XOXO Undercover [Session 4]

xoxo-undercover-new

Kami adalah 12 si ahli menyamar.

Cast:

Seungri, Jiyeon, Lay, Lime, Baekhyun, Nana,

Xiumin, Suho, Eunji, Kai, Sulli, Sehun

Genre:

Romance, Action & Friendship

Length:

Multichapter

Rating:

PG – 15

Previous Sessions: Characters | ID Cards | Session 1 | Session 2 | Session 3

Storyline  is mine, Cover by Kak Ica@ICAQUEART

Happy reading…

After read this FF, don’t forget to leave your opinion in comment box

~oOo~

Jiyeon telah mengetahui bahwa Dongwoo mulai mencurigai penyamarannya. Dia dan Lay harus berhati-hati dalam menjalankan misinya agar kasus pembunuhan seorang laki-laki bernama Kris dapat segera terungkap. Kasus yang terbilang rumit itu pasti dapat terpecahkan. Ya, itulah keyakinan yang harus tertanam dalam dirinya. Meski belum menemukan bukti-bukti, tim XOXO Undercover pasti dapat memecahkan teka-teki pembunuhan itu.

Malam itu, Dongwoo merencanakan sesuatu untuk menjebak Jiyeon dan Lay agar penyamaran mereka berdua terbongkar. Beruntung Jiyeon cepat tanggap saat dirinya bertemu dan berkenalan dengan laki-laki itu. Pertemuan mereka memang tidak disengaja tetapi rahasia besar tersimpan dalam benak mereka berdua.

“Fuuuh! Akhirnya aku bisa bernafas lega,” ungkap Jiyeon saat berada di dalam mobil milik Seungri.

“Kenapa kalimat itu lagi yang kau ucapkan? Benar-benar tidak bervariasi, membosankan.” Lay selalu membuat Jiyeon kesal.

Seungri hanya tersenyum melihat sikap kedua rekannya yang tak berbeda jauh dari Tom dan Jerry dalam film kartun buatan Amerika yang populer di kalangan anak-anak hingga saat ini.

“Ke mana tujuan kita?” tanya Seungri yang berusaha mengalihkan perhatian Jiyeon dan Lay agar tidak bertengkar lebih lanjut.

“Kembali ke asrama,” jawab Lay singkat, padat dan berisi.

Jiyeon membulatkan kedua matanya. “Apa? Tidak bisa! Kita tidak boleh kembali ke sana!” seru Jiyeon dengan suara yang agak tinggi hingga berhasil membuat Seungri dan Lay menutup telinga mereka dengan tangan.

“Yaak! Kecilkan suaramu! Kita berada di dalam mobil, bukan di tengah lapangan. Kau tidak perlu bicara sekeras itu.”

Lirikan maut dari Jiyeon mengarah pada Lay.

“Aku setuju,” kata Seungri secara tiba-tiba.

“What? Oppa!”

“Tapi sebelum kalian kembali ke asrama, kita ke markas terlebih dahulu,” kata Seungri dengan tenang.

Jiyeon dan Lay tak bisa berkutik dan membantah apa yang dikatakan oleh Seungri. Mereka yakin bahwa Seungri pasti memiliki alasan tertentu meminta mereka kembali ke markas dan asrama tempat tinggal para siswa.

Mobil Seungri berhenti di depan sebuah gedung tua dan terlihat usang. Gedung itu dikelilingi pagar tembok yang telah berlumut dan ditinggalkan warga karena dianggap sebagai tempat berkumpulnya para berandalan. Tak ada yang tahu kalau tempat itu adalah markas sebuah agen besar yang dipimpin oleh Lee Seungri.

Seungri, Jiyeon, dan Lay turun dari mobil yang telah diparkir tepat di depan gedung tua oleh Seungri. Ketiganya berjalan santai menuju ke dalam gedung untuk berkumpul dengan agen lainnya.

“Malam ini begitu dingin,” keluh Seungri sembari mengeratkan jaket tebalnya.

“Malam hari memang selalu dingin,” tambah Lay.

Sebagai satu-satunya wanita diantara mereka bertiga, Jiyeon memilih diam dan tak menanggapi ucapan kedua pria yang berjalan di belakangnya.

“Jiyeon-a!” panggil Seungri.

Jiyeon yang mendengar namanya dipanggil oleh Seungri, segera menolehkan kepalanya ke arah pria itu. “Eoh, ada apa?” tanya Jiyeon yang menghentikan tangannya membuka knop pintu baja yang terpampang di depan matanya.

“Ada apa dengan kakimu?” tanya Seungri memperhatikan kaki kanan Jiyeon yang dibalut dengan kaos kaki warna abu-abu. “Kakimu berdarah?” tanya Seungri lagi.

Jiyeon mengerjapkan kedua matanya dan mencoba merasakan rasa perih yang mungkin akan dia rasakan setelah menyadari kalau kakinya sedang terluka dan bahkan berdarah.

“Kakimu berdarah, Jiyeon-a,” tambah Lay yang tengah menundukkan kepalanya untuk melihat dan memastikan bahwa yang dilihat dari kaki Jiyeon bukanlah darah. Lay menyentuh kaki Jiyeon yang nampak berdarah.

“Auw!” seru Jiyeon reflek.

Seungri mengerutkan keningnya dan berusaha mencari tahu penyebab terlukanya kaki Jiyeon.

“Aku baik-baik saja,” ucap Jiyeon dengan menahan sakit di kakinya yang terluka.

“Eoh, baiklah. Sebaiknya kita segera masuk.” Seungri membuka knop pintu baja di depannya. Tak lama kemudian Jiyeon masuk ke dalam ruang rahasia terlebih dulu, disusul Lay dan Seungri yang berjalan di belakangnya.

Ruang laboratorium tampak seperti biasanya yakni sepi dan tak ada seorang pun yang tengah menyelesaikan pengamatan. Jung Eunji dan Choi Sulli yang ditugaskan untuk mengamati pecahan botol wine untuk menemukan bukti pembunuhan mendiang Kris juga tak menunjukkan batang hidungnya di sana.

Braakk!

Pintu baja dibanting oleh Seungri yang membawa dua orang yang seharusnya menyamar sebagai siswa.

“Sepi? Ke mana para manusia?” tanya Jiyeon polos.

“Suho, Sehun dan Xiumin telah aku tugaskan untuk mengawasi pergerakan bos mafia yang diduga akan kabur ke Moskow.”

“Moskow?” Jiyeon terkejut mendengar kota Moskow yang dijadikan tempat tujuan para mafia kelas kakap. “Apa alasan mereka sampai kabur ke sana?”

“Ini masih dugaan. Maka dari itu, mereka bertiga pergi menyelidiki keberadaan bos mafia itu di daerah Daegu. Mereka akan singgah di Chungnan, Cina, sebelum akhirnya pergi ke Moskow,” terang Seungri.

“Seandainya tertangkap, apakah bukti yang diperoleh sudah cukup kuat untuk mengadili mereka?” Kali ini Lay yang bertanya pada Seungri.

