Falling For Innocence [Chapter 10]

Falling For Innocence

|| Title: Falling For Innocence || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life | Comedy | Friendship || Main Cast:  Jiyeon |Kris a.k.a Wu Yifan | Tao | Jessica | Sehun | Eunjung ||

Preview:  Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5 || Part 6 || Part 7  || Part 8 || Part 9

WARNING!!! Please Don’t Silent Readers!!!

–&–

***Happy Reading Guy’s***

-Privew-

Kris dan Jiyeon terkejut saat melihatnya namun Kris tetap berjalan menghampiri pamannya. Bahkan ia juga memanggil-mangil nama sang paman, sayangnya pria tua itu tetap terdiam dengan kepala yang tertunduk.

“Paman…”

Perlahan-lahan Kris melepaskan gengaman tangan sang paman dari ukiran namanya dan seketika  gengaman tangan itu terhempas tanpa perlawanan. Kris mencoba memanggil pria tua itu lagi. kali ini dengan suara yang bergetar. “Paman…”

Kris mencoba membangunkan sang paman dengan cara mengoyang-goyangkan tubuh pria tua itu dengan pelan. Tubuh renta itu pun tergolek tak berdaya di hadapan Kris. Kris menangkap tubuh pamannya yang hampir saja terjatuh dari atas kursinya.

Kris sudah tahu kalau pamannya sudah tak bernyawa saat ia mengegam pergelangan tangan pamannya saat tadi dan dengan mata yang berkaca-kaca Kris pun berkata.

“Kenapa? KENAPA!!!”

“Jabatan apa ini? JABATAN APA INI!!!”

“Jawab Aku. Jabatan apa sebenarnya ini? Jawab aku, Paman.”

Rintihnya sambil menangis di dalam dekapan tubuh sang paman yang sudah tak bernyawa.

-End-

~OoO~

-Ke esokan harinya-

Satu persatu semua pegawai Hermia memberikan penghormatan terakhir mereka kepada PresDir terdahulu. Di sana sudah di siapkan sebuah altar bagi para penduka yang di dirikan di samping sudut lobi kantor.

Kebalikan dari para pegawai Hermia, Kris sama sekali tak menghadiri pemakaman sang paman. Ya, pria itu mengurung dirinya di rumah. Saat sekertaris Oh mendatangi kediamannya, pria itu melihat atasannya sedang duduk meringkuh di atas kursi kerjanya dengan tubuh yang di tutupi oleh selembar selimut yang berwarna kecokelatan.

“Apakah anda baik-baik saja?” tanya Sekertaris Oh. Kris tetap terdiam, pria itu terlihat lemah dan pucat dan itu membuat Sehun kembali bertanya tentang keadaan Kris. “Mengapa kau begitu lesu? Apa kau belum makan apa-apa dan tidak tidur sama sekali sepanjang hari?”

“Jantungku sedikit sakit.” bisiknya seraya mengusap pelan atas dada sebelah kirinya. Mendengar keluhan yang dirasakan Kris, Sehun langsung mengambil telepon gengamnnya untuk menghubungi dokter pribadi Direkturnya. “Aku akan buat janji dengan Dr. Jo.” kata Sehun kembali. Di saat Sehun hendak menelepon dokter pribadi Kris, tiba-tiba Kris berkata. “Aku baik-baik saja, Sehun-ah.”

“Apakah anda yakin?” tanya sekertaris Oh ragu. Tak lama Kris lalu mengangguk-kan kepalanya dengan mantap di depan lawan bicaranya dan kemudian meminta Sehun untuk membantunya. “Tolong cari tahu soal pendonor jantungku.” ujarnya parau.

Jelas Sehun terkejut dengan permintaan atasannya, Kris. “Apa? kau tahu itu melanggar hukum!”

