Freelance – Yugo [Part 2]

YUGO

Title: YUGO

Sub-title: Chapter 2 – Desa di Balik Matahari

Author: Fai Lee

Main Cast: Park Chanyeol; Byun Baekhyun; Bae Suzy; Oh Sehun; Krystal Jung

Support Cast: All EXO Member; Kim Ye-rim; Kim Taeyeon; Kwon Yuri; Kim Jongwoon; Sandara Park; Find in the story~

Genre: Fantasy; Friendship; Family; Adventure; Romance; Action

Duration: Chaptered

Rating: G

Summary:

“Putri kebanggan Amaranta…. Walau bukan Therones, ia adalah wanita istimewa”

“… Apa yang kau lakukan pada Suzy sebelum pergi? Dia meneriakkan namamu di penjuru desa….”

“Kau benci atau takut?”

Preview: Part 1 

Part 2 : Desa di Balik Matahari

“Ah, Park Chanyeol. Tidakkah kau heran dengan kejadian-kejadian aneh tak masuk akal yang sering menimpamu? Contohnya, lukisan tadi,” kata Baekhyun membuat Chanyeol tertegun.

Chanyeol meneguk ludah sesaat, “apakah aku seorang pesulap? Atau penyihir?” tanya Chanyeol dengan nada sarkastik.

Baekhyun terkekeh sinis, “berhenti mengigau.”

“Lalu kau apa? Sedari tadi kau membicarakan dongeng yang tak ku pahami,” kata Chanyeol lalu mendesah pelan.

“Kau seorang Kesh. Sudah ku katakan dari tadi.”

Kesh?”

“Ya, manusia berkekuatan tak biasa yang ada sejak beribu tahun lalu. Yang selalu bersembunyi di balik matahari, hidup damai tak ingin bergabung bersama manusia-manusia biasa, atau kita sebut Dougal, yang selalu berubah-ubah dan tak pernah stabil,” jelas Baekhyun diakhiri senyuman miring. “Ya… walau sejak beberapa puluh tahun ini Appolline tak lagi damai. Ada saja kejadian seperti perang besar dan pembantaian Kesh. Hhhh,” Baekhyun menghela nafas.Ia kemudian kembali menatap Chanyeol yang terpaku. “Orangtuamu adalah Kesh yang melarikan diri dari Appolline ketika kau lahir. Aku tak tahu apa yang terjadi, Tuan Sooman hanya memberitahu itu. Lalu sesuai perjanjian, ketika usiamu delapan belas tahun kau harus kembali ke Appolline, menjadi seorang Kesh sejati.”

Chanyeol terdiam. Mulutnya agak terbuka. Ia menggerakkan bola mata, mencoba mencerna kalimat itu.

“Ah ya. Selamat ulang tahun, walau telat. Kita sebaya,” kata Baekhyun tersenyum cerah.“Di usia ini saatnya kita masuk ke akademi Kesh. Kau harus tahu bahwa itu sekolah paling mengerikan yang pernah kau lihat. Kalau bukan kewajiban aku hanya ingin meneruskan usaha Ayahku menjual ikan, bukan menjadi pertarung,” keluh Baekhyun mencibir.“Ayo habiskan makanmu. Kita akan mengejar matahari, dan itu membutuhkan energi ekstra.”

***

“Kau bilang kita akan ke balik matahari?” tanya Chanyeol pada Baekhyun yang duduk di sampingnya.

“Ya, lihatlah. Ini sudah petang. Kita tidak akan berangkat ketika gelap,” ucap Baekhyun sambil bersandar. Kemudian ia memejamkan mata, “katakan kalau dia sudah datang. Aku ingin tidur sebentar.”

Chanyeol tenganga melihat pemuda itu dengan santai menyenderkan tubuh di bangku terminal. Apakah mereka akan pergi ke matahari memakai bis? Kenapa tidak sekalian subway? Ah, lebih masuk akal mungkin pesawat terbang. Atau naga? Elang?

