[Sequel Give Me A Chance] Gift from God

Gift from God

|| Author: Phiyun||Title: Gift from God|| Cast: Park Jiyeon | Park Chanyeol || Genre: Sad | Romance | Married Life||Lenght:  Darbble

Preview: Give Me A Chance

WARNING!!! Please Don’t Be Silent Readers!!!

–&–

***Happy Reading Guy’s***

~Summary~

“Kau adalah kado yang terindah yang telah  di kirimkan Tuhan untukku”

Cerita kali ini aku fokuskan ke Pov Jiyeon yah ^^

***OOO***

Saat di dorong ke ruang operasi, aku berusaha untuk tetap tenang. Aku sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya dua tahun yang lalu, jadi sudah tahu apa yang akan terjadi.  Dua tahun yang lalu aku berjuang melawan kanker darah yang hampir saja merenggut nyawaku.

Aku sangatlah beruntung saat pria yang selama ini aku cintai ternyata dirinya juga mencintaiku. Dan pemuda itu juga mau meminang diriku yang mempunyai banyak kekurangan. Pemuda itu bernama Park Chanyeol.

Dua tahun silam aku melakukan pencangkokan tulang  sumsum belakang untuk menghentikan kanker darahku dan ternyata tulang sumsum suamiku cocok untuk dapat di donorkan kepadaku. Dan sudah satu  bulan silam aku sudah dinyatakan bebas kanker, yang nyaris membuat nyawaku melayang.

Tapi kabar duka menyelimutiku kembali, ada sel karsinoma skuamosa di tenggorokanku. Aku berfikir positif saat tubuhku akan di dorong ke ruang operasi. “Aku akan menjadi manusia baru lagi setelah operasi, kemo dan radiasi. Semua akan baik-baik saja, sama  seperti dulu.”

 

Namun semuanya berbeda, saat suamiku, Chanyeol, berdiri di sampingku dengan tatapan cemas yang terpancar dari matanya. “Ada slang di tenggorokanmu.” katanya. “Dokter menemukan sebagian kanker menempel pada laringmu, dan slang itu akan terpasang sampai laringmu sembuh.” imbuhnya kembali.

Kubentukkan bibirku membentuk huruf ‘O’, aku berusaha berkata. “Berapa lama?” tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari kerongkonganku. Kuraba tenggorokanku dan memang ada slang yang mencuat dari dalamnya. Bila orang lain melihatnya mungkin terlihat menyeramkan bahkan menjijikan, mungkin? Meskipun begitu setidaknya, aku tidak harus merasakan perasaan sakit saat sebelum operasi di jalankan.

Perasaanku  sangat emosional, mataku langsung memanas dan mulai berkaca-kaca sambil menatap Chanyeol. Dengan sedih aku menggelengkan kepala untuk mengisyaratkan kata ‘tidak’ ” Chanyeol mengengam lembut punggung tanganku dan berkata. “Semuanya akan baik-baik saja, sayang.” kalimat yang terdengar sederhana namun sangat besar pengaruhnya pada psikologis diriku.

Air mataku pun meleleh begitu saja dari sudut mataku. Aku menangis tanpa suara, dadaku terasa sesak. Di dalam hatiku berteriak mengutuk diriku sendiri. “Mengapa aku sangat tak berguna. Sampai kapan aku harus selalu menyusahkan pria yang sangat aku sayangi ini!” teriak batinku. Hatiku hacur saat diriku menjadi beban dirinya untuk yang sekian kalinya. Kemudian dengan lembut, Chanyeol menghampus tetesan air mataku yang mengalir deras di atas kedua pipiku dengan kedua jari jemarinya yang hangat.

“Aku mencintaimu, Jiyeon-ah. Bagaimanapun kondisimu, tak sedetikpun mengurangi rasa cintaku padamu.” ujarnya seraya memperlihatkan kedua sudut bibirnya yang terangkat di hadapanku. Kedua mataku yang saat tadi mengering, dalam waktu seperkian detik, kembali basah. Air mataku kian mengalir deras saat mendengar kalimat dari orang yang sangat aku cintai ini. Aku ingin sekali berkata pada dirinya kalau aku lebih mencintainya jadi aku membalas perkataannya dengan tersenyum lembut meskipun bibirku terganjal oleh sebuah slang.

