[Oneshoot] Caffeine

Caffeine - Phiyun

|| Title: Caffeine || Author: Phiyun || Genre: Thriller | Romance | Hurt | Sad | Songfic | Friendship || Main Cast | Jiyeon | Lay | Suho| Luhan|| Thame song: Yang Yoseob – Caffeine ||

Credit Poster :  Gitahwa @ Hospital Art Design (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Kebetulan ide ff ini terinspirasi dari lagu yang menjadi thema song ff ini, tapi tenang saja alur ceritanya aku buat berbeda kok. Oh iya seluruh cerita ff kali ini aku fokuskan di Pov Lay , yah. Semoga para reader gak bingung ^^

***Happy Reading***

~Summary~

You’re bad to me but why i can’t forget you?

~~~ooo~~~

~Pov Lay~

Sudah hampir sebulan ini aku tak bisa tidur dengan pulas saat di malam hari bahkan hampir sebulan ini juga aku hanya tidur dua jam bahkan hanya satu jam mata ku dapat terpejam walaupun hanya untuk sesaat. Yeoja itu selalu hadir di dalam pikiran ku, bahkan saat aku menutup mata pun dia selalu hadir begitu saja seperti hantu di dalam kehidupanku.

Akhir-akhir ini aku juga terkadang mandi saat dini hari untuk menjernihkan pikiranku, memang semua hal itu tak membantu tapi aku merasa sedikit berkuranglah rasa penat ditubuhku. Di malam harinya saat aku masih terjaga, aku pasti membuka kumpulan album foto ku saat bersama dengan dirinya. Bahkan terkadang aku juga membaca buku Favorite kita berdua. Tapi entah kenapa saat aku membacanya buku itu aku mulai meneteskan airmata? Padahal buku yang sedang aku baca sekarang adalah cerita lucu bahkan saat orang tersebut membaca buku tersebut pastinya mereka akan tertawa terbahak-bahak. Tapi kenapa aku mengalami hal yang sebaliknya?

Apakah aku sudah mulai gila karena dirinya? A-aniya… aku tidak gila aku hanya sangat tergila-gila mencintainya, itu saja tak lebih maupun tak kurang. Tapi aku rela bila aku harus gila untuk dirinya karena aku sangat mencintainya.

~~~ooo~~~
It’s late, I need to sleep and I already counted all the sheep in my head
In order to fall asleep somehow, I showered again
I keep drawing your face out on the ceiling
When I close my eyes, a book with the story of our ended love opens
~~~ooo~~~

-Flash back-

 

~Sebulan yang lalu~

“Apa yang sedang kau lakukan bersama dengan dirinya? Apakah kau sedang bermain cinta dibelakangku, Jiyeon-ssi?” Kata namja chingunya itu dengan ekspresi wajah yang sedang menahan amarah.

“Sedetikpun aku tidak pernah berfikir seperti itu. Aku dengan Suho hanyalah teman sekelompok saja tidak lebih.”

“Ooh… jadi nama namja brengsek itu Suho-ssi…” Balas lawan bicaranya dengan nada yang mengejek.

“Lay-ah… tolong percayalah pada ku… Apakah kau meragukan cintaku?” Kata Jiyeon dengan wajah yang memelas.

A-aaniii… aku percaya dengan cintamu padaku tapi aku tak percaya dengan namja lain yang mendekatimu. Tapi Jiyeon-ssi ada yang mau aku tanyakan lagi kepadamu.  Kenapa setiap aku hubungi kau belakangan hari ini, telefon gengammu selalu tak kau angkat? Apakah kau sedang mencoba menjauhi diriku?” Tanya Lay lagi namun wajahnya terlihat dingin sedingin ucapannya kepada Jiyeon. mendengar ucapan kekasihnya barusan saja Jiyeonpun tersentak kaget. Laypun tak sengaja melihat tingkah laku Jiyeon yang terlihat sangat mencurigakan saat dia menanyakan hal itu padanya.

“Ada apa dengan mu Jiyeon-ssi? Kenapa kau terlihat sangat kaget saat aku menanyakan hal itu?” Tambah Lay dengan wajah innocent-nya.

“I-Itu… ma-masalah i-i-tu mianhaeyo Lay-ah… saat itu telefon gengamku lowbeat jadi aku tak sempat mengangkatnya.” Balas Jiyeon.

“Oohh… jadi telefon gengammu selalu kehabisan baterai?? Apa kau pikir aku dapat kau bohongi? Tolong katakanlah sejujurnya padaku Jiyeon-ah, Jebal...” Kali ini Lay berkata sambil menatap kedua mata Jiyeon dengan tatapan memohon sambil menggengam kedua tangan Jiyeon.

“…Lay-ssi… Harus aku katakan apalagi agar kau bisa mempercayai ku?”

“Aku hanya ingin kejujuran dari dirimu, itu saja. Apakah begitu sulit untukmu?”

“Jadi… maksudmu selama ini aku selalu berbohong padamu? Kau membuat aku sangat kecewa Lay-ah… Hubungan kita ini bukan satu bulan maupun dua bulan. Hubungan kita ini sudah hampir menginjak dua tahun. Apakah kau belum menyadari juga betapa sayangnya aku padamu?” Ucap Jiyeon dengan wajah yang sedih sambil berusaha melepaskan kedua tangannya dari gengaman Lay. Tapi Lay sama sekali tak menggubrisnya.

“Lepaskan aku, Lay-ah! Aku kecewa kepadamu!! Betapa teganya kau melakukan hal…” Belum sempat Jiyeon menyelesaikan ucapnnya Lay sudah menyumpal bibir mungil milik Jiyeon dengan bibirnya.

Untuk beberapa saat Jiyeonpun terbawa suasana, diapun mulai membalas kecupan yang Lay berikan padanya dengan lembut. Lay juga tak mau kalah diapun mulai memperdalam ciumannya diatas bibir Jiyeon yang merah merekah tersebut dan diapun mulai melumat lembut bibir milik Jiyeon. Jiyeonpun ikut dalam permainan itu dan sekarang kedua lengan Jiyeonpun sudah melingkar mesra di kedua pundak Lay.

Saranghae… Jiyeon-ah…” Ucap Lay lembut sambil tetap menatap kedua mata Jiyeon.

“…Nadosaranghae…” Balas Jiyeon sambil tersenyum manis didepan lawan bicaranya.

A-aniya… na, neomu – neomu saranghaeyo,  Jiyeon-ah.” Tambah Lay.

Jiyeonpun tak dapat berkata apa-apa lagi dia hanya bisa tersenyum lembut dihadapan Lay sambil menganguk-anggukkan kepalanya kalau dirinya saat ini sangat senang mendengar ucapan barusan saja pujaan hatinya katakan.

~~~ooo~~~

~Keesokan harinya~

Terlihat ada dua orang namja sedang masuk kedalam gerbang sebuah universitas secara bersama-sama. Ternyata kedua pria itu sudah saling kenal, merekapun mulai berbincang-bincang sambil tetap berjalan.

“Bagaimana kabarmu, Lay-ssi? Kenapa wajahmu terlihat lesu, ini masih pagi bro.” Kata temannya sambil menepuk pundak Lay.

“Ah… itu… aku hanya sedikit lelah saja, Luhan-ah. Mungkin akhir-akhir ini aku terlalu banyak tugas kampus yang aku kerjakan.” Balasnya sambil sebelah tanggannya memijat pelan sebelah pundaknya.

“Apakah kau perlu bantuan? Aku senang bila dapat membantu mu, Lay-ah.” Tawarnya.

“Tidak perlu, Luhan-ssi… kebetulan tugas kuliah ku sudah hampir rampung semua. Hanya tinggal beberapa saja.”

Tak terasa mereka sudah berjalan masuk kedalam gedung kampus. Mereka berduapun berpamitan untuk pergi ke kelas mereka masing-masing. Lay pun menuju kelasnya menggunakan lift karena kebetulan ruang kelasnya sekarang ada dilantai 5 sedangkan ruang kelas temannya Luhan ada digedung sebelahnya lagi.

