[Oneshoot] Freelance – You

IMG_1386
Tittle: You?

Author: WuwuTaeyeon

Main Cast: Xi Luhan [EXO] — Kim Taeyeon [GG] — Wu Yifan.

Other Cast: Wu’s Family, and find it by your self 🙂

Genre: Romance, Fluff, Life,

Lenght: Oneshot

Rating: PG 15+

Disclaimer: The cast(s) is belong to their god, parents, and agency. The plot’s mine! 2015 ©WuwuTaeyeon // Do not Co-Pas or Plagiarsm! A/N: Leave a comment after you read this Fanfic! Happy Reading 🙂

— Seorang yeoja berambut coklat sedang membalut lukanya dengan perban sambil mengeluarkan airmata. Kim Taeyeon namanya. Secara perlahan, ia menyelesaikan balutannya. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tangan yang tidak terluka dengan air. Selama 20 menit ia berada dikamar mandi. Ia tidak dapat menyalahkan orang yang menyakitinya karena ia tahu orangtua dialah yang mengiginkan ia hidup satu rumah dengan orang yang sering menyakitinya.

Klekkk…. Brakkk…

Taeyeon tahu yang membuat suara keras tersebut ada Yifan, suaminya sekaligus namja yang menyakitinya. Taeyeon hanya bisa menghela nafas.

“Hey, kau, Kim Taeyeon, cepat buatkan aku makan malam atau kau akan—“ Ucapnya kasar sambil mendorong Taeyeon sampai jatuh. Rasa nyeri mulai datang pada bokong Taeyeon. “Ne, Yifan-ssi.”

Taeyeon diperlakukan layaknya pembantu—ralat, budak oleh namja asal China tersebut. Taeyeon segera berdiri dan memasak untuk Yifan karena ia tidak mau mendapat siksaan lagi. Setelah makanan siap, Taeyeon menghampiri Yifan yang sedang memainkan laptopnya diruang keluarga—ralat, tengah. “Eum… Yifan-ssi, makan malamnya sudah siap,” Taeyeon mengatakannya dengan gugup.

“Heum, ne.” Lalu Yifan menutup laptopnya dan duduk di kursi meja makan dan memakan masakan Taeyeon tanpa merasa bersalah atas perbuatannya selama ini pada Taeyeon.

“Masakanmu enak juga,” ucap Yifan sambil mengangguk angguk. Bagai ada matahari pada malam hari, Taeyeon begitu terkejut mendengar omongan Yifan barusan.

Selama tinggal serumah, ia tidak pernah mendengar Yifan memuji dirinya. Yifan memuji Taeyeon bagaikan galaksi andromeda dan bumi yang sangat jauh jaraknya. “Kau, makanlah!” Kalimat tersebut terdengar seperti ajakan bagi Taeyeon. Ia menatap mata Yifan utpntuk memastikan apa yang barusan ia katakan.
Mata Yifan seakan berkata, “Ya, kau.”. Dengan ragu dan gugup, Taeyeon duduk dimeja makan sambil menatap makanan-makanan yang ia masak. “Ambilah,” Yifan menyodorkan sendok kepada Taeyeon dengan seringainya yang khas. “Eum,…… Kamshahamnida, Yifan-ssi.”

Kemudian hening. Yang terdengar hanyalah dentingan alat makan. “Hey, Taeyeon?” Panggil Yifan memecahkan keheningan. “Ne, Yifan-ssi?” “Aku minta maaf,” Tiga kata yang dikeluarkan oleh Yifan membuat Taeyeon membeku sesaat. Yifan menghela nafas panjang dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Taeyeon tidak menduga Yifan berkata seperti itu.

“Ne, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan selama ini. Memarahimu, memakimu, mendorongmu, bahkan melukaimu. Aku minta maaf. Kau mau tahu kenapa selama ini aku selalu melakukanmu seperti itu?”

Taeyeon mengerjapkan matanya. Ia masih tidak percaya apa yang dikatakan Yifan barusan. Yifan meminta maaf? Sepertinya mustahil, tetapi hal itu benar-benar terjadi sekarang.

