[Oneshoot] Still Love

req-phiyun-sl

|| Title: Still Love || Author: Phiyun || Genre: Romance  | Sad | Hurt | Family || Cast: Jiyeon || Donghae | Sooyoung | Sehun ||

Poster Credit : hackerseo [at] ARTZONE (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Warning: Sorry For Typo’s & Please Don’t Silent Readers

FF ini pernah aku publish di blog ku di sini

Isi cerita ini aku fokuskan di Pov Donghae ya, enjoying 🙂

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Patah hati memang menyakitkan namun lebih menyakitkan lagi bila seseorang yang sangat kita sayangi tak pernah sedikitpun mengangap diri kita ada.

~~~ooo~~~

 

Aku sangat menyukai saat terbitnya sang mentari. Kenapa aku menyukainya? Akan aku beritahukan kepada kalian rahasia terbesar didalam hidupku. Apakah kalian ingin mengetahuinya? Meskipun kalian tak mau mendengarkannya tapi tetap akan aku ceritakan pada kalian semua. Rahasia terbesarnya adalah kenapa aku menyukai terbitnya matahari karena pada hari itu juga aku bisa bertemu dengan dia dan aku juga bisa menghabiskan waktu seharian bersama dirinya. Ya… dia… wanita yang sangat sayangi Choi Sooyoung.

***

“Sooyoung-ah… yah… Choi Sooyoung!” panggil ku sambil berlari kecil menghampiri dirinya yang sudah berdiri depan pintu kelas.

“Ah, Kau? Ada apa?” balasnya dengan wajah yang tak semangat.

Melihat mimik wajahnya yang terlihat lesu membuatku menjadi sedikit khwatir pada dirinya. “Kenapa dengan wajahmu, Sooyoung-ah? Kau nampak tak bersemangat hari ini?” tanyaku lagi.

“Tidak… aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kesal saja pagi hari ini.” ucapnya sambil menghela nafas yang panjang.

“Memangnya kau kesal kenapa? Ceritakan saja padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.” ujarku sambil menyunggingkan senyum pemungkas ku.

Tapi tanggapan yang aku terima kebalikannya. Sooyoung  malah terlihat kesal padaku. “Yah, Lee Donghae-ah… berhentilah kau mengolok-olok aku.” ujarnya dengan tatapan sinis kepadaku. Terlihat dengan jelas kalau dia sangat tak menyukai perkataanku tadi.

Mianhae… Sooyoung-ah.” kali ini aku mengatakan dengan nada yang sangat hati-hati padanya sambil menundukan kepala untuk meminta maaf. Untuk beberapa saat keadaan disekitar kami berdua mulai terasa canggung. Karena tak biasanya Sooyoung semarah ini padaku.

Hampir 5 menit aku menundukan kepala untuk meminta maaf padanya namun tak ada respon sama sekali. Akupun mulai penasaran dan kemudian aku mulai memberanikan diri untuk melihat lawan bicaraku kali ini.

“Sooyoung-ah, maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu padamu.” kataku lagi dengan tatapan yang sendu.

Tiba-tiba Sooyoung  malah terkekeh didepan ku. “Hahhaha!!!” tawanya. Aku sempat bingung dengan ekspresi dia sekarang. Apakah dia sudah memaafkan ku atau dia benar-benar marah padaku.

Yak! Lee Donghae-ah! Dasar aneh.” katanya sambil sebelah tangannya menjitak atas kepalaku dan setelah itu dia pergi masuk kedalam kelas.

Aku terpaku sejenak untuk memahami maksud apa yang barusan saja ia lakukan padaku. “Berarti dia sudah memaafkan ku? Benarkan?” gumamku setelah itu aku langsung berlari  menyusul Sooyoung  yang sudah masuk kedalam kelas.

Ternyata saat aku masuk kedalam kelas, dia sudah duduk di bangku yang tak jauh dari jendela. Akupun langsung menyusulnya dan duduk tepat disampingnya.

 “Sooyoung-ah… apakah kau masih marah padaku?” tanyaku namun Sooyoung  tetap saja memalingkan wajahnya di depanku. Merasa tak dianggap kehadirannya akhirnya aku memanggil namanya dengan menaikan satu oktaf suaraku. ”Yaa! Choi Sooyoung.” panggilku lagi dengan nada yang ku tinggikan. Akhirnya usaha yang aku lakukan terbayar. Diapun mulai menatap diriku.

“Lee Donghae-ah, apakah kau tahu tingkah lakumu seperti anak kecil. Aku tak menyukainya.” setelah itu diapun memalingkan wajahnya lagi. Aku mulai mematung saat Sooyoung mengatakan hal itu padaku. Aku merasa sangat bersalah padanya.

“Yah… ada apa dengan wajahmu? Kenapa sekarang kau yang nampak seperti itu?” tanyanya lagi sambil berkacak pinggang. “Donghae-ah kau terlihat sangat bodoh, apakah kau tahu. Hahaha…” tawanya lagi sambil kedua tangannya mencupit kedua pipiku.

“Aauww… apha!” teriakku karena dia mencubit kedua pipiku cukup keras.

“Yah, apa kau tahu Donghae-ah. Aku tak mungkin bisa marah padamu bahkan membencimu aku tak akan mungkin melakukannya. Melihat kau ada disampingku saat ini saja sudah membuat aku bahagia.” ungkapnya sambil tersenyum dihadapanku.

“Benarkah? Kau sedang tidak berbohongkan?” tanyaku lagi dengan wajah yang sumeringah.

“Iya, kau kan sahabat terbaik ku bahkan aku sudah mengagapmu sebagai Oppaku sendiri.” tambah Sooyoung. Mendengar kalimat terakhir itu, senyuman ku seketika memudar.

“Ah,,, Oppa…” gumamku dengan wajah yang lesu.

Ne… apakah kau tak menyukainya?”

Pertanyaannya membuatku tak bisa menolaknya. Dengan perasaan yang berat aku pun menjawabnya. “A-ani… a-aniya… aku suka. Oppa nampaknya nama itu tak sejelak yang aku fikirkan.” Tambahku.

“Benarkan… kalau begitu mulai saat ini aku panggil kau dengan sebutan Oppa saja ya?”

Bibirku seketika terkunci rapat saat dia berkata itu kepadaku. Tak beberapa lama kemudian akupun membalas perkataannya.“Nampaknya tidak.”

“Kenapa? Kenapa tak bisa?” sambil merajuk padaku.

“Aku akan mengijinkannya jika kau bersikap manis dihadapanku.”

“Ya…ya..ya… Lee Donghae-ssi kau terlihat sombong sekali.”

“Terserah padamu saja, yang jelas tak sembarang orang yang bisa memanggil ku dengan sebutan itu.” ucapku lantang padanya.

“Apakah termasuk diriku juga?” tanyanya lagi sambil mendekatkan wajahnya dihadapanku. Saat itu juga hampir beberapa detik aku tak bisa bernafas dan jantungkupun berdetak dengan kencang. fikirankupun mulai blank. Namun aku berusaha untuk mengembalikan akal sehatku secepat mungkin.

“Iya… bahkan dirimupun tak ada pengecualian.” balasku dengan wajah yang datar. padahal didalam hatiku berdetak  tak menentu tapi aku harus bisa mengontrolnya.”Baiklah aku pergi dulu ya.” Kemudian aku langsung beranjak dari samping Sooyoung.

“Yah  Donghae-ah, kau mau kemana? Bukannya kau ada kelas sekarang?” panggil Sooyoung namun aku tak menghiraukannya malahan aku mempercepat langkah kakiku agar bisa secepatnya menjauh dari dirinya.

