XOXO Undercover [Session 5]

xoxo-undercover-new

Kami adalah 12 si ahli menyamar.

Cast:

Seungri, Jiyeon, Lay, Lime, Baekhyun, Nana,

Xiumin, Suho, Eunji, Kai, Sulli, Sehun

Genre:

Romance, Action & Friendship

Length: Multichapter

Rating: PG – 15

Previous Sessions: Characters | ID Cards | Session 1 | Session 2 | Session 3 | Session 4

Storyline  is mine, Cover by Kak Ica@ICAQUEART

Happy reading…

After read this FF, don’t forget to leave your opinion in comment box

~oOo~

Alice menurunkan pandangannya pada Jiyeon yang mendongakkan kepala menatapnya dengan linangan air mata. “Mi, mianhae, Park Jiyeon…” lirihnya dengan tangan kiri memegang ulu hati yang tertembus peluru.

Bruuukk!

Tubuh Alice terjatuh begitu saja di atas tanah. Jiyeon melihat pemandangan tragis itu tanpa mengedipkan mata sekalipun.

“A, Alice…” ucap Jiyeon yang ingin meraih tubuh Alice. Tangannya gemetar, bibirnya kelu tak dapat mengatakan sepatah kata pun. Jiyeon syok melihat Alice meregang nyawa di depan matanya. “Alice… kau mendengarku?”

“Park Jiyeon! Jauhi jenazah kakakku!”

Deg!
Suara itu tidak asing bagi Jiyeon. Tapi… apa maksud dengan ‘kakak’?

Jiyeon mendongakkan kepalanya – menatap seseorang yang baru saja menembak Alice di tempat itu. “Kau… Lee Dongwoo?” tanya Jiyeon tak percaya. Ia tak ingin percaya pada apa yang dilihatnya. Lee Dongwoo menodongkan sebuah senjata pada Alice kemudian menarik pelatuknya hingga membuat gadis itu tergeletak di atas tanah dengan luka tembak di ulu hatinya. Sekarang namja itu menodongkan senjata pada Jiyeon yang notabennya bukanlah seseorang yang harus dibunuh pada malam itu karena Dongwoo tidak memiliki urusan pribadi dengan Jiyeon.

“Ku bilang jauhi jenazahnya!” teriak Dongwoo dengan suara parau. Jiyeon dapat mendengar sisipan isak tangis dari suara Dongwoo.

“Lee… Dong… Woo…” lirih Jiyeon menatap Dongwoo yang berjalan mendekatinya tanpa menurunkan senjata yang teracung ke pada dirinya.

Setelah namja itu mendekat, dapat terlihat dengan jelas air mata yang mengalir – mulai menganak sungai di pipinya. “Mianhae, Noona,” ucapnya lirih. Kedua bahunya bergetar namun tangannya masih sibuk memegang senjata itu.

Noona?

Jiyeon bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apa antara Dongwoo dengan Alice? Kenapa Dongwoo memanggil Alice dengan panggilan ‘noona’ dan kenapa pula ia membunuh Alice lalu menangisinya?

“Lee Dongwoo! Jatuhkan senjatamu!”

Terdengar suara seseorang dari sisi gedung yang tak terlihat oleh Jiyeon. Dongwoo tersentak kaget namun senjata itu masih melekat di tangannya.

“Aku bilang jatuhkan senjatamu! Sekarang!”

Suara itu – Xiumin, ya, ia datang tepat pada waktunya.

Jiyeon menundukkan kepalanya – pasrah jika Dongwoo ingin mengakhiri hidupnya di tempat itu pada waktu itu juga. “Lee Dongwoo, aku mohon jatuhkan senjatamu. Tak ada gunanya kau melawan.” Jiyeon berusaha membantu Xiumin untuk membuat Dongwoo menjauhkan senjata itu dari dirinya – sekaligus menyelamatkan nyawanya sendiri.

Dongwoo nampak gusar, gugup dan bingung. Ia tidak ingin ditangkap apalagi dijebloskan ke dalam penjara. “A, apakah… aku… akan dimasukkan ke dalam sel?”

Deg!
Pertanyaan macam apa itu? Bagi Jiyeon tak ada pentingnya pertanyaan itu terlontar pada saat seperti ini. “Satu nyawa telah melayang, apakah kau juga ingin membuatku menyusul Alice? Jika itu yang kau lakukan, bukan hanya manusia yang akan menghukummu – melainkan Tuhan akan membencimu dan kau akan hidup dalam penyesalan selamanya. Itukah yang kau mau?”

“Anhi,” jawab Dongwoo yang tiba-tiba berlutut di samping jenazah Alice – di depan Jiyeon. Kepalanya tertunduk.