Setibanya di ruang kelasnya Lay pun duduk di barisan tengah. Kebetulan keadaan ruang itu masih belum banyak mahasiswa yang datang mungkin karena saat ini masih menunjukan pukul 08.00 pagi jadi masih banyak mahasiswa yang terlambat.

Tak beberapa lama kemudian datanglah Jiyeon masuk kedalam ruang kelas Lay. Jiyeon pun langsung berjalan menuju Lay yang sedang terduduk disana.

“Plak!!!” Terdengar suara tamparan yang cukup keras. Ternyata Jiyeon tanpa berkata apa-apa dia langsung menampar sebelah pipi Lay dengan meneteskan airmata. Lay bingung apa yang sedang terjadi pada Jiyeon. Kenapa dia tiba-tiba menampar dirinya begitu saja tanpa memberikan alasan. Apa salah yang sudah dia perbuat kepada dirinya.

“Jiyeon-ah…” Ucap Lay pelan sambil sebelah tangannya memegangi pipinya yang terkena tamparan oleh Jiyeon.

“…Nappeun, dasar laki-laki brengsek!!!” Teriak Jiyeon sambil berlinang airmata.

“Jiyeon-ah… sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu? Kenapa kau menangis? Siapa yang membuat dirimu menangis?” Tanya Lay dengan wajah yang bingung.

“Hahaha!!! Kau tak perlu berkata manis lagi didepanku. Aku sudah tahu semua kebusukanmu! Detik ini juga aku ingin hubungan kita ini berakhir. Aku ingin kita putus!!!”

Setelah mengatakan itu Jiyeonpun pergi meninggalkan Lay yang masih diam terpaku karena dia masih kaget atas tindakan yang Jiyeon lakukan pada dirinya. Namun tak perlu waktu lama Lay langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian dia langsung berlari mengejar Jiyeon yang masih belum jauh dari kelasnya berada.

“Jiyeon-ah… apa maksud ucapanmu barusan itu? Apakah kau sedang becanda sekarang dengan ku?” Tanya Lay dengan nada yang lembut sambil tangannya menggengam pergelangan tangan Jiyeon.

“Lepaskan aku…”

“Jiyeon-ah…”

“Aku bilang lepaskan aku!!! Aku tak mau lagi melihat dirimu bahkan mengenal dirimu pun aku tak sudi!!! Aku benci kamu!!!” Kata Jiyeon sambil mendorong tubuh Lay dengan kencang tapi tenanganya tak cukup kuat untuk merubuhkan tubuh lawan bicaranya tersebut.

“Sebenarnya apa salahku padamu, Jiyeon-ah… katakanlah padaku, aku tak mau hubungan kita berakhir seperti ini.”

“Aku tak peduli dengan ucapanmu. Yang jelas sekarang kau dan aku bukanlah siapa-siapa lagi. Aku juga sekarang sudah tak mencintaimu lagi  jadi enyahlah kau dari hadapanku!! Araseo!!!” Bentak Jiyeon dihapan Lay. Mendengar itu gengaman tangan Lay pun melonggar dari lengan gadis itu.

Melihat keadaan itu Jiyeon pun mengambil  ke sempatan untuk pergi meninggalkan Lay yang masih terdiam terpaku. Lay tak menyadari kalau Jiyeon sudah pergi meninggalkannya sedari tadi. Lay hanya bisa menatap sepanjang lorong kampus dengan tatapan kosong dan tanpa dia sadari meneteslah cairan bening dari sudut kedua matanya dan kemudian cairan bening itupun sekarang jatuh begitu saja dikedua pipinya.

-Flash back end-

~~~ooo~~~
Even after you left, you torture me like this
How did I become this miserable?
What did I do wrong?
Why did we even break up? I don’t know
I don’t know what happened
~~~ooo~~~

Terlihat dari kejauhan ada sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan sebuah kedai kopi. Tak berapa lama kemudian keluarlah seorang namja yang berperawakan tinggi sedang keluar dari dalam mobil tersebut. Setelah itu diapun langsung masuk kedalam kedai kopi tersebut dan kemudian namja itu pun memesan secangkir kopi di kasir, setelah itu pria tersebut duduk didekat jendela sambil menunggu pesanan yang akan diantarkan oleh pelayan tersebut.

Tak butuh waktu lama, pesanan yang dipesan oleh laki-laki itupun sudah diantarkan oleh pelayan kedai tersebut.

“Silakan menikmati hidangannya tuan.” Kata pelayan itu sambil tersenyum ramah. Namja itu hanya membalas perkataan pelayan tersebut dengan senyuman simpulnya. Lalu cangkir berisi kopi tersebut diangkatnya dari atas meja kemudian dia mulai meneguk cangkir kopi panas itu secara perlahan-lahan.

“Ternyata rasa kopi ini tidak sepahit yang aku pikirkan. Apakah mungkin karena tidak ada kau disampingku lagi sehingga rasa pahit kopi ini tak sebanding dengan rasa pilu yang kau torehkan di hatiku, Jiyeon-ssi…” Gumam Lay sambil kedua matanya menatap kosong kearah luar  jendela.

~~~ooo~~~

~Pov Lay~

Entah kenapa akhir-akhir ini aku sangat menyukai kopi. Bahkan setiap malamnya saat aku tak bisa tertidur aku selalu menyempatkan diri untuk membuat secangkir expresso, padahal dulu aku sangat tidak menyukainya. Apakah kau tahu kau itu tak jauh beda seperti caffein yang membuatku selalu kecanduan saat aku mencobanya sekali saja. Aku sekarang baru tahu kenapa kau sangat menyukai minuman pahit ini, mungkin saja kau sudah kecanduan akan caffein yang ada didalam minuman itu. Asal kau tahu saja  Jiyeon-ah, kau dan aku tak jauh beda. Kau kecanduan akan pahit dan manisnya kopi yang sering kau rasakan sedangkan aku kecanduan akan dirimu yang selalu ada disampingku dan aku tak bisa melepaskan dirimu dari pikiran ku bahkan sedetikpun, aku selalu membayangkanmu.

Aku berusaha melupakanmu segenap kemampuan ku tapi entah mengapa aku tak dapat melupakanmu. Saat aku mengenang mu jantungku berdegup dengan cepat bahkan aku sampai tak dapat bernafas saat mengingat kau meninggalkan aku begitu saja. Aku sempat berfikir, apakah selama ini hanya aku saja yang mencintaimu? Apakah kau selama ini sama sekali tak pernah merasakan takut kehilangan diriku? Saat aku memikirkan itu, didalam hatikupun mulai timbul sedikit rasa untuk  membencimu. Tapi apakah aku bisa membenci orang yang sangat aku cintai ini? Apakah aku mampu? Hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.

