[Vignette] Eyeliner Rhapsody

 

eyeliner rhapsody

Author: Ariesy Perdana Putri/namtaegenic (also posted on my old personal blog, Orchidrienne)

Casts:

  • (EXO-M) Byun Baekhyun
  • (Fictional character) Hayden Ahn

©  namtaegenic

.

.

 

Kemeja putih itu seharusnya bisa melengkapi ketampanan Byun Baekhyun. Setidaknya sebelum ayah dan ibunya membuka pintu kamarnya, menyuruhnya bergegas, dan mengatakan bahwa mereka tidak boleh membiarkan keluarga Ahn menunggu lama.

Gerakan membenahi kerah baju yang sudah dilakukan Baekhyun berulang kali itu sempat terhenti sejenak. Ia memandangi kedua orangtuanya itu dengan mulut terbuka.

“Kita makan malam dengan keluarga Ahn?” Baekhyun berniat memperjelas dan sangat berharap kalau ia salah dengar. Tapi kedua orangtuanya mengangguk. Ayahnya bahkan mengetuk-ngetuk jam tangannya, tidak sabar dan tidak ingin melanjutkan percakapan buang-buang waktu ini.

“Kenapa sih, kalian suka sekali melakukan sesuatu dengan mereka? Minggu kemarin Ayah sudah pergi memancing dengan Pak Ahn, dan Bu Foster adalah teman arisan Ibu sepanjang masa. Belum cukup juga?” protes Baekhyun kesal. Ini bukan yang pertama kalinya ia kesal dengan keakraban keluarganya dengan keluarga Ahn.

Tidak, tidak. Baekhyun tidak benci dengan keluarga Ahn. Ia cuma memilih untuk tidak dekat-dekat dengan mereka. Semua ini gara-gara Hayden.

Baekhyun tidak pernah membenci orang lain. Apalagi kalau itu anak perempuan. Tapi perasaan bencinya pada Hayden Kimberly Ahn sudah berada pada titik di mana pemuda itu selalu menghindari semua hal yang berhubungan dengannya.

Hayden itu sebenarnya gadis yang cantik dan menyenangkan. Ia juga pandai bergaul dan ramah pada semua orang. Sampai suatu saat ia dan Baekhyun ikut makan malam bersama para orangtua yang ternyata rekan kerja sekaligus teman lama (dan akrab pula), dan Hayden mendekatinya usai makan malam. Baekhyun masih ingat apa yang diucapkan gadis itu.

“Kau pakai eyeliner?”

Waktu itu Baekhyun mengangguk dan tersenyum, menyangka gadis itu tertarik pada gayanya yang tidak biasa itu. Baekhyun suka sekali mengenakan eyeliner kemana pun ia pergi, kecuali di sekolah. Dan menurutnya gaya seperti itu menyenangkan.

“Kau tidak malu?”

Dan saat itulah Baekhyun tersentak kaget. Hayden mengerutkan dahinya, melipat tangannya di dada, dan tatapannya pada Baekhyun seolah-olah mengadilinya sebagai pemuda paling memuakkan yang pernah ia lihat.

“Malu kenapa?”

“Cowok itu tidak pantas pakai eyeliner. Dan melihatmu memakainya membuatku muak. Orangtuamu tidak pernah melarangmu?”

“Jangan bawa-bawa orangtuaku. Kalau kau tidak suka, itu urusanmu,”

Dan sampai di situ, Baekhyun secara gerilya mengibarkan bendera perang pada gadis itu. Perang dingin. Di mana ia tidak ingin bicara sepatah kata pun pada Hayden. Gadis itu bahkan tidak minta maaf padanya setelah mengucapkan hal itu.

Dan yang membuat Baekhyun menjadi lebih kesal, kedua orangtuanya kerap melakukan hal-hal yang menyenangkan dengan keluarga Ahn. Dan mereka tidak pernah jera menyuruh-nyuruh Baekhyun untuk bergabung. Biar persahabatan mereka terlihat lebih pantas, katanya.

