[Vignette] It’s Okay

req-zahrafifah-its-okay-1

It’s Okay

a sequel of What Can I Do?

Main Cast : Red Velvet’s Kim Yeri

Support Cast : iKON’s Jung Chanwoo | SNSD’s Kim Taeyeon | BTS’s Jeon Jungkook and Kim Taehyung | Lovelyz’s Jung Yein and slight! Lovelyz’s Ryu Sujeong

Poster by Laykim at IFA

a sad-romance-hurt fanfiction with General rating written by zahrafifah


 

 

Sudah terhitung lima bulan Yeri berada di Korea. Semenjak insiden dimana Jungkook mengakui bahwa ia sudah bertunangan dengan Yein, gadis itu lebih sering diam dikamar. Ia hanya sesekali pergi keluar rumah selain kuliah. Itu juga ia pergi bersama Taehyung dan Sujeong.

Gadis itu kini menatap layar komputernya. “Kau jahat,” lirih gadis itu kemudian kembali membaca ulang email dari Taehyung.

Hi, Ye, jangan menangis lagi. Aku akan memberitahu beberapa hal padamu.  Pertama, maafkan aku karena aku belum pulang ke Seoul, dan maafkan aku juga karena aku tidak menepati janjiku. Aku akan pulang setelah seminggu lagi, Ye. Aku memang bodoh, bukan karena tak bisa menepati janjiku?

 

Kau sudah diberitahu Jungkook? Jika belum, aku yang akan memberitahunya untukmu. Aku akan memberitahumu asal kau jangan menangis, arrachi? Awal bulan Desember nanti, Jungkook dan Yein akan melangsungkan pernikahan mereka. Jungkook bilang, memang baru beberapa orang yang diberitahunya. Jadi wajar jika kau delum diberitahu.

 

Sekarang kau menangis tidak? Kumohon, jangan menangis, Ye. Lupakan Jungkook. Aku yakin, diluar sana pasti banyak yang memperhatikanmu. Kau akan datang ke acara mereka nanti? Jika iya, kau harus datang denganku. Aku khawatir kau menangis disana. Uh, aku rasa cukup aku mengirim email padamu sekarang. Tunggu aku seminggu lagi, Yeri!

 

With Love,

 

-Tae

 

Yeri menghela nafasnya, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya. Gadis itu lalu segera menulis balasan yang akan ia kirim pada Taehyung. Setelah selesai, gadis itu langsung mematikan komputernya dan segera menyambar mantel dan tas miliknya. Tak lupa, ia mengirim pesan pada Sujeong terlebih dahulu.

Sujeong-ah, pergi keluar, yuk? Aku akan kerumahmu.

 

Gadis itu segera menuruni tangga rumahnya. “Nenek, aku pergi dulu!” teriaknya riang. “Taeng eonni! Aku pergi dulu, aku akan pulang malam sepertinya.” Ujarnya saat ia bertemu Taeyeon diteras rumah.

“Hati-hati, jaga dirimu, Ye.” Taeyeon tersenyum tipis. “Uh—kau akan datang nanti?” tanya Taeyeon hati-hati. Yeri mengerutkan keningnya bingung, tanda tak mengerti. “Itu, Jungkook dan Yein—”

Yeri mengangguk. “—Tentu, mana mungkin aku tidak datang di acara penting sahabatku sendiri? Apa eonni juga akan datang? Datang bersamaku, ya? Aku malas datang dengan Taehyung.” Yeri tersenyum tipis. Kakaknya mengangguk kecil.

“Baiklah, aku akan datang bersama adikku. Hati-hati dijalanan, Ye!”

Yeri’s POV

 

Hari ini merupakan hari dimana Jungkook dan Yein menikah. Aku bingung, apa aku harus datang? Atau aku diam saja dirumah lalu bertanya pada Taeng eonni apa yang terjadi disana? Tapi—jika aku tidak datang, aku akan terlihat bahwa aku masih menyukai Jungkook. Well, memang itu kenyataannya.

“Yeri-ah! Kau jadi pergi denganku?” kudengar suara Taeng eonni membuyarkan lamunanku. “Taehyung bilang, kita satu keluarga akan datang bersama. Ia akan membawa mobil.” Teriak Taeng eonni lagi.

“Aku akan ganti baju, apa Nenek juga akan ikut?” tanyaku lalu membuka pintu kamarku. Taeng eonni menggeleng kecil.

“Nenek tidak akan ikut. Ia bilang ia akan bertemu beberapa teman lamanya. Kita hanya datang bertiga. Kau, Aku dan Taehyung. Dan sekarang pria itu sudah menunggu dibawah.” Taeng eonni tersenyum. “Aku tunggu kau dibawah. Tapi—apa kau benar-benar akan datang? Aku tidak memaksamu datang, Ye.” Ujar Taeng eonni khawatir.

