Dream High 3 [Chapter 7]

image

Main cast:
Sehun, Jiyeon, Joy, Krystal, Lay
Genre:
Romance, school life, friendship
Length:
Multichapter
Rating:
PG – 13

Ide cerita awalnya dari Kak Ica (Highschool Fanfiction’s Owner) kemudian aku yang melanjutkan dari chapter 4. Jangan lupa komentarnya untuk memberiku semangat melanjutkan FF ini

Kedua manik mata Jiyeon dan Joy terbelalak saat melihat sosok idol yang mereka puja tengah berdiri di depan mereka berdua. Senyum terkembang di wajah cantik kedua gadis itu.
“Benarkah dia Ok Taecyeon?” lirih Jiyeon tak berkedip menatap Taecyeon yang tersenyum di hadapan dua gadis itu. “Tapi bagaimana dia bisa tahu namaku?”
Taecyeon tertawa geli mendengar Jiyeon berbisik dengan Joy. “Itu karena aku membaca nametag di baju seragammu.”
Jiyeon melihat nametag di dadanya. “Ah, benar juga.”
“Taecyeon-ssi, kalau boleh tahu, kenapa kau memanggil Jiyeon?” tanya Joy serius. Ia sama sekali tak terbawa aroma humor dari Jiyeon.
“Ehem!” Taecyeon berdehem. “Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini pada kalian berdua. Tapi kalau kalian ingin mengetahuinya, aku akan mengatakan yang sejujurnya.”
Jiyeon dan Joy mencium adanya kecurigaan pada Taecyeon.
“Kalian jangan curiga dulu. Aku datang ke sini untuk membantu kalian berdua. Oh Sehun yang meminta bantuan padaku. Dia memintaku melatih kalian berdua, terutama Park Jiyeon agar tubuh kalian langsing dan seksi.”
“Apa?” pekik Joy dengan suara yang cukup keras. “Ini namanya pelecehan!”
Joy berhasil membuat Taecyeon terkejut. Namja itu membelalakkan kedua mata sipitnya dan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
“Jangan asal bicara! Sekarang aku tanya, kalian mau atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi ke White Class sekarang untuk melatih dance di sana.”
Joy mendesah kesal ketika Taecyeon mengatakan White Class di depannya. Rasa sakit hatinya teramat dalam gegara perbedaan kelas yang sangat mencolok itu. “Baiklah. Aku dan Jiyeon bersedia. Latih kami sampai kami dapat melakukan dance dengan baik.”
“Dengan senang hati. Aku targetkan dalam waktu dua bulan kalian harus dapat mewujudkan impian itu.”
Joy dan Jiyeon ternganga. “Dua bulan?” seru mereka bersamaan.
***

Minggu pertama telah berlalu dengan baik. Jiyeon dan Joy mampu melewati hari demi hari di minggu pertama dengan berlatih keras usai sekolah.
Minggu kedua hingga genap satu bulan, Jiyeon berhasil menurunkan hampir 10 kilogram. Dengan usaha yang maksimal, Jiyeon yakin bisa mengecilkan tubuhnya dan dia bisa ikut Showcase yang ternyata waktu pelaksanaan diundur hingga waktu yang belum ditentukan karena Lee Kang Chul tengah disibukkan dengan akuisisi perusahaan agensinya oleh perusahaan lain.
Bulan kedua, Joy berhenti melakukan latihan karena tubuhnya sudah ramping. Joy memang tidak segemuk Jiyeon. Maka dari itu, ia hanya melakukan latihan dan fitness bersama Taecyeon dan Jiyeon selam satu bulan. Jiyeon berusaha sendiri. Berlari mengelilingi lapangan berkali-kali, lompat tali, mengurangi porsi makan dan hanya mengonsumsi buah dan sayur di malam hari. Gadis bermarga Park itu sudah bertekad untuk melangsingkan tubuhnya. Ia tidak mau lagi dijuluki si gemuk atau si bulat oleh orang lain.
Dua bulan telah berlalu dengan cepat. Kini penampilan Park Jiyeon mampu bersaing dengan Krystal dan gadis lainnya yang seksi dan ramping. Ia juga telah melatih tubuhnya untuk melakukan dance yang lebih baik dari Krystal. Ia tidak mau kalah dari gadis blaster itu.