Krek!
Senjata yang dipegangnya kini terlepas dari genggaman tangan. Dengan sigap, Xiumin dan Suho mendekat.

Xiumin menodongkan senjata pada Dongwoo – berjaga jika namja itu berubah pikiran dan bertindak nekad untuk kedua kalinya. Sedangkan Suho mengambil senjata yang dijatuhkan oleh Dongwoo. Jiyeon pun tak ingin ketinggalan. Ia segera mengambil senjata miliknya yang dipegang oleh jenazah Alice. Senjata milik Alice telah disingkirkan dengan menendangnya sedikit menjauh dari TKP.

Tap! Tap!

Seungri datang bersama beberapa orang polisi berseragam lengkap dan ada yang hanya memakao pakaian menyamar.

“Jiyeon-a!” Suara Seungri yang khas – masuk ke dalam gendang telinga Jiyeon dan gadis itu menatap kedatangan namja yang selalu melindunginya itu.

“Oppa….”

“Gwaenchanayo?” Seungri memeriksa seluruh bagian tubuh Jiyeon yang mungkin saja mendapat luka atau sesuatu yang membuat gadis itu merasa sakit.

“Gwaenchanayo, Oppa.”

Lega – akhirnya Seungri merasa lega setelah mengetahui bahwa Jiyeon baik-baik saja dan Dongwoo berhasil dibekuk. Ia menarik tubuh Jiyeon ke dalam pelukannya secara perlahan – berusaha memberikan ketenangan pada gadis yang sangat dicintainya itu. “Mian, aku datang terlambat,” ucapnya setengah berbisik.

Aroma parfun khas Seungri menguar – menggoda indera penciuman Jiyeon yang berada di dalam pelukan namja itu. Ia mengeratkan lingkaran kedua tangannya di pinggang Seungri. Sungguh, malam ini merupakan malam yang berat baginya.

Seungri membelai rambut panjang Jiyeon yang diikat ekor kuda, kemudian ia mengecup kening Jiyeon lembut. Saat ini Seungri tak dapat menyembunyikan perasaannya pada Jiyeon. Ia membiarkan dirinya memperlakukan Jiyeon seperti itu karena ia benar-benar merasa khawatir pada Jiyeon.
***

Malam itu juga, Tim XOXO langsung membawa Dongwoo ke kantor polisi untuk proses interogasi. Mereka sengaja melakukannya di kantor polisi karena markas masih dikelilingi garis polisi pasca insiden penusukan Lime yang dilakukaa oleh Alice.

Sementara itu, Seungri dan Jiyeon mendatangi Lay, Eunji, dan Sulli yang masih menunggu Lime sadarkan diri. Gadis itu masih terbaring lemah di rumah sakit. Entah kapan ia akan membuka matanya untuk melihat betapa khawatirnya sang kakak yang belum istirahat sedetik pun.

Tap! Tap!

Suara langkah dua orang berjalan pelan menuju kamar 205. Sebentar lagi mereka akan menghampiri dua orang gadis yang tengah dilanda kecemasan – Sulli dan Eunji. Mereka berdua menemani Lay di rumah sakit. Mungkin karena ruang perawatan Lime tergolong ruang ICU, mereka tidak dapat menemani Lay di dalam kamar itu.

“Oh, Jiyeon-a… apa yabg terjadi padamu?” Sulli bangkit dari duduknya tatkala melihat dua orang berjalan mendekat. Ia melihat Jiyeon dipapah oleh Seungri.

Eunji yang melihatnya pun merasa khawatir – mungkin saja telah terjadi sesuatu yang buruk padanya. “Gwaenchanayo?”

Jiyeon tersenyum getir. “Gwaenchana,” jawabnya ringan dengan sedikit bumbu kebohongan. Sebenarnya dia baik-baik saja, hanya kakinya yang harus mendapatkan perawatan dari dokter karena terdapat luka yang cukup serius.

“Tapi kenapa Seungri oppa memapahmu? Kau pasti tidak baik-baik saja.” Eunji tak bisa lagi dibohongi. Gadis yang terkenal akan ketelitiannya itu melihat kondisi tubuh Jiyeon dengan seksama.

“Ah, gwaenchana. Hanya kakiku. Sungguh, hanya kakiku yag sedikit terluka. Mungkin beberapa hari ke depab sudah kembali normal,” sahut Jiyeon yang tidak ingin rekannya mengkhawatirkan dirinya. Cukup khawatirkan Lime yang saat ini tengah berjuang mempertahankan hidupnya.

Seungri memberikan isyarat gelengan kepala kepada Sulli dan Eunji agarvmereka tidak menanyakan proses penangkapan Alice dan Dongwoo. Sepertinya tanpa diberi isyarat oleh Seungri, mereka berdua mengerti dan tidak akan menanyakan perihal penangkapan itu. Apalagi jika Lime sadarkan diri nanti. Gadis itu pasti akan syok melihat teman karibnya telah terbujur kaku dengan bekas luka tembak di ulu hatinya.

