The Village’s Secret Chapter 1 [Comeback to Korea] – HyeKim

wp-1461545178716.jpeg

The Village’s Secret [Chapter 1]

└ Subtile : Comeback to Korea ┘

A Fanfiction Written by :

HyeKim

 Starring With :

-Girls’ Generation Yoona as Im Yoona

-Super Junior Siwon as Choi Siwon

-Ladies Code Sojung as Lee Sojung

-Girls’ Generation Seohyun as Lee Seohyun

-EXO Sehun as Lee Sehun

Genre : Mystery, Horror, Crime, Romance, AU || Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 || Inpiration : Korean Drama The Village : Achiara’s Secret

Summary : Im Yoona baru saja datang di Achiara setelah 21 tahun lamanya tinggal di Amerika. Tinggal di desa tersebut bukannya menciptakan kedamaian, tapi Yoona malahan menemukan sebuah mayat mesterius. Dibantu oleh Choi Siwon, Yoona berusaha mengungkapkan pembunuhan pelik tersebut serta rahasia terkait dengan Desa Achiara

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, angency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission

“Achiara memang penuh kejutan,”

HAPPY READING

HyeKim ©2016

PREVIOUS :

TEASER+FOREWORD+PREVIEW+PROLOG || (NOW) Chapter 1 [Comeback to Korea]

Bulir-bulir kristal tersebut tampak belum lelah meski sudah bersekon-sekon lamanya ditumpahkan oleh gumpalan awan dilangit. Langit yang bersedih belum juga mau menunjukan seulas senyuman. Setetes air hujan tampak hinggap di payung bening tersebut dan diwaktu yang akan datang tetesan tersebut jatuh ke atas aspal dingin yang  becek oleh genangan air hujan. Im Yoona. Nama gadis yang menghela napas dan menimbulkan efek asap keluar dari mulutnya, hanya mengeluh kala hujan lah yang menyambut kedatangannya ke Korea setelah 21 tahun lamanya tak memijakan kaki di tempat pertama kali dirinya melihat indahnya dunia.

Digeretnya kaki jenjang milik Yoona menuju sebuah bus yang sudah dipastikan menuju jurusan Gangwon-do, tak mau kedahului, langkah ekstra pun diambil Yoona menuju kursi ketiga sebelum akhir. Dibantingnya bokongnya ke atas besi dingin berbentuk kursi tersebut. Perlahan roda bus mulai bergesekan dengan aspal, menimbulkan muncratan air kala dengan tidak santainya membelai kolam kecil dadakan tersebut.

Yoona hanya mengalihkan intensi pada buliran air hujan yang sekedar menjamah jendela bus. Seulas senyum disunggingkan gadis Im tersebut, keseperkian menitnya, Yoona menarik secarik kertas dari tas berludru coklatnya.

“Achiara…” bibir berlapis lipstick merah marun itu mengeluarkan suara, sekon yang datang Yoona mengangguk mantap masih dengan fokus kepada surat yang terdapat bercak merah-darah.

**

“Ummaa…., Appa…”

Suara tangisan itu pilu. Sangat pilu memecahkan malam yang kian larut. Ledakan terdengar. Menyadarkan gadis kecil tersebut bahwa 2 orang terkasihnya sudah tidak lagi berpijak di dunia yang sama dengannya.

.

.

.

 

“Nona… bangun,” Yoona tersentak dan langsung ditarik dari alam bawah sadarnya. Seorang gadis yang tadi berbaik hati mau membangunkannya hanya tersenyum, lantas berujar. “Kita sudah sampai di Achiara dari 30 menit yang lalu. Bus ini ingin kembali ke pangkalan, anda bisa turun di sini.”

“Terimakasih,” ucap Yoona saat mengedarkan pandangan ke sudut bus yang hanya ada dirinya dan gadis yang membangunkannya. Gadis tersebut pun berlalu meninggalkan Yoona yang mulai sibuk turun sambil mengeret kopernya.

Angin malam menusuk kulit putih bersih Yoona kala dirinya turun dari bus. Wanita berusia 26 tahun itu lagi-lagi menghela napas, dirinya barusan bermimpi kejadian 21 tahun silam disaat kecelakaan yang menimpa keluarga harmonisnya. Berusaha diabaikan oleh Yoona tentang mimpi buruk masa lalunya tersebut, dirinya sudah kembali sibuk menggeret koper dan berjalan menuju pusat desa.

Diliriknya arloji yang bertengger manis ditangan kirinya. Jarum jam menunjukan pukul setengah 11 malam. Setidaknya belum terlalu larut. Sampai sebuah plang bertulisan Achiara ke arah sebelah kanan terlihat. Senyuman tersungging dibibir tipis Yoona. Langsung saja langkahnya menuju arah tersebut.

