[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #4. My Angel

artwork-67.jpg

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

*another side

*Author’s POV

“Donghae-ya..”

Donghae menghentikan langkahnya dan menatap Jessica dengan pandangan jenakanya.

“Ada apa? Nampaknya serius sekali?”

Jessica mengangguk. “Apakah kau menyukaiku?” tanyanya.

Donghae membeku. “Aku.. jujur saja. Aku harus mengakui ini padamu.”

“Aku tidak mau kembali berjalan bersamamu sebagai seorang teman masa kecilmu. Aku hanya tidak ingin dianggap hanya sebagai teman masa kecilmu.”. Jessica menatap Donghae yang masih mematung di tempatnya.

“Entah sejak kapan perasaanku mulai tumbuh. Aku.. ingin berjalan bersamamu sebagai seorang pacarmu.”

Donghae masih mematung. Hatinya kaget bukan main.

“Bagaimana denganmu? Apakah kau bisa menjawabku? Bagaimana perasaanmu terhadapku?”

Hening. Donghae masih bingung ingin menjawab apa.

“Ah.. nampaknya kau tidak bisa menjawabku. Sepertinya, kau tidak merasakan hal yang sama denganku bukan?” ujar Jessica kecewa. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu sebagai seorang pacarmu, hanya untuk satu bulan lagi. Aku akan menepati janjiku, Yoona-ya.., Jessica menutup matanya sendiri. Hatinya benar-benar memberontak kali ini. Tapi, egonya tak kalah kuat. Dan akhirnya, egonya lah yang menang.

Gadis itu mengambil beberapa langkah maju. Jessica mengecup bibir Donghae selama beberapa saat. Donghae hanya membelalakkan mata. Namun, tidak mengambil tindakan apapun. Hatinya bergetar hebat. Terutama, karena ia merasakan ciuman Jessica begitu asing. Harusnya, Donghae merasakan perasaan yang sama ketika Jessica menciumnya. Perasaan yang sama ketika ia juga mencium Yoona – yang asli tentunya – di bandara.

“Bagaimana?” ujar Jessica setelah mencium Donghae.

Kajja, aku akan mengantarmu pulang.”. Donghae menarik tangan Jessica tanpa kata apapun.


“Jangan mengikutiku!!” teriak Yoona masih dengan nada kesal. Siwon hanya mengekor di belakang Yoona. Wajah gadis yang mencium Donghae itu masih membayangi benaknya. Kenapa dia ada disana bersama Donghae?

“Yoona-ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”

Yoona menghentikan langkahnya. Ia menatap Siwon dengan wajah polosnya.

Wae? Kau tidak akan bercanda berlebihan lagi kan?”

“Bercanda? Kau bilang perasaanku sebagai candaan? Hah.. lupakan sajalah. Aku tidak ingin membahasnya lagi.”

“Aku harus berbicara denganmu. Apakah kau benar-benar mengenal Jessica yang tempo hari kita temui di kafe secara pribadi?”

“Eng? Kenapa kau membicarakan Jessicaku? Ah.. naui yeobo (kesayanganku)”

Yeobo? Kau bukan… lesbian kan?” ucap Siwon bergidig ngeri. Yoona mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“Aish.. ani.. dia sudah seperti separuh hidupku. Makanya aku memanggilnya yeobo.

Siwon mengangguk-angguk. “Mari kita bicara.”

Siwon dan Yoona duduk di depan kafe kecil yang berada di bawah apartemen kecilnya.

“Kau punya fotonya?”. Yoona mengangguk. Dia menyerahkan ponselnya.

“Dia cantik bukan? Aku sangat cemburu jika banyak pemuda tidak baik-baik mulai mendekatinya. Aku tidak suka jika nanti kehidupannya akan tidak bahagia. Yah, dia memang kelihatan agak dingin. Tapi, hatinya sangat hangat.”

Siwon sibuk dengan ponsel Yoona. Melihat satu persatu foto Yoona dengan Jessica. Ia tidak salah lihat. Yang tadi mencium Donghae adalah Jessica ini. Dan ini adalah Jessica sang CEO Jung Magazine yang tempo hari menjadi masalahnya karena Siwon harus mengurus skandal Dara dan Donghae.

Bagaimana jika Yoona mengetahuinya? Ia pasti sangat terluka. Sahabat yang sudah ia anggap sebagai separuh jiwanya, mengambil cintanya begitu saja tanpa berkata apapun.

“Apakah Jessica mengatakan sesuatu tentang perasaannya akhir-akhir ini?”

“Eng? Kenapa kau menanyakannya? Dia tidak mengatakan apapun soal perasaannya. Tapi, sepertinya, dia mempunyai pacar. Aku tahu itu. Perasaan kami sudah seperti saling terhubung.”

Siwon mengeraskan rahangnya sendiri. Kenapa gadis ini begitu polos?

“Apakah dia mengenal Lee Donghae?”

“Donghae? Ya, dia mengenalnya. Sejak kasus majalahnya dengan Donghae mulai, Jessica sering keluar untuk bertemu dengan Donghae untuk membereskan masalahnya agar tidak dibawa ke pengadilan.”

Siwon bangkit dari tempat duduknya. “Apakah Donghae masih belum mengenalmu?”

Yoona mengangguk. Siwon bergegas pergi tanpa mengatakan apapun pada Yoona. Wajahnya terlihat menahan amarah. “Eng? Kenapa dia terlihat agak marah? Apakah Jessica membuat salah padanya?”. Yoona mengendikkan bahunya karena merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.


*@NCT Entertainment

“Masa percobaanmu tinggal satu bulan lagi, Yoona-ssi. Apakah kau cukup menikmati pekerjaanmu? Aku lihat Donghae menjadi agak sedikit berubah. Aku yakin itu berkat jasamu.”

Yoona menundukkan kepalanya berterima kasih. “Ani, sajangnim. Dia berubah karena kemauannya sendiri. Aku menikmati pekerjaanku yang sekarang, dan aku akan mencoba yang terbaik ampai akhir masa percobaanku.”

Tae Hee mengangguk-angguk dengan seulas senyum di wajahnya. Seperti yang ia kira, Yoona sanggup menangani Donghae.

“Donghae sudah selesai melakukan seluruh jadwalnya untuk comeback. Jadi, aku sarankan kau tetap berada di kantor untuk mengurus masalah-masalah ringan tentang Donghae. Kau akan mendapatkan ruangan sendiri. Mulai sekarang, kaulah yang akan mengatur seluruh jadwal Donghae.”

