlari menuju kantor. Gadis itu benar-benar merasa malu.

Donghae hanya mendecakkan lidahnya dengan kesal. “Ja, Donghae-ssi, apa yang kau lakukan disini? Apakah kau menungguku?”. Donghae terlonjak mendengar suara Siwon. Terutama melihat wajah Siwon yang berubah menjadi pervert.

“Tidak mungkin, aku tidak menunggumu..” bantah Donghae dan ia segera berlari menjauh dari Siwon yang terkekeh sendiri. “Ah, astaga, dia lebih menyenangkan dibandingkan Yoona jika aku kerjai..”


“Jungsoo sunbaenim, ini laporan mingguan.. HATSYII.. Hatsyii..”

Seluruh manager terlonjak dan sontak menjauh dari Yoona. Jungsoo yang ada di hadapannya lantas menutup hidung dan mulutnya. “Yoona-ssi, apakah kau flu?” tanya Jungsoo dengan suara yang aneh karena mulut dan hidungnya dibekap.

Yoona memandang sekitarnya. Para manager yang ada di sekelilingnya, bahkan yang paling jauh sekalipun menutup mulut dan hidungnya bahkan ada yang langsung memakai masker serta menatap Yoona dengan ngeri.

“Yoona-ssi, kau tidak boleh kecewa melihat kelakuan kami seperti ini. Kau tahu kami punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Jika kami sakit, deadline tidak akan bisa terkejar. Bulan ini banyak sekali manager yang harus mengatur jadwal comeback artisnya masing-masing. Kau mengerti? Jangan tersinggung ya..”. Jungsoo berusaha menengahi dengan memberikan penjelasan. Yoona mengangguk-angguk mengerti.

Ne.. maafkan aku semuanya.. Algesseumnida.. (aku mengerti)”. Yoona membungkukkan badannya beberapa kali ke seluruh penjuru arah.

Siwon menatap semua kejadian itu dengan kesal.

“Ah.. kenapa kalian semua benar-benar.. Memperlakukannya seperti virus berbahaya saja.”. Siwon terdengar jengkel sekali. Yoona hanya diam dan duduk di meja kerjanya. Manager yang lain sudah sibuk kembali dengan pekerjaannya sambil sesekali mengibas udara di sekitarnya seolah dampak dari bersinnya Yoona belum kunjung hilang.

“Jadi, Yoongie.. Apakah kau memang flu?” tanya Siwon. “Ya, aku rasa begitu.. Hatsyiii..”. Yoona menoleh dan kembali bersin dengan keras sampai kepalanya terantuk ke bawah.

“Ah.. Astaga.. Yoona-ssi, kau benar-benar harus keluar jika ingin bersin..” teriak beberapa manager.

“Eng?”. Yoona bingung melihat Siwon sudah tidak ada di hadapannya begitu ia selesai bersin.

Siwon sudah beberapa meter jauhnya dan terlihat seperti menyemprotkan cairan pembersih udara. Yoona merengut dengan kesal. Ternyata, Siwon juga sama saja. Memperlakukannya sebagai virus juga.

Donghae yang berada di ambang pintu terheran-heran dengan keadaan kantor manager yang kacau balau. Kehadirannya sama sekali tidak disambut seperti biasanya.

“Aku sudah bilang jangan bersin disini, Yoona-ssi..”. Omelan beberapa manager sampai ke telinga pemuda itu.

Donghae menoleh ke arah Yoona yang ada di ujung ruangan sedang sibuk menyeka hidungnya. Perasaan pemuda itu menjadi tidak enak. Dialah yang menyebabkan Yoona sakit dan menjadi bulan-bulanan para manager disini – dianggap sebagai virus berbahaya. Pandangan pemuda itu tidak bisa diartikan. Donghae menatap lekat-lekat siluet Yoona.

“Hatsyii..”

“Astaga…” teriakan yang hampir sama itu terus terulang setiap kali Yoona bersin. Yoona terlihat kewalahan menyeka hidungnya. Seorang manager mondar-mandir di sekitar Yoona sembari menyemprotkan cairan pembersih udara.

“Pakai maskermu, Yoona-ssi.. Itu ada dalam kotak P3K di pantry..”

Ne.. algesseumnida..

