Summmer In Seoul (Chapter 1)

Summer In Seoul

Summer In Seoul (Chapter 1) || Vera Riantiwi29 || Main Cast : Kim Taeyeon, Park Jungsoo, Lee Gikwang || Other Cast : Kim Hyoyeon Leee Hyukjae, Etc|| Romance Family Friendship Hurt – Sad || Chapter || PG-General || Poster by Me

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari Novel Best Sallernya Kak Illiana Tan yang 4 Musim. Aku pengin bikin Novel ini menjadi Remake untuk FF Sugen (Super Generation), jadi nantinya setiap judulnya akan berbeda Cast tapi Cast utama itu nantinya akan ada kaitannya dari FF ini. Dan FF ini juga ada yang aku rubah dikit-dikit biar lebih menarik. Ini bukan plagiat yyaa.

 

So jadi jangan lupa baca dan tinggalkan komenant kalian.

Prolog

Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?

Dulu kalau aku tak di situ, kini di mana aku?

Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?

Kini kalau aku di sini, kelak di mana aku?

Tak tahu kelak ataupun dulu

Cuma tahu kini aku begini

Cuma tahu kini aku di sini

Dan kini aku melihatmu

 

KONON ketika seseorang dalam keadaan hidup dan mati, ia akan bisa melihat potongan-potongan kejadian dalam hidupnya, seperti menonton film yang tidak jelas alur ceritanya. Benarkah begitu? Oh ya, ia sedang mengalaminya. Ketika tubuhnya terlempar kesana-sini, pandangannya mendadak gelap, namun anehnya ia kemudian bisa melihat wajah seseorang dengan jelas. Ia juga bisa mendengar suaranya. Betapa ia sangat merindukannya sekarang, ingin bertemu dengannya, ingin berbicara dengannya. Ada yang harus ia katakan pada orang itu. Ia harus memberitahunya ia rindu.

Hanya sekali saja…

 

Kalau boleh, ia ingin mengatakannya sekali saja…

Kalau boleh, ia ingin melihatnya sekali saja…

Tapi tidak bisa…

Suaranya tidak bisa keluar…

Ia tidak punya tenaga untuk bicara…

 

~Summer In Seoul Part 1~

 

Taeyeon POV :

“SEKARANG aku masih di jalan… Mm, baru pulang kantor… Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah.” Taeyeon melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia mengembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Lee Gikwang, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif.

“Gikwang-shi, sudah dulu ya? Aku lelah sekali,” Taeyeon menyela ucapan Lee Gikwang dan langsung menutup telepon. Sekali lagi ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal. Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini.

Taeyeon semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia mengembuskan napas panjang. Ini bukan pertama kalinya Taeyeon harus bekerja sampai larut malam, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu

dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari. Ia berhenti melangkah dan mendesah.

“Bisa gila aku,” gumamnya pada diri sendiri.

Taeyeon memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belummenunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di

Ibu kota Korea Selatan yang menakjubkan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Taeyeon masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-samar dari toko musik di sampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa.

Tiba-tiba Taeyeon merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan. Setelah merenung sesaat, ia mengangguk dan bergumam,

“Baiklah,” seolah menyerah pada perdebatan yang dia lakukan seorang diri.

Taeyeon menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada bibi pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Taeyeon langsung berjalan ke rak keripik.

“Nah, Taeyeon-ah, ada masalah apa lagi di kantor?” tanya bibi pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Taeyeon di meja kasir.

Taeyeon tersenyum malu. “Ah, tidak ada. Aku hanya sedikit stres. Ahjuma.” Ia membuka tas tangannya dan mencari dompet. Ke mana dompet itu?

“Sebentar, Bibi. Aku yakin sekali sudah memasukkan dompet tadi…” Taeyeon mengaduk-aduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini, selain lima bungkus keripik kentang, di sana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, bolpoin yang tutupnya sudah hilang, bedak padat, lipgloss, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, saputangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, dan jepitan rambut.

“Kenapa tidak ada?” Taeyeon bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari ia tidak membawa dompet?

Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Taeyeon melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.

“Kau sudah sampai di rumah? … Ya, sebentar lagi aku ke sana.”

Taeyeon menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Suara itu milik pria bersetelah putih yang berdiri di belakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria tersebut. Sekarang Taeyeon melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima botol soju. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seseorang yang mempunyai kedudukan penting di perusahaan

besar.

Pria itu memandang Taeyeon, lalu tersenyum ramah. O-oh. Baru pertama kali Taeyeon melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat… Taeyeon menggeleng untuk menjernihkan pikiran dan kembali memusatkan perhatian pada barang-barangnya yang berserakan di meja kasir.

Tiba-tiba Taeyeon merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat bibi pemilik toko sedang tersenyum kepadanya dan berkata,

“Taeyeon-ah, bagaimana kalau tuan itu membayar belanjaannya duluan?”

Taeyeon memandang bibi pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri di belakangnya.

“Oh, ya. Mianhae.” Taeyeon menyingkir ke samping dan pria itu melangkah maju.

“Berapa?” tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel lagi. Kepala Taeyeon mulai terasa sakit seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah

sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali.

Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.

Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua? pikir Taeyeon sambil memijat-mijat pelipisnya.

Pria itu membayar belanjaan sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.

“Maaf,” gumamnya sambil tersenyum kepada bibi pemilik toko dan Taeyeon. Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.

Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Taeyeon memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan ke luar dan masuk ke mobil sedan putih yang diparkir di depan toko. Karena Taeyeon tetap tidak bisa menemukan dompetnya, bibi pemilik toko mengizinkannya membayar besok. Taeyeon mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.

Begitu keluar dari toko, Taeyeon langsung membuka sebungkus keripik dan mulai makan.

“Sekarang pulang ke rumah,” katanya pada dirinya sendiri. Selesai berkata begitu, ponselnya berbunyi. Saat itu juga ia mengutuk hari ponsel diciptakan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab

ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda tidak tahu diri itu terus menjerit minta diangkat. Akhirnya Taeyeon menyerah dan mengaduk-aduk tasnya dengan ganas untuk mencari ponsel sialan itu sebelum ia sendiri yang bakal menjerit

histeris di tengah jalan.

“Haaloo!” Taeyeon ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa.

Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?

“Halo? Siapa ini? Silakan bicara… Halo? HALOO?”

Taeyeon baru akan memutuskan hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana.

“Maaf… bukankah ini ponsel Jungsoo?”

Siapa lagi orang ini?

“Anda salah sambung. Ini ponsel Kim Taeyeon,” ujar Taeyeon ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras. Taeyeon menatap ponselnya sambil menggigit bibir penuh rasa

dongkol.

“Tidak bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?” Ia baru akan mencabut baterai ponsel itu ketika ia merasa harus menelepon ibunya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah. Walaupun Taeyeon tinggal di Seoul dan orangtuanya di Jakarta, mereka sering menelepon

dan mengecek keberadaannya. Tadi ibunya malah sudah sempat menelepon untuk menanyakan kenapa Taeyeon belum sampai di rumah. Ia membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung terhubung ke rumah orangtuanya di Jakarta, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan “Rumah Jakarta” yang tertera seperti biasa, tapi nama

“Lee Hyuk-Jae”.

Taeyeon cepat-cepat memutuskan hubungan dan tertegun. Taeyeon memerhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya, setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka daftar telepon di ponselnya dan melongo melihat nama-nama yang tidak dikenalnya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir. Tadi di toko bibi itu, semua barangnya berserakan di meja kasir, termasuk ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri di belakangnya tadi berbunyi untuk pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka sama. Kemudian ponsel kedua pria itu berbunyi. Pria itu meletakkan ponselnya yang pertama di meja dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu dan ponsel Taeyeon. Taeyeon teringat bentuk ponsel pria itu yang diletakkan di meja memang sama dengan bentuk ponselnya sendiri. Sebelum keluar dari toko, pria itu berbalik untuk mengambil ponsel pertamanya yang tertinggal di meja. Sekarang Taeyeon memegang ponsel dengan daftar nama yang tidak dikenalnya. Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi.

Artinya… artinya… orang itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponsel Taeyeon.

Taeyeon memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa.

“Bagaimana ini? Aduh, bisa gila aku. Gila.” Ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak. Taeyeon merasa tubuhnya nyaris ambruk ke tanah. Rasanya ingin menangis saja. Ke mana ia harus mencari orang itu?

Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada pria itu, bukan? Berarti Taeyeon bisa menelepon ke ponselnya dan pria itu akan menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel pria tadi yang sedang

dipegangnya. Taeyeon berjalan mondar-mandir di tepi jalan dengan gelisah sambil menunggu hubungannya tersambung.

“Cepat angkat… cepat… tolong… ce—Halo?”

-o0o-

Jungsoo POV :

“Oh, Hyung. Kenapa lama sekali?”

Lee Hyuk-Jae tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertubuh tinggi yang membuka pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya.

“Maaf, jalanan agak macet,” katanya sambil berjalan ke ruang duduk yang luas.

“Hei, Jungsoo-ah. Kau punya makanan ringan? Aku sudah beli minuman.”

Park Jungsoo mengikuti Lee Hyuk-Jae ke ruang duduk. Ia tidak menghiraukan pertanyaan temannya dan balik bertanya, “Hyung sudah dengar gosipnya?”

Lee Hyuk-Jae memerhatikan temannya mengempaskan diri ke sofa. Tatapan Park Jungsoo terlihat menerawang dan cemas. Sebagai manajer Park Jungsoo, Lee Hyuk-Jae memahami alasan

kekhawatirannya.

“Dari mana asal gosip itu?” kata Jungsoo, seakan-akan bertanya pada dirinya sendiri.

Lee Hyuk-Jae hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sebotol soju kepadanya. Jungsoo membuka tutup botol itu dan meneguk isinya.

“Aku dibilang gay.” Jungsoo tertawa pahit.

“Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau aku pernah terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku, Hyung. Jangan-jangan selama ini Hyung juga berpikir seperti mereka?”

Lee Hyuk-Jae duduk di kursi di hadapan Jungsoo, ikut meneguk soju langsung dari botolnya.

“Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu,” ujarnya tenang.

“Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita. Kau juga tahu mereka sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun di depan publik.”

Park Jungsoo mengangkat bahu. “Kalau begitu, terserah mereka mau berpikir apa. Kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri.”

Lee Hyuk-Jae menggeleng. “Dua minggu lagi album barumu akan diluncurkan. Aku takut rumor ini bisa memengaruhi penjualan albummu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gosip-gosip lain. Bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah

lagi, bagaimana dengan para penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar.”

Park Jungsoo mendongak menatap langit-langit dan mengembuskan napas berat.

“Lalu bagaimana?”

Lee Hyuk-Jae meneguk minumannya lagi dan berkata, “Untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seorang wanita kepada publik.”

Kepala Jungsoo berputar cepat ke arah Lee Hyuk-Jae.

“Mwoo?”

“Sederhana saja. Kenapa kau tidak mulai pacaran?” usul Lee Hyuk-Jae langsung.

“Apa?”

Lee Hyuk-Jae tidak memandang Park Jungsoo dan melanjutkan dengan nada serius, “Yang penting jangan berpacaran dengan artis. Bisa jadi skandal. Terlalu berisiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan wanita karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay.”

Lee Hyuk-Jae mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikiran.

Akhirnya ia menoleh dan mendapati Jungsoo sedang menunggu hasil

renungannya.

“Baiklah,” katanya sambil tersenyum. “Kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa wanita itu dan tidak ada yang pernah melihatnya.”

Jungsoo mengerutkan kening karena bingung.

“Tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada sekadar kata-kata belaka.”

“Tapi kita bisa memberikan bukti.”

