BLIND – CHAPTER 6

Blind

Author : IRISH

Tittle : Blind

Main Cast :

EXO Oh Sehun, Kim Jongin, OCs Lee Yookyung, Kang Sooyeon

Genre : Fantasy, School-Life, Romance

Rate : PG-16

Lenght : Chapterred

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

In Sooyeon’s Eyes..

Aku kali ini memandang ke arah seongsaengnim. Masih tidak percaya dengan ucapan nya. Benarkah? Aku tidak pernah tau..

“Kalian tidak perlu khawatir, sudah ada orang pintar bersama kita. Dan jika ada kejadian aneh.. kalian bisa laporkan pada kami langsung. Baiklah, lanjut. Hmm. Lee Chunji!”

“Oh oh! Ye seongsaengnim?”

“Bisakah kau berhenti jadi murid bermasalah?”

Gelak tawa tercipta di sekitar kami karena pertanyaan itu.

“Ahaha. Tentu saja seongsaengnim. Aku akan jadi anak baik setelah lulus. Nah, giliranku. Hmm.. Kim Jihae!”

Jihae? Jihae kan..

“Apa?”, ucap Jihae ketus

“Kapan kau akan jadi yeoja yang tidak sombong?”

Aku menatap Jihae. Ia mendelik kesal.

“Tidak akan terjadi.”, ucap Jihae lalu Ia memandang ke arah..

“..Oh Sehun!”

Sehun? Lagi?

“Pertanyaan yang sama untukmu, bisakah kau berhenti membenci yeoja?”

Aku menatap Sehun. Ia sekilas melemparkan pandangan nya ke arahku. Lalu Sehun diam. Apa Ia akan mengabaikan lagi—Tidak. Ia meniup lilin nya. Tanda bahwa Ia akan menjawab pertanyaan nya.

“Aku tidak membenci yeoja lagi. Keundae.. Aku menyukai seorang yeoja sekarang.”, ucap Sehun

Dia tidak menjawabku.. Tapi Ia menjawab Jihae. Aish. Bodoh. Dia menyebalkan sekali. Dasar pilih-pilih. Saat aku yang bertanya Ia malah mengabaikanku. Oh Sehun pabo! Menyebalkan!

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa kau akan ikut?”, tanya Yujin

“Eodiseo?”, aku menyernyit bingung

“Aish, kau tidak mendengarnya tadi? Bagi siswa yang lahir di tanggal dan bulan genap, besok pagi kita akan di ajak ke danau tiga warna. Kau ikut? Kau juga lahir di tanggal dan bulan genap kan?”, ucap Yujin

“Eh? Hanya yang lahir di tanggal dan bulan genap saja?”, ucapku semakin bingung

“Ya. Ayolah. Ikut nae?”, ucap Yujin

Aku mengangguk.

“Ya ya ya. Aku akan ikut. Asal kau tidak menerorku dengan telpon lagi.”, ucapku padanya

“Kekeke. Arraseo!”, ucap Yujin bersemangat

Kami berpisah di ujung tangga. Yap. Karena kamarnya ada di lantai tiga. Dan biasanya dia hanya mengantarku sampai ke ujung tangga. Aku melangkah masuk ke kamar, melihat Sehun yang tengah berdiri di balkon.

KLIK.

Aku tersenyum melihat hasil potretanku, lalu aku melangkah duduk di kasur.

“Kau meninggalkanku sendirian tadi.”, ucap Sehun

“Oh. Ya. Kau sepertinya sibuk dengan Jihae.”, sahutku

“Aku tadi sudah mengabaikan Jihae.”, ucap Sehun

“Ya, tapi sepertinya dia terlalu senang karena kau menjawab pertanyaan nya padahal Ia menanyakan hal yang sama sepertiku, tapi kau tidak menjawab nya saat aku yang bertanya. Hah. Kau benar-benar pemilih.”, ucapku kesal

Sehun tidak menyahut. Dan aku juga tidak mendengar pergerakan apapun yang Ia lakukan saat Ia mungkin bereaksi akan ucapanku. Aku melanjutkan aktifitasku, aku meletakkan sepatu di dekat pintu, lalu melepas jaket yang ku kenakan.

