[Ficlet] Love You, Dad

love you, dad

|| Title: Love You, Dad || Author: Phiyun || Genre: Family | Sad | Hurt || Cast: Im Yoona | Choi Siwon ||

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah di tonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Kisah ini aku fokuskan di POV Yoona ya ^^

*** Happy  Reading ***

“Kepergianmu kuikhlaskan namun sosokmu tak akan pernah tergantikan.”

~OoO~

“Selamat tinggal Ayah, aku sayang Ayah.”

Aku menunggu jawaban yang biasa diucapkannya, “Aku lebih menyayangimu.” Sebelum mendengar bunyi telepon di tutup. “Tidak, Ayah tidak lebih menyayangiku.” bisikku di gagang telepon.

Aku selalu sendirian di rumah, membayangkan ayahku menunggu pesawatnya lepas landas. Aku selalu terlelap saat, ayah pulang. Kami jarang ketemu karena ayah sangat sibuk. Mungkin kalau di hitung-hitung hampir sebulan sekali kami  baru bisa saling bertatap muka. Ya, meskipun hanya beberapa menit pastinya, karena jam terbang ayah yang padat untuk mengurusi bisnisnya.

Sebuah pikiran yang sering muncul memaksa masuk ke dalam benakku. Aku tidak ingin memikirkannya, tetapi aku tidak mampu menolaknya. Kekuatanku roboh seketika saat driku memejamkan mata dan membayangkan bila kemungkinan itu terjadi.

“Aku harus siap.” kata hatiku berjaga-jaga.

~OoO~

-Dini hari-

Telepon berdering dalam gelap malam. Hampir beberapa kali telepon rumah terus berdering. Saat aku hendak turun dari kamar, aku melihat jam dinding masih menunjukan pukul 02.00 pagi. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku raih gagang telepon yang sedari tadi mengeluarkan suara.

“Halo…” ucapku setengah berbisik.

Dari seberang telepon terdengar suara ke gaduhan yang membuatku semakin ketakutan. “Yoona, Aku sedang menuju ke rumahmu. Ada kecelakaan, cepat bersiap-siap.”

Kulempar langsung gagang telepon yang saat tadi kugengam erat dan kemudian berlari kencang. Denyut nadiku berhenti sejenak saat masuk ke dalam kamar ayahku. Tempat tidurnya nampak rapi, sama seperti ketika di tinggalkannya seminggu yang lalu.

Aku langsung berlari ke dalam kamarku dan sesegera meraih jaket dan berlari keluar gerbang rumah sambil menunggu kedatangannya dalam panik. Tak lama pemuda itu datang. Kami pun langsung bergegas menuju rumah sakit.

Pemuda itu bernama Siwon. Siwon adalah anak dari mitra bisnis ayah. Ayah Siwon sudah berteman dekat dengan ayahku. Mereka berdua bersikap selayaknya saudara. Bahkan mereka berdua berencana untuk menjodohkan kami berdua saat aku masih menginjak kelas 6 sekolah dasar sedangkan Siwon baru saja lulus sekolah menengah pertama.

 Di perjalanan menuju rumah sakit, dia menceritakan bahwa pesawat terbang yang di tumpangi ayahku harus melakukan pendaratan darurat dan beberapa penumpang mengalami cedera. Sampai detik ini tidak ada yang tahu seberapa parah luka yang di alami para penumpang lainnya.

~OoO~

-Siang harinya-

Yoona memasuki ruang duka dan tanpa berbicara di depan semua orang, berjalan menuju tempat duduk keluarga. Terlihat jelas betapa gugupnya dia. Ia harus kembali membuka luka lama saat lima belas tahun yang lalu, di waktu kematian ibu tercintanya. Sang ibu meninggal karena menderita kanker. Di saat itu dia belum mengerti karena, Yoona masih  duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Dulu dia tertawa saat berjalan menyelusuri lorong duka. Namun kali ini di terdiam membisu seribu bahasa. Senjak awal pemakaman, Yoona selalu menatap lantai, berusaha mengabaikan ratusan pelayat berpakaian hitam yang ada di belakangnya.