“Bukti apa?”

“Foto dirimu bersama wanita itu.”

“Wanita yang mana?”

“Wanita yang menjadi kekasihmu.”

“Kekasih yang mana?”

“Semua bisa diatur kalau memang kau mau.”

“Maksudnya?”

Senyum Lee Hyuk-Jae bertambah lebar. “Kita cari wanita yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya di depan wartawan. Beres, bukan?”

Jungsoo merenung, lalu berkata, “Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul wanita itu? Lagi pula di mana kita cari wanita yang bersedia dan bisa dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?”

Lee Hyuk-Jae meneguk soju-nya lagi dan menatap Jungsoo. Temannya itu tampak mempertimbangkan usulnya dengan ekspresi sangat cemas. Alisnya berkerut, sesekali ia menggigit bibir bawahnya. Setelah beberapa saat, Jungsoo mendesah dan melanjutkan,

“Wanita yag seperti apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja wanita pertama yang berjalan melewati pintu itu?” Ia menunjuk pintu depan rumahnya dengan dagu.

Tawa Lee Hyuk-Jae meledak. Jungsoo menatapnya dengan pandangan bingung.

Hyung, ada apa?”

Lee Hyuk-Jae mendorong pelan bahu Jungsoo. “Astaga, Jungsoo-ah. Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius begitu?”

“Apa?”

Lee Hyuk-Jae menggeleng-geleng. “Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Pasti ada jalan keluarnya.” Jungsoo mendengus, lalu tertawa kecil.

“Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Hyung mau ikut?” kata Jungsoo sambil

merebahkan kepala di sandaran sofa dan memandang langit-langit ruang duduk.

Lee Hyuk-Jae mengangkat bahu. “Oke.”

Jungsoo mengayun-ayunkan botol soju yang sedang dipegangnya, lalu bertanya, “Oh, Hyung, ponselku sudah diperbaiki belum?”

Lee Hyuk-Jae mengeluarkan ponsel dan mengulurkannya kepada Jungsoo. Tiba-tiba ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Jungsoo tadi. Wanita yang mengaku bernama Kim Taeyeon itu berkata ponsel mereka tertukar. Karena ia sendiri tidak bisa kembali mengambilnya, Lee Hyuk-Jae meminta wanita itu datang ke rumah Park Jungsoo. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena bagaimanapun tertukarnya ponsel mereka bukan salah wanita itu, tapi apa boleh buat. Park Jungsoo sedang uring-uringan dan kalau sedang uring-uringan, ia tidak suka menunggu lama. Ia baru akan menceritakan hal ini kepada Jungsoo ketika bel pintu berbunyi.

“Siapa yang datang malam-malam begini?” gumam Jungsoo heran.

Taeyeon benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai di rumah ia harus cepat-cepat mandi kembang tujuh warna seperti yang pernah diajarkan ibunya, apa pun untuk mengguyur hingga tak bersisa segala kesialan. Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar berwarna putih. Pria yang katanya bernama Lee Hyuk-Jae menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang tertukar. Taeyeon jengkel. Kenapa ia yang harus datang, bukankah orang itu yang duluan mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus

meminjam uang dari bibi pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di kawasan perumahan elite ini. Taeyeon kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa. Hal terpenting sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali. Setelah

ini ia bakal bisa bergegas pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam lima belas menit terakhir.

Pintu terbuka dan Taeyeon mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria yang ada di toko tadi. Walaupun agak sulit, Taeyeon memaksakan seulas senyum sopan. Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.

“Apa kabar? Aku Kim Taeyeon yang tadi menelepon. Aku ingin mengembalikan ponsel Anda. Ini.” Taeyeon mengulurkan tangannya yang memegang ponsel.

“Oh, terima kasih banyak,” kata pria itu ramah.

“Aku benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan. Silakan masuk. Ponsel Anda ada

di dalam.”

Sebenarnya Taeyeon tahu ia tidak boleh masuk ke rumah pria yang tidak ia kenal, apalagi pada jam selarut ini. Tapi otaknya sudah tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke rumah dan tidur. Lagi pula

pria itu kelihatannya sangat baik. Taeyeon melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya bagus dan rapi, walaupun Taeyeon pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang agak pirang. Ia

merasa pernah melihat laki-laki itu. Tapi di mana ya?

“Mungkin Anda salah sambung,” Taeyeon mendengar pria itu berkata

di ponselnya.

“Tidak ada yang namanya Kim Taeyeon atau Taengie di sini.” Taeyeon menatap Lee Hyuk-Jae dengan pandangan bertanya sambil menunjuk ke arah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu.

“Ya, itu ponsel Anda,” kata Lee Hyuk-Jae sambil tersenyum kecil. Laki-laki yang duduk di sofa masih sibuk sendiri, tidak menyadari kedatangan Taeyeon. Keningnya tampak berkerut sebal. Ia berkata dengan nada agak marah.

“Maaf, Lee Gikwang-shi , saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Kim Taeyeon. Bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon? Anda salah sambung.”

Selesai berkata seperti itu, laki-laki itu menutup flap ponselnya dengan keras.

“Orang aneh,” ia menggerutu sendiri.

“Hei…,” Taeyeon mendengar Lee Hyuk-Jae memanggil laki-laki itu.

“Ponsel itu milik nona ini.”

Laki-laki di sofa itu berpaling ke arah Lee Hyuk-Jae, lalu ke arah Taeyeon. Ketika mata mereka bertemu, Taeyeon baru sadar siapa laki-laki itu. Park Jungsoo agak bingung mendengar penjelasan Lee Hyuk-Jae. Pandangannya berpindah-pindah dari sang manajer ke gadis yang berdiri di hadapannya, lalu kembali ke manajernya lagi. Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di ruang tamunya itu gadis bertubuh kecil dengan rambut dikucir dan tangan menjinjing kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam, lelah, dan

pucat. Gadis itu diam tak bersuara sementara Lee Hyuk-Jae menjelaskan apa yang sudah terjadi.

“Oh, jadi ini ponsel Anda?” tanya Jungsoo sambil bangkit dari sofa. Ia mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya.

“Itu… tadi—siapa namanya, maaf, saya lupa—menelepon mencari Kim Taeyeon atau

Taeyeon. Anda sendiri Kim Taeyeon atau Taengie?”

Gadis itu tersenyum samar dan menjawab, “Dua-duanya nama saya.” Tiba-tiba ponsel itu berbunyi dan membuat Jungsoo kaget.

“Silakan dijawab,” katanya cepat.

Kim Taeyeon menerima ponsel itu dan langsung membuka flap-nya.

“Halo?”

Kemudian Jungsoo dan Lee Hyuk-Jae tertegun ketika mendengar gadis itu berbicara dalam bahasa asing. Jungsoo yakin percakapan tersebut bukan dalam bahasa Inggris ataupun Jepang karena ia menguasai kedua bahasa itu. Entah bahasa apa yang sedang dipakai gadis itu, pokoknya ia berbicara lancar sekali. Jungsoo menoleh ke arah manajernya untuk bertanya dan sebagai jawaban Lee Hyuk-Jae menggeleng. Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup telepon si gadis memandang Lee Hyuk-Jae dan Jungsoo bergantian dengan sikap

serbasalah.

Sambil tersenyum kaku ia berkata, “Ehm, terima kasih banyak. Aku pulang dulu.”

“Tunggu,” Lee Hyuk-Jae menyela. Gadis itu memandangnya tanpa ekspresi.

“Kalau boleh tahu, yang tadi itu bahasa apa?”

“Bahasa Indonesia,” jawab gadis itu langsung.

“Oh, begitu.” Lee Hyuk-Jae tersenyum dan mengangguk-angguk karena sepertinya gadis itu tidak ingin menjelaskan lebih lanjut.

“Anda bisa berbahasa Indonesia rupanya.”

“Saya permisi,” kata gadis itu lagi sambil beranjak ke pintu.

“Sebentar,” Lee Hyuk-Jae kembali menahan gadis itu. Ia memandang Jungsoo sekilas, lalu kembali memandang gadis itu.

“Anda tidak datang dengan mobil, bukan? Tadi saya lihat tidak ada mobil di luar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar. Bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus mengantar ponsel itu kemari.”

Gadis itu tersenyum kaku dan menggoyang-goyangkan sebelah tangannya.

“Tidak usah. Saya bisa naik bus.”

“Kami bisa mengantar Anda ke halte bus,” timpal Jungsoo. Ia tidak yakin gadis itu bisa pulang sendiri karena bila dilihat dari keadaannya sekarang, gadis itu sepertinya bisa jatuh pingsan kapan saja.

“Anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda maaf dari kami.”

Gadis itu memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar. Raut wajahnya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk menolak tawaran itu. Jungsoo bisa memahaminya. Seorang gadis yang langsung bersedia diantar dua pria

tidak dikenal sudah pasti gadis yang tidak beres.

“Tidak usah khawatir. Kami tidak akan macam-macam. Percayalah,” kata Jungsoo sambil tersenyum lebar, walaupun ia tahu pasti kalimat itu terdengar tidak terlalu meyakinkan.

“Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu,” kata gadis itu sambil menggoyang-goyangkan tangannya lagi.

“Ayo, biar kami antar sampai ke halte bus,” sela Jungsoo sambil meraih kunci mobil manajernya yang ada di meja. Ia menoleh ke arah Lee Hyuk-Jae.

Hyung, kita pakai mobilmu saja, ya?”

Sepanjang perjalanan gadis itu lebih banyak diam. Bila diajak bicara, ia hanya menjawab seperlunya. Jungsoo melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Gadis itu duduk bersandar dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Jungsoo ingin tahu apa yang membuat gadis itu terlihat begitu lelah.

Tiba-tiba gadis itu membuka suara, “Saya turun di depan sini saja.”

Park Jungsoo membalikkan tubuhnya sedikit supaya bisa melihat gadis itu.

“Di sini saja? Yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?”

“Benar, kami tidak keberatan,” Lee Hyuk-Jae menambahkan.

Gadis itu menyunggingkan seulas senyum yang terkesan dipaksakan. “Tidak usah. Berhenti di sini saja.” Lee Hyuk-Jae menghentikan mobilnya di tepi jalan, di dekat halte

bus.

“Terima kasih,” kata gadis itu sambil keluar dari mobil. “Selamat malam.”

Ketika gadis itu membungkuk untuk memberi salam kepada mereka berdua, Lee Hyuk-Jae menurunkan kaca mobil dan bertanya, “Nona Kim Taeyeon, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?” Jungsoo menyadari manajernya sedang menunjuk ke arahnya.

Kim Taeyeon mengerjapkan matanya sekali, lalu mengangguk.

“Orang ini? Park Jungsoo, bukan? Park Jungsoo yang penyanyi itu?” Lalu seakan baru menyadari sesuatu, ia memandang Jungsoo dan berkata, “Lagu Anda… lagu Anda… bagus.”

-o0o-

Taeyeon POV :

 

“‟LAGU Anda bagus‟?”

Taeyeon yang duduk bersila di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuh menatap bingung Kim Hyoyeon yang duduk di sampingnya. Temannya yang bermata sipit dan berambut lurus panjang tergerai melewati bahu itu balas menatap Taeyeon dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aku tidak percaya kau hanya bisa berkata begitu. Kenapa tidak minta tanda tangannya?” Hyoyeon-ah melanjutkan dengan nada menuduh. Taeyeon mengerang.

“Mungkin karena kemarin aku sedang kesal dan lelah… dan lumpuh otak.” Ia memegang pipinya yang agak pucat dan menggeleng-geleng.