“Kau cemburu?”

“Hah? Apa?”, aku menatap Sehun tak percaya

“Kau bicara seperti orang yang sedang cemburu.”, ucapnya

Aku mencibir pelan.

“Aku tidak perlu repot-repot cemburu.”, kataku enteng

“Memang apa bedanya jika aku menjawab pertanyaan milik Jihae? Toh kau juga jadi tau jawaban nya.”, ucap Sehun

“Tetap saja beda. Kan aku duluan yang bertanya.”, kataku kesal, bagaimana bisa Ia menganggap sama hal itu? Pabo.

“Tapi pada akhirnya pertanyaan yang sama itu terjawab kan?”

“Hah. Terserah kau saja.”

Aku mengambil handukku, lalu melangkah ke kamar mandi.

“Jangan berani mengintipku!”, ucapku pada Sehun

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau masih marah?”

“Marah untuk apa?”

Aku memutuskan untuk sibuk memandang hasil foto yang ku dapatkan. Dua kamera yang berbeda tentunya. Kamera yang ku gunakan untuk mengambil foto-foto di sini dan foto-foto Sehun—yang ku masukkan dalam kategori koleksi pribadiku—berbeda.

“Jihae.”

“Aku tidak marah. Bagaimana bisa kau pikir aku marah?”, ucapku kesal

“Yeoja selalu bersikap sama saat cemburu..”

Aku menoleh. Sehun sudah duduk di tempat tidur.

“Turun. Tempatmu di bawah.”, ucapku mengusirnya

“Shireo. Aku tidak akan turun sampai kau mengaku kalau kau cemburu.”

“Ish. Pabo. Siapa yang cemburu hah?”, kataku

Sehun kemudian berbaring di sebelahku, membuatku langsung berjengit kaget.

“Ya!!”, bentakku, tapi kemudian Sehun menarikku untuk berbaring di sebelahnya

“Neo michyeoso!?”, bentakku

“Kau tau kenapa aku menjawab pertanyaan milik Jihae dan bukan nya kau?”

“Aku tidak mau tau.”, sahutku

“Benar-benar tidak mau tau?”, tanya Sehun

Aku berdecak pelan.

“Apa alasan nya?”, ucapku akhirnya

“Kau masih ingat jawabanku tadi tidak?”

“Kenapa aku harus ingat?”

“Ish.. Kecemburuanmu itu hebat sekali..”, gerutu Sehun lalu Ia diam sebentar

“Aku katakan.. Aku tidak membenci yeoja lagi. Tapi.. Aku menyukai seorang yeoja sekarang. Begitu kan?”

“Hmm. Lalu? Apa hubungan nya?”

“Kalau aku menjawab seperti itu padamu, pasti kau akan berpikir.. ada yeoja yang sedang aku sukai, dan yeoja itu ada di sana, iya kan? Nah, jika aku menjawabnya padamu, Jihae pasti dengan percaya diri berpikir bahwa yeoja itu adalah dia. Makanya aku menjawab pertanyaan Jihae.”

Aku menyernyit.

“Lalu? Tujuan nya apa??”

“Supaya Jihae berpikir bahwa ada yeoja selain dia yang aku sukai.. Dan juga, supaya yeoja itu tau tentang ucapanku.”

“Memangnya siapa orang itu? Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan yeoja di sekolah.. Apa kau menyukai yeoja itu diam-diam?”, kataku, memandang Sehun penuh selidik

“Kau kenal yeoja itu..”

“Aku kenal? Nugu? Oh!! Yujin!? Kau suka pada Yujin!?”, ucapku terbelalak

“Pabo. Bukan dia.”, ucap Sehun kesal

“Lalu? Siapa?”

“Yeoja yang sekarang berbaring di sampingku.”

DEG.

“M-Mwo!? Cih, aku tidak mau jadi yeoja-chingumu!”, ucapku

“Yak! Aku kan hanya bilang suka, bukan berarti aku memintamu jadi yeoja ku. Kau percaya diri sekali. Selama ini kan aku tidak suka pada yeoja. Dan sejak kemarin aku suka pada satu yeoja, kau. Mengerti? Jangan salah artikan kata-kata suka ku itu.”, balas Sehun lalu Ia beranjak dari kasur

“Ku kira kau tidak suka padaku, kerjaanmu di sekolah kan hanya berteriak-teriak padaku. Huh.”