~~~ooo~~~
Cause you’re like caffeine, I can’t fall asleep all night
My heart keeps racing and again, I hate you
Like caffeine, I try to stay away
I try to forget about you but I can’t do it, I can’t help it
~~~ooo~~~

-Siang harinya-

Dari kejauhan terlihat ada seorang yeoja sedang berjalan sempoyongan dengan kedua mata yang sebab. Sesekali gadis itu menegadahkan kepalanya untuk melihat langit yang cerah namun entah mengapa pada saat itu juga yeoja itu mulai mengeluarkan airmata. Orang-orang yang melihatnyapun seperti memandang sinis dan heran kepadanya. Namun gadis itu tak memperdulikan orang-orang disekelilingnya. Gadis itu malah jatuh terduduk tepat ditengah jalan sambil menagis terisak-isak.

Yeoja itu berusaha menghentikan airmatanya namun semakin dia berusaha menghentikannya malah sebaliknya yang terjadi. Airmata itupun terus menetes dari kedua sudut matanya. Sesekali gadis itu memukul-mukul pelan dadanya dengan sebelah tangannya, mungkin dia melakukan itu untuk sedikit membuat perasaannya tenang tapi semua itu sama sekali tidak membantu. Yeoja itu malah terus menangis.

Tak berapa lama datanglah seorang namja yang sedang berlari menghampirinya. Wajah namja itu seperti sangat khawatir dengan keadaan yeoja tersebut. Kemudian pria itupun membantu gadis itu bangun dari jatuhnya.

“Jiyeon-ah, gwenchana?” Tanya namja itu sambil membantu Jiyeon berdiri.

Jiyeonpun lalu menengok kearah namja tersebut. “…Luhan-ssi?” Dengan mata yang berkaca-kaca.

“Apa yang sudah terjadi pada dirimu? Kenapa kau menangis?”

“…I-itu… Aku baru saja putus dengan Lay.” Dengan nada yang bergetar.

“Benarkah?” Balas Luhan dengan ekspresi kaget. Jiyeonpun membalas ucapan Luhan hanya dengan anggukan kepalanya.

“A-apakah benar Lay melakukan hal itu semua, Luhan-ah? Sampai detik inipun aku masih belum percaya? Kau pasti tahu kebenarannya, Luhan-ssi… Kau itukan sahabat dekatnya.” Kata Jiyeon kepada Luhan sambil meneteskan airmata.

Mianhae, Jiyeon-ah…” Sambil membuang wajahnya dari hadapan Jiyeon. Melihat itu Jiyeon semakin gusar. Diapun mulai menarik kasar lengan jaket milik Luhan sambil tetap meneteskan airmata.

A-aniya! Kau pasti sekarang sedang menipuku… benarkan? Aku tahu dia tak akan pernah melakukan itu!!! Aku tahu ini semua hanyalah salah paham benarkan?! Jawab aku Luhan-ah!” Teriak Jiyeon.

“Jiyeon-ah… kau harus bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.” Balas Luhan

A-ni… ini bukan kenyataannya!!! Yang aku ketahui kenyataan yang sebenarnya dia tidak akan melakukan hal serendah itu dibelakangku!!!”

“Jiyeon-ah…” Balasnya.

Tubuh Jiyeonpun mulai bergetar hebat melihat itu Luhanpun merasa kasihan dan diapun mulai membantu menenangkan Jiyeon dengan memeluknya namun perlakukan yang Luhan berikan langsung ditolak oleh Jiyeon. Tubuh Luhanpun didorongnya untuk menjauh darinya.

“Aku tak perlu belas kasihan mu. Lebih baik kau simpan lagi benda ini aku tak membutuhkannya lagi!!”

Jiyeonpun langsung melempar amplop berwarna coklat dari dalam tasnya ke depan wajah Luhan. Isi didalam amplop itupun mulai bertebaran. Ternyata isi didalam amplop itu adalah beberapa foto. Ya… foto Lay bersama dengan seorang gadis lain sedang bermesraan.

“Ambil lagi semua foto ini. Aku tak mau melihatnya. Seharusnya kau tak perlu memberikan hal itu padaku.” Lalu Jiyeonpun pergi berlari meninggalkan Luhan.

 ~~~ooo~~~

~Pov Jiyeon~

Lay-ah apakah kau tahu betapa hancurnya hatiku saat aku tahu kau menduakan cintaku. Kenapa kau setega itu melakukannya terhadapku? Kau selalu berkata padaku kalau hanya aku seorang yang kau cintai tapi mana bukti ucapanmu itu? Semuanya hanyalah kebohongan belaka. Cinta yang sudah kau berikan padaku semuanya palsu. Padahal aku sangat tulus mencintaimu tapi apa yang aku terima dari mu, hanya pengkhianatan yang kau berikan padaku.

Setiap hari aku selalu merindukanmu. Bahkan sehari saja aku tak bertemu dengan mu aku seperti orang gila yang sangat merindukanmu. Maafkan aku kalau akhir-akhir ini aku mencoba menjauhimu. Tapi semua itu aku lakukan hanya semata-mata, aku hanya ingin tahu seberapa sayangnyakah dirimu padaku. Aku senang saat kau kesal terhadapku karena cemburu dengan temanku berarti aku sangat penting didalam hidupmu.

Tapi sepertinya semua itu hanya khayalanku saja. Kalau diriku sangat penting untukmu. Sekarang aku baru tahu ternyata kau tak pernah mencintaiku. Kata-kata manis yang sering kau ucapkan padaku semuanya hanyalah kebohongan.

Harusnya kau katakan sedari awal kalau kau sudah tak mencintaiku. Agar aku tidak merasakan terlalu sakit didalam hatiku ini. Kenapa aku harus tahu kebenarannya bukan dari dirimu sendiri tapi kenapa aku harus mengetahuinya dari sahabatmu?

Kenapa disini aku merasa kalau aku yang paling terluka? Aku berusaha untuk menutupi rasa sakit hatiku saat aku bertemu denganmu dan itu berhasil. Kau harus tahu satu hal yang tidak bisa aku bohongi darimu, yaitu aku sangat mencintaimu. Sekarang bukan kau saja yang aku benci tapi akupun mulai membenci diriku sendiri karena aku terlalu mencintai mu.”

~~~ooo~~~
Each time I breathe under the same sky we’re living in, I miss you
I go crazier when I think that, though I’m like this, I can’t let you go
~~~ooo~~~

~Pov Lay~

Saat aku hendak pergi dari cafe yang biasa kita datangi, aku tak sengaja melihat ada sepasang kekasih sedang bertengkar tepat diluar jendela dimana aku duduk. Aku merasa kalau mereka itu tak jauh beda dengan apa yang sudah terjadi kepada kita saat itu. Namja itu seperti diriku yang memohon agar kekasihnya itu tidak memutuskannya. Namja itupun sampai-sampai bersimpuh dibawah kaki kekasihnya. Terlihat memalukan memang saat lelaki itu melakukan hal seperti itu. Namun akhirnya gadis itupun luluh hatinya dan memaafkannya setelah itu merekapun berpelukan.

Melihat itu Aku mulai tertegun. Kenapa saat itu aku tak melakukan hal yang sama terhadap mu. Mungkin saja saat aku melakukan itu. Hubungan kita tidak akan seperti ini. Airmatakupun mulai menetes dikedua pipiku begitu saja tanpa bisa aku kendalikan. Aku merasa sangat menyesal tidak bisa berbuat apa-apa pada saat itu. Seandainya aku bisa memutar waktu mungkin aku bisa memperbaiki segalanya.

~~~ooo~~~
I see that couple fighting outside my window, tears well up, they look like us in the past
Look, Don’t do that and just hug her
Look at me, How do I look right now?
~~~ooo~~~

Tak bisakah kau memberikan aku kesempatan lagi  untuk memelukmu kembali kedalam pelukanku, Jiyeon-ah? Hubungan percintaan kita ini tak semudah yang dilihat oleh orang banyak. Banyak rintangan yang kita hadapi berdua, kitapun saling terbuka dan percaya. Apakah aku pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal pada dirimu, Jiyeon-ah?

Kau kan tahu hanya kau gadis yang aku cinta dan yang aku sayangi tak ada wanita lain yang bisa menggantikan dirimu dihatiku. Bukannya kita saling mencintai? Kenapa kita harus berpisah seperti ini? Dulu kau tak seperti ini? Apa yang membuatmu berubah seperti itu padaku? Apa salahku padamu? Sampai detik inipun aku tak tahu kenapa semua ini terjadi.

~~~ooo~~~
Can’t you give me a chance to hold onto you?
Our relationship wasn’t something that could end so easily
Or am I mistaken?
Why did we even break up? I don’t know
I don’t know what happened
~~~ooo~~~

-Di hari berikutnya-

“Jiyeon-ssi… camkkanman…” Teriak seorang namja sambil berlari kecil kearah Jiyeon.

Wae geurae?” Sambil menghentikan langkah kakinya.

“Apakah kau baik-baik saja?” Tanya namja itu.

“…Ne, gwenchana.

“Apakah kau yakin kalau kau tak apa-apa? Soalnya kemarin aku diberitahu oleh Luhan kalau kau sedang tak enak badan.”

