BLIND – CHAPTER 8

Blind

Author : IRISH

Tittle : Blind

Main Cast :

EXO Oh Sehun, Kim Jongin, OCs Lee Yookyung, Kang Sooyeon

Genre : Fantasy, School-Life, Romance

Rate : PG-16

Lenght : Chapterred

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Yookyung terbangun saat mendengar teriakan di dekatnya. Yeoja itu segera melonjak kaget. Dan terkesiap saat ada dua ekor serigala di dekat mereka.

Sial! Mereka werewolves! Dan pasti daerah ini milik mereka! Aku harus.. batas.. batas daerah.. pohon besar.. tinggi.. ah! Itu!

Yookyung segera berlari, tapi langkahnya terhenti. Ia memandang orang-orang yang berlarian di belakangnya, mencari sosok Sooyeon.

“Yeoja itu..”

Yookyung berbalik, berlari ke arah batas yang sudah Ia kenal. Pohon besar dan tinggi. Tanda perbatasan wilayah werewolves. Setidaknya Ia akan aman di daerah itu. Yookyung terus berlari, mengabaikan rasa sakit yang mengerambati kakinya, Ia berhenti di pohon besar itu. Mengelilingi pohon itu, mencari tanda yang dulu pernah Sehun ajarkan padanya.

“Yeol.. Park.. Chan.. Andwae. Ini bukan batas milik Sehun!”

Yookyung memandang sekitarnya, mencari pohon lain, batas lain. Dan tatapan nya terhenti pada dua pohon. Satu di arah kanan nya, dan satu di arah kirinya.

“Yang mana.. Sehun-ah.. Yang mana wilayahmu..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kita terlambat..”

Sehun segera mengitari sekitarnya, menyernyit saat mencium bau anyir di dekatnya. Berusaha mengabaikan ketidak nyamanan nya karena mayat yang bergelimpangan di dekatnya.

“Whoah.. Banyak sekali bangkai disini..”, ucap Chanyeol, terkesima memandang sekitarnya.

“Coba saja kita datang lebih awal, mungkin kita bisa dapat bagian,”, ucap Baekhyun, tertawa pelan

“Hyung!”, sergah Sehun kesal

“Arra arra. Maaf.”, ucap Baekhyun, menyunggingkan senyumnya.

“Tidak ada sedikitpun darah Sooyeon disini..”, ucap Sehun akhirnya, namja itu memejamkan matanya, berusaha menemukan sedikit jejak Sooyeon.

“Hey, dia mirip dengan yeoja manusia yang dulu dikenal Sehun.”

Ucapan Chanyeol segera membuat konsentrasi Sehun buyar. Namja itu melangkah cepat, mendatangi sosok berlumuran darah yang tengah di pandangi oleh Chanyeol dan Baekhyun. Sehun memandang sosok itu, kemudian menggeleng.

“Tidak. Dia bukan Yookyung..”, ucap Sehun, tapi kemudian namja itu terkesiap

“Tunggu! Jika Yookyung tidak disini.. Sooyeon.. Sial! Aku harus menemukan mereka berdua!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

Aku berjalan menyusuri hutan, kemana aku harus mencari Sehun? Ah. Aku tau. Aku menyelipkan pisau dan senter di pinggangku, lalu aku memanjat naik ke sebuah pohon. Pohon yang sangat besar dan tinggi. Entah berapa usia pohon ini, apa pohon ini kuat menahan bobot tubuhku.

Kurasa pohon ini cukup kuat. Terbukti dengan bagaimana aku bisa sampai di dahan yang cukup tinggi. Aku memandang berkeliling, berusaha menemukan cahaya lain di tengah hutan gelap ini.

Gelap? Tentu saja.

Aku sudah berjalan seharian. Menahan rasa lapar dan haus yang sangat mencekik ku seharian ini, terutama saat matahari dengan teriknya memamerkan cahayanya. Aku tidak berani mengambil resiko dengan meminum air dari sungai yang ku temukan. Bisa saja bahaya ada disana. Dan aku harus meminimalkan resiko bahaya mengancam nyawaku.

Ahh. Ada cahaya lain, ke arah timur dari tempatku sekarang. Baiklah. Aku hanya tinggal berjalan kesana. Mungkin saja itu Sehun kan? Walaupun jaraknya lumayan jauh, aku harus mencobanya.

