[Oneshoot] What is Love?

what-is-love

|| Title: What is Love? || Author: Phiyun || Genre: Comedy | Romance | Family | Arranged Married || Cast: Park Jiyeon | Lee Donghae | Choi Minho | Choi Sooyoung ||

Credit Poster:  Hyunleea@HospitalArtDesign (Thank’s ^^)

Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

*** Happy  Reading ***

“Aku tak akan pernah melakukan hal seperti itu!! Lebih baik aku mati dari pada melakukan hal yang menjijikan seperti itu!!!” Teriak gadis berambut panjang itu dengan kedua mata yang membulat lebar sambil menatap pria yang ada dihadapannya. Namun balasan lawan bicaranya terlihat tak memperdulikan apa yang sudah diucapkan yeoja tersebut. Dengan santainya namja itu membalas perkataan Jiyeon. “Itu terserah kepadamu, Nona. Aku tak peduli apakah kau mau mati atau tidak, yang jelas kalau kau ingin mengakhiri hidupmu, bisakah kau mencari tempat lain selain didalam rumah ku? Kalau bisa kau mati jangan didepan mataku, karena aku sudah sibuk dengan semua urusan dirku sendiri jadi jangan menambah beban ku lagi. Apakah kau mengerti Nona Park Jiyeon-ssi?” Seraya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya dihadapan gadis tersebut.

Mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh pria itu, membuat Jiyeon semakin berang. Perasaannya berkecambuk. Dia ingin sekali memukul namja yang ada dihadapan ini tapi niat itu hanya bisa ia tahan karena dia disini hanyalah seorang tamu bahkan bisa dibilang hanya menjadi beban hidup pemuda itu. Walaupun dia baru beberapa hari disini, Jiyeon merasa kalau dia sudah berada di dalam neraka selama satu tahun lamanya. Kenapa dibilang seperti itu? Karena gadis kaya raya itu harus tinggal bersama orang asing meskipun dulu mereka saling mengenal tapi tetap saja bagi Jiyeon mereka seperti orang asing dan mereka berdua selama beberapa waktu kedepan akan tinggal bersama di desa ini, karena suatu alasan dan gadis itu tak bisa lari dari kenyataan kalau dirinya harus bisa beradaptasi di ruang lingkup jauh dari kebiasaannya sehari-hari.

Dengan mata yang berkaca-kaca Jiyeon menatap pemuda yang ada dihadapannya yang sedang sibuk dengan file-file yang ada dihadapan lelaki itu. Namja itu seperti tidak memperdulikan dirinya. Baru kali ini dia bertemu seorang pria seperti itu terhadap dirinya. Gadis itupun lalu menghirup nafas yang panjang dan setelah itu Jiyeon berkata dengan suara yang lantang terhadap namja tersebut. “Yah… Lee Donghae-ssi, Neo… Neo… Paboya!!!” Teriaknya dan setelah memaki pria tersebut Jiyeon pun langsung keluar dari dalam rumah dengan penuh amarah yang memuncak, sampai-sampai pintu pun yang tak tahu apa-apa terkena imbas oleh dirinya. Pintu itupun dibanting dengan kencang.

Setelah melihat gadis itu sudah pergi berlalu dari hadapannya Pria itupun lalu menaruh lembaran dokument-dokument kerjanya di atas meja. Pandangan namja itu mulai menerawang kearah pintu yang sudah tertutup rapat oleh gadis itu. Sesekali Donghae melihat berkas-berkas dokument yang berserakan diatas meja tepat dihadapannya dan kemudian pandangan pemuda itu kembali lagi kearah daun pintu yang tertutup rapat tersebut.

Namun itu tak berlangsung lama, Donghae langsung bangun dari atas sofa yang saat tadi ia duduki sembari berkacak pinggan.“Yah! Apa susahnya sih kau memetik sayur mayur dibelakang rumah untuk makan malam mu? Kenapa aku harus selalu melakukan hal yang seperti ini untuk dirinya? Dasar gadis keras kepala! Kau membuatku tak bisa memilih pilihan yang lain!!!” Kemudian Donghae  langsung meraih mantelnya dari atas sofa dan setelah itu Pria itu mulai berlari keluar dari dalam rumah tersebut.

~OoO~

~Ditempat yang lain~

“Dasar Donghae, bodoh!” Teriak gadis itu sambil meneteskan airmata. Namun dengan cepat gadis itu langsung menyeka airmata yang menetes di kedua pipinya.

“Kenapa, semua ini harus terjadi kepadaku secara mendadak? Kenapa tiba-tiba perusahaan appa, harus mengalami kebangkrutan? Yang paling sialnya kenapa aku harus mengungsing di tempat orang yang dulu pernah aku sukai? Sikapnya sangat menyebalkan dan aku tak menyukainya. Pasti dulu aku sudah buta saat jatuh cinta kepadanya? Dia sangat berubah, tak seperti orang yang dulu aku kenal.” Sambil tetap berjalan lesu menyelusuri jalan setapak persawahan dan tiba-tiba keseimbangan Jiyeonpun oleng.

“Aaahhhkkk!” Teriaknya dan gadis itu pun jatuh kedalam kubangan lumpur persawahan tanpa ada perlawanan yang berarti. Saat Jiyeon hendak bangkit dari jatuhnya tiba-tiba dia merasakan kedua pergelangan kakinya terasa sakit. Dia tak sanggup bangun dari jatuhnya. “Sialan!!!” Umpatnya dengan kesal. “Kenapa semua hal yang buruk hadir dihidupku! Aku sangat benci keadaan ku yang seperti ini!” Ucapnya seraya menghempaskan kedua tangannya kebawah dan tak sengaja air lumpur itu pun terpecik kewajah Jiyeon. “Yak! Lumpur sialan!! Aku benar-benar benci tempat semacam ini!!!” Teriaknya lagi dengan penuh kemarahan sambil menghapus percikan air lumpur itu dari wajahnya.

“Aku mau pulang kerumah, Appa bisakah kau menjemputku saat ini juga?” Lirih Jiyeon seraya mencengkram kedua pergelangan kakinya agar dapat menahan rasa sakit yang sedang ia rasakan.

~OoO~

~ Flash Back ~

Di suatu ruangan didalam rumah yang megah, terlihat ada dua orang sedang beradu argument dan dengan jelas keadaan suasana diruangan itu yang sangat menegangkan.

Mwo!!! Aku tak mau bila harus tinggal di desa sendirian! Tempat itu sangat kumuh dan semua hal itu bukanlah style ku, Appa!” Ucap Jiyeon dengan wajah yang menahan amarah.

Ayah Jiyeonpun tahu kalau putrinya tidak akan mudah mengikuti keinginannya, namun dia berusaha berkata dengan pikiran yang dingin. “Appa, sudah lelah dengan segala tindak laku mu, Jiyeon-ah. Kau harus belajar agar dapat menghargai seseorang dan bersikap lebih bijak dengan uang. Tak semua bisa dibeli dengan uang, Jiyeon-ah.” Ucap pria tua itu.

“Aku tak akan pernah pergi kesana! Aku juga sudah bosan dengan kalimat yang selalu Appa ucapkan padaku. Lebih baik aku mati bila harus melakukan itu semua!” Balas Jiyeon sambil melipatkan kedua tangannya.

Terlihat dengan jelas ekspresi wajah Tuan Park yang terlihat sedikit kesal. Keadaan disekitar merekapun mulai terasa canggung. Tak berapa lama kemudian Tuan Park berkata. “Jiyeon-ah, sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu tentang hal yang sebenarnya sudah terjadi. Ayah menyuruhmu tinggal ke desa karena perusahaan kita bangkrut dan rencannya rumah ini akan Ayah jual. Maka dari itu Appa memintamu untuk tinggal sementara di kediaman rumah rekan ayah di desa.”

Seketika pikiran Jiyeon mulai kosong. Jiyeon juga menunjukan ekpresi wajah yang tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Kedua kaki gadis itupun lemas, dia bahkan hampir terjatuh. Namun itu tak terjadi karena sebelah tangan Jiyeon sudah menggengam erat sofa yang ada disampingnya.

Dengan nada yang ragu gadis itupun berkata kepada ayahnya. “Appa… apakah semua itu benar? Apakah perusahaan ayah bangkrut? Benarkah itu…?” Sambil kedua tangannya sekarang sudah menggenggam erat lengan pria paruh baya itu. Laki-laki paru baya itupun hanya membalas perkataan Jiyeon dengan anggukan kepala seraya menundukan kepalanya.

