The Death Bell [Part 3]

req-phiyun-death-bell

|| Title: The Death Bell || Author: Phiyun || Genre: Romance | Thriller | Misteri | Supranatural | Fantasi || Cast: Jiyeon | Lay || Support Cast : Member Exo ||

Poster Credit:  Laykim Design Poster  (Thank’s ^^)

Privew: Part 1 || Part 2 

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Kebetulan ff ini terinspirasi dari sebuah buku  yang pernah aku baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Aku tak peduli siapa dirimu sebenarnya, karena aku tulus mencintaimu.

~~~ooo~~~

~Privew~

 

Dengan perlahan-lahan tangan yeoja tersebut ia tarik dari gengaman pemuda tersebut.  Setelah terlepas, kemudian jari jemari gadis itu membelai lembut puncak kepala pria tersebut dan berkata.

“Betapa cintanya kau pada gadis ini sampai-sampai kau terjaga di tiap malamnya untuk dirinya. Tapi sayangnya tubuh gadis yang kau cintai ini akan aku gunakan untuk membalaskan dendamku kepada semua namja yang telah membuatku menjadi seperti ini dan pria itu termasuk dirimu juga, Lay-ah…” ungkap gadis itu dan tak beberapa lama gadis itu pun menyeringai menatap wajah Lay yang sedang tertidur pulas.

  ~Privew-end~

~~~ooo~~~

~Pov Author~

Pagi hari pun tiba. Para kawanan burung berkicau riang menyambut sang matahari terbit. Tak berapa lama kemudian seorang gadis terbangun dari tidurnya. Gadis itu tanpa bingung saat dirinya sudah berbaring di sebuah bangsal rumah sakit. Dan saat kedua manik gadis itu melihat sekelilingnya, ia melihat sudah ada seorang laki-laki  yang sedang tertidur pulas di samping ranjangnya.

“Dia pasti sangat lelah.” ucapnya dan kemudian jari jemari Yeoja itu membelai lembut rambut hitam milik pria yang sedang tertidur lelap di atas kursi tepat di sebelah kanannya. Tak berapa lama kemudian, pemuda tersebut terbangun dari tidurnya.

Pemuda itu perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya dan dengan wajah yang terkejut pria itu berkata dengan nada yang sedikit tinggi. “Jiyeon-ah, kau sudah sadar? Apakah kau tahu betapa khawatirnya diriku sepanjang malam ini?” ujar Lay dengan wajah yang cemas  sambil menggengam erat sebelah tangan gadis itu dengan kedua tangannya seraya mengecup lembut punggung tangan gadis tersebut.

Gadis itu lalu membalasnya dengan senyum simpulnya di depan hadapan lawan bicaranya. Dengan suara yang serak Jiyeon menanyakan kepada Lay kenapa dirinya berada di sini. “Lay-ah… kenapa aku ada disini? Bukannya kemarin malam aku tidur di dalam kamarku?” tanyanya.

Lay mulai bingung harus menjawab pertanyaan Jiyeon dengan perkataan apa. Bahkan dirinya sendiri tak yakin dengan apa yang baru saja ia lihat tadi malam, yang telah dilakukan oleh diri wanita yang ia cintai ini.