Chanyeol melengos. Jangan-jangan benar pemuda ini adalah pemuda gila. Tapi Chanyeol penasaran juga. Karena selama ini ia tak memiliki kerabat dan saudara. Orangtuanya seakan hidup misterius. Ditambah lagi kejadian-kejadian aneh yang ia alami. Baekhyun seakan datang memberi jawaban.

Tiba-tiba, secepat kilat sebuah kereta kuda tanpa kuda meluncur dan berhenti di depan Chanyeol. Chanyeol terkejut setengah mati. Ia bahkan refleks lompat dan mengangkat kedua kaki ke atas bangku. Sebuah kereta dengan dua roda besar di kiri kanan berbentuk bulat layaknya ada di dongeng-dongeng itu sudah terparkir manis di depannya. Lalu jendela kereta terbuka, menampilkan seorang wanita putih cantik dengan rambut pirang.

“He Byun Zoladover! Apa kau tidak lihat bahwa matahari Seoul akan segera pergi? Cepatlah jika kau ingin pulang dengan cepat,” kata wanita itu menghardik Baekhyun yang tertidur di samping Chanyeol.

Chanyeol tenganga, lalu menoleh pada Baekhyun yang masih memejamkan mata.

“Katakan pada wanita tua itu, aku sudah tertidur dan ingin diangkat masuk,” bisik Baekhyun pelan membuat mata Chanyeol melebar.

Chanyeol menoleh takut-takut pada wanita bertampang jutek tersebut, “a-a-a….”

“ZOLADOVER BYUN BAEKHYUN!!!”

Chanyeol memekik dan spontan berpegangan pada senderan bangku terminal. Ada angin deras datang ketika wanita itu berteriak kencang.

“Senior Hyoyeon! Kau kira kau sedang ada dimana?” Baekhyun membuka mata dan segera berdiri. “Aku memang sudah melindungi tempat ini dengan pelindung kasat mata, tapi bukan berarti kau harus seenaknya!” omelnya layaknya bibi-bibi pasar.

Chanyeol melihat sekitar. Ah, pantas saja tak ada yang menoleh atau terkejut melihat sebuah kereta kuda tanpa kuda itu datang dengan teriakan seorang bibi.

“Cepat masuk! Aku lelah,” kata Hyoyeon menghardik, dan kembali menutup jendela kembali.

“Aish, dasar wanita tua,” gerutu Baekhyun mendekat dan membuka pintu. Sebelumnya ia menoleh pada Chanyeol yang terdiam. “Hei, apa kau juga ingin dapat omelan darinya?”

“Ah,” Chanyeol segera tersadar dan mengikuti Baekhyun masuk dalam kereta kecil itu. Ia duduk di samping Baekhyun, sementara Hyoyeon ada di depannya. Lalu dengan sekali hentakkan, Chanyeol dapat merasakan terbang. Ia panik sendiri dan berpegangan pada kursi kereta. Chanyeol melihat ke arah kaca jendela. Mulutnya terbuka dengan nafas tertahan. Jalanan tak lagi terlihat. Justru awan putih berbentuk kapas terbang menghambur di sekitarnya.

“Ah ya. Siapa Darby itu?” tanya Hyoyeon masih menatap ke depan.

Chanyeol mengintip. Dan baru melihat ada dua buah kuda di depan kereta dan digerakkan oleh Hyoyeon. Kuda itu besar dan berwarna putih dengan dua sayap di punggung mereka. Chanyeol serasa mau pingsan.

“Dia Park Chanyeol. Tuan Sooman bilang ia bangsa Eilert. Sepertinya iya. Karena tatapannya tajam,” jawab Baekhyun membuat Chanyeol mengangkat alis.

“Uuuu,” Hyoyeon berseru sambil melirik ke belakang sedikit, “berapa usiamu?”

“Em… delapan belas…” jawab Chanyeol masih canggung. “Ahjumma…”

Hyoyeon mendelik, sementara Baekhyun tertawa.

