[Oneshoot] Unseen Love (Nice to Meet You)

UNSEEN LOVE

Main Cast:
Moon Gayoung, Shim Changmin, Seohyun
Other cast:
Oh Sehun, Kim Junmyeon, Choi Sulli
Genre:
Romance, Friendship, Angst
Length: Oneshoot series [about 2550 words]
Rating: PG – 15

Sorry if you find typos 😀

“Satu dua tiga empat lima enam. Aah, akhirnya terkumpul 6 kupon. Aku akan menukarkannya sekarang.” Seorang gadis periang telah menghitung kupon yang ia kumpulkan selama beberapa hari agar dapat makan cakar ayam pedas gratis dengan menukarkan kupon-kupon tersebut di sebuah warung yang menjadi langganannya selama 2 tahun terakhir.

Gadis itu berjalan riang menyusuri gang sepi dekat rumahnya. Ia memerlukan waktu 10 menit berjalan kaki dari rumah atap yang ditinggalinya hampir setahun ini. Moon Gayoung, itulah nama gadis periang yang tak kenal lelah berjalan ke sana kemari. Bagaimana tidak? Gayoung sama sekali tidak memiliki sebuah kendaraan yang dapat digunakan untuk pergi ke suatu tempat. Berjalan kaki lebih menyenangkan, pikirnya.

Tiiin!
Sebuah klakson ditekan selama dua detik. Waktu yang cukup lama untuk membunyikan klakson mobil di gang sepi.

Gayoung terperanjat kaget mendengar bunyi klakson tersebut. Ia menatap kesal pada sebuah mobil mewah berwarna putih yang berjala pelan di depan matanya. Kedua bola mata indah miliknya mengekor mobil putih itu.

“Yaak! Berhenti!” teriak Gayoung sambil berkacak pinggang. Jantungnya hampir saja loncat dari tempatnya saat mendnegar bunyi klakson yang ditekan oleh pengemudi mobil menyebalkan.

Tap tap tap!
Gayoung berjalan mendekati mobil yang berhenti di hadapannya.

Tok tok!
Ia mengetuk kaca mobil itu dan menatap tajam dengan tatapan membunuh. “Keluar sekarang! Dasar tak tahu sopan santun!” gerutunya dengan nada cukup tinggi.

Tak berapa lama kemudian Gayoung mendengar suara pintu mobil dari sisi sebelah kanan terbuka dan muncul lah seorang pemuda tampan nan tinggi semampai.

“Maafkan kami,” ucap pemuda itu.

Gayoung terpesona melihat ketampanan pemuda yang baru saja dilihatnya. Pemuda itu bagaikan hadiah dari surga yang diberikan khusus untuknya. Hampir lupa dengan tujuan utamanya, Gayoung menepuk dahinya agak keras. ‘Bodoh!’ umpatnya pada dirinya sendiri. Ditatapnya pemuda yang berdiripada sisi kanan mobil itu. “Suruh orang yang menyetir tadi keluar!” perintah Gayoung pada pemuda tampan itu. Ia harus bersikap tegas agar tak ada yang berani meremehkannya.

Pemuda bermarga Shim itu membungkukkan punggungnya kemudian meminta sang pengemudi keluar dari mobil.

“Hiish! Ada apa kau menyuruhku keluar, eoh?” Seorang gadis yang nampaknya berumur lebih tua dari Gayoung keluar dari dalam mobil dan menampakkan batang hidung mancungnya pada Gayoung yang tak kuasa lagi menahan kekesalannya.

“Apakah orang tuamu tidak pernah mengajarkan sopan santun pada orang lain, eoh?” Gayoung emosi.

Seohyun, sang pengendara mobil yang sangat dibenci oleh Gayoung malah berkacak pinggang dan mengangkat dagunya. “Kenapa? Ini jalan umum. Kau tidak berhak marah-marah di sini. Bukan salahku jika aku membunyikan klakson di tempat ini. Lagipula kau yang bersalah karena berjalan seenaknya saja di tengah jalan.”

