[Oneshoot] Mnisikakia

Revenge

MNISIKAKIA

REVENGE | DENDAM

Park Chan Yeol of EXO, Oh Sehun of EXO, Jung Jae Hee of OC, and other cast

Fantasy. General. Oneshoot

Desclaimer : Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Ingat, hanya cerita fiktif. Apapun dan bagaimana pun tingkah laku mereka bukanlah yang sebenarnya. Di sini saya hanya meminjam nama, kecuali OC. Hanya bertujuan untuk hiburan tanpa berniat merugikan atau menguntungkan pihak manapun.

Inspired by Novel Rick Riordan 
- Percy Jackson and The Olympia

So enjoy with this ff and sorry for typo’s

KATALAVAINO DESIGN & STORYLINE

Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan Chan Yeol. Banyak sekali. Semenjak ibunya meninggal, ia didepak keluar dari rumah mereka. Alasan? Apakah perlu alasan? Jauh sebelum pernikahan kedua untuk ibunya—eum, mungkin bisa diasumsikan pernikahan sesungguhnya untuk pertama kali bagi Nyonya Park—Chan Yeol tidak pernah melihat ayah kandungnya. Karena itu, ia hanya hidup berdua dengan sang ibu. Yup, ibu dan anak. Tapi setelah beberapa hal ganjil terjadi, Nyonya Park memutuskan untuk menikah lagi. Yang tujuan sebenarnya adalah untuk melindungi Chan Yeol.

Setelah pernikahan itu, kejadian ganjil yang dialami Chan Yeol perlahan memudar. Namun, kejadian itu kembali lagi setelah ia diusir oleh ayah tirinya. Memang dari awal, ia tidak pernah dianggap. Dan entah bagaimana caranya, ia mau mengikuti dua orang yang mengajaknya ke tempat ini. Tempat yang sulit untuk dipahami oleh Chan Yeol.

Sulit dijelaskan. Sekarang dia berada di  sebuah perkemahan—seperti yang mereka katakan. Ada beberapa makhluk yang … eum ya, tidak bisa dipahami oleh akal sehat. Apa kalian percaya dengan mitologi yunani? Jika tidak, itu tidak masalah. Jika iya, itu menjadi masalah.

Chan Yeol masih diam seraya menatap piringnya. Di piring itu berisi dua lembar roti tawar dengan selai nanas lalu steak daging yang tersisa setengah. Karena setengahnya lagi sudah ia masukkan ke dalam api. Seperti yang mereka lalukan. Ia kemudian melihat gadis di depannya. Kalau tidak salah namanya Jung Jae Hee. Lalu pandangannya beralih melihat ke arah samping di mana meja itu hanya diisi oleh dua orang, seperti mejanya. Ia mengenal salah satunya, Oh Se Hun dan satunya lagi, … entahlah. Sepertinya Chan Yeol tidak suka pada makhluk yang bersama Se Hun.

Detik berlalu, pertanyaan timbul di pikiran Chan Yeol. Kenapa meja lainnya sangat ramai, sedangkan hanya ada dua meja yang diisi dua orang dan ada meja yang kosong? Sama sekali tidak ada orang satu pun.

“Kenapa kau tidak makan?” tanya Jae Hee seraya memakan potongan kecil daging yang telah ditusuk menggunakan garpu.

Chanyeol langsung memusatkan perhatiannya pada Jae Hee lagi. Namun detik kemudian ia mengernyitkan dahi. Tadi itu bahasa yang tidak dikenal Chan Yeol tapi ia bisa tahu artinya. Bukankah selama ini ia selalu menggunakan bahasa korea. Lagi pula gadis di depannya ini juga memiliki wajah yang identik sebagai orang korea. Tapi kenapa ia menggunakan bahasa yang aneh? Padahal ketika mengajaknya untuk bergabung, ia menggunakan bahasa korea.

“Eum aku bingung. Kenapa aku ….” Chan Yeol mengatupkan mulutnya karena mendengar sebuah bahasa yang sama seperti diucapkan gadis itu. Padahal ia tidak pernah tahu kalau ia bisa mengucapkannya.

“Tidak perlu kaget, nanti kujelaskan. Lagi pula kau baru saja datang dan belum mengerti apa yang terjadi. Nanti kau kubawa ke Rumah Besar untuk, … ah aku lupa.  Pak Chiron dan Dionysus sedang pergi. Tapi aku janji, akan kujelaskan semua yang terjadi setelah makan malam. Aku tahu, kau pasti memiliki banyak pertanyaan yang sangat banyak. Jadi simpan dulu, setelah kau makan malam. Dan selama di sini, kau bisa menggunakan bahasa korea denganku. Tidak perlu dengan bahasa yunani. Oke?”

Chan Yeol baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi ia mengurungkannya. Lalu ia menggamit garpu dan pisau lalu memegangnya. Kemudian memotong daging dan roti secara bergantian untuk di masukan ke dalam mulut. Rasanya tidak terlalu buruk.

Selama jam makan malam serta setelah percakapan singkat itu, Chan Yeol dan Jae Hee belum berbicara lagi. Sementara meja lain penuh dengan canda tawa. “Kau sudah selesai?” Ini pertanyaan pertama setelah mereka terdiam cukup lama.

“Hem, sepertinya begitu,” sahut Chan Yeol seraya mengelap mulutnya.

“Masih ada sekitar beberapa jam sebelum para Harpy berpatroli. Seperti janjiku, akan kujelaskan semuanya. Jadi siapkan mentalmu,” ujar Jae Hee seraya tersenyum. Kemudian berdiri dan membuat gerakan tangan seperti menyuruh Chan Yeol untuk mengikutinya.  Tanpa menunggu lama, Chan Yeol pun mengikuti. Baru saja berjalan beberapa langkah, mereka dihalangi atau mungkin dihadang oleh makhluk aneh. Eum,dari pinggang ke bawah seperti kaki kambing, sedangkan dari pinggang ke atas manusia. Chan Yeol mengingat film yang pernah ia lihat, di mana salah satu makhluk mitologi sama seperti di depannya.

