[Chapter] Distance – #3.

parkseungrihae-copy.jpg

Title: Distance

ParkSeungRiHae storyline

Cover by: @ChocoYeppeo INDO FANFICTION ARTS (IFA)

Main cast: Cho Kyuhyun, Bae Irene, Kim Taehyung/V (BTS)

Disclaimer: Seluruh cast yang ada di sini merupakan milik Tuhan Yang Maha Esa dan juga kedua orang tuanya. Seluruh plot dan ide cerita FF ini murni berasal dari imajinasi saya dan bukan merupakan FF remake atau apapun itu.

DON’T BE PLAGIAT! DON’T BE SIDERS! Show us some respect..

Thanks, Euri

HAPPY READING, GUYS! ^^

Aku tidak suka melihat orang terluka, aku membencinya.. – Bae Irene

*Author’s POV

Irene menumpukan tangannya di tembok bangunan yang berdiri di sepanjang trotoar. Jalannya tertatih-tatih. Suhu badannya terus saja meningkat. Kini, napasnya lebih sesak dibandingkan tadi. Irene bolak-balik menempelkan punggung tangannya di dahi, mengecek suhu tubuhnya sendiri.

Irene memeluk dirinya sendiri berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang masih ia punya. Matanya kembali berkunang-kunang. Irene mengerjapkan matanya beberapa kali. Plang apotek tinggal beberapa puluh meter di depannya. Kakinya semakin lemas. Giginya bergemeletuk mengigil hebat.

Putih. Lalu gelap. Irene tidak bisa merasakan tubuhnya lagi.

Suara berdebum terdengar agak keras. Gadis itu tergeletak tak sadarkan diri di trotoar. Sialnya, jalanan itu begitu sepi.

Kyuhyun terengah-engah. Kepalanya menengok kesana-kemari berusaha menemukan sosok Irene yang tinggi semampai dengan rambut kecoklatan sepunggung. Kyuhyun tertegun ketika ia menatap lurus ke depan. Sesaat ia tidak sadar apa yang sedang terjadi.

Pemuda itu langsung berlari sekuat yang ia mungkin untuk menghampiri sosok itu – yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri.

Kyuhyun menatap panik wajah cantik yang terpejam itu. Ia menepuk pelan pipi gadis itu. “Astaga! Panas sekali.. Irene-ah, bangun, Irene-ah..”. Suara Kyuhyun bergetar. Kau bodoh sekali, Cho Kyuhyun! Kau membuat keadaannya bertambah parah.

Kyuhyun langsung mengangkat Irene dengan kedua tangannya. Membopong gadis itu sembari berlari menuju rumah sakit yang terpisah dua blok dari situ. Kau harus tetap kuat, Irene-ah.., kumohon…

Taehyung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh keluar dari basement gedung Cho Corp. Ia menatap trotoar yang mungkin disusuri Irene untuk sampai ke apotek. Matanya menatap lekat sisi jalan. Taehyung langsung menginjak rem mobilnya dengan mendadak begitu melihat Kyuhyun disana sedang berlari dengan Irene yang ada dalam tangannya.

Taehyung menepikan mobilnya. Lalu menurunkan kaca mobilnya. “Kyuhyun-ssi!! Masuk ke dalam!!”

Kyuhyun langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Taehyung dengan tidak suka. “Apa? Aku akan mengantarkannya sampai kesana.”

“Tidak. Masuklah ke mobilku dan aku akan mengantar kalian ke rumah sakit!”

Kyuhyun masih tetap keras kepala dan meneruskan langkahnya. Kyuhyun memejamkam matanya sendiri berusaha mengusir kekhawatiran yang berputar di kepalanya.

“Kyuhyun-ssi!! Kau harus masuk sekarang atau Irene tidak akan tertolong!!” bentak Taehyung yang terus mengikuti Kyuhyun dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah di pinggir jalan.

Kyuhyun berhenti. Pemuda itu menghampiri mobil Taehyung dan segera membuka pintu belakang.

“Cepat.. Antarkan kami.” titah Kyuhyun dingin dan tajam.

Taehyung hanya mengangguk sebisanya. Irene ambruk setelah bertemu dengan Kyuhyun dan dia masih bisa bersikap dingin seperti itu? Tak masuk akal.. Sebenarnya apa yang ada di antara mereka sih?, batin Taehyung sembari melirik spionnya melihat Kyuhyun yang diam-diam mengelus puncak kepala Irene dengan khawatir.

*Author’s POV

*@Haesung’s hospital

Kyuhyun dan Taehyung serentak berdiri begitu dokter selesai memeriksa Irene.

“Bagaimana keadaan Irene, dokter?” tanya mereka bersamaan. Kyuhyun menoleh ke arah Taehyung dan menatap pemuda itu dengan tidak suka. Taehyung tidak peduli. Memangnya hanya boleh Kyuhyun yang peduli pada Irene? Aku jelas menyukainya. Bagaimana dengan Kyuhyun? Apakah dia juga menyukainya?

