The Death Bell [Part 5-End]

req-phiyun-death-bell

|| Title: The Death Bell || Author: Phiyun || Genre: Romance | Thriller | Misteri | Supranatural | Fantasi || Cast: Jiyeon | Lay || Support Cast : Member Exo ||

Poster Credit:  Laykim Design Poster  (Thank’s ^^)

Privew: Part 1 || Part 2  || Part 3 || Part 4

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Kebetulan ff ini terinspirasi dari sebuah buku  yang pernah aku baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Lebih baik aku yang mati daripada aku harus membunuhmu!

~~~ooo~~~

~Privew~

 

Jiyeon pun menunjukan sesuatu yang ada digengamannya kepada Lay. “Lay-ah, Lihatlah.” sekejap kedua cangkir yang saat tadi dibawa oleh Lay pun jatuh begitu saja ke bawah lantai. Wajah Lay tak jauh beda dengan ekspresi Chanyeol saat melihat gantungan lonceng tersebut.

 

Lay lalu langsung menghampiri Jiyeon dan dengan kasar kedua tangan Jiyeon pun digengamnya dengan erat. “Jiyeon-ah! Kau mendapatkan darimana lonceng itu!” teriak Lay. Dan itu membuat Jiyeon semakin tak berdaya. Tubuhnya langsung lemas dan tanpa ia sadari gadis itu hampir beberapa saat tidak berkedip sama sekali saat menatap wajah kekasihnya, Lay. Airmatanya pun akhirnya jatuh lagi begitu saja di kedua pipinya. Di dalam hatinya ingin sekali ia berteriak kalau semua ini tak benar tapi apa yang ia pungkiri semakin lama semakin jelas kalau pria yang di hadapannya ini adalah target berikutnya. Ya, korban selanjutnya yang akan mati oleh kedua tangan miliknya sendiri.

 

~Privew-end~

~~~ooo~~~

“Lay-ah… Kau pernah melihat ini?” tanya Jiyeon dengan nada yang bergetar.

Ditanya hal semacam itu gengaman tangan Lay yang menggengam erat kedua tangan Jiyeon pun dilepasnya. Pria itu membisu seribu bahasa bahkan dia juga membuang pandangannya dari  hadapan kekasihnya, Jiyeon.

Merasa tak digubris dengan pertanyaannya, Jiyeon kemudian menanyakan kembali. “Lay-ah… Apakah kau tahu tentang lonceng ini? Tolong katakanlah padaku, Lay-ah.” tanya Jiyeon kembali sambil mencengkram erat kerah lengan milik kekasihnya.

Tapi tanggapan yang ditunjukan oleh pemuda itu, sebaliknya. Lay  bersikap acuh tak acuh di depannya dan enggan menjawab pertanyaan dari Jiyeon. “Aku tak tahu!” bantahnya dengan menepis cengkraman tangan gadis itu dari atas lengannya.

Setelah mengatakan itu, Lay lalu pergi meninggalkan Jiyeon untuk membersihkan pecahan cangkir yang saat ini berserakan di bawah lantai. Kedua mata Jiyeon menatap jauh ke arah belakang punggung milik lelaki yang ia cintai. Tubuh gadis itu bergetar hebat karena berusaha menahan rasa terkejutnya.

Lay-ah… sikapnya sama seperti Chanyeol saat melihat gantungan lonceng tersebut. Tapi bukan kan! Kau bukan salah satu dari dua orang yang tersisa… Bukan kau kan! Kalau iya maka saat aku mendengar dentingan lonceng selanjutnya, aku akan membunuhmu.” teriak batin Jiyeon dengan berlinangan air mata.

~OoO~

~5 jam kemudian~

Waktu sudah menunjukan pukul 02:00 pagi. Perlahan-lahan Jiyeon menjauhkan tubuhnya dari dekapan hangat sang kekasih dan setelah terlepas, gadis itu bangun dari atas ranjang. Ternyata Sepanjang malam Jiyeon terjaga. Dia sama sekali tak tertidur.

“Lay-ah… aku tak boleh tertidur.” ucapnya pelan sambil menatap sendu ke arah Lay yang sedang tertidur pulas.

Di saat Lay tertidur pulas Jiyeon mengambil kesempatan untuk mencari-mencari sesuatu dari dalam lemari kerja milik Lay. “Dimana dia taruh, ya?” gadis itu masih sibuk mengobrak-ambrik isi dalam lemari tersebut.

Tak  lama kemudian Jiyeon menemukan apa yang dari tadi ia cari. Yap… dia menemukan sebuah notes  yang berisi alamat mau pun nomor telepon. Di dalam notes itu berisi beberapa nama-nama korban nomor telepon mau pun alamat mereka.

“Sepertinya mereka semua adalah temannya.” gumamnya pelan dan notes itu pun langsung di masukan Jiyeon ke dalam kantung mantelnya.

Setelah selesai mencari yang di butuhkan, Jiyeon lalu besiap – siap untuk pergi. Namun sebelum gadis itu beranjak pergi, Jiyeon berjalan kembali ke arah Lay. Setelah cukup dekat, Jiyeon kemudian membelai lembut wajah milik orang tercintanya. Kedua matanya mulai memanas kali ini dan untuk beberapa detik, Jiyeon mengecup lembut bibir tipis sang kekasih dan kemudian berkata. “Tak akan kubiarkan diriku menyakitimu. Lebih baik aku yang mati daripada aku harus membunuhmu!” lirihnya dengan linangan air mata.

