R.E.A.P.E.R [Part 3]

reaper

|| Title: R.E.A.P.E.R || Author: Phiyun || Genre: Romance | School Life | Sad | Hurt | Fantasy | Thriller || Cast: Oh Sehun |Park Jiyeon | Kim Jongin | Park Chanyeol | Kim Ji Won ||

Poster Credit : Ravenclaw [Gomawo (^-^)]

 

Cerita ini hanya fiksi belakang. Cerita ini terinspirasi dari film mau pun buku yang pernah di tonton dan di baca oleh penulis.  Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Note: Nama pemain sewaktu-waktu akan berubah.

 

Privew: Part 1 | Part 2

                                                  *** Happy  Reading ***

*Chapter 3*

Berlari atau menghadapinya?

~OoO~

-Pov Jiyeon-

Kabut tipis perlahan-lahan menyingkir dariku di sertai serangkaian rasa ngilu yang menusuk-nusuk hampir di seluruh tubuh. Tak jauh dari tempatku sekarang, aku mendengar suara dua orang sedang berdebat sengit. Aku mulai merasa ingin muntah, di karenakan aku harus menahan rasa sakit. Rasa sakit itu melekat di tulang-tulangku.

Aku mencoba menarik napas sekarang untuk mengurangi rasa yang menyiksak ini. Paru-paruku bekerja lebih keras, saat sakit itu mulai merasuk kembali di dalam tubuhku. Semua terlihat gelap dan aku baru tersadar kalau sedari tadi mataku terpejam. Aku pun langsung membukanya. Aku melihat warna hitam kabur persis di depan hidungku. Tercium bau mirip plastik yang pekat.

Aku menyadari bahwa warna hitam kabur yang memantulkan kembali embusan napasku adalah lembaran plastik. Kuangkat kedua tangan dan mulai menekan-nekan kuku ke plastik dengan rasa diliputi ketakutan. Dengan perasaan panik aku berusaha bangun dan sekarang  posisiku terduduk.

Apa aku ada di atas meja?” batinku bertanya-tanya. Dan di saat itu juga tubuhku oleng dan…

“Brukk!!!” tubuhku pun terjatuh ke bawah tanpa perlawanan.

~OoO~

Keduanya kaget dan membalikkan tubuh. Paras sang gadis tercengang sedangkan sang pria mundur seakan malu karena telah tertangkap basah berdebat dengan si perempuan.

“Kau sudah bangun.” sapa gadis itu sambil mengibaskan kepangan rambutnya ke belakang. “Hmm… Hai… Aku Jiwon dan ini Sehun.” pria itu lalu menurunkan tatapannya untuk sekedar menyapa. “Bagaimana dengan keadaanmu?” tanya gadis itu kembali.

Jiyeon terdiam, dia terpaku saat menatap wajah pria yang ada di belakang  gadis berkepang tersebut. “Kau yang bersama dengan Chanyeol.” kata Jiyeon dengan jari telunjuk yang bergetar menunjuk ke arah Sehun.

Sehun langsung menunduk tanpa memandang Jiyeon. Sepertinya lelaki tersebut sedang menghindari kontak mata dari lawan bicaranya. Jiyeon semakin terperanjat saat melihat kedua kostum yang sedang di kenakan oleh kedua orang asing yang ada di hadapannya. Di leher mereka tergantung kalung bermatakan batu hitam yang terlihat biasa saja. Namun perhatian Jiyeon terkesan tertarik dengan benda yang menggantung di kedua leher milik mereka.

“Di mana aku? Mengapa aku ada di sini?” tanya Jiyeon ragu. Sehun mengernyit. Sosok jangkung itu mulai memundurkan selangkah kakinya untuk lebih menjauh dari hadapan Jiyeon. “Di mana, Chanyeol!” tanya Jiyeon kembali saat menyadari kalau dirinya sekarang ada di rumah sakit. Dan Jiyeon semakin bertanya-tanya mengapa tubuhnya ada di dalam kantong mayat. “Apa yang aku lakukan di kamar mayat!” teriak gadis itu kembali dengan suara yang bergetar.