Aku tersenyum memastikan. “Aku tidak apa, tunggu aku dibawah, eonni.” Kataku lalu menutup pintu kamarku setelah Taeng eonni mengangguk dan pergi menuruni tangga rumah kami. Aku berbalik lalu membuka lemari. Aku harus memakai baju apa? Aku belum pernah mendatangi pesta pernikahan orang terdekatku. Apa dress saja?

Aku segera mengambil dress putih selutut itu dan segera memakainya. Rambutku sengaja kubiarkan tergerai, aku memakai sepasang flat-shoes dengan warna senada dengan bajuku. Lalu aku mengambil tas putih milikku.

Aku berjalan menuruni tangga dan segera berjalan menuju ruang tamu. “Eonni, Tae, ayo barangkat!” seruku dengan senyuman diakhir kalimat. Kulihat, Taeng eonni dan Taehyung mengangguk.

Kami bertiga—aku, Taeng eonni dan Taehyung—datang saat Jungkook dan Yein sudah resmi menjadi pasangan suami-istri. Aku merasakan mataku memanas saat melihat lengan Yein bergelayut manja pada lengan milik Jungkook. Kurasakan, tangan seseorang menggenggam tanganku, berusaha menenangkanku. Refleks, aku menoleh kearah tangan yang kupastikan itu adalah tangan Taeng eonni.

Gwaenchanayo?” tanyanya menatapku khawatir. Aku tersenyum lalu mengangguk kecil menjawab pertanyaan Taeng eonni. “Yak, Kim Tae! Jangan mendahului kami!” seru Taeng eonni saat Taehyung berjalan melewati kami.

Mata kami—aku dan Jungkook—sempat berpandangan, walaupun hanya sebentar, aku merasakan detak jantungku berdetak dengan sangat cepat kembali. Sedari tadi aku hanya diam disamping Taeng eonni. Aku tak ingin jauh dari kakakku.

Jungkook dan Yein berjalan menghampiri kami berdua. “Selamat atas pernikahan kalian berdua!” kudengar suara Taeng eonni yang begitu ceria. Aku tersenyum ke arah mereka berdua.

“Selamat, aku kalah dari kalian berdua.” Aku memandang mereka bergantian. “Bisakah kalian mencariku pacar? Hahaha,” aku tertawa kecil. Mencoba mencairkan suasana yang menurutku tidak nyaman ini.

“Mau kukenalkan pada temanku, Ye?” tanya Yein menatapku serius. Aku menggeleng kecil. “Yak! Kenapa kau menggeleng? Bukankah kau meminta dicarikan pacar?” tanya Yein lagi.

“Aku hanya bercanda, Yein-ah.

“Hei, aku sebagai yang tertua disini merasa aneh jika kalian yang lebih muda dariku lebih dulu menikah.” Taeng eonni megerucutkan bibirnya kecil. Aku terkekeh mendengar apa yang Taeng eonni katakan.

Eonni! Jangan berkata seperti itu. Aku yakin sebentar lagi pasti eonni akan menyusul kami.” Balas Yein yang kemudian dibalas kembali oleh Taeng eonni. Aku tidak begitu memperhatikan dan mendengar apa yang mereka bicarakan. Mataku terpaku pada lengan Yein yang masih melingkar dilengan Jungkook. Aku menghela nafasku pelan.

Bukannya aku begitu percaya diri atau apa, tapi aku bisa merasakan bahwa Jungkook sedang menatapku. Jika aku mendongak untuk sekedar menatapnya mungkin saja aku dan ia bisa saling menatap satu sama lain. Ia berdeham kecil lalu meminta izin untuk pergi ke toilet. Sebelum itu, aku mendapat kode darinya untuk ikut dengannya.

Setelah beberapa saat, aku juga meminta izin untuk pergi ke toilet. Saat aku berjalan menuju toilet, seseorang menarik tanganku lalu membawaku ke sebuah taman dibelakang gedung. Aku memandang sekeliling.

“Yeri-ah.” Panggil pria itu. Suara yang berhasil membuat detak jantungku berdetak tak karuan, suara yang selalu menenangkanku saat aku mendapat masalah, dan terakhir, suara yang selalu membuatku menangis. “Yeri, aku kira kau takkan datang kesini, dan memang seharusnya kau tidak datang kesini. Aku tak ingin kau sakit hati, Ye. Aku tahu, meskipun kau berusaha mati-matian agar melupakanku beberapa bulan ini, kau takkan melupakanku secepat ini. Itu butuh proses yang sangat panjang, Ye. Apa kau tahu juga? Selama kau berada di Jepang, aku selalu memikirkanmu, aku selalu mengirim email ke alamat emailmu yang lama, Aku benar-benar merindukanmu saat itu. Tapi—ibuku bersikeras ingin membuat aku dan Yein bersama. Walaupun aku tetap menolaknya, ia tetap pada kehendaknya.”