“Aku sangat tidak suka dijodohkan oleh orangtuaku dan aku berpikir jika aku tinggal satu rumah dengan yeoja yang dijodohkan, aku akan membuatnya kapok tinggal bersamaku, kapok menuruti omonganku, dan tidak mau tinggal bersamaku, dengam begitu aku pasti bisa bebas. Tapi berbeda dengan dugaanku. Kau sangat tegar, tidak putus asa dan tetap tutup mulut tentang perilakuku. Aku minta maaf.” Jelas Yifan sambil menundukan kepalanya.

Taeyeon benar-benar tidak percaya apa yang dia lihat dan dengar. “Yifan–ssi—.”

“Ne, aku tahu kau tidak akan memaafkanku. Aku memang pantas untuk tidak dimaafkan.” Potongnya.

“Yifan–ssi, aku—“

“Kau boleh mengadukan semua apa yang ku perbuat dan kau boleh mencari namja lain yang jauh lebih baik dariku,” lagi-lagi Yifan memotong perkataan Taeyeon.

“Yifan–ssi, kumohon dengarkan aku berbicara terlebih dahulu!” Ucap Taeyeon agak berteriak supaya perkataannya tidak dipotong lagi. Yifan hanya mengangguk.

“Yifan–ssi, aku bisa memaafkanmu atas perbuatanmu selama ini dan aku tetap tutup mulut tentang perbuatanmu, tetapi bisakah kita mengulang kehidupan rumah tangga ini dari nol? Lupakan semua apa yang kau perbuat padaku, dan aku akan melupakan semua perilakumu.” Kata Taeyeon sambil menatap bola mata berwarna biru milik Yifan.

Yifan juga tak kalah kaget apa yang barusan Taeyeon—istrinya katakan. Ia tidak menyangka Taeyeon begitu dewasa. “Kau yakin? Apa kau tidak ingin bersama Xi Luhan lagi?”

Taeyeon tersedak saat mendengar nama ‘Xi Luhan’. Buru-buru ia dia meneguk segelas air mineral yang berada disamping piringnya.

“Gwaenchana?”,

“Ne, nan gwaenchana..”.

“Xi Luhan……..”
Taeyeon mengingat namja itu. Dulu, sebelum ia berumah tangga dengan Yifan, Xi Luhan atau Luhan adalah kekasih Taeyeon. Kepribadiannya baik, peduli, ceria, moodbooster, dan setia membuat Taeyeon jatuh cinta padanya. Begitu juga dengan Luhan.

Suatu ketika, Luhan menerima beasiswa ke Singapur untuk melanjutkan pendidikannya. Luhan selalu menolak jika ia dapat tawaran beasiswa, namun orangtua Luhan tidak mau Luhan menyi-nyiakan kesempatan emas tersebut.

Tanpa disadari Luhan, orangtua Luhan mengiyakan sebuah beasiswa ke Singapura. Luhan mengetahui orangtuanya sudah mengiyakan pada sehari sebelum ia pergi pada malam hari. Begitu Luhan tahu, ia begitu khawatir pada Taeyeon. Ia memohon kepada orangtuanya agar beasiswa tersebut dibatalkan dan diberikan kepada orang yang menginginkan. Namun, permohonan Luhan sia-sia saja. Mr. dan Mrs. Xi tidak mendengarkan. Malam itupun juga, Luhan berusaha menelpon Taeyeon, namun, dewi fortuna tidak sedang berada dipihaknya, pulsa Luhan habis. Ia tidak kehilangan ide, ia mengunjungi rumah Taeyeon dengan mobilnya, dan begitu ia sampai dirumah Taeyeon, maid rumah Taeyeon berkata, “nona muda sedang pergi bersama terman-temannya.”