~OoO~

Setibanya di rumah ternyata suamiku, Chanyeol sudah menyiapkan beberapa makanan yang ia buatkan untukku. Ia membuat berbagai ragam puding dan sup. Aku berusaha untuk mengucapkan terimakasih kepadanya, tetapi ia cengah dengan lembut.

“Masih ada hadia yang ingin kuberikan padamu.” katanya sambil berlari ke dalam kamar. “Kau tak akan bisa berbicara denganku untuk sementara waktu, jadi aku buatkan ini untukmu.” sambill menunjukan beberapa kertas karton berukuran setengah kertas hvs. Kertas karton itu berisikan beberapa kalimat, yaitu: “Ya.”, “Tidak.”, “Minum”, “Makan”, “Ke toilet” Aku berusaha untuk tidak menangis namun di saat dirinya  memperlihatkan kertas terakhir padaku, seketika aku tertawa kecil. “Mandi?”

“Aku sudah sering melihat dirimu tanpa itu.” sambil menurunkan pandangannya ke arah tubuhku. “Jadi tak masalahkan bila aku membantu membasuh tubuhmu?” katanya, “Apa kita sekalian mandi bersama saja?” tambahnya dengan sorotan mata yang dalam. Aku tahu dia melakukan kekonyolan  itu untuk membuatku tak terlalu sedih namun sikapnya itu membuatku menjadi sangat malu. Jujur saja selama dua tahun kami menikah, aku tak pernah sekalipun mandi bersama dirinya. jadi saat mendengar itu wajahku langsung menyemburkan warna kemerahan.

Tak lama kemudian Chanyeol mengeluarkan sebuah lonceng dari dalam mantelnya dan memberikannya kepada diriku. “Kau bisa gunakan ini di saat aku tak ada di sampingmu. Saat kau membunyikan lonceng ini, maka dalam hitungan detik aku akan tiba di depanmu.”

Hatiku semakin tersentuh dengan semua hadia pemberian darinya. Aku tak mampu mengeluarkan sepatah katapun pada dirinya jadi yang dapat aku lakukan untuk membalas perkataannya dengan mengangguk pelan. Saat aku menjawabnya dengan bahasa isyarat, Chanyeol lalu memeluk diriku dan kemudian dia mengecup lembut puncak keningku.  Aku sangat bersyukur mempunyai suami yang seperti dirinya. bagiku hadia yang terindah dalam hidupku adalah saat Tuhan mengutuskan dia sebagai pendamping hidupku.

~OoO~

-Satu minggu kemudian-

Hampir sepekan ini kami tak saling berbicara. Dan ternyata semua hadia yang dia buat untukku tak sering aku gunakan, karena Chanyeol adalah perawat yang luar biasa peka. Pada malam pertama, aku sempat berpikir kalau kami berdua akan pisah kamar. Karena sepanjang malam aku selalu batuk-batuk. Aku pikir dia terganggung dengan apa yang aku lakukan tapi ternyata tidak. Dia tetap tidur di sampingku, seperti yang dia lakukan selama dua tahun yang lalu. Dan dia langsung terbangun saat mendengar apa yang aku lakukan, tidak peduli betapa pelannya. Aku teringat pada naluri seorang ibu yang selalu terjaga ketika bayi kecilnya bergerak-gerak. Ya, naluri itu berasal dari cinta.

 Pada siang harinya, aku punyak lebih banyak waktu untuk merenungkan komunikasi di antara kami. Sebagian besar di lakukan dengan gerakan tubuh dan ekspresi wajah, tapi kami pun juga sering menulis di selembar kertas. Sering kali aku menyadari bahwa hal yang ingin kukatakan menjadi sesuatu yang negatif seperti, “Mengapa kau tidak pernah bisa memilih dasi yang akan kau kenakan ke kantor atau mengapa kau masih saj menggunakan pakaian itu dua hari belakangan inil.” Karena tidak bisa berbicara, aku menyadari bahwa mungkin saja banyak komunikasi dariku sebelum ini yang bersifat negatif. Aku bersumpah untuk mencoba mengubahnya ketika mendapatkan suaraku kembali.

Aku juga sadar bahwa ekspresi wajahku adalah sarana utama untuk berkomunikasi, mungkin aku harus sering tersenyum. Chanyeol sangat memperhatikanku. Di kesibukannya mengurusi perusahaan yang dia kelolah,  Chanyeol masih menyempatkan waktu untuk membuatkanku susu ketika aku tidak ingin makan, bahkan memasak ketika aku ingin makan.

