Amarillis [Part 2]

Amarillis

|| Title: Amarillis || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kai || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Preview: Part 1 

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

Jiyeon ingin membuka mulutnya untuk bertanya tentang semua pertanyaan yang ada di dalam kepalanya saat melihat Jongin mengitari hidung pesawat, tapi begitu melihat tatapan laki-laki itu yang tajam dan tak bersahabat ke arahnya seketika Jiyeon mengatup mulutnya rapat-rapat.

“Silakan naik, Tuan putri. Kita masih memiliki tiga puluh menit untuk sampai tiba ketujuan.” Jiyeon lalu berjalan mengikuti ucapan Jongin. Saat Jiyeon hendak menaiki badan pesawat, tangan Jongin mencengkram erat pinggang Jiyeon kemudian mengangkat tubuhnya seakan beratnya bagaikan sebuah bantal berisi bulu angsa.

“Te-terima kasih.” kata Jiyeon terbata-bata karena gugup bercampur terkejut. Tapi tanggapan pemuda itu dingin tanpa respon.

Setelah selesai membantu Jiyeon, pria itu lalu menempatkan dirinya duduk di sebelahnya. Jiyeon mulai merasa tidak enak oleh keberadaan pria itu. Gadis itu lalu mencoba berkutat dengan sabuk pengaman untuk membuang rasa canggungnya.

~OoO~

Hamparan laut membentang di bawah mereka. Tepian pantai yang putih tampak dipenuhi oleh para pecinta sinar matahari. Gunung-gunung mencuat ke atas. Sementara ketinggian mereka bertambah, nuasana panorama semakin terlihat mengagumkan. Jiyeon sangat menikmati perjalanannya. Hingga mulut gadis itu tak henti-hentinya terganga saat Jongin menyungguhkan keindahan pulau yang selama lima belas ini ia tinggalkan.

“Gemmy adalah taman firdaus.” ujar Jongin dengan nada seorang pemadu wisata. Pria itu memberitahu semua tempat lokasi pariwisata yang ada di kepulauan Gemmy. Sebenarnya Jiyeon mengetahuinya sangat jelas namun dia tak ingin bersikap tak sopan di depan Jongin jadinya dia tetap mendengarkannya tanpa menyela satu perkataan apa pun yang terlontar dari mulut Jongin.

“Untuk apa kau datang kemari?” kata pria itu menutup penjelasannya tentang kepulauan Gemmy sambil menyandarkan tubuhnya dan menyalakan sebatang rokok. Pertanyaan itu begitu mendadak di akhir penjabaran tanpa emosi itu, membuat Jiyeon tersentak dan membelalakan matanya di tempat duduknya.

“U-untuk…untuk bertemu dengan a-ayahku.”

“Bagus sekali pengaturan waktumu,” gumam Jongin sebelum menghirup asap rokoknya dalam-dalam. Tak lama ia menoleh, menatap Jiyeon untuk melihat reaksinya. “rupanya kau sibuk dengan kegiatan pegembangan dirimu di sekolah bergensi itu.” celotehnya penuh nada sindiran.

Jiyeon mengerutkan alisnya. Pikirannya melayang ke sekolah asrama yang selama lima belas tahun telah menjadi rumah sekaligus menjadi tempat pengasingannya. Jiyeon sudah memutuskan kalau Kim Jongin memang sinis dan percuma bila dia harus melayani ucapannya.

“Syukurlah kau mengerti.” sahut Jiyeon. “Sayangnya kau tidak pernah mengenyamnya. Menakjubkan apa yang bisa kau dapatkan dari sana.” tambahnya dengan nada yang dingin.

“Bagiku tidak perlu, Tuan putri.” Jongin menghembuskan asap rokoknya. “Aku suka yang alami, sedikit tak ada aturan dan apa adanya.”

“Sesuai deskripsi dirimu.” balas Jiyeon datar.

“Kukira begitu. Kehidupan di pulau memang kadang-kadang liar.” Jongin tersenyum kecil. “Aku tak yakin akan memenuhi standar kebiasaanmu.”