“Betul, sepertinya otakku benar-benar sudah lumpuh semalam. Bagaimana bisa aku masuk ke mobil bersama dua laki-laki yang tidak kukenal? Dan saat itu sudah hampir tengah malam. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Aku bukan orang seperti itu. Tidak, tidak. Aku sudah gila. Syukurlah aku masih beruntung. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa kemarin?” Kim Hyoyeon mendecakkan lidah.

“Hei, kau bukannya bersama orang asing. Kau bersama Park Jungsoo. Kenapa kau tidak minta tanda tangannya?” tanyanya sekali lagi, nada penyesalan kental terdengar.

“Park Jungsoo orang asing bagiku,” cetus Taeyeon tegas.

“Lagi pula kau tahu sendiri aku bukan penggemarnya, kenapa aku harus minta tanda tangannya?”

“Walaupun bukan penggemarnya, kau kan tahu temanmu yang satu ini penggemar beratnya,” tegur Hyoyeon lagi sambil menekankan telapak tangan di dada.

“Aku sudah begitu setia menunggu kemunculannya lagi selama empat tahun ini. Setidaknya kau bisa minta tanda tangannya untukku… Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan Jung

Jungsoo, kau tahu? Dan kemarin, entah dengan keajaiban apa, kau bertemu dengannya, kau bicara dengannya, dan dia bahkan mengantarmu dengan mobilnya.”

“Mobil temannya,” sela Taeyeon.

“Temannya juga ada di sana.” Hyoyeon tidak mengacuhkan Taeyeon.

“Kau naik mobil bersamanya. Haah, kalau aku jadi kau, aku akan—“

“Hei, Kim Hyoyeon!”

Sikap Hyoyeon melunak. “Aku tahu, aku tahu. Tapi kalau lain kali kau bertemu dengannya, jangan lupa minta tanda tangan untukku.” Taeyeon membaringkan diri ke tempat tidur.

Kalau aku bertemu dengannya lagi,” gumamnya lirih. P

andangannya menerawang. “Kalau aku bertemu dengannya lagi.” Hyoyeon bermain-main dengan salah satu ujung selimut Taeyeon lalu tiba-tiba menyeletuk,” Oh ya, kudengar Park Jungsoo itu sebenarnya gay. Aku tidak tahu gosip itu benar atau tidak, meski aku bisa mati

karena kecewa kalau dia benar-benar gay. Kemarin kau bertemu langsung dengannya. Menurutmu bagaimana? Sikapnya seperti apa? Apakah dia kelihatan normal-normal saja? Terlihat berbeda? Apakah penampilannya berubah setelah bertahun-tahun menghilang?” Taeyeon mengerutkan kening dan berpikir.

“Entahlah, aku tidak merasa ada yang aneh pada dirinya. Biasa saja. Aduh, aku kan sudah

bilang bahwa kemarin aku lumpuh otak. Aku bahkan tidak ingat lagi baju apa yang dipakainya.”

Hyoyeon menatap prihatin temannya.

“Kau benar-benar tidak berguna. Hanya kau yang bisa demam di musim panas seperti ini.

Kepalamu masih sakit? Sudah baikan, belum?” Taeyeon tidak menjawab pertanyaan itu. Ia sedang memikirkan hal lain. Kemudian ia menggigit bibir dan bertanya, “Hyoyeon, sebenarnya

apa yang kau suka dari Park Jungsoo? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya?” Senyum Kim Hyoyeon mengembang.

“Karena dia tampan, lucu, pandai menyanyi—aduh, suaranya bagus sekali—dan karena dia menulis lagu-lagu yang begitu romantis dan menyentuh. Oh ya, album barunya akan diluncurkan sebentar lagi. Ah, aku sudah tidak sabar.”

“Begitu?”

Tiba-tiba Hyoyeon memekik dan membuat Taeyeon terperanjat.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Taeyeon begitu melihat Hyoyeon meraih tasnya yang tergeletak di lantai dengan kasar dan mulai mencari-cari sesuatu di dalamnya.

“Bodohnya aku, bodohnya aku,” gumam Hyoyeon berulang-ulang.

“Seharusnya aku langsung tahu begitu kau menceritakannya padaku.”

“Apa?” tanya Taeyeon heran.

Hyoyeon mengeluarkan tabloid dan membuka-buka halamannya.

“Nah, coba kau lihat ini.” Taeyeon melihat artikel berjudul “Pertemuan Tengah Malam” yang ditunjukkan Hyoyeon dan mendadak ia merinding. Artikel itu dilengkapi dua foto Park Jungsoo bersama seorang wanita. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas, tapi Taeyeon sudah tentu bisa mengenali dirinya sendiri. Wanita yang bersama Park Jungsoo di dalam foto itu adalah dirinya.

Astaga! Apa-apaan ini?

Foto pertama memperlihatkan Taeyeon dan Park Jungsoo yang sedang keluar dari rumah artis itu. Kepala Taeyeon tertunduk ketika difoto sehingga wajahnya tidak terlihat. Taeyeon ingat saat itu teman Park Jungsoo masih berada di dalam rumah sehingga orang itu tidak ikut terfoto. Foto yang kedua diambil ketika Park Jungsoo sedang membuka pintu mobil untuknya. Sosoknya tidak jelas karena terhalang tubuh Park Jungsoo. Taeyeon merasa bersyukur karena wajahnya tidak terlihat.

“Aku sempat melupakan tabloid ini ketika aku mendengar kau sakit,” kata Hyoyeon menjelaskan.

“Seharusnya aku sudah bisa menduga ketika kau menceritakan apa yang kaualami semalam tadi, tapi anehnya hari ini kerja otakku lambat sekali. Wanita yang di foto itu kau, bukan?”

“Astaga,” gumam Taeyeon tidak percaya.

“Siapa yang mengambil foto-foto ini?”

“Park Jungsoo itu artis terkenal,” kata Hyoyeon dengan nada aku-tahu-semua-jadi-percaya-saja-padaku.

“Tentu saja banyak wartawan yang sibuk mencari berita tentang dirinya. Dan yang satu ini benar-benar berita hebat. Di sini malah ditulis kau kekasih Park Jungsoo.” Taeyeon menggeleng-geleng dan mengembalikan tabloid itu kepada Hyoyeon.

Ia masih merinding, “Aku tidak berdua saja dengan Park Jungsoo. Paman berkacamata itu, teman Park Jungsoo, juga ada bersama kami, seharusnya siapa pun yang mengambil foto ini juga tahu, tapi kenapa jadi begini?” Kim Hyoyeon menarik napas panjang.

“Sudah kubilang, Park Jungsoo itu artis terkenal. Tabloid-tabloid harus mencari berita yang bisa menarik perhatian orang. Kalau kalian bertiga yang ada dalam foto itu, tidak akan ada berita.” Taeyeon merasa tubuhnya menggigil.

“Untunglah wajahku tidak terlihat. Hyoyeon, kuharap kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang pertemuanku dengan Park Jungsoo.” Alis Hyoyeon terangkat.

“Kenapa?” Taeyeon mengerutkan kening dan menggaruk kepala.

“Enak saja mereka membuat gosip sembarangan. Kekasihnya? Aku? Aku tidak mau terlibat dengan urusan seperti gosip artis…”

“Kepalamu masih sakit?” tanya Hyoyeon ketika melihat Taeyeon terdiam sambil memegang dahi. Taeyeon menggeleng dan tersenyum.

“Tidak, aku sudah baikan. Sepertinya gara-gara kecapekan ditambah stres, akhirnya demam. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa Hyoyeon, kau pulang saja dan bantu ibumu. Sekarang kan jam makan siang. Rumah makan ibumu pasti sedang ramai.”

“Ibuku juga mencemaskanmu, jadi aku diizinkan tinggal lebih lama. Oh ya, ibuku sudah memasak bubur untukmu. Tadi aku taruh di dapur. Kau harus makan, mengerti?” kata Hyoyeon sambil mengambil tasnya yang ada di lantai. Ia meletakkan tangannya di kening Taeyeon dan bergumam, “Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obat. Nanti sore aku akan menjengukmu lagi. Kalau ada apa-apa, telepon aku.”

“Kau baik sekali, Hyoyeon,” kata Taeyeon sambil tersenyum.

“Sampaikan terima kasihku pada ibumu karena sudah memasak bubur untukku. Ah, tidak usah. Sebaiknya aku sendiri yang meneleponnya dan berterima kasih. Oh ya, kau harus ingat, soal pertemuanku dengan Park Jungsoo kemarin malam, jangan kaukatakan pada siapa pun.”

“Ya, ya, aku tahu. Kau tenang saja. Istirahat yang banyak ya. Sampai jumpa,” kata Hyoyeon sebelum keluar dari kamar Taeyeon. Park Jungsoo berdiri tegak di dekat jendela besar ruangan kantor manajernya yang berada di lantai 20 gedung pencakar langit. Ia memandang ke luar jendela dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Ia tidak sedang menikmati pemandangan kota Seoul seperti yang sering dilakukannya pada hari-hari biasa. Pagi ini sebuah tabloid lagi-lagi memuat artikel yang mengomentari gosip gay-nya. Gosip itu merambat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama lagi ia pasti akan dimintai penjelasan. Wartawan-wartawan akan mengejarnya… menanyainya… menuntut tanggapannya. Itulah risiko menjadi artis. Kenangan buruk masa lalu itu muncul lagi. Ketika para wartawan mengajukan ribuan pertanyaan tanpa henti, ketika ia merasa begitu frustrasi dan harus bersembunyi untuk menenangkan diri. Kini, dengan adanya gosip baru itu, hari-hari penuh perjuangan akan kembali dimulai… atau apakah

sebenarnya sudah dimulai?

“Oh, Jungsoo, sudah datang rupanya.” Jungsoo begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari manajernya sudah masuk ke kantor itu. Lee Hyuk-Jae berjalan ke meja kerjanya dan meletakkan map biru di meja.

“Sudah lama?”

Jungsoo menggeleng dan menghampiri kursi di depan meja.

“Baru saja sampai. Ada apa menyuruhku kemari pagi-pagi?” Lee Hyuk-Jae menyampirkan jasnya di sandaran kursi lalu membuka map yang tadi diletakkannya di meja. Ia mengeluarkan tabloid dari dalamnya dan menyodorkannya kepada Jungsoo. Jungsoo menerima tabloid yang disodorkan dengan bingung, namun begitu melihat artikel yang ada di sana, raut wajahnya berubah.

“Apa-apaan ini? Bagaimana mereka bisa… Ini—“ Jungsoo memandang manajernya dan yang ditatap mengangguk.

“Benar. Ini foto yang diambil kemarin malam ketika kita mengantar gadis itu.”

Dengan kesal Jungsoo melemparkan tabloid itu ke meja.

“Bagus, satu gosip masih tidak cukup rupanya.” Ia duduk dan bersandar di kursi.

“Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto-foto ini? Apakah menurut Hyung, gadis yang kemarin itu ada hubungannya dengan masalah ini?” Manajernya menggeleng pelan.

“Tidak, kurasa tidak. Meski kemungkinan seperti itu tetap ada, sekecil apa pun, tapi menurutku tidak begitu.” Jungsoo mengusap-usap dagu sambil merenung. Ia harus mengakui gadis yang kemarin itu tidak mungkin ada hubungannya dengan gosip ini, tapi…

“Gadis yang kemarin itu, Kim Taeyeon-shi … aku sudah menyelidikinya,” kata Lee Hyuk-Jae sambil mengulurkan sehelai kertas kepada Jungsoo.

Ia lalu melanjutkan, “Sedang kuliah tahun ketiga dan bekerja sambilan di butik seorang perancang busana. Ibunya orang Indonesia dan ayahnya orang Korea. Ayahnya kepala cabang perusahaan mobil dan ibunya ibu rumah tangga. Dia anak tunggal, lahir di Jakarta dan tinggal di sana sampai usianya sepuluh tahun, lalu karena kontrak kerja ayahnya sudah selesai, mereka sekeluarga pindah ke Seoul. Lima tahun yang lalu orangtuanya pindah kembali ke Jakarta karena ayahnya ditugaskan lagi di sana, sedangkan dia tetap tinggal di Seoul. Latar belakangnya bersih dan sederhana.”