Aku ingin menunjukan kepadanya bahwa aku menghargai semua yang telah dilakukannya. Sayangnya aku mempunyai sifat yang serius dan tidak sering tersenyum, jadi aku berusaha keras untuk lebih sering tersenyum, sehingga dia tahu aku merasa senang dan bahagia.

~OoO~

-Dua minggu kemudian-

Kami berdua kembali ke rumah sakit unutk konsultasi kepada dokter bedah untuk menjalani tindak lanjutnya. Saat di perjalanan aku yakin kalau slang ini dapat di cabut namun keinginan tak seindah kenyataan. Aku sungguh kecewa ketika dokter mengatakan slang itu harus tetap terpasang lebih lama lagi.

Chanyeol sekali lagi bisa membaca pikiranku dan mengajukan pertanyaan kepada Dokter. “Apa syarat untuk melepaskan slang ini?”

“Nyonya Park harus bisa berbicara dan bernapas sendiri.” jawab dokter.

Kedua mata Chanyeol menatapku dalam. Dengan tekat yang bulat kutaruh jariku pada slang untuk menutupi lubangnya, lalu mengucapkan kata-kata pertamaku.

“A…ku…” lirihku, merasa mampu mengeluarkan beberapa kata lagi. Aku lalu menghirup napas yang panjang dan kemudian kembali berkata dengan segenap keberanian dan tenagaku. “A—ku… bi—bisa bi—cara.”

Chanyeol merengkuh tubuhku dan menatapku kedua bola mataku dengan dalam. “Chanie-ah, aku bisa bicara.” ucapku dengan sekali napas.

Chanyeol dan dokter terkejut saat aku bisa mengatakan kalimat tersebut. mereka tampak tak percaya. Bukan Chanyeol dan dokter saja yang terkejut bahkan diriku sendiri terkejut dengan diriku sendiri. Melihat perkembangan pesat diriku, akhirnya dokter memutuskan mengambil slang tersebut dari dalam rongga tenggorokanku. Kali ini aku bisa berbicara dengan lancar.

“Jiyeon-ah… aku yakin kau bisa, sayang.”

“Heemm… terimakasih Chanie-ah, atas semuanya.” balasku.

“Mmm…” sambil menggelengkan kepalanya padaku. “Akulah yang harusnya berterimakasih padamu, karena kau telah mampu menghadapi semua ini, sayang.” imbuhnya dan kemudian menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “Saranghae… Jiyeon-ah.”

Kubendamkan wajahku di dekapannya dan kemudian berkata. “Nado…  saranghae…”

Entah apa yang akan aku lakukan bila tak ada Chanyeol di sisiku. Karena dia lah semangat juangku. Aku sangat bersyukur sekali kepada Tuhan, karena Tuhan sudah memberikan seorang pria yang mau menerimaku apa adanya. Terlalu banyak kekurangan yang kumilik tapi semua itu tak menyurutkan rasa sayang dan cintanya kepadaku.

 

~Fin~

Advertisements

23 thoughts on “[Sequel Give Me A Chance] Gift from God

  1. Benar” sosok Namja penuh dengan rasa sayang dam cinta dia rela merawat istri’a yang sakit parah dan dia tetap mencintai sang istri tak peduli seperti apa kondisi sang istri memang seperti itu seharusnya karna jika sudah memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan harus saling menerima keadaan sang pasangan baik dalam kondisi biasa maupun saat sakit Yeollie benar” suami yang bikin hati meleleh

    Jiyi sosok Yeoja yang pantang menyerah walau harus diterpa banyak penyakit dan harus menjalani pengobatan yang tidak mudah tapi dia selalu berpikir positif kalau dia mampu melewati semua itu dan dia ingin keliatan baik” aja demi sang suami dan dia yakin Tuhan pasti akan memberikan suatu hal yang indah jika kita mampu melewati ujian yang diberikan Tuhan

    Liked by 1 person

    • Aku setuju sama chingu ^^
      bila kita sudah memutuskan untuk hidup bersama dengan orang yang kita sayangi, kita harus menerima semua kekurangan dan kelebihan pasangan.

      sejujurnya cerita ini terinspirasi dari percintaan orang tuaku, aku buat ceritanya sedikit kearah drama. Makasih yah dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s