~~~ooo~~~

~Pov Author~

 

Disepanjang lorong kelas Donghae selalu memikirkan apa yang baru dikatakan Sooyoung. Apabila mengingat itu hati Donghae terasa sakit. Karena Yeoja itu hanya mengangap dirinya tak lebih dari sekedar sahabat. Mungkin sulit untuk mereka berdua mengubah hubungan ini menjadi suatu hubungan yang lebih serius walaupun mereka berdua sudah bersahabat selama 3 tahun ternyata itu tak cukup juga untuknya menerima dirinya lebih dari sekedar sahabat.

“Donghae-ah ada apa denganmu? Kenapa kau jadi sedih? Disini kau yang salah bukan dia. Kau yang lebih memilih untuk menjaganya  bukan sebagai pemiliknya jadi terima saja kenyataannya.” maki Namja itu pada diri sendiri sambil mengacak-acak atas rambutnya dengan frustasi.

~~~ooo~~~

~Sore harinya~

                “Prang!!!” terdengar suara benda pecah belah jatuh tak jauh dari kamar ayahku. Mendengar itu akupun langsung berlari menuju asal mula suara tersebut.

                “Abeoji gwenchana?” Saat aku masuk terlihat pecahan piring dan banyak juga makanan yang berserakan. Tak jauh dari sana juga terlihat ada seorang gadis muda sedang berdiri tak jauh dari ayahku. Wajah gadis itu terlihat ketakutan namun dia berusaha keras untuk menutupi ketakutannya didepanku tapi aku mengetahuinya kalau dia sangat ketakutan saat itu karena tak sengaja aku melihat kedua tangannya sedang bergetar hebat. Melihat itu aku langsung menghampiri yeoja tersebut.

“Apakah kau baik-baik saja dokter?” tanya ku.

“Ah… ya aku baik-baik saja.” balasnya sambil mengaguk-anggukan kepalanya pelan.

Appa, jangan kau berlaku seperti itu didepan dokter.” sambil melihat kearah ayah.

“Apa maksudmu? Kau sekarang sudah berani membangkang ku, hah?!”

“Maksudku bukan seperti itu, Pa. Kenapa Appa tak mau meminum obat dan makan? Inikan semuanya untuk kesehatan mu, apakah Appa tak mau sembuh?” tanya ku lagi dengan nada yang lembut pada pria paruh baya tersebut.

Sepertinya Ayah ku tak mau mendengar perkataan ku, dia malah memarahi ku karena aku dikira meremehkan dirinya padahal aku tak pernah punya niat semacam itu terhadap dirinya,

“Yah, kau itu masih anak bau kencur, kau itu jangan bersikap kalau kau tahu semuanya. Asal kau tahu saja penyakitku ini tak akan bisa sembuh, kau fikir aku bodoh?! Hah!!” bentaknya padaku.

“Pa… jangan kau berkata seperti itu. Aku yakin Appa bisa sembuh.” kali ini aku tak bisa berlaku lembut lagi pada ayahku. Karena aku ingin ia sembuh.

“Tuan Lee, saya yakin kalau saya bisa menyembuhkan anda. Sekali ini saja percayalah padaku.” sela gadis itu di tengah-tengah pembicaraan aku dengan ayah.

“Memanya kau siapa berani sekali mengatakan hal itu padaku?” ucapnya dengan nada yang menyindir.

“Karena aku doktermu dan aku yang bertangguung jawab atas semua yang kau derita. Aku memang tak bisa menjanjikan apapun padamu tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu. Jadi maukah anda bekerja sama dengan ku?” kata gadis itu sambil berjalan menghampiri ayahku dan kemudian dia  mengulurkan sebelah tangannya dihadapan ayah.

“Baiklah akan aku terima niat baikmu. Aku ingin melihat juga berapa lama kau bisa sanggup menjadi dokter pribadiku. Mungkin kau akan bertahan seminggu lagi dari sekarang.” balasnya lagi dengan tatapan mengejek.

“Kita lihat saja Tuan Lee… yang jelas aku tak akan menyerah sebelum aku bisa menyembuhkanmu, apabila aku pergi begitu saja maka namaku bukanlah lagi Park Jiyeon. Kau boleh memegang ucapanku.” katanya dengan mantap.

“Oke… kita lihat saja Nona Park Jiyeon-ssi.” kata ayahku. Kemudian mereka berdua saling berjabat tangan. Meskipun sikap mereka terlihat canggung dimataku akan tetapi aku sempat melihat senyuman tipis dari sudut bibir ayah. Aku tahu sebenarnya didalam hati ayahku ingin sekali dia sembuh. Tapi tak ada perawat maupun dokter yang bisa mengatasi tingkah ayah yang sangat tempramen hanya dokter Jiyeon yang mampu menghadapinya bahkan dia bisa mengalahkan rekor terlama menjaga ayahku selama sebulan belakangan ini.

