Rain Over Me

rom3

 

Author: ayslv

Title: Rain Over Me / Oneshoot

Cast: Chanyeol, OC

Romance || General


Personal blog: https://slvpark.wordpress.com/

 

♥♥♥

 

Terkadang.. hujan selalu datang tak terduga. Seperti cinta, datang bahkan saat kau tak mengharapkan..

Summer, 2012.
Chanyeol terus membidik berbagai objek di sekelilingnya. Waktu yang tersisa tinggal satu jam sebelum pria itu meninggalkan negara kelahirannya. London menjadi pilihan, tentu untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengingat beberapa bulan lalu dirinya telah resmi menanggalkan seragam kebanggaan nya. Saat getar ponsel meraung dalam saku, Chanyeol mendesah. Setengah hati ia menggeser ikon hijau lalu menempelkan nya pada telinga.

“Chanyeol-ah, kau di mana? Kau tidak coba untuk kabur ‘kan?”

“Ibu bercanda ya.. Aku sedang berada di taman pusat.”

“Hahaha.. ya sudah. Ayah dan Ibu dalam perjalanan menuju bandara. Semua barang mu sudah Ibu bawa. Jangan lupa menyusul, eoh?”

“…”

Yeoboseyo? Ya, Chanyeol-ah? Kau masih di sana?”

“O-oh, Ibu.. aku akan menghubungimu lagi.”

Mengabaikan protes dari Ibunya, Chanyeol menutup sambungan se pihak.

Cantik..

Cekrek.

Kedua sudut bibirnya terangkat saat melihat hasil jepretan nya, menampilkan sosok gadis yang tengah bermain bola bersama beberapa anak kecil. Perpaduan yang nyaris sempurna, wajah mungil dengan rambut cokelat se punggung. Kelopaknya lentik ditambah hidung mancung nya. Pipi itu akan merona jika terkena sinar matahari. Dan.. bibirnya yang ranum.. Chanyeol meneguk ludah. Tidak. Tidak. Pria itu menggeleng. Bisa-bisanya ia memikirkan hal semacam itu. Tahu namanya saja tidak. Ia kembali mengarahkan lensa kamera nya pada gadis itu selagi kakinya melangkah mendekat, mencoba mencari angel yang tepat.

Cekrek.

Eonni, tangkap bola nya.”

Cekrek.

Eonni, ayo!”

Cekrek.

“Hahaha..”

Cekrek.

Cekrek.

Cekrek.

Jeogi..

Chanyeol membelakak saat wajah gadis itu berada tepat di depan lensa. Buru-buru ia menurunkan kamera nya. Lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk, membuat gadis di depannya semakin menatapnya aneh.

“Aku bukan penguntit.” Ujar Chanyeol cepat, seolah mengerti arti tatapan dari gadis dengan iris berwarna senada dengan dirinya itu.

Sial!

Chanyeol mengumpat dalam hati.

Kenapa aku mendadak bodoh seperti ini?

Pria itu berdehem, mencoba menetralkan suara bass nya yang kini lebih mirip seperti suara tikus, juga detak jantungnya yang sulit diajak bekerja sama.

“Um.. itu.. maksudku.. aku hanya senang melihat anak-anak. Jadi aku memotret mereka untuk koleksi ku sendiri.” Sebenarnya aku memotret dirimu. Tambahnya dalam hati.

Gadis itu menganggukkan kepala dan tersenyum manis. Demi Tuhan! Chanyeol merasa dunianya telah runtuh. Pria itu membeku melihat senyum yang terukir di bibir tipisnya. Begitu tulus dan sangat alami. Matanya tak berkedip barang se detik pun. Gadis dengan balutan dress pas lutut itu pun mengibaskan tangan mungil nya di depan wajah Chanyeol, karena pria itu tak kunjung menyahut.

Chanyeol mengerjap cepat.

“M-maaf..”