Aku bergerak untuk turun, dan melangkah cepat ke arah timur.

Entah sudah berapa lama aku berjalan, tapi kurasa mencapai titik cahaya itu tidak semudah yang aku bayangkan. Aku berhenti saat tubuhku benar-benar tidak mau digunakan untuk berjalan lagi. Aku mencari pohon yang cukup kuat dan tinggi. Dan aku kembali memanjat pohon. Pohon ini hampir mirip dengan pohon yang pertama ku panjat. Besar dan tinggi. Tampak tua dan rapuh. Tapi nyatanya pohon yang kuat.

Tunggu. Ada sesuatu yang berbeda. Kemana cahaya itu tadi? Cahaya itu sudah lenyap. Entah mungkin aku sudah melewatkan nya, atau memang cahayanya padam. Tidak. Tunggu..

Aku melemparkan pandangan ke arah barat, tempat aku tadi datang. Mencari siluet pohon besar dan tinggi. Chakkaman.. Jika aku tidak salah.. Seharusnya cahaya itu ada di.. itu! Benar! Beberapa jajaran pohon kecil yang membentuk lingkaran tidak simetris. Tidak jauh di depanku. Benar. Aku hanya perlu turun dari pohon ini dan ke tempat itu. Sedikit lagi.

Aku terkesiap saat mendengar suara serigala. Bersahut-sahutan. Aku tidak pernah berusaha bertahan hidup di hutan seperti ini, apalagi sendirian. Tapi dalam keadaan seperti ini.. Aku tidak lagi mengingat jalan kembali ke tepi danau. Aku sudah tersasar begitu jauh. Tidak ada jalan lain.

Sehun lah satu-satunya harapan keselamatanku. Aku duduk di dahan yang cukup besar, meluruskan kakiku, dan aku mengeluarkan tali dari dalam tasku. Melingkarkan nya di dahan pohon dan kakiku. Akan lebih aman jika tidur di atas dahan di saat seperti ini. Berada di bawah hanya akan membuatku menjadi sasaran hewan buas. Dahan ini cukup tinggi, dan ku harap tidak akan ada hewan buas yang menyerangku malam ini..

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku terbangun. Apa ini pagi? Atau sudah hampir malam lagi? Aku tidak melihat matahari terbit. Tapi aku melihat dengan lebih jelas sekarang. Aku menatap sekelilingku, memastikan bahwa aku masih berada di tempat yang sama dengan semalam, lalu aku melepaskan tali yang ku pasang di kaki dan dahan pohon. Merapikan nya, memasukkan nya ke dalam ransel.

Aku kemudian berdiri, memandang berkeliling lagi. Tatapanku terhenti pada siluet bangunan besar yang terlihat di arah timur, begitu jauh. Tapi tempat itu tampak seperti kastil. Sangat terlihat tua. Tempat apa ini sebenarnya?

Aku melemparkan pandanganku ke jajaran pohon kecil melingkar itu. Apa orang yang ingin ku temui semalam masih ada disana? Molla. Bisa saja Ia / Mereka pergi sebelum aku terbangun. Atau malah pergi saat aku dalam perjalanan ke arah mereka.

Aku berusaha menemukan tempat lain. Dimana tempat yang mungkin bagiku untuk menemukan Sehun? Aku kembali duduk, dan aku berusaha memikirkan rencana untuk bertahan hidup setidaknya untuk hari ini.

“Sudahkah kau menyerang semuanya?”

Aku terkesiap. Ku lemparkan pandanganku ke bawah, memandang dua orang yang ku kenal. Chunji dan teman nya, Byunghun. Mulutku sudah terbuka untuk berteriak memanggil mereka, tapi kemudian aku terhenti. Kenapa mereka berdua disini?

“Aku sudah menghabisi 23 dari mereka yang bertanggal dan bulan lahir genap. Hanya tinggal 9 orang lagi. Hah. Mangsa semalam sangat mudah untuk di lenyapkan. Tanpa teriakan. Tanpa tangisan. Jika saja mangsaku sudah tergenapi, dia mungkin ku jadikan salah satu dari kita..”

“Dan kau mau membawanya menghadap King?”

Chunji tertawa pelan.

“Ya. Calon yang baik untukku kan? Hah. Sayang sekali dia tidak beruntung.”

WHUSH!

Aku terpaku saat mereka berdua berubah menjadi serigala. Apa mereka.. sama seperti Sehun? Tapi yang mereka bicarakan..