“Bagaimana keadaan Lime? Apakah sudah ada perkembangan?” tanya Seungri yang menyadari bahwa suasana saat itu sepi sekali.

Sulli dan Eunji saling pandang – memberikan kesempatan kepada satu sama lain untuk menjawab pertanyaan Seungri.

“Dia… masih belum sadar. Kondisinya masih sama seperti pasca operasi. Belum ada perkembangan yang berarti,” jawab Sulli menjelaskan keadaan Lime pada Seungri dan Jiyeon.
***

Keesokan harinya.
Lay keluar dari kamar perawatan Lime dengan wajah pucat dan lingkaran hitam jelas terlihat di bawah mata sipitnya. Jiyeon yang melihat pemandangan taj menyenangkan itu segera berhambur menghampirinya – setidaknya dia ingin meminta maaf atas kejadian semalam.

“Oppa!” Dengan susah payah, gadis bermarga Park itu bangkit dari duduknya. Menahan nyeri di kakinya dan memaksa sepasang kaki itu untuk melangkah mendekati Lay yang baru saja keluar dari kamar. Jiyeon memegang lengan Lay kuat. Ia takut terjatuh karena posisi berdiri yang tidak seimbang.

Lay menatap datar pada Jiyeon. Entah apa yang tengah dipikirkan namja itu, yang jelas ia memiliki tatapan tidak suka pada Jiyeon.

“Oppa…” lirih Jiyeon lagi seraya menelisik iris coklat milik Lay. Ia tidak ingin hubungannya dengan Lay menjadi renggang.

“Mian, aku harus membeli kopi,” ucap Lay dingin. Tangannya berusaha menyingkirkan tangan Jiyeon.

Terlepas sudah tangan mungil Jiyeon yang tadinya memegang tangan Lay. “Mianhae…” ucapnya ketus. “Mianhae, Oppa,” ulang Jiyeon memelas.

“Sudahlah, aku ingin….”

“Oppa, kau marah padaku?”

Lay menghentikan aktivitas kakinya yang hendak melangkah menjauhi Jiyeon. “Tidak. Aku tidak marah padamu. Mengertilah, Ji. Kepalaku pusing dan aku membutuhkan ketenangan. Bisakah kau membantuku untuk bisa menenangkan pikiran?”

Jiyeon bingung. Beberapa detik yang lalu, Lay seakan mengacuhkan dirinya. Namun sekarang, namja itu malah memintanya mengusir segala macam gangguan di pikirannya. “Oppa, gwaenchanayo?” tanya Jiyeon yang tentu khawatir karena kondisi fisik Lay terlihat lesu dan pucat.

Hanya anggukan kepala yang dapat ia berikan pada Jiyeon – menandakan bahwa dirinya baik-baik saja namun tubuhnya benar-benar letih.

Sret!
Greb!

Lay menarik tubuh Jiyeon ke dalam pelukannya. Ia pun menenggelamkan kepalanya pada bahu Jiyeon. Aroma khas bunga Lavender menguar merasuk ke dalam lubang hidung Lay saat mencium bahu Jiyeon.

Seakan disengat listrik ribuan volt, tubuh Jiyeon menegang sesaat. Jantungnya berdegub tak karuan. “O, oppa.”

Masih asyik memeluk Jiyeon dengan mesra, Lay memejamkan kelopak matanya. Rasa kantuk tiba-tiba menyerang begitu saja. Semalam tak memejamkan mata, rasanya begitu berat membuka mata di pagi hari.

“Biarkan seperti ini sebentar saja,” ucap Lay lirih. Namja itu memerlukan perhatian seorang gadis yang mampu membuatnya tenang dan merasa diperhatikan. Lay yang notabennya pendiam dan banyak bekerja – tak mampu berkutik di depan Jiyeon padahal mereka kerap kali berselisih paham.

Jiyeon menghela nafas panjang dan membiarkan dirinya berhimpitan tubuh dengan Lay. Tak ada kekhawatiran sama sekali jika Seungri melihat adegan menyakitkan itu dari kejauhan. Entah siapa yang dicintai Park Jiyeon. Kenyataannya, dia merasa nyaman bersama dua orang namja yang saat ini sedang dekat dengannya.