**

“Hey! Choi Siwon! Kau ini punya otak atau tidak sih? Masa mengejar maling saja tidak becus?!” gertak Kepala Cha, kepala kepolisian Achiara. Sementara yang digertak hanya menundukan kepala sambil berkomat-kamit tidak jelas. “Belum cukup apa kau membuat kacau kasus pembunuhan serta penggelapan dana di Sungwon. Kau juga ingin menjadi polisi tak berguna di sini?!”

Siwon hanya menghembuskan napas membuat gas karbon yang tertahan didadanya keluar. “Lagipula, Pak Kepala. Kasus di Sungwon itu bukan salahku…” Siwon berujar dengan wajah memelas. “Aku difitnah membuat kesalahan dalam kasus tersebut. Dan juga… maling tadi itu bocah kelaparan jadi aku tidak tega.” Kepala Cha hanya mendengus mendengar dalihan Siwon.

“Bocah katamu?!” seru Kepala Cha. “Bocah mempunyai tinggi anak kuliahan begitu?”

“Anak zaman sekarang itu cepat tumbuh…”

‘Kring!’

Bell di atas pintu masuk kantor polisi terdengar, menyatakan adanya orang yang datang. Hal tersebut membuat dalihan Siwon terpotong dan intensi kedua petugas polisi tersebut teralih pada sosok Yoona yang tengah celingukan di dalam kantor polisi. Wanita itu pun akhirnya tersenyum kala bertatapan dengan Siwon serta Kepala Cha. Kedua pria tersebut melakukan timbal balik yang sama.

Anu, aku ingin bertanya…” Yoona tampak mambalikan lembaran buku sakunya. “Rumah sewa ddaehangnum, di dekat mana ya?” tanyanya sambil tersenyum malu.

“Ah, pendatang baru ternyata,” ujar Kepala Cha dan Yoona hanya mengangguk. “Tinggal anda mengambil jalan lurus saja, kemudian ada persimpangan ke kiri dan nanti ada bangunan berupa rumah susun minimalis. Itu lah tempat yang anda cari, Nona.”

Yoona mengangguk mengerti, kemudian berkata disertai senyum bidadarinya. “Terimakasih Tuan Polisi. Selamat malam.” setelah itu Yoona undur diri menuju tempat yang diarahkan Kepala Cha tadi.

Semenjak tadi seorang Choi Siwon hanya bergeming dengan mulut membentuk huruf o kala melihat sosok Yoona. Dirinya takjub akan kecantikan gadis tersebut. “Hey! Kau ini kenapa?!” gertak kepala Cha sambil menggebrak meja di dekatnya. Hal tersebut berhasil membuat Siwon tersentak dan menggaruk belakang kepalanya.

“Tidak ada…” ucapnya sambil menunduk malu.

**

Mentari menyambut pagi di hari pertama Yoona bekerja. Wanita itu sudah berkulat di dapur dari pagi-pagi sekali. Dirinya harus terbiasa memasak sendiri mulai saat ini. Karena selama tinggal di Virginia, mendiang bibinya lah yang selalu membuatkannya makanan. Yoona mengambil roti bakar dari alat pemanggang roti dan menaruhnya ke piring. Setelah itu dirinya duduk manis sambil menyantap sarapan paginya.

“Hari pertama kerja, semangat!” gumam Yoona setelah menelan habis sarapannya dan siap untuk memulai lembaran baru di hari ini.

Dibukanya pintu berlempeng besi tersebut dan langkah kaki Yoona pun mulai tercipta. Sejauh mata memandang pun, Desa Achiara tergolong damai, asri, dan sangat nyaman. Pagi ini ditemani oleh kicauan burung, dan para penduduk yang bersepedah untuk menempuh perjalanan ke kantor dan sekolah. Yoona memulai harinya dengan senyuman hangat sambil sesekali menyapa orang yang lewat. Benar-benar desa yang ideal untuk tinggal melihat dari keramahan penduduknya.

“SEOHYUN NOONA!” teriakan lengking khas murid SMP terdengar.

Saat baru saja Yoona membalikan badan ke belakang, alat bicaranya begitupula pupilnya melebar saat kendaraan tanpa mesin berwarna merah jambu itu melesat kencang ke arahnya. Dan seperti yang otak Yoona prediksikan, tabrakan antara sepedah yang dikemudikan anak gadis berkuncir satu tersebut dan tubuh ramping Yoona terjadi. Menciptakan suara ‘brak!’ yang tidak terlalu cukup keras.

Yoona yang duduk jatuh di aspal dingin tersebut langsung memeriksa tubuhnya, tidak lucu bila hari pertamanya mengajar tercipta luka ditubuhnya dan membuat penampilannya hari ini kacau di hadapan para calon muridnya.

“Berdarah…” gumaman gadis SMP tadi menyentil kedua gendang telinga Yoona, intensinya pun langsung teralih pada gadis yang tertera nama ‘Lee Seohyun’ di almemater sekolahnya yang berwarna biru dongker. Pandangannya terarah pada lututnya yang mengeluarkan cairan pekat walau hanya setitik.