“Ini. ini, aku sudah mengambilkannya untukmu.”. Jungsoo meletakkan sebuah masker di atas meja Yoona.

Gomapseumnida, sunbae.. Hatsyii..”. Jungsoo segera pergi menghindar.

Donghae masih menatap Yoona dengan perasaan bersalah. Hatinya sedikit tergerak. Entah kenapa, melihat Yoona yang begitu tegar menghadapi perlakuan para manager padanya. Padahal, gadis itu bisa saja tidak memayunginya ketika hujan kemarin. Kesimpulannya, dialah yang menjadi penyebab Yoona menjadi seperti ini.

Dan Yoona terlihat sama sekali tidak terganggu diperlakukan seperti itu. Donghae yakin Yoona bahkan tak menyalahkannya sebagai penyebab sakitnya itu.

Donghae menutup pintu dan dengan langkah panjang-panjang menuju suatu tempat.

*Author’s POV

Donghae masuk ke dalam ruangan manager ketika tidak ada seorang pun yang menyadari kehadirannya karena kesibukan mereka masing-masing. Pemuda itu tersenyum senang menyadari rencananya akan berjalan dengan mulus.

Satu kantong kertas kecil berisikan obat untuk flu dan demam berada di dalam saku jas Donghae. Donghae melangkah dengan pelan menuju tempat dimana Yoona bekerja. Ia akan memberikannya secara diam-diam.

Tinggal beberapa langkah lagi..

“Yoona-ssi, apakah kau bisa membantuku dalam hal ini??”. Seorang manager cepat-cepat datang ke meja Yoona. Gadis itu meneliti dokumennya dengan cepat.

“Ah, kau hanya harus meletakkan ini disini. Dan jangan lupa meminta tanda tangan Tae Hee sajangnim agar ini menjadi sah..” ujar Yoona.

Donghae segera membalikkan badannya dan duduk di salah satu meja kerja manager begitu ada orang lain yang hendak menghampiri meja Yoona.

Donghae menghela napasnya lega mengetahui manager tadi tidak sadar sama sekali akan kehadirannya.Pemuda itu kembali bangkit dan bergegas menuju meja Yoona sebelum ada orang lain lagi.

Tinggal beberapa langkah..

Siwon memundurkan kursi kerjanya dan meluncur lurus menuju meja Yoona. Tangannya meletakkan sesuatu. Sebuah kantung kertas kecil berisikan obat.

Donghae kembali membalikkan badannya. Ia tidak mau Siwon melihat kedatangannya dengan membawa kantung kertas berisikan obat pula.

“Yoongie..”. Siwon menempelkan sebuah kompres tempel untuk demam begitu Yoona menoleh ke arahnya.

Ne? Aw.. ini dingin.. Apa ini, oppa?”

“Ah.. gaman isseo.. (diamlah sebentar)”. Siwon memakaikan sebuah masker untuk menutupi mulut dan hidung Yoona. Yoona hanya bisa diam sementara memperhatikan apa yang Siwon lakukan. Hatinya menghangat dengan apa yang dilakukan Siwon. Kening Siwon mengerut tanda dia sedang serius mengerjakan apa yang dilakukannya sekarang.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona lagi. Siwon mengusap tangannya serta tersenyum puas melihat hasil kerjanya terhadap Yoona.

Donghae mendengus kesal melihat apa yang dilakukan Siwon kepada Yoona. Ada sebuah perasaan aneh melandanya melihat Siwon begitu perhatian kepada Yoona.

“Ini akan membuatmu berhenti diperlakukan seperti virus berbahaya. Tetaplah seperti itu. Dengan masker di mulut dan hidungmu serta kompres di dahimu. Jangan lupa minum obatnya. Kau tidak nampak sehat hari ini, jadi bagaimana bisa kau juga membantu orang lain?”. Yoona menatap Siwon tanpa berkedip.

“Sudahlah. Aku pergi.”. Siwon kembali berseluncur menuju meja kerjanya dengan kursinya. Siwon melambaikan tangan di belakang tubuhnya.