Seungri, namja yang begitu mencintai Jiyeon dan yakin dengan sepenuh hati kalau gadis yang dicintainya itu tidak akan melihat orang lain, justru kini tengah berpelukan mesra dengan sahabat karibnya sejak kecil. Ia melihat adegan mesra antara Lay dan Jiyeon yang berdiri di depan pintu kamar saat dirinya baru saja kembali dari kantin rumah sakit – membeli beberapa kotak makanan guna sarapan mereka berlima. Saat kembali ke ruang ICU, ia dikejutkan oleh pemandangan yang cukup membuatnya sakit hati dan kecewa.

Takut jika kedatangannya akan mengganggu Lay dan Jiyeon, Seungri memutuskan untuk menunda mengayunkan kakinya ke ruang ICU. Dia berhenti sejenak di tikungan yang terletak 10 meter dari kamar ICU tempat Alice dirawat. Disandarkannya punggung kekarnya pada dinding yang berdiri tepat di belakangnya. Kedua tangan Seungri masih sibuk memegang bungkusan plastik putih berisi lima kotak makanan. Seungri menundukkan kepala yang semakin lama semakin terasa berat karena beban pikiran yang terlalu banyak bertumpuk di kepalanya.

Beberapa saat kemudian, tanpa merasa canggung, Lay melepaskan pelukannya. Memang namja itu tidak merasa ada sesuatu yang membuatnya canggung terhadap Jiyeon. Tetapi gadis yang kini berdiri di depannya justru merasa sangat aneh jika ia terus menerus berada di tempat itu.

“Istirahatlah di dalam sana, Oppa. Aku yang akan membeli kopi untuk kita semua. Kau terlihat tidak sehat karena menjaga Lime sepanjang malam.”

“Ah, tidak. Biarkan aku saja yang membelinya,” Lay bersiap menggerakkan kakinya untuk melangkah namun lagi-lagi Jiyeon menahan tangannya.

Dengan tatapan mata yang serius, Jiyeon mengatakan,” Kau harus istirahat, Oppa. Semua yang menemanimu – aku, Seungri oppa, Sulli, dan Eunji juga telah beristirahat karena kita tidak boleh lengah dan terlalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuan kita. Istirahatlah sebentar saja. Aku pergi dulu.” Jiyeon merasakan kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia menggigit bibir bawahnya – menahan perih di kakinya yang memang belum sembuh seratus persen.

Melihat Jiyeon tak segera beringsut dari tempatnya, Lay bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi pada Jiyeon?

“Kau baik-baik saja?” tanya Lay mulai khawatir karena dalam hitungan beberapa detik – Jiyeon tidak bergerak sedikit pun.

Lay tak tahu apa yang telah terjadi pada Jiyeon. Gadis itu pun tak ingin memberitahukan perihal kakinya yang terluka pada Lay yang kini memegang lengannya agar tubuhnya tidak terjatuh karena jujur saja – Jiyeon sedikit kehilangan keseimbangannya saat ini.

“Jiyeon-a, gwaenchana?” Seungri muncul dengan membawa dua kantong plastik. Ia meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas kursi (ruang tunggu di depan kamar ICU) lalu membantu Jiyeon menggerakkan kakinya.

Seungri memapah Jiyeon untuk dapat meraih kursi yang berada tiga meter darinya. “Duduklah!” perintahnya pada Jiyeon yang tertunduk lesu – menyadari bahwa saat ini kondisi tubuhnya lemah dan malah menyusahkan orang lain.

Lay menatap Jiyeon dan Seungri bergantian. Ia ingin mengajukan satu pertanyaan penting pada keduanya. “Apa yang terjadi pada Jiyeon?” Pemilihan kata dalam pertanyaan itu lebih tepat ditujukan pada Seungri.

“Semalam dia….”

“Bukan karena kejadian semalam,” potong Jiyeon. Ya, memang benar bukan karena kejadian semalam. Lebih tepatnya, bukan karena peristiwa penangkapan Alice dan Dongwoo.

Flashback.
Pada hari di mana Lay dan Jiyeon mulai menyamar sebagai siswa di Highschool, Jiyeon telah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Seungri, Lay dan agen yang lain. Misi dari penyamaran ini adalah untuk mengetahui gerak-gerik Dongwoo yang diduga kuat sebagai pengedar narkoba di sekolah itu dan dirinya adalah salah satu orang yang bertanggung jawab atas misi rahasia yang ditangani oleh timnya. Oleh karena itu, Jiyeon merasa bahwa dirinya harus memiliki rencana sendiri untuk dapat menyelesaikan misi itu.

Hari ini, setelah dirinya dan Lay resmi diterima sebagai siswa baru, Jiyeon sengaja mendekati Dongwoo yang notabennya seorang pendiam dan tidak banyak bergaul. Bahkan – menurut beberapa orang yang mengenalnya, Dongwoo merupakan sosok pemuda yang misterius. Dia nampak seperti seseorang yang memiliko kepribadian ganda. Psiko? Mungkin saja seperti itu.