Jiyeon langsung berdiri dari dalam kantong plastik. Bunyi ketukan hak sepatu terdengar bagaikan lagu pengiring yang aneh saat Jiyeon berusaha mencari keseimbangan. Akhirnya gadis itu dapat keluar dari dalam kantong plastik tersebut dan saat Jiyeon menundukan kepalanya, dia melihat ada sebuah karet label yang melingkar di kaki sebelah kanannya.   Jiyeon mulai sibuk menghentak-hentakakn kakinya untuk melepaskan label tersebut. Di rok yang di kenakan oleh Jiyeon terlihat sobekan panjang di sana. Tak di sana saja, baju Jiyeon pun terdapat noda oli dan sekujur pakaiannya dilekati oleh noda tanah maupun rerumputan.

“Ada yang melakukan kesalahan.” kata gadis berkepang tersebut sambil melirik ke arah Sehun. Tubuh Sehun menegang. Tak lama lelaki tersebut berkata. “Itu bukan kesalahanku!” serunya kembali. “Umurnya masih enam belas waktu dia masuk ke mobil itu. Tugasku bukan mengurusi anak berumur enam belas! Bagaimana aku tahu kalau pagi hari itu dia berulang tahun?”

Dengan santainya lawan bicaranya bersua kembali. “Ah, begitu? Sayangnya umurnya sudah tujuh belas waktu meninggal, jadi ini semua salahmu!!” bentak gadis berkepang tersebut kepada Sehun.

“Meninggal? Apa kalian buta?” teriak Jiyeon membuat keadaan menjadi hening dalam seketika.  “Aku tak peduli dengan pertengkaran kalian. Yang jelas aku harus memberi tahukan staf medis kalau aku baik-baik saja.” ujarnya sambil berjalan ke arah pintuh besar berwarna putih polos.

“Jiyeon, tunggu!” panggil sang lelaki. “Kau tak bisa!” tambahnya namun gadis itu tetap kekeh dengan pendiriannya. Jiyeon terus melangkah kan kedua kakinya dengan cepat. Baru beberapa meter Jiyeon mulai merasakan perasaan yang aneh dalam tubuhnya. Kepalanya seketika nyeri. Merasakan pusing, Jiyeon menghentikan langkah kakinya dan dengan berhati-hati, ia meletakkan tangannya di pinggiran dinding.

Tangannya yang menempel di dinding tak lama kemudian kram. Jiyeon kembali merasakan sensasi yang aneh dalam tubuhnya. Tangannya terasa terbakar padahal saat, Jiyeon menyentuhnya ia merasakan kedua jari jemarinya dingin, sedingin es. Tubuhnya pun tak lama seperti spons. Ya, ringan bagaikan bulu angsa yang terbang tertiup angin.  Debaran jantung  Jiyeon pun semakin melemah dan di titik terakhir, gadis itu sudah tak merasakan denyut nadinya. Pandanganya mulai pudar. Dan dalam hitungan detik tubuhnya pun tumbang.

“Kau  sudah meninggal, Jiyeon-ssi. Maaf.” kata pria jangkung tersebut sambil meraih tubuh Jiyeon ke dalam dekapannya yang nyaris saja mencium lantai  untuk yang kedua kalinya. Kau terlalu jauh dari kami. Jadi kau mulai kehilangan wujudmu.” ucapnya seraya menatap seberang ruangan.

Tatapan mata Sehun memberi isyarat ke arah brankar setelah itu ia berjalan ke sana. Jiyeon menoleh. Napasnya seakan terpompa keluar. Jiyeon terjatuh setengah bersandar di pinggir dinding. “Aku masih di situ? Terbaring di dalam kantong mayat yang ada di atas ranjang dorong.”

“Aku sudah mati? Tapi aku masih bisa merasakan jantungku berdetak.” lirihnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Tak lama kedua kaki Jiyeon mulai lemas dan  ia pun akhirnya merosot ke bawah lantai.

“Bagus sekali. Ternyata gadis itu tukang pingsan ya!” seru gadis berkepang tersebut nyaring.

Sehun langsung berlari ke depan untuk menangkap Jiyeon. Kedua tangannya memeluk gadis tersebut. Kepala Jiyeon terkulai. Sentuhan Sehun membuat segala sesuatu berlomba-lomba muncul kembali. Penglihatan, bahkan denyut nadi milik gadis itu mulai berkedut. Bibir Sehun terkatup sangat rapat. Beberapa sentimeter dari Jiyeon. Pria itu sangat dekat. Sampai-sampai Jiyeon dapat merasakan bau wewangian bunga matahari dan dedaunan mint. Wewangian itu menimbulkan kehangatan dan sekaligus ketenangan di dalam diri Jiyeon.