Donghae melihat semuanya. Perasaannya campur aduk. Lagi, Siwon selalu saja mendahuluinya. Mendahuluinya dalam masalah mengambil perhatian Yoona. Eh? Kenapa aku memikirkan hal itu?, Donghae menyerah dan segera menuju pintu keluar. Ia mengintip isi kantong jasnya yang berisikan kantung obat dengan kesal dan kecewa.

“Eoh? Donghae-ssi? Kapan Anda datang? Apakah Anda mencari Yoona-ssi?”. Donghae terlonjak mendapati Jungsoo menyapanya. “Ah.. itu aku..”

“Sebaiknya anda mencarinya lewat telepon saja. Dia sedang agak kurang sehat dan itu mungkin akan menyebabkan Anda sakit.”

“Aku tahu.” jawab Donghae pendek. Perasaan kesalnya semakin memuncak. Ia membanting pintu ruangan dengan keras. Jungsoo hanya menggelengkan kepalanya. “Dia masih saja suka membanting pintu..”


Donghae melangkahkan kakinya lebar-lebar di sepanjang lorong dengan kesal. Bagaimana bisa ia memikirkan hal bodoh itu tadi?

Dan aku merasa senang dengan ide konyolku itu? Astaga.., Donghae langsung memasukkan kantung berisikan obat itu ke tempat sampah. Ia menuju lift untuk sampai ke lantai dasar.

Siwon menengok ke kanan dan ke kiri. Tanpa sengaja, dia melihat Donghae hendak turun menggunakan lift. Sebersit pikiran jahil terlewat dalam pikirannya. Senyuman jahilnya mengembang.

“Donghae-ssi!! Donghae-ssi!! Tunggu..”

Donghae membelalakkan matanya melihat Siwon berusaha mengejarnya. Ia menekan-nekan tombol untuk menutup pintu lift dengan cepat. Ia berusaha tenang sebisa mungkin. Jika Siwon bertemu dengannya lagi, dia pasti akan mengobrolkan masalah celana dalam seperti tadi pagi lagi.

Ting… Pintu menutup tepat sebelum Siwon hampir masuk ke dalam lift. Donghae tersenyum aneh karena lega melihat Siwon tidak bisa masuk ke dalam lift. Pemuda itu melambaikan tangannya sedikit.

Begitu Donghae hilang dari pandangannya, Siwon terpingkal-pingkal sendiri melihat bagaimana tadi ekspresi Donghae begitu melihatnya.

Yeoboseyo?”. Donghae mengangkat panggilan teleponnya sementara lift masih turun dengan perlahan dari lantai 5.

“Donghae-ya? Bagaimana jika kita makan siang bersama? Aku tahu tempat dimana mendapatkan sup yang baik untuk menyembuhkan flumu segera. Sup kerang jamur disana enak.. Bagaimana?”

Donghae tersenyum. Yoona – maksudnya Jessica – masih sangat perhatian dengannya. “Baiklah. Dimana kita akan bertemu?”

#skip

Hujan turun dengan deras. Jessica menengadahkan kepalanya melihat setiap butir hujan yang turun dengan senyuman manis yang terulas di bibirnya tanpa sadar. Gadis itu menjulurkan tangannya ingin merasakan sedikit dinginnya air hujan.

Pikirannya melayang kembali ke masa lalunya ketika ia masih bisa bermain-main hujan bersama dengan ibunya yang ia cintai. Ibu kandungnya, dan bukannya ibu tirinya seperti saat ini.

Jessica masih mengingat dengan jelas betapa bahagianya dirinya saat itu. Sampai akhirnya, semua kebahagiaannya terenggut karena perceraian kedua orang tuanya. Ayahnya memaksa dirinya tinggal bersamanya ketika ibunya ingin membawanya ke luar negeri – tepatnya ke Jepang.

Karena alasan itulah, Jessica hidup bersama dengan Yoona. Dia lebih memilih tinggal bersama sahabatnya yang dulu selalu merawatnya kala ibu tirinya selalu saja membuatnya sakit hati. Yoona sudah bagaikan ibu kandungnya sendiri yang selalu merawatnya.

Yoona lah yang memberikannya rasa tenang ketika Jessica selalu berada di sisinya.

Donghae melangkah dengan takut-takut di balkon gedun tempat janjiannya dengan Jessica. Pemuda itu sangat membenci hujan. Ya, hujan selalu saja membuatnya kembali menemukan masa lalunya yang kelam.