Setelah makan di kantin, Lay memutuskan kembali ke ruang kelas dan membaca beberapa buku pelajaran di sana. Tidak lucu kan kalau dirinya menyamar menjadi siswa teladan tetapi kenyataannya malah berkebalikan dari kata ‘teladan’.

Sementara Lay kembali ke kantin, Jiyeon segera melancarkan aksinya. Mungkin tidak membutuhkan waktu lama. Dia hanya ingin berbincang dan saling kenal karena sebelum ini pun, mereka sudah pernah berbincang-bincang namun Jiyeon seakan menjadi korban cuek dari sikap Dongwoo.

Jiyeon duduk di salah satu deretan bangku di kantin sekolah. Ia sengja tak beranjak dari tempat itu hanya karena Dongwoo masih asyik menikmati santapan siangnya. ‘Kapan dia akan pergi dari tempat ini?’ tanya Jiyeon dalam hati. Ia benar-benar tidak sabar melihat Dongwoo keluar dari tempat keramaian itu.

Beberapa menit kemudian, akhirnya yang diinginkan Jiyeon pun terjadi. Ya, Dongwoo telah menyelesaikan ritual makan siangnya. Dia berjalan meninggalkan kantin dengan santai. Melihat hal itu – Jiyeon bergegas mengikutinya.

Dongwoo melangkah dengan pasti. Tak seperti siswa lainnya yang selalu celingukan saat berjalan – berbeda dengan Dongwoo. Namja itu berjalan dengan kepala tertunduk. Tentu saja Jiyeon tidak mempermasalahkan hal itu untuk misinya. Namun jika dilihat dari kejauhan, cara berjalan Dongwoo benar-benar tidak punya style. Memikirkan hal itu mampu membuat Jiyeon terkikik geli. Ia berjalan di belakang Dongwoo dengan jarak kurang lebih enam meter.

Merasa ada seseorang yang mengikutinya, Dongwoo berhenti kemudian melirik bayangan Jiyeon di lantai. Yeoja itu pura-pura asyik memainkan ponselnya. Tatapan dingin keluar dari sepasang netra milik Dongwoo. Ia kembali melangkahkan kaki tanpa mempedulikan Jiyeon yang mengikuti langkahnya saat ini.

Jiyeon mulai kesal karena Dongwoo belum juga menentukan tempat tujuannya. Sejak meninggalkan kantin beberapa menit yang lalu, Dongwoo masih berjalan tanpa arah tujuan. Tanpa mempedulikan tempat yang akan dituju oleh Dongwoo, Jiyeon mempercepat langkahnya agar dapat sejajar dengan namja itu.

“Jeogiyo!” seru Jiyeon saat jarak diantara mereka semakin dekat.

Dongwoo berhenti kemudian menoleh ke belakang. “Nuguseo?” tanya namja itu dengan nada datar dan tenang.

Jiyeon siap melancarkan aksinya. “Maaf, aku adalah siswi baru di sini.”

“Aku tahu. Ada kepentingan apa memanggilku?” potong Dongwoo di saat Jiyeon ingin mengatakan sesuatu lebih banyak beberapa detik lalu.

“Bisakah kau menunjukkan padaku di mana ruang kesehatan?” Pertanyaan konyol! Kenapa dirinya menanyakan hal itu? Bukan itu yang ingin ia tanyakan untuk berbasa- basi dengan namja dingin seperti Dongwoo.

“Ikuti aku! Kebetulan aku akan melewati ruang kesehatan.”

Eh?

Jiyeon heran. Ternyata Dongwoo benar-benar akan menunjukkan ruang kesehatan padanya. “Boleh aku tahu siapa namamu?”

Dongwoo melirik Jiyeon yang berjalan di sampingnya. “Panggil saja aku Dongwoo.”

“Ah, iya, Dongwoo sunbaenim,” sahut Jiyeon diiringin anggukan kepala. “Ngomong-ngomong, Anda mau pergi ke mana?”

“Aku dipanggil ke kantor guru.”

Lagi-lagi Jiyeon mengiyakan begitu saja jawaban Dongwoo. Namja itu nampaknya tidak sedang berbohong, terbukti dari ekspresi wajahnya tetap datar. Apa gerangan yang membuatnya mendatangi kantor guru? Ah, Jiyeon tidak ingin memikirkan hal itu. Berhubungan dengan namja aneh – bukanlah hal baru bagi seorang Jiyeon apalagi dia merupakan salah satu agen rahasia.

Jiyeon dan Dongwoo berjalan santai dalam suasana hening dan canggung. Sepertinya kali ini Jiyeon gagal melancarkan aksinya untuk mengetahui sosok Dongwoo lebih banyak.

“Itu ruang kesehatan.”

