Dilemma Of Past Present Love ( Chapter 2-end)

Dilemma Of Pass Present Love (End)

dilemma-of-past-present-love-2

Author                        :  Vera Riantiwi

Tittle                           : Dilemma of Kamuve Past

Length                        : Twoshoot

Cast                            : –  Ryu Sujeong (Lovelyz)

–  Park Chanyeol (Exo)

Other Cast                 : Kim Suho (Exo), Lee Miju (Lovelyz), Byun Baekhuyun (Exo), etc

 Genree                       : Romantis, School life, Sad, Angst, etc

Author Note   : Annyeong !! aku hadir dengn cerita baru… heheheh mian kalau ceritanya kurang menarik dan masih banyak yang salah-salah.

Author No Comment deh,,,,, ^^

Happy Reading dan yang terpenting ‘Maafkan atas banyaknya Typo’

Disclaimer : ini hanya sebatas ff. Jadi mereka yg disini hanya pinjam. Terinspirasi oleh pemikiran sendiri, so DON’T COPAS!!!

ALLOWED!!

NB :  Tolong bagi Silent Readers Tobatlah kalian semua… tolong hargai Karya kami dengan cara meninggalkan jejak kalian di komentar… kami butuh Komentar kalian untuk lebih baik lagi… terima kasih yang sudah menjadi Readers yang baik dengan meninggalkan jejak…

Sujeong POV :

Sujeong ditempatkan di kelas XI IPA 4.

“Aku boleh duduk di sini?” tiba-tiba seorang namja berambut ikal mengusik Sujeong dari lamunannya.

“Mmm… ya, tentu saja.” Jawab Sujeong ramah.

Namja itu duduk di samping Sujeong, lalu terdiam tanpa melakukan apa-apa. Walaupun merasa agak aneh dengan sikap namja itu, Sujeong diam saja dan melanjutkan kesibukan mencoret-coret buku catatannya yang masih kosong.

“Hmm, kenalin, Aku Oh Sehun.” Akhirnya si namja bersuara.

Dia mengulurkan tangan.

“Aku Sujeong.” Sambutnya.

“Oh ya, Aku harap Kamu bisa bantu Aku beradaptasi di sekolah ini. Jujur aja, Aku agak pendiam kalau berada di lingkungan baru.” Kata Sehun.

Sujeong mengangkat alis. “Tunggu! Jadi maksud Kamu, Kamu anak baru di sekolah ini?” Tanya Sujeong.

Sekarang giliran Sehun yang memasang wajah heran. “Iya…” jawabnya.

“Memangnya Kamu nggak kenal teman-teman Kamu sendiri?” tanyaya.

“Hmmph… hahaha… ups, maaf!” Sujeong cepat-cepat meralat sikapnya yang nggak sopan. “Kenapa sih?” Tanya Sehun hati-hati.

“Hmmm… nggak kok, Aku merasa lucu saja Kamu ngomong kayak gitu. Jujur saja, sebenarnya ini juga hari pertama Aku di sekolah ini.” Jelas Sujeong sambil memberikan senyum manis yang membuat siapa pun terpesona.

“Oh, geure…” Sehun mengerti.

“Kebetulan sekali, ne? Aku jadi tidak canggung karena punya teman senasib.” Kata Sehun.

“Sama!” balas Sujeong ceria.

***

Author’s Pov :

Tiga hari pertama di awal tahun ajaran jelas asyik. Meski harus gotong royong membersihkan kelas dan lingkungan sekolah.

“Ternyata di sini asyik juga, ya.” Ujar Sehun sambil duduk di bangku yang menghadap Sujeong. Yeoja itu memejamkan mata.

“Hmmm…” kata Sujeong tanpa membuka mata.

“Kamu tidak haus? Aku mau ke kantin beli minuman.” Ajak Sehun pada Sujeong dan dengan segera mata Sujeong langsung terbuka.

“Aku titip milkshake chocholate sama kripik, ya!” dengan semangat dia membuka dompet. Sehun tersenyum melihat tingkah Sujeong.

‘‘Ya udah, Kamu tunggu di sini ya.” Katanya sambil berlalu.

Sujeong meregangkan tangannya yang lumayan lelah setelah merapikan bugenvil di samping taman. Ditatapnya lapangan sekolah yang luas. Di sana sedang berlangsung kegiatan MOS siswa baru. Sujeong menangkap sosok Chanyeol yang sedang mengawasi kegiatan MOS. Sujeong menyisir rambutnya yang kusut dengan jari, kemudian mengikatnya asal-asalan.

“Annyeong, sendirian saja?” tiba-tiba Chanyeol sudah mucul di hadapan Sujeong.

“Eh… Annyeong…” Sujeong jadi salah tingkah.

Chanyeol duduk di samping Sujeong.

“Sibuk ya?” Sujeong memuntarkan pertanyaan basi.

“Yaaah… lumayan.” Sahut Chanyeol.

“Aku tidak menyangka bakal ketemu Kamu di sini.” Katanya.

“Aku juga kaget.” Sahut Sujeong.

“Tapi Aku senang banget lho, soalnya bisa dibilang doa Aku terkabul.” Ujar Chanyeol sambil tersenyum.

“Oh ya, tangan Kamu yang luka kemarin gimana?” Tanya namja itu sambil meraih tangan Sujeong dan mengamatinya.

“Masih sakit?”tanya Chanyeol pada Sujeong.

“Ngg… sudah tidak lagi.” Kata Sujeong sambil menarik tangannya.

Tapi Chanyeol menahan.

“Ada apa?” Tanya Sujeong. Namja itu menatapnya.

“Kamu mau tutup mata sebentar?” Pinta Chanyeol.

“Buat apa?” tanya Sujeong heran.

“Tutup saja. Tiga detik cukup kok.” Sahut Chanyeol.

Akhirnya Sujeong menutup mata. Tiga detik berlalu.

“Sekarang, buka mata Kamu.” Kata Chanyeol.

Sujeong membuka mata dan…

“A present for you…” kata Chanyeol sambil meletakkan sebuah kado kecil di tangan Sujeong. “Mianhae, telat.” Kata Chanyeol.

“Jongmalyo ini buat Aku?” Sujeong tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.

Dibukanya kotak itu. Dia mendapati sebentuk kalung dengan liontin kupu-kupu kecil yang sangat manis.

“Kalung?” bisik Sujeong.

“Wuuuaaahhhh,,, jongmal yeopo…!” pekik Sujeong senang.

“Suka?” Tanya Chanyeol.

“Tentu saja Oppa!” pekik Sujeong senang.

“Aku pasangin ya.” Ujar Chanyeol.

“Tadinya nanti sore Aku mau mampir di rumah Kamu untuk mengantar hadiah ini. Eh, kita malah ketemu di sini.” Lanjut Chanyeol lagi.

Sujeong mengangkat rambutnya sementara Chanyeol memakaikan kalung itu.

“Cantik.” Kata Chanyeol spontan.

Sujeong hanya menatap namja itu. Chanyeol jadi salting sendiri.

“Nggak heran sih lihat Yeoja lupa diri kalau sudah berhadapan sama Aku. Hehehe…” kata Chanyeol dengan pede.

“Ih… norak.” Balas Sujeong sambil memukul lengan namja itu.

“Awww!” Chanyeol berteriak sambil mengusap-usap lengannya yang masih sakit karena ditabrak Sujeong beberapa hari yang lalu.

“Sakit, tau! Cantik-cantik tapi sadis…” katanya.

“CHANYEOL-AAhhh!” suara seorang Yeoja.

“Kamu ke mana saja sih?! Kami pusing nyariin Kamu, tau! Kamunya malah ada di sini.” Kata Yeoja berambut ikal panjang itu melempar pandangan tidak suka pada Sujeong.

“Tahu orang sibuk malah digangguin!” umpatnya kepada Sujeong.

“Kamu kalau ngomong bisa sopan sedikit nggak sih?” tegur Chanyeol.

Tahu-tahu Sehun muncul dari arah berlawanan. Dia menghampiri Sujeong.

“Seo Jisoo?” ujar Sehun pelan.

Yeoja bernama Jisoo itu jelas-jelas terkejut.

Dia langsung menarik Chanyeol menjauh secepat mungkin.

“Kamu kenal dia?” Tanya Sujeong sinis.

Sehun tidak menjawab.

“YYAa!” tegur Sujeong sambil menepuk lengan Sehun.

“Eh, mian. Waeyo?” Tanya Sehun.

“Tuh Yeoja rese banget!” Sujeong menumpahkan kekesalannya pada Sehun.

“Tadi itu namjachigunya, ya?” Tanya Sehun.

“Mana Aku tahu?! Aku saja baru dua hari di sini. Sama kayak Kamu!” jawab Sujeong kesal. “Emang Kamu kenal di mana sama nenek sihir itu?” tanyanya ketus.

“Bisa di mana saja.” Jawab Sehun sekenanya.

***

 

Sujeong POV :

“Sst… Jeongi-ah!” sebuah sikutan membuat Sujeong kaget.

“Ihhh… Kamu apaan sih, Kay.” Sujeong mendesis sebal.

“Bikin jantungan, tau!” desis Sujeong lagi.

“Sst… liat tuh!” Kay menunjuk bangku di sudut perpustakaan.

Sehun.

Sujeong hanya geleng-geleng kepala. Nggak terasa satu bulan sudah berlalu. Sujeong sekarang lebih dekat dengan Kay, Yeoja imut yang suka sekali dengan Sehun yang sudah menjadi idolanya sejak pertama sekolah. Beberapa kali Sujeong sempat memergoki namja itu menatap Jisoo dari jauh. Tatapannya pun gimana… gitu. Huh… kasihan, pikir Sujeong.

“Emang kenapa lagi dia?” ujar Sujeong.

“Tampan sekali… apalagi kalau lagi baca buku sains seperti itu…” sahut Kay.

“Apalagi kalau…”

“Ih, biasa saja, kali!” potong Sujeong.

“Tapi Aku sukaaa…” pekik Kay pada Sujeong tapi dia tidak berkomentar dan kembali menekuni deretan buku. Karena Sehun namja tipikal kutu buku yang hobi duduk di perpus, maka nyaris setiap hari Sujeong di tarik Kay ke sana, bersembunyi di balik rak, lalu dia sendiri akan menatap namja itu tidak habis-habisnya.

“Jeongi-ah…. Jeongi-ah!” Kay kembali menyikut Sujeong.

“Apa lagi sih?” desis Sujeong kesal.

“Itu…” kata Kay terkejut.

“Itu apa?” Tanya Sujeong.

“Si Sehun kenapa tuh?” tanya Kay lagi.

“Kenapa gimana?” kata Sujeong sambil menoleh pada Kay.

Sekarang Sehun mengangkat bukunya hingga menutup wajah, jelas sedang mengawasi sesuatu. “Dia melihat ke arah sana.” Ujar Sujeong.

Deg!

Sujeong melihat Jisoo sedang bercerita dengan suara sangat pelan dengan Chanyeol. Mereka mendekatkan kepala. Entah kenapa rasa cemburu tiba-tiba muncul begitu saja di hati Sujeong. Semenjak dia bersekolah di sini Chanyeol selalu berusaha menemuinya, bagi Sujeong semua itu belum terlalu berarti. Chanyeol sepertinya terlalu terikat dengan Jisoo. Namja itu sepertinya terlalu menuruti keinginan Jisoo, meskipun itu nggak sesusai dengan keinginan hatinya. “Kenapa…” Sujeong mendengar isakan kecil di dekat kakinya.

“Kenapa apa?” Tanya Sujeong lembut sambil menyentuh bahu Kay.

“Kenapa namja yang Aku taksir justru merhatiin Yeoja lain? Dan kenapa harus si nenek sihir itu, coba.” Kata Kay diselingi isakannya.

“Sudahlah, kajja kita keluar saja yuk.” Ajak Sujeong.

***

Sujeong POV :

“Huh, mana panas, nggak ada teman, lagi. Garing!” Dia ingin menunggu matahari sedikit redup untuk berjalan kaki menuju halte yang lumayan jauh.

“Mau Aku antar pulang, Jeongi?” suara Sehun membuat Sujeong tersentak.

“Lho, Kamu belum pulang?” balas Sujeong heran.

“Baru mau nih. Tadi Aku lupa mengembalikan buku perpustakaan makanya nggak langsung pulang.” Jawab Sehun.

“Oh…” kata Sujeong paham.

“Boleh juga.” Dalam lima menit Sujeong sudah duduk di boncengan Sehun. Tiba-tiba Sehun mengerem motornya dan berbalik arah secepat dia bisa.

“Ada apa sih?” Tanya Sujeong.

Sehun sedang membuntuti Honda Jazz hijau metalik. Entah siapa penumpang mobil itu. Akhirnya mobil itu berhenti di depan kafe yang tidak terlalu ramai. Dengan penasaran Sujeong menunggu sampai pintu mobil akhirnya terbuka.

Sialan! Yeoja nenek sihir itu lagi! Sujeong lagi-lagi panas melihat namja yang turun dari sisi lain mobil.

Chanyeol. “Mau ngapain?” Tanya Sujeong. Sehun tidak menjawab.

“Kamu aneh, tahu nggak?! kenapa juga Kamu mengharapkan Jisoo sampai seperti gini? Mending Kamu menanggapi orang yang justru sangat peduli sama Kamu!” kata Sujeong tegas. Dia teringat Kay yang hanya bisa kecewa dengan sikap Sehun yang tidak pernah memedulikannya.

“Memangnya ada gitu yang peduli sama Aku?” Tanya Sehun.

“Sehun-ah… buka dong mata dan hati Kamu itu. Yeoja di dunia ini nggak cuma Jisoo!” kata Sujeong yang kesal dengan pertanyaan Sehun barusan.

“Tau kok.” Sahut Sehun.

“Langsung pulang?”

“Pulang saja deh. Aku sudah lelah hari ini” Jawab Sujeong.

***

Sujeong POV :

“Benar-benar malam yang indah!” decak Sujeong.

“Aku juga suka langit malam! Apalagi kalau ada bulannya, ada bintangnya, pasti indah banget. Ya kan, Eonni?” sahut Yein. Sujeong sedang memotong sayuran. Malam itu Sujeong dan Eommanya di undang ikut acara barbekyu di halaman belakang rumah tetangganya itu. Acara itu untuk merayakan kenaikan jabatan Appa Yein, juga kehamilan Yuri Ahjuma. Akhirnya Yein akan dapet adik. Malam itu penampilan Sujeong super santai, dengan celana pendek dan kaus putih polos yang ringan. Rambutnya yang panjang diikat rapi.

“Ih… aku nggak suka paprika.” Celetuk Yein.

“Hampir semua sayuran aku nggak suka.” Sujeong terkesiap memandang Yein.

“Eonni kenapa?” Tanya Yein cemas.

“Eonni?!” ulangnya.

“JJJEEOOONNGGGIIIEEE- EEOONNIII!!” pekik Yein kesal yang tidak ditanggapi oleh Sujeong.

“Eh iya… Nan Gweancana, Yein-ah.” Sahut Sujeong.

Benaknya bergegas lari ke Minju, saudara kembarnya yang telah meninggalkannya. Tiba-tiba HP Sujeong bergetar.

Chanyeol.

“Hallo…” jawab Sujeong malas2an.

“Jeongi-ah, Kamu nggak di rumah, ya?” Tanya Chanyeol.

“Nggak, Aku di rumah sebelah. Kenapa?” jawab Sujeong dengan nada malas.

“Aku ada di depan rumah Kamu. Kamu keluar, ya? Nggak lama kok.” Pinta Chanyeol.

“Arraseo.” Jantung Sujeong berdebar-debar. Sujeong mendapati namja super keren itu berdiri di samping motor. Chanyeol mendongak dan tersenyum hangat.

“Hei, tumben datang malam-malam begini?” Tanya Sujeong.

“Mmm… Aku nggak mengganggu, kan?” tanya Chanyeol.

“Menurut Kamu?” kata Sujeong santai.

Chanyeol tersenyum kecil.

“Lagi makan, ya?” tanya Chanyeol lagi.

“Kok tahu?” Tanya Sujeong heran.

“Nih…” dengan ibu jarinya namja itu menghapus noda saus di sudut bibir Sujeong.

“Makan saja masih kayak anak kecil. Belepotan.” Kata Chanyeol sambil membersihkan kotoran yang ada disudut bibir Sujeong.

Sujeong tersipu malu dengan tindakan. “Eh… nggak apa-apa tahu.” Chanyeol menenangkannya. “Trus, ada apa?” tanya Sujeong.

“Oh ya, ban motor Aku tadi bocor, kalau ke bengkel jauh, paling deket ke rumah Kamu. Makanya Aku kemari. Boleh nggak nitip motor Aku untuk malam ini aja?” jelas Chanyeol. “Oh…” Sujeong sedikit kecewa.

“Ngg… boleh, kan?” Chanyeol jadi nggak yakin setelah melihat ekspresi Sujeong.

“Oh, nggak apa-apa!” kata Sujeong akhirnya. Namja itu pun mendorong motornya ke pekarangan rumah Sujeong.

“Umm… kayaknya Aku balik sekarang saja, ya.” Kata Chanyeol.

“Hah? Segitu doang?” kata Sujeong yang sedikit kecewa.

“Oh ya, makasih banget…” kata Chanyeol yang mengerti nada suara Sujeong yang kecewa. “Bukan itu maksud Aku.” Kilah Sujeong.

“Mmm… tapi ya sudah deh kalau Kamu memang mau buru-buru pulang.” Kata Sujeong akhirnya.

Namja itu terlihat kikuk. “Bukan begitu, Aku nggak mau ganggu acara Kamu. Itu aja.” Ujarnya serius.

“Mmm… sebenarnya Aku mau ngasih surprise ngajak Kamu keluar, tapi kayaknya Aku lagi nggak hoki. Apalagi ternyata Kamu juga ada acara. Mana sudah kemalaman, lagi.” jelas Chanyeol.

“Besok-besok Aku bikin janji dulu deh biar nggak berantakan” lanjut Chanyeol.

“Oh begitu ya. Nggak apa-apa, lagi.” Kata Sujeong akhirnya.

“Mianhae ne.” kata Chanyeol yang tidak enak dengan Sujeong.

“It’s okay oppa.” Sahut Sujeong.

“Oh ya, jaket Kamu. Aku sudah lama pengin balikin, tapi…” ucapan Chanyeol terhenti.

“Eits, nggak usah dilepas. Pakai saja, Aku nggak pernah pakai kok. Sudah Aku bilang, kan, kebesaran.” Kata Sujeong akhirnya. Namja itu menatap Sujeong penuh makna.

“Gomawo, ne.” Bisiknya.

***

Sujeong POV :

“Jeongi-ah…!” suara Kay membuat Sujeong yang sedang menggambar terkaget-kaget. “Hmmm?” jawab Sujeong dengan malas.

“Kamu kok kayak nggak penasaran gitu sih?” Tanya Kay manyun.

Sujeong menegakkan kepala. “Emang ada cerita apa?” Tanya Sujeong.

“Aku lagi senang banget, tahu nggak?” kata Kay dengan gembira.

“Tahu…” sahut Sujeong.

“Banget! Emang ada apa sih? Ada bagi-bagi coklat, ya?” kata Sujeong santai.

“Ih… bukan!” tukas Kay gemas.

“Tadi Aku ngobrol lagi sama Sehun oppa! Senang banget! Habis orangnya asyik banget, tahu nggak?” cerita Kay.

“Tahu…” jawab Sujeong.

“Dia nanggepin omongan Aku banget lho. Trus kalau ketawa… duh, makin tampan! Trus, besok Aku mau ke rumahnya. Hebat, kan, Aku?” jelas Kay lagi.

“Hebat bener! Tapi mau ngapain sih Kamu ke rumahnya?” Tanya Sujeong.

“Aku bilang saja mau belajar Fisika sama dia. Senin kan kita ulangan, jadi alasan Aku tuh urgent banget. Masuk akal banget, kan?” kata Kay dengan bangga.

“Ternyata Sehun tuh kalau diajak ngomong heboh juga ya, Aku pikir anaknya pendiam banget.” Kata Kay lagi.

“Wah, Chukhae ne!” kata Sujeong.

“Makin dekat sama target dong!” godanya.

“Nggak secepat itu, kali, Jeongi.” Katanya malu-malu.

“Kamu bisa aja.” Kata Kay lagi.

“Jeongi!” sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya. Mereka melihat Chanyeol masuk kelas dan berjalan mendekat.

“Aku ke toilet dulu, ya!” kata Kay.

Chanyeol duduk di bangku Kay sambil menghadap ke belakang, sehingga mereka berhadap-hadapan.

“Ada apa, Chanyeol Oppa?” Tanya Sujeong.

“Ntar malam Kamu nggak ada acara barbekyu lagi, kan? Aku mau ajak Kamu keluar.” Kata Chanyeol.

“Mmm, masa barbekyuan tiap hari sih?” Sujeong tertawa manis.

“Jadi Kamu mau Aku ajak keluar kan?” Tanya Chanyeol.

Sujeong mengangguk manis. “Ya udah, Aku kembali ke kelas ne, ntar Jisoo uring-uringan lagi, mencari Aku!” kata Chanyeol seraya berbalik cepat.

Mendengar itu, kebahagiaan yang tadi sempat mengsisi dada Sujeong serta-merta lenyap. Kenapa sih selalu Jisoo, Jisoo, Jisoo!

***

Sujeong POV :

Sujeong terjebak dalam suasana kafe yang heboh. “Jeongi, Waeyo dari tadi kok diam aja?” tegur Chanyeol. Sejak berangkat Sujeong memang sudah pasang tampang bête.

“Lagi ada masalah ya, Jeongi?” Tanya Chanyeol.

“Aku ngajak keluar di waktu yang salah, ya?” tanya Chanyeol lagi.

“Anniya.” Sahut Sujeong.

“Biasa aja.” Jawabnya tak acuh.

“Tapi tadi Kamu kayak nggak mau ngomong sama Aku tuh. Kayak Kamu nggak ada di sini saja, kayak Aku nggak ada di samping Kamu. Ada apa sih, Jeongi?” Chanyeol mulai kesal.

“Kok Kamu jadi marah sih?” Sujeong nggak mau kalah.

“Siapa yang nggak kesal? Kamu nggak jelas gitu.” Kata Chanyeol yang sudah tidak sabar.

“Ya udah!” Kata Sujeong kesal.

“Ya udah apa?” tanya Chanyeol lagi.

“Pulang.” Jawab Sujeong singkat.

“Jeongi-ah, Kamu kok jadi begini sih? Kalau ada masalah, Kamu cerita dong. Jangan seperti ini… Aku jadi bingung harus gimana.” Chanyeol melunak sambil meremas tangan Sujeong. “Nggak ada masalah kok.” Sujeong menarik tangannya.

“Ya udah, maafin Aku ya.” Sujeong sungguh kesal karena Chanyeol buru-buru meninggalkannya begitu teringat pada Jisoo. Tapi kalau di pikir-pikir dia kan bukan siapa-siapanya Chanyeol.

“Pusing ah!” sergah Sujeong.

“Pusing? Jadi dari tadi Kamu diam-diaman karena pusing?” Tanya namja itu.

“Kenapa nggak bilang dari tadi? Kita kan bisa batalin perginya, trus Kamu bisa istirahat di rumah.” Kata Chanyeol yang merasa bersalah dengan Sujeong.

“Eh, nggak. Bukan pusing kayak begitu. Pusing saja sama suasana ribut-ribut begini. Mana orangnya banyak, lagi!” Sujeong mencoba berbohong.

“Oh… gitu ya? Kalau bilang dari awal kan Aku nggak perlu ngadepin Kamu yang nggak betah gitu.” Kata Chanyeol lega.

“Mumpung masih banyak waktu, kita pindah saja yuk!” ajak Chanyeol pada Sujeong.

“Eh, tidak perlu.” Tukas Sujeong.

“Udaaah… Kajja!” ujar Chanyeol seraya menarik tangan Sujeong. Sujeong merasa bersalah. Dia namja baik banget. Pengertian banget.

“Ke mana?” Tanya Sujeong saat mereka beranjak meninggalkan kafe.

“Ke tempat yang bisa bikin kita berpikir jernih dan menenangkan pikiran.” Jawab Chanyeol. “Mmm… karena lumayan jauh, kayaknya kita ngebut sedikit ya. Tidak apa-apa, kan?” kata Chanyeol sebelum pergi.

“Ngg… tapi Kamu hati-hati, ya.” Ujar Sujeong.

“Oke, tentu saja!” Dalam sedetik mereka sudah melesat dengan kecepatan tinggi.

Sujeong memeluk namja itu lebih erat. Dia tidak memerhatikan jalan yang mereka lalui, melainkan menyandarkan kepalanya di punggung Chanyeol. Lalu memejamkan mata.

“Kamu aman-aman saja, kan?” Chanyeol setengah berteriak.

“Nde!” sahut Sujeong, suara’y gemetar. Chanyeol menambah laju motor.

Gila! Seperti lagi balapan.

“AKU TAKUUUUTT…!!!” Mendengar itu Chanyeol segera menurunkan kecepatan dan menepi. Tubuh Sujeong sedikit bergetar.

“Kamu tidak apa-apa kan, Jeongi?!” Tanya Chanyeol cemas.

“Aku… Aku… sudah tidak apa-apa kok.” Sahutnya terbata.

Chanyeol menoleh dan menatap Yeoja itu cemas. “Nggak apa-apa, kan?” ulangnya sambil menekan bahu Sujeong lembut.

Sujeong memandang sisi kirinya dengan tatapan nyaris nggak percaya.

“Laut.” Wajahnya kontan sumringah dan sangat senang. Melihat itu, Chanyeol tersenyum lega. “Kita belum sampai, tapi sudah lumayan dekat.” Katanya seraya terus menatap Sujeong.

Yeoja itu sangat manis saat tersenyum. “Kita jalan lagi?” ajak Chanyeol. Sujeong mengangguk. “Tidak pakai ngebut lagi, ya.” Pinta Sujeong.

Mereka pun melaju. Bulan purnama mulai naik. Tak lama kemudian Chanyeol menghentikan motornya di depan kafe.

“Kajja!” ajak Chanyeol. Dia menggenggam tangan Sujeong dan menariknya ke sisinya. Mereka memasuki kafe. Suasana di dalam juga sangat tenang, musik yang lembut terdengar sangat menenangkan. Mereka duduk di bagian kafe yang terbuka. Di sana mereka dapat memandang langit dan laut dengan bebas.

“Bagus bangeeet…” seru Sujeong.

“Aku tidak tahu ada tempat yang begini bagus. Makasih banget sudah mengajak ke sini, ya!” ucau Sujeong dengan tulus.

“Sama-samaa. Lihat Kamu seperti ini membuat Aku bahagia. Aku belum pernah merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.” Kata Chanyeol.

Sujeong menatap namja itu sesaat dan tersenyum penuh arti. Ditatapnya laut yang disinari cahaya bulan. Untuk pertama kali setelah sekian lama, dia sungguh-sungguh merasa tenang dan jiwanya tenteram. Dia merasa bebas, seakan-akan menemukan dirinya yang baru, dirinya yang terlepas dari segala kesedihan yang selalu mendera dan menekannya.

“Tahu nggak apa yang Aku pikirkan saat ini?” Tanya Chanyeol.

“Apa?” Sujeong terus menatap laut.

“Aku lagi mikirin gimana bilang ke Eomma Kamu karena telat mengantar putri kesayangannya pulang.” Kata Chanyeol.

“Hah?!” Sujeong terkejut mendengar perkataan Chanyeol.

“Emang sekarang sudah jam berapa?” tanya Sujeong pada Chanyeol.

“Liat saja jam tangan Kamu.” Jawab Chanyeol dengan santai. Dengan was-was Sujeong menatap jam tangannya.

“My God!” dia nyaris berteriak.

“Oppa, Palli kita pulang.” Pinta Sujeong yang khawatir kalau Eommanya akan mencarinya.

***

Sujeong POV :

Meski malam telah larut dan tubuhnya sangat letih, Sujeong bahagia. Ketika sudah berbaring di tempat tidur, pikiran Sujeong melayang entah ke mana. Diraihnya ponsel.

“Hallo…” suara Baekhyun terdengar sangat berat.

“Sudah tidur, ya?” Tanya Sujeobg yang tidak enak mendengar suara Baekhyun.

“Nggak ada alasan buat begadang soalnya.” Jawab Baekhyun santai.

“Kalau sekarang ada, gimana?” tanya Sujeong.

“Mau cerita apa?” Baekhyun terdengar bersemangat. Sejak kematian Minju, Sujeong seolah menutup diri rapat-rapat dan tak pernah lagi berbagi cerita.

“Nggak ada. Mau tahu kabar Kamu aja.” Jawab Sujeong santai. Mendengar itu Baekhyun langsung kecewa.

“Oh, baik saja kok. Kamu?” jawab Baekhyun singkat.

“Nggak tahu.” Jawab Sujeong.

“Kenapa tidak tahu? Apa Kamu masih belum bisa curhat sama Aku lagi?” Baekhyun terdiam sebentar.

“Tahu tidak? Dia mencari Kamu terus.” Kata Baekhyun pada Sujeong.

“Biar aja.” Tukas Sujeong.

“Nggak penting.”

“Nggak penting? Tapi Aku jadinya yang repot. Kamu tahu, kan, Aku nggak bisa bohong? Dia terus menginterogasi Aku. Dia tahu Aku pura-pura nggak tahu. Sampai-sampai dia mengobrak-abrik contact di HP Aku. Untung nama Kamu Aku samarin.”  Jelas Baekhyun pada Sujeong.

“Baguslah.” Komentar Sujeong singkat.

“Jeongi-ah, dia kehilangan Kamu.” Baekhyun menekankan kata kehilangan.

“Aku tanya kalian ada masalah apa, dia bilang nggak ada. Dia bahkan mengaku bingung. Kalian aneh. Sebenarnya, ada apa sih? Ini nggak biasa bagi Aku!” tanya Baekhyun yang semakin penasaran dengan Sujeong.

“Aku…” Sujeong menimbang cukup lama.

“Entahlah… Aku belum siap buat cerita. Semua terasa baru, masih segar. Aku tidak sanggup.” Kata Sujeong dengan lirih.

“Aku tahu kehilangan yang Kamu alami sangat berat. Itu sebabnya Aku tidak mau Kamu menahannya sendiri. Aku pengin Kamu berbagi kesedihan itu sama Aku. Bukan begini…” kata Baekhyun prihatin dengan keadaan Sujeong.

“Tapi… sebenarnya nggak sesederhana itu.” Sujeong menarik napas dalam-dalam.

“Trus apa, Jeongi…” tanya Baekhyun dengan penasaran.

“Um… gimana ya?” Sujeong tahu, di seberang sana Baekhyun menahan napas menunggu penjelasannya.

“Baiklah.” Akhirnya Sujeong menyerah. Lalu kata-kata itu meluncur saja dari bibirnya. Tangis kembali mengiringi setiap untai kata yang di ucapkannya.

“Sekarang Kamu sudah tahu alasan Aku, kan?” Tanya Sujeong.

Baekhyun terdiam cukup lama. “Aku juga tidak nyangka.” Hanya itu yang bisa di ucapkannya. “Tapi Kamu beneran janji ya, setelah apa yang Aku certain ini, sikap Kamu ke dia tidak bakal berubah. Bersahabatlah seperti biasa.” Kata Sujeong.

“Janji.” Katanya setengah hati. Sujeong pun menceritakan semuanya. Pertahanannya benar-benar runtuh. Dia menarik napas dalam-dalam, merasa lebih lega.

“Hyun-ah, sekarang Kamu tidur deh. Perasaan Aku sudah lebih baik. Makasih ya, Kamu sudah mau dengerin Aku.” Di seberang sana Baekhyun mengangguk tanpa suara.

“Bagaimana Sujeong bisa sanggup menyimpan semua itu selama ini?” Batinnya tak percaya dengan sikap Sujeong.

“Hyun-ah? Haloo.” Bisik Sujeong.

“Eh, ne, Sujeongi.” Baekhyun tersentak. “Good night, ya!” tambahnya buru-buru. Setelah memutuskan hubungan teleponnya, Sujeong turun dari tempat tidur dan bersandar di sisinya. Sesaat dia melamun, memandang meja belajarnya lama sekali. Sujeong bangkit dan mengambil diary yang nyaris tertinggal di rumahnya dulu. Dia menatap diary itu. Sujeong membalik sampul tebal tersebut dan langsung mendapati foto Minju yang tersenyum manis. Mata Sujeong kembali berkaca.