Seungri tak segera menjawab. Pria tampan itu masih berpikir matang-matang untuk memberikan jawaban yang benar pada Lay. “Belum. Semua bukti yang kita miliki dari penyergapan di bar kemarin belum cukup untuk membawa mereka ke meja sidang.”

Jiyeon berjalan menyusuri lorong menuju ruang kerjanya yang terletak di bagian paling belakang gedung markas. Kosong – tak ada siapapun di ruang itu.

“Lime?” lirihnya saat melihat rekannya bernama Lime sedang meringkuk di sudut ruang kerjanya. “Yaak! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jiyeon yang berjalan mendekati Lime. Dia cukup terkejut melihat gadis berambut pendek itu sedang terduduk di sudut ruangannya. Tak biasanya Lime seperti itu.

Gadis bernama Lime itu mengangkat kepalanya. Kedua matanya merah dan bengkak akibat menangis dalam waktu lama.

“Apa yang terjadi padamu, eoh?” tamya Jiyeon khawatir karena tak biasanya Lime seperti itu.

Lime menggeleng.

“Ayo kita keluar. Ngomong-ngomong, di mana yang agen lain?”
Pertanyaan Jiyeon tak mendapat jawaban dari mulut Lime. Gadis itu juga tak mau beranjak dari posisi duduknya yang meringkuk di belakang meja kerjanya.

Jiyeon membungkukkan badannya dan menatap Lime lekat-lekat. “Katakan padaku, apa yang telah terjadi? Kenapa kau menangis? Jawab aku, Lime!” Suara Jiyeon meninggi namun tetap tak berhasil membuat Lime membuka mulutnya. Jiyeon memegang kedua lengan Lime dan menggoncangkannya. Lime memang sering mengesalkan tapi Jiyeon tak tega melihat gadis itu menangis di depannya.

Kedua sudut mata Lime mengeluarkan cairan bening hangat. Dia ingin mengatakan sesuatu namun bibirnya serasa terkunci.

“Lime…” lirih Jiyeon yang mencemaskan keadaan Lime. “Kau tampak tidak sehat.”

Lime menggelengkan kepalanya. “A, aku baik-baik saja, Jiyeon-a. Alice….”

Deg!
“Ada apa dengannya? Apa yang sudah terjadi?” tanya Jiyeon tanpa mengalihkan tatapan matanya ke arah selain pada Lime.

Lime menarik nafas panjang. “Alice diserang oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya.”

Jiyeon hanya mampu mengedipkan mata dan membuka mulutnya seperti huruf O. “Kau yakin?”

Lime mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Jiyeon.

“Apa ini?” tanya Jiyeon yang tak tahu tujuan Lime menunjukkan sebuah pesan di ponselnya. Jiyeon membaca pesan itu kata demi kata. Setelah membaca seluruh isi pesan, kedua bola matanya terbelalak. “Dari mana kau mendapatkan pesan ini?”

“Dari ponsel Alice,” jawab Lime. Ekspresi wajahnya menunjukkan kejujuran.

“Alice? Bagaimana mungkin? Kau bilang Alice diserang oleh seseorang, tapi…. Ya Tuhan!” Jiyeon mendadak menegakkan badannya kemudian berbalik dan berlari menyusuri lorong.

Buk buk buk!

Suara hentakan sepatu Jiyeon beradu dengan lantai saat dia berlari menuju tempat di mana Seungri dan Lay berada.

Praang!!

Jantungnya berdetak semakin cepat karena kaget mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari atas meja. Tanpa mempedulikan barang yang ia jatuhkan, Jiyeon melanjutkan langkahnya agar segera sampai di ruang depan.

Beberapa saat kemudian.
“Oppa!” seru Jiyeon.
Entah siapa yang dipanggil, Seungri dan Lay menolehkan kepalanya ke arah Jiyeon yang masih ngos-ngosan dan tengah mengatur nafasnya.

“Ada apa?” tanya Seungri.

“Apa yang telah terjadi?” Lay menambahkan pertanyaan yang hampir serupa dengan pertanyaan Seungri.

Jiyeon masih belum dapat menormalkan nafasnya. Dia melambaikan tangannya sebagai isyarat untuk menyuruh Seungri dan Lay menunggunya menormalkan nafas. Jiyeon menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. “Aigoo….”

“Sudah?” tanya Lay saat Jiyeon terlihat tidak terengah-engah lagi.

“Oppa, gawat! Sumpah ini gawat!”

“Bicara yang jelas, jangan berbelit-belit!” Seungri melipat kedua tangannya di depan dada. Hal itu sontak membuat Jiyeon heran. Bagaimana bisa sesantai itu?

“Oppa! Alice diserang oleh seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Lime mendapat pesan dari Alice.”

“Lime? Di mana dia?” tanya Lay yang mulai mencemaskan Lime.

“Di ruangannya. Kita harus ke rumah Alice sekarang. Tak ada waktu lagi. Aku takut….” Jiyeon tidak melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang membuat otaknya bekerja ekstra keras.

Seungri menanti Jiyeon melanjutkan kata-katanya.

“Bagaimana kalau ternyata tersangka pembunuhan Kris adalah Alice?” kata Jiyeon lirih.

Seungri mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia beranjak dari tempatnya dan berlari menuju ruang investigasi yang terletak berdekatam dengan ruang isolasi.

“D, dia mau ke mana?” lirih Jiyeon yang tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Seungri.

Lay mendekati Jiyeon. “Siapkan senjata dan perlengkapanmu. Jangan lupa bawa perekam dan kamera pengintai,” perintah Lay pada Jiyeon. Setelah menyampaikan perintah itu, Lay masuk berjalan menuju ruang kerja Lime.

Jiyeon telah mengumpulkan barang-barang yang diminta oleh Lay dan memasang satu buah kamera pengintai di ikat pinggangnya dan satu lagi di ikat rambutnya. Dia juga tak lupa membawa pisau lipat yang disimpan di sepatu boot miliknya yang membungkus telapak kaki sebelah kanan dan dua revolver, masing masing di dalam jaket dan sepatu boot sebelah kiri.

“Oh ya, aku hampir lupa.” Jiyeon mengambil dua stok peluru lalu memasukkannya ke dalam jaket yang ia kenakan. “Beres.”

Tap tap tap!

Seungri datang menemui Jiyeon yang telah bersiap menuju mobil yabg terparkir di luar markas.

“Yaak! Kau mau ke mana?” tanya Seungri yang melihat kostum Jiyeon sedikit aneh.

“Aku mau mengawasi rumah Alice. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir, Oppa. Aku akan jaga diri.” Jiyeon berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Seungri yang mengkhawatirkan aksinya itu.

“Park Jiyeon!” panggil Seungri dengan suara lantang. Sepersekian detik berikutnya, Seungri mengambil dua buah revolver beda ukuran dari atas meja. Ya, senjata itu memang sengaja disiapkan oleh Jiyeon setelah mendapat perintah dari Lay.

