Jerawat? Hush!!

 

CWkDip1UwAATzfj

Cr photos: SoSweetYeol

AYSLV

Jerawat? Hush!

Chanyeol, OC || Fluff, Romance || Teen || Ficlet

Personal blog: https://slvpark.wordpress.com/

Read too: Jealous

 

ANDWE!!!

Kelopak Chanyeol mengerjap-ngerjap setelah suara menggelegar milik Hayoung terdengar dari balik pintu. Berbeda dengan Nyonya Shin yang juga berdiri di samping Chanyeol, wanita paruh baya itu hanya menatap datar pintu di depannya. Hembusan napas berat lolos, ia kemudian melirik Chanyeol yang masih terbengong-bengong.

“Chanyeol-ah,” Panggil Nyonya Shin seraya menepuk lengannya pelan, membuat Chanyeol mengalihkan pandangannya pada Nyonya Shin. “Bibi mempercayakan Hayoung padamu.” Nyonya Shin tersenyum sebelum berlalu pergi.

Pria yang tengah mengenakan kemeja dengan model tartan juga jeans yang membalut kaki panjangnya itu pun kembali menatap pintu bercat putih tersebut. Ragu-ragu sebelah tangannya terangkat, mengetuk pintu itu perlahan.

“Young-ah, ini aku. keluarlah..”

Andwe!! Kau pasti akan mengejek ku!!”

“Ya, kau masih tidak percaya padaku? Bahkan setelah kau ketahuan kentut saat di bus aku tetap diam.”

“PARK CHANYEOL!!”

Hahaha.. baiklah aku minta maaf, sekarang buka pintunya.”

“Kau harus berjanji tidak akan mengejek ku atau menertawaiku.”

“Kau boleh percaya padaku.”

Ceklek.

Hayoung keluar dengan wajah ter tunduk. Keadaannya sangat kacau, Chanyeol sampai tak berkedip melihatnya. Rambut hitamnya berantakan, juga kaos putih polos yang terlihat kedodoran di tubuh mungil Hayoung dan celana tidur bermotif polkadot membungkus kaki jenjangnya.

Chanyeol kemudian mendekat, mengsejajarkan wajahnya dengan wajah Hayoung. Dahinya mengerut kala mendapati sebuah jerawat bertengger manis tepat di ujung hidung, seketika tawanya pecah. Tatapan membunuh langsung di dapat membuat nyalinya menciut. Chanyeol berdehem lalu menaruh kedua tangannya di pundak, memaksa agar Hayoung menatapnya.

“Jadi karena ini kau harus membolos sampai 2 hari?”

“Memang nya kau akan pergi dengan keadaan seperti ini?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Tergantung.”

“Tentu saja kau akan mengurung diri di kamar.. seperti ku.” Gadis itu membuang wajah.

“Hei, dengar..” Chanyeol mengapit dagu nya, membuat Hayoung kembali menatapnya enggan. “Aku lebih memilih menahan malu di banding menahan rindu tidak bertemu denganmu.”

Hayoung mendesis. “Sedang mencoba menggoda ku, Tuan Park?”

“Tidak. Aku bersungguh-sungguh.”

“Baiklah-baiklah.. sekarang turunkan tanganmu dan pulang. Aku ingin sendiri.”

“Ya, kau tidak merindukan ku?” Chanyeol merentangkan kedua tangannya dengan tampang se memelas mungkin.

Gadis itu memutar bola mata. “Aku sedang tidak dalam mood baik, Chanyeol. Jadi berhenti bermain-main, eoh.” Hayoung tersenyum sekali lagi sebelum berbalik.

Belum sempat pintu tertutup, Chanyeol lebih dahulu menahannya menggunakan kaki. Membuat Hayoung kembali menatapnya tak mengerti. Chanyeol kemudian maju beberapa langkah hingga kini mereka berdua berada di dalam kamar. Lengkap dengan pupil nya yang membulat sempurna kala pria itu menguncinya dari dalam.

“Ya, apa yang kau lakukan?” Hayoung merangsek mundur.

Alih-alih menjawab, Chanyeol malah menunjukkan senyuman miring selagi melangkah mendekat. Kedua tangannya sudah tenggelam dalam saku celana. “Menurutmu?”

“Berhenti, Park Chanyeol!! Atau aku akan teriak!!”

Chanyeol menghentikan langkah, membuat Hayoung sedikit bernapas lega. Namun tak lama karena Chanyeol kembali menghapus jarak lalu menarik tangannya kilat.

Pletak.

Aw!” Pekik Hayoung merasakan dahinya berkedut.

“Otakmu harus dibersihkan. Memang nya kau berpikir apa, huh?”

Hayoung menggeleng cepat.

Chanyeol membuang napas dan kembali menenggelamkan tangannya pada saku. “Cukup diam dan rasakan. Aku akan membacakan mantra untuk jerawatmu.”

“Ap—”

Cup.

Satu detik.

Dua detik.

Mwoya?

Tiga detik.

Empat detik.

Oh my.. jantungku..

Lima detik.

Chanyeol kembali menarik wajahnya santai tanpa tahu gadisnya itu mati-matian menahan napas saat bibir lembut Chanyeol menyentuh ujung hidungnya. Hayoung mengerjap, mengendalikan degup janungnya yang tidak normal.

“Pipimu memerah. Apa mereka juga ingin dibacakan mantra?”

Huh?

“Baiklah..”

Cup.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Cup.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

“Oh? Kenapa mereka semakin memerah? Apa mantranya salah?”

“…”

“Sepertinya memang salah. Baiklah aku akan mengulang nya.”

 

Fin.

 

 

Halo 🙂
Heheheheh.. Demi pesona mas cahyo yang gak pernah lunturrr, aku nulis ini setelah liat jerawatku yang menjendol ala kacang ijo T.T /gakpenting
Yaudah sih feedback nya aja jangan lupa :*

Regards,
Ayslv

Advertisements

7 thoughts on “Jerawat? Hush!!

  1. Aku pikir nih awalnya bukan ff pas liat di email. Tapibpenasaran juga akhirnya ku lihat. Eh tau2 nya Bang Ceye romantis amat dgm mencium jerawat Hayoung.
    Bang ceye! Aku juga ada satu jerawat di jidat, cium juga dong (ngarep)

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s