“Apa Kamu masih bisa tersenyum, Minju-ah?” Desisnya pelan. *

**

Seo Jisoo POV :

Sepertinya Jisoo sudah kehabisan kesabaran. Dia tidak boleh kehilangan Chanyeol lagi. Setiap kali namja itu nggak ada, dia pasti menemukannya sedang bersama Sujeong. Yeoja sok manis itu sedang mencoba merebut Chanyeol, rupanya. Sejak awal Chanyeol melarangnya mendekati Sujeong. Chanyeol benar-benar melindungi Yeoja itu. Emang apa sih istimewanya anak baru itu? Entah bagaimana Yeoja itu menarik perhatian Chanyeol begitu rupa. Jisoo setengah berlari. Dia baru saja menumpahkan tangisnya di toilet. Tangis yang membuatnya semakin percaya betapa tidak adilnya dunia ini. Dia teramat membutuhkan seseorang yang selalu menemaninya di saat-saat seperti ini. Cuma Chanyeol yang bisa mengerti dan menenangkannya. Yeoja itu berhenti di ujung koridor laboratorium Kimia. Sekonyong-konyong Jisoo melihatnya. Sosok yang sedang tertawa lepas, tawa yang belum pernah didengarnya. Kenapa Chanyeol tak pernah terlihat begitu gembira bersamanya? Dan kenapa semua itu justru terjadi saat dia bersama Sujeong? Apakah selama ini dia hanya menjadi beban? Air matanya mengalir hangat. Andai saja…

“Ji! Jisoo!!” Jisoo melihat wajah cemas di balik air matanya. Di peluknya namja itu erat-erat.

“Ji-ah, Kamu kenapa? Ada apa?!” Jisoo mencoba bersuara.

“Eomma…” Sujeong menyaksikan sendiri mereka berpelukan. Namja itu bahkan tidak menoleh ke arah Sujeong lagi, seolah-olah Sujeong tak pernah ada di sana bersamanya.

Satu detik. Tiga menit. Apa yang mereka bicarakan? Lima menit. Cukup, Sujeong menghela napas. Sujeong berlari, dia tidak akan menangis di situ.

***

Sujeong POV :

 

“Kamu kenapa, Jeongi-ah?!” berondong Kay tanpa ampun di telepon. Sujeong menjauhkan ponselnya.

“Kamu bisa jaga suara nggak sih?” omelnya.

“Arra… Arra.. Mianhae.” Suara Kay melunak.

“Jadi, kenapa Kamu tiba-tiba menghilang dari sekolahan saat istirahat, trus nggak balik-balik lagi? Dan apa maksud Kamu menyuruh Aku membawa pulang tas Kamu yang segede karung beras ini, hah?!” pekik Kay yang kesal dengan perlakuan Sujeong hari ini.

Sujeong memijat dahinya dengan dua jari.

“Mianhae. Nggak bermaksud apa-apa. Aku sakit.” Kata Sujeong pelan.

“Sakit? Kamu kira Aku mudah dibohongin?” kata Kay tidak percaya.

“Kay-ah… please… kepala Aku sakit nih… biarin Aku istirahat dulu…” Sujeong memohon pada Kay.

“Shireo!” pekik Kay tidak mau kalah.

“Kay…”

“Ada apa sih dengan Kamu dan Chanyeol?” tuding Kay. Air mata Sujeong kembali bercucuran. “Aku nggak ada masalah dengan dia.” Jawab Sujeong lirih.

“Jelas ada masalah! Aku liat dia kembali bareng si nenek sihir. Sebelumnya dia kan sama kamu!” kata Kay.

Hati Sujeong mencekengkam. “Nggak ada hubungannya sama Aku. Jelas?!” tukasnya kesal. “Jelas banget.” Sahut Kay.

“Bohongnya.” Kata Kay selanjutnya.

“Kay, Kamu kenapa sih?!” kata Sujeong.

“Kamu tuh yang kenapa?” Kay masih ngotot.

“Mianhae, Kay.” Ujar Sujeong dengan sangat menyesal sambil menutup telepon.

***

Sujeong menggenggam tangan Minju erat-erat. Mereka berjalan bergandengan. Melintasi pasir putih yang sangat halus dan akhirnya sampai di tepi pantai. Kejaran ombak menyambar kaki mereka hingga terbenam sesaat.

“Jangan pergi lagi, ya?” pinta Miju sungguh-sungguh.

“Jangan tinggalkan aku sendiri. Please…” diraihnya tangan Sujeong yang lain, lalu ditatapnya saudara kembarnya itu dengan sungguh-sungguh. Mereka mundur beberapa langkah dari kejaran ombak. Minju duduk di atas pasir, lalu meraih bintang laut yang tertimbun pasir.

“Kamu! Ada-ada saja!” kata Sujeong.

“Minju-ah, kamu tidak mau minta maaf?” kata Sujeong akhirnya

“Minta maaf? Soal apa?” tanya Minju pada Sujeong.

“Ah, sudahlah.” Minju bangkit dan berdiri dan berjalan menyambut ombak, terus melangkah hingga separuh kakinya terendam air laut.

“Kamu mau ngapain, Minju-ah?” sahut Sujeong setengah berteriak.

Minju terus berjalan hingga separuh tubuhnya terbenam. Sujeong mengejar Minju.

“MINJUU-AAHH!!! KAMU BISA TENGGELAM!!!” teriak Sujeong.

“Cho MINJUU!” ulangnya putus asa. Tahu-tahu ombak yang sangat besar menghantam Sujeong hingga tubuhnya seketika tak berdaya. Lalu terdengar suara lain dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat dan jelas…

“Jeongi…? Jeongi…? Irrona chagi!” Teriakan bercampur ketukan bertubi-tubi membangunkan Sujeong dari mimpi anehnya.

“Ne, Eomma.” Jawab Sujeong, sambil berjalan menuju pintu dan memutar anak kuncinya. “Sejak kapan tidur pakai mengkunci kamar segala? Kalau terjadi apa-apa trus kamu nggak bisa bangun, gimana? Seandainya kebakaran? Gempa bumi? Angin ribut?” kata Yoona yang khawatir dengan anak gadis satu-satunya itu.

“Ih, Eomma! Pagi-pagi sudah berpikir yang tidak-tidak!” ujarnya seraya pergi ke kamar mandi.

“Eomma, hanya tidak ingin kehilangan kamu, Jeongi-ah. Karena hanya kamu putri Eomma satu-satunya.” Gumam Yoona pelan tapi masih dapat di dengar oleh Sujeong.

“Mianhae, Eomma. Aku janji aku tidak akan meninggalkan Eomma.” Ucap Sujeong dalam hati.

***

@ Di sekolah…

Sujeong Pov :

Saat Sujeong sampai di kelas, tasnya sudah di tempat. Kay sedang sibuk menulis.

Kay mengabaikannya.

“Kay-ah, Mianhae… Jongmal Mianhaeyo, karena mematikan telepon kemarin.” Sujeong mencoba bersuara tapi tidak ada respon dari Kay.

“Ne? Ne?” bujuk Sujeong.

Kay terus menulis. “Kay, Aku akan jelasin kalau Kamu mau dengerin dan berhenti bersikap seperti ini!” pinta Sujeong.

Kay tetap saja cuek.

“Kamu ngapain sih?” Sujeong mencoba teknik lain, tapi sayang Jung Seongsanim, guru matematika yang sangat jauh dari ramah keburu masuk kelas. Kay menoleh sesaat dan menjawab. “PR matematika.”

Astaga! Sujeong lupa!

“Yang tidak mengerjakan PR lebih baik keluar dengan sportif sekarang juga, sebelum saya mengusirnya sendiri!” ucap Jung Seongsanim tegas. Oke deh, bisa dibilang ini kecelakaan beruntun. Sujeong keluar kelas dengan sangat malu. Dia berjalan gontai menyusuri koridor-koridor kelas. Baru jam 8 pagi. Tahu-tahu dia sudah sampai di depan aula, dekat parkiran motor. Sepeda motor Chanyeol tidak ada! Sujeong merasa heran sekaligus penasaran. Dengan langkah pasti dia berbalik dan nekat menuju kawasan kelas tiga. Tiba-tiba…

“Aghasi, tunggu sebentar!” sebuah suara mengejutkannya. Sujeong berbalik dan melihat Mrs. Kim Seongsanim berdiri di pintu masuk ruang guru. “Nde, Kim Seongsanim?” Tanya Sujeong.

“Maaf, Ibu mau minta tolong. Ini.” Kata Kim Seongsanim seraya menyerahkan map.

“Tolong antarkan ini ke Bu Park Seongsanim, dia mengajar di kelas 3IPA4, sampaikan dari ibu,ya? Ibu ada keperluan.” Perinta Kim Seongsanim.

“Yes!” Sujeong menarik napas lega.

Dengan begini dia tidak perlu mengintip. Sujeong berjalan ke kelas yang dimaksud.

Tok! Tok! Tok!

“Masuk!” sebuah suara menjawab dari dalam ruang kelas. Sujeong membuka pintu dan merasakan semua mata tertuju padanya.

“Ada apa?” Tanya seorang guru.

“Ini, Park Seongsanim, dari Kim Seongsanim.” Kata Sujeong seraya menghampiri sang guru. Lalu sekilas dia mengedarkan pandang.

Dia tidak ada. “Sudah lengkap, Gomatha, ne.” Ucap Park Seongsanim. Sujeong berbalik dan keluar kelas diiringi nada-nada jail murid-murid namja. Dari sana Sujeong menuju perpustakaan. Sebenarnya sedekat apa sih mereka, sejauh apa sih namja itu terjebak dalam labirin kehidupan Jisoo? Akhirnya Sujeong mendengar bel tanda istirahat bergema.

“Hhhhh…” dia mendesah malas. Sujeong tidak ingin kembali ke kelas. Apa gunanya juga kalau sahabatnya sendiri sedang tidak mau bicara dengannya. Tak lama kemudian Sujeong melihat Sehun masuk ke perpustakaan. Sebuah ide cemerlang mengusik pikiran Sujeong. Mungkin dia bisa mendapatkan petunjuk dari namja itu.

“Hai!” sapa Sujeong.

“Hai juga.” Balas Sehun dan kembali menekuni bukunya.

“Serius banget sih!” tanya Sujeong lagi.

“Tumben Kamu sendirian. Biasanya bareng Kay, kan? Dan selalu mencari buku di rak itu.” Ujar Sehun sambil menunjuk rak kesayangan Kay, tempat dia biasa mengawasi Sehun.

“Kok dia tahu?” Batin Sujeong.

“Oh ya?” Sujeong pura-pura terkejut.

“Ehm, begini, Aku cuma mau nanya sesuatu.” Sujeong buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Sepertinya serius?” Sehun menutup buku.

“Tapi Aku tidak jamin bisa menjawab pertanyaan Kamu.” Kata Sehun.

“Ya, ntar liat saja!” balas Sujeong.

“Aku cuma pengin tahu apa aja yang Kamu ketahui tentang Jisoo. Karena Aku yakin Kamu tahu banyak tentang dia. Apalagi Kamu selalu menguntit dia setiap pulang sekolah.” Tanya Sujeong dengan santai.

Ekspresi Sehun berubah. “Aku bukan penguntit! Dan Aku tidak suka Kamu nuduh Aku seenak jidat Kamu!” tukas Sehun tersinggung.

“Oh, Mian. Maksud Aku ya… ngikutin orang diam-diam gitu deh. Jadi apa?” ralat Sujeong dengan sopan.

“Maksud Kamu?” tukas Sehun ketus.

“Ya, semua yang Kamu ketahui tentang Jisoo!” Sujeong kehilangan kesabaran.

“Tidak ada!” Sehun jelas masih tersinggung.

“Hah?! Kamu yakin?” balas Sujeong kesal.

“Aku tahu kok selama ini Kamu selalu mengamati Jisoo, dan selalu ingin tahu apa saja yang dilakukannya. Tapi sayangnya, Kamu sudah mengelewati satu kejadian penting kemarin.” Kata Sujeong dengan santai dan menahan air matanya.

Sehun memandang Sujeong penuh tanda Tanya. “Karena cuma Aku yang meliat kejadian kemarin.” Kata Sujeong dengan gaya misterius.

“Memangnya kemarin ada apa?” desak Sehun.

“Wah, Aku nggak bisa kasih tahu Kamu. Mengingat kata Kamu tadi, Kamu nggak tahu apa pun tentang Jisoo.” Sujeong sok jual mahal.

“Arra, kita barter informasi. Tapi Kamu duluan!” kata Sehun menyerah.

“Jadi?” tanya Sehun penasaran

“Ehm… jadi begini.” Kata Sujeong.

“Oke, gini. Kemarin Aku liat Jisoo nyamperin Chanyeol sambil menangis. Dan Aku liat mereka… pelukan.” Hati Sujeong serasa dicabik. Dia yakin Sehun pasti merasakan hal yang sama.

“Dan anehnya, hari ini mereka sama-sama tidak masuk sekolah.” Jelas Sujeong.

“…” Sehun hanya menunduk.

“Aku mengerti perasaan Kamu. Karena itu Aku ingin tahu informasi tentang Jisoo. Mungkin saja kita mendapat petunjuk tentang keberadaan mereka, ya kan?” kata Sujeong melunak.

“Kenapa sih Kamu peduli banget sama Jisoo?” Tanya Sehun.

Sujeong langsung terdiam telak-telak.

“Eh, cuma kebetulan kok. Kebetulan saja Aku liat Jisoo kayaknya lagi ada masalah, lalu kebetulan Aku tahu mereka nggak masuk hari ini, lalu kebetulan Aku liat Kamu di sini, dan Aku jadi kepingin memberitahu hal ini ke Kamu. Soalnya Aku yakin, informasi ini pasti penting banget buat Kamu.”Sujeong mencoba mengelak.

“Yah, kebetulan kadang-kadang memang sangat berharga.” Lanjutnya risih.

“Makasih banget ya, ternyata Kamu peduli banget sama Aku.” Kata Sehun sungguh-sungguh. “Iya. Namanya juga teman.” Sujeong jadi salah tingkah.

“Tapi sayangnya Aku bener-benar tidak punya informasi penting yang berkaitan dengan itu.” Sehun sangat menyesal.

“Kalau aja Aku tahu lebih banyak…” gumam Sehun lirih.

“Kamu sabar ya, Hun-ah.” Katanya simpatik.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel istirahat tanda istiraha usai.

“Eh, sudah bel. Aku duluan, ya.” Kata Sujeong.

Sehun mengangguk pelan.

Yeoja itu… selalu saja membuatnya berdebar-debar. Sehun sebenarnya menyimpan rahasia terbesar Jisoo. Tak seorang pun boleh mengetahuinya… bahkan tidak orang yang terdekat dengannya saat ini… Sehun melangkah keluar perpustakaan, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi sepasang mata tak henti mengawasinya.

“Oh, jadi begini maksud Kamu, Jeongi-ah?” bisik Kay pahit.

Matanya basah dan dia tidak beranjak dari rak buku tempatnya mengawasih Sehun dan Sujeong sejak tadi. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Sehun menatap Sujeong, walaupun dia tidak tahu bagaimana Sujeong membalas tatapan itu.

“Akhirnya Aku tahu juga kan, Jeongi-ah? Pantas Kamu tidak mau cerita ke Aku.” Bisik Kay lirih.

***

Sujeong POV :

Siang itu Sujeong asyik main kartu dengan Eommanya. Wajahnya penuh coreng moreng adonan kue yang memang sengaja disisihkan untuk permainan kartu ini. Sujeong mengeluarkan kartu yang menurutnya dapat mengubah nasibnya.

“Hmmm.” Yoona tersenyum penuh kemenangan.

Jangan bilang Eomma…

“Eomma menang lagi!” seru Yoona.

Bel pintu berbunyi nyaring.

“Aku harus buka pintu.” Kata Sujeong. Sujeong membuka pintu dengan santainya. Namun seketika wajahnya langsung dingin.

Chanyeol yang berdiri di depan pintu nyaris tidak mengenali makhluk yang menatapnya sangar itu. Nyaris seluruh wajahnya berlepotan lapisan kental, lengket, dan berwarna kuning. Sungguh sangat tidak indah dipandang mata, pikir namja itu geli.

“Ehm… apakah saya sedang berhadapan dengan Yeoja manis bernama Cho Sujeong?” Tanya Chanyeol menahan tawa.

Sujeong merasakan sensasi aneh saat Chanyeol menyebutkan nama itu.

“Anni, kamu salah orang!” tukasnya singkat.

“Sujeong-aah…” bujuk Chanyeol.

“Apaan sih?” tanyanya ketus.

“Ehm… Kamu lagi sibuk, kan?” Chanyeol berusaha mengalihkan pandangan.

“Lumayan.” Sahut Sujeong singkat.

“Kamu kenapa sih? Mau ngetawain Aku? Memangnya ada yang salah dengan tampang Aku, heh?” tantangnya sebal.

“Hmmmmph… hahahaha… mmph…” Chanyeol membekap mulut, berusaha menahan tawa. “Ya, maaf deh kalau Aku bikin Kamu sebel karena ganggu acara maskeran Kamu yang belum kelar. Aku tunggu sampai selesai saja deh!” katanya sambil menahan geli.

Tahu-tahu setetes adonan kental jatuh dari wajah Sujeong. Sujeong merasa konyol sendiri.

“aahhh… ANDWEEEEE…” refleks Sujeong berteriak menahan malu. Dia berbalik dan berlari ke wastafel untuk menyelamatkan harga dirinya yang nyaris tak bersisa.

“Babo! Babo! Babo!” umpat Sujeong sebal! Bisa-bisanya aku tampil sebodoh ini di depan namja yang kutaksir? Setelah mengeringkan wajah, Sujeong kembali ke ruang tamu. Eommanya sedang asyik bercerita dengan namja tak diundang itu. Sujeong duduk di samping eommanya.

“Ya sudah. Eomma ke belakang dulu, ne. Sepertinya kue Eomma sudah matang tuh.” Ujarnya seraya berdiri.

“Jangan cemberut gitu dong, chagi.” Tegur Yoona.

“Jeongi-ah, sebenarnya Aku mau mengajak Kamu keluar. Kamu mau, kan?” pinta namja itu tanpa basa-basi.

“Ke mana?” tanya Sujeong singkat.

“Ada deh, yang pasti Kamu nggak bakal kecewa deh. Mau, kan?” pinta Chanyeol. Sujeong pura-pura berpikir.

“Eomma bilang apa?” Sujeong balik bertanya. Dia yakin namja ini sudah membahas niatnya ini dengan eommanya. Chanyeol tersenyum dan memandang Sujeong.

“Kata Eommonim, boleh.” Kata Chanyeol tersenyum puas.

***

Sujeong tidak banyak bicara. Dia penasaran dengan mobil yang dikendarai Chanyeol ini. Sepertinya kok familier ya. Honda Jazz hijau metalik. Sujeong yakin sekali pernah melihat mobil ini. Tapi entah di mana…

“AC-nya tidak hidup kan, Jeongi? Sepertinya kok dingin banget, ya.” Chanyeol memecah kebisuan.

“Apaan sih!” cetus Sujeong sebal.

“Eh, tidak jauh dari sini ada Ramen super enak lho…” Chanyeol tidak meladeni kejengkelan Sujeong.

“Katanya bisa bikin hangat suasana yang dingin gitu deh!” lanjutnya sok polos.

“Bawel banget.” Gumam Sujeong sok jaim.

“Tapi beneran enak lho, Jeongi.” Kata Chanyeol.

Sujeong tetap diam.

“Ini dia tempat kedai ramennya.” kata Chanyeol sambil menepikan mobil.

“Kalau pengin coba, kita bisa makan di sini dulu.” Dia menawarkan.

“Kamu bisa berhenti pura-pura tidak sih?” Sujeong berusaha menahan emosi.

“Tujuan awalnya tidak ke sini, kan?” tanya Sujeong dengan kesal.

“Memang tidak, habis suasananya dingin sih. Kan perlu dihangatkan dulu.” Ujar Chanyeol.

“Sujeongie” Ujar Chanyeol sambil menyentuh bahu Sujeong. Refleks Sujeong menepis tangan namja itu kuat-kuat.

“KAMU APA-APAAN SIH?!” sergah Sujeong gusar.

“Jeongi… Kamu kenapa sih?” Chanyeol tetap berusaha tenang.

“Jeongi…” Chanyeol mendesah.

“Kamu kenapa? Aku salah, ya? Aku bikin Kamu marah? Aku bikin Kamu…”  cecar Chanyeol tapi belum selesai Sujeong sudah memotongnya.

“IYA! AKU EMANG MARAH, AKU SEDIH,AKU KECEWA, PUAS?!” Sujeong berteriak. Tangisnya pecah.

Chanyeol terdiam. Dia tahu Yeoja itu memendam perasaan terhadapnya.

“Mianhae, Sujeong-ah. Aku nggak bermaksud bikin Kamu marah.” Chanyeol membelai rambut Sujeong lembut.

“Uljima, ne, kita lanjutin perjalanan. Sebentar lagi sampai kok.” Bujuk Chanyeol pada Sujeong. Sujeong mengusap air matanya, kemudian mengangguk. “Aku juga minta maaf.” Katanya kemudian.

Chanyeol melihat Sujeong sudah tenang. Dia pun mengemudi dengan santai. Dia takut Yeoja di sampingny akan meninggalkanya. Sujeong menatap langit senja yang mulai memerah dan lampu-lampu jalan yang berpijar.

Sujeong tidak memuntarkan satu patah kata pun sampai Chanyeol memarkir mobilnya di tanah lapang. Ternyata Sujeong tertidur lelap. Ditatapnya Yeoja itu lamaaa… sekali. Hanya dalam hitungan hari Yeoja itu telah membuatnya rindu setengah mati.

“Jeongi… Sujeong.” Chanyeol menepuk-nepuk bahu Sujeong.

“Sujeong…” Chanyeol memanggil lembut.

“Sujeong-ah Irrona….” Sujeong tersentak.

“Hmmmmh…” dia menggeliat dan kembali tertidur.

“Kita sudah sampai, Jeongi.” Chanyeol membelai rambut Sujeong.

“Ngg…? Sampai? Sampai mana?” Sujeong berusaha duduk tegak.

“Kita sudah sampai Taejongdae lagi nih!” kata Chanyeol sambil mengambil jaket di jok belakang, jaket yang dulu di berikan Sujeong untuknya. Kemudian dia menyodorkan tas kertas ke pangkuan Sujeong. Mereka sudah tiba di pantai yang pernah didatanginya sebelumnya bersama Chanyeol.

“Ini apa?” Tanya Sujeong sambil membuka kantong kertas itu.

“Buat Kamu, Sujeongi. Soalnya di sini dingin banget. Inget, kan?” jelasnya.

“Dan Aku tidak mau Kamu masuk angin terus sakit.” Jelas Chanyeol. Sujeong menarik sweter hijau lembut yang sangat manis dari dalam kantong kertas.

“Wow… Bagus sekali…”

“Gomawo, ne.” Katanya sambil mengenakan sweter. Sujeong kembali memandangi pantai. Dari sini lautan terlihat jauh lebih indah dan menenangkan. Chanyeol mengenakan jaket pemberian Sujeong, lalu mengajaknya keluar mobil. Sekelebat Sujeong teringat sesuatu, sesuatu yang di lihatnya bersama Sehun.

“Mobil itu.” Sujeong berkata agak ragu.

“Jisoo, kan?” Chanyeol heran Sujeong tahu.

“Geure.” Jawabnya singkat. Mereka pasti jauh lebih dekat daripada yang disangkanya. Chanyeol menggenggam tangan Sujeong, mengajak Sujeong mendekat pantai. Hanya ada mereka dan ombak. Mereka melangkah dalam diam. Chanyeol duduk di pasir dan Sujeong mengikuti dalam diam.

“Jangan pernah tinggalin Aku kayak begitu lagi.” Sujeong memecah keheningan. Sujeong teringat sekilas bayangan Minju yang mengatakan hal senada kepadanya.

“Aku memang mau minta maaf soal itu.” Kata Chanyeol sungguh-sungguh. “Maaf, Aku sudah membuat Kamu marah. Dan membuat Kamu kecewa.” Dan untuk itulah kita di sini, Sujeong berkata dalam hati.

“Mianhae… jongmal mianhae.” Ulang Chanyeol.

“Waktu itu Aku kalut. Melihat Jisoo seperti itu, membuat Aku tidak bisa ninggalin dia. Aku serba salah, dan Aku terdesak oleh pilihan. Aku sadar Jisoo tanggung jawab Aku, jadi…” Kamu memilih Jisoo, di dalam hati Sujeong melanjutkan kata-kata yang tak sanggup diutarakan namja itu. Persaannya kembali sesak.

“Tanggung jawab?” Sujeong bertanya pelan.

“Benar, Jisoo memang bukan pacar Aku, Tapi apa pun yang terjadi padanya, Aku tidak bisa mengabaikannya, karena… “ ucapan Chanyeol terpotong oleh perkataan Sujeong.

“Sudah! Kamu jangan terbelit-belit! tidak usah pakai ucapan-ucapan klise segala! Tidak perlu merangkai kata indah seperti pujangga buat sekadar ngomongin ini!” akhirnya Sujeong meledak juga.

“KALAU KAMU PENGIN CERITAIN KISAH INDAH KAMU SAMA JISOO, APA PUN TUJUAN KAMU, LANGSUNG SAJA! AKU DENGERIN! BIAR KAMU PUAS! BIAR KAMU Senang!” bentak Sujeong seraya bangkit berdiri.

“Jeongi-ah…?” kata Chanyeol seraya meraih tangannya.

“SUDAH!!” Sujeong merenggut tangannya dan berlari menuju ombak. Chanyeol bangkit berdiri dan berlari menyusulnya.

“TAPI INI BUKAN TENTANG AKU DAN JISOO, SUJEONGI!” serunya.

“LALU SIAPA LAGI?” Sujeong tidak mau kalah. Lama mereka sama-sama terdiam.

“Oke, Aku akan dengerin Kamu.” Kata Sujeong tenang. Mereka kembali ke tempat tadi dan duduk sesaat dalam diam. Pelan langit mulai gelap.

“Ini tentang Jisoo, dan eommanya.” Chanyeol mulai bicara.

“Eomma Jisoo sudah lama dirawat di panti rehabilitasi.” Lanjut Chanyeol pelan.

“Seharusnya tidak lama lagi eommanya sudah bisa pulang dan berkumpul lagi bersama Jisoo. Tapi hari itu Jisoo mendapat kabar kalau eommanya… mencoba bunuh diri lagi.” Jelas Chanyeol akhirnya.

“Lagi?” ujar Sujeong spontan.

“Ya, untuk kedua kali. Aku juga tidak tahu pasti kenapa eommanya bisa bertindak seperti itu. Padahal hanya dia milik Jisoo saat ini. Aku tahu derita batin yang dialami Jisoo jauh lebih berat daripada yang bisa Aku banyangkan. Walaupun dia selalu berusaha meyakinkan Aku bahwa dia baik-baik aja, Aku tidak terlalu yakin. Aku sampai tidak habis pikir kenapa Yeoja seperti Jisoo bisa tegar menghadapi semua ini.”

“Jisoo hanya memiliki Eommanya?” tanya Sujeong akhirnya pada Chanyeol.

“Begitulah. Tapi Jisoo tidak cerita banyak tentang itu. Yang Aku tahu, Jisoo berasal dari keluarga broken home. Waktu orangtuanya bercerai, Jisoo dipaksa Eommanya ikut dengannya, meskipun hal itu sangat bertentangan dengan keinginannya sendiri. Mereka pun pindah ke sini dan tinggal di apartemen…..”

“Sejak itu hidup Jisoo berantakan. Karier eommanya hancur dan dia memperlakukan putrinya dengan buruk. Jisoo menjadi tempat pelampiasan kekecewaannya. Saat dilanda masalah, eommanya selalu lari ke pesta-pesta, minum-minum, merokok, dan nge-drug. Dan saat itu dia tidak ingat siapa dirinya lagi, apalagi Jisoo, putri satu-satunya. Dan itulah yang dihadapi Jisoo nyaris setiap hari.” Jelas Chanyeol pada Sujeong.

Sujeong tidak tahu harus bilang apa.

“Dan selama itulah Aku selalu berusaha menjadi sahabat Jisoo. Aku berusaha selalu ada saat dia membutuhkan teman, saat dia sendirian atau ketakutan.” Sekelabat rasa cemburu kembali membakar hati Sujeong.

“Aku membantu sebisa Aku. Ketika Jisoo tahu eommanya nge-drug, dia langsung lari ke Aku. Akhirnya, Aku minta tolong orang tua aku buat nolongin Eomma Jisoo yang sempat nyaris overdosis. Sejak itu eomma Jisoo aman bersama orang tua Aku, terus menjaga Eomma Jisoo. Dan selama itu pula Jisoo dititipin ke Aku. Aku menjaga dan mengawasi dia. Biar Jisoo tidak salah arah. Biar dia tidak macam-macam. Karena Aku sendiri sadar Jisoo labil dan nekat.” Kata Chanyeol menceritakan yang sebenarnya.

Sujeong terdiam lama sekali. “Keadaan Eomma Jisoo gimana?” Tanya Sujeong.

“Baru melewati masa kritis, jadi kami bisa pulang dari pusat rehabilitasi. Tapi dia masih belum sadar, jadi masih harus dirawat.” Jawab Chanyeol.

“Trus kenapa kalian balik?” Tanya Sujeong heran.

“Besok ada ulangan. Jadi kami memutuskan untuk pulang dulu.” Jawab Chanyeol.

“Lalu Jisoo? Apa dia tidak apa-apa ditinggal… sendiri?” tanya Sujeong pada Chanyeol.

“Nggak masalah. Malah sebenarnya dialah yang menyarankan Aku untuk menemui Kamu.” Namja itu langsung melanjutkan.

“Dia mengatakan sebelum Aku sempat memintanya.” Kata Chanyeol dan membuat Sujeong tertegun.

“Kenapa?”

“Entahlah.”  Sahut Chanyeol pasrah.

“Tapi yang jelas, Jisoo tidak buta, tidak tuli, dan dia juga punya perasaan. Dia sadar perbuatannya salah karena terlalu memonopoli Aku, dan menghalangi Yeoja-yeoja lain yang ingin berteman dengan Aku. Namun di sisi lain dia juga sadar ada satu hal yang tidak bisa dia halang-halangi . Dan itu adalah… perasaan Aku.” Jelas Chanyeol.

Wajah Sujeong memanas dan darahnya berdesir. “Mungkin selama ini Aku memang tidak peduli apa yang diinginkan Jisoo. Aku juga tidak peduli sama Yeoja-yeoja yang batal mendekati Aku lantaran takut sama Jisoo. Semua itu tidak penting buat Aku.” Kata Chanyeol.

“Namun semua itu tidak berlaku sejak Aku kenal Kamu, Jeongi. Aku tidak mau Kamu diperlakukan dengan buruk oleh Jisoo karena kita dekat. Aku melarang Jisoo melakukannya. Aku tahu dia kecewa. Tapi Aku juga tidak tahu harus bagaimana, apalagi Jisoo tidak mau tahu, tetap keras kepala, dan menutup mata terhadap apa yang Aku rasakan.” Chanyeol menatap Sujeong lurus-lurus sampai Yeoja itu menunduk dan nyaris salah tingkah.

“Rasa itu tidak pernah singgah di hati Aku sebelumnya. Perasaan yang mungkin tidak selalu indah untuk dirasakan apalagi kalau Kamu jauh dari Aku. Kamu tidak tahu gimana resahnya Aku waktu ninggalin Kamu kemarin. Tapi di sisi lain Aku merasa bertanggung jawab terhadap Jisoo. Aku jadi serbasalah.” Kata Chanyeol.

Sujeong tetap bergeming. “Jeongi-ah.” Chanyeol menyapa Sujeong yang membatu. “Sujeong-ah…?”

“Hmmm… yah, maaf.” Ujar Sujeong buru-buru, malu sendiri. Chanyeol melihat kilatan aneh di mata Sujeong setiap kali memanggilnya dengan nama itu.

“Jisoo titip ini sebelum Aku pergi. Katanya buat Kamu. Aku nggak tahu apa isinya, tapi Aku sudah janji akan menyampaikannya ke Kamu.” Kata Chanyeol sambil memberikan amplop surat itu pada Sujeong. Dengan bimbang Sujeong membuka lipata kertas itu.

Apa sih maunya Jisoo? Batinnya.

Aku tahu, tidak semua yang kita inginkan selalu dapat diraih. Dan Aku tahu, tidak selalu orang yang kita cintai bisa mencintai. Waktu terus bergulir dan akhirnya Aku sadar, dia telah menemukan cintanya. Mungkin inilah saatnya dia menyelami hatinya sendiri, walaupun hati Aku sakit. Entah kenapa, melihat dia hampa tanpa cintanya, hati Aku lebih sakit lagi. Aku masih ingin melihatnya tersenyum dan tertawa lepas, walaupun itu bukan buat Aku, walaupun itu membuat hati Aku sakit.

Walaupun Aku belum sepenuhnya yakin atas keputusan Aku ini, namun kali ini Aku membiarkan dia menemui cintanya.

 Jisoo.

“Apa Jisoo ngomong kasar sama kamu?” Tanya Chanyeol.

“Anniya.” Jawab Sujeong.

