Falling For Innocence [Chapter 7]

req-151

|| Title: Falling For Innocence || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life | Comedy | Friendship || Main Cast:  Jiyeon | Kris a.k.a Wu Yi Fan | Tao | Jessica || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Credit Poster : IVRISLE on GANGSTER Graphic (Thank’s ^^)

Preview:  Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5 || Part 6 

Cerita ini Remake dari drama Korea dengan judul yang sama. Mungkin ada beberapa alur ceritanya yang aku singkat. Dan mungkin ada kata yang aku ganti pakai bahasaku sendiri tapi itu tidak mengubah alur ceritanya kok. Walaupun nantinya akan sedikit beda.

Pemain yang ada didalam cerita real milik penulis ya kalau di dunia kenyataan milik Tuhan, keluarganya, Temannya dan agencynya. Heheee… XD

***Happy Reading***

~Di kediaman Kris~

Setibanya dirumah Kris langsung melampiaskan kemarahannya kepada Sekertaris Oh yang sudah menunggu kedatangannya di rumahnya.

“Barang mewah akan berguna? Karena dirimu, aku benar-benar sudah gagal!” gerutunya penuh dengan kekesalan.

“Mungkinkah Nona Jiyeon termasuk gadis yang tidak menyukai hal-hal yang mewah?”

“Mana aku tahu? Yang jelas semua masukanmu itu membuatku benar-benar menjadi seorang pecundang, apa kau tahu?” ungkapnya sambil menahan kekesalan.

Sehun pun lalu berusaha menenangkan Kris yang terlihat sangat marah setelah insiden di toko tas tadi malam. Sehun kemudian memberikan sebuah ide baru lagi kepada Kris dengan cara mendekatkan dirinya kepada teman-teman dekat sekertaris Park. Karena menurut Sehun wanita yang tak bisa luluh dengan barang mewah pasti akan luluh bila seseorang tersebut baik dan dekat kepada seseorang yang ada disekitarnya.

“Disekitarnya?” Kris pun berkata seraya menggeryitkan dahinya.

“Kau tahu para wanita akan tersentuh hatinya ketika teman-temannya mengatakan sesuatu yang baik.”

Sehun lalu memberikan ide yaitu meminta Kris untuk mengundang rekan kerja Sekertaris Park yaitu Sekertris  Hyomin dan Sekertaris Boram untuk berkunjung kerumah kediamannya saat dihari sekertaris. Jadi atasannya dapat memanfaatkan hari itu untuk mendekati Sekertaris Park dengan alasan mengundang teman dekat  Jiyeon.

“Omong kosong apa ini? Aku tidak suka. Mengapa aku harus mengundang orang asing ke rumahku?” Nampaknya Kris sama sekali tak tertarik dengan ide yang diberikan oleh Sehun kepadanya.

“Hanya ini satu-satunya cara angar Anda bisa dekat dengan Nona Jiyeon, Direktur? Untuk membuatnya tersenyum, kau harus berkorban.”

“Meski begitu, aku merasa ini tidak benar.” Ujar Kris ragu namun Sehun langsung meyakinkan Bosnya agar mau melakukannya. Kemudian Sekertaris Oh pun berkata. “Bahkan lebih…. lebih dari ini untuk berhasil mendapatkan hati seorang wanita yang tak mempan dengan barang mewah.”

~OoO~

~Di tempat lainnya~

Eunjung mendapat kabar tentang sebuah mobil  Pride putih yang mencurigakan, karena pemilik Pride putih itu ternyata dulu bekerja di perusahaan Hermia. Kebetuan juga pemilik mobil tersebut baru-baru ini telah menjadi buronan atas kasus skandal di Hermia. Mendengar itu Eunjung langsung menyarankan  rekan kerjanya untuk meminta bantuan kepada polisi lain untuk melakukan pencarian mobil itu.

“Tidak peduli bagaimana aku melihatnya,  ini bukan kasus tabrak lari.” ucap wanita berambut pendek tersebut dan tak berapa lama kemudian dia langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar. Rekan Eunjung pun sempat bingung dengan tingkah laku gadis tersebut.

“Kemana Kau akan pergi? Nona Eunjung?” panggil rekannya namun gadis itu tak menggubris panggilannya.

~OoO~

~Keesokan harinya~

Disaat jam istirahat Jiyeon beserta teman dekatnya yang berprofersi sama dengannya di panggil ke ruang kerja Kris.

“Aku tidak tahu mengapa Anda memanggil ku untuk datang kesini, tapi aku tak pernah bisa  mengkhianati PresDir Wu.” ucap Hyomin dan disusul oleh Boram. “Aku juga. Aku juga tidak bisa mengkhianati PresDir Wu.”