Pada pemakaman ibunya, Ayahnya lah yang membaca pesan terakhir. Sejujurnya, Yoona lupa apa yang di utarakan sang ayah. Dia tidak bisa mendengarnya di antara isak tangis histeris yang ada di belakangnya. Selama pembacaan pesan itu, Yoona hanya ingin segera bangkit dari kursinya dan melihat siapa yang ada di dalam peti mati tersebut.  Semua orang sangat tersentuh oleh kata-kata Tuan Im dan tingkah laku putri kecilnya.

Namun itu dulu, sekarang Yoona sendiri yang membacakan pesan terakhir tentang isi hatinya untuk mengiringi kepergian sang ayah tercinta.

~OoO~

Aku menegadah dan menyapa para pelayat, isak tangis terdengar berdatangan dari setiap sudut ruangan dan aku mencoba menghindari kontak mata. Aku pun kemudian menarik napas dalam-dalam dan kemudian mulai membaca. Aku berusaha mengendalkan diri dan mampu menahan tangis.

Diriku ibarat sebongkah batu. Aku harus menahan sedu-sedan dan raungan keras perih saat membaca bagian paragraf yang menyentuh yang kutulis ulang beberapa kali dengan kertas yang penuh coretan. Setelah selesai membacakannya, semua keluarga besar almarhum ayah dan almarhuma ibuku mengantarkan, beliau ke tempat peristirahatan abadinya.

Ini adalah bagian terburuknya. Terakhir kalinya aku duduk di sini, ayahku menangis sedemikian keras, sehingga ibunya sendiri yang harus memeluknya. Sekarang, tidak seorang pun hadir di sini untuk memelukku. Meskipun begitu aku masih bersyukur, karena basih  ada seseorang yang mau menggengam jari-jemariku dengan tangannya yang hangat. Ya, Siwon selalu di sampingku dalam diamnya untuk sekedar memberikan semangat. Aku menunggu bagian pembacaan doa yang telah menghantui diriku selam lima belas tahun.

Pertama-tama mereka memanggil keluarga untuk melemparkan segunduk tanah ke dalam liang lahat. Tak lama kemudian, terbentuk barisan saat semua orang ikut menyampaikan ucapan selamat tinggal yang terakhir. Sementara aku harus duduk di sini dan mendengar bantingan tanah kerikil yang memuakan saat mengenai peti mati. Aku ingin berteriak kepada mereka agar menghentikannya. “Tolong hentikan!” seru  batinku.

Mataku terbuka dan bergetar saat kembali ke dunia nyata. Kukatakan dalam hati bahwa semuanya tidak akan terasa sedemikian pedih bila aku sudah berjaga-jaga. Mempersiapkan diri. Aku telah belajar untuk selalu mengatakan padanya betapa aku mencintainya. Untuk memberinya pelukan berulang kali sepanjang hari. Namun takdir juga yang memisahkan kita berdua. Aku harus mengikhlaskannya. Karena aku yakin di sana Ayah tidaklah sendirian. Ya, ayahku akhirnya dapat bersatu kembali bersama ibuku dan aku percaya bahwa ayah dan ibuku akan selalu mengawasiku  dan menjagaku di surga sana.

-The end-

Halow… ketemu lagi nih ma Phiyun di sini 🙂

Kali ini aku mempersembahkan fanfic yang jauh dari kata romantis, malah gak ada cinta-cintaan-nya. Soalnya ff ini adalah curahan isi hati penulis. Ya. FF ini aku dedikasikan untuk mendiang ‘Ayahku ’ yang sudah pulang ke pangkuan ilahi, setahun yang lalu.

