Amarillis [Part 1]

Amarillis

|| Title: Amarillis || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kai|| Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

Pendaratan pesawat yang ditumpangi Jiyeon di Bookly internasional Airport berlangsung biasa-biasa saja. Gadis itu lebih menyukai bisa langsung berbaur di antara banyak orang, tapi terbang dengan kelas turis telah dengan sendirinya mengategorikan dirinya seperti itu. Setibanya di sana, ia melihat banyak gadis-gadis berkulit keemasan, senyum dengan gigi seputih gading, dan kain-kain sarung bernuansa cerah membagi-bagikan rangkaian kalung bunga.

Setelah menerima kecupan dan untaian bunga. Jiyeon menerobos kerumunan orang untuk mencari bagian informasi. Di hadapan Jiyeon terhalangi oleh seorang pria yang bertubuh besar yang mengenakan kemeja bunga-bunga berwarna biru yang di ramaikan untaian kalung bunga di lehernya juga tergantung sebuah kamera. Sepertinya pria sudah mempersiapkan dirinya untuk menghabiskan liburan panjangnya di sini. Sesungguhnya penampilan pria itu membangkitkan selera humor Jiyeon namun perutnya yang tegang membuatnya tidak dapat melakukan itu.

Sudah lima belas tahun lamanya Jiyeon tidak menjejakan kakinya di bumi bagian timur. Tanah yang kaya dengan tebing-tebing dan pantai yang ia lihat saat pesawat turun tidak membangkitkan perasaan seperti seseorang yang sedang pulang ke tempat asalnya.

Di tempat ini dalam kenangan Jiyeon kilas-kilas ingatan yang hanya dapat di lihat oleh sudut pandang bocah lima tahun. Pohon-pohon palem yang menjulang tinggi beginya sama terasa asing dengan si ayah yang akan ia temui setelah menjelajahi separuh permukaan bumi. Seperti masa kehidupannya telah berlalu saat kedua orang tuanya bercerai.

Jiyeon mulai merasa cemas tentang alamat yang dia temukan di antara berkas-berkas ibunya hanya akan mengantarkannya menuju kehampaan. Usia potongan kertas kecil nan kusut itu tak di ketahui berapa umurnya. Ia juga tidak tahu apakah kapten Park Jisoo masih tinggal di pulau Gemmy. Ia menemukan alamat ayahnya dari tumpukan bon-bon tagihan sang ibu tanpa melihat satupun sepucuk surat. Sebenarnya hal yang paling mudah yang dapat ia lakukan adalah menulis surat kepada ayahnya, dan hampir seminggu ia terus terombang-ambing sebelum menentukan keputusan.

Akhirnya, Jiyeon memilih untuk bertemu langsung ayahnya dari pada menulis surat. Uang simpanannya hanya cukup memenuhi kehidupannya selama seminggu di pulau asing ini. Dan meskipun ia tahu bahwa biaya perjalanan itu mahal, ia tetap nekat terbang ke sini. Yang membuat hatinya cemas buakanlah masalah keungannya, yang ia takutkan adalah bahwa dirinya akan ditolak saat sampai di akhir perjalanan itu.

 

“Tidak ada alasan untuk mengharapkan suatu yang lebih darinya. Setidaknya aku berharap, dia masih mau mengakui aku sebagai putrinya.” ungkap batinnya sambil mengendurkan cengkraman tangannya dari tas tangannya. “Aku harus menerima apa pun yang menantiku di akhir perjalanan.” ucapnya untuk yang sekian kali selama perjalanan bertemu sang ayah.

Jiyeon sudah terbiasa untuk menyesuaikan dirinya dengan apa yang ada di depannya. Ia sudah terlatih sedari kecil. Dengan langkah yang cepat Jiyeon berjalan dengan anggun dalam setelan gaun sutra yang berwarna biru lembut  yang diwariskan oleh ibunya. Gaun itu sudah ia rombak agar sesuai ukuran tubuhnya yang tidak sepadat ibunya.

Setibanya di depan meja informasi, Jiyeon meihat seorang gadis dan pria sedang asik bercakap-cakap. Jiyeon mengawasi mereka dengan acuh tak acuh. Laki-laki itu berkulit gelap dan bertubuh tinggi. Murid-murid Jiyeon pasti akan menjulukinya Seduisant.

Wajahnya yang maskulin di bingkai dengan rambut hitam yang mengikal berantakan, sementara kulitnya yang berwarna bak tembaga memberi kesan bahwa ia sudah terbiasa dengan matahari kepulauan Gemmy. Ada sesuatu yang berkesan dari diri pria tersebut menurut Jiyeon. Meskipun dia tak tahu mengapa. Jiyeon menduga mungkin hidung pria itu pernah patah sekali, namun ketidaksimestrisan itu bukan merusak penampilannya, malah justru menambah daya tariknya. Pakaian santai, celana Jins belel dan di padu padankan dengan kemeja denim. Membuat tubuh pria itu terlihat atletis.