Baru saja Yoona mau buka mulut, pria yang sebaya dengan Lee Seohyun tadi datang menghampiri keduanya sambil terengah-engah lantaran berlari. “Seohyun! Kan sudah kubilang jangan ngebut! Aku tertinggal di belakangmu karena sepedahku masih bermalam di bengkel.” gerutunya membuat Seohyun mendelik padanya.

“Hey! Lee Sehun ingusan! Panggil aku noona,” gertak Seohyun pada lelaki bernama lengkap Lee Sehun tersebut. Yoona hanya menjadi penonton melihat keduanya berargumen.

“Habis ya, kamu ini menyebalkan sekali…” ucap Sehun sambil berkacak pinggang. “Lagipula kamu ini hanya beda 7 menit denganku, tak usah dipanggil noona,”

“Lebih tepatnya kamu memanggilku noona saat ada perlunya saja,”

Sehun ingin mengucapkan satu frasa lagi hingga sebuah suara gemulai dengan nada ragu menyerobotnya. “Eh… maaf meganggu pertengkaran kalian yang sepertinya kembar, ya?”

Dua saudara Lee itu menengok pada Yoona yang tersenyum risih. “Kembar fraternal lebih tepatnya,” koreksi keduanya.

“Ya, aku…─”

“Kau penduduk baru?” entah Seohyun yang sudah menginjak kelas 3 SMP ini diajari sopan santun atau tidak, dirinya memotong frasa yang ingin Yoona lafalkan, irisnya membinarkan ketakutan dan serasa pekat menatap wanita yang lama singgah di Virginia tersebut.

Walau terbesit perasaan tak suka karena ucapannya dipotong oleh gadis tersebut, Yoona mengangguk meski tak mengerti kenapa Seohyun menatapnya seakan dirinya memancarkan aura yang berbeda.

“Kau… tak seharusnya di sini,” kata Seohyun yang dalam sekali hentakan berdiri dan menyeret sepedahnya dengan langkah lebar. Meninggalkan Yoona yang mengerjap heran.

“Maafkan aku, Nona. Kakakku memang seperti itu. Dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat,” Sehun berujar dengan nada tak enak. Lelaki tersebut membungkuk dan berlari menghampiri Seohyun sambil meneriakan namanya.

“Sesuatu yang tak bisa kita lihat?” gumam Yoona mengulang ucapan Sehun barusan.

**

Setelah menetralkan dirinya seusai bertemu kembar fraternal keluarga Lee, Yoona pun berangkat ke tempat kerjanya. Untung dirinya hadir sebelum 5 menit bell berdentang. Paras ayunya itu ingin dikemanakan bila dirinya tak konsisten masuk ke tempat dirinya untuk mencari nafkah selama di Korea. Yoona yang lulus dari fakultas sastra, memilih mengajar di SMP serta SMA Haewon sebagai guru Bahasa Inggris dan Perancis. Setelah melakukan konsultasi di ruang Kepala Sekolah. Yoona diantarkan oleh seorang rekan kerjanya ke kelas 9-9 yang berada di lantai 5.

“Harap maklum bila anak-anak bersikap tak layak. Mereka sering begitu pada guru baru.” Sunmi, yang merupakan rekan Yoona yang berjalan beberapa jengkal di hadapannya, berujar sambil tersenyum penuh arti pada Yoona yang mendadak jadi gugup.

“Maksud anda mereka sering membully guru baru?” satu pertanyaan diajukan oleh Yoona. Sunmi hanya tersenyum sekenanya dan terfokus kembali ke depan.

“Ya, mungkin. Saya kurang tahu akan hal itu, Yoona-ssi. Mereka merindukan sosok guru kesenian itu. Jadi bertingkah semaunya bila ada guru baru. Tapi tenang, tidak semuanya seperti itu,” Yoona hanya mengerutkan kening bingung. Guru kesenian? Merindukan? “Kita sudah sampai, say hello to your pupils, Miss.” Sunmi berkata dan menyingkir ke samping di hadapan pintu bercat coklat tua yang terdapat di atasnya plang yang menampakan angka 9-9.

Yoona meneguk salivanya terlebih dahulu, lalu melangkah masuk. Setelah dirinya mampu berpijak di depan kelas dengan memasang ekpresi tersenyum. Calon murid-muridnya berbisik-bisik mengomentari guru baru mereka.

“Perkenalkan dirimu,” bisik Sunmi dari ambang pintu namun gendang telinga Yoona masih bisa menangkapnya.

Hello everyone, how are you? I think all of you are fine, right? First, let me introduce my self. My name is Im Yoona, you can call me Miss Yoona. I was lived in Virginia, USA for 21 years. So long right? I’m your new English’s teacher. I hope we can get along together,” Yoona mengenalkan diri dengan aksen dan bahasa yang sangat balance.

Para murid memandangnya takjub sambil mengangguk. Entah mungkin sebagian dari mereka tak mengerti apa yang dilafalkan guru baru tersebut. “So we can start study today. Open your book page fourty nine. If anyone of you who want read this paragraph. Please raise your hand!”

