I Love You So Much [Part 2]

redo-i-love-you-so-much-phiyun-2

|| Title: I Love You So Much || Author: Phiyun || Genre: Romance | Friendship | School life || Cast: Jiyeon | Sehun | Kai || Member Suport : T-ara | Exo ||

Poster Credit : Raphaels @ Hospital Art Design (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Warning! Sorry For Typo n Please Dont Be Silent Readers

Preview: Teaser | Part 1

*** Happy  Reading ***

 

~Summary~

Now and forever you will always to be mine

~~~ooo~~~

 

Mereka berdua pun masuk bersama-sama ke dalam. Setibanya di sana, keadaan rumah kediaman Jiyeon terlihat sepi. Itu bukan menjadi pemandangan yang aneh bagi Sehun karena Namja itu sudah tahu kalau kedua orang tua Jiyeon sangatlah sibuk. Mereka berdua jarang ada di rumah. Biasanya Sehun merasa nyaman masuk ke dalam rumah Jiyeon namun semenjak kejadian di kampus dan di depan gerbang, pemuda itu menjadi canggung saat berdua dengan gadis yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.

“Ibu dan ayahmu se-sedang tak ada di rumah ya?” sambil berpura-pura sibuk mencari keberadaan kedua orang tua Jiyeon.

Saat mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Sehun, Yeoja itu pun hanya dapat menghela napas panjang. “Hemm… kau kan tahu itu, Sehun-ah.”

Jiyeon lalu berjalan menuju ruang tamu dan  kemudian menaruh tasnya. “Masuklah. Kenapa kau masih berdiri di depan pintu?” ucap Jiyeon dan itu membuat lamunan Namja tersebut buyar.

Ne?”

“Yah, apa yang kau lakukan di sana. Cepat kemari.” panggil Jiyeon tapi nampaknya pria tersebut enggan beranjak dari tempatnya berdiri.

Tanpa berpikir panjang Jiyeon pun kemudian berjalan menghampirinya dan merangkul lengan milik Sehun agar Namja tersebut ikut masuk ke dalam bersama dirinya. Sehun sempat kaget saat lengannya di rangkul oleh Jiyeon dan Sehun pun tanpa sengaja menepis genggaman tangan gadis tersebut sambil berkata. “A-ayo kita masuk.” ujarnya dengan senyum yang terlihat memaksa sambil berjalan menuju dapur.

~OoO~

~Di dapur~

Sehun hanya duduk terpaku di ruang makan. Sesekali tatapan matanya menuju kearah Jiyeon yang sedang sibuk memasak di dapur. Tapi disaat kedua mata mereka saling beradu, sesegera mungkin Sehun memalingkan wajahnya. Melihat gelagat aneh pria tersebut, Jiyeon hanya dapat tersenyum simpul.

“Dimana mangkungnya ya?”

Gadis itu mulai sibuk mencari benda tersebut, ia mulai menggasak rak piring yang tak jauh dari wastafel tapi sepertinya barang yang ia cari tak ada.

Untuk beberapa saat Jiyeon terlihat mematung dan tak lama kemudian. “Haa!” ucapnya sembari menepuk kedua telapak tangganya. Sepertinya ia mengingat dimana benda yang sedang ia cari tersebut.

Dia pun lalu berjalan kearah yang berlawanan. Dan saat ia membuka lemari yang tak jauh dari dari tempatnya berdiri tadi, ternyata benda yang dia cari benar sesuai dugaannya. “Pasti Eomma  yang memindahkannya.” gerutu Jiyeon sambil menegadahkan kepalanya ke atas.

Ternyata mangkuk yang hendak iya gunakan ada di sana dan posisi mangkuk tersebut cukup tinggi dari jangkauan. “Ahh, bangku.” lalu Jiyeon langsung bergegas mencari bangku untuk ia naiki.

