[Vignette] Back To Me #2

image

Laykim artposter and storyline
Cause you Are #2
Main cast:
Zhang Yixing, Park Jiyeon, Kim Myungsoo
Support cast:
Lee Ahreum, Lee Donghae, Kim Sunggyu, Son Wendy
Genre:
AU, Romance, Friendship
Length: Vignette – Series
Rating: PG – 13

Kim Myungsoo, namja tampan yang berdiri di depan meja Jiyeon dan Ahreum hanya tersenyum menatap kedua sahabatnya. “Aku pasti datang. Sudah lama tidak bertemu denganmu, Jiyeon-a. Kau semakin cantik.”
Ahreum terkikik geli mendengar kata-kata pujian Myungsoo untuk Jiyeon. “Awas, Jiyeon-a! Kau bisa termakan rayuannya.”
Myungsoo mendengus kesal kemudian mengambil kursi dan duduk di antara dua gadis cantik. “Aku merasa seperti memiliki dua orang isteri.”

Pletak!
Sebuah pukulan langsung mendarat di ubun-ubun Myungsoo. “Enak saja. Aku sudah punya tunangan.” Tiba-tiba Myungsoo dan Jiyeon membelalakkan kedua mata, tidak menyangka kalau Ahreum sudah bertunangan dengan seseorang. Sedangkan Ahreum sendiri baru menyadari kalau dirinya keceplosan.
“Kau bertunangan? Dengan siapa? Dengan dia?” tanya Myungsoo penasaran.
Ahreum menggeleng. “Kalian tidak mengenalnya, kok.”
***

Beberapa hari kemudian, Jiyeon pergi ke sebuah apartemen tempat Yixing tinggal. Entah namja itu masih tinggal di sana atau sudah pindah, Jiyeon pun tidak tahu. Keinginannya untuk bertemu dengan Yixing terlalu besar. Sudah hampir sebulan, ia tak kunjung menemukan keberadaan sang pujaan hati, meskipun Ahreum mengatakan kalau Yixing telah kembali ke Cina.
“Apa yang aku pikirkan? Masa lalu membuatku bingung. Sejak dulu aku menyukai Kim Myungsoo yang usianya sebaya dengan Yixing oppa. Tetapi… aku dan Yixing oppa telah berjanji untuk menjalin kasih. Sebenarnya siapa yang harus ku pilih? Myungsoo oppa sudah berdiri di hadapanku, sedangkan Yixing oppa berada entah di mana, aku juga belum tahu.” Jiyeon terduduk lesu di depan sebuah toko buku terkenal di kota Seoul. Toko buku itu mengingatkan dirinya akan kenangan 8 tahun silam bersama Kim Myungsoo. Namja itu pernah memberikan hadiah buku kesukaan Jiyeon yang ia beli di toko itu. Bola mata Jiyeon menatap lekat pada sebuah bangungan yang berisi banyak buku tersebut.

Jiyeon pov
Berhari-hari aku mencari Yixing oppa. Tetapi yang kulihat hasilnya selalu nihil. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Dia tidak akan kembali ke Cina tanpa mengatakannya padaku sebelumnya. Aku yakin kalau oppa masih tinggal di Korea. Apa yang harus aku lakukan di saat seperti ini? Aku sungguh tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Diriku seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Langkahku terayun begitu saja dan tidak menyadari kalau posisiku kini berada di depan sebuah supermarket yang besar dan ramai. Aku menatap supermarket itu, berpikir apa yang akan ku lakukan jika aku pergi ke sana. Tidak ada tujuan dari langkahku yang terayun selama kurang lebih empat jam. Aku mencari Yixing oppa dan belum dapat menemukannya. Kontaknya pun sudah tidak dapat dihubungi. Lalu… aku harus bagaimana? Oppa seakan menghilang ditelan bumi. Apakah takdirku memang bersama Myungsoo oppa?