“Dasar, Luhan untuk apa dia memberitahukan itu padamu? Dasar kurang kerjaan.” Sambil menghela nafas yang panjang.

“Oh iya, dia cerita apa lagi tentang diriku padamu Suho-ssi?” Tanya Jiyeon.

“Dia hanya menceritakan kalau kau sekarang sedang tak enak badan.  Apakah lebih baik kau tak usah masuk kuliah hari ini. Wajahmu terlihat sangat pucat, Jiyeon-ssi. Mari aku antarkan kau pulang.” Tawar Suho.

A-aniya… Aku tak selemah itu, Suho-ssi.” Balas Jiyeon namun tiba-tiba kepala Jiyeonpun terasa sangat pusing dan tubuhnyapun lunglai tampa sebab. Namun dengan cepat Suho langsung meraih tubuh Jiyeon kedalam dekapannya sebelum terjatuh.

“Yah… lebih baik aku antarkan kau pulang sekarang.”

“Aku baik-baik saja, Suho-ah. Aku tadi hanya sedikit pusing.”

A-ani! Aku akan tetap mengantarmu pulang mau tak mau.”

Lalu Suho langsung mengangkat tubuh Jiyeon didalam dekapannya. Jiyeonpun kaget dan meminta segera diturunkan tapi Suho tak mau mendengarkan ucapan Jiyeon dan saat Suho berjalan sambil menggendong Jiyeon tanpa sengaja mereka berduapun berpapasan dengan Lay.

“Lay-ssi…” Kata Suho dengan wajah yang kaget sambil menurunkan Jiyeon.

“Aku hanya ingin membantu Jiyeon, itu saja. Kau jangan berpikiran macam-macam ya, Lay-ssi.” Tambah Suho. Namun Lay sama sekali tak merespon ucapan lawan bicaranya. Kedua matanya masih sibuk menatap Jiyeon yang sedang berdiri terdiam disamping Suho.

“Sudahlah, Suho-ah kau tak usah memikirkan dia. Lagian dia bukan siapa-siapa ku lagi.”

Mwo?? Bukannya kalian sepasang kekasih?”

“Sudahlah, aku tak mau membicarakan hal itu. Lebih baik kita pergi sekarang, bukannya kita akan pergi sekarang?” Sambil menarik lengan Suho untuk pergi bersamanya.

“Ta-tapi… bagaimana dengan Lay?”

“Aku tak peduli dengannya, memangnya dia siapa aku?” Balas Jiyeon sambil menatap sinis kearah Lay.

“Ayo… kita pergi sekarang.”

“Tapi aku tak enak bila kita pergi begitu saja di depan Lay, Jiyeon-ssi.”

“Baiklah, kalau itu mau mu. Kalau kau tak mau pergi sekarang dengan ku, aku tidak akan mau lagi bertemu denganmu bahkan aku tak akan mau lagi mengenalmu. Apakah itu mau mu?” Ancam Jiyeon.

“Lebih baik kau temani Jiyeon. Aku tak apa-apa. Kebetulan aku ada jam kuliah.” Sambil kedua matanya menatap arloji yang melekat di pergelangan tangan kanannya. kalau begitu aku pergi dulu ya, Suho-ssi.” Kata  Lay sambil menepuk bahu Suho setelah itu dia pergi meninggalkan Jiyeon dan Suho.

Saat punggung Lay mulai menjauh dari pandangannya kedua mata Jiyeonpun mulai berkaca-kaca. Sesekali Jiyeon mengigit bibir bawahnya karena berusaha menahan air mata yang akan segera jatuh tersebut.

Paboya, kenapa kau sedingin itu padaku. Minimal sapalah aku walaupun hanya mengucapkan kata hai. Dasar Lay bodoh…” Gumam Jiyeon sambil mengepal erat kedua tangannya. Tak berapa lama kemudian Suhopun mengajak Jiyeon untuk pergi.

“Mari, aku antar kau pulang Jiyeon-ssi.”

Gomawo, Suho-ah. Sepertinya aku ingin sendiri dulu tapi terimakasih banyak atas tawarannya. Aku pergi dulu ya.” Lalu Jiyeonpun pergi meninggalkan Suho.

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan mereka berdua? Kenapa mereka berdua bersikap seperti tidak saling mengenal? Apa peduliku? Itukan hubungan mereka kenapa aku yang jadi memikirkannya.” Kata Suho sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenernya tak merasa gatal sama sekali.

Saat Suho hendak beranjak dari sana, tak sengaja kakinya menginjak sesuatu. Ternyata yang baru saja dia injak adalah telefon genggam milik Jiyeon. Suhopun langsung mengambilnya dan berlari menyusul Jiyeon. Namun sayang saat Suho hendak menyusulnya, Suho sudah tak melihat keberadaan Jiyeon. tak berapa lama kemudian tiba-tiba ada seseorang menupuk pundaknya dari belakang.

Kkamjjagiya! Yak, kau membuat ku kanget saja Luhan-ssi.” Kata Suho.

Mian… Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau terlihat seperti sedang mencari seseorang?”

“Memang benar aku sedang mencari seseorang.”

“Memangnya kau sedang mencari siapa?” Tanya Luhan lagi dengan wajah yang penasaran.

“Park Jiyeon..” Tambah Suho sambil tetap melihat sekelilingnya.

“Jiyeon? Kenapa kau mencarinya?” Tanya Luhan lagi tapi kali ini ekspresi yang di tunjukan berubah menjadi serius.

“Iya, Jiyeon. Tadi telefon gengamnya terjatuh jadi aku mau mengembalikan kepadanya.”

“Bagaimana kalau telefon gengamnya kau titipkan padaku kebetulan aku nanti ada jam matakuliah yang sama dengan Jiyeon.” Tawar Luhan sambil tersenyum.

“Ahh… benar juga, kalau begitu aku minta tolong padamu ya. Tolong kembalikan telefon gengam ini padanya ya.” Sambil menyerahkan telefon gengam itu pada Luhan.

Ne.. Kalau begitu aku masuk kelas dulu ya.”

“Ya… jangan lupa ya kau berikan padanya.”

“Tentu saja, kau tak perlu mengkhawatirkan itu.” Balas Luhan sambil tetap berjalan kemudian melambaikan tangannya kepada Suho.

~~~ooo~~~

~Pov Jiyeon~

Maafkan aku Lay-ah, sudah berkata kasar padamu saat tadi. Aku sebenarnya tak ingin melakukan hal itu padamu tapi entah kenapa saat aku berkata itu padamu saat itu juga jantungku bergemuruh dan setelah itu kenapa sekarang hatiku terasa perih. Aku ingin sekali membalas rasa sakit hatiku padamu biar kau merasakan apa yang aku rasakan tapi kenapa malah aku yang merasa sangat terluka karena telah membuatmu sedih.

Ingin rasanya membencimu, tapi rasa benciku tak sebesar rasa cintaku padamu. Bahkan sampai detik ini aku sering tersenyum bahkan tertawa saat mengenang masa-masa saat kita masih bersama. Mungkinkah aku sudah gila karena terlalu merindukanmu?

