[Oneshot] Kēvala Ondu Nimiṣada

Kēvala ondu nimiṣada

Kēvala Ondu Nimiṣada

Just One Minute

Son Wendy of Red Velvet, Kang Seung Jun of OC, Park Yoon Ju of OC.

Sad, life. Oneshot. PG-13

Desclaimer : Nama cast hanya meminjam dan tidak bermaksud mengubah karakter aslinya, kecuali OC. Ini hanya cerita fiktif belaka. Don’t plagiarsm. And sorry for typo 😀

A/N : Dibuat hanya untuk hiburan, tidak bermaksud merugikan atau menguntungkan pihak manapun. Lalu, ambil yang baik, buang yang kurang baik

KATALAVAINO DESIGN AND STORYLINE

“Sampai kapan kau akan duduk di sana?” tegur seorang wanita paruh baya. Tepat saat itu juga, seorang gadis berambut pirang menoleh tanpa ekspresi, kemudian kembali memandang keluar jendela.

Terdengar helaan napas berlebihan dari mulut wanita itu. Kakinya melangkah untuk memotong jarak yang semula cukup jauh dari jendela. “Kau harus makan, sudah berapa hari kau tidak makan, Wendy sayang,” katanya lagi seraya mengelus pelan puncak rambut anaknya.

Wendy hanya menggeleng pelan. Ini sudah hari kesepuluh Wendy mengunci mulutnya untuk berbicara. Kegiatannya hanya tidur, menatap keluar jendela, dan makan—kalau sedang ingin. Seperti saat ini, Nyonya Son sudah menegur anaknya untuk makan dan mengisi tenaga, tapi tetap saja Wendy tidak merespon.

“Baiklah, ibu ada di bawah. Kalau kau lapar, segera turun,” ujar Nyonya Son pelan. Tubuhnya ia bungkukkan sedikit untuk mencium kepala Wendy. “Cepatlah bangkit,” gumamnya sesaat sebelum meninggalkan Wendy.

Sepeninggal Nyonya Son, Wendy terus memandang langit dari balik kaca jendela. Matanya tidak berkedip sedikitpun sampai sebuah rintik hujan jatuh dan menimpa kaca tersebut. Wendy mengejapkan mata kemudian rintik hujan bertambah banyak dan deras. Senyum terukir perlahan di bibir Wendy.

“Sudah lama, Jun-ah,” gumam Wendy.

Tiba-tiba saja, suara guntur menggelegar bersamaan dengan petir yang berkilat. Wendy berjengit kaget dan reflek berdiri. Senyumnya hilang seketika, padahal ia tersenyum tidak sampai satu menit. Jantungnya tiba-tiba saja terasa begitu sakit. Ekor matanya memandang di bawah sana. Banyak orang berlarian untuk berlindung dari hujan. Hal itu membuat hari Wendy semakin sakit.

Kedua kaki terasa tidak sanggup menahan berat tubuhnya. Ia jatuh terduduk dengan sebelah tangan sebagai tumpuan dan satunya lagi memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Kumohon hanya satu menit. Kenapa tidak bisa? pikir Wendy.

*****

Wendy sedang membaca buku di sebuah cafe dengan sebelah tangan menjadi tumpuan kepalanya. Ia sengaja duduk di dekat jendela, supaya bisa melihat pemandangan di luar sana yang hanya di dominasi gedung pencakar langit, kendaraan, dan orang berlalu-lalang—katanya.

Tangan kanannya membuka lembar selanjutnya. Ah, ternyata buku yang Wendy baca adalah tentang sejarah Korea. Buku yang sangat membosankan, bahkan para pelajar tidak terlalu suka dengan pelajaran sejarah. Tanpa mengalihkan perhatiannya, Wendy mengambil secangkir Americano yang sudah dipesannya, kemudian menyesapnya sedikit dan menaruhnya kembali.

Kedua bola mata Wendy melirik jam tangan yang terpasang di tangan kanannya. Sudah lewat satu jam dan orang itu belum datang. Wendy mengembuskan napas kasar. Ia kembali memfokuskan perhatiannya pada buku tersebut.

“Maaf aku terlambat.”

Wendy menghentikan aktivitasnya kemudian mengubah posisi dudukn menjadi tegak. “Kemana saja?” tanya Wendy seraya menutup buku tersebut dan memasukkan ke dalam tas gendong.

