Falling For Innocence [Chapter 1]

req-poster-phiyu-art-zone (1)

|| Title: Falling For Innocence || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kris | Tao | Chanyeol | Jessica || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Credit Poster : AngllyRyx@Artzone (Thank’s ^^)

 Cerita ini Remake dari drama Korea dengan judul yang sama. Mungkin ada beberapa alur ceritanya yang aku singkat. Dan mungkin ada kata yang aku ganti pakai bahasaku sendiri tapi itu tidak mengubah alur ceritanya kok. Walaupun nantinya akan sedikit beda.

Tulisan yang bercetak miring itu menandakan ungkapan isi dalam hati pemeran cast di cerita ini ya, dan tulisan yang bercetak tebal itu adalah pembicaraan seseorang yang sedang diceritakan oleh orang tersebut. Semoga para readers tak bingung ^^

Pemain yang ada didalam cerita real milik penulis ya kalau di dunia kenyataan milik Tuhan, keluarganya, Temannya dan agencynya. Heheee… XD

***Happy Reading***

~Pov Kris~

Sepanjang perjalanan aku mendengar suara sirine sebuah ambulan yang menggema di sepanjang jalan seoul. Mobil ambulan tersebutpun sering kali menekan klakson untuk meminta mobil yang ada didepannya untuk menepikan mobil mereka. Didalam mobil ambulan itupun sudah banyak juru medis yang sedang berupaya memberikan pertolongan pertama kepasien tersebut.

Didetik terkahirpun aku masih memegang teguh pendirianku. Tuhan, nasip, Keajaiban. Aku tak pernah percaya dengan sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Disepanjang hidupku aku selalu mengalami kekejaman dan kekerasan. Jadi kalau aku mempercayai hal – hal yang emosional seperti itu sama saja aku membuang waktu ku yang berharga.

Samar-samar terdengar suara seseorang yang memanggil nama seseorang. “Tuan Kris… apakah anda mendengarkan saya, Tuan Kris..” Kata laki-laki berjas putih itu sembari menyoroti mata sang pasien dengan cahaya senter kecil ditangannya.

Salah satu yang aku kerjakan selama ini adalah untuk mempersiapkan diri bila tiba saatnya nanti mati.

 

“Tuan Kris, jangan kehilangan kesadaranmu!!” Bentak pria itu lagi sambil mempercepat laju jalannya untuk mendorong pasien tersebut yang sudah mulai tak sadarkan diri menuju ruang UGD. Saat baru saja tiba di UGD ternyata ada keluarga pasien tersebut yang tiba juga bersamaan di UGD. Wajah mereka tanpa terkejut bahkan salah satu dari mereka jatuh lemas saat melihat kondisi pasien tersebut yang sangat mengkhawatirkan.

Aku sudah siap untuk mati bahkan detik inipun  aku siap tapi dimalam itu, Tuhan berencana lain…

 

~~~ooo~~~

~Beberapa hari sebelum kejadian~

Dipagi yang cerah terihat ada seorang gadis yang sedang berlari kencang menuju ke jalan penyebrangan. Setibanya di depan lampu penyebrangan gadis yang berkonstum ala Princess Cinderella dengan wing berwarna pirang panjang dan tak lupa juga ada mahkota kecil diatas kepalanya menghentikan berlarinya saat lampu peyebrangan itu berwarna merah. Sontak semua yang melihat kearah gadis itu menatapnya dengan tatapan yang aneh. Tapi gadis itu tak memperdulikannya, diapun lalu melanjutkan lagi berlarinya saat lampu penyeberangan tersebut berwarna hijau.

Ditengah perjalanan langkah gadis itupun terhenti lagi saat dia melihat suatu berita yang disiarkan di televisi nasional secara Live. Didalam televisi itu terlihat ada beberapa mobil berhenti disuatu gedung yang besar dan disana sudah banyak wartawan yang meliputinya.

Dan salah satu reporterpun mulai membacakan beritanya. “Produk kecantikan yang paling laris berasal  dari Hermi. Krim pelembanb MiJi, memiliki bahan dasar yang memenuhi standart. Dilaporkan oleh media yang tidak disebutkan namanya, ternyata bahan Krim pelembab Hermia yang mereka buat ternyata mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi manusia. Departemen pemerintahan yang terkaitpun sedang menyelidiki kasusnya. Demikian laporan berita dari kami. KBS News melaporkan dari gedung Hermia.”

Setelah melihat berita tersebut gadis itupun lalu melanjutkan berlarinya menuju sebuah gedung besar. Setelah itu gadis itupun lalu naik kedalam Lift. Saat didalam lift gadis itupun langsung melepaskan wing yang bertengger di kepalanya dan dia mulai sibuk menelefon seseorang. “Bisakah kau datang kedepan lift sekarang.” Kata gadis itu ditelefon dan setelah itu telefon gengamnyapun di matikan olehnya.

Tak berapa lama kemudian pintu liftpun terbuka dan gadis itupun langsung berlari keluar ternyata orang yang dia telefon tadi sudah ada didepan lift tersebut. “Oh, mengapa Kau berpakaian seperti itu?” Tanya rekan kerjanya dengan wajah yang kaget.

Lalu gadis berkostum itupun menjawab sambil berlari. “Karena istri PresDir keluar negeri saat ini, jadi aku harus mengikuti acara pencarian bakat di sekolah Ji Min, Ayo cepat kita keruang ganti!” mereka berduapun lalu bersama-sama berlari menuju kesana.