“Byun Baekhyun! Konser rock underground mana yang akan kita datangi?!” Ayah berseru takjub melihat Baekhyun membubuhkan eyeliner-nya banyak-banyak hingga membentuk gaya smoky eyes pada matanya. Penampilan Baekhyun jadi sedikit kontras. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, celana berbahan dasar dan pantovel, tapi matanya begitu gelap gara-gara efek eyeliner. Baekhyun sengaja. Biar saja, biar Hayden Ahn yang sok tahu itu memuntahkan semua makan malamnya begitu berhadapan dengan Baekhyun. Dia kira dirinya siapa, memberi penilaian sepihak pada orang lain.

“Ini smoky eyes, Yah. Ayah jangan protes, nanti kita terlambat,” Baekhyun mengalihkan pembicaraan dan menggandeng tangan kedua orangtuanya agar mereka bergegas masuk ke dalam mobil.

Pak Byun melajukan mobil sambil tak henti-hentinya berkata pada istrinya agar berhenti menceramahi Baekhyun dan mata gotiknya dan mengalihkan perhatian istrinya dengan membicarakan hal-hal remeh seperti menu pasta rekomendasi dari Ahn Hongjae dan sirloin steak andalan restoran tersebut. Baekhyun sudah menyerah memisahkan keluarganya dengan keluarga Ahn, mereka sudah terlalu akrab. Lagipula akan sangat egois sekali jika Baekhyun mematahkan persahabatan itu gara-gara eyeliner.

Mobil diparkir di tempat parkir pengunjung dan Pak Byun menyapa petugas parkir di sana, sementara Bu Kim dan Baekhyun melangkahkan kaki melewati pintu masuk restoran. Bu Kim melambaikan tangan pada Bu Foster dan mereka bertegur sapa dengan riang, seolah-olah acara arisan rutin setiap bulan itu hanya wacana.

Dan Hayden ikut berdiri, memberikan bungkukan hormat pada ibu Baekhyun beserta putranya, meskipun Baekhyun tahu itu hanya basa-basi gadis itu saja, dan mereka duduk. Pak Ahn bertanya soal sekolah Baekhyun dan memberi komentar bahwa Hayden seharusnya mencontoh pemuda itu, meskipun Baekhyun merasa biasa-biasa saja di sekolah. Nilainya memang bagus-bagus, tapi gadis mana pun pasti lebih tertarik dengan cowok humoris dan anggota tim basket daripada cowok pandai macam Baekhyun.

Baekhyun mati-matian menahan untuk tidak mendengus sinis ketika Hayden melemparkan pujian untuknya soal Baekhyun yang mendapat nilai ulangan Fisika tertinggi di antara semua anak kelas tiga di sekolah dan bagaimana para guru selalu memujinya. Gadis ini benar-benar pandai mengambil hati orang tua. Menyebalkan.

“Oh, menurutku Hayden sopan sekali. Karena kalau aku jadi anakmu, Meredith, aku pasti akan menertawakan habis-habisan eyeliner di mata Baekhyun. Anakku ini memang suka pakai eyeliner,”

“Bu, ini smoky eyes,” Baekhyun melirik ibunya dengan kesal. Teganya ibunya meledeknya di depan orang lain.

“Terserah, tapi asal tahu saja, Yngwie Malmsteen masih lebih manusiawi berdandan ketimbang kau, Nak,” komentar Bu Kim dengan tega.

“Siapa sih Yngwie Malmsteen?” gerutu Baekhyun.

“Gitaris keren, aku punya rekaman permainan gitarnya,” Hayden yang menjawab.

“Ada yang bertanya denganmu?” tandas Baekhyun sinis. Bu Kim menendang kaki Baekhyun dari bawah dan pemuda itu meringis sebal.