Gayoung menghembuskan nafasnya kasar. Baru kali ini dia bertemu dengan gadis kasar dan sombong. “Kalau begitu jangan lewat jalan ini!” seru Gayoung tak kalah sengit dari Seohyun. Ia pergi begitu saja dari hadapan Seohyun dan Changmin.

“Aigoo…” gumam Seohyun dengan menatap Gayoung dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Gadis ini… benar-benar!” gumamnya lagi sambil menggelengkan kepalanya.

Changmin terkejut melihat Gayoung yang pergi begitu saja setelah berteriak pada Seohyun. Ia tahu bahwa kedua gadis yang berdiri di depannya sama-sama keras kepala dan emosi. “Nona! Tunggu!” teriak Changmin memanggil Gayoung yang sama sekali tak menghiraukan suaranya.

Dengan langkah cepat, Gayoung berjalan menjauhi Changmin dan Seohyun yang menatap punggungnya dengan tatapan tak percaya.

“Sudah biarkan saja, Oppa. Gadis itu benar-benar tidak punya malu. Dia berjalan kaki di tengah jalan dan tidak menyadari kesalahannya. Dasar!” Seohyun membuka pintu mobilnya.

“Tapi tak seharusnya juga kau membunyikan klakson begitu kerasnya. Aku tahu bagaimana perasaan gadis itu,” sahut Changmin yang ikut membuka pintu mobil. “Jangan lupa kalau kau masih belum memiliki surat ijin mengemudi.”

Seohyun berdecak kesal. Ia baru menyadari kalau dirinya belum memiliki surat ijin mengemudi karena baru saja tiba dari Jerman. “Mengesalkan!” gerutunya saat masuk ke dalam mobil.

Matahari mulai menyingsing dan memancarkan panasnya, menyapu seluruh wilayah Korea Selatan hingga membuat banyak orang mengeluarkan peluh. Di bawah terik matahari yang semakin panas, Gayoung berjalan pelan dengan menenteng sekantong plastik cakar ayam pedas yang baru saja didapatnya secara gratis dengan menukarkan kuponnya.

Setelah berjalan beberapa menit, ia memutuskan mampir sebentar di taman kota untuk melepas penat. Sungguh hari yang panas, mengesalkan dan membuatnya gila.

“Aku benar-benar bisa gila kalau hidupku seperti ini. Aku harus mencari pekerjaan lagi dan berusaha untuk tidak membuat masalah. Bagaimana bisa hidupku berantakan begini. Ya Tuhan… apa salahku?” Gayoung merenungi nasibnya yang tak bisa seberuntung orang lain. Ia ingin sekali hidup nyaman dan damai. Tidak memiliki banyak masalah dan memiliki banyak teman. Sambil menikmatu cakar ayam pedasnya, Gayoung mencuci mata dengan melihat sekelilingnya. Banyak pasangan muda yang bercengkerama di taman itu. Lagi-lagi ia harus merasakan sakit hati. Melihat kemesraan orang lain membuatnya teringat kenangan paling buruk dalam hidupnya di mana ia kehilangan seorang kekasih yang sangat ia cintai.

“Andai saja dia tidak selingkuh…” lirih Gayoung dengan ekspresi sedihnya.

“Permisi.”

“Oh ya ampun!” pekik Gayoung dalam hati. Kedua manik matanya membulat saat melihat seseorang yang mendatanginya secara tiba-tiba. “Kau…” lirih Gayoung diiringi jari telunjuknya yang menunjuk ke arah seorang pemuda tampan yang membuatnya kesal tadi pagi.

Pemuda tampan yang tidak lain adalah Changmin, melebarkan senyumnya hingga membuat Gayoung semakin terpesona. “Ah, ya. Kenalkan, namaku Shim Changmin.”

