[FICLET] – DRAMA

bampw-beautiful-black-and-white-chic-cute-Favim.com-417009

Title : Drama

Author : Rindaapus

Main cast :

-Kim Jongin aka Kai

-Kim Nana

Genre : sad, hurt

Length : Ficlet

Rating : PG 13

Disclaimer       : FF ini murni karya resmi dari author, maafkan bila ada typo~

 

Kau bilang semua ini hanya drama? 

Sedari tadi ponsel berwana putih itu terus saja di bolak-balikkan oleh pemiliknya dengan ekspresi gelisah, entalah yang jelas saat ini ia sangat merindukan Kai. Padahal, baru sejam yang lalu suaminya itu pergi berpamitan padanya untuk menjalani rutinitasnya bekerja sebagai aktor. Ya.. hormon kehamilan memang membuat moodnya tak menentu, kadang dirinya bisa sangat manja namun terkadang ia juga sangat sensitive layaknya remaja yang mengalami masa PMS. Nana bangkit dari tempat tidur king sizenya, ia menggigit bibir bawahnya pelan. Haruskah ia menghubungi pria itu? bukankah itu mengganggu pekerjaannya? Tapi ia sangat merindukan Kai saat ini? Tidak, Ia tidak bisa lagi menahannya. Nana segera mengambil ponsel putih miliknya, dengan lihai jemari tangannya menari-nari diatas layar ponsel itu.

From : Nana

To Kai :

Kau sedang apa? aku sangat merindukanmu^^

Sekitar satu jam ponsel itu baru berdering, segera saja gadis itu membuka ponselnya dengan cepat. Ia tersenyum manis melihat jawaban dari lelaki yang sangat dicintainya itu meski ia cukup bosan menunggu.

From: Kai

To: Nana

Aku sedang make up untuk pementasan drama musikal siang nanti. Aku juga sangat merindukanmu^^

From Nana

To: Kai

Ne. Aku berharap kau tidak lupa apa yang kubilang padamu. Aku menunggumu, cepatlah pulang^^

Nana menggigit-gigit ujung bantal sofa merahnya dengan kesal, bagaimana tidak? Sampai sore hari ini pria itu tak kunjung membalas pesannya, apa susahnya mengetik sebuah pesan? Sesibukkah pria itu hingga tak sempat membalas pesan darinya?! Atau jangan-jangan… Kai sedang bersama yeoja lain? Lelaki itu sekarang lebih memilih bersama yeoja lain yang lebih cantik dan seksi ketimbang dirinya yang tengah hamil dan gendut penuh jerawat? Omo! Omo! Tidak.. ini tidak bisa dibiarkan.

Gadis itu segera saja berlari kecil menuju kamarnya, ya.. dengan kondisinya yang berbadan dua ia harus lebih berhati-hati menjaga kandungannya yang mulai menginjak usia lima bulan. Nana segera mengambil handuk dan pergi untuk membasuh tubuhnya dengan air, pokoknya ia harus tampil cantik dihadapan Kai! Ia tidak mau jika lelaki itu sampai melirik gadis lain yang lebih cantik ketimbang dirinya. Ia tidak mau!

***

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan lelaki yang tak lain adalah suaminya itu tak kunjung pulang. Nana semakin kesal menunggu, ia sudah mencoba menghubungi lelaki itu namun hasilnya nihil. “Apa kau sedang bermain-main dengan wanita saat ini huh!” gerutunya kesal. Nana meremas kesal roti yang tengah dipegangnya, dilahapnya roti itu dengan rakus. Tak peduli dengan penampilan yang sedari tadi di jaganya, gadis itu kembali lagi dengan penampilan aslinya, berantakan.

Ting tong ting tong

Mendengar bel rumah berbunyi, gadis berbadan dua itu dengan cepat pergi menuju pintu apartemennya. Ia harus memberi pelajaran kepada suaminya karena sudah membiarkan dirinya menunggu sangat lama! Baru saja ia hendak mengucapkan sesuatu, kini gadis itu seperti tak bisa berkata melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

Bruuk.. tubuh kekar milik suaminya terhuyung lemas dalam dekapan gadis itu. Nana terkejut dengan apa yang terjadi dihadapannya, ia bingung tak tahu harus bagaimana. Yang ada dipikirannya sekaranga adalah memeluk erat lelaki itu. air mata gadis itu tak berhenti mengalir deras dari sudut mata indahnya. Menangis mendekap dalam tubuh suaminya.