Seungri berlari menyusul Jiyeon yang berjalan mendekati mobil sedan warna hitam milik Seungri.

“Itu kan mobilku, kenapa dia bisa memegang kuncinya?” lirih Seungri yang terus berlari menyusul Jiyeon.

“Biarkan aku yang menyetir.” Seungri menarik tangan Jiyeon yang telah berhasil membuka pintu mobil.

“Oppa!”

“Jangan membantah! Lakukan saja. Duduk di jok sebelah!” perintah Seungri.

Jiyeon mengerucutkan bibirya. Gadis itu masih sempat-sempatnya melakukan hal konyol di saat genting seperti ini. Tak lama kemudian dia duduk di sebelah Seungri dengan hati yang dongkol karena tidak diijinkan menyetir mobil sendiri.

Mobil melesat jauh di dalam gelapnya malam dan dinginnya hembusan angin yang bertiup kencang. Malam ini Jiyeon akan bertugas bersama Seungri yang pasti melindunginya dari bahaya.

Kembali ke markas XOXO Undercover.
Lay mengganti pakaiannya dengan pakaian baru dan kembali ke asrama. Dia mendapat perintah dari Seungri untuk kembali ke asrama dan mengawasi Dongwoo.

“Oppa, kau mau ke mana?” tanya Lime yang telah mendapatkan ketenangan dalam dirinya. Ia melihat Lay yang tengah memasang kamera pengintai pada jam tangan lalu merapikan pakaian kerennya.

“Aku akan kembali ke asrama. Oh ya, hubungi Jiyeon, aku atau Seungri saat kau mendapat pesan lagi dari Alice. Jangan lupa untuk melacak keberadaan Alice melalui nomor ponselnya. Oh ya, kau harus tetap di sini. Jangan biarkan orang lain masuk ke dalam markas.” Lay memberikan instruksi singkat tentang apa yang harus dilakukan oleh Lime dalam keadaan darurat itu. Saat kedua kakinya berhasil diluruskan dan hendak mengayunkan langkah kakinya, Lay menggerakkan kepalanya. Ia menoleh ke belakang, melihat sosok gadis berambut pendek yang mungkin saja sedang menahan sakit. “Kau baik-baik saja?”

Lay melihat perubahan mimik wajah Lime. Wajah imut itu sangat berbeda dengan sebelumnya. Wajah Lime semakin pucat seiring berjalannya jarum jam. “Lime….”

“Eoh, aku tahu apa yang harus ku lakukan,” sahut Lime santai. Sama sekali tak menunjukkan kalau dirinya sedang tidak baik-baik saja. “Oppa, pergilah. Aku baik-baik saja. Cepat!”

Dengan berat hati, Lay meninggalkan Lime yang tengah menahan perih di ulu hatinya.
***

Uugh!

Lime berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk meraih beberapa perlatan yang ia butuhkan dalam proses pelacakan nomor ponsel. Darah segar berwarna merah cerah mengalir melewati lubang yang menganga di kulit mulus Lime yang menyebabkan gadia itu meringis menahan perih. Dengan sisa-sisa tenaganya, Lime meraih peralatan yang ia butuhkan. Dia hrus segera menyelesaikan pelacakan lokasi Alice.

Perlu waktu cukup lama bagi Lime untuk dapat menyelesaikan tugasnya, ditambah lagi keadaannya yang tergolong sekarat. Kain kasa steril ia gunakan untuk menutup lukanya agar darah berhenti mengalir keluar. Sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada Lime saat itu juga. Dia harus menyelesaikan pelacakan itu kemudian mengobati lukanya sendiri.

Batin Lime mengutuk siapa saja rekannya yang telah membiarkannya melakukan pekerjaan sendirian.

Kau harus kuat, Lime.

Itulah kalimat penghiburan yang diucapkan Lime untuk dirinya sendiri. “Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi aku dapat meraih komputer dan melacak keberadaan Seungri dan Jiyeon melalui ID card mereka.” Lime tidak ingin berdiam diri – merasakan nyeri dan perih di perutnya. Luka tusukan itu sudah pasti semakin lebar dan darah semakin banyak membasahi kemeja abu-abu yang dikenakannya.

Lime berusaha kuat untuk bertahan dari rasa sakit yang terus menyerangnya. Wajah cantik itu kini telah berubah pucat pasi – bagaikan mayat hidup yang bangun intuk mencari darah segar. Nafas Lime tak beraturan dan detak jantungnya semakin melemah.

Klik!

Akhirnya, setelah beberapa menit berusaha melacak keberadaan dua rekannya, Lime dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Brukk!!
Tubuh mungil itu jatuh tersungkur di atas lantai, menyebabkan luka tusukan yang ia dapat semakin perih dan tak tertahankan. Lime menggigit bibir bawahnya. Ingin sekali gadis itu berteriak meminta bantuan atau meraih ponselnya yang terletak sekitar lime meter dari tempatnya tergeletak. Air mata jatuh beraturan – mengiringi rintihan Lime yang terdengar sangat lirih.

Hanya ada tiga orang di markas itu. Hanya saja dua oraag yang lain entah sedang berada di mana. Sedangkan Lime masih berada di ruangan yang tak dapat dikenalinya lagi. Kini gadis itu tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangan kanannya menekan lubang tusukan dan tangan yang lain menggenggam erat – sesekali meremas ujung kemejanya. Pandangannya semakin kabur, bibir mungilnya memanggil seseorang – berharap orang itu segera datang menolongnya sebelum nyawanya melayang.
***

Eunji dan Sulli memutuskan istirahat sejenak – mungkin 20 menit cukup untuk memulai pengamatan lagi. Keduanya duduk di atas kursi masing-masing dan memejamkan mata, merasakan betapa nikmatnya menutup mata seperti yang mereka lakukan. Sulli berulang kali menghela nafas panjang.

“Kenapa kita tidak melakukannya dari tadi? Ah, punggung sepertinya tidak lurus lagi,” gerutu Eunji yang sukses mengundang geli pada Sulli.

“Cih! Kau selalu menyesali sesuatu yang telah terjadi. Ah iya, aku mau mengambil minum sekaligus mengobrol dengan Lime.”

Eunji menegakkan tubuhnya dan menatap Sulli. “Lime? Oh iya, hanya kita bertiga yang berjaga di markas. Para agen benar-benar bertindak di luar rencana. Kalau begitu, ayo kita mencari Lime.”

Tak lama kemudian, Sulli dan Eunji mengukir langkah santai menuju ruang kerja agen yang terletak di bagian tengah gedung yang telah dijadikan markas XOXO Undercover. Mereka berdua berjalan tanpa beban.

“Ngomong-ngomong, saat ini siapa yang bertugas mengintai rumah Alice dan mendiang Kris Wu?” tanya Eunji pada Sulli yang berjalan di sampingnya.