Salah seorang murid perempuan mengangkat tangan. Yoona langsung menunjuknya. “Okay you, what’s ur name little miss?” tanya Yoona dengan senyuman hangatnya.

“Kim Namjoo, Miss.” jawabnya dengan malu-malu.

Okay, Namjoo, you read the first paragraph, and you the boy who sit in the corner. You read the second paragraph. And then…” Yoona mulai menujuk para muridnya dan memandang sekitar.

Hingga netranya menangkap suatu objek di barisan paling belakang tepat di jajaran duduk tengah-tengah. Napas Yoona tercekat ketika dua kelereng hitamnya bersibobrok dengan dua iris yang menatapnya tajam tersebut.

“Lee Seohyun…” bibir manisnya melafalkan nama tersebut diiringi napas memburu. Murid yang lain saling pandang dan menatap bergantian Yoona serta Seohyun sambil keheranan.

Yes Miss, I will read the third paragraph.” Seohyun dengan gerakan santainya membuka buku Bahasa Inggris miliknya dan menelisik ke halaman yang dituju, kemudian larut ke bagian yang akan dia baca nanti.

Yoona menetralkan  napasnya dan dirinya teringat oleh ucapan Sehun. Bahwa Seohyun dapat melihat sesuatu yang tak bisa orang normal lihat. Irisnyapun terangkat kembali, menelisik liar ke seluruh penjuru kelas. Berharap menemukan sesuatu. Ya, tampak di sana. Di barisan paling belakang tepat di ujung dekat jendela. Lee Sehun duduk sambil menolehkan kepalanya ke arah jendela sambil tersenyum. Kedua anak kembar itu ada di sini.

**

Lempengan besi itu berdetang menerobos masuk ke gendang telinga. Walau sangat bising, bell pulang tersebut disambut meriah oleh para murid yang sudah sangat tidak punya energi untuk kembali belajar. Para langkah kaki berserobotan keluar dari bangunan megah tersebut.

“Lee Seohyun!” suara seorang gadis bername tag Kwon Nara tersebut menepuk bahu gadis yang sedang berjalan sambil melamun.

Eh? Kak Nara?” seru Seohyun terkejut melihat Nara yang merupakan anak kelas 1 SMA Haewon.

Berhubung SMP serta SMA Haewon dekat dan terdapat jembatan penghubung. Banyak sekali anak SMP serta SMA yang kenal dengan akrab. Kwon Nara dan Lee Seohyun contohnya. Nara pun merangkul Seohyun sambil tersenyum riang.

“Pulang bareng, seperti biasa,” ucap Nara dan Seohyun hanya mengangguk karena biasanya di hari Rabu seperti sekarang, Sehun mengambil kegiatan ekstra dengan masuk klub basket Haewon.

“Seohyun-ah,” belum juga mereka menapakan kaki sampai keluar perkarangan sekolah, Nara kembali bergumam. Seohyun hendak menjawab saat mendongak menatap Nara, namun netranya mendapatkan fakta Nara memandangi suatu objek.

Ditolehkan oleh Seohyun kepalanya pada objek yang menjadi fokus kakak kelasnya tersebut. Sebuah punggung ramping yang pemiliknya sedang tersenyum sambil menyapa beberapa anak murid.

“Guru itu berasal dari Virginia. Dia peganti Sojung saem loh. Tapi kenapa aku merasa akan ada sesuatu hal buruk saat dirinya datang?” ujar Nara menatap lekat punggung Yoona. Seohyun melakukan hal yang sama.

“Aku tidak ingin berkomentar,” ucap Seohyun sambil menampilkan tatapan tajam pada punggung itu. “Dwasseo, kajja (sudahlah, ayo). Lebih baik kita pulang, unni.” Seohyun tersenyum yang sedikit terlihat keterpaksaan disana. Namun Nara tak mau melayangkan komentar. Keduanya pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda tadi.

**

Malam pun akhirnya menyapa. Rembulan dan bintang hanya menjadi pencahayaan minim di malam hari. Angin malam menusuk kulit ditambah hujan deras yang beriringan. Im Yoona tampak berlari ditemani payung beningnya sampai ke sebuah toko roti. Dibiarkan dirinya berteduh di dalam bangunan tersebut dengan bau semerbak roti menusuk hidung.

“Selamat datang.” sapaan hangat seorang gadis diterima oleh Yoona yang sedang menutup payungnya.

“Aku ingin roti coklat yang ini,” Yoona pun menunjuk satu roti yang tersedia di etalase, setelah sedikit mengeringkan badan dan berjalan mendekat. Gadis tadi mengambil roti yang dimaksud dan memberikannya pada Yoona.

“Kau pendatang baru, ya? Si Guru peganti gadis yang sudah lama hilang itu.” ucapnya dengan nada menyelidik. Yoona mendongak dan menatap mata gadis yang seakan melayangkan sinar laser. “Achiara itu sangat kecil dan sempit. Bahkan mungkin tidak ada seperempatnya dari Seoul. Berita cepat melebar dengan luasnya. Harap mengerti saja, Nona…” gadis tersebut megantungkan kalimatnya.

