The Death Bell [Part 1]

req-phiyun-death-bell

|| Title: The Death Bell || Author: Phiyun || Genre: Romance | Thriller | Misteri | Supranatural | Fantasi || Cast: Jiyeon | Lay || Support Cast : Member Exo ||

Poster Credit:  Laykim Design Poster  (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Kebetulan ff ini terinspirasi dari sebuah buku  yang pernah aku baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Cerita kali ini aku fokuskan di Pov Jiyeon ya ^^

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Ada satu sosok lain didalam diriku yang mengambil ahli tubuhku ketika suara lonceng itu berbunyi.

~~~ooo~~~

-Pov Author-

Terdengar suara kegaduhan di dalam sebuah rumah. Nampaknya di dalam rumah tersebut sedang ada dua orang yang bersih tegang.

“Jiyeon-ah, kan sudah aku bilang tidak seperti itu yang terjadi.” ucap namja itu.

“Kalau bukan kenapa kau masih menyimpan surat cinta ini?” sembari memperlihatkan beberapa amplop yang ada digengaman tepat di hadapan kekasihnya.

“Aku hanya lupa membuangnya saja. Kenapa kau terlihat kekanak-kanakan sekali?”

Mwo?! Kekanak-kanakan? Kau yang tak pernah bisa mengerti perasaanku, Lay-ah!” teriak gadis itu di depan lawan bicaranya.

Seketika keadaan di ruang itu terasa canggung di antara mereka berdua.

“Kembalikan surat itu padaku. Aku tak mau bertengkar denganmu hanya karena masalah sepele semacam ini.” pinta Lay dengan menghelakan napas yang panjang kemudian ia mengulurkan sebelah tangannya untuk meminta kembali surat yang dipengang oleh kekasihnya.

Tapi balasan yang diterimanya tak sesuai keinginannya. “Tidak! Surat ini tak akan aku kembalikan padamu! Apa kau ingin membacanya lagi atau kau ingin menyimpannya lagi?! Sebegitu berharganyakan surat-surat ini bagimu? Sampai-sampai kau menaruhnya dengan rapi di atas meja belajarmu.” balas Jiyeon sembari kedua tangannya menyembunyikan amplop-amplop tersebut di belakang punggungnya.

“Jiyeon-ah, kumohon hentikan semua ini. Aku sudah bilang padamu kalau apa yang kau fikirkan itu semuanya salah. Percayalah padaku, jebal.

“Aku sudah bosan mendengar kalimat itu dari bibirmu. Kau selalu mengatakan hal yang sama padaku. Kali ini semua yang kau ucapkan itu sudah tak mau aku dengar lagi!” tambah Jiyeon dengan tatapan sinis.

Mendengar itu Lay pun mulai kehabisan kesabaran “Yak! Park Jiyeon-ah, kau membuatku marah! Apakah kau kira aku tak bisa marah dengan sikapmu seperti ini terus kepadaku? Hah!!” bentak namja itu. “Kalau kau masih tak mau percaya dengan ucapanku, lebih baik kau pergi dari sini dan bawa semua surat-surat sialan itu bersama denganmu!!!” teriaknya sambil sebelah tangannya menunjuk ke arah pintu keluar.

Dengan lantang Jiyeon pun membalas perkataan Lay. “Aku juga mau pergi dari sini, tak perlu kau usir aku dari sini!!!” lalu pintu rumah pria itu dibantingnya cukup keras.

Saat di luar pintu rumah Lay, kedua mata Jiyeon mulai berkaca-kaca dan tak perlu waktu yang lama akhirnya meneteslah buliran bening dari sudut kedua mata gadis itu. “Dasar Lay, bodoh. Harusnya kau mengerti perasaanku. Aku kan hanya cemburu, aku tak mau kau memikirkan gadis lain selain diriku.” dengan suara yang parau Jiyeon berkata seraya kedua maniknya menatap lekat-lekat ke arah depan pintu yang sudah tertutup rapat oleh dirinya saat beberapa menit yang lalu.

“Ini semua gara-gara surat ini. Dasar Surat cinta sialan!!!” umpatnya, kemudian surat tersebut dilemparkannya ke bawah lantai setelah itu surat tersebut diinjak-injak oleh Jiyeon secara membabi buta. Setelah puas, gadis itu pun lalu pergi meninggalkan kediaman Lay dengan wajah yang penuh kekesalan.

-Pov Author end-