Dengan perasaan sedikit kesal Jiyeon memperhatikan gayanya, Ia melihat betapa luwesnya cara laki-laki itu membawa dirinya. Sikap tubuhnya yang santai dan senyuman bibirnya yang nakal mengingatkan dirinya pada sosok laki-laki yang selama ini mengerumuni ibunya. Jiyeon merasa beruntung setidaknya nasipnya tak seperti ibunya yang habis manis sepah dibuang. Walaupun laki-laki yang ia kenali hanya segelintir bahkan bisa di hitung satu maupun dua orang saja. Jiyeon tetap merasa bersyukur karena dari kecil ia sudah dikirim oleh ibunya ke asrama biara.

Tak lama kemudian laki-laki itu menoleh dan mendapati dirinya sedang diperhatikan Jiyeon. Kedua alisnya yang gelap dan tebal naik sementara mereka saling bertukar pandang. Entah mengapa Jiyeon merasa begitu kesal pada tatapan pria itu, sehingga tanpa ia sadari kedua matanya menatap fokus ke arahnya.

Setelan yang dikenakan Jiyeon sederhana dan memancarkan keanggunan yang membuatnya terkesan lembut dan elegan, Topi lebar menutupi sedikit wajahnya yang halus. Hidungnya lurus, bibir tanpa senyum dan matanya sebening laut, bulu matanya yang tebal membuat pria itu berpikir bila bulu mata gadis itu terlalu panjang untuk bisa disebut asli. Berdasarkan penilaian yang hanya dari luar, pria itu menganggap penampilan Jiyeon dingin dan arogan.

Perlahan-lahan pria itu tersenyum. Jiyeon masih menatapnya dengan tenang, sambil berusaha mengendalikan rona merah yang sewaktu-waktu akan naik ke pipinya. Si petugas bagian informasi, melihat teman bicaranya teralih yang sedang melayangkan pandangannya ke Jiyeon.

“Bisa saya bantu,” kata petugas tersebut sambil memasang senyum. Tanpa mempedulikan lelaki bertubuh tinggi itu, Jiyeon menghampiri mejanya.

“Terima kasih. Aku harus pergi ke pulau Gemmy. Bisakah anda memberi tahuku bagaimana cara  sampai ke sana?” aksen prancis mewarnai suara Jiyeon.

“Tentu, ada sebuah pesawat carteran yang akan berangkat ke Gemmy dalam…” si petugas melirik arlojinya, kemudian tersenyum kembali. “Tiga puluh menit lagi.”

Mendengar jawaban dari petugas informasi itu, Jiyeon menghela napas panjang. “Aku ingin pergi sekarang juga. Apakah tak ada pesawat yang lain?” ucapnya tegas dan saat menoleh ia melihat pemuda itu sedang sibuk menatap dirinya.

“Aku bisa mengantarkanmu dan kebetulan cub-ku tidak penuh dan  tak semahal pesawat carteran.” imbuhnya dengan tertawa kecil. Sebelah alis Jiyeon terangkat, ia sebenarnya tak ingin berhubungan dengan pria yang menyebalkan ini tapi ia tak bisa mengelak kalau ia sangat membutuhkan pertolongan darinya.

“Apakah anda mempunyai pesawat?” tanya Jiyeon dengan nada yang dingin.

Pria tinggi itu langsung membalas. “Ya, aku punya.” ucapnya sambil kedua tangannya dimasukkan ke saku celana jinsnya.

“Jongin-ah…” sela si petugas tersebut seakan mengingatkan namun lelaki itu menyela dengan tawa.

“Boram, akan menjamin kebenaran ucapanku. Aku pengelola penerbangan Star Airlines di kepulaun Gemmy.” ucapnya kembali seraya melemparkan senyuman lebar ke arah gadis mungil yang sedang berdiri di hadapan Jiyeon.

“Jongin… Tuan Kim Jongin adalah seorang pilot yang andal.” Boram mendehem kemudian melirik ke arah Jongin. “Kalau anda memilih untuk tidak menunggu jadwal penerbangan pesawat carteran, aku berani menjamin penerbangan anda dengan Tuan Kim akan sama menyenangkan.”

Melihat senyuman dan sinar mata laki-laki itu yang sok akrab, Jiyeon merasa yakin perjalanan itu mungkin tidak akan begitu menyenangkan baginya. Namun, apa daya dana yang ia punya tidaklah besar dan ia tahu harus berhemat dengan uangnya.

“Baiklah, Tuan Kim, kuterima tawaran anda.” laki-laki itu mengulurkan tangannya. Jiyeon menatap tangan itu membuatnya risih. Secara dia tak pernah begitu dekat dengan seorang pria. Sesungguhnya dia jarang bahkan tangannya tidak pernah tersentuh oleh seorang pria kecuali oleh sentuhan tangan ayahnya yang terakhir kali ia ingat lima belas tahun silam.