“Jiyeon-a!”
Deg!
Suara itu….
Aku menghentikan langkahku dan berdiri diam di tempatku. Suara itu… aku tidak asing dengan suara itu.
“Park Jiyeon?”
Benar! Suara itu adalah suara yang ku rindukan selama 8 tahun. Ya Tuhan, akhirnya aku menemukan Yixing oppa. Aku membalikkan badan dan kaget melihat seorang namja tampan dengan lesung di pipinya. Akhirnya aku menemukan Yixing oppa. Hal ini membuktikan kalau Lee Ahreum telah membohongiku. Tapi untuk apa dia berbohong?

Yixing oppa berjalan ke arahku dengan langkah ringan. Aku hanya dapat menatap senyumnya yang terlewat manis untuk ukuran namja. Sebenarnya ada dua namja yang keren dan tampan. Tentu saja aku Yixing oppa pilihanku. Haahaaa…
“Oppa!” panggilku saat jarak antara aku dan oppa hanya satu meter.
Kebahagiaan terpancar dari wajah oppa, begitu juga aku. Entahlah, mungkin wajahku sudah memerah seperti tomat matang yang siap dimakan atau dimasak.

Oppa menggenggam kedua tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya yang amat ku rindukan. Ya Tuhan, inilah mimpiku, jatuh di pelukan namja yang sangat ku cintai. Aku benar-benar bersyukur, pencarianku tidak sia-sia.

“Aku… sangat merindukanmu, Jiyeon-a,” ungkap Yixing seraya membelai surai panjangku.
Aku tersipu malu. Rupanya Yixing oppa bertambah tampan dan semakin membuat jantungku berdegub kenang. Aku mengangguk mantab, sebagai balasan yang mengungkapkan kalau aku juga sangat merindukan dirinya.
“Oppa,” panggilku pelan. Aku ingin mengingatkan oppa atas janji 8 tahun yang lalu. Apakah oppa masih mengingatnya, ya?
“Aku senang melihatmu lagi, Park Jiyeon. Kau tetap cantik seperti dulu.”
Aigoo, itu pujian yang ingin sekali aku dengar dari Yixing oppa.
“Aku tetap cantik karena oppa selalu menyenangkan hatiku. Kau selalu memenangkan hatiku dan membuatku tenang, Oppa.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang.”
Hanya itu kata-kata yang dikeluarkan oleh Yixing oppa. Dia seakan lupa dengan segala kenangan bahkan janji yang pernah ia ucapkan padaku. Ya Tuhan, benarkah oppa lupa akan janji itu?
“Oppa, aku dengar kau sudah pindah ke Cina. Apakah itu benar?” tanyaku dengan segala keberanian yang ku paksakan keluar dari sarangnya.
Yixing oppa mengerutkan dahinya. “Tidak. Aku sudah menetap di Korea. Bahkan, aku sudah memiliki KTP Korea. Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau dengar dari siapa?” tanya Yixing oppa menyelidikiku.
Aku terdiam sesaat, mengingat perkataan Ahreum. Jelas-jelas ia pernah mengatakan kalau Yixing oppa sudah kembali ke Cina bersama keluarganya. Tetapi oppa sendiri malah mengatakan hal yang sebaliknya. Sebenarnya… ada apa dengan Lee Ahreum?
Jiyeon pov end
***

Myungsoo berlari ke sana kemari mencari sosok Ahreum di kantor tempatnya bekerja. Namun pencariannya sia-sia. Yeoja itu tak menampakkan batnag hidungnya di kantor elit milik kakaknya, Lee Donghae. Putus asa mencari Ahreum, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk menghentikan pencarian. Padahal ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Mungkin lain kali saja, batin Myungsoo.

Kim Myungsoo, putra dari salah satu musuh Lee Donghae malah duduk santai di sofa lobi dan memejamkan matanya untuk meringankan beban pikirannya yang akhir-akhir ini membuatnya stres.

“Apa yang sedang kau lakukan di kantorku?”
Sebuah suara terdengar sangat dekat melalui gendang telinga Kim Myungsoo. Ia segera menggerakkan kelopak matanya dan menatap sosok namja yang berdiri di depannya. Omo!