~~~ooo~~~

Setelah pergi dari rumah Lay kenapa perasaanku jadi tak enak. Ada sesuatu yang menggajal di hatiku. “Mungkinkah aku terlalu berlebihan padanya?” seraya menghentikan langkah kakiku. “ Tidak! Aku tak berlebihan. Itu hal yang lumrah yang dilakukan seorang gadis kepada kekasihnya.“ tambahku lagi dan setelah itu kembali melanjutkan perjalanan.

Saat aku hendak kembali ke asrama yang tak jauh dari kampus di mana aku berkuliah di sana, tiba-tiba aku merasakan semilir angin ditekuk leherku dan disaat itu juga tubuhku mulai mengigil kedinginan. “Sepertinya musim dingin belum selesai ya? Padahal sudah hampir bulan Febuari.” ujarku sambil mengancingi mantel bajuku hingga atas leher.

Tak berapa lama kemudian terdengarlah suara gemerincing lonceng yang tak jauh dari tempat aku berdiri. Aku mulai mengikuti asal bunyi suara tersebut dan ternyata dibalik semak belukar aku melihat ada sebuah gantungan lonceng yang sangat manis dan cantik.

“Punya siapa ini?” gumamku sembari memungut lonceng tersebut. “Tapi kenapa lonceng ini warnanya ada bercak hitamnya.” Lalu aku pun mulai menghapusnya namun itu percuma karena bercak itu tak kunjung hilang meskipun aku berusaha keras menghapusnya. Aku  tak menyadari ternyata telapak tanganku terkena bercakan warna hitam juga saat gantungan lonceng itu aku gengam.

Hhuuussssshhh…….

Tiba-tiba angin berhembus kembali tapi kali ini hembusan anginnya lebih kencang. Aku langsung berdiri dari semak belukar tersebut sambil tetap menggengam gantungan lonceng yang baru saja aku temukan. “Sepertinya aku harus segera kembali ke asrama, cuacanya makin lama semakin dingin.” ucapku dan tanpa terasa gigiku pun mulai bergemelutuk karena merasakan hawa yang sangat dingin disekelilingku saat ini.

“Gantungan lonceng yang cantik, aku bawa ke asrama, ah. Lagipula lonceng ini kan tak ada pemiliknya jadi tak masalah kan bila aku mengambilnya?” gumamku dengan tersenyum kemudian gantungan lonceng tersebut aku masukkan ke dalam kantong mantel, setelah itu aku mulai berlari kecil menuju asrama untuk beristirahat.

~~~ooo~~~

-Setibanya di asrama-

“Aku pulang.” sambil masuk ke dalam. Namun tak ada balasan dari dalam rumah tersebut. “Kenapa di dalam asrama sangat sepi? Kemana Eunjung, Hyomin dan kawan-kawan yang lain.” Kataku sembari berjalan mengelilingi kamar mereka masing-masing tapi tak ada satu orang pun di sana. Tak sengaja aku melihat selembar kertas yang tertempel di atas kulkas.

Aku lalu bergegas berjalan menghampiri selembar kertas itu. Di dalam selembar kertas itu tertuliskan. “Dear sahabatku Jiyeon. Maaf aku tak memberi tahukanmu terlebih dahulu kalau aku akan mengikuti latihan intensif karate selama satu minggu mulai hari ini. Hyomin juga sedang mengikuti latihan intensif renang untuk perlombaan di minggu depannya sehingga kita berdua tak akan pulang ke asrama sampai seminggu ke depannya. Kalau teman-teman yang lain juga sedang pulang kampung karena kebetulan ini kan hari liburan semester dan tak tahu kapan yang lainnya akan pulang. Kunci asrama aku taruh diatas fentilasi pintu ya, seperti biasa. Aku sudah siapkan makanan beku untuk mu, jadi sewaktu-waktu kamu lapar kau tinggal hangatkan saja makanannya di oven. Jagalah kesehatanmu selama kita pergi. Salam hangat Eunjung dan kawan-kawan.”

“Berarti aku sendirian dong selama seminggu ini?” gerutuku. Kemudian aku membuka gagang kulkas untuk melihat apa yang ada didalam kulkas tersebut. Ternyata benar pesan yang dituliskan oleh Eunjung. Di dalam sana sudah ada beberapa makanan beku yang sudah tertata rapi di dalam kulkas dan tak lupa ada juga buah-buahan segar di sana. “Yah! Kalian kira aku ini masih anak kecil!” umpatku seraya menyunggingkan senyuman mengembang.

Di malam harinya aku tidur lebih awal karena aku merasa hari ini terasa melelahkan. Disepanjang malam aku mendengar gemerincing suara lonceng. “Cring…Cring…Cring…” Lonceng itu selalu berbunyi sepanjang malam mendengar suara lonceng itu membuatku tertidur pulas dengan sendirinya.

