I BELIVE IN YOU

edf

I BELIVE IN YOU

Kim Yerim Red Velvet | Park Chanyeol EXO

Romance-Schollife

f l a s h e s f o x

***

Daaaah Yeri, aku pulang dulu ya?”
Gadis itu tersenyum dan mengangguk lemah. Yeri, merapikan alat kosmetiknya sejenak lalu menghela nafas pasrah. Ia menyangga dagu dengan kedua punggung tangannya. Matanya menerawang lurus, pikirannya kosong. Kini ia tak tahu apa yang bisa dilakukannya.

Padahal Yeri sudah memikirkan matang-matang hal apa yang akan dilakukan bersama kawan-kawannya siang nanti. Seperti menghabiskan sore di Lotte World atau berofoto di namsan tower. Tapi pemikiran itu akan tetap menjadi sebuah pikiran mengingat bagaimana Joy dan Wendy pulang lebih awal dari yang ia bayangkan, dengan modal alasan ‘ekskul pulang petang’ .

Yah, Yeri bisa memaklumi kalau teman-temannya itu jauh lebih rajin dibanding dirinya yang hanya mengikuti ekskul melukis. Kehadirannya pun kalau dia sedang ingin saja, dan sekarang Yeri sendiri. Menunggu teman-temannya pulang petang nanti jelas tak ada gunanya, mengingat sang ibu berceramah nanti bagaimana tentang ‘anak gadis perawan yang tidak boleh keluar malam-malam’ dan singkatnya adalah…Yeri pasti tidak boleh keluar.

“Huh! Memangnya aku anak kecil?”
Rasanya begitu jengkel bila disaat-saat seperti ini Yeri masih terbayang akan ceramah orang tuannya. Padahal kan usianya sudah lima belas tahun. Jelas dia pasti berpikir dua kali lipat jika ingin bertingkah sembrono. Lagipula Yeri juga bergaul dengan anak baik-baik. Kenapa orang tua selalu khawatir berlebihan?

Yeri mengedarkan pandangan keseluruh kelas, tidak satupun objek biotik yang ditemukannya kecuali semut yang tak sengaja melintas dimejanya sekarang. Sebenarnya Yeri memiliki jadwal piket hari ini, bersama partner nya-atau si perak sialan karena Yeri tidak sudi menyebutnya sebagai partner.

Lagi-lagi matanya menatap lurus, membayangkan betapa asyiknya belanja di mall atau sekedar mampir ke toko pernak-pernik lucu. Tanpa sadar ia menghela nafas. Yeri tidaklah bertele-tele, baginya bisa merasa senang tiap hari itu sudah lebih dari cukup. Dia tak pernah memikirkan hal berbelit-belit seperti masa depannya kelak. Bukannya dia tak peduli, tapi ‘ini masa muda, kenapa di buat susah sih?’

Kini Yeri benar-benar tak tahu apa yang harus di lakukannya. Rasanya sama seperti menunggu matangnya batu yang direbus.

Bosan.

Seandainya saja teman-teman Yeri bukan gadis rajin.

Seandainya Yeri bisa keluar malam.

Seandainya…

Dug!

“Jangan bolos piket!” Suara berat seorang pria membuat Yeri tersentak beberapa saat. Gadis itu menatap pria jangkung dengan rambut keperakan yang sudah seenaknya menyepak kaki mejanya. Pria itu berlalu begitu saja menuju meja guru dan duduk, lalu dengan teramat tidak sopannya ia menaikkan kakinya keatas kursi sembari melipat tangan di dada.

Dan Yeri melayangkan tatapan benci pada mata onyx gelap pria itu itu.

“Park Chanyeol!!!” Yeri menggeram penuh amarah. Chanyeol selalu saja menganggunya, dia selalu merusak segala momen bahagia maupun buruk yang Yeri punya dan tanpa belas kasih, pemuda itu akan berlalu pergi begitu saja.
“Kau baru boleh memanggil namaku kalau sudah menghapus papan tulisnya.” Kata Chanyeol sembari melempar penghapus papan tulis kepada Yeri “Nih ambil.” Katanya. Gadis itu membelalak ketika benda kecil nan laknat itu melayang tepat di depan mata. Namun dewi fortuna berpihak kepada Yeri, sehingga benda itu berhasil ia tangkap dengan mengorbankan kedua telapak tangannya.

“Sialan kau!” Desis Yeri, ia menggebrak mejanya sehingga menimbulkan bunyi debuman yang begitu keras. Lalu sedetik kemudian, Yeri bisa merasakan kedua tangannya terasa begitu panas dan berdenyut-denyut.

“Ah..ah sakiiittt!” Yeri merintih-rintih seorang diri. Berulang kali ia mengibaskan dan meremas kedua tangannya sendiri. Kibas. Remas. Kibas. Remas. Namun tetap saja rasa sakit itu tak kunjung hilang.