~OoO~

-Pov Jiyeon-

Dengan langkah yang gontai aku berjalan keluar dari dalam kediaman orang yang kucintai, Lay. Aku tak dapat berpikir jernih saat ini. Aku berjalan tampa tujuan di tengah langit yang tak ada satu pun bintang yang menemani langkah kakiku. Sepanjang perjalanan aku berpikir keras, mengapa semua peristiwa ganjil ini selalu menyelimutiku. Kejadian itu terjadi setelah aku menemukan gantungan lonceng yang ada di belakang halaman kampus.

“Sebenarnya siapa yang menggerakan tubuhku, di saat aku tak sadarkan diri?” gumamku penuh tanya dan diriku baru tersadar, aku sudah berjalan di sepanjang tepi sungai saat aku melihat penampakan dua buah lengan yang merangkul tubuhku.

Seketika tubuhku bergidik ngeri, saat semilir angin  menerpa lembut belakang tengkuk leherku.  Dan saat aku hendak melipat tanganku, tak sengaja aku melihat seberkas noda yang tertoreh di telapak tanganku.

“Noda ini tak pernah hilang.” sambil berusaha membersihkannya tapi percuma noda itu tak menghilang barang sedikit pun. “Ini bercak darah, tapi kenapa tak mau menghilang?” ucapku penuh tanya. Tak lama terdengar suara lonceng berdenting lembut. Ingatan yang mengerikan itu menyeruak dalam benakku.

“Mungkinkah…” kurogoh gantungan lonceng itu dan tampa berpikir panjang, lonceng itu kubuang ke anak sungai. Aku sadari meskipun lonceng itu sudah aku buang. Apa yang melekat di tubuhku tak akan bisa hilang. Memikirkan itu dadaku terasa sesak dan tanpa aku sadari air mataku pun mengalir begitu saja di kedua pipiku.

[End]

~OoO~

-Pagi harinya-

 

Cit…cit…cuit…

Kicauan sekelompok burunga berkicau dengan antusiasnya menyambut sang mentari. Sang matahari kian beranjak dan sinarnya yang hangat mulai memasuki sela-sela jendela kamar Lay. Hingga akhirnya sinar keemasan itu mengenai kelopak mata milik lelaki itu.

“Eeghh…” erang Lay pelan sambil merenggangkan semua sendi-sendi ototnya. Dengan malas Lay mengambil jam waker yang ada di atas meja kecil tepat di samping ranjangnya. Kedua matanya, memicing saat melihat angka-angka yang ada di dalam wakernya.

Lay pun menoleh ke sisi belakangnya dengan mata yang setengah mengantuk seraya gerakannya seolah akan merangkul kekasih hatinya. “Sudah jam 9, Jiyeon-ah waktunya sarapan…” menyadari tak ada siapa pun, kedua mata Lay langsung terbuka lebar.

“Jiyeon-ah… Park Jiyeon, di mana kau!” panggil Lay namun tak ada sahutan dari semua panggilannya. “Mungkinkah?” bibirnya keluh dan tenggorokannya tercekat saat akan melanjutkan ucapannya. “Tak mungkin, dia…” buru-buru Lay berdiri dari atas ranjangnya dan berlari ke depan pintu rumahnya untuk mengambil surat kabar terbaru yang setiap hari ia langani.

Kedua matanya menerawang penuh awas, ia membaca surat kabar itu dengan bibir yang terkatup rapat dan dengan peluh yang bercucuran. Jantungnya terus memompong dengan cepat saat lembar- demi lembaran ia sikap. Di saat lembaran terakhir sudah ia baca, tersirat ada sedikit rasa lega, namun tak mengurangi ketegangan yang ada di mimik wajahnya.

Lay melempar koran paginya dan berlari menghidupkan televisi dan apa yang ia takutin akhirnya terjadi juga, di dalam televisi di siarkan ada seseorang pria yang telah meninggal di kamar hotel dengan tragis dan luka kematiannya sama dengan korban-korban terdahulu.

Setelah mendengar berita tersebut, Lay langsung meraih mantelnya untuk mencari Jiyeon, saat ia hendak berjalan ke depan pintu, tiba-tiba telepon rumahnya berdering. Lay langsung berlari menghampiri asal bunyi tersebut dan berharap dalam hatinya bila yang meneleponnya saat ini adalah orang yang ingin ia temukan.

“Jiyeon-ah… apakah itu kau!!” seru Lay dengan nada panik bercampur khawatir.

“Selamat pagi Lay-ah..”

Saat mendengar balas dari telepon Lay terlihat sedikit lega tapi tak mengurangi rasa khawatirnya dengan Jiyeon. “Kau ada di mana sekarang? Aku akan…”

“Kau tak perlu mencariku,” potongnya. “Aku menghubungimu hanya ingin mempertanyakan satu hal. Jadi tolong jawab pertanyaanku dengan sejujur-jujurnya, Lay-ah…” pintanya dengan suara yang bergetar.