“Aku memiliki kemampuan adaptasi yang baik, Tuan Kim Jongin-ssi.” dengan gaya yang luwes dan elegan Jiyeon menggerakan kedua bahunya. “Aku juga bisa mengatasi sikap tidak ramah untuk tegang waktu tertentu. Tiga puluh menit masih dalam batas toleransiku.”

“Anda sangat luar biasa, Nona Park Jiyeon-ssi.” sahut Jongin dalam nada hormat yang dibuat-buat. “Bagaimana suasana hidupmu di Eropa?”

Jiyeon semakin kesal dengan cara bicara Jongin kepadanya, jadi pada akhirnya ia terpancing juga untuk meladeni sikap arogan pemuda tersebut. “Menyenangkan sekali.” ucap Jiyeon bangga dan menatap Jongin dari bawah tepian topinya. “Gaya hidup orang prancis begitu kosmopolitan, begitu moderen. Orang akan merasa cenderung…” Jiyeon mencoba meniru cara ibunya bertutur kata, mengibaskan tangannya kemudian berkata dengan bahasa prancis. “Chez soi bila bertemu dari kalangan yang sama.”

“Masuk akal.” Jongin meringis sambil memusatkan perhatiannya ke arah bentangan langit. “Aku tak yakin kau akan menemukan banyak orang dari kalanganmu sendiri di Gemmy.”

“Mungkin tidak.” Jiyeon berusaha menyisihkan bayangan ayahnya, kemudian ia mengentakan kepala. “Tapi siapa tahu aku akan menemukan kehidupan di pulau sama menyenangkannya dengan di paris.”

“Aku yakin kau akan berpendapat lelakinya cukup menyenangkan.” Jongin mematikan rokoknya dengan kesal. Reaksi geram pria itu menimbulkan rasa puas dalam hati Jiyeon.

Namun kenyataan bahwa sejauh ini peluang untuk bergaul dengan kaum lelaki begitu sedikit membuat Jiyeon mengurungkan niatnya untuk tertawa. “Kalau lelaki di kalanganku…” untuk sesaat Jiyeon terdiam, ia sedang berpikir kemana dia harus mendeskipsikan sosok seorang pria. Setelah berpikir sesaat Jiyeon mendapat secuil bayangan. Bayangannya melayang ke seorang pengajar yang sudah sepuh di tempat ia mengeyam pendidikan di biara yang bernama, Alexander Prem. “.. ia sangat elegan, berbudaya dan berasal sari keluarga baik-baik. Mereka juga berpendidikan serta berselera tinggi, memperhatikan tata krama dan sensitif. Sesuatu yang ternyata kurang dimiliki oleh rekan-rekan mereka di sini.”

“Begitu…” sahut Jongin dalam nada yang hampir tak terdengar.

“Kenyataanya, Tuan Kim.” seru Jiyeon dengan nada yang pasti, “Memang begitu.”

“Ya, sebaiknya kita tidak merusak reputasi itu.” Jongin mengoper kendali pesawatnya ke posisi otomatis, mengubah letak duduknya kemudian meyergab tubuh Jiyeon. Sebelum Jiyeon menyadari apa yang sedang terjadi, bibir mereka sudah bertemu.

Jiyeon meronta-ronta dalam cengkraman Jongin namun sia-sia, lelaki itu mencengkramnya begitu kuat. Jiyeon merasa tak berdaya menghadapi kesangaran pemuda itu. Jongin memaksa bibir Jiyeon terbuka dengan lidahnya. Berusaha mengatasi sensasi yang tidak pernah terbayangkan olehnya, Jiyeon mencengkram kemeja pria itu untuk segera menjauh dari dirinya dengan kedua mata yang masih terbuka lebar.

Jongin menarik dirinya, alisnya naik saat mengawasi kebingungan dan ketidakberdayaan di wajah Jiyeon. Gadis itu hanya menatap dirinya dengan heran mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi atas dirinya. Jongin melepaskan cengkramannya, mengembalikan kembali kendali pesawat ke posisi normal. Kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah hamparan langit yang ada di hadapannya.

“Rupanya pacar-pacar prancismu tidak mempersiapkan dirimu untuk menghadapi teknik Asia.”