“Tadi aku harus menghibur anak panti asuhan sebelum datang ke sini,” jawab pria itu seraya menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi.

“Hem, baiklah. Seperti kau memang memiliki banyak cara untuk membuat orang tersenyum. Sekarang kau bisa, ‘kan melakukannya padaku? Aku akan memberimu imbalan yang setimpal, Seung Jun-ssi,” tawar Wendy seraya menautkan jari-jarinya dan tubuh sedikit condong ke depan dengan siku sebagai tumpuan.

Pria bernama Seung Jun itu mengangkat sebelah alisnya dan sedikit memiringkan kepala. “Maksudmu?”

Wendy menghela napas, ia kemudian mengubah posisi duduknya lagi seperti Seung Jun. “Aku memiliki trauma dan karena itu sampai sekarang aku tidak bisa berekspresi dengan benar. Bahkan, aku lupa caranya untuk tersenyum. Dan alasan mengapa manusia bisa tersenyum,” tutur Wendy seraya mengalihkan padangan keluar jendela. Ternyata gerimis sudah turun.  “Masalah psikologi,” lanjut Wendy kemudian menyesap kembali secangkir Americano.

Seung Jun terdiam. Ia mengingat kembali waktunya bersama Wendy ketika berkerja sebagai penjaga perpustakaan. Sebenarnya, setiap hari Seung Jun memerhatikan ekspresi wajah Wendy, tapi ia sama sekali tidak menemukan ekspresi lain kecuali datar.

“Sungguh? Kau tidak bisa tersenyum?” tanya Seung Jun memastikan.

Wendy meletakkan cangkirnya kembali. “Seperti itu, aku sudah lupa kapan terakhir tersenyum dan berekspresi dengan benar.”

Seung Jun terlihat mengetuk-ngetuk dagu dengan jari tulunjuknya. Sesaat kemudian, ia menegakkan tubuh dan mengacungkan jari telunjuk seraya memekik. “Aku tahu caranya! Ya …  walaupun tidak seratus persen berhasil.”

***

“Kenapa kau membawaku ke sini?” protes Wendy. Ia melihat sekumpulan anak kecil tengah bermain.

“Selamat datang, inilah panti asuhan tempatku tinggal,” ungkap Seung Jun.

“Ini? Tempat ini rumahmu?” tanya Wendy tanpa ekspresi.

“Hm, sepertinya begitu.”

“Lalu kenapa kau membawaku ke sini?”

“Duduklah dan diam. Lihat mereka bermain, kau bisa menemukan sesuatu.”

Wendy kemudian duduk di ayunan yang tidak jauh dari gerombolan anak-anak itu, sementara Seung Jun ada di sebelahnya. Anak-anak itu bermain dengan riang. Ada yang bermain lompat tali, petak umpet, dan …. Wendy memusatkan penglihatannya pada seorang anak yang hanya diam. Sama seperti dirinya, hanya duduk memerhatikan.

“Dia ….” Wendy menoleh seraya menunjuk ke arah anak kecil itu, “kenapa?” tanya Wendy.

Seung Jun tersenyum. “Kurang lebih sama sepertimu.”

“Maksdumu?”

Seung Jun berdehem, kemudian menatap anak kecil yang sedang duduk di komedi putar sendirian.  “Dia Park Yoon Ju, umurnya sepuluh tahun. Yoon Ju bukan tidak bisa tersenyum dan lupa bagaimana melakukannya. Tapi ia tidak ingin tersenyum. Hal itu dilakukan agar tidak ada yang berteman dengannya kemudian menanyakan latar belakangnya. Maka dari itu, ia mengasingkan diri. Ia juga tidak pernah berbicara sejak tiba di panti asuhan ini. Bahkan, aku tidak tahu mengapa dia bisa seperti itu.”

Mendengar penjelasan dari Seung Jun, membuar Wendy terdiam. Ia mengamati anak kecil itu. Wajahnya sedikit oval dengan fokus mata yang tajam dan bibir mungil. Rambutnya lurus dan menjuntai sampai punggung.

Apakah sama? pikir Wendy.

Wendy meninggalkan tasnya di ayunan, ia berjalan mendekati Yoon Ju. Sementara Seung Jun tersenyum melihat respon yang diberikan Wendy, kemudian mengekorinya.