“Lee Donghae-ssi!” pekik Myungsoo dalam hati. Tamatlah riwayatnya kali ini. Ia tertangkap basah sedang berkunjung ke kantor perusahaan keluarga Lee yang merupakan saingan terberat ayahnya.

“Oh, maaf. Aku… datang ke sini untuk mencari Lee Ahreum. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan secara langsung pada adikmu. Apakah dia ada di sini?” Myungsoo berusaha sesopan mungkin agar Donghae tidak tersinggung atau marah dengan pemilihan kata darinya.

Lee Donghae tidak segera menjawab pertanyaan Myungsoo. Ia malah memperhatikan detail pakaian yang dikenakan oleh namja imut bermarga Kim itu dan membuat Myungsoo salah tingkah karena dipandang seperti itu oleh Donghae.
“Ahreum sedang ada acara bersama tunangannya,” jawab Donghae cukup panjang.

Myungsoo membelalakkan kedua mata sipitnya. “Apa? Tunangan? Jadi, apa yang ia katakan kemarin memang benar?”
“Apa maksudmu?” tanya Donghae bingung, padahal Myungsoo bertanya pada dirinya sendiri. “Ahreum sedang berbelanja bersama Yixing. Kau pasti mengenal Yixing, kan?” tanya Donghae yang merasa yakin sekali bahwa Myungsoo mengenal Yixing, calon adik iparnya.

“Ah, iya. Tentu saja aku mengenalnya. Tapi… sejak kapan mereka bersama-sama seperti itu?” tanya Myungsoo lagi. Namja itu akan terus bertanya jika ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
Donghae tersenyum tipis. “Tentu karena mereka berdua dijodohkan.”
***

Yixing dan Jiyeon tengah asyik duduk di sebuah bangku kayu – panjang, di depan toko buku. Mereka berdua memegang es krim masing-masing. Sungguh suatu momen yang dinantikan oleh Jiyeon.
“Oppa, dulu kita sering main ke tempat ini.” Jiyeon berusaha memancing ingatan Yixing akan masa lalu dengannya.

“Oh ya?”
Deg!
Jiyeon bertanya-tanya dalam hati, kenapa Yixing menjawabnya seakan ia tidak tahu apa-apa? Ia memutuskan untuk diam saja tanpa membahas janji 8 tahun yang lalu. Yang diinginkannya adalah Yixing mengingat semua yang ia ucapkan dulu.

Tap tap tap!
“Park Jiyeon?”
Lee Ahreum datang tak diundang dan membuat Jiyeon sedikit kaget. Kehadiran gadis itu menghilangkan senyum Yixing secara tiba-tiba.

“Oh, Ahreum-a… kau juga ada di sini?” tanya Jiyeon berbasa-basi. Ia merasa kesal pada sahabat kecilnya itu. Ahreum telah mengatakan sesuatu yang tak sesuai kenyataan. Kata-kta Ahreum sempat menyurutkan semangat Jiyeon dalam pencariannya ke sana kemari untuk menemukan sang pujaan hati. Jiyeon menatap Ahreum tajam. Ia ingin mendengar permintaan maaf dari mulut Ahreum atas kebohongannya. Namun nampaknya Ahreum tak dapat membaca mimik muka Jiyeon.

“Ah, iya. Aku… baru saja belanja. Kau… sedang apa di sini?” tanya Ahreum balik. Ia tidak rela melihat Yixing berbincang dengan Jiyeon yang notabennya adalah pemuja namja itu.

Jiyeon memaksakan senyumnya. “Aku hanya mengobrol dengan Yixing oppa,” jawabnya singkat.
Ahreum menganggukkan kepalanya pelan kemudian ia pamit pulang karena kakaknya sudah menunggu untuk rapat di kantor.
“Hati-hati, Ahreum-a,” ucap Yixing datar.