Menghabisi 23 orang? Apa Chunji membunuh.. tunggu. Bertanggal dan bulan lahir genap. Apa aku masuk dalam hitungan? Aku juga lahir di tanggal dan bulan genap. Apa Chunji juga ingin membunuhku?

King? Siapa yang mereka bicarakan? King adalah raja kan? Apa di bangsa mereka juga ada pemimpin? Apa King itu juga akan berniat seperti Chunji? Atau baik seperti Sehun?

Badanku gemetar. Beruntunglah aku karena tidak berteriak memanggilnya. Aku memandang ke arah perginya Chunji dan Byunghun. Memastikan mereka sudah jauh dengan melihat pergerakan dahan yang mereka lewati. Semakin jauh aku dari mereka.. Aku akan semakin bisa bertahan hidup.

Kemana aku harus pergi sekarang?

Aku memandang ke arah burung pipit yang tampak berterbangan jauh di depanku. Mereka seolah tampak berlarian, mengejar satu sama lain.

“..Aku hanya suka mendengar suara burung-burung kecil itu. Bahkan aku tinggal di tempat yang banyak burung nya.”

Tunggu. Apa mungkin Sehun.. Benar. Tidak ada salahnya mencoba. Aku melangkah turun, walaupun dengan menahan rasa sakit di lengan kiriku. Kurasa luka itu bertambah parah. Ish. Aku bisa mengobatinya nanti.

Aku memandang ke hutan lurus di depanku. Hewan buas apa yang mungkin ada disini? Selain serigala? Harimau? Singa? Aish.. Ular? Sudah pasti. Beruang? Aigoo.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Sudah berapa jauh aku berjalan? Sudah amankah tempat ini?”, Yookyung bicara pada dirinya sendiri, memandang sekitarnya.

Ia tau benar bahaya yang ada di sekitarnya, dan yeoja itu juga berusaha melangkah menghindari tempat-tempat bahaya tersembunyi itu. Ia melangkah menghindari bebatuan, menghindari akar, ataupun dahan yang menjuntai.

Langkah Yookyung terhenti di sebuah pohon. Pohon besar yang Ia putuskan untuk di datanginya kemarin.

“Baek.. Hyun.. Aish! Ini bukan milik Sehun..”, gerutu yeoja itu, Ia terduduk di bawah pohon itu, bersandar, berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar.

“Bodoh.. Seharusnya aku tau hal seperti ini akan terjadi lagi..”

Yookyung memandang ke langit. Walaupun pemandangan langit tidak begitu tampak karena tertutup dahan-dahan tinggi. Yookyung menghembuskan nafasnya kesal.

“Kenapa harus seperti ini.. Sehun-ah.. Apa kau akan menyelamatkanku?”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Tentu aku harus membuatnya berada di tempat yang aman.”, ucap Sehun

“Arraseo. Tapi kau akan mencari yang mana dulu? Yookyung? Atau Sooyeon? Aku tidak berpikir dua orang itu berada di tempat yang sama.”, ucap Baekhyun

Sehun terdiam.

“Ya. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Itulah kenapa kau tidak boleh jauh dariku.”

“Aku berjanji aku akan melindungi Sooyeon..”, ucap Sehun, kemudian Ia kembali terdiam.

“Aku tidak akan membiarkan satu hal pun menimpamu, aku bersumpah aku akan selalu menyelamatkanmu saat kau berada dalam bahaya..”

“Tapi aku juga tidak bisa untuk tidak melindungi Yookyung..”

Baekhyun tergelak.

“Baiklah, sekarang aku heran bagaimana kau bisa memberatkan nyawa dua orang ini.”, ucap Baekhyun

Sehun menatap dua orang di depan nya.

“Entahlah.. Nyawa mereka berdua.. aku tidak bisa membiarkan mereka dalam bahaya. Aku yang membuat mereka terlibat dalam hidupku.. itu artinya aku harus bertanggung jawab untuk melindungi mereka..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

Matahari sudah meninggi. Dan badanku lagi-lagi merasa lelah. Tentu saja. Aku tidak makan apapun. Apa yang terakhir ku makan? Salad. Hanya itu. Kurasa harusnya kemarin aku makan daging saja daripada salad. Tsk..

Mengingat daging membuatku teringat pada Yookyung lagi. Dan hubungan nya dengan Sehun.