Rekan kerja Jiyeon mengira kalau Kris memanggil mereka untuk berkhianat kepada Presdir Wu. Karena itulah sebelum Kris mengucapkan sepatah katapun, mereka berdua langsung menyatakan dirinya bahwa mereka tidak akan memberikan sedikitpun informasi kepada Kris. Kris sempat terpancing emosi dengan perkataan mereka berdua.

“Itu bagus! Mulai sekarang teruskan sa..” belum sempat Kris menyelesaikan ucapannya Sehun langsung menenangkan Kris. “Direktur… tenanglah…” bisik Sehun sambil menepuk pelan atas pundak Kris yang sedang berdiri  di samping pemuda tersebut.

Setelah sedikit tenang Kris lalu memberitahu kepada mereka bertiga tetapi kedua mata pemuda itu fokus menatap kearah Jiyeon kalau dirinya ingin mengundang mereka bertiga untuk mengunjungi kediamannya sekalian Kris ingin membuat acara pesta hari sekertaris di rumah barunya. Teman-teman Jiyeon sangat senang mendengar undangan berkunjung dari Kris. Tapi entah kenapa tiba-tiba perkataan  Kris menjadi dingin diakhir ucapannya.

“Aku memiliki semua yang aku perlukan, jadi kalian  tidak usah membeli sesuatu yang  tidak berguna. Sebagai imbalannya, tolong jangan buat rumahku berantakan ketika, kalian disana.” perkataan Kris menyiratkan sepertinya ia sangat tak menyukai bila ada orang asing datang berkunjung kerumahnya.

Perkataannya itu sontak membuat kedua rekan kerja Jiyeon menjadi takut, tapi Sekertaris Oh dengan cepat meredakan ketegangan mereka dengan cara tertawa dan mengajak mereka semua bertepuk tangan untuk Kris yang sudah berbaik hati membuat acara pesta di hari sekertaris di kediaman barunya.

~OoO~

~Dimalam harinya~

Kediaman Kris sudah terlihat beberapa macam peralatan spa dan tak berapa lama kemudian datanglah seorang pengantar makanan dengan membawa berpuluh-puluh makanan khas Cina dan beberapa botol soju. Sekertaris Oh sempat cemas bila makanan yang disunguhkan oleh Kris itu teralu sederhana.

“Apakah ini tidak terlalu sederhana, Direktur?”

Perkataan Sehun angsung ditepis oleh atasannya. “A-ani… Makanan Cina itu tabu buat sekretaris karena membuat mulut mereka bau. Biarkan mereka menikmati makanannya termasuk bawang dan Soju sebanyak yang mereka inginkan saat ini.” ungkapnya sambil menyemprot-nyemprotkan pewangi ruangan disepanjang sisi sudut ruangannya dan tak berapa lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.

“Tiinntong…”

Sehun lalu berlari ke depan pintu untuk menyambut para tamu sedangkan Kris mengatur posisi duduknya di sofa panjang yang didepannya sudah tersedia oleh berbagai macam jenis makanan. Saat tamu yang ditunggunya datang, Kris mulai sibuk mencari seseorang dari belakang dua orang tamunya.

“Kemana Sekertaris Park?” tanya Kris

“Ah, Dia tadi menelponku, katanya dia akan  mampir di suatu tempat terlebih dahulu jadi akan sedikit terlambat.” balas Boram. Mendengar kabar itu Kris menjadi kecewa. Karena semua yang ia lakukan ini semata-mata untuk Jiyeon.

~OoO~

Ternyata Jiyeon pergi mengunjungi Tao di kantor yang sedang sakit. Jiyeon juga tak lupa membawakan obat untuk Tao. Saat pemuda itu melihat Jiyeon datang malam-malam untuk dirinya lelaki itu sangat terkejut sampai-sampai Tao merasa seperti sedang bermimipi, ya bermimipi indah.

“Apa kau bisa mengenaliku?” tanya gadis itu sambil menggerak-gerakan sebalah tangannya dihadapan wajah Tao yang sedang mematung dan pria itupun membalasnya dengan suaranya yang lemah. “Aku tidak yakin. Ini seperti mimpi.” Mendengar perkataan Tao, gadis muda itupun menjadi semakin cemas. Karena nampaknya Tao benar-benar sakit.