~Pov Author-End~

~~~ooo~~~

“Lay… Lay-ah…” panggil Jiyeon sambil melambai-lambaikan sebelah tangannya di depan wajah sang kekasih. Seketika Lay pun sadar akan lamunannya saat Jiyeon mulai mengoyang-goyangkan punggung tangannya. “Eh…? Ada apa Jiyeon-ah?” tanya Lay dengan ekspresi wajah yang datar.

Jiyeon menjadi bingung dengan apa yang sudah terjadi pada kekasihnya ini. Kenapa Lay bertingkah laku aneh di depannya. Dengan nada yang pelan Jiyeon  menyanyakan apa yang sudah terjadi saat malam itu. “Lay-ah… sebenarnya apa yang sudah terjadi tadi malam? Kenapa kau terlihat seperti orang bingung, Lay-ah?” kata Jiyeon sambil tetap menggengam erat sebelah tangan Namja Chingunya tersebut.

“Tidak terjadi apa-apa, Jiyeon-ah saat malam kemarin. Kau hanya jatuh pingsan di dapur jadi aku langsung membawamu kerumah sakit.”

“Tapi kau kan bisa membawa tubuhku ke kamarku lagi? Apakah ada sesuatu yang terjadi sebelum kau tiba?” tanya Jiyeon dan langsung di jawab oleh Lay dengan cepat. “Tidak ada yang terjadi yang sedang kau pikirkan itu, Jiyeon-ah. Aku panik saat itu jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit terdekat.” kilahnya.

Mendengar penjelasan Lay, gadis itu merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh kekasihnya namun, pikiran itu langsung dibuangnya jauh-jauh. Karena Jiyeon tak ingin membuat Lay khawatir sehingga gadis itu memutuskan tak akan menanyakan hal itu lagi kepada kekasihnya.

“Ah.. begitu ya. Kalau begitu bisakah aku pulang sekarang? Aku merasa  sudah baik kan jadi aku ingin kembali ke asrama.” tanya Jiyeon.

“Apakah kau yakin? Kau masih terihat pucat, Jiyeon-ah.” kata Lay dengan ragu namun gadis itu membalasnya dengan senyuman simpulnya sambil berkata. “Gwenchana, Lay-ah…”

 

~~~ooo~~~

~Malam hari yang ke-4~

~Di kediaman Lay~

“Lay-ah? Kenapa aku harus bermalam di rumahmu? Nanti bagaimana kalau ayah dan ibumu datang? Lebih baik aku kembali lagi asrama.” kata Jiyeon sambil berjalan ke arah pintu depan, namun sebelum gadis itu sempat membuka pintu tersebut. Lengan gadis itu sudah diraih oleh Lay, sehingga Jiyeon mau tak mau menghentikan langkah kakinya.

“Lay-ah… sebenarnya apa yang telah terjadi? Katakanlah padaku? Apakah kau tahu tingkah lakumu sangat aneh seharian ini.” ucap Jiyeon, tapi Lay tetap bungkam. Pria itu tetap diam seribu bahasa.

Tiba-tiba Lay langsung menarik tubuh Jiyeon ke dalam pelukannya. Jiyeon semakin bingung dengan apa yang sudah terjadi kepada kekasihnya, Lay. “Lay-ah… sebenarnya apa yang sudah terjadi? Katakanlah padaku.”

Namun balasan dari Namja tersebut hanya gelengan kepala. Tak lama kemudian Lay pun berkata. “Kumohon, malam ini menginaplah di sini. Aku ingin malam ini kau menemaniku, Jiyeon-ah. Kumohon hanya malam ini, tidurlah bersamaku.” ucapnya dengan suara yang serak. Mendengar perkataan Lay yang barusan saja,  tiba-tiba membuat jantung Jiyeon berdegub dengan kencang bahkan gadis itu tanpa sadar membelalakan kedua matanya dengan lebar tampa mengedipkan mata untuk beberapa menit.

~~~ooo~~~

~Pov Lay~

Dia pasti berfikiran macam-macam kepadaku, saat aku mengatakan perkataan semacam itu kepadanya. Tapi tak ada cara lain agar ia tetap merada di sampingku. Aku tak ingin sesuatu terjadi kepada dirinya. Aku akan melindungimu, bagaimanapun caranya. Karena aku mencintaimu dan tak akan kubiarkan hal semacam itu kembali lagi menimpamu.

~Pov Lay-End~

~~~ooo~~~

Di dalam kamar yang tak terlalu luas sudah ada seorang Namja yang telah duduk  di atas ranjang. Pria itu sedang asik membaca sebuah buku di atas tempat tidurnya. Sesekali tatapan mata pria itu menatap kearah gagang pintu kamar mandi yang tak jauh dari depan pintu kamar tidurnya. Tak berapa lama kemudian keluarlah seorang gadis dari dalam kamar mandi dengan mengenakan baju tidurnya yang berwarna putih gading.

 

Gadis itu lalu menutup depan pintu kamar mandi tersebut dengan ragu. Setelah pintu kamar mandi itu telah tertutup tiba-tiba suasana di dalam ruangan tersebut menjadi canggung. Gadis itu tetap berdiri di depan pintu kamar mandi sambil tetap menundukan kepala.