“YHA! Jangan berani memanggilku seperti itu. Aku bisa Korea asal kau tahu!” hardik Hyoyeon sebal. “Namaku Hyoyeon.”

Chanyeol mengerutkan kening. Bukankah Hyoyeon sedang berbahasa Korea sekarang?

“I-iya… Hyoyeon-ssi,” kata Chanyeol menunduk agak takut.

“Heeee,” Hyoyeon kembali memerotes. “Di Appolline nanti kau cukup memanggil namaku atau menyebutku senior. Karena aku jauh di atasmu.”

“Bukankah ia harusnya memanggilmu nenek?” goda Baekhyun membuat Hyoyeon mendelik.

Tapi detik berikutnya Baekhyun sudah terdorong keras dengan hempasan angin dari depan. Pemuda itu meringis sambil memegangi pundaknya yang terasa sakit.

“Ah ya Baekhyun. Segera minumkan dia zalume. Sebentar lagi kita sampai,” perintah Hyoyeon fokus menatap depan. “Kau juga jangan lupa.”

Baekhyun menipiskan bibir. Ia merogoh kantong celananya, mengambil sebuah botol kecil berwarna hijau. Chanyeol mengernyit melihat itu.

“Ini Zalume, ramuan ajaib. Dengan seteguk, kau bisa beradaptasi dengan lingkungan di sekitarmu dengan cepat. Kau akan fasih Bahasa mereka, berpakaian seperti mereka, bahkan tubuhmu akan menyesuaikan diri dengan suhu dan cuacanya,” jelas Baekhyun menunjuk ramuan itu. “Aku tadi meminumnya sebelum menjemputmu. Walau aku tak yakin Senior Hyoyeon telah meminumnya juga,” kata Baekhyun melirik Hyoyeon. Wanita itu memakai dress kotak persegi berwarna marun dengan motif matahari, baju adat Appolline.

“Sudah ku bilang, aku masih fasih berbahasa Korea walau telah lama pergi dari sana. Aku juga yang menjadi supir jika harus menjemput Darby di Korea. Karena itu Koreaku masih fasih,” jelas Hyoyeon melirik ke belakang.

“Em… Apa kau bisa jelaskan apa itu Darby?” tanya Chanyeol mengernyit.

Darby adalah Kesh yang hidup bebas di kota, sepertimu. Banyak Kesh yang seperti itu. Mereka biasanya hidup di kota selama beberapa tahun sebelum kembali ke Appolline. Bahkan ada yang besar di sana, lalu di usia tertentu dijemput oleh Kesh,” jelas Baekhyun tersenyum miring, “kecuali kau. Kau pergi bersama orangtua kandungmu. Dan kembali ketika usia delapan belas tahun.”

Chanyeol menipiskan bibir. Baekhyun tersenyum miring sekali lagi, dan kemudian meneguk botol Zalume di tangannya. Sedetik kemudian tubuhnya berputar membuat Chanyeol melompat mundur terkejut. Baekhyun sudah berubah. Ia memakai sebuah kaos tanpa lengan berbentuk persegi dengan celana pendek kain, tak lagi jas formal seperti tadi. Pemuda itu berkata pada Hyoyeon, yang langsung dijawab. Membuat Chanyeol mengernyit tak paham. Karena mereka menggunakan Bahasa aneh dengan logat yang juga aneh.

Baekhyun menyodorkan botol itu pada Chanyeol, dan berucap sesuatu. Chanyeol mengernyit tak paham. Baekhyun mendesah, kemudian memeragakan pose minum dengan tangannya dan menyodorkan botol kecil itu lebih dekat.

Chanyeol agak ragu. Ia melirik kaos Nirvana, kemeja merah kotak-kotak, dan jeans belelnya. Aih… sayang sekali jika harus berubah menjadi baju Baekhyun yang berbahan kain ringan seperti itu. Tapi Baekhyun yang makin memajukan botol Zalume membuat Chanyeol pasrah saja. Ia meneguk ludah, tapi kemudian menelan ramuan itu seteguk. Chanyeol mengeluarkan lidahnya. Rasanya masam dan asing. Tapi tiba-tiba pemuda itu merasa tubuhnya bergetar dahsyat. Ketika membuka mata, tahu-tahu bajunya sudah sama seperti Baekhyun.