Sehun tertawa pelan.

“Kau hebat sekali sampai memakai sumbat telinga dan betah mendengar teriakanku hanya untuk berkenalan.”

Geurae. Minggu-minggu awal itu. Saat aku dengan gigih berusaha untuk bicara pada Sehun. Dan setiap hari mendengarnya berteriak.

“Jangan meninggalkanku seperti tadi lagi, arraseo?”, ucap Sehun

“Arraseo aku tidak—oh, tapi mungkin besok pagi iya. Yujin bilang siswa yang lahir di tanggal dan bulan genap besok bisa berjalan-jalan di danau tiga warna. Aku akan ikut.”, ucapku

“Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut juga.”

“Mwo? Memangnya kau—”

“12 april. Genap kan?”

“Dasar, bilang saja kau tidak mau jauh dariku.”, ucapku, tertawa pelan.

“Bodoh. Kau sendiri yang berjanji pada hyung ku untuk menjagaku. Kau mau mengingkari janji?”

“Oh, ani ani. Aku tidak mengingkari janji.”, ucapku

“Istirahatlah. Kau akan banyak berkegiatan besok.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Senter, check. Tali, check. Minum, check. Selimut, check. Petasan? Eh? Petasan? Ish, ya sudahlah, check. Sarung tangan, check. Topi, check. Pisau, check. Obat, check. Baiklah.. Baiklah, apa yang belum.. Hmm.. Oh! Ya ya ya. Baterai, check. Lalu—”

“Kau mau pergi ke danau tiga warna atau pergi mendaki gunung?”, tanya Sehun bingung mendengar semua list yang di sebutkan oleh Sooyeon

“Oh, bagaimana kau tau ini perlengkapan mendaki gunung?”, ucap Sooyeon

“Mendengarnya saja aku sudah tau.”, sahut Sehun

“Aku selalu berjaga-jaga seperti ini saat akan pergi jauh. Perlengkapan ini sudah perlengkapan sederhana untuk mantan pendaki sepertiku.”, jelas Sooyeon

“Kau? Mendaki gunung?”, Sehun terkesiap

“Ya. Aku suka mendaki gunung. Hanya untuk melihat seperti apa kota dari atas.”, ucap Sooyeon, tertawa pelan

“Jika bisa melihat.. Aku akan sangat ingin menaiki gunung, melihat kota dari atas.”

“Sehun? Kau melamun?”, tanya Sooyeon

“Ah, ani. Sejak kapan kau jadi pendaki?”, tanya Sehun

“Kurasa hmm, sudah 4 tahun lebih. Kenapa?”

“Tidak. Tidak apa-apa. Perlengkapanmu sudah lengkap?”, tanya Sehun

“Yap. Kajja.”, ucap Sooyeon, menarik lengan Sehun untuk berjalan di sampingnya

“Apa kita tidak kepagian?”, tanya Sehun

“Tentu tidak. Kata Yujin, jam 5 mereka sudah berkumpul di pinggir sungai.”, ucap Sooyeon, sambil melangkah menuruni tangga.

“Pelan-pelan saja.”, ucap Sooyeon berpesan

Sesampainya di lobi, tampak Yujin dan teman sekamarnya sudah menunggu.

“Maaf kami terlambat.”, ucap Sooyeon

“Kekeke. Gwenchana. Ah, dia ikut juga?”, tanya Yujin pelan

“Ya. Dia juga lahir di tanggal dan bulan genap.”, ucap Sooyeon

“Oh. Baiklah. Kajja, yang lain sudah ada di kapal.”, ucap Yujin

“Ayo Sehun-ah,”, ucap Sooyeon, mencekal erat lengan Sehun di sampingnya

Sooyeon membantu Sehun terlebih dulu untuk naik ke atas kapal, kemudian yeoja itu menyusul dengan cepat.

