[Chapter] Distance – #2. Engagement Plan

Distence

⇒ Distance

ParkSeungRiHae storyline

Poster by: KWJN 29 @cafetariaoffanfiction.wordpress.com

Cast: Cho Kyuhyun, Bae Irene, Kim Taehyung (BTS)

Support cast: Kim Hyoyeon

Annyeong hasimnikka, author kembali dengan FF ini, hanya sekadar mengingatkan, jangan lupa komen, saran, kritik atau apapun itu yang memberikan support atas FF dan juga author. DON’T BE PLAGIAT! DON’BE SIDERS!! PLEASE GIVE US SOME RESPECT!!


*Author’s POV

Hari Minggu.

Irene malah sudah berdandan rapi dan berdiri di pinggiran jalan arteri yang membelah kota Seoul. Menunggu sebuah bus yang akan berhenti di halte tempat ia berdiri sekarang.

Hembusan angin yang agak dingin membuat dirinya merapatkan kembali mantel yang melekat di tubuhnya.

Matanya tak henti menatap jarum jam yang bergerak begitu pelan di atas jam tangannya yang melingkar manis di pergelangannya.

“15 menit. Aku akan terlambat 15 menit.”

Sebuah Mercedes hitam menepi tepat di hadapan Irene dengan mulus. Kaca mobilnya turun secara perlahan menampakkan sosok pengemudinya yang begitu memikat hati.

“Nona Bae, masuk!”

Irene merendahkan kepalanya berusaha melongok ke dalam siapa yang memanggil namanya. Kedua alisnya bertemu – mengerut heran.

“Bukankah kita janjian di taman kota?”

“Kau sudah terlambat 15 menit. Dan jika kita berangkat lebih lama lagi, aku akan kena damprat orang tuaku.. Ani, maksudku, sudahlah..”

Irene mematung. Tangannya terdiam setelah meraih handle pintu mobil mewah itu. “Cepat masuk!” perintah pemuda itu.

“Eish..”. Dengan tidak sabar, pemuda itu akhirnya memutuskan melepas sit beltnya dan keluar dengan bergegas serta membukakan pintu untuk Irene. Irene masih mematung. “Kenapa kau tidak masuk juga??” omelnya dengan gusar. “Masuk..” Mau tak mau, pemuda itu mendorong tubuh Irene masuk ke dalam mobilnya dan langsung mengenakan sit belt untuknya.

“Kita berangkat..” ujarnya setelah berada di belakang kemudi. Tatapan Irene masih kosong. Karena jantungnya berdegup tak keruan membuat pikirannya menjadi kosong..

*Author’s POV

*@Ahn-Soo manor’s

Irene terngaga begitu mobil yang ia tumpangi masuk ke dalam pekarangan rumah – tidak – bangunan semacam istana kecil dengan arsitektur khas Korea kuno yang begitu artistik.

Pintu berukir yang tadi ia lewati pastilah sudah berabad-abad umurnya. Kesan klasik segera terasa begitu Irene menginjakkan kaki di depan pintu masuk rumah itu.

“Lepas sepatumu dan ganti dengan sandal tipis itu..”. Pemuda itu menunjuk tumpukan sandal tipis – semacam sandal hotel – yang tertumpuk di pinggir pintu masuk. Irene mengangguk dengan patuh.

“Ingat! Jangan bicara apapun jika kau ditanya macam-macam oleh Bibiku. Apalagi jika kau ditanya macam-macam oleh Kwon Yuri.”. Irene mengangguk lagi.

Pemuda itu membunyikan bel kecil yang ada di depan pintu dengan cara mengguncangnya secara keras sehingga menimbulkan gemerincing yang begitu berisik.

Terdengar derap langkah bergaung memenuhi rumah yang begitu besar itu.

“Ah, Tuan Muda.. Kau sudah pulang.. Nyonya sudah menunggu di ruang tengah. Keluarga Kwon juga sudah menunggumu..”

Pemuda itu mengangguk pelan. Pelayan pria umur paruh baya yang tadi menyapa Tuan Mudanya berganti pandangan menatap Irene dengan bingung. “Kenapa ada gadis lagi, Tuan?”

“Dia pacarku.” jawab pemuda itu singkat namun sukses membuat Irene kaget setengah mati. Wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus sekarang.

“Ah..”. Pelayan itu hanya mengatakan satu kata yang mengungkapkan rasa terkejutnya.

