[Vignette] You Raise Me Up

image

You Raise Me Up
Laykim Artposter & Storyline
Cast:
Kim Jongin, Jung Soo Jung
Genre:
AU, Sad
Length: Vignette
Rating: PG – 13

Soo Jung pov
Sehat adalah sebuah kata yang sangat aku dambakan. Seseorang yang sehat jasmani dan rohani mampu melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Ya, itu yang aku impikan dan entah kapan bisa tercapai. Ya Tuhan… kenapa hidupku berbeda dengan orang lain?
Aku adalah Jung Soo Jung, seorang gadis yang selalu mempunyai mimpi besar untuk sehat. Orang lain yang masih sehat terlalu sombong bila mereka menyia-nyiakan kesehatan itu. Sungguh, mereka sangat rugi. Aku ingin selalu sehat tapi mungkin itu hanya mimpi. Seandainya aku bisa sehat…
Soo Jung pov end

Tes tes tes…
Cairan bening yang berasal dari infus – menetes pelan dan langsung masuk ke dalam selang agar mengalir ke dalam tubuh Soo Jung. Hari ini adalah hari kelima Jung Soo Jung menginap di rumah sakit elit di kawasan Seoul.
Seorang dokter berperawakan tinggi dan berparas tampan, tengah berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawatan Soo Jung. Dokter namja itu masuk ke dalam dengan santai dan memasang senyum manisnya.
“Selamat sore, Jung Soo Jung,” ucap dokter Kim Jongin pada Soo Jung yang tengah menyantap buburnya.
Soo Jung tersenyum melihat dokter ramah itu. “Selamat pagi juga, Dokter Kim,” balasnya ringan.
Wajah Soo Jung tampak pucat pasi dan tidak ada secercah kebahagiaan yang tersimpan di sana.
“Bagaimana keadaanmu sekarang? Lebih baik?” tanya Jongin untuk memastikan kondisi pasiennya baik-baik saja.
“Aku sudaj lupa dengan sakit yang ku rasakan. Bertahun-tahun mengidap penyakit ini membuatku kebal terhadap segala macam metode penyembuhan. Segala cara sudah ku lakukan untuk sembuh. Tapi….”
“Aku hanya bertanya tentang keadaanmu, Jung Soo Jung. Bukan menanyakan yang lain.” Jongin berdiri di samping ranjang Soo Jung dan menatap iba pada gadis penderita leukimia itu.
“Dokter Kim, apakah aku bisa berumur panjang? Sampai kapan aku bisa bernafas dan berkumpul bersama keluargaku?”
Jongin terdiam. Ia berusaha mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Soo Jung. ‘Apa yang harus aku katakan padanya? Kemungkinan besar, ia akan segera meninggal karena kanker stadium empat,’ batin Jongin bingung.
“Katakan, Dokter!”
Tangan Jongin mengusap pelipis Soo Jung dengan lembut. Lima tahun gadis itu menjalani perawatan rutin di rumah sakit. Lima tahun merupakan waktu yang cukup lama, karena dalam lima tahun itu, Kim Jongin selaku dokter spesialis kanker – menyimpan perasaan spesial pada Jung Soo Jung. Gadis penderita leukimia yang sangat malang.
“Aku tidak ingin memberikan jawaban palsu dan membuatmu putus harapan, Soo Jung. Aku… bukanlah Tuhan yang dapat mengetahui kematian seseorang. Kau tidak perlu memikirkan tentang kematian. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah berdoa dan berusaha kuat melawan penyakitmu. Hanya Tuhan yang dapat menentukan hidup dan mati seseorang.” Saat mengatakan kalimat itu, airmata Jongin tak henti-hentinya menetes. Ia tidak ingin terlihat cengeng dan sedih di depan Soo Jung. Tapi airmata itu tak dapat ditahan.
Soo Jung membisu. Wajahnya semakin pucat, bibirnya terasa kelu dan jari jemarinya gemetar. Jongin miris melihat keadaan gadis yang dicintainya seperti itu. Seandainya ada sesuatu yang dapat ia lakukan, sudah pasti ia melakukan hal itu dengan ikhlas.
“Soo Jung-a!” panggil Jongin lirih. Tangan kanannya berhasil menggenggam tangan Soo Jung.
Merasa ada sesuatu yang menggenggam tangannya, Soo Jung mengalihkan tatapannya ke arah kedua tangan yanh telah menyatu kemudian menatap datar pada Jongin yang tersenyum untuk kesekian kalinya.
“Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu. Kau pasti menyukainya.”