“Nona Bae hanya kelelahan dan juga mengalami stress yang cukup berat. Apakah kalian tahu kenapa dia bisa terlalu stress seperti itu? Seolah ini menyangkut jalan hidupnya nanti.”

Taehyung mengerutkan alisnya tidak mengerti. Kyuhyun membisu. Jelas, sangat jelas, ia tahu alasannya.

Taehyung menatap Kyuhyun dengan penuh tanda tanya. Kyuhyun terlihat bersalah. Apa yang mereka lakukan sebenarnya?

“Baiklah. Aku akan menjenguknya lagi nanti malam.” ucap dokter memohon diri. Taehyung mengangguk sementara Kyuhyun masih nampak memikirkan sesuatu.

Taehyung kembali duduk di samping Kyuhyun. Pemuda itu mematung dan berdiam diri.

“Kau sepertinya tahu kenapa Irene seperti itu, eoh?” tanya Taehyung dengan nada tidak bersahabat. Kyuhyun terdiam.

“Kalian mempunyai hubungan lebih dari sekadar boss dan bawahan bukan?” selidik Taehyung. Kedua matanya menyipit ketika melihat Kyuhyun agak sedikit kaget walaupun raut wajahnya tidak berubah sama sekali. Tetap tanpa ekspresi dan dingin.

“Kau tidak perlu tahu apa yang terjadi di antara kami.” jawab Kyuhyun dalam dan dingin.

Taehyung mencibir. “Memang terjadi sesuatu di antara kalian. Irene terus menerus khawatir jika hendak berhadapan denganmu. Dan kau selalu mengembalikan laporannya paling sedikit lima kali. Apakah itu tidak aneh?”

Kyuhyun memilih diam mendengar ocehan Taehyung. Ia tahu Taehyung bermaksud mendapatkan informasi yang dia mau dengan memprovokasinya lebih dulu.

“Aku akan berjaga disini, sajangnim. Kau boleh kembali ke kantor. Jadwal meetingmu akan tiba 15 menit lagi.”

Kyuhyun menggeleng pelan. “Aku akan tetap disini, Taehyung-ssi. Kau yang pergi ke kantor dan batalkan seluruh jadwalku hari ini. Aku akan menjaga Irene-ssi disini. Ini tanggung jawabku sebagai atasannya.”

Taehyung menghela napasnya. Ia tahu Kyuhyun sama keras kepalanya dengan Irene dan kemauannya tidak bisa tidak dituruti.

“Baiklah. Aku akan kembali kesini malam hari. Aku akan menjenguk Irene-ssi nanti malam.”

“Kau tidak perlu menjenguknya. Aku akan menjaganya.”

“Apakah itu masalah jika aku menengoknya sajangnim?” protes Taehyung kesal karena sudah tidak tahan menghadapi sikap Kyuhyun yang dingin dan sama sekali tidak masuk ke dalam logikanya. Kyuhyun masih dengan ekspresi keras kepalanya.

“Tidak. Kau tidak boleh kesini.”

Taehyung menarik napasnya dengan kesal. “Baiklah. Apakah kau ada alasan untuk menjelaskan itu, Kyuhyun-ssi? Kenapa aku tidak boleh menjenguknya?”

Kyuhyun diam. “Ini perintah.” ucapnya akhirnya. Taehyung mengurut pelipisnya. Kenapa Kyuhyun menghalanginya?

“Kenapa kau bersikeras menjaganya? Kau menyukainya, sajangnim?” tanya Taehyung pelan.

Raut wajah Kyuhyun berubah menjadi kaku. “Bukankah harusnya aku yang menanyakan itu padamu?” serang Kyuhyun balik.

Taehyung tersenyum miring. “Aku memang menyukainya, Kyuhyun-ssi. Dan apakah itu salah?”

Rahang Kyuhyun mengeras spontan. Taehyung menyukai Irene?

Sesaat kemudian, Kyuhyun tersadar. Kenapa aku harus merasa marah?

“Tidak. Itu tidak ada salahnya.” jawab Kyuhyun susah payah. Kenapa susah sekali mengatakan itu?

“Baiklah. Jika itu tidak ada masalahnya, aku akan tetap kesini nanti malam.”. Taehyung melenggang pergi sebelum Kyuhyun sempat memerintahnya lagi. Pemuda itu tidak akan menghiraukan perintah Kyuhyun yang sangat tidak masuk akal.

Apakah Kyuhyun menyukai Irene juga?, tanya Taehyung sendiri dengan was-was.

*Author’s POV

“Kau kemana tadi, Taehyung-ah?” tanya Yeri – resepsionis Cho Corp yang sudah bekerja lama disitu. Ia adalah sahabat karib Taehyung.

“Aku ke rumah sakit.”

Yeri mendelik. Dengan panik, dia mengecek suhu badan Taehyung menggunakan punggung tangannya. Taehyung segera menurunkan tangan gadis itu. “Aku baik-baik saja. Irene yang sakit.”

