BLIND – CHAPTER 3

Blind

Author : IRISH

Tittle : Blind

Main Cast :

EXO Oh Sehun, Kim Jongin, OCs Lee Yookyung, Kang Sooyeon

Genre : Fantasy, School-Life, Romance

Rate : PG-16

Lenght : Chapterred

Previous Chapter

Chapter 1 || Chapter 2

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

In Author’s Eyes..

“Kyaaaaa!!!”

Seorang yeoja berteriak ketika dengan kasar Ia di tarik menjauh oleh namja asing. Percuma. Tidak ada yang mendengar teriakan yeoja itu. Detik selanjutnya, di jalan yang lebih sepi, namja asing itu menghabisi yeoja tersebut.

Namja itu kemudian melangkah tenang meninggalkan mayat yeoja tersebut. Penciuman nya kembali menangkap bau darah yang berbeda. Pikiran namja itu terbesit untuk mendapatkan lebih dari satu mangsa untuk malam ini.

Ia mencari bau darah yang berbeda itu, dan tatapan nya terhenti pada sosok manusia yang tadi memiliki bau darah berbeda. Namja itu mengikuti mangsa barunya, pandangan nya yang berbeda dengan manusia membuatnya dengan mudah bisa mengikuti yeoja itu.

Dan di jalan yang sepi, lagi-lagi Ia melakukan tindakan yang sama.

GREP!

“Akh—”

Teriakan yeoja itu teredam karena namja itu membungkamnya. Menariknya kasar ke jalan yang lebih sepi. Namja itu menghempaskan dengan kasar calon mangsa barunya, bersiap menghabisi yeoja itu.

Sementara yeoja itu berusaha melangkah menjauh. Tapi namja itu menariknya dengan kasar, memerangkap yeoja itu. Memojokkan nya di tembok.

“Akh! Lepaskan!”, yeoja itu berteriak, tapi namja asing itu mencekal lengan kanan nya dengan kuat, membuat yeoja itu hanya mampu meringis kesakitan.

“Ige mwoya.. Kau mau apa..”, yeoja itu berucap pelan saat namja asing itu mendekat ke arahnya, tapi ucapan yeoja itu mampu membuat namja itu terhenti sesaat ketika Ia akan mencabik yeoja itu.

“S-Sooyeon..”, tanpa sadar namja itu berucap

“M-Mwo.. K-Kenapa kau tau namaku..”, suara yeoja bernama Sooyeon itu bergetar hebat saat Ia bicara

Namja itu segera beringsut menjauhi Sooyeon. Namja itu segera berlari menjauh, meninggalkan Sooyeon, padahal beberapa detik yang lalu Ia akan menghabisi nyawa Sooyeon.

Sementara itu Sooyeon terpaku. Badan yeoja itu masih gemetar ketakutan. Terutama karena beberapa saat yang lalu Ia akan di serang oleh sosok yang tidak di kenalnya.

Sooyeon berusaha berdiri, mengusap luka di tangan nya, lalu Ia berjalan dengan masih ketakutan, menjauh meninggalkan tempat itu.

Tanpa Sooyeon sadar, sosok namja yang tadi akan menyerangnya masih mengawasi yeoja itu. Diam.

“Kenapa.. Kenapa aku tidak bisa membunuhnya.. Kenapa..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Sehun-ah, neo gwenchana?”

“Gwenchana Suho hyung.”, sahut Sehun

“Kau tidak keluar berburu?”

“Tidak.”

“Tidak keluar ke rumah yeoja aneh itu?”

“Sooyeon? Tidak.”

“Eh? Ada apa denganmu, jarang-jarang kau seperti ini.”, ucap Suho

“Aku.. Aku hampir menyerang Sooyeon semalam.”

“Apa? Kau hampir menyerang yeoja itu semalam?”, Suho membelalak tak percaya

“Ya.. Aish.. Seharusnya aku bisa mengingat nya lebih baik..”, ucap Sehun

“Memangnya apa yang salah dengan menyerangnya? Bukan nya kau juga ingin melenyapkan nya? Lagipula, itu membuktikan bahwa Ia juga memenuhi syarat untuk jadi—”

“Hyung!”, potong Sehun kasar

“Arraseo arraseo. Lalu, apa alasanmu merasa bersalah begini setelah berusaha menyerangnya semalam?”

