Tuesday Tragedy

tumblr_static_ao88oy6hsagwc80cso88scsc4

Tuesday Tragedy

“Untung saja dalam sekali tendangan kau tidak langsung tewas di rel kereta.”

[Bolos  Kelas 12-3 Salah Kirim]


Hari ini hari Selasa, dimana Wendy pergi ke tempat bimbingan belajar bersama Seulgi. Suatu hal rutin dalam hidup kedua gadis. Namun berbeda dari Selasa lainnya, kali ini ia mesti berjalan ke subway dengan menahan dongkol—mati-matian untuk tidak menendang Seulgi ke rel kereta nanti lalu tewas. Tidak, gadis itu tidak sejahat itu.

Hanya kesal pada orang disebelahnya yang sengaja melupakan tasnya agar barista tampan itu mengingatkan. Nyatanya mereka harus berjalan ke kantor polisi sejauh 500 m karena seorang nenek memberikannya ke polisi. Seulgi memang butuh sedikit pelajaran—dan banyak setruman listrik.

“Jangan berbuat aneh lagi atau kau benar-benar kutinggalkan,” Wendy mendengus seraya bersedekap. Langkahnya yang cepat membuat temannya sedikit kewalahan untuk menyamakan ditambah barang bawaan menyurutkan kecepatan jalan. Anak tangga mulai ditapaki satu per satu guna bergerak turun menuju kereta, terus berjalan hingga tiba di tempat dimana mereka mesti menempelkan kartu untuk menaiki subway.

Disanalah Wendy berbalik, mengedikkan dagu pada mesin kartu—kartu miliknya di pegang oleh Seulgi. Kawannya tersenyum lantas mengobrak-abrik seluruh isi tas, terlalu lama hingga Wendy menyingkir agar orang lain dapat lewat lebih dahulu.

“Wen,” panggil Seulgi.  Gadis itu enggan berbalik. Wajahnya cemberut tanpa niatan untuk menyahut, mengabaikan eksistensinya. Seulgi memanggil lagi, “Wen.”

Semakin ia menunggu semakin ia kesal, Seulgi terlalu lama mengambil dua strip kartu tipis itu. Ketika ia berbalik, Wendy hanya mendapati wajah Seulgi yang tersenyum terpaksa, “apa?”

“Sebenarnya kartu subway kita ketinggalan di kelas.”

Seulgi berkata lalu diam.

Wendy diam lalu menyipitkan mata.

Seulgi memberi cengiran.“Serius hehe.”

Diluar ekspetasi Seulgi, blasteran Korea-Kanada itu hanya membolak-balikkan wajah antara rel kereta dengan tempat dimana mereka berada lantas tersenyum manis. “Untung saja dalam sekali tendangan kau tidak langsung tewas di rel kereta.”

Hening.

Wendy adalah gadis manis—awalnya Seulgi pikir begitu. Namun saat si Gadis Manis memberi pukulan berturut-turut di punggungnya, Seulgi mesti berpikir sekali lagi. Wendy mengerikan kalau sedang kesal—dan ia benci bagaimana wajah itu memerah semerah rambutnya. “Seulgi sialan!”

“Aku lupa, serius!” aw! Tanpa memedulikan apapun saking gemasnya, Wendy mencubiti perut Kang Seulgi bertubi-tubi sampai si empunya mulai bergerak menjauh. Kedua gadis itu saling balas mencubit, terkadang saling meninju ringan ala gadis lemah.  “Berhenti mencubit, itu sakit Wen!”

“Kau pikir aku peduli?” Seulgi terkena cubitan sekali lagi. Ia balas dengan sebuah tinju. Arena ring tinju mereka menjadi seluas area stasiun, ditonton oleh berbagai masyarakat dari berbagai lapisan—sekaligus direkam melalui CCTV yang berkedip-kedip. Parahnya, mereka tak sadar.

“Kau—“ sebelum Wendy sempat memberi serangan, tangan itu ditarik oleh seseorang. Menariknya menjauh sementara raut wajah kawan—atau rivalnya berubah malu. Wendy berbalik guna melihat siapa gerangan yang berani menahannya lalu mendapati seorang wanita cantik tengah melempar senyum ramah. “Kalian mau kemana memang?” tanyanya lembut bak tahu sutra.

“Daerah Suwon, ke tempat kursus,” jawab Wendy setelah membungkukkan badan guna memberi hormat. Matanya mengerling ke sekitar—menyadari berpasang mata tengah mencuri pandang. Wendy sedikit malu sebenarnya tapi mau apa lagi?

Wanita itu secara anggun menarik keduanya ke mesin kartu, menempelkan kartu ke tempatnya tiga kali agar Wendy dan Seulgi dapat masuk. Awalnya ia tidak mengerti mengapa tetapi wanita ramah itu malah membawa keduanya berjalan beriringan menuju tempat menunggu—samping rel kereta. Untung saja Wendy sudah tidak ada niatan untuk menjatuhkan temannya ke bawah sana.

Ia sibuk menahan malu.

“Ah, terima kasih sudah menolong kami berdua. Maaf atas perbuatan kami tadi, Nona.” Sebelah tangannya membungkukkan punggung Seulgi secara paksa—agar gadis itu turut mengikuti. Balasanya hanya seulas senyum tulus lantas menepuk puncak kepala Wendy dan mengacak-acaknya.

“Sama-sama. Kalian jangan seperti itu lagi ya? Janji?”

Tersipu malu, Wendy hanya mengangguk. Selama beberapa saat keheningan menyelimuti, deru rel beradu dengan roda kereta mulai terdengar. Menandakan bahwa kereta tujuan Suwon akan segera datang beberapa saat lagi. Wanita itu menatap kembali, “kalian belajarlah yang giat, oke?”

Tidak ada jawaban lain selain mengangguk.

“Kalau begitu kalian saya tinggal dulu, saya beda arah dengan kalian. Hati-hati di jalan!” Lantas ia mulai mengambil langkah menjauh setelah sebelumnya menepuk sekali lagi puncak kepala Wendy dan berseru, “kau cantik dengan rambut merah, Son Wendy!”

Hanya mengingatkan—nametag Wendy hilang dua hari yang lalu.

Bahkan sebelum gadis itu sadar, wanita bak malaikat itu berjalan menjauh dengan arah berlawanan. Meninggalkan Wendy dengan benak penuh tanda tanya sementara gadis di sebelahnya menepuk dahi menahan malu. Seulgi diam-diam merutuki Wendy yang tak kalah bodohnya. “Kok dia—“

“Kau masih dengan Senior Chanyeol?” tutur Seulgi.

“Ya, kenapa?”

“Tadi itu kakaknya.

**

Advertisements

2 thoughts on “Tuesday Tragedy

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s