Jiyeon tersentak kaget karena tiba-tiba Dongwoo mengatakan sesuatu disusul langkah yang terhenti. Ia melihat papan nama ruangan itu. Benar saja. Ruang kesehatan berada di samping ruang guru.  “Ah iya. Terimakasih,” ucap Jiyeon yang akan berjalan menuju ruang itu. “Maaf telah merepotkanmu, Dongwoo-ssi.” Jiyeon membungkukkan tubuhnya – memberi salam pada Dongwoo yang lebih muda darinya.

Tap tap tap!
Bruukk!

“Aakh!” seru Jiyeon memegang kakinya yang terkilir saat menaiki tangga menuju ruang kesehatan. Betisnya mendadak terlihat bengkak karena terbentur anak tangga. Jiyeon meringis menahan sakit. Apakah ini karma untuknya karena telah berbohong pada seseorang kalau dirinya hendak pergi ke ruang kesehatan? Ternyata dia memang harus pergi ke sana untuk mengurangi nyeri di kakinya. Benar-benar sial.
Flashback End.

Jiyeon baru saja menceritakan bagaimana dia mendapat luka di kakinya. Memang tidak berdarah namun rasa nyeri itu luar biasa sakitnya apalagi saat kaki itu diinjak oleh Alice kemarin malam.

“Kau tidak pernah hati-hati,” ungkap Lay yang membuat Jiyeon kesal.
***

Hari ini berhubung kasus pembunuhan Kris belum sepenuhnya selesai, tim XOXO memutuskan untuk segera menyelesaikan kasus ini dan bekerja sama dengan pihak kepolisian.

Dongwoo, sang tersangka pembunuhan Alice akan diinterogasi hari ini dan semua barang bukti akan ditanyakan padanya secara langsung oleh Seungri. Barang bukti berupa pecahan botol wine yang diamati oleh dua orang agen berpengalaman – Eunji dan Sulli – akan membantu menemukan dalang pembunuhan di kediaman Alice beberapa waktu yang lalu.

Hari ini, pihak kepolisian bekerja sama dengan tim XOXO untuk menginterogasi Dongwoo di kantor kepolisian pusat kota Gangnam. Tak lupa, tim XOXO membawa beberapa foto barang bukti yang akan ditanyakan langsung pada Dongwoo.

Persiapan dilakukan secara matang oleh beberapa orang dari tim XOXO. Mereka adalah Seungri, Xiumin, Sulli, dan Sehun. Seungri sengaja memilih orang-orang tersebut dengan berbagai pertimbangan. Seungri menugaskan Sulli untuk mengajukan pertanyaan terkait pecahan botol wine yang telah diselidiki berdasarkan asal wine tersebut, sidik jari dari beberapa pecahan botol, dan bentuk dari pecahan botol beserta serpihan-serpihannya. Xiumin ditugaskan untuk menjaga keamanan para agen selama proses interogasi – selain pengawalan dari polisi. Sedangkan Sehun mendapatkan tugas menanyakan peristiwa yang terjadi di rumah Alice.

Seungri meminta semua agen yang telah diberi tugas untuk segera berkumpul di ruang utama. Ia berdiri di belakanh sebuah meja berbentuk setengah lingkaran dengan pakaian serba hitam dan revolver di yang masih tergeletak di atas meja – di depannya. Dengan sabar, namja tampan dan tegas itu menanti anggotanya berkumpul mengelilingi meja tersebut.

Sulli yang pertama menginjakkan kaki di lantai ruang utama – setelah Seungri. Dia membawa beberapa foto hasil pengamatan pecahan botol wine dan berkas salinan hasil pemeriksaan botol wine serta sertifikat dagang beberapa merk wine – diduga kuat merupakan jenis wine yang digunakan dalam aksi pembunuhan itu.

“Berkasnya sudah lengkap?” tanya Seungri memecah keheningan di ruangan itu.

Sulli mendongakkan kepalanya – menatap manik mata Seungri dan membalas senyum namja itu. “Ne, sudah lengkap dan siap dipresentasikan, Oppa.”

“Bagus! Kau selalu bisa diandalkan, Sulli-a. Yang lainnya mana?”

“Gomawo, Oppa. Mereka sedang berjalan. Laboratorium kan lebih dekat daripada ruang kerja agen. Jadi, aku bisa lebih cepat datang kemari.”

Seungri mengangguk kecil – membenarkan pernyataan Sulli.

“Kami datang!” seru Xiumin sembari merapikan jaket kulitnya. Ia berjalan santai disusul Sehun di belakangnya. Mereka memakai pakaian yang sama persis – seperti seragam.

Seungri melebarkan senyumnya dan makin lama makin terdengar lah suara gelak tawanya melihat tingkah Xiumin dan Sehun yang dapat dikatakan ‘sehati’.