“Aku tidak merasa bersalah.”

“Sikapmu jelas menampakkan kau merasa bersalah.”

Sehun menghela nafas, diam.

“Aku tidak tau.”

“Hah?”

“Aku tidak tau apa alasanku.”, ucap Sehun

“Tidakkah kau pikir itu aneh, Sehun-ah?”

“Mwo?”

“Ya. Kau tidak menyerangnya, dan kau tidak tau alasan nya. Lucu sekali.”

“Jadi maksudmu?”, Sehun menyernyit

Suho tertawa geli.

“Kurasa kau menyukai manusia itu..”

“Hyung!”, Sehun lagi-lagi berucap dengan gusar

“Maaf maaf, aku hanya bercanda.”, ucap Suho, masih menahan rasa gelinya

“Siapa tadi nama yeoja itu?”, tanya Suho kemudian

“Sooyeon. Kang Sooyeon.”, jawab Sehun

“Kau harus tau alasanmu untuk tidak menyerangnya.”, ucap Suho

“Aku mengerti..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

Akh.. Pergelangan tanganku sakit sekali.. Tsk.. Ini karena serangan namja aneh semalam. Ish. Preman aneh.

“Neo gwenchana?”, tanya Yujin

“Ha? Nan gwenchana.”, ucapku

“Kau tidak menanyainya?”, kata Yujin, menunjuk ke arah Sehun

“Berhentilah berusaha bicara padaku! Berhentilah berusaha untuk membantuku! Aku tidak membutuhkan bantuanmu! Aku bisa melenyapkan mereka sendiri.”

“Tidak.”, ucapku datar

“Eh? Kenapa? Dia sudah menjawabnya?”, ucap Yujin

“Belum. Aku hanya sedang malas saja.”, ucapku

“Eh? Wae? Apa—eh!! Apa yang terjadi dengan tanganmu!?”

Ish. Selalu saja. Berlebihan.

“Terkilir.”, sahutku

“Tapi tanganmu membengkak! Aigoo! Ini sudah pasti infeksi!”

“Ish. Kau cerewet sekali. Aku akan baik-baik saja. Luka sekecil ini tidak akan membuatku mati hahaha—”

JTAK!!

“Auw!! Yaakk!!!”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Ish. Kau cerewet sekali. Aku akan baik-baik saja. Luka sekecil ini tidak akan membuatku mati hahaha—”

JTAK!!

“Auw!! Yaakk!!!”

Sehun diam-diam tersenyum tipis. Sooyeon masih seperti biasanya. Bicara tanpa peduli keadaan sekitarnya.

“Luka ini seperti luka cakaran. Mana ada terkilir yang seperti ini?”, ucap Yujin membuat senyum Sehun seketika menghilang

“Tentu saja ada. Aku terkilir dan tanganku masuk ke mulut buaya.”, sahut Sooyeon kembali membuat Sehun ingin tertawa geli

“Mwoya!?”

“Aish! Kau berisik sekali. Aku yakin biasanya aku tidak seberisik kau.”, ucap Sooyeon kesal

“Mana ada.. Setiap hari kau beribu kali lebih berisik darinya..”, gumam Sehun pelan

“Lalu ini sebenarnya luka apa?”, ucap Yujin

“Aish.. Begini.. semalam..”

Sehun terkesiap. Tidak ingin jika Sooyeon bercerita hal yang sebenarnya.

“Semalam? Kenapa dengan semalam?”, ucap Yujin

“Semalam aku sedang berjalan sendirian di taman dekat rumah.”, ucap Sooyeon

Sehun semakin membatu, berusaha mendengar dengan jelas.

“Lalu?”

“Lalu.. ada.. umm, ada buaya yang mengejarku dan menggigitku!”

“Kang Sooyeon!!”

Sooyeon malah tertawa keras, senang karena berhasil membuat Yujin kesal setengah mati. Sementara itu Sehun terdiam, yeoja itu benar-benar tidak mengatakan hal sebenarnya pada siapapun.

Sehun melangkah pelan sepulang sekolah, mengikuti irama nada langkah milik Sooyeon. Namja itu entah mengapa ingin bicara pada Sooyeon.