Pemuda itu segera mengenggam tangan Irene dan menarik gadis itu masuk ke dalam rumahnya.

Langkahnya terkesan tergesa-gesa sehingga Irene agak kewalahan. Ia yakin pemuda itu sedang gusar sekali sekarang. Mana ada pemuda yang mau dijodohkan pada zaman seperti ini? Cerita kuno!

“Tunggu disini sebentar..”. Pemuda itu mengetuk halus pintu geser kayu berwarna cokelat tua di hadapannya.

“Masuk..”

Ia membuka pintunya dengan pelan dan langsung masuk.

“Ah, Kyuhyun.. Akhirnya kau datang juga. Lihatlah, kau membuat Yuri menunggu..”. Seorang wanita yang masih agak muda menyambutnya dengan senyuman yang begitu manis.

“Kau kemana saja?” tanyanya lagi.

“Aku pergi menjemput seseorang, Bi.” ucap Kyuhyun ke arah wanita yang cukup muda tadi yang ternyata adalah Bibinya.

Wanita itu menaikkan alisnya sebelah tanda tidak suka. “Menjemput siapa lagi? Aku tidak mengundang siapapun.”

“Irene-ah! Masuk sekarang..” perintahnya lembut. Irene terkejut. Terlebih, hujaman tatapan yang begitu menusuk dari seluruh orang yang berkumpul disitu membuat nyalinya menciut.

Irene memaksakan sedikit senyum terulas di bibirnya.

“Siapa dia?”. Nada suara wanita tadi mencekam hati Irene. Begitu dingin dan menyayat – persis seperti suara Kyuhyun jika sedang benar-benar marah. Irene menundukkan kepalanya sopan memberi salam.

“Dia Bae Irene.”. Kyuhyun mendorong Irene agar gadis itu tepat berada di sampingnya. Kyuhyun mencari tangan Irene dan langsung menggenggamnya begitu menemukannya.

“Dan dia adalah pacarku..”. Irene membelalakkan matanya. Menatap ke arah Kyuhyun – hendak protes. Tapi, yang ada malah Kyuhyun melemparkan senyumannya yang begitu menawan dan manis. “Bukan begitu, sayang?”

Irene kena serangan shock lagi. “Ah, em..”. Irene melirik sebentar ke arah orang-orang di sekitarnya yang menatapnya seolah ingin langsung menerkamnya.

Ne.. chagi..”

Gila! Kau sudah gila, Bae Irene!, rutuk Irene sendiri begitu melihat seluruh tatapan mata itu bertambah tajam.

“Oh, Bae Irene! Oraenmanimnida..” seru Yuri yang sembari tadi hanya duduk memperhatikan dengan muka masam.Nada suaranya gembira namun mengandung maksud lain. Kenapa ada gadis itu lagi?, batin Yuri kesal.

Irene tersenyum kaku. Tangan Kyuhyun menggenggam erat tangannya, entah untuk apa. Mungkin, pemuda itu juga sama gugupnya dengan dirinya.

“Wah, wah.. Bagaimana ini, Appa? Kyuhyun sudah punya pacar rupanya. Tak kusangka, kau lagi Bae Irene, yang ada di tengah-tengah kami.”. Tatapan tajam Yuri menusuk Irene. Irene hanya bisa bertahan. Walaupun ia benar-benar takut, Irene tahu Yuri bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja.

“Cho Kyuhyun! Ikut aku!” teriak wanita tadi – atau Bibi Kyuhyun – dan langsung menarik Kyuhyun keluar. Irene menundukkan kepalanya. Mematung disana bagaikan orang bodoh.

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan keluar?”

Irene mendongak. Apa yang baru saja Yuri katakan? Keluar? Berjalan-jalan?


*Author’s POV

“Tak kusangka, kau berubah begitu banyak, Irene..”

Irene melangkah pelan di samping Yuri dengan sedikit was-was. Taman belakang rumah kediaman keluarga Cho bukan main-main. Berbagai tatanan taman yang berbeda di setiap sudutnya memberikan kesan kita sedang berada di tempat lain dan bukannya di Korea. Tatanan taman khas Eropa dan Jepanglah yang paling memikat hati.

Yuri menghentikan langkahnya begitu mereka sampai di atas jembatan kecil yang berada di atas sungai buatan yang begitu jernih berisikan ikan-ikan koi yang cantik dan nampak mahal.