Lee Ahreum hanya menggerakkan kepalanya naik-turun. Beberapa detik kemudian, Ahreum beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju halte bus.
“Untung saja…” lirih Yixing sambil mengelus dada. Setidaknya, sore ini ia terbebas dari gangguan Lee Ahreum.

Sepeninggal Lee Ahreum di taman kota, Yixing dan Jiyeon melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terpotong beberapa menit.

Yixing menatap kosong pada sebuah pohon rindang yang berjarak 20 meter dari tempat duduknya. “Kau benar-benar kembali, Jiyeon-a…. Aku benar-benar tidak menyangka,” kata Yixing yang tengah memanjakan bola matanya menatap wajah cantik Jiyeon.

“Oppa,” panggil Jiyeon yang mengecilkan suaranya karena hari semakin sore.
Yixing menoleh ke arahnya dan tatapan mata mereka saling terjebak canggung. “Eh, iya. Ada apa?” tanya Yixing.
Jiyeon menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan nan teratur.
“Ada apa, Jiyeon-a?” tanya Yixing tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Park Jiyeon. Nampak jelas dari raut wajah Yixing kalau dirinya tengah merindukan gadis yang duduk di sampingnya.

“TIdak apa-apa, Oppa. Aku hanya ingin mengatakan kalau… aku sangat merindukan oppa. Ini seperti mimpi, Oppa. Aku sungguh tidak menyangka telah bertemu denganmu.”
***

Pukul sebelas malam, Yixing pulang ke apartemennya yang diisi tiga orang; dirinya, Myungsoo, dan Sunggyu.
“Kenapa baru pulang?” tanya Sunggyu pada Yixing.
Langkah berat Yixing dalam kantuk yang bersarang di kelopak matanya, membuat dirinya mengabaikan pertanyaan Sunggyu begitu saja. Myungsoo melihat namja keturunan Cina itu seraya menggelengkan kepalanya.

“Hei, Zhang Yixing! Sunggyu hyung bertanya padamu. Kau mengabaikannya lagi? Ini sudah berapa kali kau mengabaikan orang yang lebih tua darimu?” Myungsoo tersulut amarah. Dia masih dapat mengingat dengan jelas bahwasanya temannya itu telah bertunangan dengan Lee Ahreum. “Berhenti di situ!” bentak Myungsoo makin kesal karena Yixing seakan tak mendengarkannya.
Myungsoo bangkit dari duduknya dan melangkah cepat, menyusul Yixing yang sebentar lagi berbelok menuju kamarnya.
Tap!
Myungsoo menahan Yixing melangkah lebih jauh dengan menarik tangannya. “Berhenti!”

Yixing mengerutkan kedua alis hitamnya. “Ada apa? Tampaknya kau sedang marah.”
“Ya, aku marah padamu,” jawab Myungsoo terus terang. Ia tidak ingin menutup-nutupi sesuatu yang menggusik pikirannya.
Yixing bingung. Kantuk yang menyerangnya seakan telah kabur tanpa meninggalkan bekas sehingga ia dapat berdiri dengan tegak dan kedua matanya terbuka lebar. “Kau… ada masalah apa? Apa yang membuatmu marah padaku?” Yixing menanggapi Myungsoo dengan serius.

Myungsoo geram melihat ekspresi Yixing yang seolah tidak tahu penyebab dirinya marah.
“Katakan! Apa yang membuatmu marah padaku? Kenapa, eoh?” tanya Yixing lagi.
“Aku marah padamu karena kau adalah Zhang Yixing, seorang namja pengecut yang berani membuat seorang gadis terombang-ambing dalam hubungan yang tidak jelas.”

“Apa maksudmu?” Yixing benar-benar tidak tahu maksud pembicaraannya dengan Myungsoo. Apa yang sedang dibicarakan Myungsoo? Bahkan ia mengira kalau Myungsoo berada dalam pengaruh alkohol.