“Apakah aku boleh bergabung denganmu?” tanya Wendy ketika sampai. Yoon Ju hanya menoleh sebentar kemudian kembali menatap gerombolan anak yang sedang bermain.

Akhirnya tanpa persetujuan Yoon Ju, Wendy menaiki komedi putar dan duduk di dekatnya. “Kenapa kau tidak bermain dengan mereka?” tanya Wendy, mencoba memancing Yoon Ju berbicara. Namun hal yang terjadi Yoon Ju malah sedikit bergeser menjauhi Wendy.

Wendy mengerjapkan matanya berkali-kali. Aku tidak bisa berekspresi lagi, pikir Wendy.

“Sepertinya kau memiliki masalah. Kenapa kau tidak bercerita?”

Wendy bertanya seperti itu dengan tujuan yang baik, tapi respon yang diberikan Yoon Ju di luar dugaan. Anak kecil itu menatap Wendy tajam—sepertinya marah. Lalu ia turun dari komedi putar dan pergi begitu saja. Sekali lagi, Wendy hanya bisa mengerjapkan mata berkali-kali untuk menandakan ia sedang bingung.

“Aku yang tinggal bersamanya di panti asuhan ini saja, tidak bisa mengajaknya berbicara. Apa lagi kau,” celoteh Seung Jun seraya ikut menaiki komedi putar.

“Sebenarnya, ia memiliki lebih banyak penderitaan dibandingkan denganku,” ujar Wendy. Ia menundukkan kepala seraya memainkan jari-jarinya.

“Sepertinya begitu.”

Wendy menghele napas, kemudian melihat punggung Yoon Ju yan semakin menjauh.

“Tidak perlu cemas, kau pasti bisa tersenyum dan memiliki berbagai ekspresi. Tidak kaku seperti robot,” kata Seung Jun.

Wendy seperti memikirkan perkataan Seung Jun, lalu menoleh dan melihat orang itu tersenyum lagi. “Kau, apa selalu tersenyum?” tanya Wendy.

“Hem, seperti itu. Tersenyum bisa membuat masalahmua berkurang sedikit, ya walaupun tidak banyak membantu, tapi lumayan lah.”

Kelopak mata Wendy mengerjap beberapa kali. Ah, seperti itu, pikir Wendy.

***

Matahari baru saja terbit, namun Wendy sudah berdiri di sebuah bangunan yang ia datangi kemarin. Panti Asuhan Love House. Sepertinya ia bimbang, antara masuk atau berdiri di sana saja. Ia memainkan jari-jarinya begitupula dengan kaki seraya menunduk.

Sebenarnya, ia datang ke sini lagi karena permintaan Seung Jun. Ngomong-ngomong soal Seung Jun, ia mengenalnya secara tidak sengaja ketika sama-sama menjadi penjaga perpustakaan kota. Seung Jun adalah pribadi yang baik, ia juga ramah terhadap semua orang. Ia juga selalu tersenyum, bahkan sampai sekarang Wendy belum pernah melihatnya menangis. Sekali pun.

“Kenapa tidak masuk?”

Wendy langsung mendongakkan kepala dan menghentikan aktivitas sebelumnya. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi terkejut. Sebenarnya ini adalah reaksi umum manusia ketika dikejutankan oleh sesuatu. Tapi, bagi Seung Jun, melihat Wendy terkejut adalah suatu kemajuan.

“Ah itu … aku ….” Wendy menghentikan ucapannya. Hey, kenapa? Kenapa dirinya menjadi sulit berbicara?

Bola mata Wendy melirik ke segala arah. Ia menggigit bibir bawahnya. Kenapa seperti ini? pikir Wendy.

Sementara itu, Seung Jun hanya terdiam dan memerhatikan tingkah dan ekspresi Wendy. Setelah lama kenal dengan Wendy, baru kali ini ia melihat gadis itu menunjukkan ekspresi yang benar. Tanpa sadar, ia melangkahkan kaki memotong jarak yang sebelumnya tidak sengaja tercipta.

“Ekspresi yang sangat tepat,” kata Seung Jun ketika berada tepat di depan Wendy.

“Hah? Apa?” tanya Wendy masih dengan ekspresi bingung bercampur terkejut. Lalu matanya sudah fokus menatap Seung Jun yang juga melakukan hal sama.