Dua bulan tidak bertemu dengan siswa White Class membuat anak-anak Black Class sedikit merindukan kehadiran mereka. Biasanya mereka berdebat atau sekedar battle skill, sekarang tidak ada lagi acara seperti itu. Menurut para siswa Black Class, kehadiran siswa White Class sangat berguna untuk memacu semangat mereka menjadi penyanyi dan penari yang jauh lebih baik.
Jung Krystal berjalan angkuh menyusuri lorong lantai dua bersama salah seorang temannya yang berasal dari kelas biasa. Ia bercanda tawa dengan temannya itu hingga tidak menyadari kalau tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“Kau punya mata, tidak?” Krystal kesal karena kejadian tabrakan itu membuatnya tersungkur ke lantai. Hal yang sama juga terjadi pada gadis yang ditabraknya.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Hanya tubuh ramping dan rambut panjangnya yang terlihat jelas.
“Sepertinya dia siswa baru di sini, Krystal-a,” kata teman Krystal yang tak mengedipkan matanya sekali pun tatkala memandang seorang gadis yang tertunduk di depan Krystal.
“Siapa kau?” tanya Krystal angkuh.
Jiyeon menyunggingkan senyum kemenangan. Ia yakin 100 persen bahwa Krystal pasti terkejut melihat tubuhnya yang sekarang. Dengan perlahan tapi pasti, Jiyeon mengangkat kepalanya, menyingkirkan bagian rambutnya yang menutupi wajah cantiknya itu.
“Annyeong, Jung Krystal,” ucap Jiyeon dengan senyum merekah yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Krystal terpana melihat penampilan Jiyeon. Ia tidak percaya kalau gadis gendut dan jelek itu berubah menjadi angsa putih yang cantik dan seksi.
Jiyeon berdiri menyejajarkan tubuhnya dengan Krystal. “Selamat datang kembali di Kirin Art School. Liburanmu pasti menyenangkan, kan? Aku sungguh iri padamu. Mulai sekarang kita lihat, siapa yang berhak berada di White Class. Atau… kita hapus saja perbedaan kelas itu?”
“Pergi kau dari sini!” Krystal mendorong tubuh Jiyeon hingga hampir jatuh.
Beruntung seseorang menangkap tubuh Jiyeon dari belakang.
Deg!
Jantung Jiyeon berdegub lebih kencang. ‘Ada apa ini?’ tanya Jiyeon dalam hati. Siapa gerangan yang telah menangkap tubuhnya?

“Apa yang kau lakukan, Krys?”
Suara Sehun terdengar jelas di kedua telinga Jiyeon. Rupanya namja itu yang telah menangkap tubuh Jiyeon dari belakang. Jiyeon tak dapat berkutik. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Akhirnya ia pun gugup.
Krystal semakin kesal melihat Sehun dan Jiyeon nyaris berpelukan. Sementara itu, Sehun belum menyadari kalau gadis yang ditolongnya adalah Jiyeon.

“Lepaskan tanganmu, Oh Sehun!” Jiyeon berusaha menjauhkan dirinya dari Sehun.
Sehun mengerutkan keningnya. Ia mengenal suara itu, tetapi di mana Jiyeon berada? Namja itu belum tahu kalau gadis di depannya itu adalah Jiyeon.
Jiyeon hendak beranjak dari tempat bak neraka itu. Namun saat ia mulai mengayunkan kakinya, Sehun menahannya dengan memegang tangan kirinya. Sehun menarik tangan itu hingga memaksa Jiyeon membalikkan badan.
“Park Jiyeon? Kau… benar-benar Park Jiyeon?” Sehun pun akhirnya mengetahui kalau gadis yang nyaris dipeluknya tadi adalah Jiyeon yang telah mengecilkan tubuhnya sesuai keinginannya.
“Eoh, wae?” tanya Jiyeon datar.