Kalau boleh curhat sedikit. Kisah ini adalah kebalikan dari diriku. Aku jarang mengatakan sayang padanya, bahkan aku jarang bertegur sapa dengan beliau. Ya, walaupun aku tinggal bersama kedua orang tuaku. Tapi aku habiskan hampir 12 jam di luar rumah, untuk kuliah. Pergi kuliah jam 7 pagi pulangnya kadang jam 8 malem. Bawaanya pas pulang ngampus langsung tepar. Bahkan aku pernah pulang kerumah jam 11 malem gegara PKL sama Skripsi, ayah dan ibu selalu setia menunggu kepulanganku. Aku tahu itu akan sulit untuk ayahku lakukan, karena dia sakit. Ya. Beliau sakit stroke jadi beliau harus banyak istirahat.

Badan yang letih dan hati yang capek sirna saat melihat senyuman yang  ia tunjukan dengan tubuh rentahnya. Ayahku sudah menderita sakit Stroke bukan setahun, dua tahun tapi sudah hampir sepuluh tahun. Beliau sakit saat aku hendak melakukan UN menuju jenjang kelas 1 SMP. Aku harus tetap fokus melaksanakan ujian nasional di pagi harinya sedangkan ayahku ada di dalam ruang ICU. Yang paling mengenaskan, itu terjadi tepat di hari ulang tahunku. Serangan storke itu membuatnya lumpuh total, sampai-sampai penglihatan beliau hilang separuh. Hatiku remuk redam.

~OoO~

Di hari duka, hanya aku yang tak menangis. Kakak-kakakku menangis, bukannya aku tak ingin menangis, pikiranku saat itu kosong. Aku belum bisa membedakan apakah ini nyata atau hanya sebuah mimpi. Meskipun dalam hatiku meraung ingin berteriak tapi bibirku terkunci rapat. Meskipun kedua mataku terasa perih namun tak ada setetes airmata pun yang mengalir. Banyak sanak saudara maupun teman berkata kalau aku tegar. Aku tak setegar itu. Dadaku sesak karena menahan gejolak di dalam dada.

Aku sangat Shock, padahal kemarin aku baru saja mengantar beliau dari pulang cek up di hari jumat. Dan hasilnya baik-baik saja. Kenapa paginya beliau sudah tiada? Ada salah satu warga  bertanya kepada keluarga kami, saat jenazah beliau sudah selesai di kafani.  Apakah kemarin jumat, beliau pergi ke mesjid untuk sholat jumat? Karena kemarin dia melihat beliau sedang sholat jumat. Bukan satu orang saja tapi banyak warga yang melihat ayahku pulang dari mesjid tanpa naik motor. Padahal biasanya  aku yang selalu mengantar jemput beliau mengunakan motor setiap hari jumat. Meskipun saat aku kuliah aku selalu menyempatkan pulang untuk sekedar mengantar jemput ayahku ke mesjid. Karena kebetulan mesjid di dekat rumahku cukup jauh di tempuh.

Mendengar itu, tangiskupun pecah. Air mataku akhirnya menetes karena terharu, karena sampai detik terakhir beliau masih ingin beribadat kepada sang pencipta dan di saat itu juga ada rasa malu yang menghantam jantungku. Aku yang sehat walafiat terkadang suka lupa untuk beribadah yang hanya memakan waktu  lima menit saja aku sudah lelah bahkan malas, tapi beliau tidak. Memang di hari itu, beliau ingin sholat tapi sudah jam 12 lewat, saat beliau sampai ke rumah sehabis cek up. jadi beliau mengurungkan niatnya. Dia selalu mengingatkanku di saat terdengar suara azan, dia juga sering mengajak sholat berjamaah di rumah. Meskipun dia harus duduk di atas kursi.

Ucapan terakhir yang akan selalu aku ingat dan tak bisa aku lupakan sehari sebelum kepergian beliau untuk selamanya adalah. “Terimakasih sudah memenuhi semua permintaan Papa. Terimakasih sudah membuat Papa bangga. Terimakasih, nak.” Itu adalah kalimat yang paling mengharukan di sepanjang umurku untuk yang pertama dan terakhir yang telah di ucapkan oleh ayah tercintaku sambil memelukku.

Seandainya aku tahu itu adalah hari terakhirnya memeluk diriku, mungkin tak akan aku lepaskan pelukannya terburu-buru. Aku akan membalas pelukannya dan bahkan mungkin aku akan memeluknya lebih erat lagi dan lagi.