Luhan hanya bisa pasrah pada Tuhan yang maha esa dan berharap Taeyeon tetap mencintainya karena Luhan akan pergi pada jam 7 pagi. Begitu ia menjalani hidupnya di Singapura, suatu hari ia mendapat pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Namun, ia sadar itu dari Taeyeon karena pengirim pesan mengirimkan foto dirinya ke Luhan.

Di pesan tersebut tertulis, ‘Annyeong! Apa kau masih mengingatku, deer? Aku Kim Taeyeon, yeojachingu-mu. To the point, kenapa kau pergi ke Singapura tanpa memberitahuku? Aku tidak yakin dengan hubungan kita sekarang. Aku tidak tahu kau masih menganggapku sebagai apa dan aku juga tidak tahu harus menganggapmu sebagai apa.’

Luhan masih menganggap Taeyeon sebagai Yeojachingunya, namun ia tidak tahu dengan Taeyeon. Apa ia masih mencintai Luhan?. You?

“Taeyeon?” Yifan menggoyang-goyangkan tangannya didepan wajah Taeyeon yang sedang bernostalgia. Begitu sadar, Taeyeon menggelengkan kepalanya.

“E.. Eh? Ne?” Ucapnya terbata-bata.

“Kau masih mencintai Xi Luhan bukan?” Pertanyaan yang tidak mudah dijawab oleh Taeyeon.

“Eum… Aku tidak yakin… Aku tidak tahu…” ucapnya pelan.

“Aku tahu kau masih mencintai Xi Luhan, aku tidak memaksamu untuk mencintaiku. Kau ingin menikah dengan Xi Luhan? Silahkan.” Ucapnya. Taeyeon menghela napasnya dan menundukan kepalanya.

Yifan benar. Ia masih mencintai Luhan. “Hmm.. Baiklah, jika kau sanggup memiliki dua suami, silakan.”.

Taeyeon benar-benar bingung, apakah ia harus memiliki dua suami karena ia tidak mau mengecewakan Yifan juga atau ia harus berpisah dengan Yifan lalu menikah dengan Luhan?.

“Menurutmu?”

“Kau harus bersama Xi Luhan.”

“Wae?”

“Karena Xi Luhan sangat cocok untukmu. Bukankah dia baik, setia, dan lembut? Dia tidak pernah menyiksamu, tidak seperti apa yang kuperbuat. Dia juga tampan, kelak kau akan memiliki anak yang good looking juga. Berpisahlah denganku, aku yakin kau akan bahagia bukan?” Ucap Yifan. Dari perkataannya, Taeyeon tahu Yifan memang sedikit cemburu jika Taeyeon masih mencintai Luhan.

“Besok malam aku ingin dengar keputusanmu. Kamsahamnida atas makan malam yang lezat ini, good night.” Yifan mencium pipi Taeyeon dengan cepat lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Kenapa ia menciumku?, batin Taeyeon.

13 May 2015 // South Korea

Hari ini adalah hari penentuan. Apakah Taeyeon akan berpisah dengan Yifan untuk memiliki Luhan? Atau Ia tetap bersama Yifan namun tetap memiliki Luhan? Kita lihat saja nanti.

Srett… Sret….

Taeyeon sedang berdandan. Ia melihat pantulan dirinya di kaca. Ia memoleskan lipgloss dengan pelan, memakai makeup senatural mungkin. Hari ini Taeyeon memutuskan bertemu dengan Luhan. Ia sudah mengirim pesan pada Luhan semalam. Ia memakai dress putih dengan pita dipinggangnya. Dress berwarna biru muda. Ia berlenggak-lenggok didepan kaca. Yeppo, gumamnya. Setelah menyiapkan apa yang akan ia bawa, ia segera turun ke lantai satu untuk memakai sepatu dan pergi. Taeyeon menuruni anak tangga satu-persatu. Begitu ia sampai di lantai satu, ia melihat Yifan–suaminya sedang membaca koran.

“Mau menemui Xi Luhan?” Ucapnya sambil menyeringai.

Taeyeon hanya menggangguk malu. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil bekal makanan yang rencananya akan ia berikan kepada Luhan. Setelah mengambil kotak bekal, ia memakai sendal dan berpamitan pada suaminya.