“Sakit?”

Taehyung mengangguk. “Lalu, dimana sajangnim? Tadi, CEO N Entertainment kesini mencarinya.”

“N Entertainment? Hari ini, Kyuhyun sama sekali tidak mempunyai jadwal dengan Tuan Kwon.”

“Aku juga tidak tahu, yang jelas, dia memaksa untuk menemui Kyuhyun. Sekarang dia ada di ruang tamu.”

Taehyung mengangguk mengerti. Dia akan membereskan segalanya. “Terima kasih, Yeri-ah..”. Taehyung menepuk kepala Yeri sebagai bentuk terima kasihnya dan pergi. Yeri merasakan wajahnya memerah. Tidak! Yeri, kau tidak boleh merona.. Kau menyukai Kyuhyun sajangnim..

Yeri berdehem sendiri berusaha mengusir rasa berdebarnya dan kembali mengetik beberapa kata di layar komputernya.

Tok.. tok..

Taehyung mengetuk pintu ruang tamu terlebih dahulu sebelum masuk. Ia membuka pintu begitu mendengar suara orang bercakap-cakap di dalam.

Tuan Kwon langsung berdiri mendengar suara pintu terbuka. Namun, ekspresinya berubah menjadi tidak menyenangkan ketika melihat Taehyung yang berdiri di sana dan bukannya Kyuhyun seperti yang diharapkannya.

“Silahkan duduk, Tuan Kwon..” ucap Taehyung yang langsung mengambil duduk di depan Tuan Kwon dan juga putrinya – Kwon Yuri.

“Ada yang bisa aku bantu?”

“Aku harus bertemu dengan Kyuhyun sekarang.” ucapnya dengan nada tidak sabar. Taehyung mengerutkan dahinya. “Dia sedang ada di luar kantor karena keperluan mendadak.”

“Ini penting. Telepon bossmu sekarang. Ini menyangkut nyawa perusahaan kalian sendiri.” ancamnya. Taehyung bertambah bingung. “Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan? Bisakah kau tenang terlebih dahulu?” tanya Taehyung baik-baik.

“Panggilkan Kyuhyun sekarang!! Aku butuh memberinya pelajaran!” teriak Tuan Kwon sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Taehyung.

Pemuda itu mengalah. Ia mengambil ponselnya.

Yeoboseyo, sajangnim, Tuan Kwon ada disini bersama putrinya. Dia memaksa menemuimu sekarang juga.” ucap Taehyung cepat bahkan sebelum Kyuhyun membalas salamnya.

Kedua alis Kyuhyun bertemu. Tuan Kwon? Bersama Yuri?

“Tambahkan! Ini menyangkut nyawa perusahaanmu!”. Teriakan Tuan Kwon yang begitu keras terdengar Kyuhyun bahkan sebelum Taehyung menyampaikan pesan pria tua itu.

“Aku akan segera kesana.” jawab Kyuhyun cepat. Ia mematikan ponselnya dengan tergesa. Kyuhyun menatap sebentar Irene. Raut wajahnya melembut lalu berubah cemas dan bersalah.

“Aku akan kesini lagi, Irene-ah.. Maafkan aku telah membuatmu seperti ini.”

Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke wajah Irene. Dengan ragu, Kyuhyun mengecup kening Irene pelan. “Maafkan aku.” katanya akhirnya. Kyuhyun segera keluar dari ruangan UGD dengan langkah memburu. Ini gawat, ada apa lagi sebenarnya? Kenapa Tuan Kwon masih ngotot bertemu denganku? Apakah dia sama sekali tidak berniat menjodohkan anaknya denganku?

*Author’s POV

Kau ingin karirmu hancur begitu saja?

Kyuhyun menatap bibi satu-satunya tersebut dengan keras kepala.

Aku tidak menyukainya, Bi! Apakah aku juga harus kembali merelakan kehidupanku setelah kau menyuruhku untuk seolah tidak bersalah terhadap Irene padahal Ayah lah pembunuh yang sebenarnya?!, protes Kyuhyun dengan nada kesal.

Cho In Young – satu-satunya anak perempuan dari di silsilah keluarga Cho yang sama hanya satu tahun lebih tua dari ayahnya itu – menatap Kyuhyun dengan tajam dan mengejek.

Kau rela menggadaikan finansial seluruh keluarga Cho hanya karena seorang gadis? Kau tidak tahu bagaimana rasanya dicampakkan bukan?, ujarnya dengan tajam. Ia berani berkata seperti itu setelah dikhianati oleh suaminya sendiri dan akhirnya bercerai.

Kyuhyun menyedekapkan tangannya berusaha tak peduli dengan kata bibinya yang mulai kemana-mana.

Jangan bicarakan Irene seolah dia sampah yang bisa diinjak begitu saja. Atau bibi akan menerima akibatnya.

