Falling For Innocence [Chapter 6]

req-151

|| Title: Falling For Innocence || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life | Comedy | Friendship || Main Cast:  Jiyeon |Kris a.k.a Wu Yi Fan | Tao | Jessica || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Credit Poster : IVRISLE on GANGSTER Graphic (Thank’s ^^)

Preview: Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5 || 

Cerita ini Remake dari drama Korea dengan judul yang sama. Mungkin ada beberapa alur ceritanya yang aku singkat. Dan mungkin ada kata yang aku ganti pakai bahasaku sendiri tapi itu tidak mengubah alur ceritanya kok. Walaupun nantinya akan sedikit beda.

Pemain yang ada didalam cerita real milik penulis ya kalau di dunia kenyataan milik Tuhan, keluarganya, Temannya dan agencynya. Heheee… XD

***Happy Reading***

~Flash Back~

Dengan langkah yang lesu Kris  menuruni anak tangga yang ada didalam rumahnya. Lelaki itu mulai berjalan dengan perlahan-lahan sambil menatap seluruh sisi rumahnya dengan pandangan yang kosong. Ia merasa ada sesuatu yang kosong didalam rumah tersebut padaha saat ini didalam rumahnya sudah banyak anak buahnya yang menaru semua porperti dan mendesign tata letak rumah barunya dengan gaya moderen yang jelas semua porperti yang dibawa oleh pesuruhnya adalah pesanan yang ditunjuk sendiri oleh Kris, tapi tetap saja  dia tak tahu apa yang kurang jadi pria berpostur tinggi itu merasa sedih.

Tak berapa lama datanglah sekertaris Oh, membawa surat terima kepemilikan rumah barunya kepada Kris. “Ini surat rumahnya Direktur! Akhirnya perjuangan mu berhasil menjadi pemilik baru rumah ini, Direktur.” Ucap sekertaris Oh pada atasan namun Kris membalasnya dengan nada yang tak yakin. “Benarkah?“

Sehun menjadi terheran-heran dengan tingkah laku atasannya Kris. Harusnya Kris merasa senang saat dirinya mendapatkan apa yang saat tadi ia perjuangkan selama hampir 6 jam. Ya, 6 jam saat ia meminta sambil memohon-mohon kepada pemilik rumah yang saat ini ia tempati.

Sehun pun dengan nada yang ragu ia bertanya kepada Bosnya yang terlihat sangat murung. “Kenapa anda terlihat tertekan dan murung, Direktur?”

Kemudian tak berapa lama Kris menjawab. “Entahlah? Aku merasakan ada yang aneh seperti ada sesuatu yang hilang.” tuturnya seraya menghela nafasnya yang panjang.

~Flash Back-End~

~OoO~

Tak berapa lama kemudian pria jangkung itupun keluar dari dalam rumah barunya. Kris mulai berjalan mengelilingi halaman depan rumahnya dengan tatapan kosong. Beberapa kali ia menghela nafasnya panjang. Nampaknya pemuda itu sedang banyak pikiran didalam otaknya.

“Apakah dia baik-baik saja setelah dipermalukan oleh paman? Kenapa aku selalu memikirkan dirinya?” keluhnya dalam hati.

Saat Kris hendak kembali lagi kedalam rumahnya tak sengaja ia melihat seseorang gadis sedang berdiri didepan gerbang kediamanannya. Mereka berduapun saling bertatapan dengan pandangan mata yang bingung dan tak berapa lama kemudian Kris pun memulai pembicaraan.

“Kenapa kau ada disini, Sekertaris Park?”

“Direktur? Kenapa anda ada disini?” dengan tatapan tak percaya.

“Ini rumah ku?” sambil berjalan menghampiri Jiyeon yang mematung didepan pintu gerbangnya.

Nampaknya Jiyeon sangat terkejut dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Kris.  sampai-sampai gadis itu berteriak – teriak penuh dengan kekesalan dihadapannya. “Siapa Kau? Sebenarnya siapa kau? Kau ini siapa!!!”

 

Kris nampak bingung dengan pertanyaan Jiyeon. Perlahan-lahan dia mulai berjalan mendekati gadis itu dan tanpa diduga-duga pria jangkung itu langsung menyentil dahi Jiyeon dengan kesal sembari berkata. “Aku ini  Wu Yifan alias Kris!!! Paboya! Berani sekali kau memanggil atasanmu dengan “KAU! KAU!! KAU!!!”

Gadis itu terihat menahan rasa sakit di atas dahinya sampai-sampai ia mengelus-elus keningnya namun Jiyeon tidak peduli dengan ucapan Kris. ia tetap kekeh dengan pendiriannya. Gadis itupun mulai menanyakan kembali siapa identitas sebenarnya kepada  pria yang ada dihadapannya tersebut.