“Kau berhasil berekspresi terkejut dengan benar. Seingatku kau tidak pernah berekspresi dengan benar, ketika kau marah, sedih, terkejut dan lain-lain, wajahmu selalu datar. Tidak ada ekspresi menarik. Tapi, kau baru saja mengalaminya,” tutur Seung Jun.

Mulut Wendy terbuka sedikit, ia hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan Seung Jun. Ia langsung meraba wajahnya. “Tadi aku berekspresi terkejut?” tanya Wendy dengan mata yang berbinar?

“Eum,” sahut Seung Jun tersenyum.

Wajah Wendy berubah menjadi gembira, ia tersenyum dan melompat kegirangan lalu berakhir memeluk Seung Jun. “Terima kasih,” ujar Wendy seraya tersenyum.

Seung Jun membalas pelukan Wendy, ia pun ikut tersenyum merasakan kegembiraan Wendy. “Sekarang kau juga bisa tersenyum dan tertawa,” beber Seung Jun.

“Benarkah?” tanya Wendy seraya melepaskan pelukannya.

“Kau melakukannya tanpa sadar.”

Wendy kembali tersenyum seraya meraba wajahnya. Seperti inikah rasanya bisa tersenyum? pikir Wendy.

“Karena kau bisa tersenyum lagi, sekarang buat anak itu bisa tersenyum.”

“Siapa? Park Yoon Ju?”

“Siapa lagi kalau bukan dia?”

***

Panti Asuhan Love House dihuni oleh banyak anak kecil, kecuali Seung Jun dan ibu panti. Sekarang anak itu tengah tertidur dengan lelap setelah jam makan siang lewat. Seung Jun dan Wendy harus membacakan dongeng untuk mereka agar bisa tertidur.

Hari ini, untuk pertama kalinya, entah bagaimana, Wendy bisa tersenyum. Apa karena dia? tanya Wendy pada dirinya sendiri seraya menatap Seung Jun yang tengah membenarkan selimut.

“Setelah makan siang tadi, apa kau melihat Yoon Ju?” tanya Seung Jun tanpa menoleh.

“Oh iya, aku tidak melihatnya. Tunggu, aku akan mencari anak itu. Tadi aku tidak berhasil membuatnya tersenyum, sekarang harus bisa. Aku ingin membagikan kebahagianku padanya.”

Belum juga Seung Jun merespon perkataan Wendy, gadis itu sudah keluar dari kamar tidur dan pergi entah kemana. “Ketara sekali dia sangat bahagia,” gumam Seung Jun.

***

Park Yoon Ju tengah duduk bersandar merengkuh kedua lututnya seraya memegang sebuah foto yang terbelah, tapi sudah disambungkan lagi dengan lem di taman belakang panti. Matanya terlihat begitu sendu, tidak seperti hari kemarin. Ah, ternyata hari ini adalah tanggal 19 Maret. Tanggal di mana kedua orang tua meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ia tidak memiliki kerabat terdekat untuk sekedar bersandar. Lagi pula, ia juga tidak suka dikasihani. Teringat orang dewasa melihatnya dengan tatapan kasihan, membuat Yoon Ju sangat marah.

“Sebegitu menyedihkan kah diriku, sehingga harus dikasihani?”

Yoon Ju mendongakkan kepalanya, menatap langit pada siang hari adalah kegiatan yang percuma menurut beberapa anak di panti asuhan ini. Karena mereka menganggap bahwa tidur siang adalah yang banyak bermanfaat dan menyenangkan. Namun, bagi Yoon Ju itu adalah hal mengerikan dalam hidupnya.

Langit tersenyum cerah dengan warna birunya dan gumpalan awan putih. Tanpa terasa, Yoon Ju bergidik ngeri dan keringat dingin mulai bercucuran. Matanya berkaca-kaca dan tubuhnya bergetar. “Tidak, aku tidak ingin mengingat kejadian itu!” teriak Yoon Ju dalam hati. Ia mencoba melupakan dan menolak kejadian mengerikan itu.

“Eomma, Appa kenapa kalian meninggalkan aku dan membuatku dikasihani oleh mereka. Eomma, Appa, kenapa kalian belum menjemputku?”

SRAK!