“Apa kau mau ranselmu di taruh di bagasi kapal?”, tanya seorang yeoja

“Oh, tidak perlu. Aku akan bawa sendiri ranselku.”, ucap Sooyeon

“Tapi kelihatan nya ranselmu berat. Kau pendaki?”, tanya yeoja itu

“Ya. Kau juga?”

Yeoja itu tersenyum.

“Tidak. Tapi aku sangat ingin bisa mendaki gunung..”

“Ah, kita bisa pergi bersama lain hari.”, ucap Sooyeon, tersenyum.

“Jinjja? Gomawo. Oh, siapa namamu?”

“Kang Sooyeon. Kau?”, Sooyeon memandang yeoja yang sedikit lebih pendek darinya itu.

“Lee Yookyung. Senang berkenalan denganmu, Sooyeon-ssi.”

Sooyeon tertawa pelan.

“Tidak perlu terlalu formal.”, ucap Sooyeon kemudian melemparkan pandangan nya mencari keberadaan Sehun yang tadi ingin pergi ke toilet.

“Baiklah, Sooyeon-ah. Aku akan menemui Appa ku dulu, lain kali kita bicara. Aku akan senang jika kau bisa berbagi cerita mu.”, ucap Yookyung

“Tentu saja.”, ucap Sooyeon, tersenyum

Beberapa langkah setelah Yookyung pergi, Sooyeon segera melangkah mencari Sehun. Dan menemukan namja itu berdiri sendirian di depan pintu.

“Maaf, tadi aku bicara sebentar.”, ucap Sooyeon

Sehun segera menyernyit. Merasakan aura menyesakkan di dekatnya.

“Kau bicara pada siapa?”, tanya Sehun

“Anak pemilik kapal,”, jawab Sooyeon

“Oh. Kajja, kita harus ke kabin utama, menunggu disana.”, ucap Sehun

“Aish, tapi aku ingin melihat-lihat disini dulu. Temani aku ya?”, pinta Sooyeon

Sehun mengangguk.

“Arraseo arraseo. Tapi sebentar lagi kita akan memasuki wilayah hutan, dan.. kau tau apa kan?”

“Aku tau. Kan ada kau, rasa takutku hilang sedikit kekeke.”, Sooyeon segera mengeluarkan kameranya, dan mengabadikan beberapa gambar di sekitarnya.

“Duduklah disini Sehun-ah. Aku tidak akan lama.”, ucap Sooyeon

Sehun mengangguk. Namja itu memilih untuk diam, dan mendengarkan sekitarnya.

“Apa jumlahnya sudah tepat?”

“Ya. Ada 31 yeoja bertanggal lahir dan bulan lahir genap.. Mangsaku sudah terpenuhi. Hanya tinggal melenyapkan mereka.. Satu per satu..”

Sehun terkesiap. Pembicaraan yang baru di curi dengar nya jelas berasal dari kapal yang sama dengan nya.

“Baiklah.. Dan setelah itu.. Aku akan bisa mendapatkan kekuatan penuh ku..”

“S-Sooyeon.. Dia juga masuk dalam hitungan..”, ucap Sehun pelan

“Ada 63 orang di dalam kapal ini. Apa yang harus kita lakukan dengan 32 orang yang lain nya?”

“Mudah saja.. Kita bawa mereka ke rumah.. Dan biarkan mereka mati disana.. Tanpa bisa kembali ke rumah manusia nya.”

Sehun mendengar langkah mendekatinya, langkah ringan milik Sooyeon.

“Apa aku meninggalkanmu terlalu lama?”, tanya Sooyeon

Tapi Sehun masih berfokus pada hal yang di dengarnya. Karena faktanya, ada bangsanya juga disana.

“Baiklah, bagaimana kita memulainya?”

“Danau tiga warna itu.. Setelah mereka melihatnya.. Jalankan rencana kita. Masukkan mereka ke dunia kita, jadi aku bisa melihat dengan jelas walaupun mangsaku belum terpenuhi.”

“Aku mengerti.. Aku akan memastikan mereka semua.”

“Bagus..”

“Sehun?”, ucap Sooyeon bingung

“Ah. Ya?”