~~~ooo~~~

Setibanya disana gadis berkostum itupun langsung berganti pakaian kerja. Gadis berkostum itu bernama Park Jiyeon dan dia juga adalah kepala sekertaris di perusahan Hermia. Disana juga sudah banyak karyawan yang sedang menunggu arahan dari sang gadis tersebut.

“Apa Kalian semua mendengar pemberitaannya?”

Nde..” Balas mereka bersama-sama.

“Ini pertemuan dewan rahasia, bisa dibilang petemuan resmi dari seluruh dewan direksi. Jika ada karyawan yang tidak bisa datang, katakan saja dia tidak bisa datang karena harus ke RS. Apa Kalian mengerti ?” Kata Jiyeon sembari mengenakan blezer ketubuhnya.

Nde..” Balas mereka bersama-sama lagi.

“Bawa papan absensi dari anggota kedalam ruang pertemuan. Cepat lakukan!” Perintahnya dan semua karyawanpun mulai bergegas pergi mengikuti perintah atasannya tersebut.

Diruangan lainnya ternyata sudah dimulainya rapat rahasia tersebut. sudah banyak karyawan yang sedang mengikuti rapat. PresDir pun sudah ada disana. Dengan wajah yang marah PresDir itupun membanting map yang ada digengamannya.

“Apa sebenarnya yang terjadi? Apa maksud dari bahan-bahan yang tidak pantas?” Tanyanya kepada salah satu bawahannya. Bawahannyapun lalu berdiri dari duduknya dan berkata. “Tenanglah PresDir. Mungkin laporan itu palsu. Kita sekarang sedang menyelidikinya.” Ucapnya sambil membungkukan kepalanya dihadapan atasannya.

Lalu salah satu karyawannyapun berkata pada PresDir. “Ada masalah yang lebih serius yang harus kita hadapi daripada memikirkan berita itu benar atau palsu.” Kata Tao yang berkedudukan sebagai pengacara perusahaan dan dia juga merangkap menjadi wakil direktur.

“Apa itu? Katakanlah.” Sambil kedua matanya menatap tajam kearah Tao.

Kemudian anak buah PresDir tersebut mulai memberikan pendapatnya kepada sang direktur tersebut. “Investor saham terbesar Golden Partners, baru baru ini telah membeli saham Herme dengan jumlah yang besar dan kemungkinan, berita soal bahan yang tidak pantas menjadi kunci dan membuat Gold Partners menjadi perusahan pemilik obligasi yang terbesar”

Tiba-tiba PresDir tersebut memotong pembicaraan anak buahnya. “Kau sedang membicara soal Gold Partners? Bukankah perusahaan kita pernah berkonsultasi dengan mereka soal Pemasukkan Dana Asing dua tahun yang lalu?” Tanyanya dan Tao-pun menjawab. “Ya benar sekali, PresDir.”

“Jadi yang barusan kau katakan adalah disaat mereka berkonsultasi dengan Kita saat itu, Mereka diam-diam mengambil informasinya dan membeli aset tersebut sedikit demi sedikit?” Kata Direktur tersebut tapi kali ini wajahnya terlihat lebih serius.

“Jika saya berbicara sebagai seorang pengacara, sepertinya pihak mereka sudah melanggar kebijakkan privasi pelanggan.”

“Kalau begitu kita tidak boleh duduk dan tinggal diam saja. Cepat tuntut mereka karena melanggar kebijakkan privasi!” Bentaknya kepada bawahannya tersebut.

“Tim pengacara kita sedang melakukan yang terbaik dan meninjau kembali materinya, tapi kasus ini sepertinya tidak mudah. Kita membutuhkan banyak waktu.” Tambahnya.

“Kenapa? Kita tak bisa melakukan secepatnya?!” Tanya PresDir itu dengan wajah yang marah.

“Karena orang yang sedang kita hadapi adalah seorang “Pembunuh”, dia orang yang lebih kejam dibandingkan seorang iblis.” Imbuhnya. “Apa maksud perkataanmu?” Tanyanya kembali namun kali ini wajahnya terlihat sangat bingung.

Belum sempat Tao menjelaskannya ,tiba –tiba terdengar suara ketuka pintu. “Tok…Tok..tok…” Tak berapa lama kemudian masuklah Jiyeon kedalam ruangan rapat tersebut.

“YaK! Sudah saya bilang untuk tidak ada seorangpun masuk kedalam ruangan ini! Apakah kau tak mendenagrkannya!” Bentak laki-laki paruh baya tersebut.

“Maafkan kelancangan saya PresDir. Saya ingin memberitahukan kepada anda kalau kami baru menerima laporan bahwa Tuan Kris dari Gold Partner akan datang ke Hermia.” Ucap gadis itu seraya membungkukan punggungnya.

“Tuan Kris? Siapa itu?” Tanya PresDir pada gadis yang baru saja masuk keruang rapat.