Jungsoo membaca tulisan pada kertas yang dipegangnya dan tertawa kecil. “Dari mana Hyung mendapatkan semua informasi ini? Sampai tinggi dan berat badannya ada.” Lee Hyuk-Jae hanya tersenyum dan mengeluarkan sehelai kertas lain dari dalam mapnya lalu mulai membaca, “Menurut orang-orang yang kenal baik dengannya, Kim Taeyeon-shi wanita baik-baik dan bisa dipercaya. Tidak merokok, tidak pernah mabuk-mabukan, tidak memakai obat-obat terlarang, dan tidak punya catatan kriminal apa pun. Jadi aku berani menyimpulkan dia tidak ada sangkut pautnya dengan foto-foto di tabloid itu.” Lalu ia menyodorkan kertas itu. Jungsoo menerima kertas yang disodorkan manajernya. Lee Hyuk-Jae menghela napas.

“Meski harus diakui… secara tidak langsung, gosip yang satu ini sudah membantu kita,” katanya. Jungsoo mengangkat wajah dari kertas di tangannya dan memandang Lee Hyuk-Jae, menunggu si manajer menjelaskan maksud kata-katanya.

“Bukankah gosip ini dengan sendirinya mematahkan gosip gay-mu? Foto-foto itu memperlihatkan kau bersama seorang wanita di depan rumah pribadimu pada waktu yang sangat mencurigakan,” kata Lee Hyuk-Jae sambil tersenyum lebar.

“Aku tahu kau sudah meminta izin untuk tidak datang bekerja hari ini karena tidak enak badan, tapi aku sangat membutuhkanmu sekarang, Miss Kim. Saat ini juga. Kami di sini sibuk sekali, apalagi aku, sampai hampir tidak punya waktu untuk menarik napas. Aku terpaksa memintamu datang, Miss Kim. Tolong datanglah sekarang. Please… Kau pasti tidak sedang sakit berat. Kalau tidak, saat ini kau pasti sudah diopname di rumah sakit dan bukannya istirahat di rumah. Okay, Miss Kim?” Taeyeon berbaring di ranjang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengarkan kata-kata bosnya yang mengalir seperti air bah di ujung sana dengan mata terpejam. Seharusnya ia tidak mengaktifkan ponselnya hari ini. Seharusnya bosnya tidak menghubunginya. Seharusnya bosnya tidak bersikap begini. Orang sakit masa disuruh kerja? Lagi pula ini kan hari Sabtu.

Diktator!

“Miss Kim? Miss Kim? Halooo? Kau mendengarkanku, Miss Kim? Aku tidak bisa berbicara lama-lama, Miss Kim. Very very busy. Kau akan datang, kan?”

“Ya, ya, Mister Kim. Saya mengerti. Saya akan sampai di sana dalam satu jam,” sahut Taeyeon malas.

“Kau punya waktu setengah jam untuk sampai di studioku, Miss Kim,” kata bosnya sebelum menutup telepon. Taeyeon menatap ponselnya dengan hati dongkol.

“Lihat saja, kau akan menerima surat pengunduran diriku hari Senin nanti. Drakula! Pengisap darah! Hhh, bisa gila aku!” Sambil mengumpat, Taeyeon memaksa dirinya bangkit dan berjalan

terseok-seok ke lemari pakaian. Empat puluh tiga menit kemudian, Taeyeon sudah berdiri di studio Mister Kim, salah satu perancang busana paling populer di Korea. Yang disebut studio oleh bosnya adalah ruang kerja berantakan yang penuh kain berbagai corak, baik kain perca tak berguna maupun kain yang masih baru. Studio itu terletak di lantai teratas gedung berlantai tiga. Butik Mister Kim sendiri terdiri atas dua lantai: lantai pertama diperuntukkan tamu umum sedangkan lantai duanya untuk tamu VIP. Taeyeon masuk dan melihat pria setengah baya berpenampilan perlente, berambut dicat merah, dan berkaca-mata itu sedang memandangi model kurus dengan tatapan tidak puas. Lalu dengan sekali sentakan tangan, ia menyuruh model itu pergi dan menyuruh anak buahnya memanggil model lain.

Tepat pada saat model lain masuk ke ruangan, Mister Kim menyadari keberadaan Taeyeon dan langsung memekik, “Miss Kim! Kau terlambat. Kenapa—sebentar…”

Ia berpaling ke arah si model yang baru masuk dan berkata ketus, “No, no! Bukan kau. Apa yang harus kulakukan supaya mereka mengerti model seperti apa yang kubutuhkan? Astaga! Panggilkan Mister Cha ke sini.” Taeyeon merasa kasihan melihat ekspresi kaget si model wanita.

Harus diakui Mister Kim ini bukan orang yang mudah. Kadang-kadang orang jenius memang sulit dibuat senang. Mister Kim kembali memusatkan perhatian kepada Taeyeon.

“Kau lihat sendiri, Miss Kim, kami sedang sibuk sekali untuk fashion show. Tolong kau antarkan pakaian-pakaian untuk dicoba.”

Apa? Untuk dicoba siapa? Pakaian mana? Mister Kim selalu mengharapkan orang lain langsung bisa memahami kata-katanya yang tidak selalu jelas.

“Diantarkan kepada siapa dan dicoba untuk apa, Mister Kim?” tanya Taeyeon.

Mister Kim menatapnya dengan mata dibelalakkan selebar-lebarnya, setidaknya selebar yang mungkin di lakukan mata yang pada dasarnya sipit.

“Astaga, Miss Kim. Kau tentu ingat aku pernah bercerita tentang Park Jungsoo, bukan? Dia sudah setuju akan memakai pakaian rancanganku dalam setiap penampilannya. Makanya kau cepat-cepatlah pergi ke sana dan pastikan pakaian-pakaian itu sudah cocok dengan ukuran dan seleranya.”

Lalu, sebelum Taeyeon bertanya lagi dia sudah menunjuk rak pakaian beroda yang ada di dekat pintu, “Itu! Pakaian yang di rak itu!” Tidak, Anda belum pernah menyebut-nyebut tentang masalah ini kepadaku, gerutu Taeyeon dalam hati, tapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Siapa yang Anda sebut tadi?”

“Park Jungsoo. Penyanyi itu. Kau tidak kenal? Sudahlah, kenal atau tidak bukan masalah penting. Sana cepat pergi! Dia sudah menunggu di butik. Ayo sana. Go! Cepat!” katanya sambil mendorong punggung Taeyeon ke arah pintu keluar studionya.

Taeyeon mendorong rak beroda yang nyaris terisi penuh pakaian di sepanjang koridor. Masih dengan perasaan sebal, ia berjalan menuju lift. Di tengah jalan Taeyeon berpapasan dengan penjaga butik yang sudah kenal baik dengannya dan diberitahu Park Jungsoo sudah menunggu di

lantai dua. Sesampainya di depan pintu ruang peragaan lantai dua yang memancarkan kesan elite itu, ia berhenti beberapa saat. Ia ragu. Kenapa ia harus bertemu Park Jungsoo lagi? Apa yang harus ia katakana kepadanya? Apa yang harus ia lakukan? Apakah laki-laki itu sudah tahu tentang foto-foto yang dimuat di tabloid itu? Taeyeon mendesah dan menggigit bibir. Mungkin saja Park Jungsoo malah tidak ingat padanya lagi. Taeyeon mengangguk. Benar, Park Jungsoo pasti sudah lupa padanya. Artis-artis pasti sulit mengingat wajah karena setiap hari mereka harus bertemu begitu banyak orang baru. Pasti begitu. Mana mungkin mereka ingat setiap orang yang mereka temui dalam waktu singkat, kan? Dengan keyakinan itu, Taeyeon mendorong pintu kaca besar di hadapannya dan melangkah masuk. Ia menarik napas dalam-dalam dan memaksa kakinya terus berjalan. Taeyeon berdiri di depan pintu putih salah satu kamar peragaan dan kembali menarik napas. Baiklah, ini saatnya. Lakukan dan selesaikan secepatnya! Tidak usah cemas. Orang itu tidak akan ingat padamu. Kerjakan saja tugasmu. Ia meraih pegangan pintu dan membukanya.

-o0o-

 

“Salah seorang anak buahnya akan mengantarkan pakaian-pakaian itu ke sini,” kata Lee Hyuk-Jae sambil menutup flap ponsel. Jungsoo mengembuskan napas keras-keras dan mengempaskan diri ke sofa empuk yang diletakkan di tengah-tengah kamar peragaan.

“Sudah kubilang, seharusnya kita tidak usah datang secepat ini.” Ia melirik jam tangannya.

“Ah, aku salah, ternyata bukan kita yang datang terlalu cepat. Mereka yang terlambat. Hhh… harus menunggu berapa lama?”

Lee Hyuk-Jae baru akan menjawab ketika ponselnya bordering untuk kesekian kalinya dalam dua jam terakhir. Jungsoo menatap manajernya yang sedang berbicara dengan bahasa formal di ponsel. Sepertinya telepon dari produser atau semacamnya. Lee Hyuk-Jae memberi isyarat akan keluar sebentar. Jungsoo mengangguk tak acuh dan Lee Hyuk-Jae keluar dari ruangan itu. Jungsoo merebahkan kepala ke sandaran sofa, mencoba mendapatkan kenyamanan. Baru saja ia merasa damai dan hampir terlelap ketika ia mendengar bunyi pintu dibuka dan suara seorang wanita.

“Selamat siang. Maaf membuat Anda menunggu lama.” Jungsoo membuka mata. Gadis berambut sebahu dan bertopi merah memasuki ruangan sambil mendorong rak pakaian beroda. Gadis itu membungkuk hormat. Jungsoo berdiri dan membungkuk sedikit untuk membalas sapaannya.

“Mister Kim meminta saya membawakan pakaian-pakaian ini untuk Anda. Silakan dicoba.” Gadis itu mendorong rak hingga ke ujung ruangan, ke dekat bilik ganti. Ia mengeluarkan salah satu pakaian dari gantungan dan mengulurkannya kepada Jungsoo.

“Silakan dicoba di sana,” katanya sambil menunjuk ke arah bilik yang tertutup tirai tebal. Ada perasaan janggal yang mengusik Jungsoo, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu. Ia menerima pakaian yang disodorkan dan beranjak ke bilik ganti. Selesai mengenakan pakaian, Jungsoo menyibakkan tirai. Tepat pada saat itu ia melihat gadis yang membawakan pakaian tadi sedang duduk di kursi bulat di samping sofa. Topi merahnya dilepas dan gadis itu sedang menyisir rambutnya yang agak ikal dengan jari-jari tangan. Jungsoo tertegun dan menatap gadis itu. Itulah kali pertama ia melihat jelas wajah si gadis sejak ia masuk bersama rak pakaian. Tiba-tiba gadis itu menoleh dengan wajah terkejut, sepertinya ia menyadari sedang diperhatikan. Ia cepat-cepat mengenakan kembali topinya dan berdiri.

“Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” Bukankah ia gadis yang kemarin ditemuinya? Tidak salah lagi. Jungsoo masih ingat wajah gadis itu. Wajah yang lelah dan pucat. Gadis yang berdiri di hadapannya ini memang gadis yang kemarin. Wajahnya masih terlihat lelah dan pucat. Tapi kenapa gadis ini tidak mengatakan apa-apa? Apakah ia tidak mengenalinya?