“Jawab pertanyaanku dengan jujur! Siapa dirimu sebenarnya? Mengapa kau tinggal di rumah ini?!”

Kris pun menjadi gusar lalu ia pun membalas pertanyaan Jiyeon dengan nada yang kesal. “Aku baru saja membeli rumah ini, karena aku menyukainya! Apa aku harus memberitahukan semua yang aku lakukan padamu?”

Jiyeon mulai terpojok. “Itu benar…tapi..” gadis itupun mulai ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Tapi itu tak berlangsung lama. Tak ada semenit gadis itupun mulai mempertanyakann beberapa pertanyaan kepada lawan bicaranya dengan suara yang lantang.

“Kenapa kau menangis ketika jari tanganku terluka? Lalu mengapa kau menyentuh hidungku seperti ini saat aku mabuk?” tanya Jiyeon sambil memperagakannya dihadapan Kris.

Kris pun lalu menjawab semua pertanyaan Jiyeon dengan nada yang santai. “Aku menangis karena aku menjadi sedikit perasa setelah melakukan operasi itu.”

“Oh iya satu lagi, apakah itu tindakan yang aneh saat menyentuh hidung? Apakah aku tak boleh melakukannya?” sambil memperaktekkan kepada Jiyeon.

Kris berusaha  membela, pria itu lalu menekankan nada bicaranya di pertanyaan terakhir yang diajukan olehnya. Tiba-tiba Jiyeon menanyakan tentang keberadaan cincinnya kepada Kris.

 “Dimana cincin ku?”

“Eh…?”

“Iya, cincin pernikahan ku. Mereka bilang kau yang telah mengambilnya. Bagaimana mungkin kau mengambil barang yang bukan milik mu?” Tanya Jiyeon kepada Kris dengan sinis.

Kris pun menjadi tak enak hati pada Jiyeon karena sudah lancang membawa barang yang sebenarnya bukanlah miliknya. “Soal itu? Agak rumit untuk menjelaskannya.” Ujar Kris

Kemudian Kris mulai menceritakan hal yang sebenarnya kepada Jiyeon. Bahwa kebetulan saat itu dirinya sedang mampir ke toko tersebut untuk mencari sesuatu dan disana dia melihat sebuah kota yang diatas kotak tersebut tertempel tulisan yang bernamakan Park Jiyeon. Saat Kris menanyakan kepada pemilik toko pemiik kotak tersebut. Sang pemilik toko tak tahu alamat sang penerima makanya ia berniat untuk memberikannya kepada Jiyeon.

“Benarkah? Hanya itu?” tanya Jiyeon ragu.

“Memangnya apa lagi? Kau membuatku terihat aneh?” gerutunya.

Gadis itupun lalu terdiam seribu bahasa. Melihat Jiyeon tiba-tiba terdiam membuat pria itu penasaran. Tanpa basa – basi ia langsung mencibir kekasih Jiyeon yang mendadak  melarikan diri setelah melamar Jiyeon.

“Aku dengar kalau tunanganmu yang seorang polisi itu kabur setelah melamarmu. Kau ditolak secara sepihak… benarkan? Sudah aku bilang ia itu bukan laki-laki yang bertanggung jawab.” oceh Namja itu tampa mencari kebenaran dari isu tersebut. Mendengar kekasihnya dijelek-jelekkan Jiyeon hanya terdiam. Lalu Jiyeon meminta kembali cincin pemberian Chanyeol kepada Kris.

Kris lalu memberikan kotak kecil berwarna hitam yang berisi cincin tersebut kepada Jiyeon. Setelah menerimanya Jiyeon langsung secepatnya pergi meninggalkan Kris tampa mendengarkan panggilan bahkan pertanyaan tentang dirinya setelah insiden di perusahaan tadi siang. Gadis itu tetap berlalu tampa sedetik pun menoleh kebelakang.

“Aku harap kau baik-baik saja…” ujarnya dengan suara yang parau seraya kedua matanya menatap belakang punggung milik Jiyeon yang semakin lama semakin mengecil dari pandangannya.

~OoO~

~Keesokan harinya~

Sepanjang perjalanan Kris terlihat termenung didalam mobil. Sehun menjadi prihatin dengan keadaan Kris yang terlihat lesu.

“Direktur, sepertinya anda terlihat tak sehat?”

“Heemm… dari tadi malam aku tak bisa tidur karena sepanjang malam jantungku berdebar-debar.” balas sambil menatap jalan dari kaca mobil.

“Apa anda baik-baik saja?”