Apakah itu Faun? pikir Chan Yeol dengan dahi yang berkerut.

“Kau hampir benar Bung! Tapi aku bukan Faun, di sini aku disebut Satyr. Tapi ya, kami memiliki beberapa kesamaan. Oh ya, kenalkan. Namaku Caius, eum … bisa kutebak, kau pasti blasteran baru. Selamat datang ke perkemahan, semoga kau betah. Oh ya siapa namamu,” tanyanya seraya menghampiri Chan Yeol dan merangkulnya. Alhasil Chan Yeol dibuat bingung dan entah harus berbuat apa. Ia cukup terbiasa diserang dan melihat makhluk-makhluk aneh sebelum ibunya menikah lagi, tapi ia belum pernah dirangkul oleh makhluk aneh. Selain itu, makhluk yang bernama Caius ini bisa membaca pikirannya. Itu membuat daftar panjang pertanyaan Chanyeol semakin banyak.

“Euh? Namaku … eum itu—“

“Namanya Park Chan Yeol,” potong Jae Hee.

“Owh, dari Daratan Asia ternyata. Sangat jarang mereka memiliki anak dari Daratan Asia. Sebelumnya di sini hanya ada dua, tapi karena kau datang berarti menjadi tiga,” celoteh Caius seraya melepaskan rangkulanya serta berdiri di antara Jae Hee dan Chan Yeol.

“Ayolah Caius, aku memiliki banyak hal yang harus dijelaskan kepada saudaraku. Jadi bisakah kau membiarkan kami lewat?” tanya Jae Hee seraya melipat kedua tangannya di depan dada.

“Apa kau yakin itu saudaramu? Ayahmu saja belum memberi penentuan,” kata Caius seraya memerhatikan Chan Yeol dari atas ke bawah. “Dan dia tidak terlihat seperti—“

“Caius, apa perlu aku memanggil anjing neraka supaya kau bisa membiarkan kami?” tanya Jae Hee yang menaikan sebelah alisnya.

“Iya iya, aku akan minggir. Tapi ingat, kau masih memiliki hutang kepadaku dua puluh  drachma,” ujar  Caius.

“Aku akan membayarnya. Ayo Chan Yeol, banyak yang harus kujelaskan,” ajak Jae Hee seraya menggerakan tangan membuat isyarat agar Chanyeol kembali berjalan. Chan Yeol pun langsung melangkah untuk mengikutinya, meninggalkan Caius yang berdiri di tempat itu kemudian pergi menuju Rumah Besar.

Jae Hee membawa Chan Yeol disebuah tumpukan batu di dekat pinggiran hutan. Tumpukan batu itu berwarna hitam pekat, ada asap tipis yang mengepul. Chan Yeol berpikir bahwa di bawah batu itu adalah kawah lava yang akan meledak sewaktu-waktu. Tapi anehnya, Jae Hee malah duduk di sana dan tidak terjadi apa-apa. Gadis itu malah membuat gerakan tangan seperti mengajak Chan Yeol untuk duduk di tumpukan batu, tepat di sampingnya. “Duduklah di sini. Mungkin pikiranmu akan segera jernih tentang semua ini,” kata Jae Hee.

Chan Yeol diam ia menimbang-nimbang, apakah pantatnya akan baik-baik saja seperti Jae Hee, jika duduk di sana? Atau jangan-jangan ia justru terbakar dan menjadi daging manusia panggang. Atau mungkin, kawah lava di bawah itu akan meledak dan menghancurkan perkemahan.

“Tidak akan terjadi apa-apa, duduklah.”

Dengan ragu-ragu Chan Yeol menghampiri tumpukan batu dan secara perlahan ia mendudukan pantatnya. Detik kemudian ia berjengit kaget dan langsung berdiri tegak. Lalu menatap Jae Hee dan tumpukan batu itu secara bergantian.

“Dingin. Kenapa tidak panas?” tanya Chan Yeol setelah mengetahui kalau batu itu tidaklah panas, melainkan dingin.

“Sudah kubilang. Tumpukan batu ini tidak akan menyakitimu. Sekarang duduk dan dengarkan semua penjelasanku,” ujar Jae Hee.

Masih dengan perasaan ragu-ragu, Chan Yeol kembali duduk di tumpukan batuan itu. Eum ya … sensasi pada awalnya memang sangat dingin, tapi lama kelamaan menjadi sejuk. Ia mulai nyaman duduk di tumpukan itu.

“Pertama, kau harus menerima kalau kau bukanlah manusia seutuhnya.”

Chan Yeol langsung memutar kepala dengan cepat empat puluh lima derajat. “Maksudmu?”

“Kau lihat gapura berwarna coklat keemasan yang kita lewati tadi?” tanya Jae Hee seraya memusatkan perhatian ke arah selatan dari tempatnya duduk. Sebagai jawaban, Chan Yeol hanya mengangguk dan Jae Hee tahu itu. “Gapura itu adalah gerbang. Manusia biasa tidak akan melihat gapura itu dan mereka tidak bisa melewatinya. Ah satu lagi, monster. Mereka tidak bisa melewatinya.  Kau tahu? Monster selalu memburu para Demigod untuk di bunuh. Tapi ….” Jae Hee menghentikan ucapannya, lalu mengalihkan pandangannya pada Chan Yeol.

“Tapi apa?” tanya Chan Yeol penasaran. Ia sudah susah payah mengontrol semua daftar pertanyaannya agar tidak terucap. Karena ia tahu, Jae Hee akan menjelaskan untuknya. Tapi gadis di sampingnya ini malah membuatnya semakin sulit untuk tidak menyemburkan pertanyaan yang ditahan.

“Tapi setiap Demigod bisa melewatinya. Kau termasuk ke dalam salah satu Demigod,” ujar Jae Hee seraya tersenyum, sedangkan Chan Yeol semakin mengerutkan kening.