“Aku tahu kau sudah bertunangan dengan Lee Ahreum. Lalu apa yang akan kau lakukan pada Jiyeon? Kau memberikan harapan palsu padanya. Namja macam apa kau ini, hah?” Myungsoo tak dapat menahan emosinya.

Deg!
Yixing merasakan sebuah pukulan terberat yang membuat relung hatinya sakit. “Jadi… kau sudah mengetahuinya?”
“Kenapa? Kau takut kalau aku akan mengatakannya pada Jiyeon? Apa yang akan terjadi pada gadis itu jika ia mengetahui hal yang sebenarnya? Hei Zhang Yixing! Park Jiyeon kembali ke Korea karena janji kalian 8 tahun silam. Kau lupa? Ia kembali hanya untukmu!”

Langit seakan runtuh begitu saja dan menimpa diri Yixing yang masih tidak sadar kalau Jiyeon masih mengharapkannya menepati janjinya. Rasa bersalah pun menghantui Yixing. Namja itu bersandar pada dinding, kedua kakinya serasa tak mampu menopang tubuhnya lebih lama. “Park Jiyeon?”

“Kenapa? Kau lupa padanya? Kau telah melupakannya sementara Jiyeon mengingat namamu dan janji palsumu 8 tahun yang lalu.”

Yixing menggeleng beberapa kali. “Tidak, aku tidak lupa tentang janji itu. Setiap hari aku mengingatnya, tapi….”

“Tapi apa? Aku bertanya padamu, apa yang akan kau lakukan pada Jiyeon? Kau ingin menyakitinya dengan sebuah kebohongan yang sudah pasti akan menyakitinya?” Myungsoo terus menerus menyerang Yixing dengan pertanyaan berat hingga membuat Yixing kebingungan menjawabnya.

“Aku… tidak bisa menepati janji itu,” kata Yixing.
Boom!
Brak!
Sebuah pukulan menghantam pipi kiri Yixing hingga membaut namja itu jatuh tersungkur di lantai. Sementara itu, Sunggyu yang sedari tadi menonton acara kuis di TV, berlari untuk melerai dua rekannya yang tengah beradu mulut.

“Katakan lagi, Zhang Yixing! Katakan kalau kau tidak bisa menepati janji itu!” teriak Myungsoo. wajahnya merah padam dan tangannya mengepal, siap meluncurkan pukulan di wajah Yixing untuk kedua kalinya.

“Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa terhadap Jiyeon. Aku… tidak bisa menepati janji itu karena….”
“Apa? Katakan! Jangan bertele-tele!”
Yixing menatap Myungsoo yang berdiri di depannya. Sedangkan dirinya terkapar di atas lantai dengan luka lebam di pipi kirinya dan bibirnya sedikit pecah. Pukulan Myungsoo benar-benar kuat.
“Karena Ahreum cinta mati padaku. Apa yang harus aku lakukan? Jika aku meninggalkan Ahreum, dia akan bunuh diri.”
Myungsoo membuka kedua mata sipitnya lebar-lebar. “Apa?”

Advertisements

9 thoughts on “[Vignette] Back To Me #2

  1. Aduh ahreum pura2 baik trus ngasih kbr palsu ternyata karna dia cinta mati sm yixing trus kalo g mau dia bkl bnuh diri……kasian jg yixing kalo gitu serba salh yixing jgn sampai terjebk dalm hubngn tanpa cinta itu menyakitkn pegang kembali janjimu sm jiyeon oke….kkk

    Like

  2. Jadi kunci dari permasalahan ini adalah Lee Ahreum.
    Tapi aku benci ketika ada seseorang yang tidak berani jujur ataupun terbuka tentang suatu hal yang menyangkut hubungan kedua belah pihak. Akan sangat menyakitkan ketika kita mengetahuinya dari orang lain

    Like

  3. ternyata ahreum musuh dalam selimut,, knp tidak terus ter asa ng dr awal pd jiyeon,, knp ahreum harus bohong tentang lay,, itu akan membuat hati jiyeon bertambah sakit saat mengetahui kebenarannya nanti.

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s