“Yifan–ssi, aku pergi dulu.”

“Jangan panggil aku dengan embel-embel ‘ssi’.”

“Baiklah, baiklah.”

You? Taeyeon tidak percaya apa yang ia lihat sekarang. Namja yang selama ini ia rindukan berada di hadapannya. Taeyeon berkali-kali mengerjapkan matanya, memastikan apa yang ada dihadapannya ini nyata atau bukan. Taeyeon melihat Luhan yang dulu adalah fashion teroris, cukup pendek, kini dia berubah total. Wajah imutnya tetap sama, tampannya juga sama, namun sekarang ia sudah mengenal baik dunia fesyen, Rambutnya sudah rapih, dan senyumnya benar-benar hangat dan tinggi badannya sudah menjulang.

“Kim Taeyeon?” Suara itu, Taeyeon benar-benar rindu dengan suara tersebut.

“Xi Luhan…” Taeyeon diam pada tempatnya dan tidak berkedip sedikitpun.

“Rindu denganku? Kajja! Peluk aku!” Luhan merentangkan tangannya, membiarkan Taeyeon memeluknya. Taeyeon berlari dan kemudian memeluk erat Luhan. Bau parfumnya masih sama dengan yang dulu. Luhan juga membalas pelukan yeojachingunya dengan penuh kasih sayang.

“Eum… Apa kau ingin minum atau makan?” Tawar Luhan setelah melepaskan pelukan mereka.

“Iced Coffee Latter dan lasagna saja, deer.”.

Kemudian Luhan memanggil salah satu pelayan disitu dan memesan. Setelah memsan, Luhan mengajak ngobrol Taeyeon tentang kehidupan masing-masing.

“Taenggu, apa kau masih menganggapku sebagai namjachingumu?”

“Tentu saja, aku masih mencintaimu. Apa kau tahu tentang keadaanku selama kau disingapura?”

“ aku sudah menghubungi eomma-nim, namun handphonenya sudah tidak aktif. Tidak bisa ditelepon.”

“Eomma sudah menggangti nomornya, deer.” Ucap Taeyeon sambil tertawa pelan.

“Kau masih bertemu dengan Jongup?”, “Ne, Waeyo?” Luhan menyunggingkan senyumnya.

“Dia memberitahu semua keadaanmu. Kau berumah tangga dengan seorang namja China yang bernama Wu Yifan bukan? Aku tahu kau melakukannya dengan sangat-sangat terpaksa karena itu perintah dari appa-nim bukan?” Luhan tertawa getir.

Taeyeon membulatkan matanya saat mendengar penyataan Luhan. Ternyata selama ini Luhan sudah tau.

“Apa katanya saat kau ingin menemuiku?” Lanjutnya.

“Katanya teserah aku ingin memiliki dua suami atau menceraikan dia dan memilikimu. Aku tidak tahu harus memilih yang mana dan malam ini nanti orangtua Yifan akan datang dan mendengarkan pilihanku,” Jelas Taeyeon sambil menyeruput Iced Coffee Latte-nya.

“Kalau aku tidak masalah memiliki keluarga ‘saingan’, tinggal menunggu jawaban darimu saja”

“Tapi tadi aku tanya dia memilih jika aku harus berpisah dengannya dan memilikimu.”

“Aku akan datang nanti malam ok? Malam ini kita bersenang-senang dulu melepas kerinduan.” Ucap Luhan sambil beranjak dari kursi.

“Shi (Ya), deer.”. Kemudian Luhan membayar semua yang ia pesan. Tepat didepan cafe, Jongup menghampiri mereka dengan terburu-buru.

“Ya! Luhan! Luhan! Hosh… Hoshh..” Ia terengah-engah karena berlari.

“Waeyo, Jongup-ah? Tarik nafas dulu,” saran Luhan yang melihat keringat Jongup berguguran (?).

“Taeng, eomma dan appa Kris sudah datang..” Nafas Jongup mulai normal.