“Mungkin sedikit banyak Aku bisa mengerti perasaannya. Aku juga nggak bisa berkomentar banyak. Sebenarnya yang dialami Jisoo tidak jauh berbeda dengan yang Aku alami. Bedanya Aku hanya sedikit lebih beruntung, mungkin.” Kata Sujeong samar.

“Maksud Kamu, Jeongi?” tanya Chanyeol heran dengan perkataan Sujeong.

Sujeong tersenyum miris. “Memang sih di keluarga Aku tidak ada yang nge-drug sampai harus di bawa ke rehabilitasi ataupun mencoba bunuh diri berulang kali. Tapi bagian hidup Aku cukup menyedihkan. Namun yang paling penting sekarang Aku masih punya Eomma yang sayang sama Aku.” Sujeong memeluk kakinya dan menopangkan dagunya di lutut. Kemudian dia menatap langit, mengharapkan keberanian untuk bersuara, keberanian untuk menyampaikan perasaan. Chanyeol kembali memandang Sujeong dan berkata.

“Jeongi, apa pun penilaian Kamu terhadap Aku setelah ini, Aku mungkin tidak peduli. Karena Aku cuma ingin Kamu tahu, kalau Aku… kalau Sarangheyo.. jongmal saranghae…” Degup jantung Sujeong sangat kuat dan dekat.

Chanyeol merangkulnya dekat ke tubuhnya. Sujeong tidak mengatakan apa-apa. Bahasa diamnya sudah lebih dari cukup bagi Chanyeol. Chanyeol merangkul Sujeong semakin erat.

“Gomawo, chagi.” Ujar namja itu lembut.

***

Jisoo POV :

 

Jisoo baru saja menyelesaikan ulangan yang membuatnya pusing setengah mati. Sekarang dia pusing dan mual.

“Chanyeol-ah, Aku ke toilet dulu, ne.” Katanya buru-buru dan langsung lari.

Huek… huek…

Jisoo muntah-mutah di wastafel. Dia mengeringkan wajah dengan tisu.

Drrt… Drrt…

Jisoo menekan tombol hijau di HPnya yang bergetar.

“Nde. Saya sendiri. Mwo?! Sekarang juga? Baiklah.” Dengan panik Jisoo keluar kamar mandi dan menuju kelas. Eommanya kembali kritis.

Sial! Dia tidak menemukan Chanyeol. Jisoo menghubungi ponsel namja itu, tapi tidak berhasil. Dengan gusar dia merenggut tasnya, lalu berjalan secepat mungkin menuju ruang piket dan meminta surat izin.

“Jisoo-ah! Kamu mau ke mana?” Sehun tahu-tahu muncul di hadapannya.

“Kamu kenapa, Ji-ah? Waeyo?” Tanya Sehun cemas.

“Bukan urusan Kamu! Minggir!” bentak Jisoo. Dia kembali melangkah.

“Shireo!” Sehun menggenggam tangan Jisoo sangat erat.

“YAAKK! Apa-apaan sih Kamu?! Kamu menyakiti Aku, tahu! Lepasin!” Jisoo meronta melawan.

“Apa sih mau Kamu?” tantang Jisoo.

“Aku cuma kepingin Kamu berhenti bersikap kayak gini ke Aku!” tukas Sehun.

“Aku ingin Kamu bicara lagi ke Aku, dan kita seperti dulu lagi. Aku pengin kita kembali bersama. Aku mohon.” Suara Sehun melunak.

“In your dreams!” tukas Jisoo ketus.

“Aku tidak butuh Kamu atau siapa pun yang bersama Kamu! mengerti?” kata Jisoo dingin. “Kamu dulu tidak seperti ini.” Kata Sehun.

“Gomawo buat perhatian Kamu.” Sahut Jisoo.

“Aku menyesal, Ji-ah. Aku…” belum selesai Sehun berbicara tapi sudah dipotong oleh Jisoo. “Maaf Aku sedang terburu-buru, dan Aku tidak punya waktu mendengarkan rentetan penyesalan Kamu. Permisi!” ucap Jisoo tidak peduli.

“Aku sayang Kamu. Dan Aku yakin Kamu juga masih sayang sama Aku. Karena Aku kenal gimana Kamu, Ji-ah. Lebih daripada siapa pun.” Bisik Sehun.

***

Sujeong POV :

Sujeong menopang dagunya dengan malas. Perpustakaan sangat sepi. Dia mulai mengerjakan soal fisika.

“Tidak ada toleransi lagi! Dengan sangat menyesal saya tidak mengizinkan Anda mengikuti kelas saat ini. Selesaikan semua soal halaman 111 dan tulis kalimat perjanjian sebanyak 100 kali dan harus disertai stempel perpustakaan!“ kata Seo Seongsanim sangat tegas.

“Silakan keluar karena saya akan melanjutkan materi!” Tanpa sadar Sujeong melamun dan nyaris ketiduran di kelas Seo Seongsanim. Bosan mencoba menyelesaikan soal yang begitu rumit, Sujeong mulai menulis kalimat perjanjian dengan hati-hati. Belum separuh jalan Sujeong sudah amat sangat bosan.

“Jeongi-ah, Aku pengin ngomong sama Kamu.” Sebuah suara menyentakkan Sujeong.

“Sehun? Ngapain Kamu di sini? Tidak diusir Seo Seongsanim juga, kan?” Tanya Sujeong. Wajah Sehun kusut dan sangat tertekan.

“Waeyo, Hun-ah?” Tanya Sujeong.

“Gweanchana, Aku cuma pengin bicara sama Kamu saja.” Jawab Sehun.

“bicara? Bicara soal apa?” tanya Sujeong bingung.

“Mmm… Jisoo.”

“Jadi Kamu bener-benar pengin tahu lebih banyak tentang Jisoo?” Sehun mengangguk pelan. “Memangnya penting buat Kamu?” tanya Sujeong pada Sehun.

“Iya, Jisoo penting banget buat Aku!” jawab Sehun.

“Kamu tidak tahu betapa berartinya dia bagi Aku!” kata Sehun dengan pelan.

“Arra, Arraseo, Aku mengerti kok.” Ujar Sujeong sabar.

Bayangan jail melintas di benaknya yang lagi mengadat.

“Tolongin Aku, please…” kata Sehun lagi. Sujeong menimbang-nimbang sejenak.

“Tapi… dengan dua syarat, gimana?” kata Sujeong.

“Syarat? Syarat apa?!” Sehun seakan kehabisan kesabaran.

“Hmm… pertama, Kamu harus berhasil bawa kabur Aku dari sekolah. Aku suntuk banget di sini.” Sujeong memandang Sehun sekilas.

“Trus yang kedua… kita tukeran informasi tentang Jisoo, Aku yakin Kamu juga tahu beberapa hal tentang dia. Nah, gimana?” usul Sujeong.

“Kenapa harus begitu?” protes Sehun.

“Karena cuma itu yang bisa bikin Aku mau cerita sama Kamu!” jawab Sujeong sok jual mahal. “Kalau nggak mau ya sudah, Aku juga mau ngerjain ini nih. Sibuk!” ujarnya.

“Ya sudah, Aku setuju.” Sehun menyerah. Dia sendiri bingung bagaimana caranya kabur dari sekolah. Sujeong tersenyum simpul. Bisa jadi Jisoo masa lalu Sehun, alias mantannys.

“Siiip… deh!” bisik Sujeong.

“Anak-anak biasanya manjat pagar di belakang lab. kimia buat kabur. Termasuk Aku.” Lanjutnya.

Jantung Sehun berdegup kencang, dia ragu. Bagaimana kalau tidak berjalan lancar? Akhirnya Sehun memutuskan untuk meladeni ide gila Sujeong.

“Kajja.” Ajak Sujeong penuh semangat. Mereka menyelinap di balik dinding gedung perpustakaan. Akhirnya mereka sampai juga di lab. kimia. Tembok kokoh yang memisahkan sekolah dengan lingkungan luar itu bergerigi, hasil karya siswa pelanggan kabur supaya mudah dipanjat dan dilompati. Belum lagi pohon jambu yang tumbuh subur mempermudah aksi kabur mereka ini.

“Sempurna…” desis Sujeong.

“Ladies first?” Tanya Sehun.

“Namja duluan, kali, masa Aku manjat Kamu nungguin di bawah! Mau mengintip Kamu?” repet Sujeong sambil merapatkan rok pendeknya.

Sehun jadi malu dan salah tingkah. “Maaf, Aku tidak tahu.” Sehun memanjat pohon jambu dengan hati-hati, menjangkau bagian atas tembok, dan menaikinya. Sehun menoleh ke arah Sujeong.

“Hati-hati ya, Aku tunggu di seberang.” Sujeong mengangguk mantap, Sehun menghilang di balik tembok. Dengan hati-hati Sujeong melangkahi semak. Dia nyaris mencapai pohon ketika sesuatu merayap melewati sepatunya. Sujeong melihat ke bawah dan menemukan seekor ular kecil yang lumayan panjang.

“WAAA!!! ULAR…!!! ULAAARRR…!!” teriaknya histeris. Dia langsung menangis ketakutan. “HEI, SIAPA DI SANA?” suara Mr. Park Seongsanim, guru kimia yang mungkin sedang berada di laboraturium.

Sujeong langsung panik. “Jeongi! Palli naik!” Sehun muncul dari balik tembok. Tanpa babibu Sujeong memanjat pohon jambu. Dengan sigap Sehun menyambut tangan Sujeong dan menariknya ke tembok. Terdengar suara kaki Mr. Park Seongsanim.

“Siap-siap ya, kita Lompat!” Sehun memberi aba-aba.

“Aku takuuuut!” protes Sujeong.

“Aku jamin tidak ada ular!” Sehun tidak kalah panik. Langkah Mr. Park semakin dekat. “Baiklah, kita lompat sekarang.” Bisik Sujeong panik.

Mereka melompat, sebelum mencapai tanah, Sehun memeluk Sujeong sehingga Yeoja itu tidak jatuh menghantam tanah seperti dia.

“Sehun, Kamu nggak kenap…” Sehun memeluk Sujeong erat-erat.

“Aku khawatir banget sama Kamu, Sujeongi. Aku tidak mau Kamu kenapa-kenapa!” Sehun mempererat pelukannya hingga Sujeong nyaris tidak bisa bernapas.

“Kamu tanggung jawab Aku selama kita kabur.” Kata Sehun selanjutnya. Sujeong mendorong lembut tubuh Sehun.

“Aku tidak kenapa-kenapa kok, lagian semua ini kan ide Aku seharusnya Aku yang minta maaf sama Kamu.” Kata Sujeong pada Sehun.

“Tapi Kamu benar tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang luka, kan? Tidak sempat di gigit ular, kan?” Sehun masih kelihatan cemas.

Sujeong menggeleng lembut. Sehun menyentuh wajah Sujeong yang masih basah oleh air mata. “Syukurlah Kamu tidak apa-apa.”

***

Sujeong POV :

Dalam sekejap Sujeong menyesap habis minuman dingin yang mereka beli. Mereka duduk di bawah pohon mahoni tua di sudut lapangan basket.

“Capek juga ya.” Katanya.

“Hmmm…” gumam Sehun.

“Jadi?”

“Jadi apa?” Tanya Sujeong.

“Jeongi-ah, Kamu tidak lupa, kan, kita jauh-jauh berjuang sampai ke sini buat apa?” kata Sehun yang sedikit kesal dengan pertanyaan Sujeong.

“Oh iya.” Sujeong menepuk kening seenaknya.

“Aku nyaris lupa.”

“Aku pengin Kamu ngasih tahu Aku semua yang Kamu ketahui tentang Jisoo.” Kata Sehun. “Sekarang juga.” Sujeong mulai bercerita sambil menerawang.

“Kenapa Jisoo berkeras menghadapi semua itu sendirian? Padahal Aku selalu siap membantunya.” ujar Sehun lirih.

“Aku selalu ingin tahu keadaannya, apa saja yang di rasakannya, tapi dia tidak pernah memberi Aku kesempatan. Aku tidak tahu apa salah Aku, keadaanlah yang bikin Aku jadi serbasalah!” jelas Sehun.

“Kamu pasti sayang banget ya, sama Jisoo. Ya kan?” Tanya Sujeong.

“Kamu tidak perlu cerita kok tentang dia. Aku rasa sudah cukup yang Aku ketahui tentang dia.” Sehun diam sejenak.

“Benar, Aku emang sayang sama Jisoo, tapi kalau boleh jujur… Aku juga sayang sama Kamu.” “Kamu bilang apa?!” Tanya Sujeong kaget. Dia menatap tidak percaya namja yang duduk disampingnya itu.

“Aku sayang Jisoo, dan Aku juga sayang sama Kamu.” Ulangnya.

“Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Yang jelas, makin hari rasa itu makin kuat di hati Aku.” Ujar Sehun lirih.

“Tapi…” suara Sujeong tercekat.

“Kamu jangan konyol, Hun-ah!” kata Sujeong seraya berdiri, lalu pergi dari situ

***

Kay POV :

Sejak Sehun izin keluar kelas hanya beberapa menit setelah Sujeong diusir Seo Seongsanim, Kay tidak dapat berkonsentrasi. Mereka pasti ada apa-apa. Bel istirahat berbunyi, tanpa pikir panjang Kay berbelari menuju perpustakaan, tempat yang tanpa sengaja telah menyimpan banyak cerita tentang dirinya dan sahabatnya. Sesampai di depan perpustakaan, Kay melangkah sangat pelan, matanya mengawasi siapa saja yang ada di dalam, melangkah menuju rak tempat dia bisa bersembunyi dan mengamati. Mereka ternyata tidak ada di sana. Mungkin dia akan memaafkan Sujeong. Sampai akhirnya Kay mendengar kabar itu. Dua siswa nyaris kedapatan sedang kabur dari sekolah, namun tidak berhasil tertangkap karena guru yang memergoki kalah cepat. Kay menghela napas dengan susah payah saat menyadari dua bangku di belakangnya tetap kosong sampai pelajaran berakhir. Dugaannya benar, Sujeong ternyata memang memendam perasaan terhadap Sehun, tetapi berpura-pura cuek. Ternyata nama Chanyeol hanya dipakai sebagai benteng untuk menutupi perasaannya yang sebenarnya. Kay tersenyum sinis. Cerita-cerita Sujeong tentang dirinya dengan Chanyeol bisa saja isapan jempol belakang. Dering ponsel membuat Kay terkejut.

Sujeong. Tanpa pikir panjang dia menekan tombol Reject dan merasa sedikit puas. Tak lama kemudian Sujeong mengiriminya SMS. Kay memutuskan untuk mematikan ponselnya. Hatinya masih terluka.

“Tega banget Kamu, Jeongi.” Bisiknya.

***

Sehun POV :

“Kamu jangan konyol, Hun-ah!” Kata-kata itu terus terngiang di benak Sehun. Sehun yakin Yeoja itu sebenarnya menyimpan perasaan terhadapnya. Sehun tersenyum tipis mengingat tingkah Yeoja itu, yang sering mengawasinya dari balik rak tersembunyi ditemani sahabatnya, Kay.

“Kamu benar-benar aneh, tau nggak? Ngapain juga Kamu mengharapkan Jisoo sampai seperti gini? Mending Kamu nanggepin seseorang yang justru peduli sama Kamu!” ucapan Sujeong yang lain berkelabat di benak Sehun. Ketika itulah dia merasa cintanya bersambut, perasaan yang dirasakannya seiring waktu yang dihabiskannya bersama Sujeong sebagai teman sebangku. “Memangnya ada yang peduli sama Aku?” Tanya Sehun. Dia ingin tahu apakah Sujeong bersungguh-sungguh dengan ucapannya. “Sehun-ah… buka dong mata dan hati Kamu itu. Yeoja di dunia ini tidak hanya Jisoo.” Benar-benar ucapan yang sangat gamblang dan tidak ambigu. Sejak itu Sehun membiarkan rasa itu semakin tumbuh memenuhi hatinya, dan dia bahagia karenanya.

Kamu jangan konyol, Hun-ah!” Kata2 itu lagi. Aku akan buktikan Aku tidak konyol seperti yang Kamu kira, Jeongi-ah, bisik Sehun pada langit-langit kamarnya.

***

Sujeong POV :

Sujeong duduk gelisah di tempat tidur. Dia memikirkan Sehun dengan keanehannya, Kay dengan dirinya, Jisoo dengan eommanya, Chanyeol dengan dirinya. Sujeong meraih ponselnya, mencoba menghubungi Kay.

Gagal.

Akhirnya Sujeong mengirim SMS.

“Angkat dong, Kay. Aku pengin ngomong. Please… “ Sujeong makin gelisah. Bagaimana dia harus bersikap besok? Apa yang aka dikatakannya kepada Sehun? Seharusnya Sehun tidak menyimpan perasaan seperti itu terhadap Sujeong atau siapa pun, jika di hatinya masih ada Yeoja lain.

“Benar, Aku memang sayang Jisoo, tapi kalau boleh jujur… Aku juga sayang sama Kamu.” Kata-kata Sehun bagaikan petir menyambar. Mungkin dia sedang labil, pikir Sujeong. Ah, sebaiknya Sujeong berpura-pura kejadian tadi sore tidak pernah terjadi. Sujeong teringat pada Kay. Kay tidak boleh tahu hal ini. Dia belum memaafkan Sujeong. Hanya kerena masalah sepele, hanya karena Sujeong memutuskan telepon Kay waktu itu.

***

“Kami tidak pacaran, Saem!” bantah Sujeong. Pagi itu Sujeong dan Sehun dipanggil menghadap Kepala Sekolah karena kasus kabur kemarin.

“Jangan membantah dan memotong pembicaraan!” Mr. Jung tampak murka. Sehun tertunduk penuh rasa bersalah.

Tapi Sujeong tidak. “Hukuman kalian akan semakin berat jika masih bersikap kurang ajar. Terutama kamu!” Mr. Jung menatap Sujeong tajam. Sujeong terdiam kesal. Kesal rasanya melihat namja bersikap tidak berdaya kayak begitu.

“Nah, akhirnya kalian sadar, kan, seberapa serius kesalahan kalian?” ujar Mr. Jung.

Tok! Tok!

Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Mr. Jung.

“Ada apa, Ahjushi?”

“Maaf, Pak. Pohon jambu di belakang lab. kimia itu jadi ditebang, Pak?” Tanya Shin Ahjushi, tukang kebun sekolah.

“Park Seongsanim bilang, sebaiknya minta persetujuan langsung dari Bapak.” Lanjutnya.

Raut wajah Mr. Jung langsung muram. “Tebang saja, biar tidak ada lagi siswa yang bisa kabur dengan mudah dari sekolah ini.” Kata Mr Jung.

“Tapi sampaikan kepada Park Seongsanim agar pohon itu didokumentasikan dulu sebelum ditebang, jelas?”

“Baik, Pak. Permisi.” Shin Ahjushi menutup pintu. Sehun dan Sujeong memandang Mr. Jung dengan raut wajah heran.

“Wae?” Tanya Mr. Jung.

“Pohon jambu itu saya tanam sendiri sewaktu bersekolah di sini. Pohon itu hasil cangkongan terbaik di kelas saya dalam tugas akhir biologi, dan saya mendapat nilai tertinggi saat itu.” Tanpa sadar Mr. Jung bernostalgia sendiri. Sujeong nyaris meledak tertawa mendengarnya. Pasti Mr. Jung sedih banget dengan nasib pohon jambunya yang tragis itu.

“Seharusnya saya tidak menanamnya di situ.” Kata Mr. Jung lagi.

“Maafkan kami soal pohon itu, Pak.” Sindir Sujeong. Sehun langsung saja menyikutnya keras. “Aw, sakit tau!” tukas Sujeong.

“Hei, apa yang kalian lakukan, heh?! Masih mencoba bermesraan ya!”Mr. Jung langsung marah-marah.

“Ini.” Mr. Jung menydorkan dua amplop cokelat.

“Tolong sampaikan kepada orangtua kalian. Kalian diskors tiga hari, mulai hari ini!” Tanpa banyak bicara kedua siswa itu mengambil amplop masing-masing dan melangkah keluar. Sujeong langsung terpingkal-pingkal mengingat nasib pohon jambu Mr. Jung.

“Hei, Kamu bisa diam tidak sih?! Ntar kalau Mr. Jung tahu Kamu ngetawakan dia, bisa habis deh kita!” desis Sehun kesal.

“Memangnya kenapa?” tukas Sujeong.

“Apa Kamu tidak takut anak-anak yang jago bolos jadi dendam sama kita karena pohonnya ditebang?” ucap Sehun.

“Kenapa mesti marah sama kita? Marah aja sama Shin Ahjushi yang mengeksusi si pohon. Hihihi…” Sujeong masih terkikik.

Sehun tersenyum melihat tingkah Yeoja itu.

“Apa nanti kata Eomma Aku kalau tahu anaknya yang manis ini ternyata bandel, ya? Hhh… menyedihkan!” Sujeong menggaruk hidungnya.

“Kamu gimana, Hun-ah? Gimana caranya mengasih tahu orang tua Kamu?” Sujeong mencerocos.

Sehun tidak menjawab. Namja itu sedang merenung. “Tidak usah diambil pusing deh, ntar biar Aku yang mengaku ke orang tua Kamu kalau Aku yang menyuruh! Kamu tenang saja.” Ujar Sujeong.

“Aku juga nggak menyangka urusannya jadi serius begini. Kena skors, lagi!”

“Kamu nggak perlu khawatirin Aku. Kalau masalah Eomma, dia sudah tidak peduli lagi hal-hal begini, tapi kalau Appa Aku…” Sehun menarik napas.

“Dia pasti bakal mengerti. Kita memang kena skors, tapi ini justru bagus!” komentarnya mantap. “Maksud Kamu,Hun-ah? Kamu tidak bercanda, kan?!” kata Sujeong bingung.

“Aku tidak pernah bercanda, Jeongi.” Sahut Sehun.

“Kamu mau tidak bantu Aku sekali lagi?” pinta Sehun.

“Whatever you say.” Sahut Sujeong.

“Oh ya. Ngg… soal kemarin. Maaf ya.” Ujar Sehun.

“Lupakan saja!” kata Sujeong. Mereka sampai di kolam belakang sekolah dan duduk di tempat yang terlindung dari cahaya matahari.

“Aku bisa bantu apa?” Tanya Sujeong.

“Kamu pikir Kamu sudah tahu semua tentang Jisoo?” Tanya Sehun.

Ya ampun, Jisoo lagi?! Apa sudah tidak ada hal lain selain Jisoo di benak namja ini?

“Nggak juga. Tapi Aku rasa apa yang Aku tahu tentang Jisoo sudah cukup kok!” jawab Sujeong. Sehun tersenyum simpul. “Tapi masih ada satu hal yang belum Kamu ketahui.” Katanya. “Memangnya penting buat Aku?” celetuk Sujeong.

“Mungkin tidak terlalu. Tapi sangat penting buat Aku. Jisoo…” Sehun mengendalikan suaranya. “Dia… kakak Aku.” Akhirnya Sehun mengeluarkan suaranya.

JGERRRR…!!!

“Mwo?!” kaget Sujeong.

“Jisoo kakak Aku.” Ulang Sehun.

“Kami bersaudara,”

“Tapi… tidak kelihatan seperti itu tuh.” Ujar Sujeong.

“Jisoo jelas menutupinya. Sejak awal Aku masuk sekolah ini, dia sudah mengingatkan Aku untuk tidak pernah ngomong sama dia, apalagi deketin dia. Dia benar-benar memutuskan hubungan.” Ujar Sehun.

“Terus, Kamu diam begitu saja?” tanya Sujeong pada Sehun.

Sehun menggeleng. “Aku selalu berusaha berbicara sama dia, kakak Aku sendiri. Tapi dia selalu menghindar, bahkan mengancam akan pindah sekolah kalau Aku masih mengganggu dia.” Jelas Sehun.

Bisa-bisanya Jisoo bersikap seperti itu…

“Dulu Jisoo tidak begini, dia kakak paling baik dan paling ngertiin Aku. Dia berubah sejak Eomma dan Appa bercerai. Aku sendiri tidak menyangka jalan hidup Aku akan seperti ini. Dulu Aku bahagia banget. Tapi semua itu memudar sejak Eomma jadi perancang ternama dan bergaul dengan model dan kalangan selebriti. Gaya hidupnya berubah total, dan kami pun merasa asing dengan Eomma yang sibuk dengan kariernya, Eomma yang cara hidupnya sangat berbeda, shopping ke luar negeri, pesta-pesta, minum alkohol, merokok. Dia bukan Eomma yang kami kenal.” Sehun memukul tanah dengan gusar.

“Sejak itu pertengkaran mewarnai rumah kami, teriakan-teriakan, umpatan, tangisan, pecahan kaca, semua bercampur jadi nada sumbang yang harus Aku dengar setiap hari. Jisoo beberapa kali kabur dari rumah. Sedangkan Aku lebih memilih mengurung diri di kamar.” Ungkap Sehun. “Sampai akhirnya kata-kata cerai mengakhiri semua perseturuan di bawah atap rumah kami. Aku sendiri tidak kaget dengan keputusan itu, begitu pula Jisoo. Namun sedikit keributan kembali terjadi saat Eomma memaksa Jisoo ikut dengannya. Aku tidak tahu lagi gimana ceritanya sampai akhirnya Jisoo mengalah dan ikut Eomma. Aku sendiri hanya bisa mengurung diri saat semua keributan itu terjadi. Bahkan Aku nggak keluar saat mereka akhirnya pergi dari rumah. Aku memang pengecut! Ketika semua berakhir, Aku tidak berani menatap kehancuran itu, dunia Aku seakan runtuh dan tidak pernah kembali utuh lagi.” Kata Sehun panjang lebar.

“Apakah sejak itu Jisoo memusuhi Kamu?” tanya Sujeong dengan hati-hati.

“Bisa jadi.” Jawab Sehun.

“Aku tahu dia marah karena Aku membiarkan dia pergi sama eomma tanpa sedikit pun membelanya. Aku benar-benar menyesal. Mungkin pikirnya hidup Aku tenang dan bahagia bersama Appa yang sangat menyayangi kami. Tapi dia salah. Hidup Aku memang tidak ada masalah. Appa selalu memberikan yang terbaik buat Aku. Tapi menikmati semua itu sendiri, tidak membuat Aku bahagia sama sekali. Aku selalu memikirkan nasib Jisoo. Dan Aku tidak menyangka yang dialami Jisoo jauh lebih buruk daripada dugaan Aku.”

“Trus gimana dengan appa Kamu?” tanya Sujeong lagi.

“Kami sama saja. Kami berusaha membiasakan diri dengan rasa sepi, berusaha menepis rasa kehilangan. Bersikap seakan tidak pernah ada masalah, padahal hati kami hampa. Appa pura-pura tidak peduli, padahal dia selalu mencari keberadaan Jisoo, sampai akhirnya dia mengetahui di mana Jisoo bersekolah dan Aku dipindahin ke sini, ke sekolah ini. Tapi memang tidak banyak yang bisa Aku lakukan, apalagi Jisoo selalu memusuhi Aku. Jadi Appa hanya meminta Aku ngawasin dia, selagi keadaan Jisoo baik-baik saja, berarti begitu juga keadaan Eomma.” Sehun menarik napas panjang.

“Sampai akhirnya Aku liat Jisoo nangis kemarin, dan dia kelihatan sangat panik. Bahkan pada saat terdesak itu pun Jisoo masih menolak cerita sama Aku. Aku nggak tahu harus berbuat apa. Makanya Aku mencari Kamu.” Jelas Sehun.

“Jadi apa rencana Kamu sekarang?” tanya Sujeong lagi.

“Aku mau, Kamu bawa Aku ke tempat Eomma dan Jisoo.” Ujar Sehun.

“Semalam Aku sudah cerita semuanya ke Appa, Dan Appa meminta Aku mengatur semua ini. Jadi, hari ini juga Aku harap Kamu nggak keberatan kita ke sana.” Pinta Sehun pada Sujeong.

***

Suasana hening menyelimuti atmosfer di mobil Sehun. Ayah Sehun, sesekali dia memainkan jarinya pada roda kemudi.Sehun sendiri sibuk pada ponselnya.

Sementara itu, di jok belakang, Chanyeol dan Sujeong juga duduk diam. Ketika tahu-tahu Sujeong memaksa Chanyeol ke Daegu tanpa memberi penjelasan sedikit pun, namja itu bingung, apalagi setelah mendengar cerita Sehun.

“Jisoo tidak pernah cerita dia punya adik. Dia selalu bercerita seakan-akan dia anak tunggal.” Kata Chanyeol.

“Aku sendiri juga tidak berani bertanya lebih jauh tentang keluarganya. Aku cuma dengerin apa yang mau dia ceritain ke Aku. Itu aja.” Lanjut Chanyeol lagi.

“Dari cerita Sehun, Jisoo memang tidak mau orang-orang tahu mereka bersaudara.” Tambah Sujeong.

“Aku yakin sekarang Jisoo ada di tempat eommanya. Kemarin waktu Aku balik dari kantin, Jisoo sudah tidak ada. Aku coba hubungin balik pake nomor Luhan, tapi nomornya tidak aktif. Aku yakin dia udah coba menghubungi nomor Aku. Tapi ponsel Aku lagi mati.” Kata Chanyeol. “Yah, siapa yang bakal menduga ceritanya bisa seperti ini. Semua serba tidak terduga. Yang jelas Kamu bersedia, kan, mengantar Sehun dan Ayahnya ke sana? Aku kan tidak tahu tempatnya.” cerocos Sujeong.

“Ne, tentu saja. Tidak mungkin Aku tolak, kan? Tapi Kamu ikut juga kan, Jeong-ah?” kata Chanyeol.

“Ihh… iyalah… Kamu kan belum kenal Sehun.”Tukas Sujeong.

Kini Sujeong memandang ke luar jendela mobil. Mata Sujeong mulai terasa berat, dia sangat lelah.

“Aku tidur, ya?” Sujeong setengah berbisik kepada Chanyeol.

“Tidur saja.” Chanyeol balas berbisik.

Sujeong pun bersandar di bahu Chanyeol dan memejamkan mata. Chanyeol menggenggam tangannya. Namun pada saat yang sama Sehun melirik lewat kaca spion di depannya. Mereka terlihat sangat dekat dan saling berbagi.

“Kenapa selama ini dia nggak pernah menyadari’y?”Sehun memperhatikan bagaimana Sujeong berbicara dan menatap Chanyeol.

Tatapannya sangat berbeda dengan yang selama ini dilihat Sehun. Kini Sehun mengerti, Sujeong tidak pernah sedikit pun menaruh hati kepadanya. Sehun mengalihkan pandang. Cemburu. Dia tahu dirinya cemburu. Dia kembali menatap wajah Sujeong yang terlelap. Sangat alami dan manis. Sujeong bukan untuknya. Tapi bagaimana dengan Jisoo? Bukankah dia sangat dekat dengan Chanyeol? Bukan. Yang harus dipikirkannya saat ini adalah dirinya, Jisoo, Eomma, dan Appa. Biarkanlah cinta itu.

***

Jisoo POV :

“Eomma haus, Ji-ah…” suara serak seorang wanita paruh baya menyentak Jisoo dari lamunannya.

“Eomma sudah bangun?” Tanya Jisoo sambil dia menghapus air matanya.

“Sudah enakan?” tanyanya.

“Entahlah.” Jawab Seohyun. Tubuhnya terasa letih dan tidak berdaya.

“Baju Eomma sudah beres, Ji-ah?” untuk kesekian kali Seohyun mengusik lamunan Jisoo. “Belum, Eomma belum bisa pulang hari ini.” Jawab Jisoo.

“Lihat keadaan dulu ne, Eomma.” Bujuk Jisoo pada Eommanya.

“Tapi… Eomma sudah bosan di sini, Ji-ah.” Jisoo diam saja.

Perkataan Eommanya barusan terdengar sangat egois. Bicara soal bosan, sudah lama dia merasa bosan dengan kehidupan abnormal yang dijalaninya bersama Eommanya. Ingin rasanya Jisoo meneriakkan perasaannya.

“Aku keluar dulu.” Katanya sambil berdiri dan menuju pintu.

“Ji-ah.” Panggil Eommanya.

“Jangan tinggalin Eomma…” Jisoo tidak menggubris permohonan Eommanya. Dia terus berjalan keluar. Kali ini keegoisan adalah miliknya.

Seohyun hanya terdiam menyaksikan kepergian putrinya. Terkadang Seohyun mendengar isak tertahan putrinya.Dia tidak bisa menyalahkan sikap putrinya. Semua yang terjadi adalah kesalahannya, dan dia menyesal. Sebagai seorang ibu, dia telah gagal. Seohyun sering bermimpi kalau saja dia bisa mengembalikan waktu dan mengembalikkan kebahagiaan yang dulu. Jisoo berjalan tertunduk.