Sulli mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Mungkin saja sekarang Jiyeon atau agen lainnya yang menjalankan tugas itu. Kita tahu sendiri kalau rencana yang kita laksakan hanya bersifat sementara karena rencana-rencana kita pasti berubah sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.

“Manusia hanya bisa berencana ” sahut Sulli dengan lirih. Tangan kanannya sibuk memegang gelas yang berisi cairan kuning beraroma jeruk segar.

Tak terasa, langkah Sulli dan Eunji telah mencapai tempat tujuan mereka, yakni ruang kerja para agen.

“Di mana Lime?” tanya Sulli terkejut tidak menemukan sosok gadis imut bernama Lime yang dikiranya sedang menjalankan tugas di ruang kerja. Hanya beberapa agen yang memiliki ruang kerja pribadi, seperti Seungri, Jiyeon, Lay, dan Xiumin. Sedangkan sisanya hanya menempati ruang kerja bersama dengan banyak meja dan peralatan canggih lainnya.

Sulli berjalan mengelilingi ruang kerja kosong itu. “Bukankah seharusnya dia ada di sini?”

“Mungkin saja dia ada di ruangan Lay.” Tiba-tiba Eunji berpikir kalau Lime sedang berada di dalam ruang kerja Lay karena ia sering menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

“Lime!” panggil Sulli dengan suara lantang – berharap rekannya itu dapat mendengar suaranya dan menjawab ‘aku ada di sini’.

Eunji mengerutkan keningnya. Ia dan Sulli mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, bahkan mereka masuk ke dalam ruangan Lay. Tidak ada Lime di sana. Pencarian dilanjutkan ke ruangan Seungri. Namun setiba di depan ruang kerja sang ketua, tiba-tiba Sulli menghentikan langkahnya dan mengurungkan niat memasuki ruangan itu.

“Firasatku bukan di sini. Mana mungkin Lime masuk ke ruangan ketua?”

“Ah, benar juga. Lalu di mana dia? Jangan-jangan dia keluar dari markas…” tebak Eunji asal.

Sulli mengangguk kecil. “Sudahlah, bukankah Lime bisa melindungi dirinya sendiri? Semoga dia cepat kembali.” Sulli membalikkan badannya kemudian melangkah menuju meja kerjanya.

“Yaak! Sulli-a!” seru Eunji menatap tajam pada pecahan kaca yang ada di bawah kakinya. Ia mengambil salah satu serpihan kaca itu lalu menunjukkannya pada Sulli.

“Astaga! Alice! Bukankah tadi Alice ada di sini? Lalu di mana Lime?” Sulli mulai panik – begitu juga dengan Eunji.

Sulli dan Eunji kembali melakukan pencarian. Saat tatapan keduanya terarah pada salah satu ruangan dengan pintu terbuka, di sana lah mereka mencurigai sesuatu. Segera saja, Sulli dan Eunji berlari mendekati pintu sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang kerja Park Jiyeon.

Eunji masuk ke dalam ruangan namun Sulli masih berdiri di depan pintu. Ia ingin berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang berbahaya di dalam markas.

“Lime!” teriak Eunji yang samgat terkejut melihat tubuh Lime terbaring lemas di atas lantai dengan darah merah segar dibagian perut.

Sulli yang mendengar teriakan Eunji segera berhambur melihat apa yang membuat rekannya itu berteriak. “Astaga! Lime!” Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor 119.
***

Jiyeon tak hentinya memutar bola mata – mengawasi jalan yang dilaluinya. Sepi, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Daerah Daegu memang kerap kali seperti ini. Sepi sunyi di malam hari, sangat berbeda dengan keadaan ibukota Korea Selatan yang sangat ramai pada jam-jam sibuk.

“Kau menemukan sesuatu?” tanya Seungri memecah keheningan di dalam mobil yang ia kendarai.

Jiyeon mendesah kasar. “Tidak ada. Padahal mesin pelacak menunjukkan lokasi terakhir di tempat ini.”

“Jangan putus asa. Entah tersangka pembunuhnya Alice atau Dongwoo, kita masih belum punya bukti yang kuat.” Seungri berusaha mengatakan sesuatu yang dapat membangkitkan semangat Jiyeon. “Bukankah tadi malah kau yang bersemangat mengejar pelakunya?”

Diam – itulah yang dilakukan Jiyeon. Bibir mungilnya memang diam tak mengatakan apapun – tapi pikirannya jauh melayang – memikirkan masalah yang harus diselesaikan oleh timnya. “Oppa, selain rumah pribadi – tempat mana saja yang bisa didatangi Alice?”

Seungri terdiam sejenak dan mengernyitkan keningnya. Ia mencoba mengingat tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Alice. “Dari hasil interogasi rahasia yang dilakukan oleh Lime secara pribadi, Alice mengatakan kalau dirinya sering mengunjungi sekolah yang pernah menjadi tempat favoritnya.”

“Sekolah?” Jiyeon mengulangi satu kata yang menarik perhatiannya.

Tiba-tiba Seungri menyadari sesuatu setelah Jiyeon mengulang kata ‘sekolah’ dengan nada tak percaya. “Kita harus kembali ke asrama.”

“Hiisss! Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau kita harus mencarinya ke asrama atau sekolah.” Jiyeon kesal pada Seungri yang tak jarang menganggapnya remeh.

Hening sesaat.
“Oppa!” panggil Jiyeon datar.

“Hm?”

Jiyeon menoleh ke arah Seungri yang berada di belakang kemudi. “Kau masih meremehkanku?”

“Tidak, bukan begitu.”

“Oh, kalau begitu… kau meragukanku, iya kan?”

“Yaak! Jiyeon-a, hentikan omong kosongmu itu. Bukan saatnya kita membahas hal seperti itu sekarang ini, eoh?”

Lagi-lagi Jiyeon dibuat kesal oleh Seungri. “Baiklah, aku akan mengunci mulutku.”

Kriiiiiing!!

“Oh! Astaga! Haish! Ponsel ini mengagetkanku.” Jiyeon terpaku menatap layar ponselnya. Sebuah pesan singkat dikirim oleh Sulli yang mengatakan bahwa….

From: XO CS
Katakan pada Lay untuk segera ke rumah sakit. Lime di sana.

Deg!

Rumah sakit?

Lime di sana?

Jari jemari Jiyeon sedikit gemetar. “Lime…” lirihnya pelan dan sukses membuat Seungri menggerakkan bola matanya – melirik Jiyeon.

“Ada apa?” tanya Seungri yang berhasil melihat perubahan mimik wajah pada Jiyeon.

Gadis bermarga Park itu meremas ponselnya. Ia memikirkan cara menyampaikan pesan itu pada Lay.

“Jiyeon-a,” panggil Seungri karena pertanyaannya sama sekali tidak dijawab oleh Jiyeon.

Tuuuut tuuuut!

Jiyeon mencoba menghubungi Lay dan ingin menyampaikan pesan dari Sulli.

“Yoboseo…” ucap Lay dengan suara lirih karena namja itu sedang berada di dalam mobil.