“Lay-ah, ini sangat penting untukku. Jadi tolong jawab pertanyaanku. Apa hubunganmu dari gantungan lonceng itu. Apakah kau mengetahui siapa pemilik loncengg itu?”

Lay terdiam, untuk beberapa menit pemuda itu tak berkata apa pun. Jiyeon hanya bisa mendengar suara hembusan napas Lay yang berat. “Aku yang sudah membunuh Chanyeol dan pria-pria yang lainnya.” kata Jiyeon menghilangkan keheningan di antara mereka.

“Jiyeon-ah…”

“Aku tak tahu apa kau percaya atau tidak, tapi ini memang kenyataannya. Ada sesuatu yang menggerakkan tubuhku di saat aku tertidur. Tubuhku bergerak sendiri seolah ada seseorang yang masuk ke dalam tubuhku untuk membunuh mereka. Aku tak kuat lagi, selalu terbangun dengan tubuh yang penuh dengan bercak darah! Aku tak mau lagi membunuh orang!!!” ungkap gadis itu dengan frustasi.

“Jiyeon-ah… kau di mana sekarang, aku akan menemuimu, katakan padaku di mana.” desak Lay.

“Tidak! Kau tak boleh bertemu denganku sebelum aku tahu kebenarannya dari dirimu!” bantah Jiyeon. “Loncengg itu berhubungan dengan semua ini, Lay-ah. Tolong katakan padaku kebenaranya.” pinta Jiyeon penuh harap.

Cukup lama Lay tak membalas pertanyaanya, dan itu membuat Jiyeon semakin frustasi dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. “Bila kau memang tetap seperti ini, lebih baik kita tak perlu bertemu lagi untuk selamanya.”

Lay tercekat saat mendengar perkataan dari gadis yang ia cintai. “Jiyeon-ah… baiklah.. akan aku ceritakan. Tapi kau janji kau tidak akan marah..” balas Lay di ujung telepon. Jiyeon mengangguk menyetujui perkataan pemuda tersebut.

“Sebenarnya gantungan lonceng itu milik mantan kekasihku.” Akunya dan kemudian ia mulai menceritakan siapa sosok mantan kekasihnya kepada Jiyeon. “ Namanya Lee Hyeri. Dia sangat cantik dan sombong. Aku tak bisa mengikuti sikapnya yang tinggi dan yang tak mau kalah. Pada akhirnya ia yang memutuskan diriku sebelum ia pergi ke Spannyol untuk berlibur. Beberapa bulan kemudian, ia mendatangiku dan ia ingin kembali lagi padaku, tapi aku tak bisa menerimanya karena hatiku sudah jatuh ke seorang gadis lain yaitu kamu, Jiyeon-ah. Dan Hyeri tak terima dengan keputusanku itu.” terang Lay dengan menghela napas panjang.

“Lalu kapan terakhir kalian bertemu?” tanya Jiyeon penuh nada selidik.

“Pertemuan terakhir kami itu di akhir tahun lalu saat ia memintaku untuk bertemu di kampus, setelah itu aku tak mengetahu kabarnya hingga sampai pertengahan tahun ini.”

“Apa yang kau lakukan saat itu? Mengapa kau tak menemuinya?”

Dengan nada yang ragu, Lay berkata. “Kau tahu sendiri, kan  saat malam tahun baru itu aku berada di mana.”

Jiyeon termangun, ia mengingat bila saat malam tahun baru kemari dirinya menghabiskan waktu bersama dengan Lay. “Sejak itu aku tak bertemu dengan Hyeri lagi.” kata Lay. “Tapi… sesuatu yang merasuki dirimu, seperti apa?” pertanyaan Lay membuat lamunan Jiyeon kabur.

“Aku tak tahu…”

“Kau di mana sekarang? Kau kembalilah ke sini.” perintah pemuda itu tapi sebelum perkataannya di balas, Jiyeon sudah menutup gagang telepon terlebih dahulu. Merasa kesal panggilannya di tutup secara sepihak, Lay pun hanya dapat mendengus kesal.

~OoO~

-Pov Jiyeon-

Bila lonceng yang kutemukan adalah milik Hyeri berarti sosok itu adalah dirinya. Dan satu-satunya jalan yang dapat membuktikan semua itu, aku harus bertemu dengan orang itu. Aku harus menemui orang yang satunya lagi,

“Suho… aku harus menemuinya.”

[End]

~OoO~

“Halo, apakah ini kediaman Suho.” tanya gadis tersebut di gagang telepon. “Apakah aku bisa berbicara dengannya.”

Tak lama terdengar suara sahutan dari gagang telepon tersebut. “Suho, baru saja pergi ke kampus. Apakah ada pesan.” tanyanya kembali.

Jiyeon terdiam, gadis itu merasa aneh, Apa yang Suho lakukan di kampus saat kampus sedang liburan panjang. “Halo…” panggilan dari telepon membuyarkan lamunan Jiyeon. setelah tersadar gadis itu lalu membalas sambutan dari orang yang sedang ia hubungi. “Tidak terima kasih, mungkin aku akan bertemu dengan Suho di sana, terima kasih.“  kata Jiyeon setelah itu menutup panggilan.