Dan Chanyeol malah tertawa.

“Sayang sekali jika tanganmu remuk, aku tidak bisa menyuruhmu untuk menyapu lantai.” Kata Chanyeol sembari tersenyum menjengkelkan. Jelas sekali Chanyeol begitu menikmati tontonan gratis dari Yeri saat ini. Yang Chanyeol tahu Yeri mudah sekali menangis, dan asal tahu saja, Chanyeol sedang butuh hiburan gratis saat ini.
Mata coklat madu Yeri menatap mata onyx gelap miliknnya dengan penuh rasa kesal. Chanyeol nyaris melihat bayangan yang berada di kepala Yeri.

Sepertinya yang Yeri bayangkan adalah meninju muka Chanyeol sampai pria itu tidak memiliki tulang.
“Sebelum kau menyuruhku, akan kupastikan tangan ini membogem wajah tolol mu itu segera.” Sahut Yeri tak mau kalah. Setelah merasa baikan pada tangannya, Yeri segera menghapus papan tulis yang penuh dengan coretan. Sesekali ekor matanya melirik Chanyeol yang tengah terpejam menikmati pekerjaannya yang cuma tidur -suruh-suruh-tidur-suruh-suruh lagi.

“Dan tanganmu benar-benar akan remuk bahkan sebelum menyentuh permukaan kulitku.” Balas Chanyeol sembari mengeluarkan seringai andalanya. Yeri berdecih pelan dan kembali fokus pada papan tulis yang entah bagaimana caranya-tak kunjung bersih.

“Dari pada seperti pengangguran jalanan, bagaimana kalau kau membantuku piket?” Yeri bertanya setengah tidak ikhlas. Bagaimana bisa ia menurunkan martabatnnya hanya demi minta tolong si jerk Chanyeol? Apa yang akan cowok itu katakan? Pasti tidak lebih dari mencemooh dan mencemooh terus.
Sepertinya satu-satunya hal yang Chanyeol kuasai adalah menghina. Dia paling bangga jika kemampuan menghinanya di puji, entah bagaimana Chanyeol belajar hal-hal sinting seperti itu.

“Aku sudah membantu, dengan mengingatkanmu agar tidak bolos piket.” Alih-alih membantu, Chanyeol justru menjawab sambil mengeluarkan permen dari dalam sakunya. Yeri merasa perutnya agak mual melihat tingkah Chanyeol yang sok bos seperti ini. Pria itu tidak lebih dari papan tulis yang dari tadi harus di hapus. Yeri ingin cepat-cepat bisa menghapus Chanyeol agar pemuda itu menghilang tanpa meninggalkan sisa.

“Menurutku itu bukan jawaban yang tepat Chanyeol.” Yeri berkata dengan nada yang di tajam-tajamkan, sementara Chanyeol tertawa sinis.

“Jika aku tidak mengingatkanmu piket. Mungkin kau akan kabur dan kelas ini sama sekali tak ada yang membersihkan. Berterima kasihlah padaku Yeri.”

“Oh, rupanya kau minta ‘terima kasih’? Malang sekali hidupmu.” Kata Yeri yang berlalu menuju tempat sapu. Dengan ekspresi tidak ikhlas Yeri mulai menyapu asal-asalan. Masa bodo dengan kelas kotor dan ceramah Chanyeol, dia pikir Yeri gadis macam apa yang bisa di perbudak oleh si sinting itu? Jika saja tubuh Yeri jauh lebih besar dari Chanyeol, bisa di pastikan Chanyeol sudah pulang tanpa nyawa.

“Aku tidak memintamu. Aku hanya mengajari bagaimana si nona keras kepala ini untuk berterimakasih.” Chanyeol menyahut sambil memandangi permen emutnya yang separo lebih kecil dari awal.

“Bagus sekali Chanyeol, karena aku sangat tidak perlu kau ajari.” Kata Yeri yang kini mulai menyapu bagian depan kelas.

“Percayalah kau pasti butuh mengatakan ‘terima kasih suatu saat’”
“Ya dan kini aku butuh kata-kata itu. Terima kasih Park Chanyeol kau sudah menggangguku.”
Yeri berjalan mengembalikan sapu dan mengambil tasnya, bersiap untuk pergi dan tak lagi ingin mendengar cincong tidak jelas dari Chanyeol. Sejenak Yeri berbalik arah dan mengambil penghapus papan tulis,

“Oh ya, ada satu pekerjaan yang belum selesai kulakukan.” Kata Yeri “Nih!” Dan gadis itu melempar penghapus tepat pada wajah Chanyeol membuat pria itu terbatuk-batuk dengan wajah yang kini belang-belang. “Itu dia pekerjaannya. Aku lupa membersihkan wajahmu.”