Ah, kenapa semua jadi begini… begitu menyakitkan baginya. Tiba-tiba bayangan Chanyeol berkelabat di benaknya, dan dia semakin merenung. Dia duduk di bangku taman yang kosong. Ditatapnya langit yang mendung. Dia tak ingin hidup seperti ini lagi. Dia yakin sanggup bertahan tanpa siapa pun. Dia akan pergi begitu Eommanya diperbolehkan pulang. Dia akan mencari jalannya sendiri, dia akan pergi jauh dan menghilang dari semua yang pernah dikenalnya.

“Eomma, Ji-ah tidak ingin ketemu Eomma lagi. Semoga Eomma cepat sembuh, Ji-ah ingin pergi secepatnya. Semoga di suatu saat, kita akan bertemu lagi di saat dan tempat yang berbeda. Dan semoga kita sama-sama beruntung.” Ujar Jisoo lirih.

***

Sujeong Pov :

“Jeongi…” terdengar bisikan lembut Chanyeol di telinga Sujeong.

“Ngg?” Sujeong membuka matanya yang berat.

“Kajja kita turun. Kita sudah sampai.” Kata Chanyeol lembut.

“Mmmm…” Sujeong menegakkan tubuh.

Sujeong memandang keluar jendela dan melihat Sehun sudah berdiri di luar bersama Ayahnya. “Cepat sekali…” kata Sujeong pelan.

“Dasar tukang tidur!” Chanyeol mengacak-acak rambut Sujeong.

“Kajja kita turun!” ajak Chanyeol lagi.

Sujeong turun dan memandang bangunan di depannya. Di mana-mana rumah sakit sama saja. Sama-sama menakutkan dan menyedihkan.

“Aku tidak mau masuk ke sana, Aku di luar saja. Tidak apa-apa kan.” Pinta Sujeong.

“Lho, kenapa?” sahut Chanyeol heran.

“Yuk!” ditariknya lengan Sujeong.

Sujeong bertahan ditempatnya berdiri. Chanyeol menoleh dan memandang gadis itu yang tiba-tiba terlihat pucat dan tegang. Tangan Sujeong dingin dan kaku.

“Jeongi-ah?!” Chanyeol memanggil Sujeong.

“Jeongi-ah?!” lanjutnya. Sujeong langsung bersandar pada roda mobil.

“Jangan paksa Aku. Jebbal…” katanya lemah.

“Tapi… kenapa?” Tanya Chanyeol heran melihat sikap Sujeong.

Sujeong hanya menggeleng. Akhirnya dia meninggalkan Sujeong. Disusulnya Sehun dan ayahnya yang sedang menunggu di mobil. Chanyeol menjelaskan di mana Seohyun dirawat dan meminta maaf karena tidak bisa menemani. Chanyeol kembali menemui Sujeong dan kondisi Yeoja itu masih seperti tadi.

“Jeongi, Kamu kenapa tiba-tiba seperti ini?” Tanya Chanyeol panik.

Sujeong menggeleng lemah. Akhirnya Chanyeol menopang tubuh Sujeong ke dalam mobil.

“Jeongi, Kamu kenapa?” Chanyeol tidak bisa berhenti cemas.

“Jeongi-ah.” Chanyeol merangkul Yeoja itu dan memeluknya erat.

“Kamu kenapa, Jeongi…”

“Di tempat seperti ini, Aku menyaksikan dia pergi. Untuk selamanya. Meninggalkan rasa sakit yang teramat dalam.” Sujeong menahan tangis.

Chanyeol tidak mengatakan apa-apa, dibiarkannya Sujeong mencurahkan perasaannya.

“Saudara Aku sudah pergi. Ke tempat yang membuatnya tidak bisa kembali lagi. Dulu Aku sayang banget sama dia. Sekarang Aku membencinya. Tapi di saat yang sama kadang Aku juga sangat merindukannya. Aku kepingin memarahi dia, tapi Aku tahu dia tidak bisa mendengarkan Aku lagi, dan tidak akan ada yang berubah.” Jelas Sujeong dalam isak tangis yang sudah tumpah. “Sudahlah, Uljima ne.” Chanyeol menenangkan.

Dibelainya kepala Sujeong dengan lembut.

“Sekarang Aku ada di sini, nemenin Kamu. Aku akan buat Kamu nyaman bersama Aku.” Kata Chanyeol berusaha menenangkan Sujeong.

Sujeong memejamkan matanya yang basah.

“Cho Minju, kenapa Kamu bikin Aku kayak begini?” Bisik Sujeong dalam hati. Perih, Sampai hati banget Kamu sama Aku…

***

Yonghwa POV :

Yonghwa membuka pintu pelan sekali, mendorongnya hati-hati dengan jantung berdebar. Dia melihat Seohyun terbaring di tempat tidur, menghadap jendela yang terbuka.

“Seohyun-ah…” Yonghwa mencoba bersuara dan mendekat.

Seohyun tersentak tak percaya. Dia membalikkan tubuh dan menatap dua sosok yang telah lama ditinggalkannya. Dia tak mampu berkata-kata, dia membekap mulutnya dengan tangan, air matanya membanjir penuh kerinduan. Tidak ada amarah, tidak ada lagi kebencian. Darahnya berdesir cepat dan menghangatkan tubuhnya. Seohyun hanya sanggup terisak penuh haru saat Yonghwa memeluk dan menciumnya.

“Mianhae… jongmal mianhaeyo… oppa.” Seohyun masih berusaha berbicara di antara isakannya.

“Sudahlah… Uljima ne…” Yonghwa membelai Seohyun.

“Eomma…..” Sehun mendekat dan memeluk Eommanya.

Ah, akhirnya mereka berkumpul lagi. Semua akan kembali seperti dulu, berkumpul bersama di bawah satu atap, kembali bahagia seperti dulu. Tak lama setelah itu pintu kembali terbuka. Jisoo masuk dan membeku melihat kebersamaan itu. Semua yang ada di ruangan menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Keluarganya lengkap. Jisoo bimbang, matanya memanas dan air matanya merebak. Lalu dia mendekat dan memeluk keluarganya.

***

Sujeong Pov :

Hari sabtu ini hari terakhir skorsing Sujeong. Kemarin Sujeong dan Eommanya sudah memenuhi panggilan Kepala Sekolah untuk menindak lanjuti kenakalan Sujeong. Di sana, Sujeong dinasihati habis-habisaan. Ditambah lagi bonus omelan panjang Eommanya setiba mereka di rumah. Sujeong menarik selimut menutupi kepala. Sudah pukul delapan, namun dia masih enggan beranjak sampai Eommanya memasuki kamar dan menyibak gorden serta membuka jendelanya lebar-lebar.

“Irrona… chagi!” seru Yoona sambil menarik selimut Sujeong.

“Eomma mau pergi, kamu mau ikut?” Sujeong menggeleng tanpa membuka mata, lalu kembali menarik selimut.

Yoona hanya menghela napas. “Tidak mau ke Cake Resort?” Sujeong menggeleng. Yoona mengangkat bahu lalu meninggalkan kamar putrinya. Begitu pintu kamarnya tertutup, Sujeong langsung duduk tegak sambil memandang daun pintu. Tiba-tiba ia menyesali sikapnya barusan. Sejak kemarin Sujeong memang marah setelah kenyang diomeli Eommanya. Tapi ya, setelah di pikir-pikir dia memang pantas dimarahi.

Sujeong turun dari tempat tidur, mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi. Setelah itu ia menghabiskan sarapan sambil nonton TV di sofa. Tak terasa hari sudah beranjak siang. Sujeong memutuskan untuk pergi ke Cake Resort dan bersikap lebih baik terhadap Eommanya. Begitu membuka pintu untuk keluar rumah, langkahnya terhenti karena terkejut melihat siapa yang berada di balik pintunya.

“Kay?” seru Sujeong heran.

“Sudah lama?”

“Umm, belum.” Jawab Kay enggan.

Ia belum berani menatap mata Sujeong.

“Aku mau minta maaf.” Kata Kay lirih

“Maaf?” ulang Sujeong heran.

“Masuk dulu yuk. Masa ngomong di depan pintu.” Lanjut Sujeong sambil beranjak ke dalam. Kay mengikuti tanpa mengatakan apa-apa.

“Aku yang salah kok.” Ujar Sujeong memecah keheningan.

“Aku sendiri pasti juga bakal kesal kalau lagi ngomong trus telepon Aku diputus begitu saja.” Kata Sujeong pelan.

Kay mengangkat kepala dan memandang Sujeong dengan tatapan iba. “Bukan. Bukan itu masalahnya.” Ucap Kay pada Sujeong.

“Lantas?”

“Aku pikir… antara Kamu dan Sehun ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman.” Kata Kay. Deg.

Tubuh Sujeong menegang sesaat. Yah, menurut siapa pun, kabur berdua di jam sekolah pasti berarti sesuatu. Apa lagi bagi Kay.

“Ternyata Aku salah.” Lanjut Kay.

“Kemarin Aku ke rumah Sehun. Tahu-tahu yang buka pintu Jisoo. Aku kaget. Di sanalah Aku akhirnya tahu cerita yang sebenarnya dari Sehun. Aku mendadak merasa bersalah banget sama Kamu.” Jelas Kay pada Sujeong.

Sujeong menghembuskan napas lega. Jangan sampai Kay tahu Sehun sempat menyatakan perasaan terhadapnya.

“Tapi Aku tetap harus minta maaf.” Ujar Sujeong. Sesaat suasana terasa canggung. Memang rasanya aneh juga setelah lama tidak saling menyapa, tahu-tahu mereka berada di sini untuk berterus terang.

“Keluar yuk!” ajak Sujeong memecah keheningan untuk kedua kali.

“Aku mau potong rambut, lalu mau ke Cake Resort.”Ajak Sujeong

“Kamu suka Cake Resort juga? Yang baru buka itu, kan? Sama! Eomma Aku pelanggan di sana lho!” ujar Kay. Mendengar itu Sujeong tersenyum geli sambil menahan tawa.

“Iya, nanti Aku kenalin deh sama yang punya.” Kata Sujeong dengan tersenyum.

“Memang kamu kenal dengan pemiliknya?” Tanya Kay.

***

Chanyeol Pov :

“Kamu… cantik, cute habis!” itulah kata-kata pertama yang dilontarkan Chanyeol begitu melihat Sujeong dengan penampilan barunya. Chanyeol nyaris terpanah lama dibuatnya. Sedikit sentuhan kecil telah membuat Sujeong terlihat sangat berbeda.

“Ada apa gerangan sampai Kamu melakukan ini?” Tanya Chanyeol pada Sujeong dengan perubahan yang ada pada Sujeong.

“Hanya kepingin ganti suasana lalu bikin Aku merasa baru saja. Lebih ringan dan bebas.” Jawab Sujeong.

Chanyeol menatap Sujeong yang semakin lama semakin tampak manis di matanya. Ekspresi wajahnya. Senyum yang membuatnya bersemangat, sorot mata yang menenteramkan jiwanya. Bagaimana jadinya jika dia kehilangan Yeoja ini? Dia bahkan tak sanggup membayangkannya! “Hei, jangan liatin Aku terus gitu ah!” pipi Sujeong merona kerena malu.

“Habisin makannya…”

“Sujeong-ah, namu yeopo.” Bisik Chanyeol, belum juga melepaskan tatapannya.

Sujeong menoleh ke arah Chanyeol dengan tatapan aneh selama beberapa saat. Tatapan yang mungkin berarti sesuatu.

***

From :Kim Junmyeon

To : Cho Sujeong      

Subject : I’m so sorry

Jeongi-ah kenapa Kamu tiba-tiba menghindari Aku? Aku minta maaf kalau Aku salah…

Sujeong tersenyum sinis. E-mail itu sudah cukup lama. Sujeong membuka yang lainnya.

From : Kim Junmyeon

To : Cho Sujeong

Subject : Jeongi? Jeongi-ah, Kamu pindah ke mana? Kenapa Kamu tidak bilang ke Aku? Aku bingung harus mencari Kamu ke mana… jangan siksa aku seperti ini… Aku sayang Kamu, Jeongi.

Ingin rasanya Sujeong mendamprat kalau saja dia bisa. Munafik. Sujeong tidak sudi membalasnya, bahkan dengan e-mail kosong sekalipun. Sujeong berbaring sejenak di tempat tidur. Sujeong kembali terbangun dan membuka lemari, mengambil kardus kecil berisi pernik-pernik kecil yang selama ini dikumpulkannya, serba beberapa album foto yang masih bagus. Sujeong membuka album foto itu satu per satu. Menyibak kenangan manisnya bersama Minju, saudara kembarnya. Mereka lahir pada hari, tanggal, dan tahun yang sama. Hanya berselang tiga menit. Mereka tumbuh bersama. Secara fisik wajah mereka identik, warna bola mata mereka berbeda. Bola mata Sujeong biru indah dan diwarisinya dari ayahnya. Sedangkan Minju memiliki bola mata cokelat gelap seperti Eommanya. Sujeong juga lebih mirip ayahnya, terutama sifat keras kepalanya. Minju tumbuh sebagai Yeoja yang sangat feminim. Cara bicara Minju lebih lembut dan penuh pengertian, bacaan kesukaannya adalah majalah kesehatan dan pengetahuan umum serta buku-buku resep makanan. Minju senang bekerja di dapur dengan Eommanya. Minju sangat senang main musik, terutama piano. Sujeong tidak terlalu feminim. Kalau sudah bicara Sujeong suka ceplas-ceplos dan senang berteriak. Hobi Sujeong duduk di depan TV dan channelnya juga channel anak muda. Sujeong suka berenang dan setelah itu sibuk dengan kertas gambar. Mereka tidak pernah bertengkar. Keributan sering datang dari Sujeong yang paling sering uring-uringan. Dan ujung-ujungnya Minju pasti akan mundur duluan. Itulah sebabnya Sujeong sangat menyayangi Minju.

Di rumah, Minju adalah tempat curhat Sujeong. Di sekolah, Sujeong mempunyai Baekhyun untuk berbagi cerita. Minju dan Sujeong bersekolah di SMA berbeda. Minju lebih suka di sekolah berbaris internasional, sedangkan Sujeong memilih sekolah unggulan yang kegiatan ekskulnya menonjol. Pada malam hari yang cerah, Sujeong dan Minju duduk di ayunan. Malam itu Sujeong menceritakan first lovenya dengan malu-malu.

Flash back Pov :

“Jeongi-ah, kamu dari tadi senyam-senyum seperti itu kenapa sih?” Tanya Minju.

“Min-ah… tahu tidak?” Sujeong mendorong ayunan dengan kaki.

“Sepertinya Aku baru jatuh cinta nih…” kata Sujeong dengan malu-malu.

“Jatuh cinta?” Minju langsung tertarik.

“Kata Baekhyun sih begitu… katanya Aku sudah kena sindrom cinta-cintaan. Suka salah tingkah kalau di dekat orangnya, deg-degan nggak keruan, suka gemes sendiri, pengin tampil lebih cantik, lebih perfect. Tidak seperti biasa deh!” jelas Sujeong.

“Waah… pantesan… aku juga sering perhatiin kamu akhir-akhir ini suka bengong sendiri, senyam-senyum sendiri, dan kayak lebih bahagia saja. Jadi kamu lagi suka sama seseorang, ya?” Tanya Minju pada Sujeong.

Sujeong mengangguk. “Namanya Kim Junmyeon.” Kata Sujeong.

“Namanya bagus tuh. Pasti orangnya tampan, ne?” ujar Minju.

“Tentu saja tampan, pintar, dan Aku yakin, romantis.” Timpal Sujeong.

“Kim Junmyeon … alias Kim Suho. Dia teman sebangku Aku, dan kami dekat sekali. Aku, Suho dan Baekhyun adalah tiga sahabat. Tapi Aku memendam perasaan khusus buat Suho. Tidak tahu kenapa, perasaan itu muncul begitu saja.”Jelas Sujeong.

“Wah… Chukae ne, Sujeong sudah punya pacar!” pekik Minhu senang.

“Ssst… jangan keras-keras! Aku belum pacaran, tau!” bisik Sujeong.

“Trus, kenapa jatuh cinta dong?”

“Duh… makanya, sekali-kali jadi anak gaul, anak nongkrong dong! Jangan mikirin sains mulu!” ujar Sujeong.

“Jatuh cinta itu tidak harus memiliki. Kata orang-orang sih…” Sujeong buru-buru meralat.

“Tapi kalau bagi Aku, jatuh cinta bikin kita merasa memiliki. Posesif. Walaupun dia belum jadi pacar kita. Pacaran itu awalnya jatuh cinta, tapi tidak semua jatuh cinta bisa jadi pacaran. Yang jelas cinta itu rumit, lebih rumit dari pada teori jagat raya kesukaan Kamu itu. Arraseo?” jelas Sujeong pada Minju.

Minju manggut-manggut sambil berpikir.

“Mengerti tidak?” ulang Sujeong.

“Aku mengerti kalau aku tidak akan jatuh cinta.” Sahut Minju polos.

“Gimana sih?” tukas Sujeong sebal.

“Katanya lebih rumit daripada teori jagat raya. Teori itu saja aku belum tuntas, apalagi teori cinta.”

GUBRAAAAKKKK!!!!

***

“MINJUU-AAHHH…! MINJUU-AAHHH …!!!” panggil Sujeong dengan keras.

“Waeyo Sujeong? Tidak perlu teriak seperti itu, kali!” tegur Minju.

“Suho datang! Sumpah! Aku grogi nih! Grogi!! Temenin Aku dong…” desak Sujeong seraya mendorong Minju keluar kamar.

“Dia sudah di ruang tamu! Aku grogi banget…” ucap Sujeong yang sedang berusaha menghilangkan groginya.

“Iya. Iya. Jangan dorong-dorong kalau gitu.” Ujar Minju.

Sujeong menggandeng tangan Minju dengan tangan gemetaran saking gugupnya.

“Segitu banget sih!” bisik Minju.

“Memangnya kalau jatuh cinta jadi aneh begini ya?” Tanya Minju lagi sambil berbisik.

“Sudah… diam saja!” bisik Sujeong.

Sesampainya di ruang tamu, mereka memperhatikan Suho yang sedang asyik memencet-mencet ponselnya.

“Suho-ah, ini kembaran Aku. Yang pernah Aku certain itu lho!” kata Sujeong.

“Kok pake ceritan aku segala sih!” protes Minju sambil berbisik.

“Soalnya Aku tidak punya bahan lain buat diceritain!” bisik Sujeong.

“Kenapa?!”

“Karena Aku lagi jatuh cinta.”

“Eh, ada apa?” Suho jadi salah tingkah.

“Tidak ada apa-apa kok!” tukas Sujeong. Minju menarik kesimpulan baru.

“Kalau ada sikap yang alasannya tidak bisa dijelaskan dengan Kemungkina, jawabannya hanya satu jatuh cinta.”

“Eh, Aku bikin minuman dulu, ya!” cetus Sujeong.

“Biar aku aja!” timpal Minju.

“Kamu nemenin dia saja…”

“Shireo! Aku saja yang bikin!” Sujeong segera bergegas ke dapur. Tidak sampai semenit, dia sudah kembali dengan nampan berisi tiga gelas minuman dingin.

“Kita jadi belajar sejarah, kan ya?” Tanya Sujeong kepada Suho.

“Aku ambil buku dulu, ya!” ujar Sujeong bersemangat.

Sujeong pergi ke kamar dan mengambil buku sejarahnya. Sekembalinya ke ruang tamu, Sujeong terpaku menyaksikan wajah Suho dan Minju terlihat pucat pasi.

“Kalian kenapa?” Sujeong langsung shock.

Minju nggak sanggup mengatakan apa-apa selain menunjuk gelas minuman Sujeong. “Memangnya kenapa sih?” tukas Sujeong seraya menenggak minuman itu. BRRRRRRZZZZZ…!!!

Sujeong langsung menyemburkan minuman itu.

“Minuman apa sih yang sebenarnya kamu bikin?” Tanya Minju.

“Lemon tea…” jawab Sujeong.

“Biasa kok, Jeongi. Gagal itu biasa.” Kata Minju lembut sambil menenangkan Sujeong yang terlihat sangat malu.

“Tapi Aku yakin sudah benar membuatnya…” kata Sujeong lirih.

“Tidak masalah kok, Jeongi. Cuma lain kali jangan salah bedain garam sama gula. Terus jeruk lemonnya jangan kebanyakan, itu aja kok.” Ujar Suho.

“Sudah, sekarang kamu belajar saja. Yang lain biar aku yang beresin.” Tukas Minju seraya mengelap meja dan membawa gelas-gelas ke belakang. Tak lama kemudian Minju kembali dengan dua gelas lemon tea asli dan dua potong black forrest cherry hitam yang sangat menggoda.

“Kok hanya dua?” Tanya Sujeong.

“Hari ini aku kan ada les musik, Jeongi…” sahut Minju.

“Kok kamu jadi pelupa gitu sih?” godanya.

“Hush!” tukas Sujeong. Minju hanya terkikik dan berlalu dari ruang tamu.

“Kenapa kita tidak belajar matematika saja, Jeongi?” saran Suho.

“Lusa kan ulangan matematika. Kalau sejarah kita tinggal menghafal sendiri saja nanti malam.” Kata Suho.

“Oh, iya. Ya!” kata Sujeong. Dia bangkit berdiri hendak mengambil buku matematikanya.

“Jeongi, aku berangkat dulu, ya!” seru Minju.

“Oke! Be carefull my honey bunny sweety twiny…” kata Sujeong. Minju tertawa kecil.

***

“Aku sebel banget, Min-ah!” dumel Sujeong.

“Sebel kenapa?” Tanya Minju menahan ayunan dengan kakinya.

“Masa sampai sekarang hubungan Aku sama Suho tidak jelas gitu. Dari dulu tidak ada kemajuan sama sekali.” Jelas Sujeong.

“Maksud kamu gimana sih?” Tanya Minju heran dengan perkataan Sujeong.

“Tidak mengerti. Aku sebel saja. Aku yakin banget dia punya perasaan yang sama terhadap Aku. Tapi sampai sekarang dia belum juga mengatakannya pada Aku. Paling tidak bilang sayang kek! Masa Aku harus menunggu sampai tua sih?” omel Sujeong.

Minju tersenyum kecil. “Saba saja… kalau kamu yakin dia punya perasaan yang sama, kamu tidak perlu sebel begitu, kan? Yang penting kamu kan tahu, dia sayang sama kamu…” kata Minju yang berusaha menenangkan Sujeong.

“Tau ah… kalau dia emang sayang, seharusnya dia kan nunjukin perasaannya. Sekarang Aku malah jadi mikir, jangan-jangan selama ini Aku saja yang kegeeran.” Kata Sujeong dengan pelan.

“Jangan pesimis gitu dong… Belum pasti kayak gitu, lagi…” Minju menyemangati.

“Aku yakin banget Suho punya perasaan yang sama ke kamu. Kamu tunggu aja.”

“Molla!” Sujeong makin sewot aja.

“Dia first Love Aku, Min-ah. Dan first love biasanya tidak mudah dilupain. Aku sendiri percaya Aku juga kayak gitu. Sampai sekarang perasaan Aku ke dia semakin kuat. Kadang cinta emang aneh. Kita tidak peduli dia membalas perasaan kita atau tidak, yang jelas kita menyayanginya dengan tulus. Dan mungkin… ini hanya soal waktu.” Minju merangkul Sujeong.

“Kalau ngomongin cinta, kamu mengerti banget ya…”

“Hehehe… tidak juga sih… itu Aku kutip dari Baekhyun.” Sujeong mengaku malu-malu.

“Oh ya, memangnya pas kamu curhat ke Baekhyun, dia bilang apa? Bukannya kalian bertiga deket, ya? Mana tahu Suho cerita ke Baekhyun, kan?” kata Minju.

“Hmmm… kata Baekhyun, Suho itu tertutup soal Yeoja. Tapi dari sikap Suho ke Aku, Baekhyun juga yakin Suho punya feeling. Katanya sih mungkin dia lagi nunggu waktu yang tepat saja untuk nembak Aku…” kata Sujeong.

“Waktu yang tepat? Bisa jadi.”

***

“Jeongi-ah… maaf ya, aku tidak bisa nemenin kamu ke toko buku. Aku lupa sudah janji sama Xiumin. Tidak apa-apa, kan?” kata Minju dengan menyesal.

“Lho, kok Kamu begitu sih! Molla, pokoknya Kamu sudah janji sama Aku!” sergah Sujeong. “Jebbal ne, Jeongi. Sekali ini saja…” Minju memohon.

“Shireo! Kemarin-kemarin juga Kamu begitu. Dari dulu Kamu bilang sekaliiiii mulu!” dumel Sujeong pada Minju.

“Kali ini bener kok, Jeong… Jebbal ne…” pinta Minju dengan memelas.

“Kenapa tidak bilang saja ke Xiumin kalau Kamu sudah janji duluan sama Aku?! Masa Kamu lebih mentingin teman daripada saudara sendiri sih?” Minju hanya terdiam sambil menunduk dan memainkan jari. Sujeong langsung iba.

“Geure, kalau Kamu memang mau pergi sama Xiumin, pergi saja. Tapi hati-hati, ya.” Akhirnya Sujeong mengalah pada Minju.

“Gomawo, Jeong…” katanya sambil memeluk Sujeong. Sujeong mengangguk, walaupun sebenarnya dia masih jengkel dan kesal.

***

Keesokan harinya Minju masih belum bisa menemani Sujeong pergi.

“Mian, Jeongi. Aku harus menyelesaikan tugas sekolah dari Mr. Brian. Waktunya sudah mepet banget nih, Jeong. Kalau tidak percaya, tanya saja Xiumin atau Mina.” Ujar Minju seraya menyodorkan ponselnya.

“Duh, gimana siiih…” erang Sujeong kesal.

“Maaf…”

“Ya, sudah! Pergi sana! Pergi pergi pergiiiii!!!” usir Sujeong dengan kesal yang lagi-lagi Minju membatalkan janjinya.

“Jeong… maaf ya, kalau aku jadi sering buat kamu sebel…” ujar Minju.

“Sudah… tidak apa-apa!” tukas Sujeong.

Minju menggenggam tangan Sujeong erat-erat.

“Maaf ya, sudah bikin kamu sebel.”

Dia mengulangi ucapannya.

“Aku sayang banget sama kamu. Aku janji, setelah ini aku tidak akan buat kamu sebel lagi, dan tidak akan pernah bikin kamu marah…” Minju memeluknya erat-erat dan lama, seolah-olah takkan pernah melepaskan Sujeong lagi. Akhirnya Sujeong sendiri yang melepaskan pelukan itu dan mendorong Minju dengan lembut.

“Ara… Ara.” Ujar Sujeong yang heran adegannya yang tiba-tiba jadi melankolis begini.

“Take it easy…” Akhir-akhir ini Minju sering tidak punya waktu untuk menemani Sujeong. Sepertinya Minju sibuk terus dengan kegiatannya, seperti mungkin juga dialami semua siswa Wollim High School Internasional Sujeong meregangkan tubuh dengan malas. Kemudian bergerak-gerak untuk melakukan otot-ototnya yang tegang. Dia memutuskan untuk melakukan kesibukan lain yang lebih menarik, seperti… menggambar! Karena terlalu asyik menggambar, dia nyaris tidak menyadari telepon rumahnya sudah berdering heboh sejak tadi.

“Iya-iya!” omel Sujeong seraya bangkit berdiri dengan terburu-buru. Tanpa sengaja tangannya menyenggol sesuatu.

PRAAAAANG!

Mug kesayangan Minju! Astaga, Minju bisa ngambek! Pikir Sujeong. Sekelabat perasaan aneh seolah menyentaknya. Namun Sujeong segera menepis perasaan itu dan mengangkat telepon yang sudah hamper hilang kesabaran itu.

“Halo.” Ujar Sujeong cepat.

“Ya? Benar. Apa?! Ta… ta… tapi… tidak mungkin!” Sujeong membanting telepon dan merosot duduk di samping meja. Dunianya berputar cepat. Tubuhnya sekonyong-konyong terasa sangat ringan, tulang-tulangnya seperti lenyap. Rasanya seperti bermimpi. Ini hanya mimpi… hanya mimpi… Sujeong meyakinkan dirinya di antara deru napasnya yang memburu.

Minju – kecelakaan – Instalasi Gawat Darurat – tak sadarkan diri. Sujeong berusaha merangkai potongan-potongan kata yang tadi didengarnya. Tapi tidak mungkin! Tadi Minju masih bersamanya, Minju menggenggam tangannya dan berjanji takkan pernah membuatnya marah lagi. Kalau begitu, cerita konyol dari mana ini?

***

Bersama Yoona, Sujeong pergi ke rumah sakit. Minju tampak tak berdaya. Kecelakaan beruntun telah mengantarnya ke tempat ini, dengan kondisi yang tak terkatakan dan penuh derai air mata. “Eomma…!” Sujeong tak sanggup melihat Minju, dia langsung memeluk Eommanya dengan tangisan tak tertahan. Yoona yang telah bersusah payah membangun ketegaran akhirnya roboh dan ikut menangis. Tubuhnya gemetar hebat dan perlahan dia menelan tangisnya, memberi sedikit kekuatan kepada Sujeong untuk menerima kenyataan. Apakah Minju merasa sakit? Apakah dia merasa tak berdaya? Tapi kenapa Minju begitu tenang, seolah-olah tidak merasakan apa-apa? Apakah dia memang tak bisa lagi merasakan apa pun?

“Min-ah…” Sujeong mencoba menggenggam jemari Minju yang penuh goresan dan memar. “Minju-ah…” air mata Sujeong kembali menetes.

“Aku di sini, Minju-ah…” Sujeong menunduk pedih di samping Minju.

“Aku di sini…”

***

Minju hanya bertahan sebentar. Dia pergi begitu saja tanpa sempat membuka mata, tanpa memberi syarat apa pun. Sekarang Sujeong berdiri dengan tubuh goyah, separuh jiwanya bagaikan ditelan bumi. Dan kini, Sujeong hanyalah belahan retak yang mencoba bertahan. “Minju-ah…” Sujeong mengguncang nisan yang belum kokoh itu.

“Cho Minju, kembali…” tangis Sujeong kini menjadi-jadi.

“KEMBALIIIII…!!! AKU BILANG KEMBALIIIII…!!!” Yoona tidak mengatakan apa-apa. Dirangkulnya Sujeong dan ditahannya tubuh putrinya yang gemetar hebat. Ayah Sujeong, Cho Kyuhyun, memeluk mereka dalam isakan tertahan. Tak ada kata yang dapat mengobati kehilangan yang baru saja mereka alami.

***

Selama sebulan Sujeong tidak mau tidur di kamarnya. Kamar yang dulu dia tempati bersama Minju. Sujeong belum kepingin mengakui bahwa apa yang dialaminya itu nyata. Dia ingin menganggap dirinya sedang bermimpi. Dan Sujeong ingin segera terbangun dari mimpi itu. Selama di sekolah, seperti biasa Suho dan Baekhyun selalu bersamanya.

“Jeongi… ke kantin yuk.” Bujuk Baekhyun.

“Laper nih…”

“Duluan saja.” Sahut Sujeong tanpa menoleh, tangannya sibuk dengan kertas dan pensil.

“Di rumah Kamu kayak gini juga ya? Kasihan banget Eomma Kamu, dia pasti makin sedih meliat Kamu kayak begini.” Ujar Suho seraya merangkul bahu Sujeong.

“Kalian tidak mengerti apa yang Aku rasakan!” kata-kata itu selalu menjadi senjata pamungkas Sujeong untuk membuat kedua sahabatnya terdiam.

“Ya sudah. Aku ke kantin kalau gitu. Tunggu di sini, ya.” Kata Baekhyun seraya beranjak meninggalkan mereka. Kini tinggal Sujeong yang sibuk mencorat-coret dan Suho yang memperhatikannya dalam diam.

“Aku juga merasa kehilangan, Jeongi.” Bisik Suho kemudian.

“Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerimanya.” Sujeong mendengarkan, tapi sama sekali tidak menggubrisnya. Bagaimana pun, yang dirasakannya jauh lebih dalam daripada orang lain. Dia sudah bersama-sama Minju sejak mereka di kandungan, lahir bersama, tumbuh bersama. Tak seorang pun memiliki ikatan batin yang di milikinya dengan Minju. Karena Minju adalah sebagian dirinya, bagian yang kini telah hilang.

“Jeongi-ah, Aku mau jadi seseorang yang bisa mengisi hari-hari kamu. Di saat Kamu sedih ataupun senang, Aku pengin jadi bagian hari-hari kamu. Dan Aku akan bikin Kamu kembali tersenyum. Bikin kamu ceria lagi.” Kata Suho tulus.

Pensil di tangan Sujeong terlepas dan jatuh ke meja. Sujeong menoleh dan menatap namja itu dengan penuh tanda tanya. Apa maksudnya? Inikah yang telah di nanti-nantikannya selama ini? “Aku sayang Kamu, Sujeong.” Kata Suho pelan.