~~~ooo~~~
Even though I hate you like this
When I think about the times we were together, I smile
~~~ooo~~~

Ditempat yang lainnya, Lay sudah duduk termenung di atas bangku kelasnya. Wajahnya terlihat sangat lesu dan tak bersemangat. Terlihat sangat jelas kalau ada sesuatu yang dipikirkan Lay tanpa harus dia menceritakannya pada seseorang.

Tak berapa lama kemudian datanglah seorang namja dan namja itupun langsung duduk tepat disamping Lay. Namun Lay sama sekali tak meyadarinya dia masih tetap saja terdiam sampai akhirnya namja itupun yang memulai perkataan.

“Lay-ah… apakah kau baik-baik saja?” Kata pria itu sambil menepuk atas pundak Lay.

“Ah… Luhan-ssi? Senjak kapan kau ada disitu?” Tanya Lay dengan wajah yang sedikit kaget.

“Sudah 10 menit aku duduk disampingmu tapi kau belum sama sekali menyadarinya? Ckckck… apa yang sedang kau fikirkan Lay-ah. Ceritakanlah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.”

“Sebenarnya…” Belum sempat Lay menyelesaikan perkataannya tiba-tiba dosenpun datang sehingga percakapan merekapun terputus.

Di sepanjang jam matakuliah tersebut, Lay sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Pikirannya semua tertuju kepada Jiyeon dan itu membuat kepalanya seperti ingin pecah. Tak terasa sudah hampir 2 jam mata kuliah yang diikuti Lay tak berapa lama kemudian terdengarlah suara bel tanda mata kuliah tersebut selesai. Lay pun langsung merapikan peralatan tulisnya dan diapun hendak keluar dari kelas sehabis Dosen tersebut keluar terlebih dahulu dari dalam kelas. Belum sempat Lay pergi tiba-tiba Luhan panik diapun langsung mencari barang tersebut dengan cara mengeluarkan semua isi didalam tasnya. Melihat itu Lay pun mengurungkan niatnya dan kemudian membantu Luhan mencari barang yang hilang tersebut.

“Dimana ya? Padahal tadi ada disini.”

“Memangnya barang apa yang hilang, Luhan-ah?”

“Telefon gengamku hilang. Padahal tadi pagi masih aku pakai.” Balas Luhan.

“Bagaimana kalau kau telefon, siapa tahu terjatuh dan diambil oleh orang yang menemukannya.”

“Betul sekali itu, kalau begitu bolehkan aku meminjam telefon gengammu, Lay-ssi.”

“Tentu.. silakan.” Lalu telefon gengam milik Lay pun sudah beralih tangan.

“Terimakasih, Lay-ssi.”

Luhanpun lalu pergi keluar kelas untuk menelefon karena kebetulan keadaan dalam kelas tersebut sedang bising. Laypun menunggu Luhan didalam kelas. Sesekali Lay melihat jam arlojinya. Tak berapa lama kemudian Luhanmu selesai menelefon dan diapun masuk kembali kedalam kelas dan Luhan langsung mengembalikan telefon gengam Lay.

“Maaf ya sudah menunggu lama, Lay-ssi. Ini telefonmu. Terimakasih.”

“Iya… sama-sama. Oh iya, lalu dimana telefon genganmmu sekarang? Apakah sudah ketemu?”

“Ternyata telefon gengamku ketinggalan di rumah. Aku lupa saat sarapan tadi aku tinggalkan diatas meja makan. Tadi eomma yang mengangkat telefonku.”

“Aah… syukurlah kalau begitu. Oh iya, Luhan-ah sepertinya aku harus pergi.”

“Kau mau pergi kemana? Seperti kau sedang terburu-buru?”

“Tidak kok aku hanya ada janji saja untuk bertemu dengan seseorang, aku pergi dulu ya, sampai ketemu besok lagi Luhan-ssi.”

Ne, hati-hati dijalan ya Lay-ah..”

Ye...” Balasnya.

~~~ooo~~~

~Pov Lay~

Kenapa aku selalu memikirkannya? Aku kan bukan siap-siapanya lagi? Jadi untuk apa mengkhawatrikan dirinya. Tapi tadi wajahnya terlihat sangat pucat. Apakah dia baik-baik saja sekarang? A-niya… Lay-ssi kumpulkan kembali semua kesadaranmu. Jiyeon itu bukan siapa-siapamu lagi! Bukannya sudah ada laki-laki lain yang sudah ada disisinya yang bisa melindungi dirinya?”

“Tapi kenapa aku tidak rela saat melihat kedekatan mereka? Aku merasa sangat kesal dibuatnya bahkan aku ingin segera menarik tubuh Jiyeon untuk menjauh dari namja itu. Begitu cepatnyakah kau pergi kelain hati Jiyeon-ah… Apakah aku tak berarti untuk mu?

Aku ingin sekali melupakanmu tapi aku tak sanggup melakukannya. Kau selalu hadir didalam pikiranku bahkan saat aku menutup matapun, aku bisa melihatmu sedang tersenyum padaku. Mungkin benar aku tak bisa melupakanmu. Mungkin benar kalau aku sangat mencintaimu dan sekarang aku ingin melindungi mu dan berada disisimu meskipun kau bukanlah milik ku lagi.

~~~ooo~~~
Maybe I don’t want to forget you
Yes, I don’t want to forget you, I want to cherish you
~~~ooo~~~

Tanpa terasa waktu mulai berlalu begitu cepat. Haripun mulai gelap. Terlihat ada seorang laki – laki sedang berlari tergesa – gesa dan dia berhenti tepat didepan sebuah rumah sambil mengatur nafasnya yang masih terengah – engah .

“Jiyeon-ah kenapa kau tidak mengangkat telefon dariku? Apakah kamu masih marah kepadaku?

-Flash back-

“Bibib…bibib..biibi…” Terdengar suara bunyi pesan yang sekarang tepat berada diatas meja. Namja itupun lalu bangkit dari atas ranjang dengan langkah yang berat, saat dia membukanya wajahnyapun berubah, wajahnyapun terlihat sangat bersemangat. Diapun langsung mengambil jaket yang ada diatas sofa yang tak jauh dari ranjangnya dan dia langsung berlari menuruni anak tangga yang ada didalam rumahnya dan diapun langsung menyalahkan mobil sedannya yang berwarna hitam itu tersebut untuk bertemu dengan seseorang yang barusan saja menghubunginya.

“Jiyeon-ah, tunggulah aku. Aku akan secepatnya datang menjemputmu. Tak akan ku biarkan kau menjadi milik orang lain karena kamu hanyalah milik ku seorang.” Gumam Lay sambil mepercepat laju kendaraannya.