“Ada yang sedang membicarakan gitaris favoritku sepanjang masa?” Pak Byun sudah mengambil tempat duduk di hadapan Pak Ahn dan mereka ber-high five seperti anak muda. Mereka memesan makanan dan mengobrol dengan seru, membicarakan apa saja. Baekhyun tidak habis pikir kenapa para orangtua ini selalu menemukan topik untuk dibicarakan. Ia sendiri menikmati makannya tanpa repot-repot mengajak Hayden bicara. Padahal gadis itu teman satu sekolahnya.

“Bagaimana kalau kau pesankan puding untuk kita semua? Aku dan Hongjae maniak puding buah dan kami sedang mengenang masa lalu,” Pak Byun menyuruh Baekhyun yang sudah menyelesaikan makan malamnya. Pemuda itu bangkit tanpa berkata-kata, sampai Hayden ikut berdiri.

“Biar kubantu,”

“Aku bisa sendiri,” potong Baekhyun cepat. Ia tidak mau bicara dan tidak ingin punya urusan lagi dengan gadis ini. Paling-paling mulut Hayden sudah gatal sekali mau mengomentari eyeliner Baekhyun yang berlebihan.

“Biarkan Hayden membantumu,” Bu Kim memelototi putranya dan menoleh pada Bu Foster, “anakmu manis sekali, sungguh! Andai putraku punya pacar seperti Hayden,”

“Buuu…!”

“Pudingnya, Baekhyun,” ujar Pak Byun, dan Baekhyun terpaksa melangkah dengan gusar, menuju ke counter puding, diikuti Hayden.

Counter puding terletak di pojok dekat dengan kasir, di mana bersifat swalayan dan pengunjung bebas memilih topping setelah mengambil puding mereka. Restoran yang mereka datangi ini memiliki fasilitas makanan pencuci mulut di mana terdapat satu counter khusus untuk berbagai macam puding. Mereka juga menyediakan pencuci mulut lain khas negara-negara lain seperti cake dan lain-lain. Tapi puding adalah pencuci mulut andalan di sana.

“Hey, Baekhyun,” Baekhyun menghentikan langkahnya. Ia berbelok dan menatap Hayden tajam. “Jangan. Bicara. Denganku,” ujarnya tajam.

“Tapi kau barusan bicara denganku,” sahut gadis itu.  Mereka berdua terdiam. Kemudian Hayden membuka pembicaraan.

“Kurasa kita perlu mencairkan suasana. Tepat setelah makan malam terakhir keluargamu dan aku, kau menganggapku seperti virus influenza. Terus terang saja, aku terganggu,” ujar Hayden sambil memandang Baekhyun.

“Hmph!” Baekhyun tertawa sinis. “Kau terganggu, katamu? Oh, Hayden-girl, jangan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa pun,” sindirnya. Hayden menghela napas. Ia tahu betul maksud pemuda di hadapannya ini.

“Kalau ini tentang komentarku soal eyeliner-mu…”

“Kau sudah tahu. Habis perkara. Sekarang turuti saja skenario ‘persahabatan keluarga yang menyenangkan’ ini dan jangan terlalu banyak drama,” Baekhyun melanjutkan langkahnya ke arah counter puding dan tidak terlalu peduli lagi pada gadis yang mengekornya itu. Sekarang Hayden menahan tangannya.

“Hayden, jangan bikin drama!” desis Baekhyun.

“Aku alergi pada eyeliner,” tiba-tiba Hayden mengemukakan sebuah statement yang cukup membuat Baekhyun terpaku sesaat dan lupa pada puding. Hayden melipat tangannya di dada, ekspresinya sedikit lebih dingin dan lebih angkuh dari yang tadi. Menutupi kekurangan.

“Aku suka berdandan. Tapi tiap kali kugunakan eyeliner, kelopak mataku jadi merah dan gatal, bahkan membengkak. Aku sudah mencoba merek yang berbeda-beda. Hasilnya sama. Dokter bilang aku tidak boleh menggunakan eyeliner lagi,” papar Hayden. Baekhyun jadi memperhatikan kedua mata gadis itu, dan ia baru sadar. Hayden tidak pernah terlihat mengenakan eyeliner. Ia hanya menggunakan bedak tipis dan lipbalm seperti anak sekolah lainnya. Tapi justru karena itulah wajah cantiknya jadi terlihat lebih alami.