“Waah, sudah lama kami tidak melihatmu tertawa selebar itu,” sindir Xiumin secara halus.

“Aku akan tertawa di saat ada sesuatu yang membuatku tertawa. Kenapa harus menahan tawa? Bukankah itu tidak baik?”

Kata-kata Seungri mampu mengundang tawa di ruangan itu.

“Ayo kita diskusikan lagi apa yang akan kita lakukan di kantor polisi nanti.”

Suasana kembali normal. Tak ada suara berisik yang mengganggu konsentrasi para agaen yang akan melakukan interogasi dan pemeriksaan terhadap Dongwoo. Seungri memimpin diskusi dan akan memberikan pengarahan pada semua agen yang ia tunjuk.

“Langsung saja. Tugas kita kali ini hanya membantu para polisi menginterogasi Lee Dongwoo. Dugaan terkuat yaitu pembunuhan dilakukan oleh Dongwoo atau orang lain. Kita perlu beberapa bukti kuat untuk memaksa Dongwoo berterus terang.”

“Semua bukti yang kita butuhkan sudah siap,” sahut Xiumin tenang. Namja itu selalu bersikap dewasa dan terbuka.

“Apakah semua barang bukti ini akan kita serahkan pada polisi?” tanya Sehun yang memegang kotak kayu berisi barang bukti serta identitas masing-masing barang itu.

Seungri mengangguk. “Polisi lebih berhak menyimpan semua barang bukti kejahatan dibanding agen bayaran seperti kita. Ingat, kita merupakan agen bayaran yang mengorbankan diri membela kebaikan. Meski hanya bayaran, kita sangat berperan aktif mencegah kejahatan.”

Sehun dan Sulli mengangguk – tanda setuju pada Seungri.

“Tidak salahnya kita menyerahkan barang bukti itu pada polisi.”

“Kalau kita serahkan semuanya pada mereka, berarti tak ada barang bukti yang tersisa di markas?”

“Yaak Sehun-a, kau pikir markas kita adalah gedung penyimpan senjata rahasia?”

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. “Maaf,” ucapnya malu.

“Barang bukti tak selamanya menyelamatkan seseorang apalagi kalau barang itu dapat dimanipulasi,” jelas Seungri dengan tatapan jauh menerawang.

Ia ingat kasus pertama yang ditanganinya bersama sang ayah – pendiri XOXO Undercover. Karena kelengahan mereka berdua, barang bukti yang sudah terkumpul dicuri dan dimanipulasinoleh penjahat. Alhasil, mereka berdua kehilangan jackpot untuk menangkap tersangka perampokan beberapa tahun yang lalu. Berdasarkan pengalaman itulah, Seungri selalu bertindak hati-hati saat berurusan dengan barang bukti.

Tap tap tap!

Siluet seorang yeoja berpostur tubuh tinggi dan ramping semakin memendek – yanh menunjukkan bahwa orang itu berjalan semakin dekat dengan kelompok Seungri yang akan melakukan interogasi.

“Aku ikut!” seru Jiyeon dengan sedikit penekanan pada kata ‘ikut’.

Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah Jiyeon.

“Jiyeon-a, kau gila? Mana mungkin kami membiarkanmu ikut dalam tugas ini?” Tanpa diminta, Sulli menyatakan keberatannya secara halus tanpa melukai perasaan Jiyeon.

Seungri melirik Sulli. Dia kagum pada gadis itu – yang pandai mengolah kata dan bicara sehalus mungkin pada semua orang, terutama pada seseorang yang sedang emosi atau sedih. “Sulli benar. Kenapa kau memaksakan diri ikut dalam tugas ini?”

Jiyeon kesal pada Seungri. Dirinya ingin menanyakan sesuatu pada Dongwoo terkait sesuatu yang mengganggu pikiran Jiyeon.

“Seungri oppa tidak mengijinkanmu,” sahut Sulli lagi.

“Aku tahu. Tapi… biarkan kali ini aku ikut. Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan pada Dongwoo. Mungkin itu bisa membantu kalian dan para polisi.”

“Alasanku tidak mengijinkanmu pergi adalah kondisi tubuhmu yang belum fit. Aku juga memaksa Lay dan Suho untuk mengambil waktu istirahat. Entah mereka ingin ke mana. Suatu saat aku akan mengganti tugas kalian. Tapi untuk saat ini – biarkanlah begitu saja.”