~OoO~

~Kembali di kediaman Kris~

Beberapa jam kemudian Sehun mendapatkan kabar kalau Jiyeon tak bisa hadir di acara yang dibuat oleh Kris. Kris menjadi murka sampai-sampai pria jangkung itu hendak membalikkan meja yang penuh dengan makanan tepat yang berada di depan hadapannya. Namun sebelum itu terjadi sekertaris Oh cepat-cepat menenangkan atasannya yang mempunyai emosi yang cukup besar.

“Mungkinkah, Sekertaris Park Jiyeon tidak mau datang karena rumah ini.” kata Boram ragu dan perkataan gadis itu langsung di benarkan oleh rekan kerjanya. “Oh benar! Mungkin saja begitu.” balas Hyomin yang sudah mulai mabuk.

Mendengar pembicaraan mereka berdua membuat dirinya menjadi penasaran apa maksud pembicaraan mereka.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Kris dengan ekspresi wajah yang masih kesal.

Boram dan Hyomin lalu memberitahu kalau rumah yang baru saja di beli olehnya adalah rumah impian Jiyeon bersama dengan mendiang tunangannya. Mendengar kabar bahwa tunangan Jiyeon sudah tiada membuat Kris shock.Pria itu hanya terpaku saat Hyomin mulai menceritakan betapa beratnya kehidupan Jiyeon didepan hadapan Direktur Kris yang selama ini terkenal dengan sikap arogannya erhadap Sekertaris Park.

~OoO~

Jiyeon pergi untuk membelikan sup labu untuk Tao. Setelah tiba diruang kerja sahabatnya, Jiyeon lalu menyuruh Tao untuk berhenti sejenak dari kesibukannya. Tao kemudian diantarkannya ke sofa panjang yang tak jauh dari depan meja kerjanya.

“Makanlah sup labu ini, nampaknya ini akan membantu mu.” ucap Jiyeon.

Tao pun akhirnya dengan berat hati mulai memakan sup labu yang sudah di bawakan oleh Jiyeon untuknya. “Kau seharusmya tidak perlu datang, Jiyeon-ah. Yang aku butuhkan adalah istirahat.  Kedatanganmu membuatku bekerja lebih banyak.” kata Tao dingin sambil berupaya menelan sup labu tersebut dengan susah payah. Melihat Tao kesulitan menelan makanan tersebut membuat Jiyeon menjadi cemas dengan keadaan sahabat baiknya ini.

“Kau memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan karena perusahaan dalam situasi krisis. Kau pasti memiliki banyak tanggung jawab.” ungkapnya Jiyeon dengan nada yang sedih melihat gadis itu bersedih membuat pemuda itu menjadi kikuk.

“Jiyeon-ah… aku tidak melakukan pekerjaan yang besar kok. Aku juga tak tahu kenapa, mengapa aku hidup seperti ini?”

Mendengar ucapan sahabatnya itu, Jiyeonpun menjadi lebih mengkhawatirkanya. Dengan suara yang pelan gadis itupun berkata. “Tao-ah… Tidak apa-apa untuk tidak melakukan  semua pekerjaan itu. Hanya saja jangan sampai sakit. Aku hanya memiliki dua teman sekarang. Aku sangat khawatir jika kau terluka. Jadi jangan sampai sakit ya.” pinta Jiyeon dan Tao pun membalas ucapan gadis itu dengan senyuman tipisnya.

~OoO~

Setelah pesta itu berakhir di kediamannya, Kris masih diam membisu di ruang tamu. Pria itu terus menerus termenung memikirkan perkataannya yang kasar tentang mendiang tunangan Jiyeon didepan hadapan gadis itu. Kris merasa sangat bersalah dan itu membuat jantung barunya berdetak kencang dan itu membuatnya menjadi sesak. Tak ingin memendam rasa bersalah terhadap Jiyeon, Kris langsung berlari keluar dari rumahnya untuk mencari Jiyeon.

Diperjalan menuju rumah Jiyeon, Kris terus menerus bergumam sambil menaiki anak tangga. “Apa yang akan ku katakan ketika aku tiba di sana?” Kris merasa tak enak hati bila dia mengatakan tidak tahu apapun saat itu.

“Itu pasti sangat memalukan bila aku mengatakan itu kepadanya.” gumamnya sambil turun kembali dari anak-anak tangga tersebut.

Tak sengaja Kris melihat Jiyeon sedang turun dari sebuah mobil sedan putih dan disusul oleh seorang Namja dari dalam mobil tersebut. “Direktur Tao?” ucap Kris sambil mempercepat langkah kakinya menuju kebawah.

“Aku sudah bilang aku bisa menggunakan taksi.  Orang yang sakit malah membawaku pulang.”