Kris sama sekali tak membalas pertanyaan Sehun namun beberapa menit kemudian pria itu berkata dengan suara yang pelan. “Aku terus memikirkan kejadiannya sepanjang waktu” mendengar perkataan Kris yang terdengar samar-samar ditelinganya  membuat Sehun menjadi lebih khawatir dengan keadaan Direkturnya saat ini.

~OoO~

Sesampainya di Hermia, Kris tak sengaja melihat Jiyeon sedang berpamitan kepada rekan-rekan profersinya di dekat eskalator. Kris lalu berjalan menghampiri Jiyeon dan berpura-pura menaiki tangga eskalator. Setiap Eskalator tersebut bergerak naik, pria itu malah melangkah mundur. Kris berusaha menguping pembicaraan yang sedang mereka bicarakan. Ternyata rekan-rekan kerja Jiyeon nampak sedih saat mendengar kalau Presdir Wu akan membuat sebuah petisi untuk Jiyeon agar Jiyeon tak bisa lagi bekerja menjadi sekertaris di semua perusahaan.

Tak beberapa lama salah satu rekan kerja Jiyeon melihat Kris sedang berjalan mundur di dalam eskalator yang sedang naik.

“Direktur…” Kata rekan Jiyeon yang memakai blezer biru muda.

Melihat Kris ada di belakangnya  Jiyeon langsung lekas pergi dan berpamit kepada kedua rekan kerjanya. Tapi belum sempat Jiyeon pergi dari dalam gedung Hermia, Kris berhasil mengejarnya.

“Kenapa kau mengacuhkan ku? Aku ini atasanmu dan sku tidak memecatmu. Mengapa kau seenaknya  mengundurkan diri?” tanya Kris dan langsung dibalas oleh Jiyeon walaupun Kris adalah atasannya tapi tetap saja yang menggaji dirinya adalah Presdir Wu jadi seandainya Presdir Wu memberi perintah pemecatan untuknya, Jiyeon harus tetap melaksanakannya.

Kris terlihat tak ingin Jiyeon berhenti bekerja. “Aku akan mengatasi Pamanku.”

“Bagaimana cara anda mengatasi masalahnya sekarang?” tanya jiyeon ragu

“Kau…Ikut aku sekarang!” Kata Kris sambil menggengam erat jari jemari Jiyeon dan manariknya bersama dengan dirinya menuju ruangan Presdir Wu.

~OoO~

“Kenapa kau membawanya kesini?” tanya Presdir Wu sambil menatap sinis kearah Kris seteah itu dan Jiyeon. Kris lalu memberi semangat kepada Jiyeon untuk menjelaskan kepada Pamannya kalau sebenarnya dia tidak pernah mengkhianati Hermia.

“Apa yang kau lakukan? Katakan padanya. Kau tidak pernah mengkhianatinya. Katakan dengan suara yang lantang.” ucap kris yang saat ini sedang berdiri di sisinya. Gadis itupun dengan penuh percaya diri menjeaskan kepada Presdir Wu bahwa dia sama sekali tak pernah melakukan pengkhianat kepada dirinya. Tapi perkataan Jiyeon langsung ditepis oleh Direktur Yoon.

“Kalian ini, apa yang kalian lakukan? Jangan membuang-buang tenaga kalian untuk masalah yang sudah diputuskan.”

Mendengar perkataan Direktur Yoon Kris lalu berjalan menghampiri laki-laki paruh baya tersebut dan berkata. “Yah, Direkur Yoon. Apa kau selalu pura-pura tidak tahu apa-apa?” Ejeknya.

“Apa maksud mu?”

“Semalam, Kau mampir ke Departemen Jin Yang. Kau juga mengecek situasi saat itu dari CCTV dan.. kau memberitahukan berita omong kosong kepada Presdir Wu. Apakah itu yang dinamakan Profesional?” tanya Kris dengan nada yang menyindir.

Presdir Wu lalu menanyakan kebenaran dari perkataan Kris kepada Direktur Yoon dan pria paruh baya tersebut tergagap – gagap saat menjelaskannya kepada pama Kris.

“I…itu…” belum sempat Direktur Yoon menyeesaikan ucapannya Kris langsung memotongnya. “Pegawaiku sedang kesana untuk mengambil salinan CCTV. Periksa kembali jika Paman ingin memastikannya sendiri.”

Presdir Wu sempat heran kenapa Kris menolong Jiyeon untuk menjelaskan salah paham tersebut kepadanya. Bukannya Jiyeon tak berguna untuknya tapi kenapa ia bersikeras untuk menetapkan Jiyeon menjadi sekertarisnya. “Baiklah, kita anggap saja ini suatu kesalahpahaman.”

“Itu pilihan yang baik Presdir Wu.” balas Kris.

