BLIND – CHAPTER 4

Blind

Author : IRISH

Tittle : Blind

Main Cast :

EXO Oh Sehun, Kim Jongin, OCs Lee Yookyung, Kang Sooyeon

Genre : Fantasy, School-Life, Romance

Rate : PG-16

Lenght : Chapterred

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

In Author’s Eyes..

Sooyeon terpaku saat melihat hamparan hutan di depan nya. Yeoja itu tengah tertidur tadinya.

“Eomma..”

Sooyeon mulai gemetar saat bus memasuki wilayah yang gelap. Hari yang sudah malam membuat keadaan benar-benar gelap. Satu-satu nya pencahayaan adalah lampu bagian depan bus.

“Kau tidak tidur?”, tanya Sehun, tentu saja namja itu bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi saat hari gelap.

“Tadinya..”, ucap Sooyeon

“Kau takut gelap?”, tanya Sehun

“B-Bisakah kita bertukar duduk?”, ucap Sooyeon

“Mana bisa, sekarang sedang gelap. Bagaimana jika kau jatuh?”

“Ah. Geurae. Aih.. Eotteohke..”

“Kemarilah.”, ucap Sehun

“Hah?”, Sehun dengan jelas bisa melihat sosok Sooyeon yang  menatapnya bingung, dan namja itu terdiam saat melihat luka di wajah Sooyeon

“Naikkan kakimu.”, ucap Sehun, berbisik

Sooyeon bahkan tidak berani menurunkan tangan nya. Ia benar-benar mematung. Akhirnya, masih dengan menahan rasa geli, Sehun menarik pelan kaki yeoja itu.

“Ya.. Kau membuatku kaget.”

“Diamlah. Semua orang sedang diam.”, ucap Sehun

Sooyeon diam. Bahkan saat Sehun menarik yeoja itu mendekat, Ia masih diam.

“Kau tidak takut gelap?”, tanya Sooyeon pelan

“Tidak.”, jawab Sehun, menarik bahu Sooyeon, merangkul yeoja itu.

“Masih takut?”, tanya Sehun pelan

“Sudah tidak terlalu..”

Sehun menyandarkan kepala yeoja itu di bahunya.

“Pejamkan saja matamu..”

“Shireo. Bagaimana jika ada bahaya?”

“Memangnya kau berani melihat?”

“Tidak..”

“Sudah pejamkan saja. Aku yang akan menjagamu.”

“Hah? Kau? Bagaimana—”

Sehun menutup mulut yeoja itu. Membuat Sooyeon akhirnya diam dan pasrah. Keadaan di sekitar mereka memang jadi benar-benar sepi. Kecuali bagi Sehun. Ia bisa dengan jelas melihat bayangan-bayangan hewan di hutan yang berlarian. Bahkan tampak mengincar bus itu.

“Bisakah aku tidur?”, tanya Sooyeon

“Tentu. Tidurlah.”

“Kau jangan tidur arraseo? Nanti tidak ada yang berjaga.”, ucap Sooyeon

Sehun tertawa, sangat pelan.

“Kau berharap di lindungi oleh seorang yang tidak bisa melihat sepertiku?”

“Ah, geurae. Keundae—”

“Tidurlah. Aku akan menjagamu. Aku janji.”

Sooyeon menatap bayangan namja itu sekilas, lalu Ia menyandarkan dirinya di lengan Sehun, dan memejamkan matanya.

Beberapa menit Sehun diam, sampai Ia yakin Sooyeon sudah tertidur lelap.

Namja itu tanpa sadar mengusap puncak kepala Sooyeon. Walaupun matanya masih memandang keluar, mengawasi keadaan di sekitar mereka.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sooyeon membuka matanya, hari belum begitu terang. Rasanya, masih dini hari.

“Kau terbangun lagi?”

Sooyeon mendongak, memandang Sehun.

“Ya. Tapi bukan karena takut.”, ucap Sooyeon

“Lihatlah keluar, induk dan anak-anak rusa itu sangat lucu.”, ucap Sehun

Sooyeon menatap keluar, walaupun yeoja itu masih berada di pelukan Sehun.