“Kau tidak mendengarku?”, ucap Sooyeon

“Ani.. Aku mendengarmu..”, ucap Sehun, berusaha tersenyum

“Kajja, kita masuk. Disini mulai gelap..”, kata Sooyeon, tapi Ia terkesiap saat Sehun mencekal lengan nya

“Sooyeon-ah..”

“Ya??”, ucap Sooyeon

“Bisakah berjanji satu hal padaku?”

“Apa itu??”, Sooyeon menyernyit

“Apapun yang terjadi.. Jangan pernah jauh dariku dalam perjalanan ini.”

“N-Nde? Keundae.. wae??”

“Berjanjilah Sooyeon-ah.”, ucap Sehun

Sooyeon terdiam.

“Apa sesuatu yang buruk akan terjadi??”, tanya Sooyeon pelan

Kali ini Sehun yang terdiam.

“Sehun-ah.. Jawab aku.”, ucap Sooyeon

“Ya. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Itulah kenapa kau tidak boleh jauh dariku.”, ucap Sehun

Sooyeon kemudian menggamit lembut lengan namja itu.

“Aku janji. Sekarang ayo masuk, di sini benar-benar mulai gelap. Aku tidak suka.”, ucap Sooyeon

Sehun mengikuti langkah yeoja itu, walaupun Ia masih takut karena tidak tau siapa satu sosok yang tengah mengincar nyawa Sooyeon.

Langkah Sehun terhenti saat Ia lagi-lagi merasakan aura menyesakkan itu.

“Oh, Sooyeon-ah!”

Sehun benar-benar terkesiap. Ia sangat mengenal suara itu.

“Yookyung? Apa yang kau lakukan disini?”, ucap Sooyeon

Yookyung?? Yookyung.. Apakah dia..

“Appa ku tadi meminta bantuanku.”, Yookyung tertawa pelan, lalu memandang ke arah Sehun.

“Ah, dia temanmu juga?”, ucap Yookyung

“Ya. Ini Sehun, Oh Sehun. Sehun, ini Yookyung, Lee Yookyung. Dia anak pemilik kapal ini.”, ucap Sooyeon

“Ah, bangapseumnida.”, ucap Yookyung, ingatan yeoja itu tertuju pada satu nama yang sangat dikenalnya dulu, tapi tak bisa di lihatnya.

“Nado, bangapseumnida.”, ucap Sehun kaku

“Dia tidak bisa melihat?”, tanya Yookyung

“Oh, ya, dia tidak bisa melihat.”, kata Sooyeon

“Ahh, seperti aku dulu.. Tapi sekarang aku sudah bisa melihat..”, ucap Yookyung

“Kau dulu tidak bisa melihat?”, ucap Sehun

“Ah, n-nae. Waeyo??”, tanya Yookyung

“Ani.. Tidak apa-apa.”, ucap Sehun

“Sooyeon!”

“Oh! Chunji-ah!”, ucap Sooyeon melambai ke arah dua orang namja yang berlari menghampiri mereka

“Sepatumu bagus. Aku pernah minta di belikan yang seperti itu pada Appa ku, tapi aku dapat yang seperti ini.”, ucap Byunghun

“Eh? Punya mu juga bagus. Alas sepatu kita di buat dengan bahan yang sama, jadi aku yakin sama kuatnya.”, ucap Sooyeon

“Hey hey, ayolah, jangan membicarakan masalah mendaki disini. Oh, Sooyeon-ah, apa yang kau lakukan disini? Semua yeoja sudah berkumpul di kabin utama.”, ucap Chunji

“N-Nde? Memangnya ada apa?”, tanya Sooyeon

“Kurasa semacam pesta lilin, khusus yeoja. Aku akan bawa dia ke kabin samping, bersama namja yang lain.”, ucap Chunji

 “Jinjjayo? Aku akan kesana setelah ini.”, ucap Sooyeon

“Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan bersama dengan Sehun.”, ucap Chunji

Tanpa sadar Sehun mengeratkan pegangan nya pada Sooyeon.

“Tidak. Sehun ikut denganku. Kalian mungkin akan kesulitan membimbing langkahnya.”, ucap Sooyeon

Chunji menyernyit, memandang dua orang itu bergiliran, tapi kemudian Ia mengangguk.