Tao-pun lalu berdiri dari meja duduknya dan melanjutkan pembicaraannya yang saat tadi terputus ditengah jalan. “Saya akan memberi tahukan siapa itu Tuan Kris kepada kalian semua. Perusahaan yang dimiliki si “Pembunuh” ini. ”

Lalu Tao mulai bercerita siapa itu Tuan Kris kepada semua orang yang ada didalam ruang rapat tersebut tak terkecuali Jiyeon. gadis itupun ikut menyimak perkataan Tao.

Tuan Kris mereformasi organisasinya dengan memPHK 500 karyawan? Hanya dalam waktu 20 menit saat makan siang.

~Dialog Kris~ “Apa Kau bergurau? PHK-kan  1.000 karyawan, sekarang!” Perintahnya sambil melanjutkan kembali makan siangnya.

Dia memutuskan melakukan transaksi perusahaan yang bernilai ratusan juta dan memPHK-kan ribuan karyawan.

Dia juga disebut pemburu perusahaan berdarah dingin.

~Dialog Kris~  “Sungguh menjengkelkan jika keuntunganku untuk menolong orang yang kurang mampu, berkurang.” Ucap Kris dengan nada yang santai. Mendengar ucapan itu lawan bicaranyapun marah. “Dasar manusia serakah! Seberapa banyak uang yang ingin Kau ambil agar bisa memuaskanmu?!”Bentaknya. Lalu Krispun membalas perkataan pria tersebut dengan ekspresi wajah yang dingin dan berkata. “Kau tanya seberapa banyak? Sebanyak dari yang Aku hasilkan kemarin.”

 

Diapun juga seorang Sosiopat, yang akan melakukan apa saja untuk uang.

~Dialog Kris~ “Ku mohon! Ketrampilan teknologi akan menyelamatkan perusahaan. Hanya 2 bulan! Tolong berikan kami waktu  dalam dua bulan kedepan!” Ucap pria paruh baya itu sembari berlutut dihadapan Kris. Dengan nada yang dingin Krispun menjawab. “Sempurna! Ayo kita jual juga ketrampilanmu itu. Kami hanya mengambil alih perusahaan ini karena ketrampilan itu!” Setelah itu Krispun pergi meninggalkan orang tersebut.

Dia tidak memiliki rasa malu dan tidak bermoral. Seorang Kapitalis, Wu Yi Fan! Dia orang yang bertanggung jawab dalam proyek ini.

Ekspresi wajah PresDir itupun langsung berubah drastis saat ia mendengar siapa yang bertanggung jawab di perusahaan itu. “Apa Kau bilang? Siapa tadi Kau bilang orangnya?” Tanya pak PresDir.

“Saya bilang, “Wu Yi Fan”, Direktur Dept. Asia dari Gold Partner yaitu keponakan PresDir sendiri”

Mwo?!” Dengan nada yang tak percaya.

Diluar gedung Hermia ternyata sudah datang beberapa tamu yang sekarang sedang berjalan masuk kedalam lobby. Ternyata tamu itu adalah Kris yang hendak melakukan perundingan disana. Kris masuk kedalam dengan beberapa anak buahnya masuk kedalam lift untuk menuju ruang rapat.

Sebelum Kris tiba didepan ruang rapat sudah ada beberapa karyawan yang sedang berjaga didepan pintu ruang rapat tersebut. Langkah kaki Krispun terhenti karena salah satu karyawan menghalangi perjalanannya.

“Apa tujuan Kalian kemari?” Tanya kepala sekertaris tersebut.

“Hai, Kau baru saja menerima telpon dari Kami, kan? Kami dari Golden Partners.” Balas seorang gadis bergaun merah yang sedang berdiri disamping Kris.

“Bisa Kami mengkonfirmasikan kedatangannya dulu?”

“Apa Kau bergurau? Menurutmu ini kunjungan biasa?” Ungkap gadis bergaun merah tersebut dengan wajah yang sedikit kesal.

Namun Jiyeon tak menggubris perkataan gadis tersebut dia malah berjalan menghampiri meja disampingnya dan kemudian menelefon bagian receptionis. “Apa kalian mencatat sebuah kunjungan dan memberikan ijin kepada mereka untuk menemui PresDir?” Kata Jiyeon  ditelefon. Mendengarkan itu Krispun tertawa. “Hahaha…”

Park Jiyeon-pun mulai gugup saat mendengar suara tertawa Kris tapi dia berusaha menyembunyikan kegugupannya. Lalu Jiyeon melanjutkan pembicaraannya ditelefon. “Tidak sembarangan orang bisa mengunjungi perusahaan kami. Kalian seharusnya bisa membedakan mana pengunjung dan pengganggu. Kalian semua, akan diberi peringatan.” Katanya kemudian telefon itupun ditutup.

“Sekertaris ini benar-benar berani.” Ujar gadis bergaun merah itu dengan tersenyum mengejek.

“Kau pasti sekertaris yang lucu.” Tambah Kris saraya menyunggingkan senyum ciri khasnya.

“Perusahaan ini bukan perusahaan yang lucu.” Balas kepala sekertaris tersebut sambil tetap sibuk membuka berkas di tangannya.