Tersinggung dan marah menghadapi kenyataan yang barsikap itu, Jiyeon langsung memutar tubuhnya ke arah laki-laki itu. “Teknik anda, Tuan  Kim. Sama kasarnya seperti semua hal lain yang berhubungan dengan anda!” seru Jiyeon.

Jongin  tertawa kecil, lalu mengangakat bahunya “Kau patut bersyukur, Tuan putri, bahwa aku tidak mendorongmu keluar dari pintu begitu saja. Sudah dua puluh menit ini aku berusaha menahan diriku untuk tidak melakukan itu.”

“Sebaiknya anda memang harus berusaha lebih menahan diri,” sahut Jiyeon ketus, sementara ia merasakan darahnya semakin bergolak. “Aku tidak akan kalah oleh dirinya!” teriak batin Jiyeon. dia tidak mau pria itu melihat keputus-asaannya karena sudah berhasil meneror dirinya.

Pesawat itu tiba-tiba menukik dengan tajam. Hamparan laut menyongsong mereka dalam kecepatan yang menakutkan. Langit dan laut berbaur dalam nuasana biru yang berubah-ubah. Jiyeon mencengkaram tempat duduknya, memejamkan matanya kuat-kuat sementara pusaran laut dan langit membuat kepalanya terasa pusing.

Jiyeon ingin marah tapi tampaknya sia-sia karena ia telah kehilangan suara dan dayanya pada ronde pertama.  Sambil berpegangan erat, Jiyeon berdoa agar ia bisa selamat sampai ketujuan. Tak lama pesawat itu mulai stabil, kemudian meluncur lurus ke depan lagi, namun di dalam dirinya, Jiyeon masih merasa kacau. Beberapa saat kemudian ia mendengar suara tawa puas laki-laki yang ada di sebelahnya.

“Kau boleh membuka matamu sekarang, Nona Park Jiyeon-ssi. Kita akan mendarat sebentar lagi.” sambil menoleh kepadanya, Jiyeon langsung mengeluarkan semua makiannya. Di akhir umpatannya Jiyeon baru menyadari bila dia sedari tadi mengungkapkan seluruh kekesalannya menggunakan bahasa Prancis.

Gadis itu lalu menarik napas dalam-dalam. “Tuan Kim Jongin-ssi.” ujarnya dalam bahasa formal yang dingin. “Kau adalah laki-laki yang paling menyebalkan yang pernah kutemui.”

“Terima kasih, Tuan putri.” merasa puas membuat Jiyeon kesal, Jongin pun mulai bersiul. Jiyeon berusaha untuk tetap menahan emosinya yang saat ini sedang membeludak. Sementara Jongin bersikap biasa saja sambil menurunkan pesawatnya.

Sekilas nampak nuansa hijau kecoklatan dari refleksi pengunungan yang menjulang ke langit sebelum pesawat meluncur di atas lintasan. Jiyeon masih tertegun sambil melayangkan pandangannya ke arah hanggar sederhana yang di sana ada sederet pesawat.

“Pasti ada kekeliruan.” batin Jiyeon bergejolak. Ia masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. “Tidak mungkin ini semua milik ayahku.”

“Jangan berpikir macam-macam, Tuan putri.” ujar Jongin saat melihat ekspresi Jiyeon. “Kau tidak punya hak apa-apa lagi. Dan bahkan kalau si kapten ingin menunjukan kemurahan hatinya, mitranya pasti akan mempersulitnya. Sebaiknya kau mencari uang di tempat yang lain.” setelah mengatakan itu, Jongin lalu melompat turun sementar Jiyeon menatapnya dengan pandangan tak percaya.

Tak lama Jiyeon pun membuka sabuk pengamannya untuk menyusul Jongin. Saat dirinya akan menuruni pijakannya, tangan Jongin sudah mencengkram pinggangnya terlebih dahulu dan untuk beberapa saat, Tubuh gadis itu tertahan di udara. Dengan jarak hanya beberapa sentimeter di antara mereka, Jiyeon menatap dalam mata lelaki itu. Belum pernah ia melihat mata secoklat dan sedalam itu.