“Bisakah, kau tutup mulutmu!” ucap Sehun pada Jiwon sambil meletakan Jiyeon ke lantai. “Tunjukanlah sedikit rasa kasihan? Kau tahu itu adalah tugasmu.” tambahnya.

Jiwon terdiam saat Sehun mengucapkan kalimat itu padanya. Tak selang beberapa saat kemudian ada seseorang yang memotong pembicaraan Sehun dan Jiwon. “Aku belum mati!” potong Jiyeon setengah berteriak. Bibirnya bergetar hebat saat kata-kata itu terlontar dari dalam  rongga mulutnya.

“Maafkan aku. Aku sangat menyesal.” kata Sehun sambil  berjongkok di sebelah gadis tersebut. Mata kecokelatannya melebar dan memancarkan sorot prihatin yang tulus. “Aku benar-benar minta maaf. Kupikir laki-laki itu mengincar Chanyeol. Biasanya mereka tidak pernah meninggalkan barang bukti, misalnya seperti mobil.”

Pikiran Jiyeon melayang-layang ke kecelakaan yang baru saja ia alami. Gadis itu lalu menyentuh atas perutnya. Ya, tempat di mana, Kai telah menusuk dirinya tepat di atas tubuhnya.

“Chanyeol pasti berpikir kalau aku sudah meninggal?” lirih Jiyeon, namun perkataannya langsung di balas dengan sinis oleh gadis yang ada di seberangnya. “Kau memang sudah mati!” ucapnya dengan melipat kedua tangannya.

Tatapan mata Jiyeon seketika beralih ke brankar. Di saat  itu juga Sehun langsung menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Jiyeon. “Kalian siapa?” tanya Jiyeon setelah dirinya merasa lebih baik.

Sehun berdiri dengan nada yang ragu, pemuda itu menjawab pertanyaan gadis yang ada di depannya. “Kami… adalah… hmm… Reconnaissance Error Acquisitions Personal. Evaluation and Reconnaissance.

Jiyeon merenungkan jawabannya. “Reconnaissance Error Acquisitions… R.E.A.P.E.R?” Jiyeon tersentak saat ia harus mengucapkan kalimat terakhirnya.

Dalam hitungan detik Jiyeon langsung bangkit dari bawah lantai dengan susah payah. Kedua matanya yang bulat terpaku ke arah brankar. “Aku ada di sini. Aku masih hidup! Tak muungkin aku ada di sana, berbaring tak berdaya di atas brankar mayat?!” teriak batin Jiyeon.

Saat Jiyeon berjalan semakin jauh dengan Sehun dan Jiwon, tiba-tiba gadis itu merasakan kebas di seluruh jari-jari kaki tangannya. “Ya, Tuhan. Aku sudah mati!” lirih batinnya saat padangan matanya mulai pudar. Jiyeon menghentikan langkah kakinya dan tak lama kemudian, gadis itu membalikkan tubuhnya. “Kalian malaikat maut!” ucapnya dengan tertatih-tatih.

“Kami bukan malaikat maut.” jawab Jiwon tegas dan gadis muda itu lalu menjelaskan lebih detail tentang sosok mereka berdua. “Kami malaikat baik. Malaikat jahat membunuh orang sebelum koin mereka di lempar. Malaikat baik berusaha menolong orang itu. Sedangkan malaikat maut adalah pengkhianat yang terlalu banyak membual dan di akhir riwayatnya, pengkhianat itu akan musnah bagaikan debu.”

Sehun lalu menambahkan penjelasan dari Jiwon dengan pemikiran yang sedikit berbeda, “Malaikat maut adalah malaikat baik yang di perdaya sehingga bekerja untuk… sisi lain. Mereka tidak sering lagi pilih-pilih karena tidak di izinkan oleh malaikat jahat, tapi seandainya mendadak terjadi bencana kematian yang dahsyat, mereka akan muncul untuk menarik sejumlah jiwa lebih dini, dengan cara sedramatis mungkin. Mereka itu tukang serobot. Sama sekali tak berkelas.” kalimat terakhir diucapkan Sehun dengan nada yang pahit.

“Kalian membunuh orang. Itu yang dikatakan Kai. Dia menyebutkan sesuatu soal memilih jiwaku. Kalian memang membunuh orang!” teriak Jiyeon histeris.

Sehun menyentuh tengkuknya dengan sebelah tangannya dan berkata. “Tidak juga, kebanyakan tidak.” sambil melirik Jiwon. “Kai itu malaikat jahat, malaikat kegelapan. Kami hanya muncul kalau malaikat jahat menargetkan seseorang yang belum waktunya meninggal, atau kalau terjadi kesalahan.” tambah Sehun ragu.