Aish. Betapa mengganggunya.

Keundae.. Apa sekarang Yookyung baik-baik saja? Mengingat ucapan Chunji.. Apa Chunji sudah menemukan mereka? Bodoh. Bodoh. Sial. Aku tidak bisa berhenti khawatir pada keadaan Yookyung.

Seharusnya kau khawatir pada keadaanmu sendiri Sooyeon. Benar.

Aish. Tidak bisa.

Aku mengenal Yookyung, dan membuatku tidak bisa untuk mengabaikan nya. Bahkan aku tidak sanggup membayangkan jika Ia.. terbunuh.

Aku bukan seseorang yang tega untuk berpikir seperti itu. Bahkan jika aku sangat sangat sangat cemburu padanya karena Ia dekat dengan Sehun. Dia tidak mengenalku sebelum ini. Dan kurasa.. Ia tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Maksudku.. Aish. Lupakan. Masalah ini tidak bisa menyelamatkan hidupku yang sekarang masih terancam.

Aku menghentikan langkahku di bawah sebuah pohon. Memandang sekitarku. Pohon-pohon disini bukanlah jenis pohon yang buahnya akan aman untuk ku makan. Air? Baiklah. Mungkin air bisa setidaknya memperpanjang masa ku. Sebelum aku pingsan karena dehidrasi dan tidak terbangun lagi karena menjadi korban Chunji.

Aku menghentikan langkahku di bebatuan pinggir sungai yang ku temukan. Membasuh wajahku, setidaknya membuatku kembali sadar tentang dimana aku berada. Sejuknya air di sungai ini membuat ku ingin sekali menceburkan diri ke dalamnya, membasahi seluruh tubuhku. Membuat setiap sel di dalam tubuhku terjaga. Tapi.. Tidak. Tidak di saat seperti ini.

Aku menangkupkan tanganku, bergerak untuk meminum air, tapi kemudian aku terhenti saat melihat.. jari! Dengan gemetar aku terhuyung mundur, bersembunyi dengan cepat di balik sebuah pohon. Bahaya mungkin sedang mendekatiku.

Aku terpaku saat melihat dua sosok mengapung di air. Berpakaian lengkap. Dan aku.. mual. Apa mereka mayat? Dan berapa lama mereka terapung di air? Darah mereka.. dan jari itu.. Beruntunglah aku karena tidak meminum air dari sungai itu.

Aku menutup mulutku, segera berlari menjauh. Aku tidak ingin muntah. Sangat tidak lucu jika aku muntah walaupun—

Bagus. Aku benar-benar muntah. Tidak ada apapun keluar selain air. Aku yakin semua yang ku makan sudah hancur. Dan menyisakan air. Aku menyandarkan kepalaku di pohon. Aku tidak ingin mati di tempat ini.. Tidak..

Aku harus terus berjalan. Menemukan Sehun. Menyelamatkan diriku. Aku berjalan cepat, mendekati sebuah pohon yang besar. Tidak sebesar pohon sebelumnya yang ku panjat. Tapi setidaknya aku yakin pohon itu akan kuat untuk menahan bobot tubuhku.

Aku terkejut saat mendengar suara serigala. Terdengar begitu keras dan dekat. Bahaya. Ini bahaya. Aku berdiri, hendak bergerak untuk memanjat pohon. Aku harus menyelamatkan diriku. Aku semakin gemetar saat suara gemeresak mendekati tempatku. Aku berusaha melawan rasa sakit di lenganku, dan aku memanjat pohon di depanku.

Aku mengeluarkan tali dan pisau lipatku. Aku biasa menggunakan tali ini untuk bisa saling berhubungan dengan teman setim ku saat mendaki. Tapi saat ini? Kurasa tali ini akan berguna untuk membantuku berpindah pohon.

Aku melemparkan jangkar kecil yang sudah terikat di tali itu. Lalu memandang ke jajaran pohon di dekatku. Aku mencari pohon yang sejajar tingginya, dan satu pohon yang lebih tinggi.

Dapat!

SRAK!

Aku melemparkan jangkar kecil itu dan membuatnya berputar membentuk pola mati di pohon itu. Cukup jauh dari tempatku sekarang.

“Sooyeon-ah! Apa yang kau lakukan disana?”

Aku memandang ke bawah. Chunji dan Byunghun.