GREP.

“Ige mwo—”

“Diamlah!”

Sehun terkesiap. Mengenal suara itu. Ia terpaku saat hanya bisa mendengar langkah Sooyeon berubah samar, namja itu tidak bisa mengikuti Sooyeon.

  ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

“Aku heran kenapa ada yeoja aneh seperti mu yang mau membela namja buta itu.”

“Maksudmu?”, ucapku dingin

“Kau! Kau yang melaporkan kejadian itu pada seongsaengnim! Iya kan!?”

“Mwo? Kalian bicara apa huh?”

“Tidak perlu berbohong! Kami sudah tau! Kau!”

Aku terpaku saat salah seorang dari mereka mengeluarkan pisau lipat.

“Neo.. Kalian mau apa!?”

Aku terpaku. A-Apa mereka akan—

“Akh!!!”

Aku berteriak kesakitan saat salah satu sunbaenim itu dengan kasar melukai wajahku dengan pisau lipat yang di pegangnya.

“Karena kau yeoja.. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang menyeramkan.”, ucap sunbaenim itu, mendorongku dengan kasar lalu meninggalkanku.

Aku berusaha menghentikan darah yang mengalir dari wajahku dengan menggunakan saputangan. Aku segera bangkit, berjalan cepat ke arah gerbang. Aku harus pulang.. mengobati luka ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Maaf nyonya, luka ini terlalu dalam, dan akan sulit untuk memastikan jaringan kulitnya akan kembali seperti dulu atau tidak.”, ucap dokter

Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Luka gores panjang tampak di wajahku bagian kanan. Benar-benar membencikan untuk melihat luka itu.

“Jika Ia di terapi, mungkin akan sedikit mengurangi bekas nya, walaupun lukanya akan tetap berbekas permanen..”

Aku diam. Tidak tertarik untuk mendengar penjelasan dokter.

“Kajja, kita pulang.”, ucap Eomma

Aku mengangguk, lalu berjalan gontai keluar ruangan. Hari ini sudah seminggu lebih sejak aku tidak masuk. Siapa juga yang ingin masuk dengan keadaan seperti ini?

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes..

“Kau sudah dengar?”

“Soal apa?”

“Sst! Diamlah. Yujin akan marah.”

“Kalian mau membicarakan Sooyeon lagi!?”, teriak Yujin marah

Sehun segera terkesiap. Entah mengapa mendengar nama yeoja itu membuatnya kaget dan merasa harus mendengarkan.

“Memangnya apa benar dia akan pindah sekolah?”

Yujin duduk. Terisak pelan.

“Sunbaenim itu.. ku dengar Ia membuat wajah Sooyeon jadi rusak.. Eomma Sooyeon akan membawa Sooyeon pindah sekolah.”, ucap Yujin

Sehun terpaku.

Mungkinkah..

“Sunbaenim? Ah! Ku kira ini karena dia..”

Sehun diam. Tau bahwa dirinya lah yang menjadi tertuduh.

“Eh? Bukankah Sooyeon mengadukan kasusnya? Ini artinya kecelakaan itu juga karena dia bukan?”

“Ah, benar. Heran juga kenapa Sooyeon mau repot-repot melaporkan kasus seperti itu. Dia kan memang sudah pantas untuk—”

BRAK!!

Seisi kelas langsung bungkam saat Sehun menggebrak meja. Namja itu kemudian keluar kelas dengan marah.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seorang namja menatap tajam ke arah empat orang namja yang melangkah ke arah tempatnya bersembunyi. Ia sudah merekam bau darah ke empat orang itu. Namja itu kemudian berdiri, melangkah ke arah empat orang itu. Dengan jelas bisa melihat aliran darah empat manusia itu.

“Wah wah! Apa yang kau lakukan disini huh!?”, ucap salah seorang namja

“Membalas perbuatan kalian.”, ucap namja itu dingin

“Ha ha ha. Bahkan untuk melihat saja kau tidak bisa!”

“Aku memang tidak bisa melihat.. Tapi aku bisa menghabisi kalian..”