“Aku punya banyak baju di rumah, kau bisa meminjamnya nanti jika kau tidak suka baju ini,” kata Baekhyun mengambil alih Zalume kembali, lalu menutupnya dan kembali mengantongi.

Chanyeol mengangguk saja. Tapi tiba-tiba ia merasakan angin sangat deras dengan kereta makin melaju. Chanyeol makin berpegangan erat. Kali ini Baekhyun juga menegakkan duduknya dan berpegangan. Kereta seakan meluncur melintasi cahaya. Chanyeol sampai menyipit melihat silaunya cahaya di depannya. Tubuhnya seakan menjadi ringan dan terbang. Kereta makin melaju dahsyat. Dapat dirasakan tubuh Chanyeol jadi bergetar dahsyat tak karuan. Ia berpegangan makin erat.

Ah, sebenarnya dimana “desa di balik matahari” itu?

***

“Ueeekkkk…”

“Perjalanan cahaya pertama-eh? Wajar jika kau mabuk,” komentar Hyoyeon berkacak pinggang.

Mereka kini sudah ada di sebuah sawah luas. Hyoyeon memarkir keretanya di tengah sawah. Dan ketika turun Chanyeol segera memuntahkan isi perutnya yang sudah ingin meledak.

“Apa-em-apa kau tidak punya minyak angin?” pinta Chanyeol dengan wajah pucat, lalu kembali muntah di samping Baekhyun yang menjauhkan diri segera.

“Ha? Minyak angin?” tanya Hyoyeon jutek. “He Darby! Kau pikir ada apotik di Appolline? Diam saja sebentar, kau pasti akan segera baikan. Lagipula jika sudah bertemu Tuan Sooman ia akan tahu memperlakukanmu seperti apa,” sambung Hyoyeon santai. “Ah, Zoladover! Aku akan pulang. Antar sendiri tamu kita menuju Altair,” kata Hyoyeon pamit. Ia segera naik kembali ke keretanya. Dan sedetik kemudian kereta itu sudah kembali meluncur pergi.

Baekhyun melengos panjang. “Ternyata jadi penjemput Darby tak pernah mudah. Ah, kenapa harus aku?” keluhnya menggerutu sebal, lalu mendelik pada pemuda yang terus memuntahkan isi perut di sampingnya itu. “Ayolah Darby… Akan ku buatkan minuman hangat di Altair nanti. Ayo cepat,” desak Baekhyun tak sabar.

“Berhenti memanggilku Darby!” kata Chanyeol bersungut, lalu mual kembali.Ia terbatuk-batuk sesaat, kemudian mengusap bibirnya dan menghela nafas panjang. “Apa kau tidak lelah atas perjalanan tadi?”

“Tentu saja!” jawab Baekhyun segera. “Karena itu ayo kita segera selesaikan ini agar aku bisa tidur pulas.”

Chanyeol menggerutu sebal. Tapi setelah menarik nafas sedalam mungkin dan menghembuskannya panjang, ia menurut pergi. Baekhyun tersenyum ceria kembali, dan melangkah di sampingnya.

