[Ficlet] Gone

a whitearmor story

: Park Chanyeol and You :
: General / Angst / Ficlet :

“Ketika kamu pergi, aku merasa hampa.”

 

Hari ini kukira akan menjadi hari yang paling membahagiakan sepanjang hidupku. Hari dimana aku mengenakan sebuah gaun berwarna putih dan kau mengenakan setelan jas berwarna senada. Hari di mana kau akan menyematkan sebuah cincin di jari manisku, dan begitu pula denganku. Hari di mana kau akan bersumpah akan selalu  berada di sisiku dalam suka dan duka. Hari di mana kau dan aku akan selalu bersama hingga ajal memisahkan. Tetapi, semua itu pupus begitu saja, saat kuketahui kau melanggar janji terakhirmu padaku.

Atau tidak benar-benar melanggar?

Suatu hari kau mengajakku untuk pergi bersama ke atas bukit. Seperti biasanya, kau datang menjemputku dengan sepeda kesayanganmu itu. Ketika aku bertanya mengapa kau lebih memilih sepeda, kau hanya tertawa kecil lalu berkata, “Agar aku bisa menikmati setiap detikku lebih lama bersamamu dan membiarkan kau memelukku lebih erat dari belakang.”

Di atas bukit, hal yang selalu kau lakukan pertama kali adalah duduk dibawah sebuah pohon rindang sembari menikmati angin yang berhembus pelan. Di tengah udara yang sejuk itu, tanpa sadar kau jatuh terlelap di bahuku sembari memejamkan kedua matamu. Entah mengapa, saat aku melihatmu, kau terlihat begitu damai dan tenang.

“Kenapa memandangku begitu?” tanyamu tiba-tiba dengan mata masih tertutup rapat diakhiri dengan sebuah senyum di wajahmu.

“Ah, maaf aku membangunkanmu,” jawabku menyesal.

Kau tertawa kecil sebelum kembali membenarkan posisi kepalamu di bahuku. “Tidak. Hanya, bisakah kau membiarkanku tetap tertidur di bahumu?” pintamu lemah. Aku tersenyum singkat, “Bukankah kau selalu melakukannya? Kenapa sekarang harus meminta izin?”

“Aku hanya takut …” jawabmu singkat seperti tengah membiarkan kalimatmu bergantung tanpa ada kejelasan. Satu detik kemudian, kau meraih tanganku lalu menggenggamnya sangat erat. Di saat itu, aku tak memiliki firasat apapun terhadapmu, aku hanya menganggap itu hal biasa seperti apa yang selalu kau lakukan. Namun, itu semua menyimpan sebuah cerita lain setelahnya.

“Apa yang kau takutkan?” tanyaku ringan. Hening. Tidak ada jawaban darimu. Aku menolehkan kepalaku untuk melihatmu sebentar dan ternyata kau sudah terlelap di bahuku seperti apa yang kau minta. Entah mengapa, saat melihatmu terlelap perasaan takut malah semakin menggelayati hatiku.

“Sejujurnya aku juga takut kau terlalu lama terlelap di bahuku dan tidak membuka kedua matamu lagi. Tetapi, kau tidak akan melakukannya kan, Chanyeol Oppa?” gumamku sembari menatapmu lekat.

Saat itu, kubiarkan kau terlelap di bahuku sembari berdoa dalam hati, berharap kau akan kembali membuka matamu dan mematahkan segala perasaan takutku yang mungkin terlalu berlebihan ini.

“Tuhan, biarkan pria yang tengah terlelap di bahuku ini hidup bersamaku hingga kematian memisahkan kami berdua.”

“Sayang …”

“Hum—”

“Ayo bangun. Ini sudah malam…”

“Hum—”

Di tengah tidurku, kurasakan tubuhku seperti tengah berjalan menjauh. Tetapi, bukankah saat ini aku sedang tertidur? Bagaimana bisa? Akhirnya aku buka kedua mataku yang terasa sangat berat dengan sangat pelan. Di hadapanku, kulihat rambut coklat keemasan yang familiar. “Oppa …” panggilku pelan.

“Apa aku membangunkanmu?”

“Kenapa Oppa menggendongku?” tanyaku dengan keadaan setengah terbangun.

“Kau tertidur saat aku sudah tertidur lebih dulu. Saat aku ingin membangunkanmu, aku tidak tega karena kulihat kau tertidur sangat pulas seperti malaikat yang tengah tertidur. Jadi, kuputuskan untuk menggendongmu, mengingat hari sudah semakin gelap dan aku harus segera membawamu pulang dengan selamat,” jawabmu sembari tetap melangkah pulang dengan aku masih berada di punggungmu.

Oppa bisa menurunkanku sekarang, aku bisa berjalan sendiri. Kita bisa kembali ke bukit dan mengambil sepeda lalu pulang bersama ke rumah. Turunkan aku.”