“Kita pernah bertemu,” kata Jungsoo. Ia tidak sedang bertanya. Ia benar-benar yakin, karena itu ia ingin melihat reaksi si gadis. Gadis itu tertegun, lalu perlahan-lahan mengangkat kepala dan memandang Jungsoo dengan ragu-ragu. Tatapan yang ragu-ragu itu tidak salah lagi sama dengan tatapan gadis yang kemarin datang ke rumahnya. Jungsoo menunggu si gadis

mengatakan sesuatu. Setelah hening beberapa detik, gadis itu hanya bergumam, “Oh?” Jungsoo kecewa karena gadis itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia hanya menatapnya dengan matanya yang besar. Gadis itu bodoh atau benar-benar tidak ingat lagi kejadian kemarin malam? Bukannya sombong, tapi Jungsoo tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa melupakan artis yang baru ia temui kemarin malam? Jungsoo kesal karena justru dirinyalah yang ingat pada si gadis, sementara si gadis tampaknya sama sekali tidak ingat padanya. Bagaimana bisa? Atau sebenarnya ia tidak sepopuler yang ia kira? Apakah dunia sudah berubah tanpa sepengetahuannya?

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Jungsoo datar dan cepat, berusaha membantu ingatan gadis itu. Demi Tuhan, memangnya gadis ini menderita amnesia?

Taeyeon memerhatikan Park Jungsoo masuk ke bilik ganti dan menarik tirai. Ia mengembuskan napas lega dan duduk di kursi bulat yang empuk. Laki-laki itu teryata memang tidak mengenalinya. Taeyeon melepaskan topi dan memegang pipinya dengan sebelah tangan. Lelah sekali. Semoga saja sampai pekerjaannya selesai Park Jungsoo tidak akan mengenalinya. Ia menyisir rambut dengan jari-jari tangan sambil melamun. Tiba-tiba ia melihat Park Jungsoo sudah berdiri di sana sambil memerhatikannya. Taeyeon tersentak dan segera memakai topinya kembali.

“Bagaimana? Apakah pakaiannya cocok? Anda suka?” tanyanya dengan nada yang dibuat riang dan sopan.

“Kita pernah bertemu.” Taeyeon bergeming. Ia menggigit bibir. Ternyata Park Jungsoo mengenalinya. Bagaimana sekarang? Mengaku saja? Tapi kalau baru mengaku sekarang akan terasa aneh. Akhirnya ia hanya bisa bergumam tidak jelas.

“Kau datang ke rumahku kemarin malam karena ponselku tertukar dengan ponselmu,” kata Park Jungsoo lagi. Nada suaranya datar. Baiklah, ia tidak bisa mengelak lagi. Taeyeon memaksakan seulas senyum.

“Oh, ya, benar. Apa kabar?” Hanya itu yang bisa dipikirkannya. Taeyeon memarahi dirinya sendiri dalam hati. Park Jungsoo memandangnya dengan tatapan aneh, lalu memalingkan wajah dan mendengus pelan.

“Ternyata ingat juga,” gumamnya.

Taeyeon mengangkat alis. “Ya?”

Park Jungsoo kembali menatapnya dan berkata, “Jadi kau bekerja di sini?”

“Ya… bisa dibilang begitu,” jawab Taeyeon. Ia lega sekarang. Setidaknya ia tidak perlu menundukkan kepala lagi. Tidak perlu menyembunyikan wajah lagi.

“Foto di tabloid itu… Kau sudah melihatnya?” tanya Park Jungsoo.

Taeyeon menelan ludah. Ini dia. Apakah Park Jungsoo menyangka ia berada di balik semua ini?

“Sudah…,” sahutnya ragu, lalu cepat-cepat menambahkan sambil menggoyang-goyangkan tangan, “tapi bukan aku… Maksudku, aku tidak ada hubungannya dengan itu. Sungguh.” Park Jungsoo tertawa kecil.

“Kami juga berpikir begitu. Lagi pula sebenarnya foto-foto itu malah membantuku.” Taeyeon tidak mengerti.

“Kau sering membaca tabloid?” tanya Jungsoo. Taeyeon menggeleng. Ia tidak punya waktu untuk itu. Lagi pula ia sama sekali tidak perlu membaca tabloid untuk tahu gosip seputar artis. Temannya, Kim Hyo-yeon, adalah tabloid berjalan. Kim Hyo-yeon tahu semua yang terjadi dalam dunia artis. Apa pun yang ia ketahui pasti akan diceritakannya kepada Taeyeon, tidak peduli Taeyeon sebenarnya mau tahu atau tidak. Park Jungsoo mengangguk-angguk.

“Hm, berarti kau tidak tahu-menahu soal gosip tentang diriku.”

“Gosip gay itu?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Taeyeon tanpa diproses di otaknya terlebih dahulu.

Park Jungsoo menatapnya. “Bukannya kau tadi bilang kau tidak membaca tabloid?”

Taeyeon memiringkan kepala dengan salah tingkah. “Temanku yang menceritakannya padaku.”

“Ternyata banyak orang yang sudah tahu.” Park Jungsoo mendesah.

“Bagaimanapun, foto-foto itu sudah membantuku mengatasi gosip.”

Taeyeon hanya mengangguk-angguk tidak acuh, namun ia terkejut ketika laki-laki di hadapannya itu mendadak berpaling ke arahnya dengan wajah berseri-seri.

“Kim Taeyeon-ssi—namamu Kim Taeyeon, bukan?” tanyanya cepat. Tanpa menunggu jawaban Taeyeon, ia meneruskan, “Karena kau sudah membantuku satu kali, bagaimana kalau kau membantuku lagi?”

Taeyeon mundur selangkah. “Bantu… apa?”

“Jadi pacarku.”

“A-apa?!”

Jungsoo agak kaget mendengar pekikan gadis itu, tapi ia bisa memakluminya.

“Begini, biar kuganti kalimat permintaanku,” katanya sambil berkacak pinggang dan berpikir-pikir. Kemudian ia mengangkat wajah dan menatap Taeyeon.

“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai pacarku.”

Taeyeon mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung. Jungsoo cepat-cepat menjelaskan. Ia sangat menyadari alis gadis itu terangkat ketika mendengarkan ceritanya.

“Hanya berfoto. Bagaimana?” tanya Jungsoo di akhir penjelasannya. Ia menatap Taeyeon yang masih tercengang. Kenapa tiba-tiba ia merasa seolah sedang disidang di pengadilan? Ia sangat

penasaran apa yang akan dikatakan gadis itu, apa jawabannya. Kalimat pertama yang keluar dari mulut Taeyeon adalah, “Kenapa aku?”

Pertanyaan yang bagus. “Tidak ada alasan khusus,” sahut Jungsoo santai.

“Kupikir kau mungkin mau membantuku. Bagaimanapun kita sudah pernah difoto bersama walaupun tanpa sengaja.” Taeyeon masih terlihat bingung, tapi Jungsoo melihat kening gadis itu

berkerut, tanda sedang mempertimbangkan usul yang ia ajukan. Setidaknya Taeyeon tidak langsung menolak mentah-mentah. Jungsoo cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk menambahkan, “Kalau kau mau, anggap saja aku menawarkan pekerjaan kepadamu. Tidak akan mengganggu pekerjaanmu yang sekarang. Kau masih kuliah? Kuliahmu juga tidak akan terganggu.”

“Memangnya aku terlihat seperti sedang butuh pekerjaan?” tanya Taeyeon datar. “Atau butuh uang?”

Jungsoo terdiam. Ia memandang Taeyeon dari kepala sampai ke ujung kaki. Tidak, gadis ini memang sudah punya pekerjaan dan dilihat dari cara berpakaiannya, ia tidak tampak seperti gadis yang kekurangan uang.

“Memang tidak,” Jungsoo mengakui.

“Begini saja, aku akan memberimu apa pun yang kauinginkan kalau kau bersedia membantuku.”

“Hanya untuk berfoto bersama?” tanya Taeyeon memastikan.

“Begitulah rencananya,” jawab Jungsoo pasti. Ia mulai merasa tidak percaya diri melihat tanggapan gadis itu. Apa yang sedang dipertimbangkannya? Yah, mungkin memang karena pada dasarnya Kim Taeyeon-ah bukanlah salah satu penggemarnya. Jadi, tidak aneh kalau gadis itu tidak antusias dengan gagasan ini. Tiba-tiba terdengar dering ponsel. Otomatis Jungsoo merogoh saku bagian dalam jasnya. Pada saat yang sama Taeyeon juga merogoh tas tangannya yang terletak di meja. Ternyata yang berdering ponsel milik gadis itu. Jungsoo baru ingat ponsel Taeyeon sama dengan ponsel miliknya. Bahkan nada deringnya juga persis sama. Mungkin salah satu dari mereka harus segera mengganti nada dering. Taeyeon menatap ponselnya, membuka flap-nya, tapi langsung menutupnya lagi tanpa dijawab terlebih dulu. Rasa ingin tahu Jungsoo bertambah ketika ia melihat gadis itu melepaskan baterai ponselnya kemudian kembali menyimpan tas beserta baterainya itu ke tas. Siapa yang meneleponnya tadi? Tidak tampak ekspresi apa pun di wajahnya. Tapi sepertinya Taeyeon tidak berniat memberikan penjelasan atas

tidakannya barusan.

“Mau membantu, kan?” Jungsoo akhirnya membuka suara setelah mereka berdua terdiam beberapa saat. Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Jungsoo.

“Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.” Udara di sekeliling Jungsoo jadi terasa lebih ringan. Ia

mengembuskan napas pelan dan tersenyum lega. Meminta bantuan Taeyeon ternyata tidak sesulit dugaannya. Tidak ada syarat yang aneh-aneh. Kalau sekadar merahasiakan identitas, ia bisa memaklumi itu. Gadis ini tentu saja tidak ingin berurusan dengan wartawan.

“Terima kasih. Kuharap kau tidak akan memberitahu orang lain tentang kesepakan kita ini, bahkan orangtuamu sekalipun. Aku tidak ingin menciptakan skandal yang lebih parah. Aku bisa memercayaimu, kan?”

“Mm, aku mengerti,” kata Taeyeon menyanggupi. Tapi begitu melihat matanya yang agak menerawang, Jungsoo jadi kurang yakin apakah gadis itu benar-benar memahami kata-katanya.

Pada saat itu pintu terbuka dan mereka berdua menoleh. Ternyata yang masuk Lee Hyuk-Jae. Sang manajer memandang mereka berdua dengan tatapan bertanya-tanya, lalu setelah beberapa saat wajahnya menjadi cerah.

“Oh, kau yang kemarin itu?” tanya Lee Hyuk-Jae sambil menghampiri Taeyeon.

Jungsoo tersenyum lebar. “Hyung, dia bersedia menjadi pacarku.”

Senyum manajernya langsung lenyap. “Maksudmu?”

“Yang Hyung katakan kemarin… soal foto… aku sudah memikirkannya,” kata Jungsoo, masih tetap tersenyum.

“Kita lakukan saja. Dia juga sudah bersedia membantu. Memang tidak persis seperti

rencana yang Hyung usulkan kemarin.”

Lee Hyuk-Jae terlihat bingung. “Soal yang kemarin…?” Ia terdiam sebentar, lalu, “Astaga, kau serius?”

“Akan kujelaskan lebih lanjut pada Hyung nanti,” kata Jungsoo sambil menepuk-nepuk pundak manajernya.

“Kita lanjutkan pekerjaan kita dulu. Bukankah kita ke sini karena aku harus mencoba semua pakaian ini?”

Taeyeon keluar dari tempatnya bekerja dengan langkah gamang seolah setengah sadar. Tugasnya mencocokkan pakaian Park Jungsoo sudah selesai, tapi otaknya seakan masih tertinggal sebagian di butik itu. Ia berjalan dengan langkah lambat, membelok di ujung jalan, lalu langkah kakinya terhenti.