“Itu sebabnya, aku ingin kau mencari tahu secara diam-diam.” dengan nada yang lemah. Tapi permintaan Kris langsung di tolak mentah-mentah oleh bawahannya, Sehun. “Aku tidak bisa melakukannya untukmu, aku…”

Belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya Kris langsung memotongnya. “Pergilah. Aku lelah. Aku ingin beristirahat.” ucapnya dingin sambil menaik-kan kembali selimut yang berwarna kecokelatan tersebut ke atas tubunya. Sehun pun tak bisa membalas perkataan atasananya dan yang bisa ia lakukan adalah mengikuti perintah Kris.

~OoO~

-Seminggu kemudian-

Hampir seminggu, Kris tak masuk kantor. Sekertarisnya, Sehun sampai-sampai frustasi memikirkan atasannya. Karena selain Kris tidak masuk kantor, Kris juga tidak pernah membalas teleponnya maupun pesan-pesannya. Apalagi Sehun sama sekali tidak tahu  keberadaan sang bos.

“Apa yang akan kita lakukan dalam pertemuan perusahaan nanti?” gumam Sehun dan tak sengaja keluhannya di dengar oleh Jiyeon yang kebetulan baru saja tiba di kantor. “Aku akan coba sekali lagi untuk menghubunginya.” kata gadis itu, mendengar itu wajah sekertaris Oh menjadi sumeringah.

~OoO~

-Siang harinya-

Semua para pegawai Hermia di kejutkan oleh sebuah pengumuman yang di tempel di mading perusahaan, bahwa PresDir baru Hermia adalah Tao. Meskipun baru calon PresDir, namun orang-orang kantor sudah heboh. Banyak karyawan yang senang dengan berita tersebut karena hampir seluruh karyawan Hermia sangat tidak menyukai Kris menjadi pengganti PresDir Hermia. Semua orang bersuka cita tapi sayangnya Jiyeon terlihat tidak terlalu senang dengan berita tersebut.

Beberapa saat kemudian Tao datang di depan kerumunan, melihat Tao datang para pegawai Hermia langsung memberi selamat kepadanya tak terkecuali Jiyeon. Meskipun Jiyeon memberikan selamat dengan nada yang sedikit berat namun Tao tetap senang.

“Apa Direktur Kris masih tidak datang?” tanyanya, Jiyeon pun membalasnya dengan angukan kepala pelan seperti mengisyaratkan kalau pertanyaan yang di tanyakan oleh pemuda itu adalah benar. “Aku harus menerima laporan pertengahan auditnya. Bisakah kau membantuku untuk menemukan laporannya?” pinta Tao kepada Jiyeon.

Sebenarnya Jiyeon sedikit keberatan dengan permintaan Tao tapi gadis itu tetap harus mengikuti perintah Tao karena kedudukan mereka berdua. Ya, Jiyeon adalah bawahan Tao. Jadi meskipun dia berteman dekat, dia harus berlaku sopan kepada Tao dengan cara mengikuti perintahnya.

Tak lama kemudian Jiyeon pun tiba di ruangan kerja Tao. Ketika ia masuk, Jiyeon di kagetkan oleh berbagai macam makanan di atas meja tamu. “Duduklah.”

Jiyeon terpaku, saat Tao malah menyuruh dirinya duduk di depan meja yang sudah ada banyak makanan yang terhidang. “Aku bilang duduklah.” seru Tao untuk yang kedua kalinya. “Baik Direktur.” balas Jiyeon ragu sambil perlahan-lahan duduk di depan bangku yang kosong.

“Di saat kita hanya berdua jangan bicara secara formal kepadaku, itu jadi aneh.”

Jiyeon langsung menolak permintaan Tao kali ini. “Tapi tetap saja jika ada yang masuk, kita akan mendapat masalah.” Tao tersenyum saat melihat ekspresi wajah Jiyeon yang kelabakan saat harus mengiyakan permintaanya kali ini. Dengan santai pria itu pun berkata. “Tidak ada yang datang. Aku katakan pada, mereka untuk tidak menganggukku selama 2 jam ke depan.”