“Eoh? Aku? Apakah harus aku yang melakukan semua itu.”

“Ya, tugas manager juga kan harus mengatur jadwal para artis. Jadi, mulai sekarang, pekerjaanmu akan melibatkan kerjasama antarmu dan Donghae lebih banyak lagi.”

Yoona mengangguk dengan pelan. Hatinya berpacu dengan sendirinya karena khawatir. Ini berarti, dia akan lebih sering bersama Donghae. Ah, eotteohke? Aku bisa gila!, pandangan Yoona menerawang.

“Yoona-ssi, apakah kau baik-baik saja?”. Yoona terkejut dan menganggukkan kepalanya dengan gaya bersemangatnya yang khas. “Ne, sajangnim. Gwaenchanha. Aku pasti akan melakukan yang terbaik. Melakukan yang Most-Like seperti motto label kita.”

Tae Hee tersenyum lebar. Ia benar-benar menyukai kepribadian Yoona. Gadis bersemangat yang tak pernah kehilangan senyumannya. Bagaikan bumi dan langit dengan Donghae – yang ditangani Yoona.

“Kau boleh keluar. Asistenku akan membawamu menuju ruangan.”

Yoona membungkukkan badannya sejenak dan bergegas mengikuti asisten Tae Hee.


“Silahkan masuk.”. Asisten itu membukakan pintu sebuah ruangan yang berada di ujung lorong yang bersebrangan dengan ruang pribadi para artis.

Yoona membelalakkan matanya melihat meja kerja berdesakan dimana-mana. Jarak antara satu meja dengan meja yang lainnya benar-benar sempit. Hanya dibatasi oleh sebuah benda seperti papan kayu yang menyekatnya menjadi bilik-bilik.

“Ini ruangan para manager artis. Mereka semua sudah terbiasa berdesakan disini karena ruangan manager yang satu lagi sedang diperbaiki. Apakah semuanya baik-baik saja, Nona?” tanya asisten itu melihat wajah Yoona yang shock.

Yoona mengangguk. “Terima kasih telah mengantarkanku. Kau boleh keluar.”

Yoona berjalan menyibak ruangan yang penuh sesak itu. Kertas-kertas bertumpukan di atas masing-masing meja hingga nampakya orang-orang yang bekerja disitu tidak terlihat.

Apakah pekerjaan menjadi manager harus mengurus berkas sebanyak ini?, Yoona menelan ludahnya sendiri. Matanya mendapati satu meja kosong dekat dengan kaca besar yang menjadi dinding pembatas antara ruangan itu dengan balkon yang ada di luar ruangan. Kaca besar itu menjadi penerangan yang efektif pada siang hari karena matahari bisa dengan leluasa masuk ke dalam ruangan.

Yoona mengelus meja kerjanya dengan berbagai macam perasaan bercampur dalam hatinya.

Akhirnya, aku mempunyai meja bekerja sendiri.., Yoona duduk di kursi kerjanya dengan gembira. Gadis itu menghentak-hentakkan tubuhnya di kursi, mencoba seberapa besar kenyamanan kursi itu. Gadis itu kembali tersenyum dengan senang.

Kemana semua orang?, batinnya. Yoona mulai mengatur barang-barangnya yang segera dikeluarkan dari kardus. Sebuah tempat peralatan tulis lengkap dengan isinya. Beberapa kotak memo berwarna-warni, sebuah pigura kecil yang berisikan foto ibunya dan fotonya bersama Jessica.

“Eoh? Ada manager baru?”. Suara itu segera membuat Yoona bangkit dari tempat duduknya dan segera membungkukkan badannya. “Annyeong hasimnikka. Namaku Im Yoona. Senang bertemu denganmu.”

“Wa.. kau managernya Lee Donghae?” seru orang itu dengan kaget. Yoona menganggukkan kepalanya pelan. Apakah Donghae memang setenar itu?

“Kudengar kau sudah bekerja bersamanya kurang lebih dua bulan. Bagaimana bisa kau masih bisa bertahan, Nona Im?”

“Ah, Donghae tidak seperti yang kau kira. Dia sangat baik.” Aduh.. bagaimana bisa aku mengatakan kebohongan itu, Yoona meringis. “Baru kali ini, ada manager Donghae yang bertahan lebih dari satu bulan, Nona Im.”

Yoona hanya mengangguk. “Ah, siapa namamu, Tuan?”

“Aku Park Jungsoo. Panggil aku Jungsoo.”

“Ah, ne.. Jungsoo-ssi, kau juga manager disini?”

“Aku kepala manager disini. Aku tidak mengurus siapapun disini. Aku hanya mengkoordinir apa saja yang dibutuhkan oleh para manager artis. Jadi, kalau ada masalah datang saja padaku, oke? Aku akan mengurus semuanya.” Jungsoo mengedipkan sebelah matanya.

Yoona mengangguk-angguk paham. “Silahkan lanjutkan pekerjaanmu, Nona Im. Kau kan baru saja pindah. Sebentar lagi, kantor akan ramai karena jamnya makan siang. Kebanyakan mereka akan makan disini.”. Yoona kembali mengangguk. “Aku ada di meja paling depan di dekat pintu, ok? Temui aku jika kau punya kesulitan..”

Ne.. algesseumnida, gomawo, Jungsoo-ssi.”

Jungsoo tersenyum dan segera kembali ke mejanya. Yoona menghela napasnya. Nampaknya bekerja di dalam ruangan akan lebih baik jika ia terus mengembara tanpa tempat dan selalu bersama Donghae.


Donghae menekan nomor yang sama beberapa kali. Wajahnya terlihat resah. Matanya tak pernah berhenti menatap layar ponselnya yang tidak kunjung memberikan nada sambung.

“Kemana dia?”

Jessica sibuk mondar-mandir di lantai basement kantor majalahnya. Isu baru sedang diurus dan Jessica juga harus turun tangan terlibat untuk menentukan apakah kabar itu patut menjadi bahan ulasan mereka minggu ini.

Ponsel Jessica terus bergetar menandakan panggilan masuk. Gadis itu lupa membawa ponsel bersamanya karena terlalu sibuk dan terburu-buru.

“Eish.. dia membuatku khawatir saja..”


#skip

*Author’s POV

Annyeong hasimnikka, nama saya Im Yoona. Senang bertemu dengan kalian semua. Mohon bantuannya..”. Yoona membungkukkan badannya disambut dengan tepuk tangan meriah.