Gayoung tak merespon. Ia masih menatap Changmin lekat-lekat. Dalam hatinya, ia memuji ketampanan Changmin. ‘Mungkin dia orang baik. Tidak seperti gadis itu,’ batinnya.

“Bolehkah aku tahu siapa namamu?” tanya Changmin dengan canggung.

“Moon  Gayoung,” jawab Gayoung singkat tanpa basa-basi. “Ada apa kau mendatangiku?” Pertanyaan macam itulah yang selalu dilontarkan oleh Gayoung saat ada seseorang yang mendatanginya dengan sengaja ataupun tidak sengaja.

Changmin tetap tersenyum. Tentu saja hal itu ia lakukan agar Gayoung tidak berpikiran bahwa dirinya adalah laki-laki yang jahat atau menyebalkan. Tadi pagi, Changmin telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kalau Gayoung sangat tidak menyukai Seohyun dengan sikapnya yang tidak ramah. “Aku tidak sengaja melihatmu keluar dari kedai cakar ayam pedas tadi. Karena aku ingin minta maaf padamu, jadi ku ikuti saja ke tempat ini.”

Gayoung mengerutkan keningnya. Minta maaf? Yang bersalah bukanlah Changmin melainkan gadis menyebalkan yang membuat emosinya melonjak. “Kenapa kau yang meminta maaf? Aku tidak butuh permintaan maaf darimu,” ketus Gayoung.

Changmin menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan. “Aku… mewakili Seohyun meminta maaf padamu.”

“Apakah gadis bernama Seohyun itu mengetahui kalau kau minta maaf padaku untuk mewakili dirinya?”

Pertanyaan Gayoung membuat Changmin sedikit tersentak. Ia tidak menduga kalau Gayoung akan bertanga seperti itu.

“Jika gadis itu yang meminta maaf langsung padaku, aku akan menerimanya dengan lapang dada dan aku juga akan meminta maaf padanya. Maaf, aku tidak bisa menerima permintaan maaf darimu karena bukan dirimu yang bersalah. Permisi.” Gayoung mengangkat tubuhnya lalu berdiri dan mulai melangkahkan kakinya.

Tap!
Changmin memegang tangannya.

“M, maaf.” Changmin melepaskan tangan Gayoung dari cengkeramannya. “Aku mohon maafkan Seohyun. Sekali ini saja. Aku pastikan padamu dia tidak akan membuat masalah jika kau bertemu dengan Seohyun. Aku mohon terima maaf dariku sebagai perwakilan Seohyun, Gayoung-ssi.”

Gayoung membalikkan badannya. Ia berpikir lagi untuk memaafkan Seohyun.

Beberapa saat kemudian, Gayoung mengatakan kalau dirinya menerima permintaan maaf dari Changmin. “Baiklah, aku maafkan. Tapi cuma untuk satu kali.”

Mendengar pernyataan bahwa Gayoung telah memaafkan Seohyun membuat Changmin merasa lega. “Kalau begitu, aku mengajakmu makan malam denganku. Ah, kali ini aku melakukannya untuk berterima kasih padamu.”

“Tidak perlu. Aku bukanlah siapa-siapa. Jadi kau tidak perlu berterima kasih seperti itu.” Sikap dingin seorang Gayoung muncul lagi.

“Aku mohon…” lirih Changmin dengan ekspresi yang meyakinkan Gayoung untuk menerima ajakannya.

“Kenapa aku harus menerima ajakanmu?”

Untuk kedua kalinya Changmin bingung menjawab pertanyaan Gayoung. Gadis itu benar-benar mampu membuatnya memeras otak hanya untuk menjawab pertanyaan sepele yang sulit sekali dijawab.

“Anggap saja ini adalah hadiah dariku. Atau anggap saja ini adalah… peruntungan bagimu.”