Jiyeon semakin tercengang dengan perkataan yang barusan saja di katakan Tao. Sampai-sampai tanpa sengaja gadis itu sedikit berteriak. “Apa?!”

Tao merasa geli saat melihat respon yang di perlihatkan padanya. Tak disana saja, Tao juga menyuruh Jiyeon untuk beristirahat di sini selam dua jam, karena hampir sepekan ini Jiyeon di sibukkan dengan pengurusan makan PresDir Wu.

“Apa ini? lalu, pekerjaan ini..” sambil memengangi berkas audit yang di minta Tao kepadanya.

“Itu cuma sebagai alasan.” balasnya santai, “Entah kau ingin tidur siang atau hanya membaca sebuah majalah, istirahat saja dulu lalu setelah itu kau boleh pergi.” tambahnya kembali.

Jiyeon menolak dengan lembut semua perhatian Tao terhadapnya. Jiyeon merasa tidak baik bila melakukan itu semua untuknya. “Ini jadi membebani dirimu. Aku hanya ingin bekerja.” ucap Jiyeon sambil bangkit dari duduknya.

Saat gadis itu hendak pergi tiba-tiba Tao berkata. “Jika kau pergi begitu saja, maka kau membuatku jadi kelihatan bodoh.”

“Tapi PresDir, orang yang harus anda urus itu karyawan perusahaan bukannya aku seorang.” kilah Jiyeon. Tapi tanggapan Tao tetap sama, dia tetap meracau pada Jiyeon untuk tetap di sampingnya. Akhirnya Jiyeon luluh juga dengan bujukan Tao.

Tao lalu meminta berkas yang sudah di bawa oleh Jiyeon dan kemudian Tao menyuruh Jiyeon memakan makanan yang sudah ia siapkan. Baru beberapa suap Jiyeon menyantap makananya tiba-tiba Tao merusak suasana hati Jiyeon dengan perkataanya. “Jiyeon-ah, setelah pertemuan dewan direksi  bulan ini, aku akan menjadi PresDir. Mulai saat itu, aku tidak akan menjadi temanmu. Kau tahu itu kan? Aku harap kau mengerti maksudku.”

~OoO~

-Di malam harinya-

Setelah selesai bekerja, Jiyeon lalu mendatangi rumah Kris. Gadis itu datang dengan membawah beberapa laporan kerja tapi setelah beberapa saat tiba di depan pintu gerbang kediaman Kris, Jiyeon memutuskan untuk pergi. Meskipun ia pergi dari kediaman Kris, namun Jiyeon menyempatkan waktu menuliskan pesan kepada atasanya.

“Pertemuan Perusahaan dengan Wakil Perdana Menteri, anda selalu tidak hadir. Anda harus menghadiri pertemuan perusahaan dengan wakil perdana menteri. Kapan anda akan kembali bekerja?”

 

Sayangnya setelah di baca oleh Kris, pesan itu langsung di hapusnya. Pria jangkung itu sama sekali tak membalas pesan dari Jiyeon.

~OoO~

Hari terus berlalu, tapi Kris tetap tak hadir ke kantor. Jiyeon pun terus berusaha menghubungi Kris dengan mengirim pesan karena pria itu sama sekali tak mau mengangkat panggilan darinya.

“Hari ini kita menerima pemintaan wawancara dari Kantor Berita Keuangan. Aku ingin melihat anda kembali bekerja. Apa yang harus aku lakukan? Tolong jawab!”

 

Tapi Kris tetap saja tidak membalasnya. Selama hampir dua pekan dia absen, Kris hanya bermalas-malasan di vilanya.

Jiyeon sampai kehabisan akal, dia pun akhirnya mengirim pesan dengan alasan kesehatan Kris.

“Dr. Jo menghubungiku. Dia bertanya soal berat badan dan tekanan darah anda, dan informasi suhu tubuh anda. Apa anda baik-baik saja?”

 

Di hari berikutnya

 

“Musim semi sudah hampir selesai. Dimana anda sekarang?”