Bibir Jiyeonpun seketika tak mampu berkata apa-apa lagi, semuanya terasa membingungkan. Gadis itu sepertinya belum siap dengan apa yang barusan saja ia dengar. Tak lama kemudian laki-laki paruh baya tersebut berkata kepada putri kesayangannya. “Jadi, maukah kau tinggal sementara di tempat rumah kerabat Ayah di desa. Lagipula kau sudah saling mengenal dengan Donghae-ssi, jadi kau tak perlu takut sendirian disana, benarkan Jiyeon-ah?”

“Ta-tapi…”

“Kau tak usah cemas nanti setelah masalah ini selesai, Ayah akan segera menjemputmu pulang bersama Ayah. Jadi kau tak perlu khawatir. Lalu apa pilihanmu sekarang? Apakah kau akan tetap disini atau kau pergi sementara ke rumah sahabat Ayah?” Tanya Tuan Park

Dengan nada yang lemas akhirnya Jiyeon mengiyakan kemauan sang ayah. “Baiklah Appa a-aku akan mengikuti perintah ayah.”

~ Flash Back – End ~

~OoO~

~2 Jam kemudian~

Terlihat seorang namja dari kejauhan sedang berlari dengan tubuh penuh peluh di sekujur tubuhnya.  Ekspresi wajah pria itu terlihat bingung dan bercampur cemas.  Sudah hampir 2 jam lamanya pria itu mencari keberadaan Jiyeon, namun tetap saja ia tak menemukan sosok gadis itu bahkan batang hidung orang yang sedang ia cari pun tak kunjung terlihat. “Kemana, gadis keras kepala itu?” Ucap Donghae sambil tetap menatap fokus ke sekelilingnya sembari menggaruk-garuk puncak kepalanya dengan frustasi.

“Apa dia sudah tiba dirumah? Tapi tak mungkin? Harga dirinya sangat tinggi, aku tahu persis dirinya meskipun sudah hampir 10 tahun tak berjumpa dengan dirinya. Kata menyesal dan bahkan Kata maaf tak pernah dia lontarkan meskipun gadis itu melakukan kesalahan. Kemana lagi aku harus mencari dirinya?”

Tiba-tiba Donghae mendengar suara percikan air tak jauh dari tempat dirinya berdiri. Dengan perlahan-lahan pria itu melihat kearah bawah persawahan. Karena kebetulah saat itu sudah malam, penglihatan namja itupun terbatas. Untung saja Donghae membawa lampu senter sebelum berangkat mencari Jiyeon. Saat lampu senter itu dihidupkan dan disoret kebawah persawahan, betapa kagetnya Donghae.

“Jiyeon-ah? Apakah kau baik-baik saja?” Ucapnya, kemudian Donghae langsung turun kebawah.

“Donghae-ssi? Na..Nan Gweanchana! Ini semua gara-gara kamu bodoh!” Umpat Jiyeon sambil memukul-mukul dada bidang milik lelaki yang ada dihadapannya itu. “Seandainya kau tak berkata seperti itu kepadaku, mungkin aku tak akan menjadi seperti ini!!! Semuanya salah mu!!” Kata gadis itu lagi namun kali ini suara Jiyeon mulai bergetar dan tak lama kemudian gadis itupun menitikan airmata sambil tetap kedua tangannya sibuk memukul-mukul tubuh Donghae.

Melihat Jiyeon menangis, namja itu lalu meraih tubuh mungil gadis  itu dan kemudian menarik tubuh Jiyeon kedalam dekapannya. “Mianhaeyo, Jiyeon-ah. Maaf karena aku telat menemukanmu.” Ujarnya sambil membelai lembut puncak kepala Jiyeon. “Nappeun…” Maki Jiyeon kepada Donghae.

Dan Donghae pun menjawab.“Ye, Nan nappeun namja-ya. Kau boleh memukul ku dan mencaci makiku sepuas hatimu, bila itu bisa membuatmu lebih baik.”

Gadis itupun membalas perkataan Donghae dengan suaranya yang bergetar namun penuh amarah. “Yak!! Lee Donghae-ssi! Neo…” Belum sempat Jiyeon menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba yeoja itu jatuh tak sadarkan diri.

Tubuh gadis itupun jatuh begitu saja di pelukan Donghae. Untuk beberapa saat Donghae  menyadari ada sesuatu yang aneh pada diri Jiyeon  dan binggo saat Donghae  melepaskan dekapannya, gadis itu sudah tak sadarkan diri. Donghaepun mulai memanggil-manggil nama gadis itu, siapa tahu Yeoja tersebut tersadar saat nama dirinya dipanggil olehnya. “Jiyeon-ah… Park Jiyeon-ah… Yak! Jiyeon-ssi?” Namun usahanya sia-sia.

Wajah Jiyeonpun memucat, dengan sigap Donghae menggendong tubuh gadis itu dibelakang punggungnya dan setelah itu namja itupun mulai berlari kencang kembali ke rumah. Setibanya di kediaman rumahnya, Donghae langsung membawa Jiyeon kedalam kamar gadis itu dan kemudian tubuh Jiyeonpun dibaringkan disana.

Saat Donghae hendak akan mengecek suhu tubuh Jiyeon ternyata suhu tubuh gadis itu sangatlah panas dan keadaan saat itu juga pakaian yang dikenakan Jiyeon basah kuyub dan mau tak mau Donghae harus menukar pakaian gadis itu dengan pakaian yang kering agar demamnya Jiyeon berkurang.

Perlahan-lahan Donghae meraih satu kancing kemeja Jiyeon dengan jari jemari yang bergetar bahkan tampa pemuda itu sadari nafasnyapun mulai tersengal-senggal entah kenapa sekarang dirinya menjadi canggung terhadap gadis yang ada didepannya ini. Lalu Donghaepun melepaskan tangannya dari kancing pakaian Jiyeon dan berkata. “Yak! Lee Donghae-ssi… apa yang sedang kau pikirkan sekarang? Kau tak ada waktu lagi untuk memikirkan hal-hal semacam itu.”

Tak berapa lama tiba-tiba nafas Jiyeon mulai bernafas terengah-engah  dan peluh pun mulai menetes di atas keningnya dan menjalar ke tubuh putih mulusnya. Wajah gadis itu pun juga mulai terlihat pucat pasih. Donghae tak bisa hanya melihat saja kondisi Jiyeon yang sedang menahan sakit dan dengan seluruh keberanianya, pria itupun mulai menghampiri Jiyeon yang sedang berbaring tak sadarkan diri kemudian Donghae pun berkata. “Tak ada cara lain. Jiyeon-ah, mianhae.”

~OoO~

~ Di pagi harinya ~

“Ciciuit…” Terdengar suara kicauan burung dari balik jendela luar kamar Jiyeon. Sinar mentari pagi diam-diam menyusup dari sela-sela tirai jendela yang sedang tertiup angin. Dengan perasaan yang berat dan tak begitu  pula kedua mata milik gadis itu.

“Heemm…Sudah pagi ternyata.” Ujarnya sambil merenggangkan otot tubuhnya dan betapa kagetnya Jiyeon saat melihat ada sebelah lengan yang cukup atletis sedang memangku kepalanya. Dengan berhati-hati Jiyeonpun membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pemilik lengan itu. Kedua mata milik gadis itupun membulat lebar saat tahu dirinya sedari malam tidur seranjang dengan Donghae dan yang membuat Jiyeon semakin kaget namja itu tidur dengan bertelanjang dada dan Jiyeon baru sadar kalau pakaian yang ia kenakan saat ini adalah kemeja milik pria itu. Sontak Jiyeon langsung berteriak kencang dan tanpa basa basih yeoja itu langsung menendang kencang tubuh pemuda yang ada disampingnya.

“Aaahhhkkk!!!” Teriak histeris Jiyeon

“Apa yang kau lakukan pada diriku!!! Dasar pria cabul!!!” Teriak Jiyeon sambil menarik selimut yang ada diatas ranjang untuk menutupi tubuhnya. Donghae pun bangun seraya menyeriangai kesakitan karena pria itu jatuh cukup kencang di bawah lantai.

“Yah? Park Jiyeon-ah apa yang sedang kau lakukan?” Sambil berdiri dari jatuhnya.

Mwo? Adanya itu kalimat yang harus aku katakan padamu? Apa yang kau lakukan kepadaku?!”

“Apakah kau tak tahu, apa yang sudah terjadi antara kita berdua saat malam itu?” Tanya Donghae seraya memiringkan kepalanya saat menatap Jiyeon.

“Me-memangnya a-apa yang sudah terjadi diantara ki-kita???” Balas Jiyeon dengan bibir yang bergetar.