Lalu Yeri berlalu begitu saja.

***

Keesokan paginya, seperti biasa Yeri datang nyaris terlambat. Andai saja, Yeri datang satu menit lebih lama, mungkin dia sudah tak bisa masuk.

“Terlambat lagi Yeri?” Suara berat Chanyeol yang pertama kali menyapanya. Yeri segera duduk di depan Chanyeol lalu mengeluarkan PR-PR nya yang belum selesai.

“Apa urusannya denganmu?” Jawab Yeri agak tergesa-gesa, jelas sekali tampak kikuk karena ia tak bisa mengerjakan fisika, terlebih mata pelajaran yang-menurutnya-sial-itu dimulai jam ketiga.
Chanyeol menggedikkan bahu, pemuda itu bangkit lalu mengambil posisi di depan Yeri dan memutar kursinya menghadap gadis itu.
Langsung saja Yeri tersentak kaget.

Godammit Chanyeol! Jauhkan wajahmu dari hadapanku.” Yeri nyaris berteriak, ia tidak pernah berada sedekat ini dengan Chanyeol sebelumnya. Hampir saja rambut keperakan Chanyeol membuat matanya silau.

“Kau takut?”

“Bukan, aku hanya jijik saja dengan wajahmu.”
Kata Yeri dengan lagak acuh-tak-acuh.

“Tenang saja, aku juga tak berminat dekat-dekat wajah tolol sepertimu. Bisa-bisa menular.” Kata Chanyeol tak mau kalah. Jelas sekali dia tersinggung dengan ucapan Yeri mengenai ‘jijik’ barusan, dia pikir Chanyeol itu apa?. Yeri memutar bola matanya lalu kembali fokus pada buku fisika.

“Aku bisa membantumu.” Kata Chanyeol, membuyarkan konsentrasi Yeri, gadis itu menggeram tertahan, lalu ia menghela nafas, mencari kesabaran yang tersisa di tubuhnya lalu menatap Chanyeol.

“Sayang aku tidak butuh.”

“Kau akan membutuhkannya.”
Chanyeol berlalu dan kembali duduk di bangkunya, tangannya memegang novel namun manik matanya menatap rambut blonde di depannya. Ia tak tahu apa yang membuat Yeri begitu keras kepala, gadis itu selalu mengatakan tidak tapi pada akhirnya tentu saja ‘ya’ Yeri terlalu menjunjung tinggi harga dirinya, Chanyeol tak tahu apa yang membuatnya begitu…

“Oke aku menyerah! Aku butuh PR mu!” Sahut Yeri, gadis itu menoleh tampak khawatir. Kedua tangannya menengadah seakan meminta rezeki dari langit. Chanyeol yang semula berpura-pura fokus menoleh dengan senyum percaya dirinya. Sementara Yeri terus menatap seolah mengatakan ‘cepat.’

“Sudah kukatakan sebelumnya?”

“Ya ampun, cepatlah!” Seru Yeri tak sabaran. Dia tak tahu kenapa orang suka sekali bertele-tele.

“Baiklah…” Chanyeol merogoh sesuatu di dalam lacinya dan mengeluarkan PR fisika lalu melambaikan dengan ekspresi

sombong-selangitnya di depan Yeri.
“Kau pikir jika di lambai-lambai terus aku bisa membacanya?”

“Dengan satu syarat…” Chanyeol berbisik, wajahnya maju beberapa centi, tiba-tiba mimiknya berubah begitu serius sehingga Yeri nyaris tak peduli lagi dengan apa yang ia ucapkan.

“Nanti beri aku contekan di ujian sosial.”

***

Yeri tidak tahu kenapa hidupnya yang baik-baik saja ini harus terlibat skandal kecil dengan si raksasa berwajah tolol itu, sebut saja begitu karena Yeri tidak akan pernah mengakui kalau Park Chanyeol sebenarnya tampan.

Walau tidak juga di sebut skandal tapi ini sama saja, atau simbiosis mutualisme kan? Seperti burung jalak dan kerbau. Tentu saja Chanyeol adalah kerbaunya. Dia memang pintar di bidang pengetahuan alam, matematika yang berarti jauh bertolak belakang dengan Yeri yang mengaggumi sosial.

Bagaimanapun Fisika dan Matematika memang lebih keren daripada Sosial-kata orang begitu-tapi Chanyeol tidak akan bisa rangking satu kalau ujian sosialnya remidi, dan harusnya Chanyeol bersyukur karena kali ini ada yang mau membantunya.

Dengan Tidak Ikhlas. Secara Tidak Langsung.

Pluk!