“Jadi, apa rencana yang akan kau lakukan?” Senyuman Krispun mulai memudar.

“Tampaknya tak ada catatan kalau kalian sudah menghubungi kami.” Kemudian berkas ditangan gadis itupun ditutupnya dan kemudian dia berjalan kehadapan Kris. “Maaf kami meminta anda untuk pergi. Pastikan untuk menghubungi kami 3 hari sebelumnya dan buat janji jika ingin berkunjung.” Ucapnya dengan tersenyum.

Mendengar perkataan yang baru saja dikatakan oleh gadis itupun Kris mulai naik pitam. “Apa kau bodoh? Apa kita harus menjelaskan kepadamu siapa kita ini?” Dengan nada yang menahan amarah.

“Tidak peduli siapa anda semua. Peraturaanku adalah ‘Membuat Janji terlebih dulu’. Bahkan jika gelandangan yang membuat janji. Aku akan menginjinkannya untuk masuk, Tapi aku tidak menginjinkan masuk, sekalipun Dia Presiden Korea jika tidak membuat janji terlebih dulu.” Ungkap dengan memandang kedua mata Kris sambil tetap tersenyum.

“Sepertinya kata-kata saja tidak cukup bagi wanita ini. Ayo Kita masuk saja.” Balas Kris seraya menaikkan sebelah alisnya dan saat dia hendak masuk kedalam secara paksa. Jiyeon langsung  menekan alram yang ada di gengamannya.

“Guing…guing…guing….” Tak perlu beberapa lama datanglah segerombolan petugas keamanan yang datang menghampiri ke depan ruangan tersebut. Melihat itu semua Kris hanya dapat tersenyum geli didepan kepala sekertaris tersebut.

Lalu Jiyeon-pun berkata. “Mereka akan pergi. Tolong antar mereka dengan selamat.” Perintahnya kepada petugas keamanan setempat.

Saat para petugas keamanan hendak membawa Kris bersama dengan mereka, tiba-tiba keluarlah seseorang dari dalam ruangan yang ada dibelakang Kris. Ternyata seseorang itu adalah Tao.

“Hentikan! Pertemuan direksi baru saja selesai. PresDir mempersilakankan kalian untuk masuk. Silakan, ikuti saya.” Tuturnya lalu setelah itu Tao pun masuk kedalam ruangan yang dimaksud.