~~~ooo~~~

 

-Dipagi harinya-

“Ciit…ciit…ciit…” Terdengar suara kicauan burung yang merdu membangunkan tidurku. Dengan perlahan-lahan aku buka kedua mataku yang masih terasa berat. “Dingin sekali di sini.” ungkapku. Lalu aku bangun dari berbaringku dan saat aku menoleh ke samping aku langsung tersentak kaget.

“Aahhkkk!!!” teriakku. Tubuhku mulai menggigil hebat dan kedua mataku pun langsung terbelalak lebar saat aku melihat ada sesosok mayat yang tergelepar tak berdaya dengan tubuh penuh darah. Yang membuat aku terkejut adalah seluruh tubuhku pun penuh dengan bercak darah yang mulai mengering.

“Se-sebanarnya a-apa yang sudah terjadi di-sini?” Isakku sambil kedua tangan yang menutup mulut karena terkejut. “Bu-bukan a-akukan yang membunuhnya?! A-ani… Aniya!!!”  Aku langsung berlari sekencang-kencangnya untuk menjauh dari tempat tersebut. Langkah kakiku pun terhenti saat aku melihat ada sebuah telepon umum yang tak jauh dari sana. Dengan cepat aku langsung masuk ke dalam dan mulai menelepon seseorang.

“Tuuth…tuuth…tuuth…” tak berapa lama kemudian terdengarlah suara seseorang dari balik telepon tersebut.

Yeoboseo…

“Halo, Lay-ah… bisakah kau datang ke sini sekarang?” kataku dengan suara yang gemetar.

“Jiyeon-ah… apakah kau Jiyeon?” tanya pria itu.

“Ya… ini aku, Park Jiyeon. Bisakah kau datang ke sini sekarang? Kumohon.”

“Memangnya kau ada di mana? Tadi pagi aku datang ke asramamu tapi di sana kosong tak ada satu orang pun disana.”

Dengan suara yang masih terbata-bata aku menjawab. “A-aku sekarang ada telepon umum di belakang  gedung kampus tak jauh dari asramaku. Kumohon segeralah kau kemari, Lay-ah.” kali ini aku mulai menangis terisak-isak.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis, Jiyeon-ah?” tanyanya dengan nada yang khawatir.

“Aku tak tahu, apa yang sudah terjadi padaku! Aku bingung!!” teriakku dengan kedua mata yang penuh dengan air mata.

“Baiklah kau tunggulah sebentar disana, aku langsung pergi menemui mu, kau jangan pergi kemana-mana tetaplah di tempat itu. Aku akan segera tiba.”

Lalu telepon itupun di tutupnya. Aku menunggu Lay dengan jantung yang berdebar-debar. Aku sangat ketakutan. Aku bingung apa yang sudah terjadi padaku saat aku tertidur tadi. Kanapa ada mayat di sampingku? Bagaimana mungkin aku mambunuh seseorang. Membunuh semut pun saja aku tak tega.

Kedua kakiku lemas tak berdaya. Kedua kakiku sama sekali tak bisa aku gerakkan aku hanya bisa terduduk lemas di dalam kotak telepon umum ini. Tak berapa lama kemudian datanglah seorang pria masuk ke dalam ruangan telefon umum.

“Jiyeon-ah, apakah kau baik-baik saja?”