“Apa yang sudah kulakukan?” ia bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang pipi dengan sebelah tangan. Taeyeon harus berusaha keras menenangkan diri karena jantungnya berdebar kencang sekali. Sejak tadi ia berjuang supaya rasa gugupnya tidak terlihat oleh kedua pria itu. Perasaan canggung saat Park Jungsoo menjelaskan rencananya kepada si manajer sementara pria itu mencoba pakaian tadi bahkan masih bisa ia rasakan hingga kini. Si manajer agak bimbang. Ia banyak bertanya pada Taeyeon, selain itu juga berulang kali menekankan bahwa masalah ini tidak boleh sampai diketahui orang lain. Tentu saja Taeyeon mengerti. Diam-diam, sambil mendengarkan pesan Lee Hyuk-Jae, Taeyeon mengamatinya. Pria yang satu itu benar-benar memiliki daya tarik. Cara bicaranya menyenangkan, senyumnya menawan, dan matanya ramah. Taeyeon tahu Hyuk-Jae bertanya-tanya kenapa ia mau begitu saja membantu Park Jungsoo, tapi

ia pura-pura bodoh. Pada awalnya Taeyeon memang agak ragu dengan tawaran Jungsoo, tapi akhirnya rasa penasarannyalah yang menang. Ia meyakinkan dirinya ini jalan yang tepat. Ini mungkin kesempatan yang telah lama dinantinya untuk mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama menghantui…. Lagi pula menurutnya pekerjaan yang ditawarkan kepadanya tidak susah. Ia hanya perlu difoto bersama Park Jungsoo. Bukan masalah. Ia pasti bisa melakukannya. Ia sadar kesepakatan ini akan membuatnya sering bertemu Park Jungsoo, tapi ini bukan masalah, toh ia tidak merasakan apa-apa terhadap artis itu. Nilai tambah lain, kalau ia sering bersama Park Jungsoo, ia akan tahu dan mengerti kenapa teman dekatnya juga banyak wanita lain bisa tergila-gila pada pria itu.

“Baiklah,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku pasti bisa melakukannya. Ah, astaga! Aku lupa minta tanda tangan Park Jungsoo untuk Hyo-yeon.” Taeyeon merogoh tasnya untuk mencari ponsel, tapi kemudian berhenti.

Apakah sebaiknya aku tidak memberitahu Hyo-yeon aku bertemu Jungsoo tadi? Dia pasti kesal karena aku lupa meminta tanda tangan lagi. Tapi ia pasti bakal jadi lebih kesal kalau tahu aku menyembunyikan soal pertemuan ini… Taeyeon melanjutkan mencari ponselnya di tas tangannya dan menemukan baterai ponsel yang tadi ia lepas. Mendadak ia jadi teringat Lee Gikwang tadi meneleponnya. Mudah-mudahan Gikwang bisa mengerti kenapa ia tidak bisa menerima telepon tadi. Eh… tunggu dulu, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa ia harus merasa bersalah? Mana ada orang yang bisa menjawab telepon kalau sedang berada dalam situasi seperti tadi? Lagi pula sepanjang pengalamannya, kalau Lee Gikwang yang menelepon, pasti bukan karena ada hal penting. Kenapa Lee Gikwang masih terus menghubunginya? Bukankah pria itu sendiri yang meminta putus hubungan? Orang aneh! Taeyeon memasang baterai ponselnya kembali dan baru akan menghubungi Hyo-yeon ketika ia teringat janjinya. Aah… benar juga, aku sudah berjanji pada Lee Hyuk-Jaessi tidak akan menceritakan masalah ini pada orang lain. Ah, bagaimana ini? Yah… apa boleh buat… Ia kembali memasukkan ponsel itu ke tas tangannya, lalu ia mendongak menatap langit yang biru dan bergumam, “Baiklah, Taeyeon. Semoga keputusanmu ini ada gunanya. Aja aja, fighting!”

Sekarang ia harus pulang dan tidur dulu untuk mengumpulkan tenaga. Ia sudah berjanji akan menemui kedua pria itu nanti malam.

“TAEYEON-SSI, sebaiknya pinggiran topimu diturunkan sedikit lagi. Wajahmu harus tertutup,” perintah Lee Hyuk-Jae. Taeyeon bergumam tidak jelas, menyerahkan ponsel yang dipegangnya kepada Park Jungsoo, lalu menarik turun topi merahnya.

“Kalau begini aku sendiri tidak bisa melihat apa-apa,” desahnya.

“Paman sebenarnya ada di mana? Dia sedang meneropong kita atau semacamnya?”

Ia dan Park Jungsoo sedang berada di dalam mobil Park Jungsoo yang diparkir di lapangan parkir depan gedung tempat Lee Hyuk-Jae bekerja. Saat itu pukul sepuluh malam dan suasana di tempat parkir sepi sekali. Park Jungsoo yang mengenakan topi hitam dan kacamata hitam duduk di balik kemudi, Taeyeon duduk di sampingnya, sementara Lee Hyuk-Jae mengawasi mereka entah dari mana. Semua komunikasi dilakukan lewat ponsel. Mereka sudah siap menjalankan tahap pertama rencana.

Park Jungsoo menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sudah bisa dimulai.”

Ia menutup ponsel dan memandang Taeyeon yang sedang merapikan kepang rambutnya.

“Sekitar semenit lagi kita keluar,” katanya pendek.

“Jadi kita hanya perlu keluar dari mobil, bergaya sebentar, lalu masuk kembali ke mobil?” tanya Taeyeon memastikan. Park Jungsoo mengangguk.

Ia diam, lalu, “Nah, sepertinya Hyung sudah siap dengan kameranya. Kita keluar sekarang.”

Mereka berdua keluar dari mobil dan mulai berjalan berdampingan.

“Kenapa jauh begitu?” tanya Park Jungsoo. Taeyeon menoleh dan menyadari Park Jungsoo sedang mengomentari jarak antara mereka berdua yang terlalu jauh.

“Kenapa? Kurasa ini sudah cukup dekat.”

“Orang-orang tidak akan percaya aku punya hubungan khusus denganmu kalau kau berdiri sejauh itu.”

Taeyeon berhenti berjalan dan memutar tubuh menghadap Park Jungsoo. “Menurutku seperti ini juga sudah lumayan. Kita tidak perlu sampai berpelukan supaya orang percaya kita punya hubungan khusus, kan?”

Park Jungsoo tertawa pendek. “Apanya yang lumayan? Tubuhmu kaku begitu dan jalanmu seperti robot.”

Taeyeon tetap diam.

Park Jungsoo balas menatapnya, lalu berkata, “Kita harus melakukan sesuatu.”

Taeyeon terkejut ketika Park Jungsoo melangkah mendekati dirinya.

“Mau apa kau?” tanyanya, tapi saking gugupnya ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Park Jungsoo berdiri tepat di depannya. Taeyeon baru menyadari betapa dirinya begitu pendek dibandingkan pria itu. Kepalanya sampai harus mendongak kalau ia mau melihat wajah Park Jungsoo.

“Hei, Park Jungsoo-ssi, kau sebenarnya mau apa?” tanya Taeyeon sekali lagi ketika setelah beberapa saat Park Jungsoo hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa melihat ekspresi Park Jungsoo dengan jelas karena laki-laki itu memakai kacamata hitam, tapi Taeyeon bisa melihat bibir pria itu membentuk seulas senyum.

“Aku? Hanya memberikan pose yang bagus untuk foto kita,” katanya santai, lalu ia mundur kembali.

Taeyeon mendengus pelan. “Lucu sekali.”

“Misi selesai,” kata Taeyeon ketika mereka sudah duduk kembali di dalam mobil.

“Hhhh… lelahnya. Benar-benar pekerjaan yang berat.” Jungsoo tersenyum kecil mendengar gurauan Taeyeon. Ternyata gadis ini bisa bercanda juga. Jungsoo yakin sebenarnya Taeyeon orang yang ramah, meski saat ini gadis itu lebih sering bersikap kaku dan menjaga jarak, bahkan terkadang cenderung dingin. Bagaimanapun hal itu wajar saja mengingat mereka tidak terlalu saling mengenal.

“Aku merasa seperti sedang main film,” Taeyeon menambahkan.

“Mungkin seharusnya aku jadi aktris saja. Bagaimana menurutmu?”

“Teruslah bermimpi,” sahut Jungsoo sambil menghidupkan mesin mobil. Saat itu terdengar dering ponsel. Mereka berdua serentak mencari ponsel mereka. Yang berdering ternyata ponsel Jungsoo.

“Sebaiknya kauganti nada dering ponselmu,” gerutu Taeyeon sambil memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.

“Kenapa harus aku? Kau saja yang ganti,” kata Jungsoo sebelum menjawab teleponnya.

“Ya, Hyung… Sudah?”

Tiba-tiba ponsel Taeyeon berdering juga. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Taeyeon langsung menjawab teleponnya.

“Halo?”

Jungsoo melihat gadis itu mendesah dan melepaskan topi merahnya. Siapa yang meneleponnya? Lamunan dalam benaknya buyar ketika ia sadar Lee Hyuk-Jae berulang kali menyebut namanya di telepon.

“Eh, apa, Hyung?… Oh, oke. Sampai jumpa besok,” kata Jungsoo sebelum menutup ponsel.

“Aku? Sekarang? Sedang di luar,” kata Taeyeon dengan nada santai.

Jungsoo memerhatikan alis Taeyeon terangkat ketika gadis itu mendengarkan jawaban orang di seberang sana.

“Sebentar lagi juga akan pulang. Kalau ada yang perlu dibicarakan, bicarakan nanti saja. Aku sekarang sedang sibuk. Tutup dulu ya.” Taeyeon langsung menutup teleponnya.

“Telepon dari siapa?” tanya Jungsoo sambil lalu. Taeyeon menoleh ke arahnya.

“Teman,” sahut gadis itu pendek, lalu mengalihkan pembicaraan.

“Kita sudah selesai sekarang? Paman bilang apa tadi?”

Jungsoo memandang Taeyeon dengan kening berkerut.

“Paman?” tanyanya heran.

“Kenapa kau memanggil Hyung „paman‟? Dia kan belum setua itu. Kalau aku sih tidak akan sudi dipanggil „paman‟.” Taeyeon baru akan membuka mulut untuk menjawab ketika Jungsoo

menambahkan, “Tapi terserah kau sajalah. Panggil saja dia „paman‟ atau apa pun sesukamu. Hyung tidak akan keberatan. Dia bukan orang yang suka ambil pusing untuk masalah seperti ini. Asal kau tidak memanggilnya „Eonni‟ saja.”

Taeyeon menarik napas dan berdeham “Jadi Paman bilang apa tadi?” tanyanya sekali lagi.

“Katanya mungkin lusa foto-foto itu akan muncul di tabloid,” jawab Jungsoo. Namun kemudian perkataannya selanjutnya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri, “Harus lagi-lagi siap menghadapi wartawan. Tapi setidaknya reputasiku akan kembali seperti dulu…”

Jungsoo menoleh dan mendapati Taeyeon sedang menatapnya dengan pandangan aneh. “Apa? Ada apa?”

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Taeyeon agak ragu.

“Apa?”

“Sebenarnya… kau gay atau bukan?”

Jungsoo melepas kacamatanya dan menatap Taeyeon dengan kesal. Tanpa menunggu jawaban, Taeyeon mengibaskan tangan.

“Oh, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Kau gay atau bukan juga bukan urusanku.”

Seperti rencana Lee Hyuk-Jae, hari Senin pagi foto-foto mereka sudah mucul di tabloid. Taeyeon baru memasuki ruang kuliah ketika Kim Hyo-Yeon berlari ke arahnya.