“Mwo?!” Kemudian Taeyeon mengalihkan pandangannya ke Luhan, “Deer, eotteokhae?” “Bagaimana kita bisa pulang kalau orangtua Yifan sudah ada dirumah? Ayolah, Lu, help me!” Lanjut Taeyeon. Taeyeon sudah tau kepribadian orangtua Yifan. Appa-nya sangat disiplin dan tidak menyukai berbasa-basi, eommanya cukup tegas dan tidak ingin ditentang perkataannya.

“Jika kau ingin bantuan, ikut aku dulu,” Luhan kembali masuk kedalam cafe milik Jongdae–temannya. Taeyeon yang tidak mengerti hanya diam, lalu melangkahkan kakinya kedalam cafe tersebut.

Jongup yang sekarang sendirian mengulas senyum terbaiknya, ia sudah tahu apa yang terjadi setelah ini. Luhan menarik tangan Taeyeon yang berada dibelakangnya.

“Tutuplah matamu,”. Taeyeon hanya menuruti apa yang diperintahkan Luhan. Ia menutup matanya. “Pada hitungan ketiga, kau boleh mebuka matamu, arra?”,

“Arrata,” Taeyeon mengangguk.

“Hana…” “Dul….” “Set….” Begitu Taeyeon membuka matanya, ia dapat melihat cafe ini berubah total, yang tadinya cukup gelap menjadi terang. Desain interiornya dihiasi dengan lampunberwarna warni. Di jendela berbentuk kotak tersebut bergatungkan tulisan besar–banner bertuliskan, “Now, I Found You, Xi Taeyeon!” dengan bermacam hiasan dibanner tersebut.

Taeyeon menganga sesaat. Ia tidak menyangka bahwa ada surprise untuknya. Lalu munculah beberapa orang dari satu pintu. Ada Tiffany, Nichkhun, Henry, Mark dan Jongup. Mereka adalah sahabat dari Taeyeon dan Luhan. Kelima orang tersebut mengulas senyum melihan Luhan dan Taeyeon akhirnya bertemu kembali.

“Welcome back, LuTae!!” Ucap mereka berbarengan.

“Would you be mine?” Luhan berlutut di hadapan Taeyeon sambil mengeluarkan kotak kecil. Taeyeon benar-benar merasa terharu dengan surprise dari sahabat-sahabatnya dan Luhan, dan sekarang Luhan melamarnya. Luhan menepati janji yang ia buat sebelum pergi, yaitu melamarnya. Seperti yeoja normal lainnya, Taeyeon juga meneteskan airmata. Lalu ia mengangguk pasti, tanda ia menerimanya. Luhanpun membuka kotak kecil yang pasti isinya adalah cincin, lalu memakaikan pada jari manis Taeyeon. Kemudian ia bangkit dan memeluk Taeyeon yang sedang berpesta dengan airmata.

“Cieee…” Goda Henry sambil tertawa kecil.

“Henry-ya, kau sangat tidak tahu suasana. Taeng sedang terharu malah kau goda,” tegur Nichkhun sambil mencubit bokong Henry.

“Aww.. Ya! Appo!” Jeritnya pelan.

“Ya kalian berdua, sebaiknya kau mengambil makanan yang ada dimeja itu dan menaruhnya dimeja ini.” Perintah Tiffany.

“Huft… Dasar Tiffany, sukanya menyuruh-nyuruh,” Bisikan Mark ternyata terdengar sampai ketelinga Tiffany.

“Mark Tuan, aku dengar itu.” Ucapnya sakaritis. Mark yang menyadari Tiffany mendengar bisikannyapun bersembunyi kebelakang punggung Jongup yang lebih pendek darinya. Jongup yang menyaksikan kejadian tersebut hanya tertawa. “Lu… hiks… Han..”

“Ne, aku mengerti. Kau butuh pelukan, bukan?” Begitu Luhan berkata seperti itu, Taeyeon langsung menghambur kedalam pelukan namjanya. Hanya butuh 5 menit agar tangisan Taeyeon reda.