Sang pria pun lalu menutup buku yang sedang ia baca dan kemudian memanggil sang gadis untuk berjalan menghampirinya. Meskipun merasa risih tapi sang Namja, tetap tersenyum saat memanggil kekasihnya.

“Jiyeon-ah… kemarilah.” kata Lay sambil memukul-mukul samping ranjangnya.

“Eh..? Nde…” Jiyeon sempat kaget saat Lay menyuruh dirinya berjalan menghampirinya. Gadis itu tetap diam mematung di tempat ia berdiri. Gadis itu sama sekali tak menggeserkan langkah kakinya sama sekali.

Lalu Lay pun berdiri dari atas ranjangnya dan kemudian berjalan ke arah Jiyeon. Lay dapat melihat betapa gemetarnya tubuh mungil gadis itu. Dengan lembut kedua tangan Namja itu lalu menggegam kedua pundak Jiyeon dan berkata.

“Jiyeon-ah… aku tak akan melakukan hal yang tak sopan kepadamu, jadi percayalah padaku.”

“Tapi…” gadis itu menjawab dengan suara yang gugup tanpa berani menatap kedua mata pasangannya.

“Aku melakukan ini semua karena suatu alasan. Jadi kumohon percayalah padaku.”

“A-alasan apa?” sontak gadis itu langsung menegadahkan kepalanya dan tak sengaja kedua mata mereka saling berpaut, namun keadaan itu tak berlangsung lama karena Jiyeon buru-buru menundukan kepalanya kembali.

Dengan perasaan yang berat akhirnya Lay pun membalas pertanyaan Jiyeon. “Apakah kau mau  melakukannya bila aku mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu?” balasnya sambil menghela napas yang berat dan gadis itu pun menatap kembali kedua manik lawan bicaranya dengan kedua matanya yang membulat lebar.

~~~ooo~~~

“Jadi kejadiannya seperti itu?” kata Jiyeon dan dibenarkan oleh Lay dengan anggukan kepalanya.

“Memangnya apa lagi? Aku hanya takut kalau aku tinggalkan kau tidur sendiri lagi nanti kau akan melakukan hal konyol semacam itu lagi malam ini.”

“Lay-ah… kau tak perlu khawatir, aku tak akan melakukan hal semacam itu lagi.” balas Jiyeon sambil menyentuh lembut wajah Lay dengan sebelah tangannya.

“Jiyeon-ah… jangan lakukan hal semacam itu lagi ya.” ucap pria tersebut dan langsung di balas oleh Jiyeon dengan anggukan kepalanya.

~~~ooo~~~

~02:00 AM~

Jiyeon dan Lay sudah tertidur dengan lelap. Jiyeon tidur begitu nyeyaknya di dalam dekapan kekasihnya Lay. Tak berapa lama kemudian gadis itu mendengar suara sayup-sayup deringan suara lonceng yang mendayu-dayu.

“Cring…cring…cring…”