Kalau saja Minju masih ada, mereka pasti akan bersorak kegirangan karena apa yang di nanti-nantikan Sujeong jadi kenyataan. Tapi sekarang, pantaskah Sujeong bergembira?

“Gomawo ne.” Ujar Sujeong sambil tersenyum samar, lalu melanjutkan menggambar. Menorehkan garis-garis yang tak bisa diartikan siapa pun.

***

Untuk pertama kali, malam itu Sujeong memasuki kamarnya. Kamar yang sangat luas itu kini sepi. Ia menghidupkan MP3 playernya cukup keras untuk mengisi kesunyian. Dengan begini, mungkin ia lebih kuat. Sujeong memandang ke arah tempat tidur Minju. Tempat tidur yang ia rapikan sebulan yang lalu. Sisi kamar itu takkan terisi lagi. Kamar itu terlalu luas baginya. Sempat terlintas di benak Sujeong untuk pindah ke kamar tamu yang luasnya hanya separuh kamar. Tapi tidak, kamar tamu itu juga sering di tempati Minju, saat ia ingin belajar serius dan menghindar dari Sujeong yang selalu merecokinya dengan gurauan tidak mutu. Kamar itu bahkan penuh pernak-pernik Minju, seakan-akan itu kamar miliknya. Akhirnya Sujeong memutuskan untuk tetap menggunakan kamarnya saja dan merapikan buku-buku Minju yang masih tergeletak di meja. Satu per satu ia menyusun buku-buku, majalah, koran sekolah, dan surat kabar. Semua bacaan berat yang tak bisa di cerna Sujeong karena dia memang tidak minat sama sekali dengan bacaan-bacaan itu. Sujeong menyimpan semuanya di lemari buku Minju yang penuh sesak. Terakhir, sebuah diary Emo Bear berwarna biru suram. Satu lagi kebiasaan Minju yang tidak di minati Sujeong. Diary ini adalah bagian dari hari-hari Minju. Sujeong tak pernah tahu isinya, tapi sekarang buku kecil itu ada di tangannya. Lancangkah dia jika mengintip isinya? Tidak.

Tentu saja tidak. Selama ini mereka selalu berbagi dan bercerita. Sujeong membuka halaman terakhir yang ditulis Minju. Halaman terakhir yang menutup kisah hidupnya yang singkat.

Jumat, 13 Mei 2011

Tugas paper harus selesai! Siang ini aku akan diskusi bareng Xiumin dan Mina untuk menyelesaikan tugas dari Mr. Brian yang banyak dan susahnya minta ampun! Dan yang paling gawat, sudah hampir deadline! Hehehe,

untung Xiumin sama Mina tidak marah karena kemarin aku kabur. Sampai sekarang aku tidak tahu harus gimana sama Sujeong. Aku takut ketahuan. Tapi sepertinya sih semua berjalan lancar. Sujeong tidak akan pernah tahu tentang hal ini, sampai kapan pun ini akan tetap menjadi rahasia. Aku benar-benar tidak kepingin dia tahu.

Rahasia? Selama ini Minju selalu terbuka kepadanya. Semua tentang apa yang dialami dan dirasakannya. Dan sekarang ada rahasia? Jantung Sujeong berdebar seru, ia beranjak menuju tempat tidur dan meneruskan membaca diary itu.

Kamis, 12 Mei 2011

Hari ini seharusnya aku mengerjakan tugas paper sama Xiumin dan Mina. Mereka kesal karena aku tidak bisa. Aku juga bikin Sujeong kesal karena tidak jadi nemenin dia ke toko buku. Aku sebenarnya bimbang, tapi aku sudah memaksa Suho untuk meluangkan waktu pergi nonton hari ini. Jadi terpaksalah aku berbohong kepada Sujeong.

***

Suho?

Darah Sujeong berdesir kencang membaca nama itu ditulis dengan tulisan tangan Minju yang rapi.

Tapi hari ini aku benar-benar senang. Kami nonton film horor yang seru banget. Semua yang kualami hari ini dan hari-hari sebelumnya sungguh istimewa. Sejujurnya aku benar-benar menyukai Suho… first lovenya Sujeong, dan… first Love aku juga… Maaf, Jeongi, jangan salahkan aku. Salahkan hati yang tak dapat kukendalikan ini… Tapi satu hal yang pasti, aku takkan merebut Suho darimu untuk selamanya.

Emosi Sujeong berkecamuk. Perasaan’y tak menentu. Apa maksud Minju di balik semua ini? Sekarang dia akan mengetahui semuanya dengan jelas.

Sujeong membuka lembaran diary itu dengan tangan gemetar. Sujeong harus mengakui satu hal yang sangat menyakitkan: Minju membohonginya. Sujeong membuka halaman saat pertama kali ia memperkenalkan Suho kepada Minju.

Minggu, 10 April 2011

Hari ini Sujeong senang sekali. Untuk pertama kali dia mengundang teman namjanya ke rumah. Kim Junmyeon atau dipanggil Suho, namja yang ditaksir Sujeong setengah mati. Kentara sekali Sujeong grogi banget, sampai-sampai aku bisa merasakan tangannya gemetaran. Aku bahkan sampai tidak habis pikir bagaimana perjuangan Sujeong membuat lemon tea yang rasanya sangat aneh itu di dapur. Bayangkan coba, lemon teanya dikasih garam dan sari lemon yang kelewat banyak. Dan aku nekat mencicipinya pula! Sinting! Tapi aku salut padanya. lagian memang tidak sia-sia kok, Kim Junmyeon tampan sekali. Lebih tampan daripada Chen, namja most wanted di sekolahku. Sujeong benar-benar serasi dengannya. Aku sendiri terkesima pada namja itu, tapi entah kenapa aku merasakan ganjil yang sedikit aneh, tapi kenapa aku sangat menyenangkan. Lucu ya? Tapi aku juga senang banget liat Sujeong makin hepi begitu.

Tidak ada hal “aneh” yang tertulis sampai halaman itu berakhir. Sampai akhirnya Sujeong berhenti pada halaman baru yang memuat nama Suho.

Rabu, 27 April 2011

Aku dikejutkan kedatangan siswa baru di kelas musikku. Kim Junmyeon, dia memperkenalkan namanya. Kim Junmyeon adalah Suho. Dia mengajakku main music bersama. Dia menunjukkan permainan pianonya yang sangat lincah sehingga aku bertanya-tanya untuk apa dia ikut les music. Ia menawarkan diri mengantarku pulang. Terang saja aku menolak. Dan dia tidak memaksaku lagi. Sebelum berpisah, sebenarnya aku ingin bertanya kenapa dia ikut les music tingkat menengah seperti aku. Kemampuannya bahkan bisa dibilang mendekati maestro. Tapi aku mengurungkan niat untuk bertanya lalu berbalik pulang.

Cukup sampai di situ. Sujeong mencerna semua yang telah dibacanya. Dadanya sesak, pandangannya berkaca-kaca. Di dekatnya juga ada album foto yang tadinya terkunci. Sujeong membuka dengan paksa menggunakan obeng, sehingga sebagian album agak koyak. Dan betapa terkejutnya dirinya ketika melihat foto-foto yang tersusun di sana. Foto-foto Minju dan Suho bermain piano berdua, makan es krim di Sungan Han, tertawa di taman bermain, dan… Oh, apa itu? Sujeong tak dapat melihatnya dengan jelas. Air mata telah mengaburkan pandangannya. Apa-apaan ini?! Inikah yang ditinggalkan Minju untuknya? Sepenggal cerita yang menambah luka hati? Dan mengapa semua ini tersingkap saat Minju sudah tidak ada? Apa arti semua ini? Apa yang bisa dilakukannya? Sujeong meringkuk di tempat tidur, menahan isakan yang tak diinginkannya, mengulangi setiap bait kata dengan perasaan tak percaya. Diary itu basah oleh air matanya yang tak terbendung. Kini dia harus menerima kenyataan yang mencabik dan merusak semua itu. Bahwa dia telah didustai, dikhianati. Dengan nanar Sujeong menatap diary itu. Kalau saja dia tidak menemukannya, kalau saja diary itu ikut terkubur bersama Minju, mungkinkah semuanya jadi lebih baik? Dengan amarah berkecamuk, Sujeong melempar diary itu dan mendengar bunyi debam pelan di samping lemari. Seharusnya diary itu telah dicampakkan sejak dulu, dan lebih baik lagi kalau tidak pernah ada! Sujeong membenamkan wajah dan melepaskan tangisnya yang pilu. Untuk pertama kali seumur hidupnya, Sujeong benar-benar membenci Minju. Siapa yang harus disalahkan? Minju? Suho? Atau dirinya yang telah lancang membuka privasi saudaranya? Sampai sekarang aku tidak tahu harus gimana sama Sujeong. Aku takut ketahuan. Tapi sepertinya sih semua berjalan lancar. Sujeong tidak akan pernah tahu tentang hal ini, sampai kapan pun ini akan tetap menjadi rahasia. Aku benar2 tidak ingin dia tahu… Kamu sudah merahasiakannya dengan baik, Minju-ah. Merahasiakan sampai akhir hayat kamu. Semua kenangan indah Sujeong bersama Minju rusak sudah. Tak ada yang bisa dia rindukan dari sosok saudara kembarnya itu. Sujeong hampir tak ingat ucapan Suho tadi siang. Kalau dia tidak salah dengar, namja itu bilang sayang dan ingin menjadi bagian hidupnya. Persetan dengan semua itu. Suho benar-benar br*ngs*k. Kenapa bukan dia saja yang pergi? Dunia sudah muak dengan orang-orang munafik seperti Suho! Kesedihan Sujeong kini tertutup amarah dan kebencian. Sujeong akhirnya tidur dengan mimpi buruk. Mimpi buruk yang akan mengikutinya sampai kapan pun.

Sujeong POV :

“Sujeong-ah?” Suho memanggil Sujeong, mengiringi langkaa cepat dan bergegas gadis itu.

Hari ini sikap Sujeong sangat aneh, sangat tidak biasa dan belum pernah sejutek ini.

“KAMU JANGAN PERNAH DEKAT-DEKAT DENGAN AKU LAGI DEH! DENGAR?!” Sujeong sekonyong-konyong berbalik dan menghunjam Suho dengan hardikannya.

“Memangnya kenapa? Jadi ini jawaban Kamu soal kemarin?” Suho semakin tidak mengerti. “IYA! JELAS?!” pekik Sujeong dengan penuh emosi.

“Aku belum tuli, Jeongi. Kamu tidak perlu teriak-teriak begitu supaya Aku mendengar. Tolong kasih penjelasan!” ucap Suho yang tidak mengerti dengan sikap Sujeong hari ini.

Sial! Penjelasan? Perlu penjelasan apa lagi? Semuanya sudah terlalu jelas bagi Sujeong. Dia hanya tidak mau menyebut-nyebut atau mengungkit nama Minju lagi dalam hidupnya. Minju sudah pergi tanpa bisa mmpertangung jawabkan kesalahan terbesar hidupnya. Tak ada yang bisa diperbaiki kalau urusannya dengan orang yang telah pergi untuk selamanya.

“Dengar, tidak ada penjelasan apa-apa. Dan mulai saat ini, Kamu tidak perlu mikirin aku. Pikirkan saja diri Kamu sendiri. Jelas?!” kata Sujeong sengit.

“Jeongi, kalau kamu nolak Aku, tidak perlu seperti begini caranya. Kalau kamu tidak senang aku punya perasaan ke kamu, bukan ini penyelesaiannya. Kamu…”Kata Suho yang masih ingin penjelasan dari Sujeong.

“Sudahlah! Aku lelah dengerin Kamu! Kalau Kamu memang sayang sama Aku, tolong penuhi satu permintaan Aku: JAUHIN AKU!” Selesai berkata begitu Sujeong lari dengan gemuruh tak menentu menyesakkan dadanya. Saat itu dilihatnya Baekhyun yang baru saja menuju mobilnya. “BAEKHYUN!” Baekhyun berhenti sejenak melihat Sujeong menghampirinya. Sepuluh meter di belakang Yeoja itu, Suho tampak berdiri terpaku.Mungkinkah Sujeong akhirnya mengetahui sesuatu? Tapi tidak mungkin, Minju sudah berjanji tidak akan mengatakan apa pun… lagi pula, kenapa baru sekarang Sujeong bersikap seperti ini? Suho terus memandang Sujeong dengan perasaan tak menentu. Dia yakin Yeoja itu tidak tahu apa-apa. Minju sudah berjanji padanya. Ataukah Minju sengaja memberi tahu Sujeong, untuk sekadar melampiaskan perasaannya? Untuk kesekian kali Suho berkata dalam hati: tidak mungkin.

***

Malam itu Suho terus berusaha menghubungi Sujeong. Sampai akhir’y Sujeong mematikan ponsel. Yeoja itu membuka laptop dan langsung online. Dia membuka email, dan mulai menulis.

From: Cho Sujeong

To: Marcus Cho a.k Cho Kyuhyun

Subject: Daddy, I cried Dad, I’ve found a suck kind of love. A nightmare for every girl in this small world!

Tapi Sujeong bukan Yeoja polos yang mudah dibodohi. Sujeong sudah bisa memutuskan apa yang terbaik bagi Sujeong.

Bagaimana kabar Daddy? Balas secepatnya! Kalau bisa Sujeong kepingin chat lagi. Sujeong kangen sama Daddy…

Sujeong keluar dari kamar dan melihat Eommanya sedang sibuk merapikan ruang tamu. Sujeong duduk dan menatap Eommanya yang sedang menata pernak-pernik di meja.

“Eomma, Sujeong tidak ingin tinggal di sini lagi.” Sujeong menyampaikan kata-kata yang tadi disusunnya.

Yoona menatap putrinya, padangannya yang penuh tanya sudah cukup bagi Sujeong untuk memulai penjelasannya.

“Rumah ini terlalu besar untuk ditinggali berdua.” Kata Sujeong sambil memeluk bantal. “Sekarang rumah ini jadi terasa semakin besar, semakin kosong, semakin sunyi, dan semakin jauh dari kehangatan. Apalagi setiap sudut, setiap dinding, setiap benda di rumah ini menyimpan kenangan tentang orang-orang yang telah pergi. Daddy, Minju, sama saja. Semua itu semakin membuat Sujeong terkurung dalam kesedihan. Dan Sujeong ingin lepas dari semua itu.” Kali ini kata-kata itu meluncur begitu saja mengikuti perasaan yang selama ini dipendam Sujeong. Terutama sejak… terungkapnya pengkhianatan Minju… Yoona berdiri dan duduk di samping Sujeong. Dia merangkul dan membelai putrinya dengan penuh perasaan.

“Apa yang kamu pikirkan itu, persis dengan apa yang sering terlintas di pikiran Eomma…” kata Yoona jujur.

“Trus kenapa Eomma tidak pernah bilang?” Tanya Sujeong heran, sekaligus senang, karena Yoona sependapat dengannya.

“Eomma hanya tidak kepingin membebani kamu dengan keinginan Eomma. Eomma pikir kamu akan keberatan karena harus berpisah dengan teman-teman kamu. Lagi pula, minggu depan kamu ulangan umum kenaikan kelas, kan? Eomma hanya ingin menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya, dan itu pun kalau kamu tidak keberatan.” Sujeong terkesiap dengan tuturan lembut Eommanya. Tentu saja dia sangat tidak keberatan. Sujeong sudah tidak tahan, ingin pergi jauh-jauh meninggalkan semua ini.

“Kalau begitu Eomma sudah nyusun planning dong?” tanya Sujeong pada Eommanya.

“Begitulah, Eomma sudah bicara dengan Siwon Ahjusi dan dia akan mencarikan rumah untuk kita di Busan.” Jawab Yoona dengan tenang.

“Busan? It sounds so interesting!” kata Sujeong dengan senyum manisnya yang menawan, wajahnya seketika langsung cerah.

Flashback End

 

***

Baekhyun POV :

“Baekhyun, tunggu!” Suho mengejar Baekhyun yang sudah siap meluncur dengan mobilnya. Sejak Sujeong menceritkan affair antara Suho dan Minju, Baekhyun langsung tidak simpati lagi kepada Suho dan mulai menjauhi namja itu. Terang saja Suho semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Suho membuka pintu mobil dan duduk di sebelah jok pengemudi.

“Kamu mau apa sih?” Tanya Baekhyun dingin.

“Seharusnya Aku yang nanya, Kamu kenapa?!” tukas Suho frustrasi.

“Kamu nanya Aku kenapa?” Baekhyun masih sinis.

“Kamu memang tidak punya hati, ya! Gara-gara Kamu, Sujeong pindah dari sekolah ini. Kamu sudah buat sahabat terbaik Aku pergi!” ucap Baekhyun dingin.

“Aku tidak suka Kamu asal nuduh begitu!” Suho mulai emosi.

“Kamu kayak begini karena kamu suka sama Sujeong, kan? Kamu sedih sejak dia pindah dan sekarang kamu nuduh aku sebagai penyebab semua ini. Kamu bener-benar picik! Pengecut!” kata Suho dengan penuh emosi.

“Damn it!! Kamu! Aku tidak sebodoh itu bersikap kayak begini! Aku memang suka sama dia, dan waktu Aku tahu dia suka Kamu, Aku cukup tahu diri. Aku rela Kamu jadi namjanya Sujeong, tapi Aku tidak terima Kamu menyia-nyiakan dia dan menyakitin dia seperti ini!” desis Baekhyun yang sudah mulai emosi.

“Eh, jangan asal nuduh Kamu! Aku tidak mengerti Kamu ngomong apaan!” tukas Suho sambil meninju dasbor.

“Kamu mau adu jotos?!” hardik Baekhyun tersinggung. Baekhyun turun dari mobil.

Suho langsung mengikuti dan mereka pun berdiri berhadap-hadapan.

“Maaf, Jeongi… Aku melanggar janji Aku, tapi Aku sudah tidak tahan kepingin menghajar si sialan ini. Aku lakukan ini buat Kamu”, kata Baekhyun dalam hati. “Akan Aku balaskan sakit hati Kamu walaupun tidak seberapa, walaupun tidak sebanding dengan yang Kamu rasakan selama ini.”

BUUUK!!!

Baekhyun menghantam perut Suho dengan tinjunya.

“ARRRGGGHHH!” Suho terjatuh dan mengerang kesakitan. Belum sempat menenangkan diri, pukulan demi pukulan kembali mendarat di wajahnya tanpa dia mampu membalas.

“KAMU KENAPA?” teriak Suho histeris penuh amarah.

“KENAPA?! KENAPA??” Baekhyun mencengkeram kerah seragam Suho.

“INI JAWABANNYA!”

BUKKK!!! Baekhyun menghantam dada Suho dengan tendangannya, lalu berbalik menuju mobil dan membiarkan Suho tergelatak begitu saja.

“Arrggh!” Suho mengerang.

Dadanya sesak. Dia nyaris tidak bisa bernapas. Pandangannya mula gelap.

“Kenapa…? Dia mengerang dengan suara lemah. Sekelebat Suho melihat Baekhyun berlari menghampirinya.

“Suho! Suho! Suho-aah!” teriak Baekhyun terasa sangat jauh dan akhirnya hilang sama sekali. Suho tak sadarkan diri.

***

“Arrrgggh…!”

“Jeongi, Kamu kenapa? Gweancanayo?” Tanya Chanyeol cemas.

“Ngghh…” Sujeong mendesah.

“Nan Gweanchana.” Katanya. Ia sedang meruncingkan pensil dengan cutter, ketika tanpa sengaja melukai telunjuknya.

“Sini, biar Aku bantu.” Chanyeol meraih tangan Sujeong yang terluka.

Diisapnya telunjuk Sujeong yang berdarah. Darah Sujeong berdesir cepat dan jantungnya berdetak tak teratur.

“Sudah.” Ujar Chanyeol.

Sujeong tersenyum.

“Kenapa, Jeongi?” Tanya Chanyeol heran.

“Nggg… nggak kok. Nggak kenapa-kenapa.” Jawab Sujeong.

Chanyeol tersenyum geli. Dia mengusap kepala Sujeong dengan sayang.

“Kamu sama Aku kok masih grogi-grogian segala sih?” katanya tenang. Dipeluknya Sujeong dan diciumnya keningnya dengan lebut. Sejak Chanyeol menjadi someone specialnya, hari-hari Sujeong benar-benar ceria dan penuh kejutan. Namja itu sangat menyayanginya. Tapi saat itu perasaan Sujeong agak berbeda. Seolah-olah ada firasat yang membisikkan telah terjadi sesuatu. Ponsel Sujeong berbunyi.

Baekhyun.

“Hai.”

“Jeongi, mian.” Suara Baekhyun terdengar resah.

Sujeong mengerutkan dahi. “Mian? Untuk apa? Emang Kamu sudah melakukan apa?” tanya Sujeong heran.

“Mianhae…”

“Iya, tapi kenapa?”  desis Sujeong yang sudah mulai kesal dengan Baekhyun.

“Aku… Aku habis menghajar Suho.” Darah Sujeong berdesir lemah.

“Bukannya Aku sudah bilang!” tukas Sujeong, emosinya tidak menentu.

“Aku tidak tahu, Jeongi. Aku lepas kendali dan…”

“Gimana keadaannya?” Sujeong terdengar sangat cemas.

“GIMANA KEADAANNYA… BYUN BAEKHYUN?!!!” sekarang dia nyaris histeris. “Sekarang… dia masih di IGD. Aku lupa jantungnya lemah, Aku…” Sujeong menekan tombol merah di HPnya, lalu terisak.

“Kenapa, Jeongi? Tadi itu siapa?” Tanya Chanyeol panik.

Sujeong hanya bisa menggeleng dan terus terisak. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia jadi khawatir dan sedih seperti ini. Seharusnya dia merasakan sebaliknya, karena toh sakit hatinya telah terlampiaskan. Tapi mendengar keadaan Suho seperti itu… Entahlah, mungkin Sujeong tidak kepingin kedua sahabatnya jadi bertengkar karena dirinya. Dia tidak ingin salah satu atau keduanya terluka. Sudah cukup kejadian dulu itu. Cukup dia saja yang merasakan amarah itu, rasa sakit itu.

***

Baekhyun Pov :

Setelah beberapa lama tak sadarkan diri, Suho mulai menggeliat lemah namun matanya masih terpejam. Kepala dan lengannya sudah diperban. Baekhyun sangat menyesal melihat hasil perbuatannya, akibat dari amarahnya yang tak terkendali. Baekhyun lantas menghubungi orang tua Suho serta mengakui kesalahannya. Selama itu Baekhyun merasa resah dan berharap Suho segera pulih.

Tiba-tiba Baekhyun dikejutkan bunyi ponselnya. Sujeong.

“Jeongi…”

“Gimana Suho?”

“Belum sadar. Tapi Aku akan bertanggung jawab kok. Aku jamin dia akan baik-baik saja.” Baekhyun berusaha meyakinkan.

“Jaga dia, ya.” Baekhyun terdiam sesaat mendengar ucapan Sujeong.

Kata-kata yang singkat itu menyimpan perasaan yang sangat dalam. Sarat kesedihan dan kerinduan. Mungkinkah…

“Jeongi, Aku boleh nanya sesuatu?” tanya Baekhyun dengan hati-hati.

“Mmmm…?”

“Kamu… masih menyimpan perasaan ya sama dia?” Kini giliran Sujeong yang terdiam. Dia tidak tahu harus bilang apa. Dia memandangi telunjuknya yang kini diplester. Luka yang seakan memberi pertanda kejadian buruk yang menimpa Suho. Seakan dia dan Suho terhubung oleh sesuatu yang tak diketahuinya.

“Jeongi, kok diam? Apakah itu berarti…” kata Baekhyun.

“Anniya, sama sekali tidak. Dia pengkhianat. Dia merusak persaudaraan Aku dengan Minju. Dia… jahat. Aku cuma tidak ingin Kamu berantem. Bagaimana pun juga dulu kita bertiga bersahabat. Sekarang Kamu tinggal berdua sama dia, Aku ingin kalian baik-baik saja. Dari awal Kamu udah janji, apa pun yang Aku ceritain tidak akan memengaruhi persahabatan Kamu dan dia.” Jelas Sujeong yang berusaha tenang.

Keheningan kembali merebak sementara Baekhyun mencerna ucapan Sujeong. Tapi baginya tidak semudah itu menepati janji. Dia tidak rela Yeoja yang di cintainya di sia-siakan sahabatnya sendiri.

“Jaga dia baik-baik. Kabarin Aku gimana keadaannya.” bisik Sujeong, sebelum mematikan ponsel dan berbaring di sofa sambil memandangi TV dengan tatapan kosong. Sementara Baekhyun kembali menatap sahabatnya yang kini terbaring tenang. Suho menggeliat lemah, lalu mendesah. Itulah suara pertama yang keluar dari mulut Suho sejak dia tak sadarkan diri.

“Suho-ah… Kamu sudah bangun?” Baekhyun mencoba memanggil.

“Hmmm…” Suho mendesah lemah.

Perlahan matanya mulai terbuka, mengerjap beberapa kali.

Dia menyentuh kepalanya. “Suho-ah, gimana keadaan Kamu?” Suho tidak langsung menjawab. Dia memandang ruangan tempatnya berbaring. Dia tidak ingat di mana dia terakhir berada, sampai di lihatnya Baekhyun sangat cemas.

“Aku di mana?” gumam Suho tidak jelas. Dia melepaskan selang oksigen dari hidungnya. “Untuk apa ini?”

“Hei, jangan di lepas. Itu untuk membantu pernapasan Kamu!” ujar Baekhyun seraya memasang selang itu lagi.

“Kamu di rumah sakit.” Suho meraba dadanya yang tadi di hantam Baekhyun.

“Sakit.” Katanya sambil meringis. Suaranya masih serak dan berat.

“Maafin Aku, Suho-ah. Maaf.” Bisik Baekhyun sambil menyentuh bahu Suho.

“Aku menyesal. Maafin Aku, ya.” Baekhyun benar-benar sedih melihat kondisi Suho, meski pun menurut dokter kondisi Suho tidak parah.

“Aku tidak habis pikir sama sikap Kamu. Apa alasan Kamu mukulin Aku begini?”  tanya Suho dengan pelan.

***

Sujeong POV :

Hari ini Sujeong tidak bersemangat. Sejak pagi sampai jam isitirahat dia lebih banyak diam dan hanya bicara seperlunya. Dia bahkan menolak ajakan Chanyeol untuk makan di kantin dan minta di tinggal sendiri. Melihat Sujeong seperti itu, Sehun dan Kay jadi ketularan diam dan sebentar-sebentar melirik Sujeong dengan was-was. Sesekali Sujeong menangkap basah Kay dan Sehun sedang melontarkan isyarat yang pasti menyangkut dirinya.

“Kalian kenapa sih?!” kata Sujeong akhirnya.

Dia sebal melihat sikap was-was yang di tunjukkan kedua sahabatnya itu. Mereka sekarang memang kompak banget, apalagi sejak jadian dua minggu lalu. Sejak itu Sujeong mengambil insiatif untuk bertukar tempat duduk dengan Kay. Soalnya kasihan juga pasangan baru di pisah begitu.

“Anni, tapi hari ini Kamu beda banget.” Ujar Kay jujur.

“Kamu lagi berantem sama Chanyeol, ya?” tambah Sehun.

“Iya nih, masa barusan Chanyeol Kamu usir begitu saja sih. Kalian ada masalah apa?” tanya Kay penasaran.

“Ih, rese banget sih. Aku tidak ada masalah. Apalagi sama Chanyeol. Kami baik-baik saja kok! Kalau tidak percaya tanya saja Chanyeol. Oke?” kata Sujeong yang kesal dengan sikap sahabatnya yang ingin tahu.

“Trus kenapa hari ini Kamu beda banget? Kamu tidak bisa bohong, Jeongi. Dari wajah Kamu saja jelas banget Kamu lagi mikirin sesuatu.” Baru saja Sujeong berniat mengomel panjang-lebar lagi, getaran di sakunya membuatnya mengurungkan niat.

Telepon dari Baekhyun. “Permisi.” Sujeong meninggalkan Kay dan Sehun yang terbengong-bengong dengan sikapnya yang makin aneh.

“Gimana, Hyun-ah?”

“Sudah jauh lebih baik. Siang ini sudah bisa pulang.”

“Syukurlah. Apa kata orang tuanya?”

“Aku kena marah habis-habisan sama orang tuanya dia. Tapi untung waktu mereka datang Suho sudah sadar dan bisa menenangkan orangtuanya.”

“Syukur deh, untung Kamu tidak sampai di laporin terus masuk penjara gara-gara memukul orang sampai seperti itu!” kata Sujeong sambil tersenyum kecil.

Senyum lega.

“Umm, Kamu masih membenci dia?”

“Mereka. Tepatnya.” hati Sujeong seketika membeku.

“Aku nyesel banget mukulin Suho, Jeong-ah.,” Baekhyun terdiam.

“Sujeong-ah, menurut Aku sih sebaiknya Kamu maafin dia. Semua sudah berlalu. Minju tidak bakal kembali untuk menyelesaikan masalah ini. Sekarang tinggal Kamu sama Suho yang bisa menuntaskannya. Apa Kamu pikir Minju sekarang tenang dengan kebencian yang Kamu pelihara sampai saat ini?” kata Baekhyun.

“Kamu tidak mengerti apa yang Aku rasain, Hyun-ah.” Nada suara Sujeong dingin dan tajam. “Kamu selalu bilang begitu. Kamu menganggap tidak satu orang pun orang di dunia mengerti perasaan Kamu. Padahal Kamu sediri yang tidak memberi kesempatan orang lain buat mengerti Kamu!” ucap Baekhyun yang mulai kesal dengan sifat sahabatnya itu.

“Kok Kamu sekarang jadi belain dia sih?” tuduh Sujeong pada Baekhyun.

“Bukan membela dia. Aku cuma merasa sebaiknya ini diakhiri. Kamu sendiri kan yang bilang tidak ingin ada keretakan dalam persahabatn Aku dan Suho? Bukannya Kamu juga bagian dari kami? Trus kenapa sampai saat ini Kamu tidak mau berdamai? Minju sudah tidak ada, Jeongi… Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menghakimi mereka dan melampiaskan kemarahan Kamu!” saran Baekhyun pada Sujeong.

“TERSERAH KAMU BILANG APA! SAMPAI KAPAN PUN KAMU NGGAK BAKAL MENGERTI!” Sujeong mematikan ponselnya dengan gusar. Kebenciannya semakin meluap. Apalagi Baekhyun kini berpihak kepada Suho. Sujeong merasa semakin tersingkir dan menjadi pihak di salahkan atas semua ini. Padahal justru dialah korbannya. Kenapa semua jadi terbalik begini? Dia pun kembali ke kelas dengan wajah sangat jutek, sarat kebencian.

“Ada apa sih dengan Sujeong?” Batin Kay.

“Jeongi…” Sujeong tidak menanggapi. Dia malah melipat tangan di meja lalu merebahkan kepala dan memejamkan mata. Kay mengedikkan bahu sambil mengangkat alis ke arah Sehun. Sehun menggeleng-geleng sekenanya, kemudian memberi Kay isyarat untuk keluar kelas, mumpung waktu istirahat masih ada. Tahu sudah di tinggal sendiri, perasaan Sujeong jadi sedikit lapang. Dia ingin menghadapi semua ini sendiri, merasakannya sendiri.

***

“Apa pun masalah yang lagi Kamu hadapi sekarang ini, Aku harap masalah itu cepat selesai. Walaupun Aku tidak mengerti kenapa Kamu tidak mau share. Yang jelas Aku akan selalu ada di sisi Kamu dan memastikan Kamu baik-baik aja.” Kata Chanyeol. Sujeong tertunduk diam. Setidaknya di tempat ini dia merasa sedikit bebas. Di sini dia bisa menatap bentang lautan biru yang menyegarkan, merasakan hembusan angin yang meniup helaian rambutnya yang indah. “Sujeong-ah…“ tegur Chanyeol sambil menggenggam tangan Sujeong.

“Hmmm?” kata Sujeong.

“Kamu nyaman kayak gini?” Sujeong mengangguk dan kembali menatap laut. Tak ada yang bisa membuatnya nyaman selain keheningan ini. Sujeong merasa tenang dan tidak terusik. Cukup ada seseorang di sampingnya yang bersedia menemani, meskipun dia sedang tidak ingin bicara banyak. Sujeong menghirup udara segar dan menghembuskannya perlahan-lahan. Sangat tenang. Dia merebahkan kepala dan bersandar di bahu Chanyeol. Dia memejamkan mata dan hanya melihat bayangan hitam. Tak ada bayangan lain yang sempat melintas. Ini jauh lebih baik, pikir Sujeong.

“Sujeong-ah, Kamu yakin baik-baik saja? Sejujurnya Aku khawatir.” Tanya Chanyeol dengan nada khawatir pada Sujeong.