“Im Yoona,” jawab Yoona dengan nada dibuat tenang walau nyatanya hatinya begitu risih.

“Im Yoona, namaku Choi Bina,” ujar Bina dengan senyum ramahnya yang setidaknya membuat Yoona tidak gugup seperti barusan. “Sudah jam 9 kurang, aku harus bersiap tutup. Dan hati-hati, tepat jam 9 pas di malam kamis yang berhujan. Selalu terjadi pembunuhan di dearah jalan ddaehangnum.” Bina berkata seraya melihat jam dinding.

Yoona seketika berkeringat dingin mendengarnya, mengingat jalan yang disebutkan itu tepat di mana rumah sewanya berada. Dilayangkan pandangannya pada jam yang bertengger di sebelah kanan. Jarumnya berdetak membuat pacuan jantung Yoona berdetak makin kencang. “Kadang juga terjadi di jalan dekat hutan…” Bina berbeo kembali.

“Ini bayarannya, terimakasih.” Yoona menaruh secarik uang di atas meja kasir dan langsung melesat pergi. Sepeninggalannya, Bina hanya menatap punggung Yoona dengan seulas senyum.

**

Petir, angin, dan derasnya hujan menjadi teman untuk perjalanan Yoona pulang. Dieratkan pegangannya pada payungnya yang hampir beberapa kali terbawa angin. Desa Achiara memang terlihat tenang, namun dibalik ketenangan itu Yoona menemukan fakta bahwa desa ini penuh misteri saat dirinya datang.

‘CLASH!’

Sebuah sepedah berjalan tak santai melewati Yoona. Membuat tubuhnya basah karena cipratan air. Dilayangkan pandangannya pada pengemudi sepedah yang membuat tubuhnya tambah mengigil.

“Seohyun…” gumam Yoona pelan saat mendapati gadis yang bersikap aneh padanya itu menatapnya dengan mata menyala dari kursi sepedahnya.

“Kau… kau adalah penghubung segalanya,” ucap Seohyun dengan tatapan mata tajam, Yoona balas menatapnya dengan takut serta saliva yang tertelan masuk kekerongkongan.

Hingga…

Hal yang tak terduga terjadi…

Sosok Seohyun berubah menjadi sosok wanita berwajah hancur dengan mulut yang memiliki sobekan yang sangat lebar. Mata kiri yang bolong serta mata kanan yang melotot mengeluarkan darah.

KYAA!” Yoona menjerit ketika sosok itu melayang dan menerkamnya.

.

.

.

“Nona…”

Yoona tersentak dan terbangun ketika sebuah suara terdengar. Matanya bergerak liar memastikan di mana dirinya saat ini. Sebuah halte. Matanya mengerjap dan mendapati seorang lelaki tampan yang membangunkannya dari mimpi buruknya tadi, tengah tersenyum. Hujan sudah berhenti membuat malam tak begitu dingin.

“Anda tertidur di halte, tidak bagus malam-malam sekitar pukul 9 di malam kamis berkeliaran,” ucap lelaki tersebut. Yoona tampak kikuk dan membenarkan posisi duduknya, sementara lelaki barusan duduk di sebelahnya. “Perkenalkan namaku Choi Siwon. Aku salah satu polisi yang kau lihat di malam saat kau datang.” Siwon mengenalkan diri sambil menoleh pada Yoona.

Yoona tersenyum yang membuat debaran terjadi pada jantung Siwon. “Aku Im Yoona. Dan ya aku ingat, kau yang bengong saat melihatku itu kan?” ucap Yoona sambil menahan tawa apalagi saat Siwon salah tingkah.

“Ehehehe, begitulah,” ucap polisi tersebut sambil menggaruk belakang kepalanya. “Kenapa dirimu bisa tertidur di sini?” Siwon mengganti topik. Yoona tampak diam untuk mengingatnya, bunga tidurnya barusan masih jelas teringat dan terasa amat nyata.

“Seingatku, aku baru dari toko roti dan berjalan menuju appartemenku. Karena hujan makin deras, aku memutuskan berteduh dan menemukan halte ini. Dan ya, karena terlalu lelah mungkin, aku terlelap di sini.”

Siwon mengangguk sambil membentuk huruf o pada mulutnya. “Lebih baik kau kuantar pulang, sudah mau pukul setengah 10.” Siwon menawarkan diri.

“Tidak usah, itu merepotkan.” Yoona menolaknya halus dan langsung berdiri. “Lagipula dilihat dari seragam yang kau pakai. Kau pasti sedang berpatroli malam hari. Lebih baik satu nyawa melayang daripada beribu nyawa melayang,” ucap Yoona membuat Siwon melihat seragam yang dikenakannya dan tersadar sebenarnya dia sedang berkerja saat ini.