Sepanjang jalan, Baekhyun menjelaskan semuanya. Appolline adalah desa di balik matahari. Tempatnya masih ada di bumi namun di belahan yang sulit dijangkau kehidupan normal manusia. Makhluk Appolline disebut Kesh, manusia berkekuatan dan bertujuan. Sejak Perang Dunia 1, Altair –pemimpin Kesh- memutuskan bahwa Kesh akan menjalani kehidupan manusia normal selama beberapa tahun –atau disebut Darby– lalu dijemput kembali ke Appolline untuk dilatih kekuatannya. Masing-masing Kesh memiliki kekuatan dengan bangsa berbeda. Ada Tumbuhan (Amaranta), Hewan (Len), Tubuh (Eilert), dan Alam (Zoladover). Ketika masuk ke sekolah Kesh mereka akan diajarkan dasar dari masing-masing kekuatan. Dan yang bisa menguasai keempat bangsa disebut Therones, Kesh terpilih. Sampai saat ini, Baekhyun mengaku ia hanya bisa menguasai Zoladover dan Eilert. Ia adalah bangsa Zoladover dengan kemampuan khusus angin dan cahaya, sementara ia belum terlalu menguasai Eilert. Sampai saat ini hanya bisa menggerakkan benda dengan tatapan, tak sampai memperbaikinya seperti Chanyeol.

Tapi sejak lima puluh tahun lalu, Appolline mendapat kencaman dari seorang Kesh yang ingin merebut Altair dan menguasai Appolline. Dia disebut Obscuro, atau penjahat pemberontak. Ia menelusuri Kesh di seluruh dunia, mencari Kesh terkuat dan menculiknya, kemudian dididik menjadi murid dan pengikutnya. Sampai saat ini, sudah ada banyak Kesh yang berhasil ia culik dan tak kembali. Tak pernah ada yang tahu dimana tempat persembunyiannya. Terakhir ia mengacau dua tahun lalu, dan mengambil seorang Kesh kuat yang menjadi jagoan di Appolline.

Chanyeol menatap Baekhyun dalam. Dapat dilihat ketika menceritakan Kesh yang diculik Obscuro suaranya melirih dengan mata yang menjadi sayu.

“Siapa yang telah diculik dua tahun lalu?” Chanyeol tak bisa menahan rasa ingin tahunya.

Baekhyun menarik nafas dalam. “Putri kebanggan Amaranta. Ia menguasai kekuatan Eilert dan Zoladover. Walau bukan Therones, ia adalah wanita istimewa,” jawab Baekhyun melihat ke depan dengan tatapan jauh.

“Wanita?” Chanyeol terkejut. “Kau mengenalnya?”

Baekhyun tersenyum miris, tapi tak menjawab. “Lihat, kita sudah sampai di desa!” seru Baekhyun. Matanya cerah kembali.

Chanyeol menoleh. Dan langsung mendesah kagum tanpa sadar. Bangunan-bangunan kecil terbuat dari kayu tersusun rapi layaknya rumah boneka. Membentuk jalanan dengan beberapa persimpangan. Ada beberapa hewan terlihat lalu lalang dengan santai. Penduduk padat memenuhinya. Pakaian mereka sederhana dari kain ringan berbentuk persegi. Chanyeol merasakan seperti ada di desa-desa Eropa. Rambut mereka lebih banyak pirang, putih, dan hitam. Kulit mereka putih bersih. Dimulai dari wajah Asia sampai wajah west, terlihat sama rata di Appolline.

“Aku tidak yakin dua tahun lalu desa ini pernah didatangi pemberontak,” kata Chanyeol menoleh kanan dan kiri, menikmati suasana desa yang nyaman.

Baekhyun terkekeh, “kami punya Kesh yang bisa mengontrol kayu dan tanah, dengan segera semua akan kembali pulih,” ucapnya santai. “Ah, kau lihat itu? Itu Altair,” kata Baekhyun menunjuk sebuah bangunan besar tak jauh dari tempat mereka. Bangunan berwarna putih itu terlihat mencolok dibanding yang lain. Berbentuk kastil batu putih gading yang kokoh dan tinggi.

“Tadi kau bilang Altair adalah pemimpin?” tanya Chanyeol tak mengerti.

“Ya, dan pemimpin kita adalah Tuan Sooman.Tapi tempatnya tinggal juga disebut Altair. Aku juga tidak mengerti,” ucap Baekhyun mengedikkan bahu sambil tertawa kecil sambil terus melangkah menyusuri jalan desa yang ramai sore itu.