Ketika hujan turun, satu-satunya kebahagiaan dalam hidupnya direnggut secara paksa begitu saja. Ibunya – orang yang paling ia kasihi – meninggal dalam kecelakaan mobil karena kabut yang menghalangi pandangan. Tentu saja, kabut itu disebabkan karena hujan deras.

Sejak saat itulah, Donghae kecil selalu membenci hujan. Karena itulah juga, Donghae tidak bisa menyetir kala hujan deras turun. Itulah kenapa Yoona dengan rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan pemuda itu.

Donghae tersenyum melihat siluet Jessica (dalam konteks ini masih Donghae anggap sebagai Yoona) yang tampak sudah menunggunya di pinggir gedung untuk berteduh. Ia melangkah dengan pelan. Semakin dekat, senyuman Donghae menipis seketika melihat Jessica sangat asyik bermain-main dengan air hujan.

Bukankah dia tidak menyukai hujan? Apakah dia bukan Yoona?, Donghae berusaha menepiskan pikirannya yang mulai aneh.

Donghae berada tepat di belakang Jessica begitu gadis itu menoleh dengan senyuman manis bertengger di wajahnya. “Ah. Hae-ya!”

Donghae sontak terkejut. Lamunannya seketika buyar. Ia berusaha tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.

“Ah.. Annyeong.. Kau sudah menungguku lama?”

Jessica tersenyum begitu senang. Entah kenapa melihat Donghae saja sudah membuatnya bersemangat. Hatinya pun membuncah tidak keruan. “Ani.. aku baru saja sampai.”

Donghae mengangguk pelan. Benaknya masih dibayangi oleh sebersit pikiran aneh tadi.

“Ayo, kurasa waktu istirahat siangnya akan segera berakhir. Kita hanya tinggal berjalan kaki saja dari sini.”

“Tapi, ini hujan..” gumam Donghae pelan. Jessica tidak mendengarnya. “Wah.. lampu hijau. Ayo..” seru Jessica begitu lampu untuk pejalan kaki di seberang jalan menyala.

Jessica mendahului Donghae dan berjalan menyebrangi jalan dengan tas di atas kepalanya untuk melindunginya dari hujan. Gadis itu nampak sama sekali tidak khawatir akan hujan yang bisa membuat rambutnya mengembang – persis seperti apa yang dibenci gadis itu. Yoona tidak menyukai rambutnya yang mengembang. Gadis itu bilang ia akan mirip kepala jamur.

Donghae kembali terhenyak. Ia yakin sekali Yoona akan melakukan kebiasaannya jika lampu penyebrangan menyala berwarna hijau.

“Oh? Gasioda! (jalan!)..”. Yoona berteriak dengan antusias begitu lampu penyebrangan berwarna hijau disana.

“Kenapa kau menyebutnya begitu?” ujar Donghae kepada Yoona yang ada di sebelahnya ketika menyebrang. Yoona menoleh dan tersenyum. “Seluruh keluargaku melakukan itu.”

“Kalau hijau kau sebut jalan, maka warna merah kau sebut berhenti?” tanya Donghae lagi. Sekali lagi, Yoona tersenyum dengan manis. Senyuman yang selalu Donghae sukai.

“Ani.. aku juga tidak tahu kenapa keluargaku menyebut lampu hijau sebagai jalan. Sudahlah, ayo kita harus cepat-cepat agar tidak terlambat.”

“Kau tidak akan menyebrang?”. Jessica sedikit berteriak. Donghae tergugah. Ia lihat Yoona – maksudnya Jessica – menatapnya dengan pandangan bingung. Pemuda itu segera menudungkan mantel panjangnya ke atas kepalanya dan berjalan bersama Jessica..


*NCT Entertainment

“Eng? Bawang bombay?” tanya Yoona pada dirinya sendiri melihat benda itu tergeletak di mejanya.

“Ada yang tahu bawang bombay siapa ini?”. Yoona mengangkat tinggi-tinggi benda itu. Semua manager hanya mengendikkan bahunya cepat dan segera melanjutkan pekerjaan mereka. Siwon menegakkan telinganya mendengar kata-kata Yoona. Pikiran jahil segera merajainya.

“Ah… itu properti untuk pemotretan hari ini.”