“Jika sekertaris Park tak membocorkan informasi tentang Hermia kepadamu kenapa kau tetap mempertahankannya untuk tetap menjadi sekertaris mu? Apakah itu tak aneh?” kata Presdir Wu pada Kris.

Lalu Kris pun berkata. “Setidaknya, informasi kami tidak akan bocor melalui dirinya.” tuturnya seraya menarik sebelah sudut bibirnya di depan hadapan pria tue tersebut.

~OoO~

Setelah masalah terselesaikan mereka berdua lalu keuar dari ruang kerja Presdir Wu. Jiyeon bertanya-tanya keheranan kenapa Kris mau melakukan ini semua.

“Apa yang anda lakukan?” tanya gadis berkuncir tersebut dengan wajah yang keheranan.

“Apa kau pikir aku suka melakukannya? Aku melakukannya karena aku merasa kalau ada yang aneh dengan masalah ini.”

Mwo?” tanya Jiyeon kembali.

“Aku merasa ada sesuatu tersangkut di tenggorokanku. Sepotong tulang tersangkut di tenggorokanku, bulu mata menempel di mata. Kau itu seperti Itu!” ungkap Kris dengan nada yang sedikit membentak.

“Jadi menurut anda saya ini orang jahat.” balas Jiyeon polos. Kris sebenarnya tak bermaksud seperti itu. Kemudian pria itu menjelaskan maksud sebenarnya kepada Jiyeon.

“Aku hanya merasa tidak enak karena sudah membuatmu di pecat.” ujarnya lalu Kris meminta Jiyeon untuk sementara waktu tetap menjadi sekertarisnya meskipun gadis itu tak menyukai keberadaannya. “Aku tidak bisa menjamin orang lain, tapi paling tidak Aaku akan melindungi pekerjaanmu.” tambah Kris sambil menatap kedua mata Jiyeon dalam untuk beberapa detik gadis itu terpaku. Namun itu tak berlangsung lama karena gadis itu langsung menundukan kepalanya untuk memutuskan kontak mata diantara mereka saat tadi.

“Tapi, Aku memiliki syarat…”

“Apa itu?” tanya Kris.

“Jangan menyuruhku untuk menukar informasi dalam perusahaan.”

“Cuma itu saja?” kata Kris.

Jiyeonpun membalasnya dengan anggukan kepala dan tiba-tiba Kris berteriak sambil berkata. “Baiklah!!!” itu membuat Jiyeon terkejut. Mengetahui Jiyeon terkaget dengan perkataannya barusan Kris lalu merendahkan suaranya dihadapan Jiyeon. “Aku akan berjanji padamu, kalau begitu ayo kita pergi sekarang.” perintah Kris

“Kita mau kemana?”

“Kerumah sakit… untuk cek up sekalian nanti disana kau periksakan wajahmu di rumah sakit.” ujarnya sambil berlalu.

~OoO~

Sesampainya di rumah sakit, Jiyeon disuruh memeriksakan wajahnya oleh Kris sementara Jiyeon diperiksa oleh dokter spesialis kecantikan, Kris pergi menemui dokter Jo untuk mengecek keadaan jantung barunya. Kris memberitahu kepada dokter Jo tentang keanehan yang sudah dia alami akhir-akhir ini. seperti dirinya menangis dengan tiba-tiba atau jantungnya tiba-tiba berdebar kencang tanpa bisa ia kontrol. “Ayo kita periksa saja.” pinta Kris dan di iyakan oleh Dokter Jo.

Seteah selesai memeriksa keadaan jantung Kris di Lab ternyata tak ada satupun keanehan pada tubuh Kris. “Tidak ada masalah dengan jantungmu saat pemeriksaan.” kata dokter Jo tapi Kris masih tetap penasaran dengan hasil pemeriksaan yang lain. Karena dia merasa ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya terutama jantungnya.

Lalu Kris meminta kembali kepada dokter Jo untuk memeriksa tubuhnya dengan metode yang lain. “Coba kita periksa dengan metode lainnya.” Dokter Jo pun memberi saran untuk memeriksa melakukan pemeriksaan seluruh tubuhnya bila dia ada waktu karena untuk melakukan tes-tes tersebut membutuhkan banyak waktu.

Dokter Jo lalu mengantar Kris keluar dari rumah sakit dan tak sengaja Kris meihat Jiyeon sedang duduk di bangku lobi rumah sakit. Disana gadis itu sedang bercanda dengan salah satu pasien ank-anak. Kris terlihat terpanah saat melihat senyuman lembut yang diperlihatkan oleh Jiyeon kepada pasien anak perempuan tersebut.