“Tidak apa-apa.” Ia tersenyum sekali lagi. “Anak-anak memang menggemaskan.” Gadis itu melambai pada tujuh anak yang usianya sekitar 5-7 tahun, dan kembali memfokuskan dirinya pada pria di hadapannya ini.

“Ya, kau benar.”

Dan betapa beruntungnya mereka bisa bermain dengan gadis secantik dirimu.

“Tapi, lain kali kau harus meminta izin terlebih dahulu. Mereka sedikit ketakutan.”

Ah, ne.. joesonghamnida..” Ungkap Chanyeol menyesal.

“Hyera eonni..” Panggil salah satu anak.

“Oh, aku harus pergi.” Gadis itu membungkuk sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Chanyeol dengan berbagai teka-teki dalam benaknya.

Hyera.. nama yang cantik.

.

.

.

Entah dorongan dari mana, kini pria itu sudah berada dibalik pohon besar dengan lensa mengarah pada gadis yang ia ketahui bernama Hyera. Chanyeol tidak peduli dengan sebutan penguntit bodoh atau apa pun itu. Yang jelas dirinya hanya ingin lebih lama melihat senyum Hyera. Mengabaikan ponsel nya yang sedari tadi bergetar, Chanyeol terus mengabadikan momen langka dalam hidupnya.

Dilihatnya Hyera tengah membungkuk hormat pada wanita paruh baya, sepertinya gadis itu sedang pamit setelah mengantar anak-anak tadi pulang. Chanyeol menyembunyikan tubuh mendulang nya saat Hyera mulai berbalik. Punggungnya menempel pada pohon selagi mengatur dadanya yang naik turun. Pria itu sedikit menyembulkan kepala, sekedar memastikan apa gadis itu melihatnya atau tidak. Hembusan napas lega terdengar.

Chanyeol keluar dari persembunyian nya dan melihat papan yang tergantung di pintu pagar kayu rumah dengan desain sederhana itu.

Panti Asuhan Sayap Ibu.

Jadi, gadis itu…

Ah, Chanyeol tidak tahu harus berkata. Selain cantik, hatinya bak malaikat. Musim semi ter cetak jelas di wajah Chanyeol saat dirinya mulai mengambil langkah dengan Hyera yang beberapa meter di depannya. Tersisa waktu tiga puluh lima menit, dan dirinya akan tertinggal jika tidak bergegas pergi. Bagaimana pun Chanyeol sangat bekerja keras untuk mendapat beasiswa, tidak mungkin ‘kan ia menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan mata? Namun setengah dari dirinya berkata agar tetap tinggal.

Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. Terlebih getar pada ponsel yang seolah meneror dirinya. Saat tiba-tiba rintik hujan mengenai wajahnya, Chanyeol menengadah. Apa mungkin ini jawaban dari Tuhan atas ke galau-an hatinya? Persetan dengan alasan apa pun. Chanyeol berlari, tanpa ragu menarik tangan mungil Hyera. Mengabaikan pekikan dari sang gadis, Chanyeol terus berlari membawa serta Hyera, seiring langit yang kian memuntahkan isinya.

Terkadang.. hujan selalu datang tak terduga. Seperti cinta, datang bahkan saat kau tak mengharapkan.

Kini keduanya berteduh di bawah pohon rindang. Chanyeol membersihkan sisa-sisa air di baju dan rambutnya. Sementara Hyera, gadis itu masih shock. Antara takut dan bingung, ia tidak mengenal pria ini. Hingga pergerakan tangan Chanyeol terhenti kala sadar akan gadis di sisinya yang terus menatapnya tak berkedip. Pria itu berdehem dan menghadapkan tubuhnya lurus ke depan.

“Maaf..”

Hyera mengerutkan dahi. Teringat akan sesuatu. Bukankah pria ini…

“Kau..” Gadis itu menggantung kalimat selagi memori otaknya bekerja. “Bukankah kau pria yang tadi?”