“Ayolah, ini acara khusus yang di buat yeoja-yeoja itu. Kau mau membawanya?”, ucap Chunji

“Ya. Kau tidak keberatan kan, Sehun-ah?”, tanya Sooyeon

“Ani. Gwenchana.”, ucap Sehun

“Oh, baiklah kalau begitu. Ku temui kalian di cafetaria nanti.”, tambah teman Chunji, Byunghun

“Ya. Sampai bertemu.”, ucap Sooyeon, kemudian Ia menarik Sehun

“Aku duluan Yookyung-ah. Annyeong.”

“Oh, ye Sooyeon-ah.. Hati-hati..”, ucap Yookyung

“Kajja, Sehun-ah.”, ucap Sooyeon sambil menuntun langkah Sehun

Langkah mereka berbelok ke kabin utama, lorong yang mereka lewati tampak gelap, membuat Sooyeon mengurungkan niatnya.

“Waeyo?”, tanya Sehun

“Ani. Disini gelap. Aku tidak suka.”, ucap Sooyeon

Sehun tersenyum tipis.

“Mianhae, aku tidak bisa membantu..”, ucapnya

“Gwenchana. Kajja, kita cari tempat lain saja.”, ucap Sooyeon

“Dek dekat buritan? Biasanya jarang digunakan, dan aku yakin akan terang disana.”, ucap Sehun

“Jinjja? Ayo kita kesana.”, ucap Sooyeon sambil menuntun langkah Sehun

Mereka sampai di dek dekat buritan, seperti yang Sehun ucapkan, di dek itu jauh lebih terang daripada lorong-lorong yang tadi mereka lewati. Sooyeon segera mendudukkan Sehun di salah satu bangku. Lalu yeoja itu menatap keluar.

“Aku heran kenapa diluar mendung sekali..”, ucap Sooyeon sambil mengambil beberapa gambar di luar

Sementara itu Sehun diam, merasakan sesuatu yang aneh.

PIP. PIP. PIP.

“Yeoboseyo?”, ucap Sooyeon

“Neo eodiseo? Kita sudah hampir sampai di danau tiga warna.”, ucap Yunji di seberang

“Aku masih di dek. Dimana kau?”

“A-Aku di..zzzttt..depan.. zzttt..”

“Halo? Halo? Suaramu tidak terdengar jelas Yujin-ah.”, ucap Sooyeon

“..zztt..kabin..zztt..ppali…zztt..”

TUT. TUT. TUT.

“Eyy, sinyal di sini pasti jelek sekali. Kajja Sehun-ah, kurasa tadi Yujin bilang kabin depan.”, ucap Sooyeon

Tapi Sehun masih diam. Merasa aneh karena samar-samar Ia bisa melihat bayangan Sooyeon yang melangkah ke arahnya.

“Ini jam berapa?”, tanya Sehun

“Hm? Ini jam 11 lewat. Kenapa?”, tanya Sooyeon

Sehun menyernyit.

“Sehun-ah? Kau melamunkan apa?”

“Ah, ani. Kajja ke kabin depan.”, ucap Sehun

Sooyeon tersenyum, lalu menuntun langkah namja itu, walaupun semakin mereka berjalan ke kabin depan, Sehun semakin bisa melihat dengan jelas.

“Aish, apa tidak ada tempat yang tidak gelap di dunia ini..”, gerutu Sooyeon melihat lorong panjang gelap di depan nya

Sehun menggamit lengan yeoja itu.

“Pejamkan saja matamu, aku yang akan membimbing langkahmu.”, ucap Sehun

“Eh? Tapi kan—”

Belum selesai Sooyeon bicara, Sehun sudah menarik yeoja itu untuk melangkah melalui lorong gelap itu. Sooyeon dengan refleks langsung menutup matanya, dan hanya pasrah menuruti langkah Sehun.

“Cepat tuntun aku.”, ucap Sehun

Saat Sooyeon membuka matanya, mereka sudah ada di ujung lorong, tentu saja terang. Dan bahkan Sooyeon bisa melihat jelas beberapa anak mondar-mandir membereskan barang-barang mereka.