~OoO~

Jiyeon berlari secepat mungkin ke kampus untuk menyusul Suho. Dan setibanya di belakang taman kampus ia bertemu seseorang pria sedang berlari dengan terengah-engah. Gadis itu pun lalu berjalan menghampiri pemuda itu dengan berhati-hati.

“Suho… apakah kau Suho?” tanya Jiyeon ragu.

Pria itu menoleh ke arah Jiyeon dengan napas yang masih terengah-engah. “Ya, aku Suho? Kau siapa?”

“A-aku… ada yang ingin aku tanyakan padamu…”

“Apa itu?” dengan menatap tajam ke arah gadis yang ada di hadapannya.

Jiyeon semakin gugup saat kedua mata mereka saling beradu. Dengan dada yang berdebar-debar Jiyeon pun kemudian berkata. “Apakah kau mengenal Lee Hyeri?”

Mendengar nama Lee Hyeri yang di kumandangkan oleh Jiyeon, ekspresi wajah Suho langsung menegang. Jiyeon bisa beranggapan kalau pria ini pasti mengenal sosok yang ia tanyakan pada dirinya.

“Mana aku kenal wanita itu!” serunya dan saat Suho hendak pergi, Jiyeon langsung menarik lengan kerah jaketnya. “Tunggu sebentar, Suho-ssi… Kau pasti mengenalnya, karena ekspresimu sama seperti Chanyeol saat aku memperlihatkan gantungan lonceng.”

“Lonceng?!”

“Iya, Kenapa ekspresimu sama seperti dia?” ucap Jiyeon seraya mempererat genggaman tangannya di lengan Suho.

Merasa terpojok, Suho langsung menepisnya dengan kasar. “Apa-apaan sih.. sudah aku katakan aku tak mengenal dirinya!! Dasar gadis gila!” teriak pemuda itu lalu ia pergi berlari meninggalkan Jiyeon. Jiyeon pun berinisiatif untuk mengejarnya tapi tiba-tiba tubuhnya terasa kaku, ia sama sekali tak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali.

La-lagi tubuhku tak dapat bergerak. Ada apa sebenarnya?” jerit Jiyeon dalam hati dan tak lama terdengar suara gemerincing lonceng yang mendayu-dayu di telinga gadis itu. Tubuh Jiyeon pun bergerak sendiri ke belakang pohon seolah tubuhnya sedang di dorong untuk disandarkan di sana.

“Lonceng…? bukannya lonceng itu sudah kubuang? Kenapa aku masih dapat mendengarkan suara itu…” tanya dalam batinnya.

“Cring..Cring…Cring…Cring…Cring…”

Jantung Jiyeon semakin memompa  keras saat mendengar dentingan lonceng yang kelima. “Kelima… Apakah aku disuruh untuk membunuh orang yang kelima!?” napasnya tercekat. Ingin dirinya berteriak namun tak ada suara yang berhasil ia ucapkan. ”Tidak!!! Aku tak ingin melakukannya lagi.” teriak batinnya.

Tak disangka-sangka tiba-tiba kedua tangan bergerak dengan sendirinya dan menjulur ke arah lehernya. Seolah tangang itu hendak akan mencekiknya. “Tanganku… ada apa dengan tanganku? Tangaku bergerak sendiri. Andwae!!!” jerit batin Jiyeon kembali.

Jari jemari Jiyeon yang lentik itu pun dalam waktu beberapa detik sudah berada di atas leher miliknya. Gadis itu mencekik dirinya sendiri dan tak lama kemudian gadis itu jatuh tak sadarkan diri.

~OoO~

Dengan napas yang masih terengah-egah Suho menghentikan langkah kakinya di belakang gedung kampus. “Bagaimana ia bisa mengenal gadis itu.” pikirnya.

“Hei!! Suho-ssi!” panggil seseorang dari belakang punggungnya. Sontak pria itu menoleh ke belakang dengan ekpresi wajah yang terkejut. “Lay-ssii…?”

Pria itu berjalan menghampiri Suho dan kemudian bertanya. “Apakah kau melihat seorang gadis, tinggi badannya kira-kira segini.” sambil memperkirakan tinggi badan milik Jiyeon dengan tangannya yang terangkat sampai se dada. “Aku tak yakin dia datang, tapi siapa tahu kau melihatnya.”

Tapi Suho tak menghiaraukan pertanyaan, Lay. Pria itu malah melengos tanpa berkata apa pun. “Tunggu! Apakah kau bertemu dengan Lee Hyeri di malam tahun baru? Kau pasti mengenalnya, dia adalah mantan kekasihku.” pertanyaan Lay membuat langkah kaki Suho terhenti.

“Aku tak tahu!” jawab Suho setengah berteriak. Dan itu membuat Lay beranggapan bila Suho tahu apa yang sedang terjadi pada Hyeri saat ini. “Bukannya kau ikut di pesta tahun baru yang di adakan di kampus? Hyeri juga mengikutinya, kan? Hampir setengah tahun ini aku kehilangan kontaknya, apakah kau…”

“Aku tak tahu!!” potong Suho sambil berteriak dan kemudian ia pergi berlari meninggalkan Lay yang mematung. Merasa ada yang aneh Lay pun berlari mengikutinya dari belakang dan di saat di tikungan kedua gedung kampus, Lay melihat dari kejauhan Jiyeon sedang berdiri di depan Suho dengan kedua tangannya yang mengukung leher pemuda tersebut.