“Pemotretan siapa? Donghae tidak ada jadwal pemotretan hari ini. Dia hanya latihan di ruang latihan.”. Yoona memandangi bawang bombay itu seperti tidak pernah melihatnya.

“Ah, bukankah itu untuk Bae Irene? Model itu? Siapa managernya?”

Seseorang mengacungkan tangannya tanpa berkata-kata. “See? Itu untuk pemotretan.”

“Hati-hati. Itu barang mahal. Harganya sekitar 1.000.000 won.”

Mwo?” teriak Yoona terkejut. “1.000.000 won? Wah..”. Yoona berdecak kagum menatap benda yang ‘begitu mahal’ itu.

Siwon mendengus karena menahan tawanya. Yoona menaikkan sebelah alisnya dengan curiga. “Aaa.. kau berbohong lagi padaku?” tanya Yoona dengan nada meninggi. Meledaklah tawa Siwon terbahak-bahak.

“Bagaimana bisa kau dengan mudahnya tertipu dengan candaanku? Ya ampun Tuhan, bahkan sepertinya anak TK pun tidak akan tertipu dengan candaanku.”. Siwon mengusap sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.

Yoona merengut. Astaga, jika dia seperti ini terus bagaimana bisa aku membedakan mana yang bercanda dan tidak.

“Kenapa ini ada disini ya?”. Yoona membatin. Matanya sekarang tertuju ke tumpukan surat dan file-file yang menumpuk di atas meja kerjanya. “Oh, astaga!!! Aku harus memberikan ini pada Donghae!”

Yoona diam sesaat. Hidungnya kembali gatal. “Hatsyii..”

“Oh, astaga, mana maskermu??” omel Bae Suzy – salah satu manager paling cerewet dan heboh di NCT Entertainment. Dia adalah manager dari Kim Woo Bin – salah satu model papan atas keluaran NCT Entertainment.

Yoona hanya membungkukkan badannya meminta maaf dan bergegas keluar. Siwon kembali menatap Yoona dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


Tok.. tok..

“Donghae-ssi? Apakah aku boleh masuk?”

Hening. Lorong lantai 8 tempat para artis bersemayam begitu sepi. Yoona melirik jam tangannya. Gadis itu menepuk keningnya sendiri. Bukankah ini jam makan siang? Kenapa tadi semuanya belum istirahat?

Ckrek..

Lho? Ini tidak terkunci?, Yoona masuk dengan perlahan. Astaga, harusnya aku tidak boleh seperti ini.. ani.. bukankah sebagai manager aku boleh masuk ke dalam? Lagipula, aku tidak akan melakukan apapun bukan?

Yoona masih saja berjingkat-jingkat walaupun tidak ada seseorang pun disana. Ia menaruh surat dan berkas itu di meja kerja Donghae yang nampak rapih.

Em? Ponselnya tertinggal?, Yoona tertarik untuk melihat apa isi ponsel pemuda itu. Pemuda kekanakan yang dulu perah ia kenal. Pemuda yang pernah menjadi cinta pertamanya. Pemuda yang benar-benar menyebalkan untuknya saat ini. Namun, entah kenapa Yoona tidak bisa membencinya.

Yoona mengetuk layar ponsel Donghae dua kali. Layar ponselnya menampilkan apa yang baru saja dikerjakan pemuda itu.

“Mwoya? Bawang bombay bisa meredakan flu secara signifikan. Taruh bawang bombay di meja kerjamu dan flu Anda akan segera mereda.” ucap Yoona membaca headline artikel tersebut.

Yoona memiringkan kepalanya. Berusaha mengingat sesuatu. Sepertinya, ada yang berhubungan dengan artikel ini.

Seolma? (Apakah mungkin?) itu Donghae yang memberikan bawang bombay?

Yoona tersenyum sendiri mengingat khayalan liarnya yang benar-benar di luar akal sehat.


Donghae membuka pintu ruangan para manager dengan perlahan. Berusaha melakukan apa yang selalu disarankan Tae Hee agar tidak membanting pintu. Kosong?, Donghae berjalan ke meja Yoona yang terletak di ujung ruangan.