Sooyeon segera melangkah sambil menarik Sehun, mencari keberadaan Yujin, dan melihat lambaian tangan yeoja itu di salah satu meja cafetaria. Sooyeon berjalan mendekati Yujin dan beberapa anak di meja itu, lalu duduk disana.

“Kau darimana saja?”, tanya Yujin

“Berjalan-jalan keliling. Saat kau menelpon tadi kurasa sinyal ponsel tidak terlalu bagus. Suaramu tidak terdengar jelas.”, kata Sooyeon

“Jinjja?”, Yujin segera memandang ponselnya

“Aih. SOS. Tidak ada sinyal disini. Bagaimana denganmu?”, tanya Yujin membuat Sooyeon memandang ke arah ponselnya juga

“Nado. Disini tidak ada sinyal.”, ucap Sooyeon

Sementara itu Sehun masih terpaku. Ia sekarang bisa melihat. Bukan penglihatan malam yang Ia miliki selama beberapa tahun ini, tapi penglihatan lamanya. Yang bisa melihat jelas setiap molekul yang melewatinya. Bisa melihat dalam radius yang jauh melebihi manusia biasa.

“Yak!”, Sooyeon mengguncang lengan namja itu

“Ya?”, Sehun menoleh refleks dan Ia kembali terdiam saat melihat wajah Sooyeon

“Kau dengar aku tidak? Kau mau makan apa?”, tanya Sooyeon

Sehun mengerjap cepat.

“Sama seperti kau saja.”, ucapnya

“Oh, arraseo. Tunggu disini sebentar nae? Aku akan pesan kesana.”, ucap Sooyeon

Sehun mengangguk. Tatapan namja itu lekat mengikuti Sooyeon. Tanpa sadar Ia tersenyum tipis, karena sudah bisa melihat jelas seperti dulu.

Sehun terus memperhatikan kelakuan Sooyeon, yeoja itu masih bertindak seperti biasanya, sangat cuek. Pandangan tajam yang dimiliki namja itu bahkan bisa menangkap siluet nyamuk yang tengah menggigit lengan Sooyeon.

Namja itu menunggu, dan tak lama setelah nyamuk itu beralih, Sooyeon menggaruk-garuk lengan nya.

“Sooyeon-ah!”

Sooyeon menoleh, lalu tersenyum.

“Yookyung.”, ucap Sooyeon

Kali ini Sehun terpaku. Yeoja bernama Yookyung itu jelas-jelas dikenalnya. Seorang yeoja yang dulu pernah mengisi hatinya, dan membuatnya kehilangan penglihatan nya. Yeoja yang meninggalkan nya begitu saja saat tau sosok asli Sehun.

Tanpa sadar Sehun mengepalkan tangan nya, marah. Rasa marahnya bercampur dengan rasa kecewa dan rindu yang begitu dalam pada sosok yeoja itu. Yeoja yang selama hampir empat tahun bersama dengan nya. Dan kini yeoja itu kembali ke kehidupan nya.

“Nah. Karena kau bilang kau memesan yang sama denganku, jadi aku tidak tanggung jawab kalau kau tidak suka makanan nya.”, ucap Sooyeon, menaruh sepiring salad di depan Sehun

Tatapan Sehun terhenti pada Yookyung, yeoja itu tampak memperhatikan nya.

“Ey?”, ucap Sooyeon

“Aku tidak suka sayur.”, ucap Sehun langsung, mengalihkan tatapan nya dari Yookyung

“Aish.. Kau ini..”, gerutu Sooyeon

“Apa kau suka daging?”, tanya Yookyung kemudian

“Ya.”, ucap Sehun

“Daging sapi setengah matang? Aku yakin ahjussi memasaknya juga, aku akan memesankan nya untukmu.”, ucap Yookyung sambil melangkah ke dapur

Sooyeon menatap Sehun kesal.

“Dasar namja, jika mendengar tawaran yeoja cantik saja kau langsung diam.”, ucap Sooyeon sambil menyuapkan salad ke dalam mulutnya

Sehun menarik Sooyeon mendekat, membuat yeoja itu tersedak.