Dalam sekejap namja itu menerjang empat orang itu. Salah satu dari empat orang itu menyerangnya dengan pisau, dan namja itu terhenti saat Ia mencium bau darah yang di kenalnya dari pisau itu.

“Bukankah urusan kita sudah selesai, hoobae?”

“Belum..”, Sehun menarik kasar pisau lipat itu dari tangan sunbaenim itu.

“Sooyeon. Kalian melukainya. Dan kalian harus mendapatkan balasan akan hal itu.”

“Itu hukuman jika dia berani mengadu..”

Mata namja itu berubah merah menyala, penuh kemarahan. Ia menyerang dua orang itu tanpa ampun, membuat mereka mati.

Ia sudah menyelesaikan tujuan nya.

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sooyeon’s Eyes..

“Apa kau benar-benar akan ke sekolah? Eomma akan menguruskan surat—”

“Tidak Eomma. Aku tidak akan pindah.”

“Keundae luka ini..—”

“Aku akan baik-baik saja.”, ucapku

“Berhati-hatilah lain kali.. Eomma tidak suka melihat luka di wajahmu..”

Aku terdiam. Aku juga tidak menyukai luka ini..

“Aku berangkat sekolah dulu Eomma.”, kataku

Aku melepas masker yang ku gunakan saat aku di dalam bis, banyak orang akan memperhatikanku karena luka di wajahku.

Aku melangkah cepat ke arah gerbang sekolah, dan terhenti saat melihat Sehun berdiri di gerbang. Aku membidiknya, lalu mengambil gambarnya. Aku melangkah pelan, ingin tau apa Ia bisa tau keberadaanku atau tidak.

“Sooyeon?”

Langkahku terhenti. Ia tau.

“Selamat pagi..”, ucapku padanya

Sehun menoleh, mengikuti suaraku.

“Apa kau baik-baik saja?”, tanyanya

Aku menyernyit.

“Soal?”

“Wajahmu. Apa baik-baik saja?”

“Sejak kapan kau peduli? Biasanya juga kau hanya marah-marah.”, ucap ku, hah. Sejak kapan dia bisa punya rasa kasihan padaku?

Aku melangkah meninggalkan Sehun, tapi aku terkesiap saat seseorang menarik lenganku, menyelipkan sesuatu di tanganku.

“Mereka sudah lenyap.. Dan.. Walaupun aku tidak bisa melihat seperti apa luka itu.. Mianhae. Karena aku kau jadi terluka.”

Sehun melangkah pelan menjauh, lalu aku memandang benda yang Ia selipkan di—

DEG.

Jantungku terpompa kencang saat melihat pisau di tanganku. Pisau yang di gunakan sunbaenim itu untuk melukaiku.. Bagaimana bisa.. benda ini ada pada Sehun?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pertanyaanku belum terjawab.

Dan pertanyaan lain sudah muncul.

Empat sunbaenim itu meninggal. Aku hanya berdiri diam menatap ungkapan bela sungkawa yang sudah empat hari ada di sekolah ini. Sehun tidak masuk beberapa hari ini, sejak pembicaraan terakhir kami. Dan aku sangat sangat sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau ikut study tour kelas?”, tanya Yujin

“Kurasa tidak.”

“Eh? Waeyo?”

“Aku harus ikut beberapa terapi, lagipula.. Aku tidak suka gelap.”, ucapku

“Eh? Aish.. Kau ini..”

“Kekeke. Mianhae Yujin-ah..”, kataku

Tapi sungguh, aku memang tidak suka gelap. Ani. Aku takut. Astaga.

“Kau harus ikut Sooyeon-ah.”, ucap Yujin

“Aku kan sudah bilang aku tidak—”

“Lihat? Semua siswa di wajibkan ikut.”, ucap Yujin menunjukkan banner besar

“Tsk. Aku akan minta pada Eomma untuk tidak mengizinkanku..”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Berbeda dengan dugaanku. Eomma malah menyuruhku ikut.

Jadi. Disinilah aku. Terjebak di bagian belakang bus—karena aku peserta yang terakhir datang—sendirian. Bagus sekali. Baiklah. Setidaknya sendirian akan lebih baik daripada harus bersama—

BAGUS! Ternyata Sehun ikut!