In Young menyeringai. Apa yang bisa kau lakukan padaku anak kecil? Kau hanya termakan asmara sesaat dan belum mencicipi apa rasanya cinta yang sesungguhnya. Tak semanis yang kau bayangkan sayangku..

Aku tidak peduli. Aku masih mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya.

Kau ingin dicopot dari jabatanmu saat ini?, ancam Bibi menatap Kyuhyun dingin. Pemuda itu tak kalah dingin. Silahkan saja, aku akan menggugatmu nanti. Kau tak punya hak apapun untuk mencopotku. Surat pemindah tanganan jabatan yang ditulis Ayah bilang seperti itu.

Kyuhyun akhirnya membalikkan badannya karena sudah lelah berdebat.

Wanita paruh baya itu berteriak, Kau akan menyesal nanti Cho Kyuhyun! Kau akan kehilangan semuanya! Karirmu, dan juga cintamu!!

Kyuhyun membuat telinganya seolah tuli. Ia tidak mau mendengar sumpah serapah bibinya itu.

Kau harus melaksanakan perjodohan ini, Cho Kyuhyun! Kau dengar aku?!

Tok.. tok..

Kyuhyun mengetuk pintu ruang tamu dengan lembut walaupun jantungnya berpacu lebih cepat karena amarah. Ia bukan tipe orang yang bisa dikendalikan dan ditekan begitu saja oleh seseorang. Kyuhyun tidak menyukai cara kerja Tuan Kwon yang mencampur adukkan kehidupan pribadi dan pekerjaan untuk menyudutkan karirnya.

Kyuhyun duduk di hadapan Tuan Kwon dan Yuri dengan tatapan dinginnya.

“Ada yang bisa aku bantu, Tuan Kwon?”

Taehyung duduk di samping Kyuhyun mendampingi pemuda itu. Raut wajahnya penasaran sekali. Kenapa Kyuhyun selalu saja membuat masalah dan ada kaitannya dengan perempuan?

“Tentang apa yang telah kau lakukan hari Minggu kemarin. Kau pikir aku ini orang murahan yang mengemis padamu untuk selalu menjadi ambassador perusahaan kalian?!” teriak Tuan Kwon meledak amarahnya. Kyuhyun tenang-tenang saja.

“Itu kenyataan, Tuan Kwon.. Aku memang sudah mempunyai pacar.”

Taehyung menyipitkan matanya. Pacar? Siapa? Apakah ini yang membuat Irene menderita? Karena Kyuhyun sudah mempunyai pacar?, Sejuta pertanyaan lekas muncul dalam benak Taehyung. Kyuhyun menoleh ke arah Taehyung yang sedang memperhatikannya dengan serius.

Kyuhyun berdehem. Membuat pikiran dalam benak Taehyung hancur seketika.

Ne? Sajangnim?”

“Bisakah kau keluar sebentar? Ini masalah pribadi…”

“Jangan keluar! Biar kau tahu bagaimana busuknya bossmu ini..” hina Tuan Kwon. Rahang Kyuhyun mengeras. “Kau mau keluar? Atau kau mau aku pecat?” bisik Kyuhyun mengancam. Taehyung menelan ludahnya sendiri. Ia beringsut-ingsut keluar.

“Jadi, apakah kau masih tetap akan membicarakan pertunanganku dengan Nona Yuri, Tuan Kwon?” tanya Kyuhyun santai sembari merebahkan kepalanya di sandaran kursi. Tuan Kwon mengepalkan tangannya hendak menonjok pemuda tak tahu diri di hadapannya itu.

“Bagaimana pun, pertunangan ini tetap harus dilaksanakan, Tuan Cho. Aku tidak akan mengundurkan diri dari rencana ini. Kau menuruti apa mauku dan perusahaanmu akan selamat.”

“Bagaimana jika aku yang memutus kontrak perusahaan kita dulu? Jadi, bukan kau yang memutuskan kontrak kita hanya karena masalah perjodohan tak masuk akal ini.” sela Kyuhyun cepat. Tatapannya tak kalah mengancam dengan Tuan Kwon.

“Dasar anak tidak tahu diri! Tak tahukah kau bahwa perusahaan kita telah menjalin kerja sama lebih dari 20 tahun?”

“Aku tahu hal itu, Tuan Kwon. Tapi, aku tidak mau menikahi gadis yang tidak aku cintai. Aku sangat membenci kata perjodohan dan pertunangan paksa. Ini sudah era modern dan kau masih saja membawa-bawa masalah klasik itu.”

Yuri yang duduk di sebelah ayahnya mengkerut melihat tatapan Kyuhyun yang tidak main-main.

“Baiklah! Aku akan memutuskan kontraknya!”

Kyuhyun mengangkat bahunya dengan ekspresi menyebalkan. “Itu terserah padamu saja, Tuan Kwon. Aku masih memegang nama beberapa label entertainment yang tak kalah dari entertainmentmu yang mulai menjenuhkan itu..”

Tuan Kwon mendelik. “Habis sudah kesabaranku! Ayo, Kwon Yuri! Tinggalkan pemuda tak tahu adat ini..”