“Aku harus pergi.”

“Hei?”

Chanyeol menghentikan langkah di lima langkah pertama. Sial! Pria itu menutup mata sejenak sebelum berbalik. Gadis itu semakin menatapnya bingung kala Chanyeol kembali berjalan ke arahnya. Chanyeol sedikit meringis melihat penampilan Hyera saat ini, rambut panjangnya sudah lepek akibat guyuran air hujan, terlebih pakaian yang tengah ia kenakan; dress berwarna soft brown tanpa lengan. Dan Chanyeol yakin angin dingin dapat dengan mudah menusuk kulit putihnya. Ia kemudian membuka kancing kemeja nya satu-satu, membuat Hyera menutup kelopak tergesa-gesa.

“Ya! Apa yang kau—”

“Keringkan rambutmu. Kau akan terkena flu jika membiarkannya basah.”

Hyera merasakan ujung kepalanya memberat. Ia membuka kelopak perlahan dan mendapati Chanyeol sudah tak lagi di depannya.

Jamkkanman..” Panggil Hyera sedikit mengeraskan suara. Karena intensitas hujan yang berisik juga karena pria itu berjarak lumayan jauh darinya.

Chanyeol berbalik.

“Kau boleh mengembalikannya jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.”

Pria itu melambaikan tangan.

“Sampai jumpa, Hyera-ssi.

Chanyeol tersenyum dan berbalik. Berlari menembus hujan hingga sosok nya hilang di belokan jalan.

Hyera mengerjap pelan.

Tangan mungil nya ter ulur meraih kemeja pemberian pria asing tadi. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat bau maskulin Chanyeol menguar, menggoda indera penciuman Hyera.

Dan detik itu juga hujan mereda, seolah ter tiup angin entah ke mana. Gadis itu menengadah, menatap langit yang kembali cerah dengan gumpalan awan putih yang indah. Pandangannya kembali pada kemeja dalam genggaman, Hyera menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kau belum memberitahukan namamu.

**

DAEBAK!!

Hyera memutar bola mata. Mengerti dengan sikap ‘berlebihan’ sahabatnya ini. Gadis itu kembali berkutat dengan novel nya. Mengabaikan Sulli yang terus memandang takjub kemeja dengan model tartan yang tergantung di sisi meja rias, sesekali menyentuhnya. Sulli melirik Hyera yang tengah berbaring di sofa sebelum dirinya berhamburan pada gadis itu.

“Ya ya ya, kenapa kau baru memberitahu ku sekarang, huh?” Sembur Sulli setelah mendaratkan bokong nya di atas sofa berwarna peach tersebut.

Hyera menurunkan novel nya, balas menatap Sulli. “Ya ya ya, bukankah kau sedang sibuk berlibur, huh?”

“Hehehe..” Sulli tersenyum nyinyir. Hyera mencibir dan kembali memfokuskan dirinya pada novel.

Hening.

Sulli melirik Hyera sekali lagi, melipat kedua kakinya dan menaruh dagu nya pada lutut Hyera yang ter tekuk. Gadis itu kembali bersuara.

“Tapi Hyera-ya, kau benar-benar tidak tahu namanya?”

Hyera menutup novel nya dan mendudukkan dirinya, melipat kedua kaki menghadap Sulli lalu menggeleng, pertanda bahwa ia tidak tahu. Sulli tampak menghembuskan napas berat.

“Sekolah? Kau tidak melihat seragam sekolahnya?”

“Mana mungkin. Saat itu kan liburan musim panas.”

“Ah, kau benar.”

“…”

“Masa kau tidak menanyakan sesuatu sih?” Sulli hanya tak habis pikir. Sikap Hyera yang polos benar-benar mengujinya.

