[Chapter -1] Thirteen Letters.

D.jpg

Thirteen Letters (Chap-1).

Starring, Kim Minseok -EXO & Bae Irene -RV.

PG-13|AU|Fluff?|Romance?|Mystery.

Tigabelas huruf, tiga kata,dan satu kalimat, teruntuk

Irene.

1.

Minseok benar –benar keterlaluan, pikirnya. Berani sekali sahabatnya itu tak memunculkan batang hidung nya, sementara ia disini menanti sampai tempat duduknya memanas.

Bae Irene –gadis itu, menarik nafas kecil, baru saja ia hendak membayar dan pergi, tiba –tiba seorang pelayan laki –laki bername tag ‘Jung’ ini menghampirinya, akibatnya ia kembali duduk lantas mengurungkan niatnya, dan mencoba duduk dengan tenang, meminum kopi nya itu.

Pasti dia meminta tagihan, pikir Irene.

“maaf nona, aku di beri tugas memberikan ini untuk mu, dan tagihannya sudah di bayar sejam yang lalu” Ucapnya,

Mendadak mata Irene membulat besar lalu ingin memuntahkan semua isi yang ada di mulutnya sekarang “Uhuk”, ia memukul –mukul dadanya berharap cara itu akan mampu memulihkan keadaannya yang baru tersedak beberapa detik lalu,

“apa? Sudah dibayar? Kau bercanda?” Lantas Irene menatap lamat –lamat sang Pelayan, seperti tidak asing. Lalu dia menggelengkan kepala –nya perlahan, “Siapa?” tanya nya,

“entahlah, atasanku bilang berikan ini saja pada gadis di nomor urut bangku sembilan,” ucapnya datar, lalu ia menyodorkan satu pucuk surat berwarna biru pastel polos.

Irene melirik benda bebentuk kubus yang setiap sisinya diangkai nomor ‘9’ itu, dan mengambil surat yang di sodorkan sang pelayan dengan malas, “Oh, kalau begitu terimakasih”

Lalu ia segera bergegas keluar dari café lantas berjanji, ia tidak akan memasukki café itu lagi, apapun alasannya. Karena menurutnya kejadian seperti itu perlu di pertanyakan, seingatnya di dunia ini tidak ada yang mengenal dia kecuali; kedua orang tua, sahabatnya Minseok dan tetangganya Kim Nami.

Rasanya tak mungkin satu dari empat orang itu memberikan surat ‘misterius’ ini padanya.

2.

Kata –kata umpatan keluar dari bibir si gadis bermata cokelat ini akibat ada yang membunyikan bel rumah nya ketika ia sedang berusaha tidur lagi, karena terbangun oleh teriakkan Nami –si tetangga sebelah, yang sedang bertengkar lagi dengan adiknya.

Ini memang sudah jam 9 pagi, tapi apa salahnya bersantai ria di kala hari libur guna menghilangkan kepenatan yang melanda selama sepekan lalu.

Irene menarik gagang pintu itu, lalu melihat seseorang yang memakai jaket berwarna oranye pudar, dan juga memakai helm yang berwarna senada di depan rumah nya.

“permisi, ini kediaman keluarga Bae, iya ‘kan?”

Irene mengangguk mantap, angan –angan mimpi masih beterbangan di dalam otak –nya, belum seratus persen nyawa nya terkumpul. Bahkan jalannya saja masih terlihat seperti orang mabuk.

“ini pesan untukmu,”

Irene mengambil sepucuk surat berwarna biru pastel itu lalu, berterimakasih. Lantas berjalan dan kembali ke tempat asalnya lagi; ranjang empuk yang bermotif doraemon.

eh?” lalu ia teringat sesuatu yang mengganjal, dan akhirnya dirinya terlempar jauh ke dua minggu lalu saat ia mengambil surat dengan warna yang sama di café itu.

Lalu Irene mencari sesuatu di dalam nakas, lantas mengeluarkan benda berwarna biru pastel itu. Lalu merobek bagian atas nya, ia terdiam sesaat lalu menaikkan alisnya, mulutnya ternganga, ia tak mengerti.

“apa –apaan ini?” katanya sambil membolak –balikkan kertas putih yang bertuliskan ‘P’ besar.

Lalu Irene merobek surat yang satunya, dan isinya sama, hanya beda dalam kata. Kali ini isinya adalah ‘M’.

Irene lalu menggaruk tengkuknya, “ ’P’ dan ‘M’? apa maksudnya?” tanya nya pada diri sendiri.

3.

Ya!, Kim Minseok kemana saja kau?!” teriaknya ketika melihat seorang laki –laki bermata besar itu muncul di hadapan pintu rumahnya,

“aku sibuk membantu Yifan, ia menyuruhku membantunya membuat skripsi” katanya lantas masuk kedalam, dan merebahkan dirinya di sofa,

“aku masih marah padamu” Irene memalingkan wajahnya lalu mengambil alih remote tv, dan mengganti channel nya,

“ah soal kopi ya?, aku minta maaf, handphone ku lowbat, jadi –” ia menghela nafas panjang, sambil menggaruk tengkuk belakangnya “aku tak bisa memberitahumu bahwa aku sedang membantu Yifan”

“baiklah –baiklah, karena aku sahabat yang baik. Jadi aku memaafkan mu”

Minseok tersenyum manis, lalu mengacak rambut sahabat kecil –nya ini. Mereka sudah bersama –sama sejak lahir, sulit dikatakan kenapa mereka tak bisa dilepaskan, padahal sifat mereka benar –benar bertolak belakang. Yang satu pendiam, yang satu lagi tak bisa diam.

Lalu handphone Minseok berbunyi keras, baru saja laki –laki ini ingin menempelkan benda itu ke telinga –nya tapi tiba –tiba Irene mengambilnya cepat, “Maaf, Minseok sedang ada urusan dengan sahabatnya hari ini, jadi kau bisa menelfonnya besok, Dah~

Tilt.

 

Lalu gadis itu memberi  handphone –nya kembali ketangan Minseok, Laki –laki ini malah diam tak berkedip menyaksikan aksi sahabatnya, bagaimana jika itu orang tua nya yang sedang membutuhkannya?, dasar gadis, batinnya.

“Ah, kau mau membaca surat kabar hari ini? Ada berita mengejut –” Irene menggantungkan kalimatnya, ketika satu surat berwarna biru pastel itu jatuh saat ia mengambil surat kabar yang tepat berada di sampingnya,

“apa itu?” tanya Minseok, sambil mencodongkan tubuhnya,

“entah lah, aku sudah menerima tiga kali sejauh ini” jawab Irene datar.

-TBC

HAI HAI HAIIIIIII

HARI INI MEMBAWA FF ABSURD YANG TIBA MUNCUL KARENA KATA “TIKTOK” /ganyambung aseli/ lalu tiba –tiba tumbuh ide nista seperti ini. Yaallah tau ini jelek banget.

Terimakasih udah mau baca ya hehehehehehe, kirim saran nya ya ^^

/bow/

-love, wf

Advertisements

3 thoughts on “[Chapter -1] Thirteen Letters.

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s