“Kesalahan?” kata Jiyeon penuh harap. Ya, gadis itu berharap kalau dirinya bisa kembali lagi seperti dulu.

Jiwon berjalan mendekati Jiyeon. “Kau memang belum waktunya meninggal, mengerti? Seorang malaikat jahat mencabut nyawamu sebelum tiba waktu koinmu  di lempar. Memang sudah jadi tugas kami untuk menghentikan mereka, tetapi terkadang kami tak bisa. Kami di sini untuk meminta maaf secara resmi dan akan membawamu ke tempat seharusnya.” Jiwon menatap Sehun sambil mengerutkan dahi. “Dan begitu dia mengakui kesalahannya, aku bisa pergi dari sini.”

Tubuh Jiyeon membeku. Gadis itu terlihat menolak dengan apa yang telah terjadi kepada dirinya. “Aku tak akan pergi kemana-mana. Kalau memang semua ini hanya kesalahan, tak apa. Yang penting kembalikan aku seperti sedia kala.” Jiyeon maju beberapa langka menuju jasadnya yang tergolek tak berdaya di atas brankar. “Kalian bisa, kan?” tanya Jiyeon kembali.

Sehun mengernyit. “Sudah terlambat. Semua orang tahu kau sudah meninggal.”

“Aku tak peduli!!” teriak gadis itu nyaring. Dadanya terasa perih seperti tertusuk sebuah belati saat teringat sesuatu. “Ayah. Dia mengira aku sudah… Ayah…” bisik Jiyeon gugup. Jiyeon menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia membalikan tubuhnya untuk berlari ke pintu keluar.

~OoO~

-Pov Jiyeon-

Aku terus berlari mengejar pintu, dan berhasil masuk ke ruangan berikutnya meskipun aku harus tertatih-tatih. “Aku belum mati!” teriakku lantang. Tiba-tiba aku merasakan perasaan yang aneh. Tubuhku terasa ringan, bagaikan spon bahkan penglihatanku semakin lama semakin kabur.

Di belakangku, Sehun menerobos pintu. Seketika itu pula dunia kembali normal. Rupanya jimat yang dia pakai itulah yang membuat kondisi tubuhku padat. Aku harus punya satu untuk diriku sendiri. Larinya tidak melambat sedikit pun sampai akhirnya dia berhasil mencengkal pergelangan tanganku. Jiwon menyusuli kami. Daun pintu pun terhempas kuat ke dinding, membuat aku dan Sehun melompat kaget. “Park Jiyeon-ssi, jangan diam terus, kau harus pergi.” Teriaknya nyaring.

Kuputar kakiku untuk bergegas pergi menjauh dari Jiwon, tapi Sehun tak mau melepaskanku. “Aku harus berbicara pada ayahku!” teriakku. Sehun menarikku sampai-sampai aku kehilangan keseimbangan. “Kita pergi, sekarang!” gertaknya. Dalam sorot matanya tersirat ancaman yang baru.

Tanpa ba-bi-bu, aku langsung menginjak keras sebelah kaki Sehun. Tubuhnya yang jangkung tertekuk saat dia melepaskanku. Melihat itu Jiwon pun tertawa geli. Aku berlari kencang menyelusuri lorong rumah sakit. Dari kejauhan aku milihat sesosok bayangan yang familiar. Ya, di sana aku melihat sosok Kai sedang berdiri di depan pintu selanjutnya dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat. Seketika aku merasa muak dan merasa jijik dengan senyuman tersebut.

“Kenapa kalian muncul berdua?” tanya Kai saat melihat Sehun dan Jiwon sudah ada tak jauh dari belakangku. “Gadis manisku, kau terlihat menyedihkan sekali, Jiyeon-ah.” ucapnya sambil berjalan menghampiriku dan mengembalikan tatapannya padaku, membuatku seketika mengigil ketakutan. “Kau tewas di peringatan hari ulang tahunmu dan dua malaikat? Ck…ck…ck… Kau benar-benar ratu drama, Park Jiyeon-ssi.  Aku senang kau sudah sadar, jadi waktunya kau pergi.” ungkapnya lembut namun terkesan mengancam. Aku mulai ketakutan saat ia berjalan semakin dekat denganku. “Jangan sentuh aku!” bentakku saat Kai hendak menyentuh sebelah pipiku. Badanku seketika kaku, aku tak mampu bergerak saat matanya yang bak elang menatap dalam kedua mataku.