“Demigod? Makhluk setengah manusia dan dewa?” tanya Chan Yeol tak percaya. Memang, pengetahuannya tentang mitologi yunani buruk. Tapi karena ia sering mendengar temannya membicarakan tentang mitologi yunani, ia tahu sedikit banyak.

“Ya, kita dan semua yang ada di perkemahan ini adalah demigod, kecuali Pak Chiron, Dionysus, Argus, bangsa Satyr, Dryad, Harpy dan beberapa makhluk mitologi lainnya. Ketahuilah, semua Demigod memiliki tempat yang aman di sini. Perkemahan. Di sini kalian akan terlindungi dari segala serangan monster. Bukankah kau selalu terganggu dengan monster yang mencoba membunuhmu dulu dan akhir-akhir ini?”

Chan Yeol terdiam. Ia masih ingat bagaimana makhluk bermata satu dan sangat besar mengerjarnya atau makhluk seperti banteng tapi ia bisa berjalan dengan dua kaki. Lalu ada beberapa makhluk mengerikan lainnya. Dan yang lebih parah, ia hanya bisa berlari dan menghindar. Jika beruntung, dia tidak akan bertemu dengan makhluk-makhluk itu. Tapi, karena itu ibunya meninggal. Chan Yeol tertunduk sedih jika mengingat kematian ibunya.

“Tenanglah, kebanyakan Demigod akan kehilangan orang tua manusia mereka. Dulu, ibuku meninggal karena dicelakai monster. Walaupun pada hakikatnya, monster tidak bisa menyakiti manusia biasa. Tapi karena ibuku bisa melihat mereka, sudah tentu beliau dibunuh. Dan yang harus kita lakukan adalah bertahan hidup dan mungkin menjadi pion untuk ayah dan para dewa-dewi,” ujar Jae Hee seraya merangkul Chan Yeol untuk menenangkannya. “Ah satu lagi, kemungkinan besar, kau adalah saudaraku. Eum, aku bisa mencium hawa yang sama seperti aroma tubuhku.”

Chan Yeol tidak menggubris kalimat terakhir yang diucapakan Jae Hee. Ia masih menelaah ucapan sebelumnya yang mengatakan kalau ia adalah Demigod. Pantas saja, semua hal mengerikan selalu terjadi padanya.

***

“Sudah kubilang, dia adikku. Apa perlu bukti lain? Pengakuan dari ayahku tidak perlu, aku bisa merasakannya!” ujar Jae Hee kesal. Ia sekarang berdiri membelakangi Pak Chiron dan Dionysus seraya melipat kedua tangan di depan dada.

“Tapi itu sudah aturannya. Demigod yang belum mendapat pengakuan harus berada di pondok ketigabelas,” ujar Pak Chiron.

“Aku tidak peduli. Ini adalah kesempatanku menjadi seorang kakak setelah ….” Jae Hee menghentikan ucapannya kemudian memejamkan mata seraya menghela napas. “Kumohon Pak Chiron, aku tidak ingin Chan Yeol berada di pondok itu sedangkan aku yakin kalau dia adalah saudaraku. Kumohon Pak Chiron, apa kau sama sekali tidak percaya padaku?” tanya Jae Hee seraya berbalik dan menatap Pak Chiron serta Dionysus secara bergantian.

Pak Chiron dan Dionysus saling berpandangan, lalu sama-sama menghela napas. “Baiklah, untuk pertama kalinya aku dan Dionysus mengijinkan. Jika dia terbukti bukanlah anak dari ayahmu, kami terpaksa memberimu konsekuensinya,” ujar Pak Chiron dengan wajah datarnya, padahal ia sangat gelisah karena keputusan yang baru diambil.

“Baiklah, terima kasih. Aku yakin dia adikku,” ujar Jae Hee seraya berjalan keluar dari Rumah Besar dan menemui Chan Yeol yang tengah duduk di pinggiran air mancur. “Ayo kita tidur. Sebentar lagi para Harpy akan berpatroli dan menangkap setiap Demigod yang masih berkeliaran ketika jam tidur,” kata Jae Hee seraya mengajak Chan Yeol untuk mulai berjalan.

Keadaan psikologi Chan Yeol sudah membaik dibandingkan ketika berada di tumpukan batu itu. Ia sudah mulai menerima apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dirinya. “Pak Chiron itu makhluk apa?” tanya Chan Yeol pada akhirnya. Karena ia belum berbicara sejak dari tadi.

“Pak Chiron adalah Centaurus. Eum, manusia kuda. Sementara Pak Dionysus adalah dewa. Ia termasuk ke dalam duabelas dewa-dewi yunani. Hanya saja ia sedang berada dalam masa hukumannya. Ada yang ingin ditanyakan lagi?” terang Jae Hee yang tengah melewati pondok Poseidon. Tempat para anak Poseidon tinggal, eum … sebenarnya hanya dua anak yang tinggal. Satu Demigod, tapi yang satunya lagi, tidak bisa disebut sebagai Demigod, tapi dia juga anak dari Poseidon.

Tanpa disadari Jae Hee, Chan Yeol malah berhenti tepat di depan pondok Poseidon. Ia menatap tajam ke dalam rumah itu. Perlahan matanya menampilkan bayang-bayang api yang sangat mengerikan.

“Chan Yeol? Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Jae Hee seraya menoleh. Ia terkejut karena Chan Yeol tidak bersamanya. Ia segera berbalik dan melihat Chan Yeol mengeluarkan api dari mata serta tangannya.

“Chan Yeol, berhenti!” teriak Jae Hee panik. Ia segera berlari ke arah Chan Yeol untuk menghentikannya. Namun terlambat, Demigod yang ia sebut-sebut sebagai adiknya, sudah membakar pondok Poseidon, membuat penghuni di dalam berlari keluar untuk menyelamatkan diri.