“Op,  oppa….” Jiyeon enggan melanjutkan kalimatnya.

“Ada apa? Kau sudah menemukannya?”

“Bukan itu. Kau ada di mana? Kita bertemu di perbatasan sebelah utara kota Daegu. Aku akan menunggumu di sana. Cepatlah!”

Tut!

Sambungan terputus.
***

Ckiiitt!!

Lay menginjak pedal rem pada mobilnya hingga menyebabkan mobil itu hampir menabrak mobil Seungri yang berhenti tepat di depanya. Beberapa saat kemudian ia keluar dari mobil dengan hati-hati.

Begitu Jiyeon melihat Lay berdiri di depan mobilnya, gadis itu langsung menghampiri Lay dengan ekspresi datar.

“Ada apa?” tanya Lay yang belum tahu menahu penyebab Jiyeon memintanya datang ke tempat itu.

Jiyeon menghela nafas panjang. “Sebentar,” ucapnya pada Lay. Detik berikutnya, dia membalikkan badan menghadap ke mobil Seungri dan memberi isyarat pada namja itu untuk pergi lebih dulu.

Seungri mengangguk pelan. Ia buru-buru tancap gas dan melanjutkan misi mengejar Alice ke asrama.

Sepeninggal Seungri, kini hanya ada Jiyeon, Lay dan seorang sopir taksi yang menunggu salah seorang dari dua agen tersebut.

Jiyeon mengulurkan tangannya – meminta kunci mobil pada Lay.

“Apa?” tanya Lay masih bingung.

“Kunci mobilnya.” Jiyeon mengangkat kedua alisnya – memberikan isyarat pada Lay agar segera menyerahkan kunci mobil padanya. “Pali! Tidak ada waktu lagi.”

Lay bertambah bingung.

“Liat sopir taksi yang ada di belakangku! Dia akan mengantarkanmu ke suatu tempat. Sementara itu, mobilmu akan aku bawa menyusul Seungri oppa. Kau paham kan, Oppa?”

“Sebenarnya ada apa ini?”

Jiyeon berusaha menahan diri untuk tidak memberikan kabar menyakitkan pada Lay. Ia tak tega mengatakan sesuatu yang dapat melukai hati namja itu. “Sudahlah, oppa menurut saja. Kau akan tahu sendiri nantinya. Jangan memaksaku mengatakan sesuatu yang bisa menyakitimu, eoh….”

Lay belum paham sepenuhnya tentang ucapan Jiyeon. Tapi namja itu mau menuruti kemauan Jiyeon yang sejujurnya membuat dirinya bingung. “Baiklah. Kunci mobil ada di dalam.” Lay mulai mengayunkan kaki jenjangnya ke arah taksi yang sudah menunggu cukup lama hingga membuat sang sopir sedikit mengantuk.

Jiyeon membiarkan bola matanya mengekor sosok Lay yang hendak membuka pintu taksi. “Oppa!” panggilnya sebelum Lay masuk ke dalam taksi. Ia berhambur mendekati Lay kemudian menjatuhkan diri ke dalam pelukan namja tampan itu. “Hati-hati dan tetaplah kuat!”

Lay masih bingung. Dia hanya mengiyakan kata-kata Jiyeon. Entah apa yang terjadi, yang pasti Lay ingin segera sampai di rumah sakit agar secepatnya mengetahui masalah yang membuat Jiyeon bersikap aneh padanya. “Eoh,” jawab Lay sangat singkat.

Jiyeon melepaskan pelukannya, ia memaksakan senyum mengembang di wajah cantiknya. Senyum itu harus terlihat natural dan menunjukkan ekspresi senang, bukan kebalikannya. “Aku akan mengejar pelaku pembunuhan itu. Pergilah dengan selamat, Oppa. Sampaikan salamku pada agen yang ada di sana.”
***

Satu jam 40 menit kemudian.

Taksi berwarna putih yang membawa penumpang bernama Zhang Lay akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sakit besar yang terkenal di seluruh penjuru negeri. Lay mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya kemudian menyerahkannya pada sang sopir. Anehnya, sopir itu menolak uang pembayaran dari Lay. Namja paruh baya itu mengatakan kalau gadis tadi yang telah membayar biaya taksi dan malah tidak mengambil uang kembaliannya.

Lay turun dari taksi dan membuka pesan masuk dari Jiyeon.

From: XO PJY
Masuklah, Oppa! Kamar 205, lantai 4, sebelah kiri. Kau akan bertemu dengan Sulli dan Eunji di sana.

“Sulli dan Eunji?” lirihnya. Ingin sekali Lay bertanya pada Jiyeon tentang sesuatu yang membuatnya bingung. Dengan rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Lay menuruti pesan Jiyeon. Ia berjalan cepat menuju lantai empat dan melihat label kamar bernomor 205.

Lay hanya memerlukan waktu lima menit untuk sampai di lantai empat sebuah rumah sakit di kawasan kota Seoul. Sesampainya di depan kamar 205, Lay menarik nafas dalam-dalam kemudian membenahi bajunya yang sedikit berantakan. Dianggap bajunya telah cukup rapi, Lay bersiap mengetuk pintu kamar tersebut.

Ceklek!

Lay terkejut melihat pintu itu terbuka. Seseorang telah membukanya dari dalam.

“Oppa!” pekik seorang gadis dengan nada lirih.

“S, Sulli-a….” Lay sedikit gugup – entah kenapa dia menjadi seperti itu.

“Oppa, mianhae.”

Mian? Kenapa Sulli mengucapkan kata itu?

“Sulli-a, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa Jiyeon dan kau bersikap aneh padaku?”

Sulli menggigit bibir bawahnya. “Mian, Oppa. Kami tidak bisa menjaga Lime di markas.”

“Lime? Ada a…” Lay menyadari sesuatu yang aneh. Tiba-tiba dia menerobos masuk ke dalam kamar dan nampak pemandangan menyakitkan di mana seorang gadis berambut pendek terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang – dengan kedua mata tertutup rapat. Lay merasakan kedua kakinya tak mampu menopang tubuhnya lebih lama. Ia jatuh terduduk di samping ranjang perawatan Lime.

“Oppa…” lirih Sulli yang merasa sangat prihatin pada Lay. Dia dan Eunji pun meneteskan air mata melihat Lay dan Lime dalam keadaan yang menyedihkan.

“Tidak mungkin… ini tidak mungkin!” lirih Lay dalam tangisnya. Kepalanya tertunduk, tatapan matanya menghujam lantai rumah sakit berwarna putih dan kedua tangannya mengepal kuat seakan hendak memukul seseorang yang menyakiti Lime seperti itu.
***

Malam semakin larut. Suasana kota semakin sepi hingga hanya suara binatang malam seperti serangga yang terdengar di telinga Seungri. Ia telah menempuh perjalanan cukup lama untuk sampai di asrama tempat Lay dan Jiyeon tinggal sementara waktu. Ada keraguan di dalam benaknya untuk segera masuk ke dalam asrama. Terakhir kali dia datang ke tempat itu adalah untuk menjemput Lay dan Jiyeon dari ancaman Lee Dongwoo. Hal itu twrjadi lebih dari lima jam yang lalu.