 

Lalu Jiyeon menyisipkan sebuah gambar pohon sakura yang sedang bermekar indah di pesan yang saat tadi ia kirim ke Kris. Tapi sayangnya Kris tetap tak membalas dan seperti pesan-pesan sebelumnya pesan itu langsung di hapus oleh pemuda itu.

-Di malam harinya-

Saat Kris sedang asik menikmati panorama malam di luar balkon villanya, tiba-tiba telepon gengamnya berbunyi. Ternyata ada pesan yang ia dapatkan dan itu dari orang yang sama, Ya. Jiyeon mengirim kembali pesan pada Kris. pesan itu bertuliskan.

“Besok tanggal 25, aku merasa aku harus memberitahukanmu, Bukankah saatnya untuk pergi ke pegunungan IL Wuel ?”

 

Kris terdiam dan saat ia hendak menghapus pesan itu, dia teringat akan sesuatu. Dan pada akhirnya pesan itu pun tak jadi di hapus olehnya.

~OoO~

Di siang harinya Jiyeon bertemu dengan Eunjung di sebuah cafe yang tak jauh dari Hermia. Di sana Jiyeon menceritakan kepada Eunjung tentang Tao yang menyatakan cinta padanya. Sontak Eunjung terkejut dengan berita tersebut.

“Apa? Tao mengatakan itu kepadamu?” teriak Eunjung. Jiyeon tersipu malu dan menyuruh sahabatnya karibnya jangan berteriak keras-keras. “Lalu? Apa kau akan berkencan Tao?” tanya Eunjung kembali.

Sekarang Jiyeon yang terkejut dengan pertanyaan Eunjung. Merasa Jiyeon sulit menjawab pertanyaanya, Eunjung lalu bertanya sekali lagi namun nadanya kali ini terdengar memaksa. “Jawab saja pertanyaannya! Apa kau akan berkencan dengannya?!”

Melihat reaksi Eunjung seperti itu, membuat Jiyeon mengira kalau Eunjung menyukai Tao. “Hei, Apa kau suka dengannya?” celetuknya dan langsung di bantah oleh Eunjung dengan ancaman. “Apa kau ingin mati?”

Jiyeon tertawa geli saat melihat Eunjung yang terlihat panik. Karena baru pertama kali sahabatnya bersikap seperti itu setelah Jiyeon memperkenalkan Tao di saat Chanyeol melamarnya.

“Bahkan jika kau memutuskan untuk berkencan dengannya, tunggu selama 2 minggu. Tidak, bahkan lebih dari 2 minggu..” pinta Eunjung pada sahabatnya, Jiyeon.

Jiyeon tersenyum sambil berkata. “Mengapa kau jadi seperti ini hari ini?”

Dan di saat itu juga, ponsel Jiyeon berbunyi. Dia mendapati pesan dari atasannya, Kris yang bertuliskan. “Bisakah Kau datang kerumahku sebentar saja?

Dengan cepat Jiyeon langsung pergi begitu saja meninggalkan Eunjung yang masih sibuk mengomentari hubungan Jiyeon dengan Tao. Jiyeon berlari kencang tanpa henti menuju kediaman Kris. meskipun ia terengah-engah namun terlihat seulas senyuman sumeringah dari kedua sudut bibirnya saat ia telat tiba di depan gerbang rumah Kris.

Di sana Jiyeo melihat sesosok pria menggunakan pakaian serba hitam yang sedang duduk memunggungi dirinya. Ya, pria itu adalah Kris. Jiyeon pun lalu menghampiri sosok tersebut sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Belum sempat Jiyeon menyapanya, tiba-tiba pria itu membalik-kan tubuhnya. Sepertinya ia bisa tahu kalau Jiyeon sudah tiba.

“Aku tidak bisa melihat anda, jadi aku merasa khawatir.” ucap Jiyeon ragu namun tanggapan yang di ia terima malah terkesan dingin. “Untuk apa?” tanya Kris.

