[Oneshot] A.L.O.N.E

A.L.O.N

Karena aku merasa kesepian, maka satu-satunya cara adalah dengan kau menemaniku, Wendy.

.

.

.

A.L.O.N.E
(Straight Ver.) w/ ChenDy Couple
Genre : Horror
Rate : T
Warn! : Chen/Dy, Chara Death, OOC
Disc : They’re not mine, but this story is mine. Don’t copy + paste!
Original Ver. A.L.O.N.E (White Chokyulate)
Starring : EXO Chen as Kim Jongdae and Red Velvet Wendy as Wendy Son
Enjoy….

.

.

.

Tangannya terulur meraih pegangan pintu apartementnya. Bola lampu yang terletak setelah pintu masuk menyala. Pemiliknya meletakkan sepasang sepatu di rak yang terletak di sebelah kanan. Gadis berdarah Kanada itu, Wendy Son, segera menuju ke kamar tidurnya. Tubuhnya merebah di kasur dan ototnya diregangkan. Tubuhnya terasa sedikit nyaman.

Wendy meraih selimut yang ditindih oleh kakinya. Gaun berwarna hitam dengan kualitas menangah masih membungkus tubuhnya. Ia merasa enggan menggantinya dengan pakaian tidur, apalagi untuk berjalan ke kamar mandi hanya untuk sekedar menyikat gigi, ia merasa sangat malas untuk melakukan hal itu. Sebenarnya wajah dan tubuhnya—terutama tangan—terasa sangat lengket, seharusnya ia mandi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk tidur.

Wendy bangkit, menyingkirkan selimut yang baru beberapa menit membuat tubuhnya hangat. Srot… Ia menarik napasnya dalam sampai-sampai ingus yang hampir keluar dari hidungnya kembali tertarik masuk. Matanya terlihat sembab, sangat jelas dengan kantung mata yang tampak membesar dan daerah di sekitar mata yang memerah. Wendy menurunkan kedua kakinya hingga menyentuh lantai lalu berjalan menuju ke meja yang berada di dekat jendela.

Mata Wendy terfokus pada sebuah bingkai foto berukuran 5R dengan posisi landscape di atas meja itu. Tampak seorang gadis dan seorang pemuda dengan usia yang tidak jauh berbeda. Mereka terlihat serasi. Ya, mereka adalah pasangan kekasih, jadi sangat pantas jika disebut serasi.

“Apa kau merasa kedinginan, Oppa? Seharusnya aku membawakanmu beberapa selimut dan juga syal. Apakah kau merasa kesepian? Seharusnya aku juga menemanimu malam ini,” gumam Wendy dengan tatapan yang masih lekat menatap bingkai foto.

Beberapa detik setelahnya, Wendy meletakkan bingkai foto itu ke tempatnya semula. Ia berbalik, berusaha melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Memorinya berputar, mengingat hari  kemarin dimana kejadian yang sangat tidak diinginkan terjadi dan membuatnya sangat terpukul ketika mengetahuinya. Kim Jongdae, kekasihnya, tewas terbunuh oleh sekelompok orang yang berusaha merampok rumah kediamannya.

Tadi ia baru saja pulang dari acara pemakaman Jongdae. Sampai saat ini, ia masih mencemaskan Jongdae, kesepian dan kedinginan, itulah yang menghantui pikiran Wendy.

Wendy kembali ke kamarnya setelah menggantung handuknya. Perutnya berbunyi. Tak heran, sejak kemarin ia belum memakan sesuap nasipun—atau makanan lain untuk mengganjal perutnya. Memang agak perih rasanya.

“Mungkin aku perlu memasak sesuatu,” katanya lalu menuju ke dapur.

Wendy memutuskan untuk membuat bibimbap dengan bahan seadanya. Ia memakannya dengan sangat lahap. Menangis seharian memang membuatnya sangat lelah—dan tentu saja kelaparan. Kalau bukan karena perutnya yang sudah meringis minta diisi, mungkin Wendy tidak akan mendapatkan selera makannya disaat suasana duka seperti ini.

Wendy meletakkan sendoknya, lalu menelan bibimbap yang terakhir dimasukkan ke dalam mulutnya. Kurang dari setengah bibimbap yang dibuatnya masih tersisa di dalam mangkok besar itu. Ia mengangkat wajahnya, entahlah, tetapi Wendy merasakan seseorang sedang memperhatikannya dari luar jendela di kamarnya. Ia memang dapat melihat langsung jendela itu dari kursi—di ruang makan—yang biasa diduduki—dengan pintu kamar yang dibiarkan terbuka.