Seungri bisa saja membekuk Alice ataupun Dongwoo seorang diri. Tapi sesuatu menyebabkan ia enggan keluar dari mobilnya. Firasat buruk menghantuinya – terlebih saat ini Jiyeon belum juga sampai di asrama.

Tuuut tuuut!

Tak ada jawaban dari pemilik nomor ponsel yang dihubungi oleh Seungri. “Jiyeon-a, kau ada di mana sekarang?” gumamnya. Ia cemas dan takut kalau terjadi sesuatu pada gadis yang dicintainya. Sesuatu yang buruk tidak boleh terjadi pada rekan-rekannya, terutama Jiyeon.

Seungri bimbang. Ia harus memikih masuk ke asrama seorang diri atau menunggu Jiyeon datang ke tempat itu. Namun jika ia menunggu Jiyeon yang belum pasti datang ke tempat itu, pelaku pembunuhan Kris pasti akan bebas berkeliaran di dalam asrama atau bahkan bebas berjalan-jalan di luar. “Aku akan masuk sendirian.”

Lee Seungri, pria yang dikenal ramah, cerdas dan baik hati itu memutuskan masuk ke dalam asrama yang dihuni oleh 210 orang – jumlah yang cukup banyak dijadikan saksi penangkapan Dongwoo atau Alice.

Tap! Tap!

Langkah kaki Seungri terdengar menggema di seluruh ruang utama asrama. Ia tetap waspada terhadap apapun yang akan terjadi atau siapapun yang akan menyerangnya. Hatinya sedikit lega setelah beberapa orang berjalan berpapasan dengannya. Yang harus ia pikirkan adalah cara untuk menemukan orang yang dicari, yaitu Dongwoo dan Alice. Seungri teringat ucapan Jiyeon tentang Dongwoo. Maka ia pun segera meluncur menuju kamar Lay yang terletak tidak jauh dari kamar Dongwoo.

Beberapa menit kemudian, Seungri berhasil menemukan kamar Lay. Dia berpura-pura membuka pintu kamar itu saat tiga orang siswa berjalan melewatinya.

“Jeogiyo!” seru Seungri yang berhasil membuat tiga orang siswa tersebut menghentikan langkahnya.

Saat ketiganya berhenti, Seungri pun mendekati mereka dan mengeluarkan dua lembar foto, yakni foto Dongwoo dan Alice. “Apakah kalian pernah melihat dua orang ini?” Seungri bertanya kepada tiga orang siswa yang nampaknya mengenal Dongwoo dan Alice.

“Ne, aku tahu siapa mereka. Pria itu bernama Lee Dongwoo sedangkan wanita itu sering dipanggil dengan nama Alice. Aku pernah beberapa kali melihat Dongwoo berbicara dengannya.”

Seungri mengerutkan kening. Sesuatu mulai terbongkar sedikit demi sedikit.

“Alice adalah kakak angkat Lee Dongwoo.”

Deg!

Kalimat itu mengejutkan Seungri. “Benarkah?”

“Ne, aku juga tahu kalau Dongwoo memiliki seorang kakak angkat. Setiap wanita itu datang kemari – wajahnya tak menunjukkan keramahan sama sekali. Namun setelah dia bertemu dengan Dongwoo, wajahnya nampak berseri-seri. Seperti baru saja mendapat sesuatu yang sangat dia inginkan.”

“Sesuatu yang sangat dia inginkan?” tanya Seungri lirih – takut jikalau seseorang mendengar percakapan mereka. “Ada lagi yang kalian ketahui tentang mereka berdua?”

Ketiganya nampak berpikir.

“Ah, tadi aku melihat kakak angkat Dongwoo di halaman depan,” ungkap salah seorang siswa yang mengaku melihat sosok Alice berjalan di halaman asrama.

“Terimakasih atas informasi yang kalian berikan.” Seungri bergegas menuruni tangga.
***

Sementara itu, Jiyeon yang kini berada di dalam mobil – menuju asrama – teringat sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya. ‘Aku harus segera sampai di asrama. Tidak akan ku biarkan Alice atau siapapun bisa menghirup udara bebas di luar sana.’ Jiyeon menambah kecepatan mobilnya. Alhasil, tak memakan waktu lama-lama, ia sampai di halaman depan asrama. Jiyeon melihat mobil Seungri terparkir rapi di tengah halaman – bersama dengan mobil-mobil yang lain.

Saat hendak turun dari mobil, Jiyeon teringat sesuatu.

Flashback.
Jari jemari Jiyeon gemetar saat memegang ponselnya. Kabar menyedihkan telah membuat pikirannya kacau.

“Ada apa?” tanya Seungri yang masih sibuk mengemudikan mobilnya.

“Oppa, kita harus segera pergi ke perbatasan.”

“Mwo?”

Jiyeon menatap Seungri nanar. Air matanya nyaris meleleh.

“Ji, Jiyeon-a, wae gurae?” Seungri menghentikan laju mobilnya. Ia menoleh ke arah Jiyeon dan memegang tangan gadis yang duduk di sampingnya itu. “Ceritakan padaku, ada apa? Apa yang telah terjadi?”

Jiyeon menghela nafas panjang. Manik matanya membalas tatapan Seungri. “Lime – dia dirawat di rumah sakit karena menderita luka tusuk yang cukup dalam di perutnya. Eunji dan Sulli yang menemukannya tergeletak di ruanganku. Aku… sungguh tak tahu harus bagaimana. Ini salahku. Aku tidak tahu kalau ternyata Lime terkena luka tusuk waktu kami bertemu di ruanganku. Oppa, kita harus menemui Lay oppa di perbatasan. Aku sudah memintanya pergi ke sana.”

Seungri cukup terkejut mendengar kabar dari Jiyeon. Lime sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Gadis ceria itu selalu memberikan ide dalam menyelesaikan misi-misi mereka. “Lay pasti akan sangat terpukul.”

“Mwo?”

“Sebenarnya Lime bukanlah orang lain bagi Lay. Dia adalah adik Lay.”

“Lime adik Lay oppa?” Sungguh, kenyataan ini lebih mengejutkan daripada kabar Lime masuk rumah sakit.

“Eoh. Orangtua Lay bercerai saat dirinya masih berumur dua tahun. Setelah itu, ibu Lay menikah lagi dengan seseorang karena mereka berdua membutuhkan kehadiran seorang ayah di dalam keluarga. Akhirnya lahir lah Lime.”

Pantas saja Lime dan Lay memiliki hubungan yang sangat dekat. Ternyata mereka berdua adalah kakak beradik.
Flashback end.

“Mianhar, Lay oppa…” lirih Jiyeon lalu membuka kunci mobil Lay yang ia kendarai.