“Jiyeon-ah… YA… Park Jiyeon! Hentikan!” seru Lay sambil berlari menghampiri sahabatnya, Suho yang ada di dalam cengkraman tangan gadis yang ia cintai.

~OoO~

“Jiyeon-ah… Park Jiyeon… lepaskan dia!” teriak Lay berupaya melepaskan genggaman tangan Jiyeon yang melekat erat di leher milik Suho. Tatapan mata gadis itu begitu dingin saat kedua mata mereka saling beradu. “Kau bukan, Jiyeon? Siapa kau!”

Belum sempat Lay mendengar jawabannya, gadis itu langsung mendorong tubuh Lay dalam satu dorongan tangan yang kencang, sampai-sampai tubuh pemuda itu tersungkur ke lantai. “Sesuatu telah merasuki tubuh Jiyeon.” batin Lay berkata sambil menatap ekspresi Jiyeon yang sedang menyeringai di depannya.

Suho yang berhasil terlepas dari cengkraman tangan Jiyeon, ia langsung berlari tunggang langgang tapi itu tak dibiarkan oleh Jiyeon. Gadis itu juga ikut berlari mengejar Suho dan Lay mau tak mau ikut menyusulinya dari belakang.

Suho terpojok di dalam ruang lap kampus bersama Jiyeon, tubuh pria itu semakin gemetar saat gadis yang ada di hadapannya menatap dirinya dengan sorot mata yang bengis. Suho mengangkat gagang telepon untuk meminta bantuan kepada pihak berwajib. “Polisi… aku butuh pertolongan… aku ada…”

“Hentikan! Kau tak bisa melakukannya.” kata Lay. Suho menoleh ke arah Lay saat pemuda itu telah menutup sambungannya.

“Lay-ssi.. Apa-apa kau! Mengapa kau menghentikanku!” teriak Suho geram.

“i—itu,” ucapan Lay terhenti seakan dirinya sedang mencari sebuah alasan yang logis untuk di katakan pada sahabatnya. “Tak mungkin aku katakan bila, Jiyeon yang sudah membunuh orang-orang belakangan ini. Bisa-bisa polisi akan menangkap dirinya.” gumam dalam batinnya.

 

Saat Lay hendak melanjutkan perkataannya tiba-tiba terdengar suara tertawa seorang gadis. Ya, Jiyeon tertawa dengan ekpresi  wajah yang dingin. “Hahaha… Memanggil polisi? Aku akan membunuhmu sebelum polisi tiba.” ucapnya dengan suara berbisik di akhir tawanya.

Kedua mata laki-laki tersebut menatap ke arah Jiyeon dengan ngeri. Bahkan Lay ikut terkejut dengan apa yang ia lihat. “Jiyeon-ah…” saat Suho hendak menelepon kembali, Jiyeon langsung menarik kabel telepon hingga putus.

“Suara itu.. Mungkinkah kau itu, Hyeri…” tanya Lay tak percaya.

Melihat apa yang di lakukan Jiyeon, tubuh Suho langsung terjatuh lemas. “Hentikan! Permainan ini!!” kata Suho dengan tangan ya menutup di wajahnya. Tak lama kemudian pemuda itu mulai tertawa geli. “Tak mungkin, perempuan yang sudah mati dan telah dikubur bangkit.” tawanya menghilangkan keheningan di dalam ruangan tersebut.

“Mati… dikubur…?? Apa maksudmu?” Lay bertanya dengan tatapan bingung kepada sahabatnya, Suho.

“Ya, tubuhku ada di sana.” balas Jiyeon seraya jari telunjuknya mengacung ke arah belakang halaman kampus. “Kau buru-buru ke mari unutk melihat tubuhku kan, apakah masih ada di sana atau tidak? Karena kau takut kan, Suho-ssi.”

“Tidak!!” jerit Suho dengan telapak tangan ia tutupi di atas telinganya.

“Apa arti semua ini? Jawab aku Suho-ssi.” tapi tanggapan dari penjawab begitu ketakutan dan Lay lalu menoleh ke arah Jiyeon untuk mengetahui dari dirinya langsung. Gadis itu sepertinya tahu kalau Lay ingin mendengar ceritanya. Lalu ia pun mulai menceritakannya.

“Hari itu aku menunggumu, sesuai janji. Tapi kau tak kunjung datang hingga larut malam aku tetap setia menunggumu, Lay-ah. Saat aku sedang menunggumu di belakang halaman kampus aku bertemu dengan kelima pemuda yang mengaku sahabatmu. Mereka bila dia tahu kau ada di mana, jadi aku mau ikut bersama mereka, tapi aku mulai menyadari saat diriku di bawa ke dalam ruangan gudang di belakang kampus. Mereka…”

Jiyeon mendesis saat dirinya harus melanjutkan ceritanya, dengan mengigit bibir bawahnya, gadis itu melanjutkan kisahnya. “… Mereka ternyata berniat untuk memperkosaku. Aku baru menyadari saat aku mencium aroma tubuh dan mulut mereka saat mereka berlima menyergamku. Tubuh mereka berbau wisky, Mereka juga berkata padaku, kalau kau sedang pergi bercinta dengan kekasih barumu.