Ah… baiklah kalau begitu, selamat malam Nona Im dan hati-hati di jalan,”

Yoona berpamitan dan mulai berjalan menjauh. Rute yang diambilnya adalah jalan pintas. Dirinya berusaha membuka mata lebar karena pencahayaan jalur pintas tersebut sangat minim. Hingga, perasaan tak enak menyelubungi gadis Im tersebut ditambah suara-suara aneh yang berdengung masuk ke alat pendengarannya. Langkah kakinya pun dihentikan oleh Yoona. Perlahan dengan jantung berdebar, ditolehkan kepalanya ke belakang.

“Seperti ada yang mengikutiku… tapi siapa?” gumam Yoona, berusaha menampik hal negatif yang mulai masuk kebenaknya. Yoona menggeleng dan kembali berjalan.

Hingga, sebuah suara menyentil kuat lagi kedua inderanya yang berfungsi untuk mendengar.

‘KLAK!’

Sebuah suara kaki menginjak ranting pohon. Terdengar amat sangat jelas. Yoona membalikan tubuhnya dan memandang ke sekitar dengan mata menyala-nyala.

Yak! Siapa di sana?” seru Yoona takut-takut.

‘Wus!’

Sekelebat bayangan lewat tepat di hadapannya, di balik pepohonan rindang. Seorang entah wanita atau pria sedang berlari dengan bisingnya di sekitar Yoona. Dieratkan oleh Yoona pegangannya pada payung serta bungkus rotinya.

“… selalu terjadi pembunuhan di dearah jalan ddaehangnum. Kadang juga terjadi di jalan dekat hutan…”

Perkataan Choi Bina kembali terekam diotak Yoona. Merasa hal itu mungkin terjadi padanya, Yoona pun mengambil ancang-ancang lari. Hingga sosok itu muncul di balik pepohonan pinus dan mata tajam itu menatap Yoona seakan menghunus. Yoona meneguk ludah dan langsung berlari kala itu.

“Hah! Hah!” Yoona merasakan napasnya tersenggal-senggal namun tetap dipaksakan berlari. Sesekali dirinya menengok ke belakang memastikan sosok berjubah hitam tadi mengikutinya atau tidak.

“Aaa!” Yoona berteriak kala tersandung batu.

Takut masih diikuti sosok tersebut. Yoona mengambil kayu yang kebetulan ada di sisi jalan. Dirinya berdiri dan bersikap siaga dengan kayu yang menjadi senjatanya tepat digenggaman kedua tangannya. Namun… sepeluh menit menunggu, sosok tersebut hilang seperti terbawa hiruk pikuk malam yang mencengkam ini. Perlahan Yoona menurunkan kayu tersebut dan mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.

“Achiara memang penuh kejutan,” ujarnya yang kemudian melanjutkan perjalanan pulang.

**

Hari ini, SMP dan SMA Haewon melakukan acara belajar di alam, tepatnya di daerah dekat Hutan Achiara. Yoona pun tampak duduk bersila di atas rerumputan dengan murid kelas 2 SMA yang dimana dirinya berprofesi sebagai guru Bahasa Prancis.

Professeur (ibu guru) akan memberikan kalian tugas untuk menuliskan dalam Bahasa Prancis laporan kegiatan belajar di luar hari ini,” ucap Yoona. Dan dilihat para muridnya ada yang tampak bersemangat, adapula yang mendesah malas dan juga terlihat tak peduli.

Bon, maintenant (baiklah, sekarang). Professeur akan mendikte bahasa Prancis yang Ibu lihat di sini dan kalian menuliskan terjemahannya,” Yoona berucap sambil mulai memandang sekitar. Anak muridnya mulai fokus dengan alat tulis dan buku serta pendengarannya.

Fleur[1],”

Yoona mulai berucap, para muridnya pun langsung menulis terjemahannya.

Maison[2],”

Yoona tersenyum sambil menatap anak didiknya yang tampak berpikir dan sebagian langsung menuliskan jawabannya.

Arbe[3],” Yoona menelisik lagi untuk menemukan objek yang lain untuk dirinya lafalkan dalam Bahasa Prancis.

“Hey! Anak tengik! Jangan lari kau!” hingga sebuah suara membuat konsentrasi Yoona terbagi.

Gadis yang merupakan guru Perancis itu menoleh dan melihat bapak-bapak yang memegang jabatan sebagai guru biologi sedang terengah-engah karena habis berlari. Park Jungsoo, kalau Yoona tak salah ingat nama guru tersebut. Jungsoo memegangi lututnya sambil menunjuk-nunjuk hutan. Yoona yang penasaran langsung mengalihkan intensi pada murid-muridnya yang sebagian sudah selesai menuliskan kata yang beberapa sekon lalu diucapkan Yoona.

Attendez une minute (tunggu sebentar), Ibu ingin ke Jungsoo saem dulu.” ucap Yoona sambil berdiri dan membersihkan bajunya lantaran habis duduk di rumput. Beberapa anak ada yang tampak riang karena kalau begitu mereka bebas dengan tidak ada guru.