“Whoah.. Gwiyeowo.. Eh? Bagaimana kau bisa tau?”, tanyanya kemudian

Sehun segera tergeragap.

“A-Ani.. Aku hanya—”

“Sehun-ah.. Bagaimana kau tau? Padahal rusanya ada di luar..”

Sehun menatap yeoja itu. Di saat dini hari seperti ini, mereka sama-sama bisa melihat. Sehun bisa melihat tatapan penasaran Sooyeon, dan yeoja itu bisa melihat tatapan panik miliknya.

“Aku akan beritahu lain kali.”

“Sehun-ah..”

“Jangan sekarang. Jebal.”

“K-Kenapa?”, tanya Sooyeon

“Matahari sebentar lagi terbit. Tanyakan padaku.. saat tidak ada matahari, mengerti?”

“Keundae..”

“Sstt. Ini rahasia. Antara kau dan aku saja.”, ucap Sehun, tersenyum tipis.

Sooyeon diam.

“Kau janji akan memberitahunya?”

“Ya. Tentu saja. Aku tidak pernah mengingkari ucapanku, Sooyeon-ah..”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

Sehun.. Sebenarnya seperti apa dia..

Aku memandang sosok Sehun yang memejamkan matanya, tampak tertidur. Ahh. Ia berjanji akan memberitahuku. Sudahlah. Sekarang giliranku menjaganya, kurasa Ia semalaman menjagaku.

“Kita akan tiba di motel. Segera bereskan barang kalian, dan temui seongsaengnim untuk minta kunci kamar.”

Aku membereskan barang-barangku, dan ku sadari Sehun sudah terbangun. Jadi, aku membantunya membereskan barang-barang.

“Menurutmu bagaimana jika kita satu kamar?”, tanya Sehun

“Apa?”

“Tidak apa kan? Toh aku juga tidak akan mengintipmu.”, ucap Sehun, tertawa pelan

“Neo michyeoso!? Mana ada yeoja yang satu kamar dengan namja.”, ucapku kesal

“Lihat saja nanti.”, ucap Sehun kembali memberiku tanda tanya besar!

Aku melangkah turun melalui pintu belakang bus. Walaupun aku turun lebih dulu, dan dengan sangat aneh aku membantu Sehun untuk turun. Aku meregangkan badanku, rasanya punggungku sangat sakit setelah seharian berada dalam bus.

“Whoaaaa! Enaknya!”

JTAK!

“Auw! Yak!! Yujin!”, bentakku saat Yujin mengganggu kesenanganan ku.

Yujin tertawa pelan, lalu meletakkan kopernya.

“Bagaimana jika kita sekamar? Kurasa akan menyenangkan.”, ucap Yujin bersemangat

“Jinjjayo!? Whoah! Benar! Nanti aku bisa mengerjaimu lagi hahaha—auw! Yak! Yujin! Aku bercanda yaa—auw! Aish!”

Aku mengusap lenganku yang sukses jadi korban cubitan Yujin. Ia mencubit dengan sangat keras menurutku, dan aku bisa menjamin cubitan nya akan berbekas.

“Bagaimana rasanya sebangku dengan orang itu?”, tanya Yujin kemudian, melirik ke arah Sehun yang berdiri diam, sendirian.

“Hmm.. Rasanya—”

“Oh! Aku tau! Kau pasti sudah memantrainya kan? Makanya dia tidak berteriak-teriak seperti biasanya.”, ucap Yujin memotong ucapanku

Aku menatapnya kesal.

“Kau pikir aku penyihir huh?”, kataku kesal

“Memang seperti penyihir hahaha. Mana ada yeoja yang bisa tertawa sekeras kau!”, ucap Yujin semakin memojokkanku.

“Seharusnya kan penyihir tertawa seperti ini.. Hihihihihihi. Bukan tertawa sepertiku!”, kataku pada Yujin

“Nah nah! Lihat! Kau tertawa seperti penyihir!”

Yujin tergelak. Wajahnya memerah karena tertawa begitu keras.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

Sehun berdiri diam. Walaupun Ia sudah berhasil membuat dirinya dan Sooyeon sekamar, tapi namja itu masih belum memberitahu Sooyeon.