“Bagaimana bisa kau kembali dekat dengan Kyuhyun setelah SMA? Bukankah dia dulu menjauhimu?”

Irene menatap Yuri dengan heran. Bagaimana bisa dia tahu?

“Semua orang tahu. Hubungan kalian yang begitu dekat, mendadak menjadi begitu jauh hanya dalam satu hari dan itu sungguh aneh. Kyuhyun yang biasanya begitu usil padamu mendadak diam dan begitu dingin kepadamu, tidak, bahkan pada semua orang yang ada di sekitarnya. Terutama, setelah ayahmu masuk penjara.” ucap Yuri santai dengan senyuman penuh aura jahat.

Irene melotot. Bagaimana Yuri bisa tahu rahasia terbesar keluarganya? Tak ada satupun yang mengetahui bahwa Ayahnyalah yang menjadi tersangka dan bukan orang lain yang bermarga Bae.

“Ayahku memiliki banyak koneksi sebagai CEO N Entertainment. Jangan heran. Sekali saja, ayahku meminta bawahannya mencari informasi tentang ayahmu, bisa berpuluh-puluh lembar dokumen datang di mejanya hanya dalam waktu beberapa jam.”

Irene mendengus kesal. Ia lupa, Tuan Kwon merupakan salah satu pemilik label entertainment paling terkenal di Korea.

“Duduklah disini..”. Yuri memanjat pinggiran jembatan itu dan duduk di atasnya. Ia menepuk-nepuk bagian di sebelahnya menyuruh Irene mengikuti caranya.

Dengan ragu, Irene melangkahkan kakinya, memanjat pinggiran jembatan itu dan duduk di atasnya dengan tangan berpegangan erat pada kayu pembuat pinggiran jembatannya.

“Kau merusak pertunanganku.” ucap Yuri dengan nada dalam. “Kau tidak tahu apa risiko yang akan dihadapi keluarga Cho? Mereka akan kehilangan merk perusahaan mereka yang menjadi ambassador entertainment kami. Kami akan mengambil semua yang mereka punya.”

Irene membelalakkan matanya. Apa dia bergurau?

“Kau serius?” tanya Irene pelan, nyaris berbisik.

Yuri menatap Irene dengan pandangan yang aneh. “Aku serius.”

“Bagaimana bisa kau kembali menarik hati Kyuhyun, hah? Kau selalu menghalangiku untuk mendapatkannya! Kau bahkan menjadi perusak hubungan Kyuhyun dan Seohyun.”. Yuri memajukan posisi duduknya. Matanya penuh dengan amarah.

Mwo?!” teriak Irene tidak terima. “Aku tidak merusak hubungan mereka sama sekali!!”

“Kau merusaknya. Dasar gadis murahan! Walaupun kau memang pintar, hatimu yang licik sungguh tidak ada duanya”. Yuri mencengkram erat kerah baju Irene hingga gadis itu tercekik dan mengguncangkan tubuhnya ketika gadis itu sedang berbicara. “Lepaska..”

BYURR..

Suara tercebur yang begitu kencang segera memenuhi seluruh kediaman Cho yang damai dan tenang.

“Kyaaa!!!!”. Irene otomatis berteriak begitu merasakan dinginnya air musim gugur yang malah menjadi sedingin es. Yuri tertawa terbahak-bahak. Gadis itu segera turun dari tempatnya tadi duduk dan menopangkan dagunya di atas pinggiran jembatan. Menatap Irene dengan iris hitamnya yang mengejek.

“Irene! Apa yang kau lakukan disitu? Oh, maafkan aku, sepertinya aku mendorongmu, ya.. Ah, kasihan sekali Ireneku yang cantik.. Apakah itu begitu dingin?”. Nada tajam Yuri menghujam hati Irene. Sakit sekali.

“Bagaimana kau bisa begitu kejam??” tanya Irene hampir menangis. Ia berusaha agar tidak menangis karena ia tahu, itulah tujuan utama Yuri. Membuatnya sengsara dan akhirnya menangis.