Se Hun dan saudaranya kini tengah berdiri di samping Chan Yeol dengan jarak sekitar tiga meter. Kemudian mengendalikan air yang ada di pancuran depan pondok untuk memadamkan api.  Beberapa Demigod lainnya keluar dari pondok dan menyaksikan pondok Poseidon yang terbakar. Sementara itu, Jae Hee langsung menenangkan Chan Yeol.

“Padamkan apimu, itu sangat berbahaya,” ujar Jae Hee seraya memegang tangan Chan Yeol dan seketika itu pula, api dari tangan dan mata perlahan padam. “Sebenarnya apa yang kaupikirkan?” tanya Jae Hee khawatir. “Kau bisa membahayakan orang lain.”

Sementara itu, Chan Yeol hanya diam seraya menatap tajam saudara Se Hun yang memakai kacamata hitam dan berdiri menjulang—mungkin tinggi badannya sekitar dua meter. Ia seperti memiliki kebencian yang sangat luar biasa besar terhadap saudara Se Hun.

“Kenapa kau membakar pondok kami?” tanya Se Hun bersungut-sungut. ”Kau itu memang berbahaya. Seharusnya aku tidak mendengarkan Jae Hee untuk membawamu ke sini,” ujar Se Hun seraya menatap tajam Jae Hee.

“Sudahlah Se Hun, aku akan bertanggung jawab untuk ini semua. Lagi pula Chan—“

“Apa yang terjadi?” tanya Pak Chiron yang baru tiba di lokasi.

“Demigod baru ini membakar pondokku tanpa ada alasan yang jelas. Bapak harus memberinya pelajaran. Lagi pula, dia belum ditentukan siapa ayahnya, tapi sudah berani membuat keonaran,” lapor Se Hun yang masih diliputi kemarahan.

Mendengar laporan dari Se Hun, Pak Chiron langsung menatap Jae Hee dengan pandangan seolah ingin berkata kalau Jae Hee tidak bisa mengatasi Chan Yeol. “Nak, sebaiknya ia tidak bersama denganmu. Dia mungkin sangat berbahaya.”

“Sudah aku bilang, aku bisa menjaganya, dia adikku. Jadi aku harus menjaganya. Ini … ini hanya kecelakaan,” kata Jae Hee sedikit panik. Terlihat dari jari-jemarinya yang mengulum baju sampai kusut.

“Hades. Aku anak Hades,” ujar Chan Yeol datar. Matanya masih menatap tajam saudara Se Hun, sementara yang ditatap hanya biasa diam dengan mata yang tersembunyi di balik kacamata. Tepat saat itu juga, sebuah bayangan dari helm kegelapan melayang di atas kepala Chan Yeol untuk beberapa saat, kemudian melebur masuk ke dalam tubuh Chan Yeol.

Semua Demigod dan Pak Chiron terperangah dengan apa yang baru saja terjadi. “Sudah kubilang dia adikku. Urusan ini kita lanjutkan besok atau para Harpy akan menangkap kalian,” ujar Jae Hee tersenyum lega. Ia lalu meraih tangan Chan Yeol untuk kembali berjalan, meninggalkan kerumunan itu.

***

Pada umumnya, Demigod akan kelelahan setelah menggunakan kekuatan alami yang diturunkan oleh para dewa. Tapi mungkin Chan Yeol adalah pengecualian. Ia masih duduk tegap dengan mata yang memancarkan kemarahan atau mungkin dendam. Sekarang mereka sudah berada di dalam pondok Hades.

“Yeol, kenapa kau membakar pondok Poseidon? Apa kau ingin membuat peperangan?” tanya Jae Hee gelisah karena kejadian itu.

“Aku membenci saudaranya Se Hun. Aku ingin membunuhnya,” sahut Chan Yeol seraya mengepalkan telapak tangannya.

“Sudah, sudah. Kau harus tenang,” kata Jae Hee seraya duduk di samping Chan Yeol dan merangkulnya. “Katakan padaku, kenapa kau membenci saudaranya Se Hun? Padahal kalian belum berkenalan sama sekali.”

“Ibuku meninggal karena monster bermata satu,” kata Chan Yeol penuh dendam. “Aku ingin membunuh mereka.”

Jae Hee menghela napas. Ia menurunkan tangannya dari bahu Chan Yeol untuk memegang tangan adiknya. “Kau tahu, ibuku pun dibunuh oleh monter bermata satu, mereka namanya Cyclops,” papar Jae Hee.

“Lalu kau tidak membenci makhluk itu dan malah bersahabat dengan saudara dan mungkin berteman dengannya juga?”

“Yeol, tidak semua Cyclops jahat. Ada Cyclops yang menjadi pandai besi dan membuat senjata untuk perang. Ada juga Cyclops berwujud monster. Cyclpos seperti itulah yang membunuh ibumu dan ibuku. Sekarang, kau adalah adikku,” terang Jae Hee seraya menatap lekat adiknya yang terlihat belum bisa menerima. Kemudian ia membuka mulut lagi. “Kau ingat helm yang beberapa waktu lalu berada di atas kepalamu?”

Chan Yeol hanya menganggukkan kepalanya. “Itu adalah tanda kau juga anak dari Hades. Kita adalah saudara. Satu ayah berbeda ibu. Kau tidak perlu marah, semua dewa seperti itu. Memiliki beberapa anak dari inang yang berbeda.”

“Kau berarti kakakku?”

“Hem, aku kan sudah bilang padamu tadi. Tapi mungkin kau tidak mendengarkan. Ingat, dendam serta kemarahan adalah kelemahan bagi anak-anak Hades. Jadi kau harus bisa mengontrol amarahmu dan juga jangan sampai mendendam?”

Chan Yeol kembali diam, ia menundukkan kepalanya. Bermain dengan jari-jemari dan bajunya. Jae Hee tersenyum, mereka memiliki kebiasaan yang sama. “Baiklah, mungkin sulit untukmu mengontrol amarah ketika melihat makhluk itu. Tapi percayalah, dia tidak jahat,” ujar Jae Hee seraya berdiri. “Sekarang kau harus tidur. Aku akan tidur di lantai atas, jika kau membutuh sesuatu, panggil aku saja. Paham?”