“Kai, apa yang terjadi padamu?” tanya gadis itu disela-sela isakan tangisnya, Nana takut! Sangat takut melihat kondisi Kai yang penuh luka. Gadis itu tetap mendekap tubuh Kai yang semakin melemas.

“Jawab aku.. Kai!!” teriaknya takut karena suaminya tak kunjung menjawab pertanyaanya. Lelaki itu tampak tak berdaya dalam dekapannya. Nana terus memeluk Kai erat, ia takut, sangat takut.

“Sebenarnya… Ini hanyalah make up” kata lelaki itu meledakkan tawanya yang sedari tadi ia tahan.

“Make up?” Segera saja Nana mendorong tubuh lelaki itu dengan keras, make up katanya?

“Mwo!!! Make up katamu? Kau membuatku khawatir dan kau ternyata hanya berpura-pura?” teriak Nana kesal sekaligus kecewa. Gadis itu sangat cemas sebelumnya dan ternyata…

“Ya… mianhe” ucap Kai masih dengan tawanya hendak memeluk tubuh mungil Nana, namun dengan cepat gadis itu mendorong tubuh lelaki itu ke tembok membuat Kai meringis kesakitan.

“Wae? Sakit? Bukankah itu hanya make up? Dan Bukankah kau saat ini sedang berakting?” tanya Nana tajam dengan penuh penekanan, Kai menggaruk-garuk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu tapi mungkin tak bisa.

“Mianhe.. aku benar-benar menyesal. Tapi aku tak lupa dengan ini” kata lelaki itu menenteng sebuah tas plastik yang ditunggu-tunggu gadis itu. Sedetik kemudian, Nana melupakan amarahnya pada Kai dan segera saja mengambil tas plastik itu dan membawanya pergi ke dapur. Membuat lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Kai melihat tubuhnya yang penuh luka dan bercak darah di sekitar perutnya akibat sebuah tusukan dalam adegan drama yang dibintanginya itu. lelaki itu menghembuskan nafasnya pelan dan segera menuju kamar mandi untuk membasuhnya. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara memanggilnya.

“Ya!! Mau kemana?” teriak istrinya.

“Wae? Aku ingin menghapus make upku” jawab Kai terlihat menahan sesuatu.

“ANDWAE!” teriak Nana tak ingin lelaki itu pergi.

“Kau harus menemaniku makan genjang-gajang ini (kepiting saus kedelai). Bawakan aku nasi! Aku tidak bisa membawanya” teriak Nana lagi-lagi, gadis itu berjalan menuju ruang TV sambil membawa sepiring besar penuh kepiting dengan agak kesusahan.

Kai berjalan menuju sofa dimana istrinya sedang menikmati makanan yang memang gadis itu idam-idamkan dengan membawa sepiring nasi di tangan kanannya lalu menaruhnya di meja, kemudian ia menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah di sofa bersebelahan dengan gadis itu.  Nana tampaknya kesulitan membuka cangkang kepiting itu dan tak sengaja gadis itu menyenggol Kai tepat diperutnya karena jarak mereka yang cukup dekat.

“Aww..” ringis pria itu menahan sakit di perutnya, sementara itu Nana hanya menggigit bibirnya kesal dengan sikap pria itu. Kai yang menyadari kelakuannya buru-buru meminta maaf pada Nana.

“Arra.. arra.. aku hanya berakting. Mianhe” jawabnya kembali menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu.

“Kau sangat mendalami peranmu huh!?” tanya gadis itu yang sedari tadi mengehentikan aktivitas makannya.

“Tentu saja. Aku harus professional” jawab lelaki itu dengan mata terpejam.

“Lalu kau juga menikmati ciumanmu. Begitu?!” sungut Nana tak suka. Kai selalu saja membuatnya cemburu.

“Tidak ada adegan ciuman” jawabnya masih dengan mata terpejam

“Jinjja? Kenapa bisa aku tidak tahu” tanya Nana senang.

“Tentu saja, ini drama action” Lelaki itu terlihat menggigit bibir bawahnya pelan. Namun, sebuah tangan mungil saat ini menarik-narik lengannya, membuat lelaki itu semakin menahan sesuatu yang tak bisa ia tunjukkan.

“Wae?” tanyanya pelan masih terlihat menahan sesuatu, namun sepertinya hal itu tak diketahui oleh istrinya.