“Yah! Sebegitu mudahnyakah kau melupakan kejadian malam itu saat Kau…Kau… sudah melakukan…” seraya jari telunjuknya menunjuk-nunjuk kearah Jiyeon dan tiba-tiba gadis itu langsung memotongnya. “Memangnya aku melakukan apa padamu? Sudah katakanlah padaku jangan berputar-putar.” Balasnya sembari mengigit bibir bawahnya dengan manik matanya yang membulat lebar. Kemudian Donghae pun berkata kepada Jiyeon sambil menghela nafas yang panjang. “Baiklah, aku akan menceritakannya kepadamu.”

~OoO~

~ Pov Donghae ~

Lihat betapa lucunya wajah gadis yang ada dihadapanku ini. Hal ini sudah aku duga sedari malam tadi. Pasti saat dirinya terbangun ia akan sangat kaget melihat keadaan dirinya. Seandainya aku adalah dia, mungkin ekspresi ku tak jauh beda seperti yeoja itu. Entah kenapa aku jadi ingin sekali menggoda gadis lugu yang ada dihadapanku kali ini. Apakah aku harus mengatakan hal yang sebenarnya ataukah aku harus…?

~ Pov Donghae – end ~

~OoO~

“Jiyeon-ah, sebenarnya semalam kita…”

“Stop!!! Biar aku yang bertanya. Kau hanya perlu menganggukan kepalamu untuk mengatakan ‘ya’  dan menggelengkan kepala bila ‘tidak’.” Pinta Jiyeon dan di iyakan oleh Donghae dengan anggukan kepala.

Jiyeonpun mulai bertanya kepada Donghae. “Apakah  tadi malam kita berdua menghabiskan malam bersama hingga pagi?” Tanya Jiyeon dan dianggukkan oleh Donghae.

“Lalu apakah kau juga yang membuka pakaianku?” Donghaepun menganggukan kepalanya lagi dan tiba-tiba pria itu menggelengkan kepala dan berkata. “Memang aku yang membuka bajumu namun kaulah sendiri yang memakai pakaian yang sedang kau kenakan sekarang.” Sembari kedua matanya menatap tajam kearah Jiyeon.

Melihat dirinya diperhatikan oleh Donghae, Jiyeon langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. “Yak!!! Apa yang sedang kau lihat!” Teriaknya dengan kencang.

“Ini pertanyaan terakhirku. Apakah kita melakukan hal itu?” Kali ini suara gadis itu mulai bergetar. Dengan santainya pria itu menjawab. “Menurutmu? Apa yang sudah kau lihat saat kau terbangun? Haruskah aku menjelaskan hal semacam itu kepadamu dengan detail?” Goda Donghae.

Mendengar perkataan Donghae, Jiyeonpun mulai frustasi dia tak percaya dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya sepanjang malam kemarin. “A-aniya… maldo andwae!!! A-ani!!!” Teriak Jiyeon dengan histeris dan tiba-tiba gadis itu mulai meneteskan airmata.

Melihat Jiyeon menangis Donghae menjadi panik. Sepertinya dia terlalu jauh menggoda gadis itu. Perlahan-lahan Donghae mendekati Jiyeon. Namun saat dirinya hendak menyentuh gadis itu, Dengan kasar Jiyeon menepis tangan pemuda itu dengan penuh amarah dan tangis yang terisak-isak. “Jangan sentuh aku!!! Aku benci kamu, Donghae-ssi!!”

“Jiyeon-ah dengarkan aku sebentar, aku dan kau tadi malam hanya…”

“Hentikan!!! Aku tak mau mendengarnya lagi!!!” Bentak Jiyeon sambil kedua telapak tangannya menutup kedua telingannya. “Pergi kau dari hadapanku!!!” Tapi Donghae tak menggubris ucapan gadis itu dia malam mendekap tubuh Jiyeon dengan erat. Gadis itupun mulai meronta-ronta dan memukul kencang belakang punggung Donghae. “Aku bilang lepaskan aku!! Dasar pria brengsek!!!” Ungkap Jiyeon dengan beruraian airmata tapi pria itu malah melakukan sebaliknya, ia mulai  mempererat pelukannya.

Setelah Jiyeon cukup tenang Donghae lalu melepaskan pelukannya dari tubuh gadis itu. Kemudian kedua jari jemari Donghae mulai menyeka airmata yang membasahi kedua pipi Jiyeon dengan lembut setelah itu  ia pun berkata. “Jiyeon-ah, dengarkan baik-baik perkataanku.”

“Aku tak mau dengar!” Balas Jiyeon dengan membuang wajahnya ke bawah. Namun itu tak berlangsung lama karena Donghae segera mungkin mengangkat wajah Jiyeon kembali lagi dihadapannya. “A-ani, kau harus mendengarkan yang sebenarnya. Kau dan aku tadi malam tak melakukan apa-apa. Kita hanya tidur bersama tak lebih. Jadi kau tak perlu khawatir, tadi aku hanya ingin menggodamu saja. Mianhaeyo Jiyeon-ah.”

“Be-benarkah itu semua, Donghae-ssi?” Tanya Jiyeon dengan wajah yang tak percaya

“Yap… tidak terjadi apapun dengan kita berdua tadi malam.” Tambahnya seraya menggengam kedua pundak milik Jiyeon.

Kemudian gadis itu pun bertanya sekali lagi kepada pria yang ada dihadapannya.“ La-lalu kenapa kau, tidur disampingku dengan bertelanjang dada?”

Kemudian pria itupun membalas pertanyaan Jiyeon dengan tersenyum tipis. “Tadi malam kau muntah diatas mantelku dan aku langsung melepaskan mantel ku didalam kamar mandi untuk membilasnya tapi sebelum aku membilas mantel ku aku membuka kemejaku dulu dan walah kau malah memakai kemejaku saat aku kembali setelah usai mencuci mantelku.”

“Trus, kenapa kau tidur disampingku? Kau kan bisa langsung kembali kekamarmu!”

“Sebenarnya aku juga ingin segera kembali ke kamarku sendiri tapi kau sendiri yang menarik lenganku untuk tidur bersamaku bahkan kau memeluk ku dengan erat sepanjang malam.”

Mendengar itu Jiyeonpun hanya diam terpaku, dia sama sekali tak bisa mengingat apa  yang sudah terjadi pada dirinya. Lalu Donghae mulai mendekatkan dirinya dihadapan Jiyeon yang sedang terpaku. “Apakah malam nanti kau ingin aku temani lagi?” Ucap Donghae dengan tersenyum nakal sambil mengelus sebelah pipi Jiyeon, sontak gadis itu langsung terbangun dari lamunannya dan langsung melempar bantal yang tak jauh dari dirinya tepat diwajah pria itu. Tapi itu tak terjadi karena Donghae berhasil mengelak sabelum itu terjadi.

Pria itupun mulai terkekeh didepan yeoja tersebut dan setelah itu berkata. “Nanti kalau kau mau aku temani tidur lagi nanti malam kau tinggal ketuk saja pintu kamarku ya, Nona Park Jiyeon-ssi.” Ujar Donghae sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis kepada Jiyeon dan setelah itu ia pun pergi berlalu.

“A-apa maksud ucapannya itu? Me-mengetuk pintunya?! Mwo??! Yak!!! Dasar Pria mesum!!!” Teriak Jiyeon dengan kedua pipi yang merona merah.

~OoO~

~ Di malam harinya ~

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan sekarang jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Donghae mulai khawatir dengan Jiyeon karena sedari pagi hingga malam gadis itu tak pernah keluar dari kamarnya. Walaupun dirinya sudah berusaha memanggil nama gadis itu dan bahkan sudah membawakan sarapan dan makan siang didepan pintu kamarnya tetap saja Jiyeon tak menyentuh makanan yang dia bawakan untuk Jiyeon. Dan dimalam harinya Donghae pun mengetuk kembali pintu kamar Jiyeon.

“Jiyeon-ssi, keluarlah untuk makan malam. Aku sudah memasakkan untukmu.”

Cukup lama Donghae menunggu balasan dari dalam kamar tersebut dan tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam kamar tersebut. “Bruuk!!” Setelah itu terdengar suara Teriakan yang menyusul. “Aaakkkhh!!!” mendengar itu Donghae langsung mendobrak pintu kamar Jiyeon dan saat pria itu melihat kedalam ruangan tersebut dia melihat Jiyeon sudah jatuh dibawah lantai tak berdaya. Donghaepun langsung berlari menghampiri Jiyeon. “Jiyeon-ah, apakah kau baik-baik saja?” Tanya Donghae namun Jiyeon membalasnya dengan wajah yang menyeringai kesakitan sambil sebelah tangannyanya menutupi pergelangan kakinya.