Sehun sedikit penasaran dengan apa yang terjadi di dapur karena untuk beberapa menit dapur terdengar sepi, seperti tak ada aktifitas di sana. Dengan perlahan-lahan Namja itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur. Saat ia kesana tak sengaja ia sedang melihat Jiyeon sedang menaiki sebuah bangku plastik berwarna biru tua  yang cukup tinggi untuk mengambil sesuatu dari dalam lemari tersebut.

“Jiyeon-ah? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sehun. Mendengar namanya di sebut, gadis itu pun menoleh ke belakang, belum sempat ia membalas pertanyaan Sehun tiba-tiba sebelah kaki miliknya terpeleset dari atas pinjakan bangku tersebut.

“Aaakkhh!!” teriak Jiyeon dengan kedua matanya yang terpejam. Dia tak berani membuka kedua matanya. Untuk beberapa saat Jiyeon merasakan sesuatu yang aneh yang telah terjadi pada dirinya. Karena dia sama sekali tak merasakan sedikit pun rasa sakit dan untuk meyakini dirinya, akhirnya dengan perlahan-lahan kedua mata gadis itu pun ia buka.

Kedua mata Jiyeon pun terbuka lebar karena terkejut saat melihat dirinya sudah ada di dalam dekapan tubuh pria jangkung tersebut. “Apakah kau baik-baik saja?” ujar Sehun dengan ekspresi wajah yang cemas. “Apakah kau terluka?” tanya Namja itu lagi sambil memeriksa setiap inci tubuh gadis yang ada di depan hadapannya. Jiyeon pun membalas pertanyaan Sehun dengan anggukan kepalanya yang lemah.

“Apakah kau yakin? Apa kita pergi kerumah sakit saja? Wajahmu terlihat sangat merah, Jiyeon-ah?” ujarnya lagi seraya mengusap lembut sebelah pipi Jiyeon yang terlihat bersemu merah dengan tatapan matanya yang tajam.

Jiyeon merasakan sedikit canggung saat wajah mereka berdua saling berdekatan. Bahkan Jiyeon dapat merasakan hembusan napas yang berat dari pria yang ada di hadapannya. “Aku baik-baik saja.” sambil melepaskan dirinya dari dekapan sang Namja.

Sekarang gantian Jiyeon yang menjadi salah tingkah. “Du-duklah di sana. Ramyeonnya sudah masak.” kata Jiyeon sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah meja makan. “Apakah kau yakin tak apa-apa?” tanya Sehun lagi untuk yang sekian kalinya, karena dia merasakan sedikit aneh dengan tingkah laku yang di tunjukan oleh gadis itu kepadanya.

Gwenchana… aku benar baik-baik saja, Sehun-ah. Cepat kau duduklah di sana.” ucap Jiyeon lagi kepada Sehun sambil mendorong belakang punggung milik pria tersebut untuk segera pergi dari dapur.

“Tapi… Jiyeon-ah, kau…” sayangnya Jiyeon tak mau menggubris perkataan pria tersebut, gadis itu tetap mendorong Sehun untuk pergi duduk di ruang makan. Pada akhirnya Namja itu pun kalah di hadapan Jiyeon dan dengan langkah yang berat Sehun berjalan ke meja makan.

~OoO~

~Pov Jiyeon~

Aku harus bisa mengendalikan perasaanku saat di depannya. Tapi ini sudah terlalu lama aku pendam bila terus begini lama-lama aku bisa gila. Ya, gila karena mencintainya secara sepihak. Minimal aku bisa mengatakan rasa sukaku padanya. Aku sudah tak peduli, ini waktu yang tepat untuk mengungkapkannya, tapi tunggu dulu. Bagaimana kalau dia tak ingin berteman lagi denganku dan apabila itu terjadi, rasa canggung ini akan lebih terasa di antara kita berdua.

“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku ungkapan saja saat ini atau aku harus menunggu waktu yang tepat?”