~~~ooo~~~

~Keesokan harinya~

Seperti biasa aku datang kekampus lebih awal dari sebelumnya untuk memberi kejutan kepada wanita yang sangat spesial dalam hidupku. Sedari pagi aku sudah menyiapkan hadia untuknya dan tak lupa aku tambahkan dengan pita cantik berwarna pink. Tapi sudah hampir waktunya masuk jam pelajaran bahkan kelaspun sudah terlihat ramai batang hidungnya-pun tak kunjung terlihat.

 “Apakah dia tak masuk sekolah hari ini?” Tanya batin ku. Tak berapa lama kemudian datanglah wanita yang sedari tadi aku tunggu-tunggu tapi anehnya dia datang bersama dengan pria lain. Sooyoung pun duduk dibangku paling depan bersama dengan laki-laki itu. Tak seperti biasanya karena sudah hampir 3 tahun ini aku selalu duduk bersebelahan dengan ku.

Terlihat mereka sangat akrab malah kalau orang mengira hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Bahkan sebelah tangan pria itu saja berani merangkul pundak Sooyoung dan Sooyoung pun terlihat biasa-biasa saja. aku saja tak pernah melakukannya. Melihat itu semua membuat hatiku remuk. Aku bingung apa yang harus aku lakukan. Aku ingin marah sejadi-jadinya dihadapan mereka berdua tapi aku ini bukanlah siapa-siapanya Sooyoung jadi aku tak punya daya untuk melakukannya. Karena hubungan kami tak lebih dari sekedar sahabat ya sahabat dekat meskipun didalam hatiku yang terdalam aku sangat ingin menjadi seseorang yang lebih dari sekedar sahabat bahkan spesial didepan kedua matanya.

“Kring!!! Kring!!! Kring!!!” terdengar suara bel tanda berakhirnya jam matakuliah tersebut. Semua mahasiswapun merapikan semua alat tulis mereka kedalam tas mereka masing-masing. Kedua mataku masih saja seibuk meanatap Sooyoung dibangku depan. Selama pelajaran berlangsung dia sama sekali tak menyapaku, menolehkan wajahnya didepanku saja dia tak pernah. Tak berapa lama kemudian Sooyoung pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi bersama dengan pria yang saat tadi bersama dengan dirinya.