Semua anak buah dan sekertaris Krispun ikut pergi mengikuti Tao. Tinggallah Kris disana. Kedua mata Kris menatap tajam kearah gadis yang sedari tadi membuatnya kesal seraya tersenyum simpul didepan hadapan gadis itu. Lalu Kris berjalan mundur sambil tetap memandang Jiyeon  dan diapun memberi isyarat dengan menggerakan  dua jari tangannya kearah kedua matanya dan kemudian kedua jari tangannya pun di buangnya ke arah gadis tersebut sambil tersenyum sinis sebelum dia masuk kedalam ruangan tersebut. Diperlakukan seperti itu Jiyeon  masih tetap menyunggingkan senyuman dihadapan Kris namun saat Kris sudah masuk kedalam ruangan tersebut. Senyuman yang ada diwajah gadis itupun mulai memudar saat pintu ruangan tersebut telah tertutup.

~~~ooo~~~

~Diruang rapat~

Sebelum acara rapat tersebut dimulai Jiyeon  dan bawahannya menyunguhkan secangkir minuman di setiap meja. Semua tamu diberikan segelas air mineral namun yang membuat Kris merasa aneh kenapa dia diberikan secangkir lemon tea ice oleh kepala sekertaris tersebut. Krispun mulai menatap tajam kearah Jiyeon  dari bawah kaki sampai ujung rambut. Merasa diperhatikan seperti itu Jiyeon lalu keluar bersama rekan kerjanya dari ruangan tersebut.

Tak beberapa lama kemudian PresDir memulai dialognya. “Sudah 25 tahun lamanya, Yi Fan-ah. Kau sudah tumbuh dengan baik. Apa Aku sudah pernah menceritakannya kepadamu? Kalau kau pernah mengompol di atas lututku saat pesta upacara pembukaan perusahaan ini. Kaulah orang yang pertama kali mengotori pakaianku. Setelan sutra buatan Gucci  jadi kotor karena mu. Apakah kau ingat itu, Yi fan?” Ujarnya sambil tersenyum kearah Kris yang sedang duduk di meja paling ujung.

Tapi Kris tidak menghiraukannya dia malah asik meminum secangkir lemon tea yang ada diatas mejanya. Setelah meminum beberapa tenguk, Krispun lalu menaruh cangkirnya dan membalas perkataan pamannya dangan wajah yang riang. “Tentu saja Aku ingat. Aku mendapat pujian karena mengotori baju Anda. Kau bilang setelan yang kotor itu dibeli dengan biaya perusahaan dengan harga sangat mahal. Saat itu juga pertama kali aku mendengar ayahku mengutuk. Si brengsek ini, mengoceh saja!” Celetuk Kris.

“Darimana Kau belajar sopan santun?” Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri dari tempat duduknya kemudian pria itu berkacak pinggang didepan Kris. Tapi Kris membalasnya dengan tatapan yang datar dan berkata. “Direktur Yoon, apa kau gila?”

Mwo?” Dengan wajah tak percaya.

“Apa benar kau, orang yang bertanggung jawab tentang masalah soal bahan penggunaannya itu? Apa yang membuat kau berpikiran seperti itu?” Lalu Kris bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah meja PresDir yang kebetulan Direktur Yoon sedang berdiri disamping pamannya.

“Aku akan menyingkatnya. Mulai sekarang, bekerjalah jauh lebih keras. Bayar bunga pinjaman tepat pada waktunya! Jika kau tidak membayarnya setelah dua hari dari tanggal jatuh tempo, Aku akan membuat nilai saham turun dan menjualnya.” Seraya jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke semua arah anak buah pamannya tak terkecuali Direktur Yoon.

Sambil tersenyum paman Kris-pun angkat bicara. “Sebagai anak muda, kau tidak cermat dalam berhitung. Aku rasa perusahaanku tidak berhutang padamu sepeserpun. Meskipun kau salah satu dari pemilik saham di perusahaan ku. Aku akan menerapkan peraturan sementara dalam pembelian saham. Perusahaan konsultan membeli saham dari kliennya. Rupanya, ini rencanamu melakukan pelanggaran kebijakan privasi pelanggan.” Ucap pamannya dengan wajah yang dingin.

Mendengarkan perkataan pamannya Krispun tersenyum lebar dihadapan pamannya. “Aigoo… Apa kau fikir Golden Partners  merupakan perusahaan pinggir jalan? Departemen investasi dan konsultan berada  di dua lokasi yang berbeda. Jangankan berbagi informasi soal pekerjaan saja sama sekali tidak.” Ujarnya dengan nada yang santai sambil tubuhnya bersandar di meja yang tak jauh dari tempat meja pamannya.

“Meskipun itu bohong, Kau harus membatasinya! Dalam satu gedung, kalian bersikap tidak saling mengenal?! Apa menurutmu itu masuk akal?!” Sambil mengebrak atas mejanya.

Diperlakukan seperti itu Krispun menjadi gusar. Dia pun lalu mulai berjalan menghampiri depan meja pamannya dengan penuh emosi. “Mengapa tidak masuk akal?  Bahkan jika kita ada dalam satu selimut dan dibawah satu atap, aku tinggal serumah tanpa sepenuhnya mengetahui tentang ibu dan ayahku!” Bentaknya dihadapan pamannya.

“Kau tahu kalau ayahku seorang relawan dalam membantu orang-orang yang kurang mampu dan dia juga melakukan semua transaksi saham kepada mu. Namun tiba-tiba saja kau, dicalonkan untuk menjadi PresDir! Apakah itu masuk akal?” Dengan nada yang mulai tenang.

Setelah itu Krispun melanjutkan ucapannya sambil mendekatkan wajahnya di hadapan pria paruh baya itu dan berbisik. “Apa Kau tahu? Raja Sejo, meskipun dia membunuh banyak orang, dia bisa bertahan selama 14 tahun dalam tahta kerajaan. 25 tahun sudah cukup bagimu, PresDir.” Lalu kedua mata merekapun saling bertautan terlihat jelas dimata Kris memancarkan rasa benci yang amat dalam kepada lawan bicaranya ini. Setelah berbicara itu Krispun keluar dari ruang rapat bersama dengan anak buahnya.

~~~ooo~~~

Saat Kris keluar dari ruangan tersebut ternyata didepan pintu ruangan rapat tersebut sudah berdiri beberapa orang disana. kedua manik Krispun langsung tertuju pada sosok seseorang yang sedang berdiri tepat disampingnya dan kemudian ia mulai berjalan mendekati gadis yang saat tadi berselisih dengannya.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku hanya minum air dingin bahkan dimusim dingin?” Tanyanya sambil menatap name tag di baju seragam gadis itu.

Dengan nada yang gugup gadis itupun menjawab. “Ayahku… Aku ingat, dia selalu menyiapkan  minuman dingin untuk anda, Tuan muda.” Balasnya dengan menundukan kepala. Sepertinya dia tak berani menatap lawan bicaranya kali ini.

Krispun lalu mendiktekan name tag yang tertera di baju seragam wanita itu. “Park.. Ji..” Seketika wajah Kris terlihat kaget saat menatap kembali gadis yang ada dihadapannya. “Apa kau anak Manajer Park?” Ucapnya dengan kedua mata yang terbuka lebar.

“Maaf, Saya telat memperkenalkan diri kepada anda. Perkenalkan nama saya Park Jiyeon.” Sambil membungkukan kepalanya.

Krispun mualai tertawa geli saat mendengar perkataan yang baru saja dikatakan oleh gadis itu. “Haha.. deabak. Kalian sekeluarga bekerja disini secara turun temurun. Semuanya jadi menarik.

Setelah itu Krispun memerintahkan sekertarisnya untuk menunggunya diluar gedung. Sehun-ssi pergilah kau, tunggu aku diluar.” Perintahnya. “Nde…” Lalu sekertaris Krispun pergi menuruti perintah atasannya.

Setelah kepergian sekertarisnya, Krispun mulai melanjutkan lagi perbincangannya yang tertunda  kepada Jiyeon.