“Kau hebat sekali Yoona-ssi, aku baru melihat gadis setabah dirimu.. Donghae sangatlah kekanakan.. Owh.. mengingat kelakuannya saja aku sudah bisa pingsan.” seru salah satu manager dan disambut dengan tawa disana-sini. Yoona hanya tersenyum.

“Hei, ada apa ribut-ribut ini?” ujar seseorang yang baru saja masuk. Yoona membalikkan badannya. Senyumannya mengembang seketika.

“Siwon oppa!”

“Yoongie?”

Seluruh manager mengerutkan dahi mereka serentak dengan heran. Kenapa mereka sangat akrab?

“Ah.. kalian sudah bertemu dengan Yoona? Dia sangat mengagumkan..” seru Siwon keras-keras untuk memecah suasana beku di ruangan itu.

Para manager lainnya hanya mengendikkan bahu mereka dan segera kembali ke pekerjaannya masing-masing.

“Bagaimana bisa kau ada disini?” tanya Siwon pelan. “Jadwal comeback Donghae sudah selesai. Tae Hee sajangnim juga memberikanku sebuah meja disini. Dia bilang aku akan lebih banyak menghabiskan waktuku di kantor.”

Great! Aku mempunyai teman..” seru Siwon asyik. Yoona hanya tersenyum memaklumi. Siwon memang selalu seperti itu.

“Dimana kau duduk?”

Yoona menunjuk ke arah mejanya yang ada di sudut ruangan. “Kau duduk disitu? Itu spot paling menyenangkan. Aku duduk di seberangmu.”

Jinjjayo?”. Mata Yoona berbinar. Ia yakin pekerjaannya tidak akan membosankan kini. Selain itu, ada seseorang yang akan selalu memperhatikannya.

Kajja, kau harus memulai pekerjaanmu.”. Siwon menarik tangan Yoona dan mendudukkan gadis itu di kursi kerjanya.

“Kau harus memulai dengan mengontak semua pihak yang masih berhubungan dengan Donghae yaitu perusahaan yang masih menjadikan Donghae sebagai brand ambassador mereka. Perusahaan iklan juga harus kau kontak, stasiun televisi juga…”

Yoona hanya menatap Siwon dengan kagum. Kata-kata Siwon mulai tidak terdengar karena dirinya terlalu sibuk memperhatikan betapa menawannya Siwon ketika memberikan petunjuk padanya.


*another side

“Yoona-ya..”

Jessica menelan ludahnya sendiri. “Bagaimana jika kita makan malam hari ini? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu..”

“Em.. baiklah. Kau mau makan malam dimana?” tanya Donghae lewat sambungan teleponnya.

“Makan malam di tempat bulgogi dekat kantorku saja. Bagaimana?”

“Oke. Aku akan kesana sekitar jam 9. Aku ada beberapa keperluan. Idda bwa..”. Donghae memutuskan sambungan telepon mereka. Jessica menghela napasnya sendiri. Ia tahu, Donghae sudah menganggapnya sebagai pacarnya kini sejak dia mengungkapkan perasaannya sendiri. Namun, kehidupan Jessica malah tidak bisa tenang.

Perasaan bersalah selalu menelisik ke dalam hatinya setiap kali ia melihat senyuman Yoona yang tulus kepadanya. Perasaan bersalah juga selalu ia rasakan setiap kali ia melihat Yoona ketiduran di sofa untuk menunggunya pulang.

Jessica hidup dengan perasaan bersalah yang terus membayanginya. Membuat hatinya menjadi tidak tenang.

“Em.. aku akan mengakhirinya hari ini..”. Jessica berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


“Kemana dia?” gumam Yoona cemas. Gadis itu merasa ada yang kurang dari hari ini.

Ya, hari ini, suara Donghae sama sekali tidak ia dengar. Ia juga heran sendiri kenapa di ponselnya sama sekali tidak ada panggilan masuk dari Donghae. Padahal, biasanya pemuda satu itu banyak sekali kemauannya dan takkan membuatnya terdiam begini saja.

Yoona menggenggam beberapa lembar kertas berisikan jadwal Donghae yang sudah tersusun dengan rapih.

“Kenapa kau tampak cemas, Yoona-ssi?”. Jungsoo menegurnya. Yoona membelalakkan matanya. “Ah… ani, Jungsoo-ssi, aku hanya sedang heran.”

“Oh.. geureom, aku pulang lebih dahulu, jangan lupa mematikan lampunya ya.”

Yoona mengangguk dan menundukkan kepalanya sebentar. “Hati-hati di jalan, Jungsoo-ssi..”

Jungsoo hanya melambaikan tangannya dan lenyap di balik pintu. Yoona memandang ke sekelilingnya. Kosong. Gadis itu bahkan tidak sadar semua orang telah pulang karena khawatir.

Yoona meregangkan badannya dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepala. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Astaga! Jam setengah sepuluh.., Yoona bergegas membereskan barangnya dan memasukkannya asal ke dalam tas tentengnya.

Yoona langsung mematikan lampu dan mengunci pintu dengan baik.

#skip

Yoona terkantuk-kantuk di dalam bus yang biasa ditumpanginya. Beberapa kali kepalanya terantuk ke jendela bus. Beberapa kali pula dia mengomel sendiri.

“Eoh? Kenapa macet? Ini kan sudah larut malam?”

Yoona melongok ke luar jendela. Sebuah mobil berhenti di lajur busnya. Sang pengemudi keluar dengan sempoyongan dan terburu-buru, berusaha mengendurkan dasi yang dipakainya. Ia seperti sedang sesak napas. Mata Yoona membulat.

Apa yang dilakukan orang itu?

Yoona tidak habis pikir, apalagi saat itu sedang turun hujan deras. Mata Yoona menyipit berusaha mengenali gestur yang nampaknya tidak asing.

“Astaga!” pekiknya sendiri dengan kaget. “Ya Tuhan! Itu kan Donghae!”

Ahjussi.. kumohon izinkan aku keluar…” ujar Yoona cepat-cepat. Dirinya benar-benar panik.

“Tidak bisa, Nona. Ini sedang hujan deras. Kau akan sakit nanti..”

“Kumohon, ahjussi, ini penting.. aku harus menolong pemuda itu..”

Ahjussi itu memilih mengalah dan membukakan pintu bagi Yoona.

Yoona pontang-panting menutupi kepalanya dengan tas. “Ah rambutku..” keluhnya. Tidak, ini bukannya saat untuk mementingkan dirimu sendiri, Yoona-ya..