“Hahahaha…” tawa Sooyoung didepan pria itu. Dia nampak sangat senang saat disampingnya. Dia bahkan tak menyadari keberadaan ku sedari tadi. Awalnya aku ingin menghampirinya namun hal itu aku urungkan. Mungkin benar aku tak penting untuk dirinya dan aku juga tak mau menggangu kebahagiaan orang yang aku sayangi.

~~~ooo~~~

~2 Minggu kemudian~

Sudah hampir dua minggu ini aku tak bertemu Sooyoung, entah apa yang sudah terjadi pada dirinya. Aku berusaha menelefonnya dan mengirim pesan padanya bahkan aku sudah mendatangi rumahnya namun hasilnya tetap saja nihil. Aku tak bisa bertemu dengan dirinya. Aku lost contact dengan dirinya, akupun tak tahu kemana dia berada sekarang.

Akupun mulai frustasi mencari dirinya disepanjang jalan. Mungkin saja aku bisa menemukannya saat aku berkeliling kota seoul. Kedua mataku dengan sibuk melihat setiap sudut jalan bahkan sesekali aku berhenti disetiap toko pernak pernik, toko pakaian, bahkan direstauran aku selalu berhenti untuk mencarinya. Aku terlihat seperti orang gila yang mencari-cari dirinya tanpa tujuan.

“Sooyoung-ah… Choi Sooyoung… dimana kau sekarang!!!” Teriakku karena aku sudah frustasi dibuatnya dan tak sengaja aku melihat ada sesosok wanita yang terlihat familiar yang sedang berdiri didalam sebuah butik. “Sooyoung!! Yah Sooyoung-ah!!!” teriakku sambil berlari kencang kearah gadis tersebut.

“Sooyoung-ah… sedang apa kau ada disini?” tanyaku dengan nafas yang terengah-engah sambil menggengam sebelah tangannya.

“Donghae-ah… ada apa dengan dirimu?”

Mwo? Adanya aku yang bertanya padamu? Kenapa kau akhir-akhir ini tak masuk kuliah dan menjauh dari ku!” bentak ku dihadapannya. Tiba-tiba laki-laki yang tadi berada disampingnya mencoba melepaskan lengan Sooyoung  yang aku gengam.

“Yah.. apa urusannya dengan dirimu?! Memangnya kau siapanya, hah!!” dengan nada yang marah.

“Apa masalahmu, aku tak ada urusannya dengan dirimu! Memangnya kau siapanya?” balasku.

“Aku kekasihnya, apakah kau puas dengan jawabanku?” katanya sambil menarik tubuh Sooyoung kedalam dekapannya. seketika gengaman tangankupun terlepas begitu saja dari pergelangan tangan Sooyoung. Aku diam terpaku saat mendengar ucapan dari pria itu.

“Sooyoung-ah apakah benar apa yang dikatakan laki-laki ini barusan?” tanyaku pelan.

Sooyoung pun membalas perkataan ku dengan suaranya yang pelan tanpa berani menatap diri ku. “Donghae-ah… mianhae, aku  belum sempat memberitahukannya padamu. Sebenarnya a-aku ma-mau memberitahukanmu tapi…”

“Tapi apa??” sela ku sebelum dia menyelesaikan ucapannya. “Apakah aku tak penting dihidupmu, apakah selama ini aku hanya angin lalu di matamu?”

“Donghae-ah… bu-bukan itu maksud ku…” balasnya sambil mengengam erat kerah lengan jaketku. Namun saat itu juga aku langsung menepisnya.

“Donghae-ah… tolong dengarkan penjelasaku terlebih dahulu. Jebal...” pintanya.

“Apa yang mau kau jelaskan padaku? Semuanya sudah jelas didepan mataku. Apakah laki-laki itu memberikan semua yang kau inginkan? Bahkan dia memberikanmu cincin berlian. Kau kira aku tak bisa memberikannya padamu?” ucapku sambil kedua mataku menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Yah, Lee Donghae! Itu urusanku kalau aku ingin meminta apapun pada kekasihku! Kau harus ingat kau itu hanya teman tak lebih! Asal kau tahu saja aku tak pernah sedetikpun menatapmu sebagai namja. Ingat itu!” katanya sambil berkacak pinggang dihadapanku. Sontak aku terkejut bahkan seketika hatiku hancur saat kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut orang yang sangat aku sayangi. Aku tak menyangka kalau dia begitu teganya berkata itu padaku. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang yeoja menenteng beberapa goody bag ditangannya.

“Maaf, Nona sudah menunggu lama. Ini baju gaun yang anda beli sudah kami bungkuskan dan ini kartu kreditnya tTuan.” sambil menyerahkan bungkusan ditangannya dan kemudian memberikan kartu kreditnya kepada pria disamping Sooyoung.

“Sooyoung-ah ternyata kau memang wanita matriallistis.” seraya menyunggingkan senyuman dihadapannya.

“Plak!!!” dengan kencang Sooyoung menampar sebelah pipiku. “Jaga ucapanmu itu, Lee donghae-ssi! Jangan suka kau mengurusi urusanku! Urusi saja urusanmu sendiri!! Lebih baik persahabatan ini kita akhiri saja, mulai detik ini.” ungkapnya sambil menyilangkan kedua tangannya dan membuang wajahnya dari hadapanku.

Mendengar perkataannya kali ini, aku tak kaget. Karena hati ku sudah patah arang untuknya. “Baguslah kalau begitu. Kalau kau mengatakan duluan padaku.” balasku dengan santai.

“Iya! Kita akhiri saja sekarang!!! Aku sudah tak membutuhkanmu lagi! Kau itu tak lebih daripada benalu didalam hidupku.” ucapnya dingin.

“Maafkan aku kalau aku sudah menjadi benalu di kehidupanmu. Terimakasih kau sudah mau bersahabat dengan orang yang tak berguna seperti diriku selama ini.” ujarku dengan  tersenyum masam. Setelah itu akupun pergi meninggalkan mereka berdua kemudian kembali masuk kedalam mobil.

Diperjalanan pulang pikiranku sangat kacau bahkan aku sama sekali tak bisa fokus dalam menyetir, semua terlihat buram dimataku. Tak berapa lama kemudian tiba-tiba telefonku berdering.

“Kring…kring…kring…” Aku kira yang menelefonku Sooyoung ternyata orang lain. Wajahku yang awalnya senang berubah drastis menjadi kecewa.

“Halo ada apa kau menelefonku?” tanya ku.

“Donghae-ssi kau ada dimana sekarang? Keadaan ayahmu sekarang sedang kritis!” ucapnya dengan nada panik dari baik telefon.

“Apa, keadaan Appa kritis?! Baiklah aku akan segera pulang. Tolong jaga ayahku dokter Jiyeon-ssi” setelah itu telefonkupun ku tutup. Setibanya disana aku langsung berlari masuk kedalam ruangan kamar ayahku. Benar apa yang dikatakan dokter,  kalau keadaan ayah semakin buruk. Hatikupun semakin hancur saat melihat keadaan ayahku yang tidak berdaya diatas ranjang.

“Ba-bagaimana keadaan ayahku, dokter?” tanyaku dengan suara yang parau sambil tetap menantap sendu ke arah ayahku.

“Keadaan Tuan Lee sangat buruk, aku menganjurkan bagaimana kalau Tuan Lee kita rujuk ke rumah sakit besar yang ada di L.A. Kebetulan saya punya kenalan dokter yang bagus disana, yang bisa menangani penyakit Tuan Lee. Jadi kemungkinan besar kita akan tinggal sementara waktu disana. Bagaimana menurutmu?”ujar gadis itu padaku.

Sesaat aku termenung saat aku harus memilih pilihan untuk meninggalkan negara kelahiranku. Tapi demi ayahku tercinta akhirnya akupun membulatkan pilihanku.“ Baiklah, ayo kita lakukan. Lalu kapan kita akan kesana?” tanyaku lagi.

“Bagaimana kalau hari ini juga, karena semakin cepat maka semakin baik.” ucapnya dengan mantap. Tanpa berfikir panjang lagi aku langsung menjawab ucapanyan. “Ayo kita berangkat hari ini juga.”

~~~ooo~~~

~Author Pov~

 

~1 tahun kemudian~

“Donghae-ah… Lee Donghae-ssi kemarilah sebentar!” panggil seorang gadis dari kejauhan bersama seorang laki-laki paruh baya sambil mendorong sebuah kursi roda ditangannya. Mendengar namanya dipanggil diapun langsung berlari menghampiri gadis tersebut.

“Ada apa Jiyeon-ssi.” balasnya sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Saat dia hendak mendekatinya, gadis itu langsung menghentikannya.

“Berhenti! Tetaplah disana.” katanya.

“Ya? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan sekarang?” balas Donghae sambil mengangkat sebelah alisnya menandakan dia sangat tidak suka.

“Yah… apakah kau tahu, ada yang ingin Tuan Lee tunjukan pada kita.” ucap gadis itu lagi dengan kedua mata yang berbinar-binar.

“Apa itu, Appa?” Sambil menatap lekat-lekat kedua manik bola mata laki-laki tua tersebut. Tak berapa lama kemudian Jiyeonpun berdiri dihadapan laki-laki tua itu namun pria itu malah menyuruhnya pergi dari hadapannya.