“Hei, Kim Taeyeon-ah!” seru Hyo-Yeon dengan suara menggelegar.

Taeyeon mengerjapkan matanya dengan bingung, lalu setelah pulih dari kekagetannya, ia menggerutu, “Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil nama lengkapku seperti itu. Memangnya „Taeng‟ terlalu susah diucapkan?”

“Dan sudah kubilang berkali-kali kalau aku tidak suka nama yang aneh seperti itu,” balas Hyo-Yeon lalu melanjutkan, “Sekarang itu bukan masalah penting. Lihat ini!” Ia melambai-lambaikan tabloid tepat di depan wajah Taeyeon.

“Apa ini?” tanya Taeyeon. Ia harus mundur selangkah supaya bisa melihat jelas apa yang ingin diperlihatkan temannya itu.

“Park Jungsoo ternyata punya pacar!” kali ini seruan Hyo-Yeon begitu keras sampai-sampai Taeyeon terlompat kaget. Taeyeon melihat halaman depat tabloid itu dan menahan napas. Ia

membaca judul utamanya “PARK JUNGSOO DAN KEKASIH WANITA?” dicetak dengan ukuran besar. Di bawah judul itu ada tiga fotonya bersama Park Jungsoo. Foto-foto itu agak buram, tapi kenapa Taeyeon merasa dirinya terlihat begitu jelas? Foto pertama memperlihatkan mereka berdua di dalam mobil. Park Jungsoo sedang memegang kemudi dan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Taeyeon sendiri juga sedang memandang pria itu dengan kepala dimiringkan sehingga wajahnya tertutup topi merahnya. Kapan mereka berpose seperti itu? Taeyeon sendiri tidak ingat. Foto yang kedua diambil ketika mereka berjalan bersama. Foto itu diambil sedikit menyamping sehingga Taeyeon agak tertutup tubuh Park Jungsoo. Taeyeon memerhatikan foto itu dan mengerutkan kening. Seingatnya mereka tidak berdiri sedekat itu, tapi mungkin arah pengambilan fotonya yang menyebabkan mereka terlihat dekat. Foto ketiga adalah saat Park Jungsoo berdiri tepat di depannya dan begitu dekat, Taeyeon sendiri berdiri tegak dengan kepala mendongak memandangnya. Lagi-lagi sudut pengambilan foto membuat foto itu terlihat bagus sekali dan wajah Taeyeon agak tertutup. Ditambah lagi Park Jungsoo sedang tersenyum dalam foto itu. Mau tidak mau Taeyeon kagum pada Lee Hyuk-Jae. Ternyata Paman pintar memotret.

“Kau lihat? Sudah lihat?” Young-Mi jelas-jelas terlihat kesal dan sedikit histeris.

“Ternyata selama ini Park Jungsoo sudah punya kekasih. Siapa wanita itu? Artis? Kau tahu tidak, semua penggemarnya sedang shock saat ini.”

Taeyeon agak lega karena Kang Young-Mi tidak menyadari bahwa dirinyalah yang ada di dalam foto bersama Park Jungsoo. Ia melipat kembali tabloid itu, mengembalikannya kepada Hyo-Yeon, lalu berkata, “Kenapa kesal? Bukankah ini malah membuktikan Park Jungsoo bukan gay?” Hyo-Yeon terdiam dan menimbang-nimbang.

“Tapi kalau melihat dia dengan wanita lain, rasanya hatiku… aduh,” katanya dengan wajah

memelas.

Taeyeon tertawa geli.

“Tapi… mungkin juga gadis ini bukan kekasihnya,” kata Hyo-Yeon tiba-tiba.

“Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Bisa saja kasusnya sama dengna kasusmu waktu itu. Park Jungsoo hanya mengantarmu dan tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian. Lagi pula semua orang tahu wartawan suka membesar-besarkan masalah.”

Taeyeon cepat-cepat menoleh dan mendapati sahabatnya sedang memandangnya yakin. “Tapi menurutku yang ini memang benar. Di artikel ini bahkan juga tertulis ada sumber tepercaya yang menyatakan Park Jungsoo memang sudah punya pacar, kan? Lagi pula kalau dipikir-pikir, bukankah ini hal yang baik? Maksudku, bagi penggemar sepertimu, yang paling penting kan Park Jungsoo bukan gay alias suka wanita….”

Karena ekspresi kecewa Young-Mi belum berubah, Taeyeon menambahkan, “Kau juga tidak perlu histeris begitu. Kalaupun wanita di foto ini memang pacarnya, masih ada kemungkinan mereka berpisah. Kau berdoa saja supaya mereka cepat berpisah.”

“Kau bisa berkata seperti itu karena kau bukan penggemarnya! Aku penasaran sekali siapa wanita itu. Di sini juga tidak diceritakan siapa dia….” Hyo-Yeon mengembuskan napas panjang.

Mendadak dia menepuk tangan dan berkata penuh semangat, “Tapikau benar. Tidak apa-apa,

sebentar lagi pasti ketahuan. Dia harus putus dengan Jungsoo oppa ku!”

Taeyeon geleng-geleng menahan geli. Tapi sebelum senyumnya mereda, Hyo-Yeon sudah berkata lagi, “Tapi ada yang aneh. Coba lihat foto-foto ini, Taeyeon-ah. Kenapa mereka berdua tidak bersentuhan? Mungkin memang bukan hal penting, tapi maksudku, orang pacaran bukannya suka berpegangan tangan kalau berjalan bersama?”

-o0o-

Park Jungsoo sedang berada di kantor Lee Hyuk-Jae. Ia memegang tabloid yang memuat foto-fotonya bersama Taeyeon.

Hyung ternyata pandai memotret,” kata Jungsoo sambil tersenyum. Lee Hyuk-Jae hanya mengangkat bahu menerima pujian itu.

“Menurutku rencana kita cukup sukses karena sejak pagi kantor kita sudah dibanjiri telepon yang meminta kepastian dan wawancara denganmu.”

“Dia sudah melihat ini atau belum ya?” tanya Jungsoo sambil meletakkan tabloid itu di atas meja.

“Taeyeon-ssi? Seharusnya sudah karena orang-orang juga akan membicarakan-nya,” sahut Lee Hyuk-Jae. Ia meraih tabloid itu dan mengamati foto-foto Jungsoo dan Taeyeon.

“Dia melakukannya dengan baik sekali, kan? Gadis yang tenang, mudah diajak kerja sama. Bagus juga dia bukan salah satu penggemarmu, jadi dia tidak histeris atau semacamnya.” Jungsoo hanya mengangkat bahu. Lee Hyuk-Jae berkata pelan seperti merenung. “Ya, gadis yang tenang. Bahkan mungkin terlalu tenang… Tidakkah menurutmu dia terlalu mudah menyetujui permintaanmu?” Jungsoo mengangkat bahu lagi.

“Tidak juga,” jawabnya.

“Dia tidak minta imbalan apa pun?” tanya Lee Hyuk-Jae lagi.

Jungsoo mengingat-ingat. “Tidak.”

“Aneh,” gumam Lee Hyuk-Jae. Setelah berkata seperti itu, telepon di meja kerjanya berdering.

Sementara manajernya menjawab telepon, Park Jungsoo menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia menelepon Taeyeon. Tak berapa lama akhirnya ia mengeluarkan ponselnya dan menekan angka sembilan. Taeyeon dan Hyo-Yeon sedang berjalan di halaman kampus sambil membicarakan Park Jungsoo dan pacar misteriusnya ketika Taeyeon mendengar namanya dipanggil. Mereka berdua menoleh ke belakang dan melihat laki-laki tinggi besar sedang berlari-lari kecil menghampiri mereka.

Hyo-Yeon menyikut lengan Taeyeon dan berbisik, “Mau apa lagi dia?”

Taeyeon mengerutkan kening dan menggeleng tanda tidak tahu. Laki-laki itu berhenti di depan mereka berdua sambil tersenyum lebar.

“Halo, kebetulan sekali bertemu kalian di sini. Mau makan siang? Ayo, kutraktir.”

Hyo-Yeon meringis. “Kebetulan apanya?”

“Lee Gikwang ssi, sedang apa kau di sini?” tanya Taeyeon.

“Tidak ada alasan khusus,” jawab Lee Gikwang riang, seakan tidak menyadari nada ketus kedua gadis itu.

“Kupikir karena sudah lama tidak bertemu, tidak ada salahnya kita makan siang bersama sambil

mengobrol.”

“Pacarmu mana?” tanya Hyo-Yeon tiba-tiba.

“Dia tidak marah kalau kau makan siang bersama dua wanita? Ngomong-ngomong, kau masih

bersama gadis yang waktu itu, kan? Atau sudah ada yang baru?” Wajah Lee Gikwang memerah dan dia agak salah tingkah ketika menjawab, “Oh, dia sedang ada urusan di tempat lain. Ayolah, mumpung pekerjaanku sedang tidak banyak. Lagi pula aku ingin mengobrol dengan kalian. Oke?”

Taeyeon dan Hyo-Yeon berpandangan. Mereka tahu mereka tidak bisa menghindar tanpa bersikap kasar kepada laki-laki seperti Lee Gikwang. Mereka masuk ke restoran kecil yang sudah sering mereka datangi. Mereka baru saja duduk di meja kosong ketika Taeyeon mendengar

ponselnya berbunyi. Ia menatap layar ponselnya. Ia tidak mengenal nomor telepon yang tertera di sana.

“Halo?”

“Sudah lihat?”

“Apa?” Dalam kebingungan Taeyeon menatap ponselnya, lalu menempelkannya kembali di telinga.

“Siapa ini?”

Laki-laki di ujung sana mendengus kesal. “Kau tidak tahu?”

“Tidak.”

Sepi sebentar, lalu suara itu berkata dengan nada datar, “Ini Park Jungsoo.”

Taeyeon tersentak dan sontak menatap Hyo-Yeon dan Gikwang bergantian. Kedua orang itu jadi ikut menatapnya dengan pandangan bertanya. Tepat pada saat itu pelayan datang dan menanyakan pesanan. Taeyeon memalingkan wajah dan berkata dengan suara pelan di telepon,

“Oh, kau rupanya. Ada apa?” Taeyeon mendengar Park Jungsoo menarik napas di seberang sana.

“Kau sudah lihat fotonya?” Nada suaranya sudah kembali seperti biasa.

“Sudah,” sahut Taeyeon.

“Lalu bagaimana? Kau sudah ditanya-tanya?”

“Sore ini aku ada jadwal wawancara.”

“Taeyeon-ah, kau mau makan apa?” tanya Gikwang tiba-tiba.

Taeyeon menoleh dan menjawab, “Terserah. Pesankan saja untukku.”

“Kau tidak sedang sendirian?” tanya Jungsoo.

“Aku sedang makan bersama teman.”

“Hei, kenapa tidak bilang dari tadi? Kau bisa membongkar rencana kita.”

“Lho, kenapa marah-marah? Kau sendiri tidak bertanya dulu, lagi pula aku kan tidak bilang apa-apa ke siapa pun.” Park Jungsoo terdiam sebentar, lalu berkata, “Malam ini jam tujuh kau harus ke rumah Hyuk-Jae Hyung. Ada yang ingin dibicarakan. Mengerti?”

Wajah Taeyeon berubah kesal, tapi ia berkata, “Ya, ya, mengerti. Tapi rumahnya di mana?”

Taeyeon mengeluarkan secarik kertas dan bolpoin dari dalam tasnya. Setelah mencatat alamat Lee Hyuk-Jae seperti yang disebutkan Park Jungsoo, ia menutup ponsel dan mendapati Hyo-Yeon dan Gikwang sedang memerhatikannya.

“Dari siapa?” tanya Gikwang.