“Aku tidak berhenti sampai situ. Aku memaksakan diri. Kukira setelah mencoba dan mencoba, kulitku akan terbiasa dengannya. Tapi tetap saja. Kelopak mataku membengkak hingga mengeluarkan cairan,” Hayden memandang ke arah lain.

“Lalu masalahmu apa? Memangnya kenapa kalau tidak pakai eyeliner? Banyak gadis di luar sana yang cukup puas tanpa eyeliner…,”

“Kim Joonmyun suka gadis yang mengenakan eyeliner. Ia pikir itu sangat cantik dan berkelas. Ia bahkan bilang padaku seperti ini. Hayden, kau cantik dan pandai. Tapi aku benar-benar mengharapkan gadis yang pakai eyeliner untuk jadi pacarku. Jadi kurasa kau mengerti,

Baekhyun membelalakkan matanya. Ternyata Hayden menyukai ketua dewan murid mereka itu dan dengan dangkalnya Kim Joonmyun menolaknya gara-gara hal sepele.

“Kim Joonmyun itu mungkin duta produk eyeliner, makanya ia berusaha mengiklankan produknya,” komentar Baekhyun membuat Hayden tertawa.

“Begitu melihatmu mengenakan eyeliner saat makan malam, aku jadi merasa ditertawakan. Maaf, Byun Baekhyun. Padahal itu bukan salahmu,”  Hayden tersenyum. Baekhyun memandangnya. Bukan dengan tatapan prihatin. Entahlah. Ada sesuatu yang istimewa dari gadis ini ketika ia mengakui kelemahannya. Dan hal itu memberikan Baekhyun suatu sensasi yang menggelitik hingga tangannya bergerak mengacak rambut gadis itu.

“Mungkin Tuhan menciptakanmu agar tetap tampil secara alami. Karena tanpa eyeliner pun kau sudah, err, menawan,” Baekhyun kemudian menjulurkan lidahnya dan wajahnya bersemu. Ia menggaruk tengkuknya. Salah tingkah di depan gadis ini.

“Jadi kita baikan?” Hayden mengulurkan tangannya. Baekhyun tersenyum dan menjabat tangan gadis itu.

“Kutraktir kau puding,” ujar Baekhyun. Hayden tertawa.

“Kau kan, tahu tradisi makan malam bersama ini? Setelah selesai makan, kedua ayah kita pasti akan mengeluarkan dompet dan berebut mempertahankan harga diri mereka dengan saling membayari makanan-makanan tadi. Kau tidak akan menang,”

Baekhyun mendaratkan kecupan di pipi kanan Hayden, membuat gadis itu terpaku untuk beberapa saat. Ia memandang Baekhyun dan pemuda itu menatapnya sambil tersenyum.

“Tidak sekarang. Kita akan makan puding di sini, berdua saja,” ujarnya. Hayden tersenyum lebar.

“Aku boleh pilih topping-nya?” tanya gadis itu.

“Tidak semua topping. Karena kau alergi dengan eyeliner, tolong hindari cairan eyeliner yang mungkin saja termasuk dari pilihan topping yang ada,” gurau Baekhyun. Mereka berdua tertawa terbahak dan ke counter puding untuk memesan beberapa pencuci mulut untuk dibawa ke meja para orangtua itu—-yang hey, ternyata mereka masih saja mengobrol. Dan Hayden sama tidak habis pikirnya dengan Baekhyun soal orangtua mereka yang tidak pernah kehabisan bahan obrolan.

Tapi mungkin mereka sedang merencanakan acara senang-senang berikutnya yang tentunya mengajak Baekhyun dan Hayden.

Dan kali ini Baekhyun tidak akan sekesal tadi.

THE END

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s