Aigoo. Dia memiliki bermacam-macam ekspresi juga?” gumamnya pelan. “Whaung!” tanpa Kris sadari ia meniru suara dan gerakkan tangan Jiyeon yang saat ini sedang bercengkraman dengan pasien anak kecil tersebut. Dokter Jo terlihat bingung dan terheran-heran dengan tingkah laku Kris. merasa dirinya diperhatikan oleh dokter Jo, Kris langsung membuang muka dari Jiyeon dan kemudian berjalan keluar dari rumah sakit  begitu saja meninggalkan dokter Jo dan Jiyeon.

~OoO~

~Dimalam harinya~

Jiyeon, Tao dan Eunjung berkumpul di sebuah kedai yang tak jauh dari rumah kediaman Jiyeon. disana mereka terlihat sangat senang. Mereka bertiga saling bersendang-gurang sambil menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan didepan atas meja mereka masing-masing.

Setelah selesai makan malam bersama. Enjung pun memisahkan diri karena dia harus kembali ke kantor untuk mengurusi kasus-kasus yang lainnya. Tao dan Jiyeon lalu pulang naik bis bersama-sama. Mereka berdua lalu saling bercerita tentang masa-masa dulu yang sudah mereka lalui bersama-sama.

“Aku jadi  ingat masa lalu. Kita dulu tinggal  di kota yang sama sehingga,  kita sering naik bus bersama-sama.” Celoteh Jiyeon dan dibalas Tao dengan anggukan kepalanya.

“Bagaimana kalau kita kembali ke masa itu?” kata Tao dan Tao mengeluarkan handphonenya dan kemudian menusukan earphone di ponselnya. Setelah itu mereka berdua bersama-sama mendengarkan lagu yang sama seperti saat mereka sekolah dahulu.

~OoO~

~Flash back~

 

Saat Tao dan Jiyeon SMA dulu mereka adalah teman sekelas bahkan mereka duduk selalu bersebelahan. Tao memberi tahukan lagu kesukaannya kepada Jiyeon dan saat Jiyeon mendengarkannya. Gadis itu langsung menyukainya. Terkadang Tao diam-diam memandang wajah Jiyeon sambil tersenyum sembunyi-sembunyi saat gadis itu yang sedang asik  mencatat materi yang ditulis oleh guru dipapan tulis.

Aku tidak bisa membantu, aku hanya bisa meihatmu

Karena aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan

Selalu bersamaku

Kau yang selalu didekatku

Kita akan tetap berteman sampai kapanpun

Sebenarnya lagu yang diberikan Tao pada Jiyeon adalah ungkapan hati dirinya kepada Jiyeon. Namun nampaknya Jiyeon tak pernah menyadarinya hingga saat ini.

 

~Flash back-End~

 

~OoO~

Tanpa terasa mereka berdua sudah hampir sampai di kediaman Jiyeon. Disepanjang perjalanan Jiyeon dan Tao membicarakan tentang kedekatan mereka saat dulu. Jiyeon sempat terheran-heran kenapa kenangan itu membuat diri mereka menjadi dekat kembali. Padahal dulu saat Jiyeon bekerja di pabrik yang sama dengan Tao. Tao terlihat sangat dingin padanya sehingga Jiyeon mengira Tao tak menyukai keberadaannya.

“Apa yang tidak kau sukai dari diriku?” tanya Jiyeon

“Sebenarnya a-aku…” Tiba-tiba perkataan Tao terputus saat ponsel miik Jiyeon berbunyi. Gadis itupun lalu meminta waktu untuk mengangkat panggilan tersebut. ternyata saat Jiyeon sedang mengangkat telefonnyanya Tao berjalan menghampiri Jiyeon dan pria itu berdiri tepat dibelakangnya.

Tao lalu berkata dengan suara yang lemah sambil menatap sedih belakang punggung Jiyeon. “Aku seperti itu karena aku menyukaimu.”

“Oh benarkah? Aku tidak tahu itu.” ucap Jiyeon

“Aku sangat menyukaimu tapi posisiku saat itu tidak menguntungkan. Aku melakukan itu semua karena aku merasa kesal pada diriku sendiri. Kau masih ingat kan?” lirihnya sambil menatap Jiyeon dengan tatapan menyesal.

“Tentu saja. Itu Aku!” balas Jiyeon sumeringah dan tak lama kemudian gadis itu menutup telefonnya.

“Maaf karena aku, kau jadi menunggu.” kata Jiyeon.

Taopun hanya bisa tersenyum miris saat gadis yang ada dihadapnnya ini sama sekali tak mendengar apa yang baru saja ia katakan. “Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat. Lain kali aku akan mengatakan isi hatiku langsung di depan hadapan mu.” Ungkapnya dalam hati.