Kyuhyun bangkit dan membukakan pintu bagi Tuan Kwon dengan senyuman ‘ramah’nya. Pria itu secara tidak langsung mengusir Tuan Kwon dan anaknya dengan cara yang halus.

“Aku tidak akan menyerah, Kyuhyun-ah.. Aku akan menghancurkan hidupmu! Camkan itu.. Beraninya kau mengejek usaha keras ayahku!” bisik Yuri keras ketika dirinya melewati Kyuhyun. Kedua alis pemuda itu bertautan mendengar bisikan penuh amarah Yuri.

“Terserah padamu, Nona manis..”

Blam.

Kyuhyun membanting pintunya dengan pikiran yang sudah kusut seperti benang. Ia terduduk lemas di salah satu kursi dengan mengurut batang hidungnya, bingung.

N Entertainment merupakan salah satu penyandang dana terbesar perusahaannya. Cho Corp adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka di Korea. Dan salah satu faktor pendorong sehingga usahanya bisa mengekspansi hingga negara tetangga dan dunia adalah karena promosinya yang gencar dengan memboyong artis-artis hallyu yang digemari para konsumennya.

Dan N Entertainment merupakan sumber seluruh bintang hallyu tersebut.

“Kau harus melakukan apa sekarang, Kyuhyun-ah?”

*Author’s POV

*@hospital

Irene mengerjapkan matanya perlahan. Merasakan silaunya cahaya merebak masuk ke dalam matanya yang sedari tadi hanya gelap yang dirasa.

Bau obat di sekitarnya langsung membuat Irene mengetahui dimana dia berada sekarang.

Kumohon, Irene-ah.. Bertahanlah..

Irene mengelus pipinya sendiri mengingat tadi Kyuhyun begitu panik melihatnya pingsan dan menepuk-nepuk pipinya dengan raut putus asa. Hanya hal itu yang diingat Irene sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap seluruhnya.

Dia masih peduli padaku?, tanya Irene ragu pada dirinya sendiri. Itu tidak mungkin bukan?

Suara pintu geser kamar rawatnya membuat Irene tersentak. Disana, Taehyung dengan senyuman dua sentinya muncul.

“Tae-ya!” seru Irene senang. Taehyung tersenyum-senyum senang. Tingkahnya yang kekanakan masih saja kentara terlihat. “Apa yang kau bawa?”. Wajah Irene seketika berubah cerah melihat Taehyung membawakannya patbingsu atau es kacang merah kesukaannya.

“Wuaa.. patbingsu.. Hei, tapi aku kan tidak boleh memakan ini?”

“Sudahlah, makan saja. Itu tidak akan memperburuk keadaanmu. Kau hanya kelelahan. Ayo, makan. Aku sudah susah payah menyelundupkannya kemari. Sepertinya aku hampir saja tertangkap dua suster sepanjang perjalanan.”

Irene memukul bahu Taehyung. “Tidak lucu.” sahut Irene datar mendengar lelucon Taehyung yang tak masuk akal. Dengan nikmat, Irene menyendokkan satu suapan besar es serut yang ada di bagian paling atas wadahnya. “Astaga.. ini enak sekali..”

Taehyung nyengir. “Gomawoyo, Tae-ya.. Apakah kau yang membawaku kemari?”

Taehyung mengerjapkan matanya beberapa saat. “Ne?”

“Apakah kau yang membawaku kemari?”. Irene hanya memastikan saja kalau memang bukan Kyuhyun yang mengantarkannya kesini. Jika bukan, bayangan Kyuhyun yang sedang panik itu hanyalah ilusi semata.

Taehyung mengangguk yakin. “Aku yang mengantarkanmu kesini. Tapi, Kyuhyun sajangnim sempat hendak membopongmu kemari. Dia yang menyelamatkanmu lebih dulu. Aku kebetulan lewat dan melihatnya berlari ke arah rumah sakit dengan kau yang ada dalam gendongannya.”

Taehyung menunggu reaksi Irene. Pipi gadis itu merona menjadi merah. Taehyung yakin kini, gadis di hadapannya masih jatuh cinta dengan bossnya. Taehyung tidak heran jika Irene menyukai Kyuhyun. Pemuda itu memang penuh pesona dan mampu menawan hati wanita bahkan hanya dengan meliriknya saja.

“Jadi itu nyata..” gumamnya pelan. “Ne?” tanya Taehyung ulang. Irene menatap Taehyung kaget. “Ah, aniyo.. Sudahlah.. makan beberapa suap patbingsu ini. Kau akan menyesal jika tidak memakannya. Aaa..”

Irene menyuapkan satu sendok besar makanan penutup tersebut ke dalam mulut Taehyung. Gadis itu terkekeh melihat Taehyung belepotan karenanya. Irene membersihkan mulut Taehyung dengan tisu yang ada di nakas tempat tidurnya.