Krystal belum enyah dari tempat itu. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya. “Sudah dapat ditebak. Kau pasti melakukan operasi sedot lemak, kan? Mengaku saja!”
Jiyeon geram, ia menahan tangannya yang ingin menampar pipi mulus Krystal. “Terserah apa pendapatmu. Aku tidak peduli dan tidak akan terpengaruh olehmu, Jung Krystal.” Sebenarnya Jiyeon sangat tidak suka pada Krystal namun ia tetap menghormati dan menghargai gadis bermarga Jung itu. Jiyeon dididik dengan cara yang baik. Ia tidak pernah dididik untuk membalas dendam, angkuh, dan segala yang bersifat buruk lainnya. “Jangan mudah membuat spekulasi.” Jiyeon memaksa Sehun melepaskan tangannya kemudian pergi dari tempat itu. Jika berlama-lama bicara dengan Krystal, ia bisa gila dan bertengkar dengan gadis angkuh itu.

Jiyeon berjalan cepat menuju kelasnya yang terletak di ujung lorong lantai dua. Ia sama sekali tidak mempedulikan beberapa orang siswa yang melihat penampilannya dan berkomentar ini itu. Jantungnya belum berhenti berdetak kencang, seperti dikejar sesuatu.
“Yaak! Jiyeon-a!” panggil Lay yang tidak sengaja melihat Jiyeon berlari ke arah kelasnya. Lay pun mengikuti ke mana Jiyeon pergi. “Hey, ada apa?” Lay berhasil menarik lengan Jiyeon sehingga gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.

Hening sesaat.
“Krystal lagi?” tanya Lay yang hanya menduga-duga.
Jiyeon menghela nafas panjang, menghembuskannya kasar kemudian mengangguk satu kali.
“Dia lagi? Aigoo…” keluh Lay yang sudah bosan mendengar sikap Krystal terhadap Jiyeon. “Sabarlah! Anggap saja dia sebagai penyemangatmu, jangan dianggap sebagai musuh. Ah, gadis itu membuatku gemas.” Lay mengepalkan kedua tangannya.
“Gemas?” tanya Jiyeon, merasa ada yang aneh dari kata-kata Lay.
Lay menggaruk tengkuknya. “Ah, bukan begitu. Maksudku aku geregetan terhadap sikap si Krystal itu. Kapan dia bisa berubah, ya?”
Jiyeon mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.”

Tap tap tap!
Terdengar suara sepatu berhenti di belakang Lay dan Jiyeon. Entah siapa yang datang, Lay dan Jiyeon tidak peduli. Jika orang itu memiliki urusan dengan Lay atau Jiyeon, pasti nanti akan memanggil nama mereka.
“Lay, bolehkah aku pinjam Jiyeon sebentar?”
Lay membalikkan badan. “Oh, rupanya kau, Oh Sehun. Entahlah, kupikir kau harus bertanya pada Jiyeon sendiri.”
“Untuk apa mencariku?” tanya Jiyeon agak sinis. Ia masih mengingat sikap Whote Class saat mereka mengolok dan menghina Black Class.
Sehun maju dua langlah mendekati Jiyeon. “Aku ingin bicara denganmu.” Tangan Sehun meraih tangan Jiyeon dan tanpa persetujuan dari Jiyeon, Sehun telah menariknya ke suatu tempat yang cukup sepi.