“Seharusnya kan penyihir tertawa seperti ini.. Hihihihihihi. Bukan tertawa sepertiku!”

“Nah nah! Lihat! Kau tertawa seperti penyihir!”

“Yak! Kau memalukan sekali!”, ucap Sooyeon kesal

Sehun hanya diam. Sesekali tersenyum tipis saat menangkap suara Sooyeon yang terdengar jelas olehnya.

“Dimana Kang Sooyeon?”

Sehun menoleh, ke arah sumber suara yang di dengarnya.

“Kurasa Ia masih bersama teman nya.”, jawab Sehun

“Tunggulah disini. Aku akan memanggilnya.”, ucap seongsaengnim

Sehun memfokuskan pendengaran nya, bersiap mendengar teriakan Sooyeon yang selalu Ia lakukan saat Ia terkejut.

“Kang Sooyeon! Kenapa kau masih disini? Cepat ke kamarmu.”

“Ha? Kamar apa?”, ucap Sooyeon bingung

“Kau di kamar 16. Di lantai 2. Lalu kau Jung Yujin, kau di kamar 49. Di lantai 3.”

“Chakkaman, aku tidak sekamar dengan Yujin?”, tanya Sooyeon

“Tidak. Yujin sekamar dengan Sojin. Kau sekamar dengan Sehun.”

“Apa!?”

Seperti yang sudah Sehun duga, yeoja itu akan berteriak.

“Seongsaengnim! Ige mwoya!? Mana bisa yeoja satu kamar dengan namja!? Ish! Tidak adil sekali!”

“Aish. Dia kan tidak bisa melihat. Dan juga.. ku lihat kau dekat dengan nya, jadi kau bisa membantunya jika Ia butuh pertolongan.”

“Ha? Dekat!? Siapa juga yang dekat dengan alien aneh anti-yeoja seperti itu!? Aish! Seongsaengnim, aku tidak mau sekamar dengan nya.”, tolak Sooyeon, sangat kesal.

“Oh. Baiklah. Apa kau mau bermalam di dalam bus?”, ucap Seongsaengnim enteng

“Seongsaengnim….”

“Cepat ke kamar kalian. Kegiatan nya sudah akan di mulai.”

Tidak terdengar lagi teriakan kekesalan Sooyeon.

“Aku akan ke kamarku Sooyeon-ah, kau tidak apa-apa dengan nya?”, tanya Yujin

Sooyeon diam. Menatap ke arah Sehun yang masih berdiri di tempat yang sama.

“Gwenchana..”, ucap Sooyeon

“Aigoo. Jika terjadi sesuatu kau panggil saja aku, nae?”, ucap Yujin

“Tenang saja, aku punya asuransi jiwa.”, kata Sooyeon putus asa

Mendengar itu, Sehun menunduk, menahan tawanya. Ia tidak mungkin tertawa sendiri tanpa alasan bukan?

Namja itu kembali mendongak saat mendengar langkah mendekatinya.

“Kau mau disini sampai kapan?”

“Aku tidak tau dimana kamarku. Bisa kita kesana bersama, Sooyeon?”

Sooyeon berdecak pelan.

“Kau ini manusia jenis apa, ish, bisa-bisanya membuat yeoja sekamar denganmu, padahal di sekolah kau tidak mau berdekatan dengan yeoja, tsk..”

Sehun tersenyum tipis.

“Jalanlah pelan-pelan Sooyeon, kau akan di salahkan oleh seongsaengnim kalau sampai aku terluka.”, ucap Sehun

“Ya!! Jangan menyuruh-nyuruhku! Ikuti saja langkahku kalau kau bisa!”

Sooyeon melangkah cepat, tanpa tau bahwa Sehun sudah menghentikan langkahnya.

“Tidak perlu. Aku akan minta di jemput pulang. Kau bisa di kamar itu sendirian.”, ucap Sehun

Sooyeon segera diam saat Sehun melangkah menjauhi nya. Yeoja itu segera merasa bersalah atas ucapan nya.