“Em… Untuk Nichkhun, Tiffany, Henry, Mark, aku minta maaf karena tidak bisa meneraktir kalian karena aku akan bertemu orangtua Yifan, jadi, mungkin besok aku akan meneraktir kalian.”

“Ne Gwaenchana, Luhan-ah. Taeng, hwaiting ne!” Henry memberikan semangat kepada Taeyeon.

“Gomawo mochi-ya.”.

SKIP TIME

“Taeyeon? Kenapa kau—,” perkataan Yifan terpurus melihat ada seorang namja disebelah Taeyeon.

“Ini Xi Luhan?” Tanyanya.

“Annyeonghaseyo, wo de mingzi shi Xi Luhan. (Halo, nama saya Xi Luhan –formal-)” Luhan membungkuk 90 derajat.

Yifan membalasnya dengan bungkukan juga. “Taeyeon, kau telat 30 menit!” Jerit Yifan pelan.

“Mwo? Mian…”. Kemudian Taeyeon melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah disusul Luhan dibelakangnya.

Orangtua Yifan menatap Taeyeon sekilas lalu cukup kaget melihat ada namja lain dibelakangnya. Orangtua Yifan menatap tajam Luhan namun Luhan hanya menunduk.

Taeyeon dan Luhan memberikan bungkukan hormat yang menjadi trademark orang Korea. “Kim Taeyeon?” Suara berat milik ayah Yifan membuka percakapan di kediaman Yifan–Taeyeon.

“Ne, appa…–nim?” Taeyeon memang takut berhadapan dengan orangtua Yifan yang terkenal sangat disiplin dan tidak suka basa-basi.

“Sebelum aku menyuruhmu, aku ingin bertanya. Siapa namja yang berada disampingmu ini?” Tanyanya dengan nada yang seram.

Taeyeon menelan salivanya dengan perlahan. Skak mat. Apa yang harus ia katakan?.

“Dia Xi Luhan, dad, mom. Tunangan Taeyeon.” Ucap Yifan. ‘Yifan benar-benar ingin membunuhku.’ Batin Taeyeon.

“Apa?! Kau!” Mr. Wu beranjak dari duduknya dan menunjuk Taeyeon dengan jari telunjuknya.

“Dad, dad, jangan salah paham dulu. Mom juga. Akan aku jelaskan semua.” Yifan berpaling menatap Taeyeon, matanya berkata –kau-pergi-kekamarmu-saja-dulu-dengan-Luhan-aku-akan-menjelaskan-semua-kepada-orangtuaku-. Taeyeon mengangguk lalu menyambar tangan Luhan dan menariknya agar naik ke lantai dua. Begitu Taeyeon masuk kekamarnya, ia menyuruh Luhan duduk.

“Yifan benar-benar ingin membunuhku.”, “Setidaknya dia berkata dengan jujur bukan?” Ucap Luhan sambil mengamati kamar Taeyeon.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan keputusanmu?” Sambung Luhan.

“Aku masih tidak tahu, deer.” Taeyeon menundukan kepalanya. Ia dihadapkan dua pilihan yang sulit. Jika Taeyeon memilih memiliki dua suami, ia yakin orangtua Yifan tidak akan dekat dengannya. Namun jika ia memilih Luhan, dan berpisah dengan Yifan, ia yakin appa-nya tidak akan baik dengannya. Luhan menyenderkan kepala Taeyeon ke pundaknya.

“Tenanglah, Taenggu…” Luhan mengusap-usap kepala calon istrinya itu.

“Bagaimana bisa tenang, deer?!” Sepertinya Taeyeon benar-benar tegang.

“Hhh…” Luhan mengambil nafas panjang. Pada saat yang sama, ketukan pintu terdengar. Taeyeon ragu untuk membukakan pintu. “Kim Taeyeon, aku Yifan,” ucapnya dari balik pintu. Kemudian Taeyeon membukakan pintu.