“Aku bisa melakukannya sendiri.” kata laki-laki paruh baya itu. “Baiklah Tuan.” Lalu gadis itupun pergi kembali ke samping kursi roda. Dengan kekuatan yang laki-laki tua itu miliki dia mengeluarkan semuanya dan akhirnya dia berhasil berdiri dari kursi rodanya. Donhae yang melihat ayahnya sudah dapat berdiri dari kursi rodanya dia sangat senang tapi dia juga merasa sangat takut kalau ayahnya akan cendera karena sudah hampir 2 tahun beliau tak dapat menggerakkan anggota badannya apalagi kedua kakinya. Donghae pun langsung berjalan untuk membantu ayahnya berjalan namun niatnyapun di tolak oleh ayahnya. Laki-laki paruh baya itupun mulai berjalan tertatih-tatih bahkan sesekali diapun menggigit bibir bawahnya mungkin saja itu semua  dia lakukan untuk mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan saat berjalan. Tak terasa dia sudah berjalan hampir sampai didepan anaknya dan saat selangkah lagi kakinya sudah tak mampu lagi melangkah namun dengan cepat Donghae langsung menangkap tubuh sang ayah kedalam dekapannya.

Appa, kau bisa berjalan. Kau berhasil Appa…” kata Donghae sambil memeluk ayahnya.

“Ya, Nak… akhirnya Appa bisa berjalan kembali. Terimakasih Nak, kau sudah menemani laki-laki tua tak berguna ini sepanjang waktu mu.” ungkap sang ayah dengan suara paraunya.

Tapi Donghae segera menepis semua ucapan yang baru saja ayahnya lontarkan. “A-aniyaAppa… kau adalah seorang ayah yang sangat hebat didepan mataku karena kau tak pernah menyerah dengan penyakit yang kau terima. Aku bangga mempunyai seorang ayah yang hebat.”

“Aku juga bangga mempunyai anak laki-laki seperti dirimu, gomawoyo Donghae-ah.” ucap laki-laki tua itu lalu memeluk putranya.

Ternyata yang terharu bukan hanya mereka berdua tetapi ada juga seseorang wanita yang meneteskan air mata bahagia saat melihat mereka berdua. Ya, gadis itu adalah Jiyeon dokter yang selama ini menemani Tuan Lee melakukan terapi. Ketika Donghae hendak berjalan menemui Jiyeon tiba-tiba ada seorang Namja  sedang berjalan dibelakang punggung Jiyeon kemudian tanpa basa-basi pria itu langsung merangkul tubuh Jiyeon kedalam pelukannya.

“Jiyeon-ah… bagaimana? Apakah kau senang?” kata Namja itu sambil tersenyum manis didepan Jiyeon. Donghae terlihat kesal bahkan tanpa dia sadari kedua tangannya mengepal kencang sambil kedua matanya tetap menatap fokus kearah Jiyeon.  Ternyata ekspresi itu  terihat oleh ayahnya. Ayah Donghae pun hanya bisa tersenyum kecil saat melihat tingkah laku anaknya yang jelas-jelas terlihat kalau dia sekarang sedang cemburu.

“Sehun Seonbae…” sambil menolehkan kepalanya kepada laki-laki itu. “Gomawoyo Seonbaenim karena pertolongan mu,  Tuan Lee bisa sembuh dari penyakit Stroke-nya.” tambah Jiyeon sambil tersenyum simpul dihadapan seniornya tersebut.

“Yah.. kau tak usah sungkan padaku, kau sudah tahu kan kalau kau itu orang yang aku sayang jadi aku akan melakukan apa saja untuk bisa membuat kau selalu tersenyum.” sambil tangannya mengacak-acak lembut pucuk kepala Jiyeon. Melihat itu hati Donghae semakin berkecambuk tak menentu.

Tak selang beberapa menit kemudian Jiyeon dan rekan kerjanya berpamitan kepada Tuan Lee dan Donghae untuk pergi.

 “Saya pamit terlebih dahulu Tuan Lee, Donghae-ssi. Aku harus menemani dokter Sehun ke suatu tempat, permisi.” ucapnya. Setelah itu mereka berduapun berlalu namun kedua mata Donghae masih tetap menatap tajam belakang punggung Jiyeon yang makin lama semakin menjauh.

“Donghae-ah…!” panggil pria paruh baya disampingnya. Mendengar namanya dipanggil Donghae langsung terbangun dari lamuannya.

“Ah…ye… Appa…” balas Donghae namun kedua matanya masih saja sibuk menatap punggung gadis tersebut.

 Melihat putra dari tadi terus menatap banyakan Jiyeon yang semakin menjauh, Tuan Lee pun bersua. “Apakah kau suka dengan Jiyeon?” tanya ayahnya. Mendengar itu Donghae langsung menatap kearah ayahnya dengan wajah yang kaget.

“A-apa yang sedang Appa katakan? Hahaha…” balasnya sambil menyunggingkan senyum tipis namun ekpresi yang ditunjukan oleh Donghae tak bisa membohongi ayahnya.

 “Sudahlah, nak. Kau tak usah berpura-pura terhadapku. Aku sudah tahu sedari awal kalau kau itu sudah menaruh hati pada Jiyeon-ssi.”

“Itu tak mungkin, Appa. Appa tahu wanita yang aku sukai itu Sooyoung. Bagaimana aku bisa suka dengan dia.” bantah Donghae. Tapi Tuan Lee tahu kalau didalam hati putranya kini sudah ada yang mengantikan posisi gadis itu.

“Ayah tahu kau memang menyukai Sooyoung dan ayah tahu cinta pertamamu adalah Sooyoung tapi asal kau tahu saja nak, tidak selamanya cinta pertama itu berakhir manis dan berakhir bahagia. Terkadang takdir kita bukanlah cinta pertama kita tapi seseorang yang tak pernah kau bayangkan sedari awal sudah ada didepan matamu tanpa kau sadari.” ucap ayahnya sambil menepuk pundak anaknya dengan tersenyum. Tapi Donghae hanya terdiam terpaku saat ayahnya mengatakan hal itu padanya. Dia mulai berfikir dengan apa yang barusan saja ayahnya katakan padanya.