Matanya langsung menangkap ke arah bawang bombay yang sudah ditaruh ke dalam gelas kecil berisikan air. Benda itu pun sudah diberi mata dan senyuman oleh Yoona. Nampaknya, gadis itu menyukai apa yang telah diberikannya.

Donghae tersenyum tanpa ia sadari. Senyuman tulus yang sama sekali belum diketahui oleh orang lain. Selama ini, senyuman yang selalu dilihat para fans dan masyarakat hanyalah sebuah senyuman yang memang harus ia lakukan.

“Oh.. astaga.. My adore, Donghae-ssi.. Kau tampak begitu tampan jika senyumanmu selalu seperti itu.”. Donghae terperanjat. Senyumannya lenyap seketika. Matanya membulat mendapati Tae Hee sudah berada di depannya.

“Omo! 깜짝이야!! (kau mengejutkanku!)” teriak Donghae sembari memegang dadanya. Tae Hee tersenyum misterius. “Hm.. kenapa kau tersenyum hanya melihat sebuah bawang yang ditaruh di meja managermu sendiri huh? Apakah kau menyukainya?”. Tae Hee menggoda Donghae dengan memegang dagunya dan menggeleng-gelengkan kepala pemuda itu.

Donghae buru-buru melepaskan wajahnya dari tangan Tae Hee. “Aniyeyo. Bagaimana bisa kau berprasangka seperti itu?”. Donghae cepat-cepat pergi dan membanting pintu lagi. Ia lupa saran Tae Hee sama sekali.

“Astaga, dia masih saja membanting pintu..”. Tae Hee menggelengkan kepalanya sendiri. Namun, di bibirnya tersimpan sebuah senyuman misterius. Ya, wanita itu yakin dengan pasti akan prasangkanya itu.


“Hatsyiii!! Hatsyii!!”. Yoona langsung bersin-bersin tepat di depan Jungsoo ketika baru saja memasuki ruangan. Pria itu hanya bisa mengibaskan tangannya sebelah dan menutupi mulut dan hidungnya dengan tangan yang sebelahnya lagi. “Jangan lupa memakai maskermu, Nona Im..”

Ne, sunbaenim.. Mianhada.. Gomapseumnida..”. Yoona membungkukkan badannya sejenak dan langsung pergi dan menghempaskan dirinya ke kursi dengan lelah. “Ah.. astaga, hatsyii..”

Matanya tak sengaja tertuju ke kantong obat yang tadi diberikan Siwon. “Aku lupa memakan obatnya..”

Yoona mengambil air ke pantry dan langsung meminum obat yang berbentuk serbuk itu dengan sekali tenggak. “Astaga! Pahit sekali! Oh..” keluh Yoona yang minum obat merem-melek.

#skip

Yoona berusaha memusatkan konsentrasinya ke arah monitor laptop. Earphone ia pasang dengan volume super keras untuk mengusir rasa kantuknya. Kepalanya terantuk-antuk.

“Ah.. astaga!! Obat itu membuatku mengantuk sekali!”. Yoona berseru keras. Gadis itu menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan kencang. “Aww..”. Bodoh, gadis itu mengaduh sendiri.

Hening. Maklum saja, jam sudah menujukkan pukul 11. Seluruh manager terlihat sudah meninggalkan ruangan itu. Penerangan di dalam situ pun sudah menjadi remang-remang.

“Ayo, Im Yoona!! Kau harus semangat!”. Yoona mengepalkan kedua tangannya sendiri dan memberikan semangat sendiri. “Oh, aku tidak bisa.. Aku sangat mengantuk. Ah! Permen karet!”

Yoona mengaduk-aduk tasnya dan menemukan benda yang dicarinya. Segera ia masukkan sebutir permen karet itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan semangat. Awalnya, gerakan mengunyahnya begitu cepat, lambat laun, mulutnya bahkan sepertinya tidak sanggup mengunyah apapun.

Kepalanya berputar-putar ke kanan-kiri-belakang-depan karena sudah kehilangan keseimbangannya karena mengantuk.

Donghae membuka pintu kantor manager perlahan. Entah karena dorongan apa, ia ingin saja memeriksa keadaan Yoona. Harusnya dia sudah pulang, bukan?