“Belum pernah sebaik ini.” Gumam Sujeong sambil mengangkat wajah dan tersenyum. Chanyeol hanya membalas dengan senyum samar. Chanyeol belum yakin. Hari itu Sujeong lebih pendiam dan sangat tertutup. Dia meminta Chanyeol mengajaknya ke pantai. Sekadar untuk menenangkan pikiran, katanya. Alasan itu sangat ringan, namun Sujeong tidak memberi Chanyeol kesempatan untuk bertanya. Cukup dengan sorot matanya yang tajam, Chanyeol mengerti Yeoja itu memintanya membiarkannya seperti yang dia mau. Yah, seperti yang dia mau.

“Apakah semua ini ada hubungannya dengan… masa lalu?” Tanya Chanyeol ragu.

Akhirnya dia tidak tahan dan memutuskan untuk bertanya. Mungkin tidak ada salahnya mencoba.

“Masa lalu? Ya, masa lalu kadang memang suka mengikuti walaupun kita ingin lepas darinya.” jawab Sujeong.

“Tidak perlu khawatir, Aku baik-baik aja kok.” Keheningan kembali mengisi kebersamaan mereka.

“Oh ya, kabar Jisoo gimana?” Sujeong mengalihkan pembicaraan.

“Masih kayak dulu. Cuma sedikit lebih tenang dan tidak lagi menjengkelkan.”

“Baguslah. Sikapnya ke Kamu gimana?” Chanyeol diam sejenak, seakan menjawab pertanyaan Sujeong adalah pilihan yang sulit.

“Seperti biasa?” ujar Sujeong.

“Tidak.” Sahut Chanyeol singkat. Sujeong jadi penasaran. Dia memutar arah duduknya sehingga menghadap namja itu.

“Trus seperti apa?”

“Kayak teman biasa.”

“Teman biasa kayak apa?” Chanyeol sama sekali tidak menyangka Sujeong tiba-tiba akan membahas hal semacam ini. Dan dia tidak bisa menjelaskannya. Jisoo masih bersikap seperti biasa, sama seperti Sujeong belum hadir di antara mereka. Chanyeol sudah menunjukkan penolakan agar mereka sedikit menjaga jarak. Kini dia tidak bisa memberikan seluruh waktunya kepada Jisoo, sebab sekarang dia dan segala yang ada pada dirinya adalah untuk Sujeong, satu-satunya Yeoja yang di sayanginya. Tapi Jisoo terlihat tidak setuju, dan tidak peduli.

“Berteman seperti layaknya berteman.”

“Nggak sesederhana itu.” Bisik Sujeong datar.

“Sedikit banyak Aku kenal Jisoo. Tidak akan sesederhana itu, ya kan?”

“Sekalipun ada seribu Jisoo menggangu Aku setiap hari, tetap tidak akan mengubah perasaan Aku ke Kamu, tidak akan mengurangi perhatian Aku untuk Kamu. Yang Aku butuhin hanya kepercayaan dari Kamu.” Chanyeol menjawab tenang.

Baiklah, Sujeong juga tidak berniat menambah daftar masalahnya dengan kecemburuan tak menentu. Dia menarik napas dalam-dalam dan berusaha menjernihkan pikiran agar tidak bertanya macam-macam lagi.

“Ne, Aku percaya.” Keheningan kembali mengisi kekosongan di antara mereka. Tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu yang telah lama mengganjal pikirannya.

“Jeongi-ah.” Katanya.

“Cho Sujeong?” Sujeong langsung menoleh dan menatap Chanyeol heran. Ketika tersadar namja itu juga sedang menatapnya penuh selidik, Sujeong cepat-cepat mengenyahkan keterkejutan itu dari wajahnya.

”Ada apa?” tanyanya.

Chanyeol tersenyum sekilas. Akhirnya ia mengerti; Sujeong selalu menunjukkan ekspresi yang sama setiap kali dia menyebutkan nama itu.

“Bukan nama Kamu, kan?” tebaknya.

Sujeong tertunduk. Dari mana Chanyeol tahu? Dia sendiri tidak mengerti, setiap kali nama itu terdengar, jantungnya selalu berdebar cepat.

“Maksud Kamu? Memangnya ada yang salah? Nama Aku memang Sujeong kok!”

“Tapi bukan Cho Sujeong, ya kan?” Sujeong tidak menyahut. Dia tertunduk diam, kembali teringat pada Suho. Lagi-lagi dia tidak mengerti, mengapa beberapa hari terakhir ini dia tak henti-henti memikirkan Suho, Suho, dan Suho.

“Tidak usah dijawab.” Kata Chanyeol akhirnya.

***

Sore itu Sujeong menghabiskan waktu di sebuah kafe tidak jauh dari Cake Resort. Sebenarnya Cake Resort jauh lebih nyaman daripada tempat ini, tapi Sujeong tidak mau Eommanya mengawasinya terus. Sujeong sedang tidak kepingin terlihat, dia kepingin menghilang untuk sesaat. Itu sebabnya dia memilih duduk di kursi paling pojok supaya tidak kelihatan. Bagi Sujeong, tempat itu adalah Kamukasi VIPnya, tempat dia mendapatkan sedikit privasi dan kebebasan. Sujeong bisa melihat ke seluruh bagian kafe meskipun posisinya sendiri sangat tidak menarik perhatian. Dengan begini dia bagaikan memiliki dunia pribadi untuk dirinya sendiri, walaupun hanya untuk sesaat. Tempat yang sempurna, bukan? Sujeong merenungkan semua masalahnya. Dia harus bersikap lebih bijaksana. Mungkinkah di alam sana Minju ikut sedih dan tidak tenang karena Sujeong terus membencinya dan memutuskan untuk tidak memaafkannya? Tapi bukankah itu adil, impas? Sujeong merasa jauh lebih sakit hati dan sedih karena dia masih hidup. Apa yang dirasakannya jauh lebih nyata. Sedangkan kesedihan orang yang telah pergi bisa saja cuma khayalan orang-orang yang ditinggalkan. Sudahlah, lupakan saja. Dia memesan secangkir kopi krim panas dan nachos. Dia menghibur dirinya sendiri dengan kertas dan pensil, sahabatnya yang sangat menyenangkan. Sujeong menggambar pemandangan jalanan sepi di tengah malam, di kiri kanannya terdapat deretan pertokoan yang tertidur. Dia sudah memulai gambar ini dua hari yang lalu dan ingin menyelesaikannya sekarang.

Sujeong asyik dengan gambar yang sedang di garapnya. Itu gambaran dirinya, dirinya yang kini gelap, sunyi, sepi. Dengan lihai dia mengisi gambarnya dengam tone gelap terang remang sehingga gambar itu hidup, mendekati nyata. Setiap lima menit dia mengangkat kertas gambarnya, menjauhkannya selengan, dan mematutnya beberapa saat. Rasanya, bila ditambahkan sesuatu gambar ini akan semakin menyentuh, pikirnya. Apa yang kurang…

“Ah, ya!” Sujeong berdecak pelan. Dia menambahkan siluet seorang gadis yang berjalan seorang diri di trotoar toko. Gadis yang lelah dengan kehidupannya namun tak ingin berhenti di tempat. Dia terus melangkah. Walaupun sendiri, walaupun sunyi, walaupun sedih. Yah, gadis ini adalah dirinya. Sempurna. Sujeong kembali mengangkat gambarnya dan mengamatinya dengan perasaan puas. Garis-garis itu seakan berbicara, dan sangat menyentuh. Bahkan orang yang tidak mengerti pun dapat merasakan gambaran ini, lalu larut di dalamnya, masuk ke jalanan sepi itu. Sujeong mengamatinya cukup lama sampai dia melihat sosok tak asing muncul dari balik kertas gambarnya. Diturunkannya kertas gambarnya. Chanyeol dan Jisoo berjalan memasuki kafe yang tenang. Mereka duduk di dekat jendela besar, tak jauh dari pintu.

Sujeong Pov :

“Aku pengin mengajak Kamu keluar. Ada waktu, kan?”

“Ada. Tapi Aku lagi tidak ingin berbagi waktu. Aku pengin sendiri.” Kata Sujeong datar.

Dia membayangkan dirinya duduk sendiri di tempat sepi sambil menenangkan hati. Ah, betapa menyenangkan, pikirnya.

“Kamu yakin, Jeongi?” Chanyeol agak ragu.

“Aku hanya ingin ada di dekat Kamu. Biar Aku tahu Kamu baik-baik saja.” Sujeong tahu Chanyeol sangat mengkhawatirkannya. Baginya itu sudah lebih dari cukup, dan dia terhibur karenanya.

“Sudah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Nanti malam Aku telepon, dan Kamu akan dengar betapa senangnya Aku hari ini. Oke?” ucap Sujeong berusaha tenang.

“Tapi, Suj-“ Sujeong memutuskan telepon dan berangkat. Dia tahu ada kafe tak jauh dari Café Resort. Sepertinya kafe itu memenuhi kriteria yang di butuhkannya saat ini. Dan di situlah Sujeong sekarang. Kalau ingin keluar dengan Jisoo, mengapa Chanyeol mengajak Sujeong keluar? Apakah dia sudah menduga Sujeong akan menolak ajakannya? Sujeong melihat Jisoo bicara dengan ekspresi… Ekspresi apakah itu? Entahlah. Namun sesaat kemudian Jisoo tampak meraih tangan Chanyeol, dan namja itu kelihatan berusaha menariknya, tapi Jisoo menahannya sambil terus berbicara. Perasaan Sujeong langsung tidak keruan. Dia meraih ponsel dan menghubungi Chanyeol. Dalam hitungan detik Sujeong melihat Chanyeol menarik ponselnya dari saku. Dia mengatakan sesuatu kepada Jisoo sehingga Yeoja itu terpaksa melepas tangannya. “Ada apa, Jeongi?” jawab Chanyeol ketika mengangkat telepon Sujeong.

“Kamu di mana?” tnya Sujeong. Dalam hati dia membatin, Jangan bohong, please, jangan bohong… “

Aku lagi di kafe, di Dido’s.” Sujeong menarik napas lega. Chanyeol tidak berbohong.

“Sendiri?”

“Sama teman.”

“Nugu?”

“Jisoo.”

“Ohhh…” Sujeong mendesah kecewa.

“Tidak bisa pergi sama Aku, Kamu langsung mencari Jisoo rupanya. Apa Kamu harus di temani Yeoja, begitu ya?” kata Sujeong dengan nada menuduh yang tidak bersahabat. Sujeong melihat Chanyeol bergerak-gerak resah, dan mengacak rambutnya sekilas.

“Bukan begitu. Kamu jangan salah paham dulu. Nanti Aku jelasin. Oke? Please?” kata Chanyeol yang sudah frustasi dengan sikap Sujeong.

“Terserahlah.” Sujeong mematikan ponsel. Setidaknya Chanyeol tidak berbohong. Namja itu tampak memencet-mencet ponselnya, sepertinya mencoba menghubungi Sujeong. Tapi tentu saja tidak berhasil. Setelah beberapa saat mencoba, dan tahu usahanya sia-sia, Chanyeol menyimpan ponsel dan memperhatikan Jisoo yang tampangnya cemberut. Sujeong geli karena berhasil merusak suasana hati Jisoo. Sujeong terus memperhatikan. Rasanya menyenangkan menyaksikan Jisoo cemberut seperti itu, dan obrolan mereka sepertinya berakhir tak lama kemudian Jisoo berdiri lalu di ikuti Chanyeol. Baguslah, batin Sujeong. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri.

***

“Hai, Aku nepatin janji, kan?” Kata Sujeong sebelum orang yang sedang di hubunginya sempat bilang “halo”.

“Ya, tentu saja Kamu nepatin janji.” Chanyeol tersenyum di ujung sana.

“Yap, tentu saja.” Ulang Sujeong.

“Aku cuma mau bilang hari ini Aku senang.”

“Aku ikut senang mendengarnya. Kamu ngapain saja sampai merasa senang?”tanya Chanyeol penasaran.

“Banyak. Dan Aku tidak mungkin sebutin satu-satu.” Termasuk merusak suasana hati Jisoo sampai pertemuan kalian hanya berlangsung singkat.

“Jadi, ngapain Kamu sampai keluar dengan Jisoo?” nada suara Sujeong datar dan dingin.

“Aku bisa jelasin.” Ujar Chanyeol sabar.

“Begini, tidak lama setelah Aku mengajak Kamu keluar, Jisoo datang dan meminta Aku temenin dia ke kafe.” Jelas Chanyeol.

“Trus Kamu langsung mau saja, gitu?” tuduh Sujeong.

“Jeongi-ah, bagaimana pun Jisoo sahabat Aku, Kamu sendiri tahu dia kayak apa. Bagi Aku, tidak ada salahnya Aku nemenin dia sesekali.” Jelas Chanyeol.

Sujeong mendesah keras. Dia sudah tahu bakal begini. Jisoo tidak bakalan melepaskan Chanyeol semudah itu. Walaupun Aku belum sepenuhnya yakin dengan keputusan Aku ini, kali ini Aku akan membiarkan dia menemui cintanya. Sujeong masih ingat jelas bagian terakhir surat Jisoo itu. Dari perkataannya jelas sekali Yeoja itu tidak bakal melepas Chanyeol seutuhnya, meskipun Chanyeol sudah menjadi pacarnya.

“Baiklah, jadi ngomongin apa?” tanya Sujeong yang mencoba mengalah.

“Tidak ada yang terlalu penting.” Jawab Chanyeol singkat.

“Oh ya, seperti itu tidak ada yang terlalu penting?” nada suara Sujeong mulai meninggi. Dia jadi teringat waktu Jisoo menggenggam tangan Chanyeol, dan jujur dia cemburu.

“Seperti itu? Seperti apa maksud Kamu?” tanya Chanyeol heran dengan pertanyaan Sujeong.

Ups, bodoh… Jangan sampai keceplosan Sujeong…

“Yah, maksud Aku tiba-tiba mengajak Kamu gitu.” Sujeong berkilah.

“Tidak ada, cuma nemenin dia minum di kafe saja.”

“Jujur saja kenapa sih?!” Sujeong benar-benar tidak sabar lagi.

“Aku tahu ada yang lebih daripada sekadar duduk-duduk di kafe.”

“Kok Kamu bicara begitu sih?” Tanya Chanyeol curiga.

“Karena Aku ada di sana menyaksikan kalian berdua dengan mata kepala sendiri!” Dan setelah mengucapkan itu Sujeong mematikan ponsel dan melemparnya dengan gusar.

***

Chanyeol POV :

Sujeong ada di sana. Chanyeol tidak mempercayai pendengarannya. Tapi semuanya masuk akal. Chanyeol ingat, begitu Jisoo menggenggam tangannya, Sujeong langsung menelepon dan menanyakan dia ada di mana, bersama siapa. Itu karena Sujeong tahu, dan dia melihatnya sendiri. Chanyeol tidak tahu harus bilang apa. Waktu itu Jisoo bilang dia tidak bisa kehilangan Chanyeol, dan ingin mereka kembali seperti dulu. Chanyeol langsung menolak dengan halus, meminta Jisoo memahami posisinya. tapi Jisoo keras kepala dan berkata tidak mudah baginya untuk menerima perubahan yang begitu menyesakkan. Chanyeol memandang layar ponselnya sejenak dan menghubungi Sujeong kembali, mungkin dia bisa menjelaskan sedikit. Berkali-kali dia mencoba, meskipun tahu Sujeong pasti telah mematikan ponselnya dan tidak ingin bicara dengannya. Chanyeol merebahkan tubuh. Bagaimana caranya mengatasi situasi ini? Beberapa hari belakangan Sujeong memang tampak murung, seolah ada sesuatu yang membebani pikirannya, namun dia tak ingin seorang pun tahu. Dia memendamnya sendiri. Semua itu terlihat sangat jelas. Sujeong sendiri juga tidak berbohong pada Chanyeol dan sahabat-sahabatnya bahwa dia memang sedang memikirkan sesuatu, dan dengan tegas mengatakan tak ingin membahasnya. Dan sekarang Chanyeol sudah menambah beban pikiran Sujeong dengan masalah ini.

***

Sujeong Pov :

“Eomma, Sujeong berangkat ne.” Kata Sujeong sambil mencium Eommanya.

“Beberapa hari ini Chanyeol kok tidak datang jemput, ya?”Tanya Yoona penasaran.

“Kalian bertengkar?” tanya Yoona pada Sujeong.

“Anni. Kami baik-baik saja kok, Eomma. Sujeong cuma lagi kepingin sendiri aja.” Jawab Sujeong.

“Dah, Eomma…” Sejak kasus Suho dan Baekhyun, Sujeong tak henti memikirkan ulang semuanya. Semua yang telah terkubur perlahan kini muncul dengan jelas dalam benaknya. Mengapa dia masih mengkhawatirkan Suho? Semalam Sujeong nyaris menelepon Baekhyun, tapi dia mengurungkan niatnya. Baekhyun sudah berpihak kepada Suho. Ini sangat mengganggu Sujeong. Sujeong keluar dari rumah dan memandangi penginapan di depan rumahnya. Di tatapnya sebuah jendela di lantai dua. Entah kenapa, sejak kemarin Sujeong merasa ada yang mengawasinya dari sana. Dia terus memandangi jendela yang tertutup gorden tipis itu. Aneh. Sesampai di luar pagar Sujeong mengeluarkan diary Minju dari tasnya. Di tatapnya sejenak benda itu. Semua berawal dari sini, dari diary ini. Ah, seharusnya diary ini tidak pernah ada. Kalaupun ada, seharusnya sudah di buang sejak dulu. Tapi tak ada kata terlamabat, pikir Sujeong. Dia bisa membuang diary itu sekarang. Meskipun tidak banyak membantu, setidaknya lebih baik begitu. Sujeong menarik napas dalam-dalam, lalu melemparka diary tersebut ke tumpukan daun kering yang nanti siang akan di bakar Eommanya.

“Selamat tinggal, kenangan.” Bisik Sujeong sambil tersenyum getir. Senyum yang takkan mungkin dapat dimaknai siapa pun.

***

“Jeongi, ke kantin yuk.” Ajak Kay yang sedang mencoret-coret buku matematika.

“Shireo, Kamu duluan saja. Aku nunggu Chanyeol.” Kata Sujeing yang masih focus dengan bukunya.

“Tapi biasanya dia tidak selama ini. Mungkin ada yang harus dia kerjakan, kali, jadi tidak bisa mengajak Kamu ke kantin.” Kata Kay.

“Nggak mungkin. Kalaupun benar begitu, dia pasti menyempatkan diri mengasih tahu Aku. Biasanya kan begitu.” Sahut Sujeong malas-malasan.

“Ya sudah, kami duluan, ya.” Kata Kay dan Sehun serentak.

Benar juga kata Kay. Biasanya tidak pernah selama ini. Sujeong akhirnya menutup bukunya dan memutuskan untuk mencari tahu. Dia keluar kelas dan mengarahkan langkah ke bangunan kelas tiga. Dia membujuk perasaannya agar tetap tenang. Dia sedang tidak ingin menduga-duga yang tidak-tidak dulu. Dia lelah dengan semua yang di pikirkannya akhir-akhir ini. Langkah Sujeong terhenti ketika melihat kedua sosok itu berbicara di bawah pohon mahoni besar di samping aula. Tempat itu sepi. Sujeong menahan emosinya, lalu menghampiri pohon terdekat dan memastikan gerakannya tidak memancing perhatian. Dia bersembunyi di balik pohon. Dari situ mereka terlihat jelas dan dia bisa mendengar sayup-sayup percakapan mereka.

“Ji-ah, Aku sekarang harus menemui Sujeong!” kata Chanyeol tegas. Sujeong mendengar bunyi daun berkeresak, tanda Chanyeol mulai melangkah meninggalkan Jisoo. Namun Yeoja itu segera menahannya.

“Kamu banyak berubah.” Ujar Jisoo kecewa.

“Karena memang begitulah seharusnya.” Chanyeol membela diri.

“Tapi tidak sampai begini.” Ujar Jisoo tertahan.

“Aku kehilangan Kamu, Aku kesepian. Dan mungkinkah dugaan Aku benar? Bahwa Kamu dekat sama Aku hanya karena kasihan? Karena Aku berasal dari keluarga broken home, dan harus tinggal sendiri karena Eomma Aku nyaris OD?! Begitu, kan?” cecar Jiso pada Chanyeol. “Ji-ah…” Chanyeol melunak dan mendadak merasa bersalah. Dia menyentuh bahu Jisoo dengan lembut untuk menenangkannya.

“Jadi benar, kan? Setelah keluarga Aku rujuk lagi, Kamu merasa tugas Kamu selesai, tanggung jawab Kamu lepas, beban Kamu lenyap. Begitu?” kata Jisoo dengan terisak.

“Bukan, bukan seperti itu.” Chanyeol berusaha meyakinkan Jisoo.

“Hanya saja sekarang Aku… Aku punya seseorang yang lebih membutuhkan kehadiran Aku.” Kata Chanyeol berusaha untuk menjelaskan ini pada Jisoo.

“Andewe!” Jisoo memeluk namja itu. Chanyeol terdiam dan nggak melawan.

“Untuk saat ini, Aku mohon, Kamu jangan ninggalin Aku. Aku kepingin kita kayak dulu lagi, Aku benar-benar tidak bisa jauh dari Kamu.” Jisoo melonggarkan pelukannya dan menatap Chanyeol.

“Entahlah…” bisik Chanyeol bimbang. Dia balas menatap Jisoo sambil menimbang-nimbang jawaban.

“Aku tidak tahu. Tapi… baiklah…” Sujeong nyaris tersedak mendengarnya. Rasanya ini seperti kejadian berulang. Dulu Suho dan Minju. Sekarang Chanyeol dan Jisoo. Chanyeol memilih bersama Jisoo, bukan dirinya. Hati Sujeong hancur. Dia memejamkan mata. Betapa perih rasanya.

Dia berbalik dan berlari menuju kelasnya. Tidak, tidak. Kali ini dia tidak boleh menangis. Dia tidak akan menangis. Dia tidak akan pernah menangis lagi. Tidak. Tidak.

***

Sujeong Pov:

Kim Seongsanim mengakhiri kelas sambil mengingatkan ulangan semester tinggal beberapa minggu lagi. Dan seperti ritual wajib, seuntai ceramah pendek tentang pentingnya mengulang pelajaran dari awal sebaiknya dilakukan dan mereka seharusnya sadar sebelum diingatkan begitu. Terdengar keluhan spontan dari mulut siswa-siswi yang sangat mencintai kebebasan itu. Sujeong tidak begitu tanggap dengan ingar-bingar yang mewarnai kelas sore itu. Sejak tadi matanya tidak lepas-lepas dari jendela. Chanyeol telah menunggunya. Kim Seongsanim keluar kelas diikuti para siswa. Sujeong ikut melangkah keluar, berpura-pura tidak menyadari Chanyeol telah menunggunya. Dia terus berjalan menunduk sampai Chanyeol mencegat langkahnya.

“Ada apa?” Tanya Sujeong dingin.

“Maaf, tadi siang-“

“Aku lagi tidak ingin bahas itu. Aku ingin pulang.” Cetus Sujeong datar. Dia menepi untuk menghindar dari namja itu.

“Jeongi-ah.” Chanyeol menahan lengannya, namun Sujeong menepisnya.

“Aku antar pulang.” Tawar Chanyeol.

“Tidak perlu.” Jawab Sujeong dingin.

“Jeongi-ah, Kamu makin aneh saja. Beberapa hari ini Kamu melarang Aku menjemput Kamu. Yah, katanay Kamu kepingin sendiri. Aku terima karena Kamu masih bersedia Aku antar pulang. Tapi kenapa hari ini Kamu tidak mengizinkan Aku antar pulang? Kamu sebenarnya kenapa sih, Jeongi?” tanya Chanyeol yang bingung dengan sikap Sujeong hari ini.

“Ya, Aku memang makin aneh. Dan Aku saranin sebaiknya mulai sekarang Kamu jauh-jauh dari orang aneh kayak Aku!” tukas Sujeong sambil berlalu meninggalkan Chanyeol yang berdiri mematung.

“SUJEONG!” teriak Chanyeol putus asa.

Sujeong berbalik dan membalas teriakan Chanyeol. “Kenapa juga Kamu masih di sini! Jisoo sudah menunggu Kamu dari tadi!” Chanyeol membeku mendengar ucapan Sujeong. Apakah Yeoja itu menyaksikan kejadian tadi? Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba jadi kacau begini sih? Belum sempat Chanyeol menjelaskan kejadian di kafe kemarin, sekarang sudah ditambah lagi dengan kejadian tadi siang. Apa yang harus dia lakukan?

***

Sujeong Pov :

Setiba di kamar, Sujeong langsung menghambur ke tempat tidur dan menangis sesegukan hingga terlelap kecapekan.

“Chagi…” Yoona mengguncang lembut tubuh Sujeong.

“Ngg…?” Sujeong menggeliat malas.

Rupanya dia sempat ketiduran. “Eomma mau keluar, ada urusan sama Yuri Ahjuma. Kamu jaga rumah, ne?”

“Ne, Eomma.” Jawab Sujeong seraya keluar kamar untuk mencuci muka. Setelah itu dia menuju lemari es untuk mengambil jus jeruk. Tapi lemari esnya lagi-lagi nyaris kosong. Dan yang tragis, camilannya tidak ada yang bersisa.

“EEOOMMMAAAAA… KULKAS KOSONG!!!” seru Sujeong tanpa ampun.

Yoona yang sudah berpakaian rapi bergegas memeriksa kulkas. “Benar juga.” Gumamnya pelan. “Kamu saja yang ke supermarket, ya?” ujar Yoona seraya memandang Sujeong dengan sedikit ragu.

“Eomma harus menghadiri acara dengan Manda Ahjuma dan mungkin akan sampai malam. Bagaimana?”

“Baiklah.” Sujeong mengedikkan bahu. Habis mau gimana lagi. Lagi pula kalau di pikir-pikir ada baiknya dia menghirup udara segar. Berbelanja sepertinya akan membantunya meringankan perasaan. Kemudian dia berganti baju dan buru-buru berangkat ke supermarket bahkan sebelum Yoona pergi.

***

Sujeong yang baru pulang dari berbelanja memasuki pagar dan melihat ruang tamu yang masih gelap. Dia mengeluarkan kunci, memasukkannya ke lubang, dan memutarnya ke kanan.

Tidak bisa. Dia mengerutkan dahi, mencoba memutarnya ke kiri.

Klik! Pintu terkunci. Berarti Eommanya meninggalkan rumah tanpa terkunci. Bagaimana bisa Eomma seceroboh ini? Pikir Sujeong. Dia kembali memutar kuncinya ke kanan sampai terdengar bunyi klik. Lalu membuka pintu. Tercium aroma bunga yang lembut dan menenangkan. Duh, sempat-sempatnya Eomma menyemprot rumah sebelum berangkat tadi! Ada-ada saja. Diterangi sinar dari layar ponsel, Sujeong menyusuri dinding dan menekan stop kontak untuk menghidupkan lampu. Dia tertegun melihat ruang tamunya yang… Apa-apaan ini? Pikir Sujeong. Apakah ada yang berulang tahun? Ruang tamunya di penuhi mawar segar. Dan pada saat bersamaan, Sujeong mendengar denting piano dari ruang tengah. Dia terkesiap. Siapa yang memainkan piano? Eommanya? Tidak mungkin. Trus siapa lagi? Tiba-tiba Sujeong merinding. Piano itu terus saja mengalunkan musik. Sujeong mengenal lagu itu. I Believe My Heartnya Duncan James dan Keedie. Sujeong tertegun. Dibiarkannya nada-nada yang mengalun indah itu merasuki hatinya. Lagi-lagi dia terusik pertanyaan yang mendesak segera di jawab. Siapa yang memainkan piano? Hantu Minju? Tidak mungkin. Permainan piano Minju tidak seindah ini.

Siapa yang mengatur semua ini? Ini mirip kejutan ulang tahunnya lalu; dia mendapati kulkas kosong, kemudian berteriak dan Eomma memintanya berbelanja di supermarket. Aneh, kan? Baiklah, hantu Minju atau bukan, Sujeong harus tahu. Dengan jantung berdebar-debar dia melewati ruang tamu lalu memasuki ruang tengah. Dan melihatnya. Langkah Sujeong kembali tertahan. Hatinya diamuk badai. Apakah penglihatannya salah? Sujeong nyaris nggak percaya. Apakah ini mimpi? Namja itu tidak berhenti memainkan jemarinya tanpa menoleh, meskipun Sujeong tahu namja itu pasti menyadari kehadirannya.

“Suho…” bisik Sujeong tertahan. Sujeong melangkah mendekat. Tidak salah lagi. Ini benar-benar Suho. Sujeong melihat pelipisnya yang masih memerah, lukanya belum terlalu kering. Bagaimana Baekhyun bisa melakukan itu? Sujeong tiba di sisi Suho. Merasakan perasaannya larut dalam alunan nada indah itu. Dia duduk di samping Suho, memperhatikan jemarinya. Sementara itu perasaannya terus berkecamuk. Apa yang dirasakannya saat ini? Sujeong memejamkan mata sesaat. Apakah dia merasakan rindu yang sangat mendalam saat ini? Benar. Apakah dia menyadari sepotong kebahagiaan menyelinap pasti di relung hatinya? Benar. Apakah dia sungguh-sungguh membenci namja ini? Entahlah… Saat ini dia hanya ingin mendengarkan lagu yang dimainkan namja itu sampai selesai.

***

Suho Pov:

Suho mengakhiri permainannya, dan ketika dia akan memulai lagu lain, Sujeong menyentuh tangannya yang luka, mengisyaratkan agar namja itu berhenti. Darah Sujeong berdesir pelan. Ah, dia tidak bisa membohongi hati kecilnya, bagaimana pun dia mencoba menepisnya. Dia tersadar aku masih mencintai Suho. Kim Junmyeon; cinta pertamaku. Ke mana perginya perasaan itu selama ini? Suho akhirnya menoleh dan menatap Sujeong. Sujeong membalas tatapan itu dengan perasaan rindu. Namja itu belum berubah, masih sama seperti terakhir kali dia melihatnya. Dia masih sangat tampan. Ah, Suho yang sangat di sayanginya. Di dalam benak Suho, pikiran-pikiran yang sama pun berkelebat. Sujeong belum berubah. Ditatapnya wajah itu, mata birunya masih mata yang dulu membuatnya jatuh cinta.

“Kamu cantik.” Puji Suho.

“Ada apa kemari?” Tanya Sujeong.

“Aku kangen. Aku pengin ketemu Kamu.”

“Cuma itu?” Sujeong yakin banget Baekhyun sudah menceritakan semuanya kepada Suho. “Nggak juga. Aku kepingin meluruskan kesalahpahaman yang Kamu sangka selama ini. Aku bahkan tidak tahu semua kejadian selama ini di sebabkan hal itu, sampai Baekhyun akhirnya menjelaskan waktu Aku keluar dari rumah sakit.” Semua sudah jelas bagi Sujeong.

“Baiklah.” Kata Sujeong memberi syarat agar mereka pindah ke ruang tamu. Suho meraih buket mawar indah yang tergelatak di atas piano.

“Buat Kamu.” Sujeong menyambutnya dengan perasaan… tak menentu.

“Thanks ya…” Mereka duduk di ruang tamu, berhadap-hadapan dalam diam.

“Kenapa jadi diam begini? Bukannya Kamu pengin menjelaskan apa yang menurut Kamu benar?” Sujeong menyentakkan kesadaran Suho.

“Nggak tahu harus mulai dari mana.” Suho menunduk.

“Dan ini bukan soal apa yang menurut Aku benar. Tapi memang kebenaran sesungguhnya.”

“Ya, tentu saja, siapa pun lebih senang menganggap dirinya paling benar, sekalipun dia salah. Setidaknya untuk melindungi diri.” Ujar Sujeong datar.

“Inilah yang bikin Aku tidak bisa memulainya. Kamu memandang Aku seolah-olah Aku tertuduh yang mencoba membela diri!”

“Tapi pada dasarnya Kamu memang ingin membela diri, kan? Kalau nggak, untuk apa lagi?” “Terserah apa kata Kamu. Yang jelas, dugaan Kamu selama ini salah besar, dan Aku menyesal mendengarnya.”

“Tunggu, jadi Kamu pikir selama ini Aku asal nuduh aja, gitu?” Sujeong tersinggung.

“Kalau begitu, tunggu sebentar.” Sujeong berlari ke kamar, membongkar tumpukan bukunya. Di mana sih diary itu? Sial! Sujeong baru ingat telah membuang diary itu ke tumpukan rumput kering yang akan di bakar tadi pagi. Tapi, sebentar. Dia teringat album foto yang ditemukannya bersama diary itu. Foto-foto ini bisa menjadi alasan yang kuat, pikir Sujeong.

“Gimana Kamu menjelaskan semua ini?” Sujeong menyodorkan album foto itu dengan perasaan puas. Suho meraih album foto tersebut, mengamati isinya satu per satu.