Batin Donghae berkata. ”Apakah benar dia adalah takdirku? Itu tak mungkin? Tapi kalau memang iya, maka aku tak bisa melepaskannya.”

~~~ooo~~~

~Malam harinya~

                Sebenarnya apa yang sedang merasuki diriku sekarang? Kenapa di otakku hanya ada bayangannya. Apakah aku memang sudah jatuh hati padanya? Mungkin benar apa yang dikatakan ayahku kalau aku sudah terpikat akan pesonanya tanpa aku sadari. Tapi aku masih saja memungkirinya karena aku takut patah hati seperti saat dulu dengan wanita yang aku sayangi dan mulai saat itu juga hatikupun aku tutup rapat-rapat agar tidak terluka lagi tapi semua itu percuma karena lama-kelamaan hatikupun mencair saat aku melihat ketulusannya. Dia berhasil menerebos pertahanan yang sudah aku buat dan sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku tak ingin semua berakhir seperti kejadian yang lalu.

~OoO~

Donghae pun pergi kesuatu tempat dan tanpa ia sadari langkah kakinyapun terhenti didepan sebuah apartemen yang cukup besar. “Apa yang sedang kau lakukan, Donghae-ah? Kenapa kau pergi kedepan apartemennya saat ini. Kemana akal sehatmu!” umpatku kesal pada diriku sendiri. Tak berapa lama kemudian dari kejauhan terlihat ada seorang gadis sedang berjalan berdampingan dengan seorang pria. Kedua mataku mulai aku fokuskan dengan sosok diseberang sana. Ternyata benar gadis yang ada diseberang jalan itu adalah Jiyeon. Melihat itu akupun berjalan menghampirinya.

“Jiyeon-ssi ada yang ingin aku katakan padamu, bisakah kita berbicara sekarang?” ucapku setelah itu kemudian aku menarik pergelangan tangan gadis itu namun saat itu juga pria itupun menarik lengan Jiyeon sebelahnya untuk menahannya pergi bersama denganku.

“Apa yang sedang kau lakukan, Tuan Lee Donghae-ssi? Aku masih ada urusan dengan Jiyeon.” kata pria itu dengan nada yang dingin tapi ucapan yang dia keluarkan memberi tanda kalau dia tidak suka dengan ku.

“Maaf, bila aku menggangu. Ada masalah penting yang ingin aku bicarakan pada dirinya. Jadi bisakah kau memberikan waktu untuk ku bisa dapat berbicara dengan dirinya.” Setelah aku mengatakan itu akhirnya gengaman tangannya dia lepaskan dari tangan Jiyeon. Saat itu juga aku lalu membawanya sedikit menjauh dari sisi pria tersebut.

“Park Jiyeon-ssi, ada yang ingin aku katakan padamu, mungkin ini akan terlihat sedikit canggung tapi aku harap kau masih mau mendengarkannya.” ucapku kikuk dan tanpa sadar aku sebelah tanganku menggaruk – garuk tengkuk leherku.

“Katakan saja, Donghae-ssi. Aku akan mendengarkannya.” balasnya sambil tersenyum didepanku. Melihat dia tersenyum kedua pipiku pun mulai memanas mungkin saja saat ini wajahku terlihat sangat merah padam.

Dengan keberanian yang aku punya akhirnya aku mengatakannya. “Jiyeon-ssi, aku merasa nyaman bila ada dirimu disampingku dan entah mengapa saat kau sedang bersama dengan pria lain hatiku terasa sakit sesak. Aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi pada diriku.” kataku pelan dan kini wajah Jiyeon terlihat sangat bingung.

“Maksud dari perkataanmu itu apa Donghae-ssi? Aku tak mengerti? Sebenarnya apa yang mau kau katakan pada ku?” tanyanya lagi.

“Aku, suka kamu. Na, neomu – neomu Joahae!” kataku sambil menatap kedua manik Jiyeon. Mendengar itu kedua mata Jiyeon terbelalak lebar seperti tak percaya dengan apa yang sudah dia dengar barusan saja.

“Yah… apa kau serius? Kalau kau becanda aku tak menyukainya, Donghae-ah ini tidak lucu.” sambil melipat kedua tangannya dihadapanku.

Aku langsung membantahnya kalau ucapan ku ini adalah hal yang sebenarnya. “Aku serius dengan apa yang aku katakan padamu. Aku menyukaimu, tanpa aku sadari kedua mataku hanya menatap dirimu seorang dan aku juga tak senang saat kau bersama dengan dokter Sehun. Aku tak rela bila kau berada disampingnya.” tambahku sambil menggengam kedua tangannya.

Mianhae, Donghae-ssi. Aku tak bisa bila menjauh dari dirinya.” balasnya kemudian melepaskan gengaman tanganku. Seketika tubuhkupun lemas aku terdiam terpaku saat dirinya pergi dari hadapanku dan pergi berlari ke pria lain tepat didepan mataku.

~~~ooo~~~

 

~2 Tahun kemudian~

 Tak terasa sudah 3 tahun aku meninggalkan asal negara tempat lahirku. Aku sangat merindukan segarnya aroma seoul di pagi hari. Tanpa aku sadari langkah kaki menuntunku ke dalam sebuah cafe yang tak jauh dari taman yang kebetulan juga cafe ini adalah tempat dimana aku sering berkunjung kemari saat dulu bersama dengan dirinya. Setelah tiba di dalam cafe tersebut akupun langsung memesan secangkir capuccino panas dan kemudian aku duduk di dekat jendela sambil menikmati secangkir minumanku.

“Ah… tidak ada yang berubah disini. Masih sama seperti yang dulu.” gumamku sambil sesekali menenguk minuman yang ada didalam cangkir. Tiba-tiba terjadi keributan didalam cafe yang sedang aku datangi. Terlihat ada seorang wanita muda sedang memarahi seorang pria yang sedang bersama dengan wanita lain disampingnya. Wanita yang terlihat marah itupun langsung menyiram wajah pria itu dengan secangkir gelas yang ada depan atas meja pria tersebut.