-Flash back end-

 

~~~ooo~~~

 

Setibanya disana Lay langsung keluar dari dalam mobil. Kedua pandangannyapun mulai sibuk melihat disekitarnya. Diapun tak lupa untuk memanggil –manggil nama pujaan hatinya. Namun tak ada balasan sama sekali dan tiba-tiba muncullah sosok seseorang berpakaian hitam yang memukul kepala Lay dari belakang. Sontak Lay pun langsung jatuh pingsan tanpa sempat dia melihat siapa orang yang memukulnya dari belakang dan dari sela-sela kepala Lay pun mengalir cairan kental yang berwarna kemerah yang keluar dari balik sisi rambutnya.

Tak berapa lama kemudian Lay pun terbangun. Betapa kagetnya dirinya saat dia tersadar tubuhnya sudah terikat diatas kursi disebuah gudang yang besar, tak ada satu pun orang disana, dia pun berusaha meminta tolong tapi percuma tak ada yang mendengar teriakannya. Kepalanya pun mulai merasakan berkedut-kedut karena bekas pukulan saat tadi. Tiba-tiba datanglah sosok misterius yang tadi memukulinya dan sekarang sosok itu sedang berjalan kearahnya. Lay pun mulai memincingkan kedua matanya untuk dapat melihat siapa orang tersebut.

“Siapa kau? Kenapa aku ada disini? Lepaskan aku!!” Teriak Lay kepada sosok misterius itu yang wajanya ditutupi oleh topeng.

“Kau ingin aku lepaskan? Itu tak semudah yang kau pikirkan, Lay-ah…”Katanya dengan suara yang dingin.

“Bagaimana kau tahu siapa nama ku?!! Siapa kau sebenarnya!!!” Teriaknya lagi.

“Kau ingin tahu siapa aku? Aku yang mengirimkan pesan itu kepadamu.” Balasnya lagi.

Mwo? Apakah kau itu Jiyeon?? Kau bukan Jiyeon, siapa sebenarnya kau!!!”

Lalu sosok misterius itupun membuka topengnya tepat didepan kedua mata Lay. Saat melihat siapa orang yang ada didalam topengku kedua mata Lay membulat lebar dia tak percaya dengan apa yang dia lihat barusan saat ini.

“Luhan-ssi…” Kata Lay dengan suara yang pelan.

“Benar… aku Luhan…” Balasnya sambil tersenyum sinis pada dirinya.

“Kenapa kau lakukan ini semua padaku? Dimana Jiyeon sekarang?”

“Hahaha, kau mau tahu kenapa aku melakukan ini semua? Kau sudah tahu apa yang aku inginkan.”

“Apa maksud ucapanmu? Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataanmu itu! Aku sedang tak ingin becanda denganmu, lepaskan aku sekarang juga!”

“Hahaha!!! Kau kira aku becanda? Aku tidak sedang becanda Lay-ssi… dan ada lagi yang mau aku katakan padamu kalau Jiyeon mungkin saja sudah jadian dengan Suho. Kau kan lihat sendiri betapa mesranya mereka berdua.”

Tiba-tiba luhan mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam jubahnya dan sekarang pisau itu diarahkan ke wajah Lay. Pisau itu mulai digerakan dengan perlahan-lahan di atas kulit wajah Lay yang mulus dan tak sengaja atau memang sudah diperhitungkan olehnya, sebelah pipi Lay pun terkena goresan dari pisau yang dipegang oleh Luhan.

“Apakah kau tahu apa kesalahanmu padaku?” Guman Luhan dengan ekspresi yang dingin.

“Apa mau mu kepada ku?” Balas Lay dengan bibir yang bergetar.

“Mau ku? Kenapa baru sekarang kau mengucapkan kalimat itu padaku? Seandainya kau katakan lebih awal mungkin keadaan ini tak akan terjadi.”

“Aku sama sekali tidak mengerti dari pembicaraan kita dari tadi.” Dengan suara yang parau.

“Baiklah akan aku buat ini menjadi mudah.”

Kemudian Luhan berjalan kesamping lemari yang cukup besar yang ada tepat disamping Luhan setelah itu dia membuka lemari itu dan disaat itu juga keluarlah seseorang itu dengan tubuh yang bersimbah darah yang jatuh tergeletak tak sadarkan diri.

“Suho-ssi! Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Aku hanya menikamnya saja tepat di sini.” Sambil memeragakannya tepat didepan mata Lay dengan cara menusukkan pisau tepat dijantung Suho dengan cara membabi buta.

“Yah… kau memang sudah gila, Luhan-ah… Kenapa kau tega melakukan itu semua?”

“Kau mau tahu kenapa aku melakukan ini semua? Aku melakukan ini semua karena aku ingin meraih pujaan hati makanya aku akan menyingkirkan semua namja yang ada disekelilingnya dan kau adalah orang terakhir yang akan menjadi targetku selanjutnya.” Sambil mengacungkan pisau yang ada digengamannya kearah Lay.

“Apakah kau mencintai Jiyeon? Senjak kapan kau menyukainya? Kenapa kau tak pernah mengatakan hal itu padaku?”

“Sudahlah, kau tak usah sok baik sekarang didepanku, semuanya sudah terlambat. Asal kau tahu saja yang duluan mengenalnya adalah aku dan yang menyukainya duluan adalah aku tapi kau tiba-tiba masuk kedalam hubungan ku dengan Jiyeon begitu saja dan kau juga tanpa sepengetahuan ku menyatakan cinta pada Jiyeon. Padahal kau seharusnya tak melakukan itu! Dia hanya milik ku seorang!!!” Teriaknya dengan ekspresi wajah yang marah.

“Luhan-ah… mianhae… aku tak tahu perasaanmu saat itu, aku kira…” belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya Luhan sudah memotongnya. “Kau kira aku tak suka dengan Jiyeon… itu alasan classic yang sering dikatakan oleh seorang pecundang seperti dirimu. Lebih baik kita selesaikan secepatnya, annyeong…”

Tanpa basa-basi pisau yang ada digengaman Luhan pun sekarang sudah tertempel diperut Lay. Lay sama sekali tak bisa berdaya saat Luhan menusuk perutnya berkali-kali dengan pisau bahkan pria itupun sampai memuntahkan darah dari dalam mulutnya tapi tak dihiraukan oleh Luhan. Setelah Lay tak berdaya lagi Luhanpun melepaskan ikatan yang melingkar ditubuh Lay.

Tubuh namja itupun jatuh terkapar tak jauh beda dengan Suho. Nafas lelaki itu mulai menyepat seperti sebentar lagi malaikat pencabut nyawa akan menarik semua roh didalam tubuhnya dengan kasar. Luhan tak menyadari kalau ternyata sudah ada sesosok gadis yang sedang berdiri dibelakangnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

“Jiyeon-ah… ba-bagaimana kau bisa ada disini??” Ucap Luhan sambil berjalan mendekatinya.

“Apa yang kau lakukan pada Lay!!!” Teriak Jiyeon

“Ini… semua salah paham… aku bisa menjelaskannya padamu.”Kilah luhan.

Tapi ucapannya tak dihiraukan Jiyeon. Jiyeon malah berlari kearah Lay yang sekarang sedang meregang nyawa.

“Lay-ah… ayo kita pergi dari sini sekarang.” Kata Jiyeon dengan airmata yang menetes dikedua pipinya sambil membantu Lay bangun tapi itu percuma dia lakukan karena Lay sama sekali tak mampu bergerak lagi. Kemudian Lay menghapus airmata yang jatuh di pipi Jiyeon dengan lembut.

“Jiyeon-ah… cepat kau lari… larilah secepat yang kau bisa…” Kata Lay dengan sisa tenanganya.

A-ani… aku tak akan meninggalkanmu sendirian disini! Kau harus pergi bersama ku!” Ucap Jiyeon sambil menggeleng-gelengkan kepala menyantakan bahwa dirinya  tak setuju dengan perkataan Lay.

“Jiyeon-ah… kumohon dengarkan aku… larilah sebisa mu dan pergilah sejauh mungkin mintalah bantuan… cepat tak ada waktu lagi.” Bisik Lay sambil sebelah tangannya menahan darah yang terus keluar dari perutnya.

“Ta-tapi…”

Pa-pali!!!” Bentaknya.

Jiyeon pun langsung berlari secepat mungkin dari sana. Melihat itu Luhan langsung ikut mengejar Jiyeon. Belum sempat Jiyeon berlari jauh Luhan sudah berhasil mendekapnya dari arah belakang. namun Jiyeon dengan kasar mendorong tubuh Luhan hingga tubuh Luhan pun jatuh tersungkur.

“Jangan pernah kau menyentuh tubuhku seinci saja dengan tangan kotormu itu!!!” Bentak Jiyeon.

“Jiyeon… tak bisakah kau berkata lembut dengan ku?”

Mwo?! Apakah kau sudah gila?! Dasar spikopat. Aku bahkan tak sudi mengenalmu!!!”

Saat Jiyeon hendak berlari lagi dari sana lengan Jiyeon sudah ditarik oleh Luhan dengan kasar dan sekarang Jiyeonlah yang tersungkur.

“Jiyeon-ah… kau sudah membuatku kehabisan kesabaran… kau sudah membuang kesempatan yang telah aku berikan padamu. Ternyata foto murahan itu tak bisa membuatmu benci pada Lay. Percuma aku menipumu.” Sambil tersenyum geli.

“Apa maksud ucapanmu?”

“Aku kasih tahu ya padamu yang sebenarnya. Foto yang aku berikan itu hanya rekayasa, aku yang mengedit semuanya…”

“Ta-tapi foto yang i-itu…”

“Yap… foto Lay berciuman dengan seorang gadis itu semua rekayasa aku yang sudah mengaturnya. Dan sekarang kau akan menjadi milikku sekarang bahkan untuk selamanya.”

“Sampai kapanpun aku takkan sudi menjadi kekasihmu bahkan menjadi temanmupun aku sudah merasa jijik!! Jadi jangan berharap lebih pada diriku.”

Mendengar ucapan Jiyeon seketika wajah Luhan menjadi sedih bahkan tanpa dia sadari diapun mulai meneteskan airmata tepat dihadapan Jiyeon yang sedang memandang dirinya dengan wajah yang penuh dengan amarah.