“Pabo. Bisa-bisanya mulut bodoh ini bicara begitu..”, gerutu Sooyeon, lalu Ia segera menyusul langkah Sehun

“Mianhae. Aku tidak bermaksud menyinggungmu.”, ucap Sooyeon, menjajari langkah Sehun

“Gwenchana. Aku tau aku tidak seharusnya berusaha bergabung dengan kegiatan untuk kalian yang normal. Akan lebih baik jika aku pulang.”, ucap Sehun

Sooyeon segera menahan lengan namja itu.

“Jeongmal mianhae~ Aish, aku seharusnya tidak bicara begitu tadi. Kajja, kita ke kamar.”, ucap Sooyeon

Sehun melepaskan pegangan Sooyeon di lengan nya.

“Gwenchana. Pergilah.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

Aku hanya bisa diam saat Sehun melangkah ke arah seongsaengnim. Dia benar-benar serius soal ucapan nya. Aish. Eotteohke? Pabo Sooyeon. Pabo. Sehun dan seongsaengnim berjalan masuk ke ruangan, dan aku mengikutinya.

“Tapi kau baru tiba disini. Kau benar-benar ingin pulang?”

“Ya. Aku akan menghubungi saudaraku setelah ini.”

“Baiklah, tunggulah di kamarmu sampai saudaramu datang menjemput.”

“Tidak perlu. Mereka akan datang dengan cepat. Aku akan menunggu disini.”

“Arraseo. Hubungi aku jika kau perlu sesuatu, mengerti?”

“Nae. Gomapseumnida seongsaengnim..”

Seongsaengnim beranjak keluar dari ruangan itu. Tapi Sehun masih di dalam. Kurasa, Ia berusaha menelpon seseorang.

“Hyung? Bisa kau jemput aku?”

“Ya.. Kurasa study tour nya tidak akan menyenangkan. Aku mau pulang saja.”

“Hmm. Aku akan menunggu disini. Kau tau tempatnya kan?”

“Arraseo. Cepatlah hyung. Aku tidak suka disini berlama-lama.”

“Hmm. Annyeong.”

Dan disinilah aku. Duduk di atas koperku, di depan ruangan tempat Sehun menunggu jemputan. Sendirian.

Entah berapa jam. Sampai aku merasa mengantuk, aku masih tidak beranjak. Aku ingin melangkah masuk dan bicara pada Sehun, tapi kurasa Ia akan mengusirku lagi. Tapi bagaimana jika Ia benar-benar pulang?

Ish. Kenapa aku harus merasa bersalah? Biar saja dia pulang.

Ani ani. Dia pulang karena ucapanku—yang sangat bodoh. Baiklah. Minimal aku harus minta maaf padanya. Benar.

Aku mengatur nafasku, sebelum akhirnya aku masuk ke ruangan itu.

“Sehun-ah..”, ucapku

“Sooyeon? Ah, bagaimana kamarnya? Kau suka?”, tanyanya

Kamar apa? Aku bahkan tidak berpindah tempat sejak beberapa jam yang lalu.

“Kau benar-benar akan pulang?”, tanyaku

Sehun diam sebentar.

“Ya. Hyung baru saja menelponku dan bilang bahwa mereka sudah sampai.”

Aku semakin panik. Ah! Eotteohke!?

“M-Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak seharusnya bicara seperti itu tadi.”

“Gwenchana. Lagipula mana ada orang yang ingin di repotkan dengan menjaga seorang buta sepertiku di study tour seperti ini?”

“Aku mau!”, ucapku cepat

“Sehun? Ah, kau disini rupanya..”

Tatapanku beralih pada dua orang namja yang berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Apa mereka hyung Sehun? Aish. Permintaan maafku terlambat sekali..

“Ah, kau teman Sehun?”

Aku menoleh ke arah dua namja itu.

“Ye. Kang Sooyeon imnida.”, ucapku, tersenyum pada mereka

“Kau mau?”

Aku menoleh ke arah Sehun. Apa maksudnya?

“Ha?”

“Kau benar-benar mau?”, tanya Sehun

“Ahh. Nae. Keundae, kau sudah di jemput.. Kurasa aku terlambat bicara..”, kataku

“Oh, kau sudah di jemput rupanya.”