Sebagai jawaban, Chan Yeol hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, Jae Hee melambaikan tangan seraya tersenyum dan berjalan menaiki tangga.

***

Udara pagi di perkemahan sungguh sejuk. Kabut masih terlihat tipis di beberapa sudut hutan. Ada beberapa Dryad terlihat di pinggiran hutan. Jae Hee dan Chan Yeol menuju ruang makan untuk mengambil sarapan mereka. Namun langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan Pak Chiron.

“Setelah sarapan, kau menghadap bapak,” ujar Pak Chiron dengan nada yang sewajarnya, tapi terlihat penuh kegelisahan.

“Baik Pak.”

Setelah mendapat jawaban, Pak Chiron langsung pergi menuju pondok Poseidon yang terlihat sudah kembali seperti semula. Eum … seperti itulah system yang ada di Perkemahan. Jika salah satu pondok mengalami kerusakan, secara ajaib pondok tersebut akan kembali untuh seperti semula.

“Apa ada masalah?” tanya Chan Yeol menatap kakaknya dengan mata yang takut. Mungkin, kemarin malam adalah kemarahan Chan Yeol yang tidak disadari. Sekarang anak itu sudah terlihat seperti anak kecil. Persis sama saat pertama kali Jae Hee bertemu.

“Tidak. Sekarang kita akan sarapan dan setelah itu bermain tangkap bendera bersama tim biru.”

“Ehmmm.”

Semua  berjalan dengan lancar. Sarapan mereka tidak ada gangguan, eum … Caius tidak termasuk ke dalamnya. Dalam waktu yang singkat, ia sudah berteman dengan Chan Yeol. Hal yang wajar, bukan? Seorang Satyr berteman dengan Demigod.

“Kau ternyata memiliki selera humor yang baik,” ujar Chan Yeol seraya tertawa kecil. Okey, sepertinya ia sudah mulai terbiasa dengan keadaan perkemahan. Ini lebih baik dari kemarin.

“Tentu, aku memiliki banyak hal yang terdengar lucu. Kau mau mendengarnya lagi?” tanya Caius seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Chan Yeol, lalu membisikan sesuatu. Sesaat setelah itu, tawa mereka menggelegar.

“Bagaimana kau menyebutnya seperti itu? Itu sangat menggelikan. Hahahaha ….” Chan Yeol tertawa cukup keras, sampai-sampai  ia harus memegang perutnya.

“Mau kuberitahu lelucon lainnya?” tawar Caius yang masih sedikit tertawa melihat Chan Yeol.

“Sudah cukup, perutku sakit,” tolak Chan Yeol yang diikuti suara tawanya.

Sementara itu, Jae Hee tersenyum senang melihat Chan Yeol kembali tertawa. Setidaknya itu memberi hiburan tersendiri untuk Jae Hee. Ia kemudian melirik meja yang tidak jauh darinya. meja Poseidon. Di sana Se Hun dan saudaranya, Zu. Kalau boleh jujur, ia pun tidak suka dengan Zu. Tapi mau bagaimana lagi? Hidup tidak selalu sesuai dengan keinginannya.

“Jae Hee, kata Pak Chiron kau sudah ditunggu di Rumah Besar,” ujar Vera. Yang tidak lain adalah anak dari dewi Athena.

“Owh oke. Aku akan ke sana, terima kasih,” ujar Jae Hee seraya berdiri dan menepuk pelan pundak Vera. “Caius, aku titip adikku sebentar. Aku dipnggil Pak Chiron.”

“Percayakan saja adikmu padaku. Akan aku jaga,” sahut Caius seraya mengacungkan jempolnya.

***

Dua anak dewa kegelapan bertemu
Salah satu yang berasal dari inangnya akan mati
Emosi, amarah, dendam menggelora
Pemusuhan antar keturunan akan terjadi

Jae Hee berjalan gontai menuju tempat dimulainya kompetisi tangkap bendara. Ia melirik Chan Yeol yang semangat dengan baju zirah serta helm perunggunya. Untuk kali ini, ia takut dengan ramalan. Sebelumnya, ia kehilangan seorang adik karena sebuah ramalan. Kali ini, ia takut itu akan terjadi lagi. Cukup sekali ia kehilangan, tidak untuk kedua kalinya.

Jae Hee mengulum senyum kemudian, mengambil baju zirah dan helm. “Tidak, ramalan akan berubah kali ini.  Aku tidak akan kehilangan adikku,” tekad Jae Hee. Ia kemudian berlari menghampiri Chan Yeol dan Caius.

Tangkap bendera kali ini, Jae Hee dan Chan Yeol ada di tim biru, sedangkan Se Hun dan Zu berada dalam tim merah. Yup, tidak ada dalam peraturan lebih khusus, hanya saja tidak boleh membunuh lawan.

“Kak, ini pasti akan sangat luar biasa. Aku tidak sabar untuk memulainya. Oh ya, aku menemukan pedang ini di pondok. Bagus, ‘kan?” ujar Chan Yeol penuh semangat. Ia menunjukkan pedang bewarna hitam pekat dan mengkilat.

Seketika itu juga Jae Hee terkejut. Pedang itu mirip seperti yang dimiliki anak Hades terdahulu. Pedang yang mampu membunuh seorang Demigod walaupun hanya satu mili sayatan. Terngiang kembali ramalan yang dipaparkan Pak Chiron setelah sarapan tadi. Jae Hee merinding jika mengingatnya.

“Yeol, bisa kau berikan pedang itu  kakak? Gunakan pedang yang lain. Itu sangat berbahaya,” ujar Jae Hee melangkah mendekat dan mengambil alih pedang tersebut dari tangan Chan Yeol.

“Tapi Kak, aku menyukainya. Kumohon, biarkan aku menggunakannya,” rengek Chan Yeol.

“Untuk saat ini, kau belum bisa menggunakan ini. Gunakan pedang lain. Paham?”