“A-aku baik-baik saja, a-aku hanya…” Tiba-tiba Donghae langsung meraih jari jemari Jiyeon dan setelah itu mengangkatnya dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat kedua pergelangan kaki Jiyeon sudah berwarna kebiruan.

“Ada apa dengan kedua kakimu, Jiyeon-ah? Senjak kapan kakimu terluka?” Tanya Donghae dengan wajah yang cemas.

“Aku baik-baik saja. ini bukanah hal yang besar, lagipula itu tak terasa sakit.” Kilah gadis itu dan tanpa terduka Donghae langsung mencengkram pergelangan kaki Jiyeon yang sudah berwarna kebiruan tersebut. Sontak yeoja itupun berteriak kesakitan. “Appo…! Yak! Apa yang sedang kau lakukan?”

“Katamu itu tak sakit?” Ejeknya dengan wajah yang datar. Melihat ekspresi wajah lawan bicaranya seperti itu membuat Jiyeon menghirup nafas yang panjang. Kedua mata Jiyeon mulai berkaca-kaca. Donghae menyadari kalau Jiyeon sedang menahan rasa sakitnya, lalu tubuh mungil gadis itupun diangkat olehnya dengan mudahnya. “Yak! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” Pinta Jiyeon.

Tapi Donghae tak menjawab apapun dan malahan Donghae mulai berlari sambil menggendong Jiyeon sampai kedalam mobil. “Kita mau kemana, Donghae-ssi?” Tanya Jiyeon tapi tetap tak disahut oleh pria itu. Dan Donghaepun mulai menghidupkan mesin mobilnya dan mengendarai kendaraannya dengan laju yang cukup cepat.

~OoO~

Mobil yang dikendarai Donghae berhenti tepat didepan UGD. Setibanya disana Jiyeonpun di gendongnya menuju masuk kedalam UGD. Disana kedua kaki Jiyeonpun dirongsen. Pria itu takut bila kedua kaki Jiyeon mengalami sesuatu yang parah. Untungnya pergelangan kaki Jiyeon hanya terkilir dan kemungkinan selama seminggu kedua kaki Jiyeon akan pulih. Setelah mendengar hasil pemeriksaan Jiyeon, Donghaepun merasa lega.  “Untunglah kau tak apa-apa, Jiyeon-ah.” Ujarnya seraya membelai puncak kepala gadis itu. Untuk beberapa detik jantung Jiyeon pun berdetak dengan cepat. “Deg…deg…deg…”

“Ada apa dengan ku, kenapa jantungku tadi berdebar-debar? Mungkinkah…??? Itu tak mungkin karena aku tak percaya dengan hal semacam itu…” Ucapnya dalam hatinya.

~OoO~

~ Pov Jiyeon ~

Hidupku jauh dari kata tak sempurna. Banyak orang-orang menatap diriku dengan takjum tapi tak banyak juga orang yang mencibir diriku. Aku tak peduli dengan itu semua. Aku suka dengan kehidupanku sekarang. Persetan dengan perkataan orang lain. Aku bahkan bisa membuat orang yang awalnya tak menyukai ku menjadi sangat mengilai diriku.

Terdengar tak mungkin bukan ditelinga kalian bahkan bisa dibilang terkesan omong kosong tapi inilah kenyataannya. Semua didunia ini dapat dibeli dengan  yang di namakan uang. Uang bisa berbicara saat kita tak mampu mengungkapkan apa-apa. Uang bisa membuat kita disegani oleh orang banyak. Uang-pun dapat membeli harga diri bahkan yang dinamakan cinta-pun bisa dibeli olehnya.

Cinta sejati? Banyak orang diluar sana yang menginginkan mendapatkan cinta sejati tak terkecuali diriku sendiri. Awalnya aku juga berfikir seperti itu dan berharap kekasihku saat itu juga mencintai ku dengan tulus namun apa yang aku dapatkan darinya? Hanya pengkhianatan yang kuterima. Berani-beraninya dia menduakan cintaku dengan wanita yang tak lebih baik dari diriku.

Kenapa aku mengatakan gadis itu tak lebih baik dariku bahkan disegi latar belakangnya saja jauh sekali dibandingkan diriku. Gadis itu hanya seorang anak penjual bunga, sedangkan aku adalah anak tunggal dari seorang konglongmerat yang sukses.

Masalah pendidikan jangan ditanya, Aku mendapatkan gelar M.A.B, bisa disebut juga dengan (Master of Business Administration) di Universitas yang terkemuka di Canada. Bukan hal yang sulit bagiku karena IQ yang kumiliki diatas rata-rata jadi tak sulit untuk diriku mendapatkan gelar itu diusia ku yang dini, sedangkan gadis itu apa? Dia hanya lulusan sekolah menengah keatas.

Mungkin kalian berfikir dia sangat cantik bukan? Bagiku kata cantik adalah relatif bagi semua kaum wanita. Tapi tak semua wanita cantik luar dalam. Ada yang seorang gadis yang berwajah mempesona tapi memiliki hati busuk. Yah seperti yeoja itu. Dia tahu pria itu sudah mempunyai kekasih tapi masih saja tak tahu diri mendekati dirinya.

Dari gadis itulah aku belajar untuk mempunyai dua wajah. Berwajah polos tak tahu apa-apa tapi dibelakang siap menikam orang tersebut. Sahabat yang sangat aku percayai ternyata berkhianat dibelakangku. Teganya dia merebut kekasih sahabat karibnya sendiri padahal saat aku berteman aku tak pernah memikirkan tentang kasta seseorang. Tapi semenjak mengenal dirinya, semua pikiran itu aku buang jauh-jauh dari kehidupanku.

Semuanya hanyalah kedok. Semua orang yang berwajah baik disekitarku hanyalah topeng belaka. Sekarang aku bahkan tak percaya dengan namanya cinta sejati. Itu hanya akan ada didalam novel roman picisan  saja, tak ada hal yang seindah itu didalam kehidupanku. Jadi untuk apa aku harus mengharapkan hal semacam itu? Itu hanya akan membuang waktu ku yang berharga. Aku tak butuh cinta. Yang dibutuhkan didunia ini hanyalah uang. Uang bisa membeli kekuasaan. Uang bisa membuat kita jadi terkenal dan disegani banyak orang. Uang bahkan bisa membeli apa saja bahkan hal yang tak masuk akal pun bisa terjadi  seperti  CINTA….

Dan mulai detik itupun moto hidupku berubah. Jiyeon yang polos, baik dan ramah sudah lenyap. Kini yang ada hanyalah Jiyeon yang mempesona, berkarisma dan high class dan disinilah kisah baru ku dimulai…

Pov Jiyeon-end

~OoO~

Setibanya di depan rumah, Donghae lalu membawa Jiyeon kedalam. Karena kedua kaki Jiyeon di gips jadi mau tak mau Donghae harus yang menggendong Jiyeon sampai kedalam kamarnya.  Jiyeon pun lalu diturunkan di sofa panjang yang ada didalam kamar gadis itu.

“Kau tunggulah disini, aku akan bawakan makanan kesini.” Saat Donghae hendak pergi, Jiyeon lalu menarik kerah lengan milik pria tersebut otomatis Donghae pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh kearah Jiyeon.

Gomawoyo, Donghae-ssi.” Ucap Jiyeon dengan tertunduk malu. Lalu namja itu membalas perkataan Jiyeon dengan senyum tipisnya sambil sebelah tangannya mengacak-acak lembut puncak rambut milik Jiyeon dan setelah itu Donghaepun pergi kedapur.

Setelah melihat pria itu pergi berlalu Jiyeon pun kemudian mencengkram kuat sebelah dadanya. Kali ini gadis itu memukul-mukul pelan atas dadanya dan berkata. “Kenapa sedari tadi jantungku terasa sesak? Tak biasanya aku merasakan hal seperti ini. hal ini membuatku menjadi tak nyaman apalagi saat Donghae-ssi ada disampingku? Tak mungkin kan aku…” belum sempat gadis itu menyelesaikan perkataannya ternyata sudah ada seseorang dihadapannya.

“Tak mungkin apa? Nona Park Jiyeon-ssi?” Tanya pria itu sambil menyondongkan wajahnya dihadapan gadis itu. Sontak Jiyeon langsung memundurkan tubuhnya kebelakang dengan kedua mata yang membulat lebar karena kaget.

“I-itu… bukan urusanmu?” Kata Jiyeon dengan wajah yang gugup.