“Kenapa kalian disini?”, ucapku balik, berusaha menyembunyikan tali yang melintang itu di belakangku

“Semua orang mencarimu Sooyeon-ah. Turunlah. Kita akan kembali bersama.”, ucap Chunji

“Kembali? Kembali kemana? Kau sudah menyerang mereka semua kan?”, ucapku

Chunji menyernyit.

“Kau bicara apa Sooyeon-ah?”, ucapnya

“Aku sudah mendengarmu, Lee Chunji. Jika kau pikir kau akan bisa menipuku untuk membunuhku, kau salah.”, kataku

Chunji awalnya diam, tapi kemudian Ia tersenyum.

“Aku seharusnya sudah tau kau bukan gadis bodoh. Turunlah Sooyeon, dan aku tidak akan membunuhmu dengan cara yang menyakitkan seperti mereka.”

“Aku tidak akan turun.”, ucapku

“Benarkah? Itu artinya aku yang harus kesana dan menyusulmu.”, ucap Chunji

“Coba saja.”, kataku sambil kemudian berbalik, memegang tali itu dengan pasti.

“Sooyeon!! Jangan mencoba lari!!”

Terlambat. Aku melompat menjauh dari pohon itu, dan aku mengeluarkan pisau lipatku, saat melihat Chunji memandang ke arah ujung kaitan taliku..

CTASS!!

Aku memotongnya.

BRUGK.

“Ugh..”

Aku hanya pasrah saat tubuhku jatuh dan sekarang terjun bebas. Sial. Seharusnya aku memperkirakan adanya jurang.

BRUGK.

Pendaratanku berakhir dengan menabrak bebatuan. Aku berusaha berkonsentrasi dengan keadaan di sekitarku. Baiklah, sisi baiknya, aku tidak lagi berada di dekat Chunji, sisi buruknya, aku sekarang tidak tau sedang berada di mana.

Aku segera bangkit, dan berjalan menjauhi tempat jatuhku. Aku yakin Chunji akan menemukan nya nanti.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Kita sudah melintasi wilayah yang lain nya, aku tidak yakin jika mereka masih—”

“Mereka masih hidup hyung.”, potong Sehun dingin

“Tapi kau juga sudah berkeliling tanpa henti. Apa kau mengenali bau mereka dimanapun? Tidak kan?”, ucap Baekhyun

“Mereka pasti masih hidup.”, ucap Sehun

Baekhyun berdecak kesal.

“Pencarian ini membuatku melalaikan tugasku.”, ucap Baekhyun

“Pergilah jika kau mau, aku tidak menahanmu.”, sahut Sehun

Baekhyun memicingkan matanya, tak percaya.

“Lihat saja jika salah satu dari mereka ada di wilayahku. Aku akan—”

BRUGK!

Dalam sekejap Sehun menerjang hyung nya itu. Membuat Baekhyun menabrak pohon di belakangnya.

“Apa kau mengancamku, hyung?”, ucap Sehun, mata namja itu berubah merah kelam, menunjukkan betapa marahnya Ia.

Baekhyun menyentakkan tangan namja itu dengan kasar.

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”, ucap Baekhyun, menyunggingkan senyum. Dan dalam sekejap namja itu melesat hilang.

Sehun sudah akan menyusul langkah namja itu, jika saja Chanyeol tidak menahan nya. Membuat Sehun memicingkan matanya.

“Dia tidak akan berbuat begitu.”, ucap Chanyeol

“Tapi dia baru saja mengancamku hyung!”, ucap Sehun marah

“Kau tidak mengenal kami, Oh Sehun. Ayo kita lanjutkan pencarian ini. Hari sudah akan gelap. Akan semakin berbahaya bagi mereka.”, ucap Chanyeol

Sehun menatap ke arah kepergian Baekhyun sebentar, lalu Ia mengalihkan pandangan nya ke jalanan di depan nya.

“Ayo.”, ucap Sehun, berubah menjadi sosok aslinya, begitu juga dengan Chanyeol. Lalu mereka dengan cepat menghilang dibalik dedaunan rimbun disana.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baekhyun menghentikan langkahnya di perbatasan wilayahnya. Ia berubah menjadi sosok manusianya, memandang ke belakang, diam-diam Ia khawatir pada keadaan Sehun dan Chanyeol. Namja itu kemudian memandang ke jalan setapak kecil di hutan gelap di depan nya. Berusaha menemukan kejanggalan di tempat itu.