Chan Yeol mengerucutkan bibirnya seraya menunduk dan mengangguk. “Hem iya, aku akan memakai pedang lain,” kata Chan Yeol seraya berjalan menuju tempat persediaan pedang.

Setelah Chan Yeol pergi, Jae Hee langsung menyarungkannya. Terdengar helaan napas yang begitu berat. “Kenapa kau tidak memperbolehkannya menggunakan pedang itu?” tanya Caius seraya melihat punggung Chan Yeol yang semakin jauh.

“Caius, kukira kau sudah tahu. Ini Dark Rip. Kau tahu apa yang akan terjadi pada Demigod jika terkena pedang ini, walaupun hanya satu mili?” tanya Jae Hee memastikan kalau Caius tidak lupa akan cerita tentang Dark Rip.

Yup, seperti dugaannya, Caius tertegun dengan mata terbelalak. “Aku tahu dan  jangan bilang kalau kau sudah mendengar ramalan itu?”

“That’s right. Aku sudah mendengarnya. Dan itu membuatku sedikit kacau,” kata Jae Hee dengan senyum pahitnya.

Caius terdiam melihat Jae Hee tersenyum seperti orang yang putus asa. Ia masih ingat, kalau gadis itu kehilangan saudaranya karena sebuah ramalan. Di mana mereka mencoba menghentikan, tapi malah semuanya tetap terjadi. Yah, seperti yang di dalam ramalan.

“Kau tahu? Anak itu sedikit berbeda dari anak Hades yang pernah berada di sini,” ujar Caius dengan nada sedikit kagum bercampur gelisah. Ia memerhatikan Chan Yeol memilah-milah pedang yang akan di pakai.

Jae Hee pun mengikuti arah pandangan Caius, lalu ia menghela napas. “Aku tahu dia berbeda. Tapi aku takut dengan kontrol emosinya,” kata Jae Hee seraya mengembuskan napas secara berlebihan. “Bahkan ia bisa membakar pondok Poseidon karena kemarahan atas ibunya. Cyclops, ibunya meninggal karena monster itu. Dan selanjutnya kau pasti mengerti kenapa dia membakar pondok Poseidon.”

“Hem ya, aku tahu kelanjutannya,” sahut Caius seraya mengalihkan pandangan pada Jae Hee. “Dan Cyclops kebal terhadap api. Membakarnya adalah hal yang sia-sia.”

Jae Hee menundukkan kepala sesaat kemudian menatap Caius. “Kau tahu artinya dari bait terakhir ramalan itu?”

“Heyahh … Aku tidak tahu. Aku bukan Sang Oracle,” ujar Caius setengah kesal.

“Tapi aku punya firasat, kalau perang yang dimaksud adalah antara anak Hades dan Poseidon,” kata Jae Hee suram.

“Hey, jangan seperti itu. Biarkan ramalan menjadi ramalan.”

“Hem ya, kau mudah berkata seperti karena itu bukanlah ramalan tentangmu,” sahut Jae Hee seraya tersenyum getir. Lalu, berjalan menghampiri Chan Yeol.

***

Chan Yeol mengetuk-ngetuk dagunya seraya menatap sejajar pedang yang terselip di antara kayu pada bagian pangkal. “Sudah menemukan yang cocok?” tanya Jae Hee seraya menepuk pundak adiknya itu.

Chan Yeol tersentak, kemudian menoleh ke arah samping. “Belum Kak.”

“Baiklah kalau belum, kau gunakan pedang ini,” ujar Jae Hee seraya mengambil pedan paling kanan. “Mulai sekarang, ini adalah pedang keberuntunganmu.”

Chan Yeol tersenyum ketika menerima pedang itu dari kakaknya. Kedua matanya terlihat begitu cerah dan semangat. “Kita akan menangkan tangkap bendera ini.”

“Hem, pasti.”

Jae Hee dan Chan Yeol langsung menuju ke tempat dimulainya lomba tangkap bendera. Sebelumnya, mereka tidak sengaja bertemu dengan Sehun dan Zu. Hal itu membuat amarah Chan Yeol kembali melonjak. Hampir saja ia akan mengambil pedang Dark Rip dari kakaknya, untungnya Jae Hee sigap hingga Chan Yeol melepaskan pedang tersebut.

“Sudah kakak bilang, jangan gunakan pedang itu. Gunakan pedang yang kakak berikan. Aturlah emosimu,” ujar Jae Hee seraya memungut kembali pedang yang terjatuh. “Maaf Se Hun, emosi adikku belum terkontrol sempurna.”

Se Hun mengerjapkan mata beberapa kali, lalu tersadar. “Lihat, adikmu sungguh berbahaya. Dia ternyata lebih berbahaya dari Cyclops,” kata Se Hun seraya menatap jijik pada Chan Yeol. “Dan tentu saja, adikku tidaklah sama dengan monster Cyclops. Dia seorang pandai besi. Oh ya, perhatikan adikmu ketika tangkap bendera. Bisa saja ia akan membunuh Demigod lainnya.”

“Se Hun, cukup. Aku tidak ingin berdebat. Intinya aku minta maaf padamu. Masalah selesai,” kata Jae Hee mencoba tidak memikirkan ucapan Se Hun yang terang-terangan menghina adiknya. “Chan Yeol, ayo kita lanjutkan perjalanan kita,” ajak Jae Hee dengan menarik tangan Chan Yeol agar pergi dari tempat itu.

“Ramalan, bagaimana dengan ramalan itu. Kau tahu, mungkin—“

“Hentikan Se Hun. Aku tidak ingin kita bermusuhan karena hal ini. Sekarang, tolong hargai adikku seperti aku menghargai adikmu,” ujar Jae Hee melirik ke arah Zu. Lalu kembali berjalan dan diikuti oleh Chan Yeol.

Setelah sampai di tempat dimulainya perlombaan, Chan Yeol terus melihat kakaknya yang terlihat sangat gelisah. Ia memikirkan perkataan Se Hun tentang ramalan. Chan Yeol ingin bertanya, tapi kakaknya seperti tidak ingin memberikan jawaban ketika ia bertanya.