“Ketika aku tahu ayahmu meninggal, aku sama sekali tidak bisa tidur. Karena perasaanku dipenuhi kemarahan. Aku jadi penasaran mengapa dia meninggal begitu cepat disaat aku harus mengembalikan sesuatu padanya.” Ungkap Kris penuh dengan nada sindiran tapi Jiyeon hanya menundukan kepalanya tanpa membalas perkataan Kris.

Melihat ekpresi yang diperlihatkan oleh Jiyeon tak sesuai dengan harapannya. Akhirnya Kris mulai mengeluarkan semacam kata yang konyol dihadapan Jiyeon tapi masih dengan nada yang mengejek. “Apakah ini takdir? Tapi… Jenis takdir macam apa yang menyenangkan seperti ini?”

Lalu Jiyeonpun membalas perkataan Kris dengan senyuman simpulnya. “Saya merasa tersanjung jika anda merasa senang, Tuan.”

“Pastinya iya, bagaimana tidak? Aku harus bertemu dengan putri dari seseorang yang sudah mengkhianatiku!” Kata Kris dengan wajah yang senang dan seketika senyuman Jiyeonpun menghilang dari wajahnya.

“Yah… saat aku melihatmu sekarang ini,  kau sama persis seperti manajer Park.” Krispun lalu berjalan mengelilingi tubuh gadis itu dan sekarang dia sudah berdiri tepat dihadapan Jiyeon dengan mendekatkan wajahnya dihadapan Jiyeon kemudian berkata. “Matamu dan mulutmu. Bahkan kesetiaan yang menjijikan kepada pamanku, Ahh… Jika kau seperti ayahmu, apa kau akan mudah berkhianat juga?” Tanya Kris dengan suara yang pelan namun terdengar seperti mengejek.

“Saya tidak yakin, Tuan.” Balas Jiyeon seraya berusaha tersenyum dengan posisi wajah yang masih menunduk. “Aku memiliki moto untuk belajar bagian  yang baik saja dari kedua orang tua, bukan bagian buruknya.” Kali ini Jiyeon membalas perkataan Kris dengan menatap kedua mata lawan bicaranya.

“Seperti itukah? Mari Kita lihat seberapa baik kau belajar soal kebaikan mereka.” Tiba-tiba Kris mengambil sesuatu dari lengan blezer milik Jiyeon ternyata ada gliter berbentuk bintang yang tertempel  disana. Kemudian Gliter itu ditempelkannya begitu saja tepat di sebelah pipi Jiyeon dan Krispun melanjutkan ucapannya. “Aku pasti akan memberimu selamat jika kau melakukannya dengan baik. Aku akan segera menghubungimu kembali. Jika sempat, kita bisa bertemu diluar kantor.” Setelah berkata itu Krispun pergi meninggalkan Jiyeon yang masih terdiam membisu.

“Apa Kau tidak apa-apa, Park Jiyeon-ssi?” Tanya rekan kerjanya. “Nde… Aku bahkan mendapat bintang dan pujian darinya.” Sambil melepaskan gliter itu dari sebelah pipinya.

~~~ooo~~~

Jiyeonpun lalu pergi keatas atas untuk menenangkan diri dan tak beberapa lama kemudian datanglah Tao yang membawakan kopi cup untuknya.

“Jiyeon-ah, minumlah ini.” Kata Tao sembari memberikan minuman tersebut pada Jiyeon.

“Direktur…” Kata Jiyeon sambil membungkukan tubuhnya.

“Kau tak perlu bicara formal didepanku, tidak ada orang lain disini. Kita ini teman bukan orang asing.” Ucap Tao lagi.

Jiyeonpun menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Andawe, Jika ada yang melihat ini, Aku akan dapat masalah besar, Tao-ah.”

“Masalah apa? Untuk bicara dengan temannya secara santai?”

“Yak… walaupun kita bersahabat kita tetaplah berbeda drajatnya disini. kau atasanku dan aku bawahanmu.”

Mendengar ucapan dari Jiyeon ekpresi Tao berubah menjadi sedih dan setelah itu diapun berkata. “Tolong, jangan mengatakan hal-hal seperti itu didepanku. Tapi, Jiyeon-ah apakah kau tadi terkejut?” Tanya Tao.

Untuk sesaat Jiyeon terdiam. Namun itu tak berlangsung lama, beberapa saat kemudian Jiyeonpun membalas pertanyaan Tao dengan wajah yang sedih. “Bagi orang itu, ayahku adalah seorang pengkhianat. Jika Aku berpikir soal itu, perlakuan yang diberikan padaku tadi sungguh masuk akal.”

“Jiyeon-ah…”

“Tapi kau tak usah khawatir dengan masalah itu. Yang jadi masalahnya… bisakah kau menolongku?” Sambil menatap Tao.

“Baiklah, Jiyeon-ah. Aku tak akan mengatakan apapun pada Chanyeol tentang masalah yang terjadi diperusahaan hari ini.”

Gomawoyo, Tao-ssi.” Balas Jiyeon seraya tersenyum manis didepan Tao dan Taopun tak bisa mengatakan tidak kepada Jiyeon.