Tatapan namja itu terhenti pada sekelompok hewan kecil yang berlarian ke satu arah. Ia menyernyit. Lalu melangkah dengan cepat mengikuti hewan-hewan kecil itu. Seolah tau, hewan-hewan kecil itu langsung menghentikan langkahnya, menatap Baekhyun.

“Apa yang kalian temukan? Tunjukkan padaku.”, ucap namja itu

Dengan patuh hewan-hewan kecil itu bergerak dengan gesit, dan dengan mudah Baekhyun mengikuti hewan-hewan itu.

“Akh.. Hiks.. Umma.. Neomu appo..”

Langkah Baekhyun terhenti saat mendengar suara tangisan pelan yang tertangkap dengan jelas di pendengaran nya. Namja itu melangkah lebih hati-hati, dan tatapan nya tertuju pada seorang yeoja yang bersandar di pohon, keadaan yeoja itu sangat menyedihkan. Luka di sekujur tubuhnya, dan luka robek di kaki yeoja itu mengeluarkan darah segar.

Baekhyun sejenak memperhatikan yeoja itu. Tampak sekali bahwa Ia tengah berusaha menyelamatkan diri. Dan tanpa sengaja memasuki wilayahnya. Baekhyun memandang luka robek di kaki yeoja itu, dan dengan mudah namja itu bisa tau jika luka itu di sebabkan oleh serangan werewolves sepertinya.

Apa Ia juga salah satu korban? Pikir Baekhyun. Namja itu memberanikan dirinya untuk melangkah mendekati yeoja itu, walaupun ini pertama kalinya Ia benar-benar berhadapan dengan manusia seorang diri.

Yeoja itu mendongak. Dan segera membelalak saat melihat Baekhyun berjalan mendekatinya. Yeoja itu berusaha menggeser tubuhnya, sangat tampak ingin lari.

Tapi dalam hitungan detik Baekhyun menahan yeoja itu dengan berpindah ke sisi tempat yeoja itu akan kabur.

“Aku tidak akan melukaimu seperti itu.”, ucap Baekhyun kaku, bingung harus memulai pembicaraan seperti apa.

Yeoja itu memandang Baekhyun, masih tampak hati-hati.

“Kau mau ikut ke tempatku? Aku akan obati lukamu,”, ucap Baekhyun

Yeoja itu menggeleng.

“D-Dia..”, yeoja itu berusaha menemukan suaranya.

“..Juga berkata begitu.. tapi dia.. berubah menjadi seri—”

Tanpa menunggu kalimat yeoja itu selesai, Baekhyun mengangkat tubuh yeoja itu dengan satu gerakan ringan. Membuat yeoja itu terkesiap, berusaha mendorong Baekhyun.

“Keadaanmu sudah sangat parah. Luka itu tidak bisa di biarkan.”, ucap Baekhyun

Yeoja itu menatap Baekhyun, lama.

“Kau.. tidak akan menyerangku sepertinya kan? Kau tidak sepertinya kan?”, tanya yeoja itu, suaranya bergetar, menahan tangis dan menahan ketakutan.

“Nugu?”, ucap Baekhyun

“Dia.. seperti manusia.. tapi bisa menjadi serigala..”, ucap yeoja itu pelan

“Ya. Aku sepertinya. Siapapun itu yang kau maksud. Kami adalah werewolves.”, ucap Baekhyun berhasil membuat yeoja itu terpaku.

Baekhyun menatap yeoja itu. Bahkan namja itu tidak berhasil menemukan senyum yang biasa Ia sunggingkan pada sahabat-sahabatnya. Ini adalah pertama kalinya Ia berhadapan dengan manusia, terutama yeoja, setelah beratus tahun Ia hidup sendirian di hutan, dan terkadang menghabiskan waktunya dengan sahabatnya, Chanyeol.

“Aku tidak akan melukaimu, tenanglah..”, ucap Baekhyun pelan, lebih ke arah berusaha untuk tidak terdengar dingin.

Baekhyun menghentikan langkahnya di depan sebuah semak-semak. Lalu menatap yeoja itu. Walaupun Ia yakin yeoja itu tidak tau—mengingat keadaan gelap di sekitar mereka setelah mereka berjalan begitu lama—tapi pandangan Baekhyun bisa menatap jelas yeoja itu tengah menatap ke langit gelap di atas.