“Kebetulan kita satu arah pulangnya  dan aku juga merasa lebih baik setelah minum obat.” Kata Tao dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Meihat Tao terlihat sedikit bugar membuat Jiyeon mencoba mengukur suhu panas Tao dengan cara menyentuh atas kening miik Namja itu dengan sebelah tangannya.

“Wah…. benar kau sudah baikan.” balas Jiyeon senang. Mereka berduapun saling bertukar senyuman. Melihat pemandangan seperti itu membuat Kris kesal. Lalu pria jangkung itupun berjalan menghampiri Jiyeon dan Tao.

“Kalian sedang bersenang-senang.”  ungkap Kris dengan tatapan mata yang mengejek.

Jiyeonpun langsung menundukan kepala untuk memberi hormat kepada atasannya. “Direktur?”

“Direktur Wu? Mengapa kau ada disini?” tanya Tao bingung.

Entah kenapa emosi Kris menjadi tak terkendali. Pria itu lalu menjawab pertanya Tao dengan nada yang membentak. “Rumahku dekat SINI!!!” setelah mengatakan kalimat itu, Kris mulai berjalan perlahan-lahan kehadapan Jiyeon. “Apa kau bersamanya sepanjang malam?” tanya Kris. Jiyeon pun langsung mengiyakannya, dia memang tidak bisa datang karena alasan yang tidak bisa ia hindari.

“Alasan yang tidak bisa dihindari? Seberapa besar? Sampai-sampai kau tidak datang ke pesta syukuran rumah atasanmu.” ucapnya dengan nada yang sinis.

“Ya.” Sekali lagi Jiyeon membenarkan ucapan atasannya tersebut tepat dihadapan Tao yang sedang berdiri disisinya. “Tao sedang sakit dan dia tidak memiliki keluarga. Aku sudah mengangapnya seperti saudaraku sendiri. Jadi aku tak bisa pergi meninggalkannya untuk pergi ke acara pesta Anda Direktur Wu. Maafkan kelancangan ku.”

Setelah menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Kris. Jiyeon kemudian meminta maaf kembali kepadanya. Tapi Kris langsung mengabaikan permintaan maaf Jiyeon. “Tidak apa-apa. Kau ini kan bukan tamu spesial. Aku kesini bukan karena itu. Ada beberapa hal yang Aku ingin aku bicarakan kepada mu.” tuturnya.

“Besok, tim perunding untuk pabrik  cabang menengah akan bertandang ke Kantor Pusat.”

“Apa maksud Anda dengan ‘tim perunding  untuk pabrik cabang tengah’?” tanya Jiyeon bingung.

Tenyata Jiyeon tidak tahu tentang kedatangan tim negosiasi pabrik cabang besok. Kris menduga ketidak  tahuan Jiyeonpasti karena Tao tak memberitahukannya. Kris lalu meminta Jiyeon datang kekantor lebih pagi untuk membuat laporannya. Namun saat Jiyeon hendak menolak, Kris langsung berucap. “Ini pekerjaan yang pantas diberikan padamu dalam hubungan antara kau dan aku.”

“Eh…??”

“Kau yang bilang seperti itu. Kita menjaga jarak sekitar pekerjaan saja.” ucap Kris dengan ekspresi wajah datarnya setelah itu iapun berlalu.

~OoO~

~Keesokan harinya~

Eunjung mendapapat kabar bahwa mobil yang selama ini ia cari-cari terlihat di sebuah tempat perjudian. Mendengar berita itu Eunjung dan rekannya langsung bergegas ketempat yang dimaksud dan benar ia menemukan orang yang selama ini mereka cari. Meliahat ada polisi yang berpakaian preman mencarinya. Pria paruh baya itu langsung berlari tunggang langgang meninggalkan kasino tersebut namun pelariannya langsung di ketahui oleh Eunjung dan kawan-kawannya.

Buronan tersebut berlari sekuat tenanga dan pelariannya terhenti saat dirinya terpojok di salah satu gak sempit. Pria paruh baya itupun langsung meraih sebuah tongkat besi yang cukup panjang didalam gengamannya. Tongkat besi itu digoyang-goyangkannya kearah depan dengan membabi buta.

“Kami bukanlah unit razia  perjudian, Yong Bae.” ucap wanita berambut pendek tersebut.

“Namaku…. bagaimana kalian mengetahui nama ku?” pria paruh baya tersebut menjadi bingung kepada Eunjung dan kedua rekan kerja gadis itu.

Dengan nada yang pelan namun jelas Eunjungpun berkata. “Kau tahu orang yang bernama Park Chanyeol kan? Polisi yang kau tabrak setelah itu kau pergi meninggalkannya seperti binatang!!!” Bentaknya.