Untuk beberapa detik Donghae menatap dalam kedua mata milik gadis itu dan semua itu membuat Jiyeon semakin tak nyaman dengan apa yang sedan pria itu lakukan. “Apa yang sedang kau lihat, Tuan Lee Donghae-ssi? Aku tahu kalau diriku sangat cantik dan mempesona.” Ujar Jiyeon dengan senyuman yang menggoda melihat itu wajah Donghae pun berubah kemerahan dan tak lama iapun tertawa terbahak-bahak…

“Hahaha!!!” Tawanya geli dan itu membuat Jiyeon menjadi bingung dan marah.

“Yak!!! Hentikan tawamu itu! Itu tak lucu, Tuan Lee Donghae-ssi! Apakah aku terlihat lucu!” Bentak gadis itu.

Lalu Donghae menghentikan tawanya saat melihat ekspresi gadis itu yang terlihat sangat marah kepadanya. Dengan perlahan-lahan namja itu berjalan dan menghampiri Jiyeon seraya mendekatkan wajahnya didepan gadis itu. “Kau tidak lucu, Jiyeon-ah. Kau memang cantik, tapi dimataku kau itu masihlah gadis kecil.” Ucap Donghae sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Jiyeon. Diperlakukan seperti itu Jiyeon menjadi kesal dengan kasarnya gadis itu menepis tangan Donghae dari atas kepalanya. “Aku bukan anak kecil lagi! Aku bahkan bisa menikah dengan umurku sekarang ini! Banyak pemuda yang mengantri untuk meminangku, tinggal aku tunjuk siapa saja yang aku inginkan menjadi calon suamiku bahkan detik ini juga aku bisa memilih siapa yang akan menjadi calon suamiku kelak.” Lontar gadis itu dengan angkuhnya.

Mendengar ucapan yang baru saja dikatakan oleh Jiyeon dihadapannya, tiba-tiba Donghae meraih sebelah tangan Jiyeon kemudian namja itu mengecup lembut atas punggung tangan milik Jiyeon setelah itu iapun berucap dengan suaranya yang pelan namun terdengar lantang di kedua daun telinga gadis itu. “Kalau seandainya aku yang meminangmu saat ini? Apakah aku langsung diterima olehmu?”

Gadis itu langsung terdiam terpaku. Kedua pupil milik gadis itupun mulai membesar saat menatap pria yang ada dihadapannya sekarang. Namun keadaanku tak berlangsung lama. Jiyeon pun dengan perlahan-lahan melepaskan tangannya dari gengaman Donghae.

“Hentikan, Donghae-ssi. Berhentilah kau mengoda ku. Lelucoan mu itu tidaklah lucu.” Sambil membuang wajahnya dari hadapan Donghae. Mendengar itu Donghae pun tertunduk dan bergumam pelan. “Apakah menurutmu itu Lelucoan?” Sembari menyunggingkan keatas sudut bibirnya yang tipis. Lalu Donghae pun berdiri dari atas ranjang miik Jiyeon dan berkata. “Lelucoanku tak lucu ya, Nona Park Jiyeon-ssi? Jadi lupakan saja perkataan ku barusan anggap saja kau tak pernah mendengarkannya, oke?” Dengan tersenyum lebar.

“Eh…?”

“Ya… kalau begitu aku kembali kekamar ku dulu ya, oh iya jangan lupa untuk memakan makanan yang sudah aku bawakan ya, kalau begitu selamat malam.” Tambahnya dan setelah itu pria itu pun pergi meninggalkan Jiyeon yang masih terlihat bingung.

~OoO~

~ Keesokan paginya ~

Dengan langkah yang tertatih-tatih, Jiyeon berjalan masuk kedalam kamar mandi. Ternyata gadis itu hendak mandi karena kebetulan kemarin ia tak sempat membersihkan tubuhnya dan Jiyeon merasa tak enak hati bila meminta Donghae mengantarkannya masuk kedalam kamar mandi karena alasan yang kemarin membuatnya menjadi canggung dihadapan pria itu.

“Jiyeon-ah, kau janganlah manja. Kau tak boleh selalu membebani dirimu kepada Donghae. Apakah kau mau dikatakan gadis kecil lagi olehnya.” Ungkap Jiyeon. Setibanya didalam kamar mandi gadis itupun membuka gipsnya perlahan-lahan dari kedua kakinya setelah itu Jiyeon melepaskan sehelai demi sehelai pakaian yang melekat ditubuhnya.

Setelah itu Jiyeonpun berjalan dengan berlahan-lahan, sesekali ia mengigit bibir bawahnya karena ia berusaha menahan rasa sakit di daerah pergelangan kakinya dan tiba-tiba tubuhnyapun oleng dan tanpa berdaya gadis itupun jatuh terbaring dengan posisi kepala yang jatuh terlebih dahulu kebawah lantai.

“Aaahhhkkk!!!” Jeritnya kencang. tak sengaja teriakan Jiyeon terdengar sampai keluar dan terdengar oleh Donghae. Mendengar jeritan itu, Donghae pun langsung berlari kedalam kamar Jiyeon.

“Jiyeon-ah, ada apa denganmu?” Tapi saat Donghae masuk kedalam kamar tersebut dia tak menemukan sosok gadis itu disana. “Jiyeon-ah? Park Jiyeon-ssi?? Dimana kau?” Panggil Donghae dan terdengarlah suara benda terjatuh dari arah kamar mandi. Donghae pun langsung berlari ke depan pintu kamar mandi dan mengetuknya dari depan.

“Tok…tok..tok…”

“Jiyeon-ah, apakah kau baik-baik saja?” Panggil  pria itu namun tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Kemudian Donghae memanggil nama gadis itu sekali lagi. “Jiyeon-ah… Park Jiyeon-ah?! Gweanchana??

Jiyeon berusaha membalas panggilan dari Donghae tapi entah kenapa suara gadis itu tak bisa keluar dari tenggorokannya. Tubuh Jiyeon sama sekali tak bisa digerakan, gadis itu merasa seluruh anggota tubuhnya seperti lumpuh dan Jiyeon pun mulai meneteskan airmata. “Donghae-ah, tolong aku…” Teriak batin Jiyeon.

Tak berapa lama terdengar suara panggilan dari luar pintu kamar mandi. “Jiyeon-ah, aku masuk sekarang ya.” Mendengar kaimat itu Jiyeon langsung panik. “A-aniya!! Kau tak boleh masuk disaat ini!” Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada Donghae agar laki-laki itu tak masuk kedalam tapi semua mustahil baginya, bergerak saja tak bisa apalagi berteriak. Dan saat pria itu masuk betapa terkejutnya Namja itu saat melihat tubuh Jiyeon tanpa memakai sehelai benangpun sedang berbaring tak berdaya dibawah lantai. Sontak namja itu langsung kembali keluar dan membanting kencang pintu kamar mandi tersebut.

Tubuh Donghae terlihat gemetar dan kedua matanya terbuka lebar sambil menyandarkan belakang punggungnya di depan pintu kamar mandi. “A-apa yang harus a-aku lakukan padanya? Seharusnya a-aku tak melihat pemandangan yang seperti itu??”

Disisi lainnya. Jiyeon sama sekali tak bisa berkutik. Ada rasa malu yang sangat teramat yang dirasakan Jiyeon. “Jiyeon-ah… habislah riwayatmu kali ini.” Rintih gadis itu dengan meneteskan airmata.

“Bruk!!!”

Ada seseorang yang membuka pintu kamar mandi dengan kasar dan masuklah seseorang kedalam kamar mandi tersebut dengan membawa sehelai seprai yang besar dan kemudian seprai itupun di taruhnya keatas tubuh Jiyeon.

“Jiyeon-ah, bertahanlah sebentar lagi. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit.” Ucap Donghae setelah itu tubuh Jiyeon yang sudah tertutup dengan seprai di bopongnya di sebelah pundaknya. Gadis itupun tak mampu berkata apapun didepan pria itu. Pikiran Jiyeon terasa blank, entahlah apa yang harus dia rasakan sekarang. Apakah dia harus merasa bersyukur atas pertolongan Donghae padanya atau rasa sangat malu atas apa yang barusan saja terjadi pada dirinya. Semuanya bercampur aduk dan Jiyeon pun tak mampu mengekspresikan perasaannya saat ini.