“Apa-apaan ini?” Jiyeon mengibaskan tangan Sehun secara kasar.
“Kau nampak kesal sekali. Apa salahku?” tanya Sehun yang sebenarnya tidak ingin mendapatkan perlakuan buruk dari Jiyeon.
Jiyeon menatap Sehun nanar. Kedua matanya seakan bicara pada namja berpipi tirus itu.
“Sebelumnya… aku ingin berterima kasih padamu.”
“Berterima kasih? Untuk apa?” tanya Sehun bingung.
Jiyeon memutar bola matanya malas. “Dengarkan dulu nanti baru bertanya.”
Akhirnya Sehun pun diam dan memberikan kesempatan pada Jiyeon untuk bicara.
“Terima kasih kau yang telah membantuku menemukan instruktur yang tepat. Kedua, maaf atas sikapku tadi. Aku… terbawa emosi saat berhadapan dengan Krystal tadi. Kau mengerti, kan?” Jiyeon menyandarkan tubuhnya pada dinding teras sekolah. “Sebenarnya aku tidak membencimu atau siapapun. Hanya saja, terkadang aku kesal pada White Class. Kalian bisa mendapatkan apa yang kalian mau. Sedangkan aku dan teman-temanku… hanya bisa berangan-angan dan terkucilkan.”
“Maka dari itu, aku datang untuk membantumu. Aku… ingin menepati janjiku, Park Jiyeon.”
Jiyeon langsung menolehkan kepalanya ke araharah Sehun. Dia ingin melihat keseriusan Sehun dari ekspresi wajahnya. “Kau masih ingat janjimu?”
“Tentu saja ingat.”

“Lee Kang Chul-ssi!”
Narsha menyebut nama itu dengan lengkap. Langkah kaki kedua insan berbeda jenis kelamin itu saling memburu. Hal itu menyebabkan Sehun dan Jiyeon ingin tahu apa yang sedang terjadi hingga membuat Lee Kang Chul dan Narsha berjalan tergesa-gesa seperti itu. Pasti sesuatu telah terjadi. Mungkin hal itu menyangkut nasib Kirin Art School.
“Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Anak-anak harus melaksanakan Show case itu.” Narsha masih mengoceh ria. “Lee Kang Chul-ssi!” seru Narsha yang sedari tadi tidak mendapat respon dari Kang Chul.

Sehun dan Jiyeon terkejut saat Narsha menyebut kata showcase. Kedua siswa itu sangat sensitif jika membahas tentang showcase.
“Saem!” Jiyeon memanggil Narsha dari jarak lima meter. Narsha sontak menghentikan ayunan langkah kaki jenjangnya dan menoleh ke arah sumber suara. Wanita cantik itu mengernyitkan dahinya melihat Sehun dan Jiyeon yang berdiri di sampingnya. “Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat masuk ke kelas!” perintah Narsha yang tak lama kemudian mulai mengejar Kang Chul yang berjalan semakin jauh.

Sehun dan Jiyeon saling pandang. Mereka berdua yakin kalau sesuatu yang buruk telah terjadi pada perusahaan.
“Kau tahu sejarah Kirin?” tanya Sehun pada Jiyeon yangsendiri masih menatap kepergian Narsha, sang guru cantik.
“A, apa? Sejarah Kirin?” Jiyeon menggeleng dengan cepat. “Aku kurang tahu. Yang aku tahu, Kirin melahirkan bintang-bintang yang profesional di bidangnya. Selebihnya, aku tidak tahu.”

Sehun menepuk dahinya karena dia sendiri juga tidak tahu pasti tentang hal itu. “Pasti sesuatu telah terjadi. Mungkin ini tentang perusahaan yang tengah menghadapi masalah. Tapi… apa hubungannya dengan Show case?”