Yoon Ju langsung menoleh ketika suara seseorang menginjak sesuatu dan terdengar juga gumaman yang berupa umpatan.

 “Kau di sini rupanya.”

“Kakak itu, aku tidak menyukainya”

 

***

Wendy sudah pergi ke taman tempat mereka bermain kemarin, tapi tidak menemukan Yoon Ju. Ia juga sudah berkeliling di setiap ruangan tapi tetap saja, hasilnya nihil. Wendy berhenti seraya berpikir dengan mengetuk-ngetukkan dagunya menggunakan jari telunjuk.

Tempat yang belum aku datangi adalah taman belakang. Wendy segera berbalik ke arah selatan dan berlari.

SRAK!

Wendy tidak sengaja menginjak botol plastik.  “Kenapa ada di sini? Menyebalkan,” gerutu Wendy kesal. Ia kemudian menendang botol tersebut ke sembarang arah dan kembali berjalan.

Ah ketemu!

“Kau di sini rupanya,” ujar Wendy seraya berjalan menghampiri Yoon Ju dan duduk di sampingnya. Sementara itu, Yoon Ju menatap tajam Wendy.

“Kau pasti tidak suka melihatku, bukan?” tanya Wendy. Ia menoleh dan bertemu pandang pada mata Yoon Ju. Mata yang fokus dan tajam.  “Tapi tidak masalah,” lanjut Wendy, kemudian meluruskan pandangannya.

Yoon Ju memutar kedua bola matanya kemudian mengikuti apa yang dilakukan Wendy.

“Yoon Ju-ya, tahu tidak, kau itu seperti diriku. Aku tahu, dalam hatimu kau membenci mereka yang mengasihanimu. Termasuk aku,” ujar Wendy tanpa menoleh.

Yoon Ju sedikit terkejut mendengar Wendy mengucapkan hal itu, sangking terkejutnya, ia sekarang menatap orang yang tengah memandang lurus ke depan. Ia menunggu Wendy melanjutkan perkataaannya.

Seolah mengerti apa yang diinginkan Yoon Ju, Wendy membuka mulutnya. “Orang tuaku hanya berpisah dan karena itu, aku tidak bisa berekspresi selama bertahun-tahun karena ada bagian jiwaku yang frustasi dengan hal itu. Kau tahu, aku baru bisa berekspresi dengan benar beberapa saat lalu. Ketika berada di depan panti asuhan ini. Jika mengingat apa yang telah terjadi, mungkin terasa sangat menyakitkan,” cerita Wendy. Tanpa sadar air matanya turun membasahi pipi. “Maaf, aku menangis,” ujar Wendy seraya menghapus air matanya.

“Penderitaannya memang ringan, tapi kakak ini sampai tidak bisa berekspresi.”

 

“Aku ….” Wendy sedikit tersentak kaget mendengar Yoon Ju berucap. Ia langsung menoleh dan melihat anak itu tengah menatap lurus. “Aku kehilangan orang tuaku karena kecelakaan. Saat itu aku sedang tidur siang di pangkuan ibuku. Ketika aku bangun, kedua orang tuaku tengah memelukku dan membuat tubuh mereka menjadi pelindungku agar tidak membentur apapun ketika mobil jatuh ke jurang. Ditubuh mereka tertancap serpihan kaca. Mulai hari itu, banyak sekali orang menatapku dengan tatapan kasihan. Aku tidak menyukainya,” tutur Yoon Ju. Ia menundukkan kepala dan terdengar isakan tangis samar-samar.

Wendy meringsut untuk memeluk Yoon Ju dan menepuk pelan puggung gadis kecil itu. Mereka menangis bersama-sama.

***

Wendy dan Seung Jun sedang berjalan pulang dari perpustakaan. Hari ini perpustakaan cukup banyak pengunjung tapi hanya sedikit yang meminjam buku. Udara masih tercium sama seperti kemarin. Udara musim gugur.

“Terima kasih,” ujar Seung Jun menghentikan langkahnya, membuat Wendy ikut melakukan hal yang sama. Kebetulan mereka berhenti di pinggiran jalan dekat crooswalk. Karena mereka memang harus menyeberang.

“Untuk apa?” tanya Wendy bingung, seraya memutar tubuhnya empat puluh lima derajat.

