BLIND – CHAPTER 5

Blind

Author : IRISH

Tittle : Blind

Main Cast :

EXO Oh Sehun, Kim Jongin, OCs Lee Yookyung, Kang Sooyeon

Genre : Fantasy, School-Life, Romance

Rate : PG-16

Lenght : Chapterred

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

In Sooyeon’s Eyes…

“Sooyeon, dekatkan tanganmu ke arahku.”

“N-Nde?”

Aku menyernyit bingung. Tapi toh ku lakukan juga. Jantungku berdegup beberapa hentakan lebih kencang saat tangan Sehun menyentuh tanganku.

“Bantu aku membawa barang-barangku ke kamar.”, ucap Sehun

“A-Apa?”

Aku menatap dua hyung Sehun. Mereka menyernyit, memandangku dan Sehun. Tapi kemudian mereka tersenyum ramah.

“Ahh, Sooyeon, kau tidak keberatan mengawasinya selama study tour ini?”, tanya salah satu hyungnya

“Nae. Gwenchana. Aku akan mengawasinya.”, ucapku

Mereka mengangguk.

“Aku percaya padamu. Tolong jaga Sehun nae?”

Aku mengangguk cepat.

“Nae. Pasti aku akan menjaganya.”

“Arraseo. Nanti tolong beritahukan seongsaengnim. Kami akan kembali sekarang.”

“Suho hyung..”, ucap Sehun

Hyungnya yang tadi bicara, menoleh. Oh.. Jadi namanya Suho.

“Ya Sehun?”

“Maaf, membuatmu dan Kyungsoo hyung jadi repot.”, ucap Sehun

Baiklah. Nama hyung nya yang satu nya adalah Kyungsoo.

“Tidak apa-apa. Jaga dirimu baik-baik.”, ucap Kyungsoo

“Gomawo hyung.”, ucap Sehun

Dua hyung Sehun itu kemudian masuk ke dalam mobil, setelah mereka mengeluarkan koper dan tas ransel Sehun tentunya. Lalu mobil mewah itu melaju meninggalkan kami.

Sehun menggoyangkan tanganku pelan, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Kajja.”, ucap Sehun

Aku memberdirikan koperku, dan koper Sehun. Sementara Ia memasang tas ranselnya.

“Mana kopernya? Biar aku yang bawa.”, ucap Sehun

“Eh? Kau bisa?”, ucapku

“Tentu saja.”

Aku memberikan kopernya, tapi kemudian Ia menyernyit.

“Kopermu juga.”, ucap Sehun

“Apa?”

“Kau bimbing saja langkahku, aku akan bawa kopermu juga.”

“Ah, baiklah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hanya ada satu tempat tidur berukuran besar di kamar kami. Dan satu lagi adalah kasur yang letaknya di lantai. Aish. Jika isi kamar ini adalah yeoja-yeoja atau namja-namja, bisa saja satu tempat tidur besar itu digunakan bersama. Tapi keadaan seperti ini..

“Kau melamunkan apa?”, tanya Sehun

“Ha? Ani. Tempat tidurnya hanya ada satu. Dan satunya kasur di lantai.”, ucapku

Sehun menyernyit.

“Kau gunakan tempat tidurnya. Aku akan gunakan kasur yang di bawah.”, ucap nya

“K-Keundae..”

“Gwenchana. Tidak baik jika yeoja tidur di bawah.”

Aku tersenyum tipis. Walaupun Ia sangat menyebalkan di sekolah, tapi ternyata Ia dewasa juga.

“Gomawo..”, kataku, sambil kemudian meletakkan koper kami di depan lemari.

Tatapanku tertuju pada Sehun yang tampak tengah berusaha menemukan ujung tempat tidur. Aku segera mengobrak-abrik isi tasku, dan ku temukan kameraku.

KLIK.

Satu gambar lagi. Dari sekian banyak gambar Sehun yang aku kumpulkan sejak hari pertama aku masuk di sekolah.

“Sooyeon?”

“Ya?”, ucapku

“Bisa kau buka jendelanya?”, tanya Sehun

Aku melangkah ke jendela lebar yang ada di kamar. Menuju ke arah balkon langsung. Lalu aku membuka jendela kamar.

“Whoah..”

“Kau melihatnya?”, ucap Sehun

“Eh? Apa?”, ucapku bingung

“Burung-burung itu kan? Kau melihatnya?”

Aku memandang ke arah burung-burung kecil yang berterbangan.

“Ya. Aku melihatnya..”, ucapku, kemudian aku memandang Sehun

“Neo gwenchana?”, tanyaku karena Ia masih diam

“Hm? Ya. Aku baik-baik saja. Aku hanya suka mendengar suara burung-burung kecil itu. Bahkan aku tinggal di tempat yang banyak burung nya.”, ucap Sehun, tersenyum.

Kemudian aku teringat.

“Kau masih berutang penjelasan padaku.”, ucapku

Sehun tertawa pelan.

“Kan aku sudah bilang kau bisa menanyakan nya saat matahari terbenam.”

“Ani, bukan pertanyaan yang itu.. Tapi pertanyaan lain.”

Sehun menyernyit.