Jiyeon terdiam, sedangkan Sehun malah berjalan bolak balik sembari memikirkan sesuatu.
“Apakah…Show case akan dibatalkan?” lirih Jiyeon khawatir. Ia telah berusaha sejauh ini, mengecilkan tubuhnya, berlatih nyanyi dan dance siang malam. Ia khawatir kalau showcase dibatalkan.
“Kenapa mendadak murung begitu?” tanya Sehun saat melihat Jiyeon yang terdiam dengan wajah kusutnya.
Jiyeon menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit khawatir tentang showcase. Bagaimana kalau showcase dibatalkan? Impianku saat ini adalah ikut showcase. Tapi kalau….”
Sehun mendekatkan dirinya dengan Jiyeon yang berdiri lesu di teras sekolah. “Jadi impianmu hanya sekecil itu?”
Dengan ekspresi kesal, Jiyeon menatap nanar pada Sehun. Ia pun menyipitkan kedua matanya. “Apa maksudmu?” tanya Jiyeom kesal.
“Aku kira impianmu besar sekali, menjadi seorang penyanyi profesional, tapi barusan kau bilang impianmu saat ini hanyalah ikut showcase.” Sehun melirik Jiyeon yangyang masih diam. “Dengar, Park Jiyeon! Kau memiliko bakat dan kemampuan bernyanyi, aku juga begitu. Tetapi impian tidak harus sekecil itu. Maksudnya, kumpulkan mimpimu sebanyak mungkin fan setinggi mungkin. Kau bisa mencapainya melalui mimpi-mimpi yang kecil. Contohnya, jika kau ingin menjadi idol terkenal maka langkah awal kau harus latihan dan latihan. Setelah itu kau bisa ikut acara ringan seperti Show case. Jangan sampai showcase menjadi tujuan terakhirmu sekolah di sini. Kau paham, kan?” Sehun menjelaskan makna mimpi menurut pendapatnya. Dari yang ia jabarkan itu, Jiyeon dapat menangkap semuanya. Tetapi masalahnya bukan hanya Jiyeon ya g menginginkan showcase itu. Semua temannya sangat memimpikan tampil di acaradepan showcase.
***

Lee Kang Chul telah sampai di kantornya.  Ia melempar setumpuk berkas diberkas atas meja kerjanya. Wajah namja paruh baya itu jelas sekali menunjukkan kekesalannya.
“Kau tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Kang Chuk-ssi.”
Kang Chul mendudukkan tubuh beratnya dI atas kursi empuk berwarna hitan. Ia sengaja menyandarkan punggungnya dan menutup mata untuk menenangkan pikirannya. “Narsha… tolong keluarlah dari ruanganku. Aku membutuhkan waktu untuk berpikir.”
“Tapi….”
“Tolonglah, Narsha…” pinta Kang Chul.
Narsha pun akhirnya enyah dari hadapan Lee Kang Chul dan pergi ke Black Class dengan tergesa-gesa.

“Taeyong-a, bisakah kau panggilkan Oh Sehun? Suruh dia menemuiku di aula.”
Taeyong yang tadinya bergurau dengan Lay, tiba-tiba diminta tolong oleh Narsha untuk segera memanggil Oh Sehun ke aula. Yeoja itu ingin membicarakan sesuatu dengan Sehun. Nampaknya sesuatu yang penting dan berkaitan dengan Sehun.
“Baiklah, Saem.”
***

Sebuah ruangan berukuran besar tanpa ada dekorasi di dalamnya, hanya ruang hampa yang dikelilingi oleh dinding berwarna krem, Narsha berjalan mondar-mandir di dalamnya. Ia menyilangkan kedua tangan di atas dada dan sesekali memegang dagunya saat tengah berpikir.
“Aku harus mengatakannya pada Sehun. Aku tidak mau anak-anak kecewa karena Showcase akan dibatalkan,” ucap Narsha pada dirinya sendiri.

“Dibatalkan? Dengan alasan apa?”
Tiba-tiba Oh Sehun berdiri di depan pintu aula dan mendengar kata-kata Narsha beberapa detik yang lalu. Narsha terkejut melihat Sehun di depan pintu dengan mimik muka yang kain dari biasanya.
“Akhirnya kau datang, Oh Sehun.”
Sehun berjalan mendekat ke arah Narsha dengan langkah panjangnya. “Apa maksud Anda tentang Showcase yang akan dibatalkan?” tanya Sehun lagi.
Narsha enggan menjawab pertanyaan itu secara langsung. Dia ingin mengatakan sesuatu tentang masalah yang dihadapi pihak agensi saat ini.
“Aku akan menjawabnya, tapi ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu, Sehun-a.”
Sehun mengangkat kedua alisnya. Ia memilih berdiri berdekatan dengan dinding kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya. “Sepertinya kita sedang membicarakan hal yang serius, iya kan?”
“Ya, kau benar. Ini tentang agensi, Sehun-a. Masalah agensi yang dapat menyebabkan batalnya pelaksanaan Showcase. Masalahnya adalah….” Narsha membisu sejenak, memikirkan susunan kata yang tepat untuk disampaikan pada Sehun.
“Apa?” tanya Sehun tidak sabar mendengar penjelasan dari Narsha.
“Ayahmu ingin mengambil alih perusahaan Lee Kang Chul dengan paksa.”
Sehun menyipitkan mata kirinya, kemudian kedua tangannya mengepal seakan ingin memukul seseorang dengan tangan itu. “Anda tidak bercanda, kan?”

