[Oneshoot] Road

 Road ChanHun

Road

Promise Me Please

By : Febby Fatma

OneShoot

Friendship, Brothership, (a little bit) Sad

Cast :

Sehun EXO

Gongchan B1A4

NB : Hola, author datang lagi nih dengan FF Oneshoot. Kali ini Sehun si magnae yang jadi Main Cast. Dia pada dasarnya emang bias author, tapi kalo lagi bikin FF kadang Feelnya mencar sana-sini jadi Sehun juga jarang kebagian jadi Main Cast.

Karena berhubung Author juga suka sama B1A4 jadi banyak juga karya author yang mengikut sertakan boy band itu. Sebenernya gak cuma B1A4 aja, tapi yang lain juga. Multi fandom lah istilahnya.

Tapi nomor satu tetap EXO dan Super Junior. Hehehehe~

Maaf kalo banyak yang gak suka pairingnya. Abis author ini magnae mania, jadi susah nahan hasrat untuk bikin yang kaya gini. Wkwkwkwk~

Biar enak bacanya dan Feelnya kena banget, saran aja dari authornya, baca sambil dengerin lagu B1A4 yang Road. Berhubung ini Song Fic pertama jadi author milih lagu kesukaan author yang satu ini. Lagu paling author suka di antara semua lagu B1A4. Heheheh~

Oh ya, ini udah pernah aku publish di beberapa blog lain, jadi kalau merasa pernah baca-biar kata cuma sekilas- tolong diingat nama Authornya ❤

Okeh sekian, silahkan baca dan jangan lupa jejaknya ya..

∴∴∴∴

Cheonwoni aswiwo jipkkaji georeotdeon maeil
Yunanhi gilgo gildeon uri hagyotgil
Geu gireul georeumyeo iyagil nanumyeon
(Sigani cham jjarbasseo) nega itgie oeropji anhasseo

∴∴∴∴

Gongchan hyeong lagi-lagi pulang lebih dulu dariku. Belakangan ini dia sering pulang lebih dulu dan meninggalkan aku begitu saja. Mungkin ada sesuatu yang terjadi padanya, tapi aku masih tidak tahu. Nanti akan aku coba untuk bertanya padanya.

Ah, itu dia. Sedang berjalan cepat di gang kecil dengan terburu-buru. Apa aku harus mendekatinya? Tapi dia terlihat sedang tidak ingin diganggu olehku.

Baiklah, aku akan berjalan di belakangnya saja. Seperti ini lebih baik dari pada aku harus mengganggunya.

Aku ingat dulu dia dan aku selalu berjalan bersama di jalan ini. Rumah kami memang berdekatan, bersebelahan bahkan. Jadi saat pulang dan berangkat sekolah seperti ini adalah saatnya kami berbagi cerita di kelas kami masing-masing.

Dia satu tingkat diatasku. Kakak kelasku. Dan sahabat baikku.

Dulu saat kami berjalan di jalan ini waktu terasa begitu cepat walau kami merasa langkah kami menuju rumah sudah kami perlambat. Tapi hari ini waktu berjalan lebih lama. Mungkin karena kami tidak seperti biasanya.

∴∴∴∴

Golmogeul nubigo morae meonji nalligo
Seoroga seoroui yeongungi doeeo dongnereul jikigo
Nega syupeomaen naega baeteumaen hamyeo
Chigo bakgo ssaudeon geu ttaeneun uriga choego
Neul chatdeon uri jip dwitdambyeorak maltubuteo
Seoroga darmdeora ajik kkeonaeboji motan urideul bimil
Hyanggi gadeuk namainneun uri geotdeon gil

∴∴∴∴

Gang kecil dengan kepulan debu yang menyeruak setiap saatnya. Gang kecil dengan jalanan yang tidak rata karena banyak gundukan pasir. Ini adalah gang penuh kenangan yang aku dan Gongchan hyeong lewati setiap harinya.

Di sini kami selalu bermain dan di sini juga kami pernah menjadi pahlawan pelindung. Ini wilayah yang kami lindungi.

Aku tersenyum mengingat perkataanya dulu. “Kalau kita pahlawan, aku adalah superman dan kau adalah bantman. Bagaimana?”