“Baiklah, besok akan kutanyakan,” gumam Chan Yeol.

Terdengar suara terompet yang menggelegar dan munculah Pak Chiron dan Dionysus. Mereka berdiri di tempat yang lebih tinggi dari para Demigod. Beberapa pengarahan—yang sebenarnya tidak terlalu penting—disampaikan oleh Pak Chiron.

Setelah pengarahan selesai, tim biru dan merah bersiap-siap, begitupula dengan Chan Yeol. Ia harus membuktikan kalau dirinya layak. Ya, walaupun tidak ada satu pun orang yang meragukannya, tapi ia harus menunjukkan pada kakaknya kalau dia bisa. Setidaknya, ia bisa melindungi dirinya sendiri, tidak harus dilindungi oleh Jae Hee.

Tiupan terompet yang kedua terdengar. Itu adalah sandi untuk para Demigod memulai perlombaan. Tim biru di pimpin oleh Jae Hee sementara tim merah oleh Se Hun. Beberapa dari mereka bertarung dan sebagian  berlari untuk mencari bendera yang dimaksud. Chan Yeol berlari tempat di belakang Jae Hee. Mereka berdua sudah masuk hutan. Menurut Jae Hee, bendera selalu di tempatkan di pinggiran sungai. Tepatnya di batu.

BRUK!

Chan Yeol tersungkur karena kakinya tidak sengaja tersandung oleh akar pohon. Mendengar adiknya terjatuh, Jae Hee langsung menghentikan lari dan menghampiri Chan Yeol. “Kau tidak apa-apa?” tanya Jae Hee dengan napas yang terengah-engah. Ia kemudian mengulurkan tangan yang segera disambut oleh adiknya.

“Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya …,” Chan Yeol menjeda ucapannya karena melihat sebuah kain merah berenda warna hitam di sisi tergantung di pohon. “Kak, apakah itu benderanya?” tanya Chan Yeol seraya menunjuk sebuah pohon yang berjarak sekitar dua meter dari tempat mereka berdiri.

Jae Hee mengikuti jari telunjuk Chan Yeol, ia memincingkan matanya, lalu terbelalak. “Yup, itu benderanya!” seru Jae Hee. “Ayo kita ambil. Tapi ini sedikit aneh, biasanya bendera diletakkan di batu,” ujarnya seraya berlari.

“Aku tidak tahu, Kak. Apa kita menang?”

“Sepertinya begitu,” sahut Jae Hee ketika menghentikan larinya dan mendongakkan kepala. Baru saja terlintas di pikirannya untuk memanjat, tapi niat itu ia hentikan ketika Se Hun dan Zu datang.

“Tidak secepat itu, Nona Jung,” ujar Se Hun seraya mengacungkan pedang ke arah Jae Hee. Begitupula dengan Zu yang tingginya dua meter berhadapan dengan Chan Yeol.

Terlihat kilatan cahaya api dari mata Chan Yeol saat melihat Zu. Ia ingin sekali menebas leher makhluk itu, tapi perkataan kakaknya terngiang di pikiran. Yaitu, tidak boleh menyimpan dendam. Perlahan cahaya api yang ada di mata Chan Yeol mereda. Ia mengacungkan pedang pada Zu yang hanya bermodal pentungan kecil dengan paku tertancap di bagian atasnya.

Sementara itu, Jae Hee langsung menyerang Se Hun. Ia harus melumpuhkan Se Hun untuk mendapatkan bendera itu. Ia memutarkan pendangnya yang membuat Se Hun harus menunduk dan langsung menyerang balik, tetapi dengan cepat Jae Hee menangkis dengan pedangnya.

Se Hun berputar dan mengambil pedang Dark Rip yang menggelantung di pinggang Jae Hee. Terkejutan sesaat dirasakan Jae Hee saat pedang itu tidak berada di sarungnya lagi. Tapi ia semakin terkejut ketika Se Hun menyayat lengannya, walaupun itu hanya satu senti.

“Ayo, lawan. Kau tidak akan kalah hanya karena kau terkena sayatan sekecil itu,” ujar Se Hun seraya mengacungkan pedangnya, sedangkan pedang Dark Rip berada di tangan sebelahnya tapi mengarah pada tanah.

Di sisi lain, Chan Yeol terus menghindar dari serangan Zu. Mungkin niatnya untuk tidak membuat khawatir Jae Hee adalah salah. Ia belum memiliki keahlian dalam memakai pedang. Pada akhirnya ia terus menghindar, hingga di satu waktu ia terpental karena pukulan dari Zu hingga menabrak pohon dan jatuh ke bawah.

Tulung rusuknya terasa sakit semua. Ia berusaha bangkit dan melawan Zu lagi, tapi niatnya ia batalkan karena merasa ada sebuah ikatan yang terlepas. Chan Yeol langsung menoleh ke arah kanan dan melihat Jae Hee jatuh berlutut seraya memegang lengan kanannya dan detik kemudian ia terkapar. Setelah itu Se Hun melempar kedua pedangnya dan menghampiri Jae Hee.

Melihat itu semua, Chan Yeol langsung berlari untuk menghampiri sang kakak. Ia memiliki firasat yang aneh. Sudah cukup ibunya meninggal karena Cyclops, tidak untuk kali ini.

“Minggir!” bentak Chan Yeol seraya menyingkirkan Se Hun dari samping kakaknya hingga terjungkal ke belakang. “Kak, sadarlah!” teriak Chan Yeol panik. Sekarang ia tengah memangku kepala kakaknya.

Jae Hee terlihat begitu pucat dengan lingkaran hitam disekitar mata. Tubuhnya terasa sedingin es. Belum lagi luka sayatan yang tadi satu senti, kini semakin besar dan berwarna hitam.