“Dasar laki-laki brengsek! Teganya kau menduakan diriku!! Aku sudah tahu belakangan ini kalau kau itu suka permainkan hati seorang wanita. Aku menyesal sudah membuang orang yang selama ini yang sangat berharga disisiku demi memilih dirimu!” teriak Yeoja tersebut dan  setelah gadis itu mengatakan kalimat itu diapun berjalan kearah pintu keluar dan tak sengaja kedua mata kamipun berpapasan. “Lee Donghae? Donghae-ssi apakah itu kau?” kata gadis itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.

 “Choi Sooyoung?” balasku dengan wajah yang tak kalah kaget.

 Sooyoung pun lalu berjalan kearah meja ku dan berkata dengan suaranya yang parau. “Donghae-ah, bisakah kau menemaniku? Ada yang ingin aku katakan pada dirimu.” ucapnya lagi dengan suara yang bergetar.

Aku tahu dia sedang berusaha menahan air matanya. Setelah itu kami berduapun pergi dari dalam cafe tersebut dan pergi menuju ke taman yang tak jauh dari sana. Setibanya disana kami berduapun duduk di kursi taman tersebut. Terasa canggung memang suasana saat tadi tapi aku berusaha mencairkan suasana agar kami berdua bisa merasa nyaman.

 “Bagaimana kabarmu, Sooyoung-ah? Sudah lama ya kita tak berjumpa.” kataku mengawali pembicaraan.

 “Ya, sudah lama kita tak berjumpa. Seperti yang kau lihat keadaanku saat ini sangat tidak baik. Aku diduakan oleh kekasihku sendiri. Ini pasti karmaku karena aku sudah membuangmu seseorang yang berharga didalam hidupku.” ujarnya seraya maniknya  menatap dalam kedua mataku. “Oh, iya bagaimana dengan dirimu?” tambahnya.

“Ah… aku baik-baik saja. ternyata sudah 3 tahun ya tempat ini juga belum bisa berubah. Masih sama seperti yang dulu.” kataku sambil melihat sekeliling. Tiba-tiba Sooyoung pun berkata kepadaku dan perkataannya itu membuatku terkejut.

“Apakah hatimu masih sama seperti 3 tahun yang lalu Donghae-ah? Apakah aku masih bisa tetap menjadi seseorang spesial disampingmu?” namun kali ini wajahnya terlihat sangat serius dan tak berapa lama kemudian diapun menggengam sebelah tanganku.              “Sooyoung-sii. Kita ini masih menjadi teman jadi kau tak usah meminta ku seperti itu. Aku bahkan sudah mengangapmu seperti adikku sendiri.” ungkapku sambil melepaskan gengaman tangannya dari ku.

 “Tidak, aku tak mau bila hanya menjadi temanmu, aku ingin lebih. Apakah aku tak bisa?” tambahnya lagi.

Dan aku pun menjawab. “Maafkan aku, Sooyoung-ah. Aku tak bisa melakukan itu karena aku sudah mempunyai kehidupanku sendiri yang akan kujalanin dengan pasanganku disisa hidup.”

“Maksudmu?” dengan wajah yang bingung. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang gadis kecil yang sedang berlari dari belakang punggung Sooyoung.

Appa…” panggil gadis kecil itu sambil menghampiri ku.

“Sedang apa Appa disini?” tanya gadis kecil itu terhadapku.

 “Ayah sedang berbincang dengan teman ayah. Ah iya, Sooyoung-ssi perkenalkan ini Leeji anak perempuanku.”

 “Anak..???” Sooyoung tersentak kaget.

 “Iya,  Leeji beri salam dengan teman ayah.”

 “Annyeonghaseo, Leeji imnida.” kata anak kecil itu sambil membungkukan punggungnya dihadapan Sooyoung dan tak tak berapa lama kemudian datanglah seorang wanita yang menghampiri Donghae.

“Yah… Leeji kau jangan berlari seperti itu, apakah kau tahu betapa khawatirnya Eomma!” kata wanita itu sambil berkacak pinggang.

Appa… aku takut sama Eomma.” kata anak kecil itu sambil berlari kedalam pelukanku. “Sudahlah Jiyeon-ah, jangan terlalu keras dengan Leeji diakan masih kecil. Lihat dia sampai ketakutan seperti ini.” tambahku sambil mengelus puncak kepala gadis kecil itu.

 “Ne Yeobo, Leeji-ah kau pintar sekali meminta pertolongan didepan ayahmu.” gumamnya seraya memperlihatkan senyuman tipisnya.

***

~Flash back~

                Jiyeopun berlari kehadapan Sehun, melihat itu semua hatiku remuk dibuatnya. Aku tak bisa marah namun aku tak bisa begitu saja melepaskan dirinya. Tak berapa lama kemudian Jiyeon laku berjalan kearahku kembali bersama dengan Sehun. Aku mulai bingung apa yang akan aku lakukan dan aku katakan saat itu. Tak mungkin aku mengatakan selamat kepada hubungan mereka berdua.

                “Donghae-ssi maafkan aku tak bisa melakukan apa yang kau inginkan. Sehun Oppa sangat penting dihidupku tanpa dia aku tak bisa membantu ayahmu sembuh dari penyakitnya. Aku sangat berhutang budi kepadanya.” kata Jiyeon sambil sebelah tangannya merangkul mesra lengan pria itu.

                “Ya, aku mengerti Jiyeon-ssi. Aku sangat berterimakasih kepadamu dan dokter Sehun karena sudah dapat menyembuhkan ayahku. Maaf aku selama ini merepotkan kalian berdua.” balasku.

                Tiba-tiba Sehunpun bertanya kepadaku dengan wajah yang sinis. “Apakah kau serius dengan ucapanmu barusan kepada Jiyeon?  Kalau kau hanya bergurau lebih baik kau enyahlah dari kehidupannya mulai detik ini bahkan seterusnya.” dengan nada yang dingin.

                “Aku tak pernah main-main dengan ucapanku saat mengatakan itu. Aku serius ingin Jiyeon menjadi milik ku bukan untuk saat ini saja tapi untuk selamanya.”