“Aku pikir anda sakit  karena apa  yang sudah terjadi kepada PresDir Wu.” balas gadis itu. Kris menyangkalnya dengan berkata. “Mengapa aku harus begitu? Aku merasa baik kalau, Dia sudah tidak ada sekarang. Aku hanya beristirahat. Aku sudah lama tidak mengambil cuti.” kilahnya.

Meskipun terdengar bohong namun Jiyeon tetap tersenyum lega, karena dia dapat bertemu Kris dengan melihat kondisinya yang terlihat sehat.

“Soal pengunungan IL Wuel… Ikutlah denganku.” ucap Kris kembali.

“Aku?” ujar gadis itu ragu.

Kris melakukan itu karena dirinya sudah lama tak ke pemakaman orang tuanya. “Aku pernah kesana satu kali, 20 tahun yang lalu, jadi, ikutlah bersamaku.”

~OoO~

-Di pemakaman-

Sesampainya di sana Jiyeon sudah menyiapkan berbagai makanan yang dulu sangat di sukai oleh kedua orang tua Kris. Setelah menyiapkannya, Jiyeon pun pergi agar Kris dapat berbicara dengan mendiang kedua orang tuanya.

Selepas Jiyeon pergi, terlihat dengan jelas ke canggungan yang terlihat di wajah Kris. karena hampir 20 tahun ia tak pernah berkunjung ke makam orang tuanya. Bukan-nya ia tak mau bertemu dengan orang tuanya namun ada alasan lain yang membuatnya menjadi enggan ke sana.

 Kris lalu duduk di atas batu nisan sang ayah dan tak lama kemudian pria itu berkata. “Aku datang. Ayah… Ibu… Yifan datang.”

Lalu Kris mulai menceritakan apa yang ia rasakan. Ya, selayak anak sedang bercerita di depan kedua orang tuanya. Kris bercerita dengan wajah yang sumeringah meskipun dia hanya dapat berkata tanpa bisa melihat sosok kedua orang tuanya.

“Aku sedikit terlambat kan? Membutuhkan waktu 20 tahun untuk menepati janji, tapi aku masih melakukannya dengan baik, kan?” tiba-tiba pria itu terdiam dan tak lama kemudian dia melanjutkan ucapannya. “Kenapa? Karena semua itu sungguh sulit bagiku. Aku sudah mengatakan semuanya kepada kalian. Aku akan kembali tahun depan.” Tambahnya dengan jari jemarinya yang mengusap pusaran orang tuanya.

~OoO~

-Di tempat lainnya-

Tao mengadakan rapat tertutup dengan para karyawan pabrik. Para karyawan meminta Tao untuk membantu mereka karena setelah pemakaman PresDIr Wu selesai, kantor pusat malah menurunkan resume pemecatan karyawan pabrik.

“Kita bahkan tidak mengalami kebangkrutan. Bukankah ini sungguh keterlaluan? Untuk itu, kami hanya bisa mempercayai anda, PresDir Tao.” ucap ketua Park yang sebagai wakil pegawai pabrik.

Dan Tao pun berkata dengan tersenyum. “Minggu depan, setelah penunjukan diriku  sebagai PresDir, aku akan membawa penawarannya ke pertemuan dewan direksi.”

Mendengar kabar itu membuat semua para buruh pabrik gembira tak terkecuali Ketua Park.

~OoO~

Di saat Kris dan Jiyeon hendak kembali ke Seoul, hujan lebat turun dengan derasnya. Di dalam mobil Jiyeon terus bertanya kepada Kris, mengapa ia tak berkata banyak hal kepada orang tuanya. Karena gadis itu baru menunggu kurang dari dua puluh menit di dalam mobil.

“Tidak, tidak banyak yang perlu dibicarakan.”

“Kenapa? Padahal anda bisa berbincang apapun saat tadi!” seru gadis itu dengan nada yang menyindir atas kebodohan yang di lakukan Kris.