“Bisa kau tutup matamu sebentar?”, tanya Baekhyun membuat yeoja itu memandangnya, menyernyit, bingung, curiga, takut.

“Aku tidak suka menunjukkan pintu masuk rumahku.”, ucap Baekhyun

Yeoja itu masih memandang Baekhyun dengan tatapan yang sama, sampai akhirnya Ia mengangguk, dan menutup matanya.

Butuh tidak lebih dari satu detik bagi Baekhyun untuk membawa yeoja itu ke dalam rumah persinggahan nya yang Ia tempati selama ini. Dengan cara yang berbeda tentunya. Karena jalan masuk ke rumahnya adalah jalan rahasia.

“Kau sudah bisa membuka matamu..”

Yeoja itu membuka matanya, terpana saat melihat ruangan tempatnya berada.

“Ini.. dimana..”, gumam yeoja itu pelan

Baekhyun mendudukkan yeoja itu di salah satu kursi kayu di rumahnya, lalu Ia melangkah meninggalkan yeoja itu ke bilik lain.

“Rumahku.”, sahut Baekhyun saat Ia kembali dengan membawa ceruk kecil yang terbuat dari kayu, berisi cairan bening.

“Biar ku obati lukamu, akan sedikit sakit, tapi tidak akan sesakit saat werewolves itu menggigitmu seperti ini.”, ucap Baekhyun, menaikkan kaki yeoja itu ke pangkuan nya, sementara Ia duduk di kursi lain tak jauh dari tempat yeoja itu.

“Hewan-hewan ini.. tinggal disini juga?”, tanya yeoja itu pelan

Baekhyun menyernyit, memandang hewan-hewan di sekitarnya, lalu memandang yeoja itu.

“Kau bisa melihat mereka?”, tanya Baekhyun, mengompres luka di kaki yeoja itu.

Yeoja itu meringis kesakitan, tapi kemudian ia mengangguk.

“Ya.. kelinci.. tupai.. burung.. dan.. ular..”, ucap yeoja itu

Kali ini tanpa sadar Baekhyun tersenyum, sangat samar.

“Bagaimana kau bisa melihatnya? Seharusnya manusia tidak bisa melihatnya.”, ucap Baekhyun

“M-Mollaseo..”, kata yeoja itu pelan

Baekhyun mengangkat daun yang Ia gunakan untuk mengompres. Dan menyernyit saat darah segar keluar dari luka itu.

“Jangan khawatir, hal seperti ini memang wajar terjadi,”, ucap Baekhyun menyadari tatapan ketakutan dari yeoja di depan nya.

“K-Kau.. sepertinya juga?”, tanya yeoja itu

Baekhyun meletakkan kompresan lain, lalu memandang yeoja itu, mengangguk.

“Ya. Tidakkah kau lihat aku berbeda denganmu?”, ucap Baekhyun

Yeoja itu menyernyit, memperhatikan Baekhyun dengan seksama. Dan tatapan yeoja itu terhenti saat melihat mata Baekhyun.

“Matamu.. berwarna merah..”, ucap yeoja itu

Baekhyun mengangguk.

“Itulah perbedaan nya. Sebenarnya ada satu lagi, gigi,”, Baekhyun menunjukkan taringnya yang sedikit lebih menonjol di bandingkan manusia normal.

“Sekilas memang tampak mirip dengan gigi taring manusia. Tapi taring werewolves bisa mencabik daging dalam waktu sekejap—oh, aku tidak bermaksud menakutimu, aku hanya menjelaskan saja.”, ucap Baekhyun kaku saat sadar yeoja di hadapan nya kembali gemetar ketakutan

Keadaan hening mulai menyelimuti mereka berdua. Sampai akhirnya Baekhyun kembali bicara.

“Siapa namamu?”, tanya Baekhyun

“Miyoung.. Kwon Miyoung..”, ucap yeoja itu

“Nama yang bagus.. Aku Byun Baekhyun. Nah, luka ini akan sembuh dengan cepat. Kau bisa beristirahat di tempatku Miyoung, maaf karena tempat ini tidak senyaman tempat tinggal manusia milik kalian..”, ucap Baekhyun, menurunkan kaki Miyoung, untuk pertama kalinya benar-benar tersenyum pada yeoja itu.

“G-Gomawo.. Baekhyun-ssi..”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

17 thoughts on “BLIND – CHAPTER 8

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s