Aish. Sekarang seongsaengnim yang datang.

“Ey, Kang Sooyeon. Kenapa kau menaruh kopermu sembarangan huh?”

Aku memandang seongsaengnim.

“Akan ku bereskan nanti.”, kataku

“Ah ya. Kami akan membawa Sehun pulang, maaf merepotkan Anda seongsaengnim.”, ucap salah satu hyung Sehun

Baiklah. Menit selanjutnya aku hanya diam saat dua hyung Sehun membawa tas Sehun keluar ruangan, dan masuk ke sebuah mobil mewah. Whoah. Sepertinya Sehun anak keluarga kaya.

“Segera bawa kopermu ke kamar, Kang Sooyeon.”, ucap seongsaengnim

“Arraseo.”, ucapku, dan melihat seongsaengnim bicara dengan dua hyung Sehun. Sementara namja itu sudah ada di dalam mobil.

Aku melangkah mendekati mobil mewah itu.

“Hyung?”, ucap Sehun

“Ani, ini aku, Sooyeon.”, ucapku

“Ah, kau rupanya..”

Aku menaruh koperku, duduk lagi di atasnya.

“Apa ini pertama kalinya kau ikut study tour?”, tanyaku, aku sekarang duduk di samping pintu yang terbuka. Tepat menghadap Sehun.

“Ya. Aku sangat ingin tau bagaimana rasanya study tour yang selalu di bicarakan anak-anak.”, ucap Sehun

“Kalau begitu.. Kau masih bisa ikut lagi tahun depan.”, ucapku

“Kurasa hyung ku tidak akan mengizinkan. Bahkan untuk study tour tahun ini aku begitu sulit meminta izin mereka, dan sekarang malah aku sendiri yang meminta pulang,”

Aku kembali merasa bersalah karena hal ini..

“Memangnya kenapa mereka tidak mengizinkan?”, tanyaku

“Tentu saja alasannya sudah jelas. Karena memang tidak mungkin bagi seorang buta seperti ku untuk pergi jauh tanpa pengawasan.”

“Keundae.. Aku kan mau menjagamu.”, ucapku

“Kau benar-benar serius soal ucapanmu huh?”, kata Sehun

“Ya. Apa aku terdengar bercanda?”

Sehun terdiam sebentar.

“Ani. Tidak apa-apa. Aku tidak mau mengganggu liburanmu.”

“Aish.. Aku sudah ikut study tour berulang kali, ayolah.. tidak bisakah kau ikut study tour ini?”, tanyaku

“Menurutmu apa yang akan dikatakan hyung ku jika aku menyuruh mereka pulang?”

Kali ini aku yang diam. Benar. Permintaan bodoh macam apa itu Kang Sooyeon?!

“Kau tidak keberatan seminggu harus menjagaku?”

Aku menatap Sehun. Lalu aku mengangguk.

“Ya. Tidak keberatan sama sekali.”, ucapku

“Walaupun sekamar?”

“Nae. Nae. Tidak apa-apa.”

“Sudah siap untuk pulang Sehun?”

Aku segera berdiri, dan menarik koperku menjauh.

“Oh, Sooyeon. Kau masih disini ternyata.”

“Hyung,”, aku menatap Sehun saat Ia bicara

“Ya?”

“Kurasa aku tidak jadi pulang.”, ucap Sehun

“Apa?”, dua hyung Sehun tampak kaget

“Kalian khawatir karena takut tidak akan ada yang menjagaku seminggu ke depan bukan? Tenanglah. Aku akan baik-baik saja.”, ucap Sehun

“Keundae kami sudah menjemputmu kemari.”

“S-Sehun-ah..”, aish. Aku tidak bisa membayangkan jika Ia akan di marahi hyungnya

“Sooyeon, dekatkan tanganmu ke arahku.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮•)з To Be Continued ε(• -̮•)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

22 thoughts on “BLIND – CHAPTER 4

  1. Anjir “tenang saja, aku punya asuransi jiwa” wkwk dikira apa kali

    Cieeekan aku kira sehun merajuk,, jahat banget sehun hyungnya disuruh pulang wkwk

    Next chap ya ^^

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s