“Aku berusaha meronta-ronta tapi tubuhku tak berdaya melawan keganas kelima pemuda yang menyekapku. Empat pria memengangi kedua tangan kakiku sedangkan yang satunya mencekik leherku hingga aku meninggal.”

Tatapan mata Jiyeon menyiratkan kepedihannya yang amat mendalam. “Ini semua karenamu. Aku tak terima! Aku begini karena dirimu, Lay-ah!!!” teriak gadis itu dengan berlinangan air mata. “Dan aku tak akan pernah memaafkan dirimu dan semua pria yang telah membuatku seperti ini!” racaunya dengan histeris.

Dan tiba-tiba Suho melemparkan sebuah kursi lipat ke arah tubuh Jiyeon, dari belakang. sontak tubuh gadis itu langsung tergolek tak berdaya saat menerima pukulan yang amat keras dengan sigap Lay langsung merekuh tubuh Jiyeon yang nyaris jatuh ke lantai.

“Jiyeon-ah… Jiyeon-ah, Ya, Park Jiyeon!” pangil Lay sambil menggoyak-goyangkan tubuh gadis tersebut. Tak lama Jiyeon pun tersadar. Gadis itu menyentuh kepalanya seakan ia merasakan nyeri di sekitar kepalanya. “Lay-ah… di mana aku?” tanya Jiyeon ragu di dalam dekapan Lay.

Lay menatap dalam bola mata Jiyeon dan kemudian tubuh gadis itu di rapatkan kembali ke pelukannya. “Jiyeon-ah… Syukurlah kau tidak apa-apa.”

Tiba-tiba ruangan lab tersebut bergetar, seperti ada gempa yang menggoyangkan bumi. “Tak akan aku maafkan..Aku benci kalian…” bisik suara misterius yang menggema di dalam ruangan. Dan tanpa Jiyeon duga tubuhnya menjadi kaku dan tangannya bergerak dengan sendirinya melingkari leher milik Lay.

“Tidak… Tidak…” rintih Jiyeon gemetar saat tangannya sudah memegang erat leher pria terkasihnya.

“JI..jiyeon-ah…”

Jiyeon menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. “Kumohon jangan bunuh, Lay! Kumohon…” ucap Jiyeon dengan deraian air mata. Jiyeon berusaha menahan cengkraman tangannya agar terlepas dari leher Lay, namun keinginan dan gerak tubuhnya tak mau bersahabat. Cengkraman tangan gadis itu malah semakin mempererat.

Lay mulai merasa sesak dan menyadari bila kedua tangan Jiyeon bergetar begitu hebat menahan sesuatu yang bergolak di dalam tubuhnya. Dengan perlahan Lay mengangkat kedua tangannya dan kemudian menarik pinggul Jiyeon mendekat ke tubuhnya. Karena terkejut, gengaman tangan gadis itu mengendur dan kesempatan itu di ambil oleh Lay. Pemuda itu lalu mengusap lembut bibir Jiyeon yang bergetar dan dalam waktu beberapa detik cengkraman itu pun jatuh.

Lay bernapas lega saat, Jiyeon kembali seperti sedia kala. Tapi perasaan lega itu tak di rasakan oleh pasangannya. Jiyeon langsung berdiri dan berjalan ke arah meja yang di sana ada sederetan tabung kristal.

“Bila kau ingin membalas dendam, lakukan saja padaku. Bunuh saja aku!” jerit Jiyeon dan tanpa berpikir panjang, gadis iru langsung memecahkan tabung tersebut dan mengarahkan sudut yang tajam ke arah tenggorokannya.

Melihat hal gila yang akan di lakukan oleh kekasihnya, Lay dengan cepat menahan serpihan tajam tabung itu yang nyaris menyentuh pembulu darah tenggorokan Jiyeon dengan sebelah tangannya. “Bodoh…” maki Lay dengan tatapan dalam. Tubuh Lay pun tumbang beserta tabung kristal yang masih menancap di telapak tangannya.

Perlahan-lahan pecahan kristal itu ia cabut dari telapak tangannya. “Eeunggh!” erang Lay dalam karena menahan pedih di sekujur telapak tangannya. Jiyeon menatap Lay tampa suara dengan kedua mata yang sudah basah oleh air mata. Sekilas Jiyeon melihat bayangan seorang gadis berambut panjang di depan hadapannya yang sedang menatap tubuh Lay yang terkapar.

“Hyeri-ah… jangan bohong padaku. Kau masih mencintai Lay, kan?” batin Jiyeon berkata seraya kedua matanya menatap sekelebat bayangan yang ada di hadapannya.

Tiba-tiba bayangan itu menghilang saat seseorang merangkul erat leher Jiyeon dari belakang. “Aku harus membunuh kalian semua!” teriak Suho sambil menarik tubuh Jiyeon menjauh dari Lay. “Kau tak bisa lakukan itu, Suho-ssi… Gadis itu tak tahu apa-apa, dia hanyalah korban!” kata Lay lantang meskipun dengan bibir yang bergetar.