Seandainya aku tahu itu adalah perbincanggan terakhirnya denganku, aku rela semalaman begadang untuk bercakap-cakap dengan dirinya dan memenuhi semua keinginannya. Aku ingin lebih banyak lagi memberikannya kebahagian,

Tak ada yang bisa aku berikan pada beliau di saat hidupnya. Materi maupun pangkat sama sekali tak ada. Yang bisa aku berikan adalah tenaga dan pikiranku. Aku ikhlas melepaskan cita-citaku untuk mengikuti keinginan beliau. Tak ada sedikit pun sesal di dalam hatiku. Karena setelah aku sadari sekarang, cita-citaku yang sebenarnya yaitu selalu ingin membuatnya tersenyum dan bangga dengan apa yang sudah mampu aku raih sesuai dengan kehendaknya.

Jadi untuk para readers yang masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap, sering-seringlah memeluknya dan mengatakan aku sayang kalian. Meskipun terkesan mudah dan berlebih-lebihan namun setidaknya kalian bisa menunjukan rasa sayang kalian. Jangan menjadi seperti aku meskipun sangat menyanyangi mereka tapi aku pelit untuk mengucapkan kalimat singkat itu. Karena bila orang tersebut sudah tiada, menyesalpun percuma. Karena waktu tak bisa diputar ke belakang.

Bagi kalian yang sudah di tinggalkannya, kalian tak usah berkecil hati karena doa kalian akan tetap terjamah untuknya. Karena yang bisa membantu orang yang sudah tiada di dunia hanyalah amal dan kebaikan yang ditinggalkan dan satu lagi doa anak-anak yang soleh dan soleha.

Maap ya, penulisnya jadi baper nih, ><. Curhatnya jadi kaya oneshoot ya, hihihi 😀 terimakasih sudah menyempatkan waktunya buat membaca cerita gajeku yang tak jelas ini. Jangan lupa RCL-nya ya…

Gomawoyo, bow ❤

Advertisements

29 thoughts on “[Ficlet] Love You, Dad

  1. Ko sedih pas baca kisah author nyaaa, sabar yaa ka phiyun. Semoga ayahnya ditempatkan disisiNya, semoga amal dan ibadahnya diterima olehNya. Semangaat ka phiyun.

    Liked by 1 person

    • Sama Kak… sebenernya ff ini terinspirasi dari almr. papaku. dan ini kebetulan juga aku publish beberapa hari sebelum hari wafatnya papaku. jadi pas buat pingin nangis bercampur kagen ma beliau (T-T)
      btw Makasih ya dah nyempetin mampir kesini ❤

      Like

  2. Nggak tahu kenapa lebih fokusnya ama cerita authornya daripada ff nya , ,
    Sering kirim doa aja buat ortu, saya juga kehilangan panutan saya tahun lalu yang bikin nyesel tuh nggak ada disamping beliau pas meninggal , , dan beliau juga meninggalnya mendadak nggak sakit , ,
    #maaf jadi ikutan curhat

    Liked by 1 person

  3. Sediiiih….nangis baca na..n jd keinget alm. Ayah, masi blm bisa menuhi keinginan trakhir, walopun itu mudah. Dan blm jg smpt mnta maaf, krna ayah meninggal diruma sakit dan aquh dirumah jagain adik2…. Apapun itu, bagaimanapun itu ayah sosok yg tak akan prnh terganti, skrg qt cuma bisa doain aja… Yg sabar yah chingu, smga ayah kita dpt tempat yg terbaik disisi Allah SWT, Ammmmmiiin…..

    Liked by 1 person

  4. Huaa jdi mneteskan air mta😂 jdi keinget ama sikap aku yg msih blm bisa buat bnr2 patuh ke orng tua 😢 curhtan author aku bisa ngebayangin rasanya itu kek gmna jdi sedihh.. thor yg kuat yaa.. sya doain smoga sang papa diterima di sisi-Nya 🙏

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s