“Yang mana?”, tanyanya

“Itu.. Kenapa kau bisa tau banyak hal tentangku?”

Sehun tampak terdiam. Dan aku menunggunya.

“Tentu saja dari datamu di ruang guru.”, ucapnya enteng

“Eh? Jinjjayo?”, kataku tak percaya

“Ya. Aku menanyakan nya pada seongsaengnim.”

“Aish.. Jawaban nya simpel sekali.”, kataku membuat Sehun tertawa

“Memangnya kau pikir jawaban nya apa?”, ucap Sehun

“Ani ani. Lupakan saja.”, ucapku

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Ternyata sekamar dengan Sehun bukanlah hal yang terlalu buruk. Ya.. Walaupun hampir setiap menit ponselku berdering karena Yujin—

PIP. PIP.

“Mwo??”, ucapku pada Yujin

“Neo gwenchana?”

“Aish, selama aku masih mengangkat teleponmu, aku baik-baik saja.”, ucapku

“Jinjja gwenchana?”

“Tsk. Nan gwenchana.. Berhentilah menelponku terus. Aku ingin istirahat..”

PIP.

Aku meletakkan ponselku, kembali berencana menenggelamkan diri di bantal. Hari yang sudah sore seperti ini dan aku sama sekali belum tidur padahal nanti malam akan ada acara di luar—aku tidak suka acara itu, terutama karena akan di lakukan malam hari—telepon-telepon dari Yujin membuat kepalaku semakin pusing.

PIP. PIP. PIP.

“Apa lagi??”, ucapku

“Neo gwenchana?”

Ish..

PIP.

Aku terkesiap saat mendengar suara tawa pelan di dekatku. Aku membuka mataku, dan aku sadar bahwa Sehun lah yang tadi tertawa.

“Tidak lucu.”, kataku padanya

“Bagiku itu lucu,”, sahutnya

“Ish. Kau saja yang jawab Yujin. Dia menyebalkan sekali beberapa jam ini.”, kataku, melemparkan ponselku ke kasur di bawahku

Ya.. Sehun bilang Ia akan merasa lebih aman jika dia di bawah persis. Baiklah. Ku turuti saja, mengingat aku lah yang memintanya kembali kesini.

PIP. PIP. PIP.

“Temanmu baik-baik saja. Aku tidak akan berteriak padanya seminggu ini.”, aku memandang Sehun, Ia benar-benar menjawab telpon dari Yujin

“Dia memutuskan telepon nya.”, ucap Sehun

Aku tertawa pelan.

“Dia pasti kaget sekali.”, ucapku

“Benar. Tidurlah. Aku yakin dia tidak akan menelpon lagi.”, ucap Sehun

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

KRIEEETTT.

Aku terbangun. Samar-samar melihat seseorang menutup tirai kamar. Langit di luar juga sudah tampak gelap.

“Sehun? Kaukah itu?”, tanyaku

“Ya. Kenapa?”

“Ani.. Apa yang kau lakukan?”

“Menutup jendela.”

Aku segera bangun, menatap Sehun. Ia.. menutup jendela?!

“B-Bagaimana bisa?”, ucapku kaget

Sehun melangkah ke arahku. Dia melangkah dengan sangat pasti. Tidak seperti biasanya. Sekarang Ia tampak.. normal. Maksudku. Seperti bisa melihat normal.

“Jika ku beritahu, apa kau akan mengusirku dari kamar?”, tanyanya

“Ha??”

“Apa kau masih menganggapku temanmu?”

Aku semakin menyernyit.

“Jika jawaban nya tidak, aku tidak akan memberitahumu.”, ucap Sehun

“Ani ani. Aku tidak akan mengusirmu. Sungguh.”, kataku

Sehun duduk di tepi tempat tidur, menatapku. Dan entah kenapa tatapan nya membuat jantungku berdegup kencang. Bodoh.

“Aku bisa melihat saat matahari terbenam..”, ucap Sehun

“J-Jinjjayo!?”, aku membulatkan mataku tak percaya

Sehun mengangguk.

“Ya. Saat matahari terbit, aku tidak bisa melihat apapun. Tapi saat matahari terbenam. Aku bisa melihat.”, ucapnya

Aku terdiam. Memandang Sehun.

“Apa kau.. manusia?”, tanyaku

Sehun tampak terkesiap.

“Apa kita masih berteman bahkan jika aku bukan manusia?”, tanyanya balik

Kali ini Sehun yang menunggu jawabanku. Ia memandangku, benar-benar menunggu.

“Kau bukan manusia..”, ucapku pelan

“Mianhae..”

“Untuk apa?”, aku menatapnya bingung

“Kau tidak mendapat satu teman yang baik.”, ucapnya

“Ani.. Kita masih berteman.”, kataku

“Benarkah?”, Sehun memandangku

Aku mengangguk.

“Nae. Kita masih berteman. Sungguh.”

Sehun tersenyum.

“Baguslah.. Toh aku juga masih belum bisa melihat wajahmu dengan jelas.”, ucapnya membuatku kembali menyernyit bingung

“Eh? Tapi kau bilang kau bisa melihat.”