“Cring…Cring…Cring…Cring…Cring…” dentingan suara lonceng menggema di seluruh sudut ruangan. Dan di saat itu juga, tubuh Jiyeon menjadi kaku dan jantungnya mulai bergemuruh kencang.

“Tidak! Aku tak mau membunuh orang lagi!!!” jerit Jiyeon frustasi. Setelah jeritan gadis itu lampu ruangan tersebut padam, Suho semakin mengigil ketakutan dan tampa ia sadari gadis itu sudah tak ada di dalam kukungannya.

Ya, Jiyeon sudah ada di dalam pelukan Lay, saat lampu di dalam ruangan tersebut menyala. “Hyeri-ah… kumohon hentikan. Aku ikut sedih dengan apa yang menimpamu, tapi aku tak bisa mencintaimu lagi, Hyeri-ah… Kumohon jangan memanfaatkan gadis yang kucintai ini lagi. Aku tak bisa hidup tanpa dirinya, Hyeri-ah… Maafkan… maafkan aku, Hyeri-ah…” ucap Lay seraya mempererat dekapannya di tubuh Jiyeon yang saat ini sedang mengigil ketakutan.

Tak lama lama lampu di dalam ruangan itu padam kembali dan beberapa saat kemudian terdengar suara pecahan kaca.

“Prankk….!!!”

Lay dan Jiyeon terkejut bukan kepalang saat lampu di ruangan tersebut telah menyala, kaca jendela ruangan itu telah pecah dan saat mereka berlari untuk melihatnya, Lay dan Jiyeon menemukan Suho yang sudah tak bernyawa dengan mengenaskan. Ada sebuah batang ujung pohon yang menancap tepat menembus jantung pria tersebut. Jiyeon berteriak histeris saat kedua matanya menatap pemandangan yang meyeramkan tersebut. Lay kemudian memalingkan kepala milik Jiyeon dari hadapan jasad Suho dengan merebahkan kepala gadis itu di atas dadanya.

Dan tak beberapa saat kemudian terdengarlah suara lonceng yang mendayu-dayu yang keenam kalinya di telinga Jiyeon. Namun kali ini tubuhnya tak kaku dan tubuhnya tidak bergerak sendiri. Air mata Jiyeon semakin deras menetes di atas dekapan sang kekasihmya, Lay. “Terima kasih… terima kasih, Hyeri-ah…” lirih gadis itu sambil mempererat lengkungan tangannya di pinggang pria tercintanya.

~OoO~

-Epilogue-

 

Di hari yang bersaman jasad Hyeri pun di temukan tak jauh dari ruangan gedung belakang kampus. Jasad Hyeri sudah membusuk seluruhnya. Dan keesokan hari Lay dan Jiyeon mengadakan acara pemakaman Hyeri dengan sederhana namun tidak mengurangi penghormatan terakhir untuk mendiang.

Setelah acara pemakaman Hyeri selesia, Jiyeon mengajak Lay kesuatu tempat. Ia mengajak Lay ke sebuah jembatan yang di sana mengalir sebuah anak sungai di bawahnya. “Aku membuang lonceng itu di sini, Lay-ah.” kata Jiyeon dengan nanarnya yang membesar.

“Aku harap Hyeri dapat tenang di sana.” ucap Lay seraya menghela napasnya yang panjang sebelum dirinya melempar sebuket bunga mawar putih ke bawah aliran anak sungai yang ada di bawah pijakannya.

Jiyeon merenung untuk beberapa saat. Kedua matanya menerawang jauh seraya tetap menatap buket bunga yang di lemparkan oleh Lay yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Jiyeon-ah?” pertanyaan Lay membuat lamunan Jiyeon menghilang. Gadis itu lalu membalas pertanyaan Kekasihnya dengan tersenyum lembut dan kemudian berlari ke dalam pelukkan sang kekasih.

Aniya… aku tadi sedang meminta suatu permohonan kepada Hyeri.”

“Apa itu?” tanya Lay penuh selidik seraya melempar senyuman nan lembut kepada Jiyeon.

Jiyeon lalu menjijitkan kedua kakinya dan kemudian mencium lembut sebelah pipi Lay. “Rahasia..” sahutnya dengan mata yang berbinar-binar. Lay tertawa dan kemudian membalas kecupan pujaan hatinya dengan melayangkan ciuman lembut di atas kening milik Jiyeon.

“Jiyeon-ah, Saranghae…”

“Nado… Saranghae…” balas Jiyeon seraya memperdalam tubuhnya di dalam dekapan pria yang amat ia cintai.

~OoO~

-POV Jiyeon-

 

Lay-ah, maaf aku tak mengatakan padamu tentang permohonanku kepada Hyeri. Karena apabila kau mengetahui apa yang kupinta, aku akan sangat malu saat kau ada di hadapanku. Kau tak perlu khawatir karena permintaanku tidak muluk-muluk kok. Aku hanya meminta kepada Hyeri untuk merelakan dirimu untuk bersamaku. Karena cintaku padamu  tak kalah dari dirinya.