“Ya ampun, kau lucu sekali Tae.. Seperti anak kecil..” ujar Irene ringan.

Taehyung membeku ketika merasakan hangatnya tangan Irene menyentuh wajahnya. Darahnya berdesir. Jantungnya berpacu tiga kali lipat dari semestinya. Matanya memaku Irene.

Kenapa kau malah membuatku semakin mencintaimu, Irene-ah? Kenapa kau harus menyukai Kyuhyun? Aku selalu ada disini dan kau tidak menyadari itu? Bisakah aku memilikimu?

*@Ahn-Soo’s manor

*Author’s POV

Seulgi melipat tangannya dengan kesal sembari duduk di sofa ruang tengah di kediamannya itu. Pikirannya masih melayang-layang sebal ke satu sosok pemuda jangkung dan kurus dengan kulit kecoklatan itu.

Brak!

Seulgi terloncat dari tempat duduknya. Matanya menyipit melihat pemuda berjaket hitam di depannya setengah mabuk.

“Kai-ssi? Apa yang kau lakukan disini?”

“Kau.. ikut denganku..”

“Apa?”

“Ikut denganku.” perintahnya dengan nada tajam dan mengancam. Seulgi mengeryit. Kenapa lagi? Masalah mereka sudah selesai dua minggu lalu. Sekarang apa lagi?

Kai menarik Seulgi keluar kantor Tae Hwa Magazine – tempat Seulgi bekerja sebagai wartawan entertainment. Tangan Kai mencengkram erat Seulgi seolah gadis itu akan melarikan diri sewaktu-waktu.

Matanya yang nanar menatap Seulgi, setengah membuat gadis itu bergetar hatinya.

“Lepaskan tanganku!”. Seulgi menghempaskan tangan Kai yang masih mencengkramnya dengan erat. Kai tersenyum sinis. “Great job, Seulgi-ssi! Kau sukses membuat fansku marah-marah dan akhirnya meninggalkan fandomku.”

Seulgi membulatkan matanya. Apa?!

“Apa maksudmu, Kai-ssi?”

“Kau membuat rumor bahwa aku berpacaran dengan Hani hingga berbuat seks padanya. Kau pikri fansku masih punya akal sehat setelah mendengar rumor itu? Mereka bahkan mengancamku akan mengeluarkan paksa aku dari entertainmentku yang sekarang.”

Seulgi menahan napasnya. Ia hanya melakukan apa yang Heechul perintahkan padanya. Ketua direksinya itu memintanya agar menulis tentang artikel yang mengadung skandal menggemparkan itu. Dari sorot mata Heechul, Seulgi mempunyai prasangka kalau sunbaenya itu mempunyai sedikit dendam. Ani, lebih tepatnya, sepertinya, Heechul membenci Kai jika selalu berada di dekat Hani. Seulgi tahu, ketuanya itu pasti menyukai Hani. Terlihat sekali bagaimana dia menjaga artis yang satu itu sangat hati-hati jika mereka sedang bersama untuk sekadar hangout. Maklum, mereka sahabat lama.

“Kau mau membuat dirimu sendiri tenar, hah? Kau membuat jalan yang salah, Nona Kang..”

Seulgi mengerjapkan matanya sendiri ketika Kai mendaratkan bibirnya ke atas bibirnya. Terasa hangat. Sedetik kemudian, Seulgi segera mendorong Kai menjauh.

“Itu caranya jika kau ingin terkenal..”. Kai menyeringai sehabis mendapatkan ciumannya dengan Seulgi. Lalu menunjuk ke arah barat mereka. Seulgi menoleh. Gadis itu terlonjak melihat ada beberapa rekannya yang sedang memotretnya.

Ini bisa jadi masalah besar. Tak ada satupun wartawan entertainment yang akan melewatkan hal seperti ini.

Seulgi mendorong badan Kai lagi hingga pemuda itu tersungkur. Kai terkekeh pelan namun terdengar misterius dan penuh marabahaya. Pemuda itu benar-benar dalam kendali alkohol.

“Yah, setidaknya, tak lama lagi, kau akan menjadi artis terkenal, Nona Kang.. Lihat saja nanti..”

Kai berlalu begitu saja menuju motor ninja hitamnya yang terparkir di depan gedung. Dengan sempoyongan, pemuda itu mengenakan helmnya dan naik ke atas motornya.

Beberapa saat kemudian, Kai langsung memacu motor sportnya itu dengan kecepatan tinggi, menerbangkan syal yang dipakai Seulgi.

Gadis itu mendesah. Meratapi kesialannya karena dalam beberapa menit lagi akan menjadi bulan-bulanan wartawan.

*Author’s POV

Krieek..

Kyuhyun berjingkat memasuki kamar Irene. Pemuda itu celingak-celinguk memastikan tak ada siapapun di dalam kamar itu. Kepalanya memutar kesana-kemari terlihat seperti burung hantu mencari mangsa.