Sayangnya Kris tetap irit berbicara, karena kesal mendengar ocehan dari Jiyeon, pria itu lalu berkata. “Mengapa hujannya sangat lebat? Ini hari pertamaku mengemudi seperti ini.” seketika gadis itu terdiam sambil menoleh ke arah Kris yang sedang sirius mengemudi. “Apa?”

Dan di saat itu juga, Kris berpura-pura mengolengkan laju kendaraanya untuk menggida Jiyeon.  Jiyeon histeris panik sedangkan Kris tertawa geli saat melihat ekspresi Jiyeon yang ketakutan dan saat ia ingin mengolengkan laju kemudianya untuk yang kedua kalinya tiba-tiba ban mobil yang di kendarainya masuk ke dalam kubangan lumpur yang cukup dalam.

Mereka pun lalu keluar bersamaan dari dalam mobil untuk melihat apa yang terjadi. Jiyeon langsung membuka payung dan kemudian gadis itu langsung memayungi Kris yang terlihat kesal karena ban mobilnya masuk ke dalam kubangan lumpur yang cukup dalam.

“Aku akan memanggil mobil derek. Aku juga akan memanggil taksi sehingga Direktur bisa pergi.” ucap Jiyeon dengan sebelah tangannya yang sibuk menelepon dan yang satunya lagi memayungi Kris.

“Meninggalkan kau disini sendirian?”

Jiyeon lalu menjelaskan kalau dirinya yang akan  mengurusi semuanya. “Saat mobil dereknya datang, aku akan mengurusnya. Butuh waktu agak lama untuk mobil dereknya tiba.” tambah Jiyeon.

Tak sengaja Kris melihat tubuh Jiyeon sudah basah kuyub karena dia hanya memayungi Kris sendiri. Dengan kesal, Kris langsung menarik Jiyeon ke dalam dekapannya. “Dasar gadis bodoh! Kita ada di tempat yang tidak  kita kenal, kenapa harus meninggalkan kau sendirian  dan apa kau harus basah karena hujan!” bentak Kris.

“Tidak juga, aku hanya melakukan tugasku.” balas gadis itu dengan wajah polosnya.

“Tolong hentikan perlakuan seperti ini.” mendengar permintaan, Kris. Jiyeon langsung memundurkan langkahnya namun saat gadis itu hendak memundurkan langkah kakinya yang kedua kalinya, tubuhnya langsung di tarik kembali mendekat ke arahnya. “Tolong mendekatlah.” ucap Kris kembali.

~OoO~

Mereka pun terjebak hingga malam hari. Karena mereka berada di wilayah pedesaan sehingga mobil derek akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke sana. Hampir tiga jam berlalu dan beberapa jam itu mereka terdiam dengan canggung di dalam mobil.

“Penghangatnya juga tidak bekerja sekarang.” kata Kris saat melihat Jiyeon yang mengigil kedinginan. Apalagi bahan bakar mobilnya tak lama lagi akan habis.

“Mobil dereknya sedikit terlambat.” kata Jiyeon cangung.

“Kau sudah mengatakan itu. Mereka membutuhkan waktu beberapa jam karena kita di jalan pedesaan.”

“Ah. aku sudah mengatakan itu juga.”

“Jangan memaksakan untuk bicara, akan membuat situasinya jadi semakin aneh.” ujar Kris dingin dan gadis itu langsung menundukan kepala sambil menganguk pelan.

Sesaat kemudian terdengar suara…

“Kkrriiuuk…”

Perut Kris tiba-tiba berbunyi nyaring di dalam keheningan mereka. Kris yang malu tidak mau mengakui kalau itu adalah suara dari perutnya. Dia  malah menuduh Jiyeon yang lapar.

“Apa kau lapar?”

“Apa?”

“Perutmu mengeluarkan bunyi.”

“Apa?”