“Nah, Kamu mau bilang apa? Semua udah jelas, kan?” desak Sujeong, suaranya gemetar.

“Tapi ini tidak seperti yang Kamu kira. Kamu yakin bisa menarik kesimpulan yang benar hanya dari foto-foto ini?”

“Memangnya ada kesimpulan apa lagi?” Sujeong coba tidak histeris.

“Aku bukan anak kecil bodoh! Aku baca diary Minju. Dia sendiri menulis bahwa dia naksir Kamu!”

“Kalau begitu, Kamu bisa menunjukkan diary itu sekarang?”

“Sayang sudah Aku buang. Buat apa Aku menyimpan sesuatu yang cuma bikin hati terluka? Sesuatu yang membuat Aku terjebak di masa lalu, sesuatu yang tidak Aku harapkan?” Sujeong menenangkan diri.

“Tidak ada gunanya juga Aku bohong dan nuduh Kamu yang tidak-tidak, dan tidak ada gunanya juga Kamu berkilah karena Aku sudah tahu jauh sebelum Kamu menyadarinya!”

“Dan lebih sia-sia saja Aku datang jauh-jauh ke sini kalau yang Aku bawa cuma kebohongan, sesuatu yang Kamu anggap pembelaan diri untuk memperbaiki imej Aku di mata Kamu.”

“Suho, Aku baca sendiri, Minju jatuh cinta sama Kamu! Betapa senangnya dia nonton bareng Kamu, dan Aku tahu Kamu yang deketin Minju. Iya, kan?” Suho menatap Sujeong dalam-dalam. “Ternyata Kamu memang tidak mengerti sama sekali, ya? Kamu yakin sudah membaca diary Minju seutuhnya?” Sujeong terergun. Dia memang belum pernah membaca diary Minju seutuhnya. Dia tidak sanggup membaca lebih jauh yang justru akan menyakitkan baginya. Sujeong seperti melihat kesedihan menaungi wajah Suho. Ah, benarkah Sujeong sesungguhnya salah paham? Akhirnya dia menggeleng lemah, menyesali kebodohannya tadi pagi.

“Apakah diary itu bisa membantu menjelaskan semuanya?” Tanya Sujeong.

“Tentu saja. Semua orang pasti menulis diary itu dengan jujur, tanpa menyembunyikan apa pun.” Kata Suho.

“Dan Minju memang tidak bohong tentang perasaannya. Dia menulis apa adanya bahwa dia menyukai Aku. Itu benar. Tapi pernahkah Minju menulis bahwa Aku juga balas menyukainya? Bahwa Aku memiliki perasaan yang sama terhadapnya? Berani tahuhan, Kamu tidak akan bisa membuktikannya!” Speachless. Suho benar. Sujeong tidak bisa membuktikannya. Mungkinkah namja itu mengatakan yang sebenarnya? Sujeong resah. Dia ingin tahu yang sebenarnya. Mungkinkah diary itu masih di luar? Dia ingin keluar mencari diary itu. Ketika Sujeong beranjak, Suho mencegatnya.

“Mau ke mana?” Sujeong berbalik dan memandang namja itu.

“Akumau nyari…”

“Ini?” kata Suho sambil memperlihatkan diary yang sangat dikenal Sujeong.

“Kamu…?” Sujeong sungguh tak percaya.

“Tadi pagi Aku liat Kamu membuang ini. Dari kamar Aku di penginapan di depan rumah Kamu ini tentu saja. Setelah Kamu pergi, Aku memungutnya dan akhirnya mengerti.” Sujeong tidak tahu harus bilang apa. Dia duduk di samping Suho. Berarti perasaannya tadi pagi tidak salah, rupanya Suholah yang mengamatinya dari lantai dua penginapan.

“Jadi…” Sujeong mencoba menemukan kata yang tepat.

“Bagaimana ini bisa menjelaskan semuanya?”

Suho membuka diary itu dan menjepit bagian tengahnya. “Bisa saja, asal Kamu membuka staples yang menyatukan bagian ini, trus membacanya.” Sujeong melihat hasil karyanya itu. Sujeong menimbang-nimbang diary di dalam genggamannya.

“Aku memilih memercayai perkataan Kamu. Soal diary ini, akan Aku baca dalam suasana tenang. Lagi pula, ini cukup tebal. Kamu bisa jelasin sekarang.” Suho tersenyum lega. “Sederhana saja.” Suho memulai.

“Aku ikut les musik bukan karena kepingin belajar musik. Dan juga bukan karena Aku jatuh cinta pada Minju dan kepingin mendekatinya. Tapi Aku mendatangi tempat itu hanya untuk satu tujuan: Aku kepingin mempersiapkan kejutan di hari ulang tahun Kamu.” Kata Suho mantap. Diri Sujeong bagai luluh lalu mengecil dan semakin mengecil dan hilang ditelan kebodohannya sendiri.

“Kejutan…” Sujeong mengulangi kata itu perlahan.

“Tepat. Gagasan itu muncul begitu saja waktu pertama kali Aku ke rumah Kamu, tepatnya waktu Minju bilang akan berangkat les musik. Kejadian singkat itu langsung menelurkan inspirasi cerdas yang bakal mewujudkan impian Aku. Gagasan itu memicu ide-ide kreatif Aku untuk mempersembahkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang istimewa untuk ulang tahun Kamu, karena saat itu… Aku akan mengungkapkan perasaan Aku dengan cara berbeda, cara yang akan membuat Kamu terkesan dan tidak akan pernah melupakannya.”

Air mata Sujeong kembali merebak membasahi pipi, air mata penyesalan. Betapa dia sangat bodoh selama ini. Minju ikut terlibat mempersiapkan kejutan itu, kejutan di hari ulang tahun mereka…

“Aku kepingin mempersembahkan pertunjukan musik yang indah, meskipun tidak megah, tapi pasti sangat istimewa. Akhirnya Aku memutuskan ikut les musik di tempat Minju berlatih, dan dengan bantuan Minju, Aku membentuk orkestra kecil untuk mewujudkan rencana Aku, impian kecil Aku. Sejak itu kami giat berlatih. Dan kami sangat menikmatinya. Tapi sayang, belum lagi separuh jalan, Minju…”

“Sudah! Cukup!” Sujeong kini terisak.

Minju bahkan tidak sempat merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas… Betapa bodohnya dirinya selama ini… Dugaannya sangat jauh dari kenyataan. Dia telah melakukan kesalahan besar! Dia telah melakukan kesalahan besar! Lalu bagaimana dengan Suho? Ketulusan hatinya justru berbalik menjadi bumerang yang menyerangnya tanpa ampun.

“Mianhae… Suho-ah…”bisik Sujeong tertunduk.

“Sudahlah.” Dengan lembut Suho menyeka air mata yang sudah membasahi pipi Sujeong. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang perlu disesali. Tidak ada yang salah.” “Kamu… tidak marah?” Suho menggeleng.

“Sama sekali tidak. Aku mengerti perasaan Kamu. Kesalahan bisa terjadi pada siapa pun, dan memaafkan justru akan melapangkan dan membuat segalanya jadi lebih baik.” Namja ini, dia bukan hanya memiliki wajah menawan, namun juga memiliki hati yang lembut. Sujeong malu kepada dirinya sendiri.

“Minju memiliki semua yang diimpikan namja mana pun, sementara Aku tidak punya apa-apa. Aku pikir tidak aneh kalau Kamu lebih tertarik sama dia…”

“Siapa bilang?” sambung Suho.

“Buktinya sampai sekarang, tidak ada satu Yeoja pun di dunia ini yang berhasil menyingkirkan Kamu dari hati Aku. Semua yang terjadi ini… tak sedikit pun mengubah persepsi Aku terhadap Kamu. Because, I believe my heart, and I trust my heart to you…!” Kata-kata itu terdengar sangat indah. Alangkah bodohnya Sujeong selama ini.

“Trus… bagaimana dengan Minju? Bukankah dia menyukai Kamu, apakah dia menyatakannya?” Suho terdiam. Inilah rahasia sebenarnya. Suho menimbang sejenak sebelum akhirnya berkata.

“Ya, dia bilang ke Aku. Tapi dia sudah tahu jawaban Aku. Dia cuma kepingin Aku mengetahui perasaannya, begitu katanya.”

“Benarkah hanya itu? Terus foto-foto ini?” desak Sujeong.

Suho terdiam.

“Baiklah.” Dia tampak kesulitan menemukan kata-kata yang tepat.

Bayangan itu kembali berkelabat, seolah-olah diputar ulang dalam bayangan samar-samar.

***

Flash Back :

Sore itu Minju mengajak Suho ketemuan. Katanya ada yang ingin dibicarakannya. Suho langsung yakin ini ada hubungannya dengan latihan mereka. Tapi tak sedikit pun Minju mengungkit soal latihan, melainkan malah membicarakan hal lain.

“Suho-ah, aku tahu aku tidak akan pernah memiliki kamu, aku sadar kamu tidak akan pernah sayang sama aku. Dan aku juga tidak pernah berharap sejauh itu…” wajah Minju memerah.

“Lalu?” Tanya Suho tertahan.

“Aku cuma ingin tahu apa… apakah kamu mau jadi… pacarku. Sampai semua ini selesai. Begitu kami berulang tahun, dan kejutan ini berhasil, kamu adalah milik Sujeong sepenuhnya, dan aku tidak akan pernah mengganggumu lagi.” Minju terus menunduk.

Suho tidak tahu harus bilang apa.

“Mian, Min-ah. Aku tidak bisa. Aku takut perasaan kamu jadi semakin dalam, dan ketika itu terjadi… Kamu bakal terluka. Aku tidak bisa. Mianhae.” Minju merasa sangat kecewa.

“Cuma untuk sesaat, sesaat kebahagiaan untukku. Itu saja kok. Ini pertama kalinya aku merasakan cinta, dan mungkin… mungkin aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.” Minju mengangkat wajahnya.

“Hanya beberapa minggu, setelah itu kamu adalah milik Sujeong.” Jantung Suho berdebar melihat tatapan Minju.

Perasaannya sangat aneh. Kenapa Minju berkata seakan dia…

“Kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan jatuh cinta.” Suho berusaha mengusir perasaan itu. “Jadi, tidak bijaksana kalau Kamu ngomong kayak begitu. Suatu hari nanti, cinta sejati itu akan datang.” Minju tersenyum.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa merasa seperti itu. Aku berlebihan, ya?” Tanya Minju. “Entahlah…”

“Jadi kamu bersedia, kan? Sebentaaar saja. Sesaat kebahagiaan yang ingin kucicipi. Rasanya aku pasti menyesal kalau nggak pernah pacaran dengan orang yang aku suka.”

Astaga, kok dia ngomong begitu sih?

“Kamu jangan pernah ngomong begitu, hidup Kamu masih panjang. Kamu akan menemukan berbagai macam cinta yang berbeda.”

“Memangnya hidup bisa sepanjang apa? Bagiku satu cinta saja sudah cukup. Nggak perlu dua, tiga, apalagi lebih. Satu cukup.”

“Min-ah, jangan ngomong yang aneh-aneh ah!”

“Jadi gimana keputusan kamu?” desak Minju.

“Aku bisa mati penasaran…”

“Ya udah! Oke deh, mulai saat ini Aku jadi… pacar Kamu.”

“Benarkah?” mata Minju berbinar bahagia.

“Benar. Asal Kamu janji, Sujeong tidak akan pernah mengetahui ini, sampai kapan pun.” “Baiklah, sampai kapan pun. Janji.” Dan betapa terkejutnya Suho ketika seminggu kemudian Minju mengalami kecelakaan dan pergi untuk selamanya, bahkan sebelum dia sempat membuka mata, melihat dunia untuk terakhir kalinya..

***

“Hei, kok lama banget mikirnya?”

“Eh, maaf. Aku lagi berusaha mengingat. Entahlah, mungkin semuanya tertulis di diary itu.” “Begitukah?

“Aku rasa sebaiknya Kamu mengetahuinya dari sudut pandang Minju, bukan Aku.” Mereka kembali terdiam. Sujeong menunduk dan mengamati jarinya. Apa yang dirasakannya saat ini? Kini dia mengetahui yang sebenarnya, dan dia menyadari kesalahannya. Apa yang bisa dilakukannya? Bisakah dia memperbaiki semua ini? Kalau saja waktu bisa diputar balik… Sujeong mengangkat wajah, menatap Suho sesaat.

“Bagaimana dengan…?” Sujeong mengangkat tangan menyentuh jantungnya sendiri. Suho tersenyum sekilas, mengerti apa yang dimaksud Yeoja itu. Diraihnya tangan Sujeong dan ditempelkannya telapak tangan Yeoja itu di dadanya.

“Tidak apa-apa. Dia masih ingin terus berdetak demi orang yang dicintainya…” Darah Sujeong berdesir pelan dari ujung kaki sampai kepala. Benarkah yang dikatakan Suho? Sujeong menatap wajahnya yang tulus. Ah, tatapan itu… tatapan yang teramat dirindukannya… senyum itu, senyum yang menghangatkannya. Suho masih menyimpan cinta untuknya… Sujeong bisa merasakan degup jantung Suho yang berirama, jantungnya sendiri ikut berdetak senada, seakan mengikuti detak yang bagaikan resonasi yang beriringan dengan indahnya. Sekonyong-konyong terdengar deru mesin sepeda motor. Suho tersentak, dilepaskan tangan Sujeong.

“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Sujeong saat melihat wajah Suho yang pucat.

“Belum boleh kaget, ya? Tenanglah, tidak ada apa-apa kok.” Sujeong berkata sambil mengusap-usap bahu Suho. Tak lama kemudian Sujeong mendengar derum halus mobil yang sangat dikenalnya. Eomma dan Yuri ahjuma sudah pulang.

“Semua berjalan lancar?” Tanya Yoona santai begitu memasuki ruang tamu. Dia tersenyum penuh arti, lalu melenggang ke dapur. Sujeong dan Suho jadi salah tingkah dibuatnya.

“Kayaknya Aku harus balik.” Ujar Suho seraya melihat jam tangannya. Sujeong sedikit kecewa, namun mengangguk pelan dan memanggil Eomma. Yoona menyusul ke ruang tamu dan menyambut uluran tangan Suho.

“Gomawo, Ahjuma.”

“Gweachana.” Kata Yoona. Dia tersenyum hangat. Suho keluar diikuti Sujeong yang tidak ingin beranjak dari sisinya, seakan belum rela untuk berpisah dengannya.

“Mau nganter Aku sampai ke depan kamar nih?” gurau Suho. Suaranya terdengar tak bertenaga. Semua ini pasti sangat melelahkan dan menguras emosinya.

“Boleh, kalau bisa.” Sahut Sujeong. Ia menikmati sensasi yang sudah lama tak dirasakannya jika berada di dekat Suho, merasa hangat dan nyaman. Tiba-tiba Suho mencengkeram lengan Sujeong erat-erat. Tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan. Refleks Sujeong segera menopang tubuh Suho yang semakin lemas. “Suho! Suho! Kamu kenapa?!” Sujeong panic. Yoona yang mendengar teriakan Sujeong segera menyusul keluar.

“Ada apa?!” Yoona tidak kalah panik.

Dirabanya leher Suho. “Dia demam, bawa ke dalam saja.” Dengan dipapah Sujeong dan Eommanya, Suho mencoba menggerakkan kakinya dengan susah payah.

“Hhhh…” Yoona dan Sujeong menghela napas sambil menyeka keringat di dahi. Mereka berhasil membawa Suho ke tempat tidur Sujeong, kamar terdekat yang bisa mereka capai.

“Berat banget…” kata Sujeong.

Yoona memeriksa kotak obat, mengambil penurun demam dan segelas air.

“Bantu dia meminum obat ini, Mama akan menyiapkan kompres.” Sujeong menurut dan mengulurkan obat penurun panas itu ke bibir Suho.

“Suho-ah, minum ini dulu ya.” Bisiknya. Suho hanya mengerang pelan dan tidak bereaksi. “Suho-ah…” Sujeong menopang kepala Suho dan memasukkan tablet itu ke mulutnya.

“Minum ya.” Katanya sambil mendekatkan gelas ke bibir Suho yang pucat. Setengah sadar namja itu menyesap air dan menelan obatnya dengan mata nyaris terpejam. Setelah itu dengan hati-hati Sujeong meletakkan kepala Suho. Diselimutinya tubuh namja yang tidak berdaya itu. Sujeong duduk di samping tempat tidur dan memandangi Suho, hatinya hancur dan mengharu biru. Ditatapnya wajah yang pulas itu dengan penuh kerinduan. Sujeong tersadar selama ini perasaan itu selalu ada, hanya saja tertutup kabut kebencian yang seolah membekukan hatinya. Sekarang kabut itu telah pergi, dan perasaan itu kembali menyinari hatinya. Cinta pertama itu bersemi kembali…

“Kalau tidak ada perubahan, besok kita harus membawanya ke dokter.” Yoona mulai mengompres kening Suho.

“Kasihan. Kondisinya lemah begini, tapi dia nekat jauh-jauh kemari dan melakukan hal-hal yang menguras tenaganya.” Sujeong terdiam cukup lama mendengar ucapan Eommanya barusan. “Eomma pasti sudah tahu ceritanya, ya…” tebaknya.

Yoona menatap Sujeong dan mengangguk pelan. “Dia menceritakan semua yang terjadi, dan semua kegelisahannya.”

“Sujeong merasa bersalah…”

“Tak ada yang perlu disesali, yang penting kita sudah tahu kebenarannya, kita hanya perlu memetik hikmahnya saja.” Ujar Yoona bijaksana.

“Eomma, bolehkan Sujeong tetap di sini menjaga Suho? Bagiamanapun Sujeong merasa bersalah, dan merasa bertanggung jawab atas semua ini.” Yoona terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata,

“Baiklah, kamu rawat dia baik-baik, ya.”

“Makasih, Eomma.” Sahut Sujeong lega.

***

Chanyeol Pov:

Siapa dia… sepertinya mereka sudah lama saling mengenal. Caranya memandang… lalu dia menggenggam tangan itu, meletakkannya di dadanya… Siapa dia…? Chanyeol berbaring resah. Dia bahkan belum sempat berganti pakaian. Dia masih belum ingin memercayai yang dilihatnya tadi. Dia menyaksikan kejadian itu dengan jelas dari balik pagar, lewat pintu yang tebuka lebar. Chanyeol mengawasi mereka cukup lama. Pembicaraan itu sepertinya sangat pribadi… seolah-olah ada rantai emosi yang… Ah, apa yang dipikirkannya? Chanyeol mencoba menepis pikiran buruk itu dengan mengacak-acak rambutnya sendiri. Malam itu dia bermaksud menemui Sujeong untuk membicarakan masalah yang belakangan mengusik hubungan mereka. Tapi yang disaksikannya tadi… apa artinya? Dengan perasaan tak menentu Chanyeol memacu motornya diikuti derum yang menggelegar memekakkan telinga. Namja itukah yang mengusik pikiran Sujeong akhir-akhir ini? Chanyeol semakin resah dan merasa tidak nyaman. Diakah yang membuat Sujeong berubah? Jangan… jangan sampai Sujeong berpaling darinya… Siapa namja itu…? Chanyeol mencoba menghubungi ponsel Sujeong. Tak ada jawaban. Berulang kali dia mencoba, tapi ponsel Yeoja itu tidak aktif. Aku tidak bisa tanpa Kamu, Jeongi-ah… Aku belum pernah sesayang ini sama Yeoja… Aku tidak mungkin sanggup kehilangan Kamu… siapa pun namja itu, jangan sampai merusak hubungan kita, Jeongi… Chanyeol benar-benar cemas, walaupun belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dilihatnya. Dia terus mengulang-ulang ucapannya sampai akhirnya benar-benar terlelap.

***

Sujeong Pov:

Sujeong tersentak oleh getaran ponselnya. Dia mengamati layarnya dan terdiam. Hatinya langsung resah, tersadar masih ada masalah yang harus diselesaikannya dengan namja ini. Dia sama sekali telah lupa. Suho membuatnya lupa segalanya, menyedot segenap pikiran dan perhatian Sujeong, sehingga dia tak sempat memikirkan hal lain selain dirinya dan Suho.

Sujeong memperhatikan ponselnya yang masih berkedip-kedip. Chanyeol terus mencoba menghubunginya. Tapi Sujeong masih enggan menjawab, dia ingin menenangkan pikirannya yang baru saja terbebas dari beban masa lalu. Akhirnya ditekannya tombol OFF. Setidaknya malam ini HPnya tidak akan mengganggunya.

“Maaf.” Bisik Sujeong pelan. Ia meraba leher Suho. Demamnya mulai turun. Dia terus menatap namja itu. Sesekali Suho mengerang tidak jelas kemudian kembali tenang. Semua ini… ah, kenapa begini jadinya? pikir Sujeong. Perhatiannya teralih pada diary di meja belajarnya. Sujeong bangkit berdiri, mengambilnya, lalu kembali duduk di samping Suho. Hati-hati dia melepaskan staples hingga halaman-halaman itu terbuka. Dengan lebih tenang dia mencoba membaca beberapa di antaranya.

Sabtu, 16 April 2011

Hari ini di sekolah sangat menyenangkan. Walaupun setelah ku ingat-ingat lagi, tak ada hal istimewa. Tapi bukankah besok hari Minggu? Ah ya, aku ingat besok hari Minggu, dan aku senang. Tapi tepatnya bukan hari Minggu yang membuatku gembira. Melainkan karena hari itu berarti aku les musik! Jari-jariku sudah gatal ingin memainkan musik dan sebaiknya besok aku berlatih dulu sebelum berangkat les. Aku ingin menunjukkan padanya permainan musikku, meskipun mungkin belum terlalu bagus. Oh tidak! Apa sih yang aku pikirkan? Entahlah… Sejak tiga hari yang lalu aku selalu memikirkannya. Aku bahkan sangat suka mendengar segala sesuatu tentangnya dari Sujeong. Aku jadi mengetahui kebiasaannya, kesenangannya, dan jantungku berdebar setiap kali mendengar semua hal tentang dia! Belum pernah perasaanku begini melambung. Aku hanya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Aku terkesan saat pertama kali berkenalan dengannya, dan kembali terkesan saat mendengar permainan musiknya. Dia sungguh memesona!

Sujeong menarik napas dalam-dalam. Love at first sight. Itulah yang dialami Minju. Sujeong merenung. Tentu saja dia tidak pernah menduga hal ini dapat terjadi. Salahkah Minju? Entahlah, tapi siapakah yang bisa mengendalikan perasaan cinta? Sujeong melanjutkan membaca. Sesekali dia mengganti kompres Suho dan meraba suhunya. Sepertinya sudah mulai membaik.

Minggu, 17 April 2011

Tadi aku memainkan lagu bersamanya. Aku yakin tidak salah lihat, dia sangat memesona saat bermain. Wajahnya tenang dan dia menjiwai musik yang dimainkannya. Permainannya benar-benar sempurna. Rasa penasaranku kembali muncul. Untuk apa dia di sini? Akhirnya aku menyela permainannya dengan pertanyaan itu. Dia berhenti bermain, berpikir sejenak, lalu mengatakannya. Dia ingin membuat pertunjukkan musik sederhana. Aku mengerutkan dahi tidak mengerti. Lalu dengan wajah sedikit malu dia mengatakan sebenarnya dia menyukai Sujeong. Dia ingin membuat kejutan itu untuk merayakan ulang tahun Sujeong sekaligus mengungkapkan perasaannya. Semangatku lenyap seketika. Sujeong pasti akan bahagia hari itu, bukankah ini yang di tunggu-tunggunya selama ini? Dia belum tahu apa persisnya yang akan dilakukannya. Tapi katanya dia akan sangat membutuhkan bantuanku untuk membujuk teman-temanku agar terlibat dalam rencana ini.

Sekali lagi Sujeong menyesali dirinya yang telah gegabah. Dia telah melewatkan hal-hal penting yang justru berlawanan dengan kesimpulan awal yang telah ditariknya. Dia merasa malu, bodoh, dan kekanak-kanakan. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Ada satu hal yang belum disampaikan Suho padanya, seperti hal yang cukup pribadi. Sujeong pun membalik-balik halaman diary itu sampai menemukan apa yang dicarinya.

Rabu, 4 Mei 2011

Tak terasa tiga minggu telah berlalu sejak Suho di les musikku. Kami telah membentuk kelompok yang terdiri atas lima belas orang untuk memainkan aransemen yang diinginkan Suho. Aku menikmati kebersamaan dengannya, walaupun tahu dia berada di sana semata untuk Sujeong. Tapi, entah mengapa hal itu tidak membuat perasaanku surut. Sujeong benar, cinta itu rumit. Aku bahkan tidak bisa memahaminya, bahkan di saat aku sendiri merasakannya. Waktuku untuk bisa bersamanya terasa semakin singkat. Sebulan lagi ulangan kenaikan kelas, dan Suho telah memutuskan untuk sementara kami berhenti latihan dulu. Lagi pula, permainan kami sudah sangat bagus dan tinggal disempurnakan sedikit lagi. Sementara itu, dia akan menyiapkan kejutan lain sendiri. Ah, lemas aku membayangkannya. Dua mingu setelah kenaikan kelas kami akan berulang tahun, dan setelah itu aku harus melepaskan’y. Entah apa yang kupikirkan saat aku memberanikan diri memintanya menemaniku ke kafe. Mungkin ini sangat konyol, tapi aku akhirnya menyatakan perasaanku padanya. Yah, hanya sekadar supaya dia tahu saja.

Kamis, 5 Mei 2011

Akhir-akhir ini perasaanku aneh. Entahlah, aku merasa seakan… seakan takkan pernah bertemu lagi dengan orang-orang yang kusayangi. Aku tidak tahu apakah itu hanya perasaan atau terbawa mimpi buruk. Aku merindukan Eomma, Appa, Sujeong, dan Suho, meskipun mereka ada di dekatku. Perasaan macam apakah itu? Aku pun jadi ingin bangun lebih awal dan memandangi langit pagi serta alam sekitarku. Aku ingin tidur lebih larut dan kembali memandangi langit berbintang, berayun seakan langit semakin dekat denganku. Hari ini aku meminta Suho menemuiku. Rasanya pikiranku aneh dan aku memintanya jadi pacarku. Aneh, aku sendiri tidak bisa mempercayai bahwa aku mengatakannya. Yang kutahu, perasaan itulah yang mendorongku melakukannya. Detak-detak jantungku seakan selalu berkata: sebelum terlambat… sebelum terlambat… sebelum terlambat. Sebelum terlambat apa? Entahlah… yang jelas aku akhirnya menyatakan perasaanku. Suho menolak dengan berbagai alasan dan argumen. Tapi yang kutahu, pokoknya Suho harus mau dan akhirnya aku pun berhasil meyakinkannya, bahwa itu hanya untuk sementara. Setelah kami berulang tahun, dia akan bersama Sujeong dan aku tidak akan mengganggunya lagi…

Sujeong menutup diary. Sekujur tubuhnya merinding. Jadi, mereka memang sempat menjalin hubungan, tapi tidak seperti dugaan Sujeong. Itu adalah permintaan Minju sebelum dia pergi… Air mata kembali membasahi wajah Sujeong. Air mata penyesalan. Dia sudah salah paham. Ini bukan seperti yang dibayangkannya… Minju bahkan tidak sempat berumur tujuh belas…

Tiba-tiba tangannya digenggam seseorang. Sujeong tersentak dan menoleh tanpa sempat menghapus air matanya. Suho sudah bangun.

“Hei, kok bangun? Ayo tidur lagi…” bisik Sujeong seraya memaksakan senyuman.

“Aku di mana?” kata Suho mengerjap dan menatap sekelilingnya.

“Sekarang jam berapa? Kamu… kenapa nangis?”

“Tidak apa-apa kok.” Sujeong mengusap air matanya.

“Kamu sekarang ada di kamar Aku. Dan sekarang sudah jam satu.”

“Hah?! Jam satu?” Suho mencoba bangkit, namun langsung ditahan Sujeong dengan kedua tangannya.

“Eh, Kamu istirahat dulu saja. Ini jam satu pagi, Ho-ah.”

“Tapi Kamu kok tidak tidur…”

“Sudah… tidak apa-apa, tenang aja, Aku jagain Kamu di sini.”

“Aku sudah tidak apa-apa, Jeongi. Sudah lumayan. Mendingan Kamu tidur, besok masuk pagi, kan?” Sujeong berpikir sejenak. Sebenarnya kalau boleh memilih, dia ingin menemani Suho sampai pagi.

“Jeongi… Aku jadi tidak bisa tidur tenang kalau Kamu sendiri tidak istirahat. Jebbal…”

“Ya sudah, tidur yang nyenyak ya.” Ujar Sujeong sera menyelimuti Suho. Lalu dia bangkit berdiri dan berjalan ke pintu.

“Jeongi…” Sujeong menghentikan langkah dan berbalik.

“Hm?”

“Tidur nyenyak, ya.”

“Kamu juga, ya.” Sahut Sujeong seraya mematikan lampu.

“Jeongi?”

“Apa lagi?” Sujeong kembali berbalik.

“Aku sayang Kamu.”

“Me too…” balas Sujeong tanpa berpikir panjang.

“Aku matiin lampu, ya?”

“Oke.” Sahut Suho.

“Makasih, ya…”

***

Sujeong POV :

Sujeong berbaring di samping Eommanya dengan mata nyalang. Pikirannya tak henti menyuarakan kegalauan hatinya. Apakah dia masih bisa memilih? Suho masih menyayanginya dan dia telah mengalami banyak kesulitan serta berkorban begitu banyak. Dan sekarang dia datang membawa cinta yang sejak dulu sangat di nanti-nantikan Sujeong. Tapi bagaimana dengan Chanyeol? Chanyeol tidak tahu-menahu tentang Suho dan Suho bahkan juga tidak tahu dia sudah jadian dengan Chanyeol. Ah, teringat Chanyeol, perasaan Sujeong tidak menentu. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah dia memanfaatkan pertengkaran mereka untuk menjauhi Chanyeol dan kembali kepada Suho? Bodoh. Tentu saja dia tidak sekeji itu. Tidak. Itu bukan dirinya. Tapi apa yang harus dilakukannya sekarang?

***

Pagi itu Sujeong terlambat tiba di sekolah. Setengah berlari Sujeong menuju kelasnya dan heran sendiri melihat siswa-siswa masih berkeliaran di koridor dan taman. Dia mendapati Sehun dan Kay yang berdiri di depan pintu kelas.

“Hai, tidak ada pelajaran, ya?” Tanya Sujeong terengah-engah.

“Lagi ada rapat.” Sahut Kay.

“Biasa, membahas ulangan kenaikan kelas. Hhhh… kayaknya Aku belum siap deh!”

“Oh, gitu ya.” Kata Sujeong sambil ikut bergabung.

“Baguslah.”

“Hei, taruh tas dulu gih.” Celetuk Sehun.

“Bilang saja mau berduaan…” katanya seraya berjalan santai masuk kelas. Sesampai di kelas, langkah Sujeong melmbat ketika menyadari seseorang telah menduduki bangkunya.

“Hai.” Sapa Sujeong dingin. Namja itu mendongak dan wajahnya seketika menjadi cerah melihat kedatangan Sujeong.

Dia tersenyum lebar.

“Hai juga, Honey!”

“Ngapain Kamu cengar-cengir nggak jelas begitu?” katanya dengan tampang malas.

“Cengar-cengir nggak jelas gimana? Ke taman yuk!” ajak Chanyeol seraya menarik tangan Sujeong. Dalam hati Sujeong bertanya-tanya apa yang membuat namja itu tiba-tiba jadi aneh. “Kamu kenapa sih?!” Sujeong tidak tahan menyimpan rasa penasarannya.

“Kenapa apanya? Aku baik-baik saja kok!”

“Oh, ya? Kayaknya tidak biasa banget deh pagi-pagi Kamu sudah datang ke kelas Aku. Dan tampang Kamu itu kelewat bahagia! Tidak biasa dan aneh!”

“Memangnya salah ya Aku merasa bahagia karena bisa bareng Yeoja yang paling Aku sayang di seluruh dunia?” ujar Chanyeol.

“Mana paginya juga cerah begini…”

“Aku bilang aneh ya aneh!” Sujeong tetap ngotot.

“Terserah Kamu mo bilang apa deh, Honey!” kata Chanyeol lagi.

Ditariknya Sujeong ke bangku taman yang mengelilingi pohon.

“Kejutan!” kata Chanyeol sambil memamerkan sebatang cokelat besar di hadapan Sujeong. Sujeong sangat heran dengan sikap Chanyeol yang berubah drastis. Bukankah kemarin mereka baru saja bertengkar. Sekarang tiba-tiba sikap Chanyeol kelewat ceria.

“Hei, Chagiya, kok bengong?” tegur Chanyeol.

“Kamu kenapa sih?!” kata Sujeong, raut wajahnya sebal.