Disana, Kyuhyun bisa melihat Irene diterangi oleh seberkah cahaya kecil dari jendela yang terbuka. Gadis itu terbaring disana dengan damai. Terlihat tenang.

Kyuhyun perlahan mendekati ranjang Irene dan duduk di tepat di sebelah ranjang gadis itu setelah menyeret sebuah kursi dari ujung ruangan. Kyuhyun membuka jemari Irene yang terkatup menggenggam satu buah novel perlahan. Berusaha agar gadis itu tidak terbangun.

Irene menggumam sendiri pelan, membuat Kyuhyun menahan napasnya sendiri, berdoa agar gadis itu tidak melihat kehadirannya ini. Untung saja, setelah membalikkan badannya ke arah kiri, gadis itu kembali terhanyut dalam mimpinya.

Kyuhyun menghela napasnya dengan lega. Untung saja.., batinnya.

Kyuhyun juga mencopot kacamata besar Irene yang bertengger di hidung gadis itu.

“Hah.. kenapa kau juga harus sakit sih? Membuatku khawatir saja..” gerutu Kyuhyun seraya merapikan anak rambut yang membingkai wajah cantik Irene. Matanya menusuri dengan lekat setiap sudut wajah Irene. Bagaimana pun juga, gadis itu memang cantik. Kyuhyun takkan memungkirinya.

Kyuhyun menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bantalan kursi yang cukup empuk itu. Pandangannya tak lepas dari sosok Irene.

“Kyuhyun-ah!!”

Kyuhyun menghentikan ayunan langkahnya lalu membalikkan badannya untuk melihat siapa yang datang terengah-engah. Sebenarnya, cukup dari suaranya saja, Kyuhyun sudah mengetahuinya. Siapa lagi kalau bukan Irene.

Irene membungkukkan badannya berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan. “Cih, mengejarku saja kau tidak bisa.” sinis Kyuhyun. Irene mendongakkan kepalanya serta mengerucutkan bibirnya. “Kakimu panjang sekali tahu, satu langkahmu harus aku kejar berlari-lari kecil.”

Mau tak mau, Kyuhyun tersenyum kecil mendengar omong kosong Irene.

Tangan kanannya kembali berdenyut sakit ketika Irene mencengkram lengannya untuk sekadar menggandengnya.

“Kenapa kau tampak muram, huh?”

“Bukankah wajahku memang selalu sama? Kau bilang aku manusia patung, bagaimana kau bisa menjelaskan alasanmu tersebut, Nona Bae?” potong Kyuhyun datar. Irene cekikikan. Benar juga, kenapa aku merasa dia tampak muram sekali hari ini?

“Penggemarmu hilang?” tanya Irene basa-basi walaupun merasa sedikit.. cemburu. Hanya sedikit saja.

Kyuhyun menoleh ke arah Irene yang masih mengalungkan tangannya ke dalam lengannya. Jika dilihat dari jauh, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang dating. Padahal, mereka sedang berjalan melintasi lorong sekolah.

“Aduh..”. Kyuhyun mengaduh begitu Irene tak sengaja menekan luka parut di telapak tangannya. “Wae?” tanya Irene bingung. Mata Irene membelalak ketika melihat telapak tangannya sendiri terciprat sedikit darah. Dari mana?

“Keluarkan tanganmu..” perintah Irene ketika Kyuhyun sedang berusaha menyembunyikan lukanya. Kyuhyun menggeleng kuat. Keras kepala. Irene tetap teguh pada pendiriannya.

“Kemarikan tanganmu, Cho Kyuhyun.” bentak Irene sudah tidak sabar. Gadis itu langsung menyabet tangan pemuda itu hingga sukses membuat Kyuhyun menjerit kesakitan.

“Wae? Wae?? Astaga! Maafkan aku..” pekik Irene panik melihat di telapak tangan Kyuhyun terdapat pecahan beling yang cukup besar dan masih tertanam disana.

“Kenapa kau tidak bilang?! Kenapa kau tidak langsung ke sanatorium (semacam UKS)??” omel Irene panjang pendek. Kyuhyun mendengus kesal. “Aku hendak pergi ke sanatorium tadi. Dan kau datang lalu menarikku ke arah yang berlawanan..”

Irene tersenyum kikuk. “Ah, hehe, maafkan aku.. Aku kira kau akan pergi ke kantin.”

“Dasar tukang makan!” ejek Kyuhyun yang langsung mendapatkan pukulan keras di bahu.

Irene melongok ke dalam sanatorium. Dengan gelisah, pandangannya terus bergantian memandang tangan Kyuhyun dan ruangan penjaga sanatorium yang biasa mengobati mereka. Semacam dokter jaga di sekolah mewah itu.

Irene berdecak kesal. “Bagaimana bisa dia meninggalkan sanatorium ketika ada pasien gawat?! Sudahlah, kita pergi ke rumah sakit sekarang!” putus Irene melihat pendarahan di tangan Kyuhyun bukannya berhenti dan malah bertambah deras.