“Jangan tidur! Kau harus menemaniku makan” rengek Nana, ya.. gadis itu selalu membuat Kai tak bisa jika tidak menuruti keinginannya.

“Arraseo..” jawab Kai berlalu pergi.

“Ya!! Kau mau kemana??” teriak Nana seakan enggan melewatkan sedetikpun tanpa lelaki itu. Kai membalikkan badannya menghadap Nana.

“Mengambil minum untukmu” jawab lelaki itu meninggalkan Nana sendiri di ruang TV, gadis itu memangut-mangutkan kepalanya pelan kemudian kembali asik dengan kepiting saus yang sudah lama ia inginkan.

Kim Nana menjauhkan piringnya ketika menyadari tiga buah kepiting besar itu sudah habis dilahapnya tinggal menyisakan cangkang-cangkang kerasnya. Nana tersenyum lebar sambil mengelus pelan bayi dalam perut buncitnya.

“Apa kau sudah kenyang hm?” tanya Nana mengelus sayang perutnya yang semakin membesar. Namun ia melupakan satu hal, Kai! Dimana lelaki itu? tak tahukah dirinya sedang haus saat ini? Ah suaminya itu benar-benar….

Nana melangkahkan kakinya menuju dapur, ia melihat sekelilingnya yang sepi. Tak ada Kai di tempat itu, Nana mengerucutkan bibirnya sebal. Tega sekali lelaki itu meninggalkannya sendirian, kaki mungil itu berjalan menuju lemari pendingin, dan betapa terkejutnya ketika ia melihat Kai sedang berbaring tak sadarkan diri didepan kulkas.

“Ya!! Berakting lagi? Ck! Tidak lucu?!” ucap gadis itu yang tak percaya lagi dengan Kai. Suaminya itu benar-benar pintar berakting, namun kali ini ia tak akan tertipu, tak akan!

“Kai-ssi bangunlah! Aku bilang ini tidak lucu” ucapnya dengan tangan terlipat didadanya.

“Kali ini aku tidak akan tertipu lagi, jadi sia-sia saja dan lebih baik bangunlah kalau tidak aku akan benar-benar marah” ancam Nana yang Nampak mulai kesal, hening. Lagi-lagi tak ada jawaban dari Kai. Kedua tangan gadis itu mulai gemetar takut karena suaminya tak bergeming sedikitpun.

“Kai, kuperingatkan padamu! Bangunlah atau aku akan benar benar marah. Aku serius!!” teriaknya takut. Hening. Sangat sunyi, sampai detak jam dinding itu terdengar  cukup keras. Nana mulai mengeluarkan keringat dingin di kedua telapak tangannya.

Gadis itu berjalan perlahan mendekati tubuh Kai yang berbaring membelakanginya, dengan langkah yang gemetar takut ia menundukkan tubuhnya melihat tubuh Kai. Perlahan tangan kanannya membalikkan tubuh yang terbaring lemah itu. Ia tertawa kecil mencoba menyangkal keadaan yang ada dihadapannya.

“Lihat. Bahkan kau memakai bedak yang sangat tebal agar wajahmu terlihat pucat. Wkwk baiklah aku hargai kerja kerasmu” ucapnya ketika melihat wajah Kai yang sangat pucat hampir kebiruan , kini mata cokelat indah itu tertuju pada cairan kental yang berceceran di lantai tepat di bawah perut suaminya.

“Uh.. bahkan kau menggambar luka di perutmu, tapi bukankah itu hanya susu kental manis yang dicampur dengan pewarna merah makanan dan kecap. Bukankah itu sangat manis? Aku sangat suka susu manis” ucap gadis itu masih mencoba yakin jika suaminya hanya berakting, ia menjilat darah itu dengan jari manisnya. Tak ada rasa manis seperti yang ia harapkan, melainkah anyir.

Nana meneguk air ludahnya kaku dengan susah payah, kedua tangannya mulai bekeringat dingin. Tubuh gadis itu bergemetar hebat sampai terasa lemas, kakinya seperti sudah tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. ia menggigit jari-jarinya yang tak henti bergemetar, ia takut, ia ingin menangis. Menangisi kebodohannya, ia memeluk tubuh dingin lelaki itu, wajah suaminya begitu pucat membiru.

“Kai jangan tinggalkan kami….” isaknya nyaris tak terdengar.

-END-

eotte? 😀

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s