~OoO~

Di siang harinya Kris sudah sibuk dengan kegiatannya bersama Sekertaris Oh. Dan tak sengaja saat hendak pergi melobi dengan rekan bisnisnya diuar kantor, Kris melihat Jiyeon sedang makan ramen sambil bersedau – gurau dengan para sekertaris yang lain. Kris pun lalu menghentikan langkah kakinya dan kemudian menatap Jiyeon saat memakan ramen.

Sekertaris Oh pun menjadi bingung. Saat Kris terlihat begitu serius melihat Jiyeon yang sedang asik memakan ramennya. “Apa Direktur  mau Ramyun?” tanya Sehun tapi pertanyaanya tak dihiraukan oleh nya. Kris tetap fokus melihat Jiyeon dan saat Jiyeon hendak makan ramennya yang kedua. Dia merasakan kepanasan. Sontak Krispun merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Jiyeon. pria itu bahkan mengeryitkan dahinya seperti dirinya juga sedang merasakan kepanasan di mulutnya.

Jiyeon lalu buru-buru mengambil sebuah acar lobak yang cukup besar kemudian acar tersebut ditempelkannya di lidahnya yang saat tadi kepanasan. Tampa Kris sadari dirinya ikut  menjuur-juurkan lidahnya dan tingkah laku Kris membuat sekertaris Oh semakin khawatir dengan sikap Kris yang semakin aneh.

~OoO~

~2 Jam kemudian~

Setelah selesai dengan semua berkas pekerjaannya Kris lalu keluar dari ruang kerjanya, disaat itu juga ternyata disana sudah ada Jiyeon dan Sehun sedang tertawa bersama sambil mendengarkan musik. Melihat Jiyeon tersenyum, Kris pun ikut tersenyum, tapi senyuman Jiyeon pudar saat melihat Kris sudah berdiri didepan meja kerjanya.

Jiyeon langsung cepat-cepat mematikan radio. “Anda sudah tiba, Direktur?” kata Jiyeon sambil membungkukan kepala beberapa derajat untuk menyapa Kris. Kemudian Jiyeon langsung mematikan radio yang ada di atas meja kerjanya.

“Oh kenapa? kenapa? kenapa? Kedengarannya bagus, kenapa dimatikan?” Kris sebenarnya sama sekali tidak mempermasalahkan lagu yang sedang dinyalahkan oleh Jiyeon bahkan dia menyarankan untuk menyetel kembali radio tersebut.

Tapi Jiyeon berkata lain ia malah meminta maaf kepada Kris. “Maafkan saya. Lain kali saya akan menggunakan earphone.” Ungkapnya sambil menundukan kepalanya untuk meminta maaf.

Sekertaris Oh ikut berusaha membela Jiyeon dan mengalihkan kesalahan gadis itu pada dirinya. “Itu bukan kesalahan nona Park JIyeon, itu kesalahanku, Direktur.” Kris menjadi bingung kenapa mereka berdua meminta maaf kepada dirinya padahal Kris sama sekali tak marah sama sekali.

“Apakah Anda tidak kesal?” tanya Sehun dengan wajah yang bingung.

“Siapa yang mengatakan kesal?” balas kris namun Sehun terlihat sama sekali tak percaya dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh atasannya Kris.

“Sepertinya kau terlihat kesal…”

“Aku tidak kesal?” kali ini nada bicara Kris mulai meninggi. Sehun terus menerus memojokan Kris bahwa sang Direkturnya sedang menahan kemarahannya dan tingkah laku Sehun membuat Kris menjadi berang. Alhasil Kris menjadi benar-benar marah. “Aku tidak kesal!!!”

Seketika ruangan tersebut menjadi sepi. Jiyeon terpaku saat melihat Kris berteriak kencang didepan hadapannya tak terkecuali Sehun. Mereka berdua kompak terdiam tanpa mengatakan sepata katapun lagi.

Tiba-tiba Jiyeon berpamitan kepada Kris dan Sehun untuk pergi. Mereka berduapun hanya terdiam sambil melihat gadis itu pergi berlalu. Setelah Jiyeon keluar dari dalan ruangan Kris terlihat marah kepada Sehun. Kedua matanya menatap tajam kearahnya dan …

“Brukk!!!” tiba-tiba Kris menendang kencang meja kerja milik Sehun dengan penuh amarah dan Sehun hanya tetap terdiam sambil menundukan kepala.

~OoO~

~Beberapa menit kemudian~

“Apa kau mempunyai rahasia dibelakang ku?” tanya Kris sambil emmbantu memberikan selembar tisu kepada Sekertaris Oh yang sedang sibuk memencet jerawat yang ada diatas pelipisnya. Sekertaris Oh menjadi bingung apa maksu dari pembicaraan Kris pada dirinya.