Padahal kami bukanlah sahabat yang selalu akur. Kami sering bertengkar karena hal sepele, bahkan tidak tanggung kami bisa saling meninju, dan menendang di suatu waktu.

Tapi pada akhirnya nanti kami akan berjalan di jalan ini seperti biasanya. Menjadi sepasang sahabat yang terlihat baik-baik saja.

Aku lihat dia masuk ke dalam rumahnya. Aku juga, aku langsung masuk ke dalam dan mengganti pakaianku.

Biasanya setelah ini aku dan Gongchan hyeong akan bertemu di halaman belakang melanjutkan cerita kami yang sempat terputus. Tapi aku tidak melihat dia yang biasanya duduk di bangku sana.

Mungkin dia masih menyembunyikan sesuatu dariku. Kami bersahabat dekat, setiap harinya akan semakin dekat, tapi itu bukan berarti tidak ada rahasia diantara kami. Mungkin itu sebabnya dia berubah belakangan ini.

Hanya gang kecil itu yang tahu bagaimana kami biasanya. Gang kecil itu adalah brangkas cerita tentang kami suatu saat nanti. Brangkas yang akan kami rindukan untuk membukanya.

∴∴∴∴

Maeil ulgo useumyeo georeotdeon gil
Hamkke maengsehan yaksogeul itji ankil
Dasi mannaneun geu nare useul su itge byeonchi ankil bara
Neowa namaneun hamkke georeoon gire kkeuteseo
Yaksokhae yaksokhae lalalalalalalala

∴∴∴∴

Aku kembali ke gang kecil itu. Mencoba untuk mengingat semuanya dari awal lagi.

Di jalan kecil ini biasanya kami berbagi cerita. Entah cerita senang atau sedih. Bahkan aku ingat dulu saat SD kami sering menangis di tempat ini. Haha, lebih tepatnya aku yang menangis karena dijahili teman. Dan dia di sana menemaniku.

Bukankah dia kakak yang sempurna? Yah, aku juga menganggapnya kakak walau aku tidak tahu apakah dia menganggapku adik atau tidak.

Aku hanya bisa berharap dia akan terus mengingat janji kami dulu. Janji yang di ucapkan oleh seorang anak kelas 3 sekolah dasar dan seorang anak kelas 4 sekolah dasar. Janji yang akan mengikat kami untuk bertemu suatu saat lagi nantinya.

Janji akan selalu tersenyum saat nanti kami bertemu lagi.

Aku harap dia tidak akan berubah. Aku harap janji itu akan membuatnya ingat siapa aku dan siapa kami dulu hingga kini. Aku harap dia menepati janjinya padaku, dan aku harap aku bisa menepati janjiku padanya.

Gongchan hyeong. “Pasti jalan ini akan semakin sepi nantinya.”

∴∴∴∴

Eoduun gireseo han eobsi banghwanghago
Maeiri jigyeowoseo kkumi eobseotji
Geu girui gyeoteseo hangsang himi doeeojun
(Nega isseotgie) ireoke nan georeogal su isseosseo

∴∴∴∴

Hari ini aku tidak bertemu Gongchan hyeong sama sekali. Tidak saat berangkat sekolah dan saat pulang. Mungkin saja dia memang tidak berangkat mengingat dia sudah selesai dengan ujian Negara.

Rasanya lelah kembali datang menyerangku. Dulu saat seperti ini Gongchan hyeong lah yang selalu memberiku dukungan. Saat seperti ini adalah saat dia berceramah panjang lebar tentang bagaimana aku harus hidup ke depannya nanti.

Saat aku merasa lebih baik menyerah untuk bermimpi dan membiarkan semua berjalan seperti apa adanya. Itu adalah saat Gongchan hyeong menjadi cahaya yang terang untukku dan untuk kami berdua. Dia adalah semangatku, dia adalah penerang jalanku.

Aku harap dia akan datang lagi dan memberi penerangan itu. Memberikan aku apa yang biasanya dia berikan seperti dulu. Seperti saat dia di sana dan aku masih bisa berjalan dengannya. Seperti saat dia merangkulku untuk terus berjalan dengannya.

Aku ingin dia ingat saat itu seperti aku mengingatnya selalu.