Wendy merapatkan kedua kakinya, jari-jarinya mengepal dan bibir bawahnya digigit. Sesosok wajah—yang tak terlalu jelas tampak—muncul dari balik gelapnya jendela itu. Seingat Wendy, ia hanya memiliki satu balkon di apartementnya yaitu tepat berada di depan ruang tengah. Sangat tidak mungkin jika seseorang melongok dari balik jendela kamarnya yang jelas-jelas tidak ada balkon disana. Selain itu, sekarang ia berada di lantai tujuh sebuah gedung yang tinggi. Jadi, wajah siapa itu?

***

Hari kedua setelah kematian Jongdae…

Wendy merapatkan syal yang melilit hangat di lehernya. Syal berwarna merah yang sedang ia kenakan adalah pemberian dari Jongdae di hari ulang tahunnya tahun lalu.

Jika kau menggunakan syal ini, maka saat itu aku sedang memelukmu, itulah kalimat Jongdae yang dikatakan saat itu dan sampai sekarang Wendy masih mengingatnya. Karena Jongdae yang sudah tak dapat memeluknya secara langsung, setidaknya ia masih dapat merasakan hangatnya kedua tangan Jongdae melalui syal itu.

Tok, tok, tok…

Wendy berbalik saat mendengar seseorang yang seperti mengetuk pintu. Ia memiringkan kepalanya pelan lalu mengedikan bahunya dan mengabaikan hal itu.

Tok, tok, tok…

Wendy mendengarnya lagi. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Padahal ia sedang berjalan di tengah taman kota dan tak satupun pintu yang tampak sejauh matanya memandang. Sangat aneh.

***

Hari ketiga setelah kematian Jongdae…

Wendy sedang menikmati coklat panasnya di balkon. Ia duduk sendirian sambil menatap jauh perkotaan dengan gemerlapnya saat malam hari. Sesaat terlintas di pikiran Wendy saat sesosok wajah menatapnya melalui jendela. Ia memperhatikan jendela kamarnya yang terlihat dari balkon. Bola matanya bergerak, memperhitungkan kalau-kalau seorang yang jahil hanya melongokan kepalanya dengan tubuhnya yang bertumpu pada balkon. Tidak mungkin, jaraknya terlalu jauh. Apa mungkin orang itu menggunakan sejenis mesin untuk terbang? Ah, terlalu konyol kalau semata-mata hanya ingin menakuti Wendy. Toh lagipula Wendy bukan orang yang penakut, jadi apa untungnya untuk orang itu.

Wendy kembali menatap gemerlapnya kota. Kalau saja Jongdae ada di kursi yang berada di sebelahnya sembari menikmati coklat panas, pasti akan sangat menyenangkan. Wendy meletakkan mug berwarna putih di atas meja kecil di depannya, ia melangkah menuju ke pinggiran balkon. Ia meletakkan tangannya pada pembatas balkon. Napasnya tertarik, menepis jauh-jauh imajinasi kalau Jongdae masih bisa menemaninya. Jongdae kan sudah pergi dan tentu saja tidak mungkin akan kembali lagi.

“Akhhh!!!”

Mata Wendy membulat ketika mendengar suara seseorang yang memekik, suaranya tak jauh, seperti berasal dari dalam apartementnya. Ia berbalik, melihat tepat ke dalam ruang tengah yang sekarang dalam keadaan gelap. Matanya membelalak saat melihat seorang dengan pisau di tangannya. Pisau itu berlumuran darah, di lantai seorang pemuda tergeletak tak berdaya. Tubuh Wendy merosot ke bawah dan memberikan tumpuan penuh tubuhnya pada pembatas balkon.

Si pemegang pisau tampak berjongkok lalu menikam orang tadi berkali-kali. Sepertinya orang yang terjatuh itu sudah tewas. Tak ada perlawanan atau teriakan yang berarti lagi dari orang itu.

“Si—siapa kau?” tanya Wendy terbata. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan. Yang paling tidak ia mengerti adalah bagaimana dua orang itu bisa masuk ke dalam apartementnya sedangkan di sisi lain hanya ia dan Jongdae yang mengetahui password pintunya.

Orang dengan pisau itu melangkah mendekat ke arah Wendy. Baru sepertiga jalan, orang itu berhenti lalu menjatuhkan pisaunya ke lantai. Orang itu berbalik seperti menghampiri orang yang baru saja ia bunuh. Pembunuh tadi mengangkat tubuh yang dibunuhnya, kali ini ia menuju ke arah Wendy.

Wendy meringkuk frustasi. Orang itu makin mendekat membuat Wendy lebih memilih untuk memejamkan matanya. Ia pasrah, sangat pasrah malahan. Jika harus berakhir di tangan pembunuh itu, apa boleh buat.

Shhh…

Angin yang mengikuti arah gravitasi seperti melewati punggungnya. Ia yakin si pembunuh sedang berada di sampingnya. Mungkin saja ia sedang melempar mayat yang dibunuhnya tadi melalui balkon.