Pria paruh baya itupun lalu menggeleng-gelengkan kepalanya cukup kencang. Dia sepertinya memberi isyarat kalau bukan dirinyalah pelaku sebenarnya. Bahkan pria tersebut mengatakan kaliamat yang aneh pada Eunjung dan kawan-kawan. “Tidak!!! Aku hanya melakukan apa yang diperintahkan! Ada orang lain yang menjadi dalang dari semua ini?” dengan linangan air mata dan seketika pria paruh baya itu langsung berlari kencang.

Buronan tersebut terus berlari kencang tampa melihat sekelilingnya dan tak sengaja sebuah truk menabrak tubuh pria tersebut hingga tubuhnya terpelanting cukup jauh. Eunjung dan Timnya terlihat shock dengan apa yang sedang terjadi dan buronan tersebut angsung dibawanya kerumah sakit terdekat.

~OoO~

Di malam harinya Kris bermimpi kembali. Ia bermimpi sedang terkapar tak berdaya dengan kepala penuh lumuran darah di jalan yang sepi. Dari kejauhan dia melihat sebuah ponsel tergeletak dihadapannya. Ponsel itupun kemudian berbunyi. Suara ringtone ponsel tersebut terdengar sangat familiar ditelinga Kris. Kris berusaha meraih Ponsel tersebut dengan sisa tenanganya namun belum sempat ia meraihnya, tiba-tiba kaca ponsel tersebut retak tanpa sebab dan didetik itu juga pemuda itupun terbangun dari mimipinya.

Saat Kris baru saja terbangun, tiba-tiba ponsel miliknyapun berdering. Ya lagu yang sama seperti dimimpinya tapi Kris sama sekali belum menyadarinya. Ternyata yang menelefon dirinya adalah Jessica. Ia menyuruh Kris segera datang ke Hermia, karena ada sesuatu masalah yang besar.

Sesampainya dia perusahaan Kris sudah melihat didepan kantor sudah penuh dengan reporter. Jessica lalu buru-buru menghampiri Kris dan menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya. “Kartu rahasia PresDir Wu adalah ini. Dia membuat media terfokus pada pabrik  cabang tengah untuk memanipulasi opini publik.”

Mendengar penjeasan rekan kerjanya Jessica membuat Kris meradang. “Dasar orang tua ini!”

~OoO~

Saat rombongan Kris hendak berkunjung menuju ruang pamannya ternyata orang yang ingin ditemui oleh Kris sedang berjalan keluar dan tepat sekali mereka bertemu. Dengan nada yang kesal Kris mengatakan kekecewaannya kepada Presdir Wu.

“Kau mengancam anggota dewan dengan  kesalahan mereka, menggunakan media  untuk menghasilkan opini publik dan memancing kemarahan serikat. Kau Benar-benar berjuang keras.” Ejeknya namun nampaknya pria tua itu sama sekali tak bergeming dengan ucapan yang dilontarkan oleh Kris.

“Alasan opini publik menjadi menakutkan, apalagi mengenai masalah kekayaanmu, Direktur Wu.” Balas Presdir Wu dengan wajah datarnya. Tapi Kris sama sekali tak gentar dengan perkataan pamannya itu, dengan lantang Krispun membalas perkataan pamannya. “Apa pun itu, opini publik akan mudah dilupakan. Kau harus ingat itu. Kalau opini publik ada untuk waktu yang singkat dan menghilang, namun aku bisa saja menyebarkan pengkhianatan yang kau lakukan  dua puluh lima tahun yang lalu kepada publik. Jadi menurutmu, siapa yang akan takut pada akhirnya kau atau aku.” tantang Kris penuh dengan kepercaya dirian.

~OoO~

~Di dalam ruangan kerja Kris~

Kris sedang berbincang-bincang dengan Jessica tentang masalah insiden saat tadi. Jessica cukup resah dengan sikap Kris yang tetap menggunakan rencana awal untuk menjatuhkan Presdir Wu. Dan tak berapa lama kemudian datanglah Jiyeon masuk kedalam ruangan Kris.

Saat itu juga pembicaraan diantara keduanya terhenti dan jessica pun pergi untuk membicarakan lebih lanjut kepada Presdir Gold partner. Ternyata Jiyeon sudah membawa semua laporan yang diinginkan Kris dan Jiyeon juga menuliskan sebuah laporan lainnya.

“Aku sudah membuat laporan lain juga untuk Anda lihat.”

“Apa yang kau lakukan sekarang, Sekertaris Park?”

“Aku berharap Anda akan memiliki perubahan hati.” tambah gadis itu.