“Lay-ah…hiks…hiks…” Air matakupun menetes lagi di kedua pipiku.  Aku berusaha bangun dari jatuhku dan ingin segera berlari kearahnya. Tapi belum sempat aku melakukan itu semua, air muka pria itu sangat terkejut melihat banyak darah yang menempel di pakaianku.

“Jiyeon-ah, ada apa dengan dirimu? Ke-kenapa bajumu…” dengan kedua mata yang membulat lebar.

“Bukan aku yang membunuhnya! Saat aku terbangun dari tidurku, aku sudah melihatnya mati terkapar di sampingku, sungguh bukan aku pelakunya!!!” ujarku tapi terlihat dengan jelas betapa terkejutnya Lay sampai-sampai dia tak mampu berkata apa pun lagi di depanku.

Tiba-tiba Lay langsung menggengam kedua bahuku dengan erat dan berkata. “Aku percaya padamu. Bukan kau kan pelakunya? Jadi lebih baik kita pergi dari sini.” kemudian Lay melepaskan mantel yang dikenakannya untuk ditaruhnya ditubuhku setelah itu dia melepas syal yang melingkar di lehernya untuk menghapus bercak darah yang ada di dalam tempat telepon umum tersebut.

“Apakah kau percaya padaku, Lay-ah?” dengan nada yang ragu aku mulai bertanya lagi kepadanya. Pria itu tiba-tiba menghentikan aktivitasnya saat aku bertanya pertanyaan yang sama padanya. Tak lama ia menoleh padaku dan menghampiriku. “Aku percaya padamu, Jiyeon-ah. Mungkin kau saat tadi sedang berjalan dalam tidurmu. Itu semua hanyalah bunga tidur. Lebih baik kita segera pergi dari sini.” ucapnya seraya mengancingi satu persatu kancing mantel yang menempel ditubuhku. Setelah itu aku diantarkannya kembali ke asrama.

~~~ooo~~~

-Di asrama

Setibanya di sana aku langsung pergi ke dalam kamarku untuk sesegera mungkin membersihkan diriku dari bercak darah yang sudah mengering di atas tubuhku. Aku pun tak lupa langsung memasukkan baju yang terkena bercakan darah itu ke dalam mesin cuci. Namun saat aku hendak membuka celana panjang yang melekat ditubuhku, tiba-tiba aku menemukan gantungan lonceng di dalam kantung celana panjang yang kukenakan.

“Aneh? Padahal seingatku gantungan ini aku taruh di kantung mantel ku kemarin. Kenapa gantungan lonceng ini ada di sini sekarang?”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan pintu kamar mandi dan suara itu pun juga yang membangunkan lamunanku. “Jiyeon-ah, aku pergi sebentar ya, aku mau membeli beberapa makanan untuk sarapan kita berdua.” kata Lay diluar pintu. “Nde…” balasku dari dalam kamar mandi.

Lalu gantungan lonceng itu aku taruh di atas wastafel kamar mandi dan kemudian aku memasuk kan semua baju yang melekat ditubuhku kedalam mesin cuci setelah itu aku mulai mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, aku langsung mengenakan pakaian bersih yang sudah aku siapkan sebelumnya. Tak beberapa lama kemudian aku keluar dari dalam kamar mandi dan kemudian menyalahkan televisi.

Tak berapa lama kemudian Lay pun tiba sambil membawa beberapa kantung yang berisi makanan untuk kita berdua makan dan disaat itu juga ada berita pembunuhan seorang pria dengan keadaan mayat yang mengenaskan.

“Telah ditemukan seorang mayat laki-laki berumur 22 tahun bernama Chen. Mayat tersebut ditemukan dengan tubuh banyak luka cakaran ditubuhnya dan ada bekas cekikan di lehernya. Di duga korban dicekik hingga leher korban patah. Pelakunya sampai kini  masih buron. Demikian berita ini kami sampaikan.”

Dengan perlahan-lahan aku langsung berjalan ke arah depan televisi tersebut. Kedua tanganku langsung bergetar hebat. Wajahku  mulai memanas dan tanpa aku sadari diriku mulai meneteskan air mata sambil kedua mataku tetap menatap lekat-lekat ke arah depan televisi tersebut dengan kedua tangan yang bergetar hebat.

“Jiyeon-ah.” bisik Lay seraya memeluk tubuhku dari belakang. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Aku berusaha melepaskan dekapannya, aku tak mau dia melihat wajahku yang terlihat tak karuan saat ini. Tapi itu percuma karena tenagaku tak cukup kuat untuk mengalahkan tenaga yang dia miliki.

“Aku percaya, itu pasti bukanlah kau pelakunya.”

“Bagaimana kau tahu, kalau itu bukan aku? Kau lihat sendiri di tubuhku banyak sekali bercak darah. Itulah buktinya.” kataku lagi.

“Bukti itu tak cukup, Jiyeon-ah. Aku percaya itu bukan kau karena apabila itu kau maka seharusnya kau bisa melepaskan pelukanku saat ini. Bagaimana mungkin kau bisa mematahkan leher korban itu? Melepaskan kedua tanganku saja dari tubuhmu, kau tak mampu.” bisiknya lagi dengan suara yang parau.

Kami  berdua saling berhadapan dan saat aku menatap kedua mata Lay, hatiku merasa tenang dan yakin kalau pria ini benar-benar mempercayai diriku seutuhnya. Dengan suara yang masih sedikit bergetar aku berkata. “Gomawo, Lay-ah. Karena kau sudah mau mempercayaiku.” sembari menyandarkan kepalaku ke dalam dekapannya dan setelah itu puncak keningku pun dikecupnya dengan lembut.

Sebenarnya hatiku terasa sangat takut saat ini tapi saat Lay memelukku rasa itu langsung sirna. Aku merasakan ada rasa yang sangat aman saat berada di sisinya. Entahlah apa yang sudah terjadi saat aku tertidur yang jelas kali ini aku sudah tak takut lagi menghadapi semua ini karena ada seseorang yang mau setia menemaniku.