Jiyeon tersenyum geli saat melihat Kris yang terus menuduh dirinya yang lapar padahal terdengar jelas kalau asal muasal suara tersebut dari arah perut miliknya. “Mari Kita coba ‘Eumbok’ (Minum anggur atau makan makanan untuk leluhur)” tawar Jiyeon.

Kris mematung dia tak mengerti apa itu ‘Eumbok’. “Direktur sedang bergurau kan? Masa anda tak tahu?” Kris tetap terdiam, dia memang benar-benar tak tahu apa itu. mengetahui itu Jiyeonpun kembali tersenyum saat melihat kepolosan Kris.

~OoO~

Di malam yang sama Eunjung dan rekan-rekannya diam-diam membuntuti Tao untuk mencari bukti kematian dektetif Park. Sampai-sampai Eunjung nekat mengajak petugas forensik untuk mencari bukti secara diam-diam tanpa surat izin hingga membuat rekannya menjadi cemas.

“Jika Kepala kepolisian tahu aku yang melakukannya, aku akan diberi terguran!”

“Dr Choi, jika hal yg buruk terjadi, dia dan aku akan bertanggung jawab.” ucap Eunjung enteng tapi sayangnya rekannya yang sedang mengemudi keberatan. “Mengapa aku dilibatkan!”

Mendengar perselisihan Eunjung dan rekannya, ahli forensik menjadi semakin ingin membatalkan rencana tersebut. tapi Eunjung tetap meminta dengan sedikit memaksa. “Cek saja bercak darah disana, tolong. yang kita butuhkan hanya bercak darah.”

“Apa kau sedang bergurau? Apa kau tidak perlu mengecek DNA nya? Mobil sekaranga ini ada banyak bercak darah dari binatang yang tertabrak atau menabrak!” seru pemuda itu.

Tapi Eunjung membalasnya dengan enteng. “Baiklah…darah binatang, darah manusia, hanya temukan saja bercaknya.”

~OoO~

-2 jam kemudian-

Akhirnya Kris dan Jiyeon di jemout oleh mobil derek. Tak sengaja kaki Kris menyenggol makanan dan botol soju yang sudah habis. Saat di perjalanan, Jiyeon bertanya kenapa selama ini Kris selalu menyembunyikan dirinya.

Dan Kris pun menjawab. “Karena… Alasan aku untuk hidup sudah hilang.” Suasana di antara mereka pun kembali canggung. “Kau benar, aku seperti Pamanku. Hanya karena balas dendam, aku sudah menjadi seperti Pamanku. Meskipun aku membencinya.” tambahnya dengan menghela napas.

“Jadi karena itu, anda tak banyak berbicara dengan kedua orang tua, Direktur tadi?” tanya Jiyeon kembali. Tapi balasan yang di katakan Kris mengejutkan Jiyeon. “Aku merasa agak sedikit malu, Sepertinya Ibu dan Ayahku mengatakan. ‘Mengapa kau berubah menjadi monster’.” Ungkapnya kemudian Kris langsung memalingkan wajahnya.

Jiyeon memandangi Kris dengan tatapan matanya yang dalam, sepertinya gadis itu merasakan perasaan yang sama seperti apa yang di rasakan oleh Kris. Kemudian Jiyeon pun berkata. “Direktur… Hari ini…hari yang aneh.”

“Hemm…?”

“Aku berkata seperti ini karena sepertinya aku mabuk.” Jiyeon terdiam namun tak lama kemudian ia melanjutkan ucapannya. “Ayah dan Ibu anda, tidak akan berpikiran kalau anda seorang monster. Mereka…”

“Kita hentikan saja pembicaraaan soal itu.” potong Kris.

Tapi Jiyeon tetap melanjutkan perkataannya sambil menatap sendu ke arah Kris yang tepat duduk di sisi kanan-nya. “Bahkan jika, dia pembunuh berseri yang sudah  membunuh ribuan orang, tidak ada seorang Ibu  yang bertanya kepada putranya ‘Mengapa kau menjadi seorang monster’. Ketika anda bertemu dengan Ibu anda, dia hanya akan mengatakan satu hal…”

“Aku minta maaf. Karena, aku meninggalkanmu sendiri.”