Narsha menggeleng. “Aku berani bersumpah dian hadapan semua siswa, Oh Sehun.”
“Apa alasan ayahku melakukan hal ini? Apakah karena aku ada di sini?” Sehun berani membuat dugaan tentang ayahnya. Tuan Oh adalah orang yang kejam, bahkan menurut Sehun, ayahnya itu tergolong orang yang nekad dan terkadang tidak memiliki belas kasihan pada orang lain.
“Entahlah, Sehun-a. Jangan merasa seperti itu. Kau membuatku semakin cemas. Mungkin ayahmu hanya ingin mengembangkan bisnisnya. Jadi dia berusaha mengambil alih perusahaan Lee Kang Chul.” Narsha tidak ingin Sehun menyalahkan dirinya sendiri. Jika itu terjadi maka Sehun terancam akan keluar dari sekolah Kirin. “Jangan lakukan apapun pada ayahmu. Tenang dulu. Mungkin ayahmu hanya menggertak,” kata Narsha untuk meredam kemarahan Sehun yang mulai meradang.

Sehun menghembuskan nafas kasar. Ia berniat akan menemui ayahnya besok dan menanyakan tentang perusahaan.
***

Malam harinya, Joy dan Lay mengajak Jiyeon makan malam di luar. Mereka ingin merasakan nikmatnya makan di luar asrama yang memiliku menu monoton dan membosankan. Setiap hari menu yang dihidangkan itu-itu saja, seakan koki sekolah hanyaKirin bisa memasak makanan, yang disajikan di sana.

“Ah, aku bosan dengan makanan asrama,” keluh Lay pada Joy yang duduk di sampingnya. Keduanya memakai jaket tebal karena udaranya sangat dingin.
Joy tidak merespon keluhan Lay. Ia sibuk menggosok-gosokkan kedua tangannya agar merasa sedikit hangat. Salju turun dengan pelan di depan mereka. Musim dingin belum berakhir.
“Kenapa diam saja? Tumben….” Lay melirik Joy yang masih asyik dengan dua tangannya. “Sinu aku bantu!” Ia menarik kedua tangan Joy kemudian menggenggamnya erat agar Joy merasa hangat. “Begini lebih baik.”

Joy terkejut atas perlakuan Lay. “Apa yang kau lakukan?” Ia berusaha menarik tangannya dari genggaman Lay.
“Sudahlah, diam saja.” Lay tetap menggenggam tangan Joy dan netranya memandang salju yang turun semakin lebat.

Tap tap tap!
“Ah, Jiyeon-a.” Joy membebaskan kedua tangannya dari tangan Lay. “Kenapa lama sekali?”
Lay mendesah kesal. Ia sangat menikmati momen berdua bersama Joy namun tiba-tiba Jiyeon datang dan merusak suasana romantis tadi.
“Maaf, tadi aku harus membersihkan kamar mandi. Aku lupa kalau hari ini piket kamar mandi. Kalian tidak apa-apa, kan?” tanya Jiyeon yangcuriga merasa telah merusak momen langka yang terjadi antara Lay dan Joy.
“Tidak apa-apa, ayo pergi! Ah, perutku sudah sangat lapar.” Joy mengajakmelepaskan Lay dan Jiyeon segera pergi ke rumah makan. Perutnya yang keroncongan ingin segera diisi.
***