Gayoung tampak memikirkan jawaban Changmin. Boleh juga alasan yang dikemukakan oleh laki-laki tampan itu, pikir Gayoung. “Baiklah, aku terima ajakanmu.”

Sepulang dari taman, Gayoung mampir ke tempat kerja temannya. Ia selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi teman-temannya. Ya, hal itu ia lakukan karena dirinya hanya memiliki beberapa orang teman. Gayoung tidak ingin kehilangan seorang teman sekalipun. Untuk itu, ia melakukan apapun yang dapat dilakukan agar temannya tidak pergi meninggalkan dirinha begitu saja.

Pengalaman yang sangat menyakitkan bagi Gayoung adalah kehilangan seorang kekasih dan seorang sahabat sekaligus. Kekasih yang menjadi pujaan hatinya selama hampir setahun telah mengkhianatinya dengan berselingkuh di belakangnya. Sang pujaan hati telah berkencan dengan sahabatnya sendiri tanpa sepengetahuan Gayoung. Hal itulah yang membuatnya tidak ingin dekat dengan seseorang yang mampu menaklukkan hatinya. Meskipun Gayoung menyukai seseorang namun ia tidak akan berusaha mendapatkan orang itu dan memintanya untuk selalu berada di sisi setiap saat.

“Yaak! Sehun-a!” seru Gayoung saat sepasang kakinya telah menapaki lantai toko musik yang cukup terkenal di kota Seoul.

Laki-laki yang dipanggil dengan nama Sehun itu membalikkan badannya. Ekspresi wajahnya berubah riang seketika. “Gayoung-a!”

Gayoung tersenyum ramah pada temannya itu.

“Waah, kau menepati janjimu untuk satang ke tempatku bekerja,” kata Sehun untuk membesarkan hati Gayoung.

Gayoung menjawabnya dengan anggukan kepalanya. “Tentu saja. Kalau aku tidak datang ke tempat ini, pasti kau akan melupakanku.”

“Yaak! Apa-apaan kau ini. Kalau kau tidak datang kemari, bukan berarti aku akan melupakanmu.” Sehun mendekati Gayoung dan merangkul bahunya. “Gayoung-a, kau itu semacam keberuntungan bagiku.”

“Benarkah? Bagaimana bisa?” Gayoung bingung.

“Semenjak kenal denganmu, aku tidak dipecat oleh atasanku,” jawab Sehun jujur.

“Aigoo, polosnya…” Gayoung mengacak rambut Sehun hingga mendapat protes dari si empunya. “Maaf.”

Beberapa saat kemudian.
“Sehun-a, kalau aku bisa membawa keberuntungan untukmu, kenapa hidupku selalu sial begini?”

Sehun menepuk dahinya. “Itu karena kau terlalu bodoh. Cobalah buka matamu. Lihat sekelilingmu dan rasakan bagaimana nyamannya hidupmu.”

“Yaak! Nyaman apanya kalau selalu sial begini, eoh? Kau ingin membodohiku dengan kata-kata sok puitismu itu. Tidak bisa!”

“Ya sudah,” sahut Sehun melirik Gayoung yang sedang duduk menyangga dagu lancipnya. “Ada apa denganmu?” Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Gayoung.

Dengan sigap, Gayoung menjawab bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Ia hanya merasa bingung.

“Gayoung-a, apakah… kau sakit?” Sehun menempelkan telapak tangannya pada dahi Gayoung.

“Tidak, aku tidak sakit sedikit pun.” Gayoung menggelengkan kepalanya sesegera mungkin agar Sehun tidak berpikir kalau dirinya sakit. “Sehun-a, aku rasa… aku telah jatuh cinta.”

“Apa? Bagaimana bisa?”

Gayoung membelalakkan kedua matanya yang nampak seperti sebar bola tenis. “Tentu saja bisa. Semoga dia adalah jodohku.”

Saat-saat yang ditunggu Gayoung pun tiba. Sesuai janji, Changmin mengajaknya makan malam di sebuah restoran yang baru saja buka untuk pertama kali.