“Bagaimana bisa kau balik menanyakan hal itu? Kaulah yang begitu kejam. Rasakan dinginnya air itu. Itulah keadaan hatiku sekarang. Begitu dingin dan nyeri ketika melihat Kyuhyun mengenalkanmu sebagai pacarnya di depan kedua orang tuaku. Dasar tak tahu adat! Menganggu pertunangan orang! Setidaknya kau jangan datang di pertemuan ini! Kau bisa menganggunya lain waktu tapi tidak tepat di hadapan orang tuaku. Apa kata mereka nanti?” terang Yuri panjang lebar. Gadis itu membenarkan letak selempang tasnya.

“Sudahlah, aku masuk dulu..”

Suara ketukan heels Yuri yang berbenturan dengan lantai kayu jembatan begitu nyaring membuat Irene sedikit putus asa dengan keadaannya yang basah kuyup. Gadis itu terduduk di samping sungai kecil buatan itu dan memeras bajunya serta rambutnya.

Derap langkah kaki terdengar. Helaan napas yang memburu segera menyambut telinga Irene, membuat gadis itu sejenak melakukan aktivitasnya mengeringkan baju dan rambut.

“Apa yang kau lakukan disini?!! Kenapa kau begitu basah kuyup??” marahnya ketika melihat keadaan Irene. Gadis itu naik emosinya. Bisa-bisanya dia masih marah-marah melihat keadaannya seperti ini? Dasar pemuda tak punya hati!

“Aku diceburkan oleh Yuri ke dalam sini dan kau masih punya hati untuk marah-marah?!” balas Irene sengit. Ia bangkit dan berdiri di hadapan Kyuhyun menatap pandangan pemuda itu dengan menantang.

“Apakah ini caramu untuk berterima kasih? Apakah ini caramu membalas apa yang telah kuperbuat hingga bahkan mengorbankan harga diriku seperti ini? Kau pikir aku mudah memutuskan semuanya?”.

Suara Irene yang tadinya begitu keras dan penuh emosi lambat laun menjadi serak karena ia merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya begitu sakit melihat apa yang Kyuhyun perbuat untuknya. Sama sekali tidak berbalas. Sama seperti dulu. Hanya satu pihak yang mendukung.

Kyuhyun terhenyak dan mematung. Ia tahu dirinya salah, tapi kenapa aku tidak bisa mengendalikan amarahku? Ini jelas-jelas bukan hal yang perlu mendapatkan emosi berlebih.

Perlahan, bulir air mata mengalir bebas di pipi putih pucatnya – yang memucat karena kedinginan. Irene menyekanya dengan kasar. Ia mengangguk sendiri. “Ya, sekarang aku sadar. Kau sama sekali berubah, Kyu.. Kau bukan Kyuhyun yang pernah aku kenal dalam kehidupanku. Kau hanyalah orang egois yang seenaknya mempermainkan dan memanfaatkan seseorang dengan kekuasaan dan juga wajahmu itu.. Ya, aku mengerti sekarang.”

Irene pergi. Bahunya tak sengaja menubruk Kyuhyun. Membuat pemuda itu tersentak.

Kyuhyun menatap kosong siluet Irene yang mulai menjauh dengan gestur memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Sebersit rasa bersalah timbul. Sebuah keinginan untuk mengejar gadis itu dan meminta maaf muncul. Tapi, kakinya sama sekali tak bisa melangkah karena egonya menghalanginya.

*Author’s POV

Kyuhyun berjalan dengan pikirannya yang masih mengawang. Memikirkan bagaimana keadaan Irene sekarang. Pemuda itu sadar ia salah. Dan ia mengakui bahwa meminta maaf adalah hal yang begitu sulit baginya.

“Ckck… baru saja kembali bertemu kau sudah membuatnya menangis. Bagaimana ini?”

Kyuhyun terkaget. Matanya menyipit melihat kehadiran kembarannya yang sedang bersandar di dinding lorong dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantong.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Kyuhyun dingin. Gadis kembarannya itu tertawa palsu. “Aku kesini untuk menghadiri acara pertunanganmu dan yang kudapati malah bubar begitu saja dan Irene berpapasan denganku di pintu masuk dengan keadaan basah kuyup sembari menangis. Bagaimana bisa kau menjelaskan itu?” tanyanya sarkatis.

Kyuhyun tidak mempedulikannya. Ia sedang begitu malas membahas hal itu lagi. Pemuda itu terus berjalan dengan raut dinginnya yang tanpa ekspresi.