Jiyeon sengaja membuat laporan tambahan itu dengan harapan agar Kris mau merubahh pikirannya, meskipun Jiyeon tahu itu hal yang sangat mustahil untuk diubah. Namun gadis itu tetap mencoba untuk melakukannya kepada Kris.

“Ada satu alasan lain. Alasan lain itu adalah dirimu.”

“Mengapa aku?” Kris mulai bingun dengan maksud arah pembicaraan Jiyeon kali ini. lalu Jiyeonpun menjelaskan maksud pembicarannya. “Pabrik ini dibuat oleh ayahmu dan pada akhirnya pabrik ini akan jatuh ketangan Anda, Direktur.  Hanya Anda orang yang bisa menyelamatkan perusahaan ini. Aku ingin Anda memikirkan tentang hal itu.”   ujarnya setelah itu Jiyeon pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan tersebut.

~OoO~

Setelah Jiyeon pergi, Kris mulai membaca laporan yang dibuat oleh sekertarisnya. Beberapa para karyawan sudah bekerja di perusahaan Hermia untuk beberapa generasi. Ada seorang bapak yang bekerja dengan memakai pin simbol universitas anaknya dengan penuh bangga. Ada juga seorang ibu tunggal yang penglihatannya sudah kabur namun ia tetap semangat bekerja tanpa lelah. Dan ada juga seorang perjaka tua yang menabung dengan giat untuk biaya pernikahannya kelak entah kapan itu bisa terjadi.

Tak berapa lama datanglah sekertari Oh masuk kedalam ruang kerja Kris. pria itu memberitahu kalau rapat akan segera dimulai. Krispun mulai merapikan berkas-berkas yang ada diatas mejanya setelah itu laporan tambahan yang dibuat oleh Jiyeon diremasnya menjadi sebuat buntalan kertas dan lalu kertas tersebut dilemparkannya diatas meja kerja.

Saat Kris tiba diruang pertemuan rapat ia melihat satu persatu karyawan yang sudah duduk disana. sidaat itu juga Kris pun teringat dengan isi laporan yang ditulis oleh Sekertaris Park. Kris lalu memberi kesepatan untuk para karyawan untuk berbicara terlebih dahulu.

“Apa benar kalau Anda ingin menjual pabrik cabang tengah atau memberhentikan para pekerja?” tanya pria paruh baya yang memakai sebuah pin diatas kerah jaketnya.

“Masalah ini masih dalam pembicaraan.” Jawab Tao yang saat itu sudah lebih dulu ada didalam ruangan rapat tersebut.

“Lalu, apa ada kemungkinan bisa diputuskan seperti itu?” tanya wanita paruh baya yang memakai kacamata yang cukup tebal.

“Sebuah proposal bahkan belum dibuat pada pertemuan anggota dewan! Jadia anda tak perlu memikirkan i…” belum sempat Tao menyelesaikan ucapannya tiba-tiba salah satu pekerja yang lain memotong pembicaraannya. “Bagaimana kami bisa percaya pada Anda?” sambil melirik kearah Kris.

Melihat tatapan pria itu penuh dengan kekesalan membuat Kris menatap sinis kearahnya sambil berkata. “Lalu siapa yang akan kau percayai?”

Merekapun terdiam beberapa saat. Tak berapa lama kemudian salah satu pekerja menanyakan apakah tak ada jalan lain  selain menjual pabrik cabang. Dengan dinginnya Kris mengatakan  kalau dia mempunyai rencana yang sudah ia atur.

“Pertama; Jual pabrik ini setelah negosiasi yang maksimal.”

“Kedua; Jual ini dengan cepat setelah berpura-pura bernegosiasi.”

“Ketiga; Jual ini setelah berjanji untuk mempekerjakan  kembali dan memberikan kontrak tertulis.”

“Keempat; Jual ini dengan sikap siapa yang peduli.”

Sontak suasana didalam ruangan tersebut menjadi canggung. Para pekerja tercengang kaget dengan rencana yang telah dibuat oleh Kris. Lalu dengan santainya pemuda itupun berkata kembali sambil menatap satu persatu pekerja dicabang. “Bagaimana? apa sekarang kalian sedikit percaya padaku? Tidak peduli apa yang aku katakan, kalian tidak akan percaya padaku bukan?”

Setelah berkata itu Kris langsung mengakhiri rapat tersebut. Saat dirinya hendak beranjak pergi tiba-tiba salah satu anggota pekerja cabang berlari kehadapannya dan kemudian tampa sungkan-sungkan pria itu menarik kerah jas Kris dengan kasar.