“Kenapa dia bisa tersenyum kepadamu dengan mudahnya, meskipun dia berhati dingin dan kaku?” kata Kris lagi.

“Maksud mu Nona Park?” dan Krispun menggangukan kepalanya. Sehun menjadi heran karena semua yang dikatakan oelh Kris sama sekali tidak benar mengenai kepribadian Jiyeon. Sehun menceritakan kepada Kris bahwa Jiyeon adalah seorang yang selalu tersenyum dan suka bercanda.

“Sekertaris Park selalu tersenyum dan suka membuat lelucon, kau mungkin salah. Julukan Sekertaris Park adalah ‘Miss smile’ ” tutur Sehun dan Kris pun membalas perkataan astitennya yang sudah ia anggap sebagai anggota eluarganya sendiri dengan wajah yang tak percaya.

Miss smile?? Apa kau gila?” Ujar Kris dengan terkekeh geli. “Lalu kenapa setiap kali ia melihatku wajahnya seperti Siberia?” tanya Kris heran.

Mendengar Kris mengatai Jiyeon dengan sebutan Siberia, membuat Sehun menantap sinis kearah pria yang sedang duduk disampingnya. Lalu Sehun memberitahu kalau wanita itu mempunyai sifat yang sulit untukk memaafkan dan melupakan sesuatu kejadian.

“Mulut Kau itu.. sangat tajam Direktur. Asal kau tahu saja waniti itu tidak mudah memaafkan dan melupakan orang semacam dirimu.”

“Yah? Kau…” belum sempat Kris menyelesaikan perkataannya Sehun langsung memberikan saran agar mereka secepatnya menyelesaikan masalah diantara mereka berdua.

“Lebih baik kau menggunakan kesempatan untuk membatu Nona Jiyeon. Aku bisa mati karena melihat kecanggungan antara kalian berdua!” kata Sehun dengan Frustasi. Sebenarnya Kris ingin sekali dekat dengan Jiyeon tapi gadis itu selalu menghindari dirinya. Lalu Sehun memberikan suatu masukan kepada Kris.

“Hmm, cobalah untuk menyelesaikan masalah dengan memberinya sebuah hadiah kepada Nona Jiyeon.  Para gadis sangat menyukainya seperti … Tas? sepatu?” Tanpa basa basi Kris langsung berlalri keluar ruangan kerjanya meninggalkan Sehun tanpa mengatakan satu patah katapun setelah itu.

~OoO~

~Dimalam harinya~

Kris lalu mengikti saran yang diberikan oleh Sehun padanya. Kris membawa Jiyeon pergi bersama dengan dirinya kesebuah toko tas yang bermerek. Jiyeon sempat bingung dengan apa yang akan dilakukan Kris di toko tersebut bersama dengan dirinya. Namun Kris memebri alasan bahwa dia kesini untuk urusan bisnis karena ia ingin memberikan sebuah hadia pada kliennya esok hari.

“Apa kau bisa memilihnya untuk ku?” tanya Kris lalu Jiyeonpun bertanya apakah kliennya itu pria atau wanita dan Krispun menjawab dengan nada yang canggung. “Ye…yeoja…

Lalu Jiyeon menanyakan lagi kerteria seperti apa sang klien wanita kepada Kris. Kris menjadi bingung apa yang harus ia katakan lagi padanya. “Jika klien itu cantik,  apa itu tidak cukup?” ungkapnya namun Jiyeon tetap memaksa Kris untuk memberitahukan seperti apa klien wanita tersebut.

“Minimal Direktur mengetahui usia, hobi..atau kebiasan sang klien. Apa Anda mengetahuinya?”

“Usianya sama denganmu. Pilih saja yang menurutmu cantik.” Balasnya canggung sambil berpura-pura melihat tas-tas yang sudah terpajang diatas etalase. Jiyeonpun menjadi curiga dengan tingkah laku Bosnya. Lalu gadis itupun berkata. “Apa mungkin, Anda ingin membelikannya untukku?”

Mwo?” Pemuda itu langsung menyangkalnya. “Itu tak mungkin, aku emmang kesini ingin membei hadia untuk Klien penting kita.” kilahnya. Mendenagr itu Jiyeonpun merasa lega karena ternyata apa yang ia pikirkan tak tepat.

Setelah itu Jiyeon berkata. “Itu melegakan, tapi Anda tidak akan mengatakan,  ‘Anda sudah bekerja keras. Aku akan  memberimu satu yang persis seperti ini?’ Benarkan?” ujar Jiyeon dan saat membayangkan itu Jiyeon langsung merinding didepan Kris.