“Aku akan pindah. Tenang saja.”, ucapku saat Sehun berdiri di sebelahku

Aku kaget saat Ia mencekal lenganku.

“Duduklah.. Tidak apa-apa.”

“Ha? Sejak kapan kau..”

“Duduklah.”

Aku menatap Sehun. Ia tidak tampak seperti biasanya saat Ia bersemangat mengusirku, dan kurasa, semua orang juga mempertanyakan hal aneh ini.

“Kang Sooyeon! Cepat duduk. Bis ini akan berangkat.”

Aku berdiri, membantu Sehun menaruh tas nya di bagasi atas kursi kami.

“Masuklah duluan.”, ucapku pada Sehun

Aku tertawa geli saat kepala Sehun membentur atap kursi. Tapi segera ku hentikan tawaku dan ku bantu dia untuk duduk. Dan.. setelah sekian lama yang begitu aneh, aku duduk di sebelahnya.

“Anggap saja aku tidak ada.”, ucapku pada Sehun

“Bagaimana bisa menganggapmu tidak ada padahal badan kita jelas-jelas menempel seperti ini?”, ucap Sehun

Aku segera menjauh, tapi untuk pertama kalinya, Ia tertawa. Pemandangan lain yang tidak pernah ku lihat.

KLIK.

“Suara apa itu?”, ucap Sehun bingung

“Tidak ada.”, kataku, kurasa Ia sedang terkena syndrom baik hati. Jadi dia tidak berniat untuk membentak-bentakku.

“Yujin-ah.”, panggilku pelan

Yujin segera mendatangiku, memandangku bingung. Aku memberikan kameraku padanya, memberi isyarat untuk memfoto aku dan Sehun.

KLIK.

Satu foto saja cukup.

“Gomawo.”, ucapku

Yujin mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya.

“Kenapa kau tiba-tiba baik seperti ini?”, ucapku pada Sehun

“Hm? Tidak ada.”

“Kalau kau merasa bersalah karena membuat wajahku jadi terluka. Tidak apa-apa. Aku juga akan pindah sekolah, ke Jepang, dan sebelum ke sekolah baru, aku akan merapikan luka di wajahku ini dulu.”, ucapku

“Kau akan pindah sekolah??”

“Ya. Kenapa? Kau merasa bersalah karena selalu jahat padaku ya?”, ucapku

Sehun mengalihkan pandangan nya.

“Tidak.”

Aku tersenyum tipis. Setidaknya, ada hal yang akan ku ingat dari namja aneh ini.

“Gomawo, Sooyeon-ah.”

“Hah? Untuk apa?”, aku menatap Sehun bingung

“Karena kau satu-satunya yang betah dengan sikap jahatku.”, ucap Sehun

Aku tertawa geli.

“Aku tau kau orang yang baik..”, kataku

“Aku bukan orang baik.”

“Ey.. Kau ini.”, gerutuku

“Aku memang bukan orang baik.. Kalau kau tau, kau mungkin tidak akan mau berdekatan denganku.”

“Jinjja? Memangnya apa sisi tidak baikmu itu?”

Sehun diam.

“Aku tidak mau memberitahumu.”

“Ya! Ish. Ku pikir kita sudah berteman, ternyata tidak.”

“Kau menganggapku teman?”, tanya Sehun

“Ya. Kita kan sudah berkenalan waktu itu.”, ucapku

Sehun tersenyum tipis. Dan entah mengapa membuat jantungku jadi sedikit aneh. Bodoh sekali.

“Teman.. Lihat saja apa yang akan kau ucapkan nanti..”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮•)з To Be Continued ε(• -̮•)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

Advertisements

22 thoughts on “BLIND – CHAPTER 3

  1. Dasar sehun udah mulai mulai deh genitnya..

    Sooyeon ati ati nanti sehun nunjukin sosok asli ajaaa wkwk

    Aku baca chap selanjunya ya.. ^^

    Like

  2. Ccciiyyeee Sehun udh mulai ‘baik’ sma Sooyeon, mungkin chapter berikut.a jdi tambah ‘baik’ lgi k Sooyeon kkkk~
    Mungkin Sehun tdk bsa membunuh Sooyeon krna mulai suka
    Next ya eonn ^^

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s