Jiyeon tiba-tiba merasa sesak saat suara gemerincing lonceng itu semakin kencang di gendang telinganya. Saat kedua mata Jiyeon terbuka, tubuh gadis itu pun kaku dan bibirnya tertutup rapat. Ia sama sekali tak bisa menggerakkan seluruh anggota badannya bahkan ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Kedua matanya hanya dapat  menatap lekat-lekat wajah Lay yang sedang tertidur lelap di sisinya. Tiba-tiba Jiyeon merasakan sesuatu benda asing yang menjalar di dalam tubuhnya dan kemudian benda asing itu mulai menusuk – nusuk dengan kasar  semua organ tubuhnya dan seketika itu Jiyeon jatuh tak sadarkan diri.

~~~ooo~~~

~05:00 AM~

Beberapa jam kemudian Lay terjaga. Ia terbangun saat Jiyeon sudah tak ada disampingnya. Dengan mata yang masih berat Pria itu lalu berjalan ke arah depan pintu kamar mandi.

“Tok…tok…tok…”

Hampir beberapa menit Lay mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada balasan dari dalam. Lay yang saat itu masih mengantuk tiba-tiba membuka kedua matanya dengan lebar. Lay mulai merasakan sesuatu hal yang aneh yang telah terjadi kepada Jiyeon. Lalu Lay mengetuk kembali depan pintu kamar mandinya.

“Jiyeon-ah… Park Jiyeon… Apakah kau ada di dalam?” tanya Lay tapi tetap saja tak ada balasan dari dalam. “Jiyeon-ah apakah kau baik-baik saja?” tanya Lay lagi namun kali ini dengan suara yang sedikit ditinggikan tapi tetap saja tak ada tanggapan dari dalam.

“Jiyeon-ah… aku masuk ya.” dengan perlahan-lahan Lay memutar pedal pintu kamar mandi dan mendorongnya. Betapa kagetnya Lay saat dirinya melihat ke dalam kamar mandinya. Yang ternyata sedari tadi tak ada seorang pun yang ada di dalam sana. Dan tiba-tiba terdengar suara bising dari luar kamarnya.

“Bruukkk!!!”

Sontak pria itu langsung berlari kencang menuju asal bunyi suara tersebut. Kedua matanya menatap fokus keseluruh sudut ruangan ruangan dan kedua matanya sibuk mencari dari mana asal muasal suara aneh tersebut.

Tiba-tiba langkah kaki pria itu terhenti saat melihat ke arah depan pintu rumahnya. Kedua mata Namja itu menatap sosok gadis yang tak sadarkan diri sedang tergelepar tepat di depan pintu rumahnya dengan pakaian penuh bercak darah.

“Jiyeon-ah… Park Jiyeon!!!” teriak Lay sambil berlari ke arah gadis tersebut. Tubuh gadis itu lalu  digoncangkannya dengan kencang agar gadis tersebut terbangun, namun sepertinya percuma karena gadis itu tetap tertidur pulas.

Kemudian Lay langsung berlari keluar untuk melihat apakah ada seseorang yang terluka atau lebih parahnya apakah ada seseorang yang sudah terbunuh tepat di depan pintu rumahnya. Tapi saat Lay melihat keadaan depan rumahnya. Tak ada satu orang pun yang melintas dengan cepat Lay langsung menutup pintu rumahnya dan menguncinya.

Lay masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi kepada Jiyeon. Kenapa gadis itu tetap tertidur pulas dan kenapa juga pakaian yang dikenakan penuh dengan bercak darah.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi kepadamu, Jiyeon-ah.” lirihnya seraya menatap sendu kearah gadis yang amat ia cintai tersebut.

  ~~~ooo~~~

~Di pagi harinya~

Cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah fentilasi. Burung pun mulai berkicau merdu menyambut sang matahari dan suara kicauan burung pipit tersebut membangunkan tidur pulasnya Jiyeon. dengan perlahan-lahan Jiyeon mulai membuka kedua matanya dan setelah kedua matanya terbuka sempurna, gadis itu menyadari kalau dirinya sedang berbaring sendirian di atas ranjang.

Jiyeon kemudian bangun dari atas tempat tidur dan ternyata Lay sudah ada di depannya yang sedang duduk di atas sofa panjang yang tak jauh dari tempat Jiyeon berdiri.

“Lay-ah… kau sudah bangun?” kata Jiyeon sambil berdiri dari atas kasur dan gadis itu kaget saat dirinya sudah menggunakan piyama yang tadi malam Lay kenakan. “Kenapa, aku memakai baju tidurmu?” tanya Jiyeon dengan nada yang sedikit bingung. Dia sama sekali tak ingat apa pun saat malam itu. “Apakah, ada sesuatu lain lagi yang telah terjadi saat aku tertidur?” tuturnya dengan suara yang bergetar.

Lay masih diam terpaku seraya menatap kearah Jiyeon dengan mata elangnya. Jiyeon menjadi kikuk. Dia bingung dan merasa risih saat Lay menatap dirinya tanpa suara. Tak lama kemudian pria itu berkata. “Pakaianmu ada di bawah kolong tempat tidur.” kata Lay dingin dan gadis itu langsung berlari melihat bajunya yang ada dibawah kolong tempat tidur.

Jiyeon tersentak kaget. Gadis itu bahkan berteriak tanpa suara saat melihat baju yang ia kenakan tadi malam sudah penuh dengan lumuran darah. Kedua mata Jiyeon mulai memanas dan tubuhnya pun langsung roboh sambil tetap menggengam bajunya yang penuh dengan bercak darah.