Jiyeon menyesal datang ke ruangan itu. Rasa percaya dirinya menciut begitu saja setelah mendengar penjelasan Seungri.
***

Siang hari, pukul 13:00 KST.
“Lee Dongwoo – terdakwa kasus pembunuhan seorang namja bernama Kris Wu. Lokasi kediaman keluarga Alice atau lebih tepatnya rumah Dongwoo dan Alice. Barang bukti sidik jari di botol wine, sebuah pilpen dan bungkus heroin yang terdapt sidik jari miliknya. Dia juga telah melakukan pembunuhan menggunakan senjata tajam jenis revolver.” Seorang detektif dari Kepolisian Gangnam selesai membacakan keterangan secara singkat dari sebuah ruang pengintai.

Dongwoo, Sulli, dan Xiumin berada di sebuah ruangan berukuran 4×4 meter. Sulli dan Dongwoo duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatasnya. Kedua lengan Dongwoo diborgol dengan meja di depannya agar tidak mengamuk di ruangan itu. Sementara Sulli sedang menyiapkan pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Dongwoo, Xiumin menatap tajam pada Dongwoo. Ia tengah memikirkan sesuatu tentang peristiwa kemarin malam yang menewaskan gadis bernama Alice.

Setelah mendengarkan keterangan pengantar dari polisi, Sulli membenahi posisi duduknya – bersiap memberikan pertanyaan pada Dongwoo dari tipe pertanyaan paling ringan. “Lee Dongwoo, apakah Anda termasuk orang yang sangat menyukai alkohol?”

Dongwoo menggeleng pelan.

“Jawab dengan jujur!” bentak Xiumin hingga membuat Sulli juga tersentak kaget.
“Maaf,” ucap Xiumin pelan.

Sulli kembali fokus pada Dongwoo. Ia akan menanyakan pertanyaan yang lain. “Setahu Anda, siapakah diantara Alice dan Kris – yang senang minum minuman keras?”

“Mereka berdua sama saja,” jawab Dongwoo – entah benar atau tidak.

“Kau yakin? Lalu seseorang yang melempar botol wine itu Kris atau Alice?”

Dongwoo terkejut mendengar pertanyaan itu. “Alice yang melakukannya. Dia memukul Kris dengan botol yang masih berisi wine.”

Deg!
Benar dugaan Sulli bahwa pelaku yang sebenarnya adalah Alice. “Baiklah, kali ini kami percaya padamu.”

“Mwo? Percaya?” Dongwoo mengangkat kedua alisnya – tak percaya kalau para polisi dan detektif percaya padanya.

Sulli mengeluarkan ponselnya kemudian memutar sesuatu yang menimbulkan suara. Ia memutar rekaman yang berisi pengakuan Alice saat berhadapan dengan Jiyeon. Tentu saja sang pemilik rekaman itu adalah Jiyeon. Ia mengaktifkan alat perekam di ponselnya saat keluar dari mobil kemarin malam – sebelum ia bertemu dengan Alice. Jiyeon yang mengira bahwa dirinya akan bertemu dengan Seungri – malah masuk ke dalam kandang singa di mana seorang yeoja licik bernama Alice menodongkan senjatanya pada dirinya.

Dongwoo syok mendengar pernyataan Alice yang telah terekam di dalam alat perekam itu.

“Dari barang bukti ini, kami percaya kau bicara dengan jujur,” tambah Sulli.

“Aku mohon, lepaskan aku. Sekolahku… aku tidak mau dikeluarkan dari sekolah.”

Deg!
Sulli harus kuat. Yeoja berhati lembut itu harus tetap bersikap tegas di depan Dongwoo.

“Aku akan mengatakan semuanya. Jadi, tolong jangan jebloskan aku ke dalam penjara. Aku mohon…” lirih Dongwoo memelas.

Sulli menarik nafas panjang. “Akan kami usahakan jika kamu memang bisa bekerja sama dengan baik.”

Dongwoo mengangguk mantab. “Baiklah. Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan.”

Tbc

Advertisements

5 thoughts on “XOXO Undercover [Session 5]

  1. Syukurlah akhrnya slsai jg kasusnya,,,dan alice malah yah jd mati d tgn adiuknya angktnya sndr . knp yah kira si dongwoo bnuh alice ? apa dy gak tega ama kakanya yg nnti akn makan korban lg dan akhrnya tertgkap dan mmbusuk d penjara .
    Eiiii,,, tuh kan bang seungri uda di ingetin ma xiumin gak pcy. Cinta km tuh masi di anggap sblh pihak bang ma jiyi. Jiyi jab lm jawab dan emg hubgn kalian jg blm resmi entah apa. Nih jiyi malah gegara sikap km yg kurang tegas jyi jd mulai nyaman ma yixing. Hadehhhhh hadehhh kaki cha mbok yah bkinin scene seungyeon agak byk kek,,, kasus mulu boring jg,, bumbu cinta nya kurang nih utk pemain utamanya malah bykan yg lain

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s