                “Tapi sayangnya kalau kau ingin hidup bersama dirinya kau akan selalu bertemu dengan diriku didalam kehidupanmu. Apakah kau sudah siap?” tanya Sehun lagi.

                Dengan mantap dan yakin akupun menjawab. “Saya siap.” ucap ku lantang.  Lalu Sehunpun mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan ku dan berkata.

                “Perkenalkan saya adalah kakak kandung Park Jiyeon, aku percayakan adik tersayang ku ini untuk kau pinang.” sambil menyunggingkan senyumannya dihadapanku tapi aku tak mampu berkata satu katapun saat aku mendengar ucapan yang baru saja dia katakan padaku.

~Flash back – end~

***

 “Iya, aku tahu Jiyeon-ah. Leeji-ah ayo minta maaf pada Eomma. Kasian Eomma jadi mengkhawatirkanmu.” kataku sambil tersenyum padanya.

 “Ya, Appa.” kemudian gadis kecil itu berlari kearah dekapan ibunya. “Mianhaeyo Eomma. Aku tak akan melakukan hal itu lagi.” ucap gadis kecil itu sambil memeluk pinggang ibunya dengan kedua tangan kecilnya.

 Mendengar pengakuan dari buah hatinya Jiyeonpun tersenyum lembut. “Iya, Eomma sudah memaafkanmu sayang bahkan sebelum kau mengatakannya, Eomma sudah memaafkan mu.” balas Jiyeon sambil menggendong tubuh mungil gadis itu kemudian diapun mengecup lembut kening anak perempuannya. Ekspresi wajah Sooyoung terlihat bingung dan diapun hanya bisa diam membisu. Akupun hampir lupa mengenalkan Jiyeon terhadap dirinya.

 “Sooyoung-ssi perkenalkan ini istriku Park Jiyeon. Jiyeon-ah perkenalkan ini teman kuliahku dulu Choi Sooyoung.”

 “Senang bertemu dengan mu?” kata Jiyeon sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan Sooyoung pun juga langsung menyambut tangan Jiyeon untuk berjabat tangan. “Ne, senang bertemu denganmu juga.” balas gadis itu dengan punggung yang sedikit dibungkukkan untuk menyapa.

 Tak berapa lama kemudian Sooyoung pun berpamitan kepada kami berdua untuk pergi karena dia kebetulan harus pergi kesuatu acara pada siang hari ini. Aku tak bisa menahan dirinya untuk tak pergi, karena aku tahu kalau Sooyoung mungkin saja merasa tak enak hati bila terlalu lama bersama dengan kami.

Setelah Sooyoung pergi kami bertigapun pergi untuk pulang kerumah. Saat perjalanan pulang Jiyeon hanya diam membisu terasa cangung memang tapi tak lama kemudian diapun bertanya kepadaku.

“Donghae-ah apakah dia gadis cinta pertamamu?” tanya Jiyeon dan saat itu juga langkah kakikupun terhenti.

 “Yah, apa yang sedang kau katakan, Jiyeon-ah? Dia itu hanya sekedar teman ku saja.” balasku lalu kemudian aku menggendong Leeji dari gengaman Jiyeon.

“Donghae-ah, sudahlah kau tak usah berbohong padaku. Aku sudah tahu semuanya dari Abeonim.” kata Jiyeon pelan sambil menundukan kepalanya.

“Yah, dasar Abeoji. Kenapa dia berkata itu kepada Jiyeon.” gumamku pelan namun nampaknya dia mendengar ucapanku barusan saja.

“Pasti kau sangat senang kan? Apakah sekarang kau menyesal karena sudah memilih diriku? Aku-kan tak secantik dirinya.” dengan wajah yang sedih.

 Aku langsung membantah apa yang barusan saja Jiyeon katakan pada ku. “Jiyeon-ah kata siapa kau tak cantik? Aku tak mungkin menyesal karena sudah memilih dirimu. Aku malah menjadi orang yang sangat beruntung saat kau itu telah menjadi milik ku.” tambahku seraya mendogakkan kepala keatas sehinga kedua mata kamipun saling bertautan.

 “Benarkah?” tanyanya lagi untuk meyakinkan dirinya. Dengan angukan kepala yang lemah akupun membalasnya dan kemudian berkata. “Hemm… iya aku tak pernah menyesal aku malah bersyukur karena kau sudah hadir didalam hidupku.” setelah itu akupun mengecup lembut bibir mungil milik Jiyeon dengan mesra.

~OoO~

~Pov Author~

Tiba-tiba terdengarlah suara gerutuan dari mulut kecil milik Leeji. “Appa curang kenapa cuma Eomma saja yang dicium aku juga mau.” kata Leeji sambil menggembungkan kedua pipinya karena kesal.

Melihat tingkah laku Leeji  yang sedang merajuk Donghae pun langsung  tersenyum. “Ne..ne… sini Appa cium Leeji juga.” lalu Donghae mencium lembut sebelah pipinya dan disusul oleh Jiyeon. Leeji-pun tertawa yang saat tadi cemberut sekarang dia tersenyum riang. Jiyeon-pun tersenyum juga karena melihat tingkah laku anaknya yang sangat mengemaskan itu.

Appa, eomma aku sayang sekali sama Appa dan Eomma.” setelah itu gadis kecil itu pun merangkul leher kedua orang tuanya bersamaan dan Leeji   juga tidak lupa menciumi kedua pipi mereka berdua satu – persatu.

Donghae dan Jiyeon pun membalas pernyataan Leeji dengan serentak dan  berkata. “Kami juga sangat menyayangimu juga Leeji-ah.” ucap Donghae dan Jiyeon bersamaan sambil memeluk tubuh mungil anak gadisnya itu dan merekapun hidup berbahagia untuk selamanya.

~Kau memang bukanlah cinta pertama bagiku namun aku yakin kalau kau adalah cinta terakhirku yang telah di ciptakan Tuhan, untuk selalu menemani diriku untuk sekarang dan selamanya~“Donghae”

~~~ooo~~~

-The End-

 

Advertisements

19 thoughts on “[Oneshoot] Still Love

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s