∴∴∴∴

Baegopado nanueo meokdeon ppang han jjok iyu eomneun
Banhangdeuldo manhatjyo nuguboda kungjjagi jal matneun uri
Sigani aswiwo i gireul georeotjyo
O han pyeonui heukbaek pilleumeuro namabeorin
Urideurui geu ttae geu sijeol geu sigan geu baram
Geu gil eonjena meotjin iyagiro namajugil

∴∴∴∴

“Mau beli rotinya dik?” Aku menoleh dan mendapati seorang ibu menawariku roti. Aku mengangguk sambil merogoh saku celanaku. Memberikan selembar uang untuk ditukar dengan sebuah roti selai coklat kesukaanku.

Ah, kalau ingat pagi itu. Saat kami berdua sama-sama bangun kesiangan. Ibuku marah besar karena malamnya kami berdua begadang hingga larut. Tapi ibu tetaplah ibu. Dia memaksaku membawa selembar roti yang sudah dia siapkan untukku. Dia bilang aku bisa memakannya di jalan.

Masih jelas diingatanku bagaimana kami pagi itu.

Kami sama-sama lapar. Aku dan Gongchan hyeong jadi membagi selembar roti itu bersama. Kami tertawa karena mengingat malam saat terjadi perdebatan yang membuat kami tidur hingga larut malam. Padahal itu hanya perdebatan kecil tanpa alasan, tapi kadang itu yang terjadi pada kami berdua.

Aku berhenti untuk mengingat baik-baik bagaimana jalanan yang menyimpan kisah kami bersahabat baik ini. Rasanya seperti melihat film hitam-putih saat mengingat bagaimana kami dulu di jalan ini.

Ah, “Aku benar-benar merindukannya.” Saat-saat itu, hari-hari itu dan semua harapan itu. Aku rindu semuanya yang ada di jalan ini. Bolehkan kalau aku berlebihan seperti ini? Bolehkan kalau aku berharap jalanan ini akan terus menyimpan cerita kami?

Bolehkan aku seperti itu?

∴∴∴∴

Maeil ulgo useumyeo georeotdeon gil
Hamkke maengsehan yaksogeul itji ankil
Dasi mannaneun geu nare useul su itge
Byeonchi ankil bara neowa namaneun
Hamkke georeoon gire kkeuteseo

∴∴∴∴

“Sehun-ah,” aku menoleh dan mendapati ibuku berjalan mendekatiku. Aku baru ingin berangkat sekolah lagi pagi ini.

Masih sama saja, Gongchan hyeong masih tidak terlihat sama sekali. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Tidak mengirimku pesan atau menelpon, tidak sama sekali.

Ah ya, mungkin dia sangat sibuk. Mungkin dia masih belum punya waktu. Nanti aku juga pasti akan seperti ini juga.

“Ini.” Ibu menyodorkan aku sebuah amplop. Aku menerimanya sambil menatap bingung. “Itu Gongchan yang menitipkannya.”

“Kenapa tidak langsung memberikannya padaku?”

Ibu duduk di sampingku. Merangkulku hangat seperti sebelum-sebelumnya dan ini membuatku semakin bingung.

“Gongchan berangkat ke Seoul pagi ini. Tadi dia datang untuk menemuimu, tapi saat melihatmu masih tidur dia hanya menitipkan ini dan kata maaf pada ibu.”

Oh, Gongchan hyeong sudah berangkat. Pantas saja dia tidak terlihat sama sekali. Berarti mulai pagi ini aku akan benar-benar sendiri.

Tuhan, jaga dia dalam perjalanannya. Buat dia bahagia dengan apa yang dia impikan. Dan aku mohon padamu Tuhan, buat dia terus mengingat janji kami dulu. Buat dia ingat aku di sini sangat merindukannya.

Dan terakhir, tolong pertemukan kami lagi di ujung jalan itu dengan senyum di wajah kami. Seperti janji kami dulu. Seperti saat kami belum berubah nanti.

∴∴∴∴

Sigani jinago sewori heulleodo
Gidael su itgireul himdeul ttaen eonjerado
Himi doeeo julge neoui giri doeeo julge
Jeo nopi jeo nopi naragal su itgireul bara

∴∴∴∴

[Gongchan Latter]

Hallo Sehun-ah?