Yoona buru-buru masuk ke dalam mobil Donghae dan menepikan benda itu ke pinggir jalan agar tidak menghalangi kendaraan lagi.

Ia buru-buru keluar dan berlari ke arah Donghae yang tersungkur di tengah jalan. Seluruh badannya basah diguyur hujan yang derasnya tidak terkira. Yoona melempar tasnya entah kemana dan segera berlutut serta melepaskan jaketnya dan berusaha menudungkannya ke atas kepalanya dan juga Donghae.

Yoona tahu usahanya sia-sia. Tapi, setidaknya ia telah mencoba.

Gwaenchanha.. Gwaenchanha.. (kita baik-baik saja.. kita baik-baik saja..)” gumam Yoona berkali-kali dengan gigi bergemeletuk menahan dinginnya air hujan yang bagaikan air es.

“Donghae-ya, gwaenchanha..”. Yoona terus bergumam sendiri dan berusaha mempertahankan posisinya menudungkan jaket di atas kepalanya dan Donghae.

Yoona menatap ke arah dimana pandangan Donghae terus tertuju. Sebuah mobil yang terlibat kecelakaan terbalik di sisi jalan. Dua orang yang nampaknya menjadi penumpang mobi itu terjepit di antara badan mobil. Sepertinya, korban kecelakaan itu sudah meninggal. Dan kedua korban itu bersimbah darah di beberapa bagian tubuhnya.

Yoona mengalihkan pandangannya sendiri dari pemandangan mengerikan itu.

Donghae hanya diam mematung. Pandangannya kosong dan terkesan seperti melihat hal yang begitu mengerikan. Matanya nyalang kemana-mana. Benar-benar seperti orang yang ketakutan. Giginya bergemeletuk karena menggigil ketakutan.

Gwaenchanha..” Yoona benar-benar tidak bisa berbuat apapun. Pipinya sudah memutih karena kedinginan. Donghae menatap Yoona seolah ia melihat orang asing baginya. Namun,

“Yoona-ya..”. Donghae mengelus pipi Yoona dengan tangannya yang sedingin es. Yoona terkejut setengah mati.. Ia tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Ini pasti efek kedinginan.., batinnya sendiri. Ia menatap mata Donghae yang terlihat benar-benar ketakutan dan seperti meminta perlindungan padanya.

“Yoona-ya..”. Kata-kata itu seolah menegaskan bahwa Yoona tidak salah dengar.

Yoona menatap Donghae dengan tidak percaya. Matanya hampir saja mengeluarkan air mata.

“Ini sungguh-sungguh kau, Yoona..”. Yoona menggelengkan kepalanya sendiri. Aku tidak boleh larut dalam suasana. Hujan semakin bertambah deras. Bahkan rasanya mencapai pada titik akan datangnya badai.

Jaketnya benar-benar sudah basah kuyup. Badannya sudah bersimbah air yang tidak henti-hentinya mengguyur seperti air bah. Yoona meraba rambutnya sendiri. Astaga, rambutku bahkan sudah mengembang seperti ini.

Terdengar bunyi klakson dimana-mana.

“Nona! Apakah kau tidak mau menyingkir dari situ?” teriak salah seorang pengemudi kendaraan disitu.

Yoona berusaha bangkit dari posisi berlututnya tadi. Ia merasakan kakinya sudah hampir putus karena terlalu lama berlutut dan juga efek kedinginan membuatnya bertambah parah.

Yoona meraih tangan Donghae dan berusaha memapahnya ke halte yang berada di pinggir jalan.

Donghae duduk di bangku halte dengan bibirnya yang memutih. Badannya juga menggigil. Seketika, Yoona ingin sekali memeluk Donghae mengingat dia adalah sahabat semasa kecilnya yang selalu ia lindungi. Ditambah lagi, sekarang ia mengakui bahwa Donghae adalah cinta pertamanya.

“Dimana ponselmu?” tanya Yoona pada Donghae yang benar-benar tidak bisa berkata apapun. Memori mengerikan tentang kecelakaan mobil terus terulang dalam benak Donghae. Pemuda itu benar-benar ketakutan. Ditambah dengan derasnya hujan. Memori buruk itu benar-benar menjadi mimpi paling kelam Donghae.

Aigoo.. kenapa kau tidak menjawabku..” omel Yoona yang mulai merasa lebih kedinginan karena angin malam membuat air yang menempel di badannya bertambah dingin.

“Ah.. di saku jasmu..”. Yoona merogoh saku jas Donghae dan menemukan ponsel pemuda itu.

Ia bergegas mencari nomor telepon supir pribadi Donghae yang terkadang mengantarkannya jika ia terlalu lelah untuk berkendara.

Yeoboseyo? Aku manager Im. Bisakah kau menjemput Donghae di halte depan stasiun bawah tanah Gyeonggi-do?  Ne, aku akan menunggumu. Tolong bawakan satu buah handuk dan juga beberapa air hangat ya, pak.. Gomapseumnida..”

Yoona memasukkan ponsel Donghae ke dalam saku jas pemuda itu lagi. Donghae masih tetap dengan pandangan kosongnya.

“Donghae-ya? Gwaenchanha?”

Di dalam benak Yoona terdapat berbagai pertanyaan. Kenapa pemuda ini begitu shock melihat kecelakaan mobil yang memang sering terjadi? Apa yang sebenarnya dia rasakan? Apa yang sebenarnya membuatnya begitu takut?

Donghae kali ini menoleh kembali dan menatap Yoona yang sedang menggosok-gosokkan kedua tangannya. Donghae terus memperhatikan Yoona yang sedang sibuk sendiri. Gadis itu tidak menyadari jika Donghae sedang terus memperhatikannya.

Pemuda itu tersenyum tanpa ia sadari. Sebuah senyuman hangat yang belum pernah terlukis di bibirnya. Mungkin karena Yoona memang selalu ada disana untuknya..


Gomapseumnida, ahjussi.. Tolong antarkan dia selamat sampai di rumah, ya? Dan tolong hangatkan jok mobilnya. Pasang temperatur yang agak panas karena dia baru saja diguyur hujan deras.”. Yoona melongok ke dalam mobil dan menyelimuti Donghae yang sudah tertidur pulas dengan sebuah handuk dan diselimuti kembali menggunakan selimut tipis.

Ne, agasshi, saya akan melakukannya.” ucap supir itu dan menundukkannya.

“Hati-hati ya..”. Yoona menutup pintu dan melambaikan tangan sebentar.