Tiba-tiba aku terhenyak saat mengatakan kalimat terakhir. “Waktu yang tepat?” bibirku pun keluh dan seketika tubuhku menjadi lemas. Aku tahu pada akhirnya aku harus menunggu lebih lama atau mungkin memang takdirku untuk tetap mencintainya di dalam diamku.

~OoO~

Tak berapa lama kemudian Jiyeon berjalan menuju ke ruang makan dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua buah mangkuk.

“Tada…”

Ucap gadis itu dengan bangga memperlihatkan hasil masakannya.

“Plok…plok…plok…”

Sehun lalu menunjukan apresiasinya dengan tepukan tangan, yah meskipun wajahnya terlihat sangat datar saat melihat semangkung mie yang sudah ada di depan hadapannya.

“Yaa! Ada apa dengan wajahmu, Sehun-ah?”

“Eh??”

“Apa kau tak suka dengan masakan ku? Kalau begitu kau tak perlu memakannya bila kau tak mau.” kata Jiyeon ketus sembari mengambil kembali bangkuk yang berisi mie tersebut dari hadapan Sehun.

Melihat makanannya hendak di angkat kembali ke atas nampan, Sehun langsung menahannya. “A-ani… aku mau memakannya.” kali ini ia menunjukan senyuman manisnya di hadapan gadis itu dan kemudian mengambil kembali mangkuk tersebut dari tangan Jiyeon.

“Selamat makan.” kemudian Sehun melahap makanannya. Melihat Sehun yang sedang memakan masakannya dengan lahap, gadis itu pun tersenyum. Jiyeon lalu duduk di hadapannya untuk menyantap juga ramyeon yang telah dia buat. Namun niat di urungkan saat dirinya melihat isi mangkuk Sehun yang sudah hampir habis.

“Sehun-ah, makanlah punyaku.” kata Jiyeon sambil menyodorkan mangkuknya. Seketika Namja itu menghentikan aktifitasnya. “Aku tak apa-apa, Jiyeon-ah. Kau makan saja makananmu.”

Tapi Jiyeon menolaknya. “A-ani… aku sudah kenyang, jadi makanlah bagianku.” tambahnya sambil tetap menyodorkan mangkuknya lebih dekat di depan Sehun.

“Tapi, Jiyeon-ah?”

“Oh..ho…!” gertak Jiyeon dan itu membuat Sehun tak bisa menolaknya tapi Sehun tak hilang akal. Laki-laki itu lalu berdiri dari tempat duduknya kemudian dia menggerek kursinya tepat di samping Jiyeon. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jiyeon bingung dan pertanyaan gadis itu pun langsung di balas oleh Sehun. “Mau apa lagi? Aku mau makanlah.”

Jiyeon semakin bingung, kenapa Namja itu harus pindah tempat duduk untuk makan. “Tapi, kenapa kau mendekati aku?” ucap Jiyeon ragu. Tiba-tiba Sehun menarik kursi yang sedang di duduki oleh Jiyeon dan merapatkannya tepat di sampingnya

“Sreet!”

Kedua mata Jiyeon pun membulat lebar saat melihat apa yang telah dilakukan oleh Namja tersebut pada dirinya.

“Ayo makan.”

Dengan ekspresi wajah yang sama Jiyeonpun berkata. “Eh… makan?”

“Iya, kita makan berdua.” ujarnya kemudian menyumpit beberapa mie dari dalam mangkuk dan setelah itu menyodorkan ke depan mulut Jiyeon. Jiyeon tetap terpaku, tubuhnya terasa membeku dan kesadarannya melayang entah kemana.

“Aaa…” kata Sehun sambil memperagakan mulut terbukanya di depan Jiyeon. Seketika wajah Jiyeon pun menyemburkan warna kemerahan. Apalagi kedua pipinya seketika berubah menjadi warna kemerahan seperti cherry.