Gadis itu menundukkan pandangan. Satu bulan berlalu dan sampai saat ini Hyera belum bertemu lagi dengan pria misterius itu. Padahal sehabis pulang sekolah, Hyera selalu mengunjungi taman pusat tempat pertama kali dirinya bertemu dengan Chanyeol. Berlanjut pada pohon tempat mereka berteduh. Tak jarang pula ia menunggu hingga berjam-jam, berharap pria itu datang atau sekedar mencari kemeja yang ia pinjamkan untuknya.

“Ya!” Sulli mengibaskan tangan, membuat Hyera kembali menatapnya. Gadis itu menghembuskan napas berat dan beranjak dari duduknya.

Molla..” Kaki mungil nya menuntun menuju lemari, mengambil sebuah dress berwarna cream.

“Kau mau ke mana?” Tanya Sulli saat Hyera akan memasuki kamar mandi.

“Seperti biasa.” Ujar Hyera sebelum sosok nya hilang.

Aish! Harusnya ia pergi ke salon atau belanja, bukan malah bermain petak umpat dengan bocah-bocah.” Sulli menggerutu seraya membolak-balikkan novel yang tergeletak di sisi tubuh.

“Aku mendengarnya!!”

“Oh ya tuhan!” Sulli menatap tak percaya pintu bercat putih itu. “Kau benar-benar punya telinga kelinci, nona Shin!!”

“Hahaha..”

**

Autumn, 2013.
Hyera menatap sekali lagi pohon yang hampir tak berdaun itu, sebelum melangkahkan kakinya menjauh dengan paper bag dalam genggaman. Setelah berjam-jam berdiri seperti orang bodoh. Entah lah.. Hyera sendiri tidak memahami perasaannya. Dahulu, pohon itu menjadi saksi bisu pertemuan singkatnya dengan pria misterius yang selalu berkeliaran dalam pikirannya. Dan lihatlah, bahkan tahun sudah berganti dan musim selalu berubah jika waktunya, tapi Hyera masih belum melupakan wajah Chanyeol.

Fakta bahwa gadis itu tidak mengetahui namanya lah yang membuatnya muram. Atau karena alasan lain? Semacam rindu? Ini membingungkan. Merindu pada orang asing yang bahkan kurang dari satu jam kau mengenalnya, bukankah kau terlihat aneh? Sebegitu berpengaruh ‘kah Chanyeol baginya? Kurang dari satu jam mengenalnya dan butuh beribu-ribu jam untuk melupakannya. Hyera membuang napas dan semakin mempercepat langkahnya. Angin lembut seolah menghantarkan daun yang berguguran di bawah sana.

**

Winter, 2014.
Gadis itu semakin merapatkan mantel nya, memeluk paper bag nya erat. Jika dahulu di sini tidak ada satu pun kursi, maka Hyera patut bersyukur. Setidaknya ia tidak berdiri di bawah pohon seperti orang bodoh lagi. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling yang tampak sepi. Tentu saja, matahari sudah turun dari singgasana sekitar dua jam yang lalu dan Hyera masih betah pada posisi nya. Hanya ada beberapa lampu jalan sebagai penerang. Sesekali gadis itu mengembungkan pipinya lucu selagi butiran halus terus menghujani nya. Hyera menghembuskan napas, seketika uap mengepul dari mulutnya. Mencoba tersenyum di tengah-tengah tubuhnya yang menggigil. Namun sesuatu meluncur dari kelopaknya, buru-buru Hyera mengusap nya. Gadis itu hanya tak ingin mematahkan keyakinannya. Ya, itu saja.

Hyera menatap dalam diam paper bag yang sedikit terbuka itu, menampilkan kemeja yang menjadi alasannya untuk terus duduk di tengah-tengah badai salju.

Kau boleh mengembalikannya jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.

“Ya, kau benar. Jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.”

Gadis itu tersenyum miris.

“Jika..”

Sesungguhnya Hyera sangat membenci kata itu.