~~~ooo~~~

-Dimalam hari ke-2 –

“Lay-ah, apakah kau yakin akan menginap di disini bersamaku?”

“Heemmm… karena kau terlihat masih shock jadi aku tak tega bila meninggalkanmu sendiri di asrama.” balasnya dengan santai.

“Aah… begitu. Aku kira…” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku Lay langsung memotongnya. “Memangnya kau kira apa, Jiyeon-ah??? Apa jangan-jangan kau sedang berfikir…” aku langsung membalasnya sebelum Lay menyelesaikan perkataannya. “Yak! Aku tak pernah berfikir yang sedang kau fikirkan, Lay-ah!” sergahku.

“Memangnya kau fikir aku sedang memikirkan apa, Park Jiyeon-ah?” kali ini Lay mulai duduk bergeser mendekatiku sambil memperlihatkan lesung pipitnya. Jantungku mulai berdetak kencang saat wajah kami hanya terpaut beberapa sentimeter. Karena saking gugupnya tanpa aku sadari kedua  mataku pun aku pejamkan.

“Jiyeon-ah.. Yah… Park Jiyeon… Park Jiyeon-ah!” Panggilnya membuatku terbangun dari lamunanku.

Nde???

“Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau memejamkan matamu?” tanyanya sembari memiringkan wajahnya di hadapanku.

“A-aku… mengantuk. Aku pergi tidur dulu ya.” dengan cepat aku bangkit dari atas sofa kemudian berlari cepat masuk ke dalam kamar tidur.

Setibanya di sana p intu kamarku pun aku kunci dari dalam. Kedua kakiku mulai lemas dan dalam hitungan detik diriku jatuh terduduk sambil bersandar di depan pintu. Jantungku berdegup dengan kencang. “Yak! Apa yang sedang kau fikirkan Jiyeon-ah. Disaat seperti ini kau masih saja berfikir macam-macam terhadap Lay. Lay itu laki-laki yang baik tak mungkin dia mempunyai fikiran sepicik itu.” makiku sambil menjitak atas kepalaku sendiri.

Setelah merasa sudah lebih tenang aku lalu naik keatas ranjang untuk tidur. Entah mengapa saat tubuhku aku rebahkan di atas ranjang aku merasa tubuhku mati rasa. Bahkan aku tak bisa menggerakkan tubuhku dan tak beberapa lama kemudian terdengarlah suara gemerincing lonceng yang mengalun dengan lembut di samping telingaku dan di saat itu pula diriku pun mulai tak sadarkan diri.