Matanya membulat mendapati siluet Yoona masih berada di ujung ruangan sana diterangi dengan lampu meja seadanya. Kepalanya nampak terantuk-antuk. Kanan-kiri-belakang-depan.

“Oh.oh.. oh..” teriak Donghae panik sendiri. Pemuda itu langsung berlari secepat yang ia bisa.

Kanan-kiri-belakang-depan… dan..

Yoona sepertinya sudah tidak sanggup lagi mempertahankan keseimbangannya. Kanan-kiri-belakang-depan-ka..

Hap..

Tangan Donghae dengan lihai menangkap kepala Yoona yang sudah akan terantuk ke atas meja. Wajah pemuda itu terlihat begitu tegang. Ia melirik ke arah Yoona melalui sudut matanya. Ia bernapas lega. Untung saja, kepalanya tidak jadi terantuk.. Senyuman kembali mengembang di bibirnya tanpa ia sadari. Sebuah senyuman tulus. Tangannya masih tetap disana untuk menahan kepala Yoona.

KRIINGG.. KRRIINGG

Donghae membelalak kaget. Suara dering telepon terdengar begitu nyaring karena ruangan itu sudah sunyi senyap. Donghae panik. Ia tidak tega melepaskan tangannya dari kepala Yoona karena sudah pasti kepala gadis itu akan segera terantuk., tapi, jika ia tidak mematikan telepon itu, Yoona akan bangun dan menangkap basah apa yang sedang dilakukannya.

Dengan segenap kekuatan yang ia punya, Donghae berusaha menggapai telepon yang ada di ujung kiri meja Yoona. Pemuda itu mulai menyesali kenapa tangannya begitu pendek.

Dapat. Setelah beberapa kali mencoba. Telepon itu terus saja berdering.

Trek. Donghae mengangkat sebentar gagang teleponnya dan langsung menutupnya kembali. Donghae menghela napas dengan begitu lega. Ukh, astaga, kenapa aku melakukan ini?

“Donghae-ssi? Anda belum pulang? Kenapa Anda kemari?”

Sontak, Donghae melepaskan tangannya yang menahan kepala Yoona. Membuat kepala Yoona terantuk begitu keras dan membuat si empunya terbangun.

Donghae berpikir sejenak. “Astaga! Kau mengagetkanku!”. Donghae pura-pura terlompat ke belakang dan tidak sengaja duduk di pangkuan Yoona yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Gadis itu hanya melotot melihat kelakuan Donghae.

“Oh, astaga! Apakah aku mengagetkanmu?”. Eun Ji buru-buru membuka masker di wajahnya dan menundukkan kepala sejenak. “Tidak.. kau tidak mengagetkanku sama sekali.”. Eun Ji menahan tawanya melihat wajah Donghae yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Ah.. itu..” . Eun Ji menunjuk ke arah Yoona yang masih berada di belakang Donghae. Pemuda itu terlompat dari pangkuan Yoona dengan wajah bertambah terkejut.

“Ah.. itu aku.. Kenapa kau meletakkan barangku di mejamu, Nona Im?! Bagaimana bisa kau seceroboh itu?”. Donghae dengan asal mengambil beberapa kertas dari meja Yoona dan bergegas pergi.

Yoona dan Eun Ji hanya melongo melihat tindak-tanduk Donghae yang benar-benar ganjil.

Eun Ji mengendikkan bahunya. “Ayo, kita pulang, Yoona-ssi..”. Yoona mengangguk patuh. “Ne..”


Donghae mengurut pelipisnya sendiri dengan kesal. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu tadi? Memalukan sekali, rutuk Donghae tidak habis pikir.

“Sial!”. Donghae memukul stir mobilnya dengan kesal. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan frustasi kala lampu merah membuatnya harus berhenti.

Matanya berhenti ketika menangkap satu siluet yang benar-benar tidak asing baginya sedang terantuk-antuk di kursi tunggu yang ada di halte.

Yoona?

Tin.. tin…

Suara klakson mobil yang meraung tidak sabar di belakang mobil Donghae memaksa pemuda itu menjalankan mobilnya sebelum ia sempat merangkai idenya sendiri.

Bus datang menuju halte. Citt.. suara decit rem bus yang keras masih belum mampu membuat Yoona terbangun. Kepalanya masih berputar kanan-kiri-depan-belakang seperti ketika di kantor.