Hyera bangkit dari duduknya dan mulai mengambil langkah menjauh. Membiarkan angin dingin menerpa tubuhnya.

**

Summer, 2015.
Hembusan angin langsung menerpa tubuh tegap Chanyeol tepat setelah kakinya melewati pintu masuk bandara. Pria itu menutup mata saat cahaya matahari mengenai wajahnya, kedua tangannya terentang selagi menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seolah ia akan kehabisan napas detik ini juga. Di luar perkiraan, Chanyeol menyelesaikan pendidikan nya lebih cepat. Tuan dan Nyonya Park patut bersyukur, selain tampan, Chanyeol juga cerdas.

Ini musim panas. Chanyeol sangat menyukai musim panas. Semenjak bertemu dengan.. Hyera. Ya, untuk pertama kalinya Chanyeol merasakan hatinya bergetar. Omong-omong, apa kabar ya gadis itu? Chanyeol sendiri tak yakin apa ia masih mengingatnya atau tidak. Apa pun itu, Chanyeol berharap jika Hyera pun merasakannya.

Mengabaikan ponselnya yang sedari tadi bergetar, Chanyeol mengambil langkah. Ada tempat yang sangat ingin ia kunjungi. Seiring senyum di wajahnya yang semakin mengembang. Nyonya Park harus mengerti, anaknya sedang jatuh cinta.

Dan di sinilah ia. Sebuah taman pusat yang luas. Chanyeol mengedarkan pandangannya ke segala arah, banyak yang berubah di sini. Tentu saja. Jika dahulu tempat ini sedikit terbengkalai, maka saat ini begitu banyak yang berkunjung. Sekedar untuk bersantai dan mengobrol.

Pria itu mengeluarkan kamera dari ransel dan mulai memotret objek yang menurutnya bagus. Saat sebuah bola menggelinding hingga menyentuh ujung sneakres nya. Chanyeol membeku, tiba-tiba kejadian tiga tahun lalu berputar dalam otaknya, mengingatkannya pada gadis itu.

Hyung, lempar bola nya!” Seru salah satu anak, membuat Chanyeol mendongak.

Chanyeol mengambil bola itu dan melemparkannya pada kerumunan anak tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kembali membidik dan kali ini kerumunan anak yang tengah bermain bola menjadi objek nya. Kedua sudut bibirnya terangkat. Apa mungkin gadis itu ada di sini?

Pria itu kembali mengambil langkah menjauh tanpa tahu di belakangnya Hyera baru saja tiba dengan keranjang makanan di tangan mungil nya. Ya, gadis itu ada di sini. Tak ada yang berubah, senyum di wajahnya masih sama. Gadis itu melambai pada kerumunan anak seiring langkahnya yang mendekat.

.

.

.

Chanyeol menatap lekat pohon di depannya. Masih jelas dalam ingatan pria itu saat membawa Hyera berteduh di sana. Ia tersenyum, mengingat betapa bodoh dirinya saat itu. Harusnya ia memperkenalkan diri terlebih dahulu sebelum pergi begitu saja. Setidaknya gadis itu akan mengingatnya. Ya, penyesalan selalu datang di akhir.

Tangannya ter ulur menyentuh kursi yang tersedia. Sekon benar-benar mengubah segalanya tapi pohon itu masih kokoh berdiri dengan daun-daun yang rindang. Chanyeol mengangkat bahu acuh lebih memilih duduk di atas rerumputan. Padang rumput yang luas menjadi pemandangan nya saat ini.

Chanyeol menumpukkan punggungnya pada pohon selagi kelopaknya tertutup dengan headset menyempal kedua telinga. Semilir angin sore menampar wajahnya dan sedikit menggoyangkan anak rambutnya, Pria itu menikmati. Bulan sabit di bibirnya tak segera lenyap saat bayangan Hyera melintas dalam benak.

Jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.

“Ya, sesungguhnya aku berharap demikian.”

.

.

.