Yoona menghampiri Jungsoo yang tampak menuliskan sesuatu di buku cetak tebalnya dan menatap tajam Hutan Achiara. “Lihat saja! Sudah kuberi nilai minus dan tanda merah untuk Si Cina Tengik itu!” gerutu lelaki tersebut.

Eummmchogiyo (permisi),” ucap Yoona ragu-ragu dan Jungsoo langsung menoleh padanya dan mengganti ekpresi bengisnya menjadi ekpresi seriang mungkin sambil tersenyum ramah. “Wae gurrae sunbae? (Apa yang terjadi, senior)” tanya Yoona sedikit kikuk. Jungsoo tampak menghela napasnya.

“Itu, anak murid 12-2 yang sangat terobsesi memacari Kim Hyerim, teman sekelasnya. Anak itu pindahan dari Cina bernama Luhan. Dia main menarik Kim Hyerim ke dalam hutan saat aku masih menjelaskan pelajaran untuk kelas 12-2.” Jungsoo tampak memijit pelipisnya dan terlihat sangat frustasi.

“Biar kukejar mereka,” ucap Yoona malayangkan bantuan melihat kondisi fisik Jungsoo yang tak mungkin mengejar keduanya. Jungsoo mengucapkan terimakasih dan menyuruh Yoona untuk berhati-hati.

Gadis bersurai panjang dan diikat satu itu pun berjalan menuju hutan. Menelisik adakah 2 remaja berbeda gander yang memakai seragam SMA Haewon yang tengah dicarinya tersebut. Hingga ekor matanya mendapati objek yang sebenarnya masih agak jauh dari tempatnya berpijak. 2 orang yang sedang dicarinya.

“Itu mereka!” ujar Yoona sambil sedikit berlari.

“Neo micheosseo? (kau gila ya)” seru Hyerim yang main ditarik oleh Luhan sambil menatap lelaki itu tajam. Sementara lelaki tersebut tampak mengisap putung rokoknya dengan nikmat membuat emosi Hyerim makin menjadi-jadi.

Neol bomyeon michigesseo (aku menjadi gila ketika melihatmu),” ungkap Luhan yang mulai mendekatkan badannya pada Hyerim yang mana gadis itu reflek berjalan mundur. “Naega dangsineul eolmamankeum saranghaneunji dangsineun alji motamnida (Betapa besar aku mencintaimu, namun kau tetap tak tahu).”

Luhan sudah memepet Hyerim pada pohon di belakang gadis itu bersender. Wajah Luhan mulai mendekat pada gadis yang selama ini selalu ia inginkan. Napas Hyerim berderu apalagi saat asap rokok yang dikeluarkan dari mulut Luhan menerpa wajah manisnya.

Neo jinjja micheosseo (kau benar-benar gila).” desis Hyerim sambil menatap Luhan tajam. “Neon arra? Sireohaeyo! (kau tahu? Aku membencimu) Neon jinjja geojinmaljaengiya! (kau benar-benar pembohong). “

“Nan jeongmal geudaeman saranghae! (aku benar-benar mencintaimu)”

Hyerim mendelik saat Luhan berujar seperti tadi dan meraih tangannya. “Kau benar-benar sampah dalam hidupku!” ucap Hyerim penuh amarah. “Tteonada (pergi, menjauhlah), jangan jadikan aku mainanmu lagi. Neon jinjja geonbangjida (kau benar-benar kurang hajar), keparat kau Lu…─” umpatan itu terendam kala Luhan dengan seenaknya mencium bibir manis Hyerim, gadis itu membulatkan matanya dan memukul pundak Luhan karena rasa sesak yang diakibatkan sisa asap rokok yang masuk ke mulutnya juga.

Yak! Ni deul! (hey kalian)” seruan lain terdengar.

Yoona tampak terengah sambil membungkuk memegang lututnya dan mengatur napasnya, perjuangan sampai ke sini memang benar-benar butuh titik darah penghabisan. Yoona pun akhirnya mendongak dan menganga melihat adegan yang tak layak dilakukan anak sekolahan. Mata beriris hitamnya berkedip dengan dungunya. Bahkan dirinya belum pernah bercumbu seperti itu.  

Omo! (Ya Tuhan)” pekik Yoona masih dengan tampang tololnya. “Yak! Ije keumanhae! (sekarang berhenti)” Yoona berteriak marah pada akhirnya.

Hyerim yang sadar akan kehadiran Yoona, langsung mendorong Luhan lebih kuat sampai pangutan bibir keduanya terlepas. Hyerim menunduk dalam dan malu akan hal barusan. Sementara Luhan menatap Yoona tajam merasa terganggu. Lelaki itu mengambil sebatang rokok lagi dan menyalahkannya untuk kembali ia nikmati.

Kumyon! (dilarang merokok)” seru Yoona membuat Luhan mendelik tajam.

“Kau ini guru baru berani apa memerintahku?” Luhan melawan sambil menatap Yoona menantang. “Jika kau melarangku, cobalah ambil rokok ini. Ambil!” tantang Luhan membuat Yoona kehilangan kesabarannya.