~~~ooo~~~

~Pov Luhan~

Kenapa kau selalu acuh pada ku? Kenapa kau tak mau menerima cintaku? Kenapa kau tak bisa melihat kebaikan ku di depan matamu. Apakah aku seburuk itu di depanmu sehingga kau tak bisa melihat diriku yang selalu ada disisimu, sebelum kau bersama dengan Laki-laki yang sekarang menjadi kekasihmu.

Apa lagi yang harus aku lakukan agar kau bisa mencintaiku minimal berikanlah sedikit rasa sayangmu padaku. Apakah sulit kau lakukan hal itu pada diriku? Padahal selama ini aku memberikan rasa sayangku bahkan rasa cintaku pada dirimu seorang. Tapi apa yang aku peroleh sekarang? Hanyalah cacimaki yang kau berikan padaku.

~~~ooo~~~

Luhanpun lalu memberi tanganya untuk membantu Jiyeon berdiri namun tangan Luhan langsung ditepis dengan kasar oleh Jiyeon.

“Aku tak butuh pertolnganmu, apakah kau tahu aku menjadi semakin jijik padamu saat aku mengingat kalau aku pernah berkenalan dengan mu.” Ucap Jiyeon dengan tatapan yang menyindir.

“Kau membuatku semakin tak bisa membiarkanmu pergi dari sini sekarang.” Kata Luhan dengan wajahnya yang datar.

“Apa maksudmu? Apakah kau ingin membunuhku juga?! Seperti yang kau lakukan pada Suho dan Lay, hah!!!”

“Aku tak akan membunuhmu, Jiyeon-ah… karena aku sangat mencintaimu. Apakah kau tak bisa melihat ketulusan cintaku?” Kali ini Luhan membalas perkataan gadis itu dengan tatapan yang sendu.

“Apa?! Ketulusan cinta? Apa kau tak salah? Ini semua hanyalah ambisimu saja. Lebih baik aku mati sekarang dari pada aku harus menjadi milikmu!!!” Tantang Jiyeon sambil berteriak kencang dihadapan Luhan.

Jiyeon lalu menarik lengan Luhan yang sedang memegang sebilah pisau untuk segera menusuk dirinya namun Luhan berusaha agar pisau itu menjauh dari Jiyeon tapi Jiyeon bersih keras agar pisau itu menusuk dirinya. Akhirnya tanpa sengaja pisau itupun menancap tepat di atas jantung Jiyeon. seketika tubuh Jiyeonpun rubuh.

Melihat itu Luhan langsung berlari kearah Jiyeon, namun Jiyeon tetap bersih keras tidak ingin bantuan dari dirinya. Tanpa Luhan sadari sudah ada seseorang yang ada dibelakangnya dan orang itupun memukul punggung Luhan dengan kerasa dari arah belakang dan tak butuh waktu yang lama Luhan pun jatuh tak sadarkan diri.

~~~ooo~~~

~10 menit kemudian~

Luhanpun sudah siuman dan saat dia sudah tersadar. Dia sudah ada diatas bangku dan kedua tangannya sudah terikat kencang di belakang bangku. Tak berapa lama datanglah seseorang menghampirinya dengan tubuh yang bersimbah darah.

“Ternyata kau masih hidup, Lay-ah… tapi sepertinya sebentar lagi kau akan mati kehabisan darah,  Hahaha!!!” Tawanya.

“Kata siapa dia yang akan mati duluan?” Ucap seorang yeoja dari balik punggung Lay.

“Jiyeon-ah, apakah kau baik-baik saja?”

“Seperti yang kau lihat sekarang.” Sambil memperlihatkan sebilah pisau yang masih menancap di atas dadanya dengan wajah yang pucat..

Mani aphayo?? Ayo aku antarkan kau ke rumah sakit. Kalau begini terus kau akan mati, Jiyeon-ah.”

“Mati?? Tentu aku akan mati tapi aku tak mau hanya  Suho, aku dan Lay saja yang mati disini.”

“Maksud ucapanmu apa?” Tanya Luhan.

“Kau sudah tahu apa maksudku, Luhan-ssi…” Sambil menyunggingkan senyuman tipisnya kemudian tiba-tiba Jiyeon langsung menyiramkan air yang ada didalam ember tepat kearah tubuh Luhan.

“Apa-apaan kau ini? Apa yang kau siram pada tubuhku? Apakah ini bensin?” Tanyanya dengan ekspresi wajah yang ketakutan.

“Menurutmu?”

Yak!! Neo michesseo?!” Teriak Luhan dengan wajah yang panik.

Ne… na, neomu – neomu michesseo.” Balas Jiyeon dengan wajah innocentnya setelah itu diapun merongoh kantung jaketnya dan kemudian dia mengeluarkan benda itu tepat dihadapan Luhan.

“Yah… apa yang sedang akan kau lakukan sekarang?” Ekspresi Luhanpun semakin katekutan. Sekarang wajah Luhanpun sudah dipenuhi oleh peluh yang bercucuran tak hentinya dari atas kepalanya.

“Ada apa dengan dirimu, Luhan-ssi? Kenapa kau terlihat sangat panik sekarang?  Apakah sekarang  kau mulai ketakutan, Luhan-ah!” Ucap Jiyeon dengan suara yang pelan namun setiap kalimat yang keluar dari bibirnya yang pucat itu penuh dengan ancaman.

“Jyeon-ah… tolong jangan kau lakukan itu padaku. Maafkan aku. Kumohon…” Pinta Luhan dengan wajah yang memelas.

“Apa?! Apa kau kira semudah itu aku mau memaafkanmu setelah aku melihat apa yang sudah kau perbuat pada Lay, aku dan Suho? Apakah kau kira aku bodoh?”

“Sudahlah, Jiyeon-ah… lebih baik kita serahkan dirinya ke polisi.” Ucap Lay sambil berjalan kearah depan gadis itu.

“Tidak, Lay-ah… aku ingin dia juga merasakan hal yang sama seperti yang kita semua rasakan.”

Tiba-tiba tubuh Laypun roboh… Penglihatan Lay pun mulai memudar.  Melihat itu Jiyeon panik. Tapi Lay berusaha menenangkan Jiyeon.

“Jiyeon-ah… cepat telefon polisi. Waktu ku tak banyak lagi, Jiyeon-ah…” Nafas Lay mulai tak beraturan kedua matanya pun terbelalak lebar.

Lay sudah berusaha semampunya untuk menghentikan pendarahan dibagian perutnya tapi itu percuma saja karena sekarang dia mulai lemas tak berdaya karena pendarahan yang sudah dia tahan sedari tadi.

“Kumohon dengarkan perkataanku kali ini, Jiyeon-ah. Serahkan Luhan kepada pihak berwajib jangan kau kotori tanganmu untuk orang yang semacam ini.”

“Lay-ah… kau harus tetap berada disisiku, kita sudah berjanji  akan selalu bersama untuk selamanya.” Kata Jiyeon sambil meneteskan airmata.

Mianhaeyo... Jiyeon-ah… a-aku tak bi-bisa memenuhi jan-ji.. ki-kita… Sa-saranghae…” Pada saat itu juga Kedua mata pria itu pun tertutup rapat, tangannya yang mencengkram erat  perutnyapun sekarang jatuh tergeletak kebawah lantai.

A-aniiya… aku tak boleh meninggalkan aku sendiri disini, Lay-ah!!!” Teriak Jiyeon dengan histeris sambil mendekap kepala Lay didalam pelukannya. “Aku tak bisa hidup tanpamu, Lay-ah… andwae!!!” Jiyeonpun mulai menangis terisak – isak sambil tetap memeluk Lay.

Kemudian Jiyeonpun menelefon polisi… dia memberi tahu kalau di daerah ini ada pembunuhan. Setelah itu telefon gengamnyapun ditutupnya. Jiyeonpun lalu berjalan menghampiri Luhan.

“Lay-ah maafkan aku, aku tak bisa memengang janjiku yang terakhir ini.” Sambil menyalahkan sebuah korek api ditangannya.