“Bagaimana?” Yifan menghela nafasnya.

“Katanya, apapun keputusanmu akan mereka hargai. Aku juga sudah mengungkapkan semua perilakuku.” Jawab Yifan serius.

“Mwo?!. Kau gila, apa reaksi mereka?”

“Mom sudah memaafkanku, tetapi dad belum.”

“Terus, bagaimana dengan masadepanku?”

“Aku memutuskan besok kita akan berpisah. Itu jalan yang terbaik. Baik untukmu, baik untuk Luhan-ssi,” “Untukmu?”

“….”

“Hh… Jika kau ingin itu akan aku ikuti.” “Aku minta maaf..”

“Bukankah semalam sudah minta maaf?”

“…… Tak ada salahnya bukan?”

“Ne.” Kemudian keadaan hening. Yifan menundukan kepalanya, Taeyeon dan Luhan saling bertatapan. Taeyeon sedang mencerna apa yang Yifan katakan.

“Yifan, aku tahu kau tidak mau berpisah denganku bukan?” Yifan diam.

“Baiklah,” Taeyeon menarik tangan Luhan dan beranjak dari kamar, lalu turun ke lantai satu untuk berbicara dengan Mr. dan Mrs. Wu. Sesampainya dilantai satu, Taeyeon menyuruh Yifan mengangkat minuman yang ada didapur dan memberikannya kepada Mr. dan Mrs. Kim.

Taeyeon duduk di sofa berwarna cokelat susu dan Luhan duduk disampingnya.

“Taeyeon, saya sebagai perwakilan Yifan, meminta maaf selama ini Yifan memperlakukanmu secara tidak baik.” Mrs. Wu membuka suara.

“Ne, eomma, gwaenchana. Sudah aku maafkan.” Jawabnya sopan.

“Taeyeon, aku tahu ini mungkin sulit bagimu, tetapi kau harus memilih salah satu.”

Dalam satu tarikan nafas, Taeyeon menjawab, “Shi, aku tahu itu, eomma. Tetapi aku benar-benar tidak tahu aku harus memilih yang mana…”

“Kau tidak harus memilih dengan kemauan dan efek sekitar, tetapi dengarkanlah apa yang hatimu katakan,” nasihat Mrs. Wu. Lagi-lagi Taeyeon menghela nafas.

Taeyeon benar-benar tidak tahu ia harus memilih yang mana. Dia tidak ingin mengecewakan Luhan dengan memiliki dua suami, di satu sisinya, dia juga tidak mau kehilangan Yifan. Bagai memakan buah si malakama, ia dihadapkan pada dua pilihan yang sulit dipilih.

“Luhan?”

Taeyeon mengalihkan pandangannya ke calon suaminya. Ia meminta jawaban dari Luhan, terlihat sekali dari matanya. Luhan balik menatap mata Taeyeon.

“Taenggu, aku tidak bisa memilih karena pilihan itu untukmu, bukan untukku. Ikutilah nasihat Mrs. Wu, dengarkan kata hatimu.” Ucap Luhan sambil tersenyum. Taeyeon membalasnya dengan senyum kecut.

Xi Luhan, dia benar-benar namja yang bijak, baik, dan setia. Jika Taeyeon ingin memiliki Luhan dan berpisah dengan anakku, aku tidak akan marah karena Luhan benar-benar namja yang dibutuhkan Taeyeon, batin Mrs. Wu. Taeyeon tetap diam, dan menunduk.

“Ya, Huajiang! Kemarilah!” Sepertinya Mrs. Wu memanggil suaminya.

“Ada apa, Lihua?” Mrs. Wu menunjuk Taeyeon dengan kerlingan matanya. Seakan mengerti apa yang dimaksud Mrs. Wu, Mr. Wu duduk disebelah Mrs. Wu. “Taeyeon-ah..” Panggil Mr. Wu.