Melihat Jiyeon terdiam dan mematung, Sehun menjadi khawatir pada gadis tersebut. “Jiyeon-ah? Gwenchana? Wajahmu merah sekali.” ungkap pemuda itu, kemudian Sehun menyentuh sebelah pipi Jiyeon yang berwarna kemerahan tersebut.

“Huuhkk!!!”

Jiyeon langsung terbatuk dan dia langsung membuang wajahnya ke belakang dan berkata. “Aku baik-baik saja.”

“Apakah benar?” tanya Sehun ragu.

“Tentu! A-aku akan bawakan minum untukmu.”

Gadis itu langsung beranjak pergi dari atas tempat duduknya dan berjalan ke arah dapur. Setibanya di dapur kedua kaki Jiyeon pun tak mampu lagi menompang tubuhnya dan ia pun terduduk lemas di bawah lantai.

“I-ini tak benar… aku harus bisa mengontrolnya.” eluhnya seraya memandang Sehun dari ke jauhan sambil sebelah tangannya mencengkram erat dadanya yang terus menerus tak henti-hentinya  berdetak kencang saat menatap sosok pria tersebut.

~OoO~

~Beberapa saat kemudian~

“Ini minuman mu.” sodor gadis berkuncir kuda tersebut kepada Sehun, kemudian setelah itu Jiyeon duduk di depan bangku yang kosong.

“Apakah kau tak makan?”

A-ani aku sudah kenyang.” balasnya dengan senyuman yang mengembang sambil menompangkan dagunya di atas telapak tangannya.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang masuk ke dalam rumah kediaman Jiyeon.

“Kalian seperti sepasang suami istri!” seru seseorang dari belakang punggung Jiyeon. Sontak Sehun yang saat tadi asik menikmati makananya langsung tersedak dan Jiyeon yang sedang memandangi wajah Sehun dalam lamunanya ikut terkejut.

“Huuhkk… hhuhkkk…hhuuukkk!!!”

Sehun tebatuk-batuk tanpa henti. Jiyeon langsung berjalan menghampirinya dan tak lupa gadis itu memberikan segelas air mineral kepadanya. “Minumlah dulu, Sehun-ah.” ucap Jiyeon sambil menepuk-nepuk pelan belakang punggung milik pemuda itu.

Sehun lalu menggapai gelas tersebut dan saat ia hendak menenguknya tiba-tiba wanita paruh baya itu pun berkata lagi. “Sehun-ah… bagaimana kalau kau melamar putri ku Jiyeon, setelah kau lulus sekolah?”

Mendengar perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Nyonya Park membuat Sehun menyemburkan air yang telah ia tenguknya dari gelas tersebut dan ia pun terbatuk-batuk lagi. “Huuhkk… hhuhkkk…hhuuukkk!!!”

Wajah Sehun langsung berwarna merah seperti kepiting rebus, tak hanya Sehun saja tapi kedua pipi Jiyeon pun menyemburkan warna yang sama. Melihat tingkah laku Sehun dan putrinya yang menggemaskan, Nyonya Park mendapat kesimpulan kalau mereka pasti mempunyai hubungan yang lebih dari kata teman. “Apakah kalian berpacaran? Lebih baik kalian langsung bertunangan saja, bagaimana.” celetuk ibu Jiyeon dan itu membuat Sehun menjadi semakin malu di hadapan Jiyeon.

“Kami berdua tidak berpacaran, Imo.. kami hanya teman. Lagipula aku mengangap Jiyeon tak lebih dari sekedar sahabat. Benarkan, Jiyeon.” bantah Sehun secepat mungkin atas tuduhan yang di ucapkan oleh Nyonya Park pada dirinya. Karena dia tahu kalau Jiyeon saat ini sudah mempunyai kekasih, jadi dirinya tak enak bila membiarkan kesalahpahaman ini berlangsung lama.