“Uwah.. ini dingin sekali.. Omo..”. Yoona segera masuk ke dalam bus yang berhenti di halte dengan mendekap tubuhnya sendiri. Badannya bagaikan es kini. Udara malam memang sedang sangat tidak bersahabat. Hujan belum reda juga.

#skip

“Kemana dia?”. Jessica mondar-mandir di dekat meja yang telah ia pesan sebelumnya. Gadis itu memang telah mempersiapkan momen pengakuan ini. Matanya tak berhenti menatap ke luar kaca restoran yang tembus pandang memperlihatkan pemandangan malam kota Sinsa-dong.

Jessica kembali mengecek ponselnya. Donghae sama sekali tidak menghubunginya. Tidak ada pesan maupun panggilan tak terjawab. Apa dia lupa dengan janji ini?

Jessica berusaha menghubungi nomor Donghae. Tidak aktif. Jessica menyerah. Dia keluar dari restoran itu dan segera berdiri di pinggir jalan.

“Taksi!”. Jessica mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat dan langsung memberikan sebuah alamat yang jelas.


Yoona sibuk mengeringkan rambutnya. Ia termangu sendiri. Bagaimana keadaan Donghae sekarang? Apakah dia baik-baik saja?

Yoona tidak bisa memungkiri perasaannya sendiri yang benar-benar khawatir. Baik sebagai managernya maupun sebagai cinta pertamanya.

Yoona berpikir sejenak dan segera beranjak menuju dapur. Gadis itu sibuk selama beberapa belas menit dengan suara ketukan panci dengan tongkat pengaduk sup disana-sini.

Yoona membawa termos yang masih hangat ke ruang tengah. Gadis itu segera meraih ponselnya. Ia hendak menghubungi Donghae tapi.. bukankah konyol jika ia menelepon menanyakan apakah dia baik-baik saja?

Apakah aku harus mengantarkan ini sendiri?, Yoona menatap termos yang berisikan bubur hangat itu dengan bingung. Tidak, aku tidak akan mengantarkannya sendiri. Bagaimana dengan jasa antar online? Astaga, tidak bisa dipercaya.

Ah, Siwon oppa!, wajah Yoona segera bersinar dengan cerah. Tangannya menggapai ponsel yang tergeletak di meja ruang tengah di dekatnya. Ia segera menekan kontak dengan nama ‘미친 오빠 (Kakak yang gila)’

“Yeoboseyo? Ah.. dongsaeng, kenapa kau meneleponku malam-malam begini?” sapa Siwon masih dengan suaranya yang begitu hangat. Yoona tersenyum lebar. Tapi, tiba-tiba nyalinya menciut.

“Ah.. itu..”. Kata-kata Yoona tersangkut di tenggorokan. Mengingat pengakuan Siwon beberapa hari yang lalu padanya. Apakah ini akan menyakiti perasaannya?

“Em? Kau tidak mau memberitahuku? Apakah itu sesuatu yang tidak bisa kau katakan padaku? Apakah kau bahkan tidak mau memberitahu kakakmu ini?”

“Eng.. itu..”. Yoona menggaruk kepalanya sendiri. Siwon terdengar sangat kecewa dengannya. Aduh… kenapa aku meneleponnya tadi. Kan jadi susah sendiri mengakhirinya, rutuk Yoona.

“Aku membutuhkan bantuanmu. Mengantarkan bubur ke rumah Donghae..”

Yoona memejamkan matanya, bersiap menerima reaksi apa yang akan dikeluarkan Siwon.

Hening.. Helaan napas Siwon akhirnya memecah pembicaraan mereka.

“Kau gila? Malam-malam begini? Kau hanya memintaku untuk mengantarkan bubur?” teriak Siwon tertahan.

Yoona meringis. Siwon menjadi agak temperamental akhir-akhir ini jika menyangkut Donghae. Dia bilang, ia tidak suka melihat gadis sebaik Yoona disia-siakan begitu saja olehnya.

“Sudahlah..”. Siwon memutus sambungan telepon mereka terlebih dulu.

Yoona menghela napas dan menatap layar ponselnya dengan kecewa. Ah, kenapa aku mencoba ide itu? Apakah aku membuatnya marah?

“Aku? Mengantarkan bubur? Hanya unuk Donghae? Ah! Tidak masuk akal. Apa yang ada di pikiran gadis itu?” protes Siwon sendiri tidak terima. Ia menghempaskan diri ke sofa dengan kesal.

“Uh, astaga…”

“Hah..”

Siwon ribut sendiri. Akhirnya, dia bangkit dari posisinya yang tadinya berbaring di sofa untuk yang kesekian kalinya.

“Tapi, tadi dia terdengar khawatir sekali… Kau beruntung, Lee Donghae. Dasar pemuda tidak tahu malu..”

Yoona menatap termos berisikan buburnya dengan lemas. Kenapa aku harus membuatkannya bubur? Apakah sebaiknya aku makan saja ya?

Drrt… drrt..

Yoona menatap layar ponselnya dengan malas. Matanya membulat begitu melihat nama kontaknya.

“Im Yoona, dengarkan aku.. Aku akan mengantarkan buburmu itu ke tempat Donghae.”

Yoona menepuk-nepuk tangannya sendiri. Ia begitu senang. “Jinjjayo, oppa? Jinjja?” seru Yoona tidak percaya.

Siwon hanya tersenyum pahit mendengar Yoona yang begitu senang. “Kau tidak bercanda denganku kan?” tanya Yoona tiba-tiba ragu.

“Eish.. aku tidak bercanda. Bisakah kau membedakan yang mana yang bercanda dan yang mana yang tidak?”

Aniyo. Aku tidak bisa.”

Siwon menepuk jidatnya sendiri. Baiklah, ini bukan masalahnya…

“Tapi, dongsaeng, bukankah kau harus melakukan sesuatu untuk berterima kasih pada kakakmu ini?”

“Eng?”

“Kau sudah mendengar istilah ini sebelumnya kan? Give and take?”. Siwon tersenyum-senyum sendiri dengan ide gilanya ini.

“Jika aku memenuhi satu permintaanmu kali ini, kau harus memenuhi tiga permintaanku nanti, aku kan bilang itu adalah permintaanku jika aku mau menggunakan kesempatan itu. 콜? (setuju?)”

“Eii… kenapa aku harus memenuhi tiga? Kau kan hanya mengantarkan satu bubur.”. Yoona memanyunkan bibirnya kesal. Siwon selalu saja mengerjainya.