“Ne….. Appa?”, “Appa tidak akan marah jika kau memilih berpisah dengan Yifan dan menikah dengan Luhan. Appa tidak akan marah, tetapi appa akan merasa sedikit kecewa. Sekarang, kau harus memilih. Pilihan pertama adalah kau berpisah dengan Yifan dan menikah dengan Luhan. Pilihan kedua, kau tetap akan bersama Yifan namun kau juga menikah dengan Luhan—“ Mr. Wu memutuskan kalimat terakhirnya. Ia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya lewat mulut.

“Apa pilihanmu?” Lanjutnya.

Taeyeon benar-benar tegang sekarang. Ia tidak siap untuk pilihan yang disiapkan oleh Mr. Wu, namun ini sudah takdirnya. Taeyeon memejamkan matanya, berdoa kepada Tuhan agar keputusannya adalah kelutusan yang terbaik bagi semuanya. Darahnya berdesir cepat. Keringat dingin muncul dari pelipisnya. Tangannya mengepal dan berair. Detik demi detik seakan bulan ke bulan. Ia tidak suka dihadapkan oleh pilihan yang sulit dan ingin menghindarinya. Namun, jika ia menghindari suatu pilihan/cobaan, bukankah itu namanya pengecut?. “Aku—“ Taeyeon menggantungkan kalimatnya. Sekali lagi ia berdoa kepada Tuhan agar keputusan yang dia pilih adalah keputusan yang terbaik. “Aku memilih—“ Taeyeon menundukan kepalanya. “Pilihan ke—“.

Semua orang yang berada di ruangan tersebut membuka telinga mereka sebesar dan sejelas mungkin. Tidak hanya Taeyon yang tegang, Luhan dan Yifan juga tegang. Dari raut wajah Luhan, sepertinya ia tidak begitu tegang karena di dua pilihan tersebut ia akan tetap bersama dengan Taeyeon.

Berlainan dengan Yifan, wajahnya yang tampan (authornya muji mulu deh) sangat kusut. … … … … “Pilihan ke …………… dua.” Jawab Taeyeon yakin. Seketika semua yang berada diruangan itu heboh. Baik, Mr. Wu, Mrs. Wu, maupun Yifan dan Luhan.

Belum ada yang mengeluarkan kata-kata setelah Taeyeon memilih, dari gerakan badan merekapun sudah terlihat jelas mereka bahagia. Luhan bahagia, Yifanpun tetap bahagia. Kemudian Yifan langsung memeluk Taeyeon. “Gomawo, Taeyeon-ah.” bisiknya.

Luhan yang melihat Taeyeon dan Kris berpelukan merasa sedikit cemburu. “Taenggu,….” Panggilnya dengan nada aegyo. Taeyeon melepaskan pelukannya dan berkata, “Wae, deer?” Sambil menatap Luhan. Begitu mata mereka bertemu, Luhan mengubah tatapan matanya dengan tatapan aegyo-nya. Tentu membuat Taeyeon gemas.

“Heum.. Luhan kok engga dipeluk? Taenggu udah enggak sayang ya sama deer?” Ujarnya dengan wajah aegyo dengan suara yang dibuat-buat selucu mungkin. “Deer, Taenggu tetap sayang dan cinta kok sana deer, bbuing~” Taeyeon balik beraegyo.

Yifan yang melihat kelakuan istri dan calon suami istrinya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Berbeda dengan Mr. Dan Mrs. Wu. Mereka malah gemas sendiri dengan aegyo manusia imut itu, mereka berdua tersenyum bahagia.

END

Ta-dah! It’s Wuwu’s Fanfic! (Hehehe) . Gimana? Jelek ya? Hehehe, ini FF enggak terinspirasi dari siapa atau apa, tiba-tiba muncul aja gitu ide pokok dari FF ini. Buru-buru aku tulis ini FF keburu bosen sama idenya, lupa dan ilang begitu aja. Gantung endingnya? Iya. Minta sequel? Comment ya, biar tau berapa banyak yang mau sequel. RC (read and Comment) yaa! WAJIB KOMENTAR. Annyeong!

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Freelance – You

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s