~OoO~

~ Di rumah Sakit ~

Setibanya disana para juru medis mengambil tindakan. Donghae tak bisa menunggu Jiyeon karena gadis itu segera dipindahkan ke ruang instalasi khusus. Beberapa jam kemudian Donghae pun dipersilakan masuk keruang perawatan Jiyeon. disana sudah ada Jiyeon yang sedang berbaring dengan kedua kaki di gips dan di leher Jiyeon pun tak luput dari gips. Ternyata saat terjatuh tadi dikamar mandi, leher gadis itu tercengklak dan kemungkinan gips itu akan dikenakan oleh Jiyeon selama dua minggu kedepan. Namun apabila penyembuhannya lebih cepat kemungkinan seminggu dari sekarang Jiyeon bisa membukanya. Mendengar penjelasan dari dokter, Donghaepun merasa bersyukur karena keadaan Jiyeon tak terlalu serius walaupun sebenarnya pria itu tak tega juga melihat keadaan Jiyeon.

Hampir seminggu Donghae menunggu Jiyeon dirumah sakit hingga gadis itu sembuh dari sakitnya dan selama seminggu itu juga Jiyeon merasa canggung kepada Donghae. Namun nampaknya Donghae seperti tak merasakan hal yang selama ini berkecambuk diddalam hati wanita ini. Sebenarnya Jiyeon sangat ingin bertanya tentang kejadian dikamar mandi. Apakah dia menlihat semuanya? Tapi hal itu selalu diurungkan Jiyeon. Dia merasa malu bila menanyakan hal itu terlebih dahulu.

~OoO~

~ Seminggu kemudian ~

Donghae dan Jiyeon kembali kerumah kediaman Donghae. Setibanya disana Jiyeon langsung beristirahat didalam kamarnya tak terkecuali Donghae. Pria itupun setelah mengantarkan Jiyeon ke dalam kamar gadis itu, Donghae pun lalu kembali kekamarnya untuk beristirahat.

“Pasti dia sangat lelah sekali. Lebih baik hari ini aku tak menggangunya” Gumam gadis itu. “Nampaknya aku juga harus terbiasa berjaan mulai saat ini agar kedua kakiku tak terlalu kaku setelah pelepasan gips di kedua kakiku, sepertinya leherku juga agak kaku. Aku harus banyak olahraga mulai sekarang. Jiyeon-ah, Fighthing!”  Ucap Jiyeon sambil memberi semangat pada dirinya.

~OoO~

~ Di sore harinya ~

Jiyeon sudah ada didalam ruang dapur, gadis itu sedang sibuk membuat makan malam untuk dirinya dan Donghae. Tak beberapa lama kemudian Donghae mendatangi Jiyeon yang sedang sibuk memasak.

“Apa yang sedang kau lakukan, Jiyeon-ah?”

“Ah..?” Sambil menoleh kearah Donghae yang tepat berdiri disampingnya. “Apa kau tak bisa melihatnya?” Tambah Jiyeon dengan nada yang ketus terhadap Donghae kemudian gadis itu melanjutkan kesibukannya memotong kubis.

“Aku tahu kau sedang akan memasak yang jadi masalah aku baru pertama kali melihat kau berada didapur untuk memasak, aku hanya takut kau nanti membakar seisi dapur ku saja.” Balas Donghae dengan nada yang mengejek. Mendengar itu Jiyeonpun menghentikan acara memotong-motong kubisnya dan kemudian gadis itu melirik kearah donghae sambil menggengam sebelah pisau.

“Ahh… kebetulan aku sedang kekurangan danging apakah kau mau menjadi tambahan di tumis danging ku?” Tanya Jiyeon seraya mengarahkan sebilah pisaunya dihadapan namja itu. Donghae pun mulai memundurkan langkahnya sambil tersenyum kecut. “Yah! Kau tak bisa diajak becanda park Jiyeon-ssi?” Kata Donghae. Namun balasan sari Jiyeon sebaliknya gadis itu malah mempercepat langkah kakinya untuk mendekati pria itu.

Tiba-tiba ponsel Donghae pun berbunyi. “biibb…biib..bbiiib…” Donghae pun langsung segera mungkin mengambil ponselnya yang ada didalam saku celana panjangnya.

Yeoboseo?” Terdengar suara wanita dari balik ponsel Donghae yang tak sengaja terdengar oleh Jiyeon. “Aku harus menerima telepon dulu.” Ujar namja itu, Lalu Donghae menempelkan ponselnya disebelah telinganya.

“Ada apa kau menelefonku, Sooyoung-ssi?” Tanya Donghae.

“Ya… mungkin kurang dari seminggu kita akan bertemu lagi, kau tidak sedang merindukan ku kan?” Celetuk Donghae diteponnya dan ternyata Jiyeon diam-diam menguping pembicaraan pria itu. Merasa dirinya sedang diperhatikan oleh Jiyeon, Donghae pun langsung mengakhiri percakapannya.

“Nanti kita lanjutkan lagi ya, Sooyoung-ah. Nampaknya ada seseorang yang sedang menguping disampingku.” Sindir Donghae kepada Jiyeon, otomatis Jiyeon lalu pergi menjauh dari pria tersebut.

Setelah menyelesaikan percakapannya ditelepon, Donghae lalu menghampiri Jiyeon. “Kenapa kau dari tadi menempel-nempel didekatku, Jiyeon-ssi? Apa kau cemburu?” Ujar Donghae dan itu membuat Jiyeon jadi salah tingkah. “Yak!!! A-aapa maksudmu? Ce-cemburu?!” Balasnya dengan nada yang tersendat-sendat.

“Hemm… kalau bukan cemburu lalu apa?” Tanya Donghae lagi seraya berjalan untuk sedikit lebih mendekat lagi kepada  gadis itu. Tiba-tiba…

“Kring…kring…kring…”

Kali ini suara ponsel milik Jiyeonlah yang berbunyi. Dengan cepat gadis itu langsung meraih ponsel yang ada diatas meja dapur setelah itu iapun  mengankatnya.

Yeoboseo…” Ucap Jiyeon dan disahut oleh orang yang ada diseberang telepon. “Jiyeon-ah, aku akan segera ketempatmu ya? Ada yang mau aku bicarakan padamu.” Kata namja yang ada dibalik telepon tersebut. “Memangnya kau tahu dimana aku berada?” Tanya Jiyeon dengan nada yang bingung. “Tentu aku tahu, aku kan baru saja dari rumah mu dan disana juga aku diberitahu alamat rumahmu. Sudahlah yang jelas kau tunggu aku disana ya.”

Kemudian telepon itupun ditutup secara sepihak. Jiyeon berusaha memanggil-manggil nama penelepon tersebut. “Minho-ah… Yak! Choi Minho-ssi!” Panggil Jiyeon dengan geram. Donghae yang melihat Jiyeon yang terlihat kesal membuat pria itu tersenyum tipis didepan gadis itu dan gerak-gerik Donghae tak sengaja dilihat oleh Jiyeon.

“Apa yang kau tertawakan, apakah itu lucu!” Ujar Jiyeon sambil berkacang pinggang.

“Siapa dia? sepertinya kau sangat terkejut saat dia akan kesini?” Tanya Donghae.

Lalu Jiyeonpun mempunyai ide untuk membalas perkataan Donghae saat tadi kepada dirinya. Dengan nada yang santai Jiyeonpun menjawab. “Dia itu orang yang spesial dihidupku. Siapa tahu mungkin saja ia yang akan menjadi calon suamiku kelak.” Imbuh Jiyeon dengan wajah angkuhnya. Tapi ekspresi ya ditunjukan Donghae berlainan yang seperti yang dia inginkan. Ekspresi wajah namja itu sangatlah datar dan dingin.

Bahkan pria itu bisa menenguk minuman kalengnya dengan santai kemudian tersenyum dihadapan Jiyeon dan berkata “Wah… pastinya Uri Jiyi, sangat senang sekali ya. Kalau begitu segeralah kau berdandan kasian nanti pangeranmu datang kesini kau tak terlihat cantik. Jangan membuat dirinya kecewa, araseo?” Ucapan Donghae kemudian pria itupun berlalu dari hadapan Jiyeon.

Melihat Donghae memperlakukan dirinya sangat dingin bahkan bisa dibilang sangat acuh pada dirinya, membuat gadis itu sedih. “Yah… ada apa dengan dirimu, Jiyeon-ah? Kenapa aku yang jadi sedih dan kesal sekarang?” lirih batin Jiyeon.

Ditempat yang lainnya Donghae berjalan-jalan kedepan halaman dengan membawa sekaleng oreng jus ditangannya. Sesekali soft drink itu diteguknya dengan kedua matanya yang menatap tajam kearah kejauhan sepertinya, pria itu sedang menunggu sesuatu.