“Kau ini benar-benar…” desis Yoona.

Luhan hanya tertawa renyah. Merasa diremehkan, Yoona pun melangkah ke depan dan menatapi medan jalur yang harus membawanya ke sebrang, tempat Luhan serta Hyerim berpijak. Terdapat sedikit celah mungkin berupa jurang yang memisahkan tempat Yoona dan 2 remaja tersebut. Wanita berusia 26 tahun tersebut mengangguk mantap dan mulai meloncat. Tapi hal yang tak diinginkan terjadi, tubuh Yoona terpelosok jatuh ke celah berupa jurang tersebut.

“Guru Im!” teriak Hyerim panik.

Yoona tak mampu bersuara bahkan hingga tubuhnya bertabrakan dengan gundukan tanah tersebut. Mata yang semula terpejam lantaran ketakutan, perlahan terbuka dan menemukan fakta dirinya sudah terkapar di bawah celah jurang tadi. Yoona mendongak ke atas dan mendapati pemandangan serberkas cahaya dan beberapa ranting pohon. Terdengar suara Hyerim memanggil-manggil namanya dan juga suara Luhan yang mengatakan ‘Mungkin guru itu sudah mati,’

“Im Yoona selamatkan aku…”

Yoona meneguk ludahnya kala mendengar bisikan halus menyapa telinganya. Ditolehkan kepalanya ke samping kiri yang menurutnya sumber bisikan tadi. Dan… didapatinya sebuah tulang tengkorak yang terbakar habis menyembul dibalik ranting pohon dedaunan serta tanah. Layaknya sebongkah mayat yang terkubur.

Jebal salyeojwo! (tolong selamatkan aku)” suara bisikan itu terdengar kembali diiringi kepala tengkorak yang muncul dari dalam tanah dan membuat mata Yoona hampir mendelik keluar.

AAAAAAAAAAAA!!!!!”

─To Be Countinued─

Glosarium Bahasa Prancis :

Fleur[1] = Bunga

Maison[2] = Rumah

Arbe[3] = Rumput

Hallo! Setelah sekian lama aku luncurin teaser, prolog, preview, forewordnya kemarin. Akhirnya chapter 1nya terbit! HORAYYY YUHUUU!!! Setelah UN SMP menyerang aku pun bisa kelarin chapter 1nya :’) dan btw, aku walau di Spanyol ada pel.Prancis aku gak belajar ini cuman modal google translate LOLOL :LOL: soalnya kalo aku sisipin pel.spanyol yang lebih aku tahu, malah jadi aneh kan kalo Prancis  masih banyak peminatnya sepertinya AHAHAHA. Untuk yang baca lewat PC, sori kalian harus kukerjai sama soundtracknya bahahah biar kerasa horrornya XD dan plss do RCL. Masa kemarin teaser ff ini jadi ff of the week tapi yang komennya krikk krikk-_- aku kecewa kalo begitu
Harap komennya sayang.

-sweet regards, HyeKim-

 

Advertisements

9 thoughts on “The Village’s Secret Chapter 1 [Comeback to Korea] – HyeKim

  1. Udah merinding bacanya. Feel horor nya dapet banget. Banyak banget ya misteri di Achiara bahkan semua orang2 di cerita itu kayak menyimpan misteri tersendiri. Daebak thor buat ceritanya.

    Like

  2. Wah akhirnya…emng bner beda…bgs…tp kdng q agak gak ska pas pmlhn kata yg dipakai agak asing hehhe tp kslrn bgs….lee seohyun n lee sehun kmbr…luhan disini nakal bgt ya….

    Like

    • Iya sudah kubilang kalau sama jadi gak rame 😆

      Eheh maaf dear aku lagi nyoba nulis pemakaian kata yg beda ihiks :’v tapi makasih udah bilang bagus walau absurd ulalalala

      Iyap sehun-seohyun kubuat kembar dan suamiku si luhan dibuat nakal /ini author keluar jalur banget sumpah :’v/

      Like

  3. Ohhh akhirnya part 1 nya keluar juga
    Gila baru cerita awal ajach udah ikutan deg-degan ajach apalagi saat tahu bahwa seohyun bisa melihat sesuatu yg tak nampak jadi makin merinding apalagi bacanya malam-malam begini tambah merinding dech
    Lucu juga liat ekspresi siwon sampai bengong gitu hehehe 😉
    Jadi penasaran apa yg akan ditemukan yoona dijurang itu
    Ditunggu lanjutannya:)

    Liked by 1 person

    • Iya akhirnya setelah nelen abis monitor UN BCT :”)
      Wah kerasa berarti deg2annya syukurlah. Iya sengaja malem2 biar lebih kerasa merindingnya wkwkwk.

      Siwon2 dasar emang wahahaha.

      Sesuai yg di teaser yg yoona temuin itu mayat ehehe. Sip tunggu aja ya

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s