“Apa yang terjadi, kenapa luka sayatan itu bisa membuat Jae Hee sekarat?” tanya Se Hun terkejut. Ia terlalu kaget dengan semua ini. Biasanya ia sering melakukan itu ketika perlombaan tangkap bendera dan Jae Hee pun melakukannya.

“Se Hun, pe-pedang yang k-kau gunakan … a-adalah … Dark Rip pe—“

“Pedang yang bisa membunuh Demigod walaupun itu hanya satu mili,” lanjut Chan Yeol seraya menatap tajam ke arah Se Hun. Lalu menatap kakaknya yang seolah bertanya dari mana Chan Yeol tahu. “Aku tidak sengaja mendengar percakapan Kakak dengan Caius,” kata Chan Yeol yang mengerti maksud dari tatapan kakaknya.

Jae Hee mencengkram erat lengan baju Chan Yeol, ia merasakan sakit teramat. Sekarang, keringat dingin sudah memandikan Jae Hee. “D-dan, ti-tidak ada … o-obat u-untuk itu,” tutup Jae Hee. Setelah mengatakan itu, cengkraman Jae Hee melonggar dan akhirnya terlepas. Chan Yeol membelalakkan matanya. Ia tidak berkata-kata. Kakaknya meninggal dan itu memberikan pukulan terkuat untuk kedua kalinya.

“Kakak!” teriak Chan Yeol penuh kesedihan seraya memeluk Jae Hee. Burung-burung yang ada di hutan itu langsung berterbangan dan angin bertiup kencang.

Sendi-sendi Se Hun terasa menghilang begitu saja. Ia lemas dan tidak bisa bertumpu pada apapun. “Tidak mungkin. Tidak mung—“

“Kau membunuhnya!” bentak Chan Yeol marah. Ia kemudian meletakkan kakaknya di tanah dan berdiri tepat di depan Se Hun yang masih terduduk lemas. “Apa kalian memang sangat membenci anak Hades? Cyclops membunuh orang tuaku dan sekarang kau membunuh kakakku. Apa anak-anak dari Poseidon sangat membenci keturunan Hades?” tanya Chan Yeol penuh kemarahan.

Dengan badan yang gemetar dan lemas karena meninggalnya Jae Hee, Se Hun berusaha untuk bangkit dan menyetarakan tinggi dengan Chan Yeol. “A-aku … tidak sengaja. A-aku tidak tahu tentang pedang Dark Rip. Lagi pula, Zu memang Cyclops, tapi dia tidak membunuh ibumu,” bela Se Hun.

“Terserah! Tapi Cyclops adalah kaumnya!” Chan Yeol berjalan memutari Se Hun dan mengambil pedang Dark Rip. “Ingat, suatu hari, ketika aku sudah pandai menggunakan pedang. Aku akan membunuhmu dan saudaramu dengan pedang ini,” ancam Chan Yeol seraya menggerakan pedang tersebut dan berhenti tepat di samping leher Se Hun, tapi tidak mengenainya. “Sampai waktu itu datang, selagi dendamku tertanam, duduklah dengan manis, Putra Poseidon.”

Tepat setelah Chan Yeol mendeklarasikan ancamannya, tanah yang berada di samping Jae Hee terbelah dan mengepulkan asap. Chan Yeol menarik pedang Dark Rip dan memasukkan ke sarung yang tergantung di pinggang Jae Hee. Lalu ia menggendong Jae Hee dan masuk ke dalam retakan tanah kemudian tertutup.

***

Sementara itu di Rumah Besar, Pak Chiron berjalan mondar-mandir ketika mendengar penjelasan dari Se Hun dan Zu. Ia kemudian menatap loteng yang  yang terletak tidak jauh dari Rumah Besar lalu pada Caius.

“Ramalan itu menjadi nyata,” ujar Caius membalas tatapan Pak Chrion yang terlihat gelisah.

“Ramalan itu mengatakan ‘Dua anak dewa kegelapan bertemu’, anak yang dimaksud adalah Jae Hee dan Chan Yeol. ‘Salah satu yang berasal dari inangnya akan mati’, sudah jelas, Jae Hee mati terkena sayatan Dark Rip. ‘Emosi, amarah, dendam menggelora’, ini kemungkinan dendam Chan Yeol yang sangat besar. Dan, ‘Permusuhan antar keturunan  akan terjadi’, artinya ….” Caius menghentikan ucapannya dan menatap ke arah Se Hun dan Pak Chiron secara bergantian.

“Se Hun dan saudaranya sekarang sedang bermusuhan dengan Chan Yeol. Sang anak dari penguasa alam bawah. Hades,” lanjut Pak Chiron.

“Oh tidak. Itu tidak seburuk yang kita bayangkan. Chan Yeol masih seorang Demigod kecil dengan keahlian yang sedikit. Optimis, semuanya akan terselesaikan dengan damai,” ujar Dionysus mencoba menenangkan keadaan.

“Berharap seperti itu,” sahut Caius.

Se Hun menyimak dengan saksama yang diucapkan Pak Chiron. Kalau ini benar, sesuai dengan apa yang dikatakan Chan Yeol sebelum ia membawa Jae Hee ke alam bawah. Dan ia benci ini.

“Aku bisa menghadapinya,” ujar Se Hun percaya diri.

Pak Chiron, Dionysus, dan Caius langsung memusatkan perhatian mereka pada Se Hun. “Aku … aku bisa membuat kami berdamai. Aku berjanji.”

END
Kamus : 
Pak Chiron adalah Centaurus yang menjadi guru para 
pahlawan, tepatnya para Demigod. 

Dionysus, termasuk dewa. Dewa anggur, 
dia sedang di hukum oleh Zeus. 

Satyr, manusia kambing, 
dia seorang protector bagi para Demigod. 

Cyclops, hasil dari Poseidon dan Nymph laut. 

Dryad, adalah peri hutan.

Terima kasih yang sudah menyempatkan membaca
Oh ya, mampir yuk …

https://katalavaino18.wordpress.com/

KATALAVAINO

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Mnisikakia

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s