Maaf aku pergi tidak bilang padamu. Maaf juga belakangan ini aku jarang menemanimu. Kau pasti kesepian harus jalan sendiri di jalan itu. Maafkan hyeong ya Sehun-ah?

Sehun-ah, waktu akan terus berjalan. Tidak perduli seberapa kita ingin waktu itu berhenti, dia tidak akan berhenti untuk kita. Karena tugas waktu hanya satu. Terus berjalan. Dia tidak bertugas untuk berhenti saat seseorang ingin dia berhenti. Apalagi harus mengulangnya.

Dia bukan seperti manusia yang akan merasa kasihan pada suatu titik. Dia bukan seperti itu, dan aku yakin kau sudah tahu tentang ini.

Aku harap kau tidak akan berubah. Kau akan tetap menjadi sahabat dan saudara yang selalu menemaiku. Aku harap kau akan tetap datang padaku saat kau membutuhkanku. Aku pergi bukan berarti aku ingin kita berpisah. Aku pergi karena waktu ingin aku juga terus mengikutinya. Begitu juga dengan dirimu Sehun-ah.

Jadi katakan saja kalau kau membutuhkanku. Katakan saja kalau kau ingin aku menyemangatimu seperti dulu. Datang saja dan aku akan memberimu kekuatan. Aku akan selalu ada di jalan yang sama seperti yang kau lalui. Percayalah pada hyeong-mu ini Sehun-ah.

Oh ya, tetang mimpimu itu. Semoga tahun depan kau bisa menyusulku datang ke Seoul. Kau harus bisa meraih mimpi itu dan membuktikan pada dunia kalau kau bukan seorang pecundang.

Kau adalah Oh Sehun. Laki-laki hebat yang selalu mempercayai mimpinya. Kau adalah Oh Sehun, adik kebangganku.

Hyeong di sini akan berdoa agar Tuhan memberimu kemudahan untuk terbang tinggi. Untuk pergi ke langit dan mengambil satu bintang yang berisi mimpimu. Hyeong berharap hal itu akan terjadi Sehun-ah. Kau akan terbang tinggi-tinggi.

∴∴∴∴

Maeil ulgo useumyeo georeotdeon gil
Hamkke maengsehan yaksogeul itji ankil
Dasi mannaneun geu nare useul su itge
Byeonchi ankil bara neowa namaneun hamkke georeoon gire kkeuteseo

∴∴∴∴

Sehun-ah, jalan itu adalah jalan yang selalu kita lalui bersama. Aku menyimpan semua kenangan kita di sana. Saat kita tertawa bersama dan bahkan menangis di sana. Setiap hari kita melaluinya untuk bisa pergi melihat dunia yang lebih luas.

Aku harap kau tidak akan melupakan janji yang kita buat di sana. Janji untuk bertemu lagi, janji untuk selalu tersenyum dan untuk tidak berubah. Di ujung jalan yang sering kita lalui itu aku harap kau dan aku akan bertemu lagi.

Berjanjilah padaku Sehun-ah. Berjanji untuk menepati janji kita dulu. Karena aku juga berjanji padamu dalam surat ini. Aku akan menemuimu lagi nanti, dengan senyum di wajahku di ujung jalan itu.

[Gongchan Letter End]

∴∴∴∴

Yaksokhae yaksokhae lalalalalalalalala
Yaksokhae yaksokhae lalalalalalalalala

∴∴∴∴

Sekali lagi aku berhenti di jalan ini. Surat yang kubaca sambil berjalan ini membuatku merasa lebih baik. Aku tahu Gongchan hyeong tidak meninggalkanku. Dia hanya mengikuti sang waktu seperti sebelum-sebelumnya.

Aku menoleh, melihat jalan itu dari ujung sini. Gambaran film hitam-putih masa lalu itu terlihat lagi. “Aku berjanji padamu hyeong. Dan akan aku pegang baik-baik janjimu ini.”

Karena nantinya jalan ini akan menjadi jalan penuh kisah. Akan aku buat mereka melihatnya hyeong. Akan aku buat dunia tahu aku memiliki semangat untuk terus berjalan di jalan ini hingga ujungnya karena kau ada di sampingku. Karena kau adalah sabahat dan saudara kebangganku.

Aku janji hyeong, aku janji.

∴∴∴∴

 

 

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Road

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s