Setibadi rumah makan, ketiganya duduk dekat jendela agar dapat menyaksikan turunnya salju malam itu. Rumah makan dengan dinding berwarna-warni yang sangat mencolok dan menarik itu telah menjadi tempat favorit bagi Lay, Jiyeon, dan Joy selama mereka menuntut ilmu di sekolah Kirin.
Sembari menunggu pesanan datang, Jiyeon dan Joy menikmati pemandangan di luar sana yang bertabur salju dan banyak orang berlalu lalang mencari tempat menghangatkan diri. Jiyeon terkikik geli melihat orang-orang yang mondar mandir kedinginan di, depanaku rumah makan. Saat tengah asyik menikmati pemandangan malam itu, tanpa sengaja, kedua netranya menangkap sosok namja yang sangat dikenalnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Oh Sehun.
Ekspresi wajah Sehun nampak pucat dan sepertinya tengah memikirkan sesuatu. Mungkin namja itu memiliki banyak masalah, pikir Jiyeon. Ia ingin sekali memanggil Sehun untuk bergabung bersamanya dan kedua teman yang tengah asyik mengobrol (Lay & Joy). Namun niatnya itu ia urungkan dan berpura-pura tidak melihat Sehun di depan rumah makan itu.

Setelah ditunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang dipesan pun datang, dibawakan oleh, seorang pelayan yang berumur sekitar 20-an.
Ketiganya pun menikmati hidangan maan malam yang telah dipesan.
***

Seiring bergulirnya waktu, hari silih berganti. Namun namja bernama Oh Sehun masih tetap menunjukkan sikap murungnya di kelas maupun di luar jam sekolah. Beberapa orang temannya penasaran penyebab Sehun berubah drastis seperti itu, termasuk Krystal dan anak-anak Black Class.

Sehun bersandar pada dinding ruang latihan dan memejamkan kedua kelopaktangannya mata kecilnya. Saat ini ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun dengan alasan apapun. Apa yabg ada di pikirannya adalah perkiraannya tentang perkataan ayahnya nanti malam. Ya, Sehun berencana pulang ke rumah mewah milik keluarganya nanti malam. Ia ingin membicarakan tentang perusahaan Lee Kang Chul yang diambil alih oleh ayahnya. Ia yakin bahwa masalah ini pasti terjadi karena dirinya yang selalu nekad bersekolah di Kirin Art School.
“Kenapa ayahku keras sekali? Aku juga membutuhkan teman dan kehidupan yang ku sukai. Bukan paksaan begini.” Sehun merasa ayahnya memaksa dirinya keluar daru Kirin secara halus.
“Akh!”
Bruk!
Sebuah pukulan tangan Sehun membuat sebuah kursi yang terbuat dari kayu.
“Ada apa, Sehun-a? Kau baik-baik saja?” Krystal muncul dari balik pintu. Rupanya gadis itu tengah mengintai aktivitas Sehun selama namja itu terlihat murung.

Sehun membisu dan tidak berniat ingin membuka mulutnya. Ia sedang tidak punya keinginan untuk bicara dengan siapapun, termasuk Krystal.
Krystal memegang tangan Sehun. “Bicaralah padaku, aku akan menjaga rahasiamu. Aku janji,” kata Krystal dengan sungguh-sungguh. Yeoja itu berhasil mengusir keangkuhannya demi bertanya pada Sehun.

Beberapa detik telah berlalu. Sehun tak kunjung membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Krystal hingga membuat gadis itu kikuk.
“Baiklah jika kau tetap tidak mau menjawab pertanyaanku. Maafkan aku karena terlalu lancang bertanya padamu.” Krystal Jung bergerak pergi meninggalkan Sehun yang tengah merenungkan nasib dirinya.
***
Malam ini Sehun memutuskan pulang ke rumahnya yang terletak di kawasan Cheongdamdong. Ia sengaja pulang untuk membicarakan masalah penting baginya. Jika ayahnya benar-benar mengambil alih Kirin Art School maka Showcase pasti tidak akan diselenggarakan. Hal itu akan membuat semua siswa Kirin merasa kecewa. Lee Kang Chul juga tidak berani melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Kirin.