“Jiyeon-ah apa yang sedang kau lakukan, Hah!!”

“Kau akan tahu apa yang akan aku lakukan sebentar lagi.” Lalu korek api itu dilemparkannya tepat dibadan Luhan dan dengan cepatnya api itu melahap tubuh Luhan di setiap incinya tanpa celah.

Setelah itu Jiyeon pun kembali dimana Lay sudah terkapar tak berdaya. Kepala Pria itu lalu dipangkunya di kedua paha milik gadis itu. Setelah itu Jiyeon mencabut pisau yang tertancap di atas dadanya. Darah pun mulai mengalir deras dari atas dada Jiyeon.

“Lay-ah… tunggulah aku disana. A-aku akan bersama denganmu sebentar lagi disana. Apabila didunia ini kita tak bisa bersatu itu tak masalah untuk ku karena kita akan bertemu di dunia yang lainnya.” Kata Jiyeon dengan suara yang bergetar dan kemudian diapun mengecup lembut bibir Lay yang sudah beku sedingin es. Tak berapa lama kemudian gadis itu pun menghembuskan nafas terakhirnya didalam dekapan pujaan hatinya.

Beberapa menit kemudian terdengarlah suara sirene mobil polisi. Saat tiba dimana tempat yang dimaksud polisi sudah menemukan lebih dari satu jenazah yang  yang tergeletak begitu saja disana. Semua Jenazah itupun di masukkan kedalam sebuah ambulan untuk di evakuasi.

Anak buah polisi itupun melaporkan kepada komandannya disana sudah terjadi pembunuhan berantai dan ditemukan 3 jenazah di tempat kejadian perkara. Kasus itupun ditutup karena tidak ada cukup bukti siapa dalang dari kasus pembunuhan semua itu.

~~~ooo~~~

~Sebulan kemudian~

“Tik..tok..tik..tok…” terdengar suara dentingan jarum jam diatas dinding yang sedang berjalan disetiap detiknya dan tak jauh dari sana  terlihat juga tepat di bawah jam tersebut ada seorang namja yang sedang asik menikmati secangkir kopi panas sambil duduk diatas sofa yang terbuat dari kulit harimau.

Pandangan mata namja tersebut seperti kosong, terkadang dia tersenyum, terkadang juga menangis bahkan dia juga tertawa tanpa sebab. Seandainya ada seseorang disampingnya atau yang melihatnya mungkin orang itu berfikir kalau namja itu sudah gila. Namun tiba-tiba namja itu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam saku celananya dan tak berapa lama kemudian terdengarlah suara letupan senapan angin.

“Door!!!”

Tubuh namja itupun jatuh terkapar dibawah karpet berbludru putih yang kini permadani tersebut berwarna merah pekat karena terkena darah yang mengalir dari kepala namja tersebut. Beberapa detik kemudian namja itupun menghembuskan nafas terakhirnya sambil mengengam erat sebuah foto kecil di tangannya.

~~~ooo~~~

~Pov Luhan~

“Kau memang gadis yang jahat dari awal sampai akhir kau tetap menjadi gadis yang jahat untuk ku. Tapi kenapa aku tak bisa lepas darimu? Kedua mataku selalu memandang kearahmu meskipun aku tahu kau tak pernah memandangku bahkan menyadari keberadaanku. Tapi aku tetap menyukai mu meskipun kau selalu bersikap acuh tak acuh padaku. Mungkin benar aku sudah menjadi gila karena terlalu mencintaimu. Aku seperti kecanduan akan dirimu. Dirimu tak jauh beda seperti caffein yang ada didalam kopi yang membuat penikmat kopi kecanduan akan pahit manisnya minuman itu.” seraya menghela nafas yang panjang sambil tetap menatap foto yang ada didalam gengamanku.

~~~ooo~~~

You’re bad to me, so bad to me, oh girl you’re like caffeine
You’re bad to me, so bad to me, oh girl you’re like caffeine
You’re bad to me, so bad to me, oh girl you’re like caffeine
You’re bad to me, so bad to me, so bad to me yeah

~~~ooo~~~

~The End~

~~~ooo~~~

Annyeonghaseo yeorobun ….

Ketemu lagi sama Phiyun disini (^-^)/

mudah-mudan kalian semua gak bosen yah ketemu aku terus, hehe 😀

Aku buat ff onesoot lagi nih hihii 😀 maap yah kalau ceritanya rada gaje and berakhir dengan sad ending…   Semoga kalian menyukainya yah ^^

Maaf bila banyak Typo’s yang bertebaran saat membaca cerita ini, maklum author juga manusia biasa ^^

Jangan lupa RCL-nya ya Chingu karena komentar dari kalian semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam menulis cerita selanjutnya … 😀

See you next Fanfic ku berikutnya….

Khamsahamida (^-^) v

Advertisements

10 thoughts on “[Oneshoot] Caffeine

    • Mian… miminnya pas buat lagi kesambet apa tau nih jadi ffnya begitu deh, hehehe 😀
      tenang nanti aku buat ff jiyi yg happy end deh
      makasih yah dah mampir kesini n komennya ^^

      Like

    • Makasih atas pujiannya ^^
      Iya disini Luhannya jadi spikopat gara” cinta sama jiyi
      aku udah posting kok yang Falling for innocancenya yang terbaru, coba di cek ^^
      Makasih yah day nyempetin mampir kesini buat baca n komennya 😉

      Like

  1. Nangiss gw nangisssss T.T

    Njirr semua pada mati gegara Luhan ge 😥

    Sebenernya udah curiga ama Luhan dari awal. tentang foto dan handphonenya Jiyi

    Ya ampun semua kecanduan ke Jiyi ya wkwkw kecuali Suho.

    Pas banget dengan judulnya Caffein jadi Jiyi itu seperti Caffein untuk Lay dan Luhan :3

    Seneng dengan castnya cowonya Lay dan Luhan

    Daebak Thor sumpah ini DAEBAK banget (y)

    Di tunggu f Jiyi lainnya 🙂

    Liked by 1 person

    • Waduh,… maap udah buat kamu nangis say…
      Entah apa yang merasuki diri author ini, jadi woalah… ceritanya jadi sad ending deh, hiks…hikss..hikss T.T

      Setuju Jiyi disini kaya caffein yang bikin kecanduan, kekee 😀
      Okeh deh… ditunggu ya ff ku yang lainnya ^^

      Kamu juga bisa baca ff ku yang jiyi yang lain di: https://taraqueensfanfictions.wordpress.com/

      Makasih yah dah nyempetin baca ff ku ini n komennya ^^

      Like

  2. aigoo ternyata luhan begitu terobsesi banget dg jiyeon.
    karna perbuatan luhan sendiri tg mengakibatkan pembunuhan berantai..
    oh ya ditunggu lanjutan ff mu yg lainnya..
    sekedar saran kalau udah kenal dekat pasti memanggil nama dg akhiran ah kalau shi itu yg formal..

    Liked by 1 person

    • Iya Luhannya terlalu cinta banget ma jiyeon jadi bawaannya pengen ngebunuh semua cowo yang deket sama jiyi deh..
      makasih banyak ya sarannya, nanti di ff selanjutnya akan aku perbaiki n makasih ya dah nyempetin mampir kesini sama komennya ^^

      Like

  3. critanya knp mati smua. ..aigo.. yg aq bing klo mereka berbicra.. kadang manggilnya .. jiyeon-ah… kadang jiyeon -ssi…. knp beda2.kn itt sdng sama pacarnya. . dlm satu percakapan manggilnya ko beda…

    Liked by 1 person

    • Mian aku buat cerita kali ini castnya mati semua 😦
      hehee… maap juga ya, pemanggilannya berbeda. awalnya maksud aku kenapa panggilan mereka kadang ada “sshi” kadang “ah”. maksud aku saat mereka sedang beragument dengan nada yang kesal aku paku “sshi” biar berasa dialog marahnya, gitu maksud ku. tapi kayanya kurang dapet yah, hihi mian. Btw makasih ya dah nyempetin mampir kesini n komennya ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s