Anak – anak buah Krispun berlari kearah Kris untuk menolong memisahkan pekerja cabang dari sisi atasannya. Namun Kris langsung mencegahnya dan dengan santainya pemuda itu berkata. “Aku memiliki ribuan asuransi untuk kasus seperti ini. Oleh karena itu, jika kau memukulku aku akan mendapatkan uang asuransiku untuk menambah kekayaanku.”

mendengar celotehan Kris membuat dirinya berang. Pria itupun lalu mempererat gengaman tangannya yang berada di kerah jas kerja Kris. “Daras Brengsek, KAU!” makinya dan tepat disaat itu juga datanglah seorang lelaki tua. Ya lelaki tua itu adalah Park Taesuk atau bisa dibilang juga ayahhanda dari Park Chanyeol.

“Ketua tim Ko, lepaskan dia!”  pinta lelaki tua itu.

“Ketua!” sambil menoleh kearah atasannya nampaknya pria itu tak mempunyai niat untuk melepaskan gengaman tangannya dari Kris. melihat itu Ketua Park pun berjalan menghampirinya. “Lepaskan dia. Kita sudah berjanji untuk tidak melawan secara fisik.” dengan berat hati pria yang saat tadi memegang kerah Krispun melepaskan genggamannya.

Tatapan mata Krispun menatap fokus kearah lelaki tua tersbut, keuda mata pria itu menatap sosok pria tua paruh baya itu tanpa mengedipkankedua mata sekalipun untuk beberapa saat. Jantung Krispun berdetak keras. Dia mulai merasakan sesak didadanya dan tak berapa lama kemudian pandangan Kris mulai kabur dan beberapa detik kemudian tubh pia jangkung itupun roboh tanpa perlawanan.

~OoO~

Kris lalu dibawa langsung kerumah sakit yang sudah menjadi tempat biasa Kris berobat. Disana Dokter Jo merasa bingung dengan apa yang sudah terjadi dengan diri pemuda tersebut. Kondisi tubuh Kris nampak bugar meskipun denyut nadinya tidak stabil. Kenapa dikatakan bugar, karena hasil lab Kris tidak menunjukan hal yang aneh, dia sehat tapi kenapa ia bisa jatuh pingsan.

Diluar, Jiyeon sedang menunggu di ruang tunggu pasien. Setelah melihat Dokter Jo keluar dari dalam kamar Kris. Gadis itu langsung berlari menghampiri pria paruh baya tersebut. Jiyeon mulai menanyakan bagaimana keadaan Kris pada Dokter Jo.

“Kami hanya memberikan suntikan obat penenang.  Saat dia terbangun, mungkin kemampuan bicara dan gerakannya akan sedikit melemah.” tutur Dokter Jo kepada Sekertaris Park. Setelah itu iapun pergi meninggalkan Jiyeon.

~OoO~

Beberapa jam kemudian Tao pun datang ke rumah sakit dan disaat itu juga Krispun siuman. Pria itu terlihat sangat pucat dan lemah. Bahkan Kris tak mampu berdiri dari atas ranjangnya. Iapun lalu memegang alat monitor yang ada disamping ranjangnya untuk membantunya berdiri namun tubuh Kris itupun oleng. Kris langsung jatuh terkapar  ke bawah lantai bersamaan dengan alat monitor tekanan jantungnya.

Pandangan mata Kris masih terlihat kabur namun ia tak memperdulikannya. Kris tetap berjalan keluar dari dalam kamarnya dengan jalan yang sempoyongan. Dan saat Kris keluar dari kamarnya ia bertemu dengan Jiyeon.

Jiyeon terlihat sangat khawatir dengan keadaan Kris. Namun Kris hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan beberapa saat kemudian pria itu mengulurkan sebelah tangannya  untuk menyentuh wajah Jiyeon sambil berkata dengan suara yang parau. “Jangan pergi… Jangan pergi…” lalu Kris menarik tubuh Jiyeon kedalam pelukannya. “Jangan pergi… mulai sekarang tetaplah bersama ku.”

Jiyeon sangat terkejut dan kebingungan menghadapi sikap Kris dan tampa Jiyeon sadari ternyata Tao sudah ada dibelakang dan pria itupun hanya terpaku saat melihat Jiyeon sudah ada didalam pelukan Kris.

~OoO~

~Tao POV~

-Saat kecil-

Appa, pangeran Kecil ini akhirnya bertemu dengan putri !” ungkap ku sambil menunjukan buku ceerita yang baru dibelikan oleh ayah untuk ku.