Kening Soo Jung sedikit mengerut namun ia tetap tidak mengatakan apa-apa.
***
Dengan susah payah, Kim Jongin membawa Soo Jung ke atap rumah sakit yang dipenuhi dengan 50 macam tanaman bunga. Rupanya bunga-bunga nan indah itu mampu membuat Soo Jung tersenyum. Wajah cantik Soo Jung tersimpan dalam memori Jongin setiap detiknya.
“Aku suka semua bunga ini,” lirih Soo Jung yang masih tersenyum.
Jongin ikut tersenyum. “Sejak lima tahun yang lalu, aku menanam bunga-bunga ini untukmu.”
“Untukku?” tanya Soo Jung bingung.
“Ya, untukmu, Jung Soo Jung. Aku sengaja menanamnya hanya untuk membuatmu tersenyum dan melupakan semua rasa sakitmu. Kau adalah gadis cantik yang kuat, Soo Jung. Jangan pernah menyerah untuk sembuh.”
Soo Jung tertunduk sedih. Ia sudah putus harapan dan yakin kalau dirinya tidak mungkin bisa sembuh.
“Aku tidak mungkin sembuh, Dokter Kim. Aku pasti mati.”
“Lalu apa tujuanmu datang ke tempat ini kalau kau tidak ingin sembuh?”
“Segala upaya telah dilakukan. Aku kasihan pada kedua orang tuaku. Seharusnya aku mati sejak dulu supaya tidak merepotkan mereka.”
Jongin geram mendengar kata-kata putus asa dari mulut Soo Jung. Ia memegang kedua bahu Soo Jung dan menatapnya lekat-lekat. “Jangan katakan itu lagi. Kau tidak berhak mengatakan hal itu. Dengarkan aku, Jung Soo Jung! Berusahalah, beraabarlah, jadilah kuat agar kau bisa melawan penyakit itu. Jika kau sembuh, gunakan hidupnmu dengan sebaik-baiknya.”
Soo Jung balik menatap Jongin. “Lalu jika aku mati?”
Deg!
Jongin tidak menyangka mendapat pertanyaan itu. “Jika nantinya Tuhan berkehendak lain, gunakan waktumu yang tersisa untuk berkumpul dengan orang-orang yang kau sayangi. Bahagiakan mereka, buat mereka tertawa, minta maaf lah pada mereka. Itu yang perlu kau lakukan.”
Soo Jung menangis – mengingat umurnya yang tidak lama lagi.
“Soo Jung-a, kau masih ingat impianmu? Kau mengatakan padaku kalau pada hari ulang tahunmu nanti, kau ingin berada di taman bunga bersama orang yang mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus. Iya, kan?”
“Hemm… itu benar. Tapi rasanya tidak mungkin terjadi.”
Tap!
Jongin memegang lengan Soo Jung erat. “Aku… mencintaimu setulus hatiku, Jung Soo Jung.”
Deg!
Jantung Soo Jung berdegub kencang. Baru kali ini ada seorang namja yang menyatakan cinta padanya.
“Kau pasti lupa. Hari ini adalah hari ulang tahunmu, kan? Hari ini… aku juga berulang tahun. Kita sama-sama berulang tahun, Soo Jung-a.”
“Jangan cintai aku. Ku mohon padamu, Dokter Kim. Sebelum kau patah hati karena kematianku, lebih baik buang cintamu padaku. Aku mohon. Aku….” Soo Jung ingin melanjutkan kalimatnya tetapi tiba-tiba darah keluar dari mulutnya. Ia tidak peduli dengan keluarnya darah segar dari mulutnya. “Aku… berterimakasih padamu, Dokter Kim. Terimakasih sudah membantuku mewujudkan impianku ini. Tapi….”
Greb!
Chu!
Jongin tidak ingin mendengar kata-kata yang membuatnya sedih, sekalipun itu berasal dari mulut Soo Jung. Namja itu menarik bahu Soo Jung agar tubuh gadis semakin dekat dengannya lalu melayang lah sebuah ciuman bibir antara Kim Jongin dan Jung Soo Jung. Keduanya saling melumat bibir dan lidah, menikmati ciuman mesra di tengah taman bunga.
Tiba-tiba Soo Jung tidak merespon ciuman Jongin. Tubuh gadis itu melemas. Rambut panjangnya yang terurai, melayang indah diterpa angin sore itu.
“Soo Jung-a!” panggil Jongin terus memanggil nama Soo Jung seraya mengguncang tubuh gadis malang itu.
Tubuh Soo Jung jatuh dalam pelukan Jongin. Posisi duduk Soo Jung mempersulit Jongin untuk dapat menahan kepala Soo Jung dan melihat matanya. Ternyata Soo Jung telah menutup kedua matanya rapat-rapat. Gadis itu telah meninggal dunia.

End

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s