“Sial! Kenapa aku jadi sangat kesal? Lalu kenapa aku jadi ingin sekali melihat sosok pria yang dikatakan snagat spesial itu? Kenapa aku jadi ingin segera membawa Jiyeon pergi sekarang, agar dia tak bertemu dengan namja itu?” Gumamnya penuh amarah dan tanpa Donghae sandari minuman kaleng yang ada digengamannya, sudah remuk karena ia meremasnya cukup kencang sampai-sampai isi didalam kaleng itu tumpah membasahi tangannya.

~OoO~

“Kring…kring…kring…” telepon gengam Jiyeon pun berbunyi kembali. Tapi kali ini yang menelepon adalah ayahnya Jiyeon.

“Appa?? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Jiyeon dari teleponnya.

“Aku baik-baik saja sayang. Ayah mau memberitahumu kalau besok  kau ingin ayah kenalkan dengan seorang namja yang baik. Dan apabila kau merasa cocok mungkin kita bisa ketahap selanjutnya.”

Mwo??? Bagaimana mungkin ayah membicarakan hal semacam itu sekarang. Tak mungkin aku akan segera bertunangan dalam waktu dekat ini. Jadi ini rencana Ayah menyuruhku tingga didesa?”

“Betul sekali, ayah memang sengaja menyuruhmu tinggal disana agar kau bisa mandiri dan lagi Donghae-ssi sudah mengetahuinya bahkan calon untuk mu dia juga tahu.”

Untuk beberapa detik gadis itu terdiam saat mendengar kalau laki-laki yang selama hampir satu bulan ini bersama dengan dirinya sudah tahu semua rencana ayahnya. Dengan suara yang bergetar Jiyeon bertanya kepada ayahnya. “Memangnya si-siapa calon suami ku, appa? Apakah aku tahu orangnya?”

“Tentu kau tahu. Dia akan ada disana bersama dengan mu. kalau begitu nanti ayah hubungi kamu lagi ya, Jiyeon-ah..” Telepon itupun ditutup oleh Tuan Park terlebih dahulu.

“Tak… mungkin… kalau dia itu calon suamiku? Aku tak mau!!” Teriak Jiyeon kemudian gadis itu langsung berlari untuk menemui Donghae.

Setelah bertemu dengan pria itu, Jiyeon langsung memeluk erat belakang punggung milik namja itu dan berkata. “Donghae-ssi tolong bawa aku pergi sekarang.”

“A-ada apa dengan dirimu, Jiyeon-ah?” Tanya Donghae bingung seraya melepaskan gengaman tangan Jiyeon yang melingkar di pinggangnya. “Apakah kau baik-baik saja?” Tanya Donghae dengan wajah yang cemas karena melihat kedua mata Jiyeon yang mulai berkaca-kaca seperti ingin menangis. “Baiklah, kalau kau belum bisa menceritakan padaku sekarang. mari aku antar kau pergi jalan-jalan.” Ujar Donghae dan di sahut oleh Jiyeon dengan anggukan kepala. Kemudian mereka berduapun pergi dengan menggunakan mobil sedan hitam milik Donghae.

~OoO~

Disepanjang jalan Jiyeon sama sekali tak bersua. Dia tetap terdiam dan itu membuat suasana di antara mereka bedua menjadi canggung. Sesekali Donghae menatap kearah kaca spionnya untuk melihat Jiyeon. Dia ingin sekali bertanya kepada dirinya dengan apa yang sudah terjadi tapi dia merasa tak enak hati bila terlalu mengusik privasi Jiyeon.

Tanpa terasa waktu terus berlalu dan sekarang sudah pukul 9 malam. Saat Donghae hendak bertanya kepada Jiyeon tiba-tiba gadis itu yang memulai pembicaraan. “Apakah kau tahu kalau aku akan ditunangkan oleh ayahku?” Tanya Jiyeon dengan nada yang dingin, Donghae pun tersentak kaget. Mobil yang dikendaraai oleh Donghae pun tiba-tiba berhenti secara kasar.

“Ccinnttt!!!” Terdengar suara decitan ban mobil yang cukup kencang. “Bagaimana kau tahu kalau aku tahu mengenai hal itu?” Tanya Donghae seraya menolehkan pandangannya kepada Jiyeon. “Aku tadi baru saja dapat telefon dari appa. Kenapa kau tak memberitahuku dari awal, Donghae-ssi?” Tanya Jiyeon kali ini dengan nada yang bergetar sembari menatap kedua mnik milik Donghae dengan dalam.

“A-aku… ” Dengan tergagap.

“Apakah kau puas sudah berhasil mempermainkan  persaan ku?” Ucap Jiyeon.

“Bu-bukan begitu, Jiyeon-ah… A-aku…”

“Aku tak mau melakukan rencana ayah! Aku tak mau ditunangkan oleh pria yang menjadi pilihan ayah ku!!!” Teriak Jiyeon dihadapan Donghae. “Jiyeon-ah… Sebenarnya aku…” Belum sempat Donghae menyelesaikan perkataannya tiba-tiba ponsel milik namja itu berbunyi.

“Biib…biibbii…” Mau tak mau Donghae mengangkat telefon itu. “Ne… kami akan segera pergi kesana.”

“Aku akan mengantarkan Jiyeon dengan selamat sampai ketempat anda Tuan Park.” Tambah Donghae sambil kedua matanya menatap tajam kearah Jiyeon. Setelah itu Donghae menutup ponselnya dan melanjutkan perjalanan.

~OoO~

~1 jam kemudian~

Tibalah Donghae dan Jiyeon disebuah masion besar milik tuan Park. Saat Donghae hendak keluar dari dalam mobil, Jiyeon menarik kerah lengan milik pria tersebut dan berkata. “Donghae-ssi, bisakah kau menolongku? Aku benar-benar tak ingin melanjutkan pertunangan ini. Kumohon bawalah aku pergi dari sini.” Pinta gadis itu dengan kedua matanya yang sendu.

“Jiyeon-ah… kau harus tetap melanjutkan pertunangan itu. Semua akan baik-baik saja.” Balas Donghae dengan ekpresi wajah yang datar.

“Kau bisa berkata seperti itu dengan mudahnya. Tapi aku, tidak bisa melakukannya semudah itu!!”

“Kenapa kau tak bisa?” Tanya Donghae kembali.

Lalu gengaman tangan Jiyeonpun pindah ke atas kerah milik namja itu. “I-ini semuanya karena kamu, Donghae-ah…”

Mwo??” Balas Donghae dengan wajah yang bingung dan Jiyeon pun tiba-tiba mengecup lembut bibir tipis milik pria itu.

Saranghae Donghae-ah…” Ucap Jiyeon. “Jadi tolong bawalah aku jauh dari sini.” Dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Tapi balasan Donghae sebaliknya ia malah berucap sangat dingin didepan Jiyeon sambil melepaskan kedua tangan Jiyeon dari atas tubuhnya.

“Maafkan aku, Jiyeon-ah. Aku tak bisa melakukannya.” Lalu membuang wajahnya dari pandangan Jiyeon. melihat itu gadis itupun tak sanggup lagi menahan air matanya. Dengan suara yang bergetar Jiyeonpun berkata sebelum ia pergi dari dalam mobil. “Baiklah… bila itu mau mu, memang sudah nasipku selalu merasakan cinta sepihak semacam ini.” Kemudian Jiyeonpun keluar dari dalam mobil Donghae dengan berurain air mata.

~OoO~

Jiyeon pun lalu masuk kedalam masionnya yang ternyata disana sudah ada ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu. Lalu Tuan Parkpun bertanya kepada Jiyeon kemana Donghae. Tapi Jiyeon membalasnya dengan nada yang dingin.

“Untuk apa, Ayah menanyakan dia?”

“Aku hanya ingin tahu saja, bukannya kau kemari ditemani oleh Donghae?” Tanya Tuan Park kembali pada putrinya.

“Sudahlah, appa. Aku tak mau basa-basi lagi. aku akan menerima pertunangan itu bahkan bila aku harus langsung menikahi dia aku sudah tak peduli! Kalau bisa malam ini juga kita melaksanakannya.” Kata Jiyeon penuh emosi. Ayahnya sempat bingung, kenapa anaknya tiba-tiba marah-marah tak jelas kepadanya.

“Kita bisa melakukannya esok tau tidak seminggu lagi dari sekarang.” Kata Tuan Park.

A-ani… aku ingin malam ini juga! apabila tak dilakukan pada malam ini juga aku tak akan pernah mau melakukannya!!!” Teriak Jiyeon lalu ia naik keatas kamarnya.