“Perhatikan langkahmu,” kata Jongin sebelum menurunkan dirinya. Jiyeon langsung melangkah mundur, menjauhi suara yang tak bersahabat itu. Setelah mengumpulkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Ia lalu mengangkat kepalanya. “Tuan Kim Jongin-ssi, tolong katakan padaku di mana aku bisa menemui ayahku.”

Jongin menatapnya sesaat, dan Jiyeon langsung mengira pria itu pasti menolak menjawabnya dan akan pergi meninggalkan dirinya sendiri begitu saja. Namun pemikiran itu tak terjadi karena tak lama pemuda itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah bangunan putih kecil. “Kantornya di sana,” gumamnya setelah itu ia pergi berlalu.

~OoO~

Jiyeon berjalan perlahan-lahan menuju sebuah pondok kecil yang bertembok putih. Pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi menggiringi langkahnya. Setibanya di depan pintu dengan tangan yang bergetar, Jiyeon memasuki bagunan itu. ia merasa lututnya tidak mampu menahan pijakannya, degup jantungnya membuat kepalanya berdenyut-denyut. Apa yang akan ia katakan kepada lelaki yang telah meninggalkannya selama lima belas tahun? Kata-kata apa yang akan ia ucapkan di depannya.

Ingatan Jiyeon pada sosok ayahnya masih jelas. Sama sekali belum kabur di telan waktu. “Tentu ayah sekarang sudah tua.” ujarnya dalam hati untuk mengingatkan dirinya sendiri jika dirinya juga sudah bukan bocah lagi. Pandangan Jiyeon melayang di sekeliling depan pondok, keadaan pondok terasa sepi. Ia merasa jika sang ayah tak ada di tempat. Beberapa saat kemudian terdengar suara yang terdengar tak asing di telinganya. Jiyeon melangkah ke arah suara itu, mengawasi sementara ayahnya sedang berbicara di telepon dari belakang meja kerjanya.

Jiyeon bisa melihat perubahan yang disebabkan ollh waktu pada wajah ayahnya, namun ingatannya tak meleset jauh. Alisnya yang tebal dan mata kecoklatan ayahnya masih sama seperti yang dulu. Bentuk hidungnya masih tegas dan lurus di atas garis bibirnya yang tipis. Rambutnya masih lebat, meskipun warnanya tak lagi hitam.

Jiyeon mengatup bibirnya saat ayahnya setelah selesai menelepon, gadis itu menelan ludah sebelum ia menyapa sang ayah. “Haloo, Kap..” sapa Jiyeon dengan suara yang pelan. Ayahnya menengok dan Jiyeon melihat ia tertegun. Ekspresi matanya menjadi emosional dan Jiyeon dapat merasakan kepedihan dari seorang, Park Jisoo.

“Park Jiyeon?” nadanya tidak begitu yakin dan agak menjaga jarak, membuat Jiyeon mengurungkan niatnya untuk langsung memeluk sang ayah. Gadis itu merasa lengan ayahnya tidak akan terbuka untuk menyambutnya. Kenyataan itu menghapus senyumannya.

“Senang sekali melihatmu, ayah.” dengan persaan yang kecewa, Jiyeon melangkahkan kakinya dan kemudian mengulurkan tangannya. Dan selang beberapa saat, Park Jisoo menyambut uluran tangan sang putri. “Kau sudah dewasa.” sambil tersenyum. “Wajahmu sama seperti ibumu. Tidak pakai buntut kuda lagi?”

Senyuman Jiyeon yang tiba-tiba mengubah ekspresi ayahnya menjadi lebih hangat. “Sudah lama tidak. Tidak ada yang menariknya lagi.” balas Jiyeon. Tapi tanggapan sang ayahnya seolah menutupi dirinya kembali membuat Jiyeon berpikir untuk mengubah topik pembicaraan.

“Tentu ayah senang sudah memiliki pangkalan sendiri sekarang. Aku ingin sekali melihat-lihat.”

“Kita bisa atur itu.” nadanya yang ramah tapi terkesan tak akrab membuat dada Jiyeon terasa sesak.