“Wendy~ya, kau baik-baik saja?” Kemudian sebuah suara menginterupsi pemikiran-pemikiran aneh yang sedang dipikirkan oleh Wendy. Ia mengangkat kepalanya, memastikan siapa si pemilik suara. Bingo! Seperti dugaan Wendy, suara yang tidak asing itu adalah suara Jongdae, ya, Kim Jongdae, kekasihnya.

“Op—Oppa? Bagaimana bisa kau ada disini hum?” Wendy segera memeluk Jongdae, menumpahkan segalanya di dalam pelukan Jongdae. Ia menangis. Tentu saja Wendy masih tak percaya kalau telah terjadi sebuah pembunuhan di dalam apartementnya.

Jongdae menepuk-nepuk punggung Wendy, bermaksud untuk menenangkannya. “Sshhh…” desis Jongdae, “Tenanglah, Olaf! Kau akan aman bersamaku. Tidak usah menangis lagi hum?”

“Hiks—aku sangat takut Oppa—sangat…” Wendy makin mengeratkan pelukannya.

“Sudahlah, tidak akan terjadi apa-apa padamu. Bagaimana kalau secangkir—”

“Tidak apa-apa? Bagaimana kalau nanti polisi menanyaiku tentang pembunuhan ini dan menuduhku sebagai tersangka—”

Jongdae segera memotong pembicaraan Wendy sebelum ia menjadi benar-benar seorang yang cerewet, “—Sudah ku katakan tak akan terjadi apapun. Apa sekarang kau tak percaya padaku lagi?”

Wendy menelan ludahnya, “Bukan, bukan itu yang kumaksudkan. Tentu saja sampai kapanpun aku akan mempercayaimu dan hanya kau yang dapat aku percaya, Oppa.”

Jongdae menangkup pipi Wendy menggunakan kedua tangannya lalu mencium Wendy dalam, tentunya dengan lumatan-lumatan yang manis. Setelah beberapa saat, Jongdae melepaskan ciumannya. “Bagaimana kalau secangkir coklat panas?” tanya Jongdae tersenyum.

Wendy mengangguk semangat dan menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. Inilah saat yang paling ia inginkan, ditemani Jongdae yang memeluknya sembari menikmati hangatnya secangkir coklat panas.

.

.

.

.

Beberapa mobil polisi, mobil milik pers dan juga sebuah mobil ambulance sedang berkerumun di depan sebuah gedung apartement. Tak hanya itu, orang-orang yang tinggal di sekitar gedung juga tampak ramai.

“Seorang gadis berumur sekitar dua-puluh tahunan ditemukan tewas di depan sebuah gedung apartement.”

“Beberapa luka akibat tusukan pisau ditemukan di tubuh bagian depan pemuda tersebut. Tidak ada tanda yang menunjukkan kalau korban mendapatkan kekerasan fisik lainnya.”

“Dugaan sementara gadis tersebut bunuh diri. Diketahui bahwa ia tinggal sendiri di apartement miliknya dan baru-baru ini kekasihnya tewas karena dibunuh. Kim Joonmyeon, SMT News melaporkan.”

Klik…

 Jongdae menekan tombol off pada remote televisi. Sebelumnya, beberapa kali ia menekan channel yang berbeda, namun berita yang ditayangkan sama saja. “Ah membosankan,” gumam Jongdae. Ia melempar remote itu ke sembarang arah.

 Jongdae menundukan kepalanya, melihat Wendy yang terlelap berbantalkan dadanya. Tangannya mengusap surai milik Wendy, membuat Wendy senyaman mungkin di dalam pelukannya. “Karena aku merasa kesepian, maka satu-satunya cara adalah dengan kau menemaniku, Wendy.”

THE END

.

.

.

Annyeong haseyo…

Lama tak terlihat, akhirnya kembali dengan ff pendek yang lebih pantas disebut vignette ketimbang oneshot T.T

Entah berapa bulan aku pergi, sekarang kembali lagi. Dan aku juga sudah putuskan untuk tidak melanjutkan ff Guy Stranger yang baru nyampe prolog itu. Aku benar-benar kehilangan feel gara-gara ujian dan memutuskan untuk menghapusnya. Sebagai ganti, aku akan post ff dengan cast (lagi-lagi) Chen dan OC. Entah kapan itu bisa terbit /plakk/

Buat yang baca ini, terima kasih. Maaf karena hanya bisa kasi ff remake sebagai tanda kembali.

Aku postnya di dini hari kaya begini, yakin ga bakalan ada yang baca.

Ya sudah, sampai ketemu di ff berikutnya. Gomawo :*

P.S : pengen liat wp pribadiku? lebih cepet update sih :v /modus/ klik aja ya http://www.whitechokyulate.wordpress.com

Chen dan Kyuhyun Biased wajib klik /maksa/

P.S.S : sttt…. Siwon, Luhan, Xiumin, Sehun dan Kai biased juga wajib /plakk/

Warm regards, .DancingChen

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s