Sial kenapa ia bisa tahu!” makinya dalam hati.

Kris tak mampu  menjawab pertanyaan Jiyeon. Kedua mata Krispun sesekali menatap kearah Jiyeon. Jiyeon mulai menyadari saat meihat sikap Kris yang langsung berubah saat ia menayakan hal itu kepadanya. Gadis itu langsung membelalakan kedua matanya karena ternyata semua yang ia curigai itu benar apa adanya.

“Apa benar begitu, Direktur?”

“Yah… Mengapa kau banyak sekali pertanyaan? Mengapa tidak menerimanya saja? Kau buatku jadi lelah. Apa kau tahu itu?” kata Kris namun kali ini kedua matanya menatap intens kedua iris milik Jiyeon yang berwarna cocoa dengan nanarnya.

“Kenapa? Mengapa tiba-tiba Anda memberikan ku  semacam hadiah yang mahal? Apakah Anda berniat memanfaatkan ku lagi?! seperti yang Anda lakukan kepadaku terakhir kalinya.” Ungkapnya dengan nada yang menyudutkan Kris. dan itu membuat lelaki itu menjadi gusar kepada Jiyeon karena gadis itu sel alu saja berfikir negatif atas kebaikan yang akan diberikan kepadanya.

“AKU TIDAK AKAN MELAKUKANNYA!!” Teriak Kris didepan hadapan Jiyeon yang sedari tadi mengoceh terus menerus.  Kris lalu menjelaskan bahwa ia ingin memperbaiki hubungan mereka dengan meminta maaf pada Jiyeon makanya ia ingin memberikan hadia pada gadis itu. Namun Jiyeon menolaknya mentah-mentah ketulusann Kris.

“Apa ini? kenapa jadi rumit seperti ini? Wanita lain saja bersedia untuk tidur denganku  untuk mendapatkan barang seperti ini.” gumam Kris dan tak sengaja didengar oleh Jiyeon. mendengar itu Jiyeon langsung terkejut dan tambah takut kepada Kris.

Jiyeonpun lalu memundurkan langkah kakinya dari hadapan Kris sambil berkata. “Apa yang baru saja Anda katakan?”

Kris baru menyadari kalau Jiyeon tak sengaja melihat dumalan yang saat tadi diucapkan oleh dirinya. “Sekretaris Park, Aku tidak mengatakan kalau kita harus bersama atau semacam hal yang lain…” sambil berjalan menghampiri Jiyeon namun gadis itu malah berjalan mundur seperti berusaha menghindar dari lawan bicaranya kali ini.

Dengan nada yang gugup gadis itu berkata. “Antara Direktur dan Aku, Aku ingin menjaga diri kita hanya sebatas pekerjaan saja. Aku berpikir itu menjadi jalan terbaik  bagi kita  di kedepannya untuk bisa bersama. Permisi..” setelah berkata itu Jiyeon langsung buru-buru pergi meninggalkan Kris.

“Sekertaris Park… ” panggil Kris namun gadis itu malah mempercepat langkah kakinya tampa sedetikpun menoleh kebelakang.

 “Aku rasa kau sudah salah mendengar.  Aku tidak pernah mengatakan kalau aku ingin tidur denganmu?” tambahnya dengan ekspresi wajah yang polos.

-TBC-

~OoO~

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/ maap yah aku postingin kelanjutannya rada lama, biasa lagi disibukkan dengan kesibukan sehari-hari… hehehe 😀

Maaf bila banyak Typo’s yang bertebaran saat membaca cerita ini, maklum author juga manusia biasa ^^

Penasaran sama lanjutan ceritanya ? Ayo jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,  biar secepatnya aku postingin kelanjutannya. Hiihi 😀 Komentar dari kalian semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya … 😀

See you ….

Khamsahamida (^-^) v

Advertisements

23 thoughts on “Falling For Innocence [Chapter 6]

  1. wkwkwkkw kris2 ampun deh. pake ngomongin jiyi siberia pula 😀
    hahahah semua trik nya kris bisa ketebak sama jiyi. bukannya jadi berdamai kris malah buat jiyi tambah takut lagi sama kris. ckckckck
    ampun dehhh sama mereka ini 🙂

    Like

  2. dasaarr kriisss gabisa banget bersikap cute manis gitu -___- greget sendiri bacanya wwkwkwk, btw aku ketinggalan cerita nih 😦 hweheheheh lanjut asap ya thoorr

    Liked by 1 person

    • ketinggalan ya chingu… tenang bakalan aku update secepatnya kok, apalagi banyak reader yang ninggalin jejaknya buat baca kelanjutan ff ku kaya chingu,
      makasih yah dah mampir kesini n komennya 🙂

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s