Didalam kamar Jiyeon mulai menagis terisak-isak. Didalam hatinya ia tidak mau melakukan hal semacam itu tapi mau bagaimana lagi. untuk apa dirinya mempertahankan seseorang yang sudah jelas-jelas melepaskannya untuk pria lain.

~OoO~

~ Pov Jiyeon ~

Malam ini adalah malam dimana aku akan benar-benar melupakanmu. Aku akan melakukan pertunangan ini bila itu keinginanmu. Aku tahu selama ini hanya aku saja yang jatuh hati padamu. Bahkan sekarangpun saat bertemu denganmu aku merasakan jatuh cinta kembali terhadap dirimu.

Awalnya aku ingin mempercayai apa itu cinta bila aku jatuh cinta padamu. Tapi nampaknya kata cinta itu sangat jauh dari diriku. Kalimat cinta itu bagiku hanyalah penderitaan. Sebelum aku jatuh hati padamu aku sudah sering merasakan sakit hati seperti macam ini.

Tapi kenapa aku sangat sedih saat ini? padahal dulu aku tak sesedih ini? Tak ada yang bisa aku lakukan sekarang. sekarang aku hanya bisa berdoa semoga ada mukjizat yang mempersatukan kita berdua. walaupun itu hanya keinginanku seorang.

~ Pov Jiyeon – End ~

~OoO~

~Di malam harinya~

~Tepat pukul 10:00 PM~

Tuan Park dan Jiyeon sudah menunggu tamu yang akan mengunjungi mereka. Wajah gadis itu terlihat sangat sedih. Tuan Park menjadi terbawa suasana diapun lalu menggengam lembut jari jemari putrinya. “Apakah kita urungkan saja acaranya. Kita lakukan minggu depannya atau tidak dihari lainnya, Bagaimana Jiyeon-ah.”

Tapi pertanyaan itu dibalas oleh putrinya dengan gelengan kepala yang masih menunduk. Sesekali Jiyeon berusaha menahan airmatanya namun itu percuma airmatanya terus menetes dikedua pipinya. Tapi sebelum terlihat oleh Tuan Park, Jiyeon sudah menghampusnya.

Tak berapa lama kemudian datanglah tamu yang sedang ditunggu-tunggu. Jiyeonpun lalu menegadahkan kepalanya dan Jiyeonpun kaget saat melihat disana sudah berdiri sosok seorang pria berpakaian jas yang dia harapkan muncul untuk membawanya pergi dari acara ini.

Donghae-ah, apakah itu kau?” Ucap Jiyeon pelan.

“Kenapa kau ada disini? Apakah kau ingin menyaksikan aku dipinang oleh pria lain? Dan begitu mudahnya memberikan restu padaku? Kau sangat jahat sekali, Donghae-ah.” Ungkap batin Jiyeon dengan menatap sosok Donghae dari kejauhan.

Ternyata Donghae datang ke rumah kediamaan Jiyeon tidak lah sendiri ia datang bersama dengan ayahnya dan ibunya. Jiyeon pun semakin kesal dengan Donghae karena pria itu bertingkah laku seperti tak terjadi apapun dengan mereka berdua.

“Dasar Donghae, bodoh! Kenapa kau bersikap begitu dingin padaku. Setidaknya sapalah aku untuk yang terakhir kalinya.” Umpat Jiyeon dalam hati

Lalu Ayah Jiyeonpun berkata. “Baiklah bagaimana kalau kita mulai acaranya.”

“Tunggu sebentar! Kita kan sedang menunggu tamu calon tunanganku? Apakah Ayah lupa?” Tanya Jiyeon sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Ayah tak lupa sayang, apakah kau belum tahu kalau Tunanganmu ada dihadapanmu sekarang?” Balas Tuan Park dengan ternyum geli.

“Ehh??! Tak mungkin apakah ayah becanda? Ja-jadi tunanganku itu… ”

Ne… tunanganmu itu aku, Jiyeon-ah.” Jawab Donghae yang sekarang sudah berdiri disampingnya.

Maldo andwae… Apakah ini mimpi??” Ucap Jiyeon.

A-ani… ini nyata, Jiyeon-ah” Balasnya seraya mengenggam lembut jari jemari milik gadis itu.

“Tuan Park aku pinjam putrimu sebentar ya.” Ujar Donghae kemudian menarik Jiyeon pergi bersama dengan dirinya.

“Yah! Bagaimana kelanjutan hubungannya?” Tanya Tuan Park tapi nampaknya suara pria paruh baya itu tak terdengar oleh Donghae dan Jiyeon.

“Nampaknya kita tak perlu terlalu susah melakukan pendekatan kepada kedua anak kita, Tuan Park? Bagaimana kalau kita membuat tanggal baiknya untuk mereka berdua.”

“Benar itu Tuan Lee, biarkan mereka berduaan untuk malam ini. lagi pula mulai minggu depan mungkin saja mereka akan kita pingit sampai hari “H”.” Celetuk Tuan Park dan merekapun tertawa dengan riang.

~OoO~

Setibanya didepan halaman kediaman Jiyeon. Gadis itu menghempaskan gengaman tangan Donghae dengan kasarnya.

“Lepaskan aku! Apakah sekarang kau puas, sudah berhasil mempermainkan diriku?”

Mianhae, Jiyeon-ah. Aku tak bermaksud seperti itu padamu.”

“Lalu maksudmu ini apa? Apakah menurutmu ini tak menyakiti hatiku?” Ungkap Jiyeon.

“Memangnya kau tak tahu betapa sedihnya aku saat kau bilang tak mau melakukan pertunangan itu?” Balas Donghae dengan tatapan mata yang tajam.

“I-itu… karena aku tak tahu kalau kau yang akan menjadi calon tunanganku. Tapi tetap saja kau salah!” Ujar Jiyeon tak mau kalah.

“Baiklah. Aku minta maaf padamu. Jadi maukah kau memaafkan diriku?” lontarnya seraya menarik tubuh Jiyeon kearah dekapannya.

“Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi kau harus membayarnya dengan sisa umur mu, bagaimana Tuan Lee Donghae-ssi. Apakah kau berani?” Tantang Jiyeon dan disambut baik oleh Donghae. “Siapa takut? Karena itu yang aku inginkan untuk bisa bersama dengan dirimu selamanya. Saranghae Jiyeon-ah…

Dengan tersipu malu Jiyeonpun menjawab. “Nado… Saranghae... Donghae-ah.” Mendengar perkataan dari pujaan hatinya Donghaepun tersenyum senang. Lalu pria itupun mengecup lembut bibir mungil milik Jiyeon dibawah gelapnya langit malam yang hanya disinari oleh sang rembulan yang menambah keromantisan dua insan yang sedang dimabuk asmara.

~OoO~

~Epilogue~

~ 1 Bulan kemudian ~

“Apakah kau bersedia untuk selalu bersama dengan Nona Jiyeon dikala suka maupun duka. Dikala sakit maupun sehat, sampai ajal memisahkan kalian berdua.”

“Aku bersedia.” Ucap sang pengantin pria.

 

“Lalu apakah kau juga bersedia untuk selalu bersama dengan Tuan Donghae dikala suka maupun duka dan dikala sakit maupun sehat, sampai ajal memisahkan kalian berdua.”

“Nde… aku bersedia.” Balas sang pengantin wanita dengan tersipu malu.

 

Setelah mengucapkan janji setianya didepan para saksi setelah itu sang pengantin pria mengecup lembut atas kening pengantin sang perempuan. Setelah itu sepasang pengantin baru  itu pun tersenyum kompak secara bersama-sama dan kemudian mereka berdua  saling menggengam erat tangan antara satu sama lain dengan penuh rasa bahagia.

Cinta… 

adalah suatu kata yang sangat ajaib. Karena cinta bisa membuat seseorang itu menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Namun aku tak merasa keberatan bila aku harus berubah untuknya karena dirinya membuatku menjadi  orang yang lebih baik lagi  dari sebelumnya. 

~The End~

~OoO~

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/

Aku membawakan FF Oneshoot baru lagi nih, semoga kalian menyukainya ya ^^

Oh iya, bagaimana menurut kalian ceritanya kali ini? aku harap kalian semua menyukainya ya  😉 Maaf bila banyak Typo’s yang bertebaran saat membaca cerita ini, maklum author juga manusia biasa ^^

Bagi kalian yang menyukai FF yang biasnya Jiyi kalian bias datang kesini atau kesini 

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Chingu…Karena komentar dari kalian semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya … 😀

See you ….

Khamsahamida (^-^) v

Advertisements

26 thoughts on “[Oneshoot] What is Love?

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s