“Karena membuat Yoon Ju berbicara. Setelah hari itu, semuanya berubah. Ia menjadi gadis kecil yang menggemaskan,” jelas Seung Joo seraya memasukkan kedua tangannya ke jaket.

“Aku pun berterima kasih. Karenamu, aku bisa mendapatkan ekspresiku kembali. Mungkin karena depresi dan membuatku kehilangan hal yang penting. Sekali lagi, terima kasih karena kau membantuku mendapatkannya. Sebelumnya, ketika aku berusaha untuk berekspresi namun hasilnya malah membuat jantungku terasa sakit begitupula dengan hatiku. Padahal tidak sampai satu menit.”

“Tidak masalah, aku senang bisa membantumu. Dan sekarang, kau bisa berekspresi selama yang kau mau” sahut Seung Jun seraya tersenyum. “Selain itu, karena kau bisa berekspresi, kau semakin kuat melekat di dalam hatiku,” gumam Seung Jun dalam hati.

“Kakak!”

Wendy dan Seung Jun langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggil adalah Yoon Ju. Gadis cilik itu tersenyum seraya melambaikan tangan, lalu berlari untuk menghampiri Wendy dan Seung Jun.

Sebelumnya Wendy hanya tersenyum seraya melambaikan tangan, namun ia menyadari kalau lampu bagi pengendara masih hijau dan Yoon Ju tidak tahu itu. Wendy memekik keras saat sebuah truk melaju kencang.

BRAK!

Reflek Wendy langsung menutup muka. Terlalu terkejut dengan apa yang ia lihat. Perlahan tangannya ia turunkan.

“Ti-tidak, tidak. Ini mimpi,” gumam Wendy tidak percaya.

“Jun-ah!”

Rintih huja mulai turun dan semakin lama-semakin deras. Wendy tidak bisa menangis, ia tidak bisa melakukannya lagi.

***

Yoon Ju baru saja pulang dari sekolah. Ia berjalan dengan riang. Di depan sana ia akan belok kiri kemudian berjalan beberapa ratus meter, maka sampai di panti asuhan. Tapi langkahnya terhenti saat ia tidak sengaja melihat Wendy dan Seung Jun tengah bercakap-cakap di seberang sana.

“Kakak!” panggil Yoon Ju seraya melambaikan sebelah tangannya dan tersenyum.

Yoon Ju semakin melebarkan senyumnya saat Wendy dan Seung Jun membalas lambaian tangannya seraya tersenyum. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari—berniat— menghampiri Wendy dan Seung Jun.

“Yoon Ju awas!”

Yoon Ju langsung menghentikan larinya saat mendengar Wendy berteriak. Ketika ia berhenti, Yoon Ju berdiri di tengah jalan. Ia juga melihat Seung Jun berlari dengan cepat ke arahnya dan semua tenyata terjadi begitu saja.

Kepalanya terasa pusing dan berdenyut-denyut. Yoon Ju kemudian membuka matanya, terlihat sangat buram. Perlahan ia bisa melihat Seung Jun yang terpejam seraya memeluknya. Mereka tengah berbaring di jalan.

“Kak? Kak Seung Jun? Kak?” panggil Yoon Ju. Namun, pria itu tidak membuka matanya.

“Apa yang terjadi?”

 

“Jun-ah!”

Yoon Ju segera melepaskan diri dari pelukan Seung Jun dan duduk. Matanya terbelalak saat melihat jalan di sekitar kepala Seung Jun terdapat genangan darah segar. Tepat saat itu juga, hujan mulai turun. Darah milik Seung Jun mulai menyebar di jalanan. Orang-orang sibuk mengerumuni mereka dan beberapa menelpon ambulance.

“Kak, Kak Seung Jun! Kak Seung Jun!”

****

Wendy masih menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit. Setelah sepeninggal Seung Jun, ia kembali kehilangan ekspresinya yang baru di dapat. Mulai saat itu juga, Wendy menjadi sosok yang sangat pendiam dan tidak pernah mau keluar rumah. Bahkan ia sudah lupa bagaimana keadaan Yoon Ju sekarang.

“Aku kembali seperti dulu. Tidak bisa berekpresi dengan benar walaupun hanya satu menit. Dan selalu sakit ketika melakukannya. Jun-ah, kenapa kau pergi?”

END

Personal Blog

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s