~~~ooo~~~

_Dimalam harinya_

Jiyeon dihubungi oleh kekasihnya Chanyeol untuk menemuinya disuatu tempat yang dijanjikan namun sudah hampir setengah jam Jiyeon tak menemukan tempat yang dimaksud oelh Chanyeol. Saat Jiyeon mulai putus asa tiba-tiba datanglah dua orang yang dia kenal. Salah satunya adalah teman baiknya Ham Eunjung yang berkerja juga satu tim dengan Chanyeol di markas kepolisian. Lali Eunjung dan rekan kerjanya membawa Jiyeon kesuatu tempat yan gelap dan tak beberapa lama kemudian sebuah lampu menyalah tepat kearah Jiyeon berdiri.

“Park Jiyeon-ssi, kami menangkapmu karena kau sudah mencuri hati seorang pria. Tidak ada hukuman untuk itu, kau hanya boleh mengatakan ‘ya’. Kami juga mendatangkan seorang pengacara untuk pembelamu, tapi hanya satu orang yang kami terima.” Kata Eunjung dengan wajah yang serius kepada Jiyeon. melihat itu Jiyeon tak kuat menahan tawanya. Diapun mulai tertawa geli.

“Tuan Pengacara!” Panggil Eunjung. Tak beberapa lama kemudian muncullah seorang pria kedepan hadapan Jiyeon. “Aku, yang mewakili Nona Park Jiyeon-ssi.”

“Yah.. Tao-ah, kau ada disini juga.” Tanya Jiyeon sambil tersenyum bingung.

“Dari mata pengacaranya, dia terbukti bersalah. Aku akan menyerah menangani kasusnya.” Balas Tao kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan Jiyeon sendirian disana.

Tak lama kemudian  semua lampupun menyalah. Chanyeol sudah berdiri  diatas panggung bersama anggita band lainnya tepat dihadapan Jiyeon dan ternyata disana sudah banyak teman-teman kerja Jiyeon dan Chanyeol yang hadir disana yang sekarang mereka sedang berdiri mengelilingi Jiyeon dibelakang.

Chanyeolpun lalu menyanyikan sebuah lagu yang menggambarkan hubungan mereka berdua saat kecil dan hubungan mereka saat mereka mulai menjalin hubungan sepasang kekasih saat mereka sekolah dulu. Jiyeonpun tersenyum riang dan tak terasa gadis itupun meneteskan air mata haru di kedua pipinya. Setelah bernyanyi Chanyeol lalu turun dari atas panggung.

“Park Jiyeon, pujaan hatiku. Apa Kau mau menikah denganku? Selama sisa hidupmu, aku akan memenuhi dengan kebaikan hati , keikhlasan dan kesetiaan.” Ungkapnya sambil berlutut dihadapan Jiyeon.  Tak perlu waktu yang lama, Jiyeonpun menjawab lamaran Chanyeol dengan kata ‘YA’ setelah itu merekapun berpelukan.

~~~ooo~~~

Selesai melamar Jiyeon, Chanyeol lalu membawa Jiyeon ke sebuah rumah idaman yang akan mereka tempati kelak. “Tada… Ini rumah yang selalu kau inginkan, kan Jiyeon-ah? Sebuah rumah yang memiliki satu tingkat, teras dan kebun.”

“Rumah yang sangat indah.” Kata Jiyeon tanpa dia sadari mulut gadis itupun terbuka saat melihat betapa indahnya rumah yang ada dihadapan matanya.

“Rumahnya memang indah tapi pemiliknya tidak.”

“Apakah kau tahu siapa pemilik rumah ini, Yeol-ah?” Tanya Jiyeon dengan wajah yang terkejut.

“Ya. Aku hampir saja di tuntut karena melakukan penyerangan kecil kepada wanita tua itu.” Ucapnya dengan wajah yang serius.

Jinjja? Wae?”

“Aku dilporkan dia karena aku sudah mengencingi rumahnya untuk menandai wilayahku.” Dengan tertawa terbahak-bahak.

“Kau gila! Lagipula kau kan polisi.”

“Dan tada… Hari ini..aku menandai..kepemilikanku kepadamu.” Sambil menyematkan jepitan rambut bergambar kupu-kupu dirambut Jiyeon.

“Jepitan rambut yang cantik.” Tutur Jiyeon. lalu Chanyeol menggengam jari jemari Jiyeon dengan lembut kemudian punggung tangan Jiyeonpun dikecupnya sambil berkata. “Itu Tanda bagi kupu-kupu lain untuk menghindari bunga yang sudah ada kupu-kupunya.” Ujarnya sembari menyunggingkan senyuman kepada Jiyeon. Mendengar itu Jiyeonpun tersipu malu.

“Tapi, Yeol-ah apakah kau tak memberiku sebuah cincin untuk melamar diriku?” Tanya Jiyeon. Tapi Yeol berkata tak sesuai keinginan Jiyeon dan berkata. “Tapi, sayangnya tidak ada cincin. Kau sudah memiliki jari indah, mengapa harus diberikan cincin? Lain waktu saja kita cari cincinnya.” Ucap Chanyeol dengan santai dan itu membuat Jiyeon kesal. Jiyeonpun lalu memukuli Chanyeol. “YAk!!! apakah kau bercanda!” Sambil tetap memukul.  Tak berapa lama kemudian keluarlah pemilik rumahnya sambil memarahi mereka berdua. sontak Jiyeon dan Chanyeolpun berlari secepatnya dari depan rumah tersebut dengan senyum yang menggembang bahagia di kedua wajah mereka.