Saat aku mengatakan itu dentingan suara lonceng yang selalu menggema di kedua telingaku menghilang seakan tersapu angin. Dan aku bisa menyimpulkan bila Hyeri telah merestui hubungan kita dan dia sudah beristirahat dengan tenang di alama keabadiaannya.

-The End-

Aloha… Semuanya ketemu lagi kita dimari, hihi 😀

Akhirnya penulisnya bisa publishin ending ini FF yang dah lama tak terjamah oleh diriku, hoho 😀 Semoga semua pertanyaan kalian semuanya terjawab ya di sini. Mian kalau aku buat lanjutannya rada lama soalnya aku lagi kejar target juga buat nyelesaian beberapa FF yang lagi ongoing, hehe 😀

Aku harap kalian menyukainya akhir ceritanya, yah and maap kalo ada typo yang bertebaran dimana-mana maklum penulisnya juga manusia biasa… untuk ff falling for inocancenya menyusul ya minggu depan.

Oh iya FF ini pernah aku publis di blogku di sini 

Terima kasih juga buat semua reader yang sudah mengikuti ff ini dari awal hingga akhir plus bagi reader yang dah mau ninggalkan komennya dari awal Fanfic ini rilis hingga sekarang. Aku ucapkan banyak-banyak terima kasih…

Sampai ketemu di project Fanficku berikutnya, Khamsamida ❤

Advertisements

16 thoughts on “The Death Bell [Part 5-End]

  1. fiuuuhh akhirnya beres juga ini ff 😀 tegang banget bacanya 😀 kkkkkk
    tuhkan bener kalo si hantu ini tuh dendam karna “itu” sama semua cowok ini. aku kirain lay ikutan juga ternyata engga 😀 kekeke dan ternyata si hantu ini mantannya lay
    dan syukurlah semua udah clear dan hyeri juga udah ngerelain lay 😀
    aku seneng ini happy ending 😀 dikirain bakal ditinggal lay ternyata engga 😀 kekeke
    bagus banget ff nya aku suka 😀 jadi kepengen lagi yg horror horror begini *sok berani* kkkkkk

    Liked by 1 person

    • Senengnya kalau kamu suka sama cerita gajeku ini, hehe 😀
      Hehhee.. boleh lah, kapan-kapan aku buat genre yg kaya gini lagih..
      Makasih yah da ngikutin fanfic ini dari awal hingga akhir, see you next project ku selanjutnya ❤

      Like

  2. Pantesan arwah yg ngendalikan jiyeon bner dendam sma cwok” yg dia bnuh,,, kasian ya hyeri dia di bunuh sma orang yg gk punya prasa’an n apalagi tbuhx di kbur gitu aja lagi… Tpi syukur deh klu lay gk terlibat pembunuhan hyeri,, aq suka endingx lay sma jiyeon bisa bhagia bersama.. Daebak eonni,, ditunggu ff jiyeon lainnya 🙂

    Liked by 1 person

    • Makasih… Senengnya kalau ff yang bergenre horor ini akhirnya berasa horornya 😀
      Makasih yah, dah ngikutin ff ku ini dari awal sampai akhir, sampai ketemu di projectku selanjutnya ^^

      Like

  3. aw bang iching…. hihi
    q bca part 1 gk mudeng sama sekali dan lgsung loncat d part terakhir. maapkeun chingu. haha…
    kpan2 q bca lengkap deh.
    eh sidernya bnyak bgt chingu. yg baca ff ini udh 45 kali tp yg komen baru 1 di atas itu. ckckckcj

    Liked by 1 person

    • Hehe,, emang gitu ini ffnya harus dibaca pertahap gak bisa langsung loncat ke part akhir, kan alurnya terkait satu sama lain setiap partnya 😀 SIlakan, boleh kok di baca kapanpun chingu bisa…
      Iya, yah banya sidernya. sedihnya diriku (T.T) tapi tak apalah semoga kedepannya para sidernya semakin berkurang, dan mengerti bagaimana perjuangan keras kita yang sebagai author itu sangat membutuhkan apresiasi dari mereka semua, biar kita tambah semangat lagi buat ff yang lainnya 🙂

      Like

  4. Terakhir baca part 4 kapan ya sampai amnes Q dan Q kora udah ending lama ini FF tapi untung belum ending dan baru ending sekarang jadi Q bisa baca FF ini

    Noh kan ternyata arwah itu pasti ada hubungan’a sama masa lalu Icing dkk Hyeri korban pembunuhan dan pemerkosaan oleh ke 5 namja jadi inget berita yang akhir” ini tentang masalah kaya gini

    Tapi untung semua udah beres karena jasad Hyeri sudah dimakamkan dengan layak dan Jiyi sudah terbebas dari lonceng itu

    Liked by 1 person

    • Maap ya, kalau kelanjutan ni ff lama banget, hehe 😀
      Ini baru ending kok, baru bisa selesai sekarang dan rencananya ada ff jiyi yang bakalan aku tamatin juga di bulan ini kalau waktu mencukupi..

      Btw makasih yah dah ngikutin ff ini dari awal sampe akhir, sampai ketemu di project ff ku selanjutnya ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s