Agasshi!! Kau mau naik tidak!?” teriak supir bus dari dalam. Yoona masih saja belum sadar. “Astaga, bagaimana bisa ada gadis seperti dia tertidur di halte?” omel supir bus itu. Ia segera menutup pintu. Dan menjalankan busnya dengan perlahan. Tepat saat itu, Yoona membuka matanya dan mendapatkan kesadarannya kembali.

Ahjussi!! Tunggu!! Ahjussi!! Stop!!” teriak Yoona keras dengan panik. Untung saja, supir bus itu masih punya sedikit rasa kasihan.

Pintu terbuka. “Gomapseumnida, ahjussi..

#skip

Yoona nampaknya benar-benar tidak kuat menahan efek obat flunya yang terlalu berat. Rasa kantuk benar-benar telah merenggut kesadarannya sepenuhnya. Yoona tertidur di bus dengan kepalanya yang terus saja berputar-putar.

Kepalanya pernah sekali tidak sengaja menyandar ke bahu seorang pemuda. Nampaknya, pemuda itu agak risih melihat kelakuan Yoona. Tanpa hati, pemuda itu segera mengendikkan bahunya keras-keras membuat kepala Yoona terantuk ke jendela bus. Gadis itu terbangun dan mengeluh. Dia menatap ke arah pemuda itu untuk meminta maaf, tapi, nampaknya, pemuda itu benar-benar arogan.

Yoona tertidur lagi. Bus mengerem dengan mendadak karena ada seseorang yang harus dijemput di halte. Pintu terbuka. Pemuda yang ada di sebelah Yoona turun karena sudah sampai di tujuannya.

Pemuda yang tadi menjadi alasan bus itu mengerem mendadak untuk mengangkutnya, duduk persis di sebelah Yoona. Wajahnya ditutupi dengan sebuah majalah yang memang sukses untuk menutupi seluruh wajahnya.

Dengan mantel hitam, celana panjang hitam, dan juga topi pet warna hitam, pemuda itu nampak begitu misterius.

Yoona kembali terlelap dalam tidur dalamnya. Kepalanya mulai berputar-putar lagi. Kanan-kiri-depan-belakang.. kanan-kiri…

Pluk. Kepala Yoona sukses bersandar di bahu pemuda itu. Nampaknya, Yoona mengira pundak pemuda itu adalah bantalnya sendiri. Dengan nyaman, ia membenamkan kepalanya lebih dalam di bahu itu.

Pemuda itu hanya diam. Mematung. Bahkan tangannya nampaknya tidak pegal mengangkat majalah yang menutupi wajahnya itu. Dia sepertinya lain dengan pemuda yang tadi duduk di samping Yoona.

Bus kembali mengerem dengan mendadak. Membuat kepala Yoona kembali terantuk ke kursi di hadapannya. Sukses membuat gadis itu bangun dan mengaduh kesakitan lagi.

“Oh, dimana aku sekarang?”. Yoona buru-buru mengumpulkan kesadarannya dan menoleh ke arah jendela. Matanya membulat begitu melihat nama halte tempat busnya berhenti. Pintu ditutup begitu tidak ada yang mau turun.

Yoona mendelik. “Ehh.. ahjussi!! Tunggu dulu. Aku akan turun..” teriak Yoona kencang. Pemuda di sebelahnya masih mematung dengan majalah yang menutupi wajahnya. Yoona sama sekali tidak menyadari keberadaan pemuda di sampingnya yang tadi menjadi ‘sandarannya’.

Bus kembali berjalan. Pemuda itu nampak memperhatikan Yoona yang sedang berjalan dengan terkantuk-kantuk lagi.

“Hah.. bagaimana bisa gadis itu tidur dimana pun?” desah pemuda itu dan menurunkan majalah yang sedari tadi menutupi wajahnya.

Ya, siapa lagi jika itu bukan Donghae. Donghae menghela napasnya dengan keras dan duduk di samping jendela – tempat tadi Yoona duduk. “Tapi, dimana aku sekarang?” gumamnya pelan memperhatikan remang-remang lampu jalan yang seakan menghangatkan hatinya.

Note: Jangan lupa komennya yaa.. Gamsahamnida, Love, Euri

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s