“Maaf kalo membuatmu menunggu lama,” ucap Changmin seraya menarik sebuah kursi yang akan ditempatinya.

Gayoung tersenyum, menampilkan keindahan yang terpancar dari wajah cantiknya. “Tidak apa-apa. Apakah tidak masalah jika Anda makan malam dengan saya?” Tanpa sadar, Gayoung mengucapkan kata-kata formal pada Changmin.

Changmin pun membalas senyum Gayoung. Tatapan matanya terjebak pada kecantikan seorang Moon Gayoung yang lugu. Setelah memesan makanan yang diinginkan, keduanya bercakap-cakap cukup akrab untuk ukuran orang yang baru berkenalan.

“Tentang kejadian kemarin… apakah Anda bersedia memaafkan Seohyun?” Changmin mengungkit masalag yang mempertemukan dirinya dengan Gayoung.

“Saya sudah memaafkannya. Lebih tepatnya ketika saya beranjak dari tempat itu. Saya harap gadis itu bisa lebih menghormati pengguna jalan.”

Changmin merasa malu atas perbuatan Seohyun yang keterlaluan. Kesalahan sepele yang dia lakukan telah membuat Changmin harus meminta maaf pada Gayoung.

“Apakah Anda baik-baik saja?” tanya Gayoung tiba-tiba.

“Eoh, ya. Maksudnya?” Changmin tidak mengetahui arah perbincangannya dengan Gayoung.

Ingin rasanya Gayoung terkikik geli melihat ekspresi wajah tampan Changmin yang nampak polos. “Anda meminta maaf untuk seseorang yang bernama Seohyun. Apakah memang tidak apa-apa bagi Anda sendiri? Maaf saya bertanya seperti ini.”

“Saya tidak merasa keberatan. Apapun akan saya lakukan untuknya.” Changmin menarik salah satu sudut bibirnya.

“Syukurlah…”ucap Gayoung lirih. Kedua bola matanya terarah pada sosok Changmin yang tengah tersenyum tipis. Entah apa yang telah terjadi pada hatinya, yang pasti Gayoung merasakan sesuatu yang mendorong hatinya untuk selalu terbuka. Lupakan siapa dirinya, lupakan siapa Changmin sebenarnya. Gayoung sama sekali tidak peduli pada tatapan beberapa orang yang menatapnya aneh karena matanya tak berkedip sekali saja saat menatap Changmin.

“Hah! Apa yang terjadi padaku?” lirihnya seraya menundukkan kepala dan membuang pandangannya dari Changmin.

“Gayoung-ssi, kau baik-baik saja?” tanya Changmin yang nampak khawatir.

Seolah tengah bertemu dengan seorang pangeran tampan, Gayoung tak mengindahkan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Entah apa penyebab sakit kepala itu. Gayoung sama sekali tak peduli. Dia tidak menginginkan sesuatu menghalangi pertemuannya dengan seseorang yang sudah lama didambakannya. Ya, seorang laki-laki tampan, baik hati dan mungkin tidak suka menyakiti hati seorang wanita.

“Ah, aku… baik-baik saja,” jawab Gayoung meski terdapat keraguan di dalamnya.

Suasana malam itu terasa sangat menyenangkan dan mungkin bisa dikatakan romantis. Namun dalam benak Gayoung terbenam sedikit kekecewaan yang membuatnya gelisah. Kecewa karena yang dilakukannya hanyalah makan malam di restoran mewah. Meskipun jenis restoran itu tergolong mewah, Gayoung tetap saja merasa bosan. Tampannya wajah Changmin yang terpampang jelas di depannya sudah cukup membuat kedua bola matanya betah menatap laki-laki itu. Namun alat gerak yang ada di tubuhnya melakukan pemberontakan yang memaksanya untuk berjalan atau sekedar membenahi posisi duduknya.