Rumah besar dengan halaman yang luas dan dikelilingi oleh pagar besi setinggi tiga meter, terpampang megah di depan Sehun. Rumah milik keluarganya memang yang paling mewah di kawasan perumahan itu. Namun rumah itu yang juga terlihat paling sepi dibanding rumah-rumah lainnya.

Oh Hayoung, kakak Sehun tidak sengaja melihat sosok adiknya yang berdiri di luar pagar besi dengan pakaian yang super rapi. Setelan baju casual ditambah jaket tebal membungkus tubuh Sehun malam itu.

“Sehun-a! Kenapa hanya berdiri di situ? Masuklah!” Hayoung membukakan pintu besi itu untuk adik tercinta.
Sehun pun menurut. Ia melangkah perlahan memasuki halaman rumahnya sendiri. Berdiri di tengah halaman seperti ini terasa asing bagi Sehun. Ia tidak terlalu akrab dengan keluarganya, terlebih dengan sang ayah yang selalu menentang keinginannya.
“Ayah ada di rumah?” tanya Sehun singkat.
Hayoung tersenyum. “Tentu saja. Ayo masuklah! Kau nampak seperti orang asing saja.”
Orang asing? Ya, Sehun memang merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri.

Hayoung mengajak Sehun masuk ke dalam rumah mewah itu. Ia meminta Sehun sendiri yang menemui ayahnya di ruang kerjanya. Tentu Sehun menolak hal itu. Sehun mengatakan pada Hayoung kalau dirinya tidak bisa berlama-lama. Jadi, ia meminta kakaknya memanggil sang ayah untuk turun ke ruang tamu dan bicara dengannya.

“Kau terlalu keras, Sehun-a. Jangan seperti itu. Ayah adalah orang yang keras, jadi kau tidak perlu sekeras itu. Kau harus bisa melunakkan hati ayah. Datangi ayah di ruangdepan kerjanya.”

Sehun sama sekali tidak mempedulikan perkataan kakaknya. Ia tetep berdiri di ruang tamu dan menunggu ayahnya turun.
Hayoung heran melihat sikap Sehun yang tak beda jauh dari sang ayah. “Baiklah, tunggu di sinidepan. Akan ku panggilkan ayah. Kau duduk saja di situ.”
***
Tuan Oh telah memenuhi permintaan Hayoung untuk menemui putra bungsunya yang sangat menjengkelkan, baginya. Ia pun duduk di depan Sehun dengan santai.
“Katakan apa yang ingin kau bicarakan! perintah Tuan Oh pada Sehun.
“Kembalikan perusahaan Lee Kang Chul! Jangan sentuh perusahaan itu, Ayah.”
Tuan Oh malah tertawa. “Lee Kang Chul? Apakah ini menyangkut Showcase?”
Sehun terkejut. Rupanya sang ayah sudah mengetahui perihal showcase yang akan diselenggarakan bulan ini.

“Jangan khawatir. Aku memang sudah mengambil alih perusahaan Lee Kang Chul. Pemilik Kiri pun sekarang bukan dirinya. Dia hanya kepala sekolah di sana.” Tuan Oh menarik nagas dalam-dalam.
“Aku tahu tujuanmu kemari. Sekarang aku beri pilihan untukmu. Pertama, kau tetap sekolah do Kirin tetapi tidak lama lagi sekolah itu akan aku hancurkan. Atau…” jeda Tuan Oh. “Aku biarkan Kirin seperti dulu tapi kau harus keluar dari sana. Silahkan pilih pilihan yang kau suka, Oh Sehun.”

Sehun tidak tenang. Ia gelisah dan keringat dingin mulai bercucuran. Apakah ini yang dinamakan pengorbanan? Jika dirinya tetap di Kirin, semua teman-temannya akan kecewa karena Kirin akan segera ditutup. Tapi… dirinya juga tidak ingin meninggalkan Kirin. Apa yang harus dia lakukan?

Tbc

Hai… maaf ya baru diupdate. Komennya aku tunggu.
Makasi yang udah baca+komen ^^

Advertisements

18 thoughts on “Dream High 3 [Chapter 7]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s