Tapi tanggapan oleh Nyonya Park tetap sama, wanita paruh baya itu malah semakin memojokan Sehun. “Ooh… hanya teman?? Apakah itu benar?” dengan nada yang mengolok. Air wajah Jiyeon pun berubah drastis dan kali ini anak gadisnyalah yang membuka suaranya. “Hentikan Eomma!” ucap Jiyeon dengan suara setengah berteriak.

Ibunya pun langsung terdiam saat melihat kedua mata putrinya menatap tajam ke arahnya. Sepertinya putrinya saat ini sedang tak mood dengan candaan yang ia lontarkan. Bukan hanya Nyonya Park yang kaget tapi Sehun pun ikut terkejut juga kepada Jiyeon.

“Jiyeon-ah…Eomma hanya…”

Belum sempat Nyonya Park menyelesaikan ucapannya, putrinya langsung berlari ke dalam kamarnya. Nyonya Park menjadi bingung dengan apa yang sudah terjadi dengan anaknya. Ini bukan pertama kali ia becanda seperti itu kepada anaknya tapi kenapa hari ini sikap Jiyeon sangat berbeda. Saat Nyonya Park hendak menyusul Jiyeon ke kamarnya tiba-tiba Sehun berkata padanya.

“Biar aku saja, yang bicara dengan Jiyeon, Bi…”

Langkah kaki wanita itupun terhenti. “Ooh… mohon bantuannya ya, Sehun-ah.”

“Mmm…” balas Namja itu.

Sehun pun lalu berjalan ke arah kamar Jiyeon. Kebutulan saat Sehun akan masuk ke kamar milik gadis itu ternyata pintu kamar Jiyeon terbuka sedikit sehingga mempermudah dirinya untuk masuk ke dalam, di sana dia mendapati Jiyeon sedang duduk di atas ranjangnya sambil menundukan kepala.

“Jiyeon-ah…” sapa Sehun pelan tapi tak ada tanggapan dari Jiyeon. Gadis itu tetap terdiam seribu bahasa. Dengan perlahan-lahan pria jangkung itu berjalan menghampirinya dan dia pun lalu duduk di samping Jiyeon.

“Jiyeon-ah, apa kau baik – baik saja?” tanya Sehun kembali, kali ini ia menggegam lembut tangan Jiyeon dengan jari jemarinya. Tak lama kemudian gadis itu mengangkat kepalanya dan akhirnya Jiyeon bersua. “Apakah kau baik-baik saja?”

Sehun lalu membalas pertanyaan Jiyeon dengan anggukan kepalanya dan tersenyum. “NdeGwenchana..

“Maafkan kelakukan ibuku saat tadi ya, itu pasti membuatmu menjadi tak nyaman.” tambah Jiyeon tanpa berani melihat wajah lawan bicaranya.

Mendengar penyataan Jiyeon, Namja itu pun menghela napas yang panjang. “Jadi dari tadi kau memikirkan keadaan ku? Aku baik-baik saja, Jiyeon-ah. Aku sudah biasa dengan lelucoan yang sering di celetukan Bibi pada ku. Jadi kau tak usah tak enak hati padaku.” balas Sehun seraya membelai lembut puncak kepala Jiyeon.

“Apakah itu tak menjadi masalah untuk mu?” tanya Jiyeon kembali.

“Tentu, sudahlah kau jangan memikirkan hal itu lagi.”

Tapi tetap saja Jiyeon terlihat lesu meskipun Sehun sudah mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. “Seandainya apa yang di ucapkan Eomma menjadi kenyataan pasti akan lebih baik.” gumam dalam hatinya sambil membalas tatapan Sehun padanya.

Tak lama kemudian Sehun pun berpamitan untuk pulang kepada Jiyeon. “Sepertinya sudah sore, aku pulang dulu ya, Jiyeon-ah.”

“Mmm…” balas Jiyeon dengan lesu namun Jiyeon masih menyempatkan tersenyum di hadapan Sehun.