Melihat Gayoung yang terus saja bergerak membenahi posisinya, Changmin pun ingin menanyakan hal itu pada Gayoung. “Ada apa?”

Gayoung gelisah. Dia malu sekali mengatakan kepada Changmin kalau dirinya ingin berjalan-jalan. “Tidak ada apa-apa. Aku ke toilet du….”

“Oppa! Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Seorang gadis berambut panjang yang berjuntai membentuk suatu keindahan yang sedap dipandang mata.

Deg!
Changmin kaget bukan kepalang mendengar suara seseorang yang tak asing lagi di indera pendengarannya. Karena ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mengenali suara seseorang, akhirnya Changmin menggerakkan kepalanya ke arah asal suara.

“Seo-seohyun?” Kedua alis matanya terangkat.

Pada waktu yang bersamaan dengan datangnya Seohyun, Gayoung datang dari arah toilet dengan menenteng tas tangannya berwarna merah. Dia berjalan santai menuju meja Changmin di mana ponselnya ia letakkan di atas meja.

Tap tap tap!
Gayoung terperangah dan tak tahu kalau Seohyun sudah duduk manis di kursi yang ditempatinya tadi. “Gadis itu? Kenapa ada dia di sini? Apakah Changmin-ssi yang memanggilnya kemari?” gumam Gayong agak cemas kalau dirinya muncul di depan Seohyun, gadis itu akan mencaci maki dirinya lagi. “Ah, anhi. Bukan aku yang salah. Kenapa aku harus takut menghadapi gadis itu. Aku harus ke sana,” gumamnya lagi. Gayoung menghela nafas panjang kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekati meja Changmin.

“Permisi,” ucap Gayoung lirih.

Changmin dan Seohyun menoleh ke arah Gayoung serempak. Ekspresi wajah Changmin tak menunjukkan sesuatu yang berlebihan. Ia pasrah jika Seohyun melihat Gayoung di tempat itu dan makan malam dengannya. Sedangkan Seohyun… gadis itu terbelalak lebar melihat sosok Gayoung yang berdiri di sampingnya dengan tatapan mata nanar ke arahnya.

“Kau! Apa yang kau lakukan di sini, eoh?” tanya Seohyun kasar dan ketus.

Gayoung terperanjat kaget namun ia berusaha untuk tetap tenang. Tanpa menjawab pertanyaan dari Seohyun, ia langsung mengambil ponselnya sebelum diraih oleh Seohyun. “Aku hanya ingin mengambil ponsel ini. Terimakasih dan maaf kalau merepotkan anda, Changmin-ssi,” tuturnya lalu menundukkan badannya dan tak lama kemudian beranjak dari tempat terkutuk itu.

Seohyun mendesah kasar dan mendelik kesal. “Oppa, kau mengajaknya makan malam?”

Changmin hanya mengangguk pelan. “Aku harus meminta maaf untukmu.”

“Apa? Cih! Ini benar-benar gila. Gadis itu pasti sekarang sedang berjingkrak-jingkrak senang.”

“Seohyun-a, jangan bersikap seperti itu. Aku mengajaknya makan malam karena dirimu. Dia sudah memaafkanmu, akankah kau mencacinya lagi?”

Seohyun kesal, bahkan teramat kesal pada Changmin dan Gayoung.

Sementara itu, Gayoung yang telah menjauh dari restoran mewah tempatnya makan malam dengan Changmin, tersenyum tipis dan bersyukur karena telah bertemu dengan laki-laki seperti Changmin. “Ini pertemuan yang tak terduga. Meski harus dinodai dengan bentakan dari gadis itu, aku tetap senang bertemu denganmu, Changmin-ssi.”

Gayoung merasakan ketenangan saat menyebut nama Changmin dengan bibir tipisnya. Ia tersenyum senang saat berjalan menuju tempat tinggalnya yang masih jauh.

End for this seri
Thanks

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s