Chanyeol merogoh kantungnya, tapi terkejut dan jadi panik sendiri. “Ah, Baek. Sepertinya handphoneku terjatuh,” kata Chanyeol cemas. “Ah, wait. Apakah handphoneku ikut menghilang seperti baju-bajuku?” tanyanya dengan mata melebar maksimal.

“Em… mungkin,” kata Baekhyun tanpa dosa, “ah sudahlah. Lagipula di sini tak ada teknologi macam itu. Itu benda tidak berguna.”

“HE! Aku membelinya dengan gajiku sendiri!” hardik Chanyeol tersinggung. “Aku ingin memotret permandangan disini. Aih!”

“Dasar Dougal. Ketergantungan pada teknologi. Mungkin karena itu sampai sekarang Kesh tidak berniat menyatu dengan kalian,” kata Baekhyun mencibir, “dan kau Darby, berhenti bersikap seperti Dougal. Atau kau akan dipojoki semua orang di sini.”

Chanyeol mencibir, kemudian melengos panjang dan sebal.

***

Pria bermata bulat besar itu menatap Chanyeol dalam. Ia melihat ujung rambut, lalu menelusuri ke bawah sampai ujung kaki. Wajahnya dingin tak bersahabat. Baekhyun berdiri di sampingnya dengan tangan yang ditumpu di pundak pemuda bermata besar itu.

“Ya, Kyungsoo. Dia Darby dari Korea Selatan, tempat kita tumbuh,” kata Baekhyun mengerling pada Chanyeol yang kikuk dan canggung. “Dia seusia kita. Dan dia seorang Eilert,” ucap Baekhyun memainkan alisnya. “Sekarang dia akan bertemu Tuan Sooman.”

Kyungsoo mendengus, kemudian dengan kasar menepis tangan Baekhyun di pundaknya. “Aku jadi ingat. Apa yang kau lakukan pada Suzy sebelum pergi? Dia meneriakkan namamu di penjuru desa. Ditemani kaktus-kaktusnya,” lapor Kyungsoo mendelik geram ke arah Baekhyun yang meringis.

“Aku hanya mencoba jurus baruku. Tapi dia lewat dan tanpa sengaja aku melemparkan air terjun padanya,” cerita Baekhyun tertawa tanpa dosa. “Dia ingin pergi ke rumah Sehun, dandannya sangat rapi. Aku tidak tahan untuk tidak-“

“Tadi kau bilang tidak sengaja, dan sekarang kau mengaku memang mengganggunya?” potong Kyungsoo dingin dan tajam. “Kau tahu, besok hari pertama kita. Dan aku tidak ingin ada kerusakan lagi di Akademi Appolline,” keluh Kyungsoo menatap Baekhyun menusuk dalam.

“Aish… iya iya aku tahu. Aku tidak akan merepotkanmu lagi, tenang saja. Dan juga sudah berapa kali ku bilang, jangan beri aku tatapan Eilert itu. Aku paling benci tatapanmu,” kata Baekhyun bersungut. “Kau bukan bangsa Eilert tapi tatapanmu menandingi Krystal.”

“Kau benci atau takut?” tanya Kyungsoo merendahkan.

“Ah sudahlah. Aku harus mengantar Chanyeol. Urusanmu dengan Senior Yesung sudah selesai, kan? Pulang sana!” usir Baekhyun mendorong pelan Kyungsoo. Yang tentu saja langsung dibalas keras membuat Baekhyun menjerit nyaring dan termundur.

“Berhenti bersikap cantik,” komentar Kyungsoo tajam, kemudian berjalan melewati Chanyeol yang sedari tadi diam saja memandangi keduanya bertengkar.

Baekhyun merintih sambil mengusap pundaknya. Lalu menoleh pada Chanyeol, “hati-hati dengannya. Namanya Kyungsoo. Dia dingin dan kasar,” kata Baekhyun memperingatkan.“Walau sebenarnya aku tahu dia peduli dan lembut…” lanjut Baekhyun mengangkat kedua bahu.

-tbc-

 

Advertisements

One thought on “Freelance – Yugo [Part 2]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s