“I-ini darah… Mungkinkah a-aku…” belum sempat Jiyeon menyelesaikan ucapannya Lay langsung memotongnya.

“Apakah kau ingat, kalau semalam kau keluar?”

“Ti-tidak… aku tak keluar.” ungkap Jiyeon dan kemudian Lay langsung menghidupkan televisi tepat dihadapan gadis tersebut.

Jiyeon menatap layar televisi tanpa suara. Gadis itu sama sekali tak mengerti dengan apa yang teah terjadi pada dirinya belakangan ini. Jiyeon mendengar berita dari media elektronik tersebut dengan seksama. “Malam tadi ditemukan lagi dua sosok mayat laki-laki yang tak jauh dari tempat kejadian satu sama lain. Korban kali inipun tewas dengan patah tulang leher dan tubuhnya banyak cakaran yang cukup dalam. Diduga tersangka kali ini sama persis dengan korban-korban sebelumnya.”

Belum selesai berita itu ditayangkan tiba-tiba Lay mematikan layar televisi tersebut. “Kim Jongin dan Oh Sehun, mereka berdua adalah temah kuliahku.” kata Lay dengan suaranya yang serak. Apakah kau mengenal mereka? Tambahnya namun tiba-tiba Jiyeon langsung berjalan menjauhi Namja yang ada di hadapannya.

“Lay-ah… apakah kau berfikir kalau aku yang telah membunuh teman-temanmu.”

“Bu-bukan seperti itu Jiyeon-ah… aku hanya…”

“Kau pasti berpikir kalau aku pembunuhnya kan! Sudahlah kau jangan berbohong lagi padaku!!!” teriak Jiyeon histeris dalam tangisnya.

Gadis itu  langsung berlari ke arah depan pintu untuk keluar namun belum sempat ia lakukan Namja itu sudah memeluk belakang punggung Jiyeon.

“Aku tak peduli siapa dirimu, Jiyeon-ah. Aku tak peduli meskipun kau itu adalah seorang pembunuh berantai sekalipun aku tak peduli!!! Karena aku mencintaimu.” ujarnya sambil mempererat dekapannya. Jiyeon hanya dapat terpaku saat mendengar perkataan yang baru saja di katakan oleh Lay. Air mata gadis itu pun tumpah dan jatuh begitu saja di kedua pipinya.

“Aku percaya bukan kau yang melakukannya, pasti ada sesuatu dibalik semua ini. Aku akan melindungimu, Jiyeon-ah.”

-TBC-

~~~ooo~~~

Annyeonghaseo Yeorobun, ketemu lagi dengan Phiyun disini, hehehe 😀

Maap ya kalau aku update kelanjutan FF ini rada lama n sepertinya FF ini akan aku perpanjang jadi gak sampe part 3 mungkin lebih dari 5. Soalnya masih banyak misteri yang belum terungkap jadi maapkan daku ya yang harus memperpanjang part untuk FF ini.

Maap juga kalau ada kata yang typo’s bertebaran dimana – mana saat membacanya, maklum mimin juga manusia biasa, hehehe 😀

Oh iya, bagaimana ceritanya menurut kalian? Aku harap kalian semua menyukainya ya 🙂

Jangan lupa RCL-nya ya, karena komentar dari readers semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam membut fanfic selanjutnya.

See you next chapter berikutnya…

Gomawo ^^

Advertisements

23 thoughts on “The Death Bell [Part 3]

  1. cara lay ga berhasil lagi huhuhu
    jiyi diiket aja siapa tau dia jadi gabisa kemana2 dan ketauan siapa dibalik semua itu, kan itu temannya lay lagi yg meninggal, berapa banyak korban lg yg akan jatuh kasian jiyi kalo sampe ada yg liat gimana kasian jiyi jd kena sasaran aigoo 😦
    ditunggu ya kelanjutannya ini ceritanya makin seru dan bikin penasaran euy

    Liked by 1 person

    • Ditunggu aja ya dear, kelanjutannya. nanti di part selannjutnya pasti bakalan perlahan-lahan terkuak siapa jati diri arwah tersebut.
      makasih yah dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

    • Yap disini masih banyak yang belum terungkap, makanya miminnya berencana manjangin partnya lebih dari 5, ditunggu aja ya kelanjutannya
      Makasih dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s