“Jiyeon-ssi!, Lari!!” teriak Sehun. Seketika tubuhku yang kaku langsung bisa di gerakan. Jiwon berlari ke depanku, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seolah dia mempu menghentikan Kai.

“Apa yang kau lakukan di sini?” terdengar  dengan jelas suara Jiwon yang bergetar. “Dia sudah mati. Kau tidak bisa melempar koin nyawanya untuk kedua kalinya.”

Dengan penuh percaya diri pemuda itu berkata. “Seperti katamu, akulah yang melambungkan koin nyawanya. Jadi dia milikku.”

“Malaikat maut tidak pernah kembali untuk menjemput korbannya. Kau…” mata Sehun beralih cepat ke batu yang menggantung di leher Kai. “Kau bukan mallaikat kegelapan, benar kan?”

Kai menyeringai seolah-olah kata-kata Sehun terdengar sangat lucu. “Memang bukan. Aku sedikit lebih hebat. Bahkan aku lebih tangguh dari pada kau. Sehun-ah, lebih baik kau enyalah dari hadapanku, kalau kau lakukan sekarang, aku tidak akan menyakitimu.” ucapnya  dengan nada yang merendahkan sambil menepuk-nepuk sebalah pundak Sehun.

Kutatap Sehun. Aku merasa tak berdaya saat mata kecokelatannya bertemu dengan mataku. Dia terlihat ketakutan. “Sehun!” Jiwon berteriak histeris, “Jangan!”

Sehun tak menggubris ucapan rekannya. Pemuda itu langsung melemparkan dirinya ke sosok Kai. Dalam gerakan yang begitu pelan namun terlihat menyeramkan, Kai berbalik untuk menghantam Sehun menggunakan kepalan tangannya. Tubuh Sehun pun terlontar ke belakang, menghantam dinding dan jatuh tak berdaya ke bawah lantai. Seketika Sehun pun roboh, dan pingsan.

“Lari!” teriak Jiwon sambil mendorongku ke arah kamar mayat. “Tetaplah terkena sinar. Jangan sampai sayap hitamnya menyentuhmu. Keluarlah dari sini!”

“Bagaimana caranya?”balasku panik. “Dia menghalangi pintunya.” tambahku.

Jiwon berusaha melawan Kai. Kai kembali bergerak, dan dengan sekali pukul, Jiwon pun ambruk. Sekarang tinggal aku sendiri. Tubuhku menengang, namun aku berusaha bersikap tak takut di hadapannya.

“Jiyeon-ah… aku luruskan maksud ucapan Jiwon tadi padamu.” kata Kai. “Larilah menembus dinding. Kesempatanmu mengalahkanku sangatlah kecil, jadi lebih baik kau jadilah gadis yang manis.

“Aku tak bisa!” kataku, lalu menatap pintu yang ada di belakangnya. Kai tersenyum, membuatku ngeri. “Senang bertemu denganmu, Jiyeon-ah. Karena sekarang kau benar-benar bisa melihatku.” Dia melepaskan topengnya lalu menjatuhkannya. Wajahnya sangat tampan, seperti batu pahatan yang sempurna. Kugigit bawah bibirku saat mengingat dia telah menciumku. Aku melangkah mundur, mengambil ancang-ancang untuk segera pergi menjauh dari dirinya. mataku terkesima saat tubuh Kai bisa menembus dinding sehingga sekarang dia ada di belakang ku.

“Dia bisa menembus dinding, berarti aku juga bisa.” jantungku seketika memompa cepat. Kai mengikuti selangkah demi selangkah gerakanku. “Kita pergi bersama. Tak ada seorang pun akan percaya bila aku mendapatkanmu bila kau tak kulempar ke bawah kaki mereka.”

Aku terus bergerak. Tatapanku tak pernah lepas dari Sehun dan Jiwon yang masih tergeletak di lantai. “Terimakasih, aku masih suka di sini.” kataku, berusaha mengalihkan kegugupanku. Tak terasa punggungku membentur dinding dan ternyata posisiku sudah cukup jauh dari Sehun dan Jiwon. “Seharusnya sosokku mulai berubah, tapi nyatanya tidak?” gumamku. Kupandangangi Kai, setelah itu beralih ke batu hitam miliknya. “ternyata batunya berfungsi sama.”