Jiyeon lalu melangkahkan kakinya ke arah jendela dan mulai menerawang ke luar dengan mata yang berkaca-kaca. “Mengagumkan.”

“Terima kasih, pangkalan ini memang kebanggaan kami.” Park Jisoo menelan ludahnya sambil menatap punggung putrinya. “Berapa lama kau akan tinggal di Gemmy?”

Jiyeon mencengkram kusen jendela dan mencoba mengimbangi nada yang digunakan sang ayah. Bahkan dalam bayangannya yang paling terburuk, ia sama sekali tidak menyangka bahwa kepedihan yang akan dirasakannya akan seperti ini. “Beberapa minggu mungkin, aku belum mempunyai rencana yang pasti.” dengan suara yang pelan namun tegas.

Beberapa saat kemudian Jiyeon lalu memutar tubuhnya ke arah sang ayah. “Aku rasa banyak yang harus kulihat, lagipula aku sudah ada di sini. Pilot yang membawaku kemari mengatakan kalau kepulauan Gemmy sangat indah sekali, kebun-kebunnya dan…” Jiyeon mencoba mengingat-ingat apa yang diucapkan Jongin padanya, namun tidak berhasil. “Dan taman-tamannya.” Ia memutuskan untuk bersikap netral dengan cara tersenyum. “Mungkin ayah bisa merekomendasikan sebuah hotel yang bagus untukku tinggali di sini?”

Lelaki tua paruh baya itu memandangi wajah putrinya, membuat Jiyeon berusaha keras menahan senyumannya. “Kau boleh tinggal bersamaku selama kau di sini.”

“Ayah baik sekali. Kuterima tawaran ayah.” balas Jiyeon dengan wajah sumeringah.

Tuan Park pun mengangguk kemudian mulai merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. “Bagaimana keadaan ibumu?”

Jiyeon terpaku untuk sesaat bibirnya terasa kaku saat harus membalas pertanyaan ayahnya. “Ia sudah meninggal.” gumam Jiyeon. “Enam bulan yang lalu tepatnya.”

Sang ayah mengangkat wajahnya. Lalu melihat sekilas kepedihan yang membayagi di wajah putrinya. Karena terkejut laki-laki itu pun sampai terduduk di atas meja kerjanya. “Aku menyesal sekali, Jiyeon-ah. Apa ia sakit?”

“Ehhmm…” Jiyeon membalasnya dengan singkat.

“Kalau kau mengabari aku waktu itu, aku akan terbang menemuimu dan membantumu.”

“Benarkah?” Jiyeon menggeleng kemudian memutar tubuhnya kembali ke depan jendela. Ia teringat kepanikannya, rasa kelu di hatinya, tumpukan tagihan dan pelelangan semua barang ibunya yang berharga. “Aku tidak apa-apa.”

Tak lama kemudian pria tua itu berkata kembali. “Jiyeon-ah, kenapa kau datang kemari?” tanya Tuan Park meskipun suaranya lembut namun sang ayah masih membatasi dirinya di belakang meja kerjanya.

“Untuk menemui, ayahku.” kata-kata itu keluar tanpa emosi.

“Kap!” mendengar suara itu, Jiyeon memutar tubuhnya dan mengawasi ketika sosok Jongin melewati ambang pintu. Laki-laki itu  memandang sekilas ke arahnya sebelum menatap Tuan Park. “Simons akan berangkat, tapi ia ingin bertemu dengan anda sebelumnya.” katanya.

“Baiklah, Jiyeon-ah.” Tuan Park menoleh dan mengangkat jari telunjuknya dengan kikuk. “Ini Kim Jongin, mitraku dan Jongin-ah ini putriku Park Jiyeon.”

“Kami sudah berkenalan.” Jongin tersenyum sebentar. Jiyeon pun mengangguk. “Ya, Tuan Kim Jongin-ssi telah berbaik hati menerbangakanku sampai ke sini. Perjalanan y-yang… betul-betul mengesankan.” sindir Jiyeon.