Gadis itu berteriak, “Jangan lupa!! Dia adalah satu-satunya gadis yang begitu tulus padamu dan juga padaku yang selalu dianggap aneh ini.. Seolah aku manusia yang begitu menakutkan. Dialah satu-satunya temanmu yang bersedia selalu berada di sampingku, tulus untuk menjagaku karena keadaanku dan bukannya karena kau adalah kembaranku!!”

Kyuhyun tidak peduli. Ia hanya butuh waktu sendiri sekarang.


*Author’s POV

*@Cho Corp

Taehyung menatap meja kerja Irene yang kosong. Pemuda itu membuang napasnya berkali-kali dengan keras ketika melirik jam tangannya untuk yang kesekian kali.

Tidak biasanya Irene belum datang.

Taehyung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Nalurinya mengatakan itu.

Apakah dia tidak masuk?

Pintu terbuka. Menampakkan sosok Irene yang begitu pucat pasi dan wajah yang memerah. Gadis itu benar-benar terlihat tidak sehat.

Taehyung buru-buru menyongsong Irene dan memapah gadis itu menuju kursinya. Taehyung langsung mendelik begitu merasakan hangatnya kulit Irene yang tidak biasa. Gadis itu demam.

Mwoya? Apa ini? Kenapa kau demam??” ucap Taehyung panik. Irene menggelengkan kepalanya lemah. “Aku baik-baik saja, Tae.. Bisakah kau ambilkan map kuning itu? Aku harus segera mengerjakannya dan mengantarkannya ke ruangan Kyuhyun.” ucap Irene berbisik. Suaranya bahkan tidak bisa berkompromi untuk mengelabui Taehyung.

Gomawoyo..”. Irene berusaha bangkit dengan seluruh tenaga yang ia punya sekarang.

Gaman isseo.. (tetaplah disini). Kau mau apa?”. Taehyung mendudukkan kembali Irene dan melarang gadis itu pergi. “Aku akan ke ruangan Kyuhyun sekarang. Aku tidak mau menjadi bahan amukannya hari ini.”

Stay here. Aku akan mengantarkannya ke Kyuhyun dan bilang padanya kalau kau sakit. Tenang saja..”

Irene mencegah Taehyung dengan menahan tangan pemuda itu ketika hendak pergi. “Biarkan aku saja. Aku harus berbicara sesuatu padanya.”

Taehyung menatap Irene dengan tidak setuju. Gadis itu menepuk bahu Taehyung beberapa kali. “Ini hanya demam. Kau tidak perlu khawatir, arra?”

Siapa yang tidak akan khawatir melihat keadaan Irene sekarang? Jika dipaksakan sedikit lagi saja, kemungkinan Irene akan segera ambruk.

Taehyung terduduk dengan raut serius setelah Irene keluar. Gadis itu… begitu memaksakan dirinya jika sudah menyangkut masalah Kyuhyun. Apa sebenarnya masalah di antara mereka?


*Author’s POV

Sajangnim, ini aku..” teriak Irene berusaha mengeluarkan suaranya. Gadis itu merasakan badannya begitu panas sekaligus menggigil. Astaga, nampaknya efek air musim gugur begitu besar.., Irene mengaduh sendiri ketika pandangannya mendadak berkunang-kunang sebentar.

“Masuk..”. Kyuhyun membuka pintunya dan tertegun melihat keadaan Irene sekarang. Apa yang terjadi?

Tak biasanya, Kyuhyun membukakan pintu ruangannya sendiri. Tapi, begitu mendengar suara Irene, pemuda itu merasa ada yang tidak beres dengan suara gadis itu. Benar saja, ia terlihat sangat sakit. Garis bawahi, sangat sakit.

Kyuhyun membimbing Irene masuk ke dalam ruangannya. “Aku mengantarkan ini, sajangnim..”

Irene menyodorkan map laporannya. “Aku sudah bekerja sekuat tenaga untuk memikirkan bagaimana menghemat anggara untuk proyek itu. Kuharap, kau menerimanya.”

Kyuhyun membuka laporan itu dan membacanya perlahan. Semuanya begitu sempurna dan masuk akal. Tidak pernah sebelumnya, Kyuhyun melihat laporan serapi dan sebagus yang Irene buat.

“Kenapa kau melipatgandakan dana pegawai lapangan?”. Kyuhyun terkejut menyadari apa yang baru saja meluncur keluar dari mulutnya. Irene menatap Kyuhyun dengan lemas. “Apa?”