“Aku minta maaf. Jika ini membuatmu jadi sangat terluka, menjadi sulit.”

Kris sangat tersentuh mendengarnnya. Lalu Kris memberitahu kepada Jiyeon bahwa ada sesuatu yang belum ia katakan pada gadis itu. sesuatu kata yang tak seharusnya ia katakan. “Jika aku mengatakan ini, aku merasa semuanya akan jadi berantakan.”

Jiyeon semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan Kris kepadanya, “Apa itu? katakanlah.” pinta Jiyeon dengan menatap dalam kedua mata Kris.

“Aku menyukai Park Jiyeon.” Jiyeon terkejut sampai-sampai gadis itu membulatkan kedua bola matanya. “Setiap aku bersamamu, aku merasa gugup. Aku juga merasa malu. Karena aku ingin menjadi laki-laki  yang baik bahkan lebih baik  di depanmu. Hari ini, hari yang aneh, Benarkan?” ucapnya parau.

~OoO~

Di tempat yang lainnya, Tao pergi ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin lamaran unutuk Jiyeon. Sementara Tao sibuk memilih cincin yang akan di kenakan oleh Jiyeon kelak, Eunjung dan rekan-rekannya langsung bergegas mencari bukti jejak-jejak bercak darah yang ada di mobil Tao.

“Cepat! Cepatlah!” bisik rekan Eunjung yang berdiri di depan pintu toko untuk melihat kondisi di dalam toko.

Eunjung pun menjadi panik dan dia meminta rekan ahli forensiknya untuk bergerak lebih cepat. “Apa akan memakan waktu lama? Cepatlah!”

“Aku hampir saja selesai!” serunya tak kalah panik.

Tak lama kemudian, Tao akhirnya menemukan pilihan cincin yang akan ia belikan untuk Jiyeon. dan bersamaan dengan itu pula ahli forensik juga menemukan sesuatu dari mobil milik Tao.

~OoO~

Jiyeon sangat terkejut dengan pengakuan cinta dari Kris. dia merasa tersentuh mendengarnya. Mereka lalu saling menatap satu sama lain dan beberapa saat kemudian Kris  mendekatkan wajahnya untuk mencium Jiyeon.

Kris menyapu lembut bibir Jiyeon untuk seperkian detik. Gadis itu tetap mematung dengan kedua matanya yang terbuka tanpa respon. Dan saat Kris mulai mengecup bibir Jiyeon untuk yang kedua kalinya tanpa gadis itu sadari kedua matanya mulai tertutup perlahan-lahan dan dia pun membalas kecupan yang di berikan padanya.

-TBC-

~OoO~

Haloo…. ketemu lagi nih sama aku Phiyun disini…

Aku membuat kelanjutannya lagi nih, hehe ^^

Sesuai janjiku, aku publishkan FFnya secepatnya/ padahal gak juga sih?/ Meskipun begitu Authornim tetap berharap semoga kalian semua menyukainya ya…

Di part ini aku buat agak pendek, karena kebetulan Authornimnya lagi kurang enak badan jadi bawaanya langsung tepar abis minum obat, haha 😀 Tenang nanti di part selanjutnya bakalan aku panjangin deh, tapi dikit aja yah, haha 😀

FF ini adalah remake dari korea drama yang berjudul sama, tapi ada adengan yang aku hilangkan karena tak mungkin aku buat sama persis seperti difilemnya, hihi 😀

Aku juga mau mengucapkan terima kasih kepada reader yang sudah mau meninggalkan jejaknya di part – part sebelumnya. Komentar dari kalian semua adalah sebangai penyemangat ku dalam membuat kelanjutan bahkan di FF ku yang lainnya.

Sampai ketemu di next part selanjutnya

Gomawoyo  ❤

Advertisements

18 thoughts on “Falling For Innocence [Chapter 10]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s