Aku tidak bisa menahan air mataku kembali. Ia benar-benar membuatku tak karuan selama tujuh bulan ini. Tangan pria itu terangkat lalu mengusap puncak kepalaku lembut. Pria itu benar-benar membuat tangisanku pecah.

“Jangan menangis, Ye. Aku tak ingin melihatmu menangis. Sebenarnya, aku sangat ingin memelukmu untuk sekarang ini, tapi aku takut mereka melihat. Aku bodoh, bukan? Melepaskan cinta pertamaku begitu saja. Tak memberi bahuku untuk menjadi sandaran cinta pertamaku, membiarkan cinta pertamaku menangis, dan aku merasa jika aku memang tak pantas untukmu. Aku terlalu lemah jika harus disandingkan denganmu.” Tangan pria itu kini mengusap pipiku yang sudah basah karena air mata yang tiba-tiba mengalir ini. Ia tersenyum tipis. “Walaupun aku sudah menikah dengannya, tapi entah kenapa, aku masih mencintaimu, Ye. Aku pamit.” Ia mengacak rambutku terlebih dahulu lalu pergi meninggalkanku. Lututku lemas, aku duduk diatas rumput begitu saja, tak peduli aku sedang berada dimana dan memakai rok.

“Kau bodoh, Yeri. Kenapa kau masih mencintai pria yang sudah mempunyai istri? Kau memang bodoh, Kim Yerim.” Gumamku lalu memilin ujung rok milikku. Aku merasakan seseorang memakaikan jas miliknya dipunggungku. Aku mendongak untuk menatapnya. “Chanwoo-ah,” lirihku saat irisku sudah melihat siapa yang berada didepanku. “Apa kau mendengar apa yang ia katakan?”

Pria dihadapanku ini mengangguk. “Ya. Aku mendengar semuanya.” Ia menggenggam tanganku lalu membuatku berdiri. “Jangan duduk disini, kau akan gatal-gatal, Yeri.” Ia menarikku kedalam dekapannya. Pria ini memang temanku selama di Jepang dulu, dan yang tak pernah kusangka adalah ia merupakan saudara kembar Yein.

“Aku bodoh, menyukai suami adikmu begitu saja.” Lirihku lalu melingkarkan kedua tanganku dipinggangnya. Ia mengusap punggungku lembut. “Apa kau tak marah padaku?” tanyaku lagi.

Ia masih mengelus punggungku lembut. “Untuk apa aku marah padamu? Kalian saling mencintai jauh sebelum perjodohan ini ada. Kalian saling mengenal jauh sebelum Yein mengenal kalian. Disini, yang bersalah adalah ibuku dan ibu Jungkook. Kau sama sekali tidak bersalah. Apalagi bodoh, itu sama sekali bukan dirimu, Ye.” Ia melepaskan pelukannya lalu menatapku.

“Tidak. Sejak kapan kau kembali ke Korea?” tanyaku mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami yang pasti takkan ada ujungnya ini. Pria itu terkekeh kecil lalu mengusak poniku. “Yak! Oppa!”

“Sebenarnya aku baru pulang tadi malam. Dan aku tidur disini. Tapi—semenjak kau dan Jungkook datang, tidurku terganggu. Apalagi suara tangisanmu itu, ugh, sangat mengganggu.”

Aku berdecak pelan lalu menatapnya tajam. “Kau ini sebenarnya mau apa? Menenangkanku atau membuat mood-ku semakin kacau?!” tanyaku sinis. Ia hanya mengedikkan bahunya acuh.

“Aku tidak tahu. Mungkin yang kedua lebih mendukung apa yang aku lakukan.” Jawabnya lalu menarikku begitu saja dari taman ini. “Hapus air matamu. Aku tunggu disini.” Ia mendorongku masuk kedalam toilet.

“Yak! Chanwoo oppa!”

fin

 

Kyaaa~ ini sequel macam apa, huhuhu ((nangis dipojokan bareng Yeri)) aku gak tau kenapa seneng gitu ya bikin teteh Yeri patah hati gini. Untung aja ada maz Chanu yang emang baek:’3 dan maafkeun dakuh jika ini memang menyakitkan, membuat teteh Yeri poteks, gak happy ending (kalo yang ini gak tau juga deng :3 bisa aja teteh bahagia ama maz Chanu :-D) dan genre sad yang fail banget L gak bisa disebut sukses kalo kayak gini mah L maafin kalo judulnya gak nyambung ama ceritanya 😀

Last, want to review?

 

sign,

 

zahrafifah

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s