“Baiklah jika kau tidak mau aku akan menutup teleponnya… an..”

Geurae!!! 콜, 콜, 콜!! (setuju, setuju, setuju!!) aku akan memenuhi tiga permintaanmu apapun itu.”

Siwon terkekeh pelan. Yoona begitu mudah terjebak dalam semua kata-katanya.

“Ah.. ini tidak akan terjadi jika aku tidak melakukan ini..” gumam Siwon. Dia menekan tombol perekam dalam ponselnya.

“Nah, ulangi setelah aku. Aku, Im Yoona, berjanji akan memenuhi tiga permintaan Choi Siwon, apapun yang terjadi.”

“Ah.. bagaimana bisa aku melakukan omong kosong itu..” keluh Yoona dengan kesal.

“Ahahah… baiklah aku akan menutup teleponnya..”

“Aku, Im Yoona, berjanji akan memenuhi tiga permintaan Choi Siwon apapun yang terjadi!!!” teriak Yoona dengan panik.

“Amin.” ucap Siwon bak pendeta. Siwon mengakhiri perekaman dalam ponselnya dengan senyuman geli.


Jessica menengadahkan kepalanya menatap bangunan apartemen mewah di pusat kota Seoul itu. Gadis itu menganga melihat bagaimana tinggi menjulangnya bangunan itu mencakar langit. Jessica mengepalkan tangannya sendiri. Apakah dia ada di rumahnya?

Jessica menekan-nekan tombol lift dengan tidak sabar. Dia menekan angka 60 dengan cepat begitu masuk ke dalam lift. Jessica bisa merasakan tangannya bergetar hebat.

#skip

“Nah, dongsaeng, mana buburnya?”. Siwon menumpukan tangannya di bingkai pintu sembari menunggu. Yoona bergegas masuk ke dalam kembali dan mengambil termos kecil tadi berisikan bubur hangat yang seingatnya adalah bubur kesukaan Donghae. Ia tidak pernah salah dalam mengingatnya.

“Hat..syiii..”. Yoona bersin tepat di depan wajah Siwon. Pemuda itu hanya melongo mendapati bersin Yoona yang begitu kencang.

“Kau kenapa? Kau tampak tidak sehat..”

“Ah.. jangan pikirkan aku, cepat, antarkan ini ke tempat Donghae. Dia lebih sakit dibandingkan aku. Oke?”

“Memangnya kenapa dia mendadak sakit? Memangnya tadi dia diguyur hujan deras, huh?” tanya Siwon asal omong. Yoona sempat kaget dan hanya tersenyum. Ia masih mengingat bagaiman cara tadi Donghae memanggilnya.

“Ah, cepat sana.. Jeongmal gomawoyo, oppa..”. Yoona mendorong Siwon keluar dari apartemennya. Siwon hanya tersenyum tipis dan segera pergi. Melihat keadaan Yoona sekarang, ia yakin gadis itu benar-benar sakit.


Jessica menekan bel apartemen Donghae beberapa kali. Sunyi.

Apakah dia tidak ada di rumah?, batinnya. Ia kembali menekan bel satu kali.

Cklek..

Pintu terbuka. Wajah Donghae yang benar-benar pias membuat Jessica panik. Donghae langsung mengambrukkan kepalanya ke bahu Jessica dengan lemas.

“Yoong, kau datang..” ujarnya lemah. Helaan napas berat khas orang yang sakit terdengar dengan jelas di telinga Jessica. Gadis itu merasakan suhu badan pemuda itu benar-benar tidak normal.

“Ayo masuk.. Udara malam tidak baik untuk orang yang sakit.”. Jessica memapah dan mendorong masuk tubuh Donghae ke dalam dan menutup pintunya.

“Kenapa kau bisa sakit sampai seperti ini huh? Kau mandi hujan?”

Donghae membisu. Ia sedang tidak ingin menjawab pertanyaan apapun. “Berbaringlah.”. Gadis itu membantu Donghae berbaring di sofa ruang tengahnya lalu menyelimuti seluruh tubuh Donghae dengan selimut tebal.

Jessica menyentuh dahi Donghae. “Astaga, panas sekali.. Ya ampun, kau benar-benar sakit. Sebentar.. aku akan menyiapkan kompres untukmu.”

Jessica segera berlari ke dapur dan mengambil semangkuk air dingin dan juga handuk kecil. Ia segera kembali dalam hitungan hanya beberapa menit.

Gadis itu menempelkan dengan pelan handuk kecil itu di dahi Donghae yang benar-benar seperti terbakar. “Kenapa kau bisa sampai sakit?” gumam Jessica. Donghae menatapnya dengan mata yang benar-benar sayu.

Tangan Donghae memegang tangan Jessica yang masih ada di dahinya. Menahan tangan gadis itu agar tidak dulu pindah. Jessica membulatkan matanya salah tingkah.

“Em.. Hae-ya..” lirih Jessica.

Gaman isseo (tetaplah seperti ini untuk sementara), rasanya rasa pusing dan juga panasnya menjadi jauh berkurang. Aku akan segera membaik jika kau terus seperti ini berada di sisiku.”

Deg. Jessica mengalami heart attack. Donghae membawanya masuk ke dalam jurang yang berbelit-belit dalam perasaannya. Hatinya bertambah jatuh makin jauh untuk Donghae.

Bagaimana bisa aku melepaskanmu jika terus saja begini?

Jessica segera menarik tangannya. “Aku akan memasakkan sup untukmu. Aku akan menyiapkannya secara cepat. Tenang saja..”

Jessica buru-buru pergi ke dapur dan mulai sibuk menyiapkan bahan-bahannya. Donghae hanya tersenyum begitu puas karena dia berhasil membuat Jessica – yang masih ia pikir adalah Yoona – salah tingkah.

#skip

“Donghae-ya..”

Jessica menoleh ketika tidak mendengar jawaban apapun. Donghae terlelap. Jessica mendekati Donghae pelan-pelan dan berjongkok di samping sofa. Memperhatikan raut wajah Donghae yang begitu lembut dan seperti anak kecil ketika tertidur.

Bagaimana bisa dia menjadi segalak apa yang dikatakan Yoona?

“Ah, aku harus pulang.” ucap Jessica pada dirinya sendiri ketika melirik jam yang menempel di pergelangan tangannya.

Jessica menaruh beberapa banyak sup di dalam mangkok dan menaruhnya di meja yang ada di depan sofa. “Aku harus pergi, Hae.. Cepatlah sembuh dan jangan membuatku khawatir.” bisik Jessica pelan.