~TBC~

~~~ooo~~~

Annyeonghaseo Yeorobun, ketemu lagi dengan Phiyun disini, hehehe 😀

Mudah  – mudahan kalian tidak bosen ya ketemu sama aku terus. Aku bawa ff baru lagi nih, hehee. Miminnya lagi demen buat ff horor n thriler gitu. Mudah” ff kali ini berakhir dengan happy end ya, maybe. Hehe 😀

Maaf juga buat ff Faling for innocance aku pending dulu, soalnya miminnya rada sibuk, hihi 😀 tapi tenang tetep aku lanjutkan kok. n mian juga ya kalau ada kata yang typo’s bertebaran dimana – mana saat membacanya, maklum mimin juga manusia biasa, hehehe 😀

Bagaimana ceritanya menurut kalian? Aku harap kalian semua menyukainya ya 🙂

Jangan lupa RCL-nya ya, karena komentar dari readers semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam membut fanfic selanjutnya.

See you next chapter berikutnya…

Gomawo ^^

Advertisements

32 thoughts on “The Death Bell [Part 1]

    • Iya, disini tubuh jiyi dirasuki sama roh yang mau membalas dendam sama org yang udah buat dirinya mati, semoga aja ya Lay bisa menolong jiyi
      Makasih dah mampir kesini n komennya 🙂

      Like

  1. woow jiyi kenapa bisa begitu jangan2 badannya jiyi dipinjem sama arwah lain? aigooo kasian jiyi ga tau apa2 semoga lay juga masih dukung jiyi sama nyemangatin dia kasian kalo ga ada yg nyemangatin sama percaya sama dia

    aku lanjut baca lagi ya ^^

    Liked by 1 person

  2. Suka banget sama ceritanya😀 feel horror nya dapet banget.
    Eemmm berdasarkan pengalaman baca ff horror thriler/? Kaenya ini ga happy end deh😅 tapi gatau juga sih 😁 wkwk
    Ditunggu banget lanjutannya 😁

    Liked by 1 person

    • sama aku juga suka genre kaya gini tapi kaga pernah berani nonton pilem yang kaya gini, hehhe 😀
      biasanya sih begitu ya, endingnya… tar liat aja ya end-nya bagaimana, hehe apa sad ending or happy end atau..??
      btw makasih yah dah nyempetin mampir kesini n komennya 😉

      Like

  3. LaYeon again!! ❤

    SERUU BANGET ceritanya. Teka-teki . Apalagi suport castnya Exo :3 dan moga2 aja cewenya cuma satu Jiyi doang wkwkwkw
    Lonceng itu benar2 misterius. untungnya Lay oppa percaya ama Jiyi dan mau ngejagain Jiyi :3

    Next part2nya chingu jan lama2 yaa hehe semangat

    Liked by 1 person

  4. Haaaai chingu…
    ya Allah… ff ini… aku udah kegirangan sejak chingu req posternya di blogku. Maapkeun kalo lama bikin posternya. Hehehe
    Aku pengen baca ff ini. Tapi masih belum ada waktu soalnya masih sibuk di blog sebelah. Chingu pasti tau lah. Nitip komen aja dulu ya chingu.
    Aku penasaran ceritanya. Serius ini benar2 ku suka. Lay-Jiyeon duo bias utama. Xixixi….
    Tapi tapiiii kok cuma 3 part chingu? Hueeee T_T

    Liked by 1 person

    • Hallo juga chingu Lia…
      Iya gak apa-apa kok, posternya keren aku suka ^^ Oh iya ada salam buat chingu dari readers ku juga di bilang poster buatan chingu keren…
      boleh kok nitip komennya, hehee 😀
      semangat ya chingu buat blog yang satunya lagi tar aku bantu chingu hendel ngurusin blog ini.
      Sama aku juga suka cerita kaya begini, tapi kalo disuruh nonton genre kaya begindang suka gak mau, langsung parno duluan, hihhi 😀 semoga ffnya dapet feel seremnya deh
      sebenernya aku mau buat lebih dari 3 itu baru rencana sih chingu…
      btw makasih loh udah nimbrung kesini ma nitip komennya, hehe ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s