Hyera membungkuk sekali lagi sebelum berbalik. Melambai pada anak-anak yang menatap sedih kepergian nya. Hah.. meski pun badannya serasa remuk karena se harian menemani anak-anak bermain, tapi Hyera tetap menunjukkan senyum manis nya. Besok ia akan kembali lagi, karena sekarang liburan musim panas jadi banyak waktu yang tersisa.

Gadis itu semakin mempercepat langkahnya namun sesuatu pada dirinya seolah berbisik. Ia menghentikan langkah, menatap hampa jalanan di depan sana yang terlihat sepi. Hyera sudah berjanji akan melupakan pria itu dan melewati jalan ini sama saja ia melanggar. Karena dengan begitu, ingatan tentang tiga tahun lalu akan kembali menghantui nya.

Tapi jalan ini satu-satunya yang terdekat, jika ia mengambil jalan lain maka dua kali lipat rasa lelah nya. Hyera menutup mata tampak menimbang, ia mengangguk yakin setelah tahu harus bersikap. Tubuhnya sudah berbalik saat tiba-tiba… Hyera menengadah dengan sebelah tangan terangkat. Cipratan air mengenai telapak tangannya.

Hujan…

.

.

.

Gadis itu berkhianat. Kakinya menuntun dirinya kembali pada kubangan masa lalu. Hyera melirik ke sekeliling, sepi. Haya kabut dari hujan yang terlihat. Hyera menatap langit, berbanding terbalik dengan aktivitasnya yang masih setia memuntahkan isinya -langit begitu cerah. Selagi membersihkan sisa-sisa air hujan di bajunya, gadis itu membuang napas.

Tanpa tahu seseorang berada di balik pohon.

Chanyeol membuka kelopak, melepas headset di telinga dan beranjak dari duduknya. Pria itu menengadah, kedua sudut bibirnya terangkat. Seperti deja vu, hatinya menghangat seketika. Entah bagaimana, melihat rintik hujan lebih menyenangkan untuknya saat ini. Chanyeol melipat lengan di bawah dada, menumpukkan punggungnya pada pohon.

“Kenapa saat-saat seperti ini malah hujan..”

Deg.

Chanyeol membeku merasakan bahwa jantungnya akan merosot ke dasar perut. Suara itu.. suara yang sangat ia rindu kan mengalun indah bak aliran sungai mengalir begitu menenangkan. Pria itu melangkah perlahan memutari tubuh pohon selagi mengatur detak jantungnya. Mengikis segala jarak yang menjadi penghalang.

Se-per-sekian detik Chanyeol lupa cara bernapas. Pria itu menatap diam gadis di depannya dengan berbagai emosi membuncah dalam rongga dadanya. Kelopaknya mengerjap pelan, mencerna mimpi sore nya yang begitu nyata. Dia.. Hyera, si gadis pemilik senyum manis ada di hadapannya.

Hyera, gadis itu menoleh. Pupil nya berkedut tak percaya dengan sosok yang tengah menatapnya. Keranjang dalam genggaman pun terlepas, membuat bunga lili di dalamnya berceceran di bawah sana. Bibir tipisnya terbuka dengan sendirinya, seolah meyakinkan dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dia.. si pria misterius, pemilik kemeja itu.

.. jika Tuhan menakdirkan kita bertemu lagi.

Terkadang.. hujan selalu datang tak terduga. Seperti cinta, datang bahkan saat kau tak mengharapkan..

Dan ditempat yang sama..

.. juga di waktu yang sama.

Hujan menghilang, berbekas langit sore yang indah.
End.

 

 

Halo 🙂
Semoga yang baca ff ini gak muntah wkwk
Mmm.. kurang satu musim ya? Spring. Di bayangin aja sama kalian, okay?! Haha
Yaudah lah itu aja.
Bye~

Regards,
Ayslv

 

Advertisements

5 thoughts on “Rain Over Me

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s