Setelah berpamitan dengan sahabatnya, Sehun keluar dari ruang kamar Jiyeon. Pintu itu pun ia tutup dan dalam hitungan detik. Tubuh Namja itu lemas tanpa sebab, sampai-sampai ia harus menyenderkan belakang punggungnya ke belakang pintu yang sudah tertutup tersebut. Air muka Sehun berubah drastis yang saat tadi terlihat tak terjadi apa pun sekarang terlihat sedih bahkan untuk seperkian detik ia menutup kedua matanya sambil menggrenyitkan dahinya.

“Seandainya itu semua menjadi kenyataan mungkin aku tak merasakan sesak seperti ini, Jiyeon-ah.” lirihnya seraya kedua maniknya menatap dinginnya bilik pintu yang sudah tertutup rapat  tersebut.

~OoO~

~Di tempat lainnya~

Mobil yang di kendari oleh Jongin berhenti di sebuah rumah yang tak terlihat terlalu mewah. Tak selang beberapa menit kemudian keluarlah seorang gadis yang berambut panjang dari dalam rumah tersebut. Melihat ada sebuah mobil yang terparkir di depan pintu rumahnya, gadis itu pun berlari dengan wajah yang riang.

“Tokk..took…tokk!!”

Kaca jendela mobil itu pun di ketuk olehnya. Lamunan Jongin buyar saat mendengar suara ketukan jendela mobilnya dan pemuda itu pun kemudian menurunkan kaca jendelanya untuk menyapa gadis berambut panjang tersebut.

“Jongin-ah… kenapa kau ke sini tak memberi kabar padaku dulu? Kalau aku tahu, aku kan keluar dari rumah lebih awal.” ucap gadis berambut panjang tersebut dengan panjang lebar. Tak lama kemudian Jongin pun keluar dari dalam mobilnya dan kemudian berkata. “Tak tahu kenapa aku ingin datang kesini, mungkin karena aku rindu padamu.” balasnya ringan sambil memperlihatkan senyum tipisnya.

Saat mendengar ucapan yang barusan saja di ucapkan Jongin, kedua pipi milik Yeoja itu langsung merona merah. “Yaa! Kau curang.” rajuknya sambil memukul pelan  dada bidang milik pemuda itu dan Jongin membalasnya dengan pelukan mesra.

“Sayang bisakah kau menolong ku?” tanya Jongin sambil tetap memeluk Yeoja tersebut.

“Tentu, Jongin-ah. Aku kan kekasihmu. Tak mungkin kan aku menolak permintaanmu.”

Gomawoyo, Chagia..” balas Jongin kembali sambil mempererat pelukannya.

~OoO~

-Pov Jongin-

Aku tak akan kalah dengan dirinya. Akan aku buat pria itu menderita bahkan lebih menderita dari rasa yang pernah ia torehkan kepada orang yang sangat aku sayangi. Karena dirinya, orang itu sudah tak ada lagi di dunia ini. Di detik itu juga aku bersumpah akan menuntut balas untuk membuatnya menderita bahkan aku pernah berpikir untuk membunuhnya. Tapi permainan tak akan seru bila dia harus mati secepat itu bukan?

Aku ingin dia merasakan sakit hati yang amat perih oleh orang yang ia cintai. Akan aku lakukan semua itu meskipun aku harus bermain licik, aku tak peduli. Yang jelas saat ini bahkan ke depan harinya hidupku akan aku pertaruhkan untuk membuatnya menderita. Dan setelah puas aku menghancurkan kehidupannya maka disaat itu juga baru ia akan mati oleh kedua tangan ku sendiri.

~TBC~

~OoO~

Advertisements

17 thoughts on “I Love You So Much [Part 2]

  1. Uwah… Baru nemu ini ff. Jadi lngsung komen disini aja ya Thor. Tp udah baca chap 1 kok. Hehehe
    Hmmm, penasaran nih yg d maksud jongin dia itu siapa. Dan juga, aduduhhhhh gemes sama momen hunji. So sweetttt. Hoho
    Next thor, semangatttt

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s