Yeri merasakan sebuah benda ringan mendarat di bahunya. Tak perlu diragugan lagi bila itu sebuah kertas yang telah tak berbentuk hasil dari kreasi Park Chanyeol. Yeri memandang profesor Kris yang sedang mengecek buku absensi siswa.

Untung saja jaman sekarang banyak guru lalai. Yeri bersyukur sekali.
Dia membuka kertas tak berbentuk dan mendapati tulisan yang tak kalah kacaunya dengan si kertas. Tulisan Park Chanyeol, tidak heran sih…yang menulis juga lumayan sinting.

‘Nomor satu sampai lima puluh, langsung abjad nya saja ya? Tidak usah bertele-tele langsung tulis!’

Brengsek!

Ugh! Itu sama saja dengan menyuruh Yeri menulis seluruh jawabanya. Tidak adil sekali, padahal PR fisikanya cuma lima nomer-yang menurut Yeri sebenarnya setara dengan dua puluh soal sosial-si sinting itu benar-benar memanfaatkan janji Yeri, tapi tidak disangka-sangka kalau Chanyeol sama sekali tak mau berpikir.
Bisa apa si Chanyeol kalau ujian nasional nanti?

Huh! Biar saja!

Yeri menuliskan empat puluh sembilan soal, menyisakan soal nomor tiga puluh yang memang paling sulit. Ia tahu pasti tak satupun murid mengerti jawabannya kecuali dirinya sendiri. Dia mendambahkan pesan singkat sebelum melempar

kertas sialan itu kebelakang.
‘Nomor tiga puluh aku tidak tahu!!!’

Berbohong sedikit tak masalah kan? Menurut Yeri itu cukup oke untuk membuat dirinya terlihat paling menonjol nanti. Ia menaruh kepalanya di atas meja sembari menunggu waktu ujian habis, masih lama sekali sih, apalagi seisi kelas hanya dirinya yang sudah selesai.

Lalu kertas itu jatuh lagi.
Pluk!

‘Aku tahu kau tahu jawabanya’

Sial! Dasar pria keras kepala!

‘Tidak!’

Lempar.

‘Kalau begitu lihat kunci jawabanmu.’

Lempar.

Tidak akan Park Chanyeol!’

Lempar.
‘Aku bisa saja melaporkanmu pada guru fisika Kim Yerim.’

Lempar.
‘Astaga dasar mulut besar! Bilang saja, paling-paling kau juga dimarahi profesor Chen karena kau mau memberikan jawabanya padaku.’

Lempar.

‘Oh kita lihat siapa murid kesayangan profesor Chen disini.’

Lempar.
‘Diam kau!’

Lempar.
Lalu untuk beberapa saat tak ada lagi lemparan yang mendarat di meja Yeri. Sejenak ia bersyukur, berharap Chanyeol telah menyerah…lagipula cuma satu nomor dan kalau empat puluh sembilan nomor yang lain benar, Chanyeol masih bisa dapat sembilan puluh delapan.

Dasar Chanyeol serakah!

Pluk!
Chanyeol melempar lagi. Yeri hampir menyerah. Ia membuka kertas itu asal-asalan.

Dan bagian terburuknya adalah…

‘Kalau begitu beri aku jawaban nomor lima puluh satu.
51. Kau mau menjadi kekasihku?
A. Ya
B. Ya
C. Ya
D. Jawaban sama dengan A, B, atau C.
Itu soal dariku, cepat jawab. Batas waktu sampai ulangan terakhir, kalau terlambat maka jawabanmu kuanggap ‘D’

Yeri menelan salivanya. Ia berluang kali membaca surat itu, ekor matanya melirik Chanyeol yang tengah melipat tangannya di dada. Nyaris tidak bisa di percaya. Hal itu tidak ada di perjanjian! Dan soalnya…

Tak masuk akal.

Dari seluruh jawaban itu tidak ada yang benar. Tidak ada yang bisa di jawab. Tidak ada pilihan lain! Gadis itu memutuskan untuk menjawab kata ‘Tidak!’ Karena Chanyeol tak menuliskan peraturan bahwa ‘dilarang mencantumkan hal lain kecuali jawaban’

Ha Ha Ha dasar bego.

Yeri sudah bersiap dengan tangan mengenggam pulpen.
Hingga…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kring!!!!
.
.
.
Suara bel berdering.
.
.
.
Waktu Yeri habis
.
.
.
Sama saja dengan memilih jawaban ‘D’
.
.
.
.
.
“Kau yang memutuskan mengambil pilihan itu Kim Yerim. Sekarang…jangan harap kau bisa lepas.”
.

-THE END-
First post -_- aku gatau mau bilang apa /? maaf kalau jelek -,- hope u like it xD

pernah diupdate dibeberapa tempat dengan nama pena lamaku dracobaby

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s