“Uhuk! Uhuk! Neo michyeoso!?”, ucap Sooyeon kesal

“Sooyeon-ah, ini aneh..”, bisik Sehun pelan

“Ha? Memangnya ada apa?”, tanya Sooyeon serius

“Aku bisa melihat dengan jelas.”, ucap Sehun

“Oh. Pantas saja kau bisa meng iya kan tawaran Yookyung. Dia kan jelas-jelas cantik. Ckckck, kau ini ternyata.. auw! Yak! Appo!”, bentak Sooyeon saat Sehun menggenggam keras lengan nya

“Bukan itu. Aku seharusnya tidak bisa melihat.”, ucap Sehun

“Ya sudah, berpura-pura saja kau tidak melihat.”, sahut Sooyeon sambil melirik ke arah Yookyung yang datang membawa nampan.

“Lihat? Dia datang.”, ucap Sooyeon

Sehun memandang yeoja itu sebentar.

“Kau cemburu lagi.”, ucap Sehun

“Aku tidak cemburu. Aish. Terserah lah.”, ucap Sooyeon kesal

Yookyung meletakkan nampan berisi daging sapi setengah matang di depan Sehun. Namja itu mati-matian berusaha menahan instingnya.

“Kenapa kau masih tidak makan? Apa perlu di suapi?”, tanya Yookyung, berusaha terdengar bercanda.

Sooyeon langsung menatap Sehun, membelalak. Terutama saat melihat Yookyung berpindah duduk ke sebelah Sehun.

“Sooyeon-ah, bisa kau bantu aku?”, ucap Sehun

“Aku akan menyuapimu.”, ucap Yookyung

Sehun terdiam sebentar, sampai akhirnya Ia angkat bicara.

“Aku senang bertemu denganmu lagi..”, ucap Sehun

Yookyung tersenyum. Tau bahwa sosok di depan nya adalah sosok yang sama dengan yang di kenalnya dulu. Sementara itu Sooyeon memandang bergiliran antara Yookyung dan Sehun. Lalu Ia memandang Yujin yang sedari tadi memandang bingung.

“Aish. Yujin-ah, makan makan. Jangan menatap seperti itu.”, ucap Sooyeon sambil berpindah duduk ke sebelah Yujin

“Arra arra. Eh, lihat? Ini kan wortel kesukaanmu. Makanlah Sooyeon-ah.”, ucap Yujin sambil berusaha bergurau dengan Sooyeon

Yujin bisa tau perubahan mood sahabatnya itu, terutama saat Sooyeon mulai makan dengan pelan, dan lebih berfokus melihat adegan di hadapan nya. Tidak hanya Sooyeon dan Yujin yang bingung, tapi hampir semua orang yang melihat adegan itu ikut terbelalak. Bagaimana bisa seorang Sehun yang sangat anti-yeoja sekarang malah di suapi oleh anak pemilik kapal yang mungkin tidak pernah di temuinya sebelumnya.

Sooyeon meletakkan sendok dan garpunya, menghela nafas panjang.

“Aku ke toilet sebentar Yujin-ah.”, ucap Sooyeon sambil melangkah meninggalkan cafetaria tanpa menunggu persetujuan Yujin.

Sooyeon berjalan ke dek depan, dan duduk diam. Tak lama, yeoja itu menyandarkan kepalanya di meja.

“Pabo. Pabo. Pabo. Pabo. Pabo.”, gerutu Sooyeon terus menerus sambil membenturkan kepalanya ke meja

“Auw.. Appo..”, ucap Sooyeon pelan sambil mengusap keningnya yang memerah karena benturan berulang kali.

“Pabo. Sooyeon pabo. Sooyeon pabo. Sooyeon pabo..”, Sooyeon kembali membenturkan kepalanya ke meja itu.

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

21 thoughts on “BLIND – CHAPTER 6

  1. Sehun andweeee jgn melirik ke siapapun selain Sooyeon. Waduh, ntu mreka lgi d dunia.a Sehun kali ye? Ngomong” kkamjong kapan keluar.a yakk?
    Penasaran pke beeuudd eon, jadi next aja yah hehehe

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s