Gadis itu pun keluar dan segera bergegas pulang ke rumahnya dengan bayangan Yoona yang sedang menunggunya dengan sabar. Ya, gadis itu masih menunggu temannya yang mengkhianatinya dalam masalah cinta.


“Apa password kunci apartemennya?” gumam Siwon sendiri dengan bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana pun juga, sesuai dengan perintah Yoona, Siwon harus menyampaikan bubur itu sampai ke dalam apartemen Donghae.

Dia bertangan kidal.

Siwon hanya mengerutkan dahinya dengan bingung mengingat kata-kata Yoona. Apa hubungannya?

“Apa hubungannya dengan tangan kidal? Hari tangan kidal internasional?”

Siwon mendadak mendapatkan ide itu karena ia mengingat Donghae pernah sekali menyebutkan hari itu ketika sedang di interview. Dia bilang hari tangan kidal internasional mempunyai arti khusus sendiri baginya.

“Ja, mari kita lihat.”. Siwon sibuk sendiri dengan ponselnya selama beberapa menit.

“Ah.. aku menyerah..”. Siwon terduduk sendiri di depan pintu apartemen Donghae. Tiba-tiba, matanya berbinar cerah. Ia mendapatkan sebuah ilham.

“Astaga, aku bodoh sekali.. Bukannya aku punya kartu kunci apartemennya?”

Siwon merogoh dompetnya dan mengeceknya dengan cepat. “Assa! Masih ada.. Untung saja dia mabuk waktu itu.”

#Flashback

“Mari kita berpesta!!” ujar beberapa manager yang ikut dalam pesta merayakan selesainya jadwal comeback Donghae yang melelahkan. “Untuk Donghae-ssi, Yoona-ssi yang telah banyak membantu dalam proses comeback.. Bersulang!!”

Ting.. Suara gelas beradu terdengar dengan nyaring dibarengi dengan tawa bahagia disana-sini.

Donghae menatap gelasnya dengan ragu. “Ayo, Donghae-ssi, kau harus meminumnya..” bisik Yoona di samping Donghae. Pemuda itu menatap Yoona dengan ragu-ragu. “Ini bentuk penghormatanmu pada mereka.. Kau bilang kau mau menjadi orang yang lebih menghormati orang lain bukan? Cepat lakukan..” perintah Donghae.

Glek. Donghae melakukan oneshot atau sekali teguk. Beberapa detik kemudian, badannya mulai terasa panas.

“Aku harus keluar dulu.”

“Dongsaeng, bagaimana pestanya? Apakah menyenangkan?” ujar Siwon yang ada di samping Yoona. Wajah gadis itu terlihat cemas. “Kemana Donghae? Kenapa dia tidak kunjung kembali?”

Yoona segera berlari keluar. Siwon mengerutkan dahinya. Ia langsung saja mengikuti gadis itu. Instingnya berkata ia harus menemani Yoona saat ini.

Yoona celingukan. Di sepanjang lorong tidak terlihat siapapun.

“Huaa. Astaga!! Kenapa dia ada disitu??” teriak Yoona kaget. Yoona belari dengan panik ke ujung lorong – tempat dimana Donghae sepertinya terjatuh atau pingsan atau apapun itu..

“Donghae-ssi, Donghae-ssi, bangun.. Donghae-ssi..”

Yoona menguncang-guncang seluruh tubuh Donghae. Ia semakin panik karena Donghae tidak memberikan reaksi apapun.

“Yoongie! Apa yang terjadi?” teriak Siwon sembari berlari. Yoona menatap Siwon dengan takut. “Dia mati.. astaga.. dia mati..”. Suara Yoona terdengar serak.

Siwon langsung memukul pipi Donghae beberapa kali dengan kencang. “Astaga!! Apa yang kau lakukan, Manager Siwon?” teriak Yoona saking kalutnya.

Siwon tidak mempedulikan Yoona. Dia memukul pantat Donghae juga dengan keras beberapa kali. “Apakah kau gila!!!”

Siwon berhenti dan meletakkan telunjuknya di bawah hidung Donghae. “Fiuh.. dia masih hidup..” ujar Siwon dengan muka kelelahan. Yoona memukul Siwon dengan kesal. “Kau bisa saja membuatnya mati, oppa..”

“Dia sepertinya tidak kuat minum-minuman beralkohol.”. Siwon menatap Donghae yang benar-benar terlelap. “Kita harus apakan dia? Kita tidak mungkin membiarkannya tergeletak disini kan?” tanya Yoona.

“Kita mengantarnya ke apartemen saja..”

Siwon mulai mengangkat tubuh Donghae ke atas punggungnya. “Ppali, dia sangat berat..”

Yoona mengangguk dengan cepat dan mengikuti langkah Siwon menuju apartemen Donghae.

#skip

“Kita sudah sampai..”. Siwon ngos-ngosan sendiri. “Bagaimana caranya kita membuka pintunya?”

Siwon tercenung. Benar, bagaimana dia membuka pintunya?

“Ah… kartu.. kartu kunci. Lihat di dompetnya.. Cepat.. aku akan segera jatuh..”

Yoona mengangguk lagi. Ia merogoh ke dalam saku celana Donghae dan mengambil dompet pemuda itu dengan terburu-buru.

“Ah, ini..”. Yoona menunjukkan kartunya ke arah Siwon yang sudah tampak benar-benar tidak kuat lagi.

“Kau menunggu apa lagi? Cepat buka pintunya.”

“Oh ya..”. Yoona dengan tangan yang bergetar hebat mencoba membuka pintunya.

Siwon berlari masuk ke dalam apartemen Donghae begitu pintu terbuka dan menidurkan pemuda itu diatas sofa ruang tengahnya.

“Oh.. astaga… Bagaimana bisa dia menjadi seberat itu?” omel Siwon. “Dongsaeng, ambilkan aku air cepat..”

“Eoh?”. Yoona menatap Siwon dengan bingung. “Air? Tapi, ini kan rumahnya Donghae.”

“Meminta segelas air setelah kelelahan mengangkat badannya tidak masalah bukan? Air.. Yoong, air..”

Yoona segera lari ke pantry Donghae dan mengambil segelas air yang langsung dihabiskan oleh Siwon dalam sekali tenggak.

“Cepat.. kita harus pergi dari sini sebelum dia bangun.”. Yoona mengangguk dan mengekor di belakang Siwon.