“Kalau anda mau menyebutkan tarif anda, Tuan Kim, aku akan membayar anda dengan senang hati begitu kita sampai.” ucap Jiyeon mengalihkan tatapan matanya dari tangan Jongin yang sudah terulur.

“Tiket penitipan bagasi anda,” sahut Jongin sambil tersenyum. “Bagian dari pelayanan kami, Nona.”

Jiyeon menundukan kepalanya untuk menyembunyika wajahnya yang memanas entah mengapa dan kemudian sekalian merogoh ke dalam tas untuk mencari tiketnya. Setelah tiket tersebut ketemu, Jiyeon lalu memberikan kepada pemuda tinggi tersebut.

“Ayo kita berangkat.” tanpa basa-basi tiba-tiba tangan Jiyeon ia selipkan di lengannya yang atletis. Jiyeon terkejut dengan sikap yang menurut dia tak sopan ia ingin berteriak tapi entah mengapa bibirnya terkatup rapat.

~OoO~

Merasa risih di iringin seperti itu, dengan tegas Jiyeon menghentakan tangannya dari selipan lengan Jongin. Pria itu terdiam dan tak lama ia tersenyum tampa sepatah kata pun. Jiyeon merasa kesal saat melihat senyuman sinis yang dilontarkan oleh Jongin kepadanya. Langkah kaki Jongin begitu panjang sehingga Jiyeon harus berlari kecil mengikutinya dari belakang.

“Tuan Kim, kuharap aku tidak dipaksa berlari-lari selama perjalan ke pulau Gemmy.” seru Jiyeon dari belakang yang membuat langkah kaki Jongin terhenti. Pria itu menoleh dan tersenyum. “Kukira anda sedang terburu-buru, Miss…” Jongin mengamati potongan tiket yang ada di gengamannya, dan taklama Jiyeon melihat senyumannya menghilang. Ketika ia mengangkat wajahnya tidak ada lagi candaan di sana. Rahangnya mengeras. “Park Jiyeon?” nadanya lebih menuding daripada bertanya.

“Ya, itu namaku.” sahut Jiyeon. Mata Jongin sedikit memicing. Jiyeon merasa tatapan mata pria itu membuat kepercayaan dirinya goyah. “Kau akan menemui Park Jisoo?” tanya Jongin kembali.

Mendengar pertanyaan Jongin, gadis itu membulatkan kedua matanya. Untuk sesaat Jiyeon mendapatkan secercah harapan dapat bertemu dengan ayahnya. Namun nada bicara dan wajah pria yang ada di hadapannya terlihat tegang dan tak bersahabat.

“Aku tak mengerti apa hubungannya itu dengan anda, Tuan Kim?” ujar Jiyeon, “Tapi apakah kau mengenal ayahku?” kali ini nada pertanyaan Jiyeon agak terbata-bata saat mengucapkan kalimat terakhir itu.

“Ya, aku mengenalnya.. jauh lebih baik dari anda. Oke, Tuan putri sebentar lagi kita akan tiba…” ucapnya dengan ekspresi wajah datar sambil berjalan meninggalkan Jiyeon namun belum jauh ia pergi, Jongin berkata kembali. “Kuharap tenggang waktu lima belas tahun tidak lah terlambat untukmu. Biayanya ditanggung perusahaan. Sulit rasanya memungut bayaran dari anak hilang sang pemilik.” ujarnya.

Jiyeon mematung. Ia tak percaya dengan ucapan Jongin bahwa ayahnya mempunyai perusahaan penerbangan. Seingat Jiyeon ayahnya hanyalah seorang pilot, dengan impian mempunyai pesawat sendiri di kemudian hari. Kapankah impian itu terwujud? Dan mengapa sikap Jongin menjadi begitu sengit padanya saat mengetahui siapa dirinya? Dari mana dia tahu mengenai tenggang waktu lima belas tahun yang memisahkan dirinya dari ayahnya?

-TBC-

Hai-hai… ketemu lagi kita di sini 🙂

Miminnya buat cerita baru lagi nih, berhubung waktu senggang mimin gak banyak tapi pingin tetep meramaikan blog ini dengan ff imajinasi mimin yang aneh jadi, aku buat ceritanya ff chapternya yang sedikit pendek. Tapi tenang karena ini ficlet series mimin bakalan update secepat yang aku bisa 🙂 apalagi kalau banyak reader yang menunggu kelanjutannya, authornya bakalan lebih semangat lagi buatnya, hehe 😀 jadi jangan lupa RCL-nya ya, dear ^^

See You Next Part ❤

Advertisements

24 thoughts on “Amarillis [Part 1]

  1. ini cerita baru liat awalnya aja udah bikin penasaran
    jongin kenapa berubah cepet banget pas tau jiyeon itu anaknya jiso 😔, apa jiyeon pernah salah???
    Di tunggu ka lanjutannya
    Ngomong” saya reader baru hehehe..
    Semangat kakak 😂✊✊✊

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s