Tiba-tiba datanglah sebuh mobil sedan berwarna hitam yang berhenti di depan pos jaga ayah ku. Ayah langsung berlari keluar untuk menyapa tamu tersebut. Didalam mobil tersebut ada seorang pria paruh baya berserta putrinya.

Aigoo, Nona Jiyeon tambah cantik saja.” Puji ayah ku. Gadis kecil itu tersenyum  dan saat kedua mata kami beradu pandang aku langsung gugup dan disaat itu juga aku  membuang pandangan didepan hadapannya.

Jiyeon-ah, Apa kau tahu aku paling benci dengan penggunaan kata ‘Nona’ itu.

~OoO~

-Saat  di sekolah dasar-

Tiba-tiba hujanpun turun deras saat jam pulang sekolah. Aku tak sengaja melihat didirmu sedang berdiri termangun didepan pintu gerbang sekolah. Sebenarnya aku ingin memberikan payung yang aku bawa untuk mu namun saat aku hendak akan memberikannya padamu, aku baru tersadar kalau payung ku mempunyai robekan kecil disisi atas. Dan itu membuatku jadi mengurung niat ku untuk memberikannya padamu.

Akhirnya aku pergi meninggalkan mu sendiri namun saat aku hendak mengajakmu aku sudah melihat dirimu sudah bersama dengan Chanyeol sedang bersiap-siap untuk menerobos hujan dengan menggunakan terpal yang terihat lusuh.

Karena aku begitu buruk. Aku selalu ragu-ragu sebelum mendekatimu.”

~OoO~

Kita berduapun tumbuh besar bersama dan tak terasa kita sudah dewasa. Aku ingin sekali mengajak mu pergi kekonser. Aku sengaja membelikan tiket konser dari uang saku ku yang sudah aku tabung senjak sebulan yang lalu.

Aku berniat untuk memberitahukan mu di dalam bis namun belum sempat aku mengatakannya kau sudah jatuh tertidur puas di atas bahuku. Dan tak lama kemudian Chanyeol masuk kedalam bis yang kita naiki saat dihalte berikutnya.

Dengan terburu-buru aku langsung menyembunyikan tiket konser tersebut saat kekasihmu datang. Dan Chanyeolpun duduk bersama kita tepatnya ia duduk disamping mu dan kepalamu pun dipindahkannya dari atas bahuku ke atas bahunya.

Sampai akhirnya kau bertunangan dengan Chanyeol aku tak mampu mengatakan isi perasaan ku padamu. Chanyeol juga selalu memanggil mu dengan sebutan ‘Nona’.

“Mungkin Itu sebabnya aku selalu satu langkah  dibelakang. Seandainya aku mengatakan terlebih dahulu dan bersikap lebih cepat dari Chanyeol, mungkin yang ada disampingmu bahkan yang kau cintai adalah aku.”

Dan akhirnya penantian ku tiba aku bisa berlari untuk menjagamu dan memelukmu saat Chanyeol sudah tiada. Penghalangku sudah  hilang dan disaat itu juga aku bersumpah. Kalau aku tak akan ragu-ragu lagi untuk bisa bersama mu.

“Tapi Jiyeon-ah… mengapa aku memiliki perasaan kalau aku ketinggalan satu langkah lagi? Saat melihatmu bersama dengan Kris?”

Tao pun menatap kosong kearah  Jiyeon yang sedang berpelukan dengan Kris. Tubuh Taopun mulai  bergetar hebat saat dirinya harus melihat pemandangan itu tepat  didepan kedua mata kepalanya.

~Tao POV-End~

-TBC-

~OoO~

Haloo…. ketemu lagi nih sama aku Phiyun disini…

Aku membuat kelanjutannya lagi nih, hehe ^^ Semoga kalian menyukainya ya…

FF ini pernah aku publish di T-ara Fanfictions

Aku juga mau mengucapkan terima kasih kepada reader yang sudah mau meninggalkan jejaknya di part – part sebelumnya. Komentar dari kalian semua adalah sebangai penyemangat ku dalam membuat kelanjutan bahkan di FF ku yang lainnya.

Sampai ketemu di next part selanjutnya

Gomawoyo  ❤

Advertisements

20 thoughts on “Falling For Innocence [Chapter 7]

  1. ternyata Tao sudah menyukai jiyeon sejak masih kecil dan masih terpendam tapi sepertinya sdh menjadi obsesi tuh.. penasaran kelanjutan hubungan kris dan jiyeon selanjuutnya

    Liked by 1 person

    • Iya Tao udah suka ma jiyeon dari kecil tapi dianya selalu membenam perasaannya jadinya sekarang terobsesi deh untuk miliki jiyi..
      Makasih yah dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s