Cklek..

“Eng? Kartu itu akan kau bawa pulang, Siwon-ssi?”

“Tentu saja. Jika dia mencarinya aku akan memberikan padanya.”

#Flashback END

“Bagaimana bisa aku melupakan hal ini?” gumam Siwon menatap kartu kunci yang ada di tangannya. Sekali tap, pintu terbuka.

Siwon bergegas masuk dan meletakkan termos kecil Yoona yang berisikan bubur itu. Bagaimana bisa dia tahu Donghae sedang sakit? Apakah mereka punya hubungan?

Siwon menggelengkan kepalanya sendiri. Melihat keadaan sekarang, tidak mungkin mereka berpacaran atau semacamnya.

“Eng? Bubur siapa ini?”

Siwon menaikkan sebelah alisnya melihat mangkuk sup di atas meja pantry dapur. Siwon mengambil sendok yang diletakkan di sampingnya dan menyuap satu sendok besar bubur yang terlihat encer tersebut. Wajahnya langsung menjadi kecut sendiri.

“Uah.. astaga.. ini tidak bisa dimakan sama sekali.. Astaga.. ini bubur atau air garam dan cuka? Makanan apa ini?”. Siwon buru-buru membuang isi mangkuk itu ke dalam wastafel dan segera mencucinya.

“Ja, aku akan melakukan apapun yang Yoona minta padaku. Sebagai kakaknya atau lebih. Yah, untuk Yoona hanya sebagai kakaknya. Bagiku sebagai seseorang yang lebih.”

Siwon menuangkan bubur dengan perlahan ke dalam mangkuk dan menaruhnya pelan-pelan di meja ruang tengah lalu duduk di samping Donghae yang sedang terlelap dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya.

“Hem.. coba kulihat, bagian mana yang membuat Yoongie tidak bisa pindah hati darinya..”. Siwon mengamati sekilas wajah Donghae. “Aish.. Choi Siwon.. Kau kesini bukan untuk hal itu. Kau harus melakukan apa permintaan Yoona tadi.”

Siwon mengecek suhu badan Donghae dengan menempelkan tangannya ke dahi pemuda itu. “Astaga! Panas.. ya ampun.. bagaimana bisa suhunya begitu panas?”

Siwon bergegas mengambil kantung es dan mengisinya dengan es-es kecil sampai penuh. Ia menempelkan kantung es itu ke atas dahi Donghae. “Oh.. ya ampun.. Yoona hanya menyuruhku mengantarkan bubur tapi kenapa aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja, Donghae-ssi? Apakah ini salah satu daya tarikmu?”

Siwon terkantuk-kantuk di tempatanya duduk. Sesekali dia mengecek suhu badan Donghae yang tak kunjung turun. Siwon meletakkan termometer di bibir Donghae. Pemuda itu membelalak melihat angka yang tertera disana.

Mwo? 37,5ºC? Dia bisa mati konyol jika begini terus..”. Siwon berjalan-jalan mencari obat penurun panas di kotak P3K yang ada di pantry. Ia langsung mengencerkan obat berbentuk bubuk itu dan menyuapkannya ke mulut Donghae tanpa pemuda itu sadari.

“Aku benar-benar pengasuhnya sekarang..” hela Siwon lelah. Bagaimana pun juga, dia tidak ingin mengecewakan Yoona yang sudah memberikannya kepercayaan.


“Hatsyi.. hatsyii..”. Yoona menyeka hidungnya sendiri dengan kewalahan. Jessica yang sedang memasak di dapur menjadi terlonjak beberapa kali saking kerasnya suara bersin Yoona. “Astaga.. kenapa kau juga sakit flu?”

“Apakah ada orang lain yang sedang sakit?” tanya Yoona begitu duduk siap makan. Jessica salah tingkah. Yang ia maksudkan adalah Donghae. Tentu saja, Yoona tidak bisa tahu kalau dirinya menjalin hubungan dengan Donghae. Bukannya tidak bisa tahu, hanya saja ini belum waktu yang tepat.

“Ah.. akhir-akhir ini banyak yang sakit makanya aku menanyakan hal itu padamu. Sebaiknya kau tidak usah masuk, Yoona-ah..”

Yoona menggeleng. “Aku tidak apa-apa, Sica-ya, tenang saja. Aku tidak akan ambruk hanya karena flu ringan seperti i…hatsyii..”

Jessica mengeluh. “Kau sakit berat. Jangan membantahku lagi. Aku akan membelikanmu obat.”. Yoona menahan tangan Jessica yang hendak pergi. “Andwae.. sudah duduk saja. Jam segini mana ada apotek yang buka, Sica-ya..”

Jessica kembali salah tingkah. “Aku akan mengupaskan buah untuk kudapanmu di kantor nanti. Kau akan membutuhkan banyak vitamin ketika sakit.”. Jessica mengambil beberapa buah dari kulkas dan langsung mengupasnya.

“Aku juga akan membelikanmu sup kerang jamur sepulang kerja nanti. Aku dengar itu akan membantumu pulih dari flu dengan cepat.”

“Ah.. tidak usah. Aku akan segera sehat. Im Yoona tidak pernah kalah oleh sakit, arra?”

Drrt.. drrt..

Yoona melirik ponselnya yang bergetar. Dia tersenyum kecil.

From: 미친 오빠 (Kakak yang gila)

Mission complete! Cinta pertama dongsaeng kesayanganku sudah memakan semua bubur yang kau buat. Dia sudah membaik sekarang setelah memakan buburmu. Kekuatan cinta benar-benar hebat bukan?

Senyuman Yoona mengembang. “Ah.. 다행있다.. (dahaengitda, ini begitu melegakan)”

Jessica merasakan ponselnya bergetar juga. Senyuman di bibirnya terulas begitu melihat nama siapa yang tertera dalam ponselnya.

From: Lee Donghae

Terima kasih atas buburmu. Aku sangat menikmatinya. Badanku menjadi lebih baik setelah memakannya. Maafkan aku tidak bisa mengantarmu pulang tadi malam.

“Bubur? Bukankah itu sup? Bubur atau sup? Sama saja..”. Jessica mengendikkan bahunya dengan bingung.

Donghae hanya tidak tahu siapa yang sebenarnya membuat bubur itu.

Note:

Annyeong!! Jangan lupa meninggalkan jejak ya.. bilang aja kalau cerita ini membosankan atau apapun itu.. Gomapseumnida.. *bow*, Euri.

 

Advertisements