“Eh, eh, kok gitu sih? Kamu kok marah, jangan begitu sayang.” Chanyeol malah menanggapi dengan manis.

“Chanyeol!!!”

“Arra…arra” Ujar Chanyeol sambil mengangkat kedua tangannya.

“Jebbal.” Katanya. Lagi-lagi dengan senyum kelewat lebar. Aku lebih senang liat Kamu sebel begini daripada Kamu diam kayak musuhin Aku. Apa pun akan Aku lakukan asal Aku tidak kehilangan Kamu…” Sujeong diam saja dengan tampang cemberut.

“Emang Aku salah apa sih?” Tanya Chanyeol.

“Salah ya Aku ngasih cokelat? Tapi kayaknya nggak deh! Malah pas banget Aku ngasih cokelat di saat-saat begini. Soalnya Aku sering baca, cokelat mengandung phenethylamine yang bisa memperbaiki suasana hati. Nah, bagus banget, kan?” cerocosnya cepat kayak kereta api. Sujeong masih bertahan dalam diam. Lebih baik dia nunggu sampai namja ini lelah sendiri dengan kekonyolannya. Menyadari cokelatnya tidak mendapat sambutan, akhirnya Chanyeol membuka sendiri cokelat itu lalu menawarkan sepotong kepada Sujeong.

“Sayang, ayo senyum dong…” bujuknya seraya menatap Sujeong lembut. Chanyeol tersenyum. Benteng Sujeong pun roboh, dan ia pun tersenyum manis yang sudah sangat dirindukan Chanyeol. Sujeong tidak habis pikir, namja ini selalu punya cara tidak terduga untuk menghibur dan meluluhkan hatinya.

“Kemarin Kamu tidak mengajak Aku ke kantin, tapi malah milih bareng Jisoo. Aku liat kalian dan Aku jengkel.” Kata Sujeong tanpa memperlihatkan raut marah ataupun sakit hati. Chanyeol mendesah.

“Jeongi… semua itu bukan mau Aku. Aku sudah berusaha menolak, tapi Jisoo ngotot.” “Bagaimanapun yang harus Kamu cari itu Aku!”

“Aku tahu, tahu banget. Tapi Kamu sendiri tahu Jisoo kayak apa!” Chanyeol berusaha meyakinkan.

“Kamu masih ingat Aku pernah bilang begini: ‘Sekalipun ada seribu Jisoo menggoda Aku setiap hari, perasaan Aku ke Kamu tetap nggak bakal berubah, perhatian Aku buat Kamu nggak akan berkurang, yang Aku butuhin hanya kepercayaan dari Kamu’ ingat, nggak?”

“Kayaknya iya.” Ujar Sujeong.

“Trus kenapa?”

“Kamu percaya Aku?”

“Mungkin.”

“Kenapa mungkin?” Chanyeol protes.

“Jeongi, sekarang Kamu liat Aku. Liat, Aku bohong apa tidak.” Sujeong terus menunduk.

“Yang jelas Aku tidak suka Kamu kayak begitu.”

“Jeongi… Aku sayang banget sama Kamu. Kalau itu mengganggu pikiran Kamu, baiklah. Mulai saat ini Aku akan menjauhi Jisoo, dan Aku tidak akan dekat sama Yeoja mana pun. Janji?” kata Chanyeol sambil mengacungkan kedua jarinya.

“Tapi, asal Kamu juga janji tidak akan ninggaalin Aku dengan alasan apa pun, sampai kapan pun. Janji? Kamu bisa janji, kan?” desak Chanyeol. Sujeong terkesiap mendengar kalimat terakhir namja itu. Dia tidak sanggup berjanji.

“Aku bukan Jisoo yang senang menopoli atau mengekang pergaulan Kamu dengan teman-teman Kamu itu.” Kata Sujeong.

“Kamu tidak perlu berjanji kayak begitu. Aku cuma tidak suka Kamu lebih memilih bersama orang lain, siapa pun itu, dan ninggalin Aku sendiri.”

“Apa pun mau Kamu, Jeongi, Aku tidak keberatan. Tapi Kamu harus janji tidak akan pernah ninggalin Aku dengan alasan apa pun sampai kapan pun.” Astaga, pertanyaan itu lagi.

“Jeongi! Sujeong!!!” sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Mereka menoleh dan melihat Kay berlari-lari menuju mereka.

“Ada apa, Kay?” Sujeong bergegas bertanya.

“Gawat… gawat… gawaaatttt!”

“Apa yang gawat?”

“Mr. Kim Heechul marah besar karena kita tidak pada di kelas mengerjakan tugas!”

“Trus?”

“Dia ngasih tambahan 75 soal esai dan harus selesai hari ini juga! Pokoknya paling telat jam 00.00 harus sudah terkumpul semua!”

“Trus?”

“Ya ampun, Jeongi… palli, kita mulai sekarang! Total soalnya ada seratus lima dan susahnya minta ampun!” Kay menarik tangan Sujeong.

“Hai, Oppa! Sujeongnya di pinjam dulu ya…!” lanjut Kay.

“Eh, tuggu!” kata Chanyeol seraya menahan tangan Sujeong yang bebas.

“Kamu janji,Jeongi?” Ya Tuhan… masih sempat-sempatnya si Chanyeol ngotot begitu?

“Astaga, Aku lupa Kamu tadi nanya apa… Aku balik dulu, ya!” kata Sujeong seraya melepas tangannya dan menyusul Kay. Ah, kentara sekali Sujeong tidak mau berjanji…

***

Pukul 18.10

Serentak semua siswa 2 IPA 4 menggeliat sambil mengerang kecapekan. Soal matematika yang nyaris bikin sinting itu selesai sudah.

“Ya ampun, ini sih penyiksaan!” erang Kay histeris.

Sujeong mengikuti siswa-siswa lain ke luar kelas. Langit sudah mulai biru gelap.

“Jeoungi!” Sujeong sangat mengenali suara itu. Chanyeol sudah menarik Sujeong keluar dari rombongan teman sekelasnya.

“Belum pulang?” Tanya Sujeong tidak percaya.

“Aku nungguin Kamu dari tadi.” Wajah Chanyeol tampak lelah, namun dia tetap tersenyum cerah.

“Nih, Aku beliin buat Kamu.” Katanya sambil menyodorkan bungkusan kertas kepada Sujeong. “Apa ini?” Sujeong membuka bungkusan itu.

“Roti bakar. Masih hangat, kan? Makan gih, Kamu pasti lapar banget.” Chanyeol merangkul pundak Sujeong. Tanpa banyak bicara Sujeong segera saja menyikat habis roti bakar itu. Rasanya dia kepingin menangis. Namja ini baik banget, dan begitu menyayanginya. Bagaimana mungkin dia tega melukai hati yang tulus mencintanya ini? Mereka berdiri di samping motor Chanyeol.

“Oh ya, nih minumnya.” kata Chanyeol sambil menyodorkan sebotol susu cokelat kepada Sujeong.

“Biar tambah kuat, dan tidak lemas lagi.” Ujar Chanyeol. Sujeong hanya bisa menatap Chanyeol. Namja itu tersenyum, tapi matanya jelas tidak bisa berbohong. Sujeong menemukan sebersit kesedihan di sana. Apa yang kulakukan? Batin Sujeong. Tangis Sujeong pun pecah saat itu juga. “Maafin Aku!” bisik Sujeong. Di peluknya Chanyeol. Dia terisak. “Hei, kok sampai terharu biru begitu sih?” kata Chanyeol seraya membelai rambut Sujeong. Sujeong melepaskan pelukannya dan mendapati namja itu memandangnya.

“Konyol. tidak perlu nangis, tahu.” Kata Chanyeol sambil menghapus air mata Sujeong.

“Ma… af…” isak Sujeong.

“Tidak apa-apa, cepat minum susunya, kasihan badan Kamu, pasti capek banget.” Kata Chanyeol. Sujeong hanya menunduk dan menghabiskan susunya.

“Nah, pintar. Kajja kita pulang.” Kata Chanyeol. Dia menghidupkan motornya, siap mengantar Sujeong pulang. Sujeong masih terpana memandang Chanyeol. Kenapa namja itu membohongi dirinya sendiri? Sujeong sangat yakin bahwa dia melihat mata itu sempat berkaca-kaca. “Haloo…” Chanyeol membuyarkan lamunan Sujeong.

“Eh, iya.” Sahut Sujeong sambil naik ke boncengan.

“Jeongi?” panggil Chanyeol.

“Ya?”

“Kalau Kamu mengantuk tidur saja, Aku tidak akan mengebut kok.” Perasaan Sujeong semakin luluh. Chanyeol bahkan memperhatikannya sampai ke hal-hal kecil seperti itu.

“Makasih ya.” Kata Sujeong. Mungkin begitu lebih baik, jadi dia tidak perlu bicara apa-apa dan masalah hari ini tidak perlu diungkit lagi.

***

Akhirnya Sujeong sampai di rumah, setelah sepanjang jalan dia tertidur lelap di punggung Chanyeol.

“Gomawo, Oppa.” Bisik Sujeong sambil tersenyum.

“Walaupun hari ini aneh banget, tapi Kamu sudah buat Aku benar-benar senang.”

Chanyeol menatap Sujeong dengan separuh perasaan, lalu berkata. “Apa pun akan Aku lakukan supaya Kamu senang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama Aku seandainya Aku kehilangan Kamu. Jadi, jangan pernah tinggalin Aku ya?” Sujeong tertegun. Kenapa Chanyeol seolah-olah tahu ada seseorang yang hadir di antara mereka? Dan sepertinya Chanyeol juga tahu dirinya memiliki peluang yang sama besarnya dengan seseorang itu, dan Chanyeol sangat takut akan hal itu. Ya, Sujeong melihat sendiri ketakutan di mata Chanyeol.

“Aku juga tidak tahu apa yang bakal terjadi sama diri Aku seandainya Aku kehilangan Kamu.” Kata Sujeong. Atau dia, tambahnya dalam hati. Chanyeol mengacak-acak rambut Sujeong, kemudian memeluknya sesaat.

“Aku benar-benar sayang banget sama Kamu. Saranghae Sujeong.” Katanya.

Sujeong tersenyum mendengarnya, tapi pikirannya tidak keruan. Ditatapnya kepergian Chanyeol sampai sosoknya menghilang, kemudian baru berbalik masuk. Perasaannya terasa sangat berat. “Kok telat?” Tanya Yoona was-was.

“Bikin tugas.” Sahut Sujeong seraya masuk ke kamar dan meletakkan tasnya.

“Mmm… Suho gimana, Eomma?” Tanya Sujeong ragu.

“Sudah baikan. Tapi sepertinya kondisinya masih belum benar-benar pulih. Sebelum Eomma berangkat tadi dia sudah kembali ke penginapan.” Jelas Yoona.

“Oh…” ujar Sujeong seraya masuk ke kamar mandi. Sujeong berendam selama mungkin di bathtub. Dia memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.

Suho-Chanyeol-Suho-Chanyeol-SIAPA?! Mengapa dua pilihan ini sanggup membuatnya seperti ini? Bolehkah dia membuat pilihan ketiga? Dia benar-benar ingin kabur dari semua ini!

****

“Jeongi, ada Suho di depan. Katanya mau mengajak keluar.” Sujeong terdiam. Seharusnya dia senang mendengarnya. Ah, beberapa jam yang lalu dia bersama Chanyeol, namja yang berhasil membuatnya tersenyum hari ini. Lalu sekarang Suho menunggu dan akan mengajaknya keluar. Namja itu masih mengharapkannya sebagaimana Sujeong juga mengharapkannya. Tapi soal harapan ini… salah satu pasti ada yang bakal terluka. Dan Sujeong sendiri juga akan terluka. Amat sangat terluka. Lalu, apa yang harus dilakukannya? Suho telah kembali dan berharap Sujeong menerimanya sebagaimana yang seharusnya terjadi beberapa bulan yang lalu. Namun di sisi lain Sujeong telah memiliki Chanyeol, namja yang sangat menyayanginya dan takkan melepaskannya, apa pun alasannya. Dan Sujeong menyayangi keduanya… Tapi tetap saja, dia harus melepas salah satunya. Dengan pandangan kosong dan pikiran berkecamuk, Sujeong membuka lemari pakaiannya. Dia mengulurkan tangan dan dengan asal mengambil apa saja yang teraih olehnya saat itu, lalu mengenakannya. Kemudian dia berdiri di depan cermin dan memandangi dirinya, dan saat itulah dia tersadar. Sujeong memandang dirinya yang sedang terpana. Dia mengenakan sweter pemberian Chanyeol. Sweter itu sangan pas di tubuhnya, sederhana, tapi manis dan modis. Sebelum keluar kamar, sekali lagi dia memandangi bayangannya. Sekonyong-konyong dia merindukan Chanyeol, dan rasa rindunya membuat hatinya kebas, seolah tak mampu merasakan apa-apa lagi. Sujeong memasuki ruang tamu dan Suho langsung tersenyum cerah melihatnya. Ah, senyum itu… Sujeong tidak memandang lama-lama wajah yang tersenyum itu. Perasaannya lagi-lagi kacau, dan dia semakin bimbang dibuatnya.

***

“Jeongi, Kamu baik-baik saja?” Tanya Suho bingung. Sujeong tidak melihat terlalu antusias, senyumnya muram, pandangannya sering kosong. Saat itu mereka duduk di salah satu kafe di dekat rumah Sujeong dan sedang menikmati makan malam. Tempat itu cukup menyenangkan, apalagi di malam hari begini. Tapi Suho tahu Sujeong sama sekali tidak menikmatinya.

“Aku tidak apa-apa kok.” Sahut Sujeong sambil tersenyum. Dia meminum oren juicenya.

“Oh ya, sebentar lagi ulangan kenaikan kelas, kan? Gimana persiapan Kamu? Pelajaran Kamu tidak banyak ketinggalan, kan? Sudah berapa hari Kamu tidak masuk karena sakit? Pokoknya kalau nilai Kamu anjlok gara-gara ini, Aku balas si Baekhyun!” cerocos Sujeong dengan suara ceria seperti biasa. Suho tidak langsung menjawab atau menanggapi ucapan Sujeong, melainkan menatapnya lurus-lurus. Dia tahu mata Sujeong tampak redup, sama sekali tidak mengiringi keceriaan yang disuarakannya. Dia sangat tahu itu karena dia sangat mengenal Sujeong. “Kenapa?” Sujeong salah tingkah. Tapi Suho tidak menjawab dan terus menatapnya. Sekonyong-konyong dada Sujeong kembali sesak, emosinya kacau, bayangan Suho mengabur, dan dia mulai terisak.

“Jangan liatin Aku kayak gitu…” katanya.

Suho menggenggam tangan Sujeong, katanya “Aku tahu pikiran Kamu tidak di sini.” Suara Suho lembut dan penuh pengertian. “Tidak apa-apa, tenang aja.” Sujeong masih terisak selama beberapa saat sampai akhirnya benar-benar tenang.

“Maafin Aku, Aku tidak tahu kenapa jadi begini…” katanya sambil menghapus air mata terakhirnya. Lalu tersenyum. Suho hanya dapat balas tersenyum masam. Tapi Aku tahu banget kenapa Kamu nangis…

***

Suho Pov :

Suho menunggu Sujeong pulang, dan dia tidak bisa tenang saat menunggu. Sebentar-sebentar dia melirik jendela dan memandang rumah Sujeong, lalu kembali duduk di kasur atau karpet. Hari ini Sujeong pulang terlambat. Seharusnya sejak tadi siang dia sudah di rumah, batin Suho. Suho melihat jam dinding. Jam enam sore, tapi Sujeong belum pulang juga. Ke mana Yeoja itu? Apakah sesuatu terjadi padanya? Pikiran-pikiran itu terus mengusik benak Suho. Dia bangkit dan memeriksa penampilannya dengan perasaan puas. Seharusnya dia sangat gembira saat ini. Sebentar lagi dia akan mengajak Sujeong keluar makan malam dan dia akan mengungkapkan perasaannya sekali lagi, meskipun Sujeong sudah mengetahuinya. Tentu saja kali ini dia tidak sekadar mengatakannya, melainkan meminta Sujeong menjadi pacarnya. Ah, hatinya takkan tenang sebelum melihat Sujeong pulang. Lalu terdengar deruman sepeda motor berhenti di depan penginapan, ataukah sebenarnya di depan rumah Sujeong? Suho mengerutkan kening, lalu bergegas menuju jendela dan memandang ke bawah.

Deg.

Jantung Suho berdebar cepat. Dadanya nyeri. Suho terus memerhatikan orang itu. Mereka berdiri di samping sepeda motor. Kenapa Sujeong tidak langsung masuk ke rumah? Batin Suho tidak suka. Mereka tampak bercapak-cakap. Ah, kalau saja Suho tahu apa yang mereka bicarakan. Betapa mencelos hatinya saat si namja mengacak-acak rambut Sujeong, kemudian memeluknya sesaat. Sujeong tersenyum dan hati Suho bagai di tusuk-tusuk. Dadanya nyeri, darahnya berdesir cepat. Lalu namja itu berlalu, dan Sujeong berdiri di sana, mengamati namja itu hingga bayangannya lenyap di ujung jalan. Suho terpaku di depan jendela. Tatapannya kosong. Tangannya dingin. Benarkah apa yang dilihatnya barusan? Kenapa rasanya menyakitkan? Ah, Suho tidak tahu siapa yang mesti disalahkan. Dia tidak tahu bagaimana semua ini berawal, tapi dia tahu bagaimana semua ini akan berakhir. Terlambat. Dia sudah terlambat. Seharusnya dia melakukannya sejak dulu. Seharusnya dia tidak perlu menunggu ulang tahun Sujeong, Tidak perlu memikirkan kejutan itu, tidak perlu berurusan dengan Minju. Seharusnya sekalian saja dia mati dihajar Baekhyun! Suho berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Disentuhnya dadanya. Nyeri. Inikah yang dirasakan Sujeong saat menyangka Suho menjalin hubungan dengan Minju? Tapi kenyataannya tidak begitu dan Sujeong sudah mengetahui kejadian sebenarnya. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Dia sudah melihat sesuatu yang benar-benar nyata dan tidak terbantahkan. Dia tidak bisa mendustai apa yang telah dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Mungkinkah karena luka hatinya terlalu menyakitkan, Sujeong butuh seseorang mengobatinya? Seseorang untuk membuatnya melupakan dirinya? Benarkah Sujeong telah menemukan orang itu dan bahagia karenanya? Apakah Sujeong sungguh-sungguh bahagia? Sekarang Suho ada di sini. Untuk apa dia di sini? Bahagiakah Sujeong melihatnya di sini? Ataukah sebaliknya? Hati gadis itu terusik dan resah… Tanpa disadarinya, sesuatu yang hangat bergulir dari kedua kelopakk matanya. Apa-apaan ini? Suho tidak pernah menangis sebelumnya. Bodoh, kenapa dia harus menangis? Sudahlah, dia terlambat. Yang penting Sujeong bahagia. Itu sudah cukup baginya. Cukup? Tidak, sebenarnya dia hanya bahagia jika Sujeong bersamanya. Suho bangkit. Dirapikannya penampilannya dan sekali lagi dia mencuci muka. Setidaknya malam ini dia akan makan malam bersama Sujeong.

***

Suho POV :

Suho mengaduk-aduk jusnya.

“Kamu senang malam ini, Jeongi?” Sujeong mendongak dan tersenyum.

“Tentu saja! sudah lama kita tidak ketemu dan sekarang kita di sini lagi makan malam bersama! Rasanya Aku tidak percaya! Tahu tidak? Ini seperti mimpi indah buat Aku!” ujarnya ceria.

Suho tersenyum samar. Mimpi? Seindah apa pun mimpi, suatu saat Kamu bakal terbangun juga. Kalau memang hanya mimpi, Aku bukan siapa-siapa saat Kamu terbangun.

“Kamu kenapa?” Tanya Sujeong.

“Anniya, nan gweachana. Aku juga senang sekali.” Suho mencoba tersenyum.

Hatinya perih, jantungnya kembali meronta. Dia tahu setelah ini dia tidak akan merasakan sakit lagi. Hatinya hancur, dan tidak akan bisa merasakan apa-apa lagi. Mereka kembali terdiam, dan wajah Sujeong lagi-lagi murung. Makan malam ini tidak seperti yang diharapkan Suho.

“Besok Aku pulanh.” Suho memecah kesunyian.

Wajah Sujeong langsung terangkat. Sepertinya dia ingin menyatakan sesuatu, hanya saja suaranya tersangkut di leher. Tapi raut wajahnya sudah berkata banyak, dan air mata kembali membasahi pipinya. Suho tahu Sujeong masih menyayanginya, tapi dia sudah terlambat. Tepatnya, mereka terlambat.

“Sudahlah, tidak apa-apa.” Bisik Suho seraya membelai kepala Sujeong dengan sayang.

“Jangan buat makan malam kita penuh air mata. Tersenyumlah, senyuman itu akan menghangatkan kita berdua…” kata Suho berusaha membuat Sujeong tidak menangis.

***

Sujeong POV :

Keesokan paginya Sujeong terlambat bangun.

“Eomma sudah berkali-kali bangunin kamu, tapi katanya kamu tidak enak badan.” Kata Yoona. Diusapnya kepala Sujeong.

“Bagaimana kalau sehabis sarapan kita ke Cake Resort?” usul Yoona pada putrinya.

“Dengan senang hati!” ujar Sujeong. Setelah makan pagi, Sujeong berganti pakaian. Sekonyong-konyong dia teringat dan hatinya kembali sendu. “Suho akan pulang ke Seoul. Apakah suatu hari nanti mereka akan bertemu lagi?” Batin Sujeong.

Dia berdandan seadanya, lalu keluar. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Mendengar suara dentingan piano. Sujeong berbalik dan menemukan Suho duduk di depan piano.

“Suho?” Suho menghentikan permainannya, lalu menoleh.

“Bolehkan Aku memainkan satu lagu buat Kamu? Sebelum Aku pergi?” Jemari Suho mulai bermain dengan lincah.

Wishing on a Star’y Rose Royce mengalun indah dari ujung-ujung jemarinya, menyusup ke setiap relung hati Sujeong. Sujeong hanya mampu menatap jemari yang bagaikan menari-nari itu. Dia hanya mampu tertunduk, ingin menangis tahu Suho pasti takkan senang melihatnya. Pelan Sujeong menyenandungkan lirik lagu itu.

“Thanks ya, Suho-ah.” Bisik Sujeong setelah lagu itu usai.

“Ngomong-ngomong Aku kan sudah ngizinin Kamu memainkan sebuah lagu buat Aku. Jadi, Aku boleh minta sesuatu dari Kamu kan?” pinta Sujeong.

“Tentu saja.” Sahut Suho seraya tersenyum.

 

Suho POV :

“Gimana? Kamu suka? Bagus, kan?” Tanya Sujeong tidak sabar.

Dia mengajak Suho ke Cake Resort untuk menghabiskan sisa waktu yang sangat singkat itu sebelum Suho kembali ke Seoul. Sujeong tahu hatinya sedih, dan dia juga tahu hati Suho sedih. Tapi dia tidak tahu perpisahan ini sebaiknya diwarnai kesedihan ataukah kebahagiaan.

“Bagus? Bagaimana kalau luar biasa? Atau adakah kata-kata lebih bagus daripada itu?” Suho tersenyum tulus.

Sujeong senang melihatnya. Mereka mengobrol seputar dunia sekolah dan ulangan sambil menikmati beberapa cake dan puding dengan cappuccino cream. Untuk sesaat semua terasa seperti dulu, saat mereka masih bersama dan bahagia. Pelan Suho melirik jam tangannya dan wajahnya berubah murung. Sujeong tahu apa artinya itu. Mereka sama-sama terdiam. Jantung mereka berdetak dengan irama yang sama. Mereka tidak menginginkan perpisahan ini.

“Kalau saja waktu bisa berhenti, Aku tidak akan pernah beranjak dan akan selalu berada di sisi Kamu.” Bisik Suho.

Hati Sujeong langsung mencemas, tulang-tulangnya melemah.

“Tapi lihat, jarumnya terus berputar.” Lanjut Suho, suaranya gemetar.

Sujeong kembali ingin menangis. Sejak Suho kembali ke dalam hari-harinya, Sujeong jadi sering menangis. Menangis masa lalu yang membuatnya bagai terjebak dan tak tahu harus melangkah ke mana.

“Oh ya. Aku ada sesuatu buat Kamu.” Suho mengeluarkan kotak kecil dari bahan beledu biru gelap dan menyerahkannya kepada Sujeong.

“Hadiah ulang tahun Kamu.” Sujeong menatap Suho sesaat, lalu membuka kotak itu. Dia nggak sanggup berkata-kata. Di dalam kotak itu tampak kalung dengan liontin bertuliskan nama mereka:SujeongSuho. Ia mengangkat tangan dan menyentuh lehernya, meremas liontin kupu-kupu pemberian Chanyeol dengan lemah. Ah, rasanya seolah-olah dia kembali dihadapkan pada dua piliha yang sama beratnya.

“Walaupun keadaannya sudah berbeda, tetap saja kalung itu harus Aku berikan, karena sejak awal, kalung itu sudah jadi milik Kamu.” Bisik Suho lirih.

“Jeongi-ah, Aku boleh minta sesuatu?” Sujeong mengangguk sambil terus menunduk menahan air mata.

“Bolehkah… untuk saat ini saja, Kamu pake kalung ini buat Aku?” pinta Suho hati-hati.

Sujeong menatap namja di depannya. Ah, sorot kesedihan itu… Sujeong tidak sanggup melihatnya terluka begini. Sebab ini membuat dirinya semakin terluka…

Dia mengangguk. Untuk pertama kali dia melepaskan kalung pemberian Chanyeol, lalu membiarkan Suho memasangkan kalung hadiahnya di leher Sujeong.

“Kamu selalu cantik.” Suho tersenyum. Di tatapnya Sujeong lama sekali.

“Ah, Aku harus pergi.” Lanjutnya, suaranya tercekat. Pasti sulit sekali baginya untuk mengatakan hal menyakitkan semacam itu.

Akhirnya tangis Sujeong pecah. Dia mencoba menyeka air matanya, tapi air mata itu terus mengalir seolah takkan pernah berhenti.

“Sudahlah…” bisik Suho seraya membelai rambut Sujeong.

“Sudahlah. Kalaupun Kamu tidak akan pernah mengenakan kalung ini, tolong jaga baik-baik ya.” Kata Suho

“Sujeong-ah’… sungguh nama yang indah, bukan? Dan jika itu bukan nama, pasti dia adalah kenangan indah. Jika dia bukan kenangan, pastilah untaian nada, berarti sesuatu yang sangat indah, merdu, luar biasa. Ya, mungkin saja begitu.”.

“Suau hari nanti… mungkin kita akan bertemu lagi.” Akhirnya Sujeong berhasil menemukan suaranya.

“Tentu saja, di mana pun Sujeong-ah berada, saat dia memanggil. Aku akan berlari mengejarnya.” Suho berkata pedih.

Ah, dia tahu dia harus segera pergi.

“Semoga begitu.” Bisik Sujeong.

Sebaiknya dia tidak menangis lagi. Seharusnya bukan begini Suho mengingatnya, bukan Sujeong yang sedang menangis, melainkan Sujeong yang tersenyum manis untuknya. Akhirnya Sujeong berhasil menghentikan tangisnya. Suho menatap Sujeong. Pipinya memerah. Matanya yang biru redup. Bisakah Suho mengatakannya? Sanggupkah dia menyampaikannya? Jika tidak, sampai kapan dia harus menunggu? Suho menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan.

“Jeongi-ah, Aku harus pergi.” Katanya.

“Jangan menangis lagi ya. Tersenyumlah, Sujeong…” ucap Suho lembut.

Bagaimana caranya tersenyum? Rasanya Sujeong sudah tak ingat lagi.

“Jebbal…” pinta Suho. Dengan susah payah Sujeong mencoba tersenyum.

“Nah, begitu dong.” Kata Suho seraya menyeka sisa-sisa air mata gadis itu.

***

Sujeong POV :

Dia telah pergi. Pergi membawa luka dan meninggalkan sesal. Dia tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Sujeong mengambil segenggam pasir lalu meremasnya. Dalam sekejap, butiran-butiran pasir berjatuhan dari antara jemarinya. Sujeong menatap jauh ke depan. Titik terakhir matahari sebentar lagi menghilang, meninggalkan sedikit rona jingga yang akan mengantarkan malam. Cintanya telah karam, cinta pertama yang entah sampai kapan akan terus membayanginya. Cinta itu telah pergi dan dia harus melupakannya. Melupakannya. Apakah Suho juga akan melupakannya? Sujeong tahu begitu sulit dan sakitnya melupakan. Tapi bagaimana dengan dilupakan? Sujeong tak tahu mana yang lebih buruk, melupakan ataukah dilupakan, karena keduanya sama-sama buruk. Sujeong memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana. Tangannya menggenggam kalung pemberian Suho. Langit semakin pekat, dan Sujeong tidak tahu mengapa dia masih di sana. Angin dengan lembut membelai rambutnya dan membawa kesedihannya terbang menjauh selapis demi selapis. Hempasan ombak terdengar begitu indah dan menenangkan. Sujeong semakin larut dalam kesendiriannya dan merasa sangat damai.

“Jangan pernah berbuat bodoh seperti ini lagi.” Tiba-tiba Sujeong mendengar suara yang dikenalinya. Sujeong tersentak, mengangkat kepala lalu tersenyum.

“Anni, Aku tidak pernah berbuat bodoh.” Tukas Sujeong.

“Memangnya tindakan Kamu ini tidak bodoh? Datang ke sini sendirian, Dari siang sampai malam, tanpa memberitahu siapa pun dan mematikan HP pula. Bukannya itu bodoh dan ceroboh? Bikin cemas saja!” desis namja itu.

Sujeong tersenyum dan menatap Chanyeol penuh kerinduan. Rasanya sudah bertahun-tahun mereka tidak berjumpa.

“Waeyo?” Tanya Chanyeol.

Sujeong menggeleng, lalu menunduk menatap pasir.

“Bagaimana cara Kamu ke sini sendiri? Kamu benar-benar nekat, tahu nggak?” tanya Chanyeol pada Sujeong.

“Entahlah. Yang Aku tahu Aku melangkah dan sampai di sini.” Jawab Sujeong dengan santai.

“Begitu saja? Trus Kamu nggak mikir gimana pulangnya? Apa Kamu pikir Kamu pasti aman sampai di rumah, heh?” dumel Chanyeol.

“Aku memang tidak memikirkan itu. Karena Aku tahu ada seseorang yang akan menjemput Aku di sini. Itu sebabnya Aku merasa aman dan tenang. Dan ternyata Aku tidak salah, kan?” jelas Sujeong.

Chanyeol hanya bisa tersenyum, lalu merangkul bahu Sujeong.

“Lain kali jangan begini lagi, ya?” bisiknya.

Sejenak mereka sama-sama terdiam. Lalu Chanyeol teringat sesuatu.

“Jeongi-ah?”

“Hmmm?”

“Kamu mau janji, kan?” katanya hati-hati.

“Bahwa Kamu tidak akan pernah ninggalin Aku dengan alasan apa pun, sampai kapan pun?” pinta Chanyeol.

“Lalu Jisoo bagaimana?” Sujeong ganti bertanya.

“Aku sudah tegasin ke dia sekali lagi. Akhirnya dia sudah bisa nerima. Jadi gimana? Kamu mau janji?” jelas Chanyeol.

Sujeong menoleh, lalu tersenyum tulus.

“Janji.” Chanyeol menikmati udara yang dihirupnya setelah itu. Inilah yang ditunggunya. Inilah yang dibutuhkannya. Kesediaan dan ketulusan Sujeong untuk sesuatu yang akan membuat mereka bertahan. Sujeong merebahkan tubuhnya di pasir yang halus dan mendapati langit melingkupinya dengan indah. Lagi-lagi langit itu, yang seakan tersenyum kepada mereka dengan titik-titik kecil yang berkedip-kedip. Chanyeol ikut merebahkan tubuh. Kelelahan seakan melebur ke bumi dan meninggalkan jiwa mereka yang lemah.

“Aku lega.” Ujar Sujeong kemudian.

“Aku bahagia.” Sambung Chanyeol.

Sujeong menoleh dan tersenyum. Jemari mereka saling menjalin. Seberkas perasaan sedih mungkin masih tersisa di hatinya. Tapi inilah skenario hidupnya, dan semoga Suho juga bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Masa lalu yang sederhana itu kadang terasa rumit. Tapi di sanalah Suho berada. Cintanya saat ini, akan menjadi masa lalu di hari esok. Namun akan mengiringnya sampai nanti. Di sanalah ia dan Chanyeol akan berjalan. Dan semoga, mereka dapat bertahan.

END

Wuuuaahhhh Akhirnya selesai juga… mian kalau masih banyak typonya… semoga kalian suka dengan ceritanya.. dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian… gomawo….

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s