“Ini..”. Kyuhyun bahkan tidak bisa menghentikan dirinya sendiri melakukan perlakuan kejam ini. Berhenti, Cho Kyuhyun!!, hati pemuda itu menyuruhnya. Otaknya memberontak dan masih saja menjalankan mulut dan tangannya melakukan sesuatu yang menyakitkan hati Irene.

“Baiklah. Aku akan mengeceknya kembali. Maafkan kesalahan saya, sajangnim..

“Memang sudah seharusnya begitu..”. Nada suara Kyuhyun masih terdengar tajam. Irene menundukkan kepalanya sejenak. Ia tidak peduli Kyuhyun melihatnya sakit atau tidak. Dia tidak mau menjadi pegawai yang manja dan mengemis istirahat karena sakit kecilnya ini.

Irene menghentikan langkahnya begitu tangannya memegang kenop pintu. “Maafkan atas kesalahanku mengacaukan pertunanganmu, Kyuhyun-ah, aku meminta maaf sebagai teman. Terserah kau masih menganggapku teman atau tidak atau kau mau menerima permintaan maafku atau tidak.”

Irene menghilang di balik pintu. Kyuhyun tercenung. Sebagai teman?

“Ya ampun, aku harus menghentikan pekerjaannya sebelum dia benar-benar ambruk..”

Kyuhyun menekan nomor Hyoyeon – sekretaris lamanya yang kini menjabat menjadi wakil CEO, yang kini masih setia menunggu di luar ruangannya dibanding menempati ruang kerjanya sendiri.

“Hyo-ah, sampaikan pada Irene-ssi, laporannya tidak usah diubah lagi. Suruh dia kembali masuk ke ruanganku 10 menit lagi.”

Ne, sajangnim. Kau mengacaukan Irene lagi, Kyu? Hentikan sikap kekanakanmu. Kau tidak lihat dia sedang sakit parah?”

Kyuhyun mengeraskan rahangnya. Ya, dia tahu, makanya dia menyuruh Hyoyeon melakukan itu. “Cepat lakukan.”

Trak. Kyuhyun membanting gagang teleponnya dan menutup mukanya dengan menghembuskan napas kasar. Astaga.. aku memang malah membuatnya semakin terluka..

*Author’s POV

Taehyung mengangkat sebelah alisnya melihat Irene kembali mencorat-coret dokumen tadi disana-sini. “Apa yang kau lakukan? Tidak diterima lagi?”

Irene mengangguk. Kepalanya begitu pusing dan rasanya napasnya tersendat-sendat. Badannya sangat panas. Irene rasa dia sudah tidak tahan lagi..

“Aku keluar dulu, Tae.. Jangan halangi aku..”. Taehyung mengendikkan bahunya tanda mengalah. Irene yang keras kepala takkan bisa dihalangi.

Irene melangkahkan kakinya keluar setengah menyeretnya. Rasanya untuk jalan saja, dia terus-menerus limbung. Irene bermaksud membeli obat di apotek di dekat kantor.

Tok.. tok..

“Taehyung-ah, dimana Irene?”

Ne? Dia sedang keluar, Hyoyeon-ssi..”

Hyoyeon mengerutkan dahinya. Ia sudah melihat keadaan Irene tadi. Gadis itu begitu yakin Irene bahkan takkan kuat berjalan lebih dari 100 meter keluar dari kantor.

“Aku pergi dulu..”. Taehyung mengerutkan alisnya melihat Hyoyeon bahkan panik mendengar hal itu.

Susul, tidak, susul, tidak, ayo Tae! Putuskan sekarang!

“Kyuhyun-ah, susul Irene sekarang. Aku rasa dia sedang berjalan ke apotek terdekat.” ucap Hyoyeon melalui sambungan telepon sembari berjalan tergesa kembali ke ruangan Kyuhyun.

Kyuhyun langsung menyambar jasnya yang tersampir di kursinya dan membuka pintunya dengan tergesa serta berderap menuju lobi. Di sisi lain, Taehyung juga langsung menyambar jas dan juga kunci mobilnya. Perasaan tidak enaknya muncul.Gadis itu dalam keadaan yang benar-benar buruk.

Note: DON’T BE SIDERS!! Harap berikan saran dan komentar untuk kemajuan FF ini, Gomawoyo, Love, Euri.

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s