Mendengar perkataan putrinya membuat laki-laki itu lega. “Baguslah kalau begitu.” Tuan Park berjalan ke arah Jongin kemudian menepuk bahunya. “Tolong antarkan Jiyeon pulang dan pastikan ia betah. Aku yakin ia pasti hari ini sangat lelah.”

Jiyeon memandangi dengan perasaan iri sementara kedua laki-laki itu saling bertukar pandang dengan penuh perhatian. Jongin menganguk. “Dengan senang hati.”

“Aku akan tiba di rumah beberapa jam lagi.” kata Tuan Park sambil berjalan pergi keluar pintu peninggalkan Jiyeon yang memperhatikannya dari belakang. “Aku tidak akan menangis.” kata Jiyeon pada dirinya. “Tidak di hadapan lelaki ini.” seraya mata bulatnya menatap ke arah Jongin yang saat ini sedang beradu pandang dengan dirinya.

“Kalaupun aku tidak memiliki apa-apa lagi, setidaknya aku masih punya harga diri.” jerit batin gadis itu kembali sambil mengepal erat kedua tangannya.

-TBC-

 

Aloha… semuanya aku bawakan updatenya nih buat kalian semua yang sudah menantikannya 🙂 berhubung miminnya lagi seneng soalnya banyak yang ngerespon untuk buat kelanjutannya, jadi penulisnya semangat buat kelanjutannya ^^

Kali ini di part-2 aku buat agak panjang loh, soalnya penulisnya mau membahas pertemuan Jiyi sama ayahnya yang dah gak ketemu selama lima belas tahun. Semoga kalian menyukainya ya…

Untuk permasalahan kenapa Jongin itu sinis sama Jiyeon akan mimin kasih tahu di part yang akan datang. Penasaran sama kelanjutannya, jangan lupa RCL-nya ya dear, biar penulisnya makin semangat lagi buat kelanjutannya ^^

See You Next Part ❤

Advertisements

29 thoughts on “Amarillis [Part 2]

  1. Oouuh ternyata ibuny jiyeon udh ninggal, kirain jiyeonny kabur..
    Hmm, tp sedih jg ya liat respond ayah jiyeon, kek canggung-canggung gimana gitu.. apa ayah jiyeon udh nikah lg..

    Liked by 1 person

    • Yap, ibu jiyi udah meninggal, beberapa bulan yang lalu. mungkin akan aku bahas permasalah itu di part yang akan datang, di tunggu aja yah..
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

  2. kai gak sopan banget masa gitu sih kelakuannya gak bisa di diemin ini, terus kenapa ayahnya jaga jarak ke jiyeon ada apa ini??? 😱
    Lanjutkan ka perjuanganmu hehehehe…
    Semangat kakak✊✊✊

    Liked by 1 person

    • Sepertinya begitu, ayah jiyeon jadi kaya begitu karena udah lama gak ketemu ma putrinya…
      Makasih atas pujiannya, n makasih juga yah dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

  3. aigoo kenapa dengan appanya jiyeon? kaya benci gitu? terus jongin juga kelakuan ya kaya gitu.

    nyesekloh aku bacanya kasian gitu ke jiyeon hadeuh
    tapi bagus banget cerita muu eonnie aku sukaa! feelnya dapet banget aku ngerasa gitu.

    gasabar kelanjutan chapternya aku tunggu yaa~

    Liked by 1 person

    • Senengnya , kalau kamu suka sama ceritaku, jadi terharu kita 🙂
      Oh iya, part 3nya udah aku publish ya, silakan di cek n happy reading ya, dear ^^
      Makasih yah dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Liked by 1 person

    • Iya, ayahnya jiyi agak canggung sama putrinya mungkin karena sudah lama gak ketemu. okeh deh lanjut, di tunggu ya part 3nya 🙂
      Makasih dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

  4. Wah jinjja” daebak,
    Kok ayah nya jiyi jaga jarak banget ?
    Apa jangan” dia udah berkeluarga trus jongin itu anak angkat nya ?
    Kok baru ketemu aja jongin udah nyosor” duluan,
    Gimana klau jiyi tinggal lama ?
    Upate nya jangam lama” dan keep figting buat ngelanjutin cerita nya,

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s