Dooorr!!
Dooorr!!

Deg!

Jiyeon tertegun saat hendak membuka pintu mobil. “Oppa… Seungri oppa…” lirihnya. Berbagai macam perasaan menghampirinya. Ia khawatir jikalau terjadi sesuatu yang buruk pada Seungri.
***

Dooorr!!

Tak hanya Jiyeon, Seungri pun mendengar suara tembakan yang berasal dari arah samping asrama. “Jiyeon-a…” lirihnya saat menyadari kalau Jiyeon pasti sudah sampai di asrama. Ia pun segera berlari keluar asrama untuk melihat sesuatu yang terjadi di luar sana.

Sebagian besar penghuni asrama keluar dari kamar mereka – panik dan takut. Seungri menyuruh para penghuni yang berpapasan dengannya untuk segera kembali ke kamar masing-masing.

Kembali pada Jiyeon yang telah menyiapkan revolver di tangan kanannya dan pisau lipat di balik celana dan jaket kulitnya. Ia bergerak menuju sumber suara tembakan sebuah senjata api. Suara itu terdengar sangat dekat. Jiyeon yakin kalau itu hanya tembakan peringatan, peluru yang ditembakkan ke udara.
***

Lay terduduk lesu di atas sebuah kursi yanh diletakkan di samping ranjang Lime. Gadis imut itu belum sadarkan diri. Bahkan, dia belum berhasil melalui masa kritisnya. Pikiran Lay sedang kacau balau. Penampilan namja tampan itu masih tetap keren tetapi raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

“Oppa, makanlah dulu. Kau pasti belum makan.” Eunji menyodorkan sebuah nasi kotak pada Lay. Namja itu hanya melirik tak tertarik pada makanan yang ditawarkan oleh Eunji.

“Oppa…” lirih Eunji yang masih ingin membujuk Lay agar ia segera menyantap makanan yang telah dibelikan Sulli beberapa saat yang lalu.

“Di mana Kai dan Nana?” Tiba-tiba Lay menanyakan keberadaan dua agen yang tidak diketahuinya.

Eunji dan Sulli saling lempar pandang. Kemudian Sulli menjawab.

“Kai dan Nana eonni sedang ada di cafe yang menyediakan wine yang….”

“Suruh Nana dan Xiumin pergi ke asrama. Seungri dan Jiyeon butuh bantuan.”

“Mwo? Eoh, baiklah. Aku mengerti. Akan ku hubungi mereka berdua.” Eunji beranjak keluar dari ruangan.

Sulli – yang masih setia menemani Lay di dalam ruangan – hanya menatap sedih pada namja baik hati itu. Ia merasa sangat kasihan pada Lay. Betapa hancur hati namja itu melihat adiknya terbaring di depan matanya, apalagi jika Lay tahu siapa mafia yang tengah mereka buru – yang notabennya adalah ayah kandungnya sendiri.

“Oppa, yakinlah bahwa Lime akan baik-baik saja.”

“Apapun yang terjadi padanya – aku akan pasrah. Apapun yang akan terjadi padanya – biarkanlah terjadi begitu saja,” kata Lay dengan sedih. Ia berusaha menahan air matanya agar tak menetes begitu saja di depan seorang gadis sekaligus rekannya.

Lay ingat kata-kata Jiyeon yang menyatakan bahwa gadis itu tidak mungkin mengatakan sesuatu yang dapat mengakiti hati Lay. ‘Ternyata maksud ucapanmu adalah ini, Jiyeon-a. Gomawo telah menyampaikannya padaku tanpa melukai perasaanku,’ batin Lay.
***

Jiyeon berjalan pelan dengan kewaspadaan tingkat tinggi – menuju sumber suara tembakan. Ia yakin bahwa seseorang sengaja melakukan hal itu.

Kosong tak ada siapapun. Begitu lah keadaan tempat asal suara tembakan. Jiyeon mengedarkan pandangannya. Bola mata miliknya tak berhenti melihat sekelilingnya – berharap tidak ada sesuatu yang menyerangnya secara tiba-tiba.

“Park Jiyeon!”

Deg!
Jiyeon langsung membalikkan tubuhnya. Ia menyipitkan kedua kelopak mata agar dapat melihat sosok orang yang memanggil namanya. “Alice?”

Sosok gadis bernama Alice muncul secara perlahan. Ia berjalan ke arah Jiyeon dengan sebuah revolver terarah padanya.

“Rupanya kau benar-benar Alice.”

Alice tersenyum licik. “Aku tak menyangka kau akan kembali ke tempat ini. Ah iya, bagaimana kabar temanmu si rambut pendek itu? Apakah dia sudah mati?”

“Tutup mulutmu, Berengsek!” seru Jiyeon mulai terpancing emosi. “Kau bukan manusia. Tak ada manusia yang tega melukai temannya sendiri.”

“Teman? Siapa? Si rambut pendek itu? Aigoo… aku sudah lama tidak menganggapnya sebagai temanku sejak dia menyukai pacarku yang telah mati terbunuh.”

Jiyeon mengeratkan pegangan tangannya pada senjata yang siap meluncurkan peluru panas ke arah Alice.

“Syukurlah kau datang ke tempat ini. Aku bisa membunuhmu sekalian. Oh iya, ku dengar ada agen tercantik dan bertalenta. Rupanya agen itu adalah dirimu. Daebak! Beruntungnya aku jika bisa membunuhmu malam ini.”

Jiyeon terdiam. Ia tak ingin terpancing oleh kata-kata Alice lagi. Emosinya bisa memuncak jika kata-kata itu masuk ke dalam pikirannya. “Apa maumu?” tanya Jiyeon datar. Ia sengaja tidak menodongkan senjata ke arah Alice agar gadis itu mengira bahwa tak ada senjata api di tangan Jiyeon.

“Hentikan penyelidikan terkait meninggalnya Kris Wu! Kuburkan saja mayatnya dan jangan pernah mencari tahu siapa yang membunuhnya.”

“Apa maksudmu? Apakah kau yang membunuh Kris?” tanya Jiyeon ingin memancing Alice agar mengaku dengan sendirinya.

“Bukan aku. Seseorang telah membunuh Kris. Aku baru saja mengetahuinya dan….”

“Dan apa? Kau ingin melindungi orang itu karena kau mengenalnya?”

Tebakan Jiyeon benar. Alice sedikit kaget mendengarnya. “Kau….”

“Kenapa? Apakah tebakanku benar? Alice, jika kau bersedia menjadi saksi, kami akan menjamin keselamatanmu.”

“Apakah kalian juga akam menjamin keselamatan orang itu?” Pertanyaan Alice membuat Jiyeon bingung.

“Jika dia adalah pelakunya maka… kami akan menyerahkannya pada polisi.”

Alice terlihat gusar dan emosi. Ia berjalan semakin dekat dengan Jiyeon. “Kau memang pantas mati, Park Jiyeon!” Tiba-tiba Alice menyerang Jiyeon tanpa senjata api yang ia pegang.