“Melihat hal yang berbeda dengan yang bisa kau lihat.”, ucap Sehun

Jadi.. Apa yang ku lihat, dan apa yang Sehun lihat.. Berbeda?

TOK. TOK.

“Kang Sooyeon. Oh Sehun.”

Aku segera merapikan rambutku, lalu beranjak membuka pintu.

“Ye seongsaengnim?”

“Segera lah keluar. Jam 7 acaranya akan di mulai.”, ucap seongsaengnim

“Ah, nae arraseo.”, kataku

Aku menutup pintu, lalu kembali memandang Sehun.

“Ayo. Seongsaengnim sudah menyuruh kita bersiap-siap.”, kataku

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku tidak pernah tau jika hari pertama acara ini adalah malam lilin. Astaga. Saat melihat hutan gelap seperti ini aku benar-benar tidak ingin beranjak keluar.

GREP.

Aku terkesiap saat Sehun menggenggam tanganku.

“Bersikaplah seolah kau menuntunku. Aku akan menjagamu..”, ucap Sehun

“Jinjja?”, kataku

Sehun tersenyum. Membuatku kemudian berani untuk melangkah keluar. Kami melangkah ke dekat api unggun, tampak banyak orang sudah duduk melingkar. Mengingat tour ini hanya di ikuti oleh 3 kelas, kurasa hanya sekitar 100 orang lebih disini.

“Namja harus berada disana.”, ucap seongsaengnim

Aku menuntun Sehun untuk duduk. Walaupun sebenarnya dia lah yang menuntunku. Sangat berbeda rasanya berjalan dengan Sehun saat siang hari dan saat malam hari.

Aku segera duduk tak jauh dari Sehun, tetap berusaha memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.

“Baiklah kita mulai saja permainan nya. Setiap orang akan diberi gelas berisi lilin. Saat orang itu mendapatkan pertanyaan, dia harus meniup lilin nya, dan menjawab pertanyaan miliknya. Setelah menjawab, dia bisa bertanya pada siapapun yang Ia mau. Mengerti?”

Kami menjawab dengan serempak. Dan.. di mulailah permainan nya..

“Kang Sooyeon.”

Aku menoleh ke arah Yujin, Ia menunjuk ke arahku.

“Ya?”, kataku

“Bisakah kau ceritakan kenapa ada luka di lenganmu?”, tanya Yujin

Aku terdiam. Jujur saja, tidak ingin menjawabnya.

“Eumm..”

Aku kembali terdiam.

“Kau bisa mengatakan pass jika tidak ingin menjawabnya.”

“Ani. Aku akan menjawabnya.”, ucapku, memandang Yujin yang tampak menunggu

“Luka ini ku dapatkan saat usiaku 10 tahun. Waktu itu, di rumahku ada penyerangan. Yang membuat Appa ku meninggal. Dan juga, Unnie ku yang tiga tahun lebih tua dariku, menghilang. Saat itu aku berusaha menyelamatkan Unnie, tapi ada orang asing yang menarik lenganku, membuatku terbentur lemari kaca di rumah lamaku. Dan jadilah luka ini. Juga.. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat Unnie ku lagi. Juga Appaku.”, ucapku

Yujin tampak berkaca-kaca. Membuatku ingin tertawa geli melihatnya.

“Baiklah, sekarang giliranmu.”

Aku memandang Sehun.

“Oh Sehun.”, ucapku

“Ya Sooyeon?”, Sehun bersikap seolah Ia tidak melihatku

“Bisakah kau berhenti membenci yeoja?”, tanyaku

Sehun menatapku. Diam. Tidak tampak seolah Ia akan menjawabku.

“Pass.”, ucap Sehun

Mwo? Ia benar-benar tidak mau menjawabnya?

“Lee Seongsaengnim.”, ucap Sehun

“Oh? Aku?”, ucap Lee seongsaengnim kaget

“Ya. Aku bertanya-tanya, kenapa hanya ada tiga kelas yang ikut study tour ini?”, ucap Sehun

Aku masih memandangnya. Bagaimana mungkin Ia mengabaikan pertanyaanku begitu saja? Ish. Menyebalkan sekali.

“Ah, soal itu aku tidak begitu mengerti. Tapi aku rasa aku bisa sedikit menjelaskan. Di sekolah kita, dua tahun ini, banyak siswi di sekolah kita yang menghilang tiba-tiba. Khusus nya siswi di tiga kelas yang hari ini ada disini. Kami sudah meminta bantuan polisi dan juga orang pintar untuk mengusut masalah ini. Dan dari yang kami dapatkan.. ada kemungkinan.. kejadian hilangnya siswi ini adalah pembunuhan berantai. Dan pelakunya.. juga ada disini.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮•)з To Be Continued ε(• -̮•)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

24 thoughts on “BLIND – CHAPTER 5

  1. Aigoo Sehun, jika sudah tau alasan.a dri saem kau tidak boleh membunuh teman” yg ada dsna…
    Tpi klo saem.a aja ngasih tau klo cman ada 3 kls yg ikut, pembunuh.a bakalan diem aja dong selama study tour itu… Semakin rumit Next aja deh ya eon kkk~

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s