“Teman,” sahut Taeyeon ringan sambil tersenyum kecil.

“Makanannya sudah dipesan?”

Jungsoo menutup ponselnya sambil melamun.

“Kau sudah memintanya datang ke tempatku nanti malam?” tanya Lee Hyuk-Jae membuyarkan lamunannya.

“Sudah,” jawabnya pelan.

“Kau juga nanti malam jangan datang terlambat,” kata manajernya sambil mengenakan jas.

“Ayo, kita pergi makan siang. Mau makan apa?”

Hyung,” panggil Jungsoo tiba-tiba.

“Apa?”

Hyung pernah mencari informasi tentang Han Taeyeon-ah. Apakah Hyung sudah mengecek dia punya pacar atau tidak?”

“Memangnya kenapa?”

“Tadi ketika aku meneleponnya, dia sedang bersama laki-laki. Kalau memang dia punya pacar, pacarnya bisa tahu soal kita.”

Lee Hyuk-Jae berpikir. “Nanti malam kita bisa menanyakannya langsung pada Taeyeon-ssi. Ayolah, kita pergi makan dan setelah itu kau harus bersiap-siap untuk wawancara.”

“Jadi kau sudah mengatakannya pada wartawan?” tanya Taeyeon sambil menjepit sepotong daging panggang dengan sumpit dan memasukkannya ke mulut. Mereka bertiga—Park Jungsoo, Lee Hyuk-Jae, dan dia sendiri—sudah berkumpul di apartemen Lee Hyuk-Jae yang besar dan

mewah. Ketika Taeyeon datang, kedua laki-laki itu baru akan mulai memanggang daging. Hyuk-Jae berkata makan malam ini adalah ucapan terima kasihnya atas bantuan Taeyeon.

“Kau bisa baca sendiri beritanya di koran,” sahut Park Jungsoo sambil membolak-balikkan potongan daging di atas panggangan. Taeyeon meringis, lalu menoleh ke arah Lee Hyuk-Jae yang sedang meneguk soju.

“Paman tidak makan?” tanyanya ketika melihat pria itu tidak memegang sumpit.

Lee Hyuk-Jae meraih sumpit dan berkata, “Taeyeon-ahssi…”

“Kalian boleh memanggilku Taeyeon saja,” Taeyeon menyela dengan cepat dan memandang Lee Hyuk-Jae dan Park Jungsoo bergantian. Park Jungsoo mendengus pelan, tapi tidak menjawab.

Lee Hyuk-Jae berdeham dan melanjutkan, “Oke, kalau memang kau tidak keberatan. Taeyeon, sepertinya aku belum pernah bertanya, tapi apa kau punya pacar sekarang ini?”

Taeyeon tersedak mendengar pertanyaan Lee Hyuk-Jae. “Pacar?”

Lee Hyuk-Jae cepat-cepat berkata, “Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi kalau kau memang punya pacar, itu bisa agak menyulitkan. Kau tidak mungkin bisa menyembunyikan hal ini darinya.”

Taeyeon mengangguk-angguk pelan. “Oh,” gumamnya.

“Tenang saja, aku tidak punya pacar.”

“Siang tadi ketika aku meneleponmu, bukankah kau sedang bersama pacarmu?” Park Jungsoo menimpali.

Taeyeon menoleh ke arahnya. “Siang tadi? Aah… dia bukan pacarku.”

“Kedengarannya seperti pacar,” Park Jungsoo bersikeras.

Taeyeon menatap kedua laki-laki itu dengan mata disipitkan.

“Baiklah,” akhirnya ia berkata. Ia meletakkan sumpitnya di meja. “Karena kalian curiga begitu, aku akan mengatakan yang sebenarnya.”

“Dia pacarmu?” tanya Park Jungsoo langsung.

“Bukan,” Taeyeon menegaskan. “Aku dan dia memang pernah berhubungan, tapi hubungan itu sudah berakhir delapan bulan yang lalu.”

“Lalu hubungan kalian sekarang masih baik?” Kali ini Lee Hyuk-Jae yang bertanya.

“Susah mengatakannya,” sahut Taeyeon agak bingung. Ia bertopang dagu dan mengerutkan kening.

“Sebenarnya setelah berpisah, kami tidak bertemu lagi. Kemudian kira-kira sebulan lalu dia mulai menghubungiku. Aku juga tidak tahu apa maunya.”

“Itu artinya dia ingin kembali kepadamu,” kata Park Jungsoo.

“Kenapa kau memutuskan dia waktu itu? Itu juga kalau kami boleh tahu.”

Alis Taeyeon terangkat. “Siapa bilang aku yang memutuskannya? Dia sendiri yang minta putus dariku karena dia tertarik pada wanita lain.”

Kedua laki-laki itu menatapnya dengan pandangan aneh. Apakah pandangan itu disebabkan rasa kasihan? Taeyeon memang merasa dirinya dulu sangat menyedihkan. Pacar yang ia percayai meninggalkannya demi wanita lain.

“Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tidak apa-apa. Waktu itu aku memang sedih, tapi aku bukan tipe wanita yang histeris. Ada banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Banyak sekali…” Merasa canggung telah membicarakan masalah pribadinya pada kedua pria itu, sebelum Taeyeon bisa menghentikan dirinya sendiri, bibirnya terus mengoceh, “Mmm, aku suka mendengarkan musik, suka keripik kentang, bunga, kembang api, hujan, dan bintang. Jadi waktu itu untuk menenangkan diri, aku makan banyak sekali keripik kentang dan aku sering membeli bunga untuk diriku sendiri. Kedengarannya mungkin aneh, tapi perasaanku langsung jadi lebih baik.”

“Lalu kenapa sekarang dia mendekatimu lagi?” desak Park Jungsoo.

Taeyeon mengangkat bahu. “Molla.”

“Mungkinkah dia sudah berpisah dengan wanita yang dulu itu?” tanya Lee Hyuk-Jae.

Taeyeon memiringkan kepala. “Sepertinya belum.”

“Bagaimana denganmu?” tanya Park Jungsoo sambil menatap Taeyeon ingin tahu.

Taeyeon membalas tatapannya. “Bagaimana apanya?”

“Kau masih mengharapkannya?”

Taeyeon terdiam sejenak, lalu ia mengetukkan sumpitnya ke piring dan berkata, “Sudahlah, jangan dibicarakan lagi. Yang penting sekarang aku tidak punya pacar dan tidak akan menyulitkan kalian berdua. Ayo, makan lagi.”

Park Jungsoo masih terlihat tidak puas, tapi kali ini Taeyeon berhasil mengendalikan mulutnya. Bagaimanapun, ia kan baru mengenal kedua laki-laki itu, rasanya tidak nyaman membicarakan masalah pribadinya dengan mereka. Taeyeon berdeham untuk mengalihkan topik, lalu bertanya,

“Lalu rencana selanjutnya apa? Paman akan memotret kami lagi?” Lee Hyuk-Jae menggeleng.

“Tidak. Untuk saat ini kau boleh bersantai dulu. Meski kau harus tetap siap seandainya kami tiba-tiba butuh bantuanmu.”

“Aku mengerti,” ujar Taeyeon.

“Yang jadi bosnya kan kalian berdua.”

“Oh ya, hari Sabtu nanti Jungsoo akan mengadakan jumpa penggemar untuk mempromosikan album barunya,” kata Lee Hyuk-Jae tiba-tiba.

“Kau mau datang?” Taeyeon tersedak dan terbatuk-batuk. Sumpitnya terlepas dari

tangannya dan jatuh ke lantai. Taeyeon memungut sumpit yang jatuh dan mengulurkannya kepada Lee Hyuk-Jae.

“Maaf, sepertinya aku makan terlalu buru-buru,” katanya sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya yang basah karena keringat dingin ke celana jins.

“Tidak perlu rakus seperti itu,” kata Park Jungsoo. Sama sekali tidak membantu.

Taeyeon tidak mengacuhkannya dan bertanya pada Lee Hyuk-Jae,

“Jumpa penggemar? Seperti yang dulu?” Park Jungsoo tertegun menatap daging panggangnya. Ia kaget Taeyeon tahu soal jumpa penggemar terakhir yang dilakukannya sebelum mengambil jeda dari dunia selebriti.

“Tidak, tidak seperti dulu,” Lee Hyuk-Jae cepat-cepat menyela sebelum suasana hati Jungsoo berubah menjadi buruk.

“Kali ini tidak seramai dulu. Kami akan membatasi jumlah penonton. Bagaimana? Kau mau datang?”

“Oh, begitu? Hmmm…” Taeyeon menerima sumpit baru yang diulurkan Lee Hyuk-Jae.

“Aku boleh datang?” Park Jungsoo mendengus dan meneguk soju-nya, rupanya Lee Hyuk-Jae terlambat menyelamatkan situasi.

“Untuk apa kau datang? Memangnya kau termasuk penggemarku?”

“Memang bukan,” jawab Taeyeon terus terang, lalu menjepit daging panggang dan memasukkannya ke mulut. Ia melihat Park Jungsoo menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, seolah menantinya memberi alasan. Entah kenapa Taeyeon merasa tidak nyaman dengan cara Jungsoo memandangnya itu, ia pun berdecak.

“Ya sudah, aku tidak akan datang. Lagi pula aku juga sudah bosan melihatmu. Aneh juga, kenapa teman-temanku begitu menyukaimu ya?”

Jungsoo sudah membuka mulut untuk membalas komentar Taeyeon, tapi Lee Hyuk-Jae buru-buru menengahi, “Jangan begitu. Aku akan memberikan dua lembar tiket untukmu. Datanglah bersama temanmu hari Sabtu nanti. Kau belum pernah mendengar Jungsoo menyanyi,

kan?”

Taeyeon meringis dan menatap Park Jungsoo yang melahap daging panggang dengan kesal.

“Sebenarnya pernah. Di televisi…,” katanya. Setelah beberapa saat Taeyeon memutuskan untuk melunak, “Bagaimana? Aku boleh datang, tidak? Siapa tahu setelah pergi ke acara itu, aku jadi bisa melihat apa yang tidak kulihat selama ini. Siapa tahu nantinya aku jadi bisa mengerti kenapa banyak orang menyukaimu.”

Park Jungsoo menatapnya dan mendesah. “Datang saja kalau kau mau. Tapi jangan macam-macam.”

Taeyeon tersenyum jail, tiba-tiba saja ia merasa menggoda Jungsoo adalah kegiatan yang menyenangkan, dan berkata, “Baiklah, kau mau aku berpura-pura menjadi penggemarmu yang paling fanatik? Aku bisa berlari ke arahmu dan memelukmu kuat-kuat. Lalu menjerit-jerit

memanggil namamu. Jungsoo Oppa! Aku cinta padamu! Itu yang biasanya dilakukan para penggemarmu, kan?”

“Mungkin sebaiknya kau tidak usah datang,” kata Jungsoo sambil meletakkan sumpitnya dengan keras.

“Benar. Jangan datang!”

Taeyeon menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Kau tadi sudah setuju. Tidak boleh ditarik kembali. Lagi pula temanku Kim Hyo-Yeon penggemar beratmu. Aku sudah merasa tidak enak karena harus menyembunyikan masalah ini darinya. Dia sangat ingin mendapatkan tanda tanganmu. Jadi, aku pasti akan mengajaknya ke acara jumpa penggemarmu Sabtu nanti.”

Park Jungsoo hanya bisa menarik napas panjang. “Ya, ya, terserah kau sajalah.”

_TBC_

Advertisements

One thought on “Summmer In Seoul (Chapter 1)

  1. Wah daebak…akhirnya ada ff leeteuk taeyeon…
    Suka banget dg ceritanya…dan tdk membosankan jadi pengen baca terus sampe ending…
    Ditunggu yaa next chapternya min…
    Komawo

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s