~~~ooo~~~

_Pov Kris_

~Sewaktu kecil saat hari kematian ayahnya~

Aku terduduk termenung disebuah kamar hotel. Saat ayah meninggal aku melihat ibu sedang berselisih paham dengan paman.

“Apa kau manusia? Bagaimana mungkin kau melakukan ini kepada kakakmu? Kalian bersaudara! Tega sekali kau?!” Bentak ibuku.

“Kakak ipar, tolonglah akui saja semua perbuatanmu.”

“Apa kau bilang?!” Ucap ibuku dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

“Kakak Ipar dan kita semua ditipu oleh orang yang sama.” Balas Laki-laki paruh baya itu dengan wajah angkuhnya.

“Hentikan omong kosong itu!!! Kau tahu pasti kalau kau lah yang mengambil uangnya!” Teriaknya namun ekspresi yang ditunjukan paman sangat membuat hatiku sedih.

Diapun malah tersenyum dihadapan ibuku dan berkata. “Apa kau punya bukti? Kakak ipar, kau harus punya bukti untuk mengatakan itu. Lebih baik sebelum kalian dipanggil ke kantor kejaksaan, menyerahlah. Kakak Ipar, kau juga harus memikirkan Yi Fan.” Sambil menatap diriku. Senjak saat itu aku mulai sedikit membenci paman.

_Keesokan paginya_

Aku dan ibuku pergi mendatangi perusahaan ayah. Namun saat kami datang banyak petugas keamanan  yang menghalangi kami untuk masuk atas perintah paman. Tak sengaja ibuku bertemu dengan menejer Park dan ternyata jabatan Menejer Park bukanlah Menejer lagi melainkan Wakil Direktur. Ibuku hanya bisa menangis saat Manajer Park yang telah bersekongkol dengan paman untuk mengkhianati ibuku.

Di pengadialan Manajer Park memberi kesaksian palsu bahwa dia mengetahui bahwa ayahku mewarisi semua aset perusahaannya kepada paman. Menejer Park juga membenarkan kalau ayahnya sudah menggelapkan uang perusahaan. Ibuku hanya bisa menangis terisak-isak mendengar pengakuan palsu itu. Disaat itu juga aku mulai membenci Manajer Park bahkan senjak detik itu pula aku akan membalas dendamku kepada semua keluarga manejer Park tanpa terkecuali.

_Disore harinya_

Entah mengapa aku ingin sekali secepatnya pulang kerumah setelah sepulang sekolah. Di perjalan menuju pulang akupun bahkan berlari agar bisa sampai kerumah lebih cepat. Saat aku masuk kedalam rumah aku sudah melihat tubuh ibuku sudah tak bernyawa tergantung didepan pintu rumah.

Eomma… Eomma… Eomma!!!” Teriakku sambil menangis terisak-isak. Aku tahu seberapa kencangnya aku berteriak memanggil namanya, pada akhirnya dia juga tak akan bisa kembali lagi kedunia. Dan senjak saat itu pula tak ada lagi air mata yang menetes dikedua mataku. Aku juga bersumpah didepan pusaran kedua orang tuaku kalau aku akan membalas dendam mereka berdua kepada semua orang yang sudah berkhianat kepada keluarga kami. Bagaimanapun caranya aku akan tumbuh menjadi orang yang kuat dan tak akan mudah terkalahkan.

_TBC_

~~~ooo~~~

Hallo  reader’s semua ketemu lagi sama Phiyun disini, hehee 😀

Bagaimana menurut kalian ceritanya? Aku harap kalian menyukainya yah…

Penasaran dengan cerita selanjutnya? Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya buat bahan priviewan penulis nantinya. Karena komentar yang kalian tinggalkan itu sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam membuat cerita FF selanjutnya. semakin banyak readers yang meminta kelanjutannya maka author akan mempercepat mempostingkan part berikutnya ^^

Gomawoyo chingu ^^

 

 

Advertisements

28 thoughts on “Falling For Innocence [Chapter 1]

  1. Oh ternyata gitu ceritanya kenapa kriss bisa menjadi sosok yg menyeramkan
    Aku kira chanyeol itu kakaknya jiyeon d sini eh ternyata pacarnya, aku kira tao d sini nntinya suka sama jiyeon haha kenapa semuanya ga sesuai apa yg aku pikirin hehe tp aku suka ceritanya
    Apa nnti kris bakal balas dendam juga sama jiyeon yg ga tau apa2? Aku harap nntinya kris akan jatuh cinta sama jiyeon juga, ga tau kenapa aku suka klo semua namja jd jatuh cinta sama jiyeon haha

    Liked by 1 person

    • yap… karena kehidupan kris udah berat dari kecil makanya jadi kejam sama orang. sepertinya begitu dia bakalan juga balas dendam sama jiyi. ditunggu aja ya next partnya..
      makasih udah nyempetin mampir kesini n komennya ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s