“Biarkan tetap begini, kumohon. Biarkan aku menggendongmu di punggungku. Aku tidak peduli seberat apapun kekasihku, aku tidak akan mengeluh ataupun menurunkanmu dengan paksa. Karena, ketika aku mengajakmu untuk pergi ke bukit, maka aku harus mengantarkanmu pulang juga ke rumah dengan selamat. Bukankah kau ingin memiliki kekasih yang bertanggung jawab?”

Aku mengangguk tanpa bisa membalas perkataanmu. Saat itu aku membiarkanmu untuk menggendongku seperti apa yang kau minta. Bersamaan dengan itu, perasaan takut kembali menggelayati hatiku, perasaan takut yang lebih kuat dari yang sebelumnya.

Oppa, berjanjilah.”

“Berjanji apa?”

“Berjanjilah untuk tetap berada di sisiku, selamanya.”

“Aku, Park Chanyeol, berjanji untuk terus berada di sisi calon istriku yang kini tengah ku gendong di punggungku, selamanya.”

Harusnya kau tidak pergi ke sana. Harusnya kau tetap berada di rumah. Harusnya aku tidak perlu menghubungimu dan memintamu untuk datang. Harusnya kita memang tidak perlu bertemu saat itu. Harusnya aku bisa mengendalikan emosiku. Harusnya aku mengaktifkan ponselku. Harusnya aku mau mendengarkanmu.

Aku menyesal.

Oppa, kau ada dimana?” tanyaku dari sambungan telepon.

“Aku di rumah. Bermain game dan memakan ramen. Ada apa, sayang?”

“Bisa ke butik sekarang? Oppa harus mencoba setelan jas sekarang.”

“Bukannya ini terlalu cepat? Kau jangan terlalu berlebihan menghadapi pernikahan kita. Kau hanya perlu tenang dan santai, maka semuanya akan berjalan dengan baik.”

“Jadi Oppa menganggapku berlebihan?!”

“Tid—“

“Baiklah. Urus saja hidupmu sekarang! Jangan pedulikan aku yang terlalu berlebihan ini!”

Chagi—“

Lima belas menit berlalu sejak aku mematikan ponselku dan memutuskan sambungan telepon denganmu. “Apa dia bilang? Aku terlalu berlebihan?! Tidakkah ia mengerti bahwa aku hanya ingin yang terbaik untuk pernikahan kami?”

Di saat aku tengah sibuk dengan pikiranku, sebuah bunyi hantaman keras terdengar dari arah luar butik. Dengan cepat aku menolehkan kepalaku ke sumber suara. Sebuah mobil truk pengangkut minyak terguling disisi jalan, sedetik kemudian terdengar sebuah ledakan hebat. Setelahnya, hanya ada kobaran api dimana-mana.

Jantungku seketika terasa berhenti berdetak. Paru-paruku seketika terasa berhenti menampung oksigen. Seketika waktu berhenti bergulir. Semua terasa berhenti seketika. Semua potongan masa lalu secara cepat berputar di hadapanku. Kakiku dengan cepat melangkah keluar butik, menembus kobaran api yang masih menyala. Aku tidak tahu kemana aku akan melangkah, aku hanya membiarkan kedua kakiku berlari kemana hatiku mengarahkannya. Hingga, kedua kakiku berhenti di depan sebuah tubuh yang telah berlumuran darah tergeletak begitu saja diatas jalanan aspal yang keras. Seluruh tubuhku melemas, kedua kakiku bahkan tak sanggup menopang tubuhku lagi.

Jadi, di sinilah aku sekarang, di sebuah tempat yang lapang dipenuhi dengan karangan bunga bertuliskan tanda duka cita, sembari memandang lurus ke sebuah gundukan tanah dengan papan bertuliskan nama seseorang  di atasnya.

“Jika akhirnya akan begini, kuharap kau tidak perlu berjanji padaku untuk terus berada di sisiku selamanya.”

Perlahan kurasakan angin berhembus pelan seiring dengan perginya satu persatu orang yang datang memenuhi tempat ini sebelumnya. Aku menutup kedua mataku tenang sambil merasakan seseorang tengah menghapus tetes demi tetes air mataku yang terlanjur jatuh membasahi pipiku.

“Saat aku berjanji untuk berada di sisimu, maka aku akan menepatinya.”

Aku membuka kedua mataku ragu, “Oppa. Kau.. kenap—“

Belum selesai aku menyelesaikan kalimatku, kau tiba-tiba saja menarikku kedalam pelukanmu dan memelukku dengan erat. Disaat itu kau membisikkan sesuatu di telingaku.

“Di manapun dirimu nantinya berada. Bersama dengan siapapun nantinya dirimu. Ingatlah satu hal, ingatlah bahwa aku telah berjanji untuk terus berada di sisimu selamanya.Walaupun aku tak bisa memelukmu lagi nantinya. Walaupun aku tak bisa tertidur di bahumu nantinya. Walaupun ragaku tak bisa kau sentuh, namun ingatlah, jiwaku akan terus hidup di hatimu, selamanya.”

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s