“Kau tak punya pilihan.” kata Kai. “Akulah yang membunuhmu, jadi kau milikku.” Sebelah tangan Kai menyambar pinggangku. Jantungku berdetak kencang. “Brengsek!” makiku, lalu menendang tulang keringnya. Kai terlihat kesakitan dengan tubuh yang membungkuk tapi, dia tetap menggengam erat tubuhku. Keadaan itu membuat kepalanya berada dalam jangkauan tanganku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menjambak rambutnya lalu menghantamkan hidungnya tepat di lututku. Aku merasakan ada tulang rawannya yang patah. Kai pun tak berdaya, dia langsung melepaskanku dan tubuhnya langsung mencium lantai.

“Aku harus keluar dari sini dan tubuhku harus tetap padat.” batinku bergemuruh kencang. dengan jantung yang berdebar-debar hebat ku tarik kalung yang ada di leher Kai sampai putus. Batu itu bergetar saat di tanganku. Ku gengam erat-erat, takut bila batu itu menghilang dari pandanganku.

Kai tak mampu menggerakan tubuhnya. Tubuh Kai tiba-tiba melayang dan langsung menghantam lantai. Kai terngaga menatapku dengan wajahnya yang berlumuran darah seakan dirinya baru saja berlari menerobos kaca.

“Jiyeon-ssi…” terdengar suara parau dari Sehun yang tergeletak. Aku pun langsung berbalik menatapnya, kedua mata kokoanya menatapku dengan pandangan tak fokus. “La…ri…lari..lah secepat yang kau bisa…” katanya dengan napas yang tersenggal. Jantungku kian memompang keras dan dengan langkah yang mantap aku lalu membalik kan tubuhku dan berlari kencang menuju pintu keluar.

~TBC~

Halaoow… semua…

Ketemua lagi sama Phiyun di sini…

Aku bawakan update-tan R.E.A.P.E.R nih, semoga kalian menyukainya yah ^^

Maap rada lama mostinginnya, biasa penulisnya lagi rada sibuk/ gak ada yang naya/ hehe 😀

Aku juga mau ucapkan terimakasih banyak kepada pembaca yang sudah berbaik hati meningglakan komentarnya di part-part sebelumnya, karena komentar dari kalian itu adalah vitamin untuk diriku biar aku lebih semangat lagi buat kelanjutannya, 😀

Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya? Apakah benar Jiyeon telah tewas dan sekarang dirinya telah menjadi roh penasaran? Apakah Jiyeon bisa selamat dari gengaman Kai? Lalu apakah Sehun dan Jiwon bisa membantu melepaskan Jiyeon dari kejaran Kai. Dan lalu apa yang akan terjadi pada ayahnya Jiyeon saat mendengar kabar anak gadis semata wayangnya telah meninggal dunia. Dan mampukah, Jiyeon mengucapkan salam perpisahan kepada ayah tercintanya atau sebaliknya, tak ada salam perpisahan yang terlontar dari mulut anak gadisnya? Temukan jawabannya di part selanjutnnya…

Gomawo ^^

Advertisements

20 thoughts on “R.E.A.P.E.R [Part 3]

  1. Jadi jiyeon masi berada diantara hidup dan mati,, tpi sepertinya memang bakalan gk kembali lagi,, sehun aja gk bisa bantu jiyeon untuk hidup lagi ,,, dan kalau sampai sajad jiyeon di kubur atau dibakar ya pasti roh jiyeon gk punya pilihan selain iklas untuk pergi

    Liked by 1 person

    • Sebenernya di sini Jiyi itu sudah berwujud roh tapi bila dia dekat dengan batu malaikat milik Sehun maupun milik kai roh jiyi wujudnya bisa padat.,,
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini ^^.

      Like

  2. Kamjjong kaya’a napsu banget dah sama nyawa Jiyi emang Jiyi tuh punya sesuatu yang bisa membuat Kamjjong untung

    Jiyi masih abu” dong antara mati atau ngak gimana dia bisa melawan Kamjjong sedangkan Sehun dan Jiwon aja kalah sama Kamjjong

    Pasti ada rahasia kenapa Kamjjong melakukan itu dan apakah Chanyeol tidak tau apa” atau malah dia tau sesuatu

    Liked by 1 person

    • Yap, di sini Jiyi masih abu-abu… tar di part yang akan datang sosok jiyi bakalan, aku perjelas 🙂
      Makasih yah dah nyempetin waktunya buat mampir kesini ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s