Jiyeon membelalakkan kedua matanya. Ia tak menyangka kalau Alice akan menyerangnya – bukan menembaknya.

Bukk!

Alice berhasil menendang ulu hati Jiyeon hingga menyebabkan gadis itu menjatuhkan senjatanya dan tersungkur di atas tanah.

Jiyeon menahan nyeri di ulu hatinya. Ia bergerak untuk mengambil revolver miliknya yang terjatuh tak jauh dari tempatnya tersungkur.

Dengan sigap, Alice mengambil senjata itu. Ia tersenyum puas. “Kau ingin mengambil ini? Sayang sekali sekarang benda ini menjadi milikku.”

Tak ada reaksi dari Jiyeon saat Alice perlahan mendekatinya. Ia merasakan luka di kakinya semakin perih – membuatnya tak dapat berdiri dengan cepat.

Kriiet!
Seakan tahu kalau kaki Jiyeon sedang terluka, Alice menginjak kaki itu. Jiyeon menggigit bibir bawahnya – menahan sakit yang teramat perih di kakinya. Ia tak ingin menunjukkan ekspresi kesakitan pada Alice. Ia harus terlihat kuat di depan gadis licik itu.

“Alice!”

Seseorang menyerukan nama Alice.

Doorr!

Jiyeon terbelalak setelah mendengar bunyi tembakan. Kemudian ia mengerutkan kening dan menatap tak percaya pada Alice. “Alice…” lirihnya.

TBC

Advertisements

5 thoughts on “XOXO Undercover [Session 4]

  1. Gue mesti komen gmn yah… complicated yah. So alice dan dongwoo mrk kerja sama toh ,,, komplotan bersaudara yg jahat. Jd si Alice ini pecandu krn dongwoo si adik angkt pengedar ? makannya kris itu sering nyuruh alice buat jauin dongwoo yg d kira kris itu mantannya. Trs si downgwoo bunuh kris krn perna ngina dongwoo dg kata kasar jg kesel krn knp suruh alice jauhi kakak nya sndr gtu ? bos nya donwgwoo syp ? mksd gue dy dpt obat itu drmn ? ooooo,,,, tp apa iya seorang hakseng jd pengedar ? mksd gue just pengedar yg dy dpt obat nya dr pengedar lain jg yg pny bos besar yg entah dmn palingan.
    Haihhhh si seungri kok dg santai ny mmbiarkan cwe nya dket ama cwo lain. Sbnrnya diem2 cemas kali y.
    Oia trs mengenai, sarana botol wine yg buat bunuh kris itu , kan dstu TKP nya rumah alice kan ? rumah nya orang kaya so,, mgkn lah yg namanya orang kaya kan rekan bisnin=snya byk relasi nya dmn2 ada dr A mpe Z. yg artinya klo botol2 wine itu trsedia d rmh alice adl hal yg lumrah. Apa iya pmbunuhnya repot2 kstu bawa 4 wine buat apa ? numpang minum wine dstu ? si downgwoo bawa wine ? kaya nya utk kelas dongwoo apa iya ? agak kurang jelas sih asal usul nya dstu dr part 1 – 4 cm diceratain klo dongwoo itu adik angktnya alice kok bs jd angkt trs asal usul kluarga dongwoo jg cm d blg orang miskin kan. So gak mgkn wine itu dongwoo yg pny ato dongwoo yg konsumsi. Emmmm,,, yg pst pengonsumsi wine jenis itu pasti lah orang penting / orang kaya yg tdi gue blg byk relasi nya utk dptin wine langkah jenis apapun. So… mgkn klo Alice ma kris yg d TKP saat itu mrk ngbrol smbil mnum trs mgkn krn kris uda tau rahasia alice selama ini yg trnyta dia pecandu dan pny adik angkt pengedar , dan mgkn kris ngancem alice utk jeblosin adik ny k penjara klo dy g brenti konsumsi obat haram itu ? krn alice merasa terancam makanya dy lepas control, dank lo alice blg bkn dy pelaku nya brti d TKP aada 3 orang yg pihak ketiga itu dongwoo yg numpang denger mgkn. Dan yah yg bnuuh dongwoo sndr lah. Ato kris yg memang brtamu k rmh alice trs krn alice gak d rmh dy nggu sambil minum wine dan kebetulan dongwoo dtg brkunjg dan akhnrya mrk terlibat adu mulut dan krn merasa terancam dongwoo bunuh kris pke botol wine yg bekas kris minum ?? trs dy kabur ,, dan kris emg syok krn gak d TKP. Em emmmm,,,, oke lets see gmn sbnrnya penyebb pmbunuhan itu tjd dan syp pelakunya,,,
    Haihhh gara2 cmburu cewe jaman skrg tega bgt yah pke cara sadis smpe bunuh temennya sndr. Haduhhhh lime malangnya nasibmu nak
    Semoga uri jiyi gak kenapa napa yah. Eiiihhh jadi gemes sama hubgn triangle mrk ( seungri – lay – jiyi ) jd seungri dah cnt k jiyi ? knp kayanya hubgn mrk belum resmi mksd gue seungri blm nembak jiyi, tp seungri lebi k scr blak2an nnjukin klo dye mg sk dg sgla perhatiannya k jiyi dan jiyi dg senang hati menerima prhatian org lain . trs lay ,, knp trkesan acuh dan cuek tp sbnrnya dy tau apa tindakan jiyi. Smoga misi nya brjalan lancer dan gak ad yg mati yah. Susksesss. Lama bgt yah nggu nih ff. gue komen aja mpe sepanjang ini. Mau nyaingin isi ff nya. Heeee sori

    Like

    • Halooo omaigaadh aku terharu liat komenmu. Udah kaya ff panjang oneshoot. Heuheu…
      Btw, ff nya emang penuh teka-teki. Aku suka bikin penasaran readers. Hahah. Permasalahan Alice dan Dongwoo belum kelar sampe part 4. Soalnya dongwoo belum diinterogasi juga. Trs keterkaitan wine, kris, Lime juga belum dijelasin. Hasil pengamatan pecahan botol wine jg blm selese. Gak cukup kalo aku jelasin di part 4 smuanya beeeb. Ini aja udah pnjang hampir 6 ribu kata. Dan waktu bikinnya aku gak menyadari hal itu. Hohoho…
      Hubungan Lay – jiyi – seungri emang sengaja aku bkin complicated ky kasus yg mereka tangani/ plak!
      FF ini lama soalnya aku harus bikin alur yang mulus dan deskripsi yang detail ditambah scene yang terkesan mendebarkan gitu. Gak tau deh hasilnya kek gini bagus atau gak. Atau malah mengecewakan. Tau ah, yg penting udah jadi dan langsung dipost.
      Makasiiiii ya udah komen sepanjang inii. Serius, aku malah suka komen panjang2 gini. Gak percuma donk kalo aku bikin epepnya panjang jg. Kekeke…

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s