Irene menarik tangan kiri Kyuhyun – yang tidak terluka – dengan cepat dan setengah menyeret pemuda jangkung itu menuju gerbang sekolah.

“Telepon supirmu!” ucap Irene tak sabar. Kyuhyun mendesah. “Tidak perlu ke rumah sakit. Kita tunggu saja disini.”

Irene sengaja menyentuh luka Kyuhyun dan membuat Kyuhyun kembali mengaduh. “Dengan keadaan seperti ini kau masih mau menunggu?” kecam Irene. Matanya beralih ke arah jalan raya.

“Taksi!!”. Irene melambaikan tangannya tinggi-tinggi berusaha menyetop taksi. Sayangnya, sepertinya si supir tidak melihat Irene.

“Dasar pendek..” omel Kyuhyun yang membuat Irene mendelik. Giliran ia yang melambaikan tangannya dan taksi segera berhenti tepat di hadapan mereka. “Kau memang pendek..” ejek Kyuhyun lalu masuk ke dalam taksi. Irene mengerucutkan bibirnya kesal. Apa salahnya jika menjadi pendek?

#skip

“Ah..ah..aaaa…” rintih Kyuhyun. Dokter yang sedang mencabut pecahan beling di tangan Kyuhyun terlihat sebal. “Diamlah.. Kau anak laki-laki atau bukan..” dumelnya dan segera menjahit kulit Kyuhyun yang robek.

“Dokter, ada pasien gawat di ruangan, dia butuh operasi kecil sekarang.” ucap seorang suster menyibak bilik di ruangan UGD tersebut. Dokter itu mengangguk.

“Bisakah kau bebat tangannya, Nona? Aku benar-benar harus pergi sekarang..” ucapnya memandang Irene. Gadis itu mengangguk. “Ne, dokter..”

Dokter itu keluar dengan cepat. Kyuhyun memandang sangsi Irene. “Kau serius bisa melakukannya?”

Irene diam saja. Badannya beringsut maju mendekati tangan Kyuhyun. Gadis itu menuangkan sedikit betadine ke dalam kapas putih yang sudah dibentuk bulatan kecil dan menaruhnya ke dalam kain kasa.

Irene memberikan kode agar Kyuhyun mengulurkan tangannya. Kyuhyun menjulurkannya dengan takut-takut. Kyuhyun memejamkan matanya.

Terasa, kain kasa mulai membebat tangannya dengan kencang. Nampaknya, Irene memang benar-benar tahu bagaimana cara melakukannya. Kyuhyun mengintip sedikit ketika dia merasakan sakit di tangannya sudah tidak terasa.

Mata Irene terlihat berkaca-kaca menatap tangannya yang lumayan parah lukanya. Kenapa dia terlihat ingin menangis?

“Irene-ah, kenapa kau menangis?”

Irene tersentak mengetahui Kyuhyun sepertinya sudah lama memperhatikannya. “Ak-aku tidak menangis…” gagapnya.

“Lalu, apa itu?”. Kyuhyun menunjuk matanya. “Ah, kelilipan..”kilah Irene.

“Kau membuatku khawatir..” gumam Irene pelan.

“Kenapa?”

“Aku tidak suka melihat seseorang sakit. Aku benci”

“Kenapa juga kau harus sampai khawatir padaku?”

“Kau kan sahabatku. Apakah tidak boleh?”

“Kau menyukaiku, bukan?”. Kyuhyun sudah tahu rahasia terbesar Irene ini. Dari Kim Taeyeon, sahabat Irene.

“A..an..ani… Bagaimana bisa aku menyukai sahabatku sendiri, eoh? Kisah klise..” cicit Irene gugup sekali. Kyuhyun tersenyum samar. Melihat mata Irene yang tidak bisa diam melihat ke arahnya, Kyuhyun yakin kalau hal itu benar.

“Cih.. bahkan kau tidak bisa mengutarakan perasaanmu sendiri, Irene-ah..” gumam Kyuhyun pelan.. Matanya terasa berat. Pikirannya juga agak berat sebenarnya. Mengingat perkataan bibinya bahwa akan ada acara makan malam keluarga besok.

Kau harus mengenalkan gadis itu. Siapa namanya? Ah, Bae Irene! Jika itu memang pacarmu, biarkan kami mengenalnya..

“Gila! Aku bisa gila! Bagaimana bisa kita menghindari perintah Bibi, Irene-ah?”

Ini alasan Kyuhyun kesini.. Tadinya, ia hendak membicarakan segalanya dengan Irene.Tapi, jika dipikirkan kembali, sangat tidak manusiawi jika harus membebani pikiran Irene dalam keadaan seperti ini bukan?

“Geurae.. Kita akan menyelesaikannya bersama, Irene-ah.. Kau harus tetap berada di sampingku karena kau sudah mau masuk ke dalam permainan ini..”